'Heart string'

,

,

,

This is drabble AllxSehun

.

.

Warning : sama seperti warning-warning semestinya. Oh, juga GS di beberapa chapter.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Enjoy!

.

.

Chapter 2. –HanHun.

Hari ini seperti hari sebelumnya. Sama saja, tidak ada yang berbeda.

Baekhyun masih saja berceloteh tentang kencannya kemarin bersama Chanyeol yang gagal karena seekor sigung busuk yang dengan tidak elit mengeluarkan 'amunisi'nya pada gadis ber-eyeliner itu saat mereka tengah berjalan-jalan di taman.

Selebihnya, Sehun yang berjalan di samping Baekhyun tidak mendengar dengan jelas. Suara Baekhyun hari ini lebih mirip dengan dengungan lebah sebenarnya.

Sehun sendiri menundukkan muka membaca novel yang dibelinya kemarin. Butuh perjuangan ekstra untuk masuk mall –toko buku yang dikunjungi Sehun berada di dalam mall- saat sedang diadakan meet and greet cosplayer sekelas Baozi-Hana yang jarang-jarang di adakan di Korea.

Mall penuh sesak dan dia harus pandai menyelipkan tubuh rampingnya di antara orang-orang dengan costum anime di sepanjang tempat. Tidak apa-apa bagi Sehun jika orang-orang itu ber-cosplay tokoh seperti Haruno Sakura atau barangkali Kuroko Tetsuya.

Tapi hampir semua berkostum menyeramkan. Mungkin Sehun masih bisa mentolerir jika itu Ulquiorra Schiffer(Suami Author .) atau mungkin Kaneki dari anime Tokyo Ghoul yang jelas tidak akan memakan biaya besar.

Tapi orang-orang itu memilih karakter sejenis Kisame Hoshikagi ataupun Zabusa yang membawa pedang besar dipunggungnya. Dan demi Bubble tea yang enak itu! Pedang itu asli, man!

Sehun bahkan sudah hampir tiga atau empat kali menabrak benda keras itu. Itu hanya menabrak, belum terhitung tentang sengaja ditabrak, tertabrak, menyenggol, disenggol, tertimpa ataupun kaget karena benda-benda itu terjatuh dengan suara keras.

Setelah semua perjuangannya yang melelahkan, Sehun telah bertekat tidak akan datang ke toko buku-apalagi didalam sebuah mall- jika sedang di adakan meet and greet sesuatu berbau anime. Titik.

Kembali ke cerita.

Sehun hanya mengangguk dan memberikan respon seadanya saat Baekhyun bertanya tentang pendapatnya. Terlepas dari anak itu mendengar apa yang dikatakan Baekhyun atau tidak. Toh, Baekhyun tidak akan tau kalaupun Sehun tidak mengerti semua ucapan Baekhyun.

"Ugh! Pokoknya aku malu banget deh. Aku udah nggak tau gimana nanti kalau ketemu sama Chanyeol."

Sehun memutar bola matanya bosan. Baekhyun tetaplah Baekhyun. Meskipun dia berkata seperti itu, pada kenyataannya saat dia bertemu pujaan hatinya itu, dia akan tetap bersikap sebagaimana mestinya, centil dan tidak tau malu. Itu yang di tanamkan pada kepala Sehun.

"Sehun!"

Sehun dan Baekhyun otomatis berhenti berjalan saat seseorang bernama Lee Jinki memanggil salah seorang dari mereka.

"Kak Jinki, selamat pagi." Ucap keduanya kompak sambil sedikit menundukkan kepala, basa-basi formal kepada kakak kelas, hitung-hitung.

"Ah, selamat pagi." Jawab Jinki kikuk.

"Kakak manggil Sehun?" tanya Sehun pada seniornya yang berdiri di depan mereka.

Baekhyun menepuk kepalanya pelan. Sehun itu imut-polos-lemot nyerempet bodoh. Jelas jelas senior manis itu memanggilnya, telinga Sehun itu terhalang batu bacan apa?!

'Kak Jinki nggak manis! Cuma Chanyeol yang manis! Iya, Cuma Chanyeol!' batin Baekhyun saat pikiran tentang 'Jinki manis' bersliweran di kepalanya. Apalagi saat melihat sang senior yang mengangguk pelan hingga poninya yang berwarna coklat itu bergoyang, ugh~ manisnya.

Hey, Ingat suami Baek!

"Minggu depan kan mau ada promnite, terus kan harus bawa pasangan."

Oh promnite. Sehun mengangguk pelan saat mengingat acara itu. Pantas saja OSIS sibuk sekali, ternyata promnite.

"Jadi gini sebenernya, aku belum tau mau ngajak siapa. Kamu mau jadi pasanganku buat promnite?" tanya Jinki, dari suaranya terdengar harapan tinggi tentang ini.

Baekhyun meremas kedua tangannya gemas. Di bayangannya, Sehun sedang mengangguk malu-malu yang disambut senyum ganteng Jinki, lalu mereka saling pandang terus ciuman di koridor. Aduuh~ manisnyaaa~

"Bol-eehh?"

Bayangan Baekhyun terhenti saat mendengar jawaban Sehun yang terpotong. Eh, sejak kapan ada Luhan disitu? Dan sejak kapan Luhan menggandeng tangan Sehun. Oke, itu bukan menggandeng sebenarnya. Itu lebih pantas disebut mencengkeram, lihatlah wajah Sehun yang kebingungan sambil mengernyitkan alis. Pasti cengkraman pemuda itu sakit.

"Maaf sebelumnya, tapi aku ada perlu dengan Sehun." Ucap Luhan dingin. Dia menarik Sehun pergi meninggalkan dua orang yang menganga bingung. Iya, iya, Cuma Baekhyun yang menganga, kalau Jinki sih Cuma menatap dua orang itu bingung.

-000-xxx-

"Kak Luhan, Lepasin Sehun." Pinta Sehun setengah meringis.

Luhan menghela nafas dan berhenti saat mereka berdua telah berada di sudut koridor yang sepi. Tubuhnya merapat pada tubuh Sehun yang menempel di dinding.

Sehun?

Jangan ditanya, mukanya sudah memerah seperti warna pertama dari susunan pelangi.

"Jangan deket-deket dia lagi." Ucap Luhan datar.

Sehun ikut menghela nafas mengerti. Dia mengangguk pelan kemudian tersenyum.

"Iya kak." Jawabnya patuh.

Luhan membalas senyumannya dan menepuk kepala Sehun pelan. Tangannya turun membelai pipi ranum Sehun.

"Aku ke ruang OSIS dulu." Pamit Luhan dan pergi meninggalkan Sehun yang menatap punggungnya sendu.

"Kak Luhan." Desah Sehun lelah. Tubuhnya yang bersandar di dinding merosot ke bawah, menyentuh lantai dingin di bawahnya.

Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia enggan untuk membiarkan genangan air itu turun melewati pipinya.

-000-xxx-

"Sehun." Panggil Baekhyun pada gadis yang tengah menelungkupkan kepalanya ke meja.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Baekhyun kemudian.

Sebenarnya sedari tadi dia ingin sekali memberondong Sehun dengan berbagai pertanyaan yang berkeliaran di benaknya. Tapi itu harus dia urungkan saat guru jam pelajaran pertama masuk, membuatnya harus menahan hasrat itu.

"Hmm." Gumam Sehun membalas pertanyaan Baekhyun.

"Hun, itu nggak ngejawab apa-apa." Balas Baekhyun.

Gadis ber-eyeliner itu menghembuskan nafas lelah. Dia sebenarnya mengerti apa masalah Sehun tanpa harus diberitahu gadis itu. Dia sudah menduga dari jauh-jauh hari, tahun malah.

Tapi Sehunnya sendiri kalau diberitahu hanya tersenyum dan bilang 'nggak apa-apa kok.'

"Aku nggak apa-apa, Baek." Jawab Sehun masih dengan gumaman. Tuh kan, apa Baekhyun bilang.

Baekhyun yang jengah menarik lengan Sehun hingga gadis itu menatapnya.

"Apa lagi sih Baek?" Ucap Sehun malas.

"Kamu tuh yang apalagi!" bentak Baekhyun hingga mengalihkan perhatian seisi kelas, tapi Baekhyun terlanjur kesal pada anak ini, dia tidak peduli pada teman-teman sekelasnya sekarang, toh mereka tanpa bertanya pun pasti sudah tahu.

"Kamu itu ya, ini udah dua tahun hun! Dua tahun! Bahkan udah mau tiga tahun dan kalian masih aja jalan ditempat! Nggak jelas tau nggak!"

Sehun membalasnya dengan senyum menenangkan yang dia punya. Tangannya mengelus pundak Baekhyun yang naik turun karena emosi.

"Aku masih kuat kok."

"Tapi aku yang nggak kuat, Oh Sehun!" jerit Baekhyun. Dia benar-benar tidak terima sahabatnya di perlakukan seperti itu.

"Baekhyun, kamu tenang deh. Aku bakal berhenti kalau udah waktunya, kamu nggak usah khawatir."

"Gimana aku nggak khawatir, kamu ud-..."

"Ssstt.. udah, liat tuh anak sekelas pada takut liat kamu ngamuk kaya bison, ayo ke kantin, kamu pasti laper makanya ngamuk." Ucap Sehun yang selanjutnya tertawa.

Baekhyun mau tak mau ikut tersenyum, Sehun tetaplah Sehun, seperti Baekhyun tetaplah Baekhyun. Sehun itu anak yang kuat. Seharusnya Baekhyun tidak melupakan fakta itu, pun dengan sifat Sehun yang tenang, berbanding terbalik dengannya yang meledak-ledak, itu membuat mereka saling melengkapi.

Dan untuk masalah Sehun, mungkin Baekhyun harus percaya dengan ucapan Sehun yang akan berhenti jika waktunya tiba.

Dengan itu, Baekhyun meraih tangan Sehun dan beriringan berjalan ke kantin sambil tertawa karena cerita yang mereka utarakan.

Nah, itu namanya persahabatan.

-000-xxx-

Gadis manis berambut coklat pasir itu duduk di bangku depan ruang kelasnya sambil menyendokkan es krim vanilla dalam cup yang dipengangnya. Sesekali mata hazelnya menatap siswa-siswi yang lalu lalang di depannya.

Pandangannya mencari sosok gadis berambut coklat gelap bernama Baekhyun yang beberapa menit lalu berpamitan untuk ke kantin membeli minuman untuknya.

Sehun-nama gadis itu- sesekali tersenyum saat senior, junior ataupun teman seangkatannya lewat dan menyapanya, memperlihatkan eyesmile cantik saat dia tersenyum.

Dari koridor kanan, arah tangga ke lantai tiga, seorang pemuda bersurai merah marun melangkah dengan santai sesekali membolak-balikkan map biru tua yang dipegangnya.

Keningnya berkerut saat membaca tulisan disana yang tidak sesuai dengan pikirannya. Dia mengambil pena kemudian mencoret beberapa kalimat ataupun angka yang menurutnya tidak masuk akal dan perlu direvisi kembali.

Dari depan kelasnya, Sehun dapat melihat jelas pemuda itu. Dia kenal, sangat kenal malah.

Itu Luhan.

Dilihat dari manapun, Luhan adalah sosok pemuda yang mempesona. Surainya yang berwarna merah marun terlihat pas membingkai wajahnya yang manis namun tampan sekaligus. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi terlihat tegap berjalan di koridor itu, membuat banyak pasang mata memandangnya kagum.

Luhan adalah seorang ketua OSIS yang mempesona. Dengan segala kepintaran dan kebaikan yang dimilikinya. Menjabat menjadi ketua OSIS selama tiga kali berturut-turut karena kebijakan Luhan juga membuatnya disegani semua orang.

Namun dari sekian kelebihan yang dimiliki Luhan, Sehun tetap merasa ada yang kurang. Mereka memang dekat. Sejak dari awal Sehun menginjakkan kaki di sekolah ini malah.

Sehun yang anak baru dan Luhan sang ketua OSIS. Tentu mudah bagi Luhan untuk mendekati gadis polos macam Sehun.

"Hai Sehun." Sapa Luhan yang entah sejak kapan berdiri di hadapannya.

Sehun mendongak, memperlihatkan wajah polosnya yang menatap Luhan. Membuat Luhan terkekeh kecil.

"Kak Luhan, kok ada disini?" tanya Sehun aneh.

"Aku udah disini sejak dua menit yang lalu lho, kamu aja yang keseruan ngelamun, aku abis dari kantin tadi." Jawab Luhan sambil tersenyum.

"Tumben kakak ke kantin, biasanya kan-..."

"Itu tadi ada yang perlu di urus." Potong Luhan cepat, membuat Sehun merasa janggal dengan jawaban Luhan. Luhan itu bisa dibilang orang yang anti dengan kantin, Luhan lebih memilih membawa bekal dari rumah dari pada harus bersusah payah ke kantin yang penuh sesak, begitu katanya. Padahal pada kenyataannya kantin sekolah mereka lebih dari cukup untuk menampun seluruh siswa sekaligus. "Jangan ngelamun terus, ntar kesambet lho." Lanjutnya dengan nada menyeramkan.

"Ih, nggak lucu kak." Protes Sehun dengan bibir mengerucut. Anak ini memang paling anti dengan segala sesuatu bertema 'ghaib'

"Kamu ngapain disini?" tanya Luhan setelah tawanya mereda.

"Nungguin Baekhyun, dia lagi ke kantin." Jawabnya. Sebelah alisnya terangkat saat melihat Luhan tampak dengan jaket merah yang beberapa minggu lalu mereka beli. Couple ceritanya.

"Kakak kok pake jaket itu di sekolah?"

Luhan memperhatikan jaketnya sendiri, kemudian sedikit merapikannya di bagian lengan yang ia gulung.

"Iya, rencananya OSIS mau cari sponsor lagi buat tambahan biaya bintang tamu."

Sehun hanya ber'Oh' ria dan mengangguk kecil.

"Padahal aku sama band-ku udah mau manggung, tapi anak-anak bilang males liat band kita." Ucap Luhan setengah bercanda, Sehun ikut tertawa mendengarnya.

"Kak Luhan mau nyanyi?" tanya Sehun.

Luhan mengangguk, matanya melirik jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya. "Rencananya sih gitu, mau nyanyi buat seseorang sebenernya."

Sehun mematung, detakan jantungnya terasa sampai ubun-ubun. Mungkinkah?

"Kak Luhan mau pergi sama siapa ke promnite?" tanya Sehun dengan gugup.

"Eh? Sama siapa ya? Nggak tau juga." Jawab Luhan tak kalah gugup, tak menyadari kalau gadis di hadapannya menatapnya sendu.

"Sehun." Baekhyun berteriak memanggil Sehun yang berada beberapa meter darinya.

"Aku pergi dulu ya, Hun." Pamit Luhan begitu Baekhyun tinggal beberapa langkah dari mereka. Belum sempat Sehun menjawab Luhan sudah pergi begitu saja. Dia memandang punggung itu nelangsa.

"Sehun, kak Luhan ngomong apa tadi?"

"Nggak ngomong apa-apa, Cuma dia bilang mau pergi cari sponsor buat promnite, terus mau manggung juga." Jawab Sehun lemas.

"Loh, kamu kok lemes gitu sih, seharusnya kamu semangat liat Luhan manggung." Ucap Baekhyun. Sehun melirik Baekhyun curiga. Sepertinya gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu. Tumben-tumbenan Baekhyun membela Luhan seperti itu.

"Abis katanya kak Luhan mau nyanyiin lagu buat seseorang, pas aku tanya dia pergi sama siapa dia malah bilang nggak tau, kaya nggak niat jawab gitu, Baek." Adu Sehun.

Baekhyun sendiri segera duduk di samping Sehun. Matanya melirik kesana-kemari, mempertimbangkan apa dia harus bercerita pada Sehun atau tidak.

"Kamu nggak nyembunyiin apa-apa kan?"

Nah lho.

Baekhyun itu antara tega dan nggak tega. Dia bingung, nanti kalau Sehun sedih bagaimana? Tapi kalau Sehun tidak diberitahu, anak ini tidak akan berhenti.

"Sehun, sebenernya tadi dikantin kak Luhan-..." Baekhyun berhenti sejenak. "Kak Luhan ngajak Krystal buat ke promnite." Lanjutnya dengan nada pelan.

Sehun terdiam sejenak dengan pandangan kosong, dia yang semula menatap Baekhyun segera mengalihkan pandangannya ke depan. Matanya berkaca-kaca.

Baekhyun jadi serba salah. Dia tidak tega pada Sehun, tapi melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau senior tidak tau diri itu mengajak Krystal saat dia berada di kantin.

'Luhan brengsek!' maki Baekhyun dalam hati.

Luhan itu memang benar-benar, maksudnya itu bagaimana sih?!

Baekhyun geram sendiri, marah juga kesal pada senior yang satu itu. Luhan itu tidak punya hati? Atau bodoh sih?!

Apa dia sengaja menggantung status hubungannya bersama Sehun?

Nah itu yang membuat Baekhyun gondok pada Luhan. Senior itu selalu memberikan harapan harapan tidak jelas, oh itu bukan tidak jelas. Itu SANGAT jelas.

Jika seorang lelaki tidak suka jika kau dekat dengan lelaki lain, itu apa namanya? Cemburu? Luhan selalu menunjukkan rasa cemburunya terang terangan.

Bahkan orang luar mungkin mengira kalau Sehun dan Luhan adalah sepasang kekasih. Tapi kenyataannya? Nol Besar!

Status tidak jelas, Hubungan susah di definisikan, tapi Luhan dengan seenak jidatnya menjauhkan Sehun dari lelaki lelaki yang ingin membina hubungan lebih bersama Sehun.

Lalu apa arti keluar di malam minggu bersama? Pulang-pergi sekolah bersama? Menghabiskan waktu bersama? Bergandeng tangan? Lalu kisseu kisseu di pipi dan kening macam pengantin baru itu bagaimana kabarnyaaa?!

Oke, Baekhyun harus tenang agar bisa menenangkan Sehun juga. Meski jika dilihat sekilas, Sehun tampak baik-baik saja-minus matanya yang berkaca-kaca- tapi beda lagi jika itu dihadapan Baekhyun, sahabat sejak junior high school Sehun.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Baekhyun pelan, tangannya mengelus pundak Sehun yang mulai gemetar kecil.

Sehun menoleh ke arahnya dan tersenyum, namun bukan senyum menenangkan seperti biasanya, melainkan senyum yang penuh kepedihan dan sakit hati.

"Kalaupun aku bilang nggak apa-apa, kamu juga nggak bakal percaya." Sehun tertawa kecil di akhir kalimatnya. Baekhyun merasa miris melihatnya.

Bel telah berbunyi beberapa lima menit yang lalu, saat Sehun masih tenggelam pada keterdiamannya. Tapi dua anak hawa ini tidak juga ingin masuk kelas dan menenggelamkan diri pada buku-buku pelajaran. Tapi toh, Kang-Saem tidak akan datang hari ini karena operasi gigi, apa mengikir gigi termasuk dalam kategori operasi? Guru satu itu memang tidak bisa tenang selama trendsetter tidak berada dalam genggamannya.

Koridor telah sepi, hanya terdengar suara samar dari kelas-kelas yang pintunya tertutup. Juga hembusan angin yang mulai mengganggu dua gadis itu, memainkan anak rambut yang terurai, juga poni Sehun yang menutupi mata karena si empu menunduk.

"Tapi aku harus bilang kali ini 'aku nggak apa-apa lagi'." Baekhyun memandang Sehun intens, membuat yang dipandang ikut menatapnya.

"Seriusan, aku nggak apa-apa, Baek. Aku seharusnya nggak harus ngerasa apa-apa, emangnya aku siapanya kak Luhan?,"

Baekhyun speechles, bingung harus bereaksi apa. Seharusnya Sehun marah atau setidaknya menangis, tapi ucapan Sehun juga tidak salah. Memang apa hubungan Sehun dengan Luhan?

"Kalau aku pacarnya atau seenggaknya orang spesial buat kak Luhan, aku bisa marah sama dia. Tapi nyatanya aku ini siapa, Baek? Bukan siapa-siapa. Bukan apa-apanya kak Luhan."

Sehun menghela nafas, kemudian mengalihkan pandangan dari sahabatnya yang memandang Sehun dengan tatapan sulit di artikan.

"Aku harusnya nggak banyak berharap sama kak Luhan, harusnya aku juga tau kalau kak Luhan emang nggak nganggep aku spesial."

"Nggak gitu, hun. Luhan yang salah, kamu nggak berharap tapi dia yang ngasih harapan dengan jelas. Itu bukan salah kamu, Luhan aja yang brengsek." Biarlah hilang rasa hormat Baekhyun pada Luhan, toh sifat Luhan yang seperti itu memang tidak perlu di hormati.

"Dia itu emang nggak punya hati, seharusnya Luhan nggak perlu sok cemburu kaya gitu, nggak perlu ngejauhin kamu sama cowok yang suka sama kamu. Dia itu emang.. arggh!"

"Udahlah Baek, aku emang nggak berhak buat marah apalagi nyalahin kak Luhan, aku juga nggak punya hak buat cemburu. Nggak apa-apa kok." Ucap Sehun dengan senyum di akhir kalimatnya.

"Kamu bisa nangis sekarang, udah cukup kamu tahan kaya gitu. Nangis ataupun nggak sama-sama nggak nyelesaiin masalah, tapi seenggaknya kamu bisa luapin perasaan kamu. Udahan aja kamu jadi sok kuat, udah selesaiin aja sifat sok tenangmu sekarang." Ungkap Baekhyun, matanya ikut berkaca-kaca.

"Aku udah nemenin kamu dari awal dia ngejar kamu, dari dia mulai ngasih harapan sampai sekarang, sampai dia ngehempasin kamu gitu aja. Kalau kamu nggak bisa nangis buat kamu, nangislah buat aku. Buat aku yang juga nahan diri buat nggak nangis ngeliat sahabatnya sok kuat kaya gini."

Dengan berakhirlah kata-kata Baekhyun, setitik air mata mulai jatuh dari mata Sehun, disusul dengan tetesan lain yang berjatuhan.

Di koridor yang sepi, dengan hembusan angin dan samar-samar suara dari dalam kelas, juga langit yang mendung, Sehun menangis. Menangis karena seorang Luhan.

"Aku mau berhenti, Aku udah nemuin alasan buat aku berhenti. Bahwa dia udah nemuin seseorang yang lebih baik dari aku. Aku berhenti berharap lagi, semoga dia bahagia sama yang dia pilih."

-xxx-000-

Hari ini masih seperti hari biasanya, Baekhyun masih berceloteh disebelahnya, namun kini bukan tentang Chanyeol atau kencan atau juga sigung busuk itu. Melainkan tentang gaun promnite-nya yang sobek karena tersangkut ranting pohon saat gadis itu memanjatnya, untuk menghindari keponakannya yang ganas itu katanya.

Tapi bukan malah selamat dari tangan-tangan kecil yang pasti akan mencoret gaun itu, sang gaun malang malah berakhir robek karena ke-bar-bar-an si pemilik.

Sehun juga hanya menanggapi seadanya, intinya sih, tidak ada yang berbeda.

Ya, kecuali beberapa hal mengenai 'hati, perasaan dan hubungan.'

Sudah dua hari Sehun dan Luhan berlaku seperti tak saling kenal. Sebenarnya hal itu lebih condong ke perilaku Luhan yang menghindari Sehun, dan Sehun juga mengikuti alur permainan Luhan.

Pernah suatu saat, di taman sekolah yang kebetulan sepi, Sehun mengatakan sesuatu yang membuat Baekhyun bingung menjawabnya.

"Kak Luhan akhirnya sadar juga, kalau dia sebenernya nggak bener-bener nganggep aku spesial. Mungkin perilakunya selama ini Cuma buat nge-tes perasaannya aja. Yah, untung deh dia udah sama Krystal, jadinya dia nggak perlu ngebuang-buang waktu sama aku yang jelas-jelas nggak pantes buat dia. Dua tahun lebih itu waktu yang lama loh," ucapnya kala itu sambil tersenyum, tertawa malah.

Baekhyun bingung, tersentuh lebih tepatnya.

Bagaimana mungkin Sehun malah bersyukur seperti itu saat dirinya tidak dalam keadaan baik. Saat Baekhyun berkata, "kamu bener-bener nggak apa-apa kan?"

Sehun malah tertawa geli dan membalas, "Memangnya kenapa sih? Aku baik-baik aja kok. Aku kan udah berhenti buat berharap lagi."

Sampai saat ini, sampai tiba waktunya Sehun untuk bersiap pergi ke promnite, pergi ke kuburan hatinya sendiri.

Setelah sekian hari menahan perih, inilah puncaknya. Melihat pujaan hati menggandeng tangan lain dengan senyum mereka merupakan hal yang sulit dilakukan.

Baekhyun sudah melarang agar dia tidak perlu datang. Namun Sehun dengan tegas mengatakan kalau dia ingin terlihat tegar atau setidaknya baik-baik saja di depan Luhan.

Bukannya tidak tahu, Sehun sangat tahu di beberapa saat Luhan menatapnya kasihan, entah kasihan jenis apa dia tidak tahu. Tapi Sehun hanya ingin membuktikan kalau Luhan tidak perlu menyesal dengan keputusan berhenti memberikan perhatian dan harapan lagi pada Sehun.

Dan disinilah dia sekarang. Di depan gerbang gedung acara promnite sekolahnya. Bersama Baekhyun yang menggenggam tangannya erat.

Sehun sungguh berterimakasih pada sahabatnya ini, dia rela tidak pergi dengan Chanyeol-incaran Baekhyun- hanya untuk menemaninya, meskipun dia tahu Baekhyun sungguh-sangat-benar-benar menginginkannya.

Setelah sepanjang sore dirinya mematut diri di depan cermin, Sehun setidaknya lebih percaya diri untuk bertemu kembali dengan Luhan setelah lima hari lebih, atau mungkin seminggu? Entahlah, Sehun tidak ingin memikirkannya lagi.

Tubuhnya yang ramping terbalut gaun sebatas lutut-mungkin beberapa centi di atasnya- berwarna biru muda, terlihat menyatu pas dengan kulitnya yang putih. Rambutnya yang berwarna coklat karamel dia biarkan tergerai menyapu bahunya yang terekspos, hanya saja rambut yang biasanya lurus panjang itu dia atur agar bergelombang dengan jepit sakura kecil berwarna merah muda di sisi kiri kepala untuk menghalangi poninya yang panjang.

"Kamu siap?" tanya Baekhyun disampingnya. Gadis itu terlihat manis dengan gaunnya yang berwarna merah muda, tidak lagi berwarna merah, karena gaun itu hanya tinggal kenangan-teronggok di lemari dan ditutupi dengan tumpukkan baju Bakhyun yang lain, untuk mengubur kenangan pahit saat gaun tersebut sobek dengan tidak elit katanya-

"Nggak pernah sesiap ini." Ucap Sehun mantap.

Saat keduanya melangkah memasuki pintu gedung, suara musik yang semula terdengar meriah meredup secara perlahan. Pun dengan lampu gemerlap yang menghiasi setiap sudut langit langit mulai temaram namun tidak terlalu gelap untuk mengenali seseorang yang berdiri di atas panggung.

Itu orang yang Sehun ingin tunjukkan kalau dia baik-baik saja. Ya, Luhan.

Luhan terlihat berkali lipat lebih tampan dengan blazer hitam yang dilipat sampai siku-khas Luhan sekali, cibir Sehun- juga jeans hitam yang membalut kakinya. Di balik blazer itu, Luhan mengenakan kemeja putih yang terlihat bersinar di bawah terpaan lampu yang hanya menyorotnya.

Sebuah lampu lagi menyala dan mengarah pada seorang gadis bergaun merah yang rambutnya disanggul sedemikian rupa, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Sehun tahu orang itu.

Krystal.

Sehun tersenyum pedih, ternyata rasanya tidak terlalu baik. Tidak seperti yang dia perkirakan, dia kira dia akan baik-baik saja. Namun ternyata tidak. Jika bisa digambarkan, hatinya yang telah retak tertimpa batu besar hingga pecah berkeping-keping, kemudian di haluskan dalam mesin penggiling lalu dibiarkan terbawa angin hingga tak bisa ditemukan lagi setiap bagian-bagiannya.

'Oh kenapa harus gitar itu?' rutuk Sehun dalam hati.

Itu adalah gitar hadiah dari Sehun saat ulang tahun Luhan tahun lalu. Dan dengan tidak berperasaan pemuda itu menggunakannya untuk bernyanyi untuk gadis lain?! Kau benar-benar awesome tuan!

Jreeengg~

Petikan pertama membuat Sehun mengalihkan pandangannya untuk terfokus pada Luhan, tidak lagi pada gadis di sudut ruangan.

Love is feeling geudaereul cheoeum bon sungan Love is feeling

Cinta adalah perasaan saat pertama kali aku melihatmu cinta adalah perasaan

Sigani meomchun deut geudaewa hamkke saranghago wonhaetjyo

Seolah waktu terhenti, aku jatuh cinta padamu dan aku menginginkanmu

Sehun mendengus dalam hati. Dia bisa merasakan setiap organ tubuhnya retak hanya karena mendengar lagu ini. Bukan karena apa, tapi lagu ini merupakan lagu favorit mereka. Dan Luhan memang benar-benar Genius. Seberapa jauh lagi dia ingin membuat Sehun meratap?

Love is may pain sarangeul deohalsurok love is my pain

Cinta adalah penderitaan semakin aku mencintaimu cinta adalah penderitaan

Sesangi jiltuhae geudaeran sarameul apeuge haeyo

Dunia jadi cemburu dan melukai seseorang seperti dirimu

Bisakah seseorang memanggil ambulance? Sehun mungkin bisa sewaktu-waktu serangan jantung karena terlalu sedih, matanya mulai berkaca. Beribu kalipun dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis, rasanya terlalu pedih jika hanya untuk ditonton.

Naega sumeul swige haneun saram simjang gipi saegin saram hanaimnida

Seseorang yang membuatku bernafas, hanya satu orang yang terukir mendalam di hatiku

Naui nunmul soge saneun saram gaseumsoge sumgin saram hanaimnida

Seseorang yang aku lihat, hanya satu orang yang aku simpan didalam hatiku

.

Geudae hanaimnida

Kaulah, kaulah seorang

Geudae saranghamnida

Aku mencintaimu

Naega itji motal sarangiyeo haengbokhaetdeon sarangiyeo

Cintaku yang tak terlupakan, cintaku yang membahagiakan

Love is love is love is love is feeling

Cinta adalah perasaan cinta adalah perasaan

Katakan, apakah hawa disana terasa lebih dingin? Sehun bahkan bisa merasakan ujung kepala hingga jari kakinya terasa dingin dan gemetar. Dan apakah Sehun sudah menangis sekarang? Ya, jawabannya mutlak YA.

Luhan memandang Krystal dengan cara yang sama yang pernah pemuda itu lakukan untukknya. Semua untuknya Luhan copy-paste dengan rapi dan dia terapkan pada gadis lain. Oh, jadi apa Luhan menggunakan Sehun untuk latihan begitu?

Love is my heart meomchul su eomneun sarang love is my heart

Cinta adalah hatiku cinta yang tak terhentikan cinta adalah hatiku

Jidokhan seulpeumdo uriui sarangeul mageul su eobtjyo

Biarpun duka yang mendalam takkan menghentikan cintaku

.

Naega sumeul swige haneun saram simjang gipi saegin saram hanaimnida

Seseorang yang membuatku bernafas, hanya satu orang yang terukir mendalam di hatiku

Naui nunmul soge saneun saram gaseumsoge sumgin saram hanaimnida

Seseorang yang aku lihat, hanya satu orang yang aku simpan di dalam hatiku

.

Apa Sehun pantas menangis? Dia bahkan merasa terlalu munafik untuk menangis. Tapi Sehun tidak pernah berbohong, awalnya memang baik-baik saja. Karena dia tidak pernah melihat pemandangan sejenis ini sebelumnya. Dan di sajikan pertunjukkan live seperti ini tentu berdampak tidak baik pada hatinya yang sudah terbawa angin dan mungkin saja ikut larut dalam aliran sungai.

Lu-sialan-Han! Sampai kapan kau memandang Krystal seperti itu? Sampai kapan kau membuat gadis lain yang mencintaimu dengan tulus menangis? Hallo~ bisakah kau berhenti menyanyikan lagu itu?

Nayi sojungyan saram sarangeul allyeojun saram geudaeimbida

Seseorang kesayanganku, seseorang yang mengajari aku cinta, itu dirimu

O~ naui meori soge bakhin saram gieok soge saneun saram geudaemnida

Seseorang yang melekat didalam pikiranku seseorang yang aku kenang itu dirimu

.

Sekarang apa yang salah?

Sehun tersentak saat Krystal yang sedari tadi dipandanginya membalas tatapannya, bahkan menghadap ke arahnya.

Tanpa Sehun sadari, petikan gitar telah berhenti sedari tadi.

Buru-buru Sehun mengalihkan pandangannya ke arah panggung, meminimalisir rasa malunya karena ketahuan memandangi Krystal diam-diam.

Sehun kembali tersentak untuk yang kedua kali, di atas panggung itu kosong, hanya terlihat gitar Luhan yang bersandar pada sandaran mikrofon. Dengan reflek dia menoleh ke arah kiri saat merasa keberadaan seseorang yang terasa dekat disebelahnya. Dan matanya membulat setelahnya.

"K-kak Luhan." Gumam Sehun.

Sehun begitu rindu memanggil pemuda itu secara langsung seperti ini.

Mata rusa Luhan memandangnya intens, tangannya mengusap pipi Sehun yang terlihat bekas air mata. Seakan tidak peduli keadaan ballroom yang terdapat banyak sekali pasang mata yang melihat, Luhan tersenyum hangat dan mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun.

Hampir saja gadis bergaun merah muda itu terbawa suasana, sebelum dia sadar.

Luhan bukan untuknya lagi.

Dia mendorong Luhan kebelakang, menggeleng pelan dengan air mata yang kembali mengalir tanpa bisa dikendalikan.

"Sehun-..."

"Nggak lagi kak, nggak lagi." Ucap Sehun sambil menggeleng, "Aku nggak mau berharap lagi Cuma buat disakitin lagi, udah cukup. Udah cukup semuanya."

"Aku-..."

"Kakak udah ada krystal, kakak nggak bisa ninggalin Krys-..." Sehun memandang Krystal dan berhenti berucap saat gadis itu tersenyum manis ke arahnya. Sehun balik menatap Luhan yang juga tersenyum ke arahnya.

Luhan berjalan mendekat ke arahnya, kemudian mengusap kembali air mata yang tadi mengalir.

"Aku minta maaf buat dua tahun ini," ucap Luhan memulai, "Aku emang nggak tegas dan brengsek, aku bahkan nggak punya keberanian buat bilang sama kamu."

Sehun memandang Luhan bingung, pemuda ini tidak bermaksud meminta pengampunan dan do'a restu padanya agar dapat menikah dengan Krystal kan?

"Aku mungkin juga bakal jadi pengecut selamanya kalau misalnya sahabat kamu nggak datengin aku dan maki-maki aku tentang aku yang brengsek dan bodoh. Iya, aku emang brengsek, udah nggantung kamu selama dua tahun ini-..."

"-...Aku kira, aku udah bisa milikin kamu Cuma dengan sikap aku, aku kira kamu dan semua orang bisa ngerti Cuma dari ngeliat kita, tapi aku nggak sadar semua ke-kira-anku itu malah nyakitin kamu. Aku nggak sadar kalau semua hal itu perlu penegasan-..."

"-...Aku bahkan udah nyerah saat tau banyak banget yang lebih dari aku mulai ngedeketin kamu, dan kamu oke oke aja sama hal itu. Aku kira kamu udah yah, bosen gitu, aku nggak tau kalau kamu ngerasa nggak bisa buat nolak atau apapun itu. Karena kita nggak ada status yang jelas-..."

"...-Salah aku yang milih jadi pengecut, salah aku yang nggantung hubungan kita, salah aku juga ngebuat kamu nangis. Ini terakhir kalinya aku ngebuat kamu bingung sama status kita. Aku janji, abis ini aku akan lebih ngebuat ini jelas."

Keadaan menjadi semakin sunyi saat Sehun tidak juga menjawab, dia hanya memandang Luhan dalam diam sebelum kembali terisak.

"Bodoh." Ucapnya.

"Aku tau, maafin aku."

"Bodoh, kamu bodoh." Ujar Sehun berkali kali di sela isakannya.

Luhan menarik gadis itu ke dekapannya, tak tega membiarkan gadisnya tanpa sandaran seperti ini.

Sorakan orang-orang disana menggema saat si pemuda menarik si gadis dalam ciuman manis sarat akan perasaan yang selama ini terhalang.

"Sekarang kamu berhak atas semua perasaanmu ke aku, begitu juga sebaliknya." Ucap Luhan sebelum mencium Sehun untuk yang ke dua kali.

Geudae hanaimnida

Kau, kaulah seorang

Geudael saranghamnida

Aku mencintaimu

.

Naega itji motal sarangiyeo haengbokhaetdoen sarangiyeo

Cintaku yang tak terlupakan, cintaku yang membahagiakan

Love is love is love is love is feeling

Cinta adalah perasaan cinta adalah perasaan

.

Tbc.

Naega waaeeee?! Nae ani mwo mwo! Nae neomu joha neo! Nae Neo saling joha joha! Nae neo saling ber-chingu-an. Nae sepurane sing katah, abdi teh saha atuh?! #GUENGEMENGAPACOBA!

Jijie capeekk... ini panjang-aneh dan ngebosenin pastinyaaa... kubur jijie di rawa-rawa bang! Jijie udah nggak kuat!

Eh, betewe ini ff terpanjang yang jieya pernah post, dan ini capek. Lagu di atas pasti udah pada tau dong? Tau lah pasti.

Jieya ngebut soalnya bentar lagi bakalan pusing mikirin sekolah, jieya udah kelas tiga ngomong-ngomong. Dan udah bingung milih kuliah apa kerja di suatu tempat yang mana.

Jieya juga baru daftar facebook lho, horray #Telat bin kudet

Review please~ saling menghargai ya.

Oh juga,,, apa ya? Udah ah, pokoknya kalau ngebosenin bukan salah jieya, salah sekolahan jieya yang bakalan sibuk sampe bulan april #siapasuruhsekolah?!

Jieya juga baru denger soal berita mantan suami jieya si Kim Hyun Joong, jieya sendiri nggak nyangka kok si bebeb jadi kaya gitu -.- tapi semoga Hyun Joong bisa kembali ke jalan yang benar(?) dan menjadi prince charming lagi dan memulai semuanya dari awal lagi dan tidak mengulang-ngulangi lagi.

Akhir kata,

Mind to review?

Pojok pembalasan :

ChieyHanHun : lucu imut kaya aku ya? #pede, eh saya juga suka ketawa sendiri kok(?)

Jiraniatriana : waks itu apa? Apa itu spesies semangka?

Kimoh1412 : sip, ini ff emang rencananya allxSehun kok^^

Kaihun520 : semangat bangeeettt #gue mulai gila

MinnieWW : yoi, tapi nggak bisa cepet-cepet, lagi macet banget abis lebaran(?)

HilmaExotics : Yipan nggak jahat, itu karena hormon angry birdnya yang tidak stabil

Sehunskai : sip, sankyuu~

YunYuliHun : Krishun bakal di post di beberapa chapter depan, ditunggu yaa

Cheonsaim88 : sip, ini allxSehun kok rencananya

Nagisa Kitagawa : ini inovasi yang tidak inovasi banget(?) apalagi kalau D.O. yang jadi semenya, jarang pangkat tiga itu mah. Sip udah next

Ohunie : anjay lime . padahal saya udah tobat, tapi gara-gara di request sih bakal saya buatin yang ada kecut-kecutnya deh, tapi sabar yaa, kaihun masih jauh!

Ohhhrika : sip, bakal lanjut deh. Ho'oh tu orang emang absurd, moga kaga nongol lagi di pm -_-

Izz. Sweetcity : anjay di gilir . ho'oh, apalagi kalau mereka jadi seme tapi nggak GS, mana Sehun tinggi banget lagi -_- but, I love Sehun!

Dn : sip sip, lanjut ini di lanjut

Exoweareone9400 : ane juga kangen sama HanHun, OT12? Iya sih kayaknya, kalau Tao sih ane kaga jamin, lagi potek ane sama ni panda china

Titis. Alviyah : sip lanjut lanjut...

THANKS FOR REVIEW, AND FOR ALL SILENT READERS

Seberapapun saya koar-koar buat kalian review, sampai saya nikah sama GD sekalipun, kalau kaliannya nggak mau review ya nggak bakal review, hayati lelah! Nikahkan hayati dengan GD sekarang bang! Hayati siap lahir batin!