~PBWIHVC : Indahnya Memiliki Ayah~

Ansatsu Kyoushitsu

Rated : K atau T?
Ralat,
T atau...M?

Pair: Karma x OC, KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa

Genre : Romance, Family
Ralat,
Humor garing /plak

Disclaimer:

Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.

Warning:

Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Family, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC dan berbagai typo bertebaran~

Warning : Ya, memang Karma OOC disini(kayaknya) Karena itu, efek dari fic PBWIHVC yang original yang menceritakan bahwa Karma memang seorang mesum. /mb

BTW, sebelum membaca ini, alangkah baiknya singgah dulu ke fic saya yang berjudul 'Pervert, but Why Is He Very Cool~?' /dia promosi/

Summary :

Akabane Risa bertanya pada ibunya, "Bagaimana rasanya memiliki ayah, Bu? Aku sangat ingin bertemu dengan Ayah. Dia belum mati, 'kan?" Sang ibu tersenyum lembut padanya. "Ayahmu mencintaimu. Pasti. Suatu hari nanti ... dia akan pulang." Anak itu tersenyum miris. "Asal kau tahu, Bu. Aku membenci ayahku... Ingin tahu alasannya?"

Chapter 5

Kencan...

Dengan pria yang berusia nyaris tiga puluh tahun...

Risa berpikiran macam-macam.

Karma sudah kelewatan. Kencan? Yang benar saja! Ingin sekali dia melaporkan ini kepada ibunya, tetapi dengan rasa takut menganggu kesibukan ibunya, dia urungkan itu.

Apa Karma hanya menggunakan istilah 'kencan' untuk mendiskripsikan jalan-jalan? Entahlah, dia sama sekali tidak bisa memikirkan cara berpikir Karma.

Baru pertama kali inilah dia bangun dengan kepala berdenyut. Bau alkohol masih menempel di kamarnya. Dia merutuk diri telah mengizinkan Karma masuk.

Bergegas menuju kamar mandi, berganti seragam yang sudah dijemur semalaman, memberikan parfum sebagai tambah wewangian agar tidak bau. Memakainya dan mengambil tas sekolah. Memakai sepatu lalu mengunci pintu kamar.

"Ah, maaf, jika membersihkan kamar ini," ucap gadis bersurai rambut biru langit kepada salah satu roomboy yang ada di sana, "tolong hilangkan bau alkoholnya ya. Karma-kun? Ah, kau mengenalnya? Dia mabuk semalam. Terimakasih."

"Baiklah," jawabnya sambil menunduk. Risa membalasnya dengan senyum kemudian berjalan menuju restoran penginapan.

Disanalah, Karma membaca koran ditemani cangkir kopi di sampingnya.

"Baru kali ini aku bisa melihatmu sebagai seorang bapak-bapak." Risa meletakkan tasnya di kursi depan Karma, "Masih mabuk?"

"Hm?" Karma menurunkan korannya dan tersenyum tipis melihat Risa, "Mantap."

"Mantap?"

Karma mengangguk, kemudian mengambil cangkir kopi.

But, wait-

"Itu...minuman apa, Karma-kun? Kopi apa yang putih begitu?!"

"Foto kopi," lawaknya garing.

"...alkohol, pasti alkohol, 'kan?"

"Risa, kamu tahu tidak?" Karma meletakkan korannya di atas meja, kemudian berdiri. Mengalihkan pembicaraan. Mengambil sebuah cangkir kopi dan menunjuk beberapa teko kopi dengan tulisan "Kopi Hitam" dan "Kopi Susu"

"Tahu apa?"

"Tahu bulat."

"..."

Karma tersenyum tipis."Kopi apa yang paling pahit?" tanyanya.

"Hah? Tentu saja kopi hitam."

"Salah," Karma tertawa. "Ko pilih dia daripada aku."

Risa tak mampu berkata-kata. Serius, orang ini...astaga. Risa sampai heran.

"Ah, Mbak, sarapan untuk satu orang kamar 222."

"Jangan mengabaikanku dong... Risa!"

Akabane Risa menghela napas, kemudian melirik Karma yang menuang sesendok gula di cangkir kopinya.

"Akan kuantar kau ke sekolah."

"Aku tidak mau diantar orang mabuk di pagi hari," tolaknya tegas, kemudian berpindah tempat untuk menikmati sarapan.

"Kau tidak lihat aku?" Karma menepuk diri. "Aku tidak mabuk."

"Bau alkohol."

"Aku mandi bebek tadi." Karma jujur. Entah maksudnya mandi dengan bebek atau bagaimana.

"Lalu, foto kopi yang kau bilang tadi?"

"Itu air mineral."

.

.

.

.

Kapan orang dewasa meminum air mineral dengan cangkir kopi? Kapan? Risa berteriak dalam hati.

-PBWIHVC-

Sudah berapa kali dia menghela napas?

Risa menenteng tas di bahunya, berjalan menuju penginapan setelah menghabiskan setengah hari di gedung bernama sekolah.

Hari ini bukan hari yang menguntungkan baginya. Berkali-kali dia memikirkan sikap yang baik ketika berjalan dengan seorang pria.

Istilah kencan tidak lepas dari kepalanya. Hati, pikiran, batin berpikiran lain dengan jalan-jalan ini. Berusaha mengartikan 'kencan' si Karma dengan artian jalan-jalan menghilangkan rasa bosannya.

Memikirkan sifat mesumnya saja sudah membuatnya gelisah.

"Hah," Risa menghela napas setelah sekian kalinya. "Daripada seperti ini, lebih baik aku di penginapan saja..."

"Risa-chan!"

Kan. Baru juga...

"Ya, Karma-kun?" Risa membalikkan badan dan merasa bangga ketika dugaannya benar.

"Bukannya sudah kukatakan padamu hari ini kita jalan-jalan?" Karma tertawa pelan. "Sekolahmu sudah selesai? Tidak ada kegiatan klub?"

"Uhm," Risa menggeleng. "Kegiatan klub diliburkan dua hari ini."

"Oh, Risa, kau ikut klub apa?"

"Basket putri."

"Olahraga, ya? Nostalgia. Tidak ada klub pembunuhan begitu?" Karma tertawa.

"Jangan samakan kehidupan bunuh-bunuhmu dengan kehidupan normalku." Risa berlalu, berjalan mendahului Karma.

Karma mengikuti dari belakang, "Memangnya kehidupanmu berjalan dengan normal?"

"Tentu saja."

"Membosankan," Karma mendengus. "Tidak ada preman yang bisa dihajar? Ah, kau mendapat pelatihan dari ibumu, 'kan?"

"Ya, begitulah," Risa mengangguk. "Okaa-san mengajariku banyak hal. Tapi, Karma-kun. Kemampuan lebihmu itu tidak harus digunakan untuk menghajar orang. Melindungi orang juga bisa, 'kan?"

"Wow, bijak." Karma bergumam takjub.

"Bukan urusanmu," Risa mendengus kesal. Dinasihati sikapnya malah begitu. Menyebalkan sekali.

Karma tertawa pelan, "Risa~ Aku tahu toko yang menjual berbagai macam susu."

Risa melirik Karma.

"Susu stroberinya paling enak, lho~!"

-PBWIHVC-

Toko imajinasi author dengan sebuah papan besar bergambarkan tiga sapi berwarna putih-hitam, putih-merahmuda, putih-hijau seperti iklan lolipop yang sering muncul jika acara kartun sedang beristirahat.

Itu dulu. Sekarang stasiun TV entah memiliki isi apa.

Risa menatap datar toko yang tampak kekanak-kanakan dari luar itu. Karma melangkahkan kaki masuk tanpa rasa malu, duduk kemudian berkata, "Pesan yang seperti biasa dua~ Ah, untuk bawa pulang enam ya, untuk tahan seminggu."

Pelayan toko yang menggunakan pakaian dengan motif sapi lucu di kancingnya menunduk, tersenyum ramah seperti sudah mengenal baik Karma.

"Akabane-"

"Ya?" Risa merespon. Karma terbelalak. Pelayan kebingungan.

"Maaf, tapi-"

"Ah!" Karma mengeluh pelan. Berdiri, kemudian menunjuk salah satu kursi sofa yang berada di dekatnya. "Kursi ini sepertinya rusak, ya?"

"Tch."

Pelayan itu teralihkan, mendekati sebuah sofa yang berlubang dengan kapas menggepul(?) keluar. Memasang raut wajah, 'sejak kapan' dan Karma hanya tersenyum menyembunyikan 'sesuatu'.

"Maaf, Nagisa-san-eh maaf sekali lagi, saya akan ambilkan tempat duduk." Pelayan itu membungkuk dua kali, terutama membungkuk ketika salah memanggil.

"Anda mengenal ibuku?"

"Tentu saja," pelayan itu tersenyum. "Ibumu dan ayahmu pelanggan tetap disini."

"Ayah...?" Risa merespon sedikit semangat. "Anda mengenal ayahku?"

Pelayan itu memasang raut kebingungan, "Bukannya-"

"Ah! Maaf, aku salah memasukkan gula ke susunya. Malah jadi garam ini~ Eh, ini garam atau ajin*m*to? AH! Ini menghancurkan harga diri seorang susu stroberi!"

"Sial."

Karma berteriak dari dapur. Lengkap dengan topi chef(?) yang sejak kapan dia pakai.

"Seenaknya seperti biasa," pelayan itu mendengus. "Ini bukan tokomu, Aka-"

"Ckckck, ingat pel dapurmu. Kau jatuh bagaimana sih? Dasar!"

"Melelahkan."

Karma OOC. Ditariknya pelayan tersebut masuk ke dapur, berdua, meninggalkan Risa yang tengah kebingungan melihat reaksi mereka yang cukup akrab dibandingkan penjual-pembeli biasa.

"Psst,psst,psst,psst."

Beberapa mantra diramalkan, kemudian Risa dihidangkan dengan minuman berwarna merah muda dengan es krim vanilla di atasnya, dengan beberapa buah strawberry yang tampak segar.

Risa berbinar.

Karma tersenyum puas.

Pelayan itu hanya menghela napas.

"Hah."

-PBWIHVC-

"Selanjutnya, kita akan kemana, Karma-kun?"

"Akan kutunjukkan berbagai tempat yang menjadi rekomendasi sesama pencinta susu."

Risa menghela napas, "Tidak ada yang kau sukai selain susu?"

"Ada kok."

Risa melirik Karma ragu, mengedipkan mata beberapa kali, melirik arah lain kemudian kembali melirik si surai merah.

"A-Apa yang kau sukai?"

"Kamu~"

Karma terbahak. Risa tertohok.

"Pft."

"Aku serius!" Risa memajukan bibir, kesal. "Makanan kesukaan atau apa begitu? Bukan manusia."

Karma mengangkat sebelah alis, kemudian menyeringai, "Oya, segitunya kau ingin mengetahui diriku?"

"H-Hah!" Risa berlagak. "Tidak, aku hanya bertanya. Berhenti menggombaliku, dasar om-om jones!"

Karma tidak pernah menyangka akan diejeki 'jones' oleh anak sendiri.

"Ck."

"Makanan buatanku sendiri dan makanan istriku." Karma memalingkan muka, kesal.

Risa terdiam.

Karma menunggu reaksi.

"Istri?"

BLAR!

Petir berbunyi tepat di telinga Karma.

"Karma-kun, sebenarnya kau ini-"

"Istriku di masa depan, tehe~"

Karma berpura-pura lagi.

"Sialan."

"Oh, begitu." Risa mengangguk, mulai terbiasa dengan sifat Karma.

Karma tersenyum.

"Risa-chan, boleh aku curhat?"

"Ahaha."

"Ya, ada apa?" tanya Risa. Walau dalam hati berpikir, 'kok curhat di perjalanan'

"Kau bilang begini. Ekhm, kau tetap mencintai ayahmu?"

"Eh?" Risa menatap Karma yang berjalan di sampingnya ragu. "Yah..., begitulah."

"Menerima ayahmu apa adanya?"

"Iya..."

"Walau ayahmu itu sebenarnya...cacat?"

Risa terbelalak kaget, langkah kakinya tiba-tiba terhenti.

"H-Hah? Kenapa tiba-tiba bilang ...cacat?" Risa menatap Karma penasaran. "Ka-Karma, kau sebenarnya tahu siapa ayahku, 'kan? Iya, 'kan?"

"Uhm...,"

"Ya ampun."

"..., yah begitulah."

"Se-Seperti apa ayahku? Atau...ng... Seperti apa wajahnya? Aku sama sekali tidak ingat wajahnya. Okaa-san juga tidak memberiku petunjuk sama sekali."

"...terus?"

"Setidaknya, aku ...penasaran. Aku...punya hak, 'kan?"

Karma tersenyum, "Risa, lihat mataku deh."

"Eh?" Risa memiringkan kepala dengan pembicaraan yang melenceng ini."Kenapa dengan matamu?"

Karma meraih bahu Risa, mendekatkan wajah, menatap matanya serius. Risa meneguk ludah gugup.

"Di mataku ada dirimu."

Karma terbahak. Risa mengerutkan dahi.

"Di matamu ada aku."

Risa terdiam, dia merasa familliar dengan percakapan ini-

Wait-

.

.

Ini bukannya iklan susu anak-anak? Ngga, 'kan?

"Wah, pintarnya anak mami-"

Karma tersenyum.

Lha.

"Seperti," Karma menggantung kalimatnya, memeluk Risa erat. "...di hatiku ada kamu, di hatimu ada aku."

"..."

"..."

"Mama,mama, om-om itu genit. Kasihan kakak itu."

"Sst, diam nak. Nikmati aja(?)"

"...GENIT!" Risa berteriak memberontak memukul-mukul om-om bej*t di depannya.

-PBWIHVC-

Rambut birunya terbang diterpa angin, bagaikan laut biru yang menenangkan di terik matahari.

Akabane Nagisa tengah tersenyum ketika itu. Menenteng sebuah kantong plastik dari sebuah supermarket dan berjalan pelan pulang ke rumah.

"Sedih juga ya. Semuanya meninggalkanku. Aku harus tidur sendirian," keluhnya di tengah perjalanan. "Apakah Risa baik-baik saja?"

Sebagai seorang ibu dan juga istri, dia paling mengetahui bahwa sifat mesum sang suami tidak bisa hilang begitu saja. Walau sifatnya sedikit demi sedikit bisa terkontrol ketika dia telah menjadi seorang ayah.

Nagisa masih ingat pada saat itu. Dimana suaminya khawatir dan cemas ditambah doki-doki suru atas kelahiran anak pertamanya. Mungkin dia terlalu berlebihan, tetapi dia memang kesakitan. Pertama kalinya, Karma seserius ditambah raut wajah khawatir.

"Tenang, Nagisa-chan. Aku bersamamu. Kutunggu diluar- Hah? Aku boleh masuk? Lebih baik jangan- Ah, Nagisa! Tidak sakit, aku yakin. Itu tidak bakalan sakit."

"Karma, kau itu tidak tahu betapa sakitnya ini!"

"N-Nagisa..."

"Ah, Karma-kun- Sakit!"

"N-Nagisa, tunggu dulu. Bo-Boleh aku ke toilet dulu?"

"Jangan minta izin dong! Keluar!"

"Kau menyuruhku keluar atau anak yang keluar?"

"Jangan nanya, ih!"

"Na-Nagisa, ada telpon dari ibu-"

"Abaikan saja dulu! Akhh!"

"N-Nagisa, sakit? Ma-Mau permen?"

"Permen dengkulmu! Keselek nanti!"

"N-Nagisa, tenang, ya. Sebentar lagi juga selesai."

"Bantuin redain sakit ini dong!"

"Maksudnya, sakitnya dipindahin? Perutnya kutekan biar cepat keluar, ya?"

"Kau mau kami mati?!"

Sebagai seorang suami, dia tidak boleh memperlihatkan sisi lemahnya di situasi genting. Dia memegang erat tangan istrinya. Gemetaran. Ingin menghibur sang istri yang kesakitan dan ketakutan dalam persalinan pertamanya.

Nagisa yakin Karma juga kebingungan. Ingin melihat anaknya atau menemaninya. Ingin tetap tenang atau bergumam panik. Tampak dari raut wajahnya. Tapi, helaan napas beberapa kali cukup membuat Nagisa yakin jika Karma berusaha menenangkan diri. (Walau dia tidak tahu percakapan tadi membuktikan Karma tidak bisa tenang.)

Demi anaknya, demi istrinya. Demi keluarganya.

Setia menemaninya sampai proses persalinan berakhir. Nagisa sempat terheran, yang mana sebenarnya yang melahirkan- Karma sampai berkeringat dingin di sampingnya.

"Karma, kau takut?"

"Bukan," ucapnya langsung. Suara tangisan terdengar setelah itu."Aku terlalu...senang, sialan."

Wajahnya sampai memerah melihat anak pertamanya. Tersenyum senang ketika sang dokter mengucapkan kata 'Selamat' dan 'Anak Anda sehat walafiat'(?), kemudian Karma mengucap, 'Alhamdullilah'(?)

Nagisa mengatur napas yang berantakan pun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya melihat sang suami yang begitu bahagianya. Tersenyum jahil dan tertawa pelan melihat tangisan anaknya. Ini bapak, anak nangis malah diketawai, kurang ajar, pikirnya.

Anak dengan wajah memerah, menangis keras tanda dia benar-benar hidup. Terlahir di dunia. Matanya yang masih tertutup dan suara bak malaikat terdengar. Lucu. Karma tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dia jauh lebih bahagia dibandingkan mendapat peringkat pertama di kelasnya.

"Namanya siapa, Pak?" tanya salah seorang suster sambil tersenyum. Karma tampak berpikir sejenak, kemudian membalasnya,

"Akabane Risa."

"Karma, kau memutuskan seenak jidat!"

"Huruf R berasal dari namaku. KaRma. Isa berasal dari Nagisa. Cocok, 'kan?"

"Yah, iya sih tapi..." Nagisa berpikir. "Namamu kan Karma(re : Karuma ) Seharusnya kan..."

"Rusa, gitu?"

"Ngga jadi, deh."

Nagisa terkekeh pelan. Kemudian menatap sang suami yang tengah gugup ketika disuruh menggendong bayinya.

"Hah? Tidak, tidak, biarkan saja dia dulu. Tunggu batinku siap saja," tolak Karma jujur. Jujur sekali.

"Mana mungkin dia akan menunggu lagi. Ayolah," si suster mendesak Karma.

Karma meneguk ludah, perlahan meraih bayi mungil yang masih kemerahan. Menggendongnya, kemudian menggoyangkannya pelan. Karma mengedipkan mata beberapa kali, gugup. Menunggu reaksi sang anak. Terganggu atau bagaimana.

Dia tersenyum dengan mata yang nyaris belum bisa terbuka. Gelak tawa terdengar walau hanya sesaat.

Karma mati kehabisan darah. Teriakan suster yang mencemaskan bayi itulah yang membuatnya bangkit.

"Pfft, lucu. Astaga, anak Papa pengen papa makan," gumam Karma beberapa kali sambil terkekeh. Mencium pelan pipi bayi yang masih kemerahan, kemudian perlahan mencium bibirnya sambil bergumam, "Yes, ciuman pertamamu kurebut."

Nagisa tidak tahu mau mengomeli apa. Speechless.

Bisa dibilang Karma dan Nagisa masih muda saat itu. Mereka cepetan kawin.

"Maklumlah, namanya juga mau bangun masa depan. Setidaknya pengen punya anak satu dulu. Kalau sudah kuat, baru buat lagi," ucapnya saat diwawancarai(?).

"Karma, kau bahkan tidak sebahagia ini saat menikah denganku," Nagisa cemburu.

"Hm? Karena aku tahu kau pasti akan tetap menikah denganku. Tapi, aku tetap bahagia," ucapnya jujur.

"Terimakasih, Nagisa." Kecupan manis di bibir yang ditonton dokter dan beberapa suster.

"K-Karma!"

"E-eh, maaf-"

Nagisa masih ingat ketika Karma meminta maaf setelah menjahilinya. Wajahnya sempat cemas, Nagisa tertawa dalam hati.

Benar-benar kehidupan yang indah.

Berharga sekali.

"Karma, tolong bantuin dulu dong!"

Nagisa mengeluh pelan ketika bayinya menangis keras di tengah malam.

"Karmaa!"

"...apaan sih?" Masih mengantuk, tidak sadar dengan apa yang terjadi. "Kasih susu juga beres, 'kan?"

"Dari tadi juga sudah dikasih, cup cup," Nagisa menggendong bayinya, menepuknya perlahan-pana. "Tapi dimuntahin. Tolong dong, Karmaaa."

"Ng? Besok aku ada kerjaan..."

"Sudah lima hari aku tidak tidur!" Nagisa protes. "Salahmu yang tidak ingin ada pengasuh! Orangtua juga semua di luar negeri lagi!"

Karma mengerutkan dahi, mulai lagi sifat ke-emak-emakan yang timbul dalam diri Nagisa semenjak anaknya merengek.

"Karma, aku ngantuk!"

"Oke,oke." Karma menyibak selimut, menghela napas kemudian mengusap rambut sendiri. Menguap pelan sebelum akhirnya penyerahan bayi.

Benar-benar, baru menyentuh kasur saja, Nagisa sudah terlelap dengan nyenyaknya.

"Pfft." Karma terkekeh pelan. "Sekarang masalahnya."

Bayi mungil itu masih saja merengek kencang. Telinga Karma berdengung karenanya.

"Ngga mau susu?"

Nangis.

"Mau makan?"

Tangisan terdengar lebih kencang.

"Digendong?"

Karma, kau ayah yang bodoh karena bertanya kepada seorang bayi padahal kau tengah menggendongnya.

"Dicium?"

Sama saja.

Karma menghela napas panjang. Menggendong anaknya keluar, menuju ke dapur.

"Sstt, jangan nangis lagi. Cup, cup. Risa, ayolah. Otou-san juga ngantuk, nih."

Tidak ada perubahan.

Karma kehabisan cara. Sulit menghadapi makhluk hidup yang belum bisa berbicara dengan baik. Risa berumur 21 bulan saat itu. Hanya bisa merangkak.

"Aduh," Karma mengeluh lagi. Menggoyangkan Risa di pundaknya terus menerus membuat pinggangnya sedikit pegal. Setengah jam, masih hanya sedikit perubahan pada tangisannya

"Risa? Otou-san boleh minum dulu? Haus nih,"

Tangisan masih terdengar kuat. Karma menghela napas. Haruskah dia begini sampai pagi?

Berjalan dengan hati-hati, kemudian masuk ke dapur, mengambil sekotak susu stroberi dalam kulkas dan menuangnya ke dalam gelas.

Tangisan Risa berhenti.

Karma selesai menuang susu.

"To, to."

To to?

Karma melirik Risa yang menusuk-nusuk pipinya, "To to? Ah, kau memanggil Tou-san?"

Risa menunjuk gelas berisi cairan berwarna merah muda itu, "Pink?"

"Pink?" Karma melirik susu stroberi. "Ini susu."

Mata Risa tiba-tiba melebar, tepatnya berbinar.

Karma menyeringai.

Paginya. Nagisa kehabisan suara menceramahi keluarganya.

"Karma, kau bodoh, hah?! Memberikan susu stroberi ke Risa malam-malam?! Kalau dia sakit perut bagaimana?! Dari kulkas pula! Ada yang kau panaskan?! Ngga kan? Nah! Sakit perut dia! Apaan sih kau itu! Ditinggalin bentar udah kayak begini! Ah, aku ngga tahan! Baru tidur beberapa jam sudah tergeletak di ruang tamu! Kalau masuk angin bagaimana?! Hari ini kau tidak boleh kerja! Beres-beresin rumah! Apa yang kau lakukan sampai pagi dengan Risa?! Bukannya ditidurin, malah diajak nonton! Kalau matanya rusak bagaimana?! Mau kau ganti?!"

"Ka ka, susu~"

"Nah, dia jadi mau susu stroberi!"

"...ya sayang, ampuni hamba-"

Asdfghjkl, dan lain sebagainya.

Sayangnya...,

Tidak semua kehidupan berumah tangga itu berjalan dengan lancar.

"Nagisa, aku memutuskan untuk pergi."

"Eh?" Nagisa terbelalak. "Kenapa?"

"Kkh," Karma memalingkan muka. "Aku..."

"Maafkan Risa, kumohon. Aku tahu kau sedih, tapi-"

"Apa?" Karma mendengus, "Kalian negatif thinking."

"Hah?"

"Aku menerima pekerjaan di luar negeri," Karma menunjukkan sebuah surat. "Bisa disebut juga pelatihan. Aku ingin fokus ke pekerjaanku dulu. Berlama-lama disini tidak bisa menghasilkan uang yang cukup. Kau tidak mungkin bekerja dengan Risa yang masih kecil, 'kan?" Karma mengecup pelan pucuk anak mereka yang tengah digendong Nagisa.

"Tapi..."

"Aku akan cepat menyelesaikan pekerjaanku. Aku janji," Karma mengangguk yakin. "Setelah pulang nanti, aku akan berikan banyak uang padamu. Terus, kita gunakan untuk beli rumah dan lain-lain. Untuk sementara, gunakan tabunganku dulu. Ini demi masa depan kita."

Nagisa mengangguk mengerti.

"...jaga...dirimu baik-baik, ya, Karma."

Karma tersenyum miris, "Seharusnya aku yang bilang itu padamu."

Kecupan manis terjadi sekilas antara bibir keduanya.

"Aku akan segera kembali."

Nagisa tersenyum sendiri mengenang kenangan tersebut. Dia memiliki suami yang bertanggung jawab, serius mencari nafkah untuk keluarganya. Setiap bulan dia memberikan penghasilannya untuk kebutuhannya dan juga Risa.

"Ini uang sekolah Risa."

"Ini uang makan sebulan."

"Ini uang jajan Risa."

"Ini uang untuk jaga-jaga."

"Ah, istriku juga harus belanja~ Ini uang untuk bersenang-senang~ Shopping sekali-kali. Suruh Risa memakai baju maid!"

Nagisa tidak tahu akan sanggup menjalani LDR. Apakah suaminya melirik wanita yang lebih cantik di luar negeri? Maklum, suaminya juga mesum. Ataukah dia memiliki simpanan diam-diam.

Kunci utama LDR adalah saling percaya.

Nagisa iseng. Dia pernah mengetik pesan untuknya melalui aplikasi garis.

"Aku percaya padamu, Karma."

Begitulah.

Dan dia mendapat balasan.

"Nagisa, kau tahu? Perempuan disini semuanya jelek!"

Dikirimnya sebuah emot kebingungan.

"Heran."

Dikirimnya emot sedih.

"Tidak ada yang bisa menandingi kecantikan istriku."

Dikirimnya emot love.

Wajah Nagisa memerah melihatnya.

"Nagisa-chan, aku melihat gaun yang bagus untukmu! Mau kubelikan? Kita foto-foto nanti pas pulang~ Ah, aku beli untuk Risa juga ya? Ukurannya berapa?"

Dikirimnya sebuah foto.

"...Karma, itu gaun pernikahan-"

Tanpa sadar, percakapan mereka telah sampai ratusan ribu.

Nagisa tersenyum tipis. Karma baru saja mengirimnya sebuah pesan.

"Kencan dengan anak sendiri. Dia sangat imut kalau makan stroberi!"

Dikirimnya foto Risa yang tengah mencoba buah berwarna merah tersebut. Wajahnya memerah, pasti buahnya manis. Atau asam?

Nagisa terkekeh pelan.

"Uhm. Bersenang-senang, ya~"

Send.

Just read.

"Hahh," Nagisa menghela napas. Dia tahu jika sebuah pertemuan menyenangkan, bahkan smartphone pun lupa mau ditulis apa.

Dia menatap langit biru. Cerah. Hari yang bagus untuk jalan-jalan. Karma memilih hari yang tepat untuk perlahan membongkar identitasnya.

"Na-gi-sa-chan~"

Apakah perasaan rindu yang menumpuk ini membuatnya berhalusinasi?

"Nagisa-chan~ Hup."

Sebuah pelukan hangat tiba-tiba datang dari belakang. Nagisa terbelalak kaget, tetapi panik tidak muncul di pikirannya.

Karena dia mengetahui kehangatan ini.

"Nagisa?"

"Hah," Nagisa menghela napas. "Karma, ya?"

"Benar," Telinga Nagisa mendengar kekehan pelan. "Uhm, harum."

"Ja-Jangan, Karma! Ini di jalanan!" Nagisa memberontak, kemudian membalikkan badan. Menemukan sang suami tengah tersenyum.

"Ma-Mana Risa?"

"Kebetulan aku melihatmu tadi," Karma tersenyum tipis, "jadi aku menyuruhnya untuk berbelanja sebentar di supermarket. Oh, kau berbelanja? Ahh, aku rindu masakanmu."

Nagisa tertawa pelan, "Padahal baru dipikirkan, sudah muncul. Suamiku panjang umur."

"Oh, kau memikirkanku?" Karma menunjuk diri sendiri. "Memikirkan bagian apanya?"

"...maksudmu?"

"Memikirkan bagian itu..., atau yang itu?"

"Apa maksud pembicaraanmu? Aku tidak mengerti."

"Istriku pura-pura polos." Karma merangkul pinggangnya dengan tangan kiri dan tangan kanan mengangkat dagu istrinya yang tergolong ekhmpendekekhm itu.

Nagisa sudah biasa akan tingkah laku suaminya, tetapi...

"INI JALANAN LHO!"

"Apa peduliku?"

"K-Karma! Hmmph-"

Bibir itu menempel. Sontak menjadi tontonan menarik di siang bolong oleh pejalan kaki. Wajah Nagisa memerah sempurna, tidak bisa menikmati ciuman ini dengan nikmat(?).

Karma tertawa dalam hati. Setidaknya, dia sudah lama tidak membuat pengalaman ekstrim bersama sang istri.

"Mama, mama, itu bukannya om genit yang peluk kakak tadi? Kok kakaknya jadi makin pendek? Ciuman pula."

"Sst, diamlah nak. Kalau yang ini tidak boleh kamu lihat."

-PBWIHVC-

"Karma sialan. Meninggalkanku dengan daftar belanjaan cakar ayam?!"

Risa mendengus sebal, sampai melihat sedikit keributan di luar.

Penasaran.

Tetapi, terkadang rasa penasaran bisa membunuhmu.

"O...kaa...san?"

-To Be Continue-

Hai. Rencananya kali ini mau buat lebih panjang, tapi malah ...jadi seperti ini /boboan/

Kayak sinetron kan? Bingung mau ngapain masa- /curhat/

Oh, iya, fic ini chapter depan tamat ya. Setelah Risa tahu siapa ayahnya, maka langsung tamat /JIAH

Lalu, besok saya harus mengikuti MOS SMA. Jadi ..., yah begitulah. Astaga, ternyata sudah SMA w

Balasan review :

Akashi Yukina : Ahaha, itu hanya sekedar hiburan~ XD

Shinju Hatsune : Arigatou reviewnya XD XD

otp ku tercintahh : Iya yaa, tapi aku tidak baca serius (?) XD XD Sama-sama, terimakasih reviewnya~

Hani Ninomiya Arioka : Namanya juga Karma /gagitu Makasih reviewnyaa~

Amaya Kuruta : Iya dong, XD XD

Misacchin : Kali ini ngga kok Karma tidak sengenes itu (?) Makasih reviewnya XD XD

shizu yummy : Aku tahu! Nagisa bener-bener ngga kuat. Aku baru baca beberapa hari yang lalu XD XD Makasih reviewnyaa~

Jungie : Genre yang diutamakan Family sih. Ntah nanti Risa jatuh cinta atau tidak /yha Makasih reviewnyaa XD XD

Sekian dulu dari sayaa~

Sampai jumpa chapter depan~

Ada saran?

Salam,
IvyEvad9