Your love to get heal me
.
.
.
.
.
SUMMARY
Sebuah takdir tak disangka, membawa keduanya masuk dalam sebuah ikatan hubungan yang tidak akan mampu sang dewa terka. Si kaya tampan Oh Sehun, jatuh berlutut pada wanita malang yang terjebak dalam pusaran dunia gelapnya.
.
.
Baby Aery HHS
.
.
Saat itu adalah saat hujan turun dengan lebat. Roda bulat mobil berwarna silver itu bergulir melaju cukup kencang untuk menerobos tumpahan air bumi demi mengejar waktu yang sudah menunjukkan waktu dini hari. Angin terasa dingin menusuk, menembus lapisan baja dari mesin yang dikendarai seorang pria muda tampan dibalik kemudi setirnya. Cuaca cukup parah malam ini, tidak hanya guyuran hujan yang dibarengi kilatan dan gemuruh petir tapi udarapun seperti lembab berkabut yang membuat penglihatan pria itu sedikit kabur, ditambah jalan yang ia lalui gelap tanpa pencahayaan dari lampu tiang yang biasa berdiri kokoh disamping kiri, kanannya.
Mata sipit itu menyeringit ragu dengan apa yang ia lihat didepan. Sedikit tidak yakin, tapi… ia melihat sosok wanita berdiri di tepi jalan seorang diri. Tiba-tiba bulu kuduknya meremang, membayangkan kalau mungkin saja dia.. tidak-tidak! Tidak mungkin ada hantu dijaman modern seperti ini. Sedikit melambankan laju mobilnya sekedar untuk menuntaskan rasa penasarannya, namun pria itu justru hampir membuang nyawanya saat wanita tanpa otak itu memasang badan dihadapan mobilnya tanpa terduga.
Nafas tersengal satu-satu penuh ketidakpercayaan berhembus keluar dengan alot dari hidung mancung pria itu. Tangannya bergetar menggenggam bulatan setir kemudinya dengan kaki yang cukup kuat menginjak pedal rem. Matanya berkedip sebagai respon alami saat alam bawah sadarnya belum cukup mampu untuk menangkap dengan apa yang terjadi. Apa ia masih hidup sekarang? Atau..
"Paman, bolehkan aku ikut denganmu?"
Paman? Hei, dia tidak setua itu!
Kepala pria itu bergulir pada arah kiri jendela mobilnya dan ia mendapati sosok wanita mengenakan balutan dress pendek ketat yang memiliki belahan dada rendah, jangan lupakan tubuh itu basah kuyup hingga membuat mata nakal Sehun bisa melihat gambaran menggoda didalam sana. Jakun Sehun secara sendirinya menelan liurnya panas. Oh, dewi yunani ia bahkan melupakan luapan emosi yang sudah ia siapkan untuk ia semburkan pada wanita yang sialnya cantik itu.
"Naiklah.."
Dan sejak malam itu kehidupanku berubah.
.
.
.
.
.
Main cast :
Luhan, Sehun.
Gendre :
Romance, fluffy.
Rate :
M.
Warning :
GS, Typo, dirty talk.
Length :
Oneshot.
PS :
Ga suka ga usah baca.. tolong tinggalkan review buat kalian semua yang udah baca^^ happy reading.
.
.
.
.
.
Story beginds
Berada didalam jeruji besi yang mengurungnya bagai binatang buangan adalah hal yang tidak pernah Luhan bayangkan akan terjadi dalam hidupnya- tidak juga saat dulu ia menjadi pemakai narkoba. Meringkuk dengan dikumpulkan bersama manusia setengah sadar, wanita-wanita yang bahkan dalam keadaan miris dengan pakaian terbuka membuat Luhan merasa ingin berlari pulang kedalam dekapan Sehun. Ini bukan tempat untuknya, ia tidak seharunya berada disini.
Sehun.. tolong aku!
"Lu.." Baekhyun, si cantik yang kini diliputi rasa penyesalan menatap Luhan penuh rasa bersalah. Wajah ayunya menekuk sendu dengan mata sipitnya yang sembab. Ia tidak menyangka akan berakhir terkurung disini, dan parahnya ia membawa Luhan dalam situasi yang tidak seharunya Luhan alami.
Bodoh! Seharunya otaknya yang dangkal ini bisa lebih dulu berpikir sebelum menemui temannya yang sudah sepenuhnya lepas dari dunia gelap. Sekarang apa yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan Luhan? Ini sepenuhnya adalah kesalahan dirinya dan jika ia sendiri yang terkurung seumur hidup pun, Baekhyun tidak akan melawan, tapi jangan dengan Luhan. Wanita ini bahkan sudah akan menyongsong kehidupan barunya yang lebih beruntung.
"Maafkan aku.."
Perkataan yang entah sudah berapa puluh kali Luhan dengar hanya Luhan tanggapi dengan elusan lembut pada punggung tangan Baekhyun. "Tidak perlua hawatir Baek.. kita akan keluar bersama-sama." Mencoba sebisa mungkin, menenangkan sahabat yang sama malangnya dengan dirinya- walaupun Luhan merasakan ketakutan yang juga Baekhyun rasakan.
Keduanya saling membalas senyuman. Jika Luhan adalah anak seorang pelacur dan penjudi maka Baekhyun adalah adik dari seorang bandar narkoba yang dipaksa menjadi pelacur dan semakin jatuh kedalam saat mengenal apa itu narkoba. Didasari dari perasaan keterpurukkan yang sama, keduanya menjalin persahabatan didalam lingkaran hitam yang menjerat mereka.
Kehidupan malang keduanya jalani, namun saat melihat Luhan sudah memiliki butiknya sendiri, muncul keinginan Baekhyun untuk merasakan kehidupan putih yang normal. Tapi tidak ada yang bisa mengira kalau keinginannya justru membawa mereka berada disini. Terkurung menjijikkan dan menyedihkan.
"Nona Luhan.."
"Ya?" Luhan dengan cepat berdiri saat seorang polisi memanggil namanya. Matanya berkilat penuh harapan saat polisi itu membuka pintu jeruji yang mengurung dirinya.
"Kau bisa keluar sekarang."
Kelegaan Luhan rasakan membuncah sampai ubun-ubun. Dengan segera ia mengambil tas tangannya dan berjalan keluar. Tak luput dari ingatannya, Luhan menoleh kepada Baekhyun yang tersenyum lebar. Baehyun sangat lega jika Luhan dibebaskan
"Tunggu aku."
Ada ucapan tanpa suara yang Baekhyun pahami dari gerak bibir Luhan. Ia mengangguk dan melepas Luhan menghilang dari pandangannya. Luhan beruntung, karena Sehun pasti tidak akan membiarkan Luhan terkurung didalam penjara seperti ini. Sekarang Baekhyun hanya tinggal memikirkan nasipnya sendiri.
.
.
"Dari cek urin yang dilakukan, nona Luhan negative dari narkoba atau minuman keras, dan saya melihat dari datanya dia pun bukan pelacur ataupun bandar narkoba yang kami incar. Jadi anda bisa membawanya pulang, tuan." Seorang polisi muda tampan bernama Choi Siwon, mengulurkan kertas yang harus Sehun bubuhi tanda tangan sebagai wakil Luhan.
Sehun dengan cepat menorah tanda tangan miliknya yang biasa ia bubuhkan hanya untuk kesepakatan bisnis bukan untuk hal-hal buruk seperti ini! Tapi keparatlah Luhan yang sudah membuatnya terlihat memalukan dengan berada di kantor polisi seperti sekarang.
"Aku ingin hal ini tidak sampai tercium awak media atau masyarakat luar."
"Baik tuan.. kami akan menjaga informasi ini dengan baik.." Siwon membungkuk saat Sehun berdiri dari kursi yang ia dudukki.
Berhadapan dengan salah satu pengusaha kaya raya memang membuatnya harus bisa bersikap seperti perajurit mematuhi rajanya. Mengikuti apa yang Sehun minta tanpa harus membantah, itu wajib untuk semua orang sepertinya. Oh, itu berlebihan Choi Siwon!
.
.
"Sehun.." Luhan segera berdiri begitu ia melihat Sehun keluar dari dalam ruangan yang ia tidak ketahui ruangan siapa. Langkahnya dengan cepat menggapai Sehun, dan memeluk Sehun dihadapan semua orang.
"Kita harus pulang.."
Tapi hal yang tidak pernah Sehun lakukan kepada dirinya terjadi saat ini. Sehun melepaskan pelukkannya dengan nada suara dingin. Untuk beberapa saat Luhan membeku. Berpikir kalau Sehun pastilah salah paham. Langkahnya hampir ingin Luhan sambung demi mengejar Sehun, namun urung saat ia melihat Baekhyun berjalan dengan didorong-dorong untuk memberikan keterangan.
"Sehun.. aku mohon, bantu Baekhyun keluar.." Luhan mencegat langkah Sehun dan melontarkan permintaan yang tanpa Luhan sadari telah berhasil membuat api kemarahan Sehun semakin membludag.
"Chanyeol.. urus wanita yang bernama Baekhyun didalam." Mata Sehun berkilat tajam terarah kepada Luhan saat mengucapkannya.
Namun Luhan hanya mengabaikannya. Yang terpenting sekarang adalah Baekhyun. "Baekhyun temanku.. dia seorang pelacur. Tolong bantu dia agar bisa keluar.. aku akan membayarmu sesuai kesepakatan."
Chanyeol yang menjabat sebagai pengaca pribadi Sehun tidak kuasa menolak perintah. Padahal sekarang sudah pukul tiga pagi, harusnya ia sedang bergelung di kamarnya. Tapi apa daya, ini sudah pekerjaannya. "Baik nona.."
Luhan tersenyum lebar saat melihat Chanyeol kembali memasuki kantor polisi. Chanyeol adalah pengacara muda yang bisa diandalkan. Baekhyun pasti tidak akan membutuhkan waktu lama untuk mendekam dipenjara.
.
.
"Sehun.."
Tidak mendengarkan panggilan Luhan, Sehun justru sibuk untuk membuka sampul dasinya yang bahkan tanpa sadar masih terpasang di lehernya. Suasana hatinya terasa tidak dalam keadaan baik dan hal-hal kecil seperti ini menjadi menjengkelkan bagi Sehun.
Luhan yang mendapati sikap berbeda Sehun, memberanikan diri untuk mendekat. "Dengarkan aku.." Mencekal lengan Sehun saat Sehun akan memasuki kamar mandi.
"Apa lagi yang harus aku dengar?!"
Luhan menunduk dalam saat Sehun berkata ketus kepada dirinya. Sehun tidak pernah seperti ini dan sikap dingin Sehun bisa dengan cepat membuat Luhan merasa sedih. "Dengarkan aku.. aku hanya terjebak disitu, aku bahkan tidak menyentuh apapun."
Sehun akan mempercayai apa yang ia katakan, kan?
"Bukan tidak, tapi belum! Jika polisi keparat itu tidak datang pasti kau akan kembali menghisap barang laknat itu, Luhan!"
Kau tidak mempercayaiku, Sehun. "Tidak Sehun.. aku bersungguh-sungguh."
"Sudah berapa kali aku memaklumi dan bahkan mencoba untuk mengerti dengan kebiasaanmu? Membantumu sebisa mungkin dengan kesabaran yang bahkan tidak pernah aku sadari ada didalam diriku!"
"Sehun.." Lirih suara Luhan terucap.
"Tapi apa yang selalu aku dapatkan darimu? Hanya satu janji pun tidak bisa kau jaga.." Intonasi suara Sehun memelan. Matanya yang bersarang penuh kabut kekecewaan, coba Sehun tunjukkan kepada Luhan. "Aku mencintaimu, bahkan aku memperkenalkanmu kepada seluruh orang sebagai calon istriku tanpa aku berpikir siapa dirimu dan bagaimana dirimu."
"Maafkan aku.." Hatinya Luhan rasakan teriris perih. Ini adalah pertama kalinya Sehun mengucapkan keluhan tentang dirinya yang tidak pernah Luhan kira Sehun rasakan. Apa ia sudah sejauh itu merepotkan dan mengecewakan Sehun?
"Dan sekarang yang kau lakukan justru meludah diatas nama baikku, Luhan."
Dengan cepat, Luhan menggeleng. Menepis ucapan terakhir Sehun. "Aku tidak pernah berniat mencoreng nama baikmu, Sehun.. aku bersumpah! Itu diluar dari perkiraan.. Baekhyun, dia-"
"Keluarlah.." Sehun memotong kalimat penjelasan Luhan.
"Tidak! Aku tidak akan keluar sebelum kau mendengar penjelasanku, Sehun." Airmatanya menetes dengan tatapan memohon kesempatan agar Sehun mau mendengarkan ucapannya.
Namun, perasaan kecewa yang Sehun rasakan seolah menutupi rasa cinta yang ia miliki untuk Luhan. Sekarang yang tertinggal dihati Sehun hanya kekesalan yang tidak bisa lagi ia kendalikan. "Aku sudah terlalu banyak memberimu kesempatan dan kau mungkin berpikir kalau aku adalah manusia berhati malaikat yang bisa terus memaklumimu." Sehun membalikkan tubuhnya, memunggungi tangis Luhan yang semakin pilu. "Tapi kau tidak tau, seberapa lelahnya aku untuk bisa terus memaklumi dirimu, Luhan." Berjalan angkuh keluar dari dalam kamarnya dengan meninggalkan aura dingin yang menyelimuti hati sesak Luhan.
Luhan membeku ditempatnya berdiri. Tidak terdengar lagi isakkan yang memilukkan, hanya tetes demi tetes airmata yang mengiringi jatuhnya Luhan di marmer kamar yang dulu banyak menciptakan kenangan indah bagi mereka berdua. Tatapan Luhan hampa terlihat. Pupil matanya hanya mamandang tanpa arti sebuah bingkai foto dirinya bersama Sehun yang terpasang pas di tembok merah kamar Sehun.
Lelah.. satu kata itu bagai anak panah beracun yang melumpuhkan seluruh saraf Luhan, hingga Luhan bahkan bisa melupakan bagaimana caranya ia bergerak.
Lelah.. Sehun lelah kepadamu, Luhan. Apa semuanya berakhir seperti ini? Berakhir dihari kesembilan belas menjelang pernikahan mereka. Berakhir dengan kesalahpahaman yang membuat Luhan tau, seberapa jauhnya ia sudah membuat Sehun lelah.
Maafkan aku.. aku terlalu bodoh untuk tidak bisa melihat sekuat apa kau mencoba bertahan. – Luhan
.
.
Dingin.. tidak ada sapaan saat saling bertatap wajah. Tidak ada perbincangan saat menghabiskan waktu sarapan bersama. Tidak ada kecupan manis sebagai salam menjelang berangkat bekerja. Tidak ada pula pelukkan hangat diatas ranjang yang biasa Sehun berikan setiap malam.
Kecanggungan menjadi menyelimuti mereka. Kini rumah yang mereka tempati bersama bagai memiliki tembok kasat mata yang memberi jarak pada hubungan mereka. Luhan tidak bisa memahami kenapa hal ini menjadi buruk dan semakin buruk setiap harinya. Padahal pernikahan mereka hanya menjelang lima belas hari lagi, tapi sekarang hubungan mereka justru ada ditahap saling menghindar. Pernah sesekali Luhan ingin mencoba menjelaskan kesalahpahaman yang dialaminya, tapi saat kembali mengingat kata lelah yang terlontar dari bibir Sehun membuat Luhan berpikir kalau semuanya sudah menjadi percuma.
Percuma meluruskannya saat salah satu diantara mereka sudah lelah menjalankannya.
"Sehun, aku harus pergi beberapa hari untuk pemotretan para model di Je-"
"Pergilahh." Sehun memotong kalimat Luhan. Berdiri dari kursi yang didudukinya dan melangkah keluar rumah tanpa menghabiskan sarapan yang tersaji diatas meja makan.
Sematan senyuma miris terukir jelas di bibir Luhan saat melihat reaksi Sehun yang begitu gamblangnya mengatakan 'Pergilah' dengan acuh. Sebenarnya dia tidak akan ikut ke Jeju, dia hanya mengetes masih sejauh mana kepedulian Sehun kepada dirinya dan Luhan menilai kalau Sehun sudah tidak lagi memikirkan dirinya, dan kata pergilah yang terucap menjadi terdengar seperti usiaran halus dari Sehun kepada dirinya. Tentu, Luhan tidak pernah lupa kalau ini bukanlah rumahnya dan mungkin dia pun harus mulai sadardiri sekarang dengan keberadaannya yang hanya menjadi belenggu seorang Oh Sehun.
.
.
Tepat pukul delapan malam. Luhan turun dengan mengenakan skinny jeans, kaos hitam yang dipadu cardigan merah. Kakinya yang dibalut sepatu sneakers melangkah, menapaki setiap anak tangga dengan satu tangan yang menggered koper. Ini sudah menjadi keputusannya. Walau sulit dan barat tapi ia tidak mungkin bertahan untuk ada di rumah seseorang yang sudah tidak lagi mengharapkan keberadaannya. Wajah cantik Luhan terlihat murung sendu, matanya sudah tidak lagi memancarkan kebahagiaan. Yang tersisa hanya keputusasaan untuk hubungannya dengan Sehun yang sudah melayu.
"Nona, anda mau kemana?" Seorang pelayan berjalan tergopoh-gopoh begitu melihat Luhan akan keluar dari kediaman Sehun.
"Aku akan pergi ke Jeju untuk pemotretan model Ziro.."
"Apa perlu saya panggilkan supir untuk mengantar anda?"
"Tidak.. aku akan menggunakan taxi." Luhan tersenyum dan menepuk pundak salah satu pelayan terbaik yang Sehun miliki. "Jagalah rumah ini dengan baik.."
"Tentu nona."
"Baiklah.. aku pergi."
Pelayan berusia 40 tahunan itu menyeringitkan kening ketika sekilas ia melihat mata Luhan yang berkaca-kaca saat Luhan membalikkan tubuh untuk menghilang dibalik pintu utama. Dari perkataan Luhan pun itu terdengar sedikit aneh, tapi tidak berani untuk mengorek lebih jauh. Pelayan itu hanya mengkunci pintu dan kembali pada tempatnya.
.
.
Suara roda dari koper yang Luhan gered adalah satu-satunya yang mengisi kekosongan benak Luhan. Kakinya berjalan menjauh dan semakin menjauh dari kediaman Sehun tanpa tujuan. Dia tidak tau untuk bersembunyi dimana dan ia pun tidak memiliki uang barang hanya demi mengisi perutnya yang kelaparan. Semua yang ia punya dari Sehun tidak Luhan bawa pergi bersamanya, dia hanya membawa apa yang ia bawa saat pertama kali datang memasuki rumah Sehun.
Helaan nafas keluar dari bibir Luhan. Dia pasti akan merindukan Sehun, merindukan semuanya yang ada didiri Sehun. Tapi rasa rindu itu akan terdengar lebih manusiawi saat datang dalam keadaan Sehun jauh dari jangkauannya, tidak datang saat Sehun ada didepannya tanpa bisa ia menyentuhnya.
Ting dong!
Kepala Luhan tertoleh saat mendengar suara lonceng menggema membuyarkan semua pemikirannya. Disamping kirinya Luhan lihat, ada sebuah gereja tinggi menjulang yang memiliki design ukiran kuno yang indah. Sudah berapa lama ia tidak datang ke gereja? Luhan bahkan tidak mengingat kapan terakhir kali ia datang ke gereja.
"Kau ingin masuk?" Seorang biarawati yang Luhan perkirakan memiliki usia diatas 60 tahun mucul dihadapannya tanpa Luhan sadari kedatangannya.
Biarawati itu tersenyum hangat seolah mencarikan kebekuan hati yang sedang menyelimuti Luhan. "Apa boleh?"
"Tidak ada yang melarang untuk datang ke rumah Tuhan, sayang.."
Luhan tersenyum dan mengangguki ajakkan sang biarawati.
.
.
Tujuh hari berselang dan hari pernikahan pun semakin mendekat. Semua persiapan yang ditangani W.O hanya tinggal penyelesaian. Gaun pengantin yang secara khusus dirancang Jessica pun hanya tinggal dicocokkan dengan ukuran tubuh Luhan, namun sampai sekarang bahkan Luhan belum kembali dari Jeju. Untuk hal ini Sehun tidak ingin memikirkannya berlamat-lamat. Dia masih merasa kesal kepada Luhan dan terlalu malas untuk menghubungi Luhan walaupun itu hanya untuk menanyakan kabar. Toh
Luhan pun tidak menghubungi dirinya, dan itu Sehun artikan tidak ada hal buruk yang terjadi dengan kekasihnya.
Tentu! Luhan masihlah kekasihnya. Dia tidak mungkin bisa menghilangkan Luhan hanya karena kejadian itu. Ia hanya ingin Luhan sadar dengan siapa dirinya sekarang dan tidak lagi terjerumus pada lembah hitam. Jika dipikir-pikir dia sudah terlalu memanjakan Luhan sehingga Luhan selalu menganggap mudah apapun yang ia ucapkan.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk.." Sehun masih berkutat dengan semua berkas yang ada diatas meja kerjanya saat pintu ruangannya diketuk.
"Sehun, ada yang ingin bertemu denganmu.."
Kepalanya Sehun dongakkan saat mendengar suara Kyungsoo. Berniat menanyakan siapa yang Kyungsoo maksud namun urung saat iris matanya menangkap sosok lain berdiri dibelakang Kyungsoo. Itu Baekhyun, si wanita jalang yang selalu membuat Luhan ada diposisi buruk.
"Ada apa kau disini?"
Pertanyaan penuh dengan nada tidak suka, berhasil membuat kepala Baekhyun semakin tertunduk. Kyungsoo menghela nafas jengah akan sikap Sehun yang menurutnya keterlaluan.
"Dia ingin menyampaikan sesuatu." Tidak memperdulikan Sehun, Kyungsoo menggered satu kursi untuk Baekhyun. "Duduklah."
"Aku sedang sibuk, jangan bertele-tele."
Tangannya Baekhyun remas penuh dengan rasa gelisah. Keringat dingin bahkan mengucur keluar dari pori-porinya yang terasa semakin mengecil. Baekhyun tidak tau harus memulai dari mana tapi ia harus mengatakannya agar mungkin tidak ada lagi kesalah pahaman diantara mereka semua.
"Maafkan aku atas kejadian waktu itu." Mata Baekhyun mengamati reaksi Sehun dan Sehun sama sekali tidak memfokuskan diri kepada Baekhyun. Sehun lebih memilih kembali berkutat dengan kertas-kertasnya dan hanya memasang telinga untuk mendengar ucapan Baekhyun. "Saat itu, aku datang ke butik Luhan dan mungkin kesalahanku terletak disana.. aku meminta Luhan membantuku untuk keluar dari bar dengan cara membeliku.. Luhan menyetujui permintaanku dan dia datang dijam yang sudah ditentukan.. aku menjamin, Luhan tidak meminum apapun, dia bahkan mengatakan kalau dia sudah sepenuhnya lepas hanya untuk dirimu. Tapi kedaan buruk.. polisi datang dan kami tidak sempat melarikan diri sampai Luhan ikut tertangkap dengan diriku."
Pergerakan pena Sehun terhenti. Ada dentuman keras yang memukul hati Sehun hingga membuat senyuma tipis terukir di bibir Sehun. Lega.. Sehun lega, mengetahui Luhan tidak melakukan hal seperti yang ia duga, tapi Sehun pun merasa bersalah karena malam itu tidak memberikan kesempatan Luhan bicara dan lebih meninggikan emosinya dari pada perasaan sayangnya. Dan parahnya itu berlanjut sampai detik ini. Harusnya ia percaya dan memberi Luhan kesempatan.
Sehun berdehem kecil dan menatap Baekhyun dengan telak. "Aku harap kau tidak lagi menemui Luhan jika hanya untuk memposisikannya dalam keadaan yang sulit.. aku benar-benar tidak ingin jika dia harus kembali mengkonsumsi narkoba."
"Maafkan aku.."
"Kau terlalu serius Sehun.. Baekhyun tidak ada niat untuk mempersulit Luhan." Kyungsoo bersedakep tangan dan mendecak sebal. "Sekarang dimana Luhan? Aku dengar dia sudah satu minggu tidak datang ke butik. Asal kau tau, butik sedang sangat ramai dan Jessica kerepotan jika mengurusnya seorang diri."
Satu alis Sehun terangkat dengan tatapan yang sangat menyiratkan kebingungan. Bukankah Jessica perancang Ziro? Harusnya dia ikut ke Jeju bersama Luhan, kan? "Jeju.. Luhan ke Jeju. Apa Jessica tidak ikut?"
Kini bergantian Baekhyun dan Kyungsoo yang saling menatap dengan wajah penuh tanda tanya. "Memang ada pemotretan di Jeju, tapi itu hanya dua hari dan Luhan tidak ikut ke Jeju.. bukan begitu, Baek?" Kyungsoo melempar pertanyaan diakhir kepada Baekhyun sebagai penguat penjelasannya untuk Sehun.
"Ya.. Luhan tidak ikut ke Jeju.. dia bahkan menyerahkan butik sepenuhnya kepada Jessica."
"Apa maksudmu? Bagaimana kau tau?"
"Luhan memberikan Baekhyun pekerjaan di butik, dan dia pula yang mengenalkanku kepada Baekhyun.. jadi tentu Baekhyun tau."
Sial! Sehun berdiri dari kursinya dengan raut wajah menegang. Ponselnya ia keluarkan dan menghubungi seseorang dengan tergesa. "Cari Luhan.. SEKARANG!"
"Ada apa? Kenapa mencari Luhan? Memang Luhan kemana?" Kehawatiran Kyungsoo terpancing begitu melihat raut wajah Sehun yang tidak baik. Ia segera mendekati Sehun setelah Sehun mematikan sambungan telponnya. "Kenapa? Beritau aku?"
"Sejak malam itu aku mendiaminya dan dia sudah pergi dari rumah tujuh hari lalu.. aku pikir dia benar ada di Jeju."
"Itu buruk! Luhan tidak memiliki siapapun di Seoul. Bagaimana jika dia kembali ke rumah kedua orang tuanya?"
Seruan Baekhyun yang sama terlihat cemasnya berhasil membuat Sehun semakin ingin meledak. Jika terjadi sesuatu kepada Luhan. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Bodoh! Harusnya tidak menjadi seperti ini.. semua ini adalah salahnya! Keparat! Bajingan kau Oh Sehun!
"Percuma mengumpat.. lebih baik kita mencari Luhan." Kyungsoo menyela kefrustasian Sehun kepada dirinya sendiri. Tanpa menunggu respon dari Sehun, Kyungsoo dan Baekhyun sudah lebih dulu bergegas pergi keluar. Ini sudah tujuh hari, jika Luhan pergi jauh maka akan sulit untuk menemukannya. Kyungsoo berharap, Luhan tidak memiliki nyali untuk keluar dari Korea ataupun Seoul.
Erangan kesal keluar dari bibir Sehun. Dengan rasa cemas parah yang mengekori dirinya, Sehun pun keluar untuk menyusul Kyungsoo. Yang Kyungsoo katakan benar. Percuma mengumpat atau menyesali. Yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari Luhan dengan segera dan bersujud meminta maaf kepada kekasihnya.
.
.
Seluruh penjuru Seoul menjadi target utama dalam pencarian Luhan yang sudah berangsung beberapa hari. Tidak hanya Sehun, Baekhyun, Kyungsoo ataupun Yixing yang ikut kerepotan mencari Luhan tapi bahkan semua anak buah Sehun pun ia kerahkan demi bisa menemukan kekasihnya. Sehun hampir dibuat gila saat hari berlalu selalu dengan sia-sia. Detektif yang ia sewa pun amat sangat bodoh! Lamban! Tolol! Dan tidak berguna. Sehun sering melampiaskan kekesalannya kepada mereka jika mereka datang dengan hasil yang sama 'Tidak tau'. Sehun tidak membayar mereka hanya untuk mendengarkan dua kata menyebalkan itu!
"Bagaimana? Apa Luhan sudah ditemukan?"
Dan satu hal lain yang membuat Sehun merasa benar-benar gila adalah, orang tuanya sudah datang dari German demi menghadari pemberkatan pernikahan mereka yang hanya tinggal dua hari lagi. Tapi keparatlah! Luhan justru belum bisa ia temukan sampai sekarang. Sehun pun tidak tau apa yang harus ia jelaskan pada semua tamu undangan jika sampai hari pernikahan Luhan tidak kujung ditemukan. Mungkin anggapan orang akan berpikir jika ia melakukan kekerasan atau Luhan yang hanya ingin memanfaatkan kekayaannya, tapi Sehun tidak peduli dengan itu.
"Belum, bu.."
"Tenanglah.. Luhan pasti bisa kau temukan."
Sehun tersenyum kecil, dan mengamini dalam hati ucapan ibunya. Kakinya yang benar-benar terasa lelah, Sehun paksa untuk menaiki tangga. Kondirinya sudah buruk sekarang. Sehun tidak lagi memikirkan penampilannya ataupun pekerjaannya. Yang ada didalam benaknya hanya Luhan, Luhan dan Luhan.
.
.
Selesai dari membersihkan tubuh, Sehun berniat untuk istirahat sejenak. Beberapa hari ini dia tidak tidur hingga kantung mata jelas terlihat merusak ketampannnya. Namun belum sampai pantat itu menyentuh ranjang, Sehun sudah lebih dulu dikejutkan dengan kemunculan Kyungsoo yang membuka pintu kamar tanpa permisi.
"Luhan sudah ditemukan!" Kyungsoo berseru dengan senyuman lebar menghiasi bibirnya. Walaupun paru-parunya terasa menyempit karena ia berlari dari luar kediaman Sehun, namun itu semua tidak bisa menutupi raut kelegaan Kyungsoo.
Begitupun dengan Sehun yang hampir terjatuh di lantai karena kelegaannya yang seolah mengangkat terbang rasa hawatir dan kegelisahannya. Hatinya Sehun rasakan berdebar menyenangkan setelah ia mendengar sesuatu yang sudah lama dinantikannya. Luhan'nya sudah ditemukan.. Sehun menyambut kabar ini penuh dengan ucapan syukur.
.
.
Yang Kyungsoo katakan bukan sesuatu yang mengada-ada. Karena sekarang, Sehun melihat Luhan'nya tengah berbicang dengan salah seorang biarawati didepan sana. Tepat di kursi kayu panjang yang terletak diluar gereja. Luhan dalam keadaan baik, walaupun awam telah merubah langit menjadi gelap tapi Sehun masih bisa melihat senyuman yang terukir manis di bibir dambaannya itu. Tanpa sadar, Sehun menarik sudut bibirnya untuk ikut tersenyum. Terasa sudah sangat lama ia tidak menatap Luhan dan rasa rindu seakan membuncah menggila menggerogoti hatinya.
"Sudah sejak kapan dia ada disini?"
Kyungsoo menoleh kepada Sehun yang berdiri disampingnya. "Sejak ia kalur dari rumahmu.."
"Kau sudah menemuinya?" Seolah hanya terpaku pada Luhan, Sehun bahkan tidak balik menghadap Kyungsoo.
"Belum.. lebih kau yang menemuinya lebih dulu.. minta maaflah dan ajak dia kembali pulang."
"Itu yang pasti aku lakukan."
"Aku dengar disini Luhan membantu para biarawati mengurus anak-anak panti yang tinggal dibelakang gereja.. mungkin jika kita tidak menemukannya, dia akan memutuskan menjadi biarawati dan kau tidak akan bisa menikahinya sampai kapanpun."
Sehun tertawa karena gurauan Kyungsoo. Itu terdengar menggelikan. Membayangkan Luhan yang biasa menggunakan pakaian sexy dan bersikap agresif di ranjang lalu berbuah menjadi biarawati itu seperti melihat seekor babon menggunakan bikini. "Jika Luhan menjadi biarawati, Tuhan tidak akan mengizinkanku memasuki surga."
Tawa keduanya pecah hanya karena guarauan kecil tentang Luhan. Anggap ini sebagai bayaran usaha mereka untuk menemukan Luhan. Kyungsoo pun berniat meminta gaun gratis kepada Luhan karena sudah merepotkan dirinya sekaligus menyita waktu berharganya.
.
.
Hari semakin petang. Semua kegiatan yang sudah menjadi rutinitasnya sejak beberapa hari lalu selesai dengan baik. Semua anak-anak sudah terlelap dan sekarang Luhan hanya tinggal mematikan lilin gereja setelahnya ia bisa beristirahat. Namun sebelum lilin-lilin itu ia padamkan, Luhan lebih dulu berlutut didepan patung yesus demi memanjatkan doa untuk seseorang yang ia cintai diluar sana. Berharap, doa yang ia minta bisa sampai pada Tuhan dan Sehun bisa mendengar kalau ia merindukan dirinya.
"Apa yang kau minta?"
Matanya Luhan tutup semakin rapat saat ia mendengar jelas suara Sehun, dan Sehun yang memang berada disamping Luhan tersenyum kecil karena raut wajah menggemaskan kekasihnya. "Apa kau berdoa untukku?"
"Apa itu suara hantu?" Luhan bergumam kecil dengan tubuhnya yang ia gerakkan mundur kebelakang. Selama ini ia tidak pernah dihantui suara-suara Sehun tapi kenapa sekarang.
"Aku bukan hantu, sayang.."
"Yak!" Luhan terperanjat karena terkejut begitu tubuhnya terasa terangkat. Matanya yang terbuka melotot kaget saat melihat wajah Sehun yang jelas berada dihadapan matanya.
"Aku Sehun.. calon suamimu." Bibirnya Sehun tempelkan kepada bibir Luhan yang sudah ada didalam gendongannya.
Hitungan beberapa detik Luhan belum sepenuhnya sadar namun begitu merasakan lumatan basah di bibir bawahnya, Luhan segera meronta dari gendongan Sehun. "Apa yang kau lakukan?" Luhan menoleh mencari objek apapun untuk ia tangkap dalam penglihatannya. Rasa gugup menjalar dengan tiba-tiba saat Sehun tanpa ia duga muncul dihadapannya.
Ini terasa memalukan saat pipinya memanas hanya karena ciuman Sehun. Astaga! Dia tidak merindukan ciuman Sehun! Sungguh! Ini hanya karena mereka sudah terlalu lama tidak bertemu. "Turunkan aku.."
"Apa?"
Keparat! Kemana perginya suaraku? Luhan berdehem kecil. "Turunkan aku.." dan beruntunglah karena suaranya kembali muncul.
Tidak membantah, Sehun pun menurunkan Luhan. Sontak, Luhan mengambil satu langkah mundur. "Sedang apa kau disini?" Sebenarnya bukan itu yang ingin Luhan tanyakan, namun pertanyaan itu muncul hanya untuk Luhan gunakan sebagai tameng, agar Sehun tidak mengetahui kebahagiannya yang tengah ia rasakan sampai-sampai bisa membuat lututnya melemas.
"Menjemput calon pengantinku."
"Siapa calon pengantinmu?"
Suara tawa Sehun terdengar menggema didalam gereja. Luhan ada didalam mood merajuk rupanya. "Seorang wanita bodoh, yang pergi dari rumah suaminnya.. itulah calon pengantinku."
"Aku tidak bodoh!"
"Dan sekarang dia mengaku kalau dia tidak bodoh."
"Aku pergi dari rumah karena calon suamiku yang bodoh! Aku benci dengan pria menyebalkan itu. Dia tidak mempercayai apa yang aku bilang kalau aku sudah berubah.. dia mendiamiku dan mengacuhkanku." Mata Luhan sedikit berlinang saat mengucapkannya dan itu membuat Sehun kembali didera rasa bersalah.
"Maafkan aku.. bukan aku tidak mempercayaimu, Lu.. aku hanya terlalu egois untuk tidak mendengarkan penjelasanmu.. aku mohon, beri ampunan untuk suamimu yang bodoh ini."
"Kau bukan suamiku. Aku membencimu.."
Senyuman Sehun mengembang saat Luhan justru berhambur dalam pelukannya. Akhirnya kehangatan ini kembali bisa Sehun rasakan didalam hatinya setelah beberapa saat menghilang. "Jangan lagi seperti ini.. kau tau, aku hampir putusasa untuk mencarimu.."
"Kau yang membuatku pergi.. aku pikir kau sudah tidak mencintaiku dan tidak peduli padaku."
"Itulah kenapa aku menyebutmu bodoh." Satu sentilan Sehun daratkan di dahi Luhan, membuat Luhan melempar tatapan kesal kepada Sehun. "Jangan lagi berpikiran seperti itu.. ayo, sekarang kita pulang."
"Bagaimana jika aku tidak mau?" Luhan terenyum lebar sangat terlihat kalau dia tengah menggoda Sehun.
"Jika kau tega untuk melihatku berdiri sendirian di altar, kau boleh tidak ikut."
"Dan aku akan menikah dengan pria la- Aw! Kenapa kau memukul kepalaku?" Seruan dibarengi dengan ringisan keci keluar dari bibir Luhan yang mengkerut kebawah. Tangan kanannya Luhan gunakan untuk mengusap kepalanya yang dihadiai jitakan oleh Sehun.
"Agar otakmu tidak lagi memikirkan hal yang bodoh." Tanpa menunggu respon dari Luhan, Sehun menggenggam tangan Luhan dan setelahnya mereka berjalan bersama keluar dari gereja.
"Aku ingin berpamitan pada bibi Jang.. dia yang mengizinkanku untuk tinggal disini."
"Baiklah.. kita akan menemuinya lebih dulu." Sehun menoleh kepada Luhan dengan senyuman tersungging di bibirnya. "Undang dia untuk menghadiri acara pernikahan kita."
"Hemm.." Luhan mengangguk. "Sehun.. ada yang ingin aku bilang kepadamu."
"Apa?" Sehun menghentikan langkahnya begitupun dengan Luhan. Mereka saling berhadapan dan Sehun bisa melihat kalau Luhan tengah merangkai kata di otak kecilnya untuk disampaikan kepada dirinya.
"Sebenarnya.. bagaimana jika emmm.. aku..aku."
"Aku?" Melihat Luhan yang bertele-tele dalam berbicara membuat Sehun sedikit merasa penasaran.
"Aku.. hamil."
Hamil?
Hamil..
Ha..mil? "Hamil!"
"Jangan kencang-kencang." Luhan membekap mulut Sehun yang tengah melotot tidak percaya.
Dengan segera Sehun menurunkan tangan Luhan. "Kau hamil?"
"Hemmm.. ini anakmu bukan anak pria lain. Aku tidak berselingkuh selama aku ad-"
"Kenapa kau baru mengatakannya, sayang! Astaga, ini kabar bahagia.. kenapa kau menyembunyikannya?"
Luhan melongo melihat reaksi Sehun yang jelas terlihat bahagia dan girang. Ia berpikir mungkin Sehun tidak akan mengakui anak yang ada didalam perutnya mengingat mereka sudah lama tidak berhubungan. Tapi yang terjadi, Sehun bahkan bergegas menelpon Kyunsoo. Astaga! Memalukan.
.
.
Hari bersejarah dalam hidup Sehun, Luhan pun telah tiba. Luhan mengenakan gaun putih yang memiliki ekor panjang berjalan diapit ayah, Sehun yang Luhan syukuri menyambut bahagia dengan pernikahan ini juga kedatangan si kecil yang masih tumbuh di dalam perut Luhan. Tidak jauh disana, Sehun berdiri dengan tegapnya. Menggambarkan seorang pria sejati yang sudah sigap menjalani mahligai rumah tangga dengan Luhan dan juga menjadi ayah yang baik untuk anaknya kelak.
Semua tamu tersenyum dengan bahagia saat melihat Luhan menyambut uluran tangan Sehun. Berdoa penuh kekusyuan, mengamini apapun yang pasture doakan untuk Sehun dan Luhan, sebelum akhirnya waktu pemberkatan dimulai.
"Aku Oh Sehun, menyatakan dengan tulus, ikhlas, bahwa Luhan yang hadir di sini mulai sekarang ini menjadi istriku. Aku berjanji untuk setia kepadanya, dalam untung dan malang, dan aku akan mencintainya dan menghormatinya seumur hidup. Demikianlah janjiku di hadapan Tuhan dan janji suci ini"
Sehun dengan lancar menyebutkan janjinya. Sang pasture pun beralih kepada Luhan yang sudah menggenggam erat buket mawar putih ditangannya.
"Aku Luhan, menyatakan dengan tulus, ikhlas, bahwa Oh Sehun yang hadir di sini mulai sekarang ini menjadi suamiku. Aku berjanji untuk setia kepadanya, dalam untung dan malang, dan aku akan mencintainya dan menghormatinya seumur hidup. Demikianlah janjiku di hadapan Tuhan dan janji suci ini"
"Amin.. kalian telah sah menjadi suami, istri dihadapan Tuhan dan hukum.. Sehun, kau boleh mencium pengantin wanitamu."
"Maaf pasture.. tapi aku tidak bisa mencium istriku dihadapanmu.. karena dia mungkin tidak akan mau untuk melepaskannya." Sehun tersenyum jahil kepada Luhan yang hanya memutar bola matanya malas.
Beberapa tamu yang mendengarnya tertawa begitupun dengan sang pasture. Luhan yang merasa dipermalukan melirik Sehun kesal. Hatinya sudah penuh dengan sumpah serapah yang dia tujukan kepada Sehun. Baru menikah tapi Sehun sudah berani mengolok-olok dirinya!
"Tertawalah dengan puas tuan Oh.. setelah ini, aku tidak akan sudi mengurus penismu selama tiga bulan."
Bisikkan Luhan membuat wajah Sehun seketika memucat. Senyuman jahilnya menghilang tergantikan gelengan penuh permohonan. Tiga bulan tidak mendapat vagina Luhan itu lebih mengerika dari pada melihat sembilan nenek-nenek menari 'Alone' dengan baju sexy sekalipun. Dengan segera, Sehun meraih tangan Luhan. "Aku salah.. jangan seperti itu."
Luhan terkekeh pelan. Sex adalah kelemahan Sehun dan Sehun tidak akan bisa berkutik jika ancaman itu sudah keluar. Raut wajah memelas Sehun bahkan lebih menggemaskan dibanding seekor puppy sekalipun. "Bodoh." Luhan memukul kepala Sehun menggunakan buket bunga miliknya, menarik kerah jas Sehun untuk bisa mencium bibir pria yang sudah sah menjadi suaminya.
Sehun tersenyum senang. Direngkuhnya pinggang Luhan dan balas melumat semangat bibir bawah Luhan. Lipstick yang terpoles di bibir Luhan pun seperti habis berbaur dalam saliva mereka karena ciuman mereka yang tak kunjung memiliki titik akhir.
Semua tamu bertepuk tangan. Yixing yang berdiri disebelah Junmyeon merasa tidak percaya kalau hubungan keduanya bisa berakhir di altar. Kyungsoo yang berdiri di samping Baekhyun pun merasakan hal yang sama. Luhan yang ia kira tidak pantas untuk Sehun ternyata bisa membuktikan kalau dia adalah wanita terbaik yang bisa mendampingi Sehun, begitupun dengan Baekhyun. Baekhyun sangat bersyukur tidak hanya bisa menjadi bagian dihidup Luhan yang kelam, tapi ia juga bisa menjadi bagian dikehidupan baru Luhan yang pasti akan penuh dengan torehan kebahagian.
Pada akhirnya semuanya bahagaia. Walaupun jalan yang kita lalui tidak mudah tapi kita berhasil melewatinya dan membuktikan kepada seluruh penghuni bumi, kalau perbedaan bukanlah hambatan untuk saling mencintai. Cintamu bagai cahanya yang muncul didalam kegelapan duniaku, memberiku penerangan bahwa ada hal menyenangkan yang bisa menghapus tangisku. Ketulusanmu bagaikan arah panah yang mampu menunjukkanku jalan untukku terbebas dan merangkai duniaku yang baru. Dirimu bagai hadiah tak tertuga dari Tuhan yang aku dapatkan saat aku berpikir mungkin tidak ada kebahagian untukku, dan senyummu adalah pengganti dari keindahan waktu yang sudah aku lewati dengan percuma. Your love to get me heal, Oh Sehun – Luhan.
.
.
.
.
.
TAMAT DENGAN BAHAGIA^^
Terimakasih untuk semua review kalian.. See you di FF selanjutnya atau FFku yang lainnya yang masih ada TBC lol ff ini itu ff repost yang aku post buat penangkal biar ffn ku ga angker soalnya aku lagi minim waktu, pokoknya thanks untuk review kalian dan maafkan seegala typo yang ada karena ini ff tanpa edit lmao
