Chapter 7 : Never Fade


Inn, jam 9 malam.

Suasana di dalam benar-benar ramai… Baiklah, harus kuakui kalau Bar-bar di tempat asalku biasanya jauh lebih ramai daripada ini, tapi itu karena penduduknya banyak. Ada kurang lebih 10 orang di dalam, tidak buruk untuk sebuah kota kecil.

Ketika aku mencari tempat duduk yang enak, seorang gadis berambut oranye tiba-tiba muncul di hadapanku. 'Ann' – sebuah nama yang melintas di pikiranku saat kuingat kembali kejadian pagi tadi. Pakaiannya tidak berubah sama sekali dari tadi pagi, dia tidak mandi apa?

"Selamat datang di Inn! Semoga kamu menikmati waktumu disini!" sapanya ceria.

"Ya, terima kasih," balasku dengan sedikit mengangguk.

Seakan baru menyadari kehadiranku dari suara Ann, seseorang yang tengah berdiri di balik kasir menyapaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya, "Hei, kamu petani baru itu, 'kan? Bisakah kamu… um… kesini sebentar?"

'Oi, oi… Kalau kamu butuh sesuatu kenapa bukan kamu yang datang kesini?!' pikirku. Tapi tentu saja, aku tidak bisa bersikap agresif karena ada perjanjian antara Mayor dan diriku, jadi aku berjalan cepat menuju counter Inn tersebut.

Sesaat setelah aku sampai disana – tanpa melewatkan sedetikpun, ia langsung bertanya, "Um… Gadis itu adalah anakku, Ann. Bagaimana pendapatmu tentangnya?"

Aku hampir facepalm. Tujuanku kesini hanya untuk makan, tapi baru sebentar menginjakkan kakiku disini, aku langsung dihadang oleh seorang ayah yang mempromosikan anaknya?! …Tapi mungkin kalau aku bisa memberikan jawaban yang tepat, aku bisa mendapat makanan gratis?

"Dia… er, dia cukup… m… manis?" jawabku memaksa diri. Eh, mana mungkin aku bisa memanggil seorang perempuan yang mampu menonjok jatuh seorang Mayor dan melempar sepatunya dengan sangat kuat sehingga sepatu itu terasa seperti besi 'seseorang yang manis'? Ugh, tapi sebagai seorang yang tidak memiliki pengalaman romance sama sekali dalam hidupnya… rasanya menjijikkan sekali mengutarakan kata-kata gombal seperti itu. Aku harap aku tidak akan perlu melakukan ini lagi.

"Oh, baguslah. Seperti yang bisa kamu lihat, ia adalah gadis yang agak tomboy untuk umurnya…" balasnya sambil tersenyum lebar, "Ibunya sedikit lebih diam… Tapi aku senang kamu mengatakan hal itu."

"Kalian sedang membicarakan apa?"

Oh, speak of the devil. Ann tiba-tiba muncul.

"Hal pribadi," balas sang ayah singkat.

"Ayah!" balas Ann tidak terima.

Setelah itu kedua pihak tersebut tidak bertukar kata lagi… 'Ending macam apa itu?' benakku memprotes, tapi kuputuskan untuk membiarkan hal tersebut. Lagipula, lambungku sudah mulai meraung minta diisi. Kembali kufokuskan pandanganku ke arah kasir.

"Jadi, kamu mau pesan apa? Kami tidak menyediakan layanan take-out," bukanya sambil menyodorkan sebuah menu kepadaku.


EVENING MENU

1.Grape Liquor …... 500G

2.Pineapple Juice …... 300G

3.Milk …... 200G

4.Water …... Free


"Makanannya ada?" tanyaku khawatir.

"Maaf, tapi pada malam hari kami hanya menyediakan minuman," jawabnya dengan muka datar.

Harapanku menghilang, "Yang benar saja…"

Mendengar berita buruk tersebut, perutku juga tidak terima. Ia langsung berteriak kencang, 'KRUUuuuUUUuukK!'

Aku langsung melihat ke sekitar. Untungnya hanya beberapa orang yang bisa mendengar suara memalukan itu. Segera kukembalikan mukaku pada sang kasir yang kini menatapku kasihan, "Maaf… Tapi apa benar-benar tidak ada makanan disini…?"

...

"Satu Omelette Rice, semoga kamu menikmatinya," kata Ann seraya meletakkan makananku di meja beserta dengan segelas air putih.

"Terima kasih," balasku. Sebenarnya mereka tidak menaruh 'Omelette Rice' dalam menu makanan mereka, tetapi karena disana tidak ada makanan yang cocok untuk malam hari, ayah Ann membuatkanku hal lain. "Anggap saja Welcoming Gift," begitu katanya – yang dalam kata lain, s.

Setelah Ann meninggalkanku, langsung kulahap hidangan yang ada di depanku. Entah karena lapar atau memang dari asalnya, tapi rasa Omelette Rice tersebut sangatlah enak. Bumbu, saus dan bahan-bahan yang digunakan saling melengkapi satu sama lain secara pas. Tepat seperti yang kuharapkan dari restoran satu-satunya di Mineral Town.

Aku mengakhiri acara makanku dengan menghabiskan minuman yang telah disediakan bagiku. Tanpa melupakan tata krama, aku kembali menuju sang kasir yang merangkap menjadi seorang koki dan ayah dari pelayannya.

"Sekali lagi, terima kasih atas makanannya. Apakah anda benar-benar yakin bahwa aku tidak perlu membayar?" tanyaku sebagai bentuk kesopanan.

"Siapa bilang kamu tidak perlu membayar?" tanyanya kembali tanpa ekspresi.

Aku menatapnya sebentar, lalu aku mengeluarkan dompetku, "…Berapa?"

"Aku bercanda, bercanda! Tenang saja, kamu tidak perlu membayar apapun!" balasnya sambil tertawa lepas, "Lagipula kamu 'kan baru disini, jadi aku yakin kamu belum memiliki banyak uang. Kalau nanti kamu sudah mulai mendapatkan penghasilan, aku akan menantikan kedatanganmu lagi disini."

"Baiklah, akan kupastikan untuk datang kesini lagi ketika aku sudah memiliki uang," balasku tersenyum ramah.

"Kalau begitu, sampai jumpa lagi," salamnya.

"Ya, sampai jumpa lagi," balasku. Tanpa berlama-lama lagi, aku pun meninggalkan Inn tersebut.

Jam telah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam dan cahaya rembulan tidak cukup untuk menerangi mataku. Satu-satunya hal yang bisa kugunakan untuk menuntun jalanku adalah cahaya dari lampu-lampu jalan yang menyinari kekelaman tawang.

'Pada akhirnya aku tidak membeli Grape Liquor itu…' sesalku. Membeli satu berarti menghabiskan seluruh uang yang kumiliki sekarang ini, dan kalau aku bersikap seroyal itu, aku yakin bahwa nama baikku akan langsung tercemar. Hm? Tapi bukankah harga sebotol Wine adalah 300G? Kenapa sebotol Grape Liquor bisa mencapai 500G? Apa rasanya seenak itu?

"…Aku butuh uang," gumamku.

Apakah ada cara untuk mendapatkan uang secara instan? Mungkin aku bisa kerja part-time?

Aku sampai di Town Square. Kuhela nafas panjang – bukan karena perasaan negatif, melainkan karena pemandangan malam yang memukau. Benar juga, aku masih segar... Rasanya sayang sekali kalau aku langsung pulang. Setelah memikirkan destinasiku yang selanjutnya, langkahku mulai memangkas jarak menuju pantai.

Suara ombak yang mengalun menepis pantai dan kuak burung-burung camar menjadi semakin jelas terdengar seraya kubawa diriku mendekati tempat tersebut. Namun perjalanan yang kutempuh bukanlah perjalanan yang panjang – tidak sampai sepuluh detik kemudian, pasir telah menyambut kedua sepatu boots-ku. Udaranya dingin, tapi aku merasa bahwa aku dapat tinggal disini semalaman.

Kalau dipikir-pikir lagi, kapan terakhir kali aku pergi ke pantai? …..Saat aku berumur 6 tahun, mungkin? Ingatanku samar-samar, tapi aku bisa mengingat dengan jelas bagaimana aku diajak bolos oleh orang tuaku untuk pergi ke pantai. Alasannya simpel; karena mereka 'bosan'. Kami bermain pasir, mengumpulkan kerang, dan berenang. Aku juga bisa mengingat jelas bagaimana sebagai seorang anak kecil yang polos, pada waktu itu aku merasa sangat bahagia – seakan aku berada di puncak dunia.

Tentu saja, kebahagiaan seperti itu tidak akan bisa kudapatkan lagi.

'Kenapa?' sebuah pertanyaan muncul dalam diriku. Hidupku menyenangkan. Aku bekerja sesuai dengan hal yang kusukai, dan aku bisa memainkan semua game yang aku mau. 'Kebahagiaan itu tidak bisa kudapatkan lagi? Kenapa aku berpikir demikian?' kutanyakan hal itu, menanti jawabanku.

Kutonton lautan yang menyapu pesisir tanpa henti, dan sampai pada satu kesimpulan.

'…Karena mereka sudah meninggal.'

Aku tidak sedih.

Perasaan yang terungkit oleh suasana ini, tak lain adalah perasaan… rindu, mungkin. Aku merindukan kebahagiaan itu; kebahagiaan yang hanya bisa diberikan oleh orang tuaku. Ataukah yang kurindukan adalah orang tuaku? Jika aku bisa memperoleh kebahagiaan tersebut, apakah rasa ini akan tetap bersua?

Apakah hidupku akan menjadi seperti ini juga, kalau saja mereka masih hidup pada hari ini?

Apakah kepribadianku akan tetap menjadi busuk, kalau saja mereka masih hidup pada hari ini?

Pertanyaan-pertanyaan tidak penting tersebut kutelan bersama dengan ludahku. Toh, orang mati tidak bisa hidup kembali. Untuk apa memikirkannya? Sialan, tempat ini membuatku berpikir tentang hal-hal aneh. Menjijikan, terlalu dramatis, hoek.

Kuhela nafas panjang; kali ini untuk melepas stress, lalu kututup mataku dan mulai menenangkan diri.

….

….

…."Hei."

Kembali kubuka mataku untuk merespon pada sapaan yang terdengar asing itu. "Sedang mengapresiasi keindahan laut?" lanjutnya.

Aku melihat figur seorang perempuan yang tertutup remangnya cahaya. Rambutnya coklat dengan sedikit bagian kiri dan kanan surainya dicat warna pirang. Pakaiannya hanya terdiri dari sebuah tanktop putih, vest ungu, celana jeans selutut yang diikat oleh sabuk coklat, serta kaos kaki putih dan sepatu boots coklat muda.

"Ya, begitulah," balasku, "Kamu sendiri?"

Ia menolehkan kepalanya dan menerawang ke ujung samudera, "Sama sepertimu."

Aku mengembalikan tatapanku pada pemandangan yang sama dengan perempuan itu. Selang beberapa detik tanpa seucap kata pun, ia membuka percakapan, "Aku menyukai laut di saat malam. Suara ombak ini… mengundang kenangan masa lalu."

Huh, jadi aku tidak sendirian.

"Aku mengerti. Suasana seperti ini memang bisa memancing kita untuk berpikir tentang masa lalu," begitu balasku.

"Mm," gumamnya merdu. Ia melihatku sebentar, "Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."

"Oh, maaf. Aku adalah petani baru yang mengambil alih lahan pertanian tetangga Poultry Farm, Lu-maksudku Jack," jelasku. Hampir saja aku melupakan identitasku disini.

Perempuan itu terlihat curiga, tetapi ia memutuskan untuk melupakannya, "Aku Karen, salam kenal."

"Salam kenal."

Setelah itu, kami kembali menutup mulut dan membiarkan alam melantunkan simfoninya. Romantis? Tidak. Kami hanyalah dua orang penonton yang jatuh hati pada segara dan angkasa yang membentang di hadapan kami.

Jack…

Jack, huh?

Nama yang kupakai untuk menyamarkan diriku mulai terdengar familiar. Dari siapakah aku meminjam nama ini? Siapa itu Jack? Jack… Jack…. Ja…ck..?

Kemudian aku menyadarinya.

Jack adalah nama salah satu musuh terbesarku yang kutemui saat kuliah. Ia memiliki rasa keadilan yang tinggi dan seringkali menghalangiku untuk melakukan pekerjaanku. 'Stalking itu melanggar HAM!' 'Kamu harus menghargai privasi orang!' serupa itulah alasan-alasan yang sering diutarakannya. Harus kuakui bahwa profesiku sebagai seorang stalker bayaran itu tidak mulia dan agak biadab, namun sebenarnya aku hanya menggali dan mengumpulkan berbagai informasi yang dibeberkan oleh korban di internet, jadi aku tidak salah – korbannya saja yang bego. Kalau tidak mau informasi tersebut bocor, kenapa menaruhnya di internet? Internet itu penuh dengan orang jahat, contohnya ya… aku.

Tapi Jack tidak mau menerima logika yang kusajikan dalam perlawananku dan terus-terusan bermain pahlawan, jadi aku menyerangnya balik melalui internet. Lucunya, ia membalasku lewat fisik. Di mata orang awam, aku berani bertaruh bahwa kelakuan 'heroik'nya hanya akan dikenal sebagai suatu bentuk bullying. Menggunakan kesempatan itu, aku bertingkah layaknya korban bullying yang lemah dan tidak bisa melawan balik – khususnya ketika terlihat adanya spektator. Aktingku bisa dibilang sempurna karena tanpa perlu berpura-pura pun aku sudah lemah.

Alhasil, Jack beberapa kali dipanggil menghadap pihak kuliahnya.

Oh, dan omong-omong, ini hanya berlangsung pada tahun pertama perkuliahan. Pada tahun kedua aku berhenti kuliah offline dan pindah ke kuliah online. Dengan begitu aku bisa mendedikasikan lebih banyak waktuku untuk mencari nafkah.

Tentu saja, Jack masih terus menggangguku dengan berbagai cara. Dimulai dari menungguku keluar rumah, menunggu Frederick keluar rumah, memukuliku dan berharap aku jera, menyewa hacker untuk meretas komputerku (yang biasanya berakhir dengan kekalahan hacker amatir itu), dan lain sebagainya.

Berapa persen peluang nama samaranku ini diambil dari nama orang itu?

Aku menghapus seminggu dari ingatanku… Kalau dalam seminggu itu tidak terjadi hal yang terlalu besar, untuk apa aku menghapusnya? Artinya, di selang waktu itu telah timbul suatu kejadian yang lebih baik kulupakan. Hm… Mungkin Frederick mengetahui sesuatu…

"Jack."

Panggilan itu menyadarkanku kembali akan bumi.

"Iya?" tanyaku kepada Karen.

"Sudah jam 10 malam, aku pulang dulu ya," balasnya sambil memberikan gestur melambai.

Kuikuti pergerakannya dan menjawab, "Baiklah, sampai jumpa lagi."

Setelah menyaksikan punggung perempuan itu menghilang ditelan jarak, aku berpindah menuju dermaga dan mendudukkan diriku disana. Jujur saja, aku lelah berdiri terus.

Dalam 30 menit, aku bisa memikirkan begitu banyak hal… Mungkin waktu terkesan lebih lambat ketika dihabiskan untuk diam dan merenung.

'Haruskah aku pulang?'

'…'

'Tidak, aku masih belum mengantuk.'

'…'

'Kalau begitu, ayo kita bermain lagi.'

?

'…'

'Luke, apa kamu senang?'

'…'

'Aku senang sekali!'

Ah, berisik.

Kuhentikan film yang tidak sengaja terputar dalam anganku. Sial, tempat ini berhasil lagi dalam mengungkit kenangan masa laluku. Jika kupikir lagi, tempat terakhir yang kukunjungi bersama keluargaku sebelum mereka meninggal adalah pantai.

…Lebih baik aku pergi dari sini.

Aku bangun dari posisiku dan mengambil langkah pulang. Pada saat yang sama, aku menghapus emosiku hingga aku tidak bisa merasakan apapun lagi.

Perasaan itu tidak berguna.

Mereka hanya menghalangiku saja.

Maka dari itu, aku akan menghilangkan semua emosi tidak penting yang muncul di otakku.

Itulah prinsip hidupku, dan aku tidak akan mengubahnya – aku tidak mau mengubahnya. Walaupun pemikiran seperti itu hanya akan membuatku terlihat kejam di mata masyarakat, yang penting adalah aku bisa dilindungi dari pahitnya dunia.

Jika fisikmu lemah, maka kuatkanlah hatimu.

Benar begitu, bukan?

Aku sampai di rumah.

...Ya, andai saja aku juga bisa menghapus rasa bosan.

Aku memutuskan untuk melihat-lihat ke sekitar, dan perhatianku tertuju pada kalender yang menggantung di sebelah televisi. Iseng, aku melihat ke tanggal-tanggal yang ditandai.

Goddess Festival, Spring Thanksgiving Festival, Local Horse Race, dan Cooking Festival…

Siapa sangka kalau kota ini memiliki cukup banyak ragam acara? Tunggu, jadi kalender ini eksklusif untuk kota ini? Yah… kota ini memang kecil, jadi hal itu tidak terlalu mengagetkan. Tapi tetap saja, ini pertama kalinya aku melihat sebuah kalender yang dibuat khusus untuk satu daerah.

Aku tersenyum kecil menunjukkan ketertarikanku.

Lalu senyum itu hilang.

'Aku lupa kalau acara seperti itu berarti mengundang seluruh warga Mineral Town untuk hadir…' keluhku. Sudah lama sekali aku tidak mengikuti acara skala besar seperti itu, dan kemampuan sosialisasiku juga masih kurang. Aku hanya bisa melihat dua kemungkinan: Satu, salah omong dan dihukum Mayor karena melanggar aturan nomor 3. Dua, tidak berbicara sama sekali dan dihukum Mayor karena melanggar aturan nomor 3.

Mukaku menjadi pucat mengingat anjing peliharaan Mayor Thomas.

"Ah, biarlah. Toh tanggalnya masih jauh," tanpa memikirkan hal itu lagi, kuambil sebuah buku dari dalam tasku. 'Gunakan buku ini untuk terus melatih kemampuan programmingmu' adalah teks yang tertulis di halaman pertamanya. Aku mengambil pena dan mulai menyusun coding yang dibutuhkan untuk membuat variasi program agar kemampuanku tidak melemah. Setelah jam menunjukkan pukul 11.25 malam, aku pun beranjak tidur.


-Chapter 7 : End-


Author's Note :

DELAY 3 MINGGU LAGI, YEEEEEEEYYYYY~ /dibakar massa

Maaf ya ficnya rada terbengkalai, kemaren Author baru kelar MOS :'3 /alesan

Lagi-lagi, chapter ini kurang memuaskan, terutama karena tidak seru dan makin kebawah makin gak jelas. Di chapter ini, Author mau memfokuskan untuk menggunakan gaya penulisan yang lebih profesional dari biasanya. Tapi ujung-ujungnya ternyata Author kekurangan inspirasi dan akhirnya gagal juga.

Baiklah, terima kasih untuk para pembaca setia yang masih sudi membaca fic rada sampah ini. Author benar-benar berterima kasih.

P.S. : Karena Author bingung nentuin Chapter Titlenya, dan fokus chapter ini di memori... Jadilah Author ngetik Chapter Titlenya berdasarkan musik favorit Author - "Memories Never Fade" by Isaac Shephard~ /promosi /ditendang


tarandayo : Aduh terima kasih banget loh, tarandayo-senpai (?) ;;;; Aku sering ngeliat fic HM kamu di list fic HMBTN. Rasanya kaget banget di review sama penulis fic yang udah populer kayak kamu x'D Iya, cerita ini emang gado-gado campur aduk. Pas nentuin genrenya juga bingung sebenernya, soalnya cuma boleh dua x'D Makasih banget loh ya udah sempet ngereview. Rasanya seneng gitu ficnya dibilang keren (?) Nanti tsukkomi-nya aku coba tambahin deh '3')

Xeno : Y u do dis. Yap, ini udah lanjut kok :'3

Yudhis : Okeee, makasih ya reviewnya :33