Be Man Jaejoongie!
.
.
.
.
.
Chapter 10
.
.
.
.
.
Heechul termenung sambil menatap foto dirinya, Jaejoong dan Hankyung tengah tertawa bersama disebuah taman pada saat Ulang Tahun Jaejoong yang ke 10. Heechul ingat saat-saat dimana Jaejoong untuk pertama kalinya berbicara, bagaimana Jaejoong saat pertama kali bisa berjalan.
Haahh… Jaejoong kecilnya sekarang sudah tumbuh menjadi laki-laki yang rupawan.
Heechul teringat saat masa-masa sulit ketika dirinya tengah mengandung Jaejoong, saat itu usia kandungannya masih sangat rentan dan sangat lemah Heechul pun sampai tidak dapat berjalan dan harus Bedrest total. Sebenarnya pada masa awal dirinya dinyatakan hamil sang dokter sudah menganjurkan untuk mengugurkannya karna akan sangat berbahaya bagi sang ibu. Tapi Heechul dengan keras kepalanya pun menolak anjuran tersebut.
Dalam hati dia berikrar akan tetap menjaga titipan tuhan ini walaupun nanti nyawanya yang menjadi taruhan. Setidaknya sebelum Heechul mati dirinya sudah merasakan mengandung dan menjadi seorang ibu.
Tapi tuhan memberikan keajaibannya karena sekarang Heechul masih tetap bisa hidup dan melihat anak laki-laki semata wayangnya tumbuh dewasa. Walaupun ya, setelah melahirkan Jaejoong dirinya sempat mengalami koma kurang lebih setengah tahun. Dan harus merelakan rahimnya diangkat.
.
.
Heechul mungkin satu dari segelintir atau memang dia satu-satunya pria yang diberkahi oleh tuhan mempunyai satu set organ reproduksi wanita, mulai dari rahim, serviks, tuba falopi hingga ovarium bahkan dirinya dapat mengalami menstruasi dan PMS (Pre-Menstrual Syndrome)
Sebenarnya dulu Heechul adalah pria normal pada umumnya hingga suatu saat ketika ia remaja, dirinya mulai merasakan adanya perubahan seperti menemukan urinenya terdapat darah. Dirinya pun mencoba periksa ke dokter untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi akan tubuhnya tersebut.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan Heechul dibuat terkejut dengan hasil yang dokter sampaikan padanya.
Dirinya yang seorang pria dinyatakan memiliki satu set organ reproduksi wanita. Hal ini bisa disebut dengan 'Persistent Mullerian Duct Syndrome' (PMDS)
PMDS terjadi karena tubuh seseorang gagal memproduksi atau merespon hormon tertentu saat masih berbentuk janin dalam kandungan. Sebenarnya setiap janin memiliki cikal-bakal dari Rahim yang disebut 'Mullerian Duct'. Namun bila kelamin si janin berkembang menjadi laki-laki, maka tubuhnya akan memproduksi hormon yang dapat mencegah terjadinya proses perkembangan Rahim itu tadi.
Sedangkan pada pengidap PMDS, tubuhnya tidak memproduksi hormon penghilang Rahim. Akibatnya 'Mullerian Duct' mereka berkembang betulan menjadi Rahim yang berfungsi dengan baik. Di samping itu hormon ini tidak berdampak terhadap perkembangan alat kelaminnya, karenanya tampak luar memiliki alat kelamin pria pada umumnya, namun di dalam tubuhnya terdapat organ reproduksi wanita yang berfungsi dengan baik.
Setelah mengetahui hal tersebut pun Heechul tampak terpuruk dan tidak punya semangat untuk hidup, hidupnya pun tak terarah sejak itu. Dia mulai meminum minuman keras dan merokok, setiap waktu yang dia punya dihabiskan untuk menangis dan meratapi takdirnya yang kejam.
Dan demi tuhan! Heechul adalah laki-laki yang normal bahkan dirinya memiliki seorang kekasih namun karna kejadian ini kekasihnya pun pergi meninggalkannya tanpa pesan sedikitpun. Ironis.
Disaat terpuruknya, Heechul bertemu dengan Hankyung yang entah mengapa setelah beberapa tahun ini Hankyung menghilang, kini kembali lagi disaat keterpurukkannya.
Hankyung adalah teman Heechul semasa SMA dan setelah kelulusan Hankyung menghilang begitu saja. Sejak SMA dirinya sudah menyukai Heechul tapi dia tau Heechul adalah laki-laki normal maka dari itu dirinya memilih untuk tetap memendam persaannya sampai saat kelulusan, hingga ia lebih memilih tinggal di Cina dan menghilang dari kehidupan Heechul.
3 tahun berlalu dan Hankyung kembali ke Seoul tidak untuk menetap memang dia hanya akan mengunjungi neneknya yang memang tinggal disana. Dan tidak disangka dirinya bertemu kembali dengan Heechul dan betapa terkejutnya dia melihat Heechul dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Hatinya terasa sakit melihat sang pujaan hatinya telihat begitu rapuh tak berdaya.
Seiring dengan berjalannya waktu Hankyung dan Heechul pun kembali dekat, dan yang mengejutkan Hankyung adalah tentang kenyataan Heechul yang ternyata mempunya Rahim didalam tubuh prianya.
Entah sebuah takdir atau apa yang jelas Hankyung sangat senang bisa bertemu lagi dengan Heechul dan mengetahui sebuah kenyataan itu membuat Hankyung berharap banyak. Walau awalnya Heechul sempat tidak mau betemu Hankyung setelah Hankyung menyatakan perasaannya, tapi dengan usaha Hankyung yang begitu keras akhirnya hati Heechul pun luluh, hingga akhirnya mereka pun menikah dan mempunyai anak seimut Jaejoong.
.
.
.
.
.
.
(TAMAT) /minta ditimpuk/
.
.
Heechul tersenyum kecil mengingat masa lalunya, sekarang Jaejoong kecilnya sudah tumbuh dewasa dan umurnya bahkan sudah 18 tahun.
Hahh~
Heechul menghela nafas panjang, apakah ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya? Bagaimana dengan reaksi Jaejoong nantinya ? apakah dirinya bisa menerima atau mungkin menolak?
Kalian pasti bertanya-tanya apa sebenarnya yang harus Jaejoong ketahui?
Ya… sebenarnya Jaejoong mengidap PMDS sama seperti Heechul, entah itu mungkin pengaruh hormone dalam diri Heechul atau memang takdirnya seperti itu. Entahlah yang jelas Hankyung dan Heechul tau bahwa sang anak mengalami PMDS saat Jaejoong untuk pertama kalinya mengeluh bahwa urinenya terdapat darah, lalu karna khawatir sebagai orang tua merekapun membawa Jaejoong kedokter dan mendapatkan kabar mengejutkan tersebut.
Jaejoong mengalami Menstruasi pertamanya.
Saat itu Jaejoong sempat menangis meraung-raung sampai suaranya habis. Dia takut dirinya terkena penyakit yang mematikan dan membuat dirinya tidak bisa merasakan Ice Cream Vanilla lezatnya. Aigo.
Sampai saat ini Jaejoong pun masih belum mengetahui apa yang sebenarnya dialami oleh dirinya, setiap Jaejoong bertanya kepada sang ibu tentang apa yang dialaminya atau mengapa urinenya selalu terdapat darah setiap bulannya dan semacamnya.
Dan sang ibu hanya bisa menjawab bahwa ini bukan saatnya Jaejoong tau.
.
.
.
.
"Eomma Joongie pulang~" ucap Jaejoong riang seperti biasa.
"Hyojoo juga pulang~" sahut Hyojoo setelahnya, lalu mereka berduapun berjalan beriringan memasuki rumah.
"Selamat datang~" sambut sang Eomma dengan senyum hangatnya. Jaejoong berjalan kearah Eommanya lalu mencium kedua pipi sang Eomma sayang.
"Kau mau makan dulu sayang?" Tanya sang Eomma lembut.
"Aniyo Eomma, sepertinya Joongie sudah terlambat pergi ke Café." Sahut Jaejoong.
"Hari ini kau tidak usah ke Cafe! Appa menyuruhmu menemani Hyojoo berkeliling kota."
"Tapi Eomma…" protes Jaejoong tapi segera di sela oleh sang Eomma.
"Ajak dia jalan-jalan Joongie~" ucap sang Eomma lembut, Heechul menatap bingung anaknya yang sekarang terlihat murung. Padahal bukankah dulu Jaejoong sama sekali tidak ingin berkerja di Café dan selalu mengeluh saat setibanya dirinya pulang bekerja.
"Hmm~ Ne~ Arraseoyo!" lalu Jaejoong pun berlalu menuju kamarnya.
"Ada apa dengan anak itu?" ucap Heechul pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Ajhumma… aku kekamar dulu ne~" pamit Hyojoo sopan. Heechul tersenyum menanggapinya tanda ia mengijinkan lalu Hyojoo pun berjalan meninggalkan Heechul menuju kamarnya.
.
.
.
Heechul berjalan perlahan menuju kamar Jaejoong melihat apakah anaknya sudah bersiap atau belum, sesampainya didepan kamar Jaejoong diketuknya pelan pitu kamar yang didepannya terdapat gantungan gajah lucu dan bertuliskan Joongie's Room, Heechul tersenyum kecil melihatnya.
Diketuknya lagi pintu kamar anak semata wayangnya, dan masih belum mendapat jawaban dari si pemilik kamar, lalu tanpa perlu meminta ijin si pemilik kamar Heechul pun masuk kedalamnya. Dilihatnya kesekeliling kamar dan Heechul mendapati Jaejoong tengah melihat kearah luar jendela dengan masih memakai seragam sekolahnya, Aish anak ini!
Heechul berjalan pelan mendekati Jaejoong, semakin dekat Heechul kearah Jaejoong tapi tidak ada juga pergerakan sedikitpun. Jaejoongienya terlihat seperti melamun, apa yang dia lamunkan? Pikir Heechul bingung.
Dilihatnya arah pandang sang anak tengah melihat kearah Yunho yang saat itu tengah berjalan keluar rumahnya. Mungkin dia mau berangkat kerja pikir Heechul.
Dilihatnya lagi sang anak, ternyata masih setia menatap kepergian Yunho. Aigo kenapa dengan anaknya ini? Sebegitu tidak relanya kah dirinya tidak masuk kerja di Café? Kemudian Heechul pun duduk disebelah Jaejoong dan menyandarkan dagunya didekat jendela seperti yang Jaejoong lakukan saat ini.
"Joongie sedang apa?" Tanya Heechul pelan.
"Melihat Yunnie~" sahut Jaejoong sekenanya, tatapannya masih mengarah kedepan. Heechul menduga bahwa anaknya ini menjawab tanpa sadar.
"Kenapa memangnya?" Tanya Heechul mencoba mengorek (?) isi otak anaknya tersebut.
"Joongie…. Joongie…. Joongie…. Eomma…. EOMMA Ya! Kenapa Eomma berada disini?" ucap Jaejoong, rupaya dirinya sudah tersadar dari lamunan indah tentang Yunnienya.
"Aigo Jaejoongie! Kenapa kau berteriak kepada Eomma eoh?! Tidak sopan!" ucap sang Eomma. "Lagipula siapa suruh kau melamun seperti itu? Dan kalau tidak salah sepertinya kau melamunkan si tetangga sebelah… Benarkan?" lanjut sang Eomma kepada Jaejoong dan kali ini terselip nada menggoda kepada Jaejoong. Dan yang membuat Heechul terkejut adalah wajah Jaejoong yang kini mulai memerah, seperti sedang.. Jatuh cinta?
Tunggu dulu….
Jaejoong Jatuh cinta?
Benarkah itu?
"Eomma… kenapa melihat Joongie seperti itu? Joongie takut~" ucap Jaejoong dengan wajah takutnya karna sekarang ibunya sedang menatap dirinya dengan begitu intens(?).
"Aniya.. hanya saja kenapa Eomma berfikir kalau kau menyukai Yunho!" ucap Heechul santai, Jaejoong menatap ibunya dirinya tampak berfikir sebentar. Kenapa Junsu dan ibunya beranggapan kalau dirinya menyukai Yunho?
"Memangnya Joongie terlihat seperti itu yah Eomma? Suie juga bilang kalau Joongie itu menyukai Yunnie~" ucap Jaejoong dengan polosnya, Heechul hanya dapat menggelengkan kepalanya. Aigo uri Joongie memang belom paham betul apa yang dinamakan cinta, bagaimana caranya supaya Jaejoong bisa paham tanpa harus membuatnya tambah bingung?
"Kau ini lucu sekali!" ucap Heechul gemas sambil mencubit kedua pipi chubby Jaejoongienya.
"Waeeeee?" sahut Jaejoong tidak terima, memangnya ada yang salah dari pertanyaannya itu? Kenapa Eommanya malah menganggapnya lucu? ugh~
"Joongie kau kan sudah besar! Seharusnya kau mengerti dengan sendirinya tentang perasaanmu itu, kau ini aneh!" Heechul mencoba menjelaskan.
"Tapi Eomma, Joongie sungguh tidak mengerti~" ucap Jaejoong sambil merengek.
"Kau harus mencari taunya sendiri! Tanya hatimu jangan bertanya kepada orang lain." Jaejoong hanya diam saja mendengarkan.
"Eomma~" ucap Jaejoong dan membuat Heechul menatap kearahnya.
"Bagaimana Eomma bisa tau kalau Eomma menyukai Appa?"
"Hmm~ Eomma merasa tidak ingin kehilangan Appa, ingin selalu bersama, dan jantung Eomma selalu berdebar kalau berada didekat Appa! Bahkan sampai sekarang debaran itu rasanya masih sama." Ucap Heechul, dan yah seperti Jaejoong sudah mengerti dengan ucapan sang Eomma. Heechul melihat kearah Jaejoong yang sekarang tengah termangu, dia berharap bahwa anaknya bisa mendapatkan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
"Jaejoong… tak peduli nantinya kau akan bersama dengan seorang laki-laki atau perempuan, Eomma mendukung apapun pilihanmu!" ucap sang Eomma sambil tersenyum hangat.
"Apakah Appa akan mempunyai sikap yang sama dengan Eomma?" Tanya Jaejoong serius. Heechul menatap sang anak, tidak biasanya Jaejoong berbicara sambil menatapnya dengan serius.
"Kau pikirkan itu nanti saja, sekarang kau harus pergi dengan Hyojoo bukan? Cepat ganti bajumu!"
"Baiklah, Eomma sekarang keluar dari kamar Joongie~" usir Jaejoong kepada sang Eomma, Heechul hanya menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, Eomma keluar!" sahut Heechul malas lalu pergi meninggalkan kamar anak semata wayang nya itu.
Mungkin bukan saat yang tepat jika memberitahukan Jaejoong tentang semuanya, akan lebih baik Heechul menunggu sampai Jaejoong bisa memahami dirinya dan juga hatinya. Kalau sekarang Heechul rasa percuma saja, toh pasti Jaejoong tidak akan mengerti.
.
.
.
.
Changmin sekali lagi mengusap kedua matanya mencoba menajamkan penglihatannya, aigo benarkah yang ia lihat?
Jaejoong Noona favoritnya sedang berjalan dan bergandengan mesra dengan anak baru dikelasnya. Yah sebenarnya bukan seperti pasangan kekasih, Changmin saja yang terlalu berlebihan.
Entah mengapa Changmin menjadi uring-uringan dibuatnya,!
"Astaga ini tidak bisa dibiarkan!" ucap nya heboh sendiri. Ia harus melakukan sesuatu!
Ah! Yunho Hyung, dirinya harus memberitahukan hal ini kepada Yunho Hyung.
"Hadphone! Handphone!" teriak Changmin heboh. Sang Eomma yang sedari tadi diam saja melihat kelakuan absurd anak bungsunya kini mulai buka suara.
"Kau kenapa Changmin-ah! Seperti melihat hantu!" mendengar itu Changmin pun berbalik menatap eommanya, dengan wajah yang sangat serius dia bilang.
"Ne~ aku melihat hantu sedang berjalan disebelah Jaejoong Noona!" Kibum menatap aneh anak bungsunya, aigo anaknya yang satu ini memang selalu membuat kepalanya pusing.
Setelah mengucapkan kalimat itu Changmin pun berlari tergesa-gesa menuju kamarnya, bermaksud untuk mengambil Handphone yang memang berada di dalam kamar. Changmin bukan tipe orang yang suka membawa handphonenya kemana-mana yang penting ada makanan ditangannya semua tidak akan menjadi masalah.
Setelah sampai dikamar, Changmin segera meraih handphone yang berada diatas meja belajarnya, langsung saja dirinya menghubungi Hyung semata wayangnya tersebut.
tut
tut
Lama dirinya menunggu sang Hyung menjawab panggilannya. Dan akhirnya sebuah suara yang sangat ia kenal menyapa indra pendengarannya.
"Changmin-ah kau menggangguku bekerja kau tau!" sahut suara di sebrang sana, yang tak lain adalah Yunho.
"Aish, kau ini harusnya beterima kasih padaku karna aku menelpon mu!" sahut Changmin dengan jengkelnya karna Yunho berteriak kepadanya, aigo kupingnya bisa tuli kalau seperti itu.
"Baiklah, uri dongsaengie. Apa yang mau kau bicarakan?" ucap Yunho dengan suara yang lembut, membuat Changmin ingin mengeluarkan isi makanan yang baru saja ia makan tadi.
"Aish menggelikan sekali!" sahut Changmin jijik, dan Yunho hanya menanggapinya dengan kekehan kecil.
"Hahaha.. baiklah! Jadi, apa yang membuatmu menelpon ku Jung Changmin?!" seru Yunho disela tawanya.
"Ini tentang Jaejoong…" belum sempat Changmin melanjutkan kata-katanya Yunho sudah menyelanya dengan sedikit umpatan.
"Yah! Kenapa tidak kau katakana dari tadi bodoh!" Changmin yang tidak terima diteriaki Hyungnya itu balik meneriakinya.
"Yah, bodoh! Kau harusnya berterima kasih pada adikmu yang pintar dan tampan ini!" mendengar sahutan Changmin membuat Yunho memutar bola matanya malas. Aigo mimpi apa dirinya mempuanyai adik yang bentukannya (?) seperti Changmin ini.
"Sopan lah sedikit padaku Changmin! Aku ini kakak mu!" balas Yunho.
"Itu tidak penting Hyung! Yang jelas sekarang kau mau kuberitahu tentang Jaejoong Noona atau tidak?" sahut Changmin, walaupun dirinya tengah kesal bukan main saat ini tapi benar kata Changmin, sekarang yang penting dia bisa tahu tentang Jaejoong, dan mungkin bisa menjawab pertanyaan tentang mengapa Jaejoong tidak datang ke Café hari ini. Biar nanti urusannya dengan Changmin akan dia selesaikan secara jantan (?)
"Ya baiklah, sekarang beri tahu aku!" ucap Yunho pasrah.
"Kau tau apa yang membuat Jaejoong Noona tidak dating ke Café hari ini?" sahut Changmin menyebalkan.
"Changmin to the point saja!" buru Yunho tidak sabar.
"Baiklah, Jaejoong noona sedang berkencan dengan Han Hyojoo!" sahut Changmin singkat padat dan amat sangat jelas. Lama tidak ada sahutan dari Yunho, entah apa yang dipikirkan Hyungnya saat ini.
"Hyung~ kau mendengarku kan?" sahut Changmin lagi dan hanya dibalas gumaman oleh Yunho, Changmin hanya dapat menghela nafasnya pelan. Apa sekarang Hyung nya tengah menangis meraung-raung didalam toilet dengan shower diatasnya. Oh please Changmin, just your imagination.
"Changmin-ah dengarkan aku, ikuti Jaejoong kemanapun dia pergi hari ini. Dan kalau sampai akan terjadi skinship pastikan kau harus menggagalkannya! Dan untuk upahnya aku akan mentaktirmu di Restoran manapun yang kau mau saat aku menerima gaji bulan ini!" ucap yunho panjang lebar.
"Tapi Hyung, kau mentraktirku hanya sekali?" sahut Changmin mencoba menawar, seperti dipasar saja.
"Kau pikir gajiku seberapa besarnya? Itu sudah penawaran paling bagus dariku!" ucap Yunho lagi, Changmin tampak berfikir sesaat. Dan kemudian ia pun menyetujuinya.
"Baiklah!" satu kata itu dan membuat sambungan telepon antara kakak beradik ini berakhir.
Ok, Jung Changmin this is your turn! Show time.
.
.
.
.
Setelah sambungan telepon itu terputus Yunho menghela nafasnya, entah mengapa ada perasaan lega menyelimutinya.
Akhirnya ada gunanya juga Changmin dilahirkan kedunia ini, batin Yunho senang.
Aigo ucapan yang tak patut dilontarkan oleh seorang kakak -_-
"Yunho-yah disini kau rupanya! Aku mencarimu dari tadi!" sahut seorang pria paruh baya menyadarkan Yunho dari lamunannya tersebut.
"Ah… Hankyung Ajhussi! Mian tadi adik ku menelpon." Ucap Yunho jujur.
"Eum~ ada perlu apa Ajhussi mencariku?" lanjut Yunho lagi.
"Sebaiknya kita bicara diruanganku saja." Ucap pria paruh baya itu dan segera pegi menuju ruang kerjanya, dan diikuti oleh Yunho tentunya.
.
Yunho terdiam berdiri mematung sejak Hankyung mengatakan hal yang sama sekali tidak ingin ia dengar seumur hidupnya.
"Ajhussi… ingin aku apa..?" Tanya Yunho, takut-takut dirinya salah dengar. Dan dirinya sangat beharap kalau yang tadi dia dengar semuanya adalah salah tidak benar dan hanya ilusi semata.
"Aku ingin kau membuat Jaejoong dan Hyojoo menjadi dekat, kalau perlu buat mereka menjadi sepasang kekasih!"
Satu kalimat itu membuat Yunho seakan jatuh tertimpa reruntuhan bangunan, badannya terasa remuk dan juga… hatinya. Bagaimana bisa dirinya menjadi 'Mak Comblang' untuk orang yang dia sadari dicintainya itu.
"Tapi.. Ajhussi, aku…." Ucapan Yunho terhenti karna Hankyung sudah memotongnya. Dengan menepuk bahunya dan meremasnya pelan, dirinya tau bahwa Hankyung Ajhussi sangat mempercayainya.
"Kau tau Yunho-yah, kau satu-satu nya orang yang kupercayai melakukan hal ini!" Yunho tidak bisa berkata-kata lagi, ingin rasanya dirinya berteriak 'Aku mencintai anakmu!' tapi itu semua tidak mungkin dia lakukan, Yunho tahu betul bahwa Kim Hankyung sangat mengharapkan anak sematanya wayangnya memiliki kisah cinta yang normal.
.
.
.
.
.
.
Yunho dilema. Apa yang harus dia lakukan? Disatu sisi dia tidak enak hati menolak permintaan ayah Jaejoong dan disisi lain perasaannya kepada Jaejoong tidak bisa diragukan lagi, Yunho mencintai Jaejoong.
Tetapi dengan begitu, walau diselimuti rasa bimbangnya Yunho menganggukkan kepalanya pelan. Dan membuat Hankyung tersenyum melihatnya.
"Kau memang bisa kuandalkan!" sahut Hankyung sembai menepuk bahunya pelan. Dan dibalas dengan senyum seadanya oleh yunho.
.
.
.
Jadi….
Apa yang bisa Yunho lakukan? Memperjuangkan atau merelakan?
.
.
.
.
.
Terbang
Bareng
yooChun
halo~ long time no see yah #ditimpukin...
saya tau ini ff lama kelar dan lama update.. tapi insha alloh sebisa saya saya bisa menyelesaikan ff ini dengan akhir yang memuaskan saya dan kalian. dan saya tidak akan pernah lelah buat bilang TERIMA KASIH buat kalian semua yang masih mau nungguin dan baca apalagi review ff ini.
untuk bagian PMDS disini saya mengutipnya dari entah mengapa pas saya baca artikel itu saya kepikiran buat masukin di dalam ff ini. mungkin yah sekedar bagi-bagi aja ternyata MPREG itu ada loh didunia nyata. ya itung-itung dapat pembelajaran juga yah #apaan
sampai jumpa dilain kesempatan yah.. pay pay
Jakarta, 30/07/2015 20:15
