"Okaa...-san?"

Menyelip diantara kerumunan orang dengan tubuh kecilnya, yang didapatkannya adalah seorang pria bersurai merah dengan wanita bersurai biru langit yang tengah melakukan sesuatu yang tidak baik dilakukan di tempat umum. Apalagi jika hubungan kedua orang itu hanyalah sekadar teman biasa karena sang wanita memiliki suami dan anak.

Risa mengenal jelas siapa kedua orang itu.

~PBWIHVC : Indahnya Memiliki Ayah~

Ansatsu Kyoushitsu

Rated : K atau T?
Ralat,
T atau...M?

Pair: Karma x OC, KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa

Genre : Romance, Family
Ralat,
Humor garing /plak

Disclaimer:

Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.

Warning:

Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Family, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC dan berbagai typo bertebaran~

Warning : Ya, memang Karma OOC disini(kayaknya) Karena itu, efek dari fic PBWIHVC yang original yang menceritakan bahwa Karma memang seorang mesum. /mb

BTW, sebelum membaca ini, alangkah baiknya singgah dulu ke fic saya yang berjudul 'Pervert, but Why Is He Very Cool~?' /dia promosi/

Summary :

Akabane Risa bertanya pada ibunya, "Bagaimana rasanya memiliki ayah, Bu? Aku sangat ingin bertemu dengan Ayah. Dia belum mati, 'kan?" Sang ibu tersenyum lembut padanya. "Ayahmu mencintaimu. Pasti. Suatu hari nanti ... dia akan pulang." Anak itu tersenyum miris. "Asal kau tahu, Bu. Aku membenci ayahku... Ingin tahu alasannya?"

Maafkan keterlambatan saya. Saya minta maaf karena telah membuat pembaca PHP. Walau saya tidak yakin masih ada pembaca yang menunggu fanfic ini. Saya juga sempat kaget ketika melihat chapter terbaru dari fanfic ini ternyata rilis bulan Juli, sementara sekarang sudah bulan Oktober. Sekali lagi saya minta maaf. SMA tidak semudah yang saya kira dan saya hanya membuka e-mail untuk tugas (walau saya masih sering online facebook) Sekali lagi, maafkan saya.

Chapter 6

.

.

.

.

.

.

.

"K-Karma-kun, hentikan! Kita dilihat banyak orang!"

Nagisa menjauh. Membubarkan rombongan fans dadakannya dengan malu-malu. Para pria mendengus kecewa, berharap ada tontonan lebih lanjut.

"Kalau dilihat Risa, bagaimana?! Kok kau jadi bego sih?!"

Nagisa mengamuk. Mengeluarkan protes, omelan dan teman-temannya.

"Awas ya. Lihat saja nanti."

Nagisa mendengus sebal, berlari meninggalkan sang suami yang menahan tawa melihat wajah malunya. "Menyebalkan!, Jahat!" sudah berulang kali Nagisa menggerutu dalam hati.

Bu-Bukannya tidak ingin dicium, ta-tapi kalau dilihat Risa bagaimana?!

Karma menghela napas melihat istrinya meninggalkannya tanpa ucapan 'Hati-hati dijalan~' atau semacam 'Aku menunggu dirumah~' dan lain sebagainya. Mendapat ucapan 'Kok kau bego sih?!' menyakitkan. Apalagi di tempat umum.

Karma melirik tajam orang-orang yang masih setia berdiri di dekatnya, mantan penonton.

"Kenapa kalian? Mencari fanservice bukan disini."

"Terus, cari dimana?"

Karma melirik orang yang bertanya, mendekatinya perlahan kemudian memberikan secarik kertas.

"Ini linknya."

.

.

.

"Ohh! Aha aha! Aku tau artis ini! Mantap, mantap! Makasih, bro! Kau memang yang terbaik!"

Karma tersenyum 'manis'.

"Enak saja. Aku tahu link ini dikasih teman dan sama sekali tidak pernah membukanya, sungguh!"

Batin Karma beberapa kali.

"Untung Nagisa tidak ada." Lanjut batinnya berucap.

.

"Risa-chan, sudah selesai berbelanjanya...? Lho?"

Karma mengerutkan dahi. Melangkahkan kaki menuju ke dalam, mencari keliling sana-sini. Siapa tahu ternyata Risa menwariskan bakat dari pemain bayangan fandom sebelah yang suka menghilang-hilang.

"Mbak, lihat gadis berambut biru disekitar sini tadi?"

"Oh, dia? Kalau tidak salah, tadi dia keluar sambil marah-marah..."

Karma tersentak kaget. Pemikiran negatif refleks menyerang hatinya.

.

Risa tidak tahu lagi. Sebenarnya ingin tahu tapi ini terlalu mendadak. Hatinya tidak siap.

Memang benar, sejak Pria Jeruk itu datang bersama Karma, dia sudah menduga Pria Jeruk itu berhubungan dengan ayah dan ibunya. Seperti kata mencintai...

Dia berdelusi. Jika disambungkan baik-baik, masa lalu ketiga orang ini bisa seperti ini :

"Karma mencintai ibunya, tetapi ibunya telah mencintai ayahnya. Jadi ketika ayahnya pergi dan menghilang, ini kesempatan Karma mendekati ibunya."

Masuk akal juga, 'kan?

Risa menggelengkan kepala. Ibunya setia! Dia selalu menunggu ayah pulang, dia selalu mengirim pesan untuk ayahnya.

"Okaa-san chat sama siapa? Kenapa tertawa sampai seperti itu?"

"Pfft! Ahaha, ya ampun," Nagisa masih tertawa, nyaris mengeluarkan air mata, "dengan ayahmu. Astaga, dasar dia ini!"

Ibunya benar-benar mencintai ayahnya. Sangat mencintai ayahnya.

Ibunya tidak akan pindah hati. Walaupun Karma memanglah pria ganteng dan bisa dilihat dia juga memiliki banyak penghasilan .

Tapi kenapa...

Apa itu pemaksaan? Di depan umum berciuman! Ini sudah gila!

Risa mengatur napas. Keluarganya rumit, apa yang terjadi-

Dia ingin tahu...

Dia ingin menemui ayahnya...

Sangat ...ingin.

Dia butuh penjelasan...

"Melamun di tengah berlari tidak baik untuk kesehatan dan sekelilingmu."

Risa nyaris terpeleset, sepatunya nyaris melayang.

"Pria Jeruk..."

"Sejak kapan namaku menjadi jeruk, hah? Akabane mengajarimu?"

.

Risa ditraktir minuman kaleng. Curiga dengan keberadaan pria bersurai orange ini yang entah takdir atau kebetulan. Bisa saja dia menanyakan segalanya tentang keluarganya. Pria itu mengenal ibunya, ayahnya dan juga pastinya Karma-kun.

Setidaknya dia tahu.

"Ano-"

"Asano-san, panggil seperti itu saja."

"Uhm, Asano-san..."

Asano Gakushuu menghela napas. Melirik Risa dari sudut matanya.

"Katakan saja. Tapi, aku tidak bisa mengatakan jawaban yang akan membuatmu puas."

Risa terdiam.

"Akan kujawab seadanya. Aku juga tidak terlalu akrab dengan ibumu."

"Tapi, akrab dengan ayahku?"

"...yah, begitulah."

"Kalau dengan Karma-kun?"

"...uhm."

Batin Asano memekik(?). Dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman tetapi kenapa dia kepo saat melihat Risa lari-lari?!

"Ohh..." Risa membulatkan mulut.

"Uhm." Asano sok dingin. Setidaknya dengan kesan bahwa dia pendiam membuat Risa akan mengurungkan diri menanyakan yang aneh-aneh.

"Apa ...ibuku itu pernah berpacaran selain dengan ayahku?"

Asano melirik Risa, berpikir sebentar.

"Tidak."

"Benarkah?"

"Ya," Asano sedikit canggung. "Aku tidak terlalu tahu juga."

"Ayahku tidak pernah cerita?"

"Tidak mungkin 'kan kalau aku bercerita jika percakapanku dengan ayahmu itu selalu tentang 'yah'-nya istri masing-masing?"

"Entah."

Risa mengerutkan dahi.

"Sejak dia pergi, kami jarang berbicara."

Risa mengangguk paham, "Te-Tentu saja ya. Soalnya dia pergi..."

Asano terdiam.

"Percayalah dengan ayahmu." Asano ingin mengakhiri percakapan ini, mengambil ponsel dan mengetik. "Asal kau tahu saja,"

Risa menunggu kelanjutan nasihat dari pria ini.

"Yang terjadi tidak serumit yang kau pikirkan."

Risa menyipitkan mata.

"Jangan berpikiran hal yang aneh-aneh, mengerti?" Asano tetap fokus ke layar ponsel pintarnya. "Pikirkan masalah itu dengan tenang. Gunakan mulutmu untuk bertanya baik-baik pada keluarga. Kunci untuk itu adalah komunikasi...," Asano menghela napas, "dan sikap juga."

"Walau ini semua terjadi karena kejahilan anak itu-"

"Jangan lari."

Asano melanjut sambil menekan tombol 'send'.

"Jangan kaget."

Risa mulai heran dengan arah pembicaraan ini.

"Jangan sedih. Aku tahu kalau kau bukan anak yang mudah tumbang, karena kau anak dari mereka."

"Karma Bodoh, temui anakmu sebagai seorang ayah, bukan sebagai 'Karma-kun'."

.

Karma melangkahkan kaki lebih pelan setelah mendapat pesan dari mantan rivalnya.

Apakah Risa sudah tahu?

Apa Risa melihatnya?

Karma terkekeh. Padahal dia masih memiliki seribu satu cara untuk menjahili anaknya ini.

Ayah yang nakal.

Siapa yang kuat memiliki ayah sepertinya?

Ponsel Karma berdering kembali. Dengan lirikan malas, dia mengambil ponsel tersebut, menekan tombol hijau dan menempelkannya di telinga.

"Karma-kun."

"Ya, Risa-chan? Darimana kau mengetahui nomorku, hm? Kenapa kau tiba-tiba menghilang? Jangan bikin cemas orang yang lebih tua darimu."

"...dari Paman Asano."

Karma muntah dadakan.

"Namanya juga waktu berjalan begitu cepat. Mungkin Karma lupa pernah dipanggil dengan sebutan 'Ayah'"

"Kenapa kau tertawa, Karma?!"

"Kau sudah tua, Asano!"

Telinga Risa ngilu mendadak.

"Karma-kun, maaf aku ... tiba-tiba meninggalkan acara kencan kita."

Oke, dramatis bukan kalimatnya? Sekarang Asano yang muntah.

"Ah? Iya..., tidak apa-apa. Tapi, kau harus menjelaskan alasanmu kabur nanti di penginapan."

"Yah, begitulah... Itu- Karma-kun, aku boleh meminta izin?"

Karma mengerutkan dahi, berjalan di depan mesin penjual minuman dan berhenti sejenak. Ketika melihat stok susu stroberinya habis, hatinya merasakan firasat buruk.

"Izin apa?"

Jam berdentang enam kali, menandakan siang berganti malam. Pukul enam sore dan kedua orang yang bukan anak kecil ini duduk berhadapan dengan dua gelas kopi. Yang satu kopi susu, yang satu kopi hitam.

Asano Gakushuu dengan Akabane Karma.

Duduk berdua dengan hikmat, menikmati sebuah waktu istirahat dengan tenang.

Ralat.

Seorang Akabane Karma tidak pernah tenang menyangkut buah hatinya.

"Oi-"

"Aku disuruh bungkam olehnya."

"Pengecut. Kau takut melanggar perintah anak kecil."

"Ini demi kesenangan pribadiku, Karma." Asano menatap lurus Karma. "Melihatmu yang tengah dilanda masalah membuatku terhibur. Sudah kukatakan, jangan pernah membuat anak jika masih saja kekanak-kanakan dan tidak sanggup berkeluarga. Menikah boleh, tetapi dengan adanya anak membuat bebanmu lebih berat, 'kan?"

Karma dihadiahi ceramah singkat dari sang rival.

"Itu bukan urusanmu. Ini urusan keluargaku dan seharusnya kau tidak ikut campur."

Yang dihadapan Asano Gakushuu sekarang bukanlah seorang Akabane Karma yang mabuk alkohol.

"Sudah kukatakan? Ini demi kesenangan pribadi." Asano menyeringai. "Aku hanya menjalankan tugas."

"Kau dibayar berapa olehnya, huh?"

"Fotomu saat mabuk kemarin malam."

"Segitu maunya kau mendapatkan fotoku?"

"Setidaknya akan menjadi salah satu bukti untuk istrimu tentang kelakuanmu selama merantau."

"Hei, memangnya kau tahu apa yang kulakukan? Tidak tuh."

"Setidaknya, dengan latar belakang sebuah hotel dan pengakuan dari seorang gadis SMP, istrimu tahu jika kau memberitahukan tabiat burukmu karena mabuk-mabukkan di depan anak sendiri. Ah, Nagisa istri protektif, ya? Dia merawat anaknya sejak kecil 'sendirian' tanpa ada bantuan pembantu atau pengasuh manapun? Risa tumbuh dibawah bimbingan langsung ibunya. Apa reaksi seorang ibu jika mengetahui anaknya mendapat perlakuan buruk dari suami sendiri ya?"

Dalam. Dalam. Karma kena telak.

"Bukan urusanmu. Mana Risa, hah?"

"Sudah kubilang, dia minta izin menginap di tempat temannya."

"Seharusnya dia minta izin langsung di depanku."

"Oh, memangnya kau siapanya? Aku hanya memberikan bantuan mengantarkannya ke tempat temannya."

"Aku penanggung jawabnya!"

"Bukan ayahnya?"

"Ya, itu juga."

"Tapi, dia tidak tahu, 'kan?"

Karma berdecik.

"Bermain-main aja batasnya, Karma." Asano menghirup aroma kopi hitam yang mengepul keluar dari mulut cangkir. "Menyangkut perasaan anakmu. Ayah yang mengerikan."

"Aku memiliki alasan sendiri melakukannya, bodoh."

"Atas kesenangan? Heh," Asano mendengus. "Dewasalah sedikit."

"Siapa yang perlu bersikap dewasa? Jangan asal berbicara, kelelawar*"

(*kelelawar = kampret)

"Kau."

"Kau juga."

"Kau juga, sadar diri lah."

"Apaan? Kenapa kau jadinya menyalahkanku?"

"Kau 'kan yang salah!"

"Mana! Kau yang salah!"

"Kok aku pula?!"

(Note : Akabane Karma dan Asano Gakushuu rindu masa SMP.)

Karma menghela napas.

"Aku hanya ...ingin memberikannya pelajaran."

"Oh ya?"

"Jujur saja," Karma mendrama, "saat mengetahui ayah dan ibuku meninggal itu..., semuanya...ugh bagaimana menjelaskannya-" Karma menghela napas kembali, "...aku merasa aku belum bisa ...membahagiakan mereka. Yah, maksudku- aku baru menikah, yang bisa kuberikan hanyalah seorang cucu. Dan, aku anak mereka satu-satunya. Lelaki. Dan mereka meninggal sehari setelah melihat cucu mereka-"

"Lalu?"

"...aku ...ingin membalaskan dendam mereka."

Asano menaikkan salah satu alis, "Drama apa yang kau nonton? Utt*ran?"

Asano dihadiahi semburan kopi susu.

"Setidaknya, aku ingin membuktikan pada mereka bahwa satu-satunya yang dapat kubanggakan di depan mereka selain nilai-nilaiku adalah orang yang kuat menghadapi masalah. Uhm, ini tes untuk Risa. Tidak sulit bukan? Toh," Karma terkekeh, "dia anak kami."

Asano mengangguk.

"Baiklah."

.

.

.

.

.

"Sriuosly(?), tuh anak nonton drama dari mana- Indonesia? Perasaan gak separah itu. Kepalanya kejedot apaan sampe buat anaknya kek gitu ya gusti kurang kerjaan bener- astaga, aku ngakak tolong- tambah pula anaknya- ah sudahlah- Utt*r*n sudah tamat, coy! Nonton sinetron Korea kek."

"BAIKLAH NDASMU! ANAK GUE MANA PRET?"

"YAELAH GUE UDAH NGOMONG TADI!"

"HALAH SOK LU. URUS BINI KAU SENDIRI SANA!"

"KAU PUN GAK MAU URUS BINI DENGAN BAIK."

"KEPALAMU LAH. KAU GAK TAHU SEBERAPA CINTANYA GUE KE BINI GUE."

"LU SUKA MAH BADANNYA DOANG."

"SADAR DIRI YAK YANG TAKUT BUAT ANAK TUH KARENA TAKUT BERNAFSU SEKALI TEMBAK KELUAR TIGA."

"ANJ- ELU NGARANG CERITA DARI SINETRON MANA-"

""SINETRON DENGKUL. CERITA DEWASA MAH ADA FELEM SENDIRI."

"BAGI LINKNYA KEK-"

"BILANG LAH DARI TADI MONYONG."

"SADAR DIRI LU NYEDH."

"BIBIR GUE JAUH LEBIH SEKSI."

"SESEKSI BIBIR KAMBING! BERKACA COY."

"ELU SUKA BIBIR SEKSI KAMBING? Ah, yang pas dia makan rumput, ya? Kan mulutnya gini. Hunyam nyam gitu?"

"MONYONG LU KAMBING."

"APA LU BEBEK?"

"DURASI! BAGI LINKNYA OI!"

Kalian kira-kira mendapat sekilas percakapan jika dua remaja 'bersahabat' sejak lama yang telah memiliki istri masing-masing.

(Bini = Istri)

Intinya, Karma sama sekali tidak mendapat clue dari Asano mengenai keberadaan anaknya.

Sebagai seorang orangtua yang 'baik', Karma tentu saja khawatir. Ini bukan main-main. Ini perasaannya yang sesungguhnya. Dia cemas, khawatir, panik. Dia tidak siap di -smackdown oleh Nagisa jika istrinya mengetahui dia membiarkan anaknya menghilang.

Dia bersumpah akan mengutuk Asano beserta keturunan-keturunan lipannya. Bodoh amat. Karma mendapat banyak kenalan dukun di Indonesia.

Harus mencari kemana? Polisi? Tidak, tidak. Dia tidak ingin membuat drama di kantor polisi, merepotkan. Sialan. Dia harus kemana? Kenapa Risa pakai acara menghilang segala? Setidaknya masih ada di sekitar sana, tapi hasilnya nihil.

Jangan-jangan...

'HAH? KAU HILANGKAN KEMANA ANAK KITA?!"

Karma refleks menekan tombol merah. Telinganya sakit. Nagisa langsung negatif thinking. Bisa pecah kepalanya.

Ponselnya bergetar lagi. Panggilan masuk. Dari Nagisa.

"Aku butuh jawaban."

"Jawaban? Sudah kubilang, aku mencintaimu."

"Aku serius, Kar."

"Apa sih, Nag?"

"AKU SERIUS. ANAK KITA KEMANA?!"

"Masih di Bumi. Tenang saja."

"Kau berbohong."

"Hah?" Karma cengo.

"Tadi aku menerima telpon dari Rumah Sakit XXXX. Risa mengalami kecelakaan."

Karma tersentak kaget. "H-Hah?"

"Maaf. Aku bercanda."

JDUAK.

"Jadi?"

"Risa pulang ke rumah. Dia mau menumpang di rumah tetangga, tetapi melihatku di rumah. Bukannya kau lebih baik pulang ke rumah? Apa yang kau rencanakan lagi, Karma?"

Karma menutup ponsel sepihak. Dia terkekeh pelan. Padahal masih banyak hal yang ingin dilakukannya dengan Risa. Yah, apa boleh buat.

Dia tidak sabaran menjadi seorang ayah.

Gedung ini membuatnya nostalgia. Sudah berapa tahun dia benar-benar pulang? Hanya masalah pekerjaan. Menyebalkan. Kenapa dia harus mendapat pekerjaan sampai ke luar negeri? Beruntung, sih. Tapi tetap saja dia tidak mendapat asupan biologis.

Huh?

Kalian mengerti 'kan apa itu asupan biologis?

Ho ho, tak tahu, ya?

Setelah disurvei dengan beberapa perempuan yang ada di lingkungan sekitar, laki-laki yang tidak mendapat asupan biologis itu...

Sebentar, peneliti dihajar beberapa kali oleh Karma. Katanya, "Jangan sebar aib."

Intinya, Karma mendapat banyak siksaan jiwa dan batin ketika jauh dari sang istri dan anak. Walau mereka berbicara via suara, tetapi tetap saja hubungan sosial itu sangat penting. Terutama di keluarga. Karma tidak mau lagi. Karma ingin menghabiskan waktu dengan keluarganya sampai akhir hayat.

Karma sudah tua.

(Mohon maaf, siaran ditutup karena author beberapa kali dipukul oleh Karma.)

-To Be Continue-

Reviews :

Shizu yummy :

"Hai, Shizu~ Terimakasih atas reviewnya, maaf kali ini bersambung lagi karena tidak menemukan ending yang tepat TT Ya, semoga dapat suami kayak Karma ya~ Amin~"

Akashi Yukina :

"Eh, bingung ya? Oke, oke, makasih sarannya ya~ Kucinta padamu /mb
Makasih atas reviewnya~"

Amaya Kuruta :
"Pengennya endingnya begitu, tapi mau nunggu yang pas.
Terberkatilah anak itu.
Makasih atas reviewnya~"

Kiracchi :

"Makasih banyak 3"

Hani A.K :

"Lelaki beristri yang lagi bernapsu yah kayak gitu- /HUSH
Makasih reviewnya 3"

Raina Awasari :

"Nama anak yang menyebalkan itu Raina Awasari /HUSH

Ngga dong. Karma masih cinta mah Nagisa.

Mau dikasih bonus?

Setelah diwawancarai, Karma menjahili Risa karena teringat dengan Nagisa pada saat masih muda. Jadi ..., yah rindu sama istrinya. Jadi, Karma cinta juga sama Risa~ /yha"

MaRi mARi 99:

"Hai, Mari. Maaf, kupasti update kok. Tenang aja~"

Shinju Hatsune :

"T-Tidak, jangan ditungguin. A-Aku malu PHPin orang /HUSH"

Kawaii Neko :

"Iya, rencananya mau begitu. Makasih 3"

Fushigi Yamiharu Qiya :

"Aku terharu :"
Iya, panggil aja adek kok. Kusenang dapat Senpai baru /peluk/hush"

KaruNagi Shipper :

"No Incest :'v Risa itu suci, Karmanya penuh dosa.
Makasih reviewnya 3 "

Dinxchan :

"Maafkan aku 3"

Piibelserion:

"Makasih reviewnya 3 Maaf terlalu telat TT"

Ruru :
"Yosh, aku selalu semangat kok~ Makasih~"

Maafkan kerterlambatan saya dan PHP

Karena kupikir ini chapter terakhir, ternyata belum :'v

Oh, iya, ini belum disunting. Jadi maafkan kalau ada yang ceroboh atau typo TT