Note : Haihai!^^/ *lambailambai* sudah sebulan lebih saya tidak update :'( gomenasai atas keterlambatan update,sekolah jaman sekarang bener" kayak orang kerja. apalagi bentar lagi UKK :'( saya bakal jarang update lagi :'( *curhatsepertibiasa* btw, disini Levi bnr" saya buat nyaris seperti karakter Nishimura Kazuto, yang pernah baca novel Winter in Tokyo pasti tau deh, ok langsung saja :v sebelumnya terima kasih para reviewer dan para readers yang selalu mengikuti FF ini dari awal. Happy Reading and Dont Forget to RnR ^^
Ket :
Efek Tyndall : penghamburan cahaya oleh partikel koloid/contohnya : sinar yang menembus jendela memperlihatkan debu debu mikroskopis
Croissant : kue kering yang berasal dari perancis yang bertabur coklat/keju, berbentuk bulan sabit.
Teflon : wajan berlapis polimer ethylene fluorine yang mencegah lengket di wajan ketika memasak, bergagang.
Disclaimer :
- Shingeki No Kyojin © Hajime Isayama
- Winter In Tokyo © Ilana Tan
- When The Snow Flake Fly Away © xandraxu
Warning : AU, AR, AT, OOC, Typo, No Bash, EYD kurang sempurna, Levikasa pair, Jika terdapat kesamaan alur cerita itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.
.
.
.
.
.
Tedengar suara derap langkah kaki dari luar apartemen dan suara pintu yang terbuka. "Levi, kau kah itu?"
Chapter 5 :
Derap itu semakin mendekat dan suasana makin mencekam. Mikasa mengambil teflon yang berada di almari dapur dan tetap berada dalam posisi membelakangi arah derap tersebut. Ketika ia hendak membalikkan badan untuk menyerang sosok misterius itu, tangannya tertahan oleh tangan lain milik sosok misterius itu. "Sssttt... jangan katakan kau ingin menamparku dengan benda mengerikan itu." suatu bisikan suara familiar tertangkap oleh indra pendengaran Mikasa. Suara bisikan yang sangat dikenalinya membuat Mikasa lega.
"Aku hanya berjaga jika bukan kau yang masuk."
"Nyalakan lilin jika kau tidak ingin menghabiskan malam ini dengan kegelapan. Aku menunggumu di ruang tengah." samar – samar suara Levi makin menjauh. Mikasa menuruti perkataan Levi. Ia mengambil sebatang lilin dan menyalakannya. Lalu ia menyusul Levi ke ruang tengah.
Diletakannya lilin beraroma lavender diatas meja, lalu membawa kakinya untuk duduk diatas sofa beludru. Denting jam dinding mengisi keheningan di ruang tengah. Tak ada dari mereka yang berinisiatif untuk membuka pembicaraan. Hujan salju diluar semakin menderas. Bahkan petir sampai terdengar ke dalam ruangan sampai – sampai membuat Mikasa bergidik. Api berkobar menghabisi lilin hingga seperempatnya, bias bayangan yang beberapa kali lebih besar dari mereka tercetak jelas di tembok memberikan suasana mistis. Praaaannnnngggggg... suatu bunyi berisik yang tidak diinginkan membuat Mikasa terperanjat hingga degup jantungnya terpacu cepat. Secara instan, ia langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia menyipitkan matanya karena suasana cukup gelap, hanya ada lilin yang remang – remang meneranginya. Samar – samar terlihat pot bunga yang jatuh, tanahnya berserakan di lantai balkon. Sudahlah, ia akan membenahinya besok, pikirnya.
Sudah dua jam lamanya badai tak kunjung reda. Udara dingin masuk melalui ventilasi udara, menekan kelopak mata untuk segera menutup. Rasa kantuk pun tak bisa tertahankan lagi. Mikasa memberi sebuah isyarat pada lifemate-nya untuk segera tidur. "Aku akan menyusul." nampaknya Levi masih belum terserang kantuk berlebih. Mikasa mengerti. Ia menyalakan satu lilin lagi untuk menerangi bilik tidur mereka.
Ditutupnya tirai jendela yang sedari tadi masih menggantung dipinggiran jendela. Sepintas iris obsidiannya melirik keluar jendela. Badai mengerikan masih saja menyerang Shinjuku. Tiba – tiba saja ia terpikirkan sesuatu hal tentang pembunuh berdarah dingin. Pikiran negatifnya mulai menguasai otaknya. Bagaimana jika tiba – tiba jantungnya tertusuk belati milik si pembunuh. Bayangan gila itu malah membuatnya tak bisa tidur. Serta merta kantuknya hilang. Ia menjatuhkan badannya di ranjang dan menutup sebagian badannya dengan selimut. Matanya belum terpejam. Mungkin, ada baiknya jika ia menunggu Levi.
"Apa hal yang membuatmu masih terjaga?" suara Levi bergema di ruangan. Irisnya menilik sosok yang berada diatas ranjang, tentu saja sosok itu masih terbuka matanya. Mikasa mendongak dan terdiam. Levi menghampirinya diatas ranjang. "Kau takut?" tanyanya sekali lagi. Mikasa mengangguk memberi suatu isyarat 'iya' atas pertanyaan Levi. Seketika lengan Levi sudah mendapati jalan untuk memeluk sosok dihadapannya. "Tidurlah." lalu Levi menutupi tubuh mereka dengan selimut. Remang – remang lilin menerangi kamar mereka sekarang, membuat suasana semakin mengerikan namun romantis. Malam yang mengerikan semakin larut, membawa mereka ke alam mimpi.
December 24th, 2014
"Eren. Lama tidak melihatmu." perempuan itu berjalan setengah berlari mendekat ke arah Eren. Suara high heels yang berbenturan dengan paving trotoar terdengar sampai ke tempat Eren memijakkan kakinya. Eren memalingkan wajahnya pada perempuan itu ketika namanya disebut. "Kau... semakin meninggi." perempuan itu mendongak dihadapan Eren ketika sampai dihadapan lelaki jangkung itu.
"Begitukah?" Eren hampir saja melepas tawa kecilnya. "Kau baru tiba di Shinjuku pagi ini?" tanyanya pada perempuan yang lebih pendek dihadapannya.
"Tidak, sudah dua hari yang lalu." senyum gadis itu merekah. "Hari ini kau kemana?" tanyanya.
"Mencari pohon natal dan segala pernak – perniknya. Kau tidak keberatan jika menemaniku sehari ini saja?"
" Tidak, jika kau yang memintanya." gadis itu tertawa lagi. "Ayo, kita tidak mungkin akan berdiri lama disini jika tidak ingin tertumpuk butiran salju." langkah kaki gadis itu mendahului Eren yang tengah mematung di tempatnya.
"Hey, tunggu aku." tak lama, Eren pun bergeming. Raut wajahnya tak dapat menyembunyikan rasa bahagia. Sudah beberapa bulan lamanya, ia tak bertemu gadis yang selalu menjadi alasan ia tersenyum. Ia mengejar langkah gadis berkulit seputih salju itu. Kali ini toko yang menjual pernak pernik natal akan menjadi tujuan mereka. Walau hari ini suhu masih dingin, para penduduk sipil tetap saja sibuk berlalu lalang. Gadis itu hilang diantara kerumunan penduduk sipil yang hendak menyebrang. Iris emerald-nya mencari sosok itu. Eren mencarinya ke seberang jalan. Tiba – tiba ada seseorang yang menepuk pundak kirinya.
"Mencariku?" tanya gadis itu. Surai pendeknya melambai ketika kendaraan penduduk sipil melaju cepat melewati mereka.
"Kau ini, jika tiba – tiba kau tersesat bagaimana? Kau bahkan belum memberiku contact person." Eren mendadak menceramahi si gadis.
"Eren, apa kau lupa? Aku sudah pernah tinggal disini selama belasan tahun. Bahkan aku sudah bisa menghafal jalanan ini. Kau tak perlu khawatir Eren."
"Siapa tahu tempo hari kau melupakan rute jalanan kota sibuk ini." Eren terkekeh. Mereka melanjutkan langkah mereka yang terhenti.
"Lalu bagaimana keadaanmu selama di Kyoto?" tanya Eren.
Gadis di sebelahnya mendesah. "Meniti pendidikan tinggi disana lama kelamaan menjadi beban untukku. Bahkan, hari – hari seperti orang bekerja, istirahat pun seperti lamanya kau mengedipkan mata. Maka itu, aku lebih senang saat tiba di Shinjuku." keluhnya. Benar saja, Kyoto adalah distrik pendidikan di Jepang. Untuk meniti pendidikan disana pun harus mempunyai intelegent tinggi.
"Mengedipkan mata?" Eren menaikkan satu alisnya. Tampaknya ia kebingungan.
"Ya, sangat cepat." kata gadis itu. Gadis tampak bersemangat. Menandakan bahwa bahagianya ia sekarang, setelah melepas beban yang ia bawa dari Kyoto. "Lihat! Salju turun" serunya kembali ketika melihat salju turun membasahi boot kulitnya. Salju mulai turun dengan damai. Eren menyunggingkan seulas enyum. Suasana suka cita sangat terasa kental saat itu. Orang – rang berlalu lalang mencari apapun untuk natal. Iris mereka melihat sekeliling. Pohon natal di beberapa sudut sudah terpasang dengan apiknya. Bahkan, anak – anak terlalu ceria untuk menggoda santa claus yang juga berada di beberapa sudut kota untuk membagikan hadiah kecil. Langkah mereka konstan hingga membawa mereka ke jarak yang semakin jauh dari titik awal mereka bertemu.
"Malam natal ini, kau kemana?" tanya Eren penuh harap. Sepertinya ia tidak memiliki teman malam natal kali ini.
"Aku baru saja menempati apartemenku yang baru. Kupikir aku akan membenahi apartemen untuk malam ini."
"Apa kau keberatan jika aku mampir malam ini?"
"Tentu, datanglah, tidak ada orang di apartemen. Lagipula malam nanti aku akan memasak kalkun untuk natal, mungkin kau bisa membantu sedikit."
Pada akhirnya, mereka sampai di sebuah toko mini yang menjual pernak – pernik pohon natal.
Pagi itu langit terlihat tidak cukup cerah. Masih ada sisa – sisa badai kemarin malam. Hal itu tetap saja tak menghalangi warga sipil Shinjuku untuk beraktivitas. Mikasa berjalan keluar dari kamarnya menuju balkon di depan ruang tengah. Benar saja, pot bunga yang jatuh berserakan terlihat di pandangannya. Ia membenahi pot bunga itu, meletakannya di pagar beton pembatas balkon. Sejenak ia memandang ke bawah ke arah jalanan. Memandang salju yang tertumpuk dan orang – orang berseliweran seperti biasa selama musim dingin.
Bodohnya ia hampir lupa jika pagi ini ia harus ke bar, apalagi dia belum menyiapkan breakfast untuk Levi. Ia menyudahi melihat pemandangan umum itu dan segera mengangkat kakinya ke dapur.
Di bilik mereka, Levi mengerjapkan matanya. Iris semu birunya terlihat. Beberapa kali kelopaknya mengerjap memfokuskan pandangan yang agak kabur. Sinar matahari menembus jendela hingga memperlihatkan efek tyndall-nya. Levi terbatuk ketika debu yang terlihat saat efek tyndall itu melayang memasuki rongga hidungnya. 'aku harus membersihkan kamar ini' batinnya. Padahal kamar ini sudah terlihat sangat bersih. Ia beranjak dari ranjang.
Baru saja ia akan mengambil peralatan kebersihan. Bau croissant sudah tercium dari dapur. Ia meletakkan seperangkat alat kebersihan itu. Mungkin breakfast terlebih dahulu akan lebih baik, pikirnya. Ia melihat samar – samar dari balik tirai bermanik cangkang kerang, bayangan Mikasa sedang menyiapkan breakfast. Levi menghampirinya.
"Croissant?" tanya lelaki minimalis itu.
"Ya, Hanji bilang kau merindukan kuliner khas kampung halamanmu dan kudengar lagi dari orang itu, kau sangat menyukai croissant bukan?" Mikasa bertanya balik, melirik Levi sebentar kemudian kembali melihat croissant yang sudah matang dan mengeluarkannya dari oven. Penampilannya pagi ini sungguh buruk. Benar – benar seperti ibu – ibu rumah tangga yang sudah memiliki tiga anak. Bedanya, Mikasa tidak memilikinya.
"Aku bahkan tidak ingat kalau aku pernah mengatakannya pada Hanji." Levi mengelak.
"Aku tidak begitu tahu menahu. Tapi, maaf aku tidak bisa menemanimu hari ini. Aku harus ke bar. Jadi aku hanya membuatkan ini." katanya sembari menuangkan espresso ke dalam cangkir.
"Aku tidak tahu kalau seorang pemilik bar bahkan lebih sibuk daripada seorang mayor muda." sindir Levi.
"Ya, aku tahu kau berbicara tentangku." Mikasa mendelik kemudian melepas apron-nya.
Levi terkekeh dan menatap Mikasa yang sedari tadi dengan sibuknya mondar – mandir di dapur. "Aku tidak benar – benar mengatakannya."
"Baiklah, terserahmu saja. Sepuluh menit lagi aku akan berangkat." Mikasa membawa hidangan pagi ke meja makan. Lalu dengan cepat ia menghambur ke bilik mandi.
Sepuluh menit kemudian, Mikasa sudah berdandan dengan apiknya. Ia menghampiri meja makan dimana Levi berada. "Kau tidak usah menungguku jika aku pulang malam lagi. Sampai jumpa." Mikasa berlalu dari hadapan lifemate-nya dan menyambar coat yang terlihat kebesaran jika dikenakannya.
"Tunggu, kau melupakan sesuatu." Levi memperingatkan lalu menghampirinya.
"Apa?" kening Mikasa berkerut. "Aku tidak bisa melakukan hal lagi jika kau menyuruhku." keluhnya ketika melihat jam ditangannya.
"Jika kau menyadarinya, yang kau bawa itu adalah mantelku." kata Levi. Mikasa memperhatikan kembali mantel yang ia bawa. Lalu ia menukarkannya dengan mantel miliknya.
"Ohh.. Maaf." Mikasa segera berjalan keluar apartemennya dan menuju bar yang sudah dua tahun lamanya berdiri di distrik Harajuku. Sangking terburunya, bunyi ketukan boot-nya terdengar sampai ke dalam apartemen mereka. Dari balik pintu apartemen yang tertutup itu, seorang lelaki minimalis terkekeh melihat ulah Mikasa.
Eren melihat gadis itu membawa banyak barang bawaan. Sepertinya ia kesusahan, apalagi dengan tubuh mininya. "Eren, bisa bawakan ini untukku?"pada akhirnya ia pun meminta bantuan Eren. "Tanpa kau memintanya pun aku akan membawakannya untukmu." Eren mengambil beberapa paper bag disamping gadis itu. "Kau tidak berubah, sama seperti yang dulu." gadis itu tersenyum sembari mengangkat paper bag satunya.
"Eren, apa kau tidak keberatan untuk mampir sebentar di bar kopi? Sepertinya kaki – kakiku mulai membeku, aku kesulitan berjalan." gadis itu menggerak – gerakkan kakinya yang berbalut boot. Tiba – tiba Eren membungkukkan badannya membelakangi gadis itu. "Naiklah." katanya.
"Kau yakin akan menggendongku beserta barang bawaan ini sampai bar kopi?" ekspresi gadis itu nampak ragu.
"Ya, lagipula kita akan berjalan lambat jika kaki – kakimu membeku sementara salju akan semakin deras. Cepatlah." lalu gadis itu mengalungkan tangannya pada leher Eren. "Demi Tuhan, kau sedikit lebih berat sekarang." lanjutnya sembari berjalan.
"Benarkah? Kalau begitu turunkan aku saja." gadis itu berusaha turun dari punggung Eren
"Tidak – tidak, aku tidak benar – benar mengatakannya, dan bisakah kau merenggangkan tanganmu itu? Aku sedikit tercekik."
"Ohh.. gomen." gadis itu merenggangkan pegangannya.
"Bar kopi milik Mikasa berada tak jauh dari sini. Jadi kau tak perlu khawatir denganku." gumam Eren. Salju semakin deras menjelang malam natal. Eren merapatkan mantelnya. Bodohnya, tak ada satu pun dari mereka yang membawa payung. Padahal musim dingin sudah hampir sebulan berlalu.
"Eren, kau bilang dekat, tapi sudah lima belas menit kita berjalan. Apakah sudah dekat?" tanya gadis itu.
"Sebentar lagi sampai. Kau lihat bangunan urban di depan sana? Itu dia tempatnya." kata Eren sembari menunjuk tempat yang dimaksudnya. Gadis itu menyipitkan matanya agar bias bangunan tersebut dapat jelas terlihat. Mereka terus berjalan menuju bar kopi. Beberapa toko mereka lalui. Menampilkan penawaran menjelang natal, bahkan hari ini adalah puncaknya. Dari jendela kaca sudah terlihat antrian yang mengular, penuh akan penduduk sipil yang gila akan diskon, terutama wanita.
"Miss, ada yang ingin bertemu denganmu." Mina memanggil Mikasa yang sedang sibuk memisahkan bubuk kopi di almari penyimpanan. Almari penyimpanan tepat berada di balik meja peracikan dipisahkan oleh sebuah tembok berkayu, sehingga Mina harus mengeraskan suaranya. Merasa dirinya terpanggil ia menoleh ke arah pegawainya yang selalu berpenampilan seperti maid dengan dress khas berwarna hitam putih juga jangan lupakan hairband yang selalu menempel diatas kepalanya. Tetapi beberapa detik kemudian Mikasa malah kembali menatap beberapa bungkusan bubuk kopi di hadapannya.
"Aku sedang sibuk Mina, tunggu sebentar. Tolong katakan pada orang itu, aku sedang sibuk." Mikasa kembali pada pekerjaannya. "Mina, jangan lupa buatkan pesanan untuk meja lima." lanjutnya.
"Baik miss, bisa tolong ambilkan bubuk americano untukku? Di etalase sudah habis." Mina sedikit mengeraskan suaranya karena di bar pun sangat bising karena banyaknya pengunjung, kemudian mengintip Mikasa dari balik tembok.
"Ya, tangkap ini." teriakan Mikasa disusul bungkusan kopi yang melayang begitu saja. Untung saja gadis berpenampilan seperti maid itu sudah pandai menangkap sesuatu. Kemudian Mina mulai meracik kopi seperti yang diajarkan Mikasa.
Sebenarnya, hampir seluruh orang di distrik Harajuku tahu bahwa kopi buatan mereka memang memiliki cita rasa tersendiri dan tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi saat di musim dingin seperti ini. Hampir sepanjang musim, bar mereka selalu padat pengunjung. Terkadang hal itu membuat Mikasa tidak tidur seharian, tetapi setimpal dengan pendapatannya. Kopi yang mereka jual pun tidak sembarang jenis kopi. Mereka mengimport -nya dari berbagai negara. Hari ini pun bar seperti biasa ramainya. Bahkan malam ini mencapai puncaknya, karena malam ini adalah malam natal. Mina mendesah panjang. Dari pagi sampai siang menjelang sore pun ia belum mendapatkan lima menit istirahatnya.
"Mina, siapa orang yang ingin menemuiku?" pertanyaan Mikasa membuat si pemilik nama menoleh ketika usai dengan tugasnya.
"Lelaki berumur sekitar tiga tahun diatasmu, bersurai gelap, tingginya hampir sama denganmu. Sebentar." Mata Mina melihat ke sekeliling bar, pandangannya berhenti ketika melihat orang yang dimaksud berada di sudut ruangan. "Itu orangnya miss." katanya sembari menunjuk orang yang dimaksudnya. Mikasa melihat ke arah orang itu dan menyipitkan matanya. Sedetik kemudian ia memutar manik matanya.
Dengan malas ia berjalan menuju orang itu. "Kau?!" sontak orang yang menjadi lawan bicaranya pun menoleh ke arahnya setelah pandangannya terfokus pada jalanan Harajuku. "Apa yang kau lakukan disini?!" tanya perempuan itu lagi.
"Aku hanya ingin melihat seberapa sibuk ketika kau berada di bar-mu." kata orang itu.
"Levi... Apa kau tidak memiliki kesibukan lain selain melihatku di tempat kerja?" Mikasa menekan nada bicaranya di akhir frase.
"Tidak, aku sudah mengambil cuti natal mulai hari ini. Apartemen sudah kubersihkan walaupun sudah bersih kau tahu. Lagipula apa salahnya jika seorang suami mendatangi istrinya? Bukankah itu suatu bentuk kepedulian."
"Tetapi Levi, gomen... aku sedang sangat sibuk sekarang, aku tak bisa menemanimu saat ini." Mikasa mengetuk perlahan meja kayu di depannya. "Baiklah, aku akan pulang lebih awal. Tentunya kau tidak akan keberatan menungguku, hm?" lanjutnya.
"Bagus." Levi mengelus puncak kepalanya. "Dan tentunya kau juga tidak keberatan jika aku meminta sesuatu bukan? Buatkan secangkir espresso untukku seperti yang kau buatkan pagi tadi." tepat saat Levi diam, terdengar suara bel yang bergoyang ketika tersenggol pintu masuk, pertanda ada orang yang mengunjungi bar. Seketika Mikasa melihat orang yang baru saja masuk ke bar-nya. Sepertinya ia mengenali orang itu. Dua orang yang tampak familiar di matanya, satu orang laki – laki dan satu orang perempuan. Raut mukanya mendadak gelisah. "Tunggu sebentar Levi." katanya sebelum ia meninggalkan tempat duduknya.
Ketika ia akan kembali menuju meja peracik, ia melewati orang itu dan berpura – pura tidak melihatnya. Suara si laki – laki itu terdengar ketika menyapanya "Mikasa? Bagaimana keadaanmu?"
Mendengar namanya dipanggil, ia menoleh "Ohh, hai Eren. Aku? Ya, seperti yang kau lihat." Mikasa tergagap.
Eren menaikkan satu alisnya. "Ahh..aku tau kau sedang sibuk hari ini. Dari caramu berjalan, kau terlihat sedang terburu – buru tadi. Baiklah, lanjutkan." Eren buru – buru menyudahi perkataannya, mengingat Mikasa sangat sibuk saat – saat ini. Mikasa hanya melemprkan senyum kepada saudaranya itu sebelum ia kembali ke balik meja peracikan.
Tetapi belum sepenuhnya Mikasa membalikkan tubuhnya, sepasang iris sapphire perempuan yang bersama Eren mendeliknya dengan tajam. Untuk beberapa detik lamanya mereka bertatap mata. Tatapan yang seolah mengintimidasi satu sama lain. Sepertinya mereka sudah pernah mengenal satu sama lain. Namun Mikasa cepat – cepat kembali ke balik meja peracikan.
Malam natal sudah tiba. Kemeriahannya bahkan sudah terlihat semenjak sore. Mikasa melepas lelahnya. Ia bersandar di pagar pembatas balkon dan melihat ke arah jalanan di bawahnya. Hiruk pikuk Shinjuku lebih padat dari biasanya. Shinjuku merupakan center penting di prefektur Tokyo. Tidak heran jika setiap harinya padat akan warga sipil. Angin malam berhembus menerbangkan rambut hitamnya, sehitam langit malam itu. Dingin mulai menusuk tulang. Tiba – tiba ia teringat dahulu ketika merayakan malam natal bersama keluarga kecilnya. Senyumnya merekah ketika ia mengingat kala itu ia mendapat kado natal dari sang ayah. Namun senyumnya menghilang ketika ia mengingat kepergian ayahnya. Raut mukanya menjadi suram, berbanding terbalik dengan suasana yang seharusnya penuh dengan suka cita. "Mikasa? Kau diluar?" ia mendengar namanya terpanggil dan melihat ke arah Levi.
"Kau tidak merayakan malam natal bersama rekan kerjamu?" Mikasa malah balik bertanya ketika Levi sudah menghampirinya tepat di depannya.
"Tidak, bukankah seharusnya aku menghabiskan malam ini denganmu." kata Levi.
"Ya, baiklah." Mikasa kembali bersandar dan melihat ke bawah.
"Mikasa, disini dingin." Levi menghangatkan telapak tangannya.
"Lalu mengapa kau disini jika kau merasakan dingin?" tanya Mikasa yang sedang memandang jalanan ibukota. Gemerlapan lampu sepertinya menarik perhatiannya. Tiba – tiba Levi memeluk pinggang rampingnya dari belakang "Tentu saja untuk meghangatkanmu. Kau tahu, baju yang kau kenakan itu cukup tipis." Mikasa menoleh ke belakang. Seketika, iris mereka bertemu. Jika ditatap dalam – dalam, mereka memiliki perasaan yang sama. Berbeda saat sebelum mereka menikah atau bahkan sampai dua hari setelah menikah. Kesimpulannya, tak semua perjodohan berujung pada perceraian.
Mikasa membalikkan badanya dan memeluk Levi erat. "Aku merindukan otousan." gumamnya.
"Ingatkan aku, besok kita akan ke pemakaman." Levi berbisik.
-To Be Continued-
.
.
.
Reply Review :
Yeoja681 : Haihai ^^ mungkin si pembunuh ga suka sama perempuan yang deket sm Levi, wkwks :v btw, Eren muncul nihh di chapter 5, terima kasih atas reviewnya ^^
xicm : ehh ehh ternyata Levi yang masuk, bikin kaget aja ni si kokoh :| terima kasih atas reviewnya ^^
Plovercrest : reviewer paling setia nihh, annie - arthuria emang klop, sama sama psychonya wkwks :v lah Mikasa - Levi semakin menjadi, semoga mereka bukan incaran annie - arthuria :3 wkwks, terima kasih atas reviewnya ^^
nuruko03 : kyaaaa... terimakasih nuruko-san, saya pasti melanjutkan fict ini, terima kasih atas reviewnya ^^
Akhirnya tiba di penghujung chapter 5 ^^ saya harap para reaader tetap setia membaca walaupun kedepannya saya bakal jarang update :'( ok, terimakasih saya haturkan untuk beberapa soulmate yang bener - bener mendukung saya, reviewer, reader yang mengikuti dan memfavoritkan fic ini, serta 'silent reader' yang mlipir(mampir) di fic ini :( semoga keberuntungan selalu menyertai kalian^^ sampai jumpa di chapter 6 ^^ saya pamit undur diri.
