Jinchuriki's Story: Stare Con Te
Capitolo Quattro
Minato terbangun pagi itu dengan rasa nyeri yang luar biasa di bagian perut dan dadanya. Kushina benar-benar rakus tadi malam, gadis itu memakannya dengan sangat lahap. Namun Minato tak tega menghentikan Kushina saat dia melihat senyum puas Kushina yang terus merekah sambil memakannya. Pemuda itu memalingkan badannya dan mendapati Kushina tertidur pulas di sampingnya. Kekenyangan mungkin.
Dia berdiri perlahan dan mencari kaosnya. Namun ia segera menepuk dahi saat menemukan kaosnya bersimbah darah dan menyesal dia tidak bawa kaos lain. Minato meraba bagian depan tubuhnya, memastikan bekas luka tadi malam sudah hilang. Dan untung-nya sudah benar-benar hilang. Minato membersihkan sisa-sisa darah yang melekat di kulitnya dengan tisu basah sebelum dia beranjak dari tempat tidur.
Pemuda itu dengan pelan membuka pintu kamar, keluar dari kamar itu dan menutupnya lagi. Dia tidak ingin membangunkan Kushina.
"Ehem!" Minato membalikkan badannya dan mendapati Mikoto sedang berkacak pinggang.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Mikoto, memulai interogasinya.
"Entahlah," jawab Minato sambil tersenyum kecil. Mikoto menyernyitkan dahinya.
"Pertama kau keluar dari kamar gadis tanpa baju. Kedua, tadi malam aku mendengar desahanmu dari dalam kamar itu saat aku ingin pipis," tambah Mikoto.
Minato tetap diam, menunggu lanjutan dari Mikoto. Dia merasa syndrom mempermainkan perasaan perempuannya mulai muncul saat ini, penyakit turunan dari sang ayah.
"Kau menolak rayuanku dan malah tidur dengan wanita lain? Kau mau mempermainkanku?" akhirnya Mikoto melanjutkan. Kali ini Minato tidak hanya diam, dia mengangkat bahunya dan berkata, "Faktanya adalah aku dan Kushina sudah tidur bersama sejak kami bertemu. Setiap malam, Tanpa Kushina memakai pakaian tidur serba menerawang."
Wajah Mikoto memanas.
"Kukira kau tidak seperti paman Jiraiya."
"Memang. Berbeda dengan ayah yang suka semua perempuan, aku hanya akan memberikan hidupku pada satu perempuan."
"Apakah dia Kushina?"
"Yang pasti bukan perempuan yang harus merayu mati-matian untuk bisa tidur denganku."
Mikoto jadi semakin panas. Minato tertawa renyah dan menepuk kepala Mikoto.
"Kau mau bantu aku bikin sarapan, kan?" ajak Minato lalu mulai berjalan menuju dapur. Mikoto menghela nafas dan membalas, "Dasar kejam."
"Well, kurasa itu julukan bagus. Kau mau apa?"
"Kenapa tidak kau tanya saja tuan putrimu!"
"Dia tidak makan pagi ini. Aku sangat yakin dia masih kenyang."
"Eh?"
Pada akhirnya, Fugaku datang ke rumah Kushina tak lama setelah mereka sarapan. Tentunya untuk menjemput Mikoto. Mendengar suara mobil jeep -milik Fugaku- yang paling Kushina benci, gadis Jinchuriki itu langsung terbangun dan keluar kamar dengan wajah dongkol.
"Siapa yang-" niat Kushina untuk mengamuk langsung lenyap saat dia melihat Mikoto sedang berciuman dengan Fugaku. Sangat mesra, dan seperti menonton film hentai.
Minato langsung menarik lengan Kushina dan menggelengkan kepala.
"Kau belum cukup umur, nak. Tinggalkan mereka. Mereka perlu privasi untuk masuk ke acara puncak," ujar Minato. Dia terus menarik Kushina keluar rumah. Minato ternyata baru saja selesai menyiapkan mobilnya –mengecek tekanan ban dan lain sebagainya. Dia kemudian sampai di sebuah gazebo kecil, yang atapnya rusak sebagian. Disana sudah tersedia teh dan beberapa makanan ringan pemberian John yang tadi singgah.
"Oh, iya. Tukang akan mulai bekerja siang ini. Akan jadi sangat berisik. Bagaimana kalau kita tinggal di apartemenku di Tokyo?" tawar Minato, meminum kembali tehnya. Kushina terdiam sebentar, dia mengambil sepotong biskuit lalu mulai memakannya.
"Tokyo? Sebenarnya, aku dulu sekolah di sana. Kurasa aku bisa mengunjungi teman lamaku," balas Kushina. Minato terlihat agak kaget dan mulai bertanya-tanya. Untungnya Kushina peka dan berkata, "Aku alumni Todai." Minato nyaris memuntahkan tehnya.
"Bukannya kau bilang kau baru 15 tahun!"
Kushina tersenyum kecil dan memutar bola matanya.
"Aku belum bilang kalau aku sarjana diusia hampir 15 tahun?"
"Oi, oi, tunggu! Kita satu almamater dan di wisuda ditahun yang sama! 3 tahun lalu aku juga lulus dari Todai, S2. Semua heboh dengan bocah cantik yang diwisuda sarjana dari jurusan Sosial dan Hubungan Internasional. Aku tidak tahu itu kamu!"
"Itu karena kau bodoh, bodoh. Tentu saja aku menyamar, akan sangat mencolok kalau kuliah dengan rambut merah seperti ini."
"Kalau begitu kau tidak keberatan kita pergi ke Tokyo kan?"
"Justru karena itu aku tidak mau ke kota itu. Tapi aku penasaran dengan kehidupanmu. Jadi, aku akan pergi," balas Kushina. Minato langsung sumingrah dan memeluk Kushina sambil mengacak rambut merah Kushina.
"Berjanjilah kau akan membangun rumah ini sama persisi. Dan jangan rusak ruangan bawah tanah. Lalu jangan tinggalkan aku sendirian," bisik Kushina. Minato tertawa renyah dan makin erat memeluk gadis itu. Betapa Minato sangat menyayangi Kushina.
"Kita harus segera berkemas, Kushina!" Minato dengan semangat kembali menarik lengan Kushina. Memaksa gadis itu ke kamar dan berkemas.
Merekapun meninggalkan rumah kediaman Uzumaki siang harinya, tak lama setelah Fugaku dan Mikoto pamit.
-owatta-
Omake:
Perjalanan dari kediaman Uzumaki ke Tokyo bukan perjalanan yang singkat, terlebih mereka baru berangkat sore hari. Tak punya pilihan lain, akhirnya Minato memutuskan untuk beristirahat disebuah rumah. Rumah milik keluarga yang merupakan tempat persinggahan.
"Ada apa?" tanya Kushina, bingung karena dia tahu ini bukanlah Tokyo. Tapi Minato tak segera menjawab. Dia langsung menarik Kushina, keluar dari mobilnya dan memasuki rumah itu.
"Mi-Minato Sama!" seorang pria berlari menuju kearah minato.
"Aku akan menginap semalam. Di kamar di lantai dua," ujar Minato.
"Baiklah, Minato-sama."
"Pastikan tidak ada seorang pun di lantai dua."
"Baik, Minato-sama!"
Minato tersenyum. Dia kembali berjalan, menghiraukan pertanyaan Kushina.
Pintu tertutup.
Minato duduk di kasur dan Kushina berdiri dihadapannya.
"Apa masudmu, Minato?"
Minato berubah ekspresi dengan cepat. Wajahnya memerah dan keringat mulai keluar dari pori-pori kulitnya.
"Kau...ingin aku memakanmu?" tanya Kushina ragu. Dia sebenarnya tidak terlalu lapar, tapi ekspresi Minato mirip seperti kemarin malam –saat Mikoto menginap di kediamannya.
"Sangat ingin. Cepat!"
Kushina tersenyum dan langsung menindihi Minato, mencium leher pemuda itu. Minato mendesah nikmat saat Kushina menggigit kulitnya.
"Aakh!"
Minato mulai bergerak gelisah dan tak berhenti tersenyum.
"Minato, kau kan besok mau menyetir, kurasa kau lebih baik istira..."
Kushina berhenti berbicara ketika menyadari Minato menikmatinya.
"Aku kenyang, Minato," akhirnya Kushina berbohong. Dia tentunya tidak ingin Minato kelelahan dan kesakitan untuk besok.
"Kau tidak harus memakannya, Kushina. Kau mencintaiku, kan?"
Kushina mengangguk dan mengangkat bahunya.
"Aku mau tidur."
Kushina mengindahkan semua ajakan minato. Dan tertidur engan mudahnya.
Minato akhirnya terdiam dia berbalik menindihi Kushina dan mencium bibir Kushina. Dia tahu, kalau Kushina tertidur, dia tidak akan bangun sebelum matahari terbit. Oleh karena itu, dia menghabiskan waktunya sampai lelah dengan menikmati Kushina. Dia melakukannya sejak pertama kali bertemu dengan Kushina. Karenanya dia kaget saat tahu kushina masih berumur 15 tahun.
Minato menggerakan tangan Kushina, menusukkan jemari Kushina ke luka Minato. Berkali-kali sambil mendesah. Satu lagi yang dia tahu tentang Kushina. Saat tengah malam, selama satu jam, siluman rubah akan mengambil alih tubuhnya.
"Kau lagi, sejak kapan Kushina menerimamu," Kushina terbangun dengan mode siluman rubah.
"Entahlah...Kushina sudah mengubah hidupku," balas Minato.
"Sepertinya, kau jadi orang abnormal."
"Aku tidak menganggap ini siksaan. Ini caraku menunjukkan cintaku pada Kushina."
"Kalau begitu biar aku yang melakukannya untukmu."
Pria itu membawa lentera dan berpatroli malam itu. Walaupun sudah dilarang, dia punya kewajiban untuk memeriksa lantai dua.
"Aaaakh! Lebih keras!"
Pria tadi terdiam. Dia tahu kalau itu adalah suara Minato, majikannya, pemilik rumah ini. Pria itu mundur beberapa langkah dan turun ke lantai satu dengan wajah memerah.
"Ku, kurasa, aku harus bersiap untuk pesta pernikahan tuan," gumam pria itu. karena ini pertama kainya dia mendengar Minato menjerit nikmat dengan sangat keras. Memang, biasanya Minato melakukan itu disini dengan berbagai wanita lain. Tapi yang terdengar hanyalah suara wanitanya, bukan suara Minato.
Kushina terbangun di dalam pelukan minato yang bersimbah darah.
"Kau melakukannya lagi, tuan rubah," batin Kushina. Dia bukannya tidak tahu, dia hanya membiarkannya terjadi begitu saja. Setiap kali bangun, dia selalu kenyang dan Minato bersimbah darah. Padahal malamnya dia hanya makan sedikit.
"Kushina?"
"Em?"
Minato mencium kushina dan mempererat pelukkannya.
"Aku sangat mencintaimu," bisiknya.
"Iya, iya... kau cepat mandi sana. Kita harus melanjutkan perjalanan."
"Tidak bisakah kau memakanku lagi sampai nanti siang?"
"Cukup, Minato. Sekali lagi kau memintaku memakanmu, aku akan pastikan itu terakhir kalinya kau melihat dunia."
Hening.
Hening.
Minato menyerah dan turun dari kasur menuru kamar mandi. Dia harus segela menghilangkan nafsunya dan kembali ke dirinya yang sebelumnya. Paling tidak selama beberapa hari kedepan.
"Kushina, mandilah bersamaku!" teriak minato dari kamar mandi.
"Emoh!"
TAMAT
YOOOOOO! Finally, tamat satu yeah! Terima kasih buat yang udah baca sampai tamat, ya readers! Semoga selamat lahir batin (?)
Jangan lupa review lo~! Baca juga cerita Mizutto lainnya, ya. Dijamin antimainstream, hehehe
Sampai jumpa di cerita lainnya!
