Title: High School Love Story
Disclaimer: Gintama Hideaki Sorachi
Pair: HijiGin, SakaZura, TakaMui slight TakaGin, YamaZura and little hint!TakaZura
Rate : T-M
Genre: Drama, Romance.
Warning: Yaoi BxB, OOC, Typo dimana-mana, ini A/B/O VERSE, mungkin bakalan jadi m-preg –kalo mood-
DLDR
Disini HIJIKATA itu SEME, buat yang suka HIJIKATA jadi UKE mending KELUAR
.
.
.
Gintoki keluar dari rumahnya saat jam menunjukkan pukul 07.00 pagi. Gintoki mungkin tidak ingin kalah dari alpha, tapi sudah insting seorang omega untuk bangun pagi dan mengurus rumah –itu menyebalkan menurut Gintoki-.
Sambil berjalan Gintoki meminum dengan tenang susu strawberry kotak ditangannya. Dan ketika dia berbelok dia melihat teman-temannya –Takasugi, Sakamoto, dan Zura- tengah bercanda –tepatnya Sakamoto yang tengah tertawa-tawa tidak jelas, Zura yang mengomel dan Takasugi yang menanggapi seperlunya-.
Gintoki menghampiri mereka sambil tetap meminum susu strawberrynya sebelum membuangnya ketika susu tersebut telah habis. Mereka berangkat bersama ketika Gintoki sudah berada diantara mereka. Setiap pagi mereka selalu berangkat bersama, meski pulangnya belum tentu mereka bersama –lebih sering Takasugi yang pulang duluan sih-.
"Oee, kalian semua sekarang tidak pernah kekediamanku lagi ya." Ucap Takasugi memecah keheningan.
"Kesana juga tidak kau beri makan, Takasugi." Gintoki –yang dengan pwnya ngupil- menanggapi asal.
"Yang biasanya sampai membawa pulang siapa, boke." Sambil tetap berjalan, Takasugi –entah dapat dari mana- mengayunkan tongkat kayu kearah Gintoki.
"Ahahaha ahahaha, Takasugi, kalaupun kami kesana yang ada juga cuma latihan kendo, ahahaha ahahaha." Dan dengan tawa khasnya, Sakamoto menanggapi.
"Hmmmm, tapi memang sudah lama kita tidak kesana. Mungkin latihan kendo sepulang sekolah ini bagus juga." Zura mengutakan pendapatnya.
"Nah chibi, kuharap kau punya makanan atau aku tidak akan datang." Dan layangan tongkat kayu menjadi balasannya.
.
.
.
Hijikata tahu beberapa hal soal Joui4, tentang Sakamoto dan Zura yang memiliki hubungan yang cukup rumit –ini rahasia umum sebenarnya-, tentang alasan Takasugi yang menjadi ketua yakuza diusia muda, tentang Gintoki yang hingga kini tak diketahui masa lalunya hingga membuatnya tak mau begitu saja tunduk pada seorang alpha, hingga fakta kalau sebenarnya Takasugi menyukai Gintoki ketika dia sendiri disukai salah satu anak buahnya –kalau tidak salah seorang dari klan Yato-.
Hijikata tahu –jangan tanya dia dapat info darimana-. Dan dia tidak suka pada fakta kalau ada orang yang memiliki kesempatan untuk menjadi alpha Gintoki selain dirinya. Apa dia sudah bilang kalau Gintoki itu menarik? Sejujurnya hanya beberapa alpha bunuh diri yang mau-maunya mendekati omega liar yang tak mau ditaklukkan macam Gintoki, dan anggaplah dia alpha hobi bunuh diri yang suka cari sensasi.
Hijikata sudah mengenal Gintoki cukup lama. Mereka satu sekolah saat SD –tak begitu akrab sebenarnya-, dan sekali lagi menjadi satu sekolah saat SMA –satu kelas malah-. Yang pasti, sejak insting alphanya muncul, Hijikata sudah tidak tertarik pada omega biasa yang dirayu sedikit akan langsung membuka kaki dihadapannya –dia cukup percaya diri akan wajahnya yang mampu menarik perhatian sejak kecil-.
Saat SMA dan Hijikata bertemu lagi dengan Gintoki, dia cukup terkejut melihat omega yang dengan percaya dirinya bertarung dengan beberapa orang –dia menang, omong-omong- dan makin terkejut saat tahu kalau itu adalah Gintoki yang –percayalah- selama SD selalu berada dibalik punggung Takasugi untuk dilindungi. Saat itulah dia sadar, kalau omega seperti inilah yang dia inginkan untuk jadi matenya, bukan sekedar omega yang menyerahkan semua pada alphanya, pada takdir yang menyatakan kalau seorang omega tidaklah boleh seseorang yang kuat.
Hijikata –entah sejak kapan- tertarik pada Gintoki, tertarik pada omega tidak biasa yang hobi cari mati. Entah bagaimana cara Gintoki untuk menjadi seseorang yang kuat seperti saat ini, menjadi seorang omega yang tidak bisa diremahkan oleh alpha sekalipun. Dan Hijikata menginginkan omega ini, dia menginginkan Gintoki untuk menjadi matenya.
Hijikata akan menggunakan semua kesempatan yang ada untuk berusaha mendekati Gintoki. Seperti saat ini contohnya, ketika dia menuju ke atap sekolah untuk memakan bekal makan siangnya, dia menemukan Gintoki –yang sedang meminum susu strawberry dan memakan roti melon- sedang bersandar di salah satu sisi atap.
"Kenapa kau disini." Adalah kalimat yang pertama diucapkan oleh Hijikata.
"Teman-temanku ada urusan, kalau itu yang benar-benar ingin kau cari tahu." Sahut Gintoki.
"Heh, memang kalau bukan itu apa yang ingin ku cari tahu?" Tanya –meski sumpah sebenarnya bukan itu maksudnya- Hijikata.
"Saa na. Kau kan punya otak dan jalan pikiranmu sendiri. Kenapa kau harus bertanya." Gintoki menguap –tidak sopan, sungguh-.
"Kau tahu, kau itu menarik. Kalau omega lain pasti akan berusaha menarik perhatian alpha. Mencoba bersikap sebaik mungkin agar segera dapat mendapat mate yang bisa melindungi mereka, tapi kau tidak. Kau bahkan berusaha melindungi dirimu sendiri. Kau benar-benar menarik. Mau jadi mateku?"
"Teruslah bicara dan kusumpal mulutmu dengan sepatu. Aku tidak begitu peduli soal mating. Bagiku alpha hanya orang yang kelebihan nafsu, apalagi saat melihat omega. Kalau memang kepepet harus cari mate, semua orang tahu kalau Takasugi menyukaiku." Ucap Gintoki –abaikan Hijikata yang mengepalkan tangannya-.
"Maka kau juga tahu kalau ada seseorang yang menyukai Takasugi. Apa kau mau merebut orang yang disukai orang lain?" Hijikata mencoba untuk memancing Gintoki.
"Untuk info yang satu itu, kupikir hanya Joui4 yang mengetahuinya. Darimana kau tahu?"
"Kau tak perlu tahu aku dapat info darimana."
"Hehh, dasar stalker."
"Kalau aku tak tahu cara mendapat info seperti itu, mana bisa aku jadi onni no fukuchou."
"Terserah apa katamu saja, jangan libatkan aku dalam hal tak penting dan gila yang ada diotakmu."
"Ku pikir kau suka sesuatu yang menantang."
"Aku suka, selama itu tidak merepotkan. Tapi kalau itu darimu, Oogushi-kun, aku yakin itu akan sangat merepotkan."
"Tapi hal yang menantang itu memang harus merepotkan keriting."
"Kalau bisa dihindari kenapa harus merepoikan diri."
"Heh, kalau begini terus akan sulit bagimu dapat alpha. Berapa usiamu?"
"Hei kau yang lima bulan lebih tua dariku, harusnya kau tak perlu bertanya."
"Benar juga. Aku akan berusia 18 bulan depan, berarti kau akan berusia 18 oktober nanti. Heatmu akan datang sebentar lagi kalau begitu, yakin belum mau cari alpha?"
"Obat ada, kenapa harus buru-buru mengikat diri, itu sangat merepotkan."
"Kalau begitu kuberi kau peringatan. Kupastikan akulah yang akan jadi alphamu."
"Terserah apa katamu saja Oogushi-kun."
Dan angin berembus pelan menerpa wajah mereka berdua. Mengayunkan rambut kedianya dengan lembut. Menunggu badai berembus menggantikan semilirnya.
.
.
.
Takasugi sampai ke rumahnya lebih dulu. Dia pulang lebih awal dari sekolah, sementara teman-temannya yang lainnya akan menyusul setelah pulang sekolah nanti. Takasugi sudah memerintahkan pelayan dikediamannya ini untuk menyiapkan makanan, karena bisa dipastikan tiga temannya yang merepotkan tidak akan makan dulu sebelum kesini dan memilih untuk merampok kulkasnya.
Berjalan diantara lorong-lorong, Takasugi bertemu dengan Kamui yang membawa banyak makanan ditangannya. Takasugi menghentikan langkahnya dan menyandarkan tubuhnya pada tembok terdekat. Sebelum akhirnya memutuskan untuk menyambar makanan kamui yang paling atas dan dalam jangkauan tangannya, setelah memastikan kalau Kamui pasti berhenti, Takasugi mulai berbicara.
"Hari ini sepertinya kediaman kita akan kedatangan tamu." Tak pedui dengan wajah kesal Kamui, Takasugi mulai memakan sebungkus ayam panggang ditangannya.
"Hmmmm, siapa yang mau kesini? Ahhh apa teman-temanmu itu?"
"Ya, mereka akan kesini nanti. Kau terlihat bersemangat."
"Ne ne, biarkan aku sparing dengan Gintoki lagi, ne ne, Taka-chan."
"Terserah saja, tapi aku tidak suka ada yang terluka tanpa diperlukan."
"Ara ara, Gintoki tak akan terluka jika hanya melawanku, begitupun aku yang tak akan terluka jika melawannya."
"Ya ya, lakukan apapun yang kau mau." Dan sambil memakan ayamnya –Kamui yang dirampok dari dapur- Takasugi berjalan pergi.
.
.
.
.
Entah apa yang mereka pikirkan
Entah bagaimana mereka menghadapi semua masalah yang datang
Tapi mereka tak bisa lari, tidak juga bersembunyi
Semua harus mereka hadapi seorang diri
TBC
AN: buat yang masih menunggu ch-ch selanjutnya dari ini fic, tanang aja, sekarang gw pake jadwal 3-4minggu sekali, kalo minta lebih sering kayaknya gk bisa soalnya tugas banyak. Do'ain aja itu jadwal yang udah lama gk makin molor jadinya.
Nahhh see you next ch
