.

The God, Priest and Warrior

"If the love between us are blessed by God, I pray for our happiness, if it's a sin, i will pray to God to put their anger on me... and only to me." - Highest Priest of Nekromanteion, Sasuke


Setelah kejadian di kolam itu tak ada lagi yang terjadi pada Naruto dan Sasuke. Bahkan kedua insani itu tak lagi sempat bertemu.

Naruto segera diutus ke medan perang tak lama setelah kejadian itu. Tugasnya kali ini adalah berperang melawan beberapa pemberontakkan dan sekaligus berusaha memperbesar wilayah milik sang kaisar. Beberapa bulan berlalu begitu cepat- berita kemenangan Naruto kembali berkumandang- untuk sekian kalinya pemuda itu lagi membawa pulang kemenangan. Jabatan pemuda pirang itupun terus melonjak- kini Naruto telah menjadi jendral atas prestasinya, hari ini seharunya ia kembali ke ibu kota untuk merayakan kemenangan mereka namun pemuda berambut pirang tersebut belum jua bermaksud untuk pulang. Entah karena memang ia mencintai pekerjaanya atau itu hanya kedok pelariannya- karena ia belum siap bertemu Hinata.

Naruto telah memukul mundur pemberontakkan itu. Atas perintah kaisar pencetus dan pemimpin pemberontakkan itu harus di bunuh tampa ampun, sebagai contoh apa yang akan terjadi bila kejadian itu terulang. Pemberontak itu di permalukan- di siksa secara lahiriah maupun batiniah. Sampai mati secara mengenaskan. Setelah matipun tubuh si pemberontak masih di gantung di alun-alun. Kaisar benar-benar memberikan hukuman yang sadis bagi para pemberontak itu. Sama sekali tak ada ampun.

Naruto tenggah beristirahat setelah latihan dengan pedangnya dari pagi, ketika tengah menikmati winenya sepucuk surat tiba di tendanya kala itu- mata biru lautnya membulat sesaat setelah membaca surat itu.


Fushimi Sakura (Winter Esmé Harper) proudly present

'The God, Priest and Warrior'

Genre: Angst, Romance, Drama, Spiritual (Greek)

Rate: M

Language: Indonesia

'Naruto' Another Univers

Pair: Naruto x Sasuke, Naruto x Hinata

Warning: Boys Love, Another Universe, OOC (penyesuaian dengan cerita), Typo, etc


Chapter 1. Akhir dari Tragedi


"SAKURA!"

Naruto dengan tidak sopannya meneriakki nama sang kakak begitu tiba di kediamannya. Naruto nampak agak geram- dimana kakaknya itu?

"Sakura!" Naruto dengan lancang masuk ke ruang peristirahatan siang sang kakak.

Sakura melirik kedatangan adik bengalnya dengan tenang, "Ah, Naru, kau sudah pulang?"

"Apa maksud suratmu ini?" Naruto menggebrak meja sambil menaruh surat dari Sakura yang berhasil membawa pulang Naruto dari medan perang.

"Apa maksudnya? Bukan sudah jelas? Aku mengadakan pesta untuk mencari pasangan hidupmu." Sakura mengusir kedua pelayan yang tengah menggikir kukunya.

"Aku sudah memiliki Hinata." Naruto nampak menjelaskan betapa konyolnya keputusan sang kakak.

Sakura menghela nafas, "Hubunganmu dengan Hinata itu tak ada masa depannya."

Naruto terdiam. Sadar Sakura benar dengan pernyataan pahit itu.

"Pendeta kuil Zeus adalah milik Zeus, karena itu kau butuh pesta ini."

Naruto terdiam- ia biasanya akan dengan lantang membantah Sakura dan berkata ia hanya mencintai Hinata, namun kini ia tak bisa dengan gamblang mengatakan ia hanya mencintai Hinata. Kenyataannya hari itu- saat penyucian di kuil Hades ia telah menyentuh orang lain...

"Wanita baik, dengan latar belakang yang memuaskan... dan yang terpenting dapat menyandang status pernikahan."

"Tapi Saku ini tak adil buat Hinata." Naruto nampak jelas belum mau mengalah.

"Apa?" Sakura memberi pandangan meremehkan. "Bila dia mencintaimu ia akan meninggalkan kuilnya. Sampai saat ini ia juga tak pernah membahas topik ini kan?"

Sakura mengamati kuku-kukunya yang baru saja di kikir. Sedang Naruto masih terdiam. Kakaknya satu ini memang jitu menyiram garam pada lukanya. Bukan Naruto tak pernah bertanya pada Hinata soal hal ini... Topik ini pernah mereka bahas. Naruto jelas ingin mengclaim gadisnya sebagai miliknya namun gadis itu tak bisa meninggalkan kuilnya. Ada banyak alasan, dan karena Naruto menghargai gadisnya ia tak pernah membahas topik ini dan memilih mengunggu. Menunggu kekasihnya siap meninggalkan kuil dan menjadi miliknya.

"Aku sudah minta bantuan Highest Sasuke untuk pesta ini."

Ketika kakaknya menyebut nama Sasuke, otot-otot Naruto agak mengeras. Kakaknya baru saja membahas 2 topik sensitive yang sebenarnya ogah Naruto ingat. 2 sekaligus dalam pembicaraan mereka yang cukup singkat...

"Kenapa kau senang sekali meminta bantuan kuil kematian sih Saku?"

"Naru- sadar atau tidak kau sudah menjadi penggikut kuil kematian itu." Sakura berkata sakratis karena Naruto terus menyinggungnya.

Naruto tak membantah- ia sudah disucikan di kuil itu. Terlebih meniduri pendeta tertingginya. Mana mungkin ia bisa membantah perkataan kakaknya itu.

"Highest Sasuke tenggah berada di kediaman kita untuk persiapan. Beri salam terbaikmu bila bertemu dengannya."

Naruto memilih berjalan keluar dari ruangan sang kakak. Naruto jelas kesal pada kakaknya. Bagaimana bisa kakaknya mengambil keputusan sebelum berdiskusi dengannya? Apa kakaknya pikir ia hanya lelaki yang bisa mendapat status dengan bantuan seorang wanita!? Tampa menikahpun Naruto kini telah menjadi jendral.

"Naru..." Naruto berbalik menatap sang kakak, Sakura memberi sebuah pandangan tenang- ia tak seharusnya memberitahu Naruto soal hal ini tapi- Sakura tak tahan melihat Naruto terus menunggu ketidak jelasan Hinata. "Aku sudah membicarakan hal ini dengan Hinata... dia tak keberatan..."

"Aku mengerti..." Naruto keluar dari ruangan itu kemudian menutup pintu.


'Aku sudah membicarakan hal ini dengan Hinata... dia tak keberatan...'

Sebuah kalimat yang cukup menohok hatinya. Naruto menyandarkan tubuhnya ke sebuah pilar lalu menutup matanya dengan telapak tangannya. Daripada sedih Naruto lebih suka menggunakan kata kecewa- nampaknya ia terlalu banyak berharap Hinata akan mempertahankan hubungan mereka.

Sialan...

Bukan ini sama saja seperti hanya Naruto yang mengagap hubungan mereka adalah sungguhan? Apa Hinata hanya terpaksa bersamanya? Apa gadis beriris indigo itu sebenarnya tak mencintainya?

"Lord Naruto..."

Sebuah suara membuat Naruto menyingkirkan tangannya dari matanya.

"Te... Highest Sasuke."

Keduanya saling bertukar pandanganan. Keduanya kembali teringat kejadian di kuil Nekromanteion hari itu. Naruto menatap wajah rupawan pendeta tertinggi itu. Sedang Sasuke mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Naruto, ia merutuk dalam hari kenapa dia harus nervous seperti ini? Memangnya dia gadis yang tengah bertemu dengan kekasihnya!?

"Anda sudah kembali dari medan perang?"

"Ya."

Kesunyian kini menyelimuti mereka. Sasuke pada rasa nervous-nya sedang Naruto yang entah kenapa malah mulai memikirkan kejadian malam itu? Mustinya ia kini sedang memikirkan Hinata. Sasuke benar-benar ahli mengalihkan pikirannya.

"Kau akan kembali ke kuil Nekromanteion?"

"Hn... Saya permisi." Sasuke segera berjalan melewati Naruto. Naruto mengangguk agak ragu kemudian berlalu. Wangi tubuh Sasuke yang samar tercium oleh Naruto, hal itu jelas agak membuat Naruto merindukan tubuh pemuda berambut hitam itu.

Argh... ini bukan saatnya ia memikirkan tubuh pendeta tertinggi kuil Nekromanteion itu. Naruto segera berjalan ke kamarnya- ia membutuhkan wine untuk menenangkan dirinya.


!?

Suara grasak grusuk agak mengganggu tidur lelap Sasuke. Tampaknya ia tertidur ketika sedang membaca. Sasuke membuka matanya ketika seseorang memeluknya dari belakang.

"My Lord!?"

Sasuke kaget ketika menemukan pemuda pirang itu yang tengah memeluknya. Lengan kekar itu membalikkan tubuh Sasuke lalu mendudukkan dirinya di paha Naruto- Kini posisi Sasuke berada diatas Naruto. Naruto mendorong wajah Sasuke mendekatti wajahnya kemudian pertemukan dahinya dengan dahi Sasuke.

"Apa yang ada sedang lakukan disini tengah malam begini? Bukankah seharusnya malam ini adalah perayaan atas kemenangan yang anda hadiahkan pada kaisar?"

Sasuke nampak terus berbicara- bukan seperti dirinya saja...

"Bisakah kau diam!?"

"Apa maksud anda? Anda menyusup ke kamar saya dan anda menyuruh saya untuk diam? Anda tahukan saya punya hak untuk menggusir anda?"

Naruto menggunci bibir Sasuke dengan bibirnya. Setelah bibir itu saling bertaut- Sasuke perlahan mulai berpasrah pada permainan pemuda pirang itu. Ia membiarkan lidah Naruto bermain di mulutnya. Membiarkan Naruto melahap bibirnya... Sasuke sadar percuma saja melawan Naruto- ia tak akan pernah menang dari Naruto. Merasa tak ada perlawanan Naruto kian menjadi- ia mulai melucuti pakaian sasuke, menciumi leher terus turun ke arah selatan. Perlahan meninggalkan kecupan basah pada kulit seputih porcelen itu. Naruto mulai mengecup ujung penis Sasuke kemudian mulai memasukkannya kedalam rogga mulutnya.

"Hah... Ah..." Sasuke mulai berdesah. Kini juniornya tengah tertanam dalam mulut Naruto. Sasuke mulai menikmati ritme blowjob yang tengah Naruto berikan padanya. Kini pemuda pirang itu tenggah memberi service pada junior Sasuke... "Naru..."

Sasuke segera menutup mulutnya ketika sadar menyebut nama kecil sang pemuda pirang. Naruto menghentikan kegiatannya setelah mendengar namanya di sebut.

"Sasuke?"

Sasuke terdiam- jelas rutukkan panjang tenggah ia lakukan di dalam hatinya. Naruto tersenyum.

"Hari ini pemimpin pemberontakkan di perintahkan untuk di gantung di alun alun."

Dengan wajah memerah Sasuke menjawab, "Aku sudah mendengarnya."

"Di permalukan seperti itu- sebenarnya aku lebih suka bila ia di bunuh di tempat. Setidaknya kematiannya tak akan menyakitkan." Naruto masih merasa bersalah atas kejadian yang terjadi. Namun apa yang bisa ia katakan perintah Kaisar adalah mutlak.

Sasuke menatap wajah Naruto. Ia tak tahu apa arti pandangan itu. Naruto nampak seperti anak hilang. Nampaknya perintah kaisar itu agak menggagu Naruto. Padahal ia adalah kesatria yang terkenal karena keahlian permainan pedangnya- mengalahkan lawan dalam sekali tebasan, namun nampaknya Sasuke agak salah presepsi soal pemuda beriris langit itu.

"My Lord." Sasuke mengecup dahi Naruto. "Kadang aku bingung- sebenarnya anda orang yang seperti apa?."

"Apakah anda adalah orang yang kejam dan menakutkan, yang dapat membunuh banyak orang demi kemenangan dalam perang- sangat hebat namun juga sangat menakutkan seperti dewa perang, Ares... ataukah anda adalah anak yang terluka seperti dewa metal dan api, Hephaetus, sangat mahir dan berani namun kurang kasih sayang yang selalu didambakannya?"

"Tsk... apapun yang kau katakan- menurudku mereka hanya dua orang idiot yang jatuh cinta pada orang yang sama." Naruto membawa tubuh Sasuke untuk mendekatinya. Naruto kembali mengecup bibir Sasuke- mendorong tubuh sang submissive di atas ranjang mengapitnya dengan tubuhnya di atas tubuh itu. Betapa kontras- tubuh putih itu jelas nampak di dominasi tubuh tannya.

"Sasu... Panggil namaku." Naruto berbisik mesra pada telinga Sasuke.

Naruto tersenyum mendapati tubuh Sasuke menegang karena suara sensualnya, ia mulai memainkan lubang anus Sasuke.

"My lord... jangan..." Sasuke mencoba menghentikan Naruto dengan permohonannya.

Naruto jelas tidak mendengarkan permohonan Sasuke tentu saja- ia justru memasukkan dua jarinya kedalam lubang itu.

"My lo.. rd... Ah..." Air mata membasahi pelupuk mata Sasuke. Tampa sadar Sasuke mulai menikmati pergerakan dua jari itu di dalam duburnya. Ini tak boleh terjadi- Sasuke kembali memohon, "To..long... ber...henti..."

"Call my name..." Naruto menggigit cuping Sasuke.

Sasuke menergang nampak tubuhnya telah menyerah kedalam permainan Naruto. Dengan cairan kristal keluar dari pelupuk matanya Sasuke berkata dengan suara lirih, "Naru..."

Naruto tersenyum kemudian membawa penisnya ke lubang cincin anus Sasuke.

"My... lord..." Sasuke memandang adik Naruto di cincin lubangnya, dengan kesadaran yang masih tersisa mencoba melawan, ia menggeleng, batinnya terus melawan walau tubuhnya telah pasrah dalam tangan Naruto.

Naruto memasukkan penisnya kedalam lubang Sasuke. Sasuke tampa sadar meletakkan tangannya di leher Naruto. Nampaknya libidonya telah mengambil sisa kesadarannya.

"Ah..."


Setelah kejadian Naruto menyusup ke kamar Sasuke keduanya semakin dekat. Lebih tepatnya Naruto selalu menyempatkan diri menghampiri Sasuke. Naruto selalu mencari kesempatan untuk menggoda pendeta tertinggi kuil Nekromanteion itu. Sasuke jelas sudah kesal dengan kelakuan Naruto. Ia sudah menghindari pemuda pirang itu. Menggumpat Naruto dengan sebutan Dobe bila tak ada orang. Bahkan ia pernah menggurung diri di ruang doa yang berakhir dengan mereka melakukan sex di ruang doa. Melakukan sex di hadapan kedua patung Dewa-Dewinya! Bayangkan berapa mengerikannya hal itu bagi Sasuke!? Sasuke menggumpat libido bocah pirang itu, harusnya pemuda itu lebih bisa mengontrol dirinya!? Kenapa juga pemuda itu tak mencari gadis sih untuk menumpahkan hasrat sexnya!? Kenapa musti DIRINYA!?

Namun- seperti ia bisa bicara... bagaimanapun ketika lengan tan kekar itu menyentuhnya, ketika suara musky Naruto berbisik di telinganya, ketika lidah ahli itu menyelusuri tubuhnya- Sasuke sama sekali tak dapat melawan... Ya Sasuke akui ia mulai jatuh kedalam jerat setan-


"Lord Naruto, apa yang anda lakukan di sini?" Sasuke berkata sambil men-death glare sosok di depannya.

Naruto tersenyum kemudian tampa beban berkata, "Menemuimu."

"Dengan segala hormat, my lord, hari ini saya sangat sibuk- bisakah anda meninggalkan tempat ini sekarang juga?" Sasuke mencoba tetap fokus pada kertas-kertas di atas meja yang tengah di rapihkannya.

"Kau sedang membaca apa?"

Samar Sasuke merasakan hawa hangat Naruto di belakang tubuhnya. Ketika ia bermaksud berbalik- Naruto menekan kedua tangan Sasuke ke atas meja, Naruto meletakkan dahunya pada bahu Sasuke.

"My Lord!"

"Apa?" Naruto bertanya dengan muka tampa bersalah.

"Dobe!"

"What Love?"

Grin... Naruto tersenyum kemudian mencium leher jenjang Sasuke secara ringan. "Aku merindukanmu." Naruto mengambil nafas- seolah meresap bau dari Sasuke. Mint- agak bercampur musk... dan Naruto selalu suka itu. Bau itu entah sejak kapan menjadi wangi favoritenya.

Sasuke selalu sebal dengan dirinya- kenapa ketika Naruto memperlakukannya dengan lembut begini ia lagi-lagi gagal melawan. Wangi maskulin Naruto entah sejak kapan selalu membuat Sasuke terangsang dan... Sasuke juga selalu merindukannya. Wangi matahari, wine, dan keringat... "Aho dobe."

Sasuke diam menikmati pelukkan hangat mataharinya itu. Gumpalan hormon yang kini juga mengambil alih posisi matahari di dunianya.

"Highest Sasuke?" Sebuah ketukkan membuat Sasuke sadar.

Suara ini... Karin?

Sasuke mulai mendorong tubuh Naruto, "Ada apa?"

"Aku membawakan dokumen yang kau minta."

Naruto nampak mengerti- Sasuke benar-benar sibuk. Ia menyingkir dari tubuh Sasuke.

"Masuklah."

Karin, gadis bersurai merah, nampak masuk dengan tumpukkan dokumen. Naruto dengan gentlemannya segera membantu Karin. Melihat Naruto di sana Karin agak terkejut.

"Lord Naruto!?"

"Biar aku bantu." Naruto mengambil alih dokumen itu lalu meletakkannya di meja.

"Anda datang lebih pagi dari pemberitahuan anda."

Naruto tersenyum, "Latihan perajurid baru sudah selesai lebih awal jadi aku datang lebih awal."

Karin membalas senyum itu, "Apa my lord ingin segera di sucikan?"

"Tak apa- aku bisa menunggu. Tak perlu memajukan jadwal. Ini salahku datang terlalu awal."

"My lord bisa menunggu di aula agar lebih nyaman."

"Apa keberadanku di sini menggaggu?" Naruto tersenyum sungkan.

Karin nampak agak gelagapan, "Bukan begitu my lord. Saya rasa anda tak perlu membantu- ini tugas kami. Saya tak ingin merpotkan anda."

Naruto menggeleng, "Tidak merepotkan kok- apa ada hal lain yang bisa aku bantu?"

Karin mencoba mengingat, "Ada beberapa prabotan yang ingin kami pindahkan."

"Tunjukkan jalannya." Naruto berkata riang.

Karin mengangguk.

"Saya permisi, Highest Sasuke." Karin pamit. Naruto mengikuti gadis bersurai merah itu.

Sasuke melirik pintu ruangan yang tertutup, merutuk dalam hati- 'Penjilat.'

Padahal baru saja pemudia pirang itu bersamanya, memeluknya, berkata kalau dia merindukan dirinya... bisa-bisanya Naruto dengan ber-flirt ria dengan Karin!? Di depan matanya pula!?

Tunggu...

Sasuke menyentuh dadanya, rasa sakit apa ini?

Kenapa pula ia harus marah saat Naruto pergi? Bukan itu bagus? Naruto tak lagi menggaggunya, ia bisa bekerja dengan benar tapi, kenapa- kenapa justru ini menyakitkan?

Apa ia- cemburu!?


"Yang mulia kaisar?" Naruto menemukan penguasa tertinggi di Yunani, yang mulia kaisar Danzo tengah baru saja turun dari kereta kudanya.

Sang kaisar yang melihat Narutopun tersenyum- orang yang di carinya ada di hadapannya, "General Naruto."

"Apa yang membawa kaisar ke kediaman saya, anda hanya pelu memanggil saya, saya akan datang ke kediaman yang mulia."

"Drop the casualties General, i come here just for a small talk- from a father to a man, you wouldn't mind, would you?" [ Jangan sungkan(?) general, saya datang kesini untuk pembicaraan kecil- dari seorang ayah untuk seorang pria, kau tak keberatan kan?]

Naruto terdiam, kalau tidak salah... Danzo adalah ayah dari Hinata.

"What about that long face Naruto, did you displease seeing your girlfriend father on your door?" [Kenapa dengan wajahmu Naruto, apakah kau keberatan melihat ayah dari pacarmu di depan pintumu?]

"Is it about the parties Lord Danzo?" [Apakah ini soal pesta, Lord Danzo?]

"Yes."


"Silahkan duduk, yang mulia kaisar. Maaf kami tak bisa memberikan hostpitally terbaik kami." Sakura menghidangkan segelas wine di depan Danzo.

Donzopun duduk disalah satu kursi di ruangan itu, di ikuti Naruto dan Sakurapun yang juga duduk di kursi lain.

"Tak apa pembicaraan ini tak akan lama."

Sakura mengangguk.

"Sudah berapa minggu kau tak mengunjungi Hinata, Naruto?"

"2 minggu. Sejak saya pulang dari medan perang."

"Sejak keputusan pesta pencaharian istri anda yang saya ingat." Donzo meminum winenya, "Hinata adalah pendeta kuil Zeus, Naruto. Seharusnya anda paham. Hubungan kalian tak bisa di bawa kemanapun, saya memang sudah sering dengar, dan Hinatapun mengakui kedekatan kalian. Tapi apakah baik bila hubungan kalian tak memiliki ujung? Sependengaran saya hubungan kalian belum berakhir. Hinata memang tak bisa keluar dari kuil Zeus karena ia adalah anak yang saya berikan pada kuil sebagai rasa terima kasih saya pada Zeus. Tapi sebagai seorang ayah saya juga jelas ingin anak saya bahagia. Naruto- apa anda ingin saya mengizinkan Hinata keluar dari kuil Zeus?"

"Tapi yang mulia itu..." Sakura nampak takut melanjutkan kalimatnya.

"Lady Sakura, saya mengerti itu sangat lancang bagi saya untuk meminta kembali daripada Zeus- namun putri saya Hanabi bersedia menggantikan Hinata." Danzo melirik ke arah Naruto, "Jadi apa tak sebaiknya pesta pencaharian anda dibatalkan, dan anda memutuskan untuk bersama Hinata? Saya rasa saya tak keberatan memiliki penerus seperti anda."

"Yang mulia, saya tak bisa memutuskan ini secara sepihak. Saya tahu Hinata mencintai pekerjaanya. Bila anda mengizinkan bolehkah saya berdiskusi dengan Hinata sebelum membuat sebuah keputusan." Naruto berkata sesopan yang ia bisa.

Ini benar-benar sebuah tragedi- di mana saat ia ingin melepaskan gadis itu, ayah gadis itu tak ingin Naruto melepaskannya. Bukankah itu hal yang sangat menggejeknya?

"Saya mengerti kenapa Hinata mencintai anda, Naruto." Donzo mengangguk. Naruto adalah seorang gantleman- ia tak menganggap gadisnya hanya sebuah barang yang perlu dimilikki. "2 minggu. Anda bisa menemui saya di istanah untuk memberikan jawaban anda."

Danzo bangkit dari kursinya lalu berjalan keluar dari kediaman Naruto dan Sakura itu. Dari belakang kakak beradik itu mengikuti dalam diam. Saat kereta kuda Danzo sudah menjauh. Sakura segera menutup kedua matanya.

"Maafkan aku Naru." Sakura jelas merasa barsalah, ini semua terjadi karena keputusan sepihaknya- ia bahkan tak pernah mendiskusikan soal pesta itu pada adiknya, namun tadi jelas Danzo menyalahkan Naruto. Pemimpin tertinggi negara itu begitu saja menghakimi bahwa Naruto tak mengakhiri hubungannya dengan Hinata dengan baik. "Aku..." Tanggis Sakura pecah.

"Shh..." Naruto menyentuh pipi Sakura, menghapus air mata yang tumpah dari iris emerald kakanya. "Ini bukan salahmu, Saku. Ini salahku tak dengan jelas mengakhiri hubunganku dengan Hinta."

"Tapi aku sudah mendiskusikannya dengan Hinata... tampa izinmu..." Sakura masih merasa bersalah.

"Shh..." Naruto memeluk tubuh rengkih yang tengah menahan tangis itu. "Aku menyayangimu Saku."

"Naru..." Sakura membalas pelukkan adiknya itu. Ia sadar betapa ia mencintai adik berandalnya itu. Ia tak ingin Naruto menahan rasa sakit terhadap Hinata- tapi justru ia memperburuk suasana. "Aku juga menyayangimu."

Naruto mengusap kepala sang kakak dalam dekapannya. Ini bukan salah Sakura- sejak awal ini salahnya... salahnya karena hatinya terlah tertawan oleh sosok lain sejak tubuhnya mencicipi tubuh pendeta tertinggi kuil Nekromanteion. Sejak itu... hatinya telah menjadi milik Sasuke.

"Yosh... Saku." Naruto mengangkat wajah Sakura pada wajahnya. "Besok aku akan ke kuil Zeus untuk meluruskan segalanya, dan aku harap kakakku yang cantik ini mau mengantikanku menggunjungi kuil kematian."

Sakura tersenyum kemudian menyikut perut Naruto, "Tentu saja."

Naruto meringis- kakaknya benar-benar bermaksud menyikutnya, tak tanggung-tanggung sekuat tenaganya. Naruto bermaksud protes namun melihat sang kakak sudah kembali tersenyum, Naruto turut tersenyum, "Kau sangat menyukai Highest Sasuke ya Saku."

"!?" Wajah Sakura memerah. "Kau tahu!?" Sakura kira adiknya itu adalah makhluk paling tak peka di dunia... tapi Naru sadar!?

"Selamat malam." Naruto masuk ke kamarnya.

Tak selamanya ia bisa terus berada dalam euforanya. Saatnya ia bangun dari mimpi manis ini, hubungannya dengan Sasuke adalah death flag- tak ada jalan. Apalagi selama ini Naruto selalu mempush Sasuke... pemuda itu pasti sebenarnya membencinya.


"Hinata." Naruto segera memanggil Hinata ketika tiba di kuil Zeus.

Hinata jelas nampak kaget, "Naru... ada apa?"

Naruto memberikan sebuket bunga pada gadis itu, "Apa salah aku berkunjung?"

Hinta menerima buket bunga itu, sebuah buket bunga dengan berbagai campuran jenis bunga musim semi. Naru-nya memang tak pernah berubah, "Aku pikir kau tak akan mau lagi bertemu denganku."

Naruto nampak terluka dengan perkataan Hinata, "Hinata, indeed i'm a bit resentful of you that time, but i loved you." [Hinata, memang aku sedikit kecewa padamu waktu itu, tapi aku mencintaimu]

"Loved? past tense?" Hinata tersenyum tipis.

Naruto kaget lalu segera memperbaikki pernyataannya, "Love."

Hinata kembali tersenyum tipis, "Apa yang ayahanda bilang padamu?"

"Hinata- ayahmu berkata bahwa ia akan mengizinkanmu keluar dari kuil."

"Heh!?"

Naruto tersenyum, "Apa kau akan meninggalkan kuil demiku Hinata?"

Hinata terdiam setelah mendengar pertanyaan Naruto. Naruto yang tak tahu harus berkata apa lagipun hanya tersenyum lembut.

"Aku... Naru, aku... Aku mencintaimu. Tapi aku belum siap menikah dalam waktu dekat. Bukan kau berkata kau akan menungguku?"

Naruto terdiam- menunggu? Untuk berapa lama? Apa cintanya pada Hinata akan bertahan, sedang ia telah mulai mencintai orang lain? Mulai mencintai? Bukan jelas dia sudah mencintai pemudia itu. Hubungannya dengan Hinata hanyalah status tampa perasaan cinta secara romantisme, Naruto masih menyayangi Hinata- namun jelas ia tak lagi menganggap gadis itu sebagai belahan jiwanya. Ironis... cinta begitu saja berpindah semudah itu.

"Bagaimana dengan pertunangan?"

"Naru... Maafkan aku. Biar aku yang bilang pada ayahanda soal ini."

Naruto menggeleng. "Aku mengerti. Biar aku menemanimu menemuinya."

Hinata tersenyum ia selalu mencintai kebaikkan dan pengertian Naruto. Hinata memeluk pemuda matahari itu. Pemuda dalam pelukkan itu hanya meratap dalam hati- bagaimana ia bisa mengakhiri hubungan ini. Ia tak bisa melukai Hinata, tapi ia juga tak tahu apa Sasuke -setidaknya- tak terganggu dengan perasaannya.


"Look how suitable you together." [Coba lihat betapa cocoknya kalian bersama] Danzo mencoba memuji ketika Naruto tengah membantu Hinata.

"Father... Naruto di sini hanya menemaniku untuk bicara denganmu."

Sang ayah mengagguk paham. Hinata nampak maju ke hadapan ayahnya itu.

"Aku belum ingin menikah dalam waktu dekat. Aku rasa tak apa bila Naruto tetap mengadakan pesta. Toh bila ia tak menemukan pendamping ia akan kembali padaku. Aku masih ingin sendiri setidaknya dua tahun lagi."

"Well if you're fine with it, i have no obligation." [Kalau kau oke dengan hal itu, aku tak keberatan] "But Hinata, it's not good way to treat a good man like Naruto, that selfishly." [Tapi Hinata, itu bukan cara yang bagus untuk memperlakukan pria baik seperti Naruto, secara egoist begitu."

"Aku yakin Naruto akan kembali padaku." Hinata tersenyum manis. "Naruto pasti tak tega menolak permintaan Sakura. Karena itu aku tak ingin memberatkannya."

Naruto hanya tersenyum. Ia tak berkomentar apa-apa. Lebih tepatnya ia tak tahu harus berkomentar apa. Hinata yakin dengan perasaannya- hanya dia yang disini nampaknya dalam keadaan tidak yakin.

"Naruto tak bosankan denganku?" Hinata balik bertanya.

Naruto tersenyum, bosan bukan kalimat yang tepat, "Tentu saja tidak, Hinata." Kecewa- entah untuk keberapa kalinya.


Naruto pulang ke rumah setelah mengantar Hinata kembali ke kuil, perutnya berbunyi. Ia segera berjalan ke dapur. Ada seseorang- Saku kah? "Saku aku lapar."

"Lord Naruto..."

Naruto menutup buka matanya, apa ini halusinasi? Sasuke ada di depannya? "Highest Sasuke?"

Pria itu mengangguk. Ini bukan mimpi? Kenapa pria ini ada disini?

"Lady Sakura mengundang saya untuk makan siang. Saya memutuskan untuk bantu memasak." Sasuke menjelaskan pertanyaan tak terutarakan Naruto.

Naruto mengangguk, menghindar dari pandangan orb malam itu.

Sakura yang baru saja kembali ke dapur segera menghampiri Naruto saat melihat pemuda pirang itu ada di dapur, "Jadi apa kata Hinata, Naru?"

"Tak ada perubahan- pesta tetap akan di laksanakan." Naruto berkata dengan datar.

"Kaisar tak keberatan?"

Naruto mengangguk. Sakura napak riang.

"Akhirnya pesta akan dilakukan dengan tenang. Aku sempat syok saat kaisar datang kemarin."

"Kaisar keberatan dengan pesta perjodohan Naruto?" Sasuke jelas ingin tahu. Ada apa sebenarnya? Jadi Naruto masih berhubungan dengan Hinata? Tapi Hinata tak keberatan pesta tetap diselengarakan? Bukan itu aneh?

Sakura menganguk, "Kemarin kaisar tiba-tiba saja datang. Ia tak terima Naruto mengadakan pesta perjodohan sepengetahuannya Naruto dekat dengan Hinata. Padahal jelas-jelas Hinata tak keberatan dengan pesta ini."

"Saku- bisa aku bicara dengan Highest Sasuke? Private?"

Sakura melihat wajah Naruto, ada apa dengan wajah bersalah itu? Sakura mengangguk.

"Highest Sasuke?" Naruto berjalan keluar dari dapur, Sasukepun mengikuti dari belakang.


"Duduklah." Naruto mempersilahkan Sasuke duduk di salah satu sofa di kamarnya.

Sasukepun patuh kemudian duduk di sofa yang di tunjuk Naruto.

Naruto berdehem sebelum mulai bicara, "Sasuke-" "Kau masih berhubungan dengan Hinata?" Sasuke memotong perkataan Naruto.

Naruto tak dapat menjawab. Sasuke juga diam- tenggelam dalam perasaan dan rasionalitasnya.

"Suddenly you cared?" [Tiba-tiba kau peduli] Naruto berkata agak sakratik.

"I cared, bastard." [Aku peduli, berengsek] Sasuke mencengkram kain yang menutupi tubuh bagian atas Naruto. "What am i for you my lord? Toy? Something that you can get rid when you're bored!?"[ Wajah Sasuke jelas mengeras. Ia marah- marah bukan hanya pada pemuda pirang itu, ia marah pada dirinya sendiri- pada perasaannya, kenapa Naruto bisa dengan mudah mengacak-acak logikanya, memaikan perasaannya... what a coward he has become?

Naruto mepertemukan orb malam sasuke dengan orb birunya, ia memeluk Sasuke secara berhati-hati, solah mencurahkan semua perasaannya dalam dekapan itu, "Sasuke, You're my shrine, you're my haven."

Lalu kedua bibir itu bertemu, ciuman yang lembut tampa paksaan- sebuah ciuman yang di dasari rasa cinta, rasa yang tertahan.

"Oh greatness warrior of greek, did you just confess to me?" Sasuke yang kini berkata sakrastik.

Naruto membopoh tubuh Sasuke ke kasurnya, meletakkan tubuh kekasihnya dengan lembut sebelum kembali mencium bibir ranum Sasuke, Naruto menyerigai, "Whatever you say, my dearest."


End


N/A : Well maaf soal bahasa campur diatas dan di bawah *LOL*, typo juga... haha saya ga nyangka ini akan berakhir dengan Happy End, i'm going for sad ending for sure, but yeah happy end not too bad. Bagaimana dengan Hinata? Who cares? I don't. Gyaa! so mean of me... maybe an epilogue will be nice- maybe i will write later, what did you thought? *grin* This is the best i could write so- Terimakasih buat yang udah Fav, Follow, review dan terutama yang masih mau membaca dari penulis abal macam saya *smiles*Saya yakin tulisan saya banyak lacknya dari pada plusnya. Soal FSOG yang saya discontinued saya minta maaf- story itu saya tulis karena keegoisan saya dan sampe akhirpun saya masih egois dengan men-dis-nya. Jujur saya buntu dalam penulisan lanjutannya. Tapi bila saya tiba-tiba pengen pasti saya lanjutkan... ga janji tapi... Saya sedang menulis cerita lain. Mungkin dalam waktu dekat (ga yakin deket banget) saya akan coba publish. Pls RnR if u dont mind.


Balasan Review:

(P.S. Karena saya ga inget sapa aja yang sudah saya balas reviewnya... saya balas semua disini)

liaprimadonna : Saya senang anda suka genrenya- tapi maafkan saya karena saya tak bisa bikin rate M *haha* Strip dan koma ya... Baiklah saya coba.

Sunsuke : Dan ya ch 2 masih ber-rate M kok *grin*

Habibah794 : Iya zaman dahulu kala gitu xD dan ternyata saya membuat Happy Ending *LOL*

Mii, BellaClaw, dekdes : Maaf ya lama... *grin*

: Saya ikut senang kalo settingnya memuaskan dan maafkan typo yang saya buat.

suira seans, CorvusOnyx : Haha typo yang fatal *shiver* maafkan sayaaa... Terima kasih juga sudah membaca

pingki954, namisasuke : Terimakasih *smiles*

Lady Spain : Haha maafkan Hinata *kenapa aku yg musti minta maaf LOL*

Lemonade Ara, Reina Putri : Terima kasih reviewnya. Maaf saya lama update...