BAB 2
Oh Sehun ingin sekali mempecepat langkahnya, tapi ia tahu jika ia melakukanya, karirnya sebagai model selama 5 tahun akan kandas saat itu juga. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika itu sampai terjadi. Tidak saat cita-cita terbesarnya belum tercapai.
Dengan mendongakan wajah, Sehun mempertahankan langkahnya dengan gerakan seperti semula. Di ujung panggung, gadis berumur 24 tahun ini berpose memperagakan busana yang ia pakai sebelum akhirnya memutar badanya.
Sehun tersenyum kecil, tahu efek apa yang ia tinggalkan di atas panggung. Jepretan kamera terus mengikutinya sampai ia masuk ke belakang panggung, diikuti seorang pemuda anggota panitia fashion show itu, menjaga Sehun dari belakang. Tanpa diketahui penonton Sehun menghembuskan nafas panjang sekali. Diusapnya keringat dingin yang mulai bercucuran di dahinya. Bahkan setelah bertahun-tahun gadis ini belum siap menjadi pusat perhatian.
"Gwenchana?" Sehun langsung disambut oleh Kris yang mengusap dahi Sehun dengan selembar tisu, seakan tahu perasaan gadis itu.
Sehun mengangguk pelan dan berusaha tersenyum tapi gagal. Wajah Sehun masih terlihat tegang. Tiba tiba ia terhuyung.
Pemuda anggota panitia yang membuntuti Sehun tadi refleks mengulurkan tanganya, menopang pundak Sehun. Sehun berjengit, seolah terkena aliran listrik.
"Lepaskan aku!" pekik gadis itu marah dengan sisa tenaganya, merasa jijik karena pundaknya dipegang oleh seorang laki-laki, berpikir bahwa panitia muda tersebut ingin mengambil kesempatan.
"Oh, astaga..." Kris langsung melingkarkan tanganya di pinggang Sehun. "Serahkan dia padaku." Ujar kris pada pemuda itu. Kris mengajak gadis itu ke balik tumpukan boks aksesoris yang digunakan untuk Seoul Fashion Week.
Kris meninggalkan sehun sebentar untuk mengambil segelas air. "Lebih baik?" tanyanya setelah Sehun meminum segelas air yang tadi ia bawakan.
Sehun mengangguk. "Terimakasih oppa."
Kris menghela nafas. "Kau ini, diakan hanya ingin membantumu."
Sehun merengut, sedikit bermanja. "Oppa jangan mulai menceramahiku lagi. Oppa tahu lima tahun ini aku sudah berusaha mendorong diriku sendiri agar bekerja secara profesional. Lagipula, oppa tahu apa motif orang itu sebenarnyakan? Bisa saja dia mengambil kesempatan dalam kesempitan."
Sekali lagi Kris mendesah. "Kau harus mulai percaya pada orang lain, tahu?"
"Di sini rupanya." Tiba-tiba gadis yang sehun ketahui bertugas sebagai timekeeper datang mendorong rak pakaian dan menghampiri mereka. "Kris-ssi, sudah saatnya Sehun-ssi kembali ke panggung."
Kris menoleh, menatap tajam dan itu dia lakukannya kurang dari satu detik. "Bukanya sudah jelas kami menyingkir kesini supaya tidak ada yang mengganggu? Tidakah kau lihat wajah pucat Sehun?" Ucap Kris tanpa berkedip.
"Tapi..., maksud saya...," gadis itu menncicit ketakutan. "Sehun-ssi harus ke panggung untuk menutup acara, dia model utama hasri ini jadi ia harus menemani..."
Kris melotot marah, "Fashion show-nya sudah selesai kan? Kau ingin ditangkap karena memaksa orang sakit bekerja?"
"Tapi.." gadis itu masih berusaha memprotes.
"Aku masih bisa.." Sehun berusaha berdiri, berusaha untuk memenuhi tanggung jawabnya.
Kris langsung mendorongnya lagi ke kursi. "Kau duduk saja."
Ada sesuatu dalam diri Kris yang membuat Sehun setuju tanpa melakukan protes. "Dan kau!" kali ini Kris menunjuk gadis yang membawa walkie talkie itu. "Keluar dari sini."
Sehun tidak bisa mencegah sudut bibirnya terangkat. Ia tersenyum geli saat melihat panitia itu berjalan cepat menjauhi mereka.
"Kau menyeramkan oppa." Ucap Sehun dengan senyum yang masih tersungging di wajahnya. "Tidak takut dikeluarkan dari agency?"
"Justru inilah tugas yang diberikan oleh agency, sebagai manajermu aku bertugas untuk mendahulukan kesehatanmu." Jawab kris. "Terutama jika kau terus-terusan memakai waktu tidurmu untuk melakukan hal lain."
Sehun tersenyum kecil. "Rasanya malah seperti punya pacar dari pada seorang manajer."
Kris menaikan alisnya kemudian mendekatkan wajahnya pada Sehun. "Memangnya boleh?"
"Apa?" tanya Sehun. Mata bulat gadis ini tidak mampu beralih dari mata Kris. "A-apa maksud oppa." Ia menjilat bibirnya terlihat gugup."Menjadi pacarmu memangnya boleh?" tanya Kris sekali lagi. Kali ini, tanpa menunggu jawaban Sehun, Kris langsung menarik wajahnya dan tertawa keras. "Hebat sekali! Lain kali aku akan meminta sajangnim untuk menerima tawaran bermain film. Akting mu benar-benar hebat." Sehun menggerutu. Kris menepuk kepala Sehun yang juga ikut tertawa.
Ah, kini suasana hati Sehun menjadi lebih baik.
Kris gay, ujar sehun di dalam hatinya, mengingatkan dirrinya sekali lagi. Karena itu, ia bisa sedekat ini dengan Kris. Gadis itu tidak bisa melupakan kejadian yang membuat mereka jadi sedekat ini."
.
.
.
Lima tahun yang lalu
Sehun yang bergabung dengan agency saat usianya sudah 19 tahun. Ditahun pertamanya dia di agency tersebut, Sehun menghabiskan harinya dengan pelajaran teoritis kepribadian dan pengembangan diri yang sangat membosankan serta sedikit latihan catwalk dan pemotretan.
Waktu itu, setiap model baru akan rela melakukan apa saja untuk debut. Kesempatan itu datang ditahun kedua Sehun.
Hari itu adalah hari terpenting bagi Sehun. Tiga orang fotografer senior dari tiga fashion brand kecil di Seoul sedang mencari model iklan baru untuk brand mereka masing-masing. Agency memberikan kesempatan pada beberapa model untuk di tes. Kalau lolos merka akan debut. Kesempatan hanya untuk tiga orang, padahal model baru di agency itu ada 20 orang. Sehun bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Tapi pemotretan tidak berjalan lancar.
Salah satu dari tiga fotografer setengah baya tersebut selalu bisa membuat Sehun merasa diremehkan. Fotografer tersebut tidak pernah bisa puas.
"Kenapa senyummu sangat lebar, tutup mulutmu."
"Kenapa seperti ini? Angkat tangan mu lebih tinggi. Kau ini manusia atau batu! Gerakanmu terlalu kaku bodoh!"
Masih banyak rentetan ejekan dan cemoohan yang tidak bisa Sehun ingat semua. Tapi, gadis itu masih ingat bagaimana rasanya dicemooh. Rasa putus asa menggerogotinya. Dia hampir menyerah saat melihat hasil fotonya di layar komputer. Kaku, wajahnya seperti tersiksa, pengambilan sudutnya juga tidak bagus.
Saat istirahat, fotografer itu mendekati Sehun yang sedang duduk di sudut ruangan pemotretan.
"Yak! Gadis kaku." Ujar fotografer tersebut. Sehun tidak berani memandang fotografer tersebut. Ia menyibukan diri dengan memandang sepatunya.
"Yak! Kau mnedengarkanku tidak?" desisi pria itu sekali lagi. Kemudian ia terkekeh. "Kau sebenarnya cantik, aku bisa membuat fotomu lebih bagus. Kau tahu, aku bisa mengubah sudut pemotretan menjadi lebih bagus, hanya saja tidak gratis."
Sehun mengangkat kepalanya, menatap fotografer itu. Pria itu mengelus jenggotnya yang sudah mulai memutih. Sehun merasa ditelanjangi saat fotografer itu memandang Sehun dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Kemudian pria itu terkekeh mesum. Sehun bisa menebak apa harga untuk sebuah foto bagus yang sedang dipikirkan oleh pria mesum itu dan Sehun tidak suka.
"Kau harus tidur denganku." Seolah kata-katanya lucu, pria itu terkekeh sekali lagi. "Aku bisa membuat fotomu luar biasa. Kalau kau tak mau tidur denganku, jangan harap bisa debut dengan hasil fotomu yang sekarang. Kau sudah melihatnyakan? Fotomu itu sampah. Kecantikan tanpa fotografer handal sama dengan sampah."
Sehun tercekat mendengar kata-kata fotografer sudah berusaha keras beberapa tahun di agnecy. Dia sudah membuang banyak waktu dan banyak kringat hanya untuk menunggu hari itu, hari dimana ia bisa memulai debut. Sehun tidak bisa membuangnya begitu saja. Sehun sempat bimbang, ia sudah banyak mendengar isu tentang fotografer dan model. Tapi ia tak menyangka hal ini akan terjadi padanya seperti ini. Apakah dia harus tidur dengan pria mesum ini?
"Bagaimana?" pria itu mendesak dengan suara lirih, tidak ingin didengar oleh orang lain.
Apakah ini satu-satunya jalan? Sehun ingin segera debut. Debut. Dia ingin menjadi model yang sebenarnya, bukan menjadi pengangguran yang menghadiri kelas pemotretan dan latihan catwalk seharian penuh. Tapi apa debut ini layak bagi Sehun untuk membuang harga dirinya?
Hati sehun serasa dihimpit oleh batu karang besar. Pandangan pria itu membuatnya jijik. Tapi dia ingin debut. Pikiran Sehun terus berputar-putar.
Tidur. Debut. Tidur. Debut.
Kepalanya seras ingin meledak. Tanpa memperdulikan fotografer tersebut, Sehun bangkit dari duduknya dan kabur. Tidak mengatakan iya, juga tidak mengatakan tidak. Jantungnya berdetak karena emosi yang tidak bisa ia kendalikan. Membayangkan usahanya selama ini kandas sudah cukup membuat Sehun meneteskan air mata putus asa.
Sehun membuka pintu darurat yang terbuat dari besi dengan susah payah, jatuh terduduk dianak tangga darurat di balik pintu. Sehun memeluk lututnya dan terisak tidak berdaya. Pikiranya dipenuhi oleh kata-kata fotografer mesum tadi.
Tidur. Debut.
Sesaat kemudian, ia terjaga dari lamunanya saat ia merasakan ada seseorang yang duduk di sampingnya. Sehun mengangkat wajahnya dan memandang Kris, manajernya yang lebih tua lima tahun darinya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya pemuda tersebut sambil mengerutkan dahi. "Kau tidak ingin debut?"
Debut. Tidur.
Refleks Sehun langsung berdiri dan menjauh. Dia nyaris membentur tembok karena tidak berhati-hati.
"Apa maumu?" desis Sehun sambilmenghapus air matanya.
"Hei, aku hanya bertanya apa yang kau lakukan disini? Semua orang sudah menunggumu. Ayo keluar." Ajaknya.
Kris mengulurkan tangannya dan hendak menggendong Sehun. Sehun terpaku memandang lengan tersebut, hanya memandang tangan tersebut saja sudah membuat Sehun merasa jijik. Sehun merinding seketika saat tangan itu menyentuh tanganya.
Tidur.
"Sawaruna." (jangan sentuh). Sehun berteriak kencang dan histeris.
Kris terbelalak kaget dan melepaskan gandenganya.
"Apa-apaan kau ini?"
"Semua laki-laki sama saja!" sehun memekik muak. "Kau! Juga fotografer itu! Semua sama saja! Kalian hanya ingin memanfaatkanku! Laki-laki busuk!"
"Apa?"
"Kau ingin tidur denganku jugakan?" tanyanya blak-blakan.
Kris terkesiap. Tapi beberapa detik kemudian dia memasang tampang geli. "Aku? Ya Tuhan. Jadi kau belum tahu? Aku gay! Tidur denganmu? Ya Tuhan... lelucon macam apa ini?"
Untuk beberapa saat Sehun tidak dapat mencerna kata-kata Kris. Tetapi, setelah beberapa saat dia berhasil memahami apa yang dia dengar, Sehun terduduk, lega karena Kris tidak berniat tidur dengannya. Namun, rasa lega tersebut berhasil membuat Sehun kembali mengingat masalahnya.
Tidur. Debut.
"Ayo keluar dari sini. Semua orang sudah menunggumu."
Sehun menggeleng. Jadi Kris tidak ingin tidur denganya, tapi ia sudah kehilangan rasa percaya dirinya. Salah satu cara agar dirinya bisa debut adalah tidur dengan fotografer tadi dan memohon agar fotografer tersebut mengambil fotonya dengan sudut yang lebih bagus. Sehun menjelaskan semua itu dengan terisak, Sehun menganggap seluruh dunia yang berusaha dia bangun sudah runtuh.
Kris terkekeh saat Sehun sudah selesai bercerita dan mulai tenang.
"Gadis polos." Gumam Kris ditengah-tengah tawa kecilnya. "Dengar aku, oke! Kau gadis yang cantik. Kau gadis yang luar biasa cantik. Meskipun fotografer memegang peran besar, tapi wajah cantik juga penting. Pikirkan hal menyenangkan, tersenyum dan ikuti kata hatimu. Kecantikan dan ketulusan senyummu pasti bisa mengalahkan sudut yang kurang bagus, dan aku yakin hasil fotomu nanti akan luar biasa."
Kris mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengusap sisa airv mata di wajah Sehun. "Kau merusak make up mu tahu. Sekarang kita keluar dari sini, oke?"
Sehun tidak menjawab meresapi kata-kata Kris tadi.
"Oke?" Kris mengulangi pertanyaanya lagi.
Sehun menyunggingkan senyum penuh ambisi.
"Aku bisa."
Kris tersenyum dan mengacak rambut Sehun. "Baguslah."
.
.
.
Sehun mendesah panjang, mengingat kejadian itu lagi. Sehun tidak tahu bagaimana wajahnya waktu itu, tapi menurut dani, matanya bengkak, merah dan riasanya hancur lebur. Pemuda itu selalu tertawa mengingat kejadian itu.
Setelah hasil pemotretan itu keluar, memang sudut fotonya tidak bagus, tapi Sehun berhasil memaksimalkan wajah cantiknya. Dia mendapatkan pekerjaan disalah satu brand. Dan dia berhasil menyukseskan debutnya. Semua itu karena Kris.
Sejak saat itu, sedikit demi sedikit Sehun mulai mempercayai Kris. Sehun selalu datang pada Kris jika ada masalah di agency, mulai dari kelupaan eyeliner hingga air mata yang mendadak jatuh tanpa alasan yang jelas. Kris yang dasarnya baik, tidak bisa meninggalkan Sehun seorang diri.
"Kenapa memandangiku seperti itu?" tanya Kris. Tanpa sadar Sehun memandang Kris lama sekali.
Sehun menggeleng sambil tersenyum. "Tidak apa-apa. Oh, aku harus kembali bekerja."
"Mau kemana kau?" Kris bertanya saat Sehun bangkit berdiri.
"Menemui Lay-ssi untuk meminta maaf." Sehun mulai berjalan ke pusat keramaian, ingin menemui desainer itu. Ia baru saja mendengar tepuk tangan yang bergemuruh, tandanya Seoul Fashion Week sudah berakhir.
"Nanti saja." Kris menarik tangan Sehun. "Lay-ssi masih sibuk. Para wartawan masih mewawancarainya. Temani oppa saja ya?"
Sehun berpikir sejenak, lalu mengangguk. Benar juga, pasti masih sibuk, batinya. "Oppa." Tiba-tiba wajah Sehun menjadi serius. "Ada kabar apa lagi?"
Kris mengambil iPadnya dan setelah menemukan apa yang ia cari, ia memberikanya pada Sehun. "Seram sekali ya?"
Sehun tidak menjawab, matanya sibuk melihat video berita yang dibawakan oleh reporter.
"Gempa berskala 8,9 skala Richter mengakibatkan Jepang dilanda tsunami pada pukul 14.46 waktu setempat pada dua hari yang lalu. Tsunami menerjang hingga jarak 5 Km dari garis pantai. Salah satunya wilayah Fukusima. Badan Meteorologi Jepang..."
"Yang penting keluargamu baik-baik sajakan?" Kris bersuara lagi, berusaha membuat suasana hati Sehun menjadi lebih baik. Benar, kedua orang tuanya yang tinggal di Jepang baik-baik saja. Kerabat dekatnya juga.
Itu memang kabar gembira. Sehun mengangguk lemah mengiyakan pertanyaan Kris. 'Tapi kau salah oppa, ada satu orang lagi yang penting dalam hidupku. Dan aku harus mengetahui keadaanya.'
.
.
.
"Maaf telepon yang anda tuju sedang tidak aktif," Lagi-lagi Sehun mendengar suara mesin penerima. Sehun masih memegang erat ponselnya di samping telinga bahkan setelah hanya bunyi dengungan saja yang tersisa diitelinganya.
Dengan nafas berat, Sehun menaruh ponselnya di meja. Di atas meja tahunan itupula tergeletak buku tahunan SMA miliknya. Buku tahunan yang tidak memuat dirinya, karena ia tidak menyelesaikan pendidikannya di sekolah yang banyak memberikan kenangan padanya.
Sehun membalik halam buku itu menuju satu halaman yang sudah sangat dia hafal. Matanya langsung tertuju pada satu nama.
Nama : Kim Jongin
Ttl : 14 Januari 1990
Alamat : Tokyo-to shinagawa-ku Nishi Ooi 1296-1
No telp : 090-4756-8894
Motto : I am the best!
"Kau..." Sehun mengelus wajah blasteran Jepang-Korea itu. Matanya yang coklat seakan menatap balik Sehun. "...harus hidup. Aku... masih membutuhkanmu."
Sehun membuat secangkir teh sambil melamun lalu mendesah. Dia tahu, Kris sudah mengancamnya untuk langsung tidur malam ini, tapi ia tidak bisa. Sehun tersenyum, tahu benar Kris akan mengecek keadaanya besok.
Tapi sekarang bukanlah saatnya tidur masih ada banyak hal yang harus ia urus.
Sehun menelusuri lagi buku tahunan yang dikirimkan padanya bertahun-tahun lalu. Dia mencatat beberapa nama dan nomor telepon teman dekat Jongin yang ia kenal.
"Sial." Sehun mendesis dan membuang ponselnya saat ia hanya disambut suara dengungan, pertanda panggilan Sehun tidak kunjung diangkat. Sejak berita gempa itu terdengar, Sehun sudah berusaha mencari kabar apapun tentang Jongin tapi sampai detik ini masih belum membuahkan hasil apapun. Semua panggilan Sehun tidak pernah diangkat.
Apa itu artinya ia harus pergi sendiri mengecek ke Jepang?
Memikirkan kembali ke Negara kelahiranya membuat Sehun menggigil. Dia tidak akan pernah mau menginjakan kaki ke Jepang lagi. Ibunya yang berualang kali memintanya kembalipun tidak pernah berhasil membujuknya.
'Lalu apa yang harus ku lakukan?' Sehun bertanya dalam hati. Ia sudah mencoba semua nomor Jongin yang ia tahu. Nomor ponsel dan nomor rumah. Tidak ada yang menjawab teleponya.
Apakan rumah Jongin ikut tersapu oleh tsunami? Ah tidak, rumah Jongin ada di Tokyo, keadaanya tak separah yang ada di Fukushima yang terkena goncangan secara langsung.
Dimana kantor Jongin?
Sehun tidak pernah mencari tahu tentang ini. Apa pekerjaan Jongin? Sehun sudah berhenti mencari informasi apapun tentang pemuda itu sejak dua tahun yang lalu. Sejak dia benar-benar memfokuskan diri pada karirnya. Dan sekarang ia menyesali keputusannya itu. Bagaimana kalo kantor Jongin berada di daerah yang terkena tsunami?
Bayangan tentang Jongin yang tersapu tsunami membuat Sehun menggelengkan kepalanya. Dia meneguk tehnya yang sudah dingin.
Dimana lagi dia harus mencari informasi?
'Astaga' Sehun teringat sesuatu. Dengan cepat ia menaruh cangkir tehnya, yang sayangnya malah terjatuh dan pecah berkeping-keping. Sehun tidak mengiraukan pecahan tersebut dengan hati-hati ia melangkahinya dan masuk ke dalam kamar.
Sehun menyalakan laptop yang sudah berbulan-bulan menganggur di kamarnya. Sebuah harapan merekah dihati Sehun. Ada satu tempat yang belum ia gunakan untuk mencari informasi.
Internet
Dengan dada berdebar, Sehun mengetik nama pria tersebut. Dalam sedetik, ratusan link bermunculan dalam layar leptopnya. Ada banyak nama Jongin yang di sebut di dalam artikel, tapi bukan itu yang ia cari.
Sehun sempat putus asa saat ia mengingat detil terkecil tentang pria itu. IT. Jongin si jenius itu selalu mengatakan ingin mengambil IT. Dengan tangan gemetar, Sehun menyentuk keyboardnya lagi. Dan kali ini ia menemukan apa yang ia inginkan.
Foto Jongin terpampang dalam sebuah website perusahaan. Sehun berdecak kesal. Tidak ada kontak informasinya.
Mau tidak mau Sehun berhenti sebentar untuk mengamati wajah Jongin. Waktu sepertinya tidak menggores wajah Jongin. Pria itu seakan tidak bertambah tua. Bahkan pas foto perusahaan yang dibuat asal-asalan masih bisa menunjukan wajah tampan Jongin.
"Wajah ini asetku. Kau tahukan banyak sekali yang menawariku sebagai model?" sehun ingat ucapan jongin padanya. "Tapi tidak. Model itu suatu perkumpulan orang tanpa otak. Aku ini jenius, kau tahukan? Sama sepertimu. Makanya kita ini cocok sekali."
Sehun tersenyum kecil mengingat kejadian itu. Entah apa yang Jongin katakan kalo sekarang ia menjadi model. Mungkin Jongin akan mengatakan kalo mereka sudah tidak cocok lagi, Sehun menebak-nebak.
Sehun mengetikan hal lain pada keyboard leptopnya. Dan kali ini matanya membulat. Ia menemukan apa yang ia cari.
Twitter Jongin.
Sehun tidak pernah menduga kalo Jongin suka menggunakan social media seperti ini. Ah tapi jika dipikir lagi, jongin justru senang sekali dengan kecanggihan teknologi. Sehun tersenyum kecil. Pria itu sangat suka menjadi sorotan public.
Jonginkim
Follower 8894
Following 124
About : system Engineer/piano/Yokohama/Follow me and Iwont make you regret it.
Seperti yang Sehun duga, Jongin selalu terkenal. Dengan wajah tampanya, tentu saja mudah membuat banyak gadis mem-follownya tanpa pikir panjang. Sehun melihat twitt Jongin yang terakhir. Lima hari yang lalu.
Apakah Jongin meninggal?
Tidak! Sehun segera menepis pemikiran itu. Jongin tidak boleh mati.
Dengan gugup Sehun mulai membuat akun twitter baru. Sehun tidak pernah tertarik dengan akun sosial media seperti ini. Kris sudah berkali-kali membujuknya untuk membuat akun, bahkan menawarkan diri menjadi admin. "Ini untuk pekembangan karirmu" itu alasan yang dikemukakan Kris.
Akun yang dibuat Sehun: nuheshoo
Sehun mulai mengetik...
Jonginkim Aku Sefun. Mungkin kau lupa...
Sehun menatap tulisanya dan langsung menghapusnya lagi.
Jonginkim Konichiwa, Jongin. Apa kabar? Lama tak jumpa. Aku mendengar berita bahwa Jepang terkena gempa. Kau baik-baik saja?
Sehun mengirimkan tweet yang dia tulis.
Dan sekarang saatnya menunggu.
