Disclaimer © Fujimaki Tadatoshi – KnB (I own my story).
Warning : Miss typos, OOCness, sedikit gaje, ide pasaran, Yaoi/Boys love/Gender Bender dan AU/AR (only for this story). Segala sesuatu yang ada dalam cerita ini hanyalah rekayasa belaka. Jika ada kesamaan dalam bentuk dan hal apa pun, hal itu merupakan suatu ketidaksengajaan. Hope you can enjoy it and happy reading~
.
.
.
Rexa Anne presented
.
A KnB Fanfiction
(Akashi Seijuurou X Furihata Kouki)
.
.
.
Hug and Kiss
.
.
.
Seijuurou akhir-akhir ini sering uring-uringan dan yang jadi sasaran pelampiasan adalah tim basket kesayangan yang dipimpinnya, Tim Rakuzan.
Terlambat 1 detik saja, sang emperor tak tanggung-tanggung mendisiplinkan orang tersebut dengan menambah menu latihan menjadi 10 kali lipat. Oh, jangan tanya ... semakin diprotes, hukuman akan semakin bertambah, tak ada yang berani membantah.
Trio uncrowned king pun ikut-ikutan pusing. Tentunya karena selain menjadi korban 'kebrutalan' sang emperor, juga menjadi sasaran anggota yang lain untuk berkeluh kesah. Sudah capek fisik ditambah capek hati? Uugh, ketiganya pun tepar.
'Okaa-san, kami tak sanggup.'
Rintihan pilu dari hati ketiganya pun bergema, hanya dalam hati tapi ... soalnya jika benar-benar disuarakan, sepertinya mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada mentari esok pagi.
Di ruang klub ...
"Demi apa Sei-chan jadi tambah sadis begitu sih?" tangis Mibuchi Reo sambil memeluk Hayama Kotaro yang terkapar di lantai.
Nebuya Eikichi yang bersandar di dinding hanya mengangkat bahunya pelan.
"Reo-nee beraaaaat~! Jangan peluk aku, badanku tambah remuk," Hayama beralasan sambil mendorong pelan tubuh yang berada di atasnya. 'Skinship ini terlalu intim,' pikir Hayama tapi ia mengerti keadaan sang sahabat yang galau berat.
Seijuurou memang sudah keterlaluan kali ini. Tak biasanya ia bertindak tak profesional dan melibatkan masalah pribadi—menurut mereka—ke dalam latihan tim.
Bagaikan bola lampu yang menyala di dalam kepalanya, sebuah ide terlintas di pikiran sang Raijuu Rakuzan. Seperti kena charge ia melompat bangkit dengan—terlalu—semangat hingga mengakibatkan Mibuchi yang sedang menangis tersedu-sedu meratapi kelakuan Sei-chan-nya dia atas tubuhnya pun terpental darinya. Mibuchi terkapar dengan belakang kepalanya membentur lantai ruang klub, membuat sang Yaksha berguling-guling cantik, kesakitan.
"Kotaro! Apa yang kaulakukan?! Sakit bodoh!"
Mibuchi misuh-misuh sambil mengusap belakang kepalanya yang terantuk cukup keras, dan Hayama hanya mampu menyengir polos, menggumamkan maaf.
"Hehehe, maaf Reo-nee. Aku punya ide."
"Ide apa?"
"Makanya ke sini," ujarnya sambil menggerak-gerakan telunjuknya menyuruh Mibuchi dan Nebuya mendekat lalu menceritakan idenya.
"Hooo, boleh juga dicoba," komentar Nebuya sambil mengangguk-angguk.
"Oke, kapan kita jalankan rencananya?"
Cengiran di wajah sang Raijuu melebar. Kilatan jahil pun tersirat di kedua matanya.
"Secepatnya, Reo-nee, Eikichi. Ayo, cepat ganti baju, kita harus menjalankan strategi pertama."
"Siap!"
Ketiganya pun dengan buru-buru berganti baju dan keluar dari ruang klub, menyerbu ke gerbang sekolah dengan semangat di level paling tinggi, lupa kalau mereka baru saja menyelesaikan latihan neraka dari Seijuurou.
Di tempat tujuan...
"Eh ta-tapi...,"
"Kami mohon!" ujar ketiganya sambil ber-ojigi. Membuat seseorang yang mereka mintai pertolongan semakin bingung dan tak enak hati.
"Ta-Tapi aku tidak janji, senpai. Ka-Kami belum ada bicara sejak Akashi-san mengatakan bahwa ia akan sibuk sekali dalam minggu ini. A-Aku tidak yakin Akashi-san akan mendengarkan aku."
"Tidak apa-apa! Pokoknya tolong kami Kou-chan, kembalikan mood Sei-chan seperti semula! Kami sudah begitu menderita selama seminggu ini. Sei-chan benar-benar membantai kami saat latihan."
Melihat keputusasaan para senior, Kouki meneguk ludah dengan susah payah. Perkataan seniornya saja Seijuurou tidak peduli apalagi dia yang cuma teman sekelas sang emperor. Yah, tidak sekedar cuma teman sekelas sih, mereka cukup dekat meski Kouki sendiri akrab dengan Seijuurou hanya dalam urusan kelas, karena ia adalah bendahara kelas sementara Seijuurou adalah ketua kelas—merangkap ketua dewan komite disiplin siswa dan kapten tim basket.
"Ba-Baiklah kalau begitu, senpai. Aku akan usahakan bertanya padanya besok setelah rapat pengurus kelas. Ta-Tapi sekali lagi aku tidak janji ya?"
Wajah ketiganya dipenuhi rasa haru dan lega, bahkan sampai mata Nebuya pun berkaca-kaca saking senangnya. Ketiganya serentak memeluk tubuh mungil Kouki, membuat yang bersangkutan nyaris kehilangan napas plus tulang remuk karena ketiganya memeluknya sangat erat untuk melampiaskan kegembiraan mereka.
"Terima kasih, Kou-chan!"
"To-To-long le-pas-kan a-ku... se-se-sak, senpai..."
Keesokan harinya setelah rapat para pengurus siswa selesai ...
"Akashi-san? Ma-Maaf, setelah ini bo-bolehkah aku berbicara pada Akashi-san se-bentar?"
Kouki sedikit memaki dalam hati karena usaha kerasnya untuk tidak gemetar saat berbicara dengan sang emperor terkhianati oleh tremor yang melanda. 'Kenapa aku malah terbata-bata?'
"Tunggu aku di ruangan Seto Kaichou, aku akan segera menemuimu setelah menyerahkan ini pada Yagami-sensei."
"Eh? Oh ... a-aku saja yang mengantarkannya, Akashi-san."
Seijuurou menggelengkan kepala sambil menepuk pelan rambut coklat Kouki. "Tunggu di sana, Kouki."
Kouki pun mengangguk dan menuruti perintah Seijuurou. Ia membuka ruang kerja Seto Kaichou yang memang terpisah dari keseluruhan ruang kerja komite disiplin sekolah dan duduk menunggu di kursi yang tersedia di depan meja kerja sang kaichou di sana.
Tak berapa lama kemudian Seijuurou pun tiba dan segera duduk di balik mejanya, meletakan setumpuk map di atasnya. Kouki mengawasi dari ekor matanya.
"Jadi ... apa yang ingin kaubicarakan Kouki?"
"Ah ... ya, itu ... ng, ini me-mengenai...," Kouki memilin ujung roknya, mata coklatnya beralih menatap lantai.
"Ya?"
Saat Kouki mengangkat wajahnya, mata coklat sewarna kayu manis miliknya telah bersirobok dengan iris heterokromatik merah-emas milik Seijuurou. Kouki tersentak dan mundur hingga punggungnya menabrak sandaran kursi yang sedang didudukinya. Wajahnya memanas karena jarak di antara keduanya tadi sangat-sangat dekat. Jantung Kouki pun mengajak untuk maraton.
"Ng, itu ... Akashi-san, a-apa kabar? Eh?!" Kouki menutup mulutnya, aargh, kenapa dia tidak bisa memikirkan pertanyaan yang lain? Bodoh, bodoh! Kouki, bodoh! Apa yang kaulakukan? Kau mengacaukan segalanya! Batinnya merutuk.
Seringai tipis pun terpoles di wajah sang emperor. Seijuurou kini duduk di mejanya, menghadap pada si gadis yang wajahnya merona semerah rambut Seijuurou, atau lebih pekat? Rasanya Seijuurou tak bisa menahan diri lebih lama. Makhluk cantik nan manis di hadapannya terlalu menggemaskan untuk dilewatkan begitu saja.
Jadi, Seijuurou memerangkap sang gadis di kursinya. Memangkas jarak sebelum memeluk hangat. Kouki semaput, seluruh tubuhnya kaku, gemetaran dan jantungnya berdegup kencang.
'Apa yang sedang terjadi?!' jerit Kouki di dalam hati.
Kouki bisa mendengar ribut detak yang mengentak dari dalam dada. Tangannya tanpa sadar terletak tepat di mana jantung Seijuurou berada. Eh? Yang ribut bukan hanya jantung miliknya saja bukan? Seijuurou membenamkan wajahnya di pundak mungil sang gadis, membiarkan hidungnya menyesap wangi alami dari tubuh sang gadis.
"A-A-Akashi-sssaan...,"
"Stttttts ... biarkan aku begini sebentar saja. Dan Kou, sudah kubilang kan? Panggil aku Seijuurou," jelas pemuda berambut merah cerah itu pada Kouki.
Kouki pun balas memeluk. Sampai beberapa saat kemudian Seijuurou melepaskan pelukannya pada Kouki dan tersenyum lembut padanya. Ah, seharusnya Kouki tahu, ia tak boleh berada terlalu dekat dengan Seijuurou, tak baik untuk kesehatan jantungnya. Kouki memalingkan wajahnya yang seperti udang rebus.
"Maaf. Aku sudah tak tahan lagi, Kou."
Kouki balik menatap Seijuurou dengan bingung. "A-Ap- hhmmph..."
Bibir Kouki dibungkam. Ia begitu terkejut hingga tak mampu bereaksi apa-apa. Seijuurou mencium dalam, membuat Kouki kembali nyaris pingsan karena pasokan oksigen direbut sang pendominasi. Hingga akhirnya Seijuurou pun melepaskan bibir penuh candu Kouki.
Nyawa Kouki seolah melayang keluar dari tubuhnya. Ia syok berat. Seijuurou menepuk pelan pipi Kouki mengembalikan kesadaran Kouki yang sempat melanglang buana. Sepasang iris heterokrom menatap lembut sepasang iris coklat. Kouki entah kenapa bisa melihat sirat gundah di netra yang biasanya selalu menatap tajam penuh intimidasi itu, yang menguarkan keabsolutan sempurna, sehingga lawan pun takluk tanpa daya.
"Aku frustrasi memikirkanmu. Melihatmu tanpa bisa bercengkrama denganmu. Itu benar-benar membuatku gila. Tapi ada begitu banyak tanggung jawab yang harus kuselesaikan dan tak bisa kutinggalkan. Karenanya aku minta maaf bila harus menggantungmu—mengabaikanmu seminggu ini, Kouki."
"A-A—"
"Aku menyukaimu, sejak awal. Jadilah milikku karena aku tidak menerima penolakan." Kouki melongo tak tahu harus bagaimana.
"Aku benar-benar menakutimu ya?"
Mata coklat miliknya mengerjap beberapa kali, meyakinkan diri bahwa yang di hadapannya ini adalah sang kaisar tiran, Akashi Seijuurou, yang telah membuat para senior di klub basket menderita. Hingga harus menemui Kouki supaya bisa membujuk sang emperor untuk bercerita mengenai keganjilan yang ada padanya.
"A-Aku—Seijuurou-san, ini... Kau ... frustrasi karena a-aku?"
Seijuurou mengangguk. "Kau tak tahu seberapa besar dirimu memberikan dampak padaku."
"Ma-Maksudmu seperti kau me-menyerangku barusan?"
Seijuurou mengangguk lagi. Kouki beranjak bangkit dari kursi dan memeluk Seijuurou. Seijuurou tercenung.
"Ka-Kalau begitu Sei harus tanggung jawab. Tanggung jawab karena sudah membuat jantungku berantakan, juga karena sudah mencuri ciuman pertamaku," ujarnya malu-malu dengan pipinya yang memerah hebat, ah … tapi sayang, Seijuurou tidak bisa melihatnya karena Kouki menyembunyikannya di dada Seijuurou.
Seijuurou terkekeh dan balas memeluk erat gadisnya. "Tentu. Oh ya, sebenarnya Kouki kemari mau apa?"
"Ah! Iya, tadinya aku mau tanya kenapa akhir-akhir ini kau terlihat menyeramkan di klub?"
"Menyeramkan?"
"Eh, itu ... a-ada yang bilang kalau Seijuurou-san memberikan menu latihan neraka selama seminggu ini dan juga bentuk disiplin lainnya yang se-sepertinya terlalu be-berat. A-Apa itu ka-karena aku membuat Sei frustrasi?"
Seijuurou menghela napasnya. "Sepertinya aku sedikit temperamental akhir-akhir ini."
"Eh? Itu benar? Ma-Maaf, tak bermaksud untuk—"
"Aku tahu, Kou. Aku akan minta maaf pada mereka nanti. Sekarang mau dilanjutkan?"
Kouki menatap horor. Apalagi jika menilik posisi keduanya yang rada ambigu seperti ini. Seijuurou duduk bersandar di meja, mendekap Kouki erat bersamanya. "A-Apanya yang lanjut, Sei?"
"Kencan kita yang tertunda, Kou. Seminggu yang lalu aku berjanji mengajakmu makan nasi goreng seafood spesial di kafe milik Atsushi. Ah, tapi ini jadi kencan pertama kita yang resmi. Kau lupa?"
Wajah Kou segera memerah malu-malu. Ia salah kaprah. Ia pikir kalau Seijuurou ingin melanjutkan acara lovey dovey mereka. Seringai jahil yang terpoles di wajah tampan Seijuurou semakin tak membantu sama sekali.
"Aku tidak tahu Kouki sudah berpikiran sejauh 'itu'. Padahal kita kan baru jadian."
Kouki melepaskan pelukannya dari Seijuurou dan melesat keluar pintu secepat yang ia bisa sambil meneriakan, "Aku benci, Seijuurou-san!" dengan wajah merah sambil berlari meninggalkan ruang kerja Seto Kaichou.
Seijuurou terkekeh. "Itulah kenapa aku jadi frustrasi padamu. Kau tak pernah gagal membuatku terkejut, Kouki. Kau sangat menarik." Seijuurou berlari mengejar gadis kesayangannya, sumber kewarasan maupun kegilaannya. Pusat dari kehidupannya.
.
.
.
End
A/N:
Halo minna-san! Rexa kembali lagi dengan HK 2. (^_^)/ Ngomong-ngomong, HK ditulis ketika aku sedang mengejar deadline untuk event dan aku benar-benar frustrasi. #sayasedangfrustrasiTTOTT #SalahkanabangSei #disambitguntingXP
Dan arrggh! Aku juga sedang lavar AkaFemFuri (AkaFuri juga), maka jadilah ini. Tolong, author-author tercinta yang kusayang, update-lah fic AkaFuri kalian, kasihanilah hyena yang sedang lavar asupan ini (TTOTT) #plak maaf jika AkaFuri-nya agak ooc ya? Di sini aku menulis FemFuri. Astaga, FemFuri itu unyu sekali XD aku jadi ga tahan buat nulis cerita dengan Furihata yang GBend. Maafkan kenistaanku. #deepbowed
Edit: Ahh, aku lupa! Fic ini kudedikasikan untuk Nenami Megumi, partner-ku yang selalu kurepotkan di tim arsip. Megu, maaf ya tak sesuai harapanmu, tapi ini buatmu. Maaf aku selalu merepotkan, dan untuk kedepannya, mari berjuang lagi! Jangan kapoknya nge-arsip bareng aku, hehehe.
Dan terima kasih sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca fic ini. Sampai jumpa di fic lainnya. Mind to review, please? (^_^)/ Arigatou Gozaimasu!
Rexa, signing out….
