Chapter 6 : Senjata
Aku terbangun.
…
Sunyi.
Kulihat jam di sebelahku.
…
"Hah?" gumamku tidak percaya.
Jam tersebut menunjukkan pukul 7 malam lewat sedikit.
…Aku tidur siang hampir 6 jam…?
Gila.
Aku cepat-cepat turun dari tempat tidurku dan kembali memakai pakaianku. Hal pertama yang melintas di pikiranku adalah mandi. Tidur setengah telanjang adalah sebuah kesalahan – tubuhku benar-benar kedinginan.
Setelah mengemas baju gantiku, aku langsung pergi meninggalkan rumahku menuju Hot Spring.
Itu rencanaku, tapi…
Kira-kira 5 langkah sejak aku keluar rumah dan aku sudah berlari masuk lagi ke dalamnya.
Segera kubanting pintu itu tertutup.
Kenapa?!
KENAPA BISA ADA ANJING DISANA?!
Anjing adalah salah satu hal yang paling aku benci. Gonggongannya selalu membuatku kaget dan kecepatan larinya selalu membuatku seakan kehilangan setengah dari nyawaku.
Ah… Aku bisa merasakan makhluk itu mendekat…
Guk! Guk!
Ia menggonggong… ia menggonggong… IA MENGGONGGONG!
Apakah aku akan mati seperti ini…?
Bagaimana… bagaimana caranya aku keluar?
…Ugh, sialan!
Karena anjing itu sudah berada tepat di depan pintu dan gonggongannya semakin menjadi-jadi, aku menyalakan televisi dan menyetel suaranya sedemikian keras sehingga bisa menutupi suara anjing itu.
Aku mencoba menenangkan diriku, tetapi fobiaku tidak mau membiarkanku tenang.
Rasa panik mulai menggerogotiku.
Pikiranku kosong – tidak, mungkin karena aku memikirkan terlalu banyak hal pada saat yang bersamaan sampai-sampai aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kupikirkan.
Dari arah pintu terdengar suara hantaman-hantaman kecil didampingi dengan lolongan yang terdengar semakin agresif.
Fokusku segera tertuju ke toolbox. Tanpa pikir panjang, aku mendorongnya ke depan pintu.
Dengan begini aku berhasil mengurung anjing itu diluar…
…Dan mengurung diriku di dalam…
…
…
…
Hampir setengah jam berlalu. Anjing itu masih menggonggong ria, walau frekuensinya sudah berkurang.
Waktu terkesan berjalan sangat lambat.
Situasiku yang menyedihkan ini bisa dibandingkan dengan dongeng-dongeng tentang putri kerajaan yang menunggu untuk diselamatkan oleh seorang pangeran.
Ugh… kapan aku bisa keluar dari sini…?
Beberapa saat setelah memutar otak mencari jalan keluar yang aman, aku bisa mendengar anjing itu menjauh dari pintu dan secara samar-samar telingaku menangkap seseorang berbicara.
Orang itu mendekat… lalu ia berhenti di depan pintu.
"Jack," sapa sang walikota, "Apa kabar?"
Aku tidak menjawab.
"…Hmm, tidak ada jawaban. Apa mungkin dia masih tidur? Wah… Kuat sekali tidurnya, padahal melakukan aktivitas yang lain lemah sekali. Mungkin tidur adalah bakatnya?" katanya menyindir.
Aku hanya membalas sindiran itu dengan menggerutu kecil.
"Baiklah kalau begitu~ Aku pergi lagi~ Kamu tetap disini ya~" lantunnya.
"Guk!" balas si anjing.
"TUNGGU, TUNGGU!" seruku dari dalam. Lantas, anjing itu langsung menggonggong keras tanda merasa terancam.
"Hoo~? Rupanya kau sudah bangun…"
Orang itu memberi jeda singkat sebelum melanjutkan perkataannya.
"…Lalu kenapa kamu mengabaikanku tadi, hah?"
"Maaf…" balasku putus asa setelah menyadari kalau hanya dia yang bisa menyelamatkanku saat ini.
Tapi dari percakapannya ke anjing tadi… Bukankah itu berarti kalau ia yang menaruh anjing itu disini?
Ia hanya tertawa mendengar permintaan maafku.
"Jadi? Apa kamu menyukai hadiahku?" lanjutnya dengan sebuah pertanyaan.
"Hadiah..? Maksudnya anjing itu?" tanyaku memastikan.
"Tentu saja. Memangnya apa lagi?" jawabnya.
"Yang benar saja!" balasku kesal.
"Hm? Kenapa? Kamu tidak suka anjing?" tanyanya.
"Ya, aku tidak suka anjing. Jadi tolong ambil kembali hadiahmu itu," jawabku.
"Begitukah? Tapi setidaknya lihatlah dulu anjing ini," balasnya agak memaksa sambil mencoba untuk membuka pintu rumahku.
"…Eh…?" gumamnya bingung.
Usahanya digagalkan oleh toolbox yang tadi kugeser ke pintu. Yah, walaupun ada sedikit celah terbuka yang membiarkannya mengintip keadaan dalam dari luar.
"Er… Jack?" tanyanya, meminta penjelasan.
"…Maaf, tapi jangan masuk," jawabku.
"Tidak, tidak. Aku lebih bingung dengan fakta bahwa kamu memilih untuk menahan pintu ini dengan toolbox dan bukan dengan menguncinya saja…" balasnya.
...
Suasana menjadi hening. Aku memutuskan untuk mengaku.
"Itu… Jujur… Aku lupa menaruh kuncinya dimana dan aku belum sempat mencarinya…" balasku canggung.
Walikota itu mengeluarkan nafas panjang yang sangat berat dan penuh kekecewaan.
"Apa pula alasan 'Belum sempat mencarinya' itu? Bilang saja malas," balasnya.
"...Rupanya anda telah mengerti saya dengan baik," balasku.
"Guk!" sahut anjing itu tiba-tiba.
Aku berteriak kaget dan langsung mengambil lima langkah mundur.
Mayor Thomas tertawa ringan, lalu mengejekku, "Jack, jangan-jangan kamu takut anjing?"
"Aku hanya kaget! Kaget!" sangkalku. Kalau aku membongkar kelemahanku terhadap anjing, ia bisa menggunakan informasi itu sebagai bahan blackmail!
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak keluar sebentar untuk melihat anjing ini?" tanyanya mengetesku.
"Tidak perlu, aku sudah melihatnya tadi," jawabku.
"Lalu kamu membiarkannya saja, begitu? Kamu melihatnya dan langsung kabur ke dalam rumahmu, begitu?" tanyanya kembali dengan nada mengintimidasi.
"Aku tidak kabur!" …namun aku menahan diriku untuk berkata demikian karena sepertinya itu hanya akan memperburuk keadaan.
"Aku kembali masuk ke rumahku karena aku melupakan sesuatu…" jawabku hati-hati. Kedua belah mata yang mengintaiku dari luar hanya memandangku penuh keraguan.
"Dan apakah sesuatu itu?" tanyanya menantang.
Tentunya, aku sudah menyangka bahwa ia akan bertanya demikian, jadi aku telah memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu sejak aku mengakhiri jawabanku yang sebelumnya. Dalam waktu yang singkat itu, aku berhasil menemukan jawaban yang tidak mungkin bisa diserang balik.
Aku tersenyum, lalu kusampaikan pernyataan ini dengan penuh rasa percaya diri:
"Aku lupa kenapa aku keluar rumah..!"
…
...Hening.
"…Oh," gumam Mayor Thomas.
Aku yakin sekali dia tidak menyangka kalau aku akan menjawab seperti itu. Haha! Rasakan itu, Mayor!
Sang walikota terlihat berpikir sebentar, lalu kembali membuka mulutnya, "Kalau begitu, aku akan meninggalkan anjing ini disini. Kamu tidak perlu merawatnya."
"Hah?! Kenapa?!" seruku tidak terima.
"Yah… Dia terlihat sangat bahagia disini. Anjing mana yang tidak menyukai lahan yang luas?" jawabnya.
"Kenapa tidak ditaruh di dekat rumah Gotz saja kalau begitu? Atau di gunung?" balasku.
"Lahan di sekitar tempat Gotz tidak seluas lahan disini, dan apa kau gila? Membiarkan anjing ini sendirian di gunung sama saja seperti menelantarkannya!" balasnya.
"Tapi ini rumahku! Dan aku tidak setuju jika anjing itu dibiarkan disini!" balasku kembali.
"Tapi ini kotaku! Dan aku bisa menendangmu keluar dari rumah ini!" balasnya.
Sialan.
Aku menggeram.
Sebelum aku bisa menemukan balasan yang bagus, Mayor Thomas berkata kembali, "…Jika kamu benar-benar tidak mau anjing ini dibiarkan berkeliaran di sekeliling rumahmu… Mungkin kita bisa membuat suatu kesepakatan…"
…
Aku tidak pernah berpikir kalau hari dimana aku menjadi korban blackmail akan datang…
"Tolong jelaskan kesepakatan itu," balasku.
Dari celah pintu, ia menyodorkan selembar kertas kepadaku. Aku menerimanya dan membaca isinya.
SURAT PERJANJIAN
Dengan ini, saya berjanji untuk menjadi warga Mineral Town yang baik. Hal itu berarti:
1. Saya tidak akan membuang sampah sembarangan.
2. Saya akan bekerja dengan giat setiap hari.
3. Saya akan bersikap ramah dan baik kepada semua warga Mineral Town.
4. Saya tidak akan berbuat kejahatan dalam bentuk apapun kepada semua warga Mineral Town.
5. Saya akan membuat lahan pertanian kakek saya indah seperti sedia kala dan akan menghasilkan keuntungan sekurang-kurangnya 10000G per bulan. (Bulan pertama : 7000G)
Sebagai gantinya, saya akan menerima perlakuan dari Mayor Thomas sebagai berikut:
1. Saya akan mendapatkan pujian darinya.
2. Saya akan diberikan penjelasan tentang "Luke".
3. Saya akan mendapatkan perlindungan dari anjing.
Jika saya melanggar perjanjian diatas, maka saya bersedia untuk menerima hukumannya – apapun itu.
Setelahnya terdapat dua tempat untuk tanda tanganku dan Mayor Thomas.
Aku membaca setiap poin dengan seksama.
Dia mengharapkanku untuk menyetujui perjanjian ini? Bukankah jelas-jelas terdapat lebih banyak kontra daripada pro di pihakku? Dan lagi, 10000G per bulan? Mana mungkin aku bisa menghasilkan uang sebanyak itu dalam sebulan?
"Mayor, anda sedang bercanda?" tanyaku.
"Percayalah, aku benar-benar serius," jawabnya.
"…Bagaimana jika kita bernegosiasi terlebih dahulu?" tawarku. Bagaimanapun juga, poin tentang "perlindungan dari anjing" yang ditawarkan olehnya itu sangat penting.
"Haha. Satu-satunya negosiasi yang bisa kamu dapatkan disini adalah negosiasi antara sisimu yang berkata 'Ambil' dan sisi lainmu yang berkata 'Tolak'," balasnya.
…Sadis sekali.
Aku kembali termenung dan menimbang ulang pro dan kontra yang ada.
Sebenarnya aku tidak ada masalah dengan nomor satu sampai empat – yang menjadi masalah adalah nomor lima. Aku tahu bahwa si walikota merah itu tidaklah bodoh, jadi ada kemungkinan yang sangat besar dia sudah menghitung keuntungan maksimal yang bisa kudapatkan dan membandingkannya dengan faktor-faktor seperti tenaga, uang, waktu, luas area, dan sebagainya. Dengan begitu, aku tidak bisa mengatakan kalau mendapatkan keuntungan sebanyak itu dalam waktu sebulan adalah hal yang tidak mungkin.
Masalahnya… semakin besar keuntungan yang didapatkan, maka semakin besar pula usaha yang dikeluarkan. Logika biasa.
Intinya adalah aku malas. Untuk mendapatkan 10000G dalam 30 hari berarti aku harus bisa mendapatkan kurang lebih 350G seharinya. Dengan uang sebanyak itu, aku bisa membeli sebotol Wine setiap hari. Karena Wine adalah barang mahal, secara otomatis bisa dibilang bahwa angka penghasilan tersebut termasuk tinggi dan pasti mengeluarkan banyak tenaga.
Terlebih lagi, prinsip tersebut hanya berlaku dengan kondisi 'bisa mendapatkan 350G per hari' dan hal tersebut tidak mungkin dicapai jika sistemnya adalah bercocok tanam. Sebuah tanaman membutuhkan waktu untuk tumbuh sampai bisa dijual, jadi aku juga harus menyusun strategi dari waktu tumbuh dan harga bibit agar bisa memenuhi kuota 350G per hari. Menyusahkan sekali, bukan?
Tapi mungkin aku bisa menerimanya jika ada sedikit tambahan.
"Kalau anda bersedia mengubah bagian dimana anda memujiku menjadi anda memberiku uang, aku akan menerimanya," berikut tawarku.
"Memberimu uang?" ulangnya. Respon diamku yang mengonfirmasikan pertanyaannya dibalas dengan, "Baiklah, biar kulihat sebentar kertasnya."
Aku mengembalikan kertas itu sesuai perintah.
Setelah menerimanya, Mayor Thomas mengeluarkan sebuah pena dari kantong jas merahnya dan menuliskan sesuatu.
Ketika aku memegang kembali surat yang telah direvisi itu, aku bisa melihat kata-kata 'Saya akan mendapatkan pujian darinya' dicoret dan diubah menjadi 'Saya akan mendapatkan bonus berupa uang darinya'.
"Tunggu," kataku, "Karena tidak ada jumlah minimal untuk bonusnya, bukankah poin ini jadi menguntungkan untuk anda? Bagaimana kalau kita sepakati minimal bonusnya sebanyak 300G?"
"…100G," balasnya.
"250G?"
"150G, pas."
"Baiklah," jawabku sambil mengembalikan lembaran kertas itu, "Tambahkan kesepakatan itu di suratnya."
"Kenapa tidak kamu tambahkan saja sendiri? Nanti aku tinggal menyetujuinya," balasnya.
"Maaf, aku mau cari aman," balasku, "Jika ada dua tulisan yang berbeda, siapa tahu anda akan menggunakan alasan seperti 'kamu menambahkannya setelah aku menandatanganinya'… jadi, tolong tambahkan."
Seakan rencananya telah terbongkar, Mayor mengerutkan wajahnya. Ia mengambil kertas tersebut dan merevisinya lagi.
…
Kesepakatan tersebut mulai berlaku tepat disaat aku menyelesaikan tanda tanganku.
"Hmm, bagus, bagus. Aku harap kamu bisa berubah menjadi orang baik mulai dari sekarang," kata sang walikota sesaat setelah ia menerima kesepakatan yang telah ditandatangani oleh kedua pihak terlibat, "Oh ya, aku akan memberitahumu ini – kalau kamu melanggar salah satu janjimu, maka aku juga bisa melanggar salah satu janjiku untuk menghukummu."
Dengan kata lain… ia bisa melanggar janjinya untuk memberiku perlindungan dari anjing.
Aku langsung menangkap maksudnya.
"…Aku mengerti," balasku.
"Baiklah, aku akan membawa anjing ini pulang bersamaku," katanya.
"Hm," gumamku.
'Cepat bawa anjing itu pergi!' …walau benakku telah meneriakkan hal itu berkali-kali, aku harus menjaga sikap tenangku.
Setelah itu, kedua makhluk itu pergi, aku segera mengambil pakaianku dan bergegas menuju Hot Spring.
Sudah jam 8 malam… Sebaiknya aku mandi cepat saja agar tidak masuk angin. Terlebih lagi…
…Aku lapar.
Kembali kuingat tur tadi. Kalau tidak salah ada sebuah Inn yang merangkap Bar, bukan? Tempat seperti itu tidak mungkin tutup sebelum setidaknya jam menunjukkan pukul dua belas malam… atau bahkan sampai pagi.
Keputusan untuk pergi ke Inn tersebut setelah mandi pun dibuat tanpa harus berpikir panjang. Hal yang menghantui pikiranku adalah uang. Ya, uang. Walau tidak terlalu penting, tapi alangkah disayangkannya bila seseorang yang sudah cukup umur pergi mengunjungi Bar pada malam hari dan tidak mencicipi minuman keras yang disajikan disana.
Mari kita lihat… sepertinya aku memiliki sekitar 500G di dompetku.
Haruskah aku membeli Grape Liquor… atau haruskah aku menyimpan uang ini untuk membeli bibit?
'To buy, or not to buy…' sebuah kutipan dari Hamlet (telah diubah sedikit) melayang di kepalaku.
Aku menghela nafas panjang dan mengubah kutipan itu lagi – 'To be (responsible), or not to be (responsible)…'
Memegang janjiku untuk menjadi warga Mineral Town yang baik, aku pun memilih pilihan yang pertama. Lagipula aku masih belum tahu harga makanan dan minuman disana berapa.
…
Aku memandang langit malam yang dipenuhi oleh bintang.
Ah… Ini yang terbaik.
Pada malam hari yang dingin seperti ini, berendam di pemandian air panas terasa lebih menyegarkan dari sebelumnya. Hanya ditemani oleh suara jangkrik, burung hantu, dan dedaunan yang kadang-kadang mengeluarkan bunyi gemerisik diterpa sang pawana… singkatnya, suara alam. Aku tidak ada masalah dengan menerima konsekuensi kedinginan setelah aku keluar dari Hot Spring ini, tapi karena itulah aku harus menikmati momen ini semaksimal mungkin.
Kuhirup udara yang telah bercampur dengan uap panas pemandian ini dan menikmati setiap bagian dari kehangatan yang ditawarkannya.
Baiklah, aku sudah puas.
Menyadari cahaya yang semakin redup, aku menyelesaikan urusanku.
Waktunya makan.
-Chapter 6 : End-
Author's Note :
...Maaf delay hampir 3 minggu. Anggap saja ini efek lebaran.
Chapter ini kurang memuaskan. Tapi karena saya sedang membaca berbagai light novel dan web novel sebagai bentuk partisipasi di sebuah tantangan membaca 95 volume novel, diharapkan saya bisa mengembangkan kemampuan menulis karya literatur saya.
Untuk para pembaca sekalian, terima kasih telah mengikuti fic ini.
tsutomu : Romance mungkin ada. Karena author ngikutin jadwal event yang ada di internet, dapet kudanya nanti di hari ketiga. Festival kemungkinan besar ada. Oke sip deh. Terima kasih ya udah review uwu)
Azzahradafi : Okee. Makasih yaa udah review owo)9
Mafunyan : Hmm, gini deh. Luke itu kerjanya ngestalk orang di internet dan (kalau perlu banget) di kehidupan nyata. Jadi ya, dia juga harus ngehack korbannya, tapi bukan cuma ngehack doang. Stalking orang di internet bisa juga dilakukan dengan cara berpura-pura jadi orang lain, terus nanya langsung ke orangnya / temen orangnya tentang informasi-informasi yang dibutuhkan, ngescroll mouse ke bawah dengan giat terus nyari selipan-selipan informasi berharga dari timeline awal dibuatnya account socmed korban itu, dll.
Tehepero itu ekspresi menjulurkan lidah sedikit, mengedipkan satu mata, menjitak diri sendiri, dan tertawa dengan kata 'tehe' - semua dilakukan bersamaan. Search di gugel image juga paling ada kok xD
Mmh, iblis itu kan malaikat surga yang jatuh ke kegelapan, jadi ya gitu (?)
Dia 'kerja' 18 jam gitu masa manja sih- /ga
Senjatanya mampu membuat jantung Luke berdebar-debar... /APASIH
Kantong mata kalau di dunia dua dimensi sih keren, tapi kalau di dunia nyata mah... orz
Oke, makasih ya udah review. o3o)/
Fun fact : Bagian Author's note kebawah telah diketik ulang 3 kali karena pagenya ke-refresh sendiri dua kali.
