~PBWIHVC : Indahnya Memiliki Ayah~
Ansatsu Kyoushitsu
Rated : K atau T?
Pair: Karma x OC, KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa
Genre : Romance, Family
Disclaimer:
Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.
Warning:
Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Family, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC dan berbagai typo bertebaran~
BTW, sebelum membaca ini, alangkah baiknya singgah dulu ke fic saya yang berjudul 'Pervert, but Why Is He Very Cool~?' /dia promosi/
Summary :
Akabane Risa bertanya pada ibunya, "Bagaimana rasanya memiliki ayah, Bu? Aku sangat ingin bertemu dengan Ayah. Dia belum mati, 'kan?" Sang ibu tersenyum lembut padanya. "Ayahmu mencintaimu. Pasti. Suatu hari nanti ... dia akan pulang." Anak itu tersenyum miris. "Asal kau tahu, Bu. Aku membenci ayahku... Ingin tahu alasannya?"
Chapter 3
"Apa yang kau lakukan disini, hah? Aku tidak ingat ada acara pemakaman di dekat sini."
Lelaki merah itu masih menyeringai menatap tajam lelaki hitam di depan Risa. Risa yang dihadapkan dengan situasi membingungkan ini terlihat seperti meme spong*bo* yang tengah tren akhir-akhir ini.
"Dan aku tidak ingat mengundangmu. Aku hanya mengundang Risa-chan untuk menemuiku hari ini," lanjutnya lagi.
Si lelaki hitam tengah terpojok. Keringat dingin mulai mengalir di sudut pelipisnya dan dia meneguk ludah. Salahnya sendiri memilih tempat duduk paling ujung.
"T-Tidak mungkin. Seharusnya kau tidak datang!"
"Uhm? Jangan meremehkanku, lo~"
"H-Hii-"
Kemudian, Risa diungsikan ke taman terdekat.
-PBWIHVC-
"Maaf, Risa-chan. Jadinya begini deh. Ahaha."
Risa berdiri setelah duduk kaku selama setengah jam di bangku taman. Mendekati lelaki bersurai merah yang nyaris sama dengan langit sore itu sambil tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa. Tapi, apa yang sebenarnya yang terjadi?"
Lelaki itu mendengus pelan kemudian duduk di bangku taman dan bersandar padanya, "Ini es krim untukmu~"
"T-Terimakasih, tapi...ini tidak beracun, kan?"
"Kau bisa percaya padaku," ucapnya tersenyum dan memberikan satu cup es krim berwarna merah muda. "Selagi kau makan, akan kuceritakan semuanya."
Risa menatapnya heran, tapi akhirnya dia menyetujuinya juga.
"Orang tadi adalah salah satu keluarga dari orang yang telah ibumu bunuh. Kemarin, dia menyadap ponselmu dan menemukan kesempatan bagus untuk menculikmu di pertemuan ini. Tapi sekarang tidak apa~ Aku sudah menghabisinya kok~"
"B-Bagaimana caramu mengatasinya?"
"Ada deh," ucapnya sambil tersenyum jahil. Risa menghela napas berat. Mungkin orang ini membawanya ke kantor polisi. Mungkin.
"Jadi, hidupku dan ibuku akan baik-baik saja setelah ini, kan?"
"Tenang saja."
Risa menyendok es krim dan memakannya perlahan. Karena kekacauan tadi, dia tidak bisa membelikan es krim untuk sang ibunya.
"Baiklah. Mari kita mulai pertemuan kita! Kau datang ke tempat itu, berarti setuju dengan adanya ayah baru, hm?"
Risa tersentak, kemudian terdiam sebentar.
Ayah baru...
Ayah baru yang lebih menjamin keselamatannya dan juga ibunya.
"Aku ke sana untuk membeli es krim kok."
"Tapi, kau duduk di depan orang yang kau anggap sebagai calon ayah barumu itu, lo~"
Risa menunduk kesal, kemudian berdiri tegap.
"Aku tidak tahu siapa kau, tapi aku ke sini untuk memastikan hubunganmu dengan ibuku!" ucapnya lantang dan mantap. Bersyukurlah taman yang tidak sepi, mereka mendapat perhatian sekarang.
"Hm? Masa?"
"Ayah baru? Jangan bercanda!"
Lelaki itu terbelalak.
"Aku membenci ayahku. Sangat membencinya! Aku muak melihat tingkah lakunya seperti pengecut! Dengan alasan apa dia pergi? Mengurus pemakaman kakek-nenek? Alasan macam apa itu? Untuk melarikan diri?!"
Si surai merah itu menatap gadis bersurai biru itu dengan tatapan datar.
"Aku muak dengan ayahku sendiri."
Jatuhnya dia curhat.
"Aku membencinya, aku ingin membunuhnya."
Laki-laki itu menghela napas pendek.
"Aku membencinya karena dia membuat ibuku menderita!"
Laki-laki itu mengambil napas berat.
"Aku membencinya karena dia membuatku merasa ..."
Laki-laki itu masih setia menatap gadis itu.
"...aku tidak memiliki seorang ayah."
Laki-laki kemudian itu menunduk dalam.
"Tapi, aku juga tidak suka denganmu."
Lelaki itu mengangkat kepalanya perlahan.
"Ayah baru? Oke, jangan bercanda. Aku percaya pada ibuku yang mengatakan ayahku akan pulang. Aku percaya pada ayahku yang mengatakan bahwa ayah mencintaiku. Aku percaya pada ibuku bahwa ayahku masih memikirkan kami."
Laki-laki itu tersenyum terpaksa.
"Karena itu..., aku ...tidak ingin ayah baru..."
"Fyuh."
Satu helaan napas membuat Risa terheran.
"Sungguh ironis sekali! Ayah macam apa itu, ya? Pengecut sekali..."
"Eh?" Risa memiringkan kepala terheran.
"Ayah yang membuat anaknya merasa hampa. Kau akan beruntung jika memiliki ayah yang lebih 'baik' dari ayahmu itu, lo."
"Maksudmu, kau ingin mengatakan dirimu lebih baik dari ayahku?"
"Tidak," Laki-laki itu berdiri. "Aku bukan seorang ayah yang 'baik'."
"Kau yakin?"
"Karena aku belum siap menjadi seorang 'ayah'."
Risa menunduk, kemudian memakan es krimnya lagi.
"Kau benar-benar pacar ibuku?"
"Kau tidak melihat wajahku?" Laki-laki itu menunjuk wajahnya tanpa dosa. "Wanita apapun pasti akan jatuh cinta padaku~"
"Mesum."
"Tidak percaya? Kurasa kau akan jatuh cinta padaku sebentar lagi," ucapnya tanpa dosa.
BUAK!
"Ittai, ittai- Oke, oke, aku bercanda kok," ujarnya sambil mengelus perutnya. "Jadi, kau tidak ingin ayah baru dan hanya memastikan hubunganku dan ibumu?"
"Uhm," angguknya cepat.
"Yahh, mau bagaimana lagi yaa...," Lelaki itu menggaruk tengkuk, tampak berpikir. "Pinjami aku ponselmu."
"...hah?"
"Kita tanya langsung pada ibumu~!"
"JANGAN BERCANDA!" teriaknya refleks. "Aku...Aku bisa kena penggal ibuku jika ketahuan bertemu dengan orang asing! Lagipula, aku tidak bisa ...membeli es krim untuknya..."
Laki-laki itu menghela napas panjang," Risa-chan..."
"Ya?"
"Apa aku tampak 'asing' bagimu?"
-PBWIHVC-
"Halo, Nagisa-chan~ Lama tak berjumpa, aku merindukan dadamu-"
"K-K-Karma?! T-Tapi, ini ponsel Risa, 'kan?!"
"Yup. Dengan sedikit pemaksaan, dia meminjamkanku ponselnya."
"Hahh... Apa yang kau rencanakan? Ini mendadak sekali..."
"Tidak ada apa-apa sih. Aku sudah pulang, jadi setidaknya aku ingin menjahili Risa dulu, khikhikhi."
"Dimana dia sekarang?"
"Di taman. Aku sedang berada di cafe tak jauh darinya."
"Seperti biasa, kau nakal ya."
"Kenapa dengan nada suaramu itu? Ayolah, aku ingin memberi anakku ujian. Itu saja kok~"
"Ya ampun... Jangan menyakitinya lho."
"Tidak akan~"
"Lagipula, sejak awal Risa tidak bersalah. Aku yang seharusnya kau salahkan."
"...hm?"
"Aku tidak melatihnya sejak kecil. Aku benar-benar tidak menyangka itu terjadi. Mungkin itu hanya sebuah kebetulan. Tetapi, Risa bukan anak yang nakal lagi! Dia anak yang baik kok."
"Anak baik macam apa yang mengatakan ingin membunuh ayahnya sendiri? Ahahaha."
"Dia mengatakan itu padamu?"
"Tapi aku belum mengatakan jati diriku."
"Mungkin itu karena kau meninggalkannya."
Karma terdiam.
"Karma-kun..."
-PBWIHVC-
"O-Okaa-san, apa benar dia itu pacarmu?! Bukan? Eh, dia menipuku! Sahabat sejak SMP? Dia seenaknya padaku! Hah? Tunggu, apa?!"
Lelaki bersurai merah itu tertawa jahat di belakangnya.
"Kenapa bisa, Kaa-san? Itu mendadak sekali! Tidak mungkin..."
"Okaa-san akan sering menelponmu. Hanya dua hari. Jaga dirimu baik-baik dengannya ya, Risa."
Tit. Tit...
Risa mendengus kesal ditambah sebal. Kemudian melirik lelaki itu dengan tajam, "Kau menipuku."
"Uhm? Itu cara yang sungguh 'wow' untuk mendekati anak dari Nagisa-chan!"
"Jangan bawa-bawa ayahku!"
"Aku tidak membawa ayahmu kok."
"Menyebalkan!"
"Terimakasih~"
"Hoiy!"
Puk.
Lelaki itu menepuk kepala gadis itu dan tersenyum. "Namaku Karma. Kau bisa memanggilku dengan sebutan 'Karma-kun' kok. Anggap saja biar akrab."
Risa sweatdrop, "Kun dengkulmu. Kau seumuran dengan ibuku! Seharusnya kau kupanggil dengan sebutan paman!"
"Biar akrab, biar akrab~"
"Ck, terserahlah..."
Karma tersenyum tipis, "Kalau begitu, mohon bantuannya, Risa-chan~ Cup."
Risa terbelalak kaget. Lelaki mesum di depannya ini...
Baru saja
Mencium
Pipinya.
"A-A-A-"
"Reaksi yang bagus! Lucu sekali, wajahmu memerah sekarang~"
Karma mendapat serangan sebuah sepatu, kemudian bermain kejar-kejaran singkat dengannya.
-TBC-
"Karma-kun..., pulanglah."
"Aku merindukanmu benar-benar ada di rumah."
"Aku ingin suasana keluarga yang seutuhnya di dalam rumah kita."
"Sudah cukup dengan hukumanmu meninggalkanku. Aku...benar-benar-"
"Istriku~ Kalau kurang belaian di ranjang bilang saja. Nanti kuberi fanservice lebih kok, ehehe. Mau berapa ronde malam ini? Aku bisa ungsikan anak kita kemana aja untuk memberi waktu untuk kita berdua di rumah~"
"...maaf, Anda bukan suami saya."
"Jahat!"
-TBC-
Halo gaes. Berapa lama kita tak jumpa? /njer
Aku mau curhat...
Pas lihat review yang banyak penasaran akan chapter selanjutnya, aku takut kalau chapter ini bakal mengecewakan. Apalagi lebih pendek, 'kan? Uhuhuh T^T
Balasan review :
Yamashita Takumi9 :
Apakah Karma membenci Risa? ...menurutmu?
Apakah Risa akan mengenali Karma? ...menurutmu?
Apakah Nagisa akan melihat Karma lagi? ...mereka kan diam-diam anuan /GA
Apakah Fanfic ini akan menjadi i***? ...i apaan? :v
Apa rahasia Karma menjadi awet muda? Selalu ke salon /dilempari Karma/
Terimakasih atas reviewnyaa~
Hani Ninomiya Arioka : Ditunggu saja ya. /njer Makasihh
Misacchin : Karena ... saya suka gantung baju /GA
Amaya Kuruta :
yang nelpon risa bukan karma ya? Itu calon papa baru (?)
- Yang nelpon memang Karma kok
Dan mas mas itu karma ya?
- ...maksudnya? /mz
Trus Karma x OC?
- Iya
karufem!nagi?
-Iya
Terimakasih atas reviewnyaa~ *kecupin* /lari/
Shinju Hatsune : Reaksinya ...
"Kamu bukan ayahku!"
"Kamu anakku!"
"TIDAKKK!"
Bercanda-
Tunggu ya. Aku juga bingung /lari/ Makasihhh
Gery O Donut : Setiap Anda review, aku pengen makan donut /lari/
Huououo, tunggu saja kelanjutan dari cerita saya /ga
Makasih selalu review fic saya- Ih sayang deh- /lari/
Jungie : Terimakasih atas reviewnyaa. Silakan berimajinasi sendiri dengan muka Karma, aku juga ngga kebayang *nangis dipojokan*
Yuki : Haeee. Sama-samaa. Gagal paham, ya? Maaf ya. Aku agak anu lihat review kamu. Jadinya agak takut kalau ada pembaca ngga ngerti hiks-
Kurasa semuanya terjawab disini ya. Kalau ngga ngerti juga ..., aku minta maaf. *nanges di pojokan*
Natsuma Yoru : UP and down- /ga
Perasaanku atau memang banyak yang review, ya? Astaga, aku terharu banget. Padahal ceritanya seperti ini hiks...
Karena bulan puasa, aku agak lambatkan updatenya ya. Nyari ide nih...
Salam,
IvyEvad9
