Your love to get heal me

.

.

.

.

.

SUMMARY

Sebuah takdir tak disangka, membawa keduanya masuk dalam sebuah ikatan hubungan yang tidak akan mampu sang dewa terka. Si kaya tampan Oh Sehun, jatuh berlutut pada wanita malang yang terjebak dalam pusaran dunia gelapnya.

.

.

Baby Aery HHS

.

.

Saat itu adalah saat hujan turun dengan lebat. Roda bulat mobil berwarna silver itu bergulir melaju cukup kencang untuk menerobos tumpahan air bumi demi mengejar waktu yang sudah menunjukkan waktu dini hari. Angin terasa dingin menusuk, menembus lapisan baja dari mesin yang dikendarai seorang pria muda tampan dibalik kemudi setirnya. Cuaca cukup parah malam ini, tidak hanya guyuran hujan yang dibarengi kilatan dan gemuruh petir tapi udarapun seperti lembab berkabut yang membuat penglihatan pria itu sedikit kabur, ditambah jalan yang ia lalui gelap tanpa pencahayaan dari lampu tiang yang biasa berdiri kokoh disamping kiri, kanannya.

Mata sipit itu menyeringit ragu dengan apa yang ia lihat didepan. Sedikit tidak yakin, tapi… ia melihat sosok wanita berdiri di tepi jalan seorang diri. Tiba-tiba bulu kuduknya meremang, membayangkan kalau mungkin saja dia.. tidak-tidak! Tidak mungkin ada hantu dijaman modern seperti ini. Sedikit melambankan laju mobilnya sekedar untuk menuntaskan rasa penasarannya, namun pria itu justru hampir membuang nyawanya saat wanita tanpa otak itu memasang badan dihadapan mobilnya tanpa terduga.

Nafas tersengal satu-satu penuh ketidakpercayaan berhembus keluar dengan alot dari hidung mancung pria itu. Tangannya bergetar menggenggam bulatan setir kemudinya dengan kaki yang cukup kuat menginjak pedal rem. Matanya berkedip sebagai respon alami saat alam bawah sadarnya belum cukup mampu untuk menangkap dengan apa yang terjadi. Apa ia masih hidup sekarang? Atau..

"Paman, bolehkan aku ikut denganmu?"

Paman? Hei, dia tidak setua itu!

Kepala pria itu bergulir pada arah kiri jendela mobilnya dan ia mendapati sosok wanita mengenakan balutan dress pendek ketat yang memiliki belahan dada rendah, jangan lupakan tubuh itu basah kuyup hingga membuat mata nakal Sehun bisa melihat gambaran menggoda didalam sana. Jakun Sehun secara sendirinya menelan liurnya panas. Oh, dewi yunani ia bahkan melupakan luapan emosi yang sudah ia siapkan untuk ia semburkan pada wanita yang sialnya cantik itu.

"Naiklah.."

Dan sejak malam itu kehidupanku berubah.

.

.

.

.

.

Main cast :

Luhan, Sehun.

Gendre :

Romance, fluffy.

Rate :

M.

Warning :

GS, Typo, dirty talk.

Length :

Oneshot.

PS :

Ga suka ga usah baca.. tolong tinggalkan review buat kalian semua yang udah baca^^ happy reading.

.

.

.

.

.

Story beginds

Hari sudah hampir petang, keadaan menjadi ramai oleh lajunya kendaraan beroda empat yang berlalu lalang di jalur tujuannya masing-masing. Semua orang yang duduk di kursi kemudi, seolah ingin cepat sampai ke rumah hanya sekedar untuk beristirahat atau duduk santai dengan sajian kopi hangat mengepul mengeluarkan wangi khas yang mampu melepas penat mereka seusai bekerja. Di samping kiri, kanan trotoar tidak kalah pedatnya oleh orang-orang yang berjalan berlawan arah. Saling mengobrol, sibuk dengan ponsel atau hanya duduk di halte untuk menunggu bus tujuan mereka datang.

Semua pemandangan itu tidak luput dari mata rusa Luhan, yang duduk di kursi tepat disisi jendela butiknya- menghadap langsung pada gambaran padat penuh penduduk kota Seoul. Dua cangkir coklat hangat yang Kyungsoo buat tersaji ditengah meja, seperti menggoda Luhan untuk cepat menyeruputnya demi menghangatkan tubuhnya yang tersapu tiupan angin musim gugur.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Tidak ada.."

"Kau memikirkan orang tuamu?"

Tepat! Kyungsoo bersorak dalam hati saat Luhan menoleh kepadanya. Terkaannya memang jarang meleset.

"Aku kadang heran.. apa kau seorang peramal? Kenapa kau bisa tau apa yang aku pikirkan sebelum aku mengatakannya?" Luhan menyeringit dengan tatapan menyelidik. Kyungsoo itu seperti hantu bagi Luhan. Dimana ada hal yang ia pikirkan, dengan cepat Kyungsoo akan memberi nasehat atau malah kadang Kyungsoo mengatakan perkataan simple namun bisa memancing Luhan untuk menceritakan semua yang tengah ia rasakan. Ini aneh, karena tidak biasanya ia merasa mudah untuk berbagi isi hati.

"Jika aku seorang peramal, maka percayalah.. kalau aku adalah peramal tercantik." Kyungsoo tertawa sendiri atas gurauan yang ia buat, berbanding terbalik dari Luhan yang hanya mendesah malas. "Oh, ayolah.. katakan apa yang kau pikirkan tentang orang tuamu?"

"Heeemmm, entahlah.. aku hanya sedikit teringat dengan mereka.. aku sudah hampir menikah tapi mungkin aku tidak akan bisa berjalan di altar dengan dampingan ayahku sendiri. Aku bahkan tidak yakin kalau mereka masih mengingatku.. mereka terlalu larut dalam kesenangan sendiri."

Kyungsoo terdiam, mata bulatnya terus mengamati kornea kecoklatan Luhan, dan Kyungsoo bisa melihat ada sebuah kesedihan terpendam dan juga harapan yang tersembunyi. "Kau ingin bertemu orang tuamu?"

"Tidak.. mereka sudah hampir menjualku, dan aku tidak ingin kembali pada mereka."

"Itu Yuna dan Joy!"

Perhatian Luhan dan Kyungsoo teralih saat mendengar seruan dari para pengunjung butik. Bahkan dalam sekejap mereka melupakan obrolan mereka ketika meliat dua sosok wanita cantik yang banyak disegani warga Korea itu memasuki butik Luhan. Kyungsoo mendengus cukup keras. Dia tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan dua vagina menyebalkan itu!

Sebagai pemilik butik yang baik, Luhan turun dari persinggahannya untuk memberi pelayanan kepada pengunjung special mereka. Dengan malas-malasan karena ini memang sudah tugasnya, Kyungsoo pun menyusul Luhan untuk ikut memberi bungkukkan kecil kepada Yuna juga Joy.

"Selamat datang di Ziro.."

Yuna sama sekali tidak membalas salam dari Luhan, ia justru melenggeng memasuki semakin dalam butik milik Luhan, diikuti Joy yang terus mengekor dibelakangnya.

"Silakan, saya temani untuk melihat-lihat."

Dengusan penuh ejejkkan terarah kepada Luhan. Tanpa menanggapi kesopanan Luhan, Yuna pun mulai melihat-lihat setiap pakaian yang dipajang dan Kyungsoo menyumpahi Yuna untuk ini!

"Apa ini yang dinamai butik? Lihat, bahkan modelnya sangat tertinggal jaman."

Kyungsoo menatap jengah kepada Yuna. Dibanding Joy, Yuna lebih banyak berulah. "Bodoh.. ini bukan tertinggal jaman tapi usiamu sudah tua dan kau tidak mungkin tau tentang fashion anak muda terbaru.."

"Kyung.." Luhan menegur Kyungsoo pelan yang sudah mengucapkan perkataan lancang kepada Yuna. Yang datang memasuki Ziro, Luhan anggap sebagai raja dan ratu, dan Kyungsoo sudah membut Yuna terganggu.

"Maafkan atas kelancangan asisten saya.."

"Astaga, Luhan! Untuk apa kau meminta maaf? Dia datang hanya untuk mengejekmu.."

Semua tamu mulai berbisik-bisik. Ada yang mencela sikap Kyungsoo tapi ada banyak juga yang tidak membenarkan ucapan tidak sopan Yuna. Dia adalah selebrity dan dia tidak patut untuknya bersikap bahkan berbicara lancang seperti itu.

"Apa kau pernah mendidik anak buahmu?" Joy menyela dan Kyungsoo paham siapa yang dia maksud anak buah di sini.

"Otakmu dimana nona? Kami bukan bersekolah tapi kami bekerja.. jika otak kami hanya berisi sampah seperti kalian kami tidak akan mungkin membuka butik ini!"

"Astaga! Mulutnya."

"Mana mungkin wanita seperti dirinya mendidik wanita seperti ini." Yuna menyambung kekesalan Joy dengan tatapan mata jijik yang ia layangkan kepada Luhan dan Kyungsoo. Seolah mempertegas bahwa Luhan bukanlah wanita berpendidikkan yang bisa membimbing sikap Kyungsoo dengan benar.

Luhan terdiam. Tangannya perlahan terkepal kuat karena ia merasa direndahkan sekarang. Uh, Luhan sangat benci jika ada seseorang yang meremehkannya. Memang dia bukan lahir dikalangan orang berdasi dan tas tangan harga jutaan won. Dia pun hanya menamatkan sekolahnya di Senior high school dengan usaha susah payah dari hasil keringatnya sendiri. Tapi apa memang yang melatarbelakangi Luhan untuk tidak mengangkang dihadapan semua pria seperti yang ibunya lakukan jika itu bukan harga diri. Walaupun ia terjerembab pada dunia gelap, tapi Luhan masih mengerti arti kata saling menghargai, dan Yuna disini tidak menghargainya sebagai pemilik butik.

"Kau sudah mengatakan hal yang tidak sepatutnya kau ucapkan.."

Kyungsoo menoleh kepada Luhan dengan binaran mata terpancar. Jiwa bengis Luhan memang harus dikeluarkan jika menghadapai wanita seperti Yuna. Sementara Yuna hanya mendecih dan semakin menunjukkan tatapan menantang kepada Luhan.

"Aahhh.. apa aku salah berbicara?" Yuna bergumam dengan raut wajah berpikir yang dibuat-buat. "Benar.. harusnya aku tidak mngatakan hal seperti itu, karena kau mana mungkin bisa mengartikannya dengan baik."

"Hai.. tutup mulutmu!" Kyungsooo menggeram jengkel hingga membuat suasana butik milik Luhan menjadi menegang dalam sekejap. Semua mata bahkan enggan berkedip, demi untuk terus merekam apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Butik ini lumayan.. berapa juta won yang Sehun habiskan untuk membelinya?" Bagai menulikan telinga, Yuna tidak memperdulikan bentakan Kyungsoo."Atau.. berapa juta won yang kau keluarkan dari hasil mengangkang semalaman didepan Sehun?"

PLAK!

Semua mematung dalam hitungan detik saat melihat dengan mata kosong mereka kalau Luhan menampar pipi Yuna cukup keras. Kyungsoo bahkan tidak menyangka kalau Luhan akan nekad melakukan ini didepan para pengunjung butik dan pegawai. Ini bisa merusak nama baik Ziro! Jika Luhan ingin memukul Yuna harusnya ia cukup memerintah dirinya dan Kyungsoo akan dengan senang hati untuk melakukannya.

Jemari berhiaskan kutek berwarna ungu itu menangkup pipinya yang tertinggal jejak merah tamparan dari tangan Luhan. Nafas Yuna tersengal panas, bagai ada kompor mendidih yang akan meledak di dalam dirinya. "Bangsat! Wanita tidak berpindidikkan! Otakmu berada di mana, hah? Lancang sekali kau berani menamparku!"

Dengan sigap, seperti tidak memberikan Yuna kesempatan. Luhan menangkap tangan Yuna yang hampir ingin mendaratkan jejak panas itu di pipinya. Mata Luhan menatap datar kepada mata Yuna yang sudah ditutupi kabut emosi. "Kau benar, kalau aku tidak berpendidikkan. Karena jika aku berpendidikkan aku tidak hanya akan menamparmu tapi aku pun akan mencingcangmu saat ini juga." Genggamannya Luhan eratkan, hingga membuat pergelangan tangan Yuna memerah.

Sekuat mungkin Yuna mencoba melepaskan diri, tapi sulit. Tenaga Luhan seperti ada diatas dirinya. Hell! Ini menjengkelkan. "Kau harusnya sadar diri dengan setatusmu keparat! Kau pikir aku tidak tau kalau kau adalah anak seorang pelacur?"

Luhan terdiam membeku. Matanya diam-diam mengamati orang-orang disekitarnya dan Luhan tidak dapat menebak, apa mereka mendengar ucapan Yuna atau tidak. Kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri karena ucapan Yuna. Seulas senyum miring licik tersemat di bibir Yuna saat jelas bisa melihat kegelisahan di raut wajah Luhan. Tidak sia-sia baginya memerintah orang untuk mengumpulkan data pribadi Luhan, dan hasilnya wow! Dia tidak pernah menyangka semenjijikkan itu.

"Jadi apa yang kau lakukan kepada Sehun sampai Sehun buta kehilangan akal dan menjadikanmu sebagai tunangannya?" Yuna merasa puas sekarang, karena Luhan bahkan tidak berkutik dihadapannya. "Asal kau tau diri Luhan.. Sehun terlalu berharga untuk jalang seperti dirimu.."

Bagai ada gong besar berbunyi, kesadaran Luhan seperti direnggut paksa dari raganya. Tangan yang semula mencengkram kuat pergelangan Yuna terlepas dan itu membuat Yuna semakin menunjukkan senyuman penuh kemenangan. "Kau tidak akan pernah bisa cocok bersanding disamping Sehun, seberapa mahal pun harga pakaian yang kau kenakan, anak pelacur!"

Kyungsoo mendelik kesal penuh kebencian kepada Yuna! Wanita ini Kyungsoo anggap sudah menantang dirinya untuk benar-benar bisa memasukkan serangga kedalam vagina atau tidak! Joy yang memang ada dikubu Yuna bersorak dalam diamnya saat mendengar bisik-bisik dari semua orang yang bisa ia pastikan mendengar ucapan Yuna! Disini Yuna seperti membongkar keberadaan mayat busuk ditengah-tengah harumnya bunga mawar, dan itu sungguh menyenangkan untuk bisa melihat sendiri bagaimana Luhan yang kalah dengan menyedihkan.

"Kau tau? Seberapa besar usahamu berpenampilan menawan tapi kau tetap terlihat seperti.." Satu langkah maju Yuna ambil. "Wanita murahan.." Berbisik dengan sunggingan bibir keatas mengejek.

Sudah cukup! Emosi Kyungsoo benar-benar tidak harus ia pendam sekarang. Yuna sudah terlalu jauh menyakiti perasaan teman sekaligus pasiennya! Apa vagina bodoh ini tidak tau seberapa sulitnya ia membangun kepercayaan diri Luhan? Dan sekarang saat pelan-pelan sudah menuai hasil dia dengan seenaknya mengahancurkannya begitu saja.

Dengan berani Kyungsoo mendorong bahu Yuna. "Jika kau mengatai Luhan sebagai anak pelacur.. harusnya kau berkaca kepada dirimu sendiri bangsat! Kau, yang mengaku sebagai wanita berpendidikkan tapi melakukan hal yang lebih menjijikkan dari apa yang ibu, Luhan lakukan! Apa kau pikir kau adalah seorang selebrity yang baik?"

"Jangan bicara omong kosong wanita bodoh! Jangan pernah bandingkan aku dengan ibu dari wanita jalang ini."

"YAK! KAU YANG JALANG VAGINA HITAM!" Kyungsoo menjambak rambut Yuna dengan kuat, tidak memperdulikan seberapa mahal harga perawatan perawan tua ini. Yang ada di kepala Kyungsoo adalah mencabut setiap akar rambut Yuna agar dia sadar dengan siapa ia sudah bermain-main.

Joy mendelik terkejut, ia mendekat untuk balik menjambak Kyungsoo namun langkahnya sudah lebih dulu dicegat oleh security yang datang. "Ikut saya keluar, nona." Joy ditarik paksa dari Yuna yang tengah menjerit kesakitan sembari berusaha melepaskan jambakan Kyungsoo.

"Lepaskan rambutku, Bedebah!" Tak kalah nyaringnya, Yuna berteriak namun itu tidak membuat Kyungsoo berbelas kasih, ia justru semakin kuat menjambak Yuna.

"RASAKAN ITU VAGINA BUSUK! KAU HANYA IRI KEPADA LUHAN YANG BAHKAN LEBIH SEMPURNA DARI DIRIMU!"

"Nona.. lepaskan dia." Seorang security mencoba menarik Kyungsoo agar melepaskan tangannya dari rambuat yuna. Namun itu tidak mudah, dibutuhkan dua security untuk menangani Kyungsoo yang terus memberontak.

Keadaan semakin tidak aman. Semua orang yang ada disana menatap miris kepada Yuna yang sudah dalam keadaan kacau. Nafas Kyungsoo tersengal sembari masih ingin menggapai rambut Yuna, namun langkahnya menjadi berat karena ada dua security yang menahannya. "Aku bersumpah! Sehun akan merontokkan gigimu setelah ini! Dasar vagina hitam!"

"Yak! Vaginaku tidak hitam, keparat!"

Saling balas makian pun terjadi diantara keduanya. Semua orang terlalu focus kepada Yuna dan Kyungsoo, mereka melupakan keberadaan Luhan yang sudah menghilang dari sana entah sejak kapan.

.

.

Udara dingin terasa memeluknya, namun rasa dingin itu seperti tidak mampu untuk menggoda sesosok wanita yang berjalan seorang diri tanpa tujuan untuk segera pulang dalam peraduannya. Malam sudah datang merubah warna awan putih menjadi hitam pekat menyedihkan. Tidak ada bintang ataupun bulan yang muncul. Semuanya seperti bersembunyi dan menghindar dari dirinya. Menyebalkan! Apa dia terlalu menjijikkan sampai semuanya menjauh?

Tapi.. ada satu yang mendekat. Teman, taman yang selalu mudah ia temukan saat ia butuhkan. Teman yang tidak pernah menghindar, teman yang selalu berhasil membuatnya melupakan beban hidup yang ia alami. Teman yang selalu menyambut kesedihannya dengan baik. Dia..

Narkoba.

Langkah Luhan terhenti tepat disalah satu bar tersembunyi dikawasan sepi kota Seoul. Tempat minimalis itu hanya disoroti lampu remang yang seolah menyembunyikan isi didalamnya dengan baik. Tidak akan ada yang mudah menemukan tempat ini, tempat ini terletak disudut paling tak terlihat di kota Seoul, dan tempat ini pun dibuat tidak menyerupai bar tapi lebih mirip perumahan biasa hingga bisa mengelabui polisi yang berpatroli- Bodoh. Tempat ini adalah tempat yang sering ia datangi jika dalam keadaan bosan atau kalut seperti sekarang. Tempat ini adalah jelmaan neraka dimana semua iblis berkumpul. Pelacur, narkoba, penjudi, bandar narkoba, jual beli budak sex dan segala hal yang menyangkut keburukkan berada disini, berbaur menjadi satu untuk pelupakan apa itu yang dinamakan 'Baik'.

"Hai.. Luhan.."

Kepala Luhan tertoleh kearah kanan, disitu ada satu pria yang berjalan menghampirnya. "Sudah sangat lama kau tidak datang.." Merangkul bahu Luhan tanpa segan. "Kau ingin masuk?'

Luhan terdiam, tidak menjawab sama sekali.

"Didalam ada Baekhyun.. kau ingin bersenang-senang, bukan?" Pria itu 'Taeyang', menuntun langkah Luhan untuk ikut bersamanya.

Bagai disihir, Luhan pun tidak menolak dan mengikuti tiap tapak langkah Taeyang. Ia dalam keadaan kalut, ia membutuhkan itu, hanya satu hisapan, hanya satu suntikkan. Tidak lebih, dia butuh obat itu untuk-

"Mulailah dari berjanji kau tidak akan kembali tergoda dengan obat-obatan itu."

"Sehun." Langkah Luhan terhenti saat ngiangan perkataan Sehun melingkupi pendengarannya secara tiba-tiba.

Taeyang yang menangkap suara gumaman Luhan menoleh dan menyeringit heran. "Kenapa berhenti? Ayo, masuk." Kembali Taeyang menuntun langkah Luhan untuk mencapai pintu yang hanya berjarak beberapa meter dari mereka.

"Kembangkan butik yang aku berikan.. dan setelahnya.. kita akan menikah."

Namun suara itu kembali muncul dan memberi kesadaran untuk Luhan dari hipnotis barang laknat itu.

Pergi berlari sekang! Atau masa depanmu dengan Sehun akan hancur dalam sekejap!

"Maaf.. aku harus pergi." Luhan melepaskan rangkulan Taeyang di bahunya, dan segera mengambil langkah menjauh untuk menuruti tuntunan hatinya.

Benar. Dia sudah berjanji dan semuanya, tidak hanya kepercayaan Sehun tapi cinta Sehun untuknya pun akan hancur bagai kepingan tidak berarti jika ia kembali melangkah masuk kedalam sana.

.

.

Sehun sampai di rumahnya tepat pukul sebelas malam. Jadwal hari ini padat dan dia harus lebih lama berada di kantor karena ada beberapa hal yang harus ia benahi. Tapi setelah menerima telepon dari Kyungsoo, semua pekerjaannya hanya menjadi sampah dan yang ada dipikirannya hanya wanitanya, Luhan.

"Dimana, Luhan?" Sehun segera mengajukan pertanyaan kepada pelayan yang membukakan pintu.

"Nona, ada d dalam kamarnya tuan.."

Langkah Sehun dengan lebar menaiki tangga untuk menuju lantai dua. Dibukanya pintu kayu bercat putih itu dengan tergesa, seolah jika ia tidak segera membukanya. Luhan bisa saja mati mengenaskan di dalam. Namun yang menjadi pemandangannya malam ini cukup menakjubkan! Tidak ada barang berserakan berjatuhan, semuanya rapi pada tempatnya tdak seperti biasa saat Luhan tengah dilanda kesal.

Atau apa sebenarnya Luhan mengamuk dan semuanya sudah dibereskan? Tapi itu tidak mungkin, semua perabotan disini masih sama seperti yang ia lihat terakhir kali.

"Kau sudah pulang?"

Hembusan nafas lega meluncur dengan begitu mudahnya saat mata sipit Sehun menangkap sosok Luhan berdiri dengan gaun tidurnya seperti biasa. Tanpa ingin bertele-tele, Sehun segera menutup pintu kamar Luhan dan menarik Luhan untuk duduk diatas pangkuannya. "Kau tidak papa?" Raut wajah Sehun sangat kentara tengah dilanda kehawatiran.

"Aku baik, sayang.. tidak usah hawatir. Aku bahkan tidak memecahkan satu vas bunga sekalipun." Luhan tersenyum manis, ia tau apa yang menjadi kehawatiran Sehun.

"Aku sangat lega jika seperti itu."

"Kyungsoo sudah bercerita, ya?"

"Heemm.. dan katakan, apa yang terjadi di butik?"

Luhan menghembuskan nafas, dan mengistirahatkan kepalanya pada bahu tegap Sehun. Tangannya melingkar manis pada leher Sehun yang Sehun balas dengan usapan lembut dipunggungnya. "Dia datang dan membuat kekacauan."

"Bukan itu.. apa yang membuatmu marah sampai kau menampar pipinya?"

"Dia tidak menghargaiku sebagai pemilik butik, dan aku tidak suka saat dia mengatakan kalau aku tidak cocok untuk bersamamu."

"Kau tau, kalau kau adalah wanita terbaik untukku jadi untuk apa meladeninya."

"Aku kesal Sehun.. dia pun mengejekku karena aku anak pelacur.." Ada bagian lirih dinada suara Luhan saat kalimat terakhir terucap dari bibirnya.

"Sejauh itu dia tau tentangmu?"

"Entahlah.."

"Jangan pikirkan apapun.. jangan hiraukan dia. Bagiku kau tetap wanita paling berharga yang ada diseluruh dunia."

Mendengar perkataan Sehun yang lebih mengarah pada rayuan, membuat tawa Luhan sedikit terpancing. Walaupun tidak terlalu terdengar tapi Sehun merasa senang karena Luhan sudah tidak lagi seperti dulu yang menumpahkan rasa kalut hatinya pada narkoba, minuman keras ataupun amukkan.

"Tapi Sehun.. apa yang sudah aku lakukan sampai kau menjadikanku tunanganmu? Wanita itu menanyakan hal ini kepadaku tadi sore dan aku tidak tau harus menjawab apa."

"Bodoh.." Sehun terkekeh geli dan menyentil pelan kening Luhan. "Harusnya kau menjawab, karena aku mencintaimu.."

"Lalu kenapa kau mencintaiku?" Pertanyaan ini secara sendirinya muncul di benak Luhan. Kepalanya sudah tidak lagi menyandar pada bahu Sehun, mata rusanya terarah kepada Sehun seperti menunggu Sehun memberikan jawaban yang ia inginkan.

Gigitan gemas Sehun berikan kepada hidung Luhan yang mentapnya dengan serius. "Karena kau adalah Luhan.. kau Luhan ku, Luhan yang aku cintai.. apa jawaban itu cukup?"

Luhan menggeleng. "Tapi aku buruk, Sehun.."

"Sejauh mana wanita itu meracuni otakmu sampai membuatmu berpikir seperti itu? Bukan kau yang buruk, tapi keadaan yang membuatmu buruk." Sehun mengelus rambut panjang terurai Luhan dan mengamati wajah cantik Luhan. "Karena itu, aku akan membantumu untuk lepas dari keadaan buruk itu.. aku akan menebus semuanya berkali-lipat dengan kebahagiaan asal kau pun tidak mengingkari janjimu."

Ada sebuah rasa syukur yang Luhan sadari saat ini. Mungkin jika beberapa jam lalu ia terbawa kembali pada hasrat menginginkan obat itu, dia tidak akan ada dalam posisi semenenangkan ini. Dia sekarang seperti disadarkan kalau obat-obat laknat itu hanya bisa menghanyukan dibatas kesadaran dan setelahnya menjatuhkannya pada lubang mengerikan yang bisa saja merenggut nyawanya. Uh, kenapa dia baru terbuka tentang hal ini?

"Hemm.. aku tidak akan lagi memakai obat-obatan itu.. aku hanya akan berlari kepadamu dan memelukmu seperti ini." Tangannya kembali Luhan lingkarkan di leher Sehun. Pada kenyataannya pelukkan Sehun lebih menenangkan dan nyaman dibanding apa yang ditawarkan oleh narkoba. Dengan lembut, Luhan memberikan satu ciuam di leher Sehun. "Aku mencintaimu.." Berbisik merdu di telinga Sehun dan membuat Sehun tak kuasa untuk tidak merengkuh Luhan lebih erat.

"Aku pun sangat mencintaimu, sayang.. aku akan selalu ada untukmu.."

Sebuah untaian kata yang Luhan amini dalam hati. Ia berharap Sehun tidak akan pernah pergi meninggalkan dirinya.

.

.

BURUK! Satu kata itu yang menggambarkan situsi saat ini. Video pertengkaran di Ziro tersebar dibeberapa situs dan tidak hanya itu, kabar kalau Luhan adalah anak seorang pelacaur pun sudah bagaikan rahasia umum yang sangat aneh jika ada yang tidak mengetahuinya. Semua media cetak, artikel ataupun infotaiment membahas tentang ini dan video pertengkaran yang cukup menggemparkan karena melibatkan Yuna sang penyanyi terkenal dan Luhan tunangan dari pengusaha kaya Oh Sehun. Sudah hampir satu minggu berita ini menjadi topic nomor satu dan semuanya kini berimbas pada pemasaran Ziro yang mandat.

Bukan hanya itu, Luhan sekarang menjadi pemurung dan tak banyak berbicara. Beberapa kali Kyungsoo sudah menasehati Luhan tapi yang terjadi saat ini sepertinya Luhan hanya tengah membutuhkan waktu sendirian. Semua nasehat-nasehat emas yang Kyungsoo ucapkan tidak pernah Luhan tanggapi, pikirannya hanya sedang mematuk kepada Ziro dan rasa tidak nyaman saat ada orang-orang yang terus memperhatikannya dengan bisik-bisikkan yang Luhan yakini bukan perbincangan baik. Dimana ia melangkah maka akan ada orang yang seperti mengawasi gerak-geriknya dengan tatapan tajam. Itu terasa tidak nyaman bagi Luhan. Andai ia tidak memiliki kewajibannya di Ziro, Luhan akan lebih memilih untuk mengurung diri di kamar sampai topic panas ini meredup dimakan waktu.

Dan sebagai prianya, Sehun tentu tidak suka melihat Luhan yang menjadi meredup seperti sekarang. Luhan menjadi terlihat tidak bergairah dalam menjalankan harinya, tidak bersemangat, lesu dan banyak melamun. Parahnya, dampak dari kejadian ini pun berefek pada mood Luhan yang menjadi tidak bisa disentuh. Bagian ini yang menurut Sehun paling fatal! Luhan yang agresif saat di ranjang berubah menjadi anak baik polos yang bahkan menghindar saat dicium. Ini seperti seekor anjing liar berubah menjadi kucing rumahan. Mengerikan! Sehun hampir setiap malam mengerang dibawah bantal karena hal ini. Dia bukan penggila seks sebenarnya. Dibanding seks, pekerjaan adalah yang utama untuk Sehun, tapi itu sebelum ia bertemu dengan Luhan. Sejak malam pertama saling mereka lewati, ia menjadi sepenuhnya pengemis seks, tapi hanya ia lakukan kepada Luhan dan mendapati Luhan yang menjadi seperti ini, tidak hanya membuat hatinya sakit tapi juga penisnya yang setiap malam berdenyut ngilu.

Sehun berencana melakukan sesuatu untuk menormalkan semuanya. Si bangsat Yuna benar-benar harus di beri pelajaran! Dia tidak bisa terus-menerus Luhan diami seperti ini.

"Luhan.."

"…."

"Lu.."

"…."

"Sayang.."

"Hemmm.." Luhan akhirnya menyaut panggilan Sehun, walaupun hanya dengan gumaman malasnya.

Kini mereka ada di ruang makan untuk menghabiskan sarapan bersama seperti biasanya. Namun, lagi-lagi Luhan hanya memainkan pisaunya diatas roti bakar hangat yang tersaji, tanpa niat untuk menyantap ataupun membuangnya. Sehun mendesah tidak suka untuk ini.

"Makan sarapanmu.."

"Hemmm.."

"Luhan.."

"Apa?" Kepalanya Luhan tolehkan kepada Sehun dengan tatapan jengah. Ia sedang tidak ingin bermain-main.

"Sudah aku bilang, jangan pikirkan tentang mereka."

"Bagaimana aku tidak memikirkan tentang mereka saat tatapan-tatapan jijik itu terus ada di mataku?"

"Lupakan itu.."

"Aku sedang mencobanya, jadi jangan menggangguku.." Luhan beranjak dari kursi yang ia duduki. Ia berniat untuk kembali ke kamar dan menyembunyikan dirinya dalam kegelapan agar bayang-bayang sialan itu tidak terus mencul di benaknya.

"Kau hari ini tidak datang ke Ziro?"

"Tidak.. aku malas.." Luhan melenggang pergi dengan acuh, menjawab tanpa menoleh kepada Sehun.

"Kalau begitu.. ayo, kita bergi berkencan."

Luhan menatap Sehun dengan pandangan heran saat tiba-tiba Sehun mencegat langkahnya dengan senyuman lebar tersemat di bibir tipisnya. "Aku malas." Namun, senyuman Sehun sepertinya gagal untuk membangunkan mood Luhan.

"Tidak ada penolakan, sayang.." Tidak mengindahkan penolakan Luhan, Sehun pun mendorong bahu Luhan dari belakang agar berjalan sesuai arah yang ia tentukan.

"Aku benar-benar malas, Sehun!"

"Aku tunggu selama lima belas menit." Tanpa peduli dengan bentakan kesal Luhan, Sehun mendorong Luhan memasuki kamarnya. "Cepat, Lu.. berdandanlah yang cantik." Seulas senyuman manis dengan mimic geli muncul menghiasi wajah tampan Sehun. "Semuanya akan kembali, kau tidak usah hawatir." Bermonolog seorang diri, seperti ia tengah berbicara dengan Luhan.

.

.

"Semua kontrakmu dibatalkan."

"Kau tidak bercanda, bukan!" Yuna merampas beberapa lembar kertas yang managernya pegang dengan wajah tegang.

Ada lima kontrak yang baru ia tandatangani dua minggu lalu, dan tidak mungkin semuanya dibatalkan. Tapi tulisan yang terjejer rapi diatas kertas putih itu seolah mengolok dirinya, karena disitu jelas ditulis kalau pihak dari produk yang mengkontraknya mengajukkan pembatalan. "Bagaimana mungkin ini terjadi, Oppa?"

"Kau pikir apa lagi? Ini dampak dari tindakan bodohmu yang tersebar.. sekarang lihat, kita jadi kehilangan bermilyar-milyar won. Agency pun akan membuat sangsi untukmu setelah ini, berdoalah kalau mereka tidak akan mengeluarkanmu.."

"Tapi tidak mungkin semuanya membatalkan kontrak! Lagipula yang aku lakukan adalah membuka kedok penipu bukan melakukan tindakan kriminal."

"Bukan tindakan kriminal kau bilang? Kau bahkan yang jelas memulai."

"Dia menamparku, Oppa.."

"Tentu dia menamparmu.. jika itu aku, aku sudah melemparmu kejalanan." Sang manager mendengus kesal, dan segera keluar dari apartement Yuna.

"Bangsat! Keparat!" Yuna mengumpat dengan nafas menggebu-gebu. Rasanya ia ingin mencekik Luhan saat ini juga! Harusnya wanita jalang itu yang mendapatkan imbasnya, bukan malah dirinya. Sial!

.

.

Kaki berbalut sepatu hak tinggi berwarna gold itu memasuki sebuah restoran Italy berclass mewah dan tak lama kaki berbalut sepatu pantofel hitam menyusul, mensejajarkan langkahnya dengan sang puteri.

"Apa yang akan kita lakukan disini?"

Balas dendam. "Makan, Lu.."

"Aku kenyang.."

"Duduklah.." Masih dalam mode memaksa. Sehun menarik satu kursi untuk Luhan dan mendudukkan Luhan dengan nyaman disana.

"Kau bisa pesan lebih dulu.. aku harus melakukan sesuatu."

"Kau mau pergi?" Luhan menatap Sehun dengan tidak menyangka.

"Hanya sebentar.. tunggu aku, ok? Jangan pergi kemana-mana."

"Sehun, kau.. issshhh! Sehun berengsek!" Umpatan Luhan keluar dengan sendirinya saat ucapannya terpenggel karena Sehun yang sudah lebih dulu keluar dari restoran. Bahkan umpatan Luhan tidak hanya berhenti disitu, ia masih dengan jengkelnya memaki Sehun didalam hati. Bukankah Sehun paham betul kalau ia tengah menghindar dari dunia luar, tapi si bedebah itu malah meninggalkannya seperti wanita terlantar tidak tau arah disini.

Dengan hawatir, Luhan mencuri-curi pandang pada pengunjung-pengunjung restoran yang ada disekitarnya. Biasanya akan ada pasang mata yang menatapnya dengan pandangan jijik, mengejek atapun iba. Tapi Luhan bisa bernafas lega untuk saat ini, karena ia tidak mendapati satu pasang matapun yang memperhatikannya. Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing dan itu bisa melegakan hati Luhan. Setidaknya ia tidak harus duduk dengan perasaan gelisah.

.

.

Dengan langkah kaki malas, Yuna berjalan untuk membuka pintu apartemntnya yang diketuk. Ia dalam keadaan pusing dan ingin istirahat, tapi terkutuklah pada seseorang yang mengganggu dirinya.

"Ingin bertemu dengan.. Astaga! Sehun." Salam sambutan Yuna berubah menjadi seruan terkejut saat melihat Sehun lah yang berdiri dibalik pintu apartemntnya. Mulut kecilnya bahkan menganga dengan gertakan gigi yang mulai terdengar. "A-ada ap-pa.. kau mencariku?" Susah payah Yuna bertanya. Rasa takut seketika merambati dirinya.

Harusnya jika kau masih mengenal rasa takut, kau tidak bermain-main dengan wanita kesayangan Oh Sehun! Bisikan halus Yuna dengar entah datang dari mana. Tapi bisikkan itu seperti sambutan marabahaya yang akan menimpa hidupnya.

"Sudah lama kita tidak bertemu.. boleh aku masuk?"

"Ya?" Yuna tidak salah dengar, kan? "Tentu Sehun, kau boleh masuk." Yuna bergeser dari tengah pintu untuk memberi Sehun jalan memasuki apartemnya. Sedikit bingung dengan tujuan Sehun datang, tapi sepertinya ketakutannya tidak beralasan. Sehun bahkan tersenyum kepada dirinya dan ini Yuna anggap point bagus.

"Silakan kau minum.."

Sehun mengukir senyumnya dan menerima cangkir yang Yuna berikan. "Terimakasih.." Menyesapnya sedikit sebelum menaruh cangkir teh itu diatas meja. "Sudah berapa tahun kita tidak bertemu?"

"Tiga tahun.." Tidak usah berpikir untuk menjawab pertanyaan ini, karena setiap detik ia selalu menghitung hari dari terakhir mereka tidak bertemu.

"Itu sudah sangat lama, dan aku tidak menyangka kau banyak berubah."

Pipi Yuna besemu merah. Ia memang banyak melakukan perubahan pada wajahnya dan Yuna merasa kalau Sehun meperhatikannya dengan baik karena terbukti Sehun mengetahui perubahannya. Mereka memang saling mengenal sejak Senior high school dan Yuna sudah lama menyukai Sehun. Tapi memang Sehun dikenal sebagai pria yang mengurutkan wanita ada dibagian paling bawah dari daftar kehidupannya, dan cinta Yuna hanya bisa terus tersembunyi sampai detik itu ia dikejutkan dengan undangan pertunangan Sehun. Yuna geram, ia tidak bisa merelakan Sehun jatuh pada tangan wanita lain!

"Tapi aku pikir kau lebih cantik saat kita bersekolah dulu."

"Jangan mengada-ngada Sehun.. saat itu aku sangat jelek." Yuna malu mengakuinya tapi memang saat SHS dia adalah murid yang banyak diolok-olok karena wajah jeleknya.

"Kau yang ada didepanku bahkan lebih jelek dari pada Yuna yang dulu.." Tatapan Sehun mengeras, dan itu bagaikan alarm siaga berbunyi di benak Yuna.

"Se-"

"Kau sudah mendapatkan pembatalannya?"

"Ya?" Yuna terbengong. Dia sekarang tidak tau lagi kemana arah permbicaraan Sehun.

"Ini.." Sehun tersenyum manis dan menaruh kertas yang seperti tadi pagi Yuna baca.

Ini tidak mungkin. "Sehun, kau-"

"Ya, itu ulahku.." Sehun memotong kalimat Yuna dengan mendadak. "Pembatalan kontrak dari lima produk." Tanpa berdosa Sehun membeberkan kelakukannya sendiri.

"Tidak mungkin.."

"Apa yang tidak mungkin? Bahkan mendepakmu dari agency adalah hal mudah untukku, tapi aku masih berbelas kasih kepadamu.." Kakinya Sehun silangkan dengan angkuh di sofa milik Yuna. "Terkeculai kau memang tidak tau diri.. maka aku tidak akan segan mendepakmu dari industry entertainment."

"Jangan berguarau, Sehun!"

"Kapan aku sudi bergurau denganmu? Jika bukan karena Luhan, aku pun tidak akan pernah menginjakkan kaki di apartementmu!"

Emosi Yuna tumpah meruah saat mendengar nama Luhan disebut. Ia yang sudah lebih dulu mencintai Sehun dan tidak adil untuknya jika Luhan lah yang menduduki hati Sehun. "Lihat aku Sehun! Aku mencintaimu! Kenapa kau tidak pernah melihatku?"

Sehun hanya menatap datar kepada Yuna yang menangis penuh dengan wajah putus asa didepannya. "Karena Luhan tidak seperti dirimu, Kim Yuna." Menjawab dengan acuh sebelum kakinya kembali menegak, menopang tubuh tingginya yang terlihat mengagumkan untuk Yuna tapi juga memuakkan karena bukan dirinya yang bisa memeluk tubuh itu.

"Hanya aku beri tiga puluh menit.. datanglah ke restoran italy yang ada disebarang apartemntmu jika karirmu tidak ingin benar-benar aku hancurkan." Sehun berlalu keluar dari apartement Yuna dengan langkah angkuh. Meninggalkan Yuna yang hanya bisa menangis diatas lantai dingin apartementnya seorang diri.

Semuanya sia-sia. Ia menjadi seperti ini hanya agar bisa Sehun lihat, ia melakukan banyak operasi hanya agar Sehun menyadari keberadaannya. Tapi semua kesulitan dan kesakitan itu seakan sampah yang tidak berarti ketika Sehun bahkan tidak sudi menoleh kepada dirinya.

Sejauh apapun dia berusaha dia tidak akan bisa menyingkirkan Luhan dari hati Sehun. Itu yang Yuna kutu saat ini.

.

.

Sehun kembali memasuki restoran yang ia tinggal dua puluh menit lalu. Kakinya dengan pasti menghampiri Luhan yang duduk dengan kepala menunduk, memainkan sedotan didalam gelas minuman yang ia pesan.

"Menunggu lama?"

Luhan menoleh kerah kiri saat mendengar suara Sehun berbisik disana. Sontak wajah mereka saling berhadapan dan Sehun tidak menyia-nyikan kesempatan untuk mencuri ciuman dari bibir yang sudah menghindarinya selama satu minggu lebih ini.

"Jangan mengambil kesempatan, bodoh!"

"Kau terlihat semakin sexy jika mengumpat.."

Luhan hanya menanggapi malas dengan godaan Sehun. "Aku bosan, ayo pulang.."

"Tidak, Lu.. ini bahkan belum dimulai." Sehun menarik satu kursi disamping Luhan. Mengusak sayang rambut Luhan yang menatapnya penuh kecurigaan.

"Apa yang ada di otakmu?"

"Luhan.."

"Jawab yang benar, Sehun! Aku tidak bercanda.. di keningmu ada tanda bahaya yang muncul."

"Ya, bahaya.. karena kau akan menyerah dibawahku malam ini."

"Jangan bergurau.. aku sedang malas untuk meladeni kejantananmu.."

Sehun hanya terkekeh lucu, melihat expresi wajah Luhan yang seakan benar-benar jijik kepada dirinya. Dimuliakanlah semua umat.. saat ia baru saja membuat wanita menangis tapi sekarang ia justru ditolak oleh kekasihnya sendiri.

"Maaf, aku terlambat.."

Luhan beserta Sehun mendongak saat mendengar suara lain muncul menyela obrolan mereka. Luhan terkejut dengan kedatang Yuna yang ia tidak tau kenapa bisa ada dihadapan mereka. "Sehun, ayo kita pergi." Luhan berdiri dari duduknya. Ia tidak sudi untuk satu meja dengan wanita busuk ini, namun Sehun menahan tangan Luhan dengan cepat.

"Duduk Lu.. dengarkan apa yang akan dia ucapkan."

Yuna mengeratkan genggamannya pada tas tangan miliknya. Dia sekarang mengerti dengan maksud Sehun menyuruhnya datang kesini. Meminta maaf kepada Luhan sebagai tawaran karirinya tidak akan dihancurkan. Kau beruntung memiliki Sehun.

"Tidak Sehun!"

"Luhan, jangan membantah!" Bentakan penuh dengan ketegasan tidak akan bisa Luhan abaikan.

Ia menyerah dan dengan malas Luhan duduk berhadapan dengan Yuna.

"Aku.. ingin meminta maaf kepadamu, Luhan.." Selesaikan dengan cepat!

"Tidak semudah itu.." Sehun menyela dengan senyuman kecil penuh kelicikan. Satu jentikkan jari Sehun lakukan dan dalam sekejap semua orang yang semula duduk di kursi restoran lainnya berubah menjadi paparazzi dengan camera, pena dan buku kecil ada didalam genggaman mereka.

Yuna tercengang. Matanya memutari semua sisi restoran dan tidak mendapati satu cela pun untuk mengintip keadaan diluar. Terlalu banyak paparazzi yang memutari mereka bertiga. Tatapan Yuna mengarah kepada Sehun yang mengisyaratkan dirinya untuk kembali berbicara. Senyuman yang tersemat di bibir Sehun terlihat penuh makna kelicikkan yang tidak main-main.

"Sehun.. apa ini?" Luhan berbisik. Dirinya pun sama dibuat terkejutnya dengan Yuna. Jadi semua orang yang ada di restoran adalah paparazzi?

"Yuna sudah mengejekmu didepan umum sayang dan dia akan meminta maaf dihadapan media. Bukan kah begitu nona Kim Yuna?"

Bagai ulat kecil yang dijerat ular berbisa, Yuna tidak mampu mengelak. Ia menatap Luhan dengan segan tapi tidak ada pilihan lain yang bisa ia lakukan selain menuruti ucapan Sehun. "Maafkan atas kelancanganku kepadamu saat itu.." Yuna membungkuk hormat kepada Luhan.

Hening sejenak, yang terdengar hanya suara dari bidikkan camera.

"Hanya itu?"

Yuna menoleh kepada Sehun dan cukup bisa memahami dengan tatapan Sehun yang sangat tidak puas. Satu helaan nafas Yuna hembuskan. "Aku terlalu iri kepadamu karena kau menjadi tunangan Sehun.. aku dengan lancang mencari data pribadimu, melakukan hal yang tidak harusnya aku lakukan.. aku mohon maafkan semua kesalahanku."

"Bagaimana, sayang? Kau memaafkannya?"

Luhan yang sedari tadi membisu karena tidak memahami apapun menolehkan kepala kepada Sehun. Mereka saling bertatap mata, seperti berkomunikasi melalui bola mata hitam mereka, dan Luhan menangkap satu maksud dari tatapan Sehun yang seolah mengatakan. "Maafkan dia.. bersikaplah seperti dewi agung yang selalu mengampuni umatnya."

Sebuah senyuman terukir cantik di bibir Luhan. Prianya memang bisa diandalkan! Dengan gaya santun, Luhan berdiri. "Sebenarnya sudah tidak ada lagi yang harus dibahas.. aku sudah melupakan perlakuan burukmu dan ucapan kasarmu kepadaku saat itu.. aku sudah memaafkanmu tanpa kau harus datang kepadaku."

Acting yang mengagumkan sayang. Sehun memuji penuh kekaguman kepada Luhan. "Baiklah.. semuanya sudah selesai. Luhan ku sudah dengan berbaik hati memaafkanmu.. semoga setelah ini kau tidak lagi mengulangi perlakuan kasar kepada wanitaku, karena aku tidak pernah bermain-main jika menyangkut Luhan." Terselip ancaman namun Sehun mengutarakannya penuh dengan kewibawaan yang sopan dan mengagumkan.

"Dan ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan." Sehun menggenggam tangan Luhan dan mencium punggung tangannya dengan lembut.

Yuna yang disajikan pemandangan seperti itu mengalihkan tatapannya dengan kesal. Tidak ingin berakhir menjadi wanita yang benar-benar malang karena sudah dibuat kalah tepat dihadapan umum, Yuna pun melenggang pergi. Beberapa paparazzi mengejar Yuna untuk bisa ditanyai lebih lanjut namun lebih banyak dari mereka memilih untuk merekam apa yang akan Sehun sampaikan.

Sehun menarik pinggang Luhan untuk merapat kepadanya. Tersenyum manis tepat menghadap camera agar semua orang bisa mendengar apa yang akan ia sampaikan dengan jelas. "Semua orang kini tau darimana kekasihku berasal.. dia mamang anak seorang pelacur namun bukan berarti dia juga seorang pelacur.. itu dosa orang tuanya bukan dosa kekasihku."

Berbeda dari Sehun yang menghadap kedepan. Luhan justru memilih untuk menatap wajah Sehun dari samping. Matanya menatap lekat dengan hati bergemuruh. Ia tau Sehun tidak akan menyampaikan hal buruk lainnya tentang dirinya, ia hanya merasa penasaran dengan apa yang akan Sehun katakan selanjutnya.

"Aku bahkan bisa menjamin sepenuhnya kalau saat kami melewati malam itu, itu adalah yang pertama untuknya.."

Oh, pipi Luhan memerah sekarang. Kenapa harus ada bagian itu? Oh Sehun keparat!

"Aku sangat mencintai dia.. tidak seperti yang kalian kira, disini aku lah yang mengemis cintanya."

Jangan jatuh lemas kaki sialan!

"Dia adalah wanita terbaik dan terkuat yang pernah aku temui.. dia tetap mempertahankan harga dirinya walaupun dalam keadaan yang tidak memungkinkan, dia bekerja untuk menamatkan sekolahnya agar tidak dipandang remeh dan kalian belum tentu bisa melewati hidup seperti apa yang sudah ia lewati dua puluh empat tahun ini."

Selesaikan dengan cepat, keparat! Jangan membuatku menangis didepan camera. Itu memalukan!

"Jangan lagi menatapnya dengan pandangan aneh.. dia sangat lemah dengan tatapan seperti itu, dan aku tidak suka melihatnya murung seharian hanya karena kalian."

"Sehun.."

"Lihat.. bahkan dia sudah menangis sekarang." Sehun tertawa kecil dan mencoba menunjukkan wajah Luhan dihadapan camera namun Luhan terus menepis tangan Sehun yang mencoba meraih dagunya.

"Jangan macam-macam.. cepat selesaikan." Satu kalimat bisikkan penuh ancaman bisa Sehun dengar dengan baik.

"Dia memintaku untuk tidak macam-macam.."

Oh Sehun sialan!

"Baiklah.. karena wanitaku sepertinya sudah sangat lelah, aku hanya akan mengakhirinya dengan menyampaikan, kalau kami akan mengadakan pernikahan di akhir bulan depan."

Secara reflek Luhan mendongak, membuat pipi basah dan mata sembabnya tertangkap camera. Tapi seolah tidak memikirkan itu lagi, Luhan pun mengabaikanya. Pernikahan? Wajahnya bahkan penuh gurat keterkejutan dan kebingungan, hingga membuat Sehun tak kuasa untuk tidak mencium bibirnya.

"Sehun!" Luhan mendorong dada Sehun dengan kuat. Berciuman didepan camera bukan keahlian Luhan.

Sehun tertawa pelan dan kembali menatap camera. "Baiklah.. hanya itu. Kami akan melanjutkannya di belakang."

Semua paparazzi yang merekam moment langka yang bisa mereka ambil dengan cuma-cuma itu menyambut gurauan Sehun dengan tawa. Mereka ikut senang dan bahkan terhanyut dengan manisnya pasangan yang ada didepan mereka.

Mereka hanya tidak tau kalau ada seekor rusa betina yang bersiap mengeluarkan tanduknya untuk menerjang Oh Sehun.

.

.

"Memalukan, memalukan, memalukan." Kata-kata itu terus keluar dari bibir Luhan saat ia memasuki kediaman besar kekasihnya.

Sehun yang mengekor dibelakang hanya bisa menggeleng dengan senyuman tersembunyi bagai bulan yang malu muncul untuk melihat sang matahari. "Memalukan apa, Lu?"

Langkah mereka terhenti tepat didepan anak tangga pertama. Si betina menoleh dan si jantan mendapat hadiah satu cubitan sayang peda lengannya yang cukup bisa membuat ringisan keluar tanpa bisa dikomando. "Sakit, Lu." Sehun mengusap cepat lengannya yang bisa ia yakini berubah menjadi memerah.

"Biarkan.. itu karena kau benar-benar membuatku malu.."

"Malu karena aku menciummu? Jangan berperan menjadi anak baik sayang.. actingnya sudah selesai." Tawa geli Sehun terdengar sebagai pengiring kakinya yang melangkah, mengarah kearah kiri bukan menapaki anak tangga untuk menuju kamar mereka masing-masing.

"Kau mau kemana?"

"Kau tidak lupakan kalau seharian aku bersamamu? Ada beberapa email laporan yang harus aku kerjakan malam ini.. istirhatlah, tidur dengan nyenyak." Sehun melambai kepada Luhan sebelum tubuh tegapnya hilang dibalik besarnya pintu ruang kerja pribadinya.

Luhan memberengut. Bibirnya memanyun kebawah sebagai gambaran rasa tidak sukanya. Walaupun seharian mereka memang bersama tapi masih ada yang ingin Luhan bahas, yaitu tetang pernikahan yang Sehun katakan. Dengan enggan, Luhan pun melangkah menaiki tangga satu-satu.

Sehun adalah atasan yang penuh tanggung jawab, dia tidak akan sewenang-wenang melalaikan perkerjaannya dan jika ia sudah duduk didepan leptop maka Sehun akan berubah menajdi biksu yang tengah bersemedi- tidak bisa diganggu. Dan Luhan hanya akan berakhir menjadi perawan tua yang merindukan belaian di ranjang malam ini.

Tunggu! Langkah Luhan terhenti dianak tangga kelima paling atas. Otaknya tiba-tiba memunculkan sebuah ide yang sangat berliant. Dia tidak akan berakhir menjadi perawan tua yang merindukan belaian di ranjang malam ini, karena ia justru akan membuat Sehun mengerang gila dibawah kendalinya. Luhan tersenyum lebar, langkahnya yang semula malas-malasan berubah menjadi gesit bagai gangsing yang berputar cepat.

.

.

Baru empat puluh menit Sehun duduk didepan laptopnya, bahkan laporan yang harus ia kerjakan belum sepenuhnya ia kerjakan. Tapi suara ketukan pintu justru terdengar mengganggu otaknya yang tengah berpikir merangkai setiap angka dan huruf yang tertera. "Masuk.." Menyahut malas tanpa menoleh sekedar untuk melihat siapa yang datang.

"Sehun.."

"Hemm.." Itu Luhan.

"Sehun.."

"Ap-" Ucapan Sehun tertelan kembali setelah ia menolehkan kepalanya. "Pa?" Berlanjut dengan suara pelan bagai tidak ada lagi yang bisa keluar dari belah bibirnya.

Oh, rusa bangsat! Sehun mengutuk Luhan yang berdiri hanya dengan mengenakan kemeja pink sepanjang pangkal paha. Kaki jenjangnya tersaji dengan begitu menggiurkan menggoda Sehun untuk mengecupi setiap jengkalnya, bahkan Sehun merasa tidak yakin kalau Luhan memakai celana dalam. Ada sesuatu yang sedikit mengintip malu disana dan ini gila! Luhan tengah merayunya.

"Kau sibuk?" Kaki putih itu maju dengan gaya sensual. Tanpa ragu, Luhan duduk mengangkang diatas selangka Sehun, tepat berhadapan dengan wajah Sehun yang menegang.

Uh, kendalikan dirimu Sehun! "Aku sibuk, sayang.." Bersikap seolah ia baik pada kenyataannya tidak! Luhan terlalu menggairahkan malam ini, tapi Luhan harus ia buat mengemis. Wanita cantiknya sudah mengabaikan dirinya terlalu lama. "Kenapa kau tidak tidur?"

Luhan mendesak tubuhnya kedepan, membuat Sehun terhimpit ditengah payudaranya dan sandaran kursi kerja. "Aku ingin bersamamu.."

Sangat mematikan! "Aku harus bekerja, sayang.." Tuhan, tolong jaga penisku dari godaan malaikat pendosamu!

"Bekerjalah.. aku hanya akan terus duduk seperti ini."

Duduk mengangkang dengan payudara menempel di dadaku! Kau benar-benar memelihara setan sexy, Oh Sehun. "Baiklah.." Susah payah Sehun kembali mencondongkan tubuhnya kedepan demi tangannya bisa menjangkau keyboard leptopnya yang terletak diatas meja, tapi terkutuklah Luhan yang malah menekan penisnya dengan pantat berisinya. Sehun memejamkan mata untuk ini. "Lu.."

"Hemmm.."

Uh, jangan bergumam di ceruk leherku, jalang! "Bagaimana bisa aku bekerja jika kau seperti ini?"

Luhan menegakkan tubuhnya dan Sehun menghela nafas lega saat payudara Luhan tidak lagi menempel mendesak dadanya. "Kau terganggu?"

Jangan menunjukkan wajah polos tanpa rasa berdosa, keparat! "Tidak.. aku hanya kesulitan.. bisa kau turun."

"Aku ingin bersamamu, Sehun.. kau tidak merindukanku? Sudah satu minggu lebih kau tidak menyentuhku."

Itu tau.. "Kau sangat paham bagaimana aku menahan diri setiap malam, tapi jangan sekarang, aku harus mengerjakan laporanku."

"Apa itu lebih penting dariku?" Jemari lentiknya mendarat pada kancing kemeja pink yang ia gunakan. Perlahan tapi pasti Luhan mulai membuka kemejanya dihadapan Sehun yang bahkan terus secara serius mengamati gerakan tangan Luhan.

Sehun mengumpat didalam hati saat Luhan sengaja memperlamban gerakannya, seolah memancing dirinya untuk menarik paksa kemeja pink sialan itu. Sekuat tenaga, Sehun menahan tangannya agar tidak beralih dari atas lututnya. Sedikit lagi! Ayo, terbukalah.

"Kau tidak ingin ini?"

Oh, Tuhan.. ampuni lah dosa wanitaku. Bagaimana mungkin kau menyodorkan payudaramu seperti ini, sayang? Haruskah ia bertahan? Tidak, tentu tidak! Persetan dengan leporan sialan itu! "Kau sudah membuat masalah, cantik.. bangunkan dia dan buat dia puas sampai tidak bisa lagi menegang besok pagi."

Senyuman lebar penuh makna nakal terukir di bibir Luhan. Itu adalah keahliannya, bukan? Membangunkan kejantanan Sehun dan kembali menidurkannya dengan baik seperti bayi tidak berdosa. "Itu mudah, sayang.." Luhan memulai lebih dulu dengan mencium bibir Sehun penuh kelembutan. Tangannya merambat menuruni bahu Sehun dan berhenti dikancing-kancing kemeja yang Sehun gunakan. Dalam hitungan detik, kemeja Sehun terbuka dan jemarinya beralih pada nipple kecil hitam Sehun yang selalu berhasil membuatnya berfantasi liar.

Sehun menggeram tertahan dalam ciuman mereka. Luhan tengah mendominasi dirinya dengan hisapan-hisapan kuat di bibir dan pilinan menyenangkan di nipplenya. Uh, anugerah yang Tuhan titipkan kepada dirinya sungguh luar biasa. Tangannya terasa gatal benar-benar ingin meremas payudara Luhan yang menggantung atau meremas pantat Luhan yang terus mendesak penisnya, tapi jangan sekarang. Biarkan Luhan bermain dengan puas lebih dulu.

Ciuman itu Luhan lepas saat merasakan pasokkan udara habis dari paru-parunya. Nafasnya tersengal membuat payudara Luhan yang sudah dalam keadaan tegang ikut bergerak teratur sesuai tarikan nafas Luhan, dan tentu itu pemandangan indah tersendiri bagi Sehun.

"Hanya itu?" Sehun tersenyum meremehkan kepada Luhan yang langsung merasa tertantang.

Luhan mengerti sekarang. Sehun sedang bermain-main rupanya.. pantas dia tidak menyentuh atau membalas ciumanku.

Luhan turun dari atas pangkuan Sehun, melepas sepenuhnya kemeja yang ia kenakan dan tepat seperti dugaan Sehun, Luhan tidak memakai celana dalam. Sekarang tidak hanya payudara Luhan yang berkeliaran didepan matanya tapi juga lubang vagina sialan itu yang seperti terus memanggil penisnya untuk cepat tertelan didalam sana.

"Kau akan menyerah, Sehun.. menyerahlah dan penismu bisa menghangat didalam vagina sempitku." Kerlingan nakal Luhan tunjukkan. Dirinya tersenyum lebar saat melihat jakun Sehun mulai bergerak gelisah. Mata Luhan beralih menelusuri dari dada Sehun yang berkeringat dan berhenti disana, tepat pada sesuatu yang besar yang sepertinya sudah terbangun. Dia belum memulai padahal. "Apa sesak? Biar aku mengeluarkannya." Luhan dengan sengaja tidak berlutut, dia lebih memilih menungging hingga payudaranya berayun didepan mata Sehun yang sudah berkilat gairah. Jemari lentiknya membuka ikat pinggang Sehun dan menarik turun celana kain beserta celana dalam milik Sehun hingga terlepas. Kemeja Sehun pun tak luput dari tangan suci Luhan. "Secepat itu penismu menegang?" Luhan menunjukkan expresi terkejut yang dibuat-buat. "Aku pikir butuh waktu lama untuk menggodamu tapi ternyata, hanya dengan menungging pun kau sudah bangun, sayang."

Keparat! Sialan! Sehun menggeram, menarik tangan Luhan untuk berlutut dan memajukkan penisnya hingga membentur bibir Luhan. "Dia bisa sangat cepat terbangun, tapi kau akan membutuhkan waktu seharian untuk membuatnya melemas. Puaskan dia, sayang.."

Satu kecupan Luhan berikan pada penis yang selalu vaginanya puja. "Bukan hal yang susah.." Dan desisan penuh kenikmatan pun keluar dari bibir Sehun seiring mulut Luhan yang lihai memanjakan kejantanannya.

Tangan Sehun menggenggam erat pundak Luhan, kepalanya mendongak dan sesekali pinggulnya ia majukan hingga penisnya menbarak dinding tenggorokkan Luhan. Rasa hangat basah mulut Luhan membuat Sehun terbayang dengan vagina pujaannya. Dia tidak bisa menah lagi untuk ini!

Sehun berdiri, menarik Luhan untuk bangun dan mendorong Luhan hingga pinggangnya membentur sisi meja kerja. Bibirnya dengan tergesa menyedot kuat putting tegak Luhan dengan remasan-remasan tangannya pada pantat kenyal Luhan. Sekarang Luhan yang dibuat melayang oleh sentuhan Sehun.

"Eeeuunnggghhttt.. aahhhhhh.. Sehuunnn..." Luhan merintih penuh permohonan. Vagina sudah berdenyut lapar dan Sehun justru berlama-lama dengan payudarnya.

"Apa, sayang.." Dengan jahil Sehun melepaskan semua sentuhannya pada tubuh Luhan. Berdiri dengan senyuman puas saat melihat Luhan sudah sepenuhnya pasrah kepada dirinya.

Nafas Luhan semakin memburu, keringat karena sensasi panas mengucur membasahi tubuh bidadarinya, tatapan sayunya pun sudah muncul dengan bibir basah yang sedikit terbuka. Sungguh! Ini pemandangan terindah, lebih indah dari tempat dimana para dewi berkumpul.

"Masukkan penismu, sayangh.. euungh.."

"Memohonlah.."

"Kau yang akan mengalah.."

Masih tidak ingin menyerah rupanya. "Memohon atau tidak sama sekali."

"Penismu tidak menginginkan ini?" Luhan terlentang diatas meja kerja Sehun, tidak memperdulikkan beberapa kertas ataupun pena yang terjatuh. Kakinya mengangkang lebar menunjukkan lubang surgawinya yang siap menyambut penis Sehun.

"Keparat kau jalang!"

Luhan tertawa kencang saat mendengar umpatan kesal keluar dari bibir Sehun. Jangan salahkan jika wanita selalu bisa lebih unggul dalam hal menggoda. "Dia menunggumu, sayang.."

"Aku tidak akan bermain lembut malam ini." Satu sentakan mampu membuat penis Sehun melesak seutuhnya kedalam vagina Luhan. Cengkraman Sehun pada lutut Luhan yang ia tekuk mengerat karena remasan vagina Luhan yang ia rasakan. Ini kenikmatan yang selalu berhasil membuatnya menginginkan lebih dan merubahnya menjadi pengemis seks menjijikkan.

"Sehun.. aaahhhhh.. kauh.. tidak memakai penga.. euunngghtt ahhhh.. man.." Hanya sepenggal kata itu, tapi Luhan harus bersusah payah untuk mengucapkannya. Penis Sehun terlalu bersemangat menjelajahi isi dalam vaginanya.

"Tidak ada pengaman malam ini.. Oh, shit! Sepermaku akan menghangatkan rahimmu seutuhnya, sayang.. kita akan membuat keturunan keluarga Oh Sehun."

Luhan tidak lagi mengelaurkan pertanyaan. Bibirnya terlalu sibuk memproduksi desahan yang mampu membuat birahi Sehun semakin mencuat tinggi. Tapi ada senyuman terukir disana yang bisa Sehun lihat dan Sehun menganggap itu sebagai persetujuan dari Luhan.

.

.

Hari berlalu menjadi semakin menyenangkan. Ziro sudah mendapatkan pasarnya kembali, sudah tidak ada lagi yang menatapnya dengan aneh dan tanggal pernikahannya dengan Sehun hanya tinggal menghitung dua puluh hari lagi. Luhan sangat bersemangat untuk menyambut hari bahagia mereka, ditambah jadwal datang bulannya telat dan perasaannya mengatakan kalau ada seperma Sehun yang sudah berhasil memasuki rahimnya. Untuk ini Luhan belum mengatakan apapun kepada Sehun, karena ia baru berencana mengeceknya esok pagi. Uh, progam pembuatan keturunan Oh Sehun selalu mereka lakukan tiap malam, atas dasar kesepakatan bersama mereka mempercepat program ini. Toh hanya berjangka pendek dengan hari pernikahan mereka dan program ini pun seolah menjadi pengingat kalau ia akan menjadi istri Sehun yang harus bersikap sopan, berwibawa, pandai berkata, dan tentu membentengi diri dari kebiasaan masa lalu. Ia harus berubah menjadi Luhan yang lebih baik, dewasa, selalu berpikir positive dan terpeting selalu bisa menjaga nama baik Sehun. Sungguh calon istri yang baik! Luhan selalu memuji dirinya seperti ini sekarang.

"Nona.."

"Ya?"

Seorang pegawai Ziro menghampirnya. Jangan tanyakan keberadaan Kyungsoo karena Luhan sudah memecatnya dengan semburan api saat tau kalau dia adalah pesikolog. Dia tidak gila dan Luhan sangat anti dengan pesikolog. Sehun pun sempat menjadi sasaran kemarahannya beberapa hari lalu tapi semuanya sudah aman, dia sudah menjalin pertemanan dengan Kyungsoo yang sempat mengatakan 'Luhan sudah waras sekarang' sebelum ia pergi. Sungguh ingin rasanya Luhan mencolok mata Kyungsoo saat ucapan itu keluar didepan Sehun.

"Ada seseorang mencari anda.."

"Siapa?"

"Seorang wanita bernama Baekhyun."

"Baekhyun?"

Dan Luhan tidak menyangka, kalau bagian kelam dari masa lalunya muncul dikehidupan barunya.

.

.

Dua wanita yang memiliki wajah sedikit mirip itu duduk saling berhadapan. Dua cangkir teh hangat yang tersaji hanya mereka anggap pelengkap karena tidak ada satu pun diantara mereka yang berniat meneguk teh yang mulai mendingin. Mereka terlalu focus pada apa yang sedang menjadi topic perbincangan mereka setelah berbulan-bulan tidak saling bertemu.

Luhan menatapi Baekhyun dengan pandangan mengamati- hanya ingin memastikan sesuatu dari Baekhyun. "Kau bersungguh-sungguh?"

"Ya, Lu.. aku bersungguh-sungguh."

Ada sedikit perasaan ragu sebenarnya yang menggangu hati Luhan, tapi mengingat apa yang Baekhyun ucapkan, Luhan pun mengambil keputusannya sendiri. "Baiklah.. aku akan datang."

Sematan senyuman penuh dengan mata binar bahagia tergambar dari wajah cantik Baekhyun. Digenggamnnya tangan Luhan dan mengucapkan 'terimakasih' berkali-kali yang Luhan tanggapi dengan anggukan kecil.

.

.

Kediaman Sehun sepi, tidak ada suara Luhan yang biasanya selalu meramaikan suasana dan tidak ada pula kemunculan si cantik yang biasa menyambutnya dengan pelukkan. Dapur, kamar, ruang tengah, halaman belakang sampai tempat kolam renang sudah Sehun putari sejak ia pulang dua jam lalu. Mencari keberadaan wanitanya yang tidak bisa dihubungi dan bahkan pelayannya bilang kalau Luhan belum kembali sejak tadi pagi ia berangkat ke Ziro. Sekarang sudah hampir pukul tengah malam.. rasa lelah, kantuk dan rengekan tubuhnya yang meminta dibaringkan Sehun abaikan dengan acuh. Pikiran dan perasaannya hanya tertuju kepada wanitanya yang tak kunjung datang membuka pintu kamar demi bisa menenangkan hatinya yang bergejolak resah.

Setiap menit yang berubah menjadi jam semakin membuat ketakutan Sehun menjadi-jadi. Luhan tidak mungkin kembali seperti dulu, kan? Pulang pagi dengan aroma busuk dan keadaan linglung menjengkelkan. Demi Tuhan! Luhan sudah berjanji kepadanya untuk berubah sepenuhnya.

Getaran pelan dari ponsel miliknya yang ia letakan asal diatas ranjang menarik perhatian Sehun. Tiap langkah yang ia ambil penuh harapan bahwa itu adalah telpon dari Luhan atau sekedar pesan dari Luhan yang menjelaskan keberadaannya. Namun jauh dari harapan dan perkiraannya, itu bukan dari Luhan dan bahkan ini lebih buruk dari saat ia harus melihat Luhan pulang dalam keadaan mabuk.

"Hallo.. ini kami dari pusat kantor polisi kota Seoul, ingin mengatakan bahwa nona Luhan kami tangkap atas tuduhan pemakaian narkoba."

.

.

.

.

.

TBC / END? NEXT / STOP?

Satu lagi menuju END^^ Apa Luhan benar-benar kembali terjerumus? Ayo, review lagi kalo masih mau lanjut lol

Thanks untuk semua review kalian di cahp pertama^^