BAB 3
Jongin mengerjapkan mata, berusaha untuk membiasakan diri dengan lampu neon suram yang menyorot di atas ruangan. 'Di mana aku?' tanyanya dalam hati. Kasurnya tidak nyaman, seperti terbuat dari busa yang sangat tipis dan dibalut dengan seprai putih. Jongin mengerutkan kening. Berusaha untuk bangun. Kepalanya agak sakit.
Jongin memandang ini terkesan murahan, dengan kelambu biru yang sangat pucat, nyaris putih. Suasana di luar terlihat gelap. 'Pukul berapa ini?' Jongin mencari jam dan menemukannya di dinding sebelah kanannya. Sudah jam 21.03 JST. Dia pasti sudah pingsan berjam-jam. 'Tunggu dulu..sekarang hari apa?'
"Kau sudah sadar?" terdengar suara seorang bibi setengah baya. Jongin melirik siapa barusan yang berbicara, dia berdiri di samping ranjang Jongin. Pakain bibi itu memberi tahu apa yang Jongin ingin tahu. Seorang perawat. Berarti dia sekarang ada di rumah sakit.
"Tanggal berapa ini?" tanya Jongin pada perawat itu.
"11 Maret." Jawab perawat itu sambil tersenyum.
'Masih hari yang sama. Jongin menghemmbuskan nafas lega karena dia hanya pingsan beberapa jam saja.
Jongin duduk di atas kasur berbingkai keranjang besi dan seprai putih. Perawat kemudian memeriksa tensi Jongin sementara Jongin melihat Chanyeol yang tertidur di kasur sebelahnya.
"Kau beruntung tidak ada masalah yang serius, kau akan baik-baik saja." Ujar perawat itu.
"Bagaimana dengan dia?" tanya Jongin sambil mengedikatan kepalanya ke arah Chanyeol.
"Hanya kelelahan, tunggu saja seharai lagi. Tadi dia sudah bangun, jadi ia akan baik-baik saja. Jangan kawatir." Kata perawat itu sambil tersenyum. Kemudian perawat itu merapikan alat-alatnya dan pergi dengan langkah cepat.
Jongin memaksakan diri untuk turun dari atas kasur dan berdiri. Kepalanya sedikit sakit. Dengan terhuyung, Jongin berjalan menyusuri lorong rumah sakit kecil itu. Perawat dan dokter masih terlihat sangat sibuk. Kamar-kamar penuh dengan pasien.
'Ruang tunggu.' Kata Jongin dalam hati. 'Aku perlu ke ruang tunggu dan melihat berita.' Dia perlu tahu apa yang terjadi tadi siang. Baru kali ini Jongin merasakan gempa yang sebesar ini. Bahkan sampai jatuh pingsan di dalam lift. Ruang tunggu rumah sakit juga dipenuhi oleh pasien. Kalau tidak menangis, kebanyakan berwajah kosong, seperti tanpa jiwa.
Jongin mengerutkan kening, heran. Rumah sakit memang tempat yang'agak' suram, tetapi tidak sesuram ini. 'Apa yang terjadi?' tanya Jongin lagi dalam hati. 'Bukankah gempa di Jepang adalah hal yang biasa? Kenapa semua orang di ruangan ini seperti sedang menghadiri pemakaman?'
Sebuah tv kecil terpasang di sudut ruangan, menayangkan berita. Jongin tidak bisa mendengarkan apa yang di ucapkan oleh pembawa berita karena suara tv terlalu kecil. Tetapi apa yang ia lihat memberikan informasi apa yang ia perlukan. Jongin berdiri di sudut ruangan sambil menyilangkan lenganya di depan dada. Dia menutup mulut rapat-rapat melihat berita itu dengan seksama.
Gempa 8,9 skala Richter menyerang Jepang bagian timur siang tadi. Jongin bisa melihat gedung-gedung tinggi bergoyang ke kanan dan ke kiri seperti mau ambruk. Jongin meringis ngeri. Tiang-tiang listrik bergoyang keras, bahkan kabel ada yang terputus beberapa, mengakibatkan percikan api. Jongin bisa melihat orang-orang yang berteriak dalam kesunyian. Jalanan juga retak. Beberapa retakan seperti membelah bumi menjadi dua. Kekuatan alam ternyata lebih dasyat dari apa yang Jongin bayangkan.
Pemandangan yang muncul dalam layar yang kemudian membuat Jongin terbelalak kaget. Jepang bukan hanya diserang gempa, tapi juga tsunami. Tsunami yang besar dan terjadi di daerah yang tidak jauh dari rumah sakit.
Tsunami datang melanda 30 menit setelah gempa. Tidak ada yang mengira akan terjadi tsunami, terlebih anak-anak muda. Mereka juga mengira gempa yang terjadi adalah gempa yang akan reda setelah bertahan beberapa menit, seperti yang biasanya terjadi. Sayangnya, saat mereka sadar, semuanya sudah terlambat beberapa ada yang terjebak di dalam mobil. Beberapa ada yang ditelan begitu saja oleh ombak. Beberapa ada yang memanjat tiang lisrtik.
Jongin melihat berita itu dengan hati miris. Siaran tersebut kemudian memperlihatkan sebuah pemandangan yang seperati neraka. Api berkobar dengan area yang luas. Tanker minyak terbakar habis. Lutut Jongin bergetar saat ia membayangkan berapa jumlah orang yang terbakar hidup-hidup dalam fasilitas persediaan minyak tersebut. Pemuda itu ngeri dengan pemikiranya sendiri. Dia nyaris jatuh karena lututnya tidak bisa menahan berat badannya sendiri.
Selain tanker itu, reaktor nuklir milik TEPCO juga hancur. Sistem pendinginya rusak. Pemerintah kalanag kabut. Kalo tidak segera ditangani seluruh daerah yang berada di sektor nuklir tersebut tidak bisa di huni lagi, penuh dengan radiasi nuklis yang bisa menyebabkan kanker.
'Reaktor nuklir itu ada di dekat sini.' Pikir Jongin bergidik. 'TEPCO sialan.' gerutunya. Kali ini dia benar-benar tidak dapat menahan berat tubuhnya. Dia jatuh berjongkok di sudut ruangan. 'Bagaimana kalo reaktor nuklir itu meledak? Bagaimana kalo dia memang sudah terkena radiasi?'
Ini bukan film tentang akhir zaman. Ini nyata. Gempa, tsunami, kebakaran kemudian radiasi nuklir. Dia hanya dapat menatap layar televisi dengan tatapan mata kosong. Jadi inikah yang terjadi tadi siang? Orang-orang kehilangan rumah dan...
Nafas Jongin tercekat.
Orang-orang meninggal. Meninggal dengan cara yang sangat kejam. Hanyut, terbakar, terkena radiasi...
Berapa orang?
Berapa orang yang kehilangan nyawanya?
Seribu? Dua ribu?
Atau mungkin separuh penduduk Jepang Timur sudah lenyap? Sekalipun mereka bisa bertahan, siapa yang bisa menjamin keselamatan mereka dari radiasi nuklir? Dari rumah sakit ini, hanya televisi saja yang bisa menghubungkan Jongin dengan dunia luar. Rumah sakit ini jauh dari laut jadi keadaannya masih lumayan kalau dibandingkan dengan keadaan diluar sana.
'Aku sungguh beruntung.' Pikir Jongin mencoba menguatkan hatinya. Tidak ada luka yang parah, hanya kepalanya saja yang sedikit terantuk dinding lift. Bahkan kekawatiran Jongin akan jatuhnya lift sama sekali tidak terjadi. Dia beruntung. Dia yakin dewi fortuna masih ada di pihaknya.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia tidak bisa terjebak di kota ini selamanya. Dia masih memiliki pekerjaan yang harus ia lakukan di Tokyo sana. Proyek baru sudah menunggunya.
"Sedang apa kau?" tanya Chanyeol yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya.
"Melihat tv." Jawab Jongin pendek.
"Seperti adegan di film-film hollywood ya?" ujar Chanyeol sambil memaksakan tawanya. Jongin bisa merasakan ada ketakutan dalam suara itu. Jongin juga ketakutan. Malaikat maut sedang bekerja di Jepang, orang yang dekat dengan mereka, orang yang mungkin mereka kenal.
Jongin menggaruk kepalanya dengan keras. Sekali lagi ia membiarkan ketakutan memasuki hatinya. Jongin membuang perasaan putus asa itu jauh-jauh.
"Ada yang bisa kau hubungi? Kolega-kolega kita?" Tanya Jongin serius.
Chanyeol menggeleng pelan. "Masih tidak ada seorangpun yang bisa aku hubungi. Tadi, aku sudah mencoba menelpon pimpinan kantor, tapi ponselnya sama sekali tidak diangkat."
Perasaan Jongin sedikit mulai tenang. Setidaknya dia tidak sendirian di sini. Jongin melihat keadaan ini seperti sebuah proyek baru. Proyek dengan tujuan membawa mereka, membawa Jongin keluar dari sini. Pikiran itu membuat ambisi Jongin bangkit. Ini sebuah proyek jangka pendek yang memerlukan pemikiran matang dan kerjasama.
"Bagaimana dengan pimpinan perusahaan?"
Chanyeol mengangkat bahu. "Mana mungkin aku tahu nomer ponsel beliau?"
"Sudah bisa menghubungi keluargamu?" tanya Jongin pada Chanyeol. "Adikku di Osaka dia punya facebook. Kemarin dia menghubungiku lewat facebook. Aku baru tahu kalau internet masih berjalan lancar." Ucapnya setengah geli. "Kau?"
Jongin menggeleng. "Buat apa? Aku tidak punya keluarga yang tinggal di Jepang lagi. Ayah dan Ibuku sudah pindah ke London tahun lalu."
Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Tetap saja kau harus menghubungi mereka, tolol! Mereka punya tv. Dalam waktu sehari, berita dari Jepang sudah sampai di telinga mereka."
Jongin sedikit terkejut. Chanyeol selalu mengejutkan dengan kemampuanya yang memikirkan perasaan orang lain. Sedikit iri dengan Chanyeol, Jongin berkata. "Aku akan SMS mereka nanti."
"Lalu apa rencanamu?" tanya Chanyeol pada Jongin, menunggu perintah.
"Kita harus segera keluar dari kota ini." Gerutu Jongin. Dia tidak suka di tempat sempit seperti di rumah sakit ini, berbagi tempat dengan orang yang jumlahnya ratusan sedikit membuatnya risih. Lagipula, dia belum mandi. Dia masih memakai jas pestanya, kini kulitnya terasa lengket dan tidak nyaman.
"Transportasi dibatasi Jongin, kita tidak akan bisa kemana-mana."
'Akutidak peduli.'pikir Jongin dalam hati. Yang ia butuhkan sekarang adalah tiket pulang ke Tokyo. Hati Jongin sedikit memanas. Dia harus bisa pulang ke Tokyo.
.
.
.
Malam itu Jongin tidak bisa tidur. Dia sudah tidak sabar untuk pulang ke apartementya sendiri dan tidur di kasur yang hangat.
Kemarin, Chanyeol sudah berhasil menghubungi pimpinan perusahaan dan meminta agar mengirim helikopter untuk menjemput mereka kembali ke Tokyo. Jadi, ia hanya harus bersabar sebentar lagi untuk bisa keluar dari Rumah Sakit yang sementara beralih fungsi menjadi tempat penampungan korban gempa.
Jongin teringat bahwa dia harus menghubungi keluarganya di London. Beberapa bulan yang lalu Jongin memaksa mereka untuk menggunakan facebook atau twitter. Akhirnya ayahnya membuat akun twitter. Jongin merogoh kantung celananya dan menarik smartphonenya keluar, dia menulis post berharap ayahnya masih ingat cara menggunakan twitter. Sudah beberapa hari ini dia tidak mengapdet twitternya. Dengan dua kali pencet, smartphone Jongin menampilkan layar home twitter.
JongdaeChen : JonginKim Are you okay?
OshioKenji : JonginKim Oi brengsek balas mentionku.
MadammeJulie : JonginKim kau tak apa-apakan?
Nufeshoo : Jonginkim Konichiwa, Jongin. Apa kabar? Lama tak jumpa. Aku mendengar berita bahwa Jepang terkena gempa. Kau baik-baik saja?
'Nuheshoo? Siapa orang ini?' pikir Jongin, karena ada orang sok akrab yang menyapanya di twitter.
Jongin menekan tombol profile untuk menampilkan profile nuheshoo. Female. Seoul. 'Siapa?'
TBC
Hey, perkenalkan saya author baru. Panggil aja Ri yah... /kenalanyatelat. Makasih yang udah respon positive remake ini. Maaf juga masih banyak typo, efek males edit..wkwk
Oh iya cuman mau jawab satu pertanyaan. Sefun itu gak typo ya, sefun itu nama Jepangnya Sehun. Saya juga baru tahu kalo Sefun itu nama Jepangnya Sehun pas nyari di blog. Di novel nama tokoh utama wanitanya di ganti, jadi ya untuk ngikutin novelnya terpaksa saya ganti walaupun agak risih bacanya..wkwk...
Makasih yang udah mau repot repot review, fav, sama follow ff gaje ini, maafgak bisa bales satu-satu.
Thanks to : Guest, dini, thedolphinduck, huniekim, kkmjongSehunnie. IzzSuzzie, ilysmkji, riribunnyhun, song soo hwa, jongshixun.
