The Disciple

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Gaje, Abal, Many Typos, AU, OC, OOC, alur seenaknya saja, pasaran, mudah ditebak, super mainstream? Banyak unsur- unsur dari anime / manga / light novel lain, Overpower, membosankan, bashing chara, death chara, dll.

NO EDIT

Don't like don't read.

::

::

Sebelumnya di The Disciple :

"Percuma... Di masa depan Konoha hanya akan hancur kalau kalian meluluskan bajingan-bajingan dan jalang-jalang seperti mereka menjadi ninja. Hanya akan terjadi pertumpahan darah di mana-mana..."

Mengangkat wajahnya menampilkan ekspresi yang penuh rasa sakit. Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya.

"...Konoha... Sudah tak layak... untuk dipertahankan..."

...

Kekalahan Naruto

...

Perkataan Naruto membuat semua orang yang ada di sana terhenyak. Perkataan Naruto telah menohok hati nurani mereka. Akan tetapi dengan segera mereka menyangkal semua kebenaran yang telah Naruto katakan. Mereka menolak untuk menjadi pihak yang bersalah dalam peristiwa ini.

"Berani-seraninya kau mengatakn semua itu di depan Sandaime Hokage-sama HAH!"

"Brengsek kau! Jangan hina Konoha hanya karena masalah kecilmu itu, BRENGSEK!"

"Apa katamu Naruto! Bisa-bisanya kau menyalahkan kami semua HAH!"

"Be-benar, mana mungkin kami menjadi pihak yang bersalah di sini!"

"Jelas-jelas kau berbohong, Naruto!"

"Tak ada bukti atas semua perkataanmu itu!"

Para penonton secara serempak mencaci maki Naruto. Layaknya menyembunyikan bangkai yang sudah jelas tercium baunya di mana-mana. Bangkai yang mereka tutupi adalah kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu. Kesalahan-kesalahan yang mereka anggap sebagai keadilan yang harus ditegakkan kepada Naruto.

Mereka menolak semua yang dikatakan oleh Naruto. Tak mau jadi yang bersalah, manusiawi sekali bukan? Selalu menganggap dirinya yang paling benar. Mengumpulkan orang-orang lain yang berpemikiran sama. Dan menindas minoritas yang berbeda dari mereka.

Kenyataan ini benar-benar menyakitkan hati. Namun seperti inilah manusia. Mereka akan menggunakan segala hal yang ada dalam pikiran mereka untuk menyangkal sebuah kenyataan yang merugikan mereka. Selalu menghindar, mengorbankan orang lain, dan juga mengkambing hitamkan orang lain.

Hal-hal yang berlaku disesuaikan dengan prinsip mayoritas. Asalkan mayoritas melakukan hal yang sama, ataupun menganggap hal yang salah sebagai kewajaran. Maka lama kelamaan hal yang salahpun bisa berubah menjadi benar. Dan tak menutup kemungkinan yang benar akan menjadi yang dianggap salah.

"Berani sekali kau menghina harta yang telah dilindungi ibu sampai mengorbankan nyawanya Naruto!"

Seorang bocah berambut merah dengan berbaju orange yang mencolok mata, maju merangsek ke bagian depan. Kemudian dengan sebuah lompatan yang bertenaga. Ia menerjang tubuh Naruto, ,melayangkan sebuah pukulan yang sarat akan kebencian yang mendalam kepada Naruto.

BUAAAGHH

Naruto sama sekali tak mengelak. Akibatnya tubuhnya terpental ke pinggir arena, membentur tembok pembatas dan menimbulkan retakan-retakan yang membentuk jaring laba-laba.

"Heheh, cih, tahu apa kau soal ibu Menma. Padahal kau sendiri yang membunuh ibu dengan kedua tanganmu."

Bangkit seolah-olah pukulan Menma yang barusan bukanlah apa-apa baginya. Naruto dengan ringan melompat kembali ke dalam arena. Disertai dengan muntahan kata-kata provokasi terhadap Menma.

"Bukan aku yang membunuh ibu. Yang membunuhnya adalah Kyuubi. Bukan aku."

"Apakah kau lupa? Camkan ini dalam otak kecilmu itu Menma. Kau... Adalah... JINCHURIKI... KYUUBI!"

Menaikkan nada dan tekanan pada akhir kata-katanya dapat kita lihat urat-urat kemarahan mulai muncul di dahinya. Naruto benar-benar naik pitam atas kata-kata Menma yang menyanggah perbuatannya di masa lalu.

"Kalau saja kau tak kehilangan kendali, ibu tak akan mati. Dan kalau ibu tidak mati aku tak akan menderita seperti ini. CAMKAN ITU MENMA!"

Berteriak dengan volume yang begitu tinggi. Teriakan Naruto membuat semua penonton yang ada di sana. Menghentikan segala cercaan dan sumpah serapah yang tadi meluber begitu deras dari mulut para penonton.

"Berhenti bertingkah seperti hanya kau yang paling menderita Naruto! Bukan cuma kau yang kehilangan ibu, AKU JUGA!"

"TAPI GARA-GARA KAU JUGA AYAH MEMBUANGKU! MENGASINGKANKU DARI RUMAH! MENJAUHKANKU DARI KASIH SAYANG!"

Mata Menma terbelalak. Selama ini ia mengira Naruto sendirilah yang memilih untuk keluar dari rumah. Ia mengira Naruto sendirilah yang menginginkan itu semua. Tinggal di apartemen sendiri dan memilih untuk hidup mandiri. Ia kira begitu.

"Jangan memasang wajah sok terkejutmu itu Menma. Semua yang ayah katakan hanyalah bohong. Semuanya tentang aku ingin hidup mandiri hanyalah bohong. Ibu yang mengorbankan nyawanya demi Konoha hanyalah bohong. Ibu yang sukarela menjadi jinchuriki adalah bohong. Ibu yang menikahi Yondaime Hokage karena cinta hanyalah bohong. Semua hanyalah kebohongan, apa yang sebenarnya terjadi adalah karena darah Uzumaki dan kemampuan menyegelnya yang begitu luar biasa, ia dipaksa oleh para tetua bangsat yang ada di Konoha untuk menjadi jinchuriki. Menjadikannya alat politik untuk menjadikan Minato Namikaze sebagai Hokage. Membuatnya harus mengorbankan nyawanya untuk melahirkan calon jinchuriki yang akan dijadikan senjata oleh Konoha. Itulah kebenaran yang terjadi."

Naruto mengemukakan apa saja yang ia ketahui tentang ibunya. Mengatakan semua kenyataan yang sebenarnya tentang ibunya, Kushina Uzumaki sang Jinchuriki Kyuubi yang kedua.

"Tak mungkin. Itu semua tak mungkin. Mana mungkin ayah berbohong kepadaku. Tak mungkin ibu melakukan semua hal itu. Ya pasti kaulah yang bohong, ayah tak pernah berbohong padaku. Ayah tak akan mungkin berbohong padaku. KAULAH YANG BERBOHONG NARUTO!"

Sebuah pusaran cakra merah keluar dari tubuh Menma. Sorot matanya berubah tajam. Iris matanya berubah warna menjadi merah delima, dengan pupil yang meruncing layaknya mata binatang buas. Gigi-giginya memanjang, membentuk taring-taring tajam yang bisa merobek daging secara instan. Tiga goresan di pipinya menebal menciptakan image musang yang ganas.

Menma telah kehilangan kendali atas kesadarannya. Kekuatan Kyuubi telah mengambil alih kendali Menma atas tubuhnya. Mengubah posisi tubuhnya dengan pose binatang liar yang sedang bersiap untuk bertarung, Menma kini benar-benar mirip dengan image musang.

GRRAAAA

Naruto tak diam saja, perlahan-lahan aura kemerahan mulai menyelimuti tubuhnya. Namun aura itu hanya bisa disaksikan oleh mereka yang sudah bisa menggunakan Nen-nya saja.

Rambutnya yang jabrik dan berantakan, kini terangkat ke atas melawan gravitasi. Pandangan matanya berubah menjadai semakin tajam. Postur tubuhnya ia tegakkan. Kedua tangannya ia tekuk ke samping badan. Sebuah kuda-kuda bertarung telah ia persiapkan.

'Kyouka : Reinforcement.'

Dalam waktu singkat keduanya telah maju dan bertukar serangan. Naruto meninju, Menma menunduk menghindar. Menma melakukan tendangan menyusur lantai, Naruto melompat di udara.

Dari udara Naruto melakukan tendangan, namun bisa dengan mudah ditangkap oleh Menma dan dibalas dengan sebuah pukulan menyakitkan.

BRUAKK

Naruto terpental, Menma dengan segera mengejar Naruto ke tempat pendaratannya. Menindih tubuh Naruto. Kemudian Menma mencarkan serangan berupa hujan pukulan yang mengarah ke wajah Naruto.

Naruto hanya bisa bisa bertahan menggunakan kedua tangannya sebagai tameng. Sementara Menma, tanpa lelah terus melancarkan hujan pukulan untuk mengalahkan Naruto.

Mengetahui bahwa Menma hanya berfokus untuk menyerangnya, Naruto mengangkat kaki kanannya. Melakukan tendangan lutut ke punggung Menma.

Secara otomatis Menma mengerang kesakitan. Kepalanya ia dongakkan keatas. Disertai dengan punggungnya yang ia tegakkan untuk mengurangi rasa sakit.

Melihat kesempatan yang ada, Naruto langsung mengangkat kakinya. Kali ini tak hanya satu, melainkan kedua-duanya sekaligus. Kedua kakinya ia gunakan untuk menjepit leher Menma. Kemudian dengan sentakan kuat ia menariknya ke bawah. Menghepaskan kepala Menma ke tanah.

BRUAKKHH

Melepaskan kedua kakinya dari leher Menma. Naruto mengambil jarak dari Menma supaya tidak terkena serangannya lagi.

BATS

Sebuah pukulan kejutan muncul dari samping badan Naruto yang berhasil ia tangkap menggunakan tangan kanan. Dengan memanfaatkan momentum pergerakan lawan diimbuhi dengan gerakan memutar yang dilakukannya, Naruto langsung membanting si pelaku pemukulan itu ke lantai arena di hadapannya.

DUARRRRR

Sebuah lubang berdiameter 1 meter tercipta. Akan tetapi objek bantingan Naruto ternyata masih dalam kondisi berdiri. Bantingannya telah gagal.

Si objek bantingan, Menma, masih berdiri dengan postur agak membungkuk. Matanya menatap nyalang kepada Naruto yang masih mencengkeram kuat pergelangan tangan kanannya. Tak mau tinggal diam tangan kirinya yang masih bebas disertai jari-jemari yang dilengkapi dengan kuku-kuku tajam yang mencuat, ia luruskan, membentuk gerakan tombak yang berusaha menusuk mangsanya.

SRATT

Serangannya meleset. Hanya pipi kanan Naruto yang berhasil ia lukai, itupun bukanlah sebuah luka yang fatal. Hanya luka goresan saja yang berhasil ia torehkan ke pipi Naruto.

Dengan segera Naruto melepaskan pegangannya pada tangan kanan Menma, sekaligus membuat jarak yang agak lebar diantara mereka berdua.

'Houshitsu:Echolocation.'

'Houshitsu:Spreading Punch.'

BAKBAKBAKBAK

Naruto melakukan pukulan ke tanah secara beruntun. Ia berniat memulai pertarungan dari jarak jauh.

Tangan-tangan yang mengepal muncul dari lantai arena, mengincar tubuh Menma yang kini sedang berfokus pada pergerakan Naruto. Ke kiri, ke kanan, melompat, Menma menghindari berbagai serangan yang datang dari lantai arena dengan mudahnya. Seolah-olah kelima inderanya telah dipertajam ke tingkat maksimum, sehingga tubuhnya dapat dengan mudah memprediksi arah serangan Naruto dan menghindari tempat-tempat di mana tinju-tinju Naruto bermunculan.

Dalam keadaan melompat dan menghindar itu Menma juga sekaligus mencari celah pada pertahanan Naruto dan dalam sekejap ia telah melompat tinggi di udara, menjauh dari jangkauan tinju-tinju Naruto. Tentu saja tujuan akhir lompatannya adalah mendarat di dekat Naruto untuk memulai pertarungan jarak dekat kembali.

Naruto menyadari si lawan tidak lagi berpijak di arena melainkan melayang di udara. Seketika Naruto mengalihkan sasaran pukulan Naruto dari tanah ke udara kosong di hadapannya, arah yang tepat di mana Menma tengah melayang.

'Houshitsu:Air Cannon.'

BUMM BUMM BUMM

Layaknya meriam yang tengah melontarkan pelurunya ke udara. Serangan Naruto jelas-jelas membuat halangan yang besar bagi Menma yang sedang melayang lurus ke arah Naruto. Peluru-peluru angin seukuran kepalan tangan manusia itu melesat lurus ke tubuhnya. Membuatnya harus mengelak sebisa mungkin untuk meminimalkan kerusakan yang ia terima dari serangan Naruto.

Namun karena keterbatasan pijakan di udara, Menma hanya bisa mengelak sangat tipis dari serangan-serangan Naruto. Sementara sebagian dari tubuhnya yang lain juga menerima beberapa serangan yang ditargetkan padanya. Sehingga kini Menma malah terdorong kembali ke belakang dalam posisi bertahan.

Melihat celah besar pada pertahanan Menma, Naruto tak mau buang-buang kesempatan. Dengan kecepatan tingginya yang bahkan dapat membuat seorang Jounin merasa rendah diri, Naruto melesat ke arah Menma. Sembari mengumpulkan sebagian dari aura yang menyelimuti tubuhnya ke telapak tangan kanannya.

'Jan Ken PA!'

Serangan yang berupa dorongan melalui telapak tangan Naruto berhasil mengenai perut Menma secara telak. Membuat Menma memuntahkan air liur bercampur darah melalui mulutnya. Disertai dengan tubuhnya yang terpental ke diniding pembatas arena.

BRUAAGHH

Tubuh Menma tak dapat bertahan lebih lama lagi setelah menerima serangan beruntun dari Naruto. Akhirnya cakra merah yang menyelimuti tubuhnya mulai memudar disertai dengan Menma yang tak dapat bertarung kembali. Tubuh Menma terbenam ke dalam dinding pembatas arena.

"Hah hah hah..."

Mengalihkan direksinya ke bangku penonton yang kini sudah tak ada penghuninya lagi. Naruto dapat mengira, mungkin mereka takut Kyuubi akan mengamuk karena Menma telah kehilangan kendali atas tubuhnya.

Yang tersisa di arena gedung latihan itu, kini hanya Naruto beberapa Jounin dan Sandaime Hokage Sarutobi Hiruzen. Mereka tampaknya berniat untuk menghentikan amukan Menma yang berubah ke mode Kyuubi ekor satu. Karena mereka mengira Naruto akan kalah ketika melawan amukan Menma. Mereka sama sekali tak berniat untuk menyelamatkan Naruto dari amukan Menma.

Namun melihat hasil dari pertarungan ini tujuan mereka kini berubah, dari yang sebelumnya menghentikan amukan Menma berubah menjadi menyelamatkan Menma dan meringkus Naruto.

Naruto telah kelelahan akibat melakukan terlalu banyak tehnik Nen sekaligus. Itu terbukti dengan nafasnya yang memberat. Diikuti dengan pandangannya yang memburam dan tidak fokus. Tubuhnya mulai terasa berat untuk digerakkan.

Para ninja bawahan Sandaime Hokage yang ada di arena menatap Naruto dengan agak terkejut. Bocah berusia tiga belas tahun yang diketahui oleh semua orang, tidak memiliki cakra dapat mengalahkan seorang jinchuriki hanya dalam beberapa serangan saja. Itu bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan mudah bahkan oleh Jounin elit sekalipun.

Melalui instruksi dari Sandaime Hokage, para Jounin itu mulai turun ke arena. Dari kanan, dari kiri, depan, belakang, mereka semua mengelilingi Naruto dari berbagai penjuru. Sedangkan sang Hokage dari klan Sarutobi masih tetap berdiri di pinggiran arena, tempat para juri sebelumnya berada.

"Naruto kau akan segera kami tangkap atas tuduhan pencemaran nama baik Desa Konoha dan penduduk-penduduknya, penganiayaan, kekerasan dan percobaan pembunuhan terhadap putra Yondaime Hokage."

Seorang Jounin yang bersuara barusan adalah salah satu dari anggota keamanan yang juga berpartisipasi sebagai panitia ujian Genin di akademi Konoha. Sebut saja dia Omaru. Dia adalah Jounin dengan perawakan tinggi dan kekar. Berambut cokelat dengan style rapi disertai poni yang berbentuk W pada dahinya. Wajahnya juga dilengkapi dengan beberapa bekas luka, seperti pada mata hidung dan telinga kanannya yang sobek separo. Penampilannya bahkan dapat membuat anak-anak yang melihatnya berlari sambil menangis ketakutan.

"..."

Naruto hanya diam saja. Ekspresinya masih datar-datar saja. Namun tangan kanannya mengepal erat, sampai-sampai kita dapat menyaksikan darah yang menetes-netes dari telapak tangannya itu. Nafasnya masih terengah-engah, kepalanya mulai terasa berat. Naruto masih berusaha untuk menjaga kesadarannya. Ia tak mau ditangkap begitu saja dengan alasan konyol seperti itu.

Jelas-jelas merekalah yang melanggar hak kebebasannya, dengan membuatnya menjadi objek penganiayaan dari dulu, menghinanya setiap saat mereka melihat Naruto. Namun mereka malah ingin menangkap Naruto hanya karena ia menghina mereka sekali. Batas toleransi hukuman yang mereka terapkan sungguh tidak adil baginya.

Tindakan yang barusan ia lakukan juga hanyalah sebagai bentuk perlindungan diri. Karena bukan dirinya yang pertama kali melakukan serangan, namun Menma-lah yang memulainya duluan. Membuat Menma pingsan menurutnya juga bukanlah sebuah bentuk kejahatan, itu ia lakukan supaya dampak dari amukan Menma tidak besar dan menimbulkan lebih banyak korban.

Tetapi kenapa mereka malah menangkapnya? Kenapa mereka tidak memberikan sedikitpun rasa terima kasihnya kepada Naruto yang telah bersusah payah mengalahkan Menma yang telah beralih ke mode Kyuubi ekor satu. Mereka bahkan tak bergerak sedikitpun untuk membantu Naruto ketika Menma mengamuk dengan ganasnya. Dasar orang-orang tak tahu terima kasih dan rasa belas kasih.

Naruto menatap tajam orang-orang yang berkumpul mengelilinginya. Mereka semua berjumlah lima belas. Sebagian besar dari mereka adalah chuunin. Sementara sebagian kecil lainnya adalah Menma.

Semakin lama mereka semakin memperpendek jarak dari Naruto. Sehingga kini jarak yang tersisa antara mereka dengan tubuh kecil Naruto hanya tinggal dua setengah meter.

Senjata-senjata berupa kunai dan shuriken telah mereka siapkan di masing-masing tangan. Postur tubuh mereka selalu siaga. Layaknya para pemburu yang tengah mengepung singa yang tengah sekarat.

Dengan aba-aba melalui isyarat mata. Salah satu dari mereka maju. Kunai di tangan kanannya ia sabetkan ke arah Naruto. Namun Naruto langsung tanggap, tubuhnya secara refleks langsung menghindar dengan cara melompat ke belakang.

Chuunin yang ada di belakang Naruto juga melancarkan serangan dengan cara melemparkan shuriken-shuriken yang ada di tangan kanan kirinya. Dia tahu betul untuk memanfaatkan situasi ketika Naruto sedang membelakanginya.

TANKK

Shuriken-shuriken itu tidak berhasil menancap di tubuh Naruto. Seolah-olah membentur perisai besi yang keras, shuriken-shuriken itu hanya memantul saja ke tanah. Tanpa berhasil melukai tubuh Naruto.

'Henka:Hot Whip.'

PUAKK "ARGGHH..."

Wajah dari chuunin yang baru saja menyerang Naruto menggunakan shuriken terkena cambukan dari dari cambuk tak terlihat. Cambukan yang terasa sangat panas layaknya terkena besi panas yang baru keluar dari tungku panas. Menimbulkan luka bakar yang hebat pada wajahnya.

Naruto hanya diam saja menyaksikan kejadian tersebut, sementara ninja-ninja lainnya yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa terkejut. Karena rekan mereka baru saja sebuah serangan tak kasat mata yang sangat membahayakan.

Mereka kemudian melompat maju menyerang Naruto secara bersamaan, kali ini mereka menyalurkan cakra mereka pada senjata-senjata yang mereka gunakan. Kali ini mereka berniat melakukan serangan frontal untuk benar-benar melukai Naruto.

Naruto yang melihat mereka mulai serius, kini menyiapkan salah satu teknik terkuatnya.

'Henka:Hot Body.'

BUAKK

Naruto melakukan pukulan ke kanan, ke wajah chunin yang menyerangnya dari kanan. Tangan kirinya menangkap pergelangan tangan Jounin yang menyerang dari bagian kirinya. Membantingnya ke arah rekan-rekannya yang lain.

"ARGGGHH PANASS!"

"PANASS!"

Mereka semua yang berkontak langsung dengan serangan Naruto secara otomatis menderita luka bakar yang hebat. Serangan Naruto bukanlah serangan yang bisa diatasi oleh orang-orang normal.

Menyaksikan bawahannya yang terluka membuat Sandaime Hokage terhenyak. Dirinya tak menyangka bahwa Naruto si bocah lemah ternyata telah tumbuh sebanyak ini. Pertumbuhannya telah sampai di tahap yang menakjubkan yang bahkan orang sepertinya akan merasa takjub melihatnya. Tapi saat ini ia harus mengabaikan rasa takjubnya, karena apa yang dilakukan Naruto saat ini tak lebih dari sekedar kriminalitas.

'Kali ini aku harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini.'

Melompat ke dalam arena, Sandaime Hokage juga memunculkan senjata andalannya. Tongkat sekeras berlian, jelmaan dari Kuchiyose sang Raja Kera Enma.

Mendarat dengan kedua kakinya dalam posisi jongkok dan tangan kanan yang memanggul tongkat pusakanya. Sandaime Hokage dengan segera berdiri tegak, menyaksikan bawahannya yang kini telah tumbang semua di sekitar Naruto. Tubuh mereka terkena luka bakar yang luar biasa akibat serangan dari Naruto yang tak bisa mereka bendung.

Memutar-mutarkan tombaknya, melakukan pemanasan Hokage ketiga dari desa Konoha itu mengabaikan teriakan-teriakan kesakitan dari para bawahannya yang sedang menjerit-jerit histeris di hadapannya.

Dengan pengalaman tempurnya yang jauh di atas rata-rata. Ia mengosongkan pikirannya, untuk sementara mengabaikan hati nuraninya untuk menyelamatkan bawahannya. Karena saat ini di hadapannya ada seorang bocah yang kelak bisa jadi ancaman yang sangat berbahaya bagi desa Konoha apabila dibiarkan kabur begitu saja.

Misi ini tak boleh gagal, ia membulatkan tekad dalam hatinya untuk segera menangkap bocah ini dan mengembalikannya ke jalan yang benar. Ia tak mau mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Seperti ketika ia membiarkan Orochimaru kabur dari hadapannya dan sekarang muridnya itu malah menjadi salah satu kriminal paling dicari di seantero dunia Shinobi.

"Menyerahlah Naruto, aku tak mau timbul lebih banyak korban lgi di sini. Sudah cukup mereka saja yang terluka. Aku sama sekali tak bermaksud untuk menggunakan kekerasan untuk menghentikan kelakuanmu itu Naruto."

Maju selangkah demi selangkah, semakin dekat dengan Naruto. Semakin kuat pula aura pembunuh yang dipancarkan dari tubuhnya. Seolah-olah Shinigami sedang menapakkan kakinya di muka bumi. Maka jalan kematianlah yang akan mengiringi setiap langkahnya. Aura seorang ninja dengan kelas Kage memang spesial.

Hanya mereka yang telah terlatih dan telah melalui berbagai macam pertarunganlah yang dapat memancarkan aura semacam ini. Aura ini mengingatkan Naruto kepada Gurunya, Isaac Netero. Meskipun agak berbeda dan lebih lemah dari aura milik Gurunya, tetap saja ini bukanlah sesuatu yang bisa Naruto atasi dengan mudah.

Mengepalkan tinjunya di depan tubuhnya. Naruto harus mengeluarkan seluruh kemampuannya bila ia ingin kabur dari desa ini. Karena orang yang menghadangnya bukanlah orang sembarangan, melainkan sang Hokage itu sendiri.

'Gugenka:God Slayer Spear of Longinus.'

Menengadahkan kedua tangannya ke depan. Sebuah tombak berwarna hitam legam tercipa dari kumpulan partikel cahaya yang berkumpul jadi satu. Tombak itu memiliki ukiran-ukiran naga melilit dari ujung atas ke ujung bawah. Diikuti dengan pengaktifan teknik yang kedua.

'Tokushitsu:Perfect Ability.'

Mengaktifkan kemampuan spesialnya yang membuatnya mampu menguasai kelima jenis kemampuan Nen secara sempurna. Naruto harus berjuang mati-matian untuk menahan tubuhnya supaya tidak gemetaran saat melawan musuh sekuat ini, yang mempunyai variasi kemampuan yang lebih banyak dari gurunya.

Memanggul pundak itu di pundak kanannya. Sebenarnya Naruto sangat enggan untuk menggunakan ini kepada Sandaime Hokage. Salah satu orang yang paling ia hormati dan sayangi di desa Konoha. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus bisa melarikan diri kalau tidak mau disiksa di penjara dan dieksekusi di depan publik nanti.

Ia masih ingin menikmati indahnya langit biru di musim panas, guguran bunga sakura di musim gugur, lembutnya salju dan indahnya kelap-kelip lampu hias di taman pada musim dingin, dan yang terakhir yang paling ia inginkan adalah mekarnya bunga-bunga indah di musim semi. Untuk itu ia harus membulatkan tekadnya, tak perlu mengalahkannya. Yang perlu ia lakukan hanyalah menyadarkannya dan memohon belas kasih supaya dibolehkan untuk melarikan diri dari desa ini saja.

Menyedihkan memang. Setelah semua yang ia lakukan ia masih mengharapkan belas kasih dari sang Sandaime Hokage. Tapi mengingat kebersamaan mereka selama ini, mungkin masih ada sebersit rasa iba yang tersisa seperti yang diharapkan oleh Naruto.

'Katon:Goukakyu no Jutsu.'

Sebuah serangan berupa bola api muncul sebagai serangan pembuka pada pertarungan ini. Naruto tak mau diam saja melihat serangan yang diarahkan kepadanya. Secara reflek dia segera melompat untuk menghindari serangan bola api tersebut.

TRANKK DUAKK

Benturan dua buah senjata terjadi. Dua senjata yang saling berbenturan tersebut tak lain dan tak bukan adalah tombak pembunuh dewa milik Naruto dan tongkat Raja Kera milik Sandaime Hokage. Hal itu disebabkan Sandaime Hokage menyerang Naruto menggunakan tongkatnya ketika melihat Naruto masih melayang di udara.

Akan tetapi karena posisi Naruto adalah posisi penerima serangan, dan jug ia tak memiliki pijakan karena masih melayang di udara. Tubuh Naruto langsung terpental jauh akibat gaya dorong yang besar dari ayunan tongkat dari Sandaime Hokage itu.

Seketika sudah berada di pinggiran arena, Naruto tak menyadari bahwa lagi-lagi ada serangan bola-bola api yang tertuju kepadanya. Sesaat sebelum serangan itu berhasil mengenainya, ia segera menggunakan teknik Henka:Hot Body untuk menetralkan dampak dari serangan api itu.

BSSSHHH

Asap mengepul di udara. Cairan dalam tubuh sedikit demi sedikit mulai menguap. Darahnya mengental, konsentrasinya buyar, pandangan matanya mulai tak fokus, objek-objek yang dilihatnya memiliki bayangan-bayangan yang begitu banyak jumlahnya. Efek dari penggunaan teknik Henka:Hot Body membuatnya mengalami dehidrasi parah apabila digunakan dalam jangka waktu panjang.

BUAKK

Ayunan tongkat dari Sandaime Hokage mengenai kepalanya secara telak. Membuatnya jatuh dalam kondisi linglung ditambah dengan dehidrasi parah yang dideritanya membuatnya sangat sulit bangkit dari keadaannya saat ini.

Sedangkan Sandaime Hokage diam saja melihat kondisi Naruto saat ini. Ia tahu betul Naruto telah kelelahan dan secara bertahap akan segera tak sadarkan diri. Oleh karena itu ia hanya memfokuskan serangannya hanya untuk melumpuhkan Narut saja. Bukan untuk melukainya.

Sedangkan Naruto yang dalam kondisi sadar tak sadar itu masih berusaha bangkit, meskipun tubuhnya sempoyongan. Kedua kakinya tak sanggup lagi untuk menopang berat badannya. Menggunakan tombaknya sebagai alat bantu berdiri, pusat gravitasi pada tubuh Naruto ia pindahkan pada kedua tangannya yeng menggenggam tombaknya erat-erat.

Sandaime Hokage merasa iba melihat kondisi Naruto saat ini, naruto kini tak ada bedanya dengan mayat hidup yang biasa orang-orang sebut dengan zombie. Tubuhnya berubah menjadi kering kerontang, tatapan matanya kini begitu kosong dan hampa, mulutnya menganga lebar dengan air liur yang menetes dari mulutnya, keriput-keriput yang tak seharusnya dimiliki oleh seorang bocah malah tumbuh dengan subur pada kulitnya, rambutnya memutih seolah-olah warna kuning yang melambangkan kehidupan pada bocah ini telah enyah meninggalkan raganya.

Ketika Sandaime Hokage hendak menyentuh tubuh Naruto, sebuah pemandangan yang aneh terjadi di depan matanya. Tombak Naruto yang semula berwarna hitam legam berubah warna menjadi merah menyala. Layaknya tombak besi yang baru saja keluar dari tungku penempaan.

Namun itu bukanlah suatu hal yang mengherankan lagi. Syarat dan Kondisi untuk pengaktifan Seven Treasures of Longinus milik Naruto telah terpenuhi. Tombak Pertama:Red Spear of Longinus atau bisa disebut sebagai tombak luka abadi telah muncul sebagai tahap pertama dari pengaktifan Seven Treasures of Longinus.

Syarat dan kondisi yang harus terpenuhi untuk mengaktifkan teknik ini adalah, yang pertama Seven Treasures of Longinus akan aktif JIKA DAN HANYA JIKA Naruto mengeluarkan tombak Longinus dalam keadaan penguasaan maksimalnya, yaitu sebesar 60%. Menjaga tingkat penguasaan teknik Gugenka bagi di tingkat enam puluh persen bagi Naruto yang bertipe Kyouka adalah sesuatu yang sangat sulit. Karena itu dibutuhkan latihan yang keras dan luar biasa untuk bisa menguasainya sampai ke tahap 60% setiap saat.

Yang kedua, Naruto harus mengaktifkan Tokushitsu:Perfect Ability selama sepuluh menit. Dengan pengaktifan teknik spesial minimal selama sepuluh menit memberikan beban yang sangat berat pada tubuh Naruto. Teknik ini adalah teknik yang bisa saja menghancurkan tubuh dari dalam apabila digunakan secara berlebihan.

Yang ketiga, tombak ini membutuhkan persembahan berupa darah dan aura pada kadar tertentu sesuai dengan tahap yang sedang berlaku pada tombak itu. Artinya semakin tinggi tahapan yang sedang berlaku semakin banyak pula darah dan aura yang perlu dipersembahkan kepada si tombak.

Jadi yang terjadi pada tubuh Naruto saat ini adalah efek dari pengaktifan teknik Henka:Hot Body ditambah dengan Tokshitsu:Perfect Ability yang berakumulasi dan menimbulkan efek samping yang luar biasa seperti yang nampak pada saat ini.

Tubuh Naruto yang telah mengalami banyak latihan keras secara otomatis selalu bisa mengaktifkan teknik Gugenka pada tingkat maksimal yang menyebabkan tubuhnya menerima beban yang sangat berat dari penggunaan teknik itu. Tubuhnya secara otomatis telah mengingat bagaimana pengaktifan teknik ini. Dan meskipun dalam pikirannya ingin sekali membatalkan teknik ini, tubuhnya sama sekali tak mau merespon karena kehendak dari tombak itu yang mengakar pada setiap saraf yang ada pada tubuhnya.

"Hahh ku...mohh...honn... lep..pass...khann...akhh...khuu.."

Naruto menggunakan sedikit dari tenaganya yang tersisa untuk memohon belas kasihan dari Sandaime Hokage. Tenggorokannya sangat kering akibat dehidrasi parah yang ia derita. Sehingga untuk berbicara beberapa patah kata saja sudah sangat menyakitkan baginya.

Namun bentuk belas kasih yang ada dalam benak Sandaime Hokage berbeda.

'Tenang saja Naruto. Aku akan segera membuatmu pingsan saja. Sehingga kau akan segera lepas dari penderitaanmu. Setelah itu akan kubawa kau ke tempat pengbatan terbaik yang ada di Konoha untuk menyembuhkan segala penyakitmu itu Naruto.'

Dalam sekejap Sandaime Hokage telah berpindah kebelakang tubuh Naruto. Menggunakan tangan kanannya, ia berniat untuk memingsankan Naruto dengan cara memukul tengkuknya. Akan tetapi...

JLEB SURRR

Mata tombak milik Naruto itu berhasil melukai lengan kanan bawah milik sang Hokage Ketiga dari Desa Konoha itu. Darah tak bisa berhenti mengucur dari luka kecil sebesar lubang telinga yang telah berhasil ditorehkan oleh si tombak terkutuk Longinus.

Tombak Longinus sendiri merupakan sebuah tombak yang tercipta dari aura negatif yang ada pada diri Naruto. Tombak yang merupakan materialisasi dari segala sifat buruk Naruto juga bisa menggerakkan tubuh Naruto sesuai kehendaknya sendiri. Bagaikan tombak yang kerasukan yang akan menginfeksi sang pemilik setiap kali digunakan.

Oleh karena itu, Naruto sangat enggan untuk menggunakan tombak terkutuk yang merupakan refleksi dari segala sifat negatif Naruto. Tombak ini sering sekali punya kehendaknya sendiri dan sangat haus akan darah. Membuatnya sering sekali kewalahan menanggapi kehendakdari senjata terkutuk ciptaannya itu.

"ENGGHH... Luka apa ini Naruto? Kenapa ini sama sekali tak mau berhenti?"

Sandaime Hokage jatuh terduduk, pendarahan yang terjadi di tangannya sama sekali tak bisa dihentikan. Bahkan setelah ia mengikat erat-erat lengan kanan atasnya. Seolah-olah darahnya tersedot keluar melalui luka yang ditimbulkan oleh tombak itu.

SRINNKK

Sebuah kunai muncul dari arah yang tak terduga. Datang dari atas, di luar jangkauan penglihatan Naruto sebuah senjata spesial yang sangat ikonik muncul untuk melakukan serangan padanya.

TRANKK

Tombak yang mempunyai kehendak sendiri itu menggerakkan tubuh Naruto untuk melakukan tangkisan terhadap serangan berupa kunai itu. Namun kunai yang baru saja mereka tangkis itu bukanlah kunai biasa. Itu adalah sebuah kunai bercabang tiga dengan hiasan berupa fuin spesial pada gagangnya. Fuin yang dikenal sebagai medium dari sebuah jutsu yang sangat terkenal pada masa Perang Dunia Shinobi Ketiga. Jutsu yang disebut dengan...

"Hiraishin no Jutsu... RASENGAN!"

BUAKKKHH

Sosok yang dikenal sebagai pahlawan Konoha pada Perang Dunia Shinobi Ketiga atau pada masa kini kita mengenalnya sebagai Yondaime Hokage, Kiiroi Senkou no Minato Namikaze!

Ia telah tiba untuk mengakhiri pertarungan berdarah ini. Jubah putih dengan aksen api merah pada bagian bawahnya berkibar. Kedatangannya begitu dramatis. Ia tampak seperti seorang pahlawan yang selalu datang belakangan yang biasa muncul pada karya fiksi yang ditujukan untuk anak-anak. Tentu saja datang belakangan juga berarti terlambat. Karena...

Semua Ninja yang menghadapi Naruto kecuali Namikaze Menma telah tewas. Dengan luka bakar yang terletak pada bagian-bagian tubuh yang bervariasi mulai dari wajah, dada, dan juga perut.

Dan yang terakhir adalah kehabisan darah. Orang yang mati karena kehabisan darah itu, tak lain dan tak bukan adalah...

SANDAIME HOKAGE, HIRUZEN SARUTOBI!

To Be Continued

Chapter ketiga dari The Disciple telah selesai. Saya harap ini cukup menghibur buat kalian semua.

Oh, ya terima kasih atas reviewdan sarannya. Itu benar-benar membantu. Kesan yang kalian sampaikan terhadap fic ini juga bagus. Saya jadi tambah semangat buat nulis kelanjutannya lagi.

Sebelumnya juga ada yang tanya tentang benua hitam dan benua putih ya? Sebenarnya itu nggak terlalu penting sih. Tapi saya akan menjelaskan. Benua putih itu setting tempat terjadinya anime / manga HxH berlangsung. Sedangkan benua hitam adalah New World bagi orang-orang di benua putih. Karena belum pernah ada yang berhasil mengetahui secara keseluruhan isi dari benua hitam itu.

Konon katanya, kalo di manga HxH dari ratusan ribu pasukan ekspedisi yang dikirimkan untuk melakukan eksplorasi di benua hitam. Hanya ada 28 orang yang berhasil kembali ke benua putih hidup-hidup.

Dan dari 28 orang itu, hanya 3 orang yang berhasil kembali dalam keadaan sehat baik secara mental maupun fisik. Dan 3 orang itu adalah Isaac Netero, yang dalam fic ini saya jadikan sebagai guru Naruto. Yang kedua adalah Beyond Netero, anaknya dari Isaac Netero. Si Beyond ini pergi ke benua hitam untuk mencari tumbuhan langka yang disebut tumbuhan metalion. Dan yang ketiga adalah Don Freecs kakek moyang dari tokoh utama dari manga dan anime HxH, Gon Freecs. Dia adalah orang yang menulis buku tentang petualangan menjelajahi benua hitam yang diceritakan pada chapter satu fic ini.

Hal yang sangat disayangkan adalah saat ini manga Naruto sudah tamat dan manga HxH hiatus lagi sampai waktu yang tak ditentukan karena mangakanya sakit pinggang, semoga fic ini dan authornya nggak sampai kayak gitu ya.

Saya ingatkan juga kalau Naruto jarang sekali menyebutkan nama tekniknya ketika bertarung. Ia hanya melafalkannya dalam batin saja.

Saya juga mohon maaf nggak bisa balas semua review yang kalian berikan. Waktu dan tenaga saya cukup terbatas untuk melakukan itu.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca atau sekedar mem-view fic ini.

Jangan lupa review ya.