The Disciple
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Gaje, Abal, Many Typos, AU, OC, OOC, alur seenaknya saja, pasaran, mudah ditebak, super mainstream? Banyak unsur- unsur dari anime / manga / light novel lain, Overpower, membosankan.
NO EDIT
Don't like don't read.
Akan ada berita penting di author's note, khususnya buat kalian yang menunggu tentang kelanjutan The Taboo Alchemist
::
::
Sebelumnya di The Disciple :
"Hati-hati di jalan! Jangan mati sebelum aku bisa mengalahkanmu ya!"
"Akan kunantikan itu, Naruto! Kapan-kapan mainlah ke benua putih. Di sana banyak wanita cantik lho!"
"Berhenti jadi OOC Guru!"
"Kehkehkeh..."
Suara tawa yang aneh itu menjadi hal terakhir yang bisa didengar oleh telinga Naruto. Suara terakhir dari sang Guru yang akan selalu terkenang dalam ingatannya.
::
:::
"Tadaima.."
Membuka pintu, masuk ke dalam apartemen kecil miliknya. Sambil mengucapkan salam. Bocah kecil itu tau ia hanya tinggal sendirian. Akan tetapi entah karena sudah terbiasa atau apa. Dia akan selalu mengucapkan salam ketika masuk ke rumahnya. Tak peduli ada orang yang menjawab atu tidak.
"..."
Sepi, ya cuma sepi dan sunyi yang didapat. Bersama dengan keheningan dalam ruangan ini. Entah kenapa dia merasakan ketenangan. Didikan dari gurunya membuat nya begitu menghargai arti dari suasana tenang yang ada di sekitarnya.
Tak perlu cemas, tak perlu takut sendirian. Pada akhirnya semua orang akan sendirian. Tak akan ada orang akan terus bersamamu selamanya. Karena kelak orang lain juga akan menghilang, entah itu untuk meninggalkanmu karena ada orang lain yang memiliki cahaya yang lebih terang atau meninggalkanmu karena malaikat maut telah menjemput mereka.
Bukannya ia menolak untuk berteman dengan orang lain. Pembawaannya yang pendiam dan bermulut tajam seringkali membuat orang-orang menjauhinya. Apalgi dengan statusnya sebagai 'aib desa' membuat orang-orang lain semakin enggan untuk mendekatinya.
Lalu bagaimana caranya ia masih bisa hidup sampai saat ini? Jawabannya singkat saja. Di tempat ini, ia hanya tinggal untuk tidur. Tak ada mesin penghangat, kulkas, televisi atau barang elektronik yang akan biasa kau temukan di tempat tinggal orang-orang biasa pada umumnya.
Listrik? Tak ada hal semacam itu di ruangan ini. Alat elektronik saja tak ada.
Cahaya? Itu hanya ada ketika matahari dan bulan sedang bersinar saja. Lampu tak akan ada gunanya di sini.
Keluarga? Merekalah yang membuangnya ke sini. Jangan berpikiran jahat pada mereka, mereka hanyalah orang-orang berotak sempit saja.
Uang? Tak ada benda seberharga itu di sini, karena benda itu hanya akan menghilang secepat itu datang. Memilikinyapun bukan berarti ia akan bisa menggunakannya jika ia masih berada di Konoha.
Makanan? Alam telah menyediakan segala macam bahan makanan untuknya. Hanya tinggal mengeluarkan sedikit usaha dan keterampilan untuk mendapatkannya dan mengolahnya menjadai makanan yang cukup layak untuk dimakan oleh manusia.
Minuman? Tak ada yang lebih baik dari air sungai yang mengalir di pinggiran Konoha. Oleh karena itu ia selalu membawa botol minuman untuk mengisinya ketika ia sedang lewat di sekitar sungai.
Ya, apartemen ini hanyalah tempat untuk tidur saja baginya. Jarang sekali ia akan pulang ke tempat itu selain hanya untuk mengambil pakaian dan tidur di malam hari. Hampir semua kegiatannya ia lakukan di luar rumah. Mencuci, makan, minum, mandi, kegiatan sehari-hari yang umumnya dilakukan setiap orang, ia lakukan di alam terbuka. Itu seolah-olah ia telah menyatu dengan alam.
Kalau saja ada kompetisi bertahan hidup di alam liar untuk anak-anak seusianya. Tak diragukan lagi, ia yang akan bertahan hidup sampai akhir. Setiap hari melalui tempaan gurunya, ia telah melatih kemampuannya untuk bertahan hidup hingga ke titik yang akan membuat orang dewasapun akan merasa takjub padanya.
Memilah-milah bahan makanan, mencari sumber air, berburu mangsa, membaca arah, mengolah bahan makanan, merajut pakaian, mencari tempat aman. Hal itu sudah tertanam dengan baik dalam kepalanya. Sehingga ia selalu menjadi yan paling siap untuk menjalani berbagai tantangan hidup.
Melepaskan pakaian latihannya. Tubuh ramping yang kekar itu bisa masuk dalam pandangan. Bisa dilihat berbagai bekas luka, mulai dari yang berukuran kecil sampai berukuran besar ada di sana.
Ekspresi lelah itu tetap ia pertahankan untuk terus bertengger di wajahnya. Memberikan kesan bahwa ia telah melalui banyak hal berat seharian ini.
Mengenakan piyama tidurnya yang sudah kekecilan baginya. Dengan cueknya ia mengabaikan bagian tubuhnya yang tak tertutup secara sempurna oleh pakaian itu. Menggelar futon yang juga sudah terlalu kecil untuk ukuran tubuhnya. Bocah itu langsung merebahkan tubuhnya begitu saja pada benda itu. Disertai dengan tangannya menarik selimut yang bahkan tak bisa menutupi kaki telanjangnya dengan sempurna.
::::
Pagi menjelang, seperti biasa sinar matahari pagi bekerja layaknya sebuah jam alarm yang membangunkan bocah itu dari tidurnya. Mengucek-ucek matanya yang masih agak enggan untuk dibuka, secara perlahan mulai kembali mengumpulkan kesadarannya.
Beranjak dari futon kekecilan yang sudah tak bisa memberikan rasa nyaman untuk beristirahat. Merapikannya lalu melipatnya seperti biasa. Bocah itu beranjak menuju ke lemarinya untuk mencari pakaian pengganti bagi piyama yang sudah berjang sekuat tenaga untuk menutupi tubuhnya.
Melepaskannya dengan lembut, takut nanti ada bagian yang sobek. Kemudian memasukkannya ke keranjang cucian. Tangan berotot itu menulusuri setiap bagian lemari memilah-milah pakaian apa yang akan digunakannya untuk hari ini.
Secara garis besar di lemari berukuran kecil itu hanya ada tiga macam pakaian. Pakaian dalam, piyama, dan pakaian latihan. Pakaian latihan mempunyai jumlah yang paling banyak di sini. Warnanya hanya ada lima macam yaitu cokelat, hitam, abu-abu, biru tua, dan ungu tua.
Kenapa semuanya serba berwarna gelap? Itu karena ia tak mau jadi seperti bocah berambut merah yang bodoh dan sok kuat yang kebetulan punya hubungan darah dengannya, yang selalu mengenakan pakaian berwarna orange yang mencolok mata. Ia benar-benar tak mau jadi orang sepertinya. Rambut pirangnya saja sudah cukup mencolok dan ia tak mau jadi lebih mencolok dari itu. Terima kasih.
Kali ini pilihannya jatuh ke baju berwarna abu-abu. Sebenarnya semua pakiannya itu bermodel sama. Untuk bagian atas kau hanya perlu memasukkan tanganmu ke lubang untuk lengan, kemudian untuk menutupi tubuh bagian depan kau hanya perlu mengikatnya dengan dengan celannya. Semuanya dieratkan dengan menggunakan tali. Seperti pakaian yang biasa digunakan oleh praktisi bela diri pada umumnya.
Oh ya, pakaian yang dikenakan oleh bocah itu tak memiliki bagian untuk lengan. Makanya terkadang bau ketiaknya bisa tercium dengan ganas di udara sekitar. Aku Cuma mengingatkan saja lho.
Melangkah menuju pintu pintu dengan keranjang cucian di tangan kanannya dan juga beberapa alat bantu lainnya di tangan kiri. Tak lupa ia juga membawa botol minum dan pisau berukuran sedang yang tergantung di pinggangnya. Tampaknya ia nanti akan sekalian berburu di sungai setelah mencuci pakaian.
:::
"Kegiatan mencuci dan sarapan paginya telah selesai. Sekarang aku hanya perlu menjemurnya di sini dan berangkat ke akademi. Ujiannya akan dimulai sekitar satu jam lagi. Jadi masih cukup banyak aktu tersisa."
Memotong tumbuhan merambat yang ada disekitar menggunakan pisau yang telah ia bawa dari rumah. Bocah itu berniat menggunakan tumbuhan merambat itu sebagai tali jemuran untuk pakaian basahnya yang baru saja ia cuci itu.
Mengikatkannya pada dua batang pohon yang agak berjauhan. Bocah itu kemudian menggantungkan baju-bajunya itu ke tali. Tentu saja sebelum menggantungkannya ia telah memerasnya terlebih dahulu agar kadar airnya berkurang.
"Nah selesai. Aku hanya perlu meletakkan keranjang ini di rumah dan berangkat ke rumah."
Sebelum berangkat ke apartemen Naruto masih menyempatkan diri untuk menata rambutnya sedikit, Naruto menyisir-nyisir rambutnya menggunakan sela-sela jarinya. Menatanya sebisa mungkin, paling tidak supaya kelihatan sedikit lebih rapi dari biasanya.
Mengambil keranjang cuciannya menggunakan tangan kanan. Kemudian mengapitnya pada ketiak bagian kirinya. Naruto kemudian segera berlari ke apartemennya dengan kecepatan penuh. Tak lupa ia mengaktifkan Zetsu untuk menekan hawa keberadaan miliknya supaya perjalanan pulangnya ke apartemen berjalan lancar dan tanpa hambatan.
Hitung-hitung sekalian latihan pikirnya. Naruto itu berbeda dari orang pada umumnya. Dia itu tak memiliki cakra akan tetapi ia punya aura aneh yang ternyata juga bisa digunakan untuk menghasilkan kemampuan unik. Guru Besar Netero menyebutnya sebagai Nen. Untuk menguasai Nen, kau perlu mempelajari beberapa hal dasar.
Yang pertama adalah Ten, ini adalah teknik untuk membungkus tubuh dengan selubung aura. Kau harus menjaga aura dalam tubuh supaya tidak 'menguap' begitu saja. Dengan kata lain teknik ini digunakan untuk menahan auramu supaya tetap ada di sekitar tubuhmu. Ten biasa digunakan untuk pertahanan tubuh ketika kau sedang dalam pertarungan. Dengan menggunakan itu kau bisa meminimalisir dampak serangan dari lawan terhadap tubuhmu.
Yang kedua adalah Zetsu, itu adalah teknik untuk menekan aura yang memancar dari tubuhmu. Dengan menggunakan teknik ini kau bahkan bisa menghilangkan hawa keberadaanmu. Meskipun kau berada di depan orang lain sekalipun, bila kau menggunakan teknik ini orang itu tak akan menyadarinya kalau saja mereka tak melihat wujudmu. Kau bisa saja dikira sebagai hantu lho.
Yang ketiga adalah Ren, ini merupakan teknik lanjutan dari Ten, Ren digunakan untuk mememperluas dan mem perkuat intensitas aura dari tubuh. Menggunakan ini berarti kau bisa meningkatkan fisik dan daya tahan tubuhmu.
Sedangkan yang terakhir adalah Hatsu, tahap akhir dari dasar penggunaan Nen, menggunakan Hatsu berarti kau bisa mendapatkan kemampuan unik tertentu bergantung pada tipe Nen milikmu. Tipe Nen yang dimiliki setiap orang itu berbeda-beda. Tapi pada dasarnya hanya ada enam jenis Nen yaitu Sousa, Houshitsu, Kyouka, Henka, Gugenka, dan Toushitsu.
:::::
Naruto kini telah sampai di akademi. Tak ada yang istimewa pada perjalanannya dari sungai ke apartemen, kemudian dari ke akademi. Terima kasih kepada Guru Besar Netero yang telah mengajarinya menggunakan Zetsu. Semuanya jadi bisa berjalan dengan aman dan tenteram. Semuanya berjalan dengan aman dan tenteram.
Masuk ke kelas dan duduk di bagian sudut paling belakang. Tak satupun orang di kelas menyadari kedatangannya. Namun itu hanya berlaku ketika me ngaktifkan Zetsu. Begitu ia melepaskan penggunaan tekniknya, orang-orang disekitarnya langsung berteriak kaget karena ada orang yang muncul secara tiba-tiba dihadapan mereka.
"HUAAHH.. Ada hantu!"
"HIIYYY..."
"Dasar kau bocah hantu! Jangan muncul seenaknya saja! Kalau nanti aku jantungan gimana hah!"
'Kau bakal mati dasar bodoh!'
"A-ah ma-maaf. Aku hanya datang seperti biasa, namun kalian semua tak menyadarinya. Jadinya aku langsung duduk di sini saja."
"Huh dasar bocah hantu. Tentu saja kami tak akan menyadari keberadaanmu, soalnya cakra saja kau tak punya. Jadi mana bisa kami merasakan kehadiranmu. Hahahaha."
Si bocah laki-laki tadi tertawa terbahak-bahak, tentu saja juga dikuti dengan teman-temannya yang lain ikut menirukannya.
"Tes tes... ekhm anak-anak yang akan mengikuti ujian genin, diharapkan untuk datang ke gedung latihan sekarang juga. Saya ulangi. Anak-anak yang akan mengikuti ujian genin, diharapkan untuk datang ke gedung latihan sekarang juga. Sekian dan terima kasih."
Speaker di kelas mereka berbunyi. Menghentikan gelak tawa mereka sebelumnya sesuai instruksi yang mereka dengar dari speaker kelas tadi, mereka berbaris dengan rapi dan berjalan menuju ke gedung latihan. Seperti namanya biasanya gedung itu memang digunakan untuk berlatih oleh anak-anak di akademi.
"Menma-sama pasti akan bersaing ketat dengan Sasuke-kun di ujian ini."
"Kau benar sekali. Ujian ini bukan hanya untuk menentukan Genin terbaik, tetapi juga untuk menentukan genin paling keren di angkatan kita tahun ini."
"KYAA aku sudah tak sabar melihat bagaimana mereka bertarung untuk menjadi yang terbaik."
'Seriuslah dengan ujianmu sendiri fangirl bodoh!'
::::
"Yang terakhir Naruto silakan maju.."
Suara dari sensei memanggilnya. Itu benar, ia memang berada di nomor absen paling akhir di kelasnya. Sehingga hal itu menyebabkan ia menjadi yang terakhir untuk dipanggil ke depan dalam ujian kali ini.
'Terakhir dan terburuk.'
'Si bocah tanpa cakra itu bisa apa!'
'Si bocah hantu yang aneh itu mau maju tuh. Hihihihi.'
Dapat di dengar oleh telinganya suara bisik-bisik yang tak mengenakkan hati. Semua suara-suara itu berasal dari mulut tak terdidik milik anak-anak yang kebetulan satu kelas dengannya. Bahkan para pengujipun juga mengeluarkan pandangan meremehkan yang membuatnya agak jengkel. Begitu rendahnyakah dirinya di mata orang lain?
"Ya sensei.."
'Waktunya untuk sedikit pamer di ujian ini.'
Maju ke depan dan menyiapkan 10 kunai dan 10 suriken di masing-masing tangannya. Dengan posisi menjepit yang tepat entah bagaimana benda sebanyak itu bisa ia genggam hanya dengan satu tangan. Berdiri di tengah arena sendirian. Menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana.
'Henka : String.'
Menggunakan salah satu teknik yang paling ia kuasai. Mengubah sifat aura yang ada pada tubuhnya dan mengubahnya menjadi seutas benang yang kemudian ia masukkan ke lubang-lubang pada kunai dan Shuriken pada tangannya.
Layaknya orang yang sedang melakukan lompat tali Naruto mengayun-ayunkan kedua pergelangan tangannya dengan ringan. Sesekali ia juga menyilangkan benang-benang aura itu ke sisi tubuhnya yang lain. Kesepuluh shuriken dan kunai itu melayang dan berputar-putar di udara, di bagian samping dari tubuh Naruto.
Sedangkan apa yang tampak di mata orang lain, shuriken-shurikendan kunai-kunai itu benar-benar melayang di udara. Tanpa dikaitkan dengan dengan benang cakra ataupun benang yang sesungguhnya.
'Apa dia sedang bercanda?'
'Apa mataku benar-benar tak salah lihat?'
'Senjata-senjata itu melayang dan berputar-putar dengan sendirinya di udara tanpa perantara benda apapun?'
Semua orang memandang dengan kaget. Bagi Naruto ekspresi yang mereka keluarkan benar-benar lucu. Sekarang adalah waktunya untuk membuat mereka lebih terkejut.
Layaknya orang yang melempar menggunakan ketapel satu tangan. Naruto melakukan bidikannya ke arah papan sasaran. Menyalurkan auranya pada semua senjata yang sedang ia gunakan, Naruto sedang mengaplikasikan penggunaan Kyouka untuk memperkuat sifat dari senjata-senjata miliknya itu.
Kemudian ia kibaskan kedua tangannya secara bersamaan untuk menembakkan kedua puluh senjatanya itu kedua target sekaligus. Bersamaan dengan penggunaan Houshitsu pada semua senjatanya.
TAP TAP TAP
Dan hasinya adalah dua papan sasaran yang berlubang dengan masing-masing sepuluh lubang dengan lokasi yang berbeda pada tiap-tiap papan sasarannya. Dan tentu saja semuanya mengenai organ vital. Tentu saja itu harusnya mendapatkan nilai yang tinggi.
Penggunaan Kyouka dan Hoshitsu pada senjata memiliki efek yang hampir sama dengan menggunakan senjata yang diperkuat dengan elemen angin. Ketajamannya akan meningkat drastis dan tentunya efek yang ditimbulkan kepada target akan semakin besar.
Kalau Kyuoka digunakan untuk memperkuat sifat suatu benda menggunakan aura yang disalurkan pada benda tersebut, maka Houshitsu adalah tipe kemampuan yang sama sekali berbeda. Tipe kemampuan Houshitsu adalah kemampuan untuk menjaga agar aura yang lepas dari tubuh si pengguna tidak langsung 'menguap' atau menghilang begitu saja di udara.
Sedangkan Henka adalah kemampuan memanipulasi aura untuk meniru sifat dan juga bentuk dari suatu objek. Mengaplikasikan ketiga teknik tersebut dalam satu waktu membutuhkan latihan dan bakat yang cukup mumpuni dalam menggunakan Nen. Dan Naruto baru saja mengaplikasikannya dengan mudah di hadapan para penonton ujian kelulusan akademi.
Secara otomatis mata semua orang terbelalak melihatnya. Seoranag bocah yang mereka anggap tak memiliki cakra baru saja membuat kejutan yang menghebohkan.
'Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya?'
Pertanyaan yang sama muncul di dalam kepala semua orang yang menyaksikan kejadian itu.
'Itu pasti hanyalah sebuah trik. Ya sebuah trik. Tak mungkin bocah seperti dia bis melakukan hal seperti itu.'
'Dia pasti menggunakan benang tipis tak kasat mata. Sehingga kita semua tak bisa melihatnya dengan jelas.'
"Ekhmm untuk yang selanjutnya adalah praktek teknik Kawarimi dan Bunshin. Silakan dilanjutkan Naruto."
Menjadikan dirinya sebagai orang pertama yang sadar dari keterkejutannya. Iruka selaku panitia ujian menyuruh Naruto untuk melanjutkan ujiannya ke tahap selanjutnya.
"Maaf sensei aku tak bisa menggunakan teknik itu..."
Naruto hanya bisa meminta maaf, karena itu adalah hal yang tak mungkin bisa ia kuasai.
'Haha yang namanya bocah tanpa cakra memang seperti itu. Akan selalu ada batasan pada trik-trik murahan yang bisa kau gunakan.'
"Tapi aku setidaknya bisa menggunakan beberapa teknik yang mungkin sebanding dengan itu sensei."
"Apa itu? Kau cukup mempraktekkannya saja. Kami sudah paham akan kondisimu Naruto."
"Baiklah kalau begitu akan kutunjukkan pada kalian..."
Memasang senyum percaya diri pada wajahnya. Naruto mulai berjalan dengan ritme tertentu mengelilingi si pengawas.
"...Ini kusebut sebagai Langkah Bayangan."
Setiap langkah yang Naruto lakuan begitu tenang dan menghanyutkan. Secara perlahan disamping kiri dan kanannya mulai muncul tiruan-tiruan Naruto yang berjumlah puluhan. Mereka semua berjalan mengelilingi si pengawas dengan membentuk lingkaran manusia yang makin lama semakin cepat putarannya.
Lama kelamaan tiruan itu mulai berubah wujud, mulai dari wujud anak-anak, orang dewasa, bahkan sampai orang tua. Setiap langkah yang dilakukan Naruto bagaikan fatamorgana yang mengelabuhi indera penglihatan manusia biasa.
"Nah apakah itu sudah cukup sensei?"
Meninggalkan bayangan-bayangannya yang masih berputar-putar dan berubah wujud, Naruto secara tiba-tiba muncul di belakang si pengawas dan memegang pundaknya. Si pengawas yang sedang melongo karena melihat teknik Naruto langsung terkaget dan berteriak layaknya seorang wanita yang melihat kecoa.
"KYAAA... hah hah hah o-ah N-naruto'kah, ahaha ada apa?"
Dengan gugup si pengawas bertanya kepada Naruto. Tampaknya ia merasa malu karena ketahuan baru saja melakukan hal yang tidak pantas bagi seorang Shinobi.
"Apakah yang barusan itu sudah cukup sensei?"
Bertanya dengan ekspresi yang kelewat biasa saja, Naruto bertanya seolah tak peduli dengan hal memalukan yang baru saja senseinya itu lakukan.
"Ah.. ya itu sudah cukup. Selanjutnya kau hanya perlu melkukan jutsu paling bagus yang kau kuasai."
"Sebelum itu, bolehkah saya meminta ijin dulu sensei?"
"Ijin apa? Kau mau buang air? Kau cukup tahan sebentar, lagian kau juga hampir selesai penilaiannya kok."
"Bukan itu sensei.. aku cuma mau memastikan, apakah tidak apa-apa kalau jutsuku nanti akan menimbulkan 'sedikit' kerusakan disini?"
"Emm kurasa kalau cuma sedikit tak apalah. Sekarang kau bisa memulainya."
"Baik sensei. Kuharap anda sedikit menjauh."
Mengangkat tangan kanannya setinggi kepala. Kemudian mengepal-ngepalkannya beberpa kali. Tampaknya Naruto sedang melemaskan ototnya. Diikuti dengan badannya yang agak jongkok ke tanah. Dan ...
BUAGH BUAGH BUAGH BUAGH BUAGH
Naruto memukul tanah secara berutun dengan sekuat tenaga membuat lubang berukuran sedang sebagai hasilnya. Namun ternyata hasilnya tak hanya itu saja. Hampir bersamaan dengan waktu ketika Naruto memukul, dari meja di depan para penguji muncul tangan-tangan yang berusaha melakukan tinjuan ke wajah para penguji.
Diantara para penguji itu terdapat tiga orang Jounin biasa, satu Jounin elit dan Sandaime Hokage di sana. Tiga Jounin biasa itu tak dapat menghindari tinjuan yang muncul secara tiba-tiba dari meja di depan mereka dan alhasil wajah mereka terkena telak menyebabkan mereka pingsan seketika.
"Bfffgghh... maaf sensei. Sepertinya pengendalian jutsuku masih agak lemah. Sehingga menimbulkan kecelakaan seperti itu."
Sambil menahan tawa Naruto berkata kepada para penguji. Tampaknya ia sama sekali tak takut terkena diskualifikasi karena perbuatannya.
'Jelas-jelas itu disengaja. Lihat mereka sampai pingsan begitu.'
'Ekspresimu mengatakan yang sebaliknya bocah tengik!'
'Teknik macam apa itu. Aku belum pernah melihat yang seperti itu?'
'Jounin amatiran, seharusnya kau selalu bersikap siaga kapanpun dan dimanapun.'
"Kau harus lebih banyak berlatih Naruto. Kalau sampai kejadian seperti ini terulang lagi, kau akan langsung didiskualifikasi."
"Ah ya. Gomennasai sensei. Aku tak akan mengulanginya lagi. Lalu sekarang aku harus melakukan apa sensei?"
"Kau hanya perlu menunggu gilirnmu untuk melakukan ujian taijutsu nanti."
"Oh begitu ya. Terima kasih sensei."
"Ya sama-sama."
Naruto pergi meninggalkan arena dengan tenang. Sekali lagi ia dapat mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang menonton di arena latihan.
'Lihat kelakuannya itu. Beraninya dia menyerang para juri, apalagi disitu ada Sandaime Hokage-sama.'
'Jelas-jelas dia sengaja melakukannya. Dasar kurang ajar.'
'Tak tahu diri.'
'Bocah aneh.'
Dan masih banyak lagi yang lainnya. Kalau saja kau merekamnya satu-satu dalam kaset rekaman dengan kapasitas penyimpanan yang paling besar sekalipun, itu masih belum cukup untuk menyimpannya. Namun Naruto kini sudah agak kebal terhadap hinaan-hinaan semacam itu. Jadi dia tidak akan mudah marah apalagi sakit hati.
Berjalan menuju pojokan tribun penonton. Naruto memilih tempat yang paling jauh dari kerumunan penonton yang berisik di depan sana.
::::
"Selanjutnya pertandingan Uchiha Sasuke melawan Naruto!"
Membuka matanya yang sebelumnya terpejam. Naruto menyelesaikan persemediannya dan beranjak pergi meninggalkan tempat duduknya semula. Di arena, Uchiha Sasuke telah menanti dengan raut wajah tak sabar. Begitupula para penonton yang mayoritas terdiri dari murid-murid akademi.
"Kalahkan dia Sasuke-kun~~!"
"Hajar dia Sasuke!"
"Beri dia pelajaran!"
"Jangan sampai kalah Sasuke!"
Naruto telah sampai di arena. Mendadak suasana di sana menjadi senyap. Pasalnya ia datang dengan cara berjalan di udara melewati bagian atas tribun ketika ia telah sampai di atas arena ia turun dengan cara melompat dengan adegan pendaratan yang begitu slow motion. Seolah-olah tubuhnya memiliki beban yang sangat ringan.
"Aku telah sampai... Sensei bisa kita mulai sekarang?"
Dengan pembawaannya yang tenang Naruto bertanya kepada si sensei. Suaranya begitu lembut bagaikan makhluk halus yang datang secara tiba-tiba ke hadapanmu. Tak lupa ia juga menampilkan senyum penuh percaya dirinya. Ekspresinya seolah-olah menantang semua orang yang ada di sini untuk melawannya.
Tingkat kepercayaan diri ini memang bukan bualan semata. Melalui pelatihan dari Guru besar Netero, Naruto telah dilatih untuk bisa mengatasi segala macam masalah yang mungkin akan muncul di masa depan. Yang perlu ia lakukan hanyalah mencari pengalaman dimana ia dapat mempraktekkan segala macam hal yang telah diajarkan gurunya, dan menyelesaikan masalah yang ia hadapi.
"Pertama-tama aku harus menjelaskan kembali peraturan dari ujian taijutsu ini. Tak boleh ada senjata, tak boleh ada ninjutsu, lawan kalah apabila telah keluar dari arena, tak sadarkan diri atau menyerah."
"Maaf sensei, tetapi sekali lagi aku ingin memastikan beberapa hal dulu."
Mengangkat tangan kanannya, untuk menginterupsi penjelasan dari si sensei. Naruto tetap tak melupakan sopan santun yang harus dilakukan seorang murid ketika ingin bertanya.
"Apa itu?"
"Anda tahu sendiri'kan kalau lawanku adalah Uchiha Sasuke yang berasal dari klan yang terkenal dengan doujutsu Sharingan-nya sensei."
"Ya, lalu?"
"Apakah dia nanti dijinkan untuk menggunakannya?"
"Tentu saja, kalau melarangnya itu sama saja dengan melarang orang bertarung menggunakan matanya."
"Apakah dia juga diijinkan untuk menggunakan Genjutsu?"
"Kalau yang itu beda lagi. Itu dilarang pada pertarungan ini. Sudah puas?"
Sambil menghadap ke arah dua peserta si sensei itu bertanya. Respon yang muncul adalah sebuah anggukan dari masing-masing peserta yang sebenarnya cukup jarang mengeluarkan suara.
"Kalau begitu... Hajime!"
Sambil melompat ke luar arena, si sensei yang juga merangkap sebagai wasit memberikan instruksi untuk memulai pertarungan. Diikuti dengan berbagai sorakan dukungan yang ditujukan kepada Uchiha Sasuke.
"Kalahkan dia Sasuke!"
"Hajar dia!"
"Jangan biarkan dia lolos Sasuke-kun~!"
"Kyaa Sasuke-kun~!"
Sementara Sasuke dan Naruto masih diam di tengah-tengah arena. Keduanya masih menunggu si lawan untuk melakukan gerakan pertama terlebih dahulu.
"Silakan Sasule... maaf maksudku Sasuke-kun. Kau boleh melakukan serangan pertama kepadaku."
"Kau mengejekku ya... Kau pasti sudah menyiapkan trik-trik anehmu itu'kan?"
"Maaf saja, kali ini aku akan bertarung dengan jujur dan adil layaknya ksatria. Dan juga aku akan bertarung menggunakan kemampuan fisik murniku."
"Heh sombong sekali kau. Kalau begitu rasakan ini."
Sasuke lari dengan kecepatan tertingginya menuju ke Naruto. Tangan kirinya sudah terkepal, menyiapkan sebuah pukulan mautnya kepada Naruto.
Naruto yang melihat itu hanya mengubah posisi tubuhnya sedikit, menyiapkan kuda-kuda bertarung.
Begitu Sasuke sampai ke hadapannya, Naruto langsung melakukan beberapa pukulan beruntun ke wajah, dada dan perut Sasuke secara cepat dan akurat.
BAK BAK BAK BAK
Sasuke hanya bisa menangkis sebagian kecil dari pukulan itu. Sedangkan sebagian yang lainnya harus ia terima secara telak pada bagian tubuhnya. Sasuke terpental jatuh ke pinggir arena.
Naruto dengan segera berlari menuju Sasuke yang masih belum bisa bangkit. Mengunci kedua tangan Sasuke dengan menginjaknya, diikuti dengan menduduki perut Sasuke. Sasuke kini terkunci dengan sempurna. Kedua tangan Naruto yang menganggur digunakannya untuk memukuli wajah Sasuke.
BUAGHH BUAGHH BUAGHH BUAGHH BUAGHH BUAGHH
"HENTIGG-GUAHKHANN... "
Sasuke memohon Naruto untuk berhenti, namun didengar dari suaranya. Kita bisa menyImpulkan bahwa ia sedang menahan suatu rasa sakit yang tak tertahankan dari wajahnya.
"AHAHAHAHA rasakan pukulanku yang tak terkalahkan ini!"
Sedangkan Naruto tertawa senang seperti bocah nakal yang sedang menjahili bocah yang sudah tak berdaya lagi. Rasanya begitu menyenangkan bisa menjahili oarang lain. Dari dulu sampai sekarang Naruto selalu menahan diri untuk menjahili orang lain dan memilih untuk jadi orang yang pasif dan malah menjadi objek kejahilan orang lain. Oleh karena itu. Mumpung sekarang masih ada kesempatan ia akan mempermalukan bocah terkeren seakademi di depan khalayak umum.
"KYAA JANGAN LAKUKAN ITU PADA SASUKE-KUNKU!"
"TIDAK... SASUKE-KUN TELAH...DIHAJAR HABIS-HABISA~N"
Sedangkan beberapa orang bergender laki-laki yang menyaksikan peristiwa itu hanya bisa merasa ngilu di bagian wajah mereka. Wajah mereka menunjukkan rasa simpatik yang besar kepada Sasuke yang tengah dianiaya oleh Naruto.
"Dasar biadab.. cepat hentikan itu!"
"Lepaskan Sasuke!"
"Jangan permalukan Sasuke-kun seperti itu!"
"Hentikan! Aku jadi ikut-ikutan merasa sakit di sini!"
Mendengar berbagai seruan para penonton yang mulai semakin tak terkendali, Iruka sebagai sensei dan wasit pertandingan ini sudah mulai tak sabar dan akhirnya iapun turun tangan.
"Hentikan permainan bodoh ini Naruto! Kalau tidak kau akan didiskualifikasi!"
Menggunakan kedua tangannya ntuk menggenggam bahu Naruto. Si sensei mulai memberikan peringatan keras kepada Naruto. Dalam hati ia juga merasa simpatik kepada Sasuke melihat kelakuan Naruto pada Sasuke.
"Apa maksdumu sensei? Aku sama sekali tak melanggar aturan bukan?"
Naruto menyanggah perkataan si sensei. Sebagai latar suara kita dapat mendengar seruan mengejek dari para penonton dan erangan kesakitan dari Sasuke yang sepertinya sudah berada di ambang batas. Mungkin kita bisa melihat rohnya hampir saja melayang-layang di udara.
Mata Sasuke kini hanya menunjukkan bagian putihnya saja. Pupilnya yang sewarna dengan batu obsidian itu sudah tak kelihatan lagi. Sasuke sudah kehilangan kesadarannya.
Perkataan Naruto sama sekali tak salah. Ia tak melanggar satupun peraturan yang disebutkan oleh si sensei yang disebutkan sebelum pertandingan dimulai. Dan tak ada siapapun di sini yang bisa membantah perkataannya.
"Naruto cepat hentikan itu!"
Iruka-sensei meninggikan suaranya kepada Naruto. Tampaknya ia benar-benar naik pitam melihat kejahilan Naruto yang tak tahu tempat dan kelewat batas itu.
"Yah kalau wasit bilang begitu ya sudahlah, aku akan berhenti."
Melepaskan injakannya pada tangan Sasuke yang sudah tak bertenaga itu. Naruto juga sekaligus mengangkat tubuhnya dari perut Sasuke. Padahal ia masih ingin melanjutkannya. Dilanjutkan dengan dirinya yang berjalan menjauh dari tubuh Sasuke yang sudah tak sadarkan diri itu.
Naruto berjalan ke tengah arena menunggu keputusan para juri. Sedangkan si sensei kini sudah berada di dekat meja penjurian untuk berdiskusi dengan para juri.
"Baiklah, kami telah membuat keputusan. Naruto, kau didiskualifikasi karena dianggap telah mencoreng tradisi dan tekad api milik Konoha."
"APA? Bagaimana bisa kalian melakukan ini kepadaku?"
"Melakukan hal tidak senonoh di tengah ujian genin yang merupakan tradisi dari desa Konoha. Hal itu tidak akan termaafkan. Kau telah menghina nama baik dari para leluhur desa Konoha yang telah membangun desa ini."
"AKU?! Tapi bukan hanya aku saja yang melakukannya! Mereka juga melakukannya! Kau bahkan tak tahu kalau dulu mereka melakukannya lebih sering daripada aku. Aku cuma baru melakukannya sekali dan langsung didiskualifikasi?!"
Naruto meninggikan nada suaranya. Ia protes sembari menunjuk-nunjuk pada penonton yang menonton di tribun. Mereka semua adalah murid-murid akademi ninja Konoha yang seangkatan dengan Naruto.
"Kau juga tak mungkin tahu kalau dulu mereka melakukan hal semacam ini padaku, hampir setiap hari selama aku di akademi. Sampai ke titik di mana seluruh tubuhku penuh dengan luka lebam dan bengkak yang rasa sakitnya bahkan tak akan hilang dalam watu seminggu. Memangnya kau tahu."
Naruto berteriak-teriak melancarkan protesnya kepada para juri yang hanya bisa melotot melihat reaksinya yang benar-benar di luar dugaan. Bahkan ia juga membongkar aib-aib dari teman seangkatannya. Membuktikan bahwa kegiatan bully sudah meraja lela di akademi ninja Konoha.
"Oh ya, aku baru ingat sesuatu. Konoha itu memiliki ninja-ninja hebat. Tak mungkin mereka tak mengetahui hal semacam itu terjadi di akademi ninja. Ya, kalian hanya menutup mata atas apa yang terjadi pada diriku ini 'kan? Aku benar 'kan? Kalian semua mendiskriminasiku hanya karena aku tak mempunyai cakra 'kan?"
Naruto menundukkan wajahnya. Ekspresinya sekarang agak sulit untuk dilihat. Karena tertutup poninya.
"Percuma... Di masa depan Konoha hanya akan hancur kalau kalian meluluskan bajingan-bajingan dan jalang-jalang seperti mereka menjadi ninja. Hanya akan terjadi pertumpahan darah di mana-mana..."
Mengangkat wajahnya menampilkan ekspresi yang penuh rasa sakit. Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya.
"...Konoha... Sudah tak layak... untuk dipertahankan..."
To Be Continued
Yah chapter 2 dari The Disciple sudah rilis. Ternyata bikin crita yang mainstream dan mengikuti cannon itu lebih mudah ya. Ide saya terasa melimpah bahkan chapter-chapter selanjutnya sudah muncul bayangannya di otak saya. Tinggal mewujudkannya bentuk cerita aja.
Berikut adalah berita yang ingin saya sampaikan tentang The Taboo Alchemist. Jalan cerita untuk chapter selanjutnya sudah ada. Yang saya masih bingung adalah tentang skill dan kenaikan stats milik Naruto di sana. Ada yang bilang kenaikan statsnya terlalu sedikit dan sampai sekarang itu sangat mengganggu pikiran saya. Karena setahu saya peningkatan stats setiap kenaikan level itu tak ada standar khusus tertentu yang misal bilang, setiap kenaikan satu level akan bertambah satu poin untuk setiap stats.
Sedangkan untuk masalah skill milik Naruto, apakah harus realistik kaya proses kimiawi yang ada di dunia nyata. Ataukah sayaboleh ngarang semau saya sendiri. Kalau bisa langsung dijawab ya. Karena itu akan menentukan masa depan dari The Taboo Alchemist. Apaah mau saya lanjut atau tidak itu tergantung keputusan yang saya buat setelah melihat jawaban dari pembaca.
Saya mohon maaf. Kesannya saya jadi mengabaikan kewajiban saya untuk melanjutkan cerita yang telah saya buat sampai akhir.
Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca fic ini beserta dengan author's note-nya. Saya harap fic buatan saya cukup menghibur untuk kalian semua.
Bye bye
