Chapter 3 : Mineral Town Tour (Part 2 : The Rest of It)


Usai dari Hot Spring, aku dibawa menuju rumah seorang tukang kayu yang berada tepat di depan Hot Spring. Penghuni rumah itu ternyata bukan hanya satu orang; melainkan dua.

"Oh, kamu petani baru itu, ya? Salam kenal, namaku Gotz."

"Ah, halo! Jack, 'kan? Namaku Louis, seorang peneliti lebah."

Aku memperhatikan penampilan mereka dari kaki hingga rambut, setelah itu aku melihat ke sekeliling rumah itu. Satu hal yang benar-benar menyita perhatianku adalah fakta bahwa hanya ada satu ranjang disana.

"Kalian homo ya?"

…Adalah hal pertama yang muncul di kepalaku, namun tidak berani kutanyakan.

"Ya, salam kenal," balasku singkat dengan senyum yang dipaksakan.

"Jika kamu ingin meng-upgrade rumahmu, maka Gotz adalah orang yang kamu cari!" jelas Mayor Thomas, "Tapi jasa itu tidak gratis, tentunya… Jadi, bekerja keraslah!"

Ogah. Males banget.

"Haha, tenang saja," balasku.

Maksudnya: Tenang saja, aku tidak perlu rumah bagus-bagus, kok. Yang sekarang sudah cukup. Lol.

"Baiklah! Sekarang kita ke tempat selanjutnya!" sahut Mayor, "Kami pergi dulu. Maaf mengganggu."

Lalu dengan itu, kami pergi menyusuri jalan dan berhenti di tengah-tengah pertigaan. Mayor Thomas memutar badannya ke kiri dan aku pun mengikuti pergerakannya.

"Jika kamu pergi ke arah sana, maka kamu akan sampai di Poultry Farm – tempat tinggal Popuri. Disana kamu bisa membeli berbagai hal yang berhubungan dengan perayaman, seperti ayam, anak ayam, makanan ayam, obat ayam, dan lain sebagainya," terangnya. Aku mengangguk dan ia membalikkan badannya sehingga ia sekarang menghadap ke arah kanan. Sama seperti tadi, aku mengikutinya.

"Karena tadi kamu sudah bertemu dengan Popuri, maka mari kita lanjutkan ke arah sini," lanjutnya.

"Hah? Memangnya yang tinggal disana hanya Popuri?" tanyaku bingung.

"Tidak, ada seorang kakak laki-lakinya dan ibunya. Tapi toh yang penting adalah kandidat nikahnya, kan?" jawabnya dengan pertanyaan retoris. Karena bingung mau membalas apa, aku hanya diam dan mengikutinya pergi menuju sebuah peternakan sapi dan domba.

"Ini adalah Barley's Ranch, disini kamu bisa membeli berbagai hal yang berhubungan dengan ternak, seperti sapi, domba, makanan sapi dan domba, obat sapi dan domba, dan lain sebagainya," terangnya dengan format persis seperti saat ia menjelaskan tentang Poultry Farm, "Disini tidak ada kandidat nikah, tapi apa kamu mau lihat-lihat ke dalam?"

Aku berpikir sebentar.

Kalau aku menolak, nanti ia akan berpikir kalau aku hanya mempedulikan perempuan-perempuan singlenya saja… Ahh, sebenarnya aku malas sekali, tapi ya sudahlah. Demi image.

"Tentu saja. Sekalian menyapa penduduk yang lain, toh," jawabku.

"Baiklah kalau begitu, ayo masuk," balasnya sambil melangkah menuju pintu ruko itu. Aku mengikuti di belakangnya.

Tok tok tok!

"Permisiiii!" sahut Mayor Thomas, "Ini aku, Thomas!"

Beberapa saat kemudian, pintu dibuka. Seorang kakek-kakek yang terlihat tua renta muncul dari balik pintu. Jenggotnya tebal, kacamatanya tebal, keriputnya tiga garis, gundul, dan seluruh helai rambut di tubuhnya berwarna putih uban.

First impression? Paling beberapa tahun lagi dia mati.

"Oh? Apa ini? Kamu sedang membawa si petani baru keliling kota?" tanya kakek itu.

"Iya, benar!" jawabnya.

"Namaku Jack, petani baru di ladang sebelah. Salam kenal," salamku.

"Aku Barley, pemilik peternakan ini. Salam kenal juga," balasnya.

Sepertinya menaruh usaha ekstra ketika berkomunikasi dengan kakek ini tidak apa-apa. Kalau aku membuatnya menyukaiku, ada kemungkinan ia bisa memberiku diskon untuk dagangannya… dan ia juga tidak akan hidup lama lagi, toh?

"Sebenarnya aku memiliki seorang cucu, tapi sekarang dia sedang pergi bermain…" lanjut kakek itu, "Mungkin dia berada di rumahnya Ellen atau di Gereja."

"Oh, baiklah. Kami akan pergi keliling kota, jadi kemungkinan besar kami akan bertemu dengannya," balas Mayor Thomas.

"Oke… Berhati-hatilah di jalan," balas Barley. Setelah bertukar lambaian tangan, Mayor pun melanjutkan turnya.

Setelah beberapa detik berjalan, kami sampai pada sebuah area luas dan sepi. Aku ingat benar tempat ini – ini adalah tempat dimana aku kebingungan memilih jalan kemarin. Tapi tentu saja, pada akhirnya aku memilih jalan yang paling dekat dan untungnya semua berjalan dengan lancar.

"Ini adalah Rose Square. Kebanyakan festival kota ini diselenggarakan disini. Kalau kamu lurus ke arah sana, maka kamu akan tiba di pantai," jelas Mayor Thomas dengan jari yang menunjuk ke arah jam 3 dari jalan yang baru saja kita tempuh.

"Ya, aku sudah tahu itu," balasku.

Karena setelah itu aku menyadari bahwa perkataanku tadi terkesan menyalahi moral baik, aku menambahkan, "Kemarin aku telah melewati pantai dan tempat ini karena aku datang kesini dengan kapal."

Mayor menganggukan kepalanya.

"Baiklah, kalau begitu aku tidak perlu menunjukkan pantainya lagi," balasnya.

"Nah, kalau kamu lurus ke arah sana, maka kamu akan sampai di Gereja," lanjutnya sambil melihat ke depan. Mengalihkan pandanganku kesana, aku bisa dengan jelas melihat sebuah bangunan besar dengan hiasan kaca berwarna di atas pintu masuknya.

Selang beberapa detik, Mayor Thomas memutar tubuhnya ke kiri dan mulai menerangkan jalan terakhir.

"Jika kamu menelusuri jalan itu, maka kamu akan sampai di Inn – tempat tinggalnya Ann. Sesuai dengan namanya, disana kamu bisa menginap… Tapi kamu sudah memiliki tempat tinggal, jadi sepertinya kamu tidak akan pernah menginap disana, haha," jelasnya, "Oh ya, kamu juga bisa membeli berbagai macam makanan dan minuman disana! Pada malam hari, banyak penduduk kota ini yang datang berkumpul disana. Hmm, suasananya bisa dibandingkan dengan Bar di kota besar sana."

BAR?!

"Apakah mereka menyediakan minuman beralkohol disana?" tanyaku penuh harap.

"Di Inn mereka hanya menyediakan Grape Liquor, tapi kamu juga bisa mendapatkan Wine dari Aja Winery," jawabnya sambil melirikku, "Nanti kita juga akan berkunjung kesana, jadi tahan dulu hasratmu itu."

Sekejap aku membeku, lalu aku menyadari ekspresiku yang sedang tersenyum lebar.

Sebenarnya aku sudah cukup umur, tapi karena Frederick selalu melarangku minum (karena katanya tidak baik untuk kesehatan), aku tidak pernah mencobanya. Kenapa tidak meminumnya secara diam-diam saja, katamu? Itu karena dia pasti bisa langsung mencium kebohonganku… apalagi dengan indra penciumannya yang luar biasa tajam itu.

...Tapi sekarang aku tinggal sendirian, jadi aku bisa melakukan apapun yang aku mau! HAHAHAHA!

"Ehm, iya, maaf," balasku sambil menutupi mulutku – mencoba untuk tidak tersenyum lagi. Mayor hanya tertawa melihatku. Ugh, sial.

"Sekarang, karena kamu sudah bertemu dengan Ann tadi… Bagaimana kalau kita ambil jalan menuju Gereja?" usul Mayor.

"Hm," gumamku dengan anggukan kecil.

"Baiklah kalau begitu. Ayo pergi," ajaknya. Aku pun kembali mengekor.

Bangunan itu menjadi semakin jelas di setiap langkah yang kuambil dan sedikit demi sedikit, aku bisa melihat detail dari bangunan itu. Susunan batu bata bisa terlihat di dindingnya, tapi tidak di keseluruhannya. Batu bata itu hanya terlihat di pojok kiri dan kanan bawah dinding itu dan di sekeliling pintu masuknya, sedangkan bagian yang lain dicat dengan warna cream. Pintunya terbuat dari kayu yang berwarna coklat gelap dan di atasnya terdapat kaca mozaik warna warni.

Di sebelah kiri Gereja itu terdapat kuburan yang tidak mungkin terlewat mata. Kelihatannya sudah lumayan banyak orang yang meninggal di kota ini. Aku mulai menghitung jumlah makam yang ada dan mendapatkan 15. Penasaran, aku pun membuka mulutku.

"Kapan terakhir kali ada orang yang meninggal disini?"

"Hah?" jawabnya refleks. Ia terlihat kaget dan bingung dengan pertanyaanku tadi.

"…Maaf, aku hanya penasaran, haha," balasku setengah tertawa gugup.

"Ahh, kamu belum tahu ya? Tanggal tepatnya kematian kakekmu…" katanya. Ia lalu berhenti, menghela nafas panjang, dan mendongakkan kepalanya sehingga ia bertatapan dengan langit.

"Kakekmu meninggal tanggal 9 Februari tiga tahun yang lalu. Ia meninggal dalam tidurnya, dan ditemukan tiga hari kemudian setelah warga kota ini merasa aneh atas ketidakberadaan kakekmu di kota selama beberapa hari itu…" ceritanya, "Kami mendobrak pintu rumah kakekmu dan mendapatinya sudah tak bernyawa di tempat tidurnya. Aku masih ingat jelas bagaimana suasana saat itu… Banyak tangisan dan doa yang diberikan."

Aku mendengarkan Mayor Thomas dengan seksama, bisa jadi informasi ini akan berguna di masa depan.

"Jack, kakekmu adalah orang yang baik. Tidak ada satupun dari warga kota ini yang tidak menyukai kakekmu – semua orang menyukainya. Aku yakin kamu juga sangat mencintainya, 'kan? Aku bisa melihat hal itu dari semua surat yang kamu tulis untuknya… Tidak mengetahui bahwa ia sudah tiada," lanjutnya, "Ini sudah sangat terlambat, tapi aku turut berduka atas kehilanganmu."

"Hmm," gumamku. Jujur saja, aku merasa sangat jijik mendengar perkataannya. Terlalu dramatis dan bahasanya benar-benar sinetron. Rasanya mau muntah. Yah, tapi apa boleh buat? Aku harus berbuat baik, jadi aku akan menerimanya. Mungkin setelah aku bertemu dengan Jack yang asli, aku akan menyampaikan salam duka Mayor Thomas kepadanya.

"Maaf, aku telah membuat suasananya sedih," katanya, mengembalikan tatapannya kepadaku.

"Hahaha, tidak kok. Toh aku yang memulainya," balasku dengan tawa palsu.

"Kamu hebat, Jack… Masih bisa tertawa setelah mendengar cerita itu," balasnya. Aku terdiam.

I-ITU SARKASME 'KAN?! SIALAN! AKU LUPA SAMA SEKALI DENGAN MORAL!

"…Aku… sudah move on dari kematian kakekku, jadi…" balasku, mencoba memberikan alasan.

"Begitu kah..?" tanya Mayor Thomas, "Oh, mumpung kita disini, apa kamu mau melihat makam kakekmu? Mungkin ada yang mau kamu sampaikan, atau sebagainya…"

Aku langsung memalingkan wajahku.

HAHAHAHAHA! Memangnya apa yang bisa disampaikan ke orang yang sudah mati?!

Ya, pikiranku jahat. Mungkin bahkan sangat jahat untuk beberapa orang. Tapi moralku memang sangat rendah ketika aku dihadapkan dengan topik 'kematian'. Aku tidak mengerti kenapa orang-orang bersedih ketika kerabatnya meninggal. Aku tidak mengerti kenapa orang-orang mengucapkan 'Turut berduka cita' ketika kata-kata itu hanya sekedar kata yang pada ujungnya tak berarti. Bahkan ketika ayahku meninggal, satu-satunya perasaan yang ada di diriku adalah perasaan lega, dan aku pikir itu normal. Maksudku, ia tidak perlu menderita di dunia ini lagi, bukan? Tugasnya di dunia ini sudah selesai. Tidak perlu lagi mengkhawatirkan biaya hidup, pekerjaan, teman… Ia sudah bebas.
Menurutku mereka yang benar-benar menyayangi seseorang seharusnya lebih merasa senang ketika orang itu meninggal. Sedangkan mereka yang menangis… aku pikir mereka dibutakan oleh ego mereka sendiri. Mereka sedih karena mereka tidak mau ditinggalkan oleh orang yang mereka cintai di dunia yang kejam ini. Mereka ingin agar orang itu terus menanggung derita yang sama dengan mereka – mereka tidak mau menderita sendirian. Egois, bukan?

Dan lagi, "berbicara" kepada orang mati?! Kalau hal itu sangat mudah untuk dilakukan, untuk apa ada Medium dan paranormal? Berbicara kepada makam orang mati itu sama saja dengan berbicara kepada tembok. Kenapa aktivitas yang satu dianggap biasa dan yang satunya dianggap gila? Aku benar-benar tidak mengerti.

Setelah pikiran jahatku mereda, aku kembali menatap Mayor Thomas.

"Kurasa lebih baik kalau aku melakukan itu setelah tur ini selesai," jawabku, "Dengan begitu aku juga akan merasa lebih tenang karena tidak dikejar waktu."

"Aku mengerti," balasnya, "Baiklah, mari kita lanjutkan turnya."

"Hm," gumamku.

"Seperti yang bisa kamu lihat, ini adalah Gereja kota ini… Tidak banyak yang bisa kuterangkan, jadi kalau ada yang ingin ditanyakan, silahkan saja," katanya. Aku menggeleng.

"Lanjutkan saja ke tempat selanjutnya," balasku.

"Oke," jawabnya singkat, lalu memutar badannya ke kiri dan melanjutkan perjalanan.

Karena ini adalah kota kecil, maka jarak antara satu tempat ke tempat lain itu dekat. Baru beberapa langkah diambil, dan kami sudah berdiri di depan tujuan.

"Tempat ini adalah klinik. Kalau kamu sakit dan membutuhkan obat, pergilah ke tempat ini," terangnya singkat. Aku mengangguk dan ia membalikkan badannya ke jalan di depan klinik itu.

"Kalau kamu pergi ke arah sana, maka kamu akan sampai di Inn," terangnya lagi. Setelah menyelesaikan perkataannya, ia berjalan melewati klinik ke tempat di sebelahnya.

"Tempat ini adalah supermarket. Disini kamu bisa membeli bibit tanaman dan berbagai barang lainnya," terangnya, "Di kedua tempat ini – supermarket dan klinik, ada masing-masing satu kandidat nikah, tetapi aku pikir akan lebih baik kalau kamu menemui mereka sendiri nanti. Toh kamu akan ke Gereja juga, 'kan?"

"Mm," balasku tanpa semangat. Aku sudah mulai malas.

"Baik, ke tujuan selanjutnya," balas Mayor Thomas seraya melangkah ke depan.

Sekitar tiga detik kemudian, kami sampai di depan rumah orang.

"Ini adalah rumahku," katanya.

"Selamat pagi, Mayor Thomas."

"Oh! Selamat pagi, Ellen," balas yang dituju.

Aku mengikuti arah pandang Mayor Thomas dan mendapati seorang nenek di kursi goyang yang ditemani oleh dua orang bocah. Menyadari kehadiran kami, kedua bocah itu berseru.

"Selamat pagi, Mayor Thomas!"

"Selamat pagi juga, May, Stu," balasnya lagi.

Ketika Mayor menyadari mata mereka yang tertuju padaku, ia langsung mendorongku sehingga aku berdiri di sampingnya.

"Ini adalah Jack, cucu dari Tony yang akan mengambil alih lahan pertaniannya," katanya – mengenalkanku kepada tiga manusia itu.

"Salam kenal," sapaku.

"Cucu dari Tony ya… Namaku Ellen, salam kenal juga… Kakekmu adalah orang yang baik," sapa si nenek.

"Namaku Stu! Salam kenal!" sahut bocah yang laki-laki.

"Aku May… Salam kenal," sapa bocah yang perempuan.

"Jadi, yang mana yang cucunya Barley?" tanyaku dengan inisiatif tinggi.

"Tebak," jawab Mayor Thomas, "Omong-omong, yang satunya adalah cucu dari Ellen."

Aku berpikir keras.

Aku adalah mantan stalker dengan kemampuan investigasi tinggi! Aku tidak boleh salah!

Kembali kuingat wajah Barley, lalu mulai membandingkannya dengan bocah-bocah itu. Entah kenapa firasatku mengatakan kalau wajah dan aura Barley lebih cocok dengan May. Aku juga melihat posisi Stu yang berada lebih dekat ke Ellen dibanding posisi May, jadi aku merasa lumayan yakin dengan tebakanku.

"May?" tebakku.

"Benar sekali!" balas Mayor.

Aku mendengus bangga.

"Baiklah, sepertinya tidak ada yang bisa dijelaskan lagi… Mari kita lanjutkan," kata Mayor, "Kami pergi dulu."

"Iya, hati-hati di jalan," balas Ellen.

Setelah itu kami melewati perpustakaan; yang sudah tidak perlu dijelaskan lagi dan rumah seorang kandidat nikah; yang juga tidak perlu dijelaskan. Sampai akhirnya, kami sampai di tujuan terakhir.

"Ini adalah Aja Winery-"

Blam.

Aku langsung memasuki tempat itu sebelum Mayor Thomas bisa menyelesaikan penjelasannya.

"Oh, selamat datang," sahut seorang wanita, "Hm? Kamu pasti petani baru yang mengambil alih lahan pertanian sebelah ya? Tempat itu sudah terlantar untuk bertahun-tahun, jadi aku harap kamu bisa mengembalikan kondisinya menjadi baik seperti dulu. Jika kamu bisa mengelola lahan itu dengan baik, aku yakin tempat itu bisa menjadi aset yang sangat menguntungkan! Aku masih ingat jelas tentang fakta bahwa kakekmu adalah petani yang baik – walaupun ia sudah sangat tua. Apa? Darimana aku tahu kalau kamu adalah cucu dari pemilik lama lahan tersebut? Hahaha, tentu saja aku mengetahui hal itu! Aku selalu up-to-date dengan semua gosip di kota ini, jadi aku tidak akan melewatkan informasi baru apapun. Eh? Kenapa kamu memasang wajah seperti itu? Apa kamu sakit? …Kenapa kamu menghela nafas panjang seperti itu? Apakah ada yang salah? Tidak ada? Oh, syukurlah! Kalau begitu-"

Blam.

Penyelamatku – Mayor Thomas, telah datang. Siapa sangka sang pemilik Winery akan berbicara panjang lebar seperti itu? Kalau saja identitasku ini belum diubah menjadi 'Jack', aku pasti sudah membungkam mulutnya dan memaksanya diam.

"Jack, bersabarlah sedikit. Wine-nya tidak akan kemana-mana…" kata Mayor Thomas.

"Selamat pagi, Mayor Thomas! Anda datang bersama Jack?" tanyanya.

"Selamat pagi juga, Manna… dan ya, aku sedang mengajaknya tur keliling kota," jawabnya, "Dari tadi ia sangat antusias ingin meminum Wine dari sini."

"Hmm? Benarkah begitu? Ahaha! Kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya sang penjual Wine yang bernama Manna itu.

Apa ia tidak menyadari kecerewetannnya?

"Oke! Kalau begitu aku akan memberikan satu Wine gratis untukmu!" lanjutnya seraya mengambil sebotol Wine dari lemari. Aku agak kecewa melihat botol Wine yang berbentuk seperti toples. Sepertinya volumenya hanya kurang lebih 500 mililiter. Tapi tidak ada gunanya juga mengeluh, toh yang penting rasanya.

Aku menerima botol Wine itu dan langsung meminumnya di tempat.

"Bagaimana? Enak?" tanya Manna.

ENAAAAAAAAAAAAK!

Aku mengangguk.

"Ini pertama kalinya aku merasakan Wine, jadi menurutku ini adalah first impression yang sangat bagus. Aku benar-benar menyukainya. Sepertinya aku akan sering datang kesini," jawabku dengan profesional.

"Baguslah kalau begitu!" balasnya, "Tapi aku beritahu dulu – harga sebotol Wine adalah 300G! Tidak murah, lho. Jadi bekerja keraslah agar kamu bisa membeli Wine lagi, haha!"

300G? Ugh, lumayan mahal juga...

"Haha, aku akan berusaha," balasku.

"Oke, kalau begitu tur ini selesai. Aku sarankan kamu pergi membeli bibit di Supermarket terlebih dahulu," kata Mayor.

"Baik, akan kulakukan itu," jawabku berbohong.

"Kalau begitu, aku pamit dulu ya," katanya sambil menuju keluar.

"Ah, aku pamit juga," sambungku mengikuti Mayor.

"Datang lagi ya~" balas Manna.

Dengan begitu, akhirnya aku bisa kembali tidur…

Tapi entah kenapa firasatku buruk…?

-Chapter 3 : End-


Author's Note :

Maaf delay sehari (_ _)
Niatnya cuma 2000 words lebih dikit tapi ternyata ga cukup ngemuat semuanya :'D
Tapi tetep deadline seminggu belum lewat, toh?
Semoga chapter ini menghibur.