Chapter 4 : Turning Point


Berjalan keluar, aku melihat Mayor menungguku di luar Winery. Aku memandangnya kesal.

Ada apa lagi?

"Maaf, Jack. Ternyata Blacksmithnya ketinggalan, tehepero-" katanya.

"Haaah?" balasku.

"Itu Blacksmith kota ini. Disana kamu bisa meng-upgrade alat-alat pertanianmu," terangnya santai sambil menunjuk bangunan yang berada di sebelah Winery.

"Oh," balasku singkat.

"Ya sudah, itu saja. Selamat memulai kehidupan petanimu!" katanya, lalu menjauh pergi.

Tunggu, Blacksmith? BLACKSMITH?! Di zaman modern ini masih ada yang namanya Blacksmith?

Karena aku tertarik, aku langsung mengunjungi tempat itu. Di pikiranku tergambar berbagai senjata dan perisai yang menghiasi interior bangunan tersebut. Tentu saja, aku tidak akan berharap terlalu tinggi karena ini adalah dunia nyata yang tidak dihuni oleh monster dan sebagainya.

Pintu masuk kubuka, dan sekejap impianku hancur.

Tidak ada apa-apa disini. Tidak ada perlengkapan bertarung, tidak ada perlengkapan bertani, dan bahkan aku tidak bisa melihat adanya seorang Blacksmith disini – hanya ada seorang kakek-kakek sejenis Barley dan seorang… er, tukang listrik? Atau tukang ledeng? Entahlah, pakaiannya memberikan kesan itu.

Aku memutuskan untuk bertanya kepada salah satu orang disana tentang keberadaan Blacksmithnya.

Karena malas berbicara dengan tukang, aku menghampiri sang kakek.

"Permisi," sapaku.

"Apa?" balasnya kasar, "Oh. Orang baru?"

"Iya, aku Jack. Petani baru di lahan sebelah," jawabku, "Salam kenal."

"Hm, aku Saibara, Blacksmith kota ini," balasnya.

Aku memindai tubuh kakek itu. Susah untuk menilainya karena bajunya sangat tertutup, tapi aku bisa melihat kalau kakek ini dan Barley berada dalam level yang berbeda. Walau terlihat seumuran, Barley lebih terlihat tua renta karena punggungnya sudah membungkuk. Satu-satunya hal yang membuat kakek ini tua adalah ubannya dan keriputnya… oh, dan dia botak di atas.

Apa mungkin kakek ini berotot di balik pakaiannya itu..?

"Jadi, urusanmu apa disini?" tanyanya.

"Eh… Aku belum pernah melihat Blacksmith sebelumnya, jadi ketika Mayor Thomas memberitahuku tentang Blacksmith ini, aku jadi penasaran," jawabku sejujur-jujurnya.

"Kalau begitu aku akan bekerja, jangan ganggu aku," balasnya, like a boss.

Aku suka kepribadian kakek ini, mengingatkanku pada diriku sendiri.

Aku mengalihkan pandanganku ke tukang bertopi yang dari tadi hanya mondar-mandir seperti orang kurang kerjaan. Aku pun memutuskan untuk memperkenalkan diriku kepadanya selagi aku disini.

"Halo," sapaku sok ramah.

Orang itu membalikkan kepalanya dan melihatku.

"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," katanya, "Oh, kamu pemilik baru pertanian sebelah ya? Selamat datang di kota antah berantah ini. Namaku Gray."

"Jack. Salam kenal," balasku.

Setelah berkata demikian, aku mengobservasi figur orang itu dengan lebih seksama. Ia mengenakan sebuah jumpsuit berwarna beige dengan sebuah ikat pinggang. Ada total tujuh kantong di jumpsuit tersebut… Kantong sebanyak itu, kemungkinan besar untuk menaruh alat-alat kerja, 'kan? Topi yang ia gunakan juga benar-benar jelek. Desainnya kuno dan ada tulisan 'UMA' disana... topi itu terlihat seperti jenis topi yang pernah tenar pada tahun 90'an. (A/N : Refer ke topi Phoenix Suns)

"…Aku akan membuat kakek tua itu memujiku, dengan apapun juga!" gerutunya kecil.

Aku menurunkan mataku agar aku bisa melihat mukanya.

'Membuat kakek tua itu memujiku'..? Apa dia tipe orang yang suka mencari perhatian? Tapi sepertinya ada yang aneh… ia bilang 'memuji'…

Melihat ekspresi bingungku, ia melanjutkan.

"Tak peduli seberapa besar usahaku, kakekku tidak pernah memuji apapun yang kubuat atau lakukan!"

'Kakekku'…? Oh, jadi ini cucunya Saibara…

"Apakah kamu seorang Blacksmith juga?" tanyaku.

"Murid," jawabnya singkat.

Sesuai dugaan.

"Hoh…" balasku.

Lalu aku harus berkata apa? Hmm… Kalau seseorang mengeluhkan suatu masalah ke orang lain, maka orang lain itu seharusnya memberikan simpati, bukan? Baiklah, akan kucoba.

"Aku turut bersimpati," sambungku.

Tunggu, apakah itu hal yang tepat untuk dikatakan?

Sepertinya tidak…

Suasana hening sesaat.

"Heh, kamu orang yang aneh," balasnya, sedikit tertawa.

Cih, padahal sendirinya curhat gak jelas ke orang yang baru dikenal.

Eh, sebentar… Dia murid Blacksmith?

"Tunggu, jadi kamu bukan tukang listrik?" tanyaku kaget.

"Ha?" tanyanya. Wajahnya terlihat benar-benar kebingungan, tetapi aku juga bisa melihat rasa tersinggung dari penekanan nada suaranya.

Sial. Keceplosan.

"Maaf, abaikan saja," balasku.

Ia membalasku dengan tatapan negatif, lalu berdeham seraya membuangku dari pandangannya.

"Aku akan melanjutkan kerjaku sekarang," katanya.

"Baiklah…" balasku.

Tanpa membuka mulutnya lagi, ia kembali mondar-mandir layaknya seorang NPC di game. Aku pun membalikkan badanku dan pergi keluar.

Pagi telah berubah menjadi siang dan kota ini mulai meramai. Kesunyian kota itu mulai diisi oleh suara para warga yang berbincang dengan sesamanya dan suara buka-tutup pintu yang entah kenapa terdengar kencang sekali. Sepertinya aku harus mulai bekerja, tapi…

"Hoahm…"

Aku menguap.

Baik, waktunya tidur siang!

Dengan resolusi itu, aku pun mengambil langkah pulang. Lagipula aku tidak akan bisa bekerja dengan efektif kalau aku mengantuk, bukan? Istirahat itu juga bagian dari pekerjaan.

Sesampainya di rumah, aku langsung tidur.

Ahh… Indahnya hidup.

…tok tok!

"…Haaaah…?" keluhku.

TOK TOK TOK!

Aku melihat jam dengan mataku yang masih setengah tertutup. Kelihatannya aku baru tidur selama 2 jam.

TOK TOK TOK TOK TOK!

Badanku kugulingkan sehingga menghadap tembok, setelah itu aku melipat bantal yang kutindihi untuk menutup telinga kiriku.

TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK!

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAGH!" seruku penuh kebencian.

Aku dengan sangat terpaksa bangkit dari ranjangku dan menghantam pintu rumahku sebelum membanting pintu itu terbuka. Mataku menatap tajam ke arah walikota yang tengah berdiri di depan rumahku.

"Oh, Mayor. Untuk apa datang kesini lagi…?" kataku dengan nada mengancam.

"Kamu belum membeli bibit di Supermarket, Jack?" tanyanya, tanpa menunjukkan rasa goyah sedikitpun.

"Belum, kenapa?" tanyaku kembali. Aku tidak bisa mengontrol emosiku. Yah, seperti itulah efek bangun tidur secara terpaksa.

"Sudah kuduga. Aku membelikan beberapa bibit untukmu karena aku tahu kamu pasti terlalu malas untuk membelinya," jawab sang Mayor dengan tangan terulur – menyerahkan tiga kantong biji kepadaku.

"Tch," balasku kasar seraya merebut kantong-kantong itu dari tangannya, "Itu saja, 'kan?"

"Ada satu hal lagi yang sepertinya lupa kuberitahu…" balasnya.

"Apa lagi?" tanyaku.

"Kalau sampai akhir dari tahun pertamamu disini kamu tidak bisa membuat semua warga kota ini menyukaimu, kamu akan ditendang dari kota ini," jawabnya tersenyum, "Jadi sebaiknya kamu terus menjaga image orang baikmu itu, mengerti?"

Aku tidak menjawab.

Ah… ternyata seorang walikota pendek berkumis ini juga memiliki sisi gelap…

"Jadi, apa jawabanmu, Jack?" tanyanya kembali.

"…Aku akan berusaha," jawabku, kehilangan kekuatan.

"Bagus, bagus. Oh ya, aku ingin melihat lahanmu yang sudah ditanami bibit-bibit tanaman ketika aku kembali kesini. Aku mungkin akan kembali dalam waktu setengah jam, jadi lebih baik kamu mulai bekerja dari sekarang," katanya jahat.

"Iya, iya," balasku setengah hati.

"Dan sebelum aku lupa," lanjutnya, "Kamu berhutang kepadaku sebanyak 1000G."

"APA?!" seruku tidak percaya.

1000G untuk 3 kantong biji? Yang benar saja!

"Begini, aku menghabiskan total 470G untuk ketiga kantong biji itu… Ah, anggap saja 500G. Lalu ada ongkos jalan dan usaha sebesar 500G," balasnya.

"Ongkos jalan dan usaha 500G?! Gila!" protesku.

Dengan uang sebanyak itu aku bisa membeli sebotol wine! Dengan tambahan 100G aku bisa membeli dua!

"Kalau saja tadi kamu langsung pergi membeli bibit di Supermarket, aku akan memberikan mereka secara cuma-cuma… tapi nyatanya kamu terlalu malas untuk hal itu dan malah bertingkah seperti parasit kota," balasnya kalem.

"Kalau aku lelah, mana bisa aku bekerja?! Aku tidur siang terlebih dahulu untuk mengisi stamina!" balasku beralasan.

"Jangan berkelit. Untuk pergi dari Aja Winery menuju Supermarket hanya membutuhkan 2 menit, apakah kamu sebegitu lemahnya sehingga tidak kuat berjalan santai untuk beberapa menit saja?" tanyanya menyerang.

"T-Tapi setelah kesana aku juga membutuhkan stamina untuk memikirkan harga bibit sehingga sesuai dengan uang yang kumiliki sekarang, lalu ada juga stamina untuk berjalan pulang, …" balasku memaksa.

"Padahal tur tadi tidak memakan waktu dan stamina terlalu banyak, dasar lemah," balasnya kembali.

"Ke-kejadian di Hot Spring tadi pagi sangat melelahkan!" balasku, tidak mau kalah.

"Oh? Tapi setelah kejadian itu berlalu staminamu telah diisi kembali dengan mandi di Hot Spring, 'kan?" balasnya lagi.

"Itu… Er…" balasku, kehabisan alasan.

"Checkmate."

Berkata demikian, Mayor pun mengakhiri debat. Aku menggerutu kecil.

"Terserahlah," balasku.

"Apa kamu akan tetap bersikap seperti itu kepadaku? Aku bisa menendangmnu dari kota ini kapan saja, lho," ancamnya.

"…Lalu peduliku apa? Aku juga terpaksa datang ke kota ini," balasku ketus.

"Haha, baiklah… Aku pergi dulu sekarang," balasnya sambil berjalan meninggalkan area pertanian.

Sebelum ia benar-benar menghilang dari pandanganku, ia menolehkan kepalanya padaku.

"Tapi kalau aku jadi kamu, aku tidak akan mengubar kalau aku terpaksa datang ke kota ini…" katanya, "Karena peranmu sekarang adalah seorang cucu petani yang datang kemari karena khawatir akan kakeknya yang sudah lama tidak membalas suratmu… bukan begitu, Luke?"

?!

Aku tersentak kaget. Mataku melebar memperhatikan sang walikota yang tersenyum sinis dan meninggalkanku tergantung untuk kelanjutan cerita yang seharusnya ia jelaskan. Entah kenapa aku tidak mencoba untuk menghentikannya dan memaksanya untuk menjawab keingintahuanku, tapi satu hal yang bisa kupastikan – sang Mayor telah mengetahui identitasku yang sebenarnya.

Setelah menenangkan diriku, aku mengingat ancaman dari Mayor Thomas tentang bagaimana aku harus sudah menanam habisi ketiga kantong bibit yang ia beri sebelum ia kembali kesini.

Benar juga... Artinya ia akan kembali nanti…

Baguslah, artinya aku tidak perlu capek-capek pergi mengunjungi rumahnya demi mendapat penjelasan.

Aku membawa ketiga kantong bibit itu ke depan mataku.

Turnip, Potato, Cucumber… begitulah label di masing-masing dari tiga kantong tersebut. Instruksi di belakangnya mengatakan bahwa satu kantong bibit itu memiliki jatah untuk tanah garapan seluas 3x3, sehingga dengan kata lain, aku bisa mendapatkan 9 hasil panen untuk satu kantong ini. Cukup menguntungkan juga, haha.

Tadi katanya apa? Tiga puluh menit lagi? Ugh, baiklah… waktunya bekerja.

Kuambil cangkul dan penyiram dari peti kayu yang terletak relatif dekat dengan pintu rumahku. Tapi walau kubilang relatif dekat…

Srrrk, srrk.

Peti tersebut kutarik sehingga menjadi lebih dekat dengan pintu.

Yap, sempurna.

Setelah itu, aku mulai bekerja.

Karena sudah ada satu area garapan 3x3 dari tutorial kemarin (yang untungnya masih utuh), aku hanya perlu mencangkul 2 area 3x3 lagi.

Pekerjaan tersebut cukup mudah, tapi melelahkan karena staminaku rendah. Mungkin hal itu disebabkan oleh kebiasaanku berada di depan komputer 18 jam sehari... Tapi itu merupakan sebuah keharusan untuk seorang stalker bayaran, jadi bukankah bisa dibilang kalau aku bekerja selama 18 jam setiap harinya?

Aku mengangguk setuju dengan pendapatku sendiri.

Beberapa menit berlalu, dan tiga area 3x3 berjejer cukup rapi di hadapanku. Aku mengambil kantong bibit lobak (Turnip) dan mulai menanam hingga tidak ada satupun bibit yang tersisa di kantong itu. Hal yang sama kulakukan kepada bibit kentang (Potato) dan timun (Cucumber).

Tahap terakhir, aku hanya perlu menyiram semua bibit-bibit itu. Penyiram di tanganku sudah kuisi oleh air dari kolam, jadi aku sudah bisa mulai menyiram.

Kuperhatikan jumlah petak yang harus kusiram, dan jiwa malasku berkobar.

Persetan dengan menyiram mereka satu-satu, aku guyur saja tiga-tiga sekaligus!

Syuur! Syuur! Syuur!

Baris pertama dari ketiga area 3x3 itupun tersiram dengan baik.

Hmm, lalu bagaimana dengan yang di tengah?

Aku meluruskan tanganku jauh-jauh agar penyiramnya bisa mencapai bebibitan (?) yang ada di barisan tengah.

Syuur! …Syu…ur…

Oh, airnya habis. Sepertinya cara menyiram begini mengeluarkan lebih banyak air.

Tapi siapa yang peduli? Haha.

Kembali kuisi penyiram tersebut di kolam tidak ber-ikan itu. Hm, kolamnya cukup jauh juga… Aku akan mencari solusi untuk ini nanti.

Dengan penyiram yang sudah terisi penuh, aku melanjutkan tugas siram-menyiramku.

Baiklah! Semua tugasku sudah selesai!

Aku menyandarkan peralatanku di tembok sebelah rumahku. Karena aku akan sering menggunakan alat-alat itu, lebih baik kalau aku taruh mereka di tempat yang mudah dijangkau.

Sebenarnya aku hanya malas, sih.

Masih belum ada tanda dari walikota cebol itu, jadi kuputuskan untuk kembali tidur. Pakaianku sudah ternodai dari pekerjaan ladang, jadi aku memutuskan untuk melanjutkan tidur siangku di bawah pohon apel yang tertanam di sebelah kolam ikan tak ber-ikan tadi.

Oh iya, omong-omong soal kolam…

Sebuah gentong kayu besar muncul di kepalaku. Dengan benda itu, aku tidak perlu bolak-balik untuk mengisi penyiramku. Gentong dapat menyimpan air dalam jumlah besar, dan bisa dipindahkan kemana saja sesuka hati dalam kondisi kosong. Mungkin aku bisa menempatkannya di tempat strategis sebelum kuisi dengan air… tapi kalau begitu, aku harus bolak-balik dari kolam ke gentong?

Berbagai kemungkinan memenuhi kepalaku, hingga akhirnya aku memilih dua opsi utama.

Pertama, aku meminta Gotz untuk membangun sebuah gentong kayu beroda, sehingga aku tidak perlu bolak-balik. Berikut dengan sebuah ember besar agar aku bisa mengisi gentong tersebut dengan cepat.

Kedua, aku mengajak Stu dan May bermain 'Mengisi Gentong Besar' dimana bocah yang bisa mengisi gentong itu lebih banyak menang. Opsi ini memungkinkanku untuk mendapat reputasi baik di kalangan bocah-bocah itu. Two birds in one stone.

Aku kembali terhanyut dalam pikiranku, lalu sebuah solusi menampakkan dirinya.

Kedua opsi tersebut bisa digabung, jadi kenapa tidak? Aku akan meminta Gotz untuk membuatkanku sebuah gentong kayu beroda dan dua buah ember besar, lalu aku bisa dengan mudahnya menempatkan gentong tersebut di tempat yang strategis… Setelah itu, akan kuajak May dan Stu untuk 'bermain' dan mengisi gentong tersebut. Kalau mereka menolak, aku bisa mengisi gentong itu sendiri dengan cepat dan hemat energi menggunakan kedua ember besar yang telah dibuatkan Gotz! Hahaha, aku jenius!

Tanpa adanya hal yang perlu dipikirkan lagi, aku menutup mataku.

A-Aku tidak bisa tidur…

Harus kuakui, dari dulu memang sulit bagiku untuk tidur di tempat terbuka seperti ini. Alasannya? Aku sendiri tidak tahu. Mungkin bawaan dari lahir.

Jadi, apakah aku harus mandi lagi…? Padahal jam 5 saja belum…

...

Ah! Untuk apa sih mandi siang-siang begini? Aku tidur telanjang saja!

Aku masuk ke dalam rumah dan menanggalkan pakaianku. Dengan memakai hanya celana dalam, aku menaiki kasurku dan memendam diriku dalam selimut.

Karena disini tidak ada komputer, aku jadi banyak tidur. Padahal dulu aku hanya tidur 4 sampai 5 jam saja dalam sehari. Tidur terlalu banyak dan terlalu sedikit itu sama-sama tidak baik, sih…

Rasanya jadi tidak enak untuk tidur lagi.

...Tapi tiduran di ranjang ini rasanya enak sekali.

Baiklah, aku akan melakukan hal-hal produktif dalam posisi tiduran ini!

Kembali kufokuskan pikiranku.

Masalah pertama adalah tentang Mayor Thomas yang mengetahui identitas asliku. Tentu saja, aku harus menanyakan hal tersebut lebih lanjut. Tidak ada cerita tentang 'aku datang ke Mineral Town karena khawatir tentang kakekku' di sontekanku, jadi aku yakin kalau ia mengetahui lebih banyak daripadaku. Tapi informasi seperti itu… ia dapatkan dari mana? Apakah mungkin ia juga mengetahui tentang apa yang terjadi dalam jangka waktu tujuh hari dimana ingatanku hilang? ...Ada banyak yang harus kutanyakan kepadanya, mungkin aku harus membuat daftar pertanyaan.

Masalah kedua adalah tentang bagaimana aku akan ditendang dari kota ini jika aku tidak dapat membuat semua orang menyukaiku dalam satu tahun. Kondisi itu benar-benar tidak adil! Aku bukan seorang extravert, jadi misi itu sangat sulit untukku. Tentu saja, aku bisa menyuap afeksi mereka dengan memberikan berbagai hadiah… tapi aku tidak mau membuang-buang uangku hanya untuk disukai mereka! Apa menyapa mereka setiap hari di jalan cukup…? Ugh, sudahlah. Nanti juga akan ada banyak kesempatan.

Masalah ketiga adalah…

Kesadaranku mulai melenyap. Aku tertidur lagi.

Masalah ketiga, aku harus memperbaiki kebiasaan tidurku ini.

-Chapter 4 : End-


Author's Note :

Maaf delay.

Kemarin saya diabduksi keluarga saya buat liburan, jadi saya sama sekali tidak menyentuh fic ini selama 6 hari. Ini ngebuatnya rada ngebut, jadi maaf kalau jelek.

Oh ya, bagi yang tidak tahu 'tehepero' itu apa, silahkan search di gugel. Unyu loh.

Mafunyan: terima kasih~ Aku restui kok kalo kamu mau minang si Luke- /PLS
Chapter habis ini bakal ada sudut pandang orang lain kok. Awalnya mau dimasukin sini, tapi eh ternyata dari sudut pandangnya Luke seorang udah melebihi target 2000 words (?) jadi gak jadi deh :'D
Makasih banyak udah ngomentarin setiap chapter yang ada (_ _)7