HALOOOOOOOO READERS...
API:KATANYA MAU HIATUS DULU?
ME:JANGAN NGAMBEK DONG API CHAN. INI JUGA NYEMPATIN, TAKUT ID HILANG
AIR:KATANYA MAU BELAJAR?DASAR AUTHOR SABLENG!
AIR:AWAS YA AIR! AKAN KUY BUAT YAYA PUTUS DENGAN MU NANTI.
AIR:JA-JANGAN DONG
ME:MAKANYA JANGAN NGELAWAN.
OK CEKIDOT!
BOBOIBOPY MILIK MONSTA
AKU PINJAM CHARANYA AJA
WARNING:ELEMENTAL SIBLINGS, TYPO YYD, OC OOC DLL
ENJOY
.
,.
.
.
.
SEBELUMYA...
"MAAF KAMI SUDAH BERUSAHA TAPI SAUDARAMU..."
CHAPTER 8 PRESENT.
.
.
.
.
"Dia...sudah sadar "
GUBRAK!
Semua jatuh dengan tidak elit mendengar penuturan sang dokter. Sedangkan sang dokter hanya cengenngesan.
"dokter ini membuat kami panik saja."tegur Yaya.
"habisnya kalian terlalu tegang sih"balas sang dokter tak mau kalah.
"lalu apa kami boleh menjenguknya?"tanya Air.
"tentu saja. Tapi hati hati karena ada dokter cilik sedang mengobatinya."amanat sang dokter
"kalau begitu terima kasih."ucap pak Andy.
Mereka pun langsung masuk ke ruiangan tempat Api tadi di obati. Saat masuk benar saja ada seorang gadis berhijab violetta sedang memeriksa tekanan darah pasien.
"Ah kalian keluarga dari pasien bernama Api?"tanya sang gadis ramah.
"kamu siapa?"tanya Ying balik.
"perkenalkan aku Himeka. Panggil aku Hime. Aku adalah adik dari dokter Tadashi. Salam kenal."ucap sang gadis memperkenalkan diri.
"umurmu berapa tahun?"tanya Fang.
"13 tahun. Memang kenapa?"tanya sang gadis bingung.
"hah?13 tahun jadi dokter?"kaget mereka bersamaan. Sedangkan sang gadis hanya sweatdrop.
"itu karena aku punya IQ lebih dari 160."jawabnya.
"perkebnalkan aku Yaya. Ini Ying, Gopal, Fang, Air, dan pak Andy"ucap Yaya sambil memperkenalkan diri sekaligus rekan rekannya.
"salam kenal kalau begitu."
Tak lama Api mengerjapkan matanya tanda ia sudah sadar dari tidurnya. Ia memfokuskan terlebih dahulu cahaya yang masuk ke retinanya lalu ia melihat skeliling. Warna putih. Bagus. Sekarang Api pasti sudah ada di rumah sakit.
"apa kau tak apa apa?"tanya Hime.
"kau siapa?'tanya Api heran plus bingung.
'AKU Hime, aku yang mengobati lukamu tadi."
"oh."jawab Api singkat.
Tak lama datang Tadashi yang terengah engah. Dan dari rau mukanya sepertinya ia sedang senang akan sesuatu.
"Hime ada berita bagus."ucap sang dokter muda yang hanya berusia 20 tahun. Ya Tadashi dan Hime sama sama pintar .
"apa itu kak?"tanya sang dokter cilik.
"Taufan , Gempa dan Halilintar sudah sadar."ucapnya riang.
"apa pasien bernama Gempa sudah dikemoterapi?"
"tentu saja. Dan berhasil."
"APA?MEREKA SEMUA SUDAH SADAR?"teriak mereka bersamaan. Dr. Tadashi dan sang dokter cilik hanya menutup telinganya agar tak tuli.
"ya, kalau begitu jengukla mereka, karena aku harus ke Australia dulu."ucap sang gadis.
"eh memang kau masih mahasiswa?"tanya Fang kaget.
"bisa di bilang begitu. Kalau begitu aku pergi dulu. Bye" lalu sang gadis beserta dr Tadashi menghuilang dari pandangan. Tapi anehnya dr Tadasho langsung kembali berbalik.
"ayo aku antar kalian keruangan Taufan. Karena mereka bertiga di satu ruangankan."
"tapi aku bagaimana?"tanya Api.
"sini aku gendong."tawar Air.
"hmmm...bsiklah kalau begitu"
Lalu mereka semua mengikuti dr. Tadashi keruangan pasien berama Taufan. Tampak disana Ayah dan Ibu mereka sudah berada di samping Taufan.
"ya ampun Api kamu kenapa?"tanya sang ibu kaget.
"aku tak apa kok ma."jawab Api sambil cengengesan. Ibumya hanya tersenyum.
"ya sudah kalau begitu. Taufan, ini adik adikmu. Kau ingat tidak?"tanya sang ayah.
"tentu saja aku ingat. Yang pakai topi jingga itu Api dan yang pakai topi biru aqua itu Air. Apa aku benar?"tanya Taufan sambil memiringkan kepalanya.
"wah ternyata kemoterapi itu berhasil Diana."ucap sang dokter.
"yah aku harap ini semua segera berakhir. "ucap sang ibu.
Tak lama datang Halilintar dan Gempa yang baru bangun dari ranjang nya dan klangsung memeluk Taufan erat sampai tak bisa bernafas.
"kak Hali, Gempa aku tak bisa nafas tahu"ucap Taufan sambil menggerutu.
"Hali seharusnya kamu tak dekat dekat dengan Taufan. Nanti dia tertular juga."saran sang ibu.
"soalnya aku kangen banget sama candaan si biru ini"ucap Halilintar sambil nyengir. Mereka semua hanya geleng geleng kepala melihat sikap Halilintar yang manja terhadap Taufan.
"Gempa juga kangen sama masakan kakak!"ucap Gempa semangat.
"sejak kapan kamu punya penyakit leukeumia?"tanya Taufan serius.
"sejak 6 bulan lalu."jawab Gempa sambil menunduklkan kepala. Taufan yang ototnya masih kaku langsung mengusap kepala sang adik kepala agar ia tenang.
"tak apa Gempa. Janganpernah menyerah melawannya ya?"ucap Taufan sambil mengedipkan matanya. Gempa hanya tersipu malu.
'mama aku mau ke kamar mandi"ucap sang kembaran kedua.
"mau ditemani?"
"tak apa"
Lalu Taufan lalu pergi ke kamar mandi. Saat melihat dirinya di cermin, muka Taufan bagaikan mayat, sangat pucat. Dan saat Taufan menjambak rambutnya karena kepalanya sakit tba tiba, rambutnya berjatuhan.
Setelah sakitnya mereda Taufan melihat hasil jambakannya. Rambut yang lumayan banyak berjatuhan dengan bebas. Taufan hanya tersenyum miris. Lalu ia mencuci muka dan kembali keruangannnya.
"mama apa kepalaku akan botak?"tanya Taufan saat ia sudah sapai dan duduk di kursi.
"biasanya jika penyakit kanker rambutnya akan berjatuhan. Dan kepalanya akan botak."ucap sang dokter menimpali perkataan Taufan.
"nanti aku gak ganteng lagi dong?"ucap Taufan tak percaya apa yang didengarnya.
"aku juga akan botak kok kak"seru Gempa.
"meskipun kau botak tapi kami akan selalu bersamamu setiap saat."ucap Api.
"kenapa dengan perut dan kepalamu Api?"tanya Taufan baru sadar bahwa Api di perban.
"biasalah anak lelaki"jawab Api enteng.
"mama aku mau menulis"sahut Taufan
"tapi ototmu masih kaku. "ucap sang ibu.
"pokoknya aku mau nulis!"perintah Taufan.
Sang ibu pn hanya menghela nafas dan memberi Taufan buku serta pulpen. Setelah itu mereka semua keluar untuk memberikan privasi.
Taufan pun mulai menulis meski agak kaku.
Tuhan...
Jika sudah sadar
Apa aku akan bahagia?
Pasalnya umurku tinggal sedikit lagi
Rambutku mulai berjatuhan
Mukaku mulai pucat
Jika aku tiada nanti
Ku harap mereka bahagia akan kepergianku
Dengan surat kecilku ini
Aku berharap aku cepat tiada
Agar aku tak lagi melihat tangisan mereka.
Aku tak mampu
Aku tak kuasa
Tapi aku mohon
Saat detik detik terakhirku
Kumohon izinkan aku melihat senyuman mereka
Tuk terakhir kalinya
Karena dengan begitu
Aku bisa tenang
Meninggalkan dunia ini
-Taufan-
Setelah selesai menulis tak lama kemudian Taufan ambruk ke lantai dengan berurai air mata dan senyum yang terukir di bibirnya.
T
B
C
MAAF BARU SEGINI
OK KRISAR AKAN SELALU DI TERIMA
RnR GUYS
JANGAN LUPA FOLL AND FAV
SEE YOU
BLAZE HILAPIOUS
