~PBWIHVC : Indahnya Memiliki Ayah~
Ansatsu Kyoushitsu
Rated : K atau T?
Pair: Karma x OC, KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa
Genre : Romance, Family
Disclaimer:
Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.
Warning:
Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Family, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC dan berbagai typo bertebaran~
BTW, sebelum membaca ini, alangkah baiknya singgah dulu ke fic saya yang berjudul 'Pervert, but Why Is He Very Cool~?' /dia promosi/
Summary :
Akabane Risa bertanya pada ibunya, "Bagaimana rasanya memiliki ayah, Bu? Aku sangat ingin bertemu dengan Ayah. Dia belum mati, 'kan?" Sang ibu tersenyum lembut padanya. "Ayahmu mencintaimu. Pasti. Suatu hari nanti ... dia akan pulang." Anak itu tersenyum miris. "Asal kau tahu, Bu. Aku membenci ayahku... Ingin tahu alasannya?"
Chapter 2
"Eh?"
"Hm?"
"Maaf ya, Bang atau siapapun disana. Tolong bisa diperjelas lagi? Saya hanya ingin tau ini siapa dan maksud Anda menelpon saya."
"Seremnya~"
Risa mengigit sendok yang tengah dia pegang daritadi.
"Kau ingin tau siapa aku, kan? Ayo ketemuan~"
"Maaf, tapi saya tidak ingin bertemu dengan orang asing."
"Lalu, kau menanyakan tujuanku menelponmu, kan?"
"Benar."
"Aku ingin mengajakmu bertemu denganku kok~"
"Maaf, mungkin Anda salah sambung..."
"Akabane Risa. Tinggal berdua bersama Akabane Nagisa yang bekerja sebagai guru di sekolah XXX. Berumur 14 tahun yang kini bersekolah di sekolah AA. Minuman kesukaannya susu strowberri, makanannya masakan ibu dan masakan buatannya sendiri. Selalu memakan es krim strowberri di toko YYY setiap hari Kamis sepulang sekolah."
Risa terbelalak kaget. Sungguh, orang ini ... mengetahui seluk beluk kehidupannya. Dia bahkan mengucapkannya dengan lancar seolah itu berasal dari kepalanya sendiri. Dan, darimana orang ini tau kalau dia menyukai masakan buatannya sendiri?!
"Anda ... orang yang ingin balas dendam pada ibuku?"
"Uhm?"
"Ibuku memang mantan pembunuh. Keluar dari dunia pembunuhan setelah menjadi tenar disana bukanlah hal yang mudah. Pasti banyak orang yang mengincar bakatnya dan ada juga yang ingin balas dendam atas perbuatan ibuku dulu. Ibu sering mengatakan itu padaku untuk berjaga-jaga jika ada bahaya yang mengancam nyawanya dan nyawaku."
"Hee..."
"Uh?"
"Berat ya hidup seperti itu?"
"Berat? Menurutku sih tidak, tetapi aku bangga pada ibuku. Aku tidak pernah mendapatkan serangan misterius seperti itu, tetapi aku yakin bahwa ibuku melindungiku!" ucapnya mantap.
"Hee..."
"Ah, m-maaf!"
Astaga, kenapa dia malah membicarakan hal itu pada orang asing?! Gawat, jika misalnya orang ini berencana membunuhnya bagaimana?! Atau orang ini mengincarnya lalu menculiknya?!
Tapi...,
"Tidak apa kok~ Justru aku senang kau ingin terbuka padaku, hehe~"
...suara dari laki-laki yang tidak dikenalnya ini...
"Ibumu orang yang sangat hebat dong? Kerennya."
...begitu menenangkan...
"Pasti kau bahagia tinggal bersama ibumu, kan?"
Nyaman... Dia merasa tidak keberatan jika terus bersama dengan suara ini.
"Tidak hanya cantik dan baik, dia juga memiliki ciri khas tersendiri sebagai seorang perempuan."
Perasaan apa ini? Dia sangat nyaman... Suaranya membuat jantungnya berdetak kencang. Jatuh cinta...?
"Bahkan aku merindukan dan menyukai ibumu~"
Atau...rindu...?
Eh?
Suka?
Ibumu?
"M-Maksud Anda?!"
"Aku pacar ibumu~ Ayo ketemuan~ Aku calon ayahmu yang baru~"
EH?!
Cukup. Candaannya sungguh keterlaluan. Awalnya dia memuji-muji ibunya dan tiba-tiba mengatakan bahwa dia adalah pacarnya?! Yang benar saja!
Risa mengetuk ujung pensil ke bukunya beberapa kali. Masalahnya simple, tetapi banyak hal yang dia pikirkan.
"Tapi, ingat ya. Jangan kasih tau dulu kepada ibumu kalau aku sudah menampakkan diri~ Tidak percaya kataku? Ayo ketemuan di cafe dimana biasa kau beli es krim strowberri hari Kamis minggu depan. Jika kau datang, berarti kau ingin ayah baru ahahaha."
Ayah baru? Lelaki ini seperti menghina ayahnya saja!
"Jika kau tidak datang, yah berarti kau sayang pada ayahmu sehingga kau tidak mau menemui ayah barumu ini."
Padahal awalnya membahas tentang ibunya..., kenapa tiba-tiba menjadi ayahnya?
"Hahhh," Helaan napas terdengar keluar dari mulutnya. Dia berdiri dari meja belajar dan berjalan pelan menuju tempat tidurnya.
Sayang pada ayahnya?
Yang benar saja. Ayahnya meninggalkannya dan ibunya tanpa alasan yang jelas. Ibunya juga tidak ingin menceritakan apapun tentang ayahnya.
Lagipula dia sudah besar... Ingatannya tidak kuat untuk bisa mengingat segala hal saat dia kecil.
Bagaimana wajah ayahnya?
Bagaimana keadaannya?
Dia ...tidak peduli?
Karena dia tidak peduli itulah, dia lupa?
Apakah dia sayang pada ayahnya?
"Ayahmu itu sedang kerja kok. Iya sih, waktu itu mengurus keperluan kakek nenekmu yang meninggal itu lama karena ayahmu itu satu-satunya anak dari keluarganya. Dia harus mengurusnya mengingat pekerjaan kakek-nenekmu itu lumayan besar. Selalu keliling dunia, lho."
"Jadi, Tou-san juga keliling dunia?"
"Yahh, itu urusannya. Sebentar lagi juga balik kok."
Sayang...
"Risa sayang pada Tou-san?"
. . .
"Jika kau datang, berarti kau ingin ayah baru."
"Ukhh..." Risa mengigit bantalnya gemas. Hmph, dia tidak suka dengan laki-laki, merepotkan!
"Tidak sayang! Aku sangat membenci Tou-san sampai ingin membunuhnya!"
Tanpa dia sadari, hari Kamis telah tiba.
Bahkan dia bingung dengan perasaannya sendiri. Membenci ayahnya? Tapi ibu tidak membencinya atau bahkan memberi surat cerai seperti yang ada di sinetron-sinetron. Ibunya berkata bahwa ayahnya sedang pergi bekerja.
Bodoh amat. Apapun yang terjadi disana, pikirkan nanti. Dia ingin membeli es krim!
"Kaa-san, nanti aku pulangnya agak sore-an ya. Pengen makan es krim dulu. Nanti aku beliin juga, ya."
Selesai memberi sms, dia melangkahkan kakinya ke tempat tujuan.
Awalnya, langkah kakinya terasa ringan.
Tetapi..., saat berada lima meter dari tempat tujuan...,
"B-Berat." Langkah kakinya lebih berat daripada yang tadi. Efek capek? Atau ketakutan?
Tidak, tidak, tidak! Kalau ada orang yang menghadangnya, dia bisa berteriak minta tolong. Toh itu di dekat pusat perbelanjaan besar.
Sedikit lagi sampai...
Sedikit lagi...
Ponselnya berbunyi. Risa nyaris dinyatakan pingsan akibat serangan jantung kecil.
"Halo?"
"Jalanmu lama, Oi! Aku menunggu di dalam, capek melihatmu jalan kayak pinguin."
Tit, tot, tit, tot.
Yang menyuruhnya untuk menunggu siapa coba?!
Bermodal hati yang tengah kesal, kini langkah kakinya dia cepatkan lagi.
"Selamat datang!"
Memasang senyum lembut kepada si penjaga toko, kemudian masuk sambil mengucapkan mantra penenang, seperti "Tenang, tenang, tenang, tenang."
"Risa!"
Deg!
Jantungnya berdetak dengan cepat dengan ngeri. Sensasi apa ini?
Mengedarkan pandangan, akhirnya dia menemukan seseorang yang tengah melambaikan tangan bertujuan memberi kode untuknya mendekati dan duduk di sana.
Seorang laki-laki dengan jas hitam. Serba hitam...
Itu mau ketemuan atau mau melayat?!
"S-Selamat siang...," ujarnya basa-basi. Biar tampak seperti anak sopan.
"Hm, silakan duduk."
Jujur, tempat duduk di ujung cafe berdua dengan orang yang dia tidak kenal membuatnya cukup tidak nyaman.
"Es krim kesukaanmu rasa strowberri, kan? Aku sudah memesannya untukmu."
Memang, daripada tampang lelaki di depannya, es krim berwarna merah muda itu lebih memikat perhatiannya.
"Jadi..., soal yang ditelpon itu-"
"Maaf saja," Risa berkata mantap. "Aku kemari untuk membeli es krim, bukan untuk bertemu denganmu."
Lelaki yang di depannya terbelalak, kemudian tertawa pelan.
"Maaf?" tanya Risa heran. Tidak ada yang lucu kok.
"Astaga... Tidak perlu setegang itu, kan? Santai saja dan nikmati dulu es krimmu. Kita bisa membicarakan perlahan-lahan."
Uhmm... Tampang lelaki ini cukup baik sih...
Risa menaikkan sebelah alis. Setengah percaya setengah ragu. Orang asing sih, tapi ...
...ini menyangkut masalah ayahnya...
"Kalau begitu, ittadakimasu-"
DOR!
"Huwaa!"
"Kyaa!"
"Akh!"
Suara tembakan terdengar jelas mengisi seluruh cafe. Beberapa pengunjung dan pelayan memekik kaget, ada juga yang menunduk ketakutan. Risa sendiri terkejut walau suara tembakan itu tidak terdengar dekat dengannya. Lagipula, suara tembakannya tidak terlalu kencang. Suasana hening dalam cafe yang membuatnya terdengar jelas.
Masalahnya...
Yang menjadi target penembakan itu...
Dia. Tangannya terkena peluru.
"HAH?!"
"Hee~ Maafkan kelancanganku, tetapi pistol ini pistol mainan kok. Ahahaha."
Dor!
Lelaki dengan tampang tidak serius itu tertawa pelan sambil mengarahkan pistol ke arahnya, kemudian menunjukkan peluru BB yang ada di tangannya.
"Pistol mainan! Hah, untunglah aku masih membawa mainan ini. Ini mainanku sejak SMP, lo~"
Senyumannya bak iblis. Senyuman lebar yang terkesan jahil. Rambutnya yang menjadi daya tarik langsung seluruh pengunjung termasuk dirinya.
Rambut merah...
"Dan, kamu yang disana."
Dengan seenak jidatnya, lelaki itu menunjuk ke arah Risa.
"Kaget, ya? Kalau tidak kaget, sendok itu tidak akan terlempar."
Sendok?
Oh iya, karena kaget ditambah lagi dengan tangannya terkena peluru, sendok yang digunakan untuk memakan es krim terlempar cukup jauh.
"Dan kau yang didepannya," ujarnya dingin. Berbeda dengan suara penuh candaan di awal.
Dia melangkahkan kakinya lebih dekat ke meja tempat duduk Risa dengan calon ayah barunya. Tersenyum layaknya iblis sambil menyimpan pistol 'mainan'nya.
Merasa aman dari para pengunjung, dia mulai membuka suara.
"Jika pistol ini kubunyikan, pengunjung akan mengira diriku bermain-main dan hasilnya aku akan diusir dari cafe ini, tapi..."
Dor! Sekali lagi.
"Argh!"
Cairan merah mengalir deras dari tangan kiri lelaki berambut merah ini. Risa terbelalak. Itu...pistol asli! Kenapa dia memilikinya?!
"Kau..."
Tatapan mata yang menusuk. Mulut pistol itu telah sampai ke depan mata lelaki serba hitam di depannya. Lelaki merah tersenyum tipis.
"Beraninya meracuni harga diri buah strowberri!"
Disitu masalahmu mengeluarkan pistol asli?!
Dan-
Racun?
"Eh..." Akabane Risa. Sekali lagi dikejutkan oleh kejadian tidak terduga.
"Uhm? Ada apa, Risa-chan~?"
"K-Kau..."
"Ya?" Lelaki berambut merah itu berwajah senang melihat reaksi Risa yang sepertinya mengenalinya.
"Kakak ganteng yang melihatku terbang dari jendela rumah-"
"Jangan memberikanku julukan dan aku...awet muda ya?"
-TBC-
Aku lupa apdet semalam /digeplak
Oke. Maaf sebelumnya, untung saja ada review yang datang setelah saya menyadarinya.
Kalau Risa SMA, umur KaruNagi berapa? Sudah tua dong? Iya, 'kan?
Karena ada kata 'masih muda' yang diucapkan oleh Risa, aku memutuskan untuk mengecilkan umur Risa menjadi anak SMP /seenaknya aja nih author/
Nanti diedit chapter satunya ya huohoho :
Gery O Donut : Daripada penasaran, lebih baik tunggui saya /ga Terimakasih atas reviewnyaa~
Misacchin : Diusahakan yaa. Arigatou *kecupin* /hah
Shinju Hatsune : Penasaran, nih? Ahay, tungguin saya ya, arigatouuu
Yuki : Makasih yaa. Aku juga iri sih, mau masuk ke sana jadi anak kedua /oi
Hani Ninomiya Arioka : Yang nelpon Risa itu ...saya /ga . Makasih atas reviewnyaa
Amaya Kuruta : Uhmmm, tungguin aja yaa~ Makasih~
.
Maaf masih berantakan dan aku tidak bisa lama-lama megang laptop akhir-akhir ini, terimakasih~
Salam,
Ivy Evad9
