"Jadi, Karma-...kun...?"

"Iya, Risa-chan?"

"...ini bukan jalan ke rumahku."

"Memang bukan kok~"

Risa mendengus sebal. Kenapa ibunya bisa memiliki sahabat menyebalkan seperti Karma?

Apa karena ... sama-sama pembunuh?!

"Karma-kun... Kau ini ...mantan pembunuh?" bisik Risa pelan. Karma membalasnya dengan kekehan pelan.

"Risa-chan tau aja deh."

"...baiklah, lupakan soal itu." Risa mendengus pelan, "Kita akan kemana dan untuk dua hari ini aku akan tinggal dimana, hah?"

Karma tersenyum jahil melihat gadis tersebut.

"Selama dua hari, mulai dari hari ini hingga lusa, kau akan tinggal berdua bersamaku."

"Iya, aku sudah diberitahu Kaa-san, tapi..."

"Jangan khawatirkan tentang kebutuhanmu," ujarnya mengakhiri percakapan singkat di perjalanan ini.

Risa menghela napas. Sebuah keajaiban bahwa ibunya mengizinkan dirinya untuk pergi bersama orang lain. Biasanya sang ibu cukup protektif dengan masalah ini.

Apakah ibu sangat mempercayai Karma? 100 % ?

"Karma-...kun," panggilnya masih ragu. "Kita akan tinggal dimana?"

"Uhm, penginapan dong?"

"...kau tidak ada rumah?"

Karma terdiam sejenak, memasang ekspresi berpikir. "Rumahku itu rumahmu." Tidak mungkin dia bilang seperti itu.

"Rumahku lagi ada zona bahaya jika aku bawa anak kecil pulang."

"Aku bukan anak kecil! Bahaya maksudmu? Istrimu akan marah, maksudnya?"

"Istri? Uhmm... Semacam perempuan di rumahku bakal menyerangku ketika aku pulang. Mungkin seperti itu."

Sementara...

"Karma hidoi. Datang-datang ngga beri kabar. Yang langsung ditemui Risa, tapi aku belum ditemui setelah sekian lama! Jahat!"

"Semoga dia tidak marah karena belum ditemui setahun," gumam Karma sambil menganggukkan kepalanya sendiri.

"Setahun?"

"Hm. Setahun yang lalu kami diam-diam kabur dari rumah karena pengen main."

Risa sweatdrop. Niatnya ingin sedikit 'kepo' dengan siapa sebenarnya Karma ini, tetapi Karma terus-menerus menjawabnya dengan tidak serius. Risa memijit kepala dan akan tak heran jika jawaban yang diberikan Karma itu adalah dusta.

.

.

.

~PBWIHVC : Indahnya Memiliki Ayah~

Ansatsu Kyoushitsu

Rated : K atau T?
Ralat,
T atau...M?

Pair: Karma x OC, KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa

Genre : Romance, Family
Ralat,
Humor garing /plak

Disclaimer:

Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.

Warning:

Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Family, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC dan berbagai typo bertebaran~

Warning : Ya, memang Karma OOC disini(kayaknya) Karena itu, efek dari fic PBWIHVC yang original yang menceritakan bahwa Karma memang seorang mesum. /mb

BTW, sebelum membaca ini, alangkah baiknya singgah dulu ke fic saya yang berjudul 'Pervert, but Why Is He Very Cool~?' /dia promosi/

Summary :

Akabane Risa bertanya pada ibunya, "Bagaimana rasanya memiliki ayah, Bu? Aku sangat ingin bertemu dengan Ayah. Dia belum mati, 'kan?" Sang ibu tersenyum lembut padanya. "Ayahmu mencintaimu. Pasti. Suatu hari nanti ... dia akan pulang." Anak itu tersenyum miris. "Asal kau tahu, Bu. Aku membenci ayahku... Ingin tahu alasannya?"

Chapter 4

"Dan, selamat datang di penginapan ini. Ini penginapan milik pamanku. Ini kunci kamarmu. Jika ingin mencariku, cari saja kamar nomor 221. Bye, byee~"

Salah satu contoh pria yang tidak bertanggung jawab yah kayak gitu, batin Risa dalam hati.

Di tangannya sudah terpegang sebuah kunci dengan nomor 222. Bersebelahan dengan milik Karma, ya? Risa mengangguk mengerti.

Penginapan ini cukup luas. Risa tersenyum tipis membayangkan betapa bisanya dia bebas selama ibunya pergi. Apalagi, dia tengah di bawah perlindungan Karma. Mau berbuat apapun, Karma yang akan bertanggung jawab. Penginapan ini juga ada tempat permandian dan juga lapangan yang cukup luas. Dia bisa refreshing sejenak.

Di sudut hatinya, dia merasa bersyukur diajak kemari.

Pintu kamar terbuka dan Risa dikagetkan dengan pemandangan kamar yang terlalu luas untuk seorang diri. Sebuah kasur king size dan juga kamar mandi yang cukup luas.

"Enaknya...," gumamnya pelan. Menutup pintu hotel dan berjalan menuju kasur. Mengistirahatkan tubuh sejenak merasakan empuk dan lembutnya kasur di penginapan ini.

"Tidur di rumah dan tidur di hotel itu memang beda ya...," gumamnya.

Risa berguling-guling. Merasakan kenikmatan tempat tidurnya sejenak sebelum akhirnya akan menikmati mandi air panasnya yang bisa berlama-lama tanpa diomeli ibunya di bathtub yang cukup luas.

-PBWIHVC-

Tetapi, apalah daya seorang gadis sendirian di sebuah ruangan besar?

Ada televisi, ada wi-fi gratis, ada minuman dingin, ada cemilan. Ada pendingin ruangan, ada bathtub, ada kasur, ada bantal. Ini sebuah kamar idaman jika kau menambahkan perabotan yang kau sukai.

Masalahnya...,

Kebosanan? Kesepian?

Setiap malam dia selalu berbincang ria dengan sang ibu. Membahas masalah sekolahnya, perbincangan yang tengah hangat di masyarakat dan lain hal sebagainya. Bercanda tawa sekaligus belajar.

Ingin dia menelpon sang ibu, tetapi mengingat sang ibu sepertinya sibuk bekerja, dia urungkan niat itu.

Karma.

Bolehkah dia masuk...ke ruangan Karma? Atau bagaimana?

"..."

Dia berdiri dari tempat duduknya. Sebuah piyama berwarna putih membalut tubuhnya sedikit kebesaran dan dia melangkahkan kaki menuju telpon yang berada di atas nakas.

"Cara menelpon tamu di kamar lain. Tekan **** kemudian nomor kamar yang dituju."

Mengerti caranya, dia mulai menekan tombol.

Tangan kecilnya sedikit bergemetar dan dia tempelkan telpon itu ke daun telinganya. Menunggu sebuah jawaban.

Detak jantungnya berbunyi cepat. Tunggu, apa yang harus dia katakan pada Karma? Ah, apa ya...? 'Aku bosan'? Lalu, mau apa?

'Halo?'

Suara panggilan, Risa terlonjak karena itu, but wait...

.

.

.

.

Suara ...laki-laki lain?

'Halo?'

"A-Apa benar ini kamar 221?"

'Iya. Ada apa, ya?'

"I-I-Itu-" Risa salah tingkah. Sudah jelas suara formal nan sopan ini bukan Karma, sama sekali bukan Karma. Karma bukan orang dengan nada bicara ramah, justru menyebalkan.

'Maaf, ini dengan pegawai penginapannya atau-'

"Ini...kamar 222," potong Risa. Telinganya bisa menangkap kata 'Hah?' dari sana. Sialan, Karma mempermainkannya!

'Kamar 222 itu di sebelah, ya? Apa terganggu? Maaf, disini memang sedang berisik- Karma, hentikan itu! Argh- Sakit, njeng!'

Eh?

Tunggu.

Hah?

Risa tidak dapat mengucapkan kata-kata.

'Risa-chan, love you~~~'

'Karma, brengsek!'

'Apaan sih, Gakushuu? Hik-'

'Mabuk jangan di kamar orang! Pergi sana!'

'Risa-chan, ada perlu apa~?'

"Y...Yha-"

'Menyingkir dari sana, Karma!'

Tit. Tit. Tit.

Risa jatuh terduduk, rambut birunya dia acak frustasi. Sweatdrop.

Kenapa ibunya memiliki teman homo?! Maho?! Gay?! Sejenisnya?!

BRAK!

"Nagisa, aku membawa pulang suami..."

Kepala Risa berdenyut beberapa kali melihat pintu kamarnya sudah terbuka lebar dengan dua manusia yang tengah bertengkar. Yang satu tengah mabuk, yang satu tengah kewalahan. Risa memijit hidungnya pelan.

"Bau alkohol, Karma-kun."

Pria bersurai jeruk yang kewalahan mengangkat si surai merah itu terbelalak kaget melihat sesosok gadis di depannya.

"Nagisa..., kau mengecil?"

"Mengecil apanya?" Risa menjawab tidak terima dihina. "Nagisa itu nama ibuku!"

"Astaga," Pria itu sedikit terkejut, kemudian mengangguk, "Pantas saja. Kau lebih mirip ibumu dari pada ayahmu yang brengsek."

Risa memiringkan kepala, "Paman... mengenal ayahku?" Ah, tentu saja. Pria ini pasti temannya Karma dan juga ibunya. Tidak heran jika mereka saling mengenal.

"Tentu saja kenal. Kau tidak mengenal ayahmu?"

Risa menghela napas, "Ayahku ...pergi."

"Oke, oke, aku tahu itu. Ini ayah- Tidak puas kau menendangku dari tadi, Karma?!"

"Gaku-chan, jangan gitu dong-"

Tamparan sukses mendarat di pipi mulus orang yang bernama Karma disana.

"Tch, Gakushuu," Karma menatap tajam ke arah si pria bersurai jeruk. Semburat merah di pipi yang menandakan dia mabuk masih terlihat jelas, tetapi dia berusaha untuk bangkit.

"Apalagi, Kar-ma?"

Karma mendorong kuat bahu pria itu. Menyisakan sedikit jarak di antara kedua wajah.

'Sebut aku dengan nama Akabane atau menyebut anak itu adalah anakku. Pantatmu tidak selamat.'

"Baiklah, baiklah. Aku mengerti situasimu, Karma," jawab si Jeruk. "Tetapi, ancamanmu itu sama sekali tidak mengangguku. Kau lakukan itu, kulakukan juga itu pada istrimu."

"Berani menyentuh istriku, kuculik istrimu."

"Berani? Sepertinya sasaranku sudah ada di depan mataku," ucap si Pria Jeruk melirik Risa. Risa hanya memiringkan kepala heran.

"Coba saja kalau berani. Aku akan menghajarmu terlebih dahulu."

"Kemanakan Karma yang tadi mabuk tanpa tahu arah jalan pulang, hah?"

"Heh," Karma menyeringai. "Mana mungkin aku 'tidak sadar' jika menyangkut Nagisa-"

"Nah, kau masih mabuk. Itu Risa, bukan Nagisa, Karma-"

"Apapun yang penting mereka berdua sama pentingnya di kehidupanku."

Karma tertawa pelan.

Risa yang hanya menonton di dalam hanya mengeryit bingung.

Dia ...

...penting?

Pria Jeruk itu melirik satu-satunya perempuan di tengah percakapan mereka, "Penting bagaimananya? Jangan-jangan, kau 'masih suka' dengan Nagisa? Kau ingin menyebut itu di depan anaknya?" dusta si Jeruk. "Ayolah, Karma. Itu hanya masa lalu. Tolong lihat ke 'depan' dan urus 'masa depan'mu dengan penuh 'tanggung jawab'. Kau jauh lebih hebat dari 'dia' yang mampu bertahan."

Karma terkekeh pelan, "Aku mengerti maksudmu, Gakushuu. Aktingmu bagus. Dosa tanggung sendiri, ya. Terimakasih dan...," Karma menendang Gakushuu keluar. "Selamat tinggal~"

BLAM!

"Siapa dia, Karma-kun?" Risa menghampiri Karma. "Kalian saling kenal? Dia mengenal ibuku?"

Karma melirik raut wajah Risa. "Soal ibumu pasti kau langsung kepo," tawanya.

Karma meletakkan sebotol bir yang dari tadi ada pada genggamannya di atas meja. Duduk di sofa sambil mengambil botol air mineral dingin yang disediakan di nakas.

"Dia Asano Gakushuu. Baru pulang dari...mana tadi, ya? Pokoknya, dia ada urusan di Jepang jadi numpang menginap di penginapan ini. Mabuk-mabukan tadi hanya sekedar reuni saja."

"Hanya sekedar?" Risa mendengus beberapa kali menghirup alkohol. "Dia tidak mabuk. Kau yang paling berbau alkohol disini. Kau membuatku pusing."

"Urusan orang dewasa tidak perlu kau mengerti, Risa-chan," tawanya. "Kau seratus- ralat, seribu tahun lebih cepat."

"Aku tidak sekecil itu!"

"Dadamu saja kecil-"

.

.

.

"Karma-kun, tolong. Keluar. Sekarang. Juga. Keselamatan jiwa ragaku terancam kau berada disini."

"Aku bercanda, bercanda. Seriusan bercanda, turunkan itu teko. Turunkan."

Risa menghela napas. Teko air panas itu dia letakkan kembali di atas meja.

"Lalu, apa yang kau lakukan disini?"

Karma melirik Risa, 'Oh iya, aku bukan ayahnya sekarang' pikirnya sebentar.

"Istirahat...?"

"Kenapa kau tidak kembali ke kamarmu?!"

"Kamar 222 itu kamarnya Gakushuu, Risa-chan. Jika aku kembali ke sana yang ada kami bertengkar lagi."

Risa mengangguk pelan, "Jadi hubunganmu dengan Gakushuu itu tidak baik? Baiklah, aku mengerti."

Dia berjalan pelan menuju tempat tidur, duduk, kemudian bersiap untuk...

"...lalu, kau akan tidur dimana?!"

"Disini dong," ucapnya singkat. Risa terpancing, bantal guling itu sudah berada di udara.

"Aku hanya beristirahat sejenak, Risa-chan."

Risa menghela napas.

Dia tersenyum tipis secara tidak sengaja. Takdir atau nasib? Dia merasa 'sedikit' beruntung. Malam ini, dia ada teman mengobrol tanpa diminta.

"Jadi, kau butuh apa tadi? Kau menelpon, 'kan?"

Risa tersentak pelan, "Y-Yah, tadi aku hanya ingin bertanya saja."

"Bertanya tentang?"

"Tentang...," Risa berpikir sejenak. "...tentangmu? Kau meninggalkanku sendirian disini. Tidak adil. Pakaianku bahkan belum diambil atau apa. Masa aku harus memakai pakaian hotel?"

Karma terkekeh pelan dibuatnya, "Kau protes karena tidak diambilkan baju oleh Nagisa-chan? Hanya dua hari kok."

"Gimana dengan sekolahku?!"

"Cuci pakaianmu. Keringkan malam ini. Pagi nanti pakai. Sabtu libur. Jadilah gadis mandiri, Risa-chan."

Risa sweatdrop. Kenapa pula Karma menasihatinya?

"Seperti...ayahku saja," gumamnya pelan.

Karma tersenyum tipis. "Yah, mungkin aku bisa jadi ayah angkatmu selama dua hari. Hahaha," ujarnya. Berjalan linglung mendekati Risa.

"Jadi, kau bisa tahu indahnya memiliki seorang ayah," katanya sambil mengelus pelan kepala biru tersebut.

Risa terbelalak melihat sikap Karma. Antara ingin percaya atau tidak, Karma yang menyebalkan 'ternyata' memiliki sifat seorang ayah.

Dia tersenyum tipis.

"Perasaan seperti itu," bisiknya pelan, "percuma saja jika tidak bersama dengan ayah asliku."

Pendengaran Karma tidak setumpul itu.

"Kalau begitu, bukuku bagaimana? Besok masih hari Jumat, lho."

"Pakai saja itu dulu. Kalau bisa, bolos saja. Katakan ada acara keluarga."

Risa ternganga melihat Karma, "Seenak jidatmu saja. Memangnya kalau bolos kemana? Aku bisa mati bosan disini."

"Yah, jalan-jalan keliling kota. Namanya juga ada acara 'keluarga'."

"Hah? Kemana?"

Karma menyeringai, "Kencan~"

-TBC-

Omake :

Tok. Tok. Tok.

Pintu kayu itu diketuk pelan. Asano Gakushuu yang baru saja membuka koper menghela napas. Siapa? Roomboy?

Tok. Tok. Tok.

Dengan langkah kaki yang malas, dia membuka pintu.

"Ayo minum~"

Akabane Karma menyeringai sambil membawa beberapa botol minuman beralkohol. Asano menatapnya datar, lebih tepatnya sweatdrop.

"Akabane-kun," panggilnya pelan. "Aku berterimakasih padamu karena telah memberikan fasilitas menginap karena hotel sedang penuh, tetapi," dia menatap tajam si surai merah, "bukan berarti kau bisa seenak jidatnya menggunakan kamar ini dengan bebasnya."

"Hanya sebuah pertemuan setelah lama tidak bertemu," Karma masuk sambil melepaskan sepatu. "Dan jangan panggil aku dengan nama itu, tolong. Ada 'seseorang' yang tidak boleh tahu nama keluargaku."

"Hm? Siapa?"

"Ohok- Birnya enak!"

Asano memijit kepalanya melihat Karma yang sudah menikmati secangkir bir.

"Aka- Karma," Asano mengelus dada sendiri. "Itu cangkir kopi, jangan kau jadikan cangkir bir. Nanti aku minum kopi beralkohol?"

"Biar ada sensasinya sendiri," Karma menyeringai. "Aku tampak seperti minum kopi, tetapi isinya bir."

Asano memasukkan sebuah catatan penting ke dalam otaknya. Akabane Karma sudah gila.

"Ayo minum, Gakushuu. Mumpung kopinya masih hangat-"

"Itu bir, Karma." Asano duduk di atas tempat tidur, kembali mengecek koper. "Minum saja sendiri, aku sibuk."

"Gaku-chan hik-" Asano ingin muntah. "Pinjam ponselmu. Ada pulsa? Ngga, ya? Ih, kere-"

"Diam," Asano melempari sebuah ponsel. "Pakai sesukamu."

"Terimakasih~" Karma menekan tombol.

'Halo?'

"Hello, Baby. How are you today? Wanna make a baby again? Ohok-"

'...Gakushuu?'

"Yes, Baby. I'm your Gakushuu. You're beloved wife-"

'...wife? E-Excuse me?'

"Jangan seenaknya menelpon istri orang, Kamfret!"

"Huwaaa, Gaku-chan, pinjam ponselnyaaa~~"

"Sadarlah, Karma!" Asano berlari menuju sisi ranjang. "Minum satu botol sudah membuatmu mabuk?!"

"Aku sudah minum tiga botol~~"

"Jangan kejar aku!"

"Pinjam ponselnya, aku mau telpon my beloved muach Nagi-chan~~"

"Jangan telpon istriku!"

"Aku mau nelpon istriku!"

"Ponselmu kemana?!"

"Ketinggalan di hatiku— Oke, aku bercanda! Ketinggalan di mobilku saat mau ketemu Risa! Mobilnya kuparkirin! Seriusan!"

Perebutan singkat. Akhirnya Karma diizinkan kembali menggunakan ponsel.

'Halo?'

"Ini dari kepolisian Jepang. Maaf, Anda yang bernama Akabane Nagisa?"

'B-Benar. Ada apa, ya?'

"Begini, hik-" Karma mengutuk cegukannya. "Suami beserta anak Anda mengalami kecelakaan. Jadi-"

'A-Apa!? D-Dimana? Astaga, Karma, Risa! Saya akan segera kesana!'

"Jadi, saya meminta Anda untuk ke hotel anu tempat biasa suami Anda dan Anda melepas rindu. Dia dirawat disana."

'...'

"Halo, ini rumah sakit jiwa? Saya minta ambulans dan kejar pasien bernama Akabane Karma-"

"Gaku-chan, jangan merusuh kenapa?!"

'K-Karma-kun, p-padahal ...aku hampir mati jantungan mendengar kau kecelakaan hiks-'

'E-Eh? Nagisa...?" Karma terbelalak kaget mendengar isak tangis dari sang istri.

"Makanya, bercanda jangan kelewatan," nasihat Asano di belakang.

"T-Tapi kan-"

'Kamu...jahat, Karma-kun. Yang kamu lakukan ke aku itu jahat!'

"N-Nagisa?"

'Tidak ada jatah pegang-pegang selama sebulan. Rasain. Mampus ko sana.'

Tit. Tit. Tit.

"..."

"Rasain."

"Aku butuh bir lagi, Gaku-chan~~ Hiks~ Oh, bir, Cuma kau yang bisa kupegang-pegang nanti-"

"Halo, Nagisa? Suamimu selingkuh sama bir-"

-END-

Balasan review :

Misacchin : Karma kan emang hobinya gatelin orang(?) Terimakasih atas reviewnyaa :3

Gery O Donut : Asal kamu tahu, semenjak review yang kamu balaskan ke aku, aku masih ngidam donut sampai sekarang. Dan sampai sekarang masih tidak sempat keluar rumah ke toko donut(?)
Iya. Karma dari awalnya kan memang mesum. Yah, hanya sekedar humornya sih. xD
Iyaa, maaf membuat bingung :3
Hape Karma terlalu canggih mungkin /ga
Terimakasih reviewnya, sekali-kali kirim donut dong :3 /njer

Amaya Kuruta : Fic ini sih fokus ke cerita Ayah dan Anak ya, makanya kubuat Karma x OC daripada Karma x Fem!Nagisa. Terimakasih atas reviewnyaa :3

Shizu yummy : Selamat anda sudah ngakak /mb
Iya, alurnya agak cepat karena kupikir...mau cepat kutamatkan /mb
Makasih :3

Frwt : Hanya humor saja kok :3

hikari yukina on wattpad : Kalau bisa yaa. Puasa, ide agak mampet /mb

Shinju Hatsune : Makasih~

Yuki : Iyalah, Karma gitulho- /dihajar Makasih :*

Jungle : Karma kurang dibelai sama Nagisa makanya kayak begitu. :v Makasih reviewnya, aku sayang kamu /lha

Minna4869 : Terimakasih sudah menunggu. Ini pesanannya, Donut Cokelat dan- /mb

Kawaii Neko : Karena kalau mirip Nagisa terus, gen Karma kurang kuat(?) /mb
Selama ini, Karma itu...cari istri lain- /lari/

Banyak sekali yang review! Aku sangat terharu, seriusan :3

Maaf ya ada nyempil itu AsaKaru, biasalah namanya juga ngga ada ide.

Aku ...kurang bisa kasih sambutan sekarang.

Ingat ngga berita tentang si ...Asano? Dia ada kedatangan murid dari luar negeri itu ya? Yang cewek itu? Aku kurang info masalah itu-

Btw,

RIP Koro-sensei. 24/06/16

Selamat menikmati.

Salam,

IvyEvad9