Chapter 2 : Mineral Town Tour (Part 1 : Hot Spring)


Duduruuududuuuu~

"Hmm…" gerutuku ketika aku mendengar suara alarmku itu. Aku mengulurkan tanganku untuk mencari meja yang biasanya ada di sebelah ranjangku, tapi hari ini aku tidak bisa menemukannya.

Oh iya… Ini Mineral Town…

Setelah mengingat hal tersebut, aku mulai memikirkan posisi HPku agar aku bisa mematikan alarmnya. Ketika aku menyadarinya, aku menghela nafas panjang.

Mataku yang masih setengah tertutup mengintai sebuah tas bermotif camo yang terletak di pojok ruangan. Ada dua pilihan: Pilhan pertama – dengan berat hati aku harus bangun dari tempat tidurku untuk mematikan alarm tersebut lalu kembali untuk mendapatkan tidur yang lebih nyenyak. Pilihan kedua – aku membiarkan alarm itu berbunyi dan mencoba untuk tidur kembali tanpa menghiraukan kebisingannya.

...Ah sudahlah.

Karena memang dasarnya aku pemalas, aku pun menutup mataku dan mencoba tidur kembali. Tapi tentu saja, dunia ini tidak bisa membiarkanku berbahagia.

Tok tok tok!

...Abaikan…

Tok tok tok tok!

.Abaikan saja…

TOK TOK TOK!

Sebentar lagi dia akan menyerah dan pergi…

TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK!

"AAAAAAAAARGH!" seruku spontan penuh rasa kesal. Aku langsung turun dari ranjangku dan membuka pintu rumahku dengan kasar.

Oh, ternyata si cebol – maksudnya Mayor Thomas.

Mungkin karena penampilan bangun tidurku yang seperti ini, ia terlihat sangat ketakutan. Karena struktur tubuhnya yang pendek, aku harus menatap- tidak, itu salah… karena aku sedang marah, sepertinya lebih tepat kalau aku memelototinya dari atas. Terlebih lagi, penampilanku terlihat sangat berantakan… Aku tidak akan terlalu heran kalau dia bisa membayangkan aura hitam di belakangku.

"Apa?" tanyaku dengan nada bangun tidur yang terkesan seperti gertakan.

"M-M-Maafkan aku telah mem-membangunkanmu pagi-pagi be-begini..!" balas Mayor Thomas tergagap-gagap. Aku benar-benar terlihat seperti preman pasar yang sedang memalak seseorang yang lemah dan tidak berdaya…

Entah kenapa rasanya sangat memuaskan… Apakah aku sudah berubah menjadi orang jahat?

TIDAK! Aku telah bertekad untuk membina hidup yang baik di Mineral Town (berdasarkan sontekkan kemarin), jadi aku tidak bolelh mengingkari diriku sendiri!

"Oh… Ya, tidak apa-apa…" balasku sambil mencoba mengatur nada bicaraku agar tidak terdengar jahat. Sepertinya aku berhasil karena ekspresi Mayor Thomas mulai membaik.

"Ehm, baiklah… Aku disini untuk kembali menawarkan tur keliling kota. Kamu sudah istirahat, bukan?" tanya Mayor Thomas.

"Sudah, tapi belum cukup, jadi sekarang aku mau tidur lagi, daah."

Ingin sekali rasanya aku mengatakan itu, tapi aku mengurungkan niatku.

"Mm…Ya. Tapi aku belum mandi…" jawabku.

"Oh, ya sudah. Ambil saja pakaianmu, lalu kita memulai turnya dari Hot Spring," balasnya.

"Ahh… Oke?" balasku. Aku tidak tahu Hot Spring itu apa, jadi aku agak bingung ketika Mayor hanya menyuruhku membawa pakaian dan bukannya menyuruh mandi dulu. Tapi aku memutuskan untuk mengikuti perintahnya dan mengemas baju gantiku.

Setelah aku siap, Mayor Thomas membawaku melewati jembatan menuju kaki bukit Mother's Hill. Kenapa aku bisa tahu? Karena aku melihat peta yang kemarin kudapatkan darinya, duh.

Hmm… Berdasarkan peta ini, seharusnya ada suatu lembah besar bernama Hot Spring.

Aku mengikuti jejak sang walikota menaiki tangga, lalu aku pun melihatnya – Hot Spring. Udara disana sangat enak. Uap panas yang dihasilkan oleh Hot Spring memberikan aroma segar, dibumbui dengan deburan air yang sejuk dari air terjun di sebelahnya dan bunyi arus sungai yang menenangkan. Aku tidak akan bisa mendapatkan pemandangan seperti ini di kotaku yang dulu.

"Oh, Mayor Thomas! Halo!"

"Ah! Selamat pagi, Mayor Thomas!"

Mendengar suara-suara asing tersebut, perhatianku langsung teralihkan untuk melihat sumbernya. Dari sebelah kananku, aku menangkap figur seorang gadis berambut pink, disusul oleh seorang gadis berambut oranye. Mereka berjalan mendekat untuk memberi salam.

"Popuri, Ann, selamat pagi!" sapa Mayor Thomas hangat.

"Hmm, siapa ini? Oh! Kamu pasti Jack, petani baru itu 'kan?" tanya rambut pink, "Namaku Popuri! Salam kenal!"

"Ya, benar. Salam kenal," balasku.

"Namaku Ann. Senang bertemu denganmu, Jack! Salam kenal!" sahut rambut oranye.

"Ah… Salam kenal juga," balasku. Kenapa semua perempuan disini sangat bersemangat?

"Popuri disini adalah anak dari pemilik peternakan ayam Poultry Farm yang berada di sebelah lahan pertanianmu, sedangkan Ann adalah anak dari pemilik penginapan kota ini," jelas Mayor.

"Hmm," gumamku sambil mengangguk ringan.

"Mereka berdua single loh," lanjut Mayor. Tidak sampai sedetik kemudian, dua buah pukulan melayang menuju kepala sang walikota.

BUK!

Mayor Thomas jatuh terkapar.

"Maaf, tolong abaikan saja apa yang dia katakan tadi," kata Ann. Aku sempat merinding melihat mereka yang tidak takut memukul seorang walikota. Sepertinya akan lebih baik bila aku tidak cari masalah dengan mereka…

"Haha… Tenang saja, sudah kulupakan," balasku.

"Aduh, duh, duh… Sakit…" ringis sang pelaku sekaligus korban seraya ia mencoba untuk bangkit. Aku hanya bisa menunjukkan wajah turut prihatin.

"Hah! Tahu rasa!" seru Popuri sambil mendengus. Sangar sekali…

"Maaf, maaf, aku kelepasan," balas Mayor Thomas, "Oh ya! Jack, kamu bisa mandi sekarang."

...

Aku membatu.

"Hah?" tanyaku, tidak memahami komandonya.

"Seperti yang kukatakan, kamu bisa mandi sekarang," jawabnya. Popuri dan Ann juga terlihat seperti mereka mendengar suatu hal yang biasa.

Aku mengamati sungai yang berada di depanku. Setelah itu, aku kembali mempertemukan mataku dengan Mayor Thomas.

"Ayo, silahkan," katanya.

"A-Ah… Ya…" balasku canggung.

Apakah ini suatu hal yang biasa? Kenapa para perempuan itu hanya melihatku saja?! Tidak mungkin… Mereka sudah terlalu sering melihat para lelaki mandi disini sehingga mereka tidak ada reaksi?!

Aku menelan liurku. Yah, setidaknya air sungainya terlihat bersih…

Aku pun berjalan menuju sungai tersebut dan mulai membuka bajuku.

"KYAAAAAAAAAH!"

Sebelum aku bisa menurunkan celanaku, dua buah sepatu terlempar bagai boomerang ke arahku dan memukulku masuk ke dalam sungai.

WHAT THE F-

"GAAAAH!"

BYUR!

A…Apa…? Kenapa…?

Aku terapung dengan posisi muka di bawah.

Ahh, pasti aku terlihat sangat menyedihkan sekarang… Bahkan mungkin lebih menyedihkan dari Mayor Thomas tadi…

"Astaga! Jack! Kenapa kamu tiba-tiba menanggalkan pakaianmu disini?!" seru Mayor Thomas panik.

Ha… Hah…? Tapi bukannya aku disuruh mandi di sungai ini..? Salahku apa…

"Di dalam Hot Spring ada ruangan ganti baju, apa kamu tidak tahu?" tanya Mayor.

Apa…? Jadi aku seharusnya ganti baju di sana? Mana aku tahu… Lagipula kalau aku mandi di sungai, semua orang akan bisa melihatku telanjang…

"Dan lagi, kenapa kamu menanggalkan bajumu disini ketika pada akhirnya kamu akan mandi di Hot Spring juga?" lanjutnya.

A-APA?!

Mendengar itu, aku langsung bangkit dari posisi tenggelamku.

"Ma…Mandi di Hot Spring…?" tanyaku, masih tidak percaya.

"Ya! Tentu saja mandi di Hot Spring! Memangnya mandi dimana lagi?!" jawabnya. Namun di kepalaku, itu seakan-akan mengatakan, "Bukankah itu sudah jelas? Hanya orang bodoh yang tidak mengerti hal sesimpel itu!" dan aku pun menjadi depresi.

"T-Tapi bukannya Hot Spring itu sangat panas..? Orang-orang di kota ini mandi di Hot Spring…?" tanyaku, setengah bergumam. (Author's Note : Karena ia berasal dari kota besar, ia tidak pernah mendengar tentang pemandian air panas. Hal ini benar-benar membuatnya bingung.)

"Hah?!"

Begitulah reaksi serentak dari Mayor Thomas, Popuri, dan Ann.

A…Apakah pertanyaanku tadi terlalu mengagetkan?

"Jack… Jangan-jangan kamu tidak pernah mendengar istilah 'pemandian air panas'..?" tanya Ann dengan wajah horror.

"Pemandian air panas…? A-Ada hal seperti itu?!" tanyaku kaget.

Suasana menjadi hening. Mereka semua menatapku dengan pandangan mengasihani.

"Jadi tadi… Kamu berniat untuk mandi di sungai?" tanya Mayor ketakutan. Karena harga diriku sudah terlalu hancur untuk menjawab, aku hanya memberikan anggukan lemah.

"Maafkan aku… Aku kurang sensitif…" balas sang Mayor dengan kepalanya yang tertunduk sedih.

"Ah, tidak… Sepertinya aku yang terlalu bodoh…" balasku dengan kepercayaan diri yang telah terkuras.

Hari keduaku disini, dan aku sudah mempermalukan diriku sendiri… Ugh.

"B-Bagaimana kalau sekarang kamu mencoba pemandian air panas kota ini?" usul Ann, mencoba untuk memperbaiki keadaan.

"Oh! I..Ide bagus! Lagipula kalau kamu terlalu lama membiarkan dirimu basah-basahan seperti itu, kamu bisa masuk angin!" tambah Popuri.

"…Hm," gumamku lesu. Aku mengambil bajuku yang tergeletak di tanah dan berjalan memasuki Hot Spring. Tidak ada yang bersuara lagi – bahkan burung-burung yang tadinya sibuk berkicauan mendadak menghilang.

Sesampainya di ruang ganti, aku kebingungan.

TUNGGU DULU! AKU TIDAK PERNAH KE PEMANDIAN AIR PANAS SEBELUMNYA! BAGAIMANA CARA MANDI DISINI?!

Wajahku mulai memucat. Apakah aku harus kembali ke luar sana?

Aku mulai berpikir keras. Kalau aku kembali keluar hanya untuk menanyakan cara mandi, ada 95% kemungkinan mereka akan mentertawaiku, tapi kalau aku tidak bertanya, maka ada 95% kemungkinan aku akan menyalahi peraturan mandi disini dan mempermalukan diriku sendiri karena mereka bisa jelas-jelas melihatku di Hot Spring terbuka seperti itu.

Opsi lainnya…

"Anu… Apakah tidak ada dari kalian yang ingin mandi bersamaku?" tanyaku dengan harapan bisa mengikuti cara yang lainnya mandi.

"Hah?! T-Ternyata ia benar-benar cabul…" balas Popuri.

"SERANG!" sahut Ann.

Lalu aku dilempar sepatu sampai mati.

The end.

Oke, yang tadi itu benar-benar bodoh.

Sebenarnya dari dua opsi awal, yang lebih baik adalah opsi pertama… Tapi apakah mentalku siap untuk mempermalukan diriku sendiri lagi?

Tapi…. Malu bertanya sesat di jalan, 'kan…?

Aku mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Aku memutuskan untuk berdiam diri di ruang ganti sampai aku bisa mengumpulkan keberanian untuk keluar dan bertanya. Menyedihkan sekali, memang… Namun harga diriku sudah terlalu jatuh dari event tadi.

Setelah beberapa menit mondar-mandir di ruang ganti, Mayor Thomas tiba-tiba masuk ke dalam ruang ganti.

"…Kenapa kamu belum ke Hot Spring?" tanyanya. Aku memasang wajah kesulitan.

"Mayor, itu… tolong ajari aku cara mandi di Hot Spring…" jawabku.

Sebuah petir tiba-tiba menyambar Mayor Thomas.

"Aaaah…. Tentu saja…" balasnya. Aku bisa melihat kalau ia dipenuhi rasa bersalah, tapi aku tidak akan mengatakan apa-apa karena rasa bersalahnya menutupi rasa maluku.

"Baiklah, mari kita mulai dari awal…" terangnya.

(Karena Author juga kurang mengerti tentang cara mandi di pemandian air panas ala Jepang, Author akan menggunakan jurus 'Skip Time'!)

Ternyata mandi di pemandian air panas itu benar-benar enak – bahkan lebih enak daripada mandi di bathtub. Ujung-ujungnya, Mayor Thomas juga ikut mandi bersamaku karena ia mempraktekkan semua tahap-tahap yang ia jelaskan… dan aku menyaksikan sesuatu yang sangat menyeramkan.

Mayor Thomas…dadanya…lebat.

Sebenarnya itu adalah hal yang cukup biasa, tapi bayangkan saja… sekarang aku sedang mandi bersama dengan seorang tua gendut pendek berbulu dada lebat..! Terlebih lagi… kita berdua sama-sama sedang tidak memakai apa-apa!

Aku sudah menutup mataku, tapi tetap saja pengetahuan tentang situasiku ini terus menghantuiku.

"Jadi, beritahu aku, Jack," buka Mayor Thomas, "Bagaimana kehidupanmu di kota besar?"

Jujur, aku malas sekali menjawab. Tapi karena aku harus berpura-pura menjadi baik, maka dengan terpaksa pertanyaan itu akan kuladeni.

"Berbeda sekali dengan disini. Disana banyak mall sehingga aku sering pergi kesana bersama teman-temanku di akhir pekan. Lalu setiap hari aku biasanya bisa bermain game di komputer dan Pl*yStation… Oh ya! Bicara soal game, apakah disini ada toko elektronik yang menjual benda-benda seperti itu?" tanyaku berharap.

"…Ah, maaf, tapi Mineral Town adalah kota yang cukup sederhana dan tradisional. Aku bahkan tidak pernah mendengar istilah Pl*yStation..." jawabnya.

Mataku langsung terbuka terbelalak.

"Apa? Jadi tidak ada toko elektronik?" tanyaku kembali untuk mengkonfirmasi.

"Tidak ada satupun," jawabnya.

"…Tapi toko jual pulsa HP ada 'kan..?" lanjutku risau.

"Tidak… Bahkan tidak ada satupun warga kota ini yang memiliki HP…" jawabnya.

INI KOTA ATAU KAMPUNG?!

"…Oh, aku tahu. Anda sedang berbohong, 'kan? Mana ada kota yang buta teknologi? Hal itu terlalu aneh untuk dipercaya," balasku, melarikan diri dari realita.

Mayor Thomas hanya menatapku dalam, lalu menunduk dan menggelengkan kepalanya.

UGH! YA SUDAH KALAU BEGITU! AKU BISA HIDUP TANPA GADGET DAN GAME, KOK! AKU 'KAN TIDAK KECANDUAN!

"Yah, ya sudahlah… Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah hal itu," kataku.

"Baguslah kalau kamu bisa menerimanya dengan baik," balas Mayor, "Tenang saja, kota ini memiliki banyak hal menyenangkan, jadi tidak perlu khawatir bosan!"

"Hmm," gumamku seraya memutar bola mataku ke atas.

Suasana kembali tenang dan aku menutup mataku lagi.

Hidup secara tradisional seperti ini seharusnya tidak terlalu buruk…

Ada banyak pemandangan yang indah, pemandian air panas yang enak, kasur yang empuk, …

Eh? Setelah itu ada apa lagi..?

Ah… Ini baru hari keduaku disini, jadi pasti aku akan menemukan hal-hal positif lainnya 'kan?

Te-Tentu saja begitu! Aku harus berpikir positif!

Tanpa alasan yang jelas, aku tertawa kecil. Sepertinya aku sudah mulai gila. Aku bisa merasakan tatapan aneh dari Mayor Thomas yang berada di seberangku.

Padahal dia sendiri jauh lebih aneh dariku… Eh, tapi orang aneh tidak akan menyadari bahwa dirinya aneh, 'kan? Haha, bodoh sekali.

Aku pun mengangguk-angguk – menyetujui diriku sendiri.

Baiklah… Kira-kira setelah ini tur ini akan dilanjutkan kemana?

-Chapter 2 : End-


Author's Note:

ENDINGNYA MAKSA IYA AKU TAU.

CERITANYA ANEH IYA AKU TAU.

Tapi terima saja lah ya /?

Author mau cepet-cepet update jadi ya gini jadinya (?)

Kripik saran komennya ya ~ owo)/