~PBWIHVC : Indahnya Memiliki Ayah~
Ansatsu Kyoushitsu
Rated : K atau T?
Pair: Karma x OC, KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa
Genre : Romance, Family
Disclaimer:
Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.
Warning:
Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Family, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC dan berbagai typo bertebaran~
BTW, sebelum membaca ini, alangkah baiknya singgah dulu ke fic saya yang berjudul 'Pervert, but Why Is He Very Cool~?' /dia promosi/
Summary :
Akabane Risa bertanya pada ibunya, "Bagaimana rasanya memiliki ayah, Bu? Aku sangat ingin bertemu dengan Ayah. Dia belum mati, 'kan?" Sang ibu tersenyum lembut padanya. "Ayahmu mencintaimu. Pasti. Suatu hari nanti ... dia akan pulang." Anak itu tersenyum miris. "Asal kau tahu, Bu. Aku membenci ayahku... Ingin tahu alasannya?"
Chapter 1
Gadis berparas cantik yang cukup populer di sekolahnya. Cerdas dalam akademik maupun non akademik, khususnya pada bidang matematika dan bela diri.
Gadis dengan wajah manis dengan surai biru muda yang panjang. Sekilas dia tampak seperti ibunya. Senyumnya yang lembut meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya.
Hanya saja...
Sikapnya...
"Oh, pembullyan? Astaga, zaman sekarang masih ada kah? Ayo,ayo, lawan aku sini!"
B-Bukan ibunya yang mengajarinya berkelahi, serius.
"Risa, kau nyaris diskors, lho! Apa yang kau lakukan pada anak kelas 3!? Berbahaya,tau!"
Risa hanya membalas itu dengan tawa. Seolah-olah sangat menikmatinya.
"Astaga..."
-PBWIHVC-
"Tadaima..."
Pintu rumah sederhana itu dia buka. Melepaskan sepatu dan meletakannya di rak. Berjalan menuju ruang tamu dan melempar asal tasnya di meja. Tubuhnya segera dia hempaskan di atas sofa.
"Risa, ibu ada rapat. Jadi pulangnya malam. Makan siang ada di atas meja. –Ibu"
Risa mengangguk pelan menemukan secarik kertas di atas meja. Hm! Dengan kata lain ...
DIA BEBAS!
Risa menghabiskan makannya secepat mungkin, segera terjun ke dalam bak mandi, menikmatinya sebentar sebelum akhirnya mengambil pakaiannya dan lari. Keluar dari rumah.
Dia bisa berjalan-jalan sebentar~
"Yosh! Sudah lama aku ingin mencoba ini!"
Dia melompat saat seharusnya menuruni tangga. Mengunci pintu rumah dan kembali masuk ke dalam kamar. Membuka jendela selebar-lebarnya dan terjun bebas ke halaman rumah.
Dia tersenyum senang.
Tindakan gila memang.
"Ah."
...
SESEORANG MELIHATNYA!
Tubuhnya sukses bergemetar hebat. Bisa menjadi masalah besar jika ibunya mengetahui hal nekad yang dia lakukan.
"Kau ...melompat dari sana?"
Dia terdiam.
"Tidak takut?"
Risa mendengus sebal. Dia bukan anak-anak lagi. (Dan dia lupa bahwa dia baru menginjak bangku SMP)
"Untuk apa aku takut? Lagipula itu bukan urusanmu, Jii..." ucapannya terputus. Matanya membulat kaget melihat 'siapa' yang mengetahui aksi nekadnya.
"Hee, ingin kulaporkan dengan orangtuamu?"
Rambut merah...
"...siapa kau?" ucapnya waspada. Dia telah memasang kuda-kuda, bersiap untuk bertarung. Walau sebenarnya dia tidak tahu mengapa tubuhnya berbuat demikian, tetapi sinyal di otaknya telah membunyikan alarm tanda bahaya.
Ditambah lagi rambutnya berwarna merah, familiar di matanya.
"Pfft. Waspada sekali. Hebat!" pujinya. Lha, kenapa dia dipuji? Entahlah.
"Jawab pertanyaanku!"
"Nanti kau juga akan tahu kok," ucapnya dingin, "siapa yang ada di depanmu ini."
Matanya tajam, wajahnya seram. Iya, Risa akan memasukkan orang itu ke dalam black list. Mata itu menyorotkan kebencian mendalam yang ditujukan untuknya. Risa menatapnya serius, dia terpaku pada tatapan mata laki-laki itu. Kebencian? Entahlah. Tatapan mata itu seolah menusuk hatinya.
"Hm," balasnya singkat.
-PBWIHVC-
"Kau kenapa, Risa? Tiba-tiba meminta bertemu, setelah itu kesal-kesal sendiri disini."
Risa mendengus sebal sambil mengaduk-aduk es kopi yang dia pesan, "Ada orang aneh di depan rumahku."
"Hah? Bahaya dong! Mana tau dia maling!"
"Maling sih ..., aku kurang yakin. Dia ganteng masalahnya. Masih muda deh. Tampang orang kaya kok, masa maling?"
"Risa, kamu ini mau kenalin jodohmu atau gimana?"
"Jodoh apanya, sih?!"
Moodnya benar-benar turun. Sungguh. Rambut merah itu selalu terbayang di wajahnya. Siapa? Dia familiar dengan orang itu, tetapi kenapa dia tidak mengingatnya? Ah, sialan!
Dia mendengus sebal, bibirnya telah dimajukan seperti bebek dengan perempatan siku di sudut dahi. Tumbuhan hias di sekitar tempat duduknya bergoyang-goyang padahal tidak ada angin. Suasana panas padahal ada pendingin ruangan. Tatapan Risa tajam, seolah ingin menerkam temannya sendiri.
"R-Risa...?"
"Ah, maaf-maaf. Aku tidak apa-apa kok."
Dia tersenyum lembut tiba-tiba. Tersenyum lembut dengan wajah manis seperti gula lima sendok dalam satu gelas teh. Siapa yang tidak merinding?
Risa tahu bahwa ibunya adalah mantan pembunuh. Dia sangat mengenal sang ibu. Sebagian gen dari ibunya terjun padanya. Rambut biru langit yang panjangnya, wajah cantiknya, aura pembunuh, memiliki bakat terpendam. Banyak hal yang disukai ibunya juga dia sukai. Sayangnya dia tidak memiliki niat ataupun sama sekali tidak ingin menyentuh dunia bunuh-bunuhan. Dia jarang melatih auranya yang begitu kental terasa bahkan pada orang asing tidak tahu apa-apa. Seram. Dia setara dengan laki-laki berwajah sangar dengan pakaian serba gelap jika moodnya benar-benar turun. Untunglah dia bisa menahan diri, karena ibunya hanya pernah membekalinya pisau karet jika ingin marah-marah dengan sebuah boneka gurita berwarna kuning hasil buatan ibunya sendiri.
Karena memiliki banyak kesamaan dengan ibunya itulah, dia sama sekali tidak dapat melihat sisi dari ayahnya yang turun padanya. Mungkin karena itulah dia sama sekali tidak mengingat ayahnya.
Sang ibu juga tidak pernah menceritakan hal banyak tentang ayahnya. Nama ataupun ciri khas sendiri pun Risa tidak tau. Secara 'sengaja' atau tidak sengaja, ibunya merahasiakan nama sang ayah darinya. Walaupun dia tidak mirip dengan ayahnya, cengiran khasnya dan juga sikap jahilnya kepada sang ibu setara dengan ayahnya.
"Kalau begitu, sampai jumpa di sekolah, Risa!"
"Hm! Bye, bye!"
Setelah perpisahan sementara dengan teman-temannya itu, Risa memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya. Langit sore yang menghiasi pemandangan kota membuatnya sedikit lega karena tahu bahwa hari belum malam. Bisa-bisa gawat jika ibunya tau dia keluar rumah.
Kalau dipikir-pikir, ibunya tidak terlalu masuk ke dalam jenis ibu-ibu banyak aturan. Setelah pensiun dari dunia pembunuhan sehabis melahirkannya, ibunya mendaftar menjadi salah satu guru dan terpilih menjadi guru olahraga.
Kenapa guru olahraga?!
Awalnya, sang ibu mendaftar menjadi seorang guru Bahasa Inggris. Beberapa tahun menjadi guru Bahasa Inggris, dia dipindahkan menjadi guru olahraga dan pengawas klub Seni Bela Diri, seperti Karate atau Taekwondo pernah dia bimbing.
Kekuatan seorang ibu!
Risa merasa bangga memiliki ibu seperti Nagisa. Dia tidak tampak seperti seorang pembunuh. Bahkan Risa tidak percaya bahwa sang ibu yang memiliki senyum lembut bak kain sutra itu nyaris disamakan dengan malaikat pencabut nyawa.
Syukurlah, ibunya sudah bertobat.
Memikirkan soal ibunya, dia tidak pernah merasakan apa artinya kesepian. Walau dia sering ditinggal di rumah sendiri, ibunya selalu rajin menelponnya. Bukannya merasa menganggu, dia justru sangat senang bisa mendengar suara ibunya.
Dia benar-benar jatuh cinta pada sang ibu. Mungkin sebab itulah dia tidak pernah jatuh ke dalam hati pria mana pun.
Karena pria ...sangatlah menyebalkan.
Contohnya...,
Ayah...nya.
Ngomong-ngomong masalah telpon...
"Ponselku!?"
Risa dengan cepat menyambar saku jaketnya dan menemukan ponselnya masih dalam keadaan mati. Gawat!
'32 Missed Call'
.
.
.
Ma, bolehkan Risa kubur diri? Bentar aja...
Tubuhnya bergetar hebat. Jika panggilan tak terjawab di ponselnya mencapai angka 5 saja sudah membuatnya merinding, apalagi 32...
...
"O-Okaa-san?"
"Risa, kamu dimana?" Suaranya sangat lembut. Bulu kuduknya telah berdiri membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti setelah sampai di rumah.
"A-Aku ingin membeli kebutuhan alat tulis, Kaa-san. L-Lalu, ponselku jatuh, jadi..."
"Astaga... Kamu sudah sampai di rumah?"
"Belum..."
"Risa, ingat pesan Kaa-san?"
"Hm," Risa mengangguk pelan sambil mempercepat langkah kakinya. "Jangan keluar di malam hari..."
"Benar," Terdengar helaan napas disana. "Untunglah kamu mengingatnya. Pulanglah sebelum matahari terbenam, ya. Kaa-san masih ada rapat guru."
"Iya, Kaa-san!" Risa menghela napas lega. Syukurlah, ibunya tidak mengangkat kejadian 32 panggilan tidak terjawab itu.
"Btw Kaa-san, dari tadi ...ngga nyariin aku, kan?"
"Hah? Hahaha," Gelak tawa terdengar keluar dari ponselnya. "Kamu rindu suara Ibu, ya?"
Rin...du?
"Maksudnya, Kaa-san?"
"Lho? Bukannya kamu yang menelpon Kaa-san? Kaa-san tadi ada bimbingan pelajaran tambahan anak-anak kurang mampu dalam Bahasa Inggris."
...Jadi?
"Ada apa, Risa? Rindu dengan Kaa-san ya?"
"E-Eh...Uhm!" angguknya cepat. "Aku rindu Kaa-san! Ayo makan malam bersama nanti ya! Aku akan buat makanan kesukaan Kaa-san!"
"Benarkah? Wah, tumben baik, Risa. Oke deh, sampai nanti ya. Bye bye."
"Uhm, sampai jumpa di ...rumah..."
Tit.
Anjir, serem juga ada yang nelpon sampai 32 kali!
T-Tapi si-siapa ya? Orang yang berbeda-beda atau hanya satu orang? Teman-temannya, ya? Kalau orang yang berbeda sih, kebetulan sekali menelpon dalam jangka waktu dua jam bersama teman-temannya.
Risa menghela napas setelah mengumpulkan keberanian untuk melihat siapa si penelpon...
"Nomor Tidak Dikenal."
...STALKER!
Abaikan ga ya? Kalau diabaikan malah kepikiran terus. Lapor ke Kaa-san? Bisa-bisa dihajar karena kasih nomor ke sembarang orang.
Tapi dia tidak pernah memberikan nomor ponsel atau alamat emailnya ke sembarang orang selain keluarga dan sebatas teman.
S-Siapa...?
-PBWIHVC-
"Jangan dipikirkan, Risa. Itu hanya nomor iseng. Ya, pasti iseng," gumamnya tidak jelas sambil menunggu kepulangan sang ibu sambil duduk di kursi makan. Makan malam telah dia siapkan dan berkat janji yang telah dia buat bersama sang ibu, dia harus menunggu ibunya pulang. Ibunya masih belum memberinya kabar, mungkin sebentar lagi dia akan pulang.
Tapi..., panggilan misterius ini membuatnya terus kepikiran.
Harus diapakan? Diabaikan? Atau nelpon balik?
"Ngapa kau nyari masalah sama gua, hah? Gini-gini gua bisa bunuh loe sekarang. Tunjukkan lokasi loe dan jangan ganggu gua. Rese banget loe."
Ga, ga, ga! Itu kedengaran seperti mafia!
"E-Eh... Ada apa mas nelpon malam-malam begini? Eh, mbak ya?"
Kenapa dia langsung kepikiran jika si penelpon itu laki-laki?! Mungkin dia berharap dapat cowok ganteng. Lalu kenapa tiba-tiba dia berbicara dengan logat orang Indonesia?! Tapi..., misalnya cowok sungguhan...
"Kenapa mas nelpon malam-malam? Sampai beberapa kali nelpon lo... Eh, salah sambung? Salah sambung atau salah sambung? Mau cari perhatian aku? Ihh, mas ini."
Ini bukan Risa, hanya imajinasinya.
"Karena sudah terlanjur..., gimana kalau kita ...hm...kenalan mas?"
"Eh? Mau ketemuan mas? I-Itu terlalu cepat untuk kita..."
"M-Mas, main yuk-"
Imajinasinya sudah kelewatan.
Ah, dia lapar. Lapar membuat imajinasinya sampai lari entah kemana-mana. Emak kemana, Mak? Anakmu lapar-
Kring,kring,kring,kring.
'Nomor Tidak Dikenal'
Duak! Biarkan Risa jatuh ke dalam luka paling dalam. Risa belum siap!
"Bagaimana ini? Dijawab ya? Tapi kalau dihipnotis gimana? Aa, jangan berpikir macam-macam, tapi harus bagaimana...?"
Dia salah tingkah sendiri melihat layar ponselnya.
Hah, oke. Tenangkan dirimu, Risa. Kamu pasti bisa.
Tapi..., bukannya tidak baik menerima telpon orang asing? Abaikan saja ya...
Tapi kalau itu telpon penting bagaimana?!
Risa dilemaa!
Tit.
"H-H-Halo?"
"Halo?"
...Beneran manusia berbatang! Cowok! Cowok asing nelpon Risa!
"Ya? Akabane disini."
"Aku sudah menelpon berkali-kali, kenapa tidak dijawab?"
Setidaknya berikan perkenalan dulu, Orang Asing Bodoh!
"Hm... Ponselku mati..."
"Ceroboh sekali."
Sabar, Risa, sabar...
"Maaf, jika boleh tau, ini siapa ya?"
"Tidak mengenalku?"
Ini orang nyeselin, seriusan.
"Hahh, mau bagaimana lagi... Bagaimana jika kita bertemu, Nona?"
TBC
Maaf! Benar-benar maaf karena fic ini terlantarkan selama satu bulan!
Ya, karena tidak ada ide ... Sebenarnya chapter satu telah dibuat lama, cuma aku merasa chapter satu kurang cocok. Jadi, mana tau ada ide ...ditinggal sementara gitu. Tapi, malah benar-benar terlantar- /hiks
Chapter dua juga sudah selesai kok! Cuma aku butuh waktu untuk memperbaiki. Karena hubungan Karma dan Risa itu masih ...sebatas ...yah /no spoiler/ /heh
Aku takutnya Risa tampak jadi orang bodoh, ehehe
Balasan review :
Nanodayo411 : Serem, ya? Aku ngga bermaksud buat Karma jadi pengecut sih... Cuma aku bingung alasan biar hubungan Karma dan anaknya kurang dekat /yah
Terimakasih dukungannya~ UN nya susah lo hiks T^T
Gery O Donut : Ah, lama tidak berjumpa! Mau kecupan dariku? /GA
Anak Karma itu keturunannya si Nagisa kok. Masih imut-imut adem ehehe
Iya, aku publish ficnya pas lagi ngerjakan soal UN tahun lalu ahahahaa /udah
Terimakasih dukungannya~
Shinju Hatsune : Kar-Karma lagi sakit, Kk. Karma sakit hati karena ortunya telah ...hiks- /heh
Mari : MARI-CHAN HISASHIBURI!
Maaf ya, ngga bisa chat lagi. Hapeku rusak. BBM ku hanya ada di sana... Kalau mau ketemu sama aku, add lineku aja, tapi aku ngga sering buka laptop... Idnya = .ne.i.a (hilangkan titiknya)
UJIANNYA SULIT! KOKORKU POTEK! /udah
Hm... Tema dari ceritanya ini tidak pembunuhan banget sih- Fokusnya ke genre Family- ahaha xD
.66 : Karma milik Nagisa lo hmph /heh
Oke, okee, ini udah lanjut :3
Kyunauzunami : Okee, ini lanjut. Makasih yaa xD
Ya, cerita ini tidak mengandung unsur horror atau pembunuhan, tapi fokusnya ke Family. Bentuk ...er...apa, ya? Kayak hubungan ayah dengan anaknya gitu. Kan kalau anak paling sering curhat ke ibunya, termasuk aku. Hubunganku dengan ayahku agak ...enak kok. Cuma yah ... Kalau udah kena ceramah, yah gitu /yah
Pokoknya, nikmati aja ya~~ Kalau ada saran dan kritik, bilang aja. Soalnya aku agak kurang pas dengan cerita ini xD
Salam,
IvyEvad9
