Note : Helooooohhhh ^^/ saya kembali dengan menenteng chapter 3 :v karena beberapa teman kelas saya dan para reviewer tercintah yang memaksa saya untuk melanjutkan fic ini, maka saya akan menuruti request kalian, heheewww :'3 *digampar(999+) sebelumnya chapter 3 sudah pernah saya publish tetapi saya remove karena belum pantas untuk dipublish, maafkan saya :( *muka melas* nahh kali ini sudah saya revisi dan terimakasih saya ucapkan untuk reviewer, reader yang mengikuti dan memfavoritkan fic ini, serta silent reader yang mlipir(mampir) di fic ini. okaii no basa - basi lagi. Happy Reading and don't forget to RnR ^^

Disclaimer :

- Shingeki No Kyojin © Hajime Isayama

- Winter In Tokyo © Ilana Tan

- When The Snow Flake Fly Away © xandraxu

Warning : AU, AR, AT, OOC, Typo, No Bash, EYD kurang sempurna, Levikasa pair, Jika terdapat kesamaan alur cerita itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

.

.

.

.

.

Ia berjalan ke seluruh ruangan, sama saja halnya. Lalu ia kembali ke kamar dan kembali berbaring. Namun kini ia tak bisa menutup matanya. Ia gelisah entah mengapa.


Chapter 3 :

December 21st, 2014

Mikasa menggeliat diatas ranjang sebelum membuka matanya. Sedetik kemudian matanya terbuka akibat paksaan sinar matahari yang menyusup melalui jendela. Iris onyx-nya memeriksa ke sisi ranjang lain. Ia mendapati suaminya yang tengah tertidur pulas disampingnya. 'mungkin dia terlalu lelah.' Batinnya. Karena tidak ingin terlambat bekerja, ia tidak berlama – lamaan memandangi suaminya itu. Ia segera menuju dapur dan menyiapkan makan pagi untuk Levi sebelum ia berangkat. Tunggu, bukankah setelah menikah ia akan diberi cuti? Sebenarnya ia bebas memutuskan karena ia adalah pemilik tempat bekerjanya itu sendiri. Namun kali ini ia tidak akan mengambil hari libur. Sebab ia sudah menyangka bahwa Levi akan sangat sibuk dan jarang di apartemen sehingga ia sudah pasti sendirian di apartemen. Daripada membuang waktu sendirian di apartemen akan lebih baik jika waktunya digunakan untuk bekerja.

Setelah selesai pada urusan dapur, ia segera bersiap untuk berangkat. Pagi itu salju turun, namun tidak begitu derasnya. Sekilas Mikasa melihat jendela kaca apartemennya yang basah karena diterpa salju. Lalu ia mengenakan boots coklat mudanya dan berjalan keluar apartemen. Diliriknya apartemen Krista setibanya ia di lantai satu. Tidak ada tanda – tanda Krista akan berangkat kerja. Mungkin sudah berangkat mendahuluinya. Ia kembali berjalan keluar gedung seraya merapatkan mantel dan syalnya karena suhu pada saat itu cukup menusuk tulang.


Baru saja Levi terbangun dari alam mimpi. Tidak seperti biasanya, sinar surya tidak menembus jendela kamar mereka karena awan salju yang menghalanginya. Yang ada hanyalah kaca jendela yang basah diterpa salju. Hari ini sepertinya tidak ada yang harus dikerjakan olehnya dalam kata lain jadwalnya kosong untuk hari ini. Perkiraan Mikasa tidak tepat ternyata. Berhubung seorang Levi Ackerman adalah orang clean freak, jadi ia akan menggunakan waktu luangnya untuk membersihkan apartemen, walaupun tampaknya sudah terlihat bersih.

Ketika hendak membersihkan meja makan, secarik kertas menarik perhatiannya. Di atas kertas tersebut tersisipkan beberapa patah kata. 'Makan pagi sudah kupersiapkan untukmu. Aku akan berangkat seperti biasa. #Mikasa.' Netra onxy-nya membaca kata demi kata yang tersisip di kertas itu. Ia membuka tudung saji yang diletakkan di atas meja makan. Baiklah, mungkin ini suatu perhatian kecil dari istrinya. Garis bibirnya nyaris tersenyum. Pernikahan tanpa cinta ini ternyata masih layak untuk dijalani, kecuali salah satu dari mereka memicu masalah dalam rumah tangga.

Tiba – tiba barang komunikasinya bergetar. Ia mendapati panggilan masuk dari wanita yang kemarin menemuinya setelah acara pernikahan. Ia membuka flap -nya. "moshimoshi... aku akan menjemputmu." Apalagi yang akan dilakukannya dengan wanita itu? Bahkan tanpa sepengetahuan istrinya. Namun, apa peduli Levi. Toh ini hanya pernikahan kontrak semata. Levi kembali pada pekerjaannya, membersihkan apartemen.


Levi mengenakan coat hitamnya ketika hendak keluar dari apartemen. Seperti apa yang telah diucapkannya melalui pesan suara dengan seorang wanita tadi pagi. Ia akan menjemput wanita itu. Ia menaikki sedan putihnya yang akan membawanya ke distrik Harajuku, tempat wanita itu tinggal. Tak sadar ia melewati bar kopi milik istrinya. Meskipun demikian, istrinya pun pasti mengira ia akan pergi ke tempat dimana ia mencari nafkah. Namun pada kenyataannya tidak seperti itu.

Pandangannya terfokus pada jalanan distrik Harajuku. Mencari sebuah apartemen yang sudah tak asing lagi baginya. Beberapa menit kemudian, tempat yang dimaksud pun sudah terlihat di netranya. Ia melihat seorang wanita menggunakan coat abu – abu yang terlihat sedang menunggu sesuatu. Kemudian ia memberhentikan kereta besi putihnya di depan wanita coat abu – abu yang sudah tak asing lagi baginya. "Sudah lama menunggu?" tanyanya sembari menutup pintu kereta besinya.

"Tidak, aku baru saja sampai disini." jawab wanita berambut honeybrown yang berada dihadapan Levi sekarang. Lelaki itu hanya memperlihatkan senyum tipis. Senyum yang diperlihatkan hanya untuk wanita itu seorang. Sepersekian detik kemudian jemari mereka bertaut. Akhirnya mereka bergeming dari tempat mereka berdiri tadi. Levi membukakan pintu sedan putihnya dan mempersilakan wanita yang terlihat kebih pendek darinya masuk.

Aneh, meskipun mereka sudah seperti dua insan yang sedang menjalin hubungan, namun rasa canggung tetap saja menyusup di tengah perjalanan mereka.

"Kau tidak keberatan jika menghantarkanku untuk berbelanja terlebih dahulu? Malam ini keluargaku akan berkumpul." karena bosan dengan suasana hening, wanita itu akhirnya bertanya pada Levi.

"Sama sekali tidak." Jawabnya singkat seraya memfokuskan pandangan ke jalanan.

Setelah melalui beberapa tikungan, pada akhirnya mereka berhenti di salah satu center perbelanjaan di Harajuku.


Bar kopi terlihat sepi siang ini. Tidak seperti biasanya. Mikasa yang sedang tidak bertugas terduduk di meja pojok ruangan dekat kaca. Pandangannya sibuk melihat orang – orang berlalu lalang di jalanan Harajuku. Padahal suhu diluar seperti biasa, dingin. Sedingin hatinya.

Bunyi gemerincing lonceng pintu barnya membuyarkan konsentrasinya. Tanda bahwa ada customer yang datang. Sepertinya rasanya tidak asing dengan wanita bersurai pirang dan beriris sapphire blue, ah sudah bisa ditebak! Itu Krista! Dengan wajah sumringahnya ia berjalan menghampiri Mikasa di sudut ruangan.

"Hai hai... Mrs. Ackerman." katanya dengan nada sumringah seperti biasa.

"Bagaimana bisa kau datang kesini di jam kerja? dan berhentilah menggunakan embel – embel tersebut untuk memanggilku." Mikasa mendengus. Bola matanya melirik ke arah Krista yang hendak mengambil tempat duduk dihadapannya.

"Hanya bercanda." segurat lengkungan terlihat pada garis bibirnya terlihat seperti tersenyum diikuti matanya yang menyipit. Ia melanjutkan "Aku sedang cuti hari ini, jadi aku ingin mengunjungimu di apartemen, tetapi kata Levi kau sudah berangkat. Tunggu, apa kau tidak mengambil hari liburmu? Bukankah seharusnya kalian membutuhkan waktu untuk berdua saja?"

"Tidak, aku tidak membutuhkannya." raut wajah Mikasa menjadi suram.

"Mengapa?" tanya Krista lagi.

"Aku tidak mencintainya. Ah tidak, hanya sedang ingin bekerja." Mikasa cepat – cepat mengelak.

"Bagaimana bisa kalian menikah jika kau tidak mencintainya?"

"Perjodohan..." Mikasa menghentikan frase kata yang diucapkannya, lalu melanjutkannya kembali "Otousan-ku menjodohkanku dengannya karena ia merupakan orang kepercayaannya. Ia mayor jendral serta bawahan langsung dari Otousan."

"Begitukah? Mungkin kau harus belajar mencintainya jika tidak ingin mengecewakan beliau."

"Aku bahkan tidak tau caranya. Kau ingin minum apa?" tanya Mikasa mengalihkan pembicaraan.

"Vanilla Latte. Suatu saat kau akan menemukan caramu sendiri, percayalah." Krista membalikkan topik pembicaraan.

"Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan membuatkannya untukmu." Mikasa berdiri dari tempat duduknya. Lalu beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa nampan berisi secangkir vanilla latte dan secangkir espresso diatasnya. Ia meletakkannya di meja setelah sampai kembali ke tempat mereka berbicara.

"Krista, apa kau bahagia setelah menemukan Armin di dalam hidupmu?" tanya Mikasa, entah apa yang mendorong Mikasa untuk menanyakan hal tersebut.

"Aku sangat bersyukur dapat menemukan Armin. Aku merasa bahwa aku wanita paling beruntung di dunia ini. Selama ini, kami tak pernah berselisih pendapat. Kami memiliki pikiran yang sejalan. dan kami saling mempercayai satu sama lain." kata Krista panjang lebar.

"Aku iri padamu." raut muka Mikasa sama seperti tadi, muram.

"Aku yakin kau dan Levi suatu saat akan menemukan kebahagiaan pada hidup kalian, tetapi entah kapan. Entah lama atau sebentar." Krista tersenyum untuk meyakinkan wanita yang ada di hadapannya sekarang.


"Mina, aku pulang, tolong jaga bar ini sampai jam tutup." Mikasa mengambil coat -nya

"Baik Miss..." kata pegawai yang disebut – sebut bernama Mina itu. Mikasa mengangguk seraya memakai coat tebalnya. Malam itu salju menumpuk setebal lima milimeter. Mikasa melangkahkan kakinya keluar bar. Jalanan Harajuku tampak ramai karena hari ini mendekati natal. Gemerlapan cahaya lampu jalan, baliho yang tersorot lampu, dan layar iklan yang terpampang di gedung pencakar langit menghiasi jalanan Harajuku. Mikasa berjalan mencari stasiun subway terdekat yang dapat membawanya pulang kembali ke Shinjuku, tempat apartemen tercintanya. Langkah kakinya perlahan namun pasti. Kanan berganti kiri, serta semakin mengurangi jarak menuju stasiun subway. Beberapa tikungan telah ia lewati. Setelah melewati tikungan terakhir, netra obsidian-nya menangkap sekelebat proyeksi seorang lelaki setinggi sama dengannya yang mengenakan coat hitam berjalan bersama dengan seorang wanita yang lebih pendek darinya. Jemari mereka terlihat bertautan. Matanya terbelalak melihat sepasang orang yang berjalan berdua tadi sedang menyusuri trotoar di seberangnya. Sepertinya ia tak asing dengan orang itu. Tunggu, bukankah itu suaminya. Lalu mengapa ia pergi bersama wanita lain. Udara malam ini dingin, namun hatinya panas. Entah mengapa dan entah apa yang dirasakannya kali ini. Lama kelamaan, mereka hilang di perpotongan jalan. Mikasa terdiam sejenak, karena semakin dingin, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke stasiun.

Mikasa berdiri di dekat pintu subway yang bertujuan ke Distrik Shinjuku. Bayang – bayang suaminya dengan wanita lain masih memenuhi benaknya. Ia berusaha menghapus pikiran tersebut. Toh itu bukan urusannya, karena kembali pada satu alasan yang sama, penikahan ini hanya pernikahan kontrak.


"Ah.. Tunggu, aku melupakan sesuatu." wanita bersurai honeybrown itu berhenti berjalan, membuat Levi yang berjalan di sebelahnya menoleh. "Aku lupa membeli cuka beras, kau tunggu sebentar disini." katanya lagi seraya membalikkan badannya untuk mampir di kedai terdekat. Levi memberi isyarat sebagai tanda 'meng-iyakan' apa yang dikatakan wanita itu.

Setelah beberapa menit, wanita itu kembali dengan beberapa bungkusan di tangannya. "Biar kubantu." Levi mengambil beberapa bungkusan yang dibawa wanita itu. Wanita itu tersenyum padanya. Mereka kembali berjalan. Salju pun mulai turun perlahan membawa suhu dingin. Jemari mereka bertaut seraya memberi kehangatan satu sama lain tanpa menghentikan langkah mereka. Tanpa disadari, ada sepasang mata yang melihat mereka dari seberang jalan sebelum mereka berbelok.

"Levi.. apa kau..." ucapan wanita itu terhenti karena tiba – tiba barang komunikasi milik Levi berbunyi.

"moshimoshi... mengapa disaat seperti ini?... haruskah?... baiklah aku akan segera kesana." kata Levi pada orang di ujung sana. "Petra, maafkan aku. Aku tidak bisa menghantarkanmu kembali ke apartemen. Aku diminta untuk menghadiri rapat penting di markas." Levi memandang wanita itu lekat – lekat.

"Baiklah, tidak masalah. Aku akan menaikki bus menuju apartemen." wanita itu mengambil bungkusan yang dibawa Levi.

"Kau yakin?" tanyanya sekali lagi.

"Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik saja. Baiklah sampai jumpa, sebentar lagi keluargaku akan datang."

Levi melangkahkan kakinya menuju tempat dimana ia memarkirkan sedan putihnya. Bayangan punggungnya pun menjadi samar – samar dan perlahan hilang di perpotongan jalan. Salju yang semakin menderas pun memaksa wanita mungil yang disebut – sebut bernama Petra itu segera bergeming. Ia membalikkan badannya untuk berjalan mencari halte terdekat sebelum salju membekukan badannya.


Petra berjalan menyusuri jalanan sempit. Jalan yang akan membawanya ke halte lebih cepat. Namun jalanan itu minim penerangan. Netranya memasang pandangan was – was. Derap langkahnya menggema diantara gedung – gedung tinggi yang mengapit jalanan tersebut. Apalagi ia berjalan sendirian. Semakin jauh semakin sunyi pula jalanan tersebut.

Samar – samar terdengar suara derap langkah yang mengiringi tempo langkahnya. Ia semakin was – was. Perasaannya gelisah. Pandangannya tajam tertuju pada setiap sudut jalanan. Derap langkah tersebut semakin terdengar dekat. Ia setengah berlari. Suara derap itu pun berhenti. Ia mengumpulkan mental untuk melihat ke arah belakang. Perlahan, ia memutar kepalanya. Belum sampai sepenuhnya ia melihat keadaan di belakangnya, tiba – tiba saja pandangan gelap dan kesadarannya semakin melumpuh.

Darah memancar keluar dari punggungnya, mewarnai merah salju putih di sekitanya. Tubuh ringkihnya terjatuh di atas aspal dingin. Pisau belati yang baru saja menusuk punggungnya berkilat kala benda itu terpancar lampu jalanan, lengkap dengan bekas darah yang menetes di ujungnya. Surai kuning si pelaku pun turut berkilat dibawah terpaan lampu jalanan. Iris biru sebiru atap dunia mendelik tajam ke arah mayat Petra. Tak ketinggalan noda bercak darah terpampang jelas di kulit putih porselennya. Walau begitu, ia sama sekali tak jijik dengan darah. Si pelaku menutupi kepalanya dengan tudung jaketnya. Ia membiarkan mayat Petra tergeletak di atas aspal dingin dan kembali berjalan entah kemana, lalu hilang di persimpangan.


Mikasa mengeluarkan kunci apartemennya dari dalam tas ketika ia sampai di depan pintu. Selalu, ia mengganti boot-nya dengan sandal putih tipis dan tak lupa menggantungkan coat musim dinginnya di tempat yang telah tersedia. Lalu ia menyalakan lampu apartemen. Ternyata Levi belum pulang. Pikiran tentang Levi yang melintas begitu saja membuatnya berjalan menuju meja makan. Dilihatnya benda yang tertutup tudung saji. Makanan yang dibuatnya tadi pagi pun terlihat tak meninggalkan sisa. Segurat lengkungan tersungging di bibir tipisnya. Ia mengambil tempat makanan itu dan meletakkannya di tempat cucian.

Karena merasa tak nyaman, ia menuju ke bilik mandi untuk membersihkan diri. Ia berhenti di depan sebuah cermin datar yang terdapat di bilik mandi dan sekilas memandangi pantulan dirinya di cermin yang masih lengkap dengan busana yang tadi pagi ia pakai saat berangkat. Polesan make up-nya pun masih melekat walau sudah dua belas jam lamanya. Ia memutar keran wastafel. Percikan air dingin keluar dari keran itu, lalu perlahan ia membasuh muka lusuhnya dengan sedikit air dan sabun. Setelah itu, ia kembali memandangi bayangannya di cermin. Baru saja ia akan terlarut dalam lamunannya, bel apartemen tiba – tiba berbunyi. Mungkin Levi sudah pulang. Mikasa melangkahkan kakinya ke depan pintu. Ditiliknya melalui lubang berkaca cembung untuk melihat siapa yang datang. Benar saja, Levi sudah di depan pintu dengan raut muka datarnya, selalu. Kemudian ia membukakan pintu untuk suaminya.

"Kau sudah pulang?" ditanyanya Mikasa yang mematung di depan pintu sembari memasuki apartemen dan melintas dihadapan istrinya. Mungkin sekedar basa – basi. "Hmm.." hanya deheman pendek yang terdengar dari Mikasa. Setelah itu, tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Levi yang lelah pun sudah terlarut dalam bunga tidurnya dalam lima belas menit kedepan setelah percakapan pendek mereka.

Mikasa menilik Levi di kamar mereka saat pria itu tengah tidur tenang dengan wajah polos yang menyertainya. Terdengar dengkuran halus dari pria dingin sedingin salju bulan Desember ini. Ia segera memalingkan perhatiannya dan segera mengambil tempat untuk tidur di sebelah Levi. Ia kembali memandangi suaminya itu. Ketika ia memandangi wajah polos suaminya itu, rasanya damai, entah mengapa. Namun ia tak dapat menahan rasa kantuknya. Perlahan, kelopak matanya pun menutup seolah menyembunyikan iris obsidiannya dan kemudian terbawa dalam alam bawah sadar.


December 22nd, 2014

Perlahan namun pasti, netra itu terbuka dan sedikit demi sedikit pandangan yang kabur itu pun terlihat jelas setelah netranya mengatur fokus. Iris onyx-nya mengkilat diterpa cahaya pagi diikuti dengan pupilnya yang mengecil. Tangannya menutupi sebagian wajahnya agar cahaya itu tak menyilaukan matanya. Lalu ia melirik ke samping ranjang. Ada Mikasa yang masih saja terperangkap dalam bunga tidur. Lirikan pun berubah menjadi tatapan. Ia menatap wajah istrinya yang tengah tidur. Ras Asia sangat kental di wajah itu, sama sepertinya. Surai hitamnya pun juga mendukung hal tersebut. Iris onyx itu menelusuri setiap sudut tubuhnya mulai dari ujung surai hingga ke kaki jenjang putihnya bak porselen. Fokus pandangannya tiba – tiba buyar ketika alarm beker diatas meja nakas berbunyi. Sudah jam 8 pagi rupanya. Wanita disampingnya pun bergeming. Matanya terbuka dan sepertinya iris mereka bertemu. Levi yang menyadari bahwa iris mereka bertemu pun buru – buru memalingkan wajahnya.


Suara benturan antara sendok garpu dan piring porselen memecah keheningan di ruang makan. Samar – samar terdengar suara TV di dekat ruang makan. Suara itu terdengar jelas seperti orang yang sedang membawakan berita. Berita pagi itu berhasil memuat Levi memfokuskan pandangannya dari piring. "Pemirsa, pagi ini telah ditemukan seorang mayat perempuan di jalanan Harajuku. Diduga mayat tersebut adalah korban pembunuhan. Sang pelaku kini sedang dalam tahap penyelidikan." (RIP kalimat berita, saya kurang bisa membuat kalimat berita ). Suara pembaca berita terdengar jelas ketika Levi menaikkan volume suara TV. Korban di TV pun terlihat mengenaskan walaupun proyeksi di TV itu sudah dilengkapi gambar sensor. Levi kembali pada makan paginya yang hanya tinggal separuh. Dihadapannya, istrinya yang sedang melakukan hal yang sama dengannya pun hampir selesai dengan kegiatannya. "Jika sudah selesai, letakkan piringnya di meja saja, aku akan membereskannya." Suara lembut istrinya terdengar saat ia hampir selesai dengan acara breakfast-nya. Jarang – jarang sekali mereka mengadakan breakfast bersama. Entah karena Mikasa yang selalu berangkat lebih dulu ataupun sama halnya dengan Levi.

Ia mengenakan coat hitamnya ketika hampir siap untuk berangkat ke markas. Dilihatnya Mikasa sedang mencuci alat makan yang mereka gunakan tadi. Lalu ia menghampirinya. "Aku berangkat. Kau tidak perlu repot – repot menungguku nanti malam." Suara berat Levi membuat Mikasa memalingkan wajahnya dari pekerjaannya dan menatap suaminya yang hendak berangkat ke markas. Hanya deheman singkat yang terdengar dari Mikasa.

"Tunggu! Kau akan pulang malam lagi?" Baru saja Levi akan memutar kenop pintu, Mikasa melemparkan pertanyaan yang tadi hampir ia lupakan.

"Mungkin saja." jawabnya lalu menghilang dibalik daun pintu. Mikasa menatap daun pintu yang menutup sebelum melanjutkan pekerjaannya mencuci alat makan.


"Masuklah..." kata Levi ketika terdengar suara ketukan diluar pintu ruang kerjanya. Surai coklatnya terlihat dibalik pintu diikuti tubuhnya yang lengkap dibalut dengan jas tanda ahli kesehatan. "Obasan.." kata Levi sekali lagi. Suara hak sepatu yang berbenturan dengan lantai kayu terdengar ketika Mrs. Hanji menghampiri Levi di seberang mejanya.

"Aku akan mengatakan hal penting yang harus kau ketahui. Kau tau soal berita pembunuhan di jalanan Harajuku pagi tadi?" tanya wanita yang kerap disapa Mrs. Hanji itu.

"Ya, aku sempat melihatnya tadi pagi. Apa yang akan kau katakan?" nada bertanya Levi terlihat serius.

"Orang yang dibunuh itu adalah mantan tunanganmu, Petra." jawab Hanji tegas.

Levi terdiam sejenak lalu membuka mulutnya. "Tidak. Itu tidak benar. Bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku baru saja mengotopsinya tadi pagi. Pelakunya sedang dalam tahap penyelidikan oleh anak buahmu. Sekarang mayat Petra sudah dibawa ke rumah duka. Bagaimana bisa kau tidak mengetahui hal ini?" Alih – alih menjawab pertanyaan Hanji, Levi malah beranjak dari kursi VVIPnya sembari menyambar coat hitam yang tergantung di dekat pintu. Langkahnya dipercepat setelah keluar dari ruangan. Obasan-nya juga mengikuti dari belakang.

Hingga akhirnya mereka sampai pada rumah duka. Terlihat orang – orang memakai pakaian serba hitam tanda sedang berkabung. Levi melewati beberapa kerumunan untuk sampai ke peti kubur yang di dalamnya sudah ada sesosok mayat mantan tunangannya. Ia menatap beberapa keluarga kerabatnya bermuka suram. Kemudian ia menilik apa yang ada di dalam peti kubur itu. Mayat Petra sepertinya terlihat damai dan juga sudah didandani dengan apiknya. Kulitnya putih pucat.

"Kau tahu, anakku bercerita padaku bahwa kau akan meminangnya dalam tiga bulan kedepan." suara berat seorang lelaki mengejutkan Levi. Levi menoleh, itu tuan Ral. Namun levi tetap tak bergeming. Ia melangkah meninggalkan peti kubur itu.

"Kau kemana? Upacara pemakaman akan dimulai sebentar lagi. Jangan kemana mana." Hanji menepuk pundak Levi sebelum lelaki itu benar – benar melengos pergi. Levi sepertinya mengerti, namun ia tetap diam. Sepertinya ia akan mengikuti prosesi pemakaman mantan tunangannya.

Dengan sabar ia mengikuti prosesi panjang tersebut. Dan sampailah pada saat peti kubur sudah menyatu dengan tanah. Kemudian perlahan demi perlahan, orang – orang mulai meninggalkan pemakaman. Hingga yang tersisa adalah Levi dan Hanji. Levi mengeluarkan sebuah kotak beludru biru dari saku coat-nya. Lalu dibukanya kotak itu yang berisikan cincin emas kuning. Ia mengambil cincin itu dan meletakkannya diatas nisan Petra. "Hanya ini yang dapat kuberikan padamu. Bahkan aku belum sempat memberikannya di detik – detik sebelum ajalmu tiba. Gomenasai Petra. Aku mencintaimu." Levi beranjak pergi dari pemakaman. Hanji yang sedaritadi menunggu Levi pun mengikutinya.

"Aku akan pergi ke klinik. Jika ada yang kau perlukan lagi, datanglah ke klinik." kata Hanji sebelum benar – benar meninggalkan Levi. Levi mengangguk mengerti. Mereka berpisah setelah keluar pemakaman.

Levi terus melangkahkan kakinya menyusuri jalanan kota Harajuku. Salju turun malam ini dan semakin deras hingga menumpuk di aspal. Sorot matanya menampakkan kesedihan yang mendalam. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku karena suhu semakin menurun. Langkahnya semakin menambah jarak. Beberapa gedung pencakar langit telah dilaluinya. Namun, sebuah bar kecil di pojok jalan menarik perhatiannya. Mungkin sedikit sake dapat meringankan beban batin yang dipikulnya. Ya, dengan sedikit sake...


Mikasa terperanjat dari sofa beludru hitam di ruang tengah ketika bunyi gebrakan pintu terdengar dari luar apartemen. Ia setengah berlari menuju pintu lalu memutar kenop pintu. Matanya terbelalak ketika melihat keadaan Levi yang terlihat lusuh. Cara berjalannya pun seperti orang linglung. Pandangannya kosong. Bau alkohol pun menyeruak mengenai indra penciuman Mikasa. Beberapa langkah saat ia memasuki apartemen, ia terjatuh dan menimpa bahu kanan Mikasa dengan keadaan tak sadarkan diri. Beruntunglah keseimbangan Mikasa tak goyah.

-To Be Continued-

.

.

.

Reply Review :

Plovercrest : aaaaaaaa~ sankyuu gozaimasu karena telah menunggu keterlambatan fic ini :'3 *terhura* mungkin selingkuh di malam pertama itu memiliki sensasi tersendiri :'v *digorok Levi* terima kasih atas reviewnya ^^

Hime Yamanaka : siapp hime-san^^ terima kasih atas reviewnya^^

Minori Hikaru : yahh, sedih yah :( ngehe :D, well, saya akan lanjut FF ini sesuai permintaan^^, terima kasih atas reviewnya^^

Kiri Shota : as your request Kiri-san, saya akan melanjutkan FF ini, terima kasih atas reviewnya^^

Kanazuki Rima : iyaa, akhir" ini jarang yang buat FF rivamika, saya sedih :( sengsaranya hati Mikasa :'3 *pukpuk Mika* well, terima kasih atas reviewnya^^

Akhirnya tiba di penghujung chapter 3 ini. sebagai ganti di chapter 2 yang pendek bet, saya memanjangkan chapter 3 nihh :3 semoga dapat menggantikan kekecewaan para reader :( *drama mode on* *dilempar tomat* sekali lagi terimakasih saya haturkan untuk reviewer, reader yang mengikuti dan memfavoritkan fic ini, serta silent reader yang mlipir(mampir) di fic ini. semoga keberuntungan selalu menyertai kalian ^^ sampai jumpa di chapter 4^^