Jinchuriki's Story: Stare Con Te
Capitolo Tre
Minato tidak telalu suka suasana ini. Tadinya dia berharap dirinya dan Kushina bisa berduaan saja dan dia bisa menyatakan perasaannya dengan romantis saat pulang nanti. Tapi dengan teriakan dari nenek itu, semua rencananya buyar. Kemudian Minato merasa seseorang menarik tangannya dan membawanya ke gang sempit. Dan ketika sadar sepenuhnya, Minato tahu Kushina-lah yang melakukannya.
"Kenapa?" Tanya Minato.
"Nenek itu berisik. Kita akan kabur. Kau mencari bahan makanan dan beberapa baju, kan?" balas Kushina. Minato mengangguk sedikit, kaget karena sifat Kushina kini berubah 180 derajat dari saat di rumah. Dari yang pendiam dan penakut menjadi penuh semangat.
Dia bahkan tersenyum lebar dan berlari ditempat. Ditambah lagi, Kushina kini yang menarik lengan Minato, berbelok-belok melalui gang sempit hingga mereka keluar di sebuah jalanan sepi. Kushina terengah-engah dan menarik Minato masuk ke dalam sebuah toserba kecil disana.
"Selamat...Are, Kushina-sama!" sapa seorang pegawai. Dia jelas laki-laki, tapi gestur dan nada bicaranya dibuat seperti perempuan. Bahasa Spanyol-nya, Banci.
"Yo!" Balas Kushina. Pegawai itu langsung memeluk Kushina dan menciumnya.
"Sudah lama kita tida-" perkataannya terhenti ketika dia melihat aura 'Kubunuh kau kalau berani melakukannya lagi' dari Minato. Pegawai itu segera menghentikan salam-nya.
"Aih, siapa o'om itu, Kushina-sama! Iuh..."
"Jangan begitu, John. Dia penyelamatku. Aku menderita habis-habisan karena mantra kakek itu, kau tahu," jelas Kushina. Minato mengut-mangut. Mengetahui bahwa pegawai lekong itu punya nama yang sangat jantan saja berhasil membuat Minato heran. Apalagi ketika melihat Kushina akrab dengan John, rasanya Minato tidak tahan lagi. Well, Pemuda bermata ocean blue itu memang baru ketemu dengan Kushina tak sampai seminggu, tapi tidak tahu kenapa, Minato merasa cemburu.
"Katakan apa yang bisa kubantu?" sang pelayan toko menyerah untuk mencibir Minato lebih lama lagi ketika sadar tatapan jengkel dari Minato yang terus diarahkan kepadanya. Namun dengan tidak merubah tatapan melototnya, sang pelayan memutuskan untuk terpaksa melayani pemuda tampan tersebut. Kushina mengangkat bahu dan melirik kearah Minato, pria bersurai kuning itu lalu mengangguk. Mengerti makna dari isyarat Kushina.
"Kami perlu beberapa bahan makanan, sejenis rempah-rempah dan beberapa makanan kalengan. Lalu baju untukku dan Kushina," jelas Minato. Minato tidak habis pikir kenapa Kushina punya kenalan seaneh ini. Ayolah, dipelototi terus bukan hal yang menyenangkan, kau tahu.
"Sama! Panggil beliau dengan akhiran -sama, bedebah!" Mendengar penyataan pegawai itu, Minato jadi semakin kesal. Dia menarik Kushina dan mencium Kushina tepat di hadapan pegawai itu. Ciuman yang jelas berbeda dengan ciuman sapaan sang pegawai tadi.
Namun Kushina tidak suka dicium mendadak seperti itu, dia langsung mendorong Minato dengan tenaga berlebihan sehingga sang Namikaze itu menabrak dinding.
"Bisa tunjukkan dimana tempatnya?" tanya Kushina dengan aura neraka yang menyerebak. Dia sangat kesal dengan ciuman Minato kali ini. Well, sebenarnya ini kedua kalinya Minato menciumnya. Sebelumnya, Kushina lah yang pertama kali mencium Minato. Tapi walau bagaimana pun juga, tetap saja tidak menyenangkan bagi kushina, terlalu kasar.
"Aw, aw...Baiklah. Kushina, kau tunggu saja disini. Biar aku yang carikan semuanya," ujar Minato. Kushina hanya mengangguk, menuruti permintaan Minato.
Minato menyeka keringatnya. Dia tidak menyangka akan jadi melelahkan seperti ini. Pemuda itu bahkan sukses dibuat terkejut dengan kondisi Kushina yang masih kering dan semangat. Padahal Minato sendiri adalah atlet waktu masih sekolah, bagimana bisa dia dikalahkan Kushina yang notabene-nya baru bisa pecicilan setelah bertahun-tahun 'dipasung'?
"Minato, ada yang menunggumu," bisik Kushina. Dia menunjukkan ke arah seorang gadis cantik yang sedang melihat jam tangannya.
Minato menelan ludah. Dia mulai mengutuk dirinya sendiri. 'Kenapa wanita itu bisa sampai disini!' batin Minato. Sadar sedang diperhatikan, perempuan itu menoleh kearah Minato dan Kushina lalu berlari.
Bajunya yang serba mini berkibar-kibar dan sengaja memperlihatkan dalamannya dan tubuhnya -yang Kushina akui sangat bagus.
"Minato!" pekik gadis dengan rambut berwarna reven itu. Dia merangkulkan tangannya ke leher Minato dan mencium pipi Minato, membiarkan bekas bibirnya menempel dengan nista di wajah Minato yang tampan.
"Aku kangeeeeen!" pekik perempuan itu.
"Hentikan, Mikoto. Kushina melihatmu dengan tampang yang aneh," gumam Minato. Mikoto langsung berhenti dan melirik kearah Kushina.
"Aku tahu! Aku harus memperkenalkan diri! Perkenalkan, aku Mikoto Uchiha. Aku pacarnya Minato, sudah 2 tahun loh!"
Kushina tersenyum kecut dan membungkukkan badannya sambil berkata, "Kushina Uzumaki, pemilik tanah. Salam kenal." Minato tidak protes, walaupun sebenarnya diatas kertas, tanah ini sudah jadi miliknya.
"Aku juga punya tanah, di sapporo. Aku mendirikan sebuah villa di tanahku yang 1 hekre itu," balas Mikoto.
Kushina hanya bisa meringis. Tanah milik Mikoto jelas tidak sebanding dengan tanah milik Uzumaki yang seluas 2 gunung.
"Kau dengan siapa kesini?" tanya Minato.
"Aku kabur dari supir baruku. Kau tahu, Fugaku dirumah saat ini."
"Hn? Dia pasti khawatir."
"Harusnya kau cemburu, Minatooo!"
"Untuk apa?"
Kushina terdiam melihat sejoli itu berbincang. Mereka terlihat sangat serasi. Dan itu membuat hatinya seperti tersayat. Tersayat? Yang benar saja...
"Kau berencana bermalam disini?" ujar Kushina, berusaha ikut nimbrung.
"Boleh?"
"Ya, tapi ruangannya terbatas. Tidak masalah?"
"Ya! Aku bisa sekamar dengan Minato!"
Kushina melirik kearah Minato. Selama ini mereka tidur sekamar di kamar Kushina. Memang ada satu kamar lagi, tapi itu terlalu sempit untuk dua orang.
"Bisa diatur," balas Kushina.
Mikoto tersenyum girang dan Minato pasang wajah shock. Dia tidak sedang ingin tidur dengan perempuan selain Kushina. Bahkan walaupun hanya tidur bersebelahan. Kenapa Kushina dapat dengan mudah memutuskannya?
"Tunggu, Kushina. Hanya ada satu ruangan kecil. Tidak akan muat untuk dua orang. Aku akan tidur di sofa."
"Terserah saja," balas kushina. Setidaknya itu lebih baik dari membiarkan Minato tidur dengan perempuan lain.
Malam itu kediaman Uzumaki sepi seperti biasanya, hanya ada tiga orang yang hari ini tinggal disana. Ketiganya sedang menikmati makan malam buatan Minato. Kushina daritadi cemberut dan terus memainkan nasi gorengnya. Sesekali dia melihat kearah jam dinding dan juga mengetuk-ketukan tangannya di meja. Minato diam saja melihat tingkah Kushina, dia tahu kalau Kushina sebenarnya kurang nyaman dengan adanya Mikoto di rumahnya. Kurang lebih seperti saat pertama kali Minato bertemu dengan Kushina, gadis itu sepertinya tidak suka dengan kehadiran orang asing.
"Aku tidak lapar. Mau tidur. Nanti malam buatkan lagi, aku ingin yang panas," ujar kushina. Dia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kamarnya. Mereka memang merencanakan untuk makan malam bersama, tapi Kushina tiba-tiba pergi. Mikoto tak habis pikir melihat perilaku Kushina.
"Memangnya bocah itu siapa?!" gumam Mikoto. Minato tetap diam.
"Dia hanya memiliki bangunan bobrok begini," lanjut Mikoto.
'Dan dua gunung lainnya dengan sebuah desa,' sambung Minato dalam hati.
"Kemana orangtuanya! Mereka harusnya mendidik anak mereka dengan benar," lanjut Mikoto dengan nada meninggi. Mulai kesal dengan gerutuan Mikoto, Minato mulai menghela nafas.
"Dia sebatang kara, Mikoto. Keluarganya meninggal karena suatu insiden," jelas Minato singkat lalu mulai memakan jatahnya.
"Gadis seperti itu susah dapat pacar," gumam Mikoto.
"Kurasa tidak. Dia memang sedang dalam mood yang jelek malam ini. Tapi biasanya dia sangat baik," bantah Minato.
"Kau berkata seperti itu karena kau walinya, Minato." Wali? Minato memilih untuk tidak pernyataan tersebut dan kembal memakan nasi gorengnya.
"Berhenti bicarakan orang lain, Mikoto. Sampai kapan aku mau mengelak dari takdirmu?"
"Kemana arah pembicaraanmu, Minato?"
"Fugaku adalah pria yang baik, dia pantas menjadi pendampingmu. Aku heran kenapa kau menolaknya."
"Bicara seperti itu kepada kekasihmu, kau sangat jahat Minato."
"Begitu?" Minato mengambil teh panasnya dan mulai menyeruput minuman tersebut. Tetap tenang dan santai, berbeda dengan Mikoto yang mulai tidak tahan dengan perlakuan Minato kepadanya.
"Malam ini bercintalah denganku," Mikoto mulai melancarkan jurus maut yang tidak pernah gagal membuat Minato kehilangan akal sehatnya. Mikoto sengaja mengenakan pakaian menerawang yang minim kain untuk rencana kali ini. Tapi Minato bahkan tidak memperhatikannya, dia tahu, pikiran pemuda itu sedang tidak ditempat.
"Maaf, aku harus mengantarkan makanan panas untuk Kushina malam ini."
"Eeeeh?"
Minato selesai makan dan segera berdiri dari kursinya. Dia menatap Mikoto dan berkata, "Sayang sekali, tapi sudah dulu, ya, basa basinya."
Minato cukup pintar untuk membaca petunjuk yang diberikan Kushina. Setalah beberapa hari tidak memakannya, dia yakin malam ini Kushina sudah sangat lapar. Oleh karena itu, Minato makan dan ngemil cukup banyak malam ini. Dan walaupun mendapat tatapan aneh dari Mikoto karena tingkah tidak biasanya itu, Minato sudah membulatkkan tekad untuk dimakan malam ini.
Dia membuka pintu kamar Kushina perlahan ketika sudah yakin Mikoto tertidur malam itu.
"Pacarmu pasti akan sedih jika tahu kekasihnya mendatangi kamar perempuan lain," gumam Kushina sambil tetap konsentrasi pada lukisannya. Dia senang melukis dan baru saja membeli perlatan lukis baru tadi siang. Saking senangnya, dia sampai kehilangan nafau makan.
"Wah, kau sepertinya tidak lapar, Kushina."
Minato menutup lagi pintu kamar Kushina dan mendekati gadis bersurai merah itu. Kushina berhenti menggoreskan kuas di kanvasnya, dia terdiam sebentar.
"Ah, benar juga! Aku lapar. Sangat lapar. Tapi aku ingin melukis."
Minato duduk disamping Kushina. Ia tersenyum. Dia tidak tahu kenapa sangat cepat baginya untuk bisa nyaman berada di dekat gadis itu.
"Gambar apa ini?" Minato mengerutkan dahinya, dia berusaha menebak apa yang sedang digambar Kushina. Namun sangat susah baginya untuk mengerti goresan kasar yang dibuat Kushina. Goresan itu tidak beraturan dan terkesan seperti coret-coretan bagi Minato.
Kushina tersenyum. Dia menggoreskan sedikit warna merah dikanvasnya, membentuk sebuah garis baru.
"Putri duyung mencari matahari," jawab Kushina, "Sebenarnya ini bercerita tentang putri duyung yang sebatang kara. Dia sangat ingin pergi ke daratan, tapi bahkan melihat matahi saja dia tidak bisa. Karena itu dia akan tetap disana dan memandangi cahaya sambil berpikir bahwa itulah mataharinya."
"Apa itu tentang dirimu?"
Kushina mengangguk.
Minato tertawa.
"Kan ada aku, kau tidak perlu memandanginya. Aku milikmu sepenuhnya, bukan?"
"Tapi kau sudah punya perempuan itu. Aku jadi bingung..."
"Hubungan kami memang agak rumit. Tapi percayalah, mulai saat ini aku akan jadi milikmu. Kau kan tidak bisa hidup tenang kalau tidak ada aku," ujar Minato. Pemuda itu memamerkan senyum lebarnya dan mengelus rambut Kushina. Kushina tersenyum kecil. Dia menyandarkan kepalanya di pundak Minato.
"Aku mau makan," gumam Kushina.
"Hn? Makan saja," balas Minato.
"Beneran?" Minato mengangguk. Dia membuka bajunya dan merentangkan tangannya lalu berkata, "Ayo kemari, Kushina."
Kushina menatap Minato dan tertawa kecil. Dimatanya, kini Minato terlihat sangat keren. Dia tahu kalau Minato memang sangat tampan, tapi dia tidak tertarik dengan ketampanan. Satu-satunya yang berhasil membuat Kushina jatuh hati pada Minato adalah karena Minato satu satunya pemuda yang menerima dirinya. Baik manusianya maupun sisi silumannya.
Kushina langsung memeluk Minato dan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Minato. Kushina selalu suka momen ini, apalagi Minato yang selalu mengelus rambutnya saat dia sedang memakan Minato. Kalau bukan karena siluman dalam tubuhnya yang memaksa Kushina melakukanya, Kushina tidak akan mengoyak kulit Minato dan mengkerokoti tubuh pemuda tampan itu. Tapi, toh, Minato tidak menghilangkan senyum di wajahnya ketika Kushina memakannya.
"Ukh, teruskan, Kushina," lirih Minato berusaha menahan sakit dengan menggihit kaosnya. Butuh waktu lama baginya terbiasa dengan rasa sakit ini. Dan walaupun sakit, Minato selalu menikmati saat-saat Kushina memakan dirinya.
Tiba-tiba Kushina teringat sesuatu, berhenti memakan Minato dan menatap pemuda itu dengan mulut yang asik mengunyah. Diapun berkata, "Kau tetap tidur di sofa?"
Minato menggeleng. Dia tersenyum kecil lalu menyeka darah yang menetes dari mulut Kushina.
"Temani aku tidur, ya. Seperti biasanya," pinta Minato.
"Kau yakin kekasihmu yang aneh itu tidak akan marah?" tanya Kushina. Minato tertawa lalu mendekatkan wajahnya ketelinga Kushina dan berbisik, "Mikoto itu sebenarnya tunangan teman baikku. Tapi dia tidak terima dan memaksa ingin tetap menjadi pacarku. Aku juga seumur-umur baru satu kali suka sama perempuan dan perempuan itu bukan Mikoto."
"Lalu siapa?"
Minato mengangkat bahunya dan tersenyum licik.
"Kurasa kau tidak boleh tahu, Kushina. Ini masalah orang dewasa."
Kushina menggembungkan mulutnya dan menjambak rambut Minato.
"Sialan kau, Minato!" geram kushina. Dia kembali melanjutkan acara makannya.
TAMAT, tapi bohong, ding! Lanjut, lanjuuut!
Halooo, berapa bulan tak sua? 5 bulan? wah, lama ya hahaha... *dilempar toa*
Kenapa coba? Soalnya Mizutto kemaren fokus cari Kuliah dan Puji Tuhan keterima di PTN tebaek se-Jateng, dengan jurusan terbaek se Indo. Apa hayooo? .Si.A, HAHAHA! *Author Gaje* *lupakan*
Chapter-nya mulai memanas dan chapter selanjutnya akan jadi lebih panas. Chapter selanjutnya adalah chapter terakhir dan ditambah satu OMAKE hot abis. Jadi jangan bosen dan tetep ditunggu, yaaa! Sampai jumpa di Chapter selanjutnya!
Next:
"Apa yang kau lakukan?"
"Pertama kau keluar dari kamar gadis itu tanpa baju. Kedua, tadi malam aku mendengar desahanmu dari dalam kamar itu saat aku ingin pipis,"
"Ku, kurasa, aku harus bersiap untuk pesta pernikahan tuan,"
Kushina terbangun di dalam pelukan minato yang bersimbah darah.
