~PBWIHVC : Indahnya Memiliki Ayah~

Ansatsu Kyoushitsu

Rated : K atau T?
Ralat,
T atau...M?

Pair: Karma x OC, KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa

Genre : Romance, Family
Ralat,
Humor garing /plak

Disclaimer:

Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.

Warning:

Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Family, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC dan berbagai typo bertebaran~

Warning : Ya, memang Karma OOC disini(kayaknya) Karena itu, efek dari fic PBWIHVC yang original yang menceritakan bahwa Karma memang seorang mesum. /mb

BTW, sebelum membaca ini, alangkah baiknya singgah dulu ke fic saya yang berjudul 'Pervert, but Why Is He Very Cool~?' /dia promosi/

Summary :

Akabane Risa bertanya pada ibunya, "Bagaimana rasanya memiliki ayah, Bu? Aku sangat ingin bertemu dengan Ayah. Dia belum mati, 'kan?" Sang ibu tersenyum lembut padanya. "Ayahmu mencintaimu. Pasti. Suatu hari nanti ... dia akan pulang." Anak itu tersenyum miris. "Asal kau tahu, Bu. Aku membenci ayahku... Ingin tahu alasannya?"

Chapter 7

"...begitulah ceritanya."

Risa menghela napas lelah setelah menceritakan semuanya. Dia memijit hidungnya perlahan, kemudian membaringkan kepalanya di atas paha mulus sang ibu.

"Aku lelah, Okaa-san. Karma-kun itu menyebalkan. Dia mengerjaiku sepanjang waktu, masuk ke dalam kamar di hotelku dengan santainya mabuk-mabukkan. Dia bergumam tidak jelas sambil menyebut aku dengan namanya Okaa-san. Dia juga aneh. Minum air biasa dengan cangkir kopi. Minumnya juga ala bapak-bapak yang tengah menikmati kopi di pagi hari sambil membaca koran! Lalu, dia mengajakku berkencan. Apa-apaan, sih? Dia orang mana? Kenapa Okaa-san bisa mempunyai teman dekat seperti dia? Dia juga sering bertengkar dengan Paman Jeruk-Ah, maksudku Paman Asano. Mereka berdebat soal cinta. Kenapa dua laki-laki berdebat tentang cinta? Bukannya itu pembicaraan perempuan? Atau jangan-jangan Karma itu perempuan? Dia juga mesum, Okaa-san. Sungguh, aku benar-benar lelah."

Nagisa beberapa kali tertawa pelan mendengar penjelasan dari buah hatinya, "Dia menyenangkan, 'kan?"

"Tidak sama sekali! Dia menyebalkan, jahil, iblis. Iblis, ya, ya, dia itu iblis."

Tawa Nagisa pecah. Dia menutup mulutnya untuk menahan tawa agar imagenya tidak turun.

"Tapi, kau menceritakannya terus daritadi. Apa kau menyukainya?"

"A-Apa?!" Risa terkejut mendengar pertanyaan sang ibu. "Tidak! Aku tidak mau menyukai paman-paman mesum yang menyebalkan!"

Nagisa terkekeh, kemudian terdiam sebentar.

"...lalu, bagaimana kalau Karma itu menjadi ayahmu?"

Risa terdiam sejenak. Padahal dia sudah sengaja untuk menyembunyikan adegan berciuman di depan umum. Tapi, kenapa ibunya justru mengangkat pembicaraan itu?

"Maksud Okaa-san?"

"Y-Yah, Okaa-san hanya bertanya."

"Okaa-san tidak mencintai Otou-san lagi?"

"Siapa yang berkata seperti itu? Aku justru sangat mencintai ayahmu itu."

Risa tersenyum tipis. Dia percaya ibunya tidak pernah berbohong.

"Okaa-san mencintai Otou-san, 'kan?"

"Uhm."

"Lalu, Okaa-san mencintai Karma?"

"Tentu saja."

Risa otomatis terjatuh. Kaget, shock, serangan jantung.

"APA?!"

"E-Eh?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"M-Maksudku, aku mencintai Karma karena dia teman baikku."

"B-Benar, 'kan, Okaa-san? Bukan karena kau bermaksud untuk...menikahinya?"

"E-Eh?"

"Bagaimana caranya aku menikahinya kalau aku memang telah menikahinya?"

Risa memiringkan kepala melihat ibunya. Ibunya tampak gugup melihat anaknya yang seolah menagih jawaban, "Mana mungkin aku menikahi orang lain selain ayahmu."

Ya, setidaknya jawaban di atas tidak mengandung unsur kebohongan.

"Begitu, ya? Untunglah!" Risa tersenyum manis.

Kemudian, Nagisa berdoa dalam hati, "Karma, cepatlah kembali."

-PBWIHVC-

Karma menatap gedung dengan tatapan kosong.

Bagaimana asal mulanya dia mampu membeli gedung ini? Ya, berterimakasihlah pada uang jajan berlebihan yang diberikan orangtuanya dan tambahan gaji pekerjaan yang telah dia lakukan setahun di Jepang. Dia mampu membelikan istrinya sebuah rumah yang layak.

Semuanya berkat orangtuanya.

Tanpa orangtuanya, dia tidak akan masuk ke sekolah Kunugigaoka.

Tanpa orangtuanya, dia tidak akan mampu melanjutkan pendidikan.

Tanpa orangtuanya, dia tidak akan mendapat restu untuk menikahi seorang mantan pembunuh yang bernama Nagisa Shiota.

Tanpa orangtuanya, dia tidak akan mampu menginjakkan kaki di bumi ini.

Tapi, apa yang dapat diberikannya untuk orangtuanya?

Pekerjaan yang masih belum tetap? Pendapatan yang bahkan hanya cukup menghidupi kehidupan keluarganya sendiri? Kebahagiaan apa yang telah dia berikan?

Selama sekolah, dia selalu sendirian di rumah. Terkadang ditemani oleh beberapa temannya, seperti Asano Gakushuuu yang bersekolah di SMA yang sama dengannya atau juga Nagisa yang kadang berkunjung dengan status pacarnya.

Walau dia hanya mampu membanggakan nilainya yang selalu 100, walau dia hanya mampu membanggakan namanya mendapat peringkat pertama di sekolah ternama, walau dia hanya mampu membanggakan kemampuannya bela diri ataupun membanggakan otak jeniusnya.

Dia juga memberikan berbagai kerepotan.

Membolos, diskors, pemanggilan orangtua.

Tidak hanya sekali. Berkali-kali.

Nama Akabane telah tercoreng karena memiliki anak yang kurang ajar. Nama lengkapnya Akabane Karma.

Yah, orangtuanya juga jarang di Jepang.

Apakah orangtuanya sudah bangga karena dia memiliki istri yang cantik?

Apakah orangtuanya sudah bangga karena dia memiliki anak yang hiperaktif?

Bukannya hanya itu yang mampu diberikannya pada orangtuanya?

Apalagi yang telah diberikan?

Tidak sebanding dengan yang telah diberikan oleh orangtuanya, 'kan?

Karma melamun sejenak.

Seorang anak nakal pun juga sayang pada keluarganya.

Dia sayang Nagisa.

Dia sangat sayang pada Risa walau dia hanya memperhatikannya dari jauh.

Dia ingin merangkulnya, dia ingin menciumnya, dia ingin dipanggil dengan sebutan 'Ayah'.

Tapi...,

"Tadaima."

Karma bergumam pelan ketika selesai membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang dia simpan selama bertahun-tahun.

Nagisa dan Risa ada di dalam.

Keluarganya ada di dalam sana.

"Okaa-san, ada yang masuk ke rumah, lho!"

"Benarkah? Siapa?"

"Pintunya sudah kukunci! Jangan-jangan itu maling?!"

"Maling di siang bolong seperti ini?"

"Ayo kejar dia, Okaa-san!"

"Tunggu, Risa!"

Karma meletakkan sepatunya di rak sepatu. Berjalan santai seolah dia bukan maling, padahal salah satu penghuni rumah sudah menganggapnya maling.

Karma bisa mendengar suara langkah kaki. Dia merasa disambut.

Dinding ini, lantai ini, perabotan ini. Sudah lama Karma tidak melihatnya.

Benar-benar...

"Siapa itu, heh?! Astaga, Karma! Kenapa kau bisa masuk ke sini?!"

Karma tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi kaget dari Akabane Risa.

"Risa, siapa malingnya?" Nagisa menyusul dari belakang. "Oh, dia."

Karma tidak bisa menahan tawanya ketika melihat ekspresi datar dari Akabane Nagisa.

Akabane. Keluarganya.

"Kenapa kau bisa berada disini?!"

"Suka-sukaku dong~"

Karma menyeringat dengan ciri khasnya. Nagisa yang berada di belakang Risa terkekeh pelan.

Risa keheranan. Di depan menyeringai, di belakang tertawa.

"Apa? Apa yang terjadi? Kenapa kalian tertawa?"

"Pfft," Karma menutup mulut dengan pergelangan tangannya. "Haruskah aku memperkenalkan diri lagi, Honey?"

"Aku jijik dengan panggilanmu itu. Tapi, terserahmulah, My Darling."

Karma muncrat.

-PBWIHVC-

Tiga orang itu kini tengah duduk bagaikan ada rapat serius.

Nagisa yang berada di sofa tunggal, Karma dan Risa duduk saling berhadapan.

Nagisa tahu, ini urusan suaminya. Suaminya yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi, jadi dia berharap sang suami bisa menjelaskannya dengan 'lembut' agar Risa tidak shock atau kaget.

"Risa, sebenarnya aku ini ayahmu."

Nagisa menampar Karma seketika.

"ANAK ELU JANTUNGAN, DASAR KAMBING!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-PBWIHVC-

Untungnya, yang tadi hanya bayangan dalam benak Nagisa saja.

"Karma, jangan sampai kau membuat Risa sampai serangan jantung."

Karma menatap Nagisa polos sambil mengambil susu kotak stroberi yang ada di dalam kulkas, "Memangnya kenapa?"

Nagisa bersyukur dalam hati telah memberikan peringatan duluan.

"Tolong mengertilah perasaan anakmu, Karma."

Nagisa mengambil kue kering dari toples dan meletakkannya di atas piring.

"Jangan khawatir," Karma tertawa pelan. "Jika kau gelisah karena takut Risa akan sakit hati, kurasa dia akan senang memiliki ayah sepertiku."

Nagisa tersenyum tipis, Karma meminum susu. Risa tiba-tiba muncul sambil marah-marah.

"Kau meminum susuku, dasar Karma!"

"Susumu? Aku hanya tertarik dengan susu sapi dan susu Nagi-"

Nagisa memukul punggung Karma sekeras mungkin.

Risa mendengus kesal melihat keakraban Karma dengan ibunya, "Pokoknya tidak boleh! Ini susu yang kubeli sendiri! Karma pergi beli sendiri sana!"

"Aku tuan-tamu disini, Risa-chan."

"Tuan tamu? Hah! Kau itu tamu disini. Tahu diri sedikit. Nikmati saja apa yang disediakan tuan rumah!" Risa melangkahkan kaki mendekati sang ibu, mengambil gelas hendak membuat kopi.

"Risa, tidak boleh seperti itu dengan yang lebih tua," Nagisa terkekeh pelan.

"Biarin. Menyebalkan sekali," Risa mengerucutkan bibir. Nagisa membalasnya dengan tawaan pelan.

"Tidak sopan dengan yang lebih tua. Padahal aku yang membiayaimu kencan tadi, hmph."

"Memangnya laki-laki menagihnya kalau berkencan? Laki-laki macam apa itu?"

"Aku sama Nagisa kalau berkencan selalu bagi-bagi kok."

"Karma!"

"Apa, Nagisa?"

Giliran Nagisa mengerucutkan bibir. "Aku minta cerai," bisiknya.

"Nagisa..."

"CUKUP!"

Suara dentingan sendok dengan wastafel membuat sang merah-biru tersentak kaget. Gelas yang telah berisikan kopi hangat itu diletakkannya di dekat meja.

Karma terdiam. Nagisa gelisah.

"Risa, ada apa...?"

Pertanyaan basa-basi dilontarkan, Risa mengabaikannya dengan sengaja. Dia menghela napas kemudian berlalu begitu saja melewati kedua orang tua itu.

"Risa!"

Teriakan sang ibu pun terabaikan. Durhaka, memang. Tapi, dia butuh istirahat.

Pintu kamar dia banting perlahan, masuk ke kamar sederhana dengan susu kotak stroberi di tangan. Risa mengerucutkan bibir tanpa sadar karena kesal.

"Menyebalkan. Keluargaku menyebalkan!"

Risa berteriak di dalam hati sambil meminum susu dengan cepat. Mengambil ponsel pintarnya dan seperti biasa, melihat media sosial dan mengetik cepat :

"Ayahku menyebalkan! Kapan dia pulang? Istrimu nyaris direbut orang lain."

Post Status.

Risa membanting ponsel.

Risa bukannya anak kecil. Dia telah memasuki tahap remaja. Apa itu pubertas dan sebagainya baru dia ketahui tiga bulan yang lalu dan ibunya menceritakan semua yang perlu dia tahu saat mulai menginjak usia remaja.

"Di saat mulai remaja, yang paling menyenangkan itu adalah ketika jatuh cinta pada orang lain. Mungkin saat seumuranmu belum merasakan apa sebenarnya arti cinta, tetapi kau mulai tertarik pada lawan jenismu."

Remaja belum merasakan apa sebenarnya cinta.

Risa menganggap rasa ketertarikannya ke lawan jenis hanyalah sekadar rasa kagum dan suka, bukan cinta.

Karena itulah, ketika dia melihat Karma, dia merasa bahwa dia menyukai Karma. Dia mengagumi Karma.

...Ya, kalau bisa Karma menjadi ayahnya.

Jauh dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia merasa bahwa Karma mengisi kesepian dalam diri ibunya. Dibandingkan dengan berkomunikasi dengan ayah aslinya melalui chat dan telpon, tawa ibunya lebih...berwarna?

...Jadi Risa harus bagaimana?

Risa tidak mau keluarganya hancur. Tidak, tidak.

Mungkin dia terlalu memikirkan hal yang berat, mungkin dia harus menyerahkan masalah ini pada orangtuanya.

Tapi, apakah mereka akan memikirkan perasaannya?

Pasti iya!

"Aku minta cerai."

Risa ingin berkata kasar.

Bahkan dia belum menemui ayahnya. Jangan... Jangan pisahkan seorang anak dengan ayah.

Banyak yang mengatakan bahwa sosok ayah itu tidak peduli, tetapi nyatanya tidak.

Walau kasih ibu besar sebesar dunia dan seterang cahaya langit di surga serta kasihnya tidak dapat tertampung di lautan luas, kasih sayang ayah bukannya sempit seperti daratan negara-negara kecil.

Mayoritas ayah adalah tsundere.

Sudah menjadi kodrat seorang wanita yang akhirnya akan menjadi ibu rumah tangga, sudah menjadi kodrat seorang pria yang harus menafkahi keluarganya.

Anak cenderung akrab dengan sang ibu karena sang ibu memiliki banyak waktu di rumah, terutama ibu rumah tangga. Walaupun tidak semua wanita adalah ibu rumah tangga-karena ada juga wanita berkarir-, setidaknya wanita yang memiliki tanggungjawab untuk membesarkan dan mengajarkan anak.

Nagisa tahu hal itu. Dia tidak ingin mengecewakan keluarga Karma ataupun keluarganya sendiri. Dia harus mendidik anaknya sebaik mungkin untuk menebus dosanya di masa lalu. Bekerja, mengurus anak, mengurus rumah. Dia masih bersyukur memiliki suami yang masih berusaha keras bekerja sampai di luar negeri.

Kembali ke laptop.

Anak perempuan lebih dekat ke ayah, anak laki-laki lebih dekat ke ibu.

Siapa yang menciptakan kalimat seperti itu?

Itu tergantung keluarga masing-masing, 'kan?

Walau biasanya seperti itu, tetapi Risa tidak. Ayahnya menghilang, jadi dia harus ngapain?

Ketika seluruh teman mengungkapkan kehebatan sang ayah, Risa bisa apa?

Risa tahu di sudut hatinya dia merasa iri hati bagi anak yang memiliki ayah dekat di rumah. Risa yakin ayahnya mencintainya walau dia jauh dari Risa.

Jangan meremehkan kasih sayang ayah.

Jangan sekalipun meremehkannya.

"Risa melamunin apa sampai nangis begitu?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kar...ma?"

Risa tidak mampu kaget. Berkat satu kalimat itu, dia baru menyadari bahwa dia menangis dalam diam.

Sungguh, dia merindukan ayahnya.

Pertemukan dia dengan ayahnya.

Risa terisak sendiri, Karma menutup pintu kamar.

"Kenapa kau bisa masuk ke kamarku?"

"Ada kunci cadangan."

"Ibu tidak punya kunci cadangan."

"Karena aku pemilik rumah."

"Kau tidak mengunci pintu."

Risa mengangguk pelan, Karma menatapnya.

"Begitu."

Karma mendekati Risa, duduk di pinggir tempat tidur dan menghela napas.

"Kau menangis karena cemburu kedekatanku dengan ibumu?"

"Bukan!"

Karma terkekeh pelan, "Jadi?"

Risa melirik Karma tajam, kemudian melirik arah lain.

"Aku...mendengar Okaa-san berkata minta cerai dengan Otou-san."

"Itu hanya candaan, Risa~ Jangan dianggap serius begitu."

"Dia mengatakannya padamu seolah-olah kau ini calon ayahku yang baru!"

Karma tersentak pelan, kemudian tersenyum tipis.

"Risa, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."

Karma mencuri wilayah tempat tidur Risa, berbaring menghadap Risa yang duduk di atas tempat tidur.

"Kau tahu umurku berapa, 'kan? Aku seumuran dengan ibumu."

"Lalu?"

"Kau mau tahu bagaimana perasaanku melihat seorang pria yang tersenyum senang ketika memeluk anaknya?"

Risa terdiam. Wait, kenapa Karma yang curhat?

"Jones sekali kau."

Jleb.

"Aku pernah berpikir seperti ini, bagaimana rasanya akrab dengan seorang anak. Pasti menyenangkan."

Risa terdiam sejenak.

"Kau merasa seperti itu? Bukannya menyenangkan jika akrab dengan ayahmu? Kau pernah mendengar keluhan temanmu tentang ayahnya?"

Risa terdiam lagi. Ah, benar juga. Teman-temannya sering mengeluh karena ayahnya hanya berbicara sekadar untuk menceramahi mereka.

"Lalu, kau menggodaku seperti itu karena kau ingin menikahi Okaa-san, hah?"

"Risa, masalah yang sebenarnya tidak serumit yang kau pikirkan."

"Kau mengatakan hal yang sama dengan Paman Jeruk."

"Oh ya?" Karma terkekeh pelan.

Risa mendengus pelan, "Lagipula, Okaa-san memang tidak pernah mengizinkanku untuk berhubungan dengan ayahku, 'kan? Apa jangan-jangan Okaa-san berbohong kalau dia sering berkirim pesan dengannya?"

Karma terkekeh pelan, kemudian bangun. Mengambil tempat duduk di samping Risa.

"Boleh aku bermanja denganmu?"

"Hei!" Risa refleks berteriak. "Apa yang kau katakan, dasar mesum! Ibunya gak dapat, anaknya diincar."

Karma sweatdrop parah.

Dia mengambil ponsel pintar yang ada di sakunya dan memberikannya kepada Risa.

"Lihat aplikasi garisnya."

Risa mengerutkan dahi dan menghidupkan layar ponsel pintar.

"Berpassword-"

Deg.

Risa membulatkan mata melihat wallpaper ponsel Karma.

.

.

.

.

.

.

.

"BAYI DATANG DARIMANA INI?!"

Salah naskah.

Tapi serius Risa kaget. Karma sudah memiliki anak?

"Imut-"

Karma tertawa melihatnya.

"Benar, 'kan?"

"Kau sudah memiliki anak, Karma?"

"Ya, begitulah~"

"Pantas muka tua."

Karma tertohok.

"Ini ada passwordnya."

"Kau tulis nama ibumu dan itu akan terbuka."

Risa membulat kaget.

"Sudah makan?"

"Sudah. Aku capek sekali hari ini. Pekerjaanku melelahkan."

"Oh iya? Mau dipijet?"

"Pijet-pijet sini~"

"*pijetin*"

"*ciumin*"

"Genit!"

"Wkwkwk. Oh iya, tadi aku ketemu tas cantik. Kubeli dua untukmu dan Risa ya."

"Tas? Baru bulan kemarin beli tas, Karma. Jangan memboros!"

"Lagi promo, wkwkwk."

"Maunya kau beliin saja Risa mainan."

"Mainan? Uhm... Aku gak tahu toko mainan disini. Tapi kalau bisa kubelikan. Nagisa mau apa?"

"Apa saja deh."

"Nanti kubelikan alat ****"

"-_-"

"Btw, Risa bagaimana?"

"Biasa saja. Sehat kok."

"Bukannya kemarin kau bilang dia demam?"

"Iya, tapi sudah mulai menurun. Dia keras kepala, sama sepertimu."

"Oh ya? Setidaknya aku ini masih lembut dengan Risa~"

"Tapi kasar denganku."

"Iya dong, kau 'kan istriku."

"Perbedaan kasih macam apa ini?"

"Kau tidak mengerti maksudku?"

"Hmph."

"Nagisaa."

"..."

"Nagisa, jangan ngambek..."

"Hmph."

"Maksudnya itu lembut dengan Risa karena dia masih anak-anak~ Kalau sama Nagisa lain lagi~"

"Jadi kau ingin memberikanku kasih sayang seperti apa?"

"Ada deh."

"Jahat."

"Ya gitu."

"Capek, ya?"

"Iya, kerjaan masih banyak."

"Kapan pulang?"

"Belum tahu... Mau pulang."

"Sabar."

"Nagisa gitu doang."

"Ada apa lagi sih?"

"Rindu..."

"Kau bisa rindu juga?"

"Aku itu manusia, lho."

"Bukannya bebek?"

"Kok ke bebek?"

"Karena kamu bebeb aku~"

"OwO)/!"

"Kenapa emotnya begitu?"

"Istriku...pandai menggombal- Tidak."

"Tidak bagus ya gombalannya?"

"I LOVE U, BEB~ *love*"

"*off*"

"Ihh temanin dong malam ini!"

"Nagisaa!"

"Onlah!"

-KarmaAN menelpon AkabaneNagisa-

-Telpon berakhir-

"Yah, itu hanya satu diantara duapuluh ribu juta chat yang kami jalani selama tujuh tahun."

Karma mengambil ponselnya.

"Aku bangga pada diriku sendiri karena bisa LDR dengan istri tanpa adanya pertentangan di keluarga kami."

Karma tersenyum tipis.

"Yang menjadi masalah sekarang adalah dirimu, Risa."

Karma melirik Risa.

"Kau menerimaku sebagai ayahmu, 'kan?"

Risa membeku.

"Aku ini ayahmu."

Hening menyapa mereka selama semenit.

Hati Karma membeku. Kalau mau jujur, dia takut menyakiti perasaan anaknya sendiri.

Tapi, dia tidak tahan lagi.

Dia rindu. Dia iri dengan ayah orang yang bisa memeluk anaknya sendiri.

Dia tidak mau menjadi seorang ayah yang sama dengan ayahnya dulu yang tak pernah memeluknya.

Dia tidak mau.

Karma menguatkan hati. Entah apapun yang akan dikatakan anaknya, itu resikonya karena telah meninggalkannya dan mengerjainya.

"Aku kekanak-kanakan, ya?"

Karma menjatuhkan diri di atas tempat tidur.

"Aku memutuskan untuk bekerja di luar negeri meninggalkan keluargaku, padahal aku tahu bahwa aku sama sekali tidak bisa menahan perasaan ini."

Karma melanjutkan curahan hatinya, Risa masih belum bersuara.

"Walau aku membawa pulang materi yang banyak, aku merasa aku sangat miskin. Aku sangat miskin akan kasih sayang dari keluargaku. Aku khawatir dan cemas jika Nagisa akan berselingkuh. Aku tahu Nagisa juga takut, aku sering menjahilinya dengan mengirimi foto wanita yang menjadi rekan kerjaku. Tapi dia sangat bersabar saat aku pulang hanya sekali-kali. Aku tahu dia tidak pernah berbohong."

Karma melirik Risa. Risa masih diam.

"Lalu aku bersyukur memiliki istri sepertinya. Dia selalu jujur padaku, dia benar-benar bertobat."

Karma terkekeh.

"Lalu, bagaimana...denganmu, Risa?"

Karma ...bingung.

"Kau juga miskin, 'kan~?"

Risa terdiam.

Karma terdiam.

Hening menyapa mereka lagi.

"...aku ingin berkata kasar."

Satu kalimat dari Risa membuat Karma terkejut.

Risa merangkak mendekati Karma, menerjangnya.

PLAK.

Kemudian menamparnya dengan keras.

"Akh." Karma meringis kaget. "Hei! Apa yang kau lakukan?!"

...kemudian memeluknya sangat erat.

Memeluk dari hati yang didasarkan oleh rasa rindu, rasa bahagia.

Karma sendiri terkejut. Masih tidak percaya jika reaksi Risa akan seperti ini.

"Otou-san jahat!"

Karma tersentak kaget.

"Otou-san jelek! Otou-san sama sekali tidak ganteng! Dasar mesum!"

Karma baru sadar jika bagian dadanya terasa basah, anaknya menangis. Menangis bahagia.

"...sialan," kata si iblis dalam hati.

Karma mengangkat tangannya, hendak memeluk sang anak, tapi...

"Otou-san kejam..."

...

"Maafkan...Otou-san," Karma mengucapkan satu kata sembari memeluk erat anaknya.

"Otou-san tidak akan pernah kumaafkan."

"Benarkah?" Karma tertawa hambar. "Suatu hari nanti aku akan menebus dosaku..."

Karma ingin menangis.

"...karena itu, hilangkan perasaan rindu ini dulu."

-PBWIHVC-

"Jadi, sudah acara reuniannya, Sayang-sayang?"

Nagisa menghela napas lega melihat suami dan anaknya kini duduk berhadapan di sofa.

"Risa, maafkan ibumu, ya."

"Tidak apa, Okaa-san. Okaa-san kumaafkan kok~ Otou-sannya tidak."

"Hei," Karma memajukan bibir kesal.

"Rasain."

"Tidak boleh durhaka pada orangtua, Risa-chan~"

"Biarin."

"Kamu tidak bisa masuk ke surga, lho~"

"Surga berada dibawah telapak kaki ibu," Risa mendekati ibunya dan bermanja-manja. "Mana ada surga di telapak kaki ayah."

"Hei, itu bagianku." Karma mengambek melihat Risa memeluk Nagisa.

"Bagian apa? Okaa-san milikku."

"Ibumu itu milik suaminya, yaitu aku."

"Oh ya? Suami macam apa yang meninggalkan istrinya sendiri? Oh! Dia memberikan istrinya kepada sang anak dengan cuma-cuma~"

"Kau saja yang seenaknya menyimpulkan seperti itu,"

Nagisa meringis, kepalanya sakit mendengar suami-anaknya itu, "Ayolah, jangan bertengkar..."

"Aku sudah beberapa hari tidak menemui Okaa-san. Dia bagianku!"

"Aku sudah tujuh tahun lebih tidak menemuinya, oi."

"KALIAN PIKIR AKU INI APAAN?!"

"Orang yang kami cintai,"

Jawaban serempak itu membuat Nagisa memerah tiba-tiba.

"Love u, Mom~"

"Nagisa, anakmu mencuri kata-kataku! Lop u~"

Nagisa dihadiahi dua pelukan hangat oleh keluarganya sendiri.

Keluarga utuhnya.

Dia merasa bahwa disekitarnya ada background berkilauan. Rumah ini terasa lebih berwarna, Nagisa terkekeh pelan.

"Ya ampun,"

Tidak bisa Nagisa bayangkan perasaannya ini. Dia sangat bahagia.

Dia tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

"...Nagisa, kenapa kau menangis?"

"Okaa-san!"

-TBC ...or END?-

Salahkan seseorang yang bernama Meriana.

Aku tidak jadi menamatkan ini. /gagitu

Ya, benar. Aku ...bingung mau menamatkannya bagaimana.

Ditunggu sajalah :"

Review :

Shinju Hatsune : Makasih~ Aku pengen nambahkan banyak tentang AsaKaru juga sih, tapi ga ada feel... :"

Wako P : Ehh, ngga maoooo w Makasih reviewnya

Akashi Yukina :

"Tidak. Aku ingin anak asli dari darahku." /azek

Dinxchan :

Kukhawatir itu paling garing masa :" Makasih banget

Akashi airin : Sabar ya beb /hush Makasihhh

NinNeko-chan : Sip! Request diterima, ditunggu chapter selanjutnya ya~

Guest : ...oh ya?

...

...

...

...

...

Wait,

Permirsa, jika saya tidak salah orang dan jika feeling saya benar, salahkan orang 'Guest' ini karena ceritanya tidak tamat.

Dan Guest, jika saya salah, maafkan saya. Jika saya benar, kamu harus guling-guling di lantai kantin nanti.

MaRi mARi 99 :

Hai Mar~

-ANU-

1. Salah satu percakapan Karma dan Nagisa di LINO(?) setelah diremake dengan bahasa yang lebih sopan dan santun.

"Nagisa."

"Apa lagi?"

"...aku mau curhat."

"Kenapa tidak ditelpon?"

"Aku malu."

"Aku baru tahu kau bisa malu."

"Kau pernah lihat kemaluanku, 'kan?"

"Stop. Ada apa?"

"Masalah pekerjaan."

"Ada apa? Capek?"

"Pasti."

"Jadi?"

"Sulit rasanya."

"Ya, pastilah. Namanya juga kerja."

"Rindu sama Risa..."

"Nagisa tidak?"

"Iya juga."

"Ketiknya kayak ga niat."

"Ya sudah telpon."

"Tadi bilang malu."

"...iya juga sih,"

"Kenapa malu? Lagi nangis?"

"Bukan."

"Jadi?"

"Lagi di kamar mandi."

"..."

"Lagi berendam~"

"Go die you, bitch."

"Nagisa."

"Nagisaa."

"Hei."

"Jawab dong."

"Nagisa..."

"Nagisa, aku benaran di kamar mandi lho."

"KarmaAN sent a picture."

"Nagisa."

"ANJENG!"

"JIJIK KAR, PERGI LO!"

"ASTAGA SALKIR!"

"ISH!"

"Halah, bilang saja mau."

"ANJER."

2. Salah satu percakapan antara Karma dengan Gakushuu di LINO(?) setelah diproses menggunakan bahasa cantik.

"Elo tau gak perasaan gue tadi?"

"Gimana? Udah ngomong mah anak lo?"

"Udah."

"Terus? Reaksinya gimana?"

"Ditampar."

"AHA BAGUS."

"Anjeng lho, gue serius ini."

"Oh, oke."

"Sumpah, kaget juga sih ya we. Habis nampar di peluk gitu. Romantis. Ahh, pokoknya gue gak bisa buatnya jadi kata-kata. Pokoknya mantap banget. Aaa."

"...anjeng, elo cabe."

"...babon, elo juga cabe."

(Babon = Monyet)

"Mendesah gitu kerjaan siapa?"

"Cabe."

"Elu kan cabe."

"Sadar diri, njeng. Elo juga cabe."

"Oh iya ya."

"..."

"...hah?"

"ANJER, ELO NGAKU CABE? FK."

"BGSD, NGGA!"

"SiKutuMerah sent a picture."

"ANJER."

"LipanAnus sent a picture."

"Balas dendam lu jing?"

"Apaan sih pret?"

"Punya gue lebih mantap lagi."

"Gue tau artis ***** disana tuh bejibun, jangan lupain istri lo di rumah."

"Gini gini istri gue tetap da best, njeng."

"Ukuran B best? Selera lo rendah, nyedh."

"Gue cinta mah dia, njeng. Ngga kek lo, dasar pantat kuda."

"Elo kemarin manggil gue lipan anus, sekarang pantat kuda. Ejekan lu rendahan, njeng."

"Njeng itu elo. Nyedh itu gue."

"Oh iya ya. Wait-

ELO NGAKU ELO MONYET? HAH!"

"PantatKuda sent a stiker."

"Bazeng elu."

"Makanya ngechat jangan kek gini, nyedh."

"Jadi gimana, njeng?"

"Memakai bahasa sopan dan santun itu baik, Akabane-san."

"Elo pikir elu atasan gue? Mmpus lo aja sana kalau elo jadi bos gue, udah gue lumerin kue ultah lu pke wasabi."

"Anjeng, elu masih ngidam wasabi?"

"Ngidem darimana, nyedh?!"

"Panggilan kita kebalik."

"Oh iya, njeng."

"Brb."

"Ngapain?"

"****"

"Bernafsu amat lu njeng."

"Urus aja kerjaan lo nyedh."

"Btw, elo dimana sekarang?"

"Jerman, elo?"

"Korea."

"Hah? Korea? Sejak kapan?"

"Gue mau ketemu bias gue."

"ANJER."

"Yah ngga lah nyedh! Kapan" kesini, gue mau ngehemat uang jajan gue(?)."

"Halah, gak modal."

"Mendingan gue berusaha keras daripada elo pake uang ortu. Iuh."

"Orangtua harus dimanfaatkan."

"Sesat lu pret. Gue ss kasih si Gakuhou baru tau."

"SSlah, bodoh amat mah gue. Udah tua bangka gitu. Lagipula, aku tau klo hape lo itu tombolnya rusak jadi gak bisa ss! Bwek!"

.

.

"Oi, nyedh."

"Oi."

"Elu gak kirim beneran 'kan?"

3. Satu kalimat dari Gakuhou menuju LINO(?) Gakushuu.

"Anjeng lu, Nak."

4. Satu kalimat setelah Gakushuu menerima LINO(?) dari Gakuhou.

"Anjeng lu, Kar."

"Gue monyet, anjeng."

5. Salah satu percakapan Risa dengan Seseorang Misterius di LINO(?)

"Hai, Sayang."

"Maaf, ini siapa, ya?"

"Kamu lupa *emot nangis*?"

"Er... Maaf? Dapat ID LINO saya darimana?"

"Tunggu, ini ceritanya benaran lupa? Jahat!"

"Bisa memperkenalkan diri dulu?"

"Aku ini lho temanmu duluuu."

"Yang mana, ya? Teman saya banyak gitu."

"Ish, yang punya ciri khas seperti ini! Tidak tau?"

"...siapa, sih?"

"Teman kek gitu."

"Hah?"

"Ngga berotak."

"Maaf, ya. Saya hanya bertanya. Kalau tidak jelas begini, gimana mau ngobrol?"

"Masa ngga tahu sih?! Nyeselin bener lo atau ngga? Udah utang ngga pernah dibayar *angry emot/?*"

"Maaf, Tuan atau Nona yang TIDAK BEROTAK. Jika Anda ingin berkenalan dengan saya atau mengobrol dengan saya, TOLONG BERIKAN IDENTITAS YANG BENAR. Cukup yang benar saja, saya tidak perlu privasi Anda. Jika tidak jelas begini, saya juga akan MARAH. Tidak masalah jika Anda ingin mengerjai saya jika Anda benar-benar teman saya pada waktu dulu, tetapi mengucapkan kalimat seperti 'NGGA BEROTAK' atau berkata kasar dan menjeleki saya dengan berkata SAYA BELUM MEMBAYAR HUTANG SAYA itu cukup menyinggung saya, mengerti? SAYA TIDAK SEMISKIN YANG ANDA KIRA. Lain kali jika ingin menghubungi saya, tolong dengan cara yang benar. Terimakasih."

-RisaA blocked this user/?-

"Anjeng, anak gue serem juga."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sebelum itu—

"Kamu kenapa, Risa?"

"Ngga tahu, tuh. Ada orang gak jelas ngirim pesan gitu. Masa dibilangnya aku ngga berotak, Okaa-san? Dibilangnya juga aku belum bayar hutang... Ahh, sejak kapan aku berutang dengan orang lain? Orang macam apa itu!"

"Apa?! Mana sini hapenya?"

"Ini, Okaa-san."

Nagisa mengetik singkat.

"Oke, selesai~"

"Okaa-san, KENAPA DIBLOCK TEMANKU IHH?"

"Bodoh amat, biarin."

"Okaa-san ...pms ya?"

"Hah?"

6. Salah satu percakapan Karma dan Nagisa setelah—

"ELO NGEJEK ANAK LO SENDIRI NGGA BEROTAK? NGGA ADA JATAH BULAN DEPAN. PINTU RUMAH DIKUNCI, SAMPAI JUMPA TIGA BULAN LAGI."

"...Nagisa, darimana kamu tahu itu aku?"

-END-

*tidak baik ditiru ; sekadar humor ; jangan masukin dalam hati*