Title: High School Love Story

Disclaimer: Gintama Hideaki Sorachi

Pair: HijiGin, SakaZura, TakaMui slight TakaGin, YamaZura little hint, TakaZura

Rate : T-M

Genre: Drama, Romance.

Warning: Yaoi BxB, OOC, Typo dimana-mana, ini A/B/O VERSE, mungkin bakalan jadi m-preg –kalo mood-

DLDR

Disini HIJIKATA itu SEME, buat yang suka HIJIKATA jadi UKE mending KELUAR

.

.

.

Bunga sakura bermekaran di pinggir jalan. Awal sekolah baru saja dimulai. Hijikata berjalan santai sambil menikmati guguran bunga sakura, tak ingin buru-buru, toh ini masih pagi.

Tak terasa Hijikata telah sampai di Edo High School. Hijikata berada di kelas XI A, dengan jabatan sebagai wakil ketua kelas, berjulukan Onni Fukuchou. Hijikata duduk di tempatnya, dan tak lama kemudian terdengar suara berisik dari luar kelas. Dari suaranya Hijikata dapat memperkirakan siapa saja itu. The Joui Gank, anggotanya 4 orang yang kewarasannya perlu diperiksa ulang.

Takasugi Shinsuke, anak dari ketua Yakuza Taka-Gumi, yang kini menjabat sebagai ketua karena ayahnya yang telah tiada, alpha yang bisa diyakini kekuatannya. Juga orang yang bisa diandalkan. Tipe pemimpin yang disegani anak buahnya. Dan yang paling waras diantara anggota The Joui Gank lainnya.

Alpha berikutnya adalah Sakamoto Tatsuma, bisa dibilang yang paling gila. Tipe orang yang tidak bisa baca situasi. Hobinya tertawa tidak jelas dan suka salah sebut nama orang. Pewaris dari Kaientai Market ini diduga pasien yang kabur dari RSJ setempat.

Yang ketiga adalah seorang beta berambut panjang, namun bukan perempuan. Namanya Kasura Koutaro. Memiliki bakat untuk menjadi teroris –dan ini serius, dia sangat ahli membuat bom-. Diduga punya fetish khusus terhadap janda.

Yang terakhir seorang omega. Ini cukup aneh dan tidak biasa, ada seorang omega diantara alpha, dia bersekolah dengan tenang tanpa bully. Namanya Sakata Gintoki, seorang yang sangat tangguh untuk ukuran seorang omega. Tak ada yang berani membullynya disekolah ini. Siapa saja yang berani menyentuh omega satu ini, akan berurusan dengan Pemimpin Taka-Gumi generasi ke-8 dan 2 temannya yang adalah tipe omega yang cuek, tidak seperti omega lain yang berusaha tampil luar biasa didepan orang, dia benar-benar tidak perduli pada penampilan –dia bahkan sering terlihat ngupil ditempat umum-.

Mereka berenpat adalah ahli kendo, sudah dilatih sejak kecil, karena mereka selalu bersama. Tipe sahabat selamanya, dan itulah adanya.

.

.

.

Istirahat tiba, setelah pelajaran yang -menurut Gintoki- menyebalkan, istirahat tiba juga. The Joui Gank tengah berkumpul diatas atap sekolah. Entah sejak kapan dan siapa yang menentukan, atap menjadi basecamp mereka. Yang pasti sekarang hampir tak ada siswa yang berani menyentuh tempat ini, kenapa hampir, karena masih ada segelintir orang yang berani kemari, walau selalu menunggu mereka tidak berada disini. Toh, mereka berempat sebenarnya tidak melarang, ini tempat umum lagi pula.

Mereka berempat tampak asik dengan kegiatan masing-masing, saat akhirnya Katsura -Zura- memecahkan keheningan tersebut.

"Hey, entah kenapa aku memikirkannya, tapi aku tiba-tiba memikirkan ini. Sejak kapan TJG terbentuk?" Ucapnya.

"Sejak kita masih dalam kandungan, mungkin, ahahahaha." Sakamoto mengucapkan hal yang tidak penting, seperti biasa.

"Heh, memang sejak kapan aku mau bergabung dengan gank konyol buatan kalian itu." Si Tsundere -Gintoki- menjawab asal.

"Hmp, padahal yang dulu selalu melerai pertengkaranku dengan Tatsuma adalah dirimu sendiri." Sahut Takasugi, dengan seringai yang terlihat sangat menyebalkan tersungging di bibirnya.

"Hahhhh, siapa yang melerai, aku hanya tidak mau membereskan mayat kalian kalau kalian mati karena pertengkaran tidak jelas itu." Sambil membuang muka- yang tampak memerah- Gintoki menyangkal.

"Ahahahaha, Kintoki, kau tsundere, ahahahaha." Dan sebuah tendangan mendarat tepat dimuka Sakamoto Tatsuma.

"Namaku Gintoki, bukan Kintoki. Sebelum kau bisa menyebut namaku dengan benar kau itu tidak boleh mati." Ucap sang pelaku penendangan –Gintoki sendiri-.

"Hey, apa kita akan terus seperti ini?" Zura, entah salah makan atau apa, mendadak melankolis.

"Bukan AKAN, tapi HARUS." Tatsuma menyambung.

"Ya, selamanya akan begini." Takasugi menjawab dengan senyum diwajahnya.

"Cih, kalau aku terus bersama orang bodoh seperti kalian akan jadi apa aku nanti." Dan terakhir, Gintoki menyangkal dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.

.

.

.

Hijikata sedang berjalan pulang dari sekolah ketika dia melihat Gintoki. Hijikata pribadi menganggap Gintoki orang yang menarik. Omega yang tidak mau kalah dari seorang alpha itu jelas jarang ada. Merasa jika tak ada salahnya mencoba mengajak Gintoki bicara, Hijikata menghampirinya.

"Oeee, Gintoki." Panggil Hijikata.

"Hmmm, aaa Oogushi-kun, domo~." Jawab Gintoki sembari berhenti berjalan.

"Hijikata desu. Aku dengar dilantai bawah rumahmu ada kedai, bawa aku kesana." Setelah sampai didepan Gintoki, Hijikata menjawab. Modus detected.

"Kau itu belum cukup umur untuk ada disana." Sahut Gintoki, sambil melanjutkan jalan pulang.

"Hah, aku sudah 17 tahun, ooeeee. Kau sendiri bukannya lebih muda dariku, kenapa sudah bekerja disana?" Ucap Hijikata menanggapi

"Hah, jangan sok hanya karena kau lebuh tua 5 bulan dariku, Oogushi-kun. Lagi pula Gin-chan yang sexy bekerja disana dengan alasan yang jelas."

"Heh, memangnya apa alasanmu hah?" Sahut Hijikata.

"Kau pikir aku bisa tinggal gratis hah. Tentu aku kerja untuk bayar sewa, makan, beli perfaits dan susu strawberry, beli buku, beli perfaits dan susu strawberry, dan lain-lain. Aku ini bukan pemalas tahu."

"Kau menyebutkan perfaits dan susu strawberry dua kali, baka. Dan kau pikir aku tidak tahu kalau kau lebih sering minta traktiran, nunggak uang sewa dan mengcopy buku Takasugi atau Sakamoto daripada membelinya hah."

"Penghinaan macam apa itu, tentu saja semua yang kau sebutkan itu salah besar, Oogushi-kun."

"Ngeles kau kayak bajaj, daripada kau makin gak laku karena banyak alpha yang ilfeel kenapa tidak coba mulai cari mate saja haa, aku misalnya."

"Mimpi kau Oogishi-kun, mendapatkanku tak semudah itu. Aku bukan Omega pengecut yang cari mate cuma buat cari aman saja. Bagi seorang omega mate itu segalanya, sekali punya mate akan sulit bagi omega untuk lepas dan cari alpha baru, memangnya kalian, para alpha nggak jelas yang bisa dengan mudah cari omega baru setelah merasa omega kalian tidak pantas bersama kalian lagi."

"Oooee, itu diskriminasi. Tidak semua apha seperti itu, hanya beberapa saja."

"Terserah apa katamu. Nah, kita sudah sampai. Masuklah, aku mau ganti seragamku dulu." Ucap Gintoki sebelum naik menuju lantai dua.

.

.

.

Sakamoto berjalan pelan, tak biasanya dia terlihat 'normal' begini. Disampingnya Zura berjalan sambil menunduk. Hening diantara mereka terpecahkan ketika Sakamoto akhirnya membuka suara.

"Zura, apa kau ada waktu minggu depan?" Tanyanya.

"Kurasa ada, aku tak bekerja Minggu depan." Jawab Zura tanpa menoleh.

"Ada caffe yang baru dibuka didekat Ikkebukuro, mau kesana?" Kembali Sakamoto mengajukan sebuah pertanyaan.

"Hmmm, kurasa bisa. Ayo saja."

Dan mereka berdua tetap berjalan, meski mereka sebenarnya 'tidak bergerak kemanapun'.

.

.

.

Takasugi melangkah pelan di koridor rumahnya saat dia sadar kalau koridor ini cukup sepi. Koridor ini adalah koridor menuju ke dapur dan samar-samar Takasugi bisa mendengar suara lemparan –orang- serta teriakan seperti 'itu untuk satu minggu kedepan' lalu 'waa bahan makan malamnya' serta ratapan seperti 'tolong berhenti' yang diikuti suara lemparan –lagi-.

Takasugi menyandarkan tubuhnya dipintu yang terbuka lebar ketika dia tiba di dapur. Dapat dilihatnya tubuh-tubuh anak buahnya yang bergelimpangan dan merintih kesakitan. Dialihkannya pendangan matanya kedalam dapur, disana berdiri sambil tersenyum dengan bermacam-macam makanan ditangannya, Yato Kamui, yang senyum-senyum gaje sok polos merasa tidak punya dosa.

"Kamui, kau merampok isi kulkas lagi, heh." Takasugi sudah menduganya.

"Arara, Taka-chan, okaeri. Aku lapar, tapi mereka tidak mengijinkanku mengambil makanan. Kenapa mereka jahat sekali pada ketua divisi sepertiku ini ya." Sahut Kamui bagai manusia tanpa dosa.

"Jelas mereka melarang, kau memakan persediaan untuk satu minggu kedepan Kamui."

"Taka-chan, kan aku lapar."

"Kurangi porsi makanmu Kamui, atau kau akan kesulitan mencari alpha nanti."

"Tak apa, selama Tala-chan mau padaku. Lagi pula klan Yato itu klan petarung Taka-chan, alpha, beta, omega tak ada bedanya diklan kami. Dan karena kami petarung kami butuh banyak energi, makanya aku makan banyak Taka-chan."

"Sayangnya hatiku sudah ada yang punya Kamui. Dan tanpa kau jelaskan juga aku sudah paham kalau klan Yato itu isinya petarung semua, itu adalah alasan kau yang seorang omega bisa jadi ketua divisi lagi pula."

"Hmmm, Taka-chan, kenapa kau tak menyerah saja. Kau tak pernah donoticekan."

"Kukembalikan padamu, kenapa kau tak menyerah saja, aku tak pernah membalas perasaanmu jugakan."

"Kenapa ya Taka-chan. Aku juga ingin tahu."

Dan hanya hening yang merajai setelahnya.

.

.

.

.

Apa yang kalian inginkan masihlah panjang kedepan

Banyak yang harus dilalui, dengan akhir yang tak pasti

Bersabarlah, tunggu takdir menuntun kalian

Walau mungkin akhirnya tak semulus dugaan kalian

Dan mungkin tak sesuai dengan apa yang kalian mau

TBC

AN/: ehm, ada yang masih inget ama ini fic, dari prolog kemaren ke sini udah berapa lama ya. Maaf jangan timvuk gw, salahkan kesibukan diduta, UN lah, persiapan SBMPTNlah –soalnya saya gak dapet tiket SNMPTNnya- jadi harap maklum ya, dan saya sekarang udah jadi anak kuliahan. Oh iya maaf juga, kemaren gk dikasih tau kaloa da A/B/Onya, hayati lupa. Yorozuya mungkin, MUNGKIN LOH YA, bakalan tetep ada, soalnya settingnya gnti jadi anak sekolah agak susah masukinnya.

Ok, jangan lupa KriSarnya di kolom review yaa, flame juga gpp, saya kebal soalnya.

Kalo mau req cerita boleh, tapi gk janji kapan bikinnya.

Sip, dadahhhhhhh