#4 - Karamatsu & Choromatsu

(Sial)


Menurut Choromatsu, hari ini dia sial sekali.

Pertama, sakit batuknya semakin parah. Dia bahkan tidak bisa bersuara hari ini. Osomatsu menertawakannya, mengejeknya bahwa selama ia sakit, ia tidak bisa memarahi siapapun.

Choromatsu kesal. Tapi Todomatsu bilang, tidak boleh baper.

"Adikku tersayang, bukalah kedua bibir tipismu itu agar kakakmu ini dapat memberimu—"

Tanpa membiarkan Karamatsu menyelesaikan ucapannya, Choromatsu sudah mengambil piring dan sendok yang dipegang si kakak. Hanya karena dia sakit, bukan berarti harus disuapi.

Kedua, karena dia sakit, kakak keduanya memaksa diri untuk merawatnya. Yang lain membiarkan, malah pergi mencari kesibukan masing-masing.

Karamatsu menatapnya. Mulutnya kembali mengatakan sesuatu yang Choromatsu tak terlalu dengarkan. Sesekali kakaknya berhenti berbicara untuk mengambil napas atau mengambilkan minum untuknya.

Sampai Choromatsu menghabiskan makanannya pun, kakaknya itu masih setia menemaninya dan menceritakan kegiatan memancingnya dua hari lalu.

Ia menatap Karamatsu. Rasanya aneh sekali melihat kakaknya seperti ini, tersenyum sambil terus bicara. Aneh, karena biasanya Choromatsu akan pergi atau menyela kata-katanya jika ia sehat.

Choromatsu merebahkan dirinya, masih menatap si kakak yang menyuruhnya untuk meminum obat dulu sebelum tidur. Ia ingin tertawa, melihat Karamatsu yang terlihat peduli sekali sedangkan yang lain entah kemana. (Ah tapi dia sebenarnya juga sadar, Karamatsu itu benar-benar peduli dengan yang lain.)

Ternyata hari ini tidak terlalu sial juga.

(Karena suara Karamatsu itu enak didengar—walau mereka kembar, suara kakaknya itu terdengar lebih berat dan ... bisa dijadikan untuk membuatnya tertidur.)