Chapter 5 : Thomas
Aku adalah Thomas, walikota Mineral Town.
Kota ini hanyalah sebuah kota kecil, sehingga mengaturnya bukanlah hal yang rumit. Semua warga bisa berbaur dengan baik satu sama lain dan tidak pernah terjadi masalah yang terlalu besar.
…Tapi sepertinya hal itu akan berubah.
Hari ini aku menerima sebuah surat – selembar kertas dari seseorang yang tidak kukenal.
…
Untuk walikota Mineral Town,
Akan ada seseorang yang datang mengunjungi kota anda.
Mohon sambut kedatangannya dengan baik.
Kemungkinan besar ia akan mengaku sebagai "Jack" – cucu dari Tony, dan ia akan bercerita tentang bagaimana kakeknya berhenti membalas surat-suratnya sehingga ia menjadi khawatir dan pergi mengunjunginya di Mineral Town.
Jika memang benar begitu, tolong berpura-puralah kalau anda mempercayainya.
Nama sebenarnya adalah Luke Osborne. Dia adalah orang yang cukup berbahaya dalam berbagai aspek. Di surat ini, saya akan memberitahu anda tentangnya untuk keunggulan anda dalam mengatasinya.
Ia adalah pemalas profesional. Ia bisa memikirkan segala cara yang mungkin untuk mendukung sifat malasnya. Sebagai contoh, kamarnya memiliki sistem lampu yang akan menyala dan mati dengan tepukan tangan, tapi karena ia terlalu malas bertepuk tangan, ia mengunduh efek suara tepukan tangan di komputernya lalu memprogramnnya sehingga suara itu akan diputar ketika ia menekan tombol 'S' dan '~' di keyboardnya.
Setelah itu, ia juga anti-sosial. Jujur saja, ia tidak memiliki teman satupun, tetapi memiliki satu grup musuh. Hal itu disebabkan oleh kepribadiannya yang kasar dan suka memprovokasi orang. Walaupun begitu, kondisi fisiknya buruk. Ia mengurung dirinya di kamar 23 jam sehari dan menghabiskan kebanyakan waktunya di depan komputer. Bisa dipastikan kalau kekuatan dan staminanya itu rendah. Ia hanya mampu menyerang orang-orang dengan kemampuan stalking dan blackmailnya. Tentu saja, hal itu di dukung dengan adanya internet dan kemampuan hackingnya yang bagus… jadi, karena di kota anda tidak ada yang namanya internet, tingkat kebahayaannya akan berkurang sebanyak kira-kira 55 persen.
Satu hal penting yang perlu anda ingat; ia memiliki fobia anjing. Jika dihadapkan dengan seekor anjing, ia akan langsung kabur. Jika dikejar seekor anjing, ia mungkin bisa pingsan. Gunakanlah informasi ini untuk mengontrolnya.
Baik, sekarang saya akan membahas hal-hal yang lebih penting.
Saya yakin anda bertanya-tanya mengapa Luke berpura-pura menjadi Jack. Saya juga tidak terlalu paham detailnya, tapi yang pasti saya tahu…
Jack adalah salah satu musuh Luke – salah satu musuh terbesarnya.
Seminggu yang lalu, Jack mulai mengadakan pertemuan dengan Luke setiap dua hari sekali dan pada hari-hari tersebut, Luke selalu pulang dengan berbagai luka baru. Hal tersebut sudah biasa, tapi yang aneh adalah fakta bahwa ia tidak mencoba menyerangnya kembali; seakan-akan ia hanya pasrah pada takdirnya.
Luke adalah orang yang agresif. Ia selalu mencari cara untuk melumpuhkan lawannya, baik itu dengan mengancam, meretas, menipu, ataupun dengan menyewa tukang pukul untuk menghabisi mereka. Maka dari itu, rasanya sangat aneh saat ia tidak mengambil aksi apapun.
Saya telah mencoba menyelidiki masalah ini, dan sepertinya Jack lah yang menyuruh Luke untuk pergi ke Mineral Town.
Untuk saat ini, hanya itu saja yang saya ketahui. Tentu saja, saya akan menyelidiki hal ini dengan lebih lanjut dan saya akan kembali melapor kepada anda. Jika saya telah memiliki waktu senggang, saya sendiri akan berkunjung ke Mineral Town.
Selama saya belum bisa kesana, tolong jaga Luke. Kalau bisa, saya mohon agar anda mencoba untuk mengubah sifat-sifat jeleknya. Hal itu akan sangat membantu.
Salam hormat,
F
P.s. Ia juga terkadang bersikap agak kekanak-kanakan karena ia adalah salah satu korban MKKB.
…
Aku mencerna kata demi kata dari surat itu dengan hati-hati. Perasaan khawatir dan gembira bercampur dalam diriku. Memang salah untuk berbahagia dalam situasi ini, tetapi sebuah kota tanpa masalah itu cukup membosankan. Terlebih lagi, mencoba mengatasi masalah ini akan membuatku lebih merasa seperti seorang walikota yang sesungguhnya!
Mari kita lihat... Luke terdengar seperti tokoh antagonis yang penuh dengan ego dan hanya memikirkan tentang dirinya sendiri. Tipikal sekali.
Aku akan mengingat segala informasi tentangnya, lalu menggunakan mereka untuk menjinakkannya. Setelah ia tunduk, aku akan membuatnya bekerja keras untuk melepaskan sifat-sifat jeleknya.
Baiklah, hal itu terdengar seperti sebuah rencana yang bagus. Sekarang aku hanya perlu menunggu kedatangan masalah itu sendiri…
…
…
…
Selang sehari setelah surat itu datang, aku menemukan pendatang baru itu – berdiri memandangi lahan pertanian yang terlantar.
Ia tidak terlihat seperti seseorang yang jahat, melainkan ia lebih terlihat seperti seorang karakter numpang lewat di sebuah cerita. Rambutnya coklat biasa dan ia hanya memakai kaos hitam polos dengan celana jeans panjang. Karena ia membelakangiku, aku tidak dapat melihat wajahnya.
"HOIII!" seruku, mengambil perhatiannya. Waktunya berpura-pura bodoh.
Orang itu langsung melompat sambil mengeluarkan sebuah suara tergagap, lalu menolehkan wajahnya kepadaku.
Tidak buruk juga. Berdasarkan penilaianku, mukanya diatas rata-rata. Matanya berwarna biru Watchet – warna yang mirip dengan biru langit, struktur wajahnya lumayan oke. Jika saja ia tidak memiliki kantung mata, mungkin ia akan terlihat keren.
"Kamu ngapain disini, hah?!" lanjutku mendalami peran. Bukannya takut, ia malah terlihat seperti menahan tawanya.
"Aku Jack…?" jawabnya dengan nada tidak pasti. Apakah ia mengira orang-orang bisa dibodohi dengan jawaban tidak jelas begitu?
"Peduliku apa dengan namamu? Tujuanmu apa kesini? Mau digentayangin pemiliknya yang baru saja meninggal?!" begitu ancamku untuk menakut-nakutinya. Tapi aksiku justru memberikan efek sebaliknya dan ia kembali tersenyum aneh menahan tawa. Jangan-jangan ia masokis?
"Ehhh… Aku disini untuk mengambil alih lahan ini..?" balasnya ragu-ragu, "Aku cucu dari pemilik lahan ini."
Walau awalannya tidak meyakinkan, pada akhirnya dia bisa menyuarakan kebohongannya dengan cukup natural. Kudos untuk itu.
Seperti yang diminta dalam surat, aku berpura-pura mempercayainya… dan dia membalasku dengan sebuah tatapan yang dipenuhi oleh cemooh.
"…Hmm, mungkin lebih baik bila aku berbicara dengan Mayor Thomas. Apakah anda tahu lokasinya?" tanyanya. Nada dan air mukanya dengan jelas menunjukkan kalau ia memandangku rendah.
"Haha, kamu sedang berbicara dengannya sekarang ini," jawabku, menyembunyikan kemarahanku dengan sebuah senyuman antipati.
Ia terlihat sangat terkejut mendengarnya. Sangat terkejut sampai hal itu menyakitkan.
"O-Oh… Hahaha… Seharusnya aku sudah mengetahuinya…" balas anak tidak tahu diri itu. Aku mengumpulkan ketenanganku dan mulai mengajarinya cara bertani.
Heh, ternyata ia memang agak kekanak-kanakan. Aku berani bertaruh kalau matanya langsung bersinar ketika aku menyinggung tentang rumah barunya. Kelakuannya benar-benar terkesan seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru dari orang tuanya.
Dari hasil observasiku, ia mampu melakukan pekerjaan ladang dengan cukup baik. Sepertinya staminanya tidak serendah yang kubayangkan, tapi ia telah menguap setidaknya tiga kali dari awal tutorial ini. Apa penjelasanku terlalu membosankan? Atau pekerjaan ini yang membosankan?
Aku menawarkan sebuah tur keliling kota kepadanya, tapi dengan alasan 'lelah' dan 'mengantuk', ia menolaknya , faktanya adalah ia baru saja sampai dari perjalanan yang memakan waktu hampir seharian… jadi mungkin ini salahku karena aku kurang sensitif…
Setelah meninggalkannya untuk istirahat, aku berpapasan dengan Zack.
"Oh, Zack! Kebetulan sekali! Apa kamu sedang sibuk?" tanyaku.
"Tidak, aku baru saja menyelesaikan urusanku. Ada apa?" balasnya.
"Pagi ini, cucu dari Tony telah datang dan akan mengambil alih lahan pertaniannya. Aku ingin kau menjelaskan basic tentang cara menjual barang kepadanya," terangku.
"Eh? Jadi ada warga baru di kota ini, ya…? Baiklah! Serahkan itu padaku!" balasnya semangat.
"Selain itu… Tolong kunjungi rumahku setelah kamu melakukannya," tambahku.
"Sip, sip!" sahutnya, "Aku pergi dulu!"
"Hati-hati di jalan," balasku mengakhiri percakapan. Baik, waktunya menyiapkan seranganku.
…
…
…
"Permisi…!" sahut Zack seraya memasuki rumahku.
"Selamat datang, Zack. Moodmu terlihat buruk, ada apa?" tanyaku penasaran.
Pasti Luke telah memulai aksi kejahatannya… begitu pikirku.
"Petani baru itu sangat mengesalkan! Aku datang dengan baik-baik, tapi ia malah membalasku dengan kasar dan tidak sopan! Bahkan dari awal pertemuanku dengannya, ia sudah terlihat sangat terganggu dengan kehadiranku disana dan tidak mau repot-repot menyembunyikan kekesalannya itu!" keluh Zack, "Karenanya, aku tidak jadi mengajari bocah sialan itu tentang cara menjual barang. Akan kutunggu waktu ketika ia menyesal dan mengemis kepadaku untuk mengajarinya!"
"Impresi pertamanya seburuk itu?" tanyaku bingung. Karena posisiku sebagai seorang walikota, mungkin Jack memutuskan untuk menjaga sikapnya… Artinya, aku memiliki kekuatan untuk menjinakkannya!
"Ya! Sebelum ia meminta ampun kepadaku, aku tidak mau berhubungan dengannya!" jawabnya marah.
"Baiklah…" balasku. Situasi ini juga bisa kujadikan sebuah peluang untuk digunakan di kemudian hari.
Tampak seperti menyadari sesuatu, Zack menunjuk ke arah 'senjata baruku'.
"Eh? Sejak kapan… Itu baru?" tanyanya kaget.
"Haha, ya… Aku mendapatkannya hari ini," jawabku.
"Dari tampilan luarnya terlihat cukup berbahaya…" balasnya.
"Jika digunakan dengan tepat maka ini bisa jadi benar-benar berbahaya.," balasku, dilanjutkan dengan tertawa kecil.
"Hooooh, begitukah?" kicaunya – langsung memahami perkataanku, "Targetnya siapa?"
Aku tersenyum lembut, lalu menjawab pertanyaannya.
"Tentu saja, targetnya adalah petani biadab itu."
…
…
…
Sehari berlalu.
Aku mendapatkan informasi baru tentang Luke: sisi antagonisnya akan terlihat ketika ia baru bangun tidur… dan ia tidak pandang bulu. Pertama kali aku melihatnya, jujur saja aku ketakutan setengah mati. Rasanya seperti melihat seorang iblis yang baru saja jatuh dari surga.
Informasi lainnya: Kemungkinan besar kalau ia adalah seorang Sadist. Kenapa aku bisa berpikir demikian? Karena setelah aku meminta maaf dengan penuh rasa takut, DIA TERLIHAT SANGAT PUAS DAN TERHIBUR! Aku yakin kalau ia sangat menikmati sosok menyedihkanku..!
Saat itu juga, aku bersumpah untuk tidak pernah lagi membiarkannya menginjak-injak harga diriku seperti itu.
Kali ini ia menerima ajakanku untuk melakukan tur keliling kota. Yah, kalaupun ia menolaknya lagi, aku berencana untuk menggunakan 'senjata' baruku itu.
Tujuan pertama adalah Hot Springs. Hari masih pagi, jadi Popuri dan Ann juga ada disini. Hanya untuk candaan belaka, aku memberitahu Luke kalau kedua perempuan itu masih single dan sebagainya. Bila rupanya ia adalah seorang pervert selain dari identitasnya sebagai seorang penjahat, aku akan melipat gandakan kekuatan dari 'senjata' yang kumiliki.
Popuri dan Ann memukulku. Tapi ini hanyalah sebuah pengorbanan kecil untuk menyelamatkan mereka dari sang masalah! …Oh? Kelihatannya Luke tidak mempedulikan sama sekali omonganku tadi. Harusnya aku sudah tahu kalau ia akan bersikap masa bodoh dengan itu – aku lupa kalau dia anti-sosial.
…
…PFT!
Setelah aku menyuruhnya mandi, ia berpikir kalau aku menyuruhnya untuk mandi di sungai!
HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!
Tentu saja, aku tidak bisa mengetawainya secara terang-terangan, jadi aku hanya memasang sebuah seringai yang menghina dan mengolok dengan sepenuh hati. Sayang, Luke tidak dapat melihat ekspresiku karena ia mengapung dengan muka di bawah.
Untuk sekarang, aku akan berpura-pura memberikan perhatian kepadanya seperti seorang walikota yang baik dan tidak memandang status dari warganya.
…
Ujung-ujungnya, aku ikut mandi di Hot Spring bersama Luke. Disana ia mulai bertanya tentang teknologi di kota ini. Ia terlihat cukup terkejut ketika aku mengatakan bahwa kota ini tidak mengenal HP dan jenis-jenis benda modern lainnya, namun ia mampu menenangkan dirinya setelah ia mengonfirmasi bahwa apa yang kukatakan itu benar adanya. Berita itu sepertinya berhasil merusak sebagian mentalnya, sih.
Selesai mandi, aku melanjutkan turnya. Entah kenapa perasaanku mengatakan kalau otaknya dipenuhi pikiran jahat setiap kali aku memperkenalkannya kepada para warga kota Mineral Town yang kita temui…
Tur diakhiri dengan acara coba Wine. Siapa sangka seorang bocah tengil tidak bermoral seperti dia tidak pernah mencoba Wine sebelumnya? Sejak pertama kali aku menyinggung soal minuman beralkohol, tujuan tur bagi anak itu berubah dari 'mengenal Mineral Town' menjadi 'mencoba Wine'. Dasar gila.
Keluar dari Aja Winery, aku terhenyak.
Kuputar kepalaku ke kanan, dan aku menyadari bahwa aku telah melupakan eksistensi Blacksmith di kota ini.
Baik, waktunya minta maaf ke Luke.
Tunggu.
Kalau Luke adalah seorang pemalas, aku yakin dia pasti mau cepat-cepat balik ke rumahnya. Mungkin sebaiknya aku memberikan penjelasan singkat tentang Blacksmith saja agar tidak membuang-buang waktunya. Kenapa aku baik begini? Tentu saja itu karena aku telah berniat untuk mengerjainya nanti.
Tepat setelah aku menyelesaikan jalur pikirku, Luke keluar dari Winery.
Aku mengeluarkan jurus tehepero-ku. Tapi sepertinya jurus itu malah menambah minyak pada api kemarahannya. Mengingat kembali sumpahku untuk tidak menunjukkan rasa takut ketika berhadapan dengan Luke, aku memberikan penjelasan singkat tentang Blacksmith dengan tenang.
Setelah mendengar respon dari Luke yang hanya terdiri dari 'Oh', aku pergi meninggalkannya. Dari kejauhan, aku mengintip ke belakang untuk melihat keputusan dari Luke – apakah ia akan mengunjungi Blacksmith tersebut atau langsung pulang karena malas. Kalau ia mengunjunginya, maka aku tidak akan menggunakan 'senjata'ku nanti… dan vice versa.
Dugaanku salah. Ternyata ia memilih untuk mengunjungi Blacksmith tersebut. Ya, baguslah… Walau aku merasa agak kecewa karena tidak bisa menggunakan 'senjata'ku.
Menyelesaikan pengamatanku, aku pun pergi menuju Supermarket dan membeli beberapa bibit. Aku melakukan ini karena kemungkinan Luke akan pergi membelinya sendiri pada hari ini adalah nol. Ini juga merupakan bagian dari rencanaku untuk mengerjainya hari ini, jadi aku yang akan susah kalau ia tiba-tiba menjadi rajin dan pergi membeli bibit-bibit ini.
…
Kira-kira 2 setengah jam setelah aku berpisah dengan Luke, aku pergi mengunjungi rumahnya. Rasanya jahat sekali kalau aku tidak mengizinkannya istirahat sebentar setelah menjalani tur tadi, jadi sebagai walikota yang baik, aku memberinya waktu untuk tidur.
Kuketuk pintu rumahnya.
…
Lebih keras.
…
Lebih keras!
…
Ayo ketuk, lebih keras lagi! (A/N : Dora reference lol)
Beberapa ketukan setelahnya, aku bisa mendengar jelas suara teriakan dari dalam – diikuti oleh suara hentakan kaki yang semakin lama semakin keras.
Pintu dibanting terbuka. Jantungku hampir copot, tapi aku menjaga senyumanku.
Sesuai dengan ekspektasiku, nadanya benar-benar menyeramkan dan mengancam nyawa. Heh, tapi aku sendiri sudah berlatih! Bocah itu salah jika ia berpikir kalau aku tidak bisa mengancamnya kembali!
Kata demi kata ditukar, sampai akhirnya percakapan ini berubah menjadi suatu debat. Berbagai serangan kuutarakan, dan ia hanya bisa membalasnya dengan alasan-alasan lemah.
…
"Chekmate," kataku santai, mengakhiri debatku dengannya.
…Wah.
Gawat, aku mulai merasa senang memojokkannya seperti ini. Aku bisa membayangkan ekspresi mukaku yang tersenyum sinis.
Eh, tapi tidak apa-apa 'kan? Lagipula dia juga orang jahat, jadi tidak ada masalah denganku menjahatinya.
Karena perasaanku yang terlalu girang oleh efek berhasil mengalahkan seorang berandal, pada akhirnya aku mengakhiri dialogku dengan memanggil nama aslinya. Sungguh perbuatan yang bodoh, aku jadi malu sendiri.
Surat yang kuterima harus kurahasiakan, tapi mungkin aku bisa menggunakan kesalahanku itu untuk menyerangnya lebih jauh…
Heheh.
Aku tidak pernah menyangka bahwa sifat terpendamku yang ini akan terbukti berguna untuk mengatasi masalah di kota Mineral Town. Sudah lama sekali sejak adrenalinku terpacu seperti ini…
…
Sepertinya masalah ini akan menjadi masalah yang menarik.
-Chapter 5 : End-
Author's Note :
Chapter ini - entah kenapa - susah dibikinnya.
Akhir-akhir ini author banyak halangan ngelanjutin fic. Mulai dari banyak manga update, anime baru mulai airing dan langsung jeblos sehari tamat (jadi author langsung nonton semua sampe habis), novel-novel mulai menarik perhatian author, sampai osu! yang entah kenapa jadi enak dimainin lagi.
Jadi maafkan saya kalau chapter ini jalannya aneh dan jelek. Semoga chapter berikutnya bisa lebih bagus.
RynaHitsune : Makasih reviewnya beb~ ;33
Lightning Shun : Terimakasih reviewnya xDD Ternyata karakter Luke jadi cukup populer juga ya… Padahal jahat gajelas gitu c':
Kiseki Arvel : TFR lol.
