Note : Hai hai^^ saya kembali lagi membawa chapter 2 *lambailambaicantek *dilemparsandal. Sesuai dengan janji saya, karena ada yang mereview, saya akan melanjutkan fanfiksi ini. Rate M disini hanya untuk adegan kekerasan dan mungkin ada sedikit lime, but not for lemon. Langsung saja, tanpa basa – basi. Mohon RnR-nya ^^. yow, cekidot and Happy Reading! ^^
Disclaimer :
- Shingeki No Kyojin © Hajime Isayama
- Winter In Tokyo © Ilana Tan
- When The Snow Flake Fly Away © xandraxu
Warning : AU, AR, AT, OOC, Typo, No Bash, EYD kurang sempurna, Levikasa pair, Jika terdapat kesamaan alur cerita itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.
.
.
.
.
.
"Hanya satu permintaan yang akan ingin kuajukan padamu." ayahnya melanjutkan.
"Katakanlah Otousan..." Mikasa mulai memucat. Keringat dingin mulai keluar dari kulitnya.
-To Be Continued-
Chapter 2 :
"Menikahlah dengan Monsieur Levi Ackerman." ayahnya berkata dalam satu hembusan nafas. Mikasa terbelalak, sebenarnya ia tak memiliki rencana untuk menikah muda. Buruknya, ia bahkan tidak mengenal siapa calon suaminya yang telah dijodohkan dengan ayahnya. Ia ingin menolak namun tak bisa. Bagaimana pun ia harus menuruti perkataan orang tuanya sebagai balasan atas segala kasih sayangnya.
"Baiklah." Satu kata yang terasa sangat berat untuk diucapkan Mikasa. Sekejap kemudian, Grisha Yeager pun menutup matanya dengan damai. Setetes air mata terjatuh dari pelupuk iris onyx-nya ketika melihat ayahnya sudah tak bernyawa. Ia segera memanggil dokter untuk segera menangani ayahnya.
December 7th, 2014
Upacara pemakaman hampir usai. Semua memakai busana serba hitam. Peti jenazah pun dimasukkan ke liang lahat dengan perlahan. Lalu dikubur hingga menjadi satu dengan tanah. Mikasa, gadis surai hitam itu menaburkan bunga diatas makam ayahnya. Ia melirik sekilas nisan bertuliskan 'Rest In Peace, Grisha Yeager'. Merasa ada yang menarik pergelangannya, ia menoleh. Itu oniichan-nya.
"Kau tau pria ber-cravat putih di seberang makam? Dia adalah calon suamimu." Kata Eren berbisik. Mikasa mengalihkan pandangan kepada pria itu. Bukankah itu tetangga depan apartemennya. Astaga! Ia akan menjadi istri dari orang yang mengatainya pencuri pada tempo hari. Mendengar hal itu seperti tersambar petir di pagi yang cerah ini. Sungguh malang nasib gadis manis itu.
"Dia... tetanggaku." Bibir Mikasa bergetar. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya.
"Benarkah? Otousan berkata padaku, dia merupakan perwira tinggi polisi militer dengan pangkat mayor jendral. Ia bawahan langsung dari otousan. Sebab itu otousan ingin menjodohkanmu dengannya. Ia orang kepercayaan otousan dan sangat bisa diandalkan. Lalu soal pernikahan itu..." Eren berhenti sejenak untuk mengambil nafas. "Pernikahanmu akan diadakan kurang lebih dua minggu lagi. Segala bentuk persiapannya sudah diatur oleh Sir Erwin dan anak buahnya." lanjutnya kembali.
"Dua minggu?" tanya Mikasa. "Itu bahkan waktu yang sangat cepat." ia mengeluhkan masalah waktu.
"Entahlah, tetapi segalanya sudah siap 75% jadi yang harus kau lakukan adalah menjalaninya sebagai amanah dari otousan." Jelas Eren. Mikasa meneguk salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Ia kembali melirik pria ber-cravat putih itu. Untuk sepersekian detik iris mereka bertemu. Iris yang sama dengan miliknya.
December 13th, 2014
Mikasa kembali ke Shinjuku setelah pemakaman ayahnya tempo hari. Kini ia berada di bar kopi miliknya sekaligus tempat kerjanya. Badai salju sedari tadi tak kunjung reda. Sebab itu, banyak orang – orang menghangatkan diri di barnya. Pintu bar pun terbuka, memperlihatkan sosok pria dengan mantel hitam yang dikenakannya. Tampan. Beberapa wanita sempat menatapnya. Ia berjalan menuju salah seorang bartender. "Apa Mikasa Yeager sedang berada disini?" tanyanya pada bartender itu. "Ya, akan kupanggilkan jika Anda ada perlu dengannya." Kata bantender itu. Lalu pria itu beralih menuju sofa di pojok ruangan.
Tak lama kemudian, gadis yang dicari pun muncul. Ia menghampiri pria itu. "Jadi kau sudah tau siapa aku?" ia disambut dengan pertanyaan dari pria itu.
"Kau... Monsieur Levi Ackerman." Jawabnya dengan terbata tetapi berusaha untuk tenang sembari mendudukan diri di depan lawan bicaranya.
"Bagus jika kau sudah tau tentangku dan perjodohan itu. Baiklah aku tidak akan basa – basi. Aku akan memberikan penawaran untukmu. Kita akan menikah hanya untuk beberapa bulan kedepan, setelah itu kita akan bercerai. Kau boleh menjalani hidupmu dengan tenang. Ini semacam kawin kontrak kau tau? Bagaimana?"
"Baiklah, selama tidak ada yang mengetahui hal ini."
Setelah mereka saling setuju, mereka pun berjabat tangan sebagai tanda pengikatan kontrak. Baiklah, Mikasa hanya akan menjalani ini untuk beberapa bulan. Hanya beberapa bulan, waktu yang sangat singkat, ya... waktu yang sangat singkat jika tidak ditunggu. Seminggu lagi mereka akan menikah. Sebentar lagi Mikasa akan menyandang gelar 'Lady Ackerman' tetapi hanya untuk beberapa bulan. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika hidup satu atap dengan Levi. Tidak! Bagaimana jika ia memiliki anak darinya? Tidak mungkin! Mereka sudah membuat kontrak untuk menikah dan hidup bersama untuk beberapa bulan, tentu saja tidak akan berencana untuk memiliki keturunan. Membayangkan hal itu saja sudah membuatnya tidak nyaman.
Sepersekian detik kemudian Mikasa terpecah dari lamunannya. Baru 5 menit sejak Levi meninggalkan tempat ia bekerja. Ia kembali fokus pada pekerjaannya meracik kopi agar tercipta rasa dan aroma yang khas. Ia termasuk orang sukses muda jika dilihat – lihat. Tetapi di usianya yang muda, ia terpaksa dijodohkan dengan orang tuanya. Masih saja hal bodoh itu berlaku di masa modern. Terkadang ia iri pada Krista yang bisa menemukan sendiri teman hidupnya tanpa dijodohkan dan kini Krista sudah berbahagia dengan Armin. Ia tak tau bagaimana dengan nasibnya mendatang. Ia memutuskan untuk tidak memikirkannya karena jika dipikirkan terus menerus ia tidak akan fokus dengan pekerjaannya dan membuat semuanya berantakan.
December 20th, 2014
Gaun putih sutera tak berlengan berhiaskan manik berlian membalut tubuh ramping Mikasa. Ia melihat proyeksi pantulan dirinya di depan cermin. Surai hitamnya disanggul, tak lupa tudung putih transparan menyertainya. Polesan make up natural dilukis dengan apiknya di muka. High heels putih elegan setinggi 5 cm dan sarung tangan dengan warna senada menjadi pelengkap penampilannya. Tiba saat satu setengah jam sebelum pernikahan dimulai. Terdengar ketukan halus ketika ia bercermin. Ia membukakan pintu dan terlihat oniichannya yang sudah terlihat rapi dengan balutan tuxedo hitam. "Bagaimana? Sudah siap?" kata Eren
"..." Hening, tak ada suara.
"Ingat, hanya lakukan apa yang diamanahkan oleh otousan. Aku tau kau tidak akan mengecewakan kami, terutama otousan."
"Ya, akan kulakukan demi otousan."
"Baiklah, kita akan berangkat menuju gereja sekarang. Ritualnya akan dimulai sebentar lagi." Mikasa mengangguk mengerti. Ia menggamit lengan Eren untuk menguatkan mentalnya.
Setibanya di gereja, tampaknya para tamu undangan sudah mengisi semua kursi gereja. Terlihat sosok Levi yang sudah berada di altar gereja dengan seorang pastur. Mikasa didampingi Eren untuk melangkah menuju altar atau mungkin melangkah menuju masa depannya. Dalam hitungan menit mereka sampai di altar. Agar tidak memperpanjang waktu, pastur pun mengucapkan kalimat ritual. "Mempelai yang berbahagia, kalian datang di tempat ini untuk menerima berkat Tuhan, karena kalian berniat untuk saling mengikat diri dalam hidup pernikahan. Para pelayan gereja dan saudara – saudari seiman hadir juga disini untuk menyaksikan peristiwa penuh suka cita ini. Tuhan memberikan berkat melimpah bagi cinta kalian sebagai suami – istri. Beliau telah menguduskan kalian dalam pembaptisan dan kini beliau memperkaya serta memperkuat kalian dengan Sakramen Pernikahan ini. Semoga kalian saling mempercayai dan melaksanakan kewajiban hidup pernikahan. Kini saya minta kalian menyatakan niat itu dan mengucapkan janji di hadapan gereja."
"Saya Levi Ackerman, memilih engkau, Mikasa Yeager, menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya akan mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya." Kata Levi dengan tegas di hadapan calon istrinya dan juga jemaat gereja. Dan kini giliran Mikasa untuk mengucapkan janji sehidup semati di hadapan jemaat gereja.
"Saya, Mikasa Yeager, memilih engkau, Levi Ackerman, menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya akan mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya."
Pastur pun meresmikan mereka. "Atas nama gereja Tuhan, di hadapan para saksi dan umat Tuhan yang hadir disini, saya menegaskan bahwa pernikahan yang telah diresmikan ini adalah pernikahan yang sah. Semoga bagi kalian berdua Sakramen ini menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan. Yang dipersatukan Tuhan, janganlah diceraikan manusia. Ya tuhan, berkatilah dan kuduskanlah hamba – hamba-Mu dalam cinta kasih mereka. Semoga kedua cincin ini menjadi tanda kesetiaan bagi mereka. Saya minta kalian untuk saling memasangkan cincin dan mencium sebagai tanda ikatan cinta kasih yang kalian berdua resmikan dalam perayaan ini." kata sang pastur sembari memerciki kedua cincin platina yang dibawa oleh pelayan gereja dengan air suci. Setelahnya, Mikasa dan Levi saling memasangkan cincin. Levi pun mendekatkan wajahnya pada Mikasa. "Ikutilah apa yang dikatakan oleh pastur jika tidak ingin dicurigai." kata Levi berbisik. Ia merengkuh pinggul Mikasa. Mikasa berpegangan pada bahu suaminya yang baru resmi beberapa detik lalu sebagai balasannya, tidak, bukan itu alasan sebenarnya. Ia tidak ingin dicurigai. Untuk sepersekian detik kedepan bibir mereka sudah menyatu. Sesekali mereka mengambil nafas di sela – sela ciuman mereka. Hangat, itu lah apa yang dirasakan Mikasa saat ini. Ciuman itu hangat dan lembut walau hanya sekilas. Mereka melepas kontak fisik mereka dan diikuti sorak meriah jemaat gereja.
Levi berjalan beberapa langkah di depan Mikasa setelah turun dari mobilnya. Mereka telah sampai di gedung apartemen yang mereka tinggali setelah merayakan resepsi. "Malam ini dan seterusnya kau akan tinggal di apatemenku. Soal barang – barang di apartemenmu itu sudah dipindahkan oleh Sir Erwin dan pesuruhnya yang mau repot – repot memindahkan barang – barangmu ke apartemenku secara cuma – cuma." kata Levi. Mikasa hanya mengangguk mengerti. Mereka kembali berjalan menuju apartemen tempat tinggal mereka. Tiba saat di depan pintu apartemen, Levi mengeluarkan sebuah kunci yang diduga merupakan kunci apartemen mereka. Ia membukakan pintu dan mempersilakan Mikasa untuk masuk terlebih dahulu. Sangat rapi, itu lah kesan Mikasa saat pertama kali masuk ke dalam apartemen barunya. Bahkan lebih rapi dari apartemen seorang gadis. Bau Sandalwood menguar dari dalam ruangan. Terdapat satu ruang tamu, satu ruang keluarga, dua kamar, satu kamar mandi dan satu dapur dalam apartemen itu. "Gantilah busanamu." suara berat suaminya membuat Mikasa menoleh ke arahnya. Bagaimana pun, seorang istri harus menuruti perkataan suaminya. Ia pun beranjak pergi ke kamarnya, tidak, lebih tepatnya kamar mereka berdua.
Setelah mengganti gaunnya, ia mendapati suaminya yang sedang bersiap untuk pergi. Tunggu! Pergi kemana dia? Bukankah seharusnya pasangan yang baru saja menikah melakukan apa yang seharusnya dilakukan pada malam pertama mereka. Mungkin ini efek dari pernikahan yang didasari tanpa perasaan cinta. "M-mmau kemana kau?" tanya Mikasa.
"Kau tidur duluan saja. Tidak usah repot – repot menungguku." alih – alih menjawab pertanyaan Mikasa, Levi malah menyuruhnya untuk tidak menunggunya sampai pulang. Hening seketika. Mikasa lebih memilih untuk diam, karena ia merasa bahwa ini bukan urusannya. Ia hanya bisa memandangi punggung suaminya yang lama kelamaan menghilang di balik pintu. Mikasa memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu dan segera tidur.
"Akhirnya kau datang." kata seorang perempuan pada Levi. Ia terlihat suntuk, sepertinya ia telah menunggu lama.
"Gomenasai, acara pernikahan itu membuatku terlambat." Levi menggenggam tangan perempuan itu.
"Aku harus menunggu berapa lama hingga kau menceraikan istrimu itu?" tanya perempuan itu.
"Hanya dua bulan. Sabarlah menunggu." jawab Levi seraya mengelus puncak kepala wanita itu. Lalu seorang waiters pun datang membawa pesanan mereka. Sudah bisa ditebak, mereka sedang berada di cafe sekarang.
"Baiklah, demi kau, aku akan menunggu sampai kapanpun." wanita tersenyum padanya.
Malam semakin larut. Mereka masih saja berdua. Apalagi sang lelaki sudah memiliki istri yang sah. Namun, walaupun sudah memiliki istri yang sah, ia bahkan tidak memiliki rasa cinta pada istrinya itu. Ia lebih mencintai wanita di hadapannya sekarang. Jika saja Sir Erwin tidak menjodohkannya dengan Mikasa. Mungkin Levi akan menikahi wanita itu empat bulan mendatang. Baiklah, ini nasib dari seorang Levi Ackerman, lalu mau bagaimana lagi? Ia tak bisa menentang Sir Erwin yang selama ini sudah memberinya naungan untuk hidup dan meniti pekerjaannya saat ini hingga menjadi seorang Mayor muda yang sangat bisa diandalkan dan menjadi kepercayaan Jendral besar. Wanita mana yang tidak mau menjadi teman hidupnya? Apalagi wanita yang sedang bersamanya itu.
"Sudah terlalu malam, pulanglah." kata Levi setelah beberapa jam berlalu.
"Tolong antarkan aku jika kau tidak keberatan." wanita itu memohon. Levi berpikir, ada baiknya ia menghantarkan wanita itu pulang. Seorang perempuan sangat rawan apabila pulang terlalu malam sendirian.
"Baiklah." Levi menurutinya. Wanita itu langsung menggamit lengan Levi.
Mikasa tiba – tiba terbangun. Ia melihat ke samping ranjang, tidak ada tanda – tanda kepulangan Levi. Ia berjalan ke seluruh ruangan, sama saja halnya. Lalu ia kembali ke kamar dan kembali berbaring. Namun kini ia tak bisa menutup matanya. Ia gelisah entah mengapa.
-To Be Continued-
.
.
.
Reply Review :
Minori Hikaru : siapa yaa kira – kira arthuria itu? :3 tunggu di akhir cerita^^. sankyuu gozaimasu for review^^
Plovercrest : saya yang mengetik adegan torturing aja merinding :3 mueheheh *dicekekArthuria. sankyuu gozaimasu for review^^
Gomenasai Minna-san~ chapter dua ini lebih sedikit dibanding chapter satu. Belakangan ini, saya sibuk dengan kegiatan organisasi, saya sering pulang malam dan beberapa ulangan harian yang memaksa saya untuk belajar, belajar, dan belajar :( *curhat *digampar(lagi). Nah review kalian sangat mendukung saya untuk melanjutkan fic ini, bagaikan moodboster saya heheww :3
Okay, Sekian dan Terimakasih~ *bow
