#6 - Karamatsu
[Takut]
Karamatsu meneguk ludah. Telinganya kembali mendengar suara itu, suara seperti kuku-kuku yang mencakar dinding, diiringi deruan napas seperti sehabis berlari.
Ia memejamkan kedua matanya rapat. Tidak ingin mengulangi kesalahannya beberapa menit lalu—yaitu mengintip ke arah sumber suara dan mendapati sosok wajah tersenyum padanya. Bukan. Itu bukan Jyushimatsu. Wajahnya berbeda sekali dari mereka berenam, dan yang dirasakannya saat itu adalah takut takut takut.
Entah sudah berapa menit berlalu. Suara itu masih terdengar, dan kantuk belum menjemput Karamatsu untuk membuatnya percaya bahwa ini hanyalah mimpi.
Tiba-tiba, suara itu berhenti begitu saja. Jantungnya berdegup lebih kencang, belum bisa tenang hanya karena suara itu hilang. Bisa saja kan itu hanya akal-akalan si hantu agar membuka matanya, dan DOR sosok wajah itu akan tepat berada di hadapannya.
Ugh. Karamatsu ingin cepat tidur. Harusnya ia tidak minum kopi banyak-banyak tadi.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Kedua mata yang sedari tadi ia pejamkan perlahan dibuka, melirik ke arah di mana sosok itu berada saat ia melihatnya.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia membuka matanya lebar, mendudukkan dirinya, lalu menyapu pandangan ke seluruh sudut ruangan. Tidak ada sosok tersenyum lebar itu lagi.
Phew.
Karamatsu menghela napas lega. Ia kembali merebahkan tubuhnya, lalu menggerakan badannya agar menghadap ke kanan—
Sosok yang tersenyum lebar itu kini tepat berada di sebelahnya. Menggantikan posisi di mana Ichimatsu biasanya berada.
