Nafasku Bukan Milikku
Disclamers: Masashi Kishimoto
Story By: White Fox
Main Pairing: SasuSaku, slight SasuHina
Genre: Drama & Angst
Rated : T semi M
Warning: AU, Typo, Longshoot, Twooshot, Ejaan Yang Sulit Dimengerti, Dan Banyak Cacat Lainnya
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
.
.
.
.
.
Note: Perlu di ingatkan kembali. Fict ini tidak berakhir seperti yang kalian bayangkan. Malah sangat jauh dari perkiraan. Karena aku membuat fict ini sesuai dengan genre yang ada. Tidak ada Romence di akhir cerita. Atau berakhir bahagia. Sekali lagi fictku ini bergenre Angst. Dimana hanya ada Sad Ending di akhir cerita. Bukan Happy Ending seperti yang kalian inginkan. Jadi, jika kalian tidak suka fict ini berakhir dengan sad ending, silahkan ketik back. Agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan atas fict ini.
Ok cukup sudah aku berceloteh ria. Dan selamat membaca.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura POV
Sudah lebih dari dua bulan, aku menginjakkan kakiku kembali di negaraku. Tempatku menghembuskan nafas pertamaku. Konoha City. Dan disinilah aku, berkutat dengan berbagai dokument pasien yang dirawat inap di hospital tempatku bekerja. Aku sangat menyukai profesiku. Dimana aku harus menyelamatkan nyawa seseorang, yang sama sekali tidak kukenal disini. pekerjaan yang begitu mulia menurutku.
Ini adalah data pasienku ke-10 yang kubaca. Aku meneliti setiap kata di kertas rujukan tersebut. Ternyata pasienku sangat muda sekali, untuk melawan penyakit yang cukup mematikan di tubuh mungilnya.
Kulirik jam dinding ruanganku. Tiga jam lamanya aku berada disini. Dan sekarang waktu telah menunjukan jam delapan malam. Sudah waktunya untukku pulang. Aku mengambil smartphone milikku di meja. Menekan tuts-tuts di layar touch itu. dan pesanku telah terkirim.
Membenahi sebentar peralatan medisku. Setelah selesai, kulangkah'kan kedua kakiku menuju pintu. Membuka pintu ruanganku, lalu menutupnya pelan. Ternyata seorang gadis cantik telah menungguku di hadapanku.
"Sudah lama menunggu?"
"Tidak lama, hanya 10 detik sebelum kamu membuka pintu itu, Sakura."
Aku bisa melihat raut lelah terpancar di wajah cantiknya. Mungkin pasien yang di tangganinya lumayan banyak. Tidak mau berlama-lama disini. Aku menggandeng tangannya, lalu berjalan meninggalkan ruanganku. Namun, entah kenapa. Aku melihat ada sesuatu yang disembunyikan di kedua bola mata indah itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Normal POV
Mobil sport buggati veryon terlihat terhenti di halaman parkir. Pria itu membuka pintu mobilnya. Lalu berjalan terburu memasuki gedung hospital. Kedua kaki kekarnya berjalan di lorong rumah sakit, menciptakan suara dalam kesunyian lorong itu. Onyx hitamnya terus meneliti pintu-pintu yang terdapat di lantai 2. Mencari empat digit nomor pintu yang sudah hafal di kepalanya.
Kedua kakinya berhenti, disalah satu pintu dengan nomor digit yang sama. Ia arahkan tangan kekarnya memutar knop pintu. Namun, sebelum ia memutarnya. Knop pintu itu berputar dengan sendirinya. Memperlihatkan seorang wanita berperawakan cantik bak dewi di hadapannya.
"Apa anda Uchiha-San?" Tanya seorang dokter berperawakan kecil itu.
"Hn."
Dokter yang terlihat masih muda itu mempersilahkan Sasuke untuk memasuki ruangan. Sasuke melengos masuk begitu saja, menghampiri ranjang yang terdapat seorang wanita paruh abad tengah terbaring lemah.
"Bagaimana keadaanya?"
"Keadaan Uchiha-San semakin membaik. Aku sudah mencatat beberapa resep obat untuk di minumnya, jika sewaktu-waktu beliau terkena serangan jantung lagi." Tangan lentik sang dokter memberikan secarik kertas berisi resep yang ia catat.
"Tolong diminum setiap hari. Agar nyonya Uchiha-san benar-benar sembuh total. Dan karena Uchiha-san telah membaik. Dia diperbolehkan dirawat jalan."
Raut lega sedikit ketara di wajah tegasnya. Kepala raven itu terlihat mengangguk singkat.
"Kalau begitu, saya permisi."
Dokter cantik itu merogoh saku jaketnya. Membaca sebuah pesan masuk dari seseorang di ponselnya. Kemudian ia berjalan kearah pintu. Sebelum dirinya menutup pintu. Ia bisa mendengar pria dewasa itu berucap. 'Terimakasih, Dokter Yingji.', dan pintu telah tertutup, meninggalkan kesunyian di ruangan itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tring!
Terdengar suara lonceng di pintu cafe. Dari arah pintu, muncul seorang wanita berhelaian soft pink sepanjang pinggang. Wanita itu sengaja membiarkan rambutnya tergerai. Karena ia lupa membawa ikat rambutnya. Biasanya ia membawa ikat rambut jika ingin berangkat kerja. Alhasil, sekarang ia menjadi bahan pembicaraan banyak orang yang melewatinya, karena kecantikannya menambah akibat rambutnya menjuntai indah, walaupun umurnya sudah memasuki kepala tiga. Tapi, Sakura tidak memusingkan hal tersebut. Kecantikannya bagai hentikan waktu(?)
Sakura berjalan menghampiri meja. Dimana semua teman-temannya tengah duduk mengelilingi meja itu. Ia menarik salah satu kursi, lalu menghempaskan bokong sintalnya. Tak lupa juga ia tersenyum manis.
"Sakura-chan.."
Lihat 'lah Ino mendadak bungkam dengan sorot mata terpukau.
"Sepertinya, kau semakin cantik saja." Tenten menambahkan.
Seorang gadis yang tengah melahap makanannya, ikut mengangguk karena perkataan Tenten. Sementara yang menjadi topik, dari ketiga sahabat itu hanya tersenyum kecut.
"Kalian juga sama cantiknya. Jadi, jangan merendahkan diri kalian sendiri, hanya karena rambutku tergerai. Kalian belum tahu saja, aku kegerahan daritadi tahu!" Sakura menggembungkan kedua pipinya sebal, "Tidak ada kata Selamat Datang untukku?"
"Baiklah, baiklah. Selamat Datang, Sakura-ku sayang!"
Ino, Tenten dan Shion, lekas berdiri dari kursi mereka. Dengan bersamaan mereka memeluk Sakura. Sebuah pelukan kerinduan yang diakhiri adu kepalan tangan. Setelah puas, mereka pun kembali duduk. Tidak ada raut rindu lagi yang mereka pancarkan.
Satu persatu mulai bercerita tentang kehidupan mereka setelah lulus dari sekolah menengah. Ada canda dan tawa yang terselip dari obrolan tersebut. Mereka tidak mengetahui, bahwa ada sosok wanita berhelaian violet, tengah menatap reuni kecil itu dengan sorot mata terluka.
"Mengapa mereka tidak mengundangku?" Cicit wanita itu, sambil berusaha meredam tangisannya.
"Karena kaulah duri yang menempel di mawar itu." Gumam pelan seorang wanita yang kini tengah menatap Sakura dengan pandangan pedih. Ia menghabiskan softdrink rasa kopinya, lalu membuangnya ke tempat sampah, lalu berjalan pergi memmasuki gedung bercat putih gading tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura berjalan dengan terburu, di sepanjang jalan yang mulai sunyi. Setetes demi setetes awan hitam begerumul di atas sana telah menjatuhkan bebannya. Meluncur turun mengenai surai softpink miliknya. Sakura mempercepat langkahnya. Dengan harapan, ia pulang dengan setelan baju tetap kering yang melekat di tubuh rampingnya.
Sepertinya, keberuntungan tidak berpihak padanya.
Air hujan itu semakin turun dengan derasnya. Membasahi kepalanya pinknya. Karena ia tidak mau sakit. Sakura berinisiatif meneduh di sebuah toko di pinggir jalan. Ia bisa melihat seorang pria setengah abad tengah mengangkat ramen, lalu menaruhnya ke mangkuk dihadapannya.
"Selamat datang di kedai Ramen Teuchi, Nona."
Bau khas ramen tercium di hidung mancung sakura. Membuat ia tergoda untuk mencicipi ramen dengan harum yang sangat enak itu.
Sakura menarik bangku kosong, di samping seorang pemuda bersurai jabrik, yang tengah memainkan ponsel pintarnya.
"Paman, aku pesan Ramen dan Teh hangatnya."
"Baik, Nona. Akan siap dalam waktu dua puluh menit." Ucap pemilik kedai.
Sakura duduk di salah satu kursi. Ia tidak menyangka, mendapati kedua Iris Blue Sappire tengah menatap dirinya.
"Konbanwa, Nona. Kenapa kamu pulang sendiri? Dimana suamimu?"
Sakura hampir saja tersedak salivanya. Ia menatap pria dewasa di sampingnya, dengan pandangan datar.
"Aku belum punya." Jawabnya asal.
Pemuda bernama Naruto, terlihat menekukan satu alisnya. Ia terus memandang wanita disamping kirinya. Karena tidak mendapatkan jawaban. Ia pun berkutat kembali dengan ponselnya.
Suasana cangung sirna, saat paman teuchi menaruh ramen pesanan ke meja. Terlihat uap mengepul di atas ramen. Membuat siapapun akan tergoda oleh baunya.
"Ittadakimashu!"
Sakura mendadak cengo seketika. Ia melihat pria di samping kanannya. Tengah makan dengan lahapnya. Tanpa merasakan panasnya kuah dari ramen itu. Sakura menelan ludahnya.
'astaga, orang ini. Apa tidak kepanasan apa?!' Sakura membatin.
Deg!
Sakura memegang dada kirinya. Tepat dimana letak jantungnya berada, tengah berdebar keras tak beraturan. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang tak terduga akan terjadi dalam beberapa menit. Tidak, bahkan beberapa detik lagi.
'Ada apa dengan jantungku? Kenapa aku merasakan kalau ada yang tidak beres. Mengapa aku harus pulang? Ada apa denganku'
Hatinya berkata, ia harus tetap berada disini. Namun, tubuhnya bersikeras harus meninggalkan tempat ini sekarang juga. Ia benar-benar dibuat bingung oleh perasaannya.
"Pak, aku meletakan uangku di atas meja."
Tanpa pikir panjang Sakura meletakkan beberapa yen di atas meja. Membawa tasnya, melangkahkan kedua kaki jenjangnya keluar pintu. Tak jauh dari arah pintu seseorang masuk ke dalam kedai, dan berhenti tepat beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Kedua iris berbeda kontras telah bertemu.
Kedua bola mata yang indah. Tapi, sangat misterius. Sakura merasakan lagi-lagi tubuhnya terasa terseret lubang tanpa dasar. Ia ingin berteriak sekarang juga, dan memeluk tubuh kekar itu erat-erat. Tetapi, yang hanya ia lakukan. Hanyalah membatu di hadapannya. Ia tidak bergerak sedikit pun.
"Oi, Teme. Kau lama sekali."
Debaran jantungnya berdetak semakin cepat, kala Sasuke berjalan kearahnya. Sakura tetap diam mematung. Hingga Sasuke berjalan melewatinya. Saat itulah setetes air bening jatuh dalam binar matanya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Sakura benar-benar merindukan sosok Sasuke. Namun, takdir mempermainkannya sekali lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
Flasback On
Keempat manusia berbeda gender tengah duduk di sofa mewah. Onyx dari wanita paruh baya masih terus menatap tajam wanita di hadapannya. Berbeda dengan pria berumur kepala tiga di sampingnya. Sementara, yang di tatap tak mengenakan hanya bersikap tenang, dengan perasaan was-was.
Perempuan berbaju maid terlihat menuangkan teh ke dalam cangkir berlapis keramik dengan ukiran seni yang indah. Setelah selesai ia berjalan mundur tepat di belakang tuannya berada.
Tangan yang masih mulus itu menggenggam teh, mengarahkan kem mulutnya, menyesapnya perlahan. Rasa manis yang pas terasa di lidahnya. Lalu, ia pun menaruh gelas itu kembali ke meja.
"Siapa namamu?"
Menelan ludah, Sakura menatap takut-takut kepada sang pemilik onyx, "Haruno Sakura, Baachan."
Onyx itu masih tetap setia mencari jati diri dalam emerald indah itu. "Siapa nama kedua orang tuamu?"
"Kaasan, kenapa bertanya hal yang tidak penting.."
Sasuke langsung bungkam ketika ibunya mengacungkan satu jari telunjuknya, "Aku bertanya pada Haruno, Sasuke."
Sasuke yang mendengar ucapan datar dari ibunya hanya menyatukan kedua alisnya. Ia benar-benar di buat bingung oleh ibunya. Mendadak suasana tak mengenakan mengelilingi ruangan luas itu.
"Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki, Baa-san."
"Oh, ternyata kaulah orangnya."
Orangnya? pikir Sakura. Ia terus menatap Mikoto dengan tatapan bingung.
"Kau pasti bingung, kenapa aku berkata seperti tadi. Aku tahu seluk beluk tentang dirimu. Seorang gadis yang kelakuannya bukan seperti anak baik-baik pada umumnya. Aku bahkan dapat menyimpulkan, pastinya kau sering tidur dengan pria sehabis bermain di club malam."
Sakura membulatkan matanya, "Aku bukan seperti yang anda bayangkan, Baa-san."
"Bukan, yah. Jadi, apa alasanmu kalau kamu anak baik-baik. Apa sering keluar masuk club malam, apa itu kelakuan anak baik-baik. Kami adalah keluarga terpandang. Apa pantas anakku Sasuke Uchiha, menikahi gadis sepertimu yang bahkan mudah ditemuinya di club malam."
Bagaikan kaca yang hancur akibat dipukul, itulah yang di rasakan Sakura. merasakan sakit yang amat mendengar ucapan dari seseorang, yang bahkan belum ia panggil ibu. Sakura berusaha menahan getaran suara yang hampir pecah. Ia tidak mau terlihat lemah, ia harus kuat. Sakura menormalkan detak jantungnya. Berusaha agar kepalanya bisa berfikir jernih. Namun, efek obat yang ia telan tetap membuat otaknya keruh. Ia tidak bisa berfikir apa-apa untuk membalas ucapan dari Nyonya besar Uchiha ini.
"Jika kau merasa pantas untuk tetap disini. Maka aku yang akan pergi."
Cukup sudah.
Sakura berdiri dari tempat duduknya. Membuat semua mata memandangnya, tak terkecuali Sasuke yang kini ikut berdiri.
"Maafkan saya, mungkin memang seharusnya saya tidak berada disini. Kalau begitu permisi."
Sakura berjalan cepat kearah pintu. Ia tidak menoleh kebelakang, ataupun hanya sekedar melihat Sasuke yang memanggil namanya. Ia benar-benar merasa malu, untuk apa seorang sepertiku ada disini. Kata itulah yang masih berputar-putar di otakknya. Air mata yang ia bendung tumpah sudah membasahi pipi tirusnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jalanan kota kohona terasa begitu sepi di gemerlapnya malam, sehingga membuat ia bisa leluasa mempercepat laju mobilnya. Sesekali kedua onyxnya melirik seorang wanita yang tengah memalingkan mukanya ke arah kaca, seakan ia adalah seseorang pria asing yang berada di sampingnya.
Sementara gadis itu memilih bungkam, wajahnya yang pucat dengan kelopak mata menebal. Dan terus bergumam. Kami-sama, hukum'lah aku. Ia menurunkan pandangannya ke perutnya. Mengelus pelan daerah itu. Air mata itu kembali meluncur di pipi berisinya.
"Ck, sial!"
Entah sudah berapa kali Sasuke bergumam seraya berdecih, ia benar-benar muak dengan apa yang dialaminya saat ini. Ingatannya terbang ke beberapa jam yang lalu, saat ia berbicara dengan seorang gadis blasteran China-Jepang siang itu. Dan ia tak menyangka bahwa dirinya tengah mengalami hilang ingatan sebagian, saat ia mengalami depresi di penjara dahulu. Sekarang di pikirannya, siapa itu Sakura? Dan apa hubungannya dengan Hinata? Hingga Hinata menamparnya di depan para tamu kolega saat acara dansa?
Tak jauh beda dengan Hinata, pikirannya terlempar ke beberapa menit yang lalu, saat ia dan Sasuke tengah menikmati pesta dansa, di salah satu apartemen mewah. Ia mendengar jelas, bahwa Sasuke bertanya padanya. Dan Sasuke mengeluarkan pikirannya tentang apa yang membuatnya termenung di sela-sela pembicaraannya dengan beberapa kolega kerjanya.
Kau tahu siapa sakura? Dokter Yingji bilang bahwa gadis itu adalah masa lalunya dia.
Terkejut bukan main. Seketika tubuhnya mematung bak patung. Perlahan kedua bola violetnya mengenang. Kepalanya berputar tak tentu arah. Ia memegang kepalanya, pandangannya terlihat memburam.
Melihat ia hampir pingsan, Sasuke memegang kedua bahunya. Dan itu tentu saja membuat ia kembali ke alam sadar. Jika, pria inilah yang dicintai sahabatnya.
Plak!
"Menjauhlah dariku!"
Setelah berucap, Hinata berjalan cepat keluar apartemen. Air matanya sudah mengalir bak anak sungai. Ia terus berlari hingga sampai di mobil, ia membuka pintu lalu masuk. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam mobil tanpa ada satu orang pun yang tahu.
Sakura, kumohon maafkan aku.
Hinata terus menunduk melihat perut ratanya. Ia tahu bahwa ada nyawa yang bersemayam dalam perutnya, tengah mendengarkan dan ikut merasakan apa yang dialaminya sekarang.
"hn, kenapa kau menamparku?"
Hinata tersentak mendengar ucapan tiba-tiba dari Sasuke. Ia mengadahkan kepalanya, menatap lurus ke depan.
Hinata tak mau menjawab pertanyaanya.
"Lalu siapa Sakura?"
Hinata tak bergeming dengan posisinya saat ini. Namun, ia membuka mulutnya. "Dia sahabatku."
Kedua onyx itu terlihat sedikit membulat, "Apa kau bilang?"
Hinata menolehkan kepalanya, menatap onyx yang tengah memandangnya, "Dia sahabatku, kakakku dan penolongku. Kau puas?!"
Ada sebesir rasa sakit menjalar di hatinya, ia tak mengerti semua ini. Sebegitu besarnya penyesalan di dalam hati hinata.
"Harusnya aku tak menikah denganmu, harusnya aku tidak mengandung anakmu. Kenapa kau datang dalam hidupku. Pergi kamu, pergi!"
Hinata meluapkan emosinya dengan memukul keras dada kiri Sasuke berkali-kali. Dan Sasuke seakan hilang kesadarannya, ia membiarkan wanita yang ia cintai memukulnya. Ia terus melihat wajah Hinata yang menunjukan penyesalan dan sakit yang amat sangat. Wanita hamil memang memiliki hati yang sensitif, tapi lain halnya dengan Hinata. Ini bukan seperti emosi yang pada umumnya di rasakan wanita hamil muda. Namun, ini adalah emosi dimana penyesalan yang menjadi motif dari semua emosinya yang keluar.
Sasuke menangkap salah satu tangan mulus hinata yang hendak memukulnya lagi, "Apa salahku?"
Seketika Hinata berhenti memukulnya. Ia perlahan menunudukan kepalanya.
Tanpa sepentahuan mereka, sebuah mobil truk berukuran besar tengah berjalan ugal-ugalan di hadapan mobilnya. Sasuke melingkan wajahnya ke depan saat sinar mobil truk itu mengarah ke mobilnya. Dengan cepat Sasuke membanting stir ke kiri badan jalan. Namun naas, mobil sport itu kehilangan kendali lalu menabrak pohon di depannya.
Samar Sasuke melihat tubuh istrinya terjebit dasboard mobil. Ia mengarahkan tangan kekarnya, berusaha menyentuh perut Hinata. Tapi belum sempat ia mengelus pelan perut Hinata, kegelapan telah memenuhi penglihatannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kedua onyx itu terbuka, nafasnya memburu, dan degup jantungnya berdetak cepat. Yingji mengirup rakus udara di sekelilingnya. Setelah degup jantungnya berdetak normal. Ia bangun dari tidurnya, lalu memposisikan tubuhnya untuk duduk di ranjang size miliknya. Terlihat kedua matanya berair, dan air itu jatuh mulus membelai turun di pipinya. Mimpi kedua kalinya berturut-turut mengahantuinya selama seminggu. Itu adalah mimpi terburuknya dalam hidupnya.
Kenapa? Kenapa harus, Sakura. Yingji membatin.
Terasa buntu dengan pikirannya, ia meraih ponsel pintarnya di nakas. Gerakan tangannya terburu memencet beberapa kata, setelah selesai ia pun mengirim pesan singkat itu. Dan beberapa detik pesan itu telah sukses terkirim.
"Kami-sama, apa ini jawabanmu tentang doa Sakura? Jika memang benar, tolong beri dia waktu, agar ia bisa bertemu dengannya. Kumohon tunjukanlah kekuasaanmu." Yingji berujar pelan.
Hanya dirinya dan sang pencipta yang tahu mengenai apa yang akan terjadi beberapa hari kedepan setelah malam ini berakhir.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kalau saja bukan karena profesinya, mungkin sekarang ia sudah kena ocehan para suster yang menyarankannya secara tegas bahwa dirinya berada di rumah sakit. Namun, bukan saatnya untuk berjalan pelan. Ada nyawa yang harus diselamatkan detik itu juga.
Yingji membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, hingga ia mendapatkan hadiah delikan tajam dari seorang gadis di dalam ruangan itu.
"Ayolah, Sakura. Aku tidak ada waktu untuk bercanda. Ada dua pasien yang mengalami luka parah karena tabrakan kemarin malam. Mereka di pindahkan dari rumah sakit dekat lokasi kejadian, Dan aku tidak punya waktu untuk mengurus keduanya." Yingji berusaha menetralkan nafasnya yang menggebu akibat berlari di lorong rumah sakit.
Sakura menganggukan kepalanya, "Antar aku ke ruang pasien salah satunya." Ia membawa tas berisi peralatan medis miliknya. Lalu berjalan mendekati Yingji. Kedua dokter cantik itu berjalan terburu di lorong di pagi hari.
Mereka pun sampai di pintu ruangan salah satu korban yang di maksudkan Yingji.
"Pasien yang kau tanggani, adalah suami dari pasien wanita yang ku tanggani, kau 'kan ahli di bidang apapun."
"Akan ku usahakan semampuku, yingji. Kau tanggani saja pasienmu."
Yingji menganggukan kepalanya. Ia lalu berjalan menjauhi Sakura. Dan menghilang di balik tikungan.
Sakura menatap kepergian Yingji. Sepintas sebelum menghilang Sakura yakin ia melihat raut wajah Yingji berubah menjadi sedih. Mungkin hanya perasaannya.
Mengangkat kedua bahunya. Sakura tidak memusingkan apa yang terjadi. Ia membuka pintu, kedua bola hijaunya menangkap ruangan khas untuk pasien, dan tak lupa ia melihat seseorang berada di balik gorden.
Ia berjalan pelan menuju pasien. Namun, langkahnya terhenti saat kedua matanya melihat sesuatu yang familiar.
Brakk.
Tasnya terjatuh dari tangannya. Raut shock jelas ketara di wajah ayunya melihat seorang pria tengah terbaring dengan luka dan bekas darah mengering di kepalanya. Detik berikutnya ia tak mampu menahan lelehan air mata yang keluar dari matanya, isakan kecil keluar begitu saja dari mulutnya.
Sasuke..kun..
Terdengar pintu terbuka. Nampaklah wanita berbaju suster tengah berdiri sambil menatap punggungnya.
"Dokter Haruno, Uchiha-san tidak punya banyak waktu lagi. Dia harus di operasi sekarang juga."
Sakura mengusap jejak air mata di pipinya. Ia pun menoleh kearah sumber suara, "Bawa dia ke Ruang UGD sekarang."
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura POV
Sudah hampir satu minggu aku merawatnya. Entahlah ini disebut keberuntungan atau kebetulan. Yang jelas aku tidak terlalu memikirkannya.
Kurtaruh ujung trestostop itu ke dada kirinya, dimana jantungnya berdetak. Syukurlah, detak jantungnya normal.
Aku terus menatap wajah bak Dewa yunani itu. Jujur, aku sangat merindukannya. Melebihi apapun. Tapi, mengetahui ia akan menjadi seorang ayah, tadinya. Benar-benar membuat jantungku serasa remuk. Kami-sama, ada apa dengan diriku. Wajar saja dia akan menjadi seorang ayah, dia sudah menikah dan hidup bahagia bersama Hinata. Lalu kenapa aku sangat yakin bahwa di balik bayangan Hinata ada bayanganku juga di hatinya? aku benar-benar muak sekarang, lebih baik aku pergi menemui Yingji.
Kulangkahkan kedua kakiku kearah pintu, membuka pintu lalu menutupnya. Aku berjalan menelusuri panjangnya lorong rumah sakit ini. Sambil mataku menatap ruangan-ruangan yang ada. Sesekali aku juga membalas ucapan salam jika ada yang menyapaku sepintas.
Kedua kaki jenjangku terhenti di pintu ruangan yang bernomor 18658. Itu adalah ruangan dimana Hinata di rawat. Entah kenapa aku ingin sekali melihat kondisinya, lagipula dia 'kan temanku juga.
Kubuka pintu bercat putih itu. Iris korofilku menemukan sesosok gadis cantik tengah terduduk sambil menatap keluar jendela.
"Konichiwa, Hinata."
Sontak ia menoleh kearahku, terlihat binar tiara yang redup kutemukan di balik matanya. Aku mendekatinya sambil tersenyum manis.
"Bagaimana kabarmu, Hinata?"
Ia tak menjawab. Namun, iris matanya terlihat menatap kearah dimana tangannya berada di pangkuan pahanya.
Kudekati dia lebih dekat. Kuelus pucuk kepalanya sayang, seperti dahulu. Aku juga sangat menyayangi sahabatku yang kontras dengan violet ini.
Terlihat ia mengadahkan kepalanya, ia menatapku dengan pancaran kerinduan yang besar.
"Mengapa kau kesini?"
Tiga kata itu cukup mengundang tawaku, "Mengapa juga aku harus menjawab perrtanyaanmu, sedangkan aku tahu, kamu pasti sudah tahu jawabannya."
Ia terlihat berpikir sebentar, "Kau tidak membenciku?"
Aku mulai bingung sekarang, "Maksudmu?" Kali ini giliranku yang bertanya.
"Tidak, aku kira kau membenciku, dan tidak akan melihat wajahku lagi. Aku benar-benar menyesal Sakura. Aku sungguh tidak tahu jika Sasuke 'lah yang kau maksud-" ia menurunkan arah pandangnya, "-Adalah cintamu."
Aku terpaku sejenak. Memang pernah terbesit di pikiranku kalau aku harus membembenci Hinata, dan tidak akan menemuinya lagi. Setelah tahu bahwa Sasuke di jodohkan oleh kedua orang tuanya dengan Hinata. Tapi, itu bukanlah sifatku. Aku tidak bisa membenci seseorang, sekalipun seseorang tersebut telah mengambil harta berhargaku. Aku selalu berusaha tenang dan berpikir positif dari suatu kejadian. Alhasil, diantara teman-temanku, aku 'lah yang paling dewasa jika sedang dalam krisis.
Ku poleskan senyum tipisku, "Aku pernah mendengar kata-kata dari seseorang, bahwa Jika dia jodohmu, maka tidak akan ada yang memisahkan kalian. Walaupun maut memisahkan kalian. Jika itu terjadi, maka tak lama jodohmu pasti akan ikut denganmu dan bersatu di alam lain. Dari situ 'lah aku simpulkan. Jika Sasuke bukanlah jodohku. Melainkan dia adalah jodohmu, Hinata. Jadi, alesan apa aku harus membencimu?"
Kuusap setetes air yang sempat mengalir di pipinya. Aku tidak tega melihatnya terluka karenaku.
"Arigatou Sakura."
Kurasakan kedua tangan mulusnya melingkar di tubuh rampingku. Ia memelukku erat. Dengan senang hati aku membalas pelukannya. Dan berjanji sekali lagi bahwa aku tidak akan menjadi penghalang bagi mereka berdua.
Sepuluh menit berlalu. Aku melepaskan pelukanku. Hinata pun sama.
"Aku harus menemui, Yingji. Jaga kesehatanmu, yah. Hinata."
"Iyah, kau juga Sakura."
Kulangkahkan lagi kakiku, keluar dari kamar rawat Hinata untuk melanjutkan perjalananku. Mengingat ruang kerja Yingji berada tak jauh dari kamar Hinata membuatku lega.
Kubuka pintunya, dan yang kulihat pertama kali adalah Yingji sedang memegang kepalanya. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir. Penasaran, aku pun berjalan menghampirinya. Ia tiba-tiba menoleh kearahku, dan menampilkan ekspresi terkejut. Namun, kemudian sedetik kemudian wajahnya kembali normal.
Apa yang terjadi padanya?
"Hei, kau habis putus cinta?"
Ia terlihat menahan tawanya, "Apanya? Aku hanya mimpi buruk, Sakura."
"Mimpi buruk? Tentang apa?" Tanyaku penasaran.
Terlihat Yingji bangun dari tempat duduknya, "Kau belum makan 'kan?"
"Iyah."
"Ayo, kita kebawah. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk istirahat makan siang."
Aku hanya menurutinya. Aku dan Yingji berjalan meninggalkan ruanganya setelah ia menutup pintu. Namun, tak bisa ku pungkiri bahwa aku sangat penasaran. Mengapa ia tak menceritakan mimpinya padaku? Biasanya ia tak seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
Saat melihatmu, aku merasa mimpi yang pergi kini datang kembali
melewati malam yang sangat panjang
semburat pagi kembali padaku
begitu lama aku terjaga
begitu lama aku melintas jauh
tapi, mimpi tidak membiarkanku pergi.
.
.
.
.
.
.
.
.
Normal POV
Bunyi dari pendekteksi jantung menggema di kamar bernuansa putih gading itu. Terlihat sosok dewa yunani masih terlelap alam bawah sadarnya. Pria itu tak sendirian di tempat ini. Ia di temani wanita cantik bersurai pink yang masih setia menemaninya. Sakura namanya, ia terus menggenggam tangan kaku pria yang tengah terbaring di atas ranjang pasien.
Sorot matanya menyatakan antara khawatir dan sedih. Dalam hatinya ia menginginkan pria itu untuk membuka matanya. Namun, hal itu tentu tidak bisa dilakukan secara paksa. Sehingga sampai saat ini ia menunggu.
Dering ponselnya bergetar di saku jaketnya. Sakura merogoh sakunya dan menemukan ponselnya. Dengan cepat ia membuka pesan singkat dari sahabatnya yang berasal dari china itu.
To: Sakura
Kau mau pulang tidak? Jangan bilang kalau kau lupa waktu.
-Yingji.
Sakura mengulas senyum tipisnya. Ia berniat membalas pesan Yingji. Namun, tangannya terhenti saat tangan kirinya merasakan gerakan lain.
Ia menoleh ke samping kirinya. Sakura melihat perlahan kelopak mata pria itu terbuka hingga terbuka sempurna, menampilkan onyx yang beberapa kali mengedipkan kelopaknya.
"Sasuke-kun.."
Mendengar ada suara yang memanggil namanya. Pria itu perlahan menggerakan kepalanya kearah kanannya. Ia menemukan wanita bersurai unik yang sangat ia kenali. Wanita itu adalah cintanya, belahan jiwanya.
"Sakura.."
Tak tahan membendung luapan air di matanya. liquid bening itu memeleh dengan sendirinya. Membasahi pipi tirusnya. Reflek sakura memeluk tubuh kekar Sasuke yang terbaring. Ia meluapkan rasa haru dan senangnya. Antara Sasuke siuman dan Sasuke bisa mengingatnya kembali.
Ia benar-benar sangat bersyukur dengan keajaiban ini. Namun, ia tak mengetahui jika keajaibannya kemungkinan adalah sesuatu hal yang merujuk dirinya ke ujung tanduk.
.
.
.
.
.
.
.
.
Nafasku yang tertahan selama bertahun-tahun
kini, aku bisa bernafas lagi
aku bisa bernafas lagi
ketika nafasku bersatu dengan nafasmu
saat itulah aku bisa bernafas kembali.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terdengar gelak tawa yang tercipta dari sekumpulan para gadis yang tengah menikmati waktu santainya, di sebuah kafe dekat rumah sakit. Namun, tidak semua merasa senang. Ada satu wanita cantik yang menunjukan ekspresi yang sulit di artikan.
Gadis bernama Yingji itu terus menatap kosong kearah gadis yang tengah tertawa dengan riangnya.
Sakura yang merasa di perhatikan, seketika menoleh kearah yingji. Ia menatap yingji bingung.
"Kamu kenapa, Yingji? Wajahmu terlihat pucat."
Yingji menggerakan kepalanya pelan kekanan dan kekiri, "Tidak, hanya merindukan negaraku."
"Bagaimana nanti minggu depan kita ambil cuti. Kita bisa mengunjungi China bersama. Iya 'kan teman-teman?!"
"Ide bagus, Sakura!"
"Setuju!"
Ino dan tenten ikut menimpali perkataan sakura. seolah sangat siap untuk pergi ke negeri orang tersebut.
"Sakura, entah kenapa auramu menghitam." Ujar Shion yang sedari tadi ikut memperhatikan Sakura.
"Eh, iyahkah? aku tidak merasakan apapun."
"Mungkin hanya perasaanmu saja, Shion. Sakura bahkan tidak merasakan apapun. Dia bahkan sedang bahagia karena Sasuke bisa mengingatnya lagi." Ucap Ino diiringi tepukan bahu di pundak Shion.
Terlihat Sakura tengah merogoh sakunya. Ia mengambil ponselnya dan membuka pesan singkat yang tiba-tiba masuk ke ponselnya.
To: Sakura.
Aku ingin bicara, bisakah kau keruanganku sekarang?
-Gaara.
Setelah membaca pesan singkat dari bosnya. Ia menaruh kembali ponsel pintarnya. Sebelum pergi ia melirik satu persatu temannya. Entah kenapa ada perasaan lain yang mengganjal hatinya untuk pergi dari kafe ini. Ia ingin sekali berlama-lama dengan teman-temannya. Namun, panggilan bos tempatnya ia bekerja memintanya untuk mengadapnya. Ia benar-benar tidak bisa menolak perkataan sang pemilik rumah sakit.
Sakura mengangkat bokongnya dari kursi. Tindakannya membuat semua iris temannya melihat kearahnya.
"Kau ingin kemana, Jidat?"
"Aku harus ke ruangan bosku. Tidak apa-apa 'kan aku tinggal sebentar? Nanti aku akan kembali."
Sakura berjalan keluar dari kafe setelah melihat beberapa temannya menganggukan kepalanya. Ia terus berjalan di pelataran, jarak dari kafe dengan pintu rumah sakit memang cukup jauh. Mengingat kafe terletak di belakang rumah sakit. Sakura menggerutu kala sinar mentari terasa begitu panas mengenai kepala merah mudanya.
Tak jauh di belakangnya. Terlihat mobil hitam metalik berjalan cepat kearahnya. Mobil mewah itu hilang kendali hingga keluar dari badan jalan.
Brak!
Dengan cepat mobil itu menabrak tubuh mungil Sakura hingga terpental beberapa meter.
"Sakura!" Teriak spontan ketiga temannya. Mereka pun berlarian menghampiri tubuh Sakura yang tergeletak bersimbah darah.
Yingji yang memang sudah tahu akan terjadi hal seperti ini, ia hanya bisa menangis. Menangisi kepergian seorang sahabat yang ia sayangi. Ia tidak bisa mengubah takdir yang sudah di tulis oleh Kami-sama. Ia hanya bisa melihat masa depan seseorang yang dekat dengannya. Namun, ia tidak bisa menolong seseorang yang akan di jemput maut. Ia sungguh tidak bisa. Karena bagaimana pun ia tetaplah manusia biasa.
Terlihat banyak orang menggerumuni pelataran kafe. Mereka bahu-membahu mengangkat tubuh ramping Sakura untuk di bawa ke dalam rumah sakit. Tak terkecuali Ino, Tenten dan Shion. Ketiga wanita cantik itu terus menatap Sakura dengan linangan air mata, berharap bahwa Kami-sama tidak akan mengambil sahabat mereka begitu cepat.
Darah masih mengucur deras dari kepala dan pelipis Sakura. Ia bisa merasakan sakit yang amat terasa di sekujur tubuhnya, terutama di kedua kakinya. Seperti akar yang di cabut paksa dari dalam tanah, itulah yang dirasakan Sakura.
Samar Sakura melihat teman-temannya. Namun, ia tidak menemukan seorang lagi. Yah, Yingji. Kemanakah dirinya?
"Haahkkh"
Raungan kesakitan Sakura diringi nafas terakhirnya yang berhembus di hidung mancungnya.
Tangis Ino dan Tenten pecah kala melihat Sakura tak membuka matanya kembali. Sakura benar-benar meninggalkan mereka untuk selamanya.
.
.
.
Brak!
Pria bersurai raven itu terbangun dari tidur lelapnya. Ia sedikit terkejut mendengar ada suara benda keras yang menghantam benda keras lainnya. Sedikt penasaran, ia berniat bangun dan melihat apa yang terjadi di luar melalui jendela.
Deg..
Deg..
Deg..
Gerakan Sasuke terhenti saat detak jantungnya berdetak keras tapi melambat. Tak seperti biasanya. Ia berusaha menahan rasa sakit di dada kirinya. Tangan kekarnya berusaha memencet tombol darurat di dekat nakas. Namun, ia kehilangan keseimbangan tubuhnya hingga ia jatuh dari tempat tidurnya.
"Akh!" Erangnya. Sasuke berusaha bangkit, tapi seluruh tubuhnya tak berfungsi sebagaimana mestinya.
Deg..
Deg..
Deg..
Sasuke menatap buram pintu yang jauh di hadapannya. Lidahnya terasa keluh untuk berbicara bahkan meminta pertolongan pada seseorang yang berlalu lalang di balik pintu itu. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, kedua kakinya terasa kaku, pendengarannya pun bagaikan tuli mendadak. Ia merasa bahwa umurnya hanya sisa beberapa menit lagi. Tidak, bahkan beberapa detik lagi.
"Sakura!"
Deg..deg...
Bunyi detak jantung yang berubah lurus menjadi teman Sasuke, kala ia tengah menghembuskan nafas terakhirnya. Tidak ada nafas lagi yang keluar dari hidung mancungnya. Tubuh kekar itu kini tak bergerak sedikit pun, menandakan bahwa roh sang pemilik tubuh kini telah lepas dari raganya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kriiet..
Bunyi derit pintu terbuka, masuklah seorang gadis cantik berkulit putih. Yingji berjalan mendekat kearah dimana tubuh seseorang tengah terbaring tak berdaya.
Wajah ayunya tak menunjukan ekspresi apapun. Kedua iris onyxnya terus menatap wanita yang tengah koma. Satu kata untuk menggambarakan wanita itu adalah mengenaskan.
Hinata terbaring koma dengan kedua mata masih terbuka. Yingji yakin Hinata masih bisa mendengarnya. Namun, ia tak yakin jika Hinata bisa tenang setelah mendengar ucapannya.
"ikhlaskan'lah mereka, hinata. Kau tahu? dahulu aku Cuma wanita yang tidak mempunyai kedua orang tua, karena mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sebenarnya dua minggu sebelum orang tuaku kecelakaan, aku sudah mendapat gambaran dari kejadian itu. Tapi, aku tidak memberitahu mereka. Aku takut mereka akan memebenciku dan menganggap aku anak pembawa sial-"
Yingji mengelus halus pipi tirus Hinata, "Tapi aku memendamnya, dan setiap hari aku menangis tanpa siapapun yang tahu. Gambaran itu jelas sekali di mimpiku, hingga aku benar-benar ketakutan dengan kemampuanku. Tapi, aku berusaha untuk tidak terbebani dengan kemampuanku. Hingga suatu hari, aku bertemu dengan Sakura. Dia seperti seorang kakak yang hebat. Aku benar-benar mengangguminya. Dan dia pernah bilang kalau dia mempunyai seorang sahabat yang ia sangat sayangi, ia menyebutmu juga, Hinata."
Terdengar hembusan nafas yang keluar di hidung mancungnya. Binar matanya kini menunjukan kepedihan yang selama ini ia pendam. Kini, ia mengeluarkan semua perasaannya pada hinata. Karena ia tahu, posisinya dan posisi hinata adalah sama. Sama-sama terluka.
"jadi kumohon, tetaplah semangat untuk hidup, hinata."
Air mata yingji akhirnya menetes membasahi pipi tirusnya. Ia berusaha menahan kuat-kuat suara tangisannya agar tidak terdengar oleh orang lain.
Hinata mendengar semuanya, ia pun merasakan hal yang sama. Tak terasa air matanya menetes lembut turun ke pipinya. Ia ingin sekali bangun. Namun, tubuhnya tak mau mengikuti semua syaraf di tubuhnya. Ia benar-benar tidak bisa bergerak. Mungkin, inilah takdirnya. Hidup di bayang-bayang penyesalan tak berujung. Hanya menunggu takdir apa lagi yang akan ia jalani selanjutnya.
Tanpa adanya Sakura.
.
.
.
.
.
.
.
.
The End.
Zona bacot author:
Gomen minna-san, aku telat T-T, dan maaf jika feelnya kurang dapet. Ini aja aku aupdet kilat, loh! #ditimpuk_readers
Ok ok, sekarang aku udah updet. Dan gomen jika masih banyak typo bertebaran, dan feelnya kurang dapet. Habis, author di duta sibuk banget sih #nyengir
Terimakasih bagi yang udah REVIEW, FAVS, AND FOLLOW fictku. Eh ketinggalan makasih juga atas FLAMENYA!
Untuk pertanyaan aku akan jawab satu persatu
Q: Etto senpai... Bisa minta' sequelnya gak?
A: kayaknya gx ada sekuel deh untuk SasuSaku
Q: Pair endingnya apa?
A: maafkan author yang labil ini. Terkadang aku bingung harus milih karakter yang mana untuk tokoh utamanya. Tapi yang jelas sih SasuSaku.
Q: Knapa keluarga sasu tdak suka saku?
A: Jawabannya sudah ada di atas. Mungkin, sih xD
Ok sekian curcolku kali ini.
Tanks to:
Cherry Kanako-Ah
cherryllyo Neo
Tanpa Nama
ordinaireme
Miso Wakame
Joanna Katharina 37
Guest1
Bebek Slengean
SasuSaku Lovers
Hinata Heaters
Guest2
Ozel-Hime
Yukari Harukaze
Jetstruck
Jamurlumutan462
Ok, see you next story.
#WhiteFox
