Note : Ola^^/ chapter 4 sudah jadi, jeng jeng jeng... *apasih* gomenasai atas keterlambatan saya untuk mengupdate ff ini :'( soalnya saya bener - bener sibuk di organisasi yang memaksa saya untuk membuat tiga buah proposal dalam kurun waktu sebulan :'( apalagi ini liburan ujian sekolah, saya gak libur tapi ttp kerja, sialnya malah gak ada inspirasi buat lanjut FF ini :'( *edisicurcol* ok, disini ada beberapa kata asing, kali ini saya akan menerjemahkannya.

ket :

- Tteokbokki : penganan Korea berupa tteok dari tepung beras yang dimasak dalam bumbu gochujang yang pedas dan manis.

- Tteok : kue yang terbuat dari tepung beras ataupun tepung ketan.

- Gochujang : bumbu yang disajikan bersama tteokbokki memiliki rasa manis dan pedas.

tak lupa terimakasih saya ucapkan untuk beberapa soulmate yang bener - bener mendukung saya, reviewer, reader yang mengikuti dan memfavoritkan fic ini, serta 'silent reader' yang mlipir(mampir) di fic ini :( okaii no basa - basi lagi. Happy Reading and don't forget to RnR ^^

Disclaimer :

- Shingeki No Kyojin © Hajime Isayama

- Winter In Tokyo © Ilana Tan

- When The Snow Flake Fly Away © xandraxu

Warning : AU, AR, AT, OOC, Typo, No Bash, EYD kurang sempurna, Levikasa pair, Jika terdapat kesamaan alur cerita itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

.

.

.

.

.

Beberapa langkah saat ia memasuki apartemen, ia terjatuh dan menimpa bahu kanan Mikasa dengan keadaan tak sadarkan diri. Beruntunglah keseimbangan Mikasa tak goyah.


Chapter 4 :

"Levi!" pekik Mikasa ketika tubuh dengan tinggi yang sama dengannya menimpa bahu kanannya. Dengan susah payah Mikasa memapah tubuh suaminya ke ranjang kamar mereka. Dilihatnya orang itu masih saja tak sadarkan diri. Gadis yang baru beberapa hari lalu telah resmi menyandang gelar 'Lady Ackerman' pun kini tengah bimbang harus berbuat apa. Sepintas penyataan gila melintas dibenaknya. 'Apa aku harus menggantikan seragamnya dengan piyama tidur?' batinnya bertanya. Namun, ia belum memiliki cukup keberanian untuk hal itu. Sangking bimbangnya, ia hanya memutuskan untuk menyelimuti tubuh atletis suaminya itu.

Ketika Mikasa hendak pergi ke dapur, tiba – tiba saja ada tangan yang mencengkram pergelangan tangannya. Ia terperanjat dan menoleh ke belakang. "Jangan pergi, Petra." kalimat itu sukses membuat perhatiannya tersita, yang diduga baru saja diucapkan Levi dalam keadaan setengah sadar. Lalu apa maksudnya?

"Aku bukan Petra, Levi." kata Mikasa seraya berusaha melepaskan cengkraman erat Levi.

"Aku tidak ingin kau meninggalkanku." tangan itu sepertinya tak mau melepaskan pergelangan Mikasa.

"Sudah kubilang aku bukan Petra, dan berhentilah berkata hal gila seperti itu." nada bicara Mikasa mulai meninggi. Levi pun diam tetap dalam keadaan tidak sadar. Mikasa kembali pada aktifitasnya. 'Sial, pria itu mulai gila.' batinnya. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan segelas air panas. Entah untuk apa ia mengambilnya.

Mikasa yang sudah berpiyama tidur pun naik ke atas ranjang dan membelakangi Levi. Untuk sebentar, ia menatap ke arah jendela. Kepingan salju yang turun dan terbang tinggi terhembus angin terlihat dari balik jendela. Semakin lama, kantuk pun membebani kelopak matanya. Perlahan ia memejamkan kemata. Lagi – lagi ia terperanjat. Tadinya kelopak matanya hampir menutup jika saja ia tidak dikagetkan dengan Levi yang tengah memeluknya dari belakang. Sontak, hal itu membuat matanya yang hampir saja menutup lalu terbelalak kembali. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Petra." racau pria itu. Hembusan nafasnya terasa di kulit leher Mikasa. Sensasi hangat menjalari tubuh Mikasa. Ia tak bisa terlelap dalam tidur, entah mengapa. Padahal malam sudah terlalu larut. Ditiliknya jam dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari.

Baiklah, Mikasa akan membayangkan domba – domba yang lompat melewati pagar lalu menghitungnya dalam bayang – bayang tersebut. Sungguh, itu hal konyol. Tetapi jika hal itu membuatnya terlelap, ia akan melakukannya. Perlahan demi perlahan, kelopak matanya semakin berat. Seiring dengan beratnya rasa kantuk, kelopak matanya pun tertutup sempurna dan akhirnya terbawa ke alam bawah sadar.


December 23rd, 2014

Mikasa sedang membuat adonan pancake untuk breakfast pagi ini. Ditengah kesibukannya, bel apartemen berbunyi dua kali. 'Mungkin Hanji-san datang, ini terlalu pagi.' Batinnya seraya melangkah membukakan pintu. "Hanj..." belum sempat Mikasa menutup mulutnya, Mrs. Hanji sudah melenggang masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa beludru hitam. "Apa hal yang ingin kau bicarakan padaku?" katanya pada Mikasa sembari membenarkan posisi kacamatanya.

"Baiklah, Hanji-san atau obasan? Baru saja semalam Levi tidak sadarkan diri. Mungkin efek dari sake. Aku menghirup bau alkohol darinya. Tetapi sebelumnya ia tak pernah melakukan hal bodoh seperti itu. Mungkin kau tau apa yang terjadi padanya? Aku menanyakannya padamu karena aku yakin, orang yang paling dekat dengan Levi adalah kau."

"Petra. Levi melakukan hal itu karena ia shock. Ia belum bisa menerima takdir bahwa Petra sudah meninggal."

"Siapa itu petra?"

"Mantan tunangannya. Tepat sebelum ia dijodohkan denganmu."

Mikasa terdiam dan mencerna kalimat yang dikatakan Mrs. Hanji. "Lalu dimana Levi?" tanya Mrs. Hanji.

"Masih terlelap."

"Aku ingin bicara padanya." Mrs. Hanji beranjak dari sofa dan menuju kamar Levi. Mikasa melihat sekilas, lalu kembali larut pada kesibukannya.


Pria itu bergeming ketika merasa wanita yang berada dipelukannya semalam sudah tidak ada di hadapannya. Kemudian ia berguling ke lawan arah. Matanya sepenuhnya membuka ketika melihat sosok paruh baya dihadapannya lengkap dengan jas laboraturium yang dikenakannya. "Obasan! Apa yang kau lakukan di apartemenku?" nada bicara Levi sedikit meninggi. "Mikasa yang menyuruhku kemari." Mrs. Hanji menjawabnya dengan santai. "Dan hey, bocah kurang ajar, beraninya kau membentak obasan-mu ini. Simpan saja umpatanmu untuk nanti, aku akan mengatakan hal penting padamu." katanya lagi sebelum meninggalkan Levi di bilik. Levi mendengus kasar. Ia beranjak dari tempat tidurnya untuk berbenah penampilan.

Levi baru saja selesai dari urusan paginya. Ia mengambil tempat dihadapan Mrs. Hanji. Ia diam dan menatap baik – baik obasan-nya. Ia juga memasang indra pendengaran dengan baik untuk mendengarkan hal penting yang akan dibicarakan obasan-nya.

"Apa?" tanya Mrs. Hanji.

"Aku menunggumu mengatakan hal yang kau maksud." Levi mulai bosan dengan situasi tersebut.

"Apa benar semalam kau pergi ke bar untuk sake?"

"Ya, sedikit sake akan meringankan bebanku atas kematian Petra."

"Dasar anak bodoh! Itu tidak akan bisa mengembalikan Petra yang telah mati! Hey, mulailah melihat Mikasa. Jika kau terus saja terjebak di masa lalumu, yang ada kau akan makin terpuruk."

"Aku tak bisa obasan."

"Simpan omong kosongmu itu! Apa kau ingin mengecewakan ojisan-mu yang telah mengasuhmu?! Lihatlah istrimu, dia bahkan lebih baik daripada wanita itu. Aku tau kau masih sangat menyayanginya. Kuburlah perasaanmu itu. Apa kau mau menjadi gila jika terus memikirkan orang yang sudah mati? Jika kau begini terus, akan kulaporkan pada ojisan-mu."

"Obasan! Cukup! Baiklah, aku akan menuruti perkataanmu, asal kau tidak mengatakan hal ini pada ojisan."

"Bagus. Aku yakin kau akan bahagia. Aku berada di rumah jika kau membutuhkan." Mrs. Hanji bergeming dan melangkahkan kakinya keluar apartemen Levi dan Mikasa. Tak lupa ia pamit dengan nyonya pemilik apartemen. Suara sepatunya yang berbenturan dengan lantai kayu mengiringi kepergiannya.

Levi menghampiri Mikasa di dapur. "Kau yang menyuruh Hanji obasan kemari?" tanya Levi. "Memangnya mengapa?" Mikasa malah bertanya balik.

"Tidak, aku hanya bertanya."

"Ya, aku yang menyuruhnya. Kau tidak bekerja hari ini?"

"Tidak. Bagaimana denganmu?"

"Setelah ini aku akan berangkat. Bar sore ini akan ramai menjelang hari natal. Aku sudah menyiapkan western breakfast untukmu." Levi mengangguk mengerti. Ia melihat Mikasa yang tengah sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja.

"Aku berangkat." Kata Mikasa setalah beberapa menit bersiap diri. Levi melambaikan tangannya sebelum sepenuhnya Mikasa menutup intu apartemen.

Mikasa terdiam sejenak setelah menutup pintu. Ia merasa Levi sedikit berubah setelah bertemu dengan Mrs. Hanji. Setelah dirasa buang - buang waktu, ia berjalan ke lantai dasar.


Beruntunglah Mikasa datang ke bar kopinya. Benar dugaannya, padahal matahari masih terletak tepat diatas kepala, bar kopinya pun sudah dipadati pengunjung. Hari itu Mikasa benar – benar sibuk meracik kopi agar menghasilkan aroma yang dapat menjadi candu bagi para pembeli. Kebahagiaannya menjadi berlipat ganda. Tunggu! Sejak kapan ia mulai bahagia? Apakah sejak tadi malam? Apa mungkin perlakuan Levi yang sedikit manis padanya. Entahlah, itu menjadi misteri yang tersimpan jauh di dalam benaknya.

"Miss, ada seseorang yang ingin menemuimu." merasa dirinya dipanggil. Ia menoleh ke arah si lawan bicara. "Mina, tolong katakan pada orang itu untuk menunggu sebentar, aku sedang menyelesaikan pesanan yang satu ini." kata Mikasa sembari menyelesaikan pesanan yang hampir selesai.

Usai dari pekerjaan yang tidak begitu melelahkan bagi Mikasa, ia menemui tamu yang sedang menunggunya. "Mikasa!" seru tamu yang menunggu Mikasa dan rupa – rupanya itu Krista.

"Hey, Krista, bukankah ini jam kerja? Sepertinya hari ini kau tidak sibuk sama sekali. Apa restoranmu tidak ramai pelanggan menjelang natal?" Mikasa hanya berbasa – basi.

"Ya, aku sangat bersyukur, hari ini restoran sangat ramai, dan para pegawaiku bekerja sangat baik. Armin ingin menggantikanku karena ia sudah mulai cuti musim dingin hari ini. Jadi aku bisa mengunjungimu. Tunggu, aku juga membawakan ini untukmu." Krista menyodorkan sesuatu pada Mikasa.

"Apa ini?" tanya Mikasa.

"Tteokbokki dan Mochi."

"Tteokbokki?" Mikasa merasa asing dengan sesuatu yang Krista katakan.

"Ya, Tteokbokki, kue beras Korea. Bahan dasarnya hampir sama seperti Mochi, hanya saja cara penyajiannya yang berbeda. Tteokbokki disajikan dengan bumbu gochujang, rasanya pedas dan manis. Berbeda dengan Mochi yang memiliki rasa manis. Sepulang dari Incheon, Armin membawa banyak Tteokbokki. Kupikir, aku akan memberikannya beberapa padamu."

"Arigatou Krista, kau sangat baik. Aku bahkan jarang mengunjungimu ketika kau di restoran." Mikasa menerima pemberian Krista.

"Douita, lalu bagaimana kabar Levi?" tiba – tiba saja Krista menanyakan hal itu.

"Dia baik saja, tetapi kemarin baru saja tidak sadarkan diri karena sake. Anehnya hari ini ia lebih memperhatikanku."

"Benarkah? Bagus jika seperti itu. Lalu hal bodoh apa yang membuatnya sampai tak sadarkan diri?"

"Entahlah, aku pun tidak mengetahuinya." Mikasa merahasiakan masalah Levi dan Petra. Segurat lengkungan terbentuk pada bibir Krista. Ia memperlihatkan senyum manisnya bak dewi Aphrodite.

"Kau ingin apa Krista? Akan ku buatkan."

"Seperti biasa, Vanilla latte."


Levi tengah sibuk memilih jenis bunga. Tunggu, bukankah ia akan memberi bunga kepada seseorang? Mungkin saja. "Rico, aku ambil krisan putih ini." katanya pada sang florist, Rico Brenzska.

"Jarang sekali kau mencari bunga, untuk siapa krisan ini?" Rico bertanya.

"Tidak, hanya saja aku menyukai bentuk dan warnanya." Levi terlihat sedang mencari alasan.

"Tulip hitam itu juga kuambil." Levi menunjuk sebucket tulip hitam di pojok ruangan.

"Baiklah sir." Rico segera mengambil sebucket tulip hitam yang Levi maksud lalu menyerahkannya setelah menukarnya dengan sejumlah uang.

Setelah mendapatkan dua bucket bunga segar, ia beralih langkah keluar toko bunga. Lalu ia berhenti disebuah stasiun bawah tanah. Ia terlihat sedang menunggu subway. Kali ini tujuannya adalah distrik Harajuku, dimana tempat tinggal Petra berada. Lalu apa yang akan dilakukannya disana? Bukankah Mrs. Hanji sudah mengatakan bahwa ia harus menghapus memori tentang Petra dari ingatannya. Dasar keras kepala!

Subway yang ditunggunya kini telah tiba. Levi beranjak dari kursi tunggu dan berjalan bersama kerumunan orang – orang yang sibuk menjelang natal tiba. Benar saja, di dalam subway pun Levi tak mendapat tempat duduk sama sekali. Itu memaksanya untuk berdiri di dekat pintu selama perjalanan menuju Harajuku. Dua bucket bunga yang Levi bawa di dalam paper bag masih segar keadaannya seperti saat baru saja dipetik. Levi merasa sedikit tenang. Perjalanan dari Shinjuku menuju Harajuku pun sedikit lama. Levi hanya berharap bunga – bunga itu masih dalam kondisi segar saat sampai di tangan penerima. Lalu untuk siapa bunga itu? Levi memang pandai menyembunyikan sesuatu hal yang menyangkut masalah personalnya.

Dua puluh menit berlalu. Levi tiba di Harajuku. Dengan menenteng paper bag ia mulai melangkah keluar stasiun. Terus berjalan walau salju turun perlahan dan membawa hawa dingin yang menembus mantel hitamnya. Ia lebih merapatkan mantelnya. Kakinya terus melangkah mengurangi jarak tempuh ke tujuan yang ia maksud. Ia bahkan telah melewati apartemen Petra dan terus berjalan hingga sampai pada sebuah pemakaman. Ia memasuki gerbang pemakaman yang terlihat sangat mistis di siang hari. Langkahnya terhenti di depan sebuah gundukan tanah yang terdapat batu nisan bertuliskan 'Rest In Peace Petra Ral'.

"Petra, aku membawakan sesuatu untukmu." ucapan Levi terhenti ketika ia mengambil sebucket krisan putih yang berada di dalam paper bag. Ia menghela nafas panjang.

"Kini aku sudah menemukan penggantimu. Aku harap kau bahagia disana. Aku berjanji, aku juga akan bahagia di alamku. Ini hanyalah beberapa tangkai krisan putih. Hanya ini yang bisa aku berikan untukmu. Arigatou, atas semua yang telah kau beri padaku." Levi meletakkan krisan itu di atas makam Petra. Ia juga memanjatkan doa untuk kebahagiaan Petra di alam sana. Setelahnya, ia kembali ke Shinjuku untuk memberikan tulip hitam yang sekarang ia bawa. Semoga saja ia tidak memberikannya kepada wanita selain istrinya.


"Mikasa! Ayo pergi berbelanja, sebentar lagi natal akan tiba. Kau yakin akan melewatkan beberapa potongan harga yang sangat fantastis?" suara itu menggema di dalam bar kopi.

"Pelankan suaramu! Aku tidak mau jika pelangganku kabur hanya karena suaramu yang mirip seperti orang kebakaran jenggot." Mikasa membekap mulut gadis ponytail itu.

"Baiklah." kata gadis itu setengah tertawa tanpa dosa. Sama seperti wajahnya, polos.

"Mina, aku akan pulang. Kau jaga sampai jam kerja selesai." seru Mikasa pada pegawai setianya.

"Baik miss." suara Mina terdengar samar – samar dari ruang kerja bartender.

"Sasha, kita akan kemana?" tanya Mikasa saat mereka keluar bar dan ini diluar rencana, tiba – tiba saja Sasha mengunjunginya dan mengajaknya untuk berbelanja pra-natal.

"Hanya berjalan di trotoar Shibuya. Beberapa diskon akan terpampang di baliho dan kaca – kaca kedai di pinggir jalan." mereka berjalan seraya berbincang – bincang ringan. Salju sore ini turun, namun tak deras. Sehingga mereka tidak membutuhkan payung untuk melindungi kulit kepala mereka.

"Mikasa! Lihat itu! Diskon 75% untuk satu ekor kalkun hari natal. Ayo kesana! Aku ingin memasak kalkun panggang untuk Jean." seru Sasha ketika melihat diskon yang begitu membuatnya bahagia setengah mati. Ia berlari menuju kedai yang menawarkan diskon tersebut. Mikasa hanya mengikutinya dari belakang. Ia turut senang melihat sahabat satu universitasnya bahagia. Kedai itu terlihat sangat ramai.

Baru diambang pintu, Mikasa sudah disambut pemandangan antrian yang mengular panjangnya. Ia masuk sekedar melihat – lihat. Melihat bungkusan tteokbokki di tangannya, entah mengapa ia jadi teringat Levi. Gagasan gila melintas di otaknya. Ia memutuskan untuk membeli beberapa bahan makanan untuk makan malam bersama Levi. Ia mengambil beberapa bungkus mi udon, daging sapi, jamur enoki, jamur shiitake, bawang prei, paprika, dan tentu saja tak mau ketinggalan potongan harga 75% untuk seekor ayam kalkun. Sasha pun entah menghilang kemana. Mungkin orang itu sudah dibuat gila oleh diskon.


"Ojisan, kau di dalam?" tanya Levi seraya mengetuk pintu rumah Sir Erwin. Samar – samar terdengar suara derap langkah kaki yang semakin mendekat ke ambang pintu. Pintu itu terbuka dan menampilkan sosok yang lebih tinggi dari Levi.

"Levi? Apa yang membuatmu kemari? Masuklah." Sir Erwin mempersilakan Levi masuk rumahnya dan duduk di sofa beludru putih di ruang tamu.

"Aku membawakan bubuk espresso untukmu. Mikasa yang membawanya dari bar kopinya hingga menumpuk di lemari dapur. Aku sampai bosan setiap hari menyeduh espresso yang dibawanya terlalu banyak." Levi menyerahkan bungkusan plastik berisi dua packs espresso.

"Arigatou, jujur saja, aku tidak begitu suka dengan espresso, mungkin Hanji yang akan meminumnya."

"Bagaimana dengan penyelidikan Arthuria?" tiba – tiba Levi menanyakan kasus Arthuria.

"Agenku belum menemukan tanda – tanda kemunculan Arthuria. Setelah kematian mantan tunanganmu, tidak ada lagi kasus kejahatan yang muncul. Kami pun harus memutar otak untuk menyelidikinya. Sampai – sampai aku uring – uringan dibuatnya." jelas Sir Erwin

"Jika begitu, lalu siapa yang membunuh Petra?" Levi bertanya lagi.

"Pelakunya juga belum diketahui. Pelaku membunuh target dengan sangat rapi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun." sedikit kekecewaan terungkap dalam perkataan Sir Erwin. "Bagaimana keadaan Mikasa?" kini Sir Erwin balik bertanya.

"Seperti biasa. Ia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Memasak untukku di pagi hari dan membenahi apartemen ketika ia berada di waktu luangnya."

"Tidak salah juga aku menjodohkanmu dengannya."

"Ojisan, aku pamit. Ini sudah pergantian waktu. Mikasa akan segera pulang." Levi beranjak dari sofa dan merapatkan mantelnya.

"Begitukah? Hati – hati dijalan. Diperkirakan salju akan semakin deras malam ini." Sir Erwin memperingatkan Levi.


Mikasa tengah berada dalam perjalanan pulang dengan membawa bungkusan yang lumayan banyak, namun tidak sebanyak Sasha.

"Mikasa, bisa tolong aku? Demi dewa Poseidon yang menguasai seluruh lautan, ini sungguh berat." keluh Sasha.

"Siapa suruh kau membeli semuanya." Mikasa mengambil beberapa bungkusan yang Sasha berikan padanya.

"Kau kan teman baikkku. Bukankah teman harus saling membantu?" kata Sasha yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.

"Ya ya, aku mengerti, dan bisakah kau mempercepat langkahmu yang lamban itu? Aku tak ingin mati karena hipotermia disini." Mikasa mempercepat langkahnya dari Sasha.

"Asal kau tahu Mikasa, ini sungguh berat." Sasha terus saja mengeluh. "Jika saja ini tidak untuk Jean, aku tidak akan melakukannya." Sasha menjatuhkan barang bawaannya.

"Dasar bodoh! Mengapa kau menjatuhkannya? Ambilah dan percepat langkahmu, apa kau tidak merasa dingin?" rutuk Mikasa.

"Baiklah, aku akan melakukannya demi Jean." Sasha mengambil baarang bawaannya dan segera menyusul Mikasa.

Mikasa sendiri sudah mempercepat langkahnya sedari tadi. Ia sudah membayangkan betapa hangatnya udon beef dan yakiniku yang baru saja matang dari atas kompor. Apa lagi ditambah dengan keberadaan Levi. Mungkin malam ini terasa lebih hangat sekalipun diluar apartemen sedang dilanda badai salju yang mengerikan.

Kini dua sahabat satu universitas itu berpisah di perempatan. Tujuan mikasa adalah halte menuju apartemennya. Ia sudah semakin tidak sabar untuk sampai ke rumah. Langkah kakinya dipercepat sehingga mengurangi jarak tempuh ke apartemennya. Bingo! Bus pun datang ketika ia tiba di halte. Ia segera menaikki bus itu untuk sampai ke apartemen. Sialnya, malam ini Kota metropolitan Tokyo benar – benar sangat ramai. Perjalanan pun sedikit lama. Raut muka Mikasa menunjukkan moodnya yang benar – benar turun. Ia sudah lelah ketika berbelanja tadi. Hingga ia tertidur di bangku pojok. Namun matanya terbuka kembali ketika bus mengerem mendadak. Ia mendengus kesal dan tak bisa memejamkan mata lagi.

Satu jam berlalu, ia sampai di halte dekat apartemennya. Mikasa bergegas turun dari bus yang mengesalkan itu. Langkahnya ia percepat sampai – sampai bunyi boots-nya terdengar nyaring. Penantiannya pun terbayar setelah ia sampai di depan pintu apartemen. Seketika pandangannya terfokus pada sesuatu yang tergeletak di depan pintu apartemen. Sebucket tulip hitam yang masih terlihat segar. Diambilnya dan dihirupnya aroma tulip hitam yang masih segar itu. Aromanya khas dan Mikasa sangat menyukainya. Kemudian ia membuka pintu apartemen. Menyalakan lampu dan mengganti boots-nya dengan sandal putih tipis. Matanya menatap sekitar dan tidak ada tandakeberadaan Levi. Ia segera berganti pakaian dan menuju dapur untuk memasak makan malam sebelum Levi pulang. Mikasa berpikir, mungkin Levi sedang terjebak badai salju.

Ketika ia tengah membongkar beberapa bungkusan yang ia beli di kedai berdiskon, tiba – tiba semua lampu di apartemen mati. Mikasa terperanjat, namun tak berteriak. Terdengar suara derap langkah kaki dari luar apartemen dan suara pintu yang terbuka. "Levi, kau kah itu?"

-To be Continued-

.

.

.

Reply Review :

Plovercrest : uwoooo, fangirlnya levikasa :v saya juga saya juga, gak kebayang sakitnya diacuhkan suami sendiri :( di chapter 4 ini mulai ada sedikit perhatian kecil yang menggemaskan(?) *apasih* thankyou for read and review ^^

yeoja861 : mungkinkah malam pertama? heheh... *tawagila* thankyou for read and review ^^

Minori Hikaru : iyaa, jadinya Levi tak bisa menceraikan Mikasa, uwooooo *digampar(+9999) thankyou for read and review ^^

Akhirnya tiba di penghujung chapter 4, untuk kedepannya saya membawa kabar baik dan buruk. yang mana dulu nihh? yang buruk dulu aja yahh, buruknya maaf banget sebelumnya, saya mungkin bakal jarang - jarang banget ngepost, tetapi saya ttp update ini walaupun nantinya bakal lama bgt, soalnya saya emang udah janji mau nyelesaiin project tetralogi empat musim dengan beberapa modifikasi yang terinspirasi dari novelis misterius Ilana Tan. baiknya, saya sudah mempersiapkan ff oneshoot levikasa yang terinspirasi dari novelnya Ilana Tan yang berjudul 'Sunshine Becomes You' ditunggu yaa para readers. terimakasih saya haturkan untuk beberapa soulmate yang bener - bener mendukung saya, reviewer, reader yang mengikuti dan memfavoritkan fic ini, serta 'silent reader' yang mlipir(mampir) di fic ini :( semoga keberuntungan selalu menyertai kalian^^ sampai jumpa di chapter 5^^ saya pamit undur diri