Title: High School Love Story

Disclaimer: Gintama Hideaki Sorachi

Pair: HijiGin, SakaZura, TakaMui slight TakaGin, YamaZura

Rate : T-M

Genre: Drama, Romance.

Warning: Yaoi BxB, OOC, Typo dimana-mana

DLDR

Disini HIJIKATA itu SEME, buat yang suka HIJIKATA jadi UKE mending KELUAR

.

.

.

Hari sudah mulai malam saat Joui4 –dengan tambahan Hijikata- meninggalkan kediaman Takasugi. Abaikan soal latihan mereka tadi, Hijikata tak bisa menantang Takasugi karena arena dikuasai oleh Kamui dan Gintoki. Pertama kali Hijikata melihat Gintoki bertarung dari awal hingga akhir dengan serius seperti itu. Harus Hijikata akui, kecuali Gintoki sedang heat, alpha-alpha biasa tak akan mungkin mengalahkannya.

Joui4 pulang sendiri karena sang tuan rumah tidak dapat mengantar –ada rapat dadakan ceritanya-. Sakamoto dan Zura berpisah jalan karena Zura harus pergi ke tempat kerja paruh waktunya, dan entah ada angin apa, Sakamoto memutuskan mengantarnya.

Sepanjang jalan, Sakamoto dan Zura hanya terdiam. Hingga akhirnya Zura memutusan untuk membuka percakapan, dengan topik paling sensitif dihidup mereka.

"Sampai kapan, kita akan seperti ini. Aku lelah." Ucap Zura.

"Maaf, tapi aku juga tidak tahu." Dan dengan menunduk, Sakamoto membalas ucapan Zura.

"Apa kau memang masih ragu?" Zura lelah, sungguh, dengan ketidakjelasan hubungan mereka berdua.

"Entahlah. Maafkan aku, aku hanya," dan Sakamoto tidak mampu melanjutkan kata-katanya.

"Tak apa. Aku mengerti." Dan dengan senyuman Zura, percakapan mereka berhenti.

.

.

.

.

Sementara itu, Takasugi dan Kamui tampak duduk berdua diberanda kediaman Takasugi. Secangkir teh ada di masing-masing tangan keduanya. Petikan samishen dari tangan Kawakami Banzai di ruang sebelah menjadi pengiring tersendiri. Keduanya meminum teh masing-masing dalam diam.

"Taka-chan, kau tidak cemburu pada Hiji-siapalah-itu, kelihatannya dia tertarik pada Gintoki." Kamui memecahkan keheningan.

"Kau sendiri, tidak cemburu pada Gintoki yang lebih menarik perhatianku dari pada dirimu?" Balas Takasugi.

"Hmmm, entah ya?" Menatap bulan purnama diatas langit sana. Mereka berdua kembali menemui keheningan.

.

.

.

.

Gintoki berhenti di tangga menuju ke rumah sewanya dan berbalik ke arah Hijikata yang –entah apa alasannya- bersikeras mengantarnya pulang. Gintoki menimbang untuk mempersilahkan Hijikata masuk atau langsung pamit kedalam. Setelah dipikir lagi, tidak sopan juga membiarkan wakil ketua kelas sekaligus wakit ketua OSIS ini tanpa menyuruhnya masuk, Gintoki memutuskan untuk menawarinya mampir.

"Mau masuk?" Tanya Gintoki.

"Kurasa, kalau kau tidak keberatan." Setelahnya, mereka berdua naik tangga menuju ke rumah sewa Gintoki.

.

.

.

.

Sementara itu, dipinggiran kota, tepatnya didalam sebuah kamar, seorang pemuda bersurai emas sedang bersiap-siap. Tas berukuran lumayan besar berada dihadapannya. Didalam tas tersebut berisi pakaian sang pemuda. Pemuda tampan yang sedang menyiapkan barang untuk kepindahannya tersebut menoleh ke arah pintu kamarnya.

"Ne, sensei. Apa benar tidak masalah aku meninggalkan sensei sendirian di kuil?" Tanya sang pemuda

"Tak masalah. Aku harus memastikan kalau semua muridku memiliki jalan yang indah di depan mereka. Dan lagi, aku tidak sendiri, adik-adikmu yang lain ada disini." Seorang pria yang diperkirakan berusia 40-an tersebut tersenyum lembut.

"Sensei, menurutmu, bagaimana reaksi nii-san saat melihatku?" Sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela, sang pemuda kembali bertanya.

"Akan sangat bagus kalau dia tidak langsung melemparmu. Paling tidak dia pasti akan langsung melemparimu dengan sesuatu." Tawa kecil muncul di bibir sang pria.

"Benar juga. Akan sangat bagus kalau dia tidak langsung melemparku keluar ruangan." Dan sang pemuda ikut tertawa.

"Nah, aku titip kakakmu ya, Kintoki." Dengan tersenyum sang guru berlalu dari kamar tersebut.

"Tentu, Shouyo-sensei." Dan sang pemuda kembali menata barang-barangnya.

.

.

.

.

Shinpachi sedang berjalan sendirian ketika dia melihat rambut orange terang berayun-ayun di taman. Merasa mengenali sang pemilik rambut, Shinpachipun menghampirinya. Dan benar saja, Kagura sedang berayun-ayun sendirian di taman, tepatnya bersama Sadaharu –anjing ras Inu Kami yang entah bagaimana bisa berukuran sangat besar- yang sedang berlarian di area kosong taman tersebut. Duduk di ayunan sebelahnya, Shinpachi mulai mengayunkan ayunan yang didudukinya pelan.

"Bertengkar lagi, Kagura-chan?" Tanya Shinpachi.

Kagura menggelengkan kepalanya sambil bergumam pelan. "Nii-san malah belum pulang seminggu ini." Ucapnya.

"Jadi kenapa kau malah berayun-ayun disini?" Shinpachi kembali bertanya.

"Nii-san belum pulang seminggu ini." Ucap Kagura.

"Kau sedih karena Kamui-san belum pulang seminggu ini?" Shinpachi memberikan tatapan bingung pada Kagura.

"Bukan." Jawabnya.

"Lalu?" Shinpachi bertambah bingung dengan tingkah bocah disampingnya ini.

"Aku sedih. Kakakku belum pulang seminggu ini. Yang bawa uangkan dia, nah uangku sudah kuhabiskan. Kalau kakak tidak pulang-pulang aku bisa mati kelaparan." Dan air mata keluar deras dari mata Kagura.

"Jadi, kau cuma kelaparan, begitu?" Shinpachi berusaha memperjelas apa yang dia dengar.

"PATTSUAAANNNNN, KELAPARAN ITU BUKAN SEKEDAR CUMA TAU! KALAU AKU MATI GARA-GARA KELAPARAN BAGAIMANA!?" Dan hujanan peluru dari payung yang dibawa Kagura segera memberondong Shinpachi.

Shinpachi yang sudah terbiasa dengan berondongan peluru Kagura bisa menghindar dengan mudah. Dia berpikir sebentar sebelum merawarkan Kagura untuk makan dirumahnya, kebetulan hari ini dia yang memasak, jadi nyawa mereka akan selamat karena terhindar dari dark matter milik Otae, kakak Shinpachi.

Setelah Kagura mengiyakan ajakan Shinpachi, mereka langsung pergi dari taman tersebut –beserta Sadaharu tentunya-. Sebuah kebetulan yang tidak menyenangkan ketika mereka bertemu Shougo dijalan, yang langsung melemparkan tendangan pada Kagura. Hubungan Kagura dengan Shouo memang lebih mirip dengan teman bertarung dari pada sepasang kekasih. Oh, apa aku belum bilang kalau mereka adalah sepasang kekasih? Tapi jangan bertanya soal mating karena Kagura belum masuk heatnya. Merasa kalau pertarungan Kagura dan Sougo akan berjalan cukup lama, Shinpachi memilih minggir untuk duduk.

.

.

.

.

Selesai dengan pertengkaran tak jelas Kagura bersama Alphanya, Shougo, dan juga selesai dengan urusan perut Kagura yang –seperti biasa- layaknya black hole, mereka berdua memutuskan untuk menuju kerumah Gintoki, numpang tidur sekalian minta bantuan mengerjakan PR. Sudah biasa bagi mereka untuk tidur ditempat Gintoki. Lebih sudah biasa lagi kalau Kagura yang berada disana, karena kakak dan ayahnya jarang pulang.

Dan disinilah mereka, mematug didepan pintu karena mendengar suara-suara yang sepertinya belum saatnya dengar. Contohnya saja, 'Hijikata-kun, jangan kasar-kas, aaaahhhhh,' atau juga 'rilekslah, atau ini akan sulit, ughhh,'.

"Apa kita, kembali lagi nanti saja ya?" Shinpachi memecah keheningan.

"Aku juga tidak tau." Kagura menanggapi.

Tapi baru mereka mau berbalok pergi, suara teriakan Gintoki dari dalam membuat mereka mengurungkan niat dan memutuskan untuk mendobrak masuk. Dan pemandangan yang mereka lihat, sungguh membuat mereka hanya mampu mematung. Gintoki yang memiringkan tubuhnya, dan Hijikata yang menarik tangannya ke belakang, sambil menginjak pinggangnya. Singkatnya, Hijikata sedang melakukan perenggangan pada tubuh uke paling beringas dialam semesta. Entah untuk alasan apa.

.

.

.

.

Pagi hari berjalan lancar, setelah menjelaskan pada Shinpachi dan Kagura kalau Hijikata hanya membantunya meregangkan lagi otot yang kaku gara-gara kurang pemanasan sebelum sparing bersama Kamui –gimana mau pemanasan kalau baru dateng langsung makan dan begitu berdiri langsung diserang-.

Datang kesekolah seperti biasa, dengan teman yang biasa, dengan pertengkaran nggak jelas yang biasa. Yang berbeda adalah keributan di sekolah. Banyak yang membicarakan soa anak baru. Akan ada murid pindahan katanya. Masuk ke kelas Gintoki dkk katanya. Bel masuk menjadi penanda apakah 'katanya-katanya' diatas menjadi nyata.

Guru yang memasuki ruang kelas meminta murid-muridnya untuk duduk, "ada murid baru yang akan memasuki kelas kita mulai hari ini. Masuk," kata sang guru.

Seseorang dengan rambut berwarna emas lurus masuk. Setelah berada disamping guru didepan kelas, dia berbalik menghadap anak kelas yang akan menjadi temannya mulai hari ini. Terlihatlah wajahnya tampan dengan mata yang seperti ikan mati berwarna hitam. 'Eh, kok mirip' adalah komentar yang keluar dari murid-murid dalam kelas. Belum selesai mereka semua mengamati wajah murid baru yang datang tiba-tiba saja-

BUAK! "KINTOKI?!"

Lemparan sepatu telak ke wajahnya dan teriakan dari Zura dan Sakamoto terjadi bersamaan.

"Ahahaha. Sakata Kintoki, Sakata Gintoki no Futago desu. Boku ga, otouto desu." Ucap sang murid baru –atau kita panggil saja Kintoki muli sekarang- setelah sepatu yang sempat mampir ke wajahnya jatuh.

"EEEEEEEHHHHHHHH?!" Adalah reaksi –hampir- seisi kelas.

.

.

.

.

Dia yang menginginkan miliknya kembali telah tiba.

Dia yang mungkin jadi penghalang terbesar telah datang.

Aaaaaa sebuah angin yang lebih kencang dari biasanya mulai berhembus.

.

.

.

.

TBC

Nggak ada cuap-cuap gaje sekarang. Ntar aja kalo udah terakhir.

Ohhhh, eh, ada deh.

Jadi, kemaren ada orang ngeflame gaje. Gw sih nggak peduli ama bacotan dia, yang mengganggu cuma bagian dia ngejelekin –atau sebutlah begitu- HijiGin , sama waktu dia bilang salam pembukaan gw kasar. Jadi sekarang mau tanya, itu salam pembukaan –penuh nada pengusiran, iya, ngusir- diatas, perlu diperalus nggak yah? Maaf sebelumnya, soalnya bacotan gw emang nggak ada penyaringnya #dibacok

Nah, see ypu next ch :*