Jimin yang berada di balik pintu itu meraih ponsel di saku celananya. Sepertinya dia akan menelfon seseoran. Dia menempelkan ponsel itu di telinganya. Tak selang berapa lama...
"Dengan keluarga Park, ada yang bisa saya bantu?" Terdengar sangat manis suara wanita itu.
"Eommaaaaa!" Pekiknya, karna dia tidak akan menyangka bahwa yang menangkat telefonya adalah eommanya sendiri.
"Aa Jiminie! Sudah lama aku tidak mendengar suara anak eomma yang tampan ini" dan mereka tertawa "Ada apa memangnya menelfon?" sambungnya.
Jimin terlihat gugup "Anu Eomma, tentang peliharaan yang kalian kirim itu, umm bisakah ak—"
"Aaa itu, kau suka kan? Dia sangat manis bukan hmm" Goda nyonya Park "Kata appa mu, dia bisa kau jadikan apasaja lho, kau ingin menjadikan dia apa?" Potongnya.
"Hmm, begitu ya" Jimin menghela nafas, menelan salivanya dengan kasar, dan mengangkat suara dengan ragu "Bagaimana kalau dia ku jadikan pendamping hidupku kelak, dan apakah kalian keberatan?" Jimin menggigit kuku jarinya. Jimin berjongkok, mengeluarkan kertas dan sebuah pena, dan menulis sesuatu yang tidak jelas.
Seketika tidak ada suara dari sambungan tersebut, yang terdengar hanya suara nafas eommanya dan suara anjingnya yang menggonggong. Jimin tahu ini buan ide yang benar, namun apa daya, hanya namja itu yang bisa merebut hatinya selama 20 tahun lalu itu. Jimin mulai berfikir yang tidak-tidak. Bagaimana jika mereka langsung membencinya, atau membunuhnya sekarang juga.
"Jimin?" Akhirnya Nyonya Park berbicara "Kau tahu maksut dari 'Bisa kau jadikan apa-apa'?" dan Jimin meng iyakan. "Sebentar" Sambungnya. Satu menit berlalu jimin menunggu dengan sangat gelisah, ia tidak pernah merasakan seberapa gugupnya meminta restu kepada orangtua. Terdengar suara appa dan eommanya sedang berbicara dengan sangat lirih.
"Apa!?" begitu suara appanya samar. Jimin semakir bergetar di tempatnya.
"Apakah kalian keberatan, Appa, Eomma?" Tanya Jimin ragu, dan sepertinya dia sudah putus asa.
Hening~
"Hahahaha!" Mereka berdua tertawa dengan sangat keras "Apakah kau bodoh Hahaha! Tentusaja kami semua tidak keberatan, dan namja itu juga sangat manis bukan hmm" Appanya menggoda Jimin. 'Aw, iya sayang. kau lah yang paling manis di dunia ini muah' Jimin risih jika mendengar appanya sedang beraegyo. "Buatlah dia bahagia sayang, jika sudah siap segera kabari kami, kami akan mengurus semuanya" Eommanya merebut ptelefon itu dari appanya.
"Baikah!" Jawab Jimin semangat dan lega.
"Tapi jika kau menyakitinya, akan kubunuhkau di tempat!" Gertak eommanya.
"Siap, aku berjanji. Terimakasih appa eomma Chimchim sayang kalian muah bye!" Jimin langsung menutup panggilan itu. Dan tercengir sendiri.
"Tuan, anda tidak apa?" Tanya Bibi yang tadi menemani Yoongi makan. Jimin yang melihatnya pun langsung sumringah. Dia langsung memeluk bibi itu dengan erat dan melompat-lompat.
"Hihihi, Mereka memberiku restu Bi, ahaha aku sangat senang malam ini" Bibinya ikut tersenyum mendengarnya. "Cepat atau lambat aku akan menikahinya, dan bibi tidak perlu melihat jalang murahan lagi dirumah ini" Jimin melepas pelukanya. "Bisakah bibi menolongku?"
"Dengan senang hati tuan"
"Bisakah bibi membelikanku ini besok?" Jimin meyerahkan kertas yang sudah ia tulis tadi saat menelfon, jika dia gugup dia pasti akan menulis sesuatu yang aneh.
"Wow, kau sungguh agresif tuan" Jimin tercengir, mengucap terimakasih dan langsung masuk ke ruangan.
Sementara di kediaman keluarga Park...
Eommanya memanggil adik serta kakak dan kakak ipar Jimin, mereka berkumpul di ruang keluarga dengan wajah berseri-seri.
"Akhirnya si bodoh itu bisa mencintai seseorang haha!" Pekik Baekhyun yang berada di sebelah Caenyol.
"Appa, Jimin Hyung sudah mempunyai kekasih ya, Kapan pernikahanya?" Tanya Jungkook selaku adik Jimin. Pantas saja tadi Jimin sangat shok saat mendengar Tae mendapatkan Jungkook, ternyata dia adiknya.
"Ya begitulah, mana kekasihmu itu Kookie?, aku belum pernah melihatnya. Jawab Eomma mereka.
"Ihihi rahasia" Jawab Jungkook sambil memamerkan gigi kelincinya yang sangat imut.
"Dasar" sahut Nyonya Park.
Mereka bercengkrama, mendiskusikan acara apa yang pantas untuk merayakan Jimin ketika pulang nanti, yah pasalnya Jimin satu minggu lagi akan pulang ke rumah, setelah menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan yang diberikan appanya selaku salah satu pemilik CEO besar di Korea.
Back to Jimin...
Jimin masih saja memandangi wajah namja bersurai mint itu dengan sangat lekat. Jimiin tersenyum dan mengecup singkat pipi namja itu 'Kau akan menjadi miliku seutuhnya Min Yoongi, cepat atau lambat' Gumamnya seraya membenarkan selimut yang diapakai Yoongi.
.
.
.
Keesokan harinya...
Yoongi membuka matanya dengan malas dna tenang, membiarkan semua cahaya yang ia dapat memasuki netra coklatnya, masih mencoba memfokuskan pandanganya. Memeluk bonekanya dengan erat "Selamat pagi kumaon". Lalu dia menyibakan selimut yang ia pakai, dan beranjak dari sofa itu. Dia tersenum kala melihat Tuanya yang masih tidur di kursi, menelungkupkan badanya di meja kerja.
Yoongi meraih selimut yang ia pakai lagi, kemudian menggelarnya di punggung Tuanya. Dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut untuk menghirup udara segar.
"Eh tuan Min, bagaimana tidur anda malam ini?" Tanya bibi yang sama. Hah tuan?
"Sangan nnyaman bibi, oh ya terimakasih atas makan malamnya kemarin" Bibi itu hanya tersenyum, lalu menyerahkan sebuah nampan berisi makanan. Yoongi menerimanya dengan tatapan bingung.
"Bangunkan tuan muda ya, dan serahkan sarpan ini padanya" Yoongi menangguk tanda mengerti "Apa anda ingin sarapan juga?, biar bibi buatkan" Yoongi menggelang cepat.
"Tidak, terimakasih bibi, aku tidak terbiasa sarapan" Yoongi membungkuk dan mengucap terimakasih sekali lagi, sebelum akhirnya memasuki ruangan itu lagi.
Dia masih melihat tubuh tuanya tertelungkup. Yoongi meletakan nampan itu di sofa tempat tadi dia tidur. Lalu melangkahkan kakinya ke tempat dimana Jimin tertidur, dia terlihat sangat pulas walaupun dengan posisi seperti itu. Yoongi menepuk dan mengguncag punggung itu dari belakang sesekali memanggil nama tuanya. Kesal karna sama sekali tidak mendapat respon apapun, akhirnya Yoongi menarik bahu jimin sampai tubuh tuanya bersandar di sandaran kursi.
Yoongi mendecih kesal, dia menghentakan kakinya ke lantai dengan keras dan langsung naik ke pangukan Jimin. "Tuan bangun" Yoongi menepuk-nepuk pipi tuanya dengan cukup keras. Yoogi tersenyum kata usahanya kini berhasil, lihat Jimin sudah sedikit membuka matanya. Jimin melenguh dan menggenggam tangan Yoongi yang masih di pipinya.
"Yoongi?" Jimin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Yoongi. "Kenapa? Inikan masih pagi sekali" Jimin menghirup dalam aroma Yoongi yang memabukan.
"Hihi Tuan, ini sudah pukul delapan pagi" Yoongi terkekeh melihat kelakuan tuanya itu "ku ambilkan sarapanmu ya" Yoongi berniat mengambil nampan yang ia bawa tadi. Sebelum tangan Jimin meremat pinggangnya menandakan untuk tetap tinggal disana.
Chu~ Sedikit kecupan untuk Yoongi.
"Kau harus memberikan morning kiss untuku setiap hari" Jimin mengelus pipi Yoongi yang merona. Tanpa disangka Yoongi mengecup sekilas kembali bibir Jimin.
"Itu dariku untukmu" Yoongi menunduk malu. Jimin mengangkat wajah kecil Yoongi.
"Aku mencintaimu Hyung"
"Jadilah kekasihku, karna perintahku itu mutlak"
'DHEG!' Jantung Yoongi berdegup kencang, darahnya mengalir dengan deras, mata indahnya memanas dan membola. Yoongi tidak pernah menyangka ini sebelumnya, tak lama kemudian air matanya mulai menetes membasahi pipinya.
"Sssh Hyung, jangan menangis, itu tidak masalah bukan?" Jimin menyeka airmata Yoongi dengan lembut. Dan Yoongi mengangguk kecil sambil menghapus airmata yang tertinggal.
"Hyung? Bagaimana kau tahu aku lebih tua darimu hiks" Jimin tersenyum geli melihatnya.
"Apa yang tidak ku tahu ha" hening~ Jimin tersenyum sambil memandangi Yoongi. "Kenapa kau menangis hmm?" Jimin masih menunggu Yoongi untuk membuka mulutnya kembali. Setelah dirasa tenaganya cukup, Yoongi mulai membuka mulutnya.
"Tuan, tapi aku hanya anak yatim piatu, dan aku pernah mengalami kekerasan fisik terhadap majikanku sebelumnya hiks" Yoongi semakin terisak, Dengan segera Jimin meraih tubuh itu dan memeluknya erat "Aku sangat berterimakasih terhadap keluargamu, karna dia sudah menyelamatkanku ari neraka itu" Jimin mengelus punggung Yoongi dengan lembut, untuk menenangkanya. Beberapa detik kemudian yang terdengar hanya isakan kecil Yoongi.
"Aku sangat takut" Yoongi menyamankan dirinya di pelukan itu.
"Ssh Tenang, percayalah padaku, Appa, Eomma dan saudara-saudaraku telah menerimamu dengan baik. Bahkan eommaku akan membunuhku di tempat jika aku melukaimu" Jimin hanya berkata apa adanya. Yoongi mendesah lega dan sedikit tersenyum. Namum, jelas ia masih ketakutan sekali. Dan jimin merasakan ketakutan itu.
"Tuan kau mendengar penjelasanku tadi kan? Mungkin aku hanya akan menjadi bebanmu saja nanti"
"Aku tidak peduli!" Suara Jimin meninggi "Aku tahu kau mempunyai bakat, dan kau harus mengasahnya, bilang saja apa yangkau butuhkan untuk itu" Ucapnya meyakinkan "Kau percaya padaku kan?" Yoongi tersenyum, akhirnya dia tersadar beapa seriusnya Jimin padanya. Yoongi mengangguk, Jimin menjadi ikut tersenyum karnanya.
"Hyung, kau sudah tidak lelah kan?" Tanya Jimin, yang hanya di balas anggukan oleh Yoongi.
'Dok dok dok' Suara ketukan pintu di ruangan itu, Jimin menyeringai. "Tuan pesananmu, sudah ku belikan"
"Masuk saja bi, taruh di meja ini saja" Bibi itu masuk, dan tersenyum kala melihat kedua insan itu sedang berpelukan ria. Bibinya meletakan di sebelah Jimin sebuah kantung hitam dengan lingkaran merah di tengahnya. Jimin mengacungkan jempolnya, dan bibi itu juga.
Setelah bibi itu keluar Jimin melepas pelukan itu. "Baiklah—" Jimin menggantungkan kata-katanya. "Pakailah ini dan akan ku buat kau lelah lagi" Jimin menyeringai
"Didalam kukunganku"
