'Heart string'

,

,

,

This is drabble AllxSehun

.

.

Warning : sama seperti warning-warning semestinya. Oh, juga GS di beberapa chapter.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Enjoy!

.

.

Chapter 4. –Krishun.

.

.

Kris menguap beberapa kali dalam kurun waktu hanya dua menit. Bukannya mengantuk, dia hanya bosan hingga menguap. Oke, apa itu termasuk dalam hal 'mengantuk'? ku harap tidak.

Mari kita perjelas posisi tiang satu ini.

Pemuda bernama asli Wu Yifan ini sedang duduk duduk santai di backstage. Hari ini band-nya akan mengadakan konser solo selama tiga hari berturut-turut namun hanya berjalan selama satu jam, di karenakan jadwal mereka sebagai band baru begitu padat, promosi lah, manggung lah, pemotretan lah bahkan interview-pun sudah sangat penuh. Konser ini pun diadakan dari jauh-jauh hari, hitung-hitung untuk menyenangkan fans mereka.

Kris menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal dengan wajah mengantuk plus malasnya. Sungguh, wajahnya benar-benar minta dipukul. Andai Baekhyun-vokalis mereka- melihat wajah angry bird yang satu ini, sudah dipastikan ceramah panjang kali lebar akan di sumbangkan kepada Kris dengan senang hati.

"Hey kau, kenapa disini?"

Kris menoleh dan melihat Luhan telah duduk disampingnya. Tangan pemuda asal Beijing itu menyetel Gitar putih miliknya, tanpa memandang Kris.

"Ini konser band-ku jika kau lupa, tuan Lu." Ucapnya dengan nada sarkastik yang begitu kentara.

Yang bertanya mendengus dan menyamankan gitarnya di pangkuan. Kini giliran tangannya yang memetik gitar listrik tersebut. Alisnya mengernyit saat mendengar nada sumbang di telinga, kemudian menyetelnya lagi begitu seterusnya hingga dia mendapat nada yang pas.

"Kau tak perlu terlihat se-menyebalkan itu mungkin, tuan Wu." Balas Luhan balik. Dia menyenandungkan lagu milik mereka pelan, diiringi petik gitarnya sendiri dan tersenyum puas mendengar permainannya sendiri. "Aku memang genius." Lanjutnya narsis.

Kris kembali mengalihkan pandangannya kedepan begitu mendengar gumaman narsisme Luhan. Dia mendengus keras dan mengacak rambutnya kembali.

"Kenapa kalian tega sekali padaku?!" ucapnya kesal.

Luhan berbalik menghadapnya dan menatap Kris sengit.

"Kau pikir kami mau melakukannya? Salah sendiri terlibat skandal dengan artis ayam potong itu, siapa namanya? Kim- kim- kim siapa lah itu pokoknya."

Kris mengusap wajahnya frustasi. "Sudah ku katakan berkali-kali Luhan, aku dan dia tidak pernah berhubungan dekat. Aku hanya kebetulan bertemu dengannya dan mengantarnya pulang." Bantah Kris.

"Siapa suruh sok baik." Ucap Luhan enteng.

Kris mengacak rambutnya kembali hingga tak terbentuk dan menggeram tertahan. Ya, karena skandalnya dengan seorang model majalah dewasa, reputasi Kris terombang-ambing. Padahal Kris tidak melakukan apa-apa. Ah, kejamnya dunia entertainment.

"Berhentilah mengeluh, tunggu hingga konser selesai dan manager hyung akan mengaturkan jadwal konferensi pers untukmu." Ucap Luhan dewasa, matanya mengedar seperti sedang mencari sesuatu dan Kris menangkap gerakan itu.

"Kau mencari siapa?" tanya Kris. Dia ikut-ikutan melongokkan kepalanya ke kiri ke kanan meski tidak tahu apa yang dia cari. Tindakan yang bodoh sekali, Tuan.

"Adikku. Katanya dia datang ke sini selama liburan musim panas." Gumamnya. Kris mengangguk mengerti, dia memang pernah mendengar tentang adik Luhan, namun tidak pernah bertemu sekalipun. Dikarenakan adik Luhan berada di Cina.

"Mungkin dia tidak datang." Gumam Luhan kecewa. "Padahal dia sudah sampai di korea tadi malam."

Kris jadi miris sendiri. Luhan memang sangat menyayangi adiknya. Terlebih setelah kematian kedua orang tua mereka. Luhan bahkan sempat akan keluar dari band jika saja sang adik tidak meminta Luhan untuk bertahan dan mengatakan kalau dia baik-baik saja di Cina. Sudah tiga tahun Luhan sama sekali tidak bertemu adiknya kecuali komunikasi lewat telepon.

"Mungkin dia terkena jetlag, besok pasti dia datang, atau besoknya lagi mungkin. Liburan musim panas kan panjang." Ucap Kris berniat menghibur dan itu berhasil. Luhan tersenyum.

"Ah iya, terimakasih Kris."

Kris tersenyum membalasnya. "Ya sam-..."

"Tapi tetap kau tidak boleh terlihat selama konser berlangsung. Jadi pergilah."

"-a-sama." Lanjutan ucapan Kris hanya terdengar seperti bisikan angin. Setelah Luhan dengan seenak hati pergi meninggalkan Kris yang memasang wajah Kesal kembali.

"AKU BENCI KALIAN SEMUAAA!" ouh, Kris out of character pemirsa.

Cuaca nampak bersahabat hari ini. Seolah mendukung grup band dari Korea yang sedang berada di puncak popularitasnya. Bahkan segumul awan hitam tak terlihat di manapun. Hanya langit biru cerah yang menunjukkan wajah.

Tapi cerahnya cuaca nampak tidak berpengaruh pada tokoh utama kita. Kris jengkel. Dan semakin jengkel saat dirinya telah berjalan sampai taman yang menurutnya sudah jauh dari area konser namun suara petikan gitar Luhan, pukulan drum Chanyeol, bass milik Minseok ataupun suara tinggi milik Baekhyun masih terdengar meski tak sekeras tadi.

Setelah di usir oleh Luhan tadi, dia kembali di usir oleh manager hyung. Padahal dia sudah menepi di pinggir panggung yang gelap dengan harapan dapat menemani kawan-kawannya, namun manager hyung datang dari backstage dan menyeret Kris keluar.

Siapa yang tidak kesal jika diseret-seret seperti karung beras seperti itu?

Kris mengumpat sepanjang jalan dan menemukan kursi taman di bawah pohon cemara yang nampak teduh. Oh, ada seseorang berambut coklat madu yang langsung menyihir Kris pada pandangan pertama. Pemuda itu duduk dengan nyaman disana. Matanya menatap kosong dan terlihat sedih.

Kris menghampiri pemuda itu dan duduk dengan pelan disebelahnya. Pemuda itu tampak menyadari gerakannya kemudian mengernyitkan alis namun tak berkata apa-apa.

Kris memandangnya dari samping dengan pandangan kagum. Betapa indah sosok di hadapannya ini. Kulitnya putih pucat namun bersih, hidungnya yang mancung, rambutnya yang lembut berkibar tertiup angin, bibir tipisnya yang berwarna merah muda dan matanya yang berwarna coklat karamel.

Apalagi tubuh tinggi itu terbalut kaos putih dengan sweater merah bergaris putih yang manis. Rambut coklat madu itu panjang sebatas tengkuk, menutupi leher putih jenjang pemiliknya. Hanya melihatnya saja membuat Kris meneguk ludah.

"Hai." Ucap Kris mengawali pembicaraan.

Dia mengumpat dalam hati. Apa tidak ada cara lain yang lebih elegan untuk menyapa korban love at first sigh-nya? Sapaannya terdengar sok akrab sekali. Dan itu terbukti saat pemuda itu kembali mengernyitkan alisnya bingung.

"Emh, hai." Balasnya ragu.

Kris kira, dia akan di tinggal karena dianggap tidak sopan.

"Kau... siapa?" tanya pemuda itu pelan.

Kris mengangguk tanpa dia sadari. Tentu pemuda ini tidak akan mengenalinya sebagai gitaris band Korea terkenal. Pakaiannya yang cukup aneh menghindarkan Kris dari fans yang mungkin akan menarik-narik rambutnya saat bertemu. Kris bahkan merasa dia lebih mirip seperti teroris daripada member band. Untung saja dia tidak memakai kacamata renang.

"Aku K-kris." Jawab si pemuda aneh itu akhirnya.

"Kris?" sedang yang disampingnya harap harap cemas, semoga saja dia tidak ketahuan. Namun dalam hati Kris dia berharap pemuda manis itu mengenalinya.

"Seperti nama anggota band itu ya." Lanjut pemuda itu dengan senyum dan menampilkan eyesmile manis yang membuat kaki Kris serasa seperti jelly.

"Ya seperti itulah. Ngomong-ngomong, namamu siapa?"

"Sehun, panggil saja Sehun." Ucap Sehun masih dengan senyum.

Kris menatap dalam Sehun yang masih saja menatap depan tanpa meliriknya sekalipun.

"Kau sedang apa disini, Sehun?" tanya Kris.

"Tidak ada, aku hanya... mencari hiburan." Jawab Sehun dengan nada yang tidak terdengar yakin di akhirnya.

"Kau tau kau tidak pandai berbohong."

Sehun hanya tertawa kecil dan mengalihkan pembicaraan. Dalam sekejap mereka terlihat seperti orang yang telah lama saling mengenal. Tanpa terasa, keduanya bahkan telah berbincang hingga hampir satu jam setengah.

"Kurasa hari sudah sore." Ucap Kris setelah mengendalikan tawanya.

"Ah, sepertinya memang begitu." Balas Sehun.

"Aku akan kembali, teman-temanku pasti akan mencariku." Ya, Kris tidak mengatakan kalau dirinya adalah seorang anggota band. Dia hanya memperkenalkan diri sebagai Kris. Hanya Kris.

Sehun menundukkan wajahnya dan tersenyum tipis.

"Aku sebenarnya masih penasaran kenapa kau berada di taman sepi ini dengan wajah sedih, tadi." Gumam Kris pelan. Matanya tak henti menatap Sehun yang masih betah menunduk.

"Mungkin jika kita bertemu lagi, aku akan menceritakannya padamu."

Kris mengernyit tampak tak setuju. "Hei, bagaimana aku tahu kita akan bertemu lagi?"

"Hanya jika kita memang ditakdirkan untuk bertemu." Jawab Sehun dengan nada bercanda. "Pergilah dulu, aku akan disini sebentar."

Kris mengangguk dan beranjak pergi setelah berkata 'Sampai Jumpa'. Dalam beberapa langkah Kris membalikkan badannya dan mendesah kecewa saat Sehun sama sekali tidak memandangnya.

==/==

Luhan bingung dengan keadaan Kris sekarang. Mereka telah sampai di dorm mereka, dan Kris sepanjang perjalanan tidak henti tersenyum seperti orang gila. Bahkan saat dia diomeli oleh manager hyung karena menghilang hampir satu jam setelah konser mereka selesai, pemuda itu tetap mempertahankan senyum anehnya.

Well, Kris itu orang yang cuek sebenarnya. Maka dari itu, aneh bagi orang-orang –terutama Luhan- untuk melihat Kris dalam keadaan setengah warasnya. Luhan masih ingat bagaimana rupa tertekuk Kris saat mereka sedang berada di backstage. Tapi sekarang?

Luhan bahkan tidak habis pikir, apa yang membuat Kris menjadi seperti ini?

"Berhentilah tersenyum mengerikan seperti itu." Luhan bersuara setelah beberapa menit memandangi wajah Kris yang tampak idiot.

Kris menoleh ke Luhan sekilas tanpa senyum, saat itu Luhan hampir bernafas lega karena kawannya telah kembali normal jika saja Kris tidak mengalihkan pandangannya dan kembali tersenyum lagi.

"Kau membuatku takut." Ucap Luhan akhirnya. Matanya mengedar mencari gerombolan Baekhyun cs. Namun nampaknya orang-orang itu belum kembali dari acara belanja bulanan mereka. Tidak ada yang bisa dimintai bantuan, tuan.

"Berhentilah berkomentar dan urusi urusanmu sendiri." Gumam Kris.

Luhan hanya mendengus dan mencoba tidak peduli. Kini dia terfokus pada ponsel di genggamannya. Luhan terlihat berulang kali menempelkan ponselnya ke telinga beberapa saat kemudian memandangnya lagi, menempelkannya ke ketelinga lagi dan memandangnya kemudian, begitu selanjutnya. Dia terlihat gusar.

"Kemana anak itu." Gumamnya khawatir.

Kris mau tak mau memandang Luhan kembali saat mendengar gumaman sarat akan kekhawatiran meluncur dari Luhan. Apa Luhan memikirkan adiknya lagi?

"Tentang adikmu?" tanya Kris akhirnya. Luhan mengangguk.

"Aku mencoba menelponnya berkali-kali, tapi tidak satupun yang diangkat." Ucapnya gusar.

"Berhentilah menghubunginya, dia sepertinya perlu persiapan mental melihat kakaknya. Kau harus mengerti." Tumben sekali Kris berkata seperti itu. Biasanya dia akan semakin memanasi Luhan dengan ucapan-ucapan pembakar amarah.

Tapi... "Terimakasih, Kris." Kata Luhan tulus. Walau bagaimanapun, Kris adalah temannya juga.

-/-

Kami pergi lebih dulu untuk konser, dan jangan pernah berpikir untuk datang karena manager-hyung akan kembali menyeretmu. Kau tidak ingin ada artikel yang berisi 'seorang member band terkenal yang baru-baru ini terkena skandal dengan model majalah dewasa diseret oleh sang manager karena mengacau' dan jika memang akan diterbitkan artikel seperti itu, aku akan dengan senang hati di wawancarai dan memberikan 'bumbu' untuk artikelmu. Jadi jangan coba-coba, tuan Wu!

Sign-Cuttie pie Baekhyun.

Kris mengambil note yang tertempel di pintu kulkas dengan kasar sebelum meremat dan membuangnya di tempat sampah. Bagus, dia sekarang ditinggalkan di dorm sendirian tanpa kegiatan. Baik sekali mereka itu.

Kris membanting dirinya di sofa depan televisi yang biasanya di gunakan Chanyeol dan Minseok bermain game. Kris terdiam beberapa menit dalam posisi terbaring, kemudian bangkit dengan tiba-tiba dan mengacak rambutnya frustasi.

"Apa yang harus ku lakukan hari ini?" ratapnya.

Kemudian sebuah pemikiran melintas di otaknya. Kris buru-buru bangkit dan melesat ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama hingga pemuda bermarga Wu ini keluar dari kamar dengan pakaian lengkap-tadi Kris hanya mengenakan singlet dan boxer.

Dia mengambil topi dan masker hitam untuk menutupi bagian kepalanya. Kemeja putihnya ditutupi oleh jaket baseball warna biru tua. Setelah mematut dirinya di cermin, Kris segera memakai sepatunya dan berangkat ke tempat kemarin.

Taman itu.

Entah kenapa Kris begitu ingin datang kesana. Jika Sehun memang sedang disana berarti semua ini adalah takdir dan bukan hanya sebuah kebetulan semata. Itu berarti dia dan Sehun jodoh kan? Pemikiran itu membuatnya tersenyum sendiri.

Begitu sampai di jalan setapak yang akan membawanya ke taman, Kris meneliti sosok yang duduk di kursi yang kemarin dia dan Sehun duduki. Dan kenyataan ini membuatnya bahagia, orang yang disana adalah Sehun. dengan cepat Kris berlari dan menghampiri takdirnya.

"Hai Sehun. kau mengingatku?" ucap Kris begitu dia sampai, nafasnya terengah-engah dengan kedua tangan menumpu lutut dan menetralkan nafasnya karena berlari. Setelah itu, Kris segera mengambil tempat kosong di sebelah Sehun untuk duduk menyamping memandang sang pujaan.

Sehun terdiam. Dia tidak menatap Kris namun mengernyitkan dahi seolah berpikir. Mungkin Sehun tidak suka memandang orang asing, pikir Kris.

"Kris?"

Jika ini di anime, kalian akan melihat background bunga-bunga jatuh di belakang Kris saking bahagianya si pemuda. Sehun masih mengingatnya, bung!

"Iya, kau tahu? Tuhan mempertemukan kita lagi. Ini takdir, Sehun."

Ucapan tidak sopan Kris membuat Sehun tertawa. Dan Kris menyadari betapa frontal ucapannya tadi. Ugh, kau butuh pendekatan yang lebih baik, kawan.

Seperti sebelumnya, dua pemuda ini larut dalam obrolan ringan. Kris masih betah memandangi Sehun dari samping. Kini Sehun mengenakan kaus merah panjang dan celana jeans hitam. Simple namun memikat Kris. Dia suka Sehun yang simple.

"Maaf sebelumnya, tapi bukankah kau akan mengatakan sesuatu padaku? Seperti janjimu kemarin."

Sehun tersentak. Bahunya menegang sejenak dan mulai rileks. Dia menjilat bibir bawahnya, kebiasaan yang ditangkap Kris dua hari ini.

"Ya, urm... tentu, tapi mungkin lain kali."

Kris yang semula semangat mendadak lemas. Padahal semalaman dia sudah berharap akan lebih dekat dengan Sehun. jika Sehun menceritakan masalahnya, itu berarti anak itu sudah percaya pada Kris dan itu satu poin tambahan untuknya.

"Saat kita bertemu untuk yang ketiga kali, aku berjanji."

Meskipun kecewa, Kris tetap-

"Baiklah, ku pegang janjimu."

Seperti biasa, ini hari terakhir Konser band Kris, dan itu berarti ini terakhir kali Kris di tinggal sendirian karena setelah ini akan ada konferensi pers untuknya dan semua akan kembali normal-kecuali untuk hatersnya yang semakin banyak karena skandal itu.

Pagi ini Kris berniat mengunjungi sebuah kafe yang dulu sering dikunjunginya bersama member bandnya, itu sebelum mereka menjadi sangat sibuk. Rupanya Kris rindu kebersamaan mereka, ya meskipun para member begitu menyebalkan. Tiga tahun merintis karir dari nol membuat mereka memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat.

Kris sudah siap dengan dandanan ala terorisnya begitu akan memasuki kafe. Tapi langkahnya terhenti begitu melihat seseorang yang dia kenal duduk di bangku panjang trotoar seberang jalan. Di bawah pohon rimbun, orang itu duduk dengan sekantung belanjaan. Untung Kris sempat melihatnya.

"Ini benar-benar takdir." Gumamnya.

Ya, orang di seberang jalan itu adalah Sehun. dengan cepat Kris menyeberang jalan, melupakan tujuan awalnya dan menghampiri Sehun yang lagi-lagi memandang kosong jalanan, bahkan hingga dia berdiri di depannya.

"Sehun, kita bertemu lagi." Ucap Kris dan segera duduk di samping Sehun setelah menaruh kantung belanjaan Sehun di bawah.

Butuh waktu lama hingga Sehun menyahut, "Kris?"

"Ya."

Sehun mengerti. Dia sudah berjanji dan harus menepatinya. Sehun bukan tipe pembuat janji tapi akan diingkari dengan begitu mudah. Dia hanya perlu meyakinkan diri. Lagipula, Kris bukan orang yang jahat.

"Kris, aku-..."

"Sehun."

Ucapan Sehun terpotong oleh panggilan Kris. Pemuda Wu itu sudah menetapkan pikiran. Meski hanya dalam waktu singkat, dia sudah bisa merasakan. Dia memiliki rasa pada pemuda di sampingnya ini. Kris bukan lagi anak kecil, dia sudah bisa membedakan apa yang dirasakannya meskipun Kris belum pernah menjalin hubungan lagi sejak pacar pertamanya di High school. Dan itu sudah bertahun tahun yang lalu.

"Aku tahu ini aneh. Mungkin setelah ini kau menganggapku aneh, tapi aku hanya ingin jujur." Kris mengambil nafas, "Aku menyukaimu."

Seperti dugaan, Sehun tersentak karena kaget. Dia meremas kedua tangannya yang bertautan di atas paha.

"Aku benar-benar menyukaimu, meski kau tak pernah sekalipun memandangku. Meski setelah ini kau menolakku dan menghindariku, aku akan menyukaimu terus hingga kita bertemu lagi karena takdir dan mendapat jawaban darimu. Aku akan tetap menyukaimu, Sehun."

Kris membuka maskernya, menampilkan wajah yang selama tiga hari ini selalu tertutupi saat bertemu Sehun. beruntung kawasan ini termasuk kawasan yang sepi, sehingga tak ada yang mengenali wajahnya sebagai anggota band.

"Aku selalu memakai masker saat bertemu denganmu, sekarang lihatlah aku Sehun. aku berjanji tidak akan mengecewakanmu." Ucap Kris dengan senyum, dengan kedua tangannya Kris meraup wajah Sehun dan menghadapkan pada dirinya. Yang didapati Kris adalah mata yang sama, mata yang memandang kosong namun dengan genangan air mata.

"Aku tidak tahu, Kris." Ucap Sehun.

Kris mengusap air mata yang meleleh di pipi Sehun, masih dengan senyum dan berujar, "Aku akan menunggumu hingga kau mengerti perasaanmu sendiri."

Sehun menggeleng cepat, "Bukan, bukan itu. Kau mungkin tidak akan menyukaiku lagi setelah ini."

Kris mengernyit tidak setuju, dia yakin dia benar-benar sudah jatuh pada pemuda di hadapannya ini. "Apa maksudmu?"

Sehun menghela nafas sejenak, terasa sangat berat.

"Aku bahkan tidak tahu jika kau menemuiku dengan memakai masker. Aku tidak tahu pakaian apa yang kau kenakan waktu itu. Aku tidak tahu saat kau mengatakan sudah sore saat itu. Aku tidak tahu, Kris. Aku tidak tahu!"

Tangan Kris di pipi Sehun terlepas dan bergetar. Kris memandang Sehun dengan perasaan yang sulit di definisikan. Apa Sehun...

"Aku buta."

Angin berhembus begitu saja. Terasa seperti adega film horor, namun tidak begitu. Kris bahkan berharap dia sedang membintangi film horor daripada berada disini dan mendengarkan suara Sehun yang penuh luka. Jadi itu alasannya, Sehun tidak pernah sekalipun memandang Kris, Sehun memerlukan waktu untuk mengenali Kris karena Sehun hanya akan mengingat-ingat suara Kris, bukan wajahnya. Sehun bukan tidak suka memandangi orang asing, dia hanya tidak bisa memandang Kris dalam posisi yang tepat.

"Aku datang kemari untuk menemui kakakku, tapi aku terlalu malu untuk bertemu dengannya. Aku malu dengan keadaanku yang seperti ini. Buta dan lemah. Aku tidak memberitahu kakak karena aku takut kakak kecewa, aku hanya akan membuatnya kerepotan, aku hanya-..."

Suara Sehun berhenti disitu. Sehun merasa tenggorokannya akan sobek jika dia memaksakan bicara. Tenggorokannya tercekat dan sakit, juga hatinya yang berdentum ngilu. Sehun mengusap air matanya.

"Maafkan aku, jika kau merasa aku membohongimu. Tapi aku tak berniat untuk itu, sungguh. Maaf."

Tidak ada pembicaraan setelah itu, hingga seorang pemuda berkulit tan datang ke arah mereka dan berbicara pada Sehun.

"Ayo, Kita harus pulang, Hunna." Ucapnya. Dia menundukkan kepalanya pada Kris sebagai salam, mengambil kantong belanjaan di bawah dan menggandeng tangan Sehun menjauhi Kris. Pemuda yang tersisa memandang punggung Sehun sendu. Seseorang yang membuatnya berbunga-bunga beberapa hari belakangan ini bergerak menjauh seperti titik hitam kecil dan menghilang di persimpangan jalan.

Kris tidak ingin beranjak. Dia terlalu bingung dengan kelanjutan cerita ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Kris hanya merasa perlu waktu untuk berpikir, apa dia harus mengejar Sehun tanpa peduli kelemahannya atau mungkin...

Meninggalkan Sehun.

Keadaan dorm begitu dingin. Bukan dingin dalam arti yang sebenarnya. Hanya dalam makna konotatif. Hanya ada Kris, Luhan, Baekhyun dan Chanyeol. Mungkin tidak akan sedingin ini jika ada Minseok. tapi pemuda berpipi chubby itu sedang mengunjungi neneknya yang sakit.

Hari ini mereka di berikan libur setelah konser sementara sang Manager akan mengurusi konferensi pers milik Kris. Hari libur sudah berjalan dua dari empat hari yang diberikan. Dan suasana semakin hari semakin sepi. Baekhyun dan Chanyeol yang adalah sumber keributan tampak mengunci mulut masing-masing. Keadaan terlalu tidak tepat untuk bercanda.

Luhan, jelas, dia murung perihal adiknya yang tak juga memberi kabar. Mungkin pemuda Cina itu merasa khawatir atau juga merasa kecewa karena sang adik seolah tidak ingin bertemu Luhan. Sedangkan Kris, mereka tidak tahu. Luhan yang biasanya selalu diandalkan ketika Kris berada dalam mood buruk tidak bisa diharapkan kali ini. Sejak tiga hari lalu Kris seolah tak diberi kemampuan bicara lagi oleh seorang penyihir. Kris tidak bicara atau sekedar menyahut ketika bertanya. Dia hanya akan mengangguk atau menggeleng. Terkadang matanya menerawang seolah memikirkan sesuatu. Dan keanehan dua member itu juga berdampak pada Baekhyun dan Chanyeol yang merasa kikuk jika berada dalam satu ruangan bersama mereka.

Seperti saat ini. Mereka berempat tengah duduk di depan televisi. Chanyeol dan Baekhyun berada di ujung kanan, sedangkan Luhan dan Kris duduk diam di sisi lain dengan jarak yang cukup. Masih ada banyak space kosong antara Kris dan ChanBaek. Tapi sepertinya duo itu tidak sedang ingin mengganggu.

'Ting Tong'

Itu suara bel.

"Em, Kris bisa kau, maksudku tolong bukakan pintu." Ucap Baekhyun gugup, disebelahnya Chanyeol menatap Kris penuh harap. Semoga sohibnya yang satu itu merespon walau hanya dengan kata 'Ya'. Tapi kenyataannya, Kris hanya berdiri menuju pintu tanpa mengucapkan apapun.

Dua orang itu tak patah semangat, mereka saling berpandangan dan kompak menatap Luhan yang memandang kosong layar ponselnya.

"Luhan, kira-kira siapa ya yang bertamu." Baekhyun lagi yang berkata, karena Chanyeol keburu gugup duluan sebelum mengutarakan maksudnya.

Yang ditanya diam dan tidak menjawab. Kali ini, semangat mereka benar-benar remuk, tidak patah lagi.

Kris membelalakkan mata begitu membuka pintu. Yang bertamu bukan polisi. Tapi begitu mengejutkan. Itu orang yang dia pikirkan tiga hari ini. Orang yang membuat tidurnya tidak tenang sedang berdiri di samping pemuda berkulit tan tempo lalu.

"Halo, kami ingin bertemu dengan Luhan." Ucap si pemuda berkulit tan. Sepertinya pemuda itu tidak mengenali Kris.

"Sehun?" ucap Kris tak menanggapi kalimat si kulit tan.

"Maaf, anda mengenal Sehun?"

Berbeda dengan reaksi temannya yang bingung, Sehun justru terlihat kaget. Tentu saja, dia mengenali suara ini. Ini suara Kris.

"Sehun?!"

Sehun rasanya ingin menangis begitu mendengar suara kakaknya. Ya, yang ini suara kakaknya. Sehun reflek bergerak munduk ketika Luhan akan meraih tubuhnya.

"Kenapa, Sehun?" tanya Luhan bingung. Luhan sudah akan menangis saking rindunya, apalagi adik kesayangannya ini menolak saat dia akan memeluknya. Itu menyakitkan.

"Luhan hyung, ada yang perlu di bicarakan." Itu temannya Sehun yang bicara.

Semua terasa begitu Jelas bagi Kris. Sehun itu adiknya Luhan. Dan orang yang dimaksud Sehun tempo lalu adalah Luhan. Dia tidak menyangka jika dunia sesempit ini.

Kai-nama teman Sehun- telah menjelaskan semuanya pada Luhan. Reaksi pemuda member band itu tentu saja terkejut, dia memandang Sehun begitu lama hingga air mata yang tak pernah Luhan keluarkan menetes begitu saja. Sehunnya telah melewati ujian besar sendirian. Dan Luhan malah bersenang-senang di negara orang tanpa memikirkan Sehun.

Awalnya Luhan memang kecewa. Apalagi Sehun tidak memberitahu perihal kecelakaan yang ditimpa adiknya hingga Sehun harus kehilangan penglihatannya. Tapi melihat Sehun yang terus minta maaf dengan tangis membuatnya tidak tega. Setelah ini, Sehun harus hidup dengan bahagia. Luhan akan membawa Sehun ke rumah sakit terbaik di korea dan mencarikan donor mata untuk Sehun. seberapapun biayanya, Luhan akan tanggung.

Sehun dipaksa Luhan untuk tinggal di dorm bersama Jongin juga. Luhan berhasil memaksa Sehun dengan alasan jika dia memilih tinggal di luar bersama Jongin, maka Sehun akan lebih merepotkan Jongin. dan anak itu akhirnya setuju.

Sudah satu minggu setelah Sehun dan Jongin tinggal di dorm. Suasana dorm tidak se-kaku dulu. Kini selalu ada suara Chanyeol dan Jongin yang bertengkar di depan televisi karena game. Akan ada Luhan yang selalu berada di dekat Sehun. intinya, tidak akan ada aura tidak mengenakkan di sana. Minseok pun telah kembali dari rumah neneknya. Dan suasana akan bertambah ramai.

Kini Kris tengah duduk di beranda depan bersama Sehun. sebenarnya anak itu selama tiga hari menghindari Kris, dan beruntung Luhan selalu mengikuti Sehun sehingga Kris akan merasa sungkan sendiri jika akan menyelinap di antara keduanya.

Dan Kris beruntung hari ini. Luhan dan Minseok sedang keluar bersama Manager hyung untuk membahas konser mereka satu bulan kemudian. Dan Luhan menitipkan Sehun padanya, mengingat betapa rusuhnya ChanBaek jika sudah bersatu bersama Jongin.

"Sehun." panggil Kris.

Sehun menunduk dan menggumam tanda menjawab.

"Kau ingat ucapanku dulu kan? Kalau aku akan tetap menyukaimu." Ujar Kris memulai pembicaraan.

"Aku serius dengan ucapanku." Kris mengucapkannya dengan nada tenang nan dalam. Dia menggenggam tangan Sehun yang masih enggan menatapnya.

"Walau kau tidak mendapat donor mata sekalipun, aku akan tetap menyukaimu. Dan itu mutlak."

Sehun masih bimbang. Tidak seharusnya Kris berakhir dengan orang sepertinya.

"Tapi, Kris, aku-..."

"Persetan dengan buta! Bahkan jika kau buta, tuli atau cacat aku akan tetap menyukaimu. Jangan tanya kenapa karena aku hanya mencintaimu." Suara Kris semakin mengeras. Beruntung beranda belakang jauh dari ruang tengah sehingga pembicaraan mereka tidak akan terdengar hingga telinga tiga orang gila itu.

"Kau bisa memikirkan itu selama yang kau mau, tapi biarkan aku terus mencintaimu hingga waktu itu tiba, hingga kau memintaku untuk berhenti."

Kris mengusap pipi Sehun lembut, menariknya mendekat hingga bibir mereka bersentuhan. Hanya kecupan kecil hingga Sehun mengalungkan tangannya pada leher Kris, ciuman itu berubah menjadi pagutan yang intens.

Di saksikan matahari yang terbenam dan siluet keduanya, Sehun membiarkan Perasaannya bertaut pada pemuda ini. Tidak ada salahnya mencoba. Sehun tak ingin lagi menyembunyikan apapun. Dia telah menyembunyika kenyataan besar pada kakaknya. Hidup selama tiga tahun dalam penyesalan yang menghantui. Dan kini Sehun tak ingin merasakan hal itu lagi. Sudah cukup.

"Aku juga menyukaimu." Ucap Sehun setelah tautan mereka terlepas. Kris tersenyum.

"Terima kasih, Sehun. dan aku mencintaimu."

Kemudian keduanya kembali tenggelam dalam kecupan manis sekali lagi.

Doakan saja yang terbaik.

-END-

For this Chapter.

Thanks for waiting. Terima kasih untuk sarannya. Terima kasih yang menyempatkan untuk review.

Semoga kalian suka chapter ini dan chapter-chapter selanjutnya. Dan maaf jika ada ff saya yang kurang memuaskan. Karena saya hanya bisa berusaha.

Terimakasih yaaaaa...

Mind to review?

/

/