Mobilku reseh lagi. Mesinnya tidak mau menyala. Aku benar-benar tidak tahu apa yang salah dengan mesinnya. Waktu mau ke supermarket waktu itu, Ben berhasil membuat mesinnya mau menyala. Tetapi sekarang anak itu sedang tidak di rumah. Ia sedang di sekolah, dan aku hendak menjemputnya dari rumah.
Lalu aku teringat tentang pria yang kutemui di bar, pria yang sama yang pernah tidak sengaja menabrak mobilku. Ia bilang bisa membetulkan mobil, kan? Kugigit bibirku dan meraih ponsel dalam tas. Kucari nama 'Jimmy Novak' di daftar kontak. Setelah dapat, kutekan tombol telepon.
Ada yang aneh. Karena ketika aku menempelkan ponsel ke telinga, operator berkata bahwa nomor yang kuhubungi itu salah. Menyerngit, tapi kupikir mungkin sebenarnya Jimmy itu tidak begitu hapal nomor ponselnya sendiri, lagipula saat ia memberitahuku nomornya, ia tidak sambil mengecek ponselnya padahal saat itu ia sedang memegangnya. Uuuhh ... serasa baru diberi harapan palsu.
Jadi kuputuskan untuk menelepon ke tempat servis mobil saja. Baru mau mencari dari daftar kontak, aku mendengar ada orang yang berjalan menuju garasi ini. Penasaran, aku berjalan keluar dari garasi, menemukan Jimmy Novak sedang menghampiriku.
.
.
Disclaimer: Eric Kripke. Author tidak mengambil keuntungan.
Warning: post season 11, anggap Supernatural tamat di season 11 (keterangan lebih lanjut ada di paragraf terakhir author's note di chapter 1), AR, based on canon, maafkan untuk soal geografis.
.
Forget Me Not
Chapter 4: Phone Number
by Fei Mei
.
.
"Jimmy?" tanyaku kaget.
"Uh, hei," ucapnya gugup. "Tadi aku memencet bel rumah beberapa kali, tapi tidak ada yang membukakan pintu. Lalu kulihat pintu garasi terbuka, jadi mungkin kau atau Ben ada di garasi."
Aku mengangguk. Lalu menyerngit bingung. "Um, Jimmy? Dari mana kau tahu bahwa ini rumahku?"
Jimmy tetap gugup. "Ah ... err ... kau tidak ingat? Saat kita di bar ... kau memberitahuku tempat tinggalmu di mana ... "
Masih aku menyerngit. Kucoba mengingat-ingat hari kemarin, ketika aku bertemu dengannya di bar. Sepertinya aku tidak ingat soal memberitahunya alamatku. Masa iya sebenarnya ia menguntitku saat pulang kemarin? Atau mungkin aku sudah minum terlalu banyak makanya jadi tidak ingat kalau aku memberitahunya alamatku? Bisa jadi, sih.
"Oh," gumamku. "Oh! Kebetulan sekali! Tadi aku mencoba menghubungimu—mesin mobilku mati padahal aku harus segera menjemput Ben di sekolahnya. Dan, eh, operatornya bilang nomormu salah."
Sekarang Jimmy yang menyerngit. "Nomorku salah?"
Aku mengangguk, lalu kubacakan nomornya yang ada di ponselku. "Apa itu benar?"
Jimmy mengecek ponselnya. "Oh, maaf, ada satu digit angka yang salah. Yang benar adalah—"
"—Oh, astaga. Batere ponselku habis! Ah, mungkin nanti kau bisa menuliskannya di kertas?" tanyaku dan ia mengangguk. "Oke, uh, bisa tolong mobilku?" Ia mengangguk lagi.
Jadi kami masuk ke garasi. Jimmy membuka bagian depan mobilku dan memeriksanya. Setelah itu kulihat ia mengambil kotak perkakas di meja kayu, membukanya dan mengambil suatu alat, mulai berbuat sesuatu pada mesin mobilku.
Aku jadi tercengang sendiri. Sepertinya pemandangan Jimmy dengan mobil di garasiku seperti sekarang bukanlah hal yang baru. Aku merasa pernah melihat pemandangan ini. Tapi kapan? Ia tidak pernah datang ke rumahku sebelumnya, kan?
"—Lisa, hei, kau dengar?" panggilnya. Aku mengerjap. Daritadi ia memanggilku dan aku melamun, ya? "Kubilang, coba nyalakan mobilnya."
Langsung aku masuk mobil dan memutar kunci, bisa kudengar suara mesinnya yang menyala. Aku langsung lega sendiri. Jadi aku turun dari mobil lagi sambil Jimmy menutup bagian depan mobilku. "Terimakasih, oh, kau benar-benar penyelamat." Ia menyengir kecil. "Jadi, berapa?"
Ia menyerngit. "Apanya yang berapa?"
"Ongkosnya? Harga jasanya?"
"Oh, tidak, tidak usah," katanya, "tidak ada yang salah dengan mobilmu, hanya ada yang kendor sedikit, harusnya tidak akan jadi masalah lagi."
Aku mengangguk sambil tersenyum. "Aku benar-benar berterimakasih, Jimmy," kataku lagi. Aku ingin berniat segera masuk mobil biar langsung menjemput Ben, tapi mulutku malah mengucapkan sesuatu yang bahkan membuat diriku sendiri terkejut. "Hei, bisa kita keluar lain waktu? Minum kopi atau apa? Kalau senggang?"
Kulihat ia agak tercengang. Kuharap perkataan itu tidak aneh, tidak terdengar sebagai perempuan agresif. Tapi kalau aku jadi dia, aku akan berpikir bahwa perempuan yang mengatakan kalimat itu sedang berusaha mendekatiku.
Memang aku terkejut akan ajakanku sendiri itu. Tapi Jimmy membuatku lebih terkejut lagi. "Tentu," jawabnya sambil tersenyum kecil.
Entah bagaimana, tapi hatiku melompat girang. Sebisa mungkin aku tidak tersenyum terlalu lebar di hadapan pria ini. Kuambil secarik kertas dan pena dari mobilku, kusodorkan keduanya pada Jimmy. "Oke, uh, kau bisa tulis nomormu di kertas ini. Aku akan menghubungimu nanti setelah kembali ke rumah habis menjemput putraku."
Jimmy mengambil kertas dan pena itu dan menuliskan nomornya. Habis itu aku menyimpan kertas dan pena, dan mengendarai mobilku keluar dari garasi.
Oh, Lis, kau bukan gadis remaja lagi!
Tapi kenapa rasanya bisa semenyenangkan ini?
.
.
DEAN's POV
.
"Kau memberikan nomormu yang asli padanya?" ulang Sam.
"Ya, Sam. Dia bilang akan menghubungiku," akuku.
"Kenapa tidak kau yang menghubunginya? Bukankah kau masih menyimpan nomornya?" tanyanya.
"Tidak. Waktu Cas menghapus ingatannya, aku juga menghapus nomor ponsel dan telepon rumahnya Lisa."
"Oh, Dean, astaga ... "
Aku menyerngit. Yang barusan itu adalah suara Mum. Berarti Mum juga sedang mendengarkan pembicaraan antara aku dan Sam!
"Apa itu Mum?" tanyaku.
"Ya, ini aku, Dean," jawab Mum.
Kuputar bola mataku. "Baiklah, aku sudah bicara dengan Lisa. Aku boleh pulang ke Bunker sekarang?"
Aku mendengar suara helaan dari seberang. Tapi akhirnya yang bilang 'boleh' adalah Sam. Jadi aku mengendarai Baby pulang ke Bunker.
Bukannya aku menunggu-nunggu telepon atau pesan masuk dari Lisa. Tapi sepanjang perjalanan pulang, aku agak berpikir biar ia jangan menghubungiku. Aku merindukannya, kuakui itu. Kuakui juga bahwa aku masih peduli padanya dan Ben. Jadi karena aku peduli pada mereka, aku tidak ingin mereka sampai mengingat kenangan buruk mengenaiku. Tapi aku miris sendiri setiap kali tadi perempuan itu memanggilku dengan nama 'Jimmy'. Bukan salahnya, sih, tapi kan tetap saja ...
Tak terasa sudah malam. Mum mungkin sudah menanyakan sampai tiga kali kalau Lisa sudah menghubungiku sejak tadi. Kujawab jujur bahwa memang ia belum menghubungiku. Agak cemas juga sih, aku. Bagaimana kalau ia tidak menghubungiku karena ada suatu masalah? Tapi aku tidak ingin terlalu memikirkannya. Malah beranggapan bagus kalau ia tidak menghubungiku.
Huh, baru ingin merasa tenang dan masuk kamar, ponselku berbunyi. Segera kulihat layarnya. Ada panggilan masuk dari nomor yang tak kukenal. Kupikir mungkin itu adalah Lisa, jadi aku angkat saja.
"Halo?" kataku.
"Um, ini Lisa," ujarnya pelan.
Ternyata memang benar dia. "Oh, halo, Lis."
"Kau Jimmy Novak?" tanyanya hati-hati.
"Ya, Lisa. Ini Jimmy."
" ... tapi ... nomor yang kau berikan padaku tadi siang ternyata sudah tersimpan di ponselku, dan namanya di daftar kontak adalah Dean ..."
Apa?
.
.
LISA's POV
.
"Kok, lama sih, Mum? Tumben," ujar Ben begitu ia masuk mobil.
"Maaf, ya, tadi mobilnya bermasalah lagi," akuku.
Ia mengangkat bahu. "Tidak apa, sih. Lalu kau panggil mekanis?"
Aku tersenyum kecil."Nyaris. Jimmy datang ke rumah dan langsung membetulkan mobil ini."
Ben bersiul pelan, membuatku menoleh padanya. "Jimmy Novak, kan?" Aku mengangguk. "Dia cukup tampan, kan, Mum?"
Kuyakin aku merasa pipiku menghangat. "Oh, diamlah."
Putraku ini terkekeh. "Sebentar lagi aku lulus sekolah dan kau tahu kuliah yang kuincar itu membuatku harus tinggal di asrama. Dan jika saat itu, kalau selama aku tinggal di asrama, lalu mendapat kabar bahwa kau dan Jimmy berkencan, aku tidak akan heran."
"Ben, kau tidak boleh menggoda ibumu seperti itu, tidak sopan," kataku. Tidak dengan galak.
"Aku tidak menggodamu, Mum, hanya memberitahu saja," ujar Ben geli.
Aku terkekeh kecil dan menggeleng. "Yah, kupikir ia cukup tampan ..."
"Bagaimana ceritanya sampai ia bisa datang ke rumah?" tanya Ben kemudian.
"Oh, kami bertemu di bar dan aku memberitahunya alamat rumah kita, jaga-jaga kalau mobil ini bermasalah—ia seorang yang sangat paham otomotif katanya. Tadi aku coba telepon dia, tidak nyambung. Saat mau telepon tempat servis, Jimmy muncul di garasi lalu—huh ... " aku terhenti sebentar, "aku lupa menanyakan bagaimana ceritanya ia bisa sampai mampir. Tapi kemudian ia mengecek dan membetulkan mobil ini, dan bilang ternyata nomor yang ia berikan salah. Jadi ia menuliskan nomor yang benar di kertas."
"Huh. Mungkin dia memang sengaja datang untuk bertemu dengan Mum?" tanya Ben. Aku sedang tidak menoleh padanya saat ini, tapi kuyakin dan percaya ia sedang menyengir.
"Ben ... "
"Siapa tahu, kan?" ujarnya sambil terkekeh.
Mau tak mau aku terkekeh juga, tapi menggeleng pelan. Jimmy itu seorang montir, pekerjaannya bisa dimana-mana. Mungkin tadi ia memang ada di sekitar rumahku, lalu merasa sekalian ingin menyapa ke rumahku. Bisa saja, kan?
.
.
Selesai makan malam dan mengerjakan membersihkan dapur, aku segera mandi dan menyiapkan tempat tidur. Mataku menangkap ponsel yang kutaruh di meja di samping ranjang, kepikiran soal Jimmy. Mungkin aku bisa menghubunginya untuk mengucapkan selamat malam atau apa. Atau mungkin bisa mengajaknya minum kopi besok.
Kugigit bibirku. Oh, astaga, aku benar-benar seperti seorang gadis remaja yang sedang berusaha mendapatkan hati gebetannya!
Aku mengambil kertas tempat di mana Jimmy menuliskan nomor ponselnya. Kuketikkan digit-digit nomor itu ke ponselku, setelah memastikan nomornya benar, aku menekan tulisan'panggil'. Setelahnya, aku menyerngit. Jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Nomor yang Jimmy berikan, yang kuketik dan langsung kutelepon ... deret nomor itu langsung berubah menjadi tulisan 'Dean' ketika aku menekan 'panggil'.
Siapa 'Dean'? Aku tidak tahu. Bagaimana ceritanya aku bisa menyimpan nomor Jimmy dengan nama Dean? Aku tidak tahu.
Kemudian orang dari seberang mengangkat teleponnya. Dengan hati tidak tenang aku mendekatkan ponselku ke telinga.
"Halo?" Itu suara Jimmy. Berarti mungkin ini nomornya. Tapi kenapa aku telah menyimpannya lebih dulu dengan nama Dean?
"Um, ini Lisa," cicitku.
"Oh, halo, Lis."
Kuteguk ludahku dengan sangat susah payah. Mau dia Jimmy Novak atau Dean, aku jadi penasaran. Aku ingin tahu. "Kau Jimmy Novak?" semburku begitu saja.
"Ya, Lisa. Ini Jimmy."
Jantungku berdegup sedikit lebih kencang lagi, dan aku bisa merasakan jemariku dingin. " ... tapi ... nomor yang kau berikan padaku tadi siang ternyata sudah tersimpan di ponselku, dan namanya di daftar kontak adalah Dean ..."
Hening. Ia tidak membalas perkataanku, aku juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Sampai beberapa detik, ia menggumamkan namaku dengan pelan.
"Jadi, eh—"
BUK! BUK! BUK!
Aku termegap. Suara apa itu? Asalnya dari tangga. Tangga. Langsung saja aku keluar dari kamar dan melihat ke tangga. Hatiku mencelos melihat putra tunggalku tergeletak di lantai bawah. Aku langsung memekik nama putraku sambil menuruni tangga. Kuraih Ben dan menggoyang pelan tubuhnya.
"Ben, Ben, sayang?" panggilku cemas, tapi anak ini tidak membuka matanya. Kemudian mataku menangkap noda berwarna merah di lantai. Dengan gemetar aku mengusap pelan noda itu. Basah. Dan aku mataku menyusuri bagian kepala Ben, melihat ada bekas darah, tidak terlalu banyak, tapi itu darah. Tapi aku masih bisa merasakan detak jantungnya, ia hanya tidak sadarkan diri.
"LIS?! LISA?! ADA APA DENGAN BEN?!" Suara Jimmy. Aku tidak sadar bahwa aku masih memegang ponselku. Suara pria itu sangat keras, mungkin ia berteriak dari ponselnya.
Dengan sesunggukkan aku menempelkan ponsel itu ke telingaku lagi. "Jim—Jimmy, Ben—oh, astaga, dia jatuh dari tangga!"
"Jatuh?!" tanyanya. "Baiklah. Lis, berusahalah untuk tenang dan bawa Ben ke rumah sakit terdekat. Aku akan menyusul."
"Bagaimana bisa aku tenang kalau putraku jatuh dari tangga?!"
"Kalau kau tidak tenang, kau tidak akan bisa mengemudi!"
"Tapi—"
"Lis, tarik nafas pelan-pelan," katanya, aku menurut. "Hembuskan perlahan." Aku menurut lagi. "Lakukan itu terus sampai kau yakin bisa mengemudi dengan baik. Aku akan segera jalan dari sini. Kalau aku sudah dekat rumahmu, aku akan telepon untuk tanya kau sudah di rumah sakit atau masih di rumah, oke?"
"O-oke," jawabku. Lalu sambungan teleponnya terputus.
Tarik nafas. Hembuskan.
Ayolah, Lis.
.
.
DEAN's POV
.
Aku langsung mengantungi ponsel dan dompet dalam saku celana, kemudian meraih kunci mobil dan langsung keluar kamar. Pas sekali, aku berpapasan dengan Mum yang mungkin baru ingin kembali ke kamarnya. Ia menyerngit melihat tampangku.
"Dean, ada apa?" tanyanya. "Kau pucat sekali."
"Um, aku harus segera ke rumah sakit," ujarku. "Ben jatuh dari tangga, Lisa membawanya ke rumah sakit, aku akan menemuinya di sana."
"Oh, astaga. Kau mau kutemani?" tanya Mum cemas.
Aku menggeleng dengan cepat. "Tidak, tidak usah, aku akan baik-baik saja sendiri."
Mum mengangguk. "Hati-hati, Dean."
"Tentu saja, aku selalu mengendarai mobil dengan hati-hati walau buru-buru," ucapku berusaha meyakinkannya.
Sekarang Mum menggeleng. "Bukan soal mengendarai mobil ... hanya saja, Dean, berhati-hatilah."
Aku menyerngit kecil. Tapi perlahan mengangguk juga.
.
.
~BERSAMBUNG~
.
.
