Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Cerita ini dibuat hanya untuk hiburan dan meramaikan fandom NaruSasu. Tidak ada keuntungan material apapun, selain kepuasan penulis dan pembaca.
[Chaptered]
Title : Sapi Hamil
Chapter : 02 / 03
By : Gatsuaki Yuuji
Genre : Humor / Fantasy
Main Cast : Uzumaki Naruto & Uchiha Sasuke
Rating : T
Sum : Aku Uchiha Sasuke, terkenal dengan sebutan 'Sapi Hamil', karena aku memiliki postur tubuh yang sangat gemuk. Aku menyukai seorang alpha bernama Uzumaki Naruto. Meskipun dia membenciku, mengibasku karena jijik melihatku, aku tetap menyukainya. Aku ingin dia menikahiku.
Masih Sasuke PoV
Saat aku membuka mata, yang kulihat adalah sebuah cahanya yang sangat menyilaukan. Ada suara-suara aneh yang tidak bisa kudengar jelas, suara itu seperti berasal dari sampingku.
"Sasuke? Cucuku, Sasuke?"
Suara itu terus bergema di telingaku. Aku masih belum bisa melihat dengan jelas. Semuanya begitu putih.
"Sasuke?"
Kepalaku miring ke kiri, aku yakin suara itu berasal dari sana. Ya, tepat sekali. Aku bisa melihat siluet seseorang, tapi masih tidak begitu jelas.
"Ini kakek, sayang." Sebuah usapan halus menyentuh puncak kepalaku.
Aku mengerjap berkali-kali agar penglihatanku jelas. Aku bisa melihat seorang pria berambut hitam panjang, gaya rambutnya sungguh unik.
"Sasuke." Pria itu bersuara lagi.
"Tempat apa ini?" aku berusaha berdiri, pria itu menahanku. Tubuhku sulit digerakkan, seperti bukan tubuhku saja.
"Jangan banyak bergerak dulu. Tubuhmu masih belum terbiasa."
Apa maksud pria ini?
"Kau koma dua bulan."
Koma? Aku koma selama dua bulan? Ah! Pantas saja semuanya tampak begitu asing.
"Kau butuh sesuatu? Akan kakek ambilkan."
"Apa paman adalah kakekku?" Aku ragu dengan ucapannya. Dia masih terlihat sangat muda untuk kupanggil 'kakek'. Seharusnya aku memanggilnya 'paman'.
Pria itu tampak terkejut mendengar pertanyaanku.
"Kau tidak ingat punya kakek setampan ini?"
Aku menggeleng seadanya. Aku sungguh tidak ingat jika aku memiliki seorang kakek yang masih sangat muda dan narsis.
"Lalu, apa kau ingat namamu?"
"Nama?"
"Hn! Namamu."
Aku berpikir sejenak. Aku sepertinya mulai pikun. Sambil berpikir, tidak sengaja aku melihat bayanganku yang terpantul di kaca jendela. Sosok bertubuh gemuk dengan pipinya yang gempal. Ah! Aku ingat namaku!
"Sapi hamil! Namaku sapi hamil" Aku tersenyum memperkenalkan diriku pada paman yang mengaku sebagai kakekku. Aku tidak ingat nama asliku, tapi aku hanya ingat nama bekenku.
"Dokter!" paman itu langsung berlari keluar.
Mengapa paman itu memanggil dokter? Apa aku sakit?
"Ah! Aku ternyata sedang di rumah sakit dan memang sedang sakit." Aku dapat melihat selang-selang menancap di tubuhku.
Aku juga mengenali tempat yang kutinggali ini adalah sebuah rumah sakit. Mengapa aku bisa di sini ya?
Singkat cerita, dokter mengatakan bahwa kecelakaan yang kualami membuatku amnesia. Kurasa aku memang amnesia, karena aku merasa asing dengan lingkungan dan orang-orang sekitar. Aku tidak mengenal mereka semua. Sungguh!
Mereka bilang, namaku Uchiha Sasuke, bukan sapi hamil.
Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit. Paman -maksudku kakek mengajakku ke pertemuan keluarga.
"Mereka adalah keluarga Uzumaki." Kakek memperkenalkan seorang pria berambut kuning jabrik yang bernama Uzumaki Minato, dengan istrinya seorang wanita berambut merah disanggul bernama Uzumaki Kushina, beserta anak laki-laki yang seumuran denganku, kakek tidak menyebutkan nama anak itu. Pasangan suami istri itu terlihat seumuran dengan kakek. Aku tidak mengerti, mengapa kakek terlihat begitu awet muda?
"Ne, Sasu-chan! Apa kau mengenal anak ini?" tanya Kushina-san sambil menepuk pundak anak laki-lakinya.
Aku menggeleng.
"Kau yakin, Sasu-chan?"
"Hn."
"Namanya Uzumaki Naruto, apa kau pernah dengar?"
"Tidak. Ini pertama kalinya aku mendengar nama itu."
Anak laki-laki yang bernama Uzumaki Naruto, hanya mendengus memandangku, dia terlihat tidak bersahabat. Akupun tidak suka melihatnya.
"Mengapa kau melihatku seperti itu, Dobe?" ketusku yang tidak suka caranya memandangku. Seolah-olah aku ingin mencuri makanannya.
"Karena aku membencimu, sapi hamil!"
"Kau pikir aku suka melihatmu? Cih!"
"Berpura-pura amnesia? Cih! Licik sekali ca..." belum sempat Dobe melanjutkan ucapannya, Kushina-san langsung memiting lehernya. Kushina-san adalah tipe ibu yang galak, aku suka melihat ibu yang seperti itu.
"Ma, maafkan ucapan Naruto tadi." Minato-san membungkuk.
"Ti, tidak apa-apa." Kakek memakluminya.
"Sudah kami putuskan untuk menepati janji dan bertanggung-jawab atas kejadian yang menimpa Sasuke-kun. Kami akan menikahkan Sasuke-kun dengan Naruto minggu ini."
"HEH?!" Aku dan Dobe dibuat terkejut dengan keputusan Minato-san.
"Aku tidak mau menikah dengan sapi hamil ini!" bantah Dobe menunjuk kasar ke arahku.
"Aku juga tidak mau menikah dengan si jelek ini!" aku balas mengejeknya. Ya, Dobe ini memang jelek. Sangat!
"Cucuku, dulu kau sangat ingin menikah dengan si rubah jelek ini," bisik kakek yang masih bisa didengar oleh mereka.
Benarkah aku pernah berpikir senajis itu?
"Hn! Anakku yang jelek ini, juga suka padamu," tambah Kushina-san.
"Aku tidak pernah menyukainya! Aku bukan gay! Aku masih suka dada bes..."
"Naruto," sela Minato-san, "Sasuke-kun seperti ini karena ulahmu. Sebagai alpha, kau harus gentle. Jangan jadi banci!"
"Tapi, ayah... Aku bukan gay. Kalaupun aku gay, aku tidak ingin memiiki istri besar seperti dia..."
Istri? Hey! Aku ini laki-laki!
"Tenang saja, Naruto-kun. Sasuke bisa langsing kok. Bukankah dia terlihat lebih kurus dari biasanya?" kakek meremas-remas lemak di lenganku.
Hn. Aku jauh lebih kurus dari foto-fotoku sebelumnya yang diperlihatkan kakek. Mungkin selama koma, tubuhku mulai mengempes.
"Jika dia tidak langsing selama satu bulan, aku berhak untuk tidak menikahinya!" tegas Dobe.
"Setuju!" angguk kakek dengan sangat yakin, "Sebelum satu bulan, sapi hamil ini akan berubah menjadi pangeran yang menawan!"
Kakek, kau terlalu lebay!
Aku selalu penasaran dengan diriku sebelumnya. Aku itu seperti apa ya? Apa benar aku sangat menggilai Dobe?
Jawabannya terjawab setelah aku menemukan empat jilid buku diaryku.
Di sana banyak tertulis tentang Naruto, Naruto dan Naruto. Sepertinya dulu hobbyku adalah menstalker Dobe. Aku jadi malas membacanya. Aku langsung membaca jilid terakhir dan lembaran terakhirnya.
Aku ingin menikah dengan Naruto!
Aku harus langsing, agar Naruto klepek-klepek melihatku!
Hanya dua kalimat inilah yang terekam jelas di otakku. Ternyata aku memang memiliki impian senajis itu! Tapi, mengapa aku merasa jika impian itu terwujud akan membuatku menjadi orang yang paling bahagia sedunia?
Kakek juga bilang bahwa aku harus menikahi Dobe, karena itu impian terbesarku. Meskipun sekarang aku membencinya, kakek yakin aku bisa mencintainya seperti dulu lagi. Dan kakek juga memotivasiku untuk tidak mudah menyerah mengejar cinta Dobe, agar cintaku tidak berat sebelah.
"Kakek! Aku harus kurus!" teriakku.
Kakek mengawasi pola makanku, mengatur jadwal olahraga, meracik berbagai obat pelangsing. Obatnya sungguh mujarab sehingga aku diare.
Aku tidak pernah keluar rumah ataupun bersekolah, karena aku merasa asing dengan wilayah ini. Aku lebih fokus pada progam langsingku.
Kakek bilang, jika aku langsing, aku akan secantik ibuku. Hn! Ibuku memang cantik. Dan aku juga mewarisi sebagian besar darah ibuku.
"Dobe pasti akan klepek-klepek melihatku!" Aku berseringai di depan cermin, melihat postur tubuhku yang mulai kempes.
"Cucuku, kau tidak boleh berseringai seperti itu." Kakek menarik-narik pipi gempalku, "Yang berseringai adalah orang jahat. Ayo, senyum!"
Aku tersenyum selebar mungkin. Mata sipitku nyaris tertutup saat tersenyum.
"Cucuku memang manis saat tersenyum!"
Tidak terasa sudah satu bulan. Aku dan kakek bertemu kembali dengan keluarga Uzumaki. Selama satu bulan ini, Dobe tidak pernah menghubungiku. Tidak hanya Dobe, bahkan teman-teman sekolahku. Aku juga menyadari bahwa nama kontak di ponselku hanya ada 'Matahariku' dan 'Kakek'. Aku sungguh forever alone.
"Astaga! Apa kau benar-benar, Sasu-chan?", Kushina-san mencubit-cubit pipiku. Kushina-san tampak terkejut melihat penampilanku yang langsing singsret ini.
"Hn!" Aku memaksakan diri tersenyum, menahan sakitnya cubitan dari Kushina-san.
"Kau benar-benar manis, Sasuke-kun! Kami tidak salah pilih menantu!" Minato-san tersenyum bangga.
"Tentu! Kalian tidak salah pilih!" sambung kakek.
Mereka bertiga saling terkikik. Sedangkan Dobe tetap memandangku dengan wajah tidak suka. Tadi, aku sempat melihat wajah kagetnya saat melihat tubuh langsingku.
"Ayo, kita menikah, Dobe!" ucapku yang membuat wajah Dobe memerah dengan kedua tangan terkepal menahan amarah.
Tak lama kemudian, wajah garang nan jelek itu tersenyum.
"Kau memang cantik, is-tri-ku."
"Aku tidak cantik, aku tampan, sa-yang-ku."
"Kau pasti se-nang menikah denganku."
"Tentu! Aku akan sangat se-nang menikahimu."
"Oh! Kalian sungguh to twit~" Kushina-san menatap kami dengan mata berbunga-bunga.
Meskipun ucapan kami terdengar so sweet di telinga mereka, tapi bagi kami, ini terdengar sebagai deklarasi perang.
Sepertinya akan sulit untuk mendapatkan cintanya, tapi tetap semangat! Dan jangan menyerah!
Langsing saja aku bisa, apa lagi mendapatkan cintanya.
Itu mah kecil!
Kamipun melangsungkan upacara pernikahan di sebuah kuil kecil di pulau Konoha. Upacara ini hanya di hadiri pihak itu-itu saja. Ah! Ada bertambah satu yaitu, Uzumaki Hashirama -kakek Dobe yang wajahnya setara dengan kakek. Sungguh aneh dengan kakek-kakek zaman sekarang! Apa kelak aku tua nanti, wajahku akan awet muda juga seperti mereka?
Kini, kami sedang berkumpul menyantap makan malam di sebuah penginapan dekat kuil. Para tua-tua sedang sibuk membahas tentang obat buatan kakek. Obrolan ini terasa membosankan. Aku hanya mendengar seadanya, pandanganku terfokus dengan cincin emas yang melingkar di jari manis kananku.
"Aku sudah menikah dengan orang yang kucintai." Entah apa yang membuatku tersenyum puas. Ya, aku merasa senang hari ini.
"Oh, cucuku~" kakek baruku mencubit pipiku dengan gemas. Tidak gendut, tidak langsing, mengapa semua suka mencubit pipiku?
"Aduh, ayah! Jangan mencubit Sasu-chan terlalu kuat, nanti suaminya marah!" Kushina-san melirik Dobe yang sedang meneguk sake. Dia tidak menyukai pernikahan ini.
"Hn. Tidak apa, kek! Cubit saja sepuasmu! Ehehehe..." wajah Dobe mulai memerah karena mabuk.
"Cubit dia seperti ini!" Dobe menarik pipiku dengan sangat kuat.
"Sakit, Dobe!" Aku menampar tangannya.
"Kenapa? Kau tidak suka aku menyentuhmu, istriku?" Wajahnya mulai mendekat ke wajahku, hidungnya mengendus-endus seperti guguk, "Dulu kau sangat ingin aku menyentuhmu."
"A, aku tidak ingat!" Aku memalingkan wajahku ke arah lain. Mengapa wajah jelek itu dekat sekali? Membuatku gugup saja!
"Kau pasti suka ini." Dobe menarik daguku, lalu menempelkan bibirnya ke bibirku. Tangannya mencengkram kuat kepalaku agar tidak bergerak. Lidahnya mendesak masuk ke mulutku. Sebisa mungkin kudorong lidah itu agar tidak memasuki mulutku, aku tidak suka rasa sake ini!
"Ehem!" sebuah deheman kuat menghentikan aktivitas silat lidah kami, "To, tolong dilanjutkan di kamar saja," saran kakek yang tidak kuat melihat kami bersilat lidah.
"Ayo, istriku! Kita lanjutkan di kamar!" tanpa kusuruh, Dobe langsung menggendongku ala bridal, menggotongku ke kamar lalu menutup pintu kamar.
BuuuuK
Tanpa aba-aba, dia menjatuhkan tubuhku begitu saja.
"Ouch!" pantat dan punggungku sakit. Untung saja, lantainya terbuat dari tatami, tapi tetap saja sakit.
"Apa kau sudah puas telah menghancurkan harga diriku?" Dobe melempariku dengan bantal, "Seharusnya aku menikahi Hinata-chan! Bukan kau, sapi hamil!"
Aku hanya diam mendengar curhatannya sambil memeluk bantal yang dilemparnya tadi. Entah mengapa, ucapannya membuatku sakit hati.
"Aku membencimu, sangat membencimu!"
Apa seharusnya kami tidak perlu menikahi. Tapi, kesempatan ini hanya datang sekali. Aku takut, jika aku menolak pernikahan ini, aku akan menyesal seumur hidup.
"Aku bukan gay! Aku masih menyukai dada wanita!"
"Mengapa kau diam saja, sapi hamil!" Dobe lagi-lagi melempariku dengan bantal.
Tidak terima perlakuannya, aku balas melemparinya dengan bantal.
"Mengapa kau begitu membenciku?"
"Itu karena kau menjijikkan!" dia melempariku lagi.
"Sekarang aku sudah langsing! Apa aku masih menjijikkan?" aku balas melempar lagi. Setiap perkataan yang terucap, selalu dihadiahi lemparan bantal sebagai balasan.
"Kau sangat murahan!"
"Murahan?! Memangnya aku suka melepas celanaku dan menungging di depan umum?"
"Bukan murahan yang seperti itu!"
"Lalu yang seperti apa?"
"Kau suka merayuku dengan kata-kata yang menjijikkan!"
"Merayumu?! Aku tidak mungkin merayu rubah jelek sepertimu!"
"Jangan berpura-pura pikun, sapi hamil!"
"Untuk apa aku harus berpura-pura pikun? Jika aku berpura-pura pikun, mungkin sekarang aku akan melepas semua pakaianku, memaksamu untuk menghamiliku!"
Ucapanku membuat wajahnya memerah, aku juga merasa malu telah berkata mesum seperti itu. Apa dulu, aku memang semesum ini?
"A, aku sungguh tidak ingat..." ucapku menunduk malu, "Kakek bilang bahwa aku sangat menggilaimu. Aku tidak mungkin menggilai rubah jelek sepertimu..."
"Aku lebih tampan darimu, sapi hamil!"
"...Tapi setelah membaca buku diariku, ternyata aku memang sangat menggilaimu." Aku membenamkan wajahku ke bantal, "Aku bahkan memiliki impian untuk langsing dan menikah denganmu."
"Kau sungguh egois! Tidak punya rasa malu! Dasar homo menjijikkan!"
"Hn," aku mengangguk, ucapannya memang benar, "Maafkan aku."
Tanpa sadar aku menangis seperti orang bodoh. Aku memang bahagia dan puas karena impianku terwujud. Tapi aku telah merusak hidup Dobe yang normal. Dobe bukanlah gay sepertiku.
Aku memang egois.
Keesokan pagi harinya, aku dan Dobe berangkat ke Pulau Kiri dengan menggunakan kapal pesiar. Ini pertama kalinya aku naik kapal dan menyeberang ke pulau Kiri. Setelah menikah, kami pindah ke rumah lama Dobe di Kiri. Orang tua Dobe merasa bahwa kami harus tinggal berdua saja di sana, agar lebih rukun. Kakek juga memberiku obat pasti hamil, aku menerimanya sambil tersenyum.
Tanpa sepengetahuan kakek, aku diam-diam melempar obat itu ke laut. Aku tidak membutuhkan obat itu, karena Dobe bukan gay, dia tidak akan tegang jika melihatku bugil sambil mengangkang atau menungging sekalipun.
"I AM THE KING OF THE WORLD!" teriakku ala Jack di film Titanic. Aku sungguh bosan sendirian, tidak ada yang mengajakku berbicara. Dobe sedang duduk santai menikmati koktail dan hembusan angin laut.
Aku mengeluarkan ponselku, meminta Dobe untuk memfotoku yang sedang bergaya Titanic. Dobe tidak mau, tapi aku tetap memaksanya hingga dia marah dan mengibaskan ekornya, membuatku terhempas jatuh ke lautan.
BYuuuuR
Seingatku, aku bisa berenang, tapi aku lupa caranya. Dalam kepanikan, aku berusaha mengayuh-ngayuh tanganku, menyepak-nyepakkan kaki, agar aku tidak semakin tersedot ke dasar laut. Saat aku kehabisan nafas, muncul sebuah tangan yang menjambak rambutku dan membawaku ke permukaan.
"Uhuk uhuk..." hidung dan tenggorokanku kemasukan banyak air.
"Dasar sapi hamil! Selalu saja menyusahkanku!" samar-samar aku mendengar Dobe memarahiku. Ternyata Dobe telah menyelamatkanku.
"Thanks, Dobe!" aku tersenyum memegang lengan kekarnya melingkar di leherku.
Rambut jabriknya yang basah berkilauan terkena cahaya matahari. Sekilas dia terlihat... keren. Ah! Tidak, tidak! Dia cuma kebetulan keren karena bisa berenang!
Pulau Kiri memang tidak sebesar dan sepadat pulau Konoha. Tidak banyak gedung-gedung bertingkat. Aku menyukai suasana yang seperti ini.
Rumah kami tidak bertingkat dan sederhana, tapi memiliki halaman yang luas. Kita bisa mengajak warga sekitar untuk menari ala Bollywood di sini.
Dari jendela kamar rumah kami, aku dapat melihat hamparan langit yang sangat luas.
"Ini kamarku! Kau tidur di luar!" Dobe melempar ranselku keluar kamar.
"Lalu, aku tidur dimana?"
"Terserah! Asalkan tidak di kamarku!"
Aku memilih untuk tidur di ruang keluarga. Ruangan ini, kusulap menjadi kamarku. Ruangan ini cukup besar daripada kamar Dobe. Ada sofa, meja dan TV juga lho!
Selain itu, dekat dengan dapur. Aku bisa memasak sambil menonton TV. Ah! Tapi aku kan tidak pintar memasak.
Malam harinya, aku tidak bisa tidur karena merasa asing dengan lingkunganku. Berkali-kali membalik badan, hingga aku terjatuh dari sofa. Aku memang tidak bisa tidur cantik di sofa. Akhirnya aku mendorong sofa dan meja ke sudut ruangan, dan memilih untuk tidur beralas karpet.
Masih belum bisa tidur, aku mengeluarkan empat buku diary dari ranselku. Aku mulai membaca buku pertama. Buku itu berisi tentang awal aku bertemu dengan Dobe.
Naruto suka ramen.
Berdasarkan diary yang kubaca, Dobe suka ramen. Jadi, pagi ini aku memasakkan ramen untuknya. Karena kami sudah menikah dan tinggal bersama, aku tidak ingin kami saling bermusuhan. Meskipun aku tidak layak menjadi istrinya, setidaknya aku ingin berteman dengannya.
"Ohayou, Dobe!" sapaku saat melihat Dobe menguap lebar. Dobe tidak menghiraukanku, dia dengan santainya duduk di sofa lalu menyalakan TV.
"Kau telah memasuki kamarku, Dobe!"
"Ini ruang keluarga, bukan kamarmu, sapi hamil!"
"Jangan panggil aku 'sapi hamil' karena aku sudah langsing sekarang!"
"Mau selangsing apapun, kau tetaplah sapi hamil!"
Dia benar. Aku lebih terkenal dengan nama 'sapi hamil' daripada Uchiha Sasuke.
"Apa yang kau lamunkan? Bawa ke sini ramenku!" perintah Dobe dengan gaya boss.
Segera kubawakan semangkuk ramen untuknya. Aku duduk di karpet sambil meletak dagu di atas meja. Mengamati Dobe yang sedang menyantap ramennya dengan rakus.
"Wajah jelek ini...mengapa aku begitu menggilainya?" gumanku yang terdengar oleh Dobe.
"Apa maksudmu, sapi hamil?"
"Mengapa aku bisa menggilaimu, Dobe?"
"Tentu saja karena aku tampan, kuat dan keren!" jawab Dobe dengan sombongnya.
Ucapannya sama dengan yang kubaca di diary. Tapi bagiku, itu bukan alasan yang tepat untuk mencintainya.
"Menurutku, kau tidak seperti itu."
"Kalau aku tidak tampan, kuat dan keren, kau tidak mungkin terus menempeliku, hingga membuatku malu!"
"Malu?" Aku semakin tertarik dengan pembicaraan ini. Aku langsung merayap ke sofa dan duduk di sampingnya, "Memangnya aku melakukan apa, sehingga kau malu?"
"Banyak!"
"Apa saja itu? Apa aku pernah menciummu? Menelanjangimu? Atau..."
PLaaaK
Dobe langsung menamparku dengan ekornya. Lalu kakinya menendangku hingga terjatuh ke lantai.
"Bicaramu mesum sekali!"
Aku menyeka pipiku yang habis ditampar. Rasanya panas. Ini sudah dua kalinya Dobe mengasariku dengan ekornya. Pertama saat di kapal kemarin, dan kedua barusan terjadi.
Apa dulu Dobe selalu mengasariku seperti ini? Di buku diary yang kubaca, Dobe tidak pernah mengasariku. Di situ tertulis hanya kekagumanku pada Dobe dan juga keseharian Dobe yang membuatku klepek-klepek.
Tidak terima dengan perlakuan kasarnya, aku bangkit berdiri dan menyeruduk perutnya. Dengan cepat, seranganku ditangkis Dobe dengan ekornya. Ekor itu melilit tubuhku lalu membantingku ke dinding. Beruntung, tubuhku tahan banting sehingga tidak begitu sakit.
"Kau tidak bisa melawanku dengan tanduk tumpulmu itu." Dobe menyentil-nyentil tandukku. Aku mendengus karena kalah kuat darinya.
Saat dia memunggungiku, aku langsung bangkit dan menyeruduknya kembali. Sialnya aku malah terpleset dan tidak sengaja menarik celana panjang Dobe hingga melorot, menampakkan celana dalamnya berwarna biru -warna kesukaanku.
Untuk menghindari amukan, aku berpura-pura memijit keningku, bertingkah seperti orang sakit.
"Aduh, sakit! Kepalaku sakit, Dobe~" lirihku.
Dobe masih belum bereaksi. Apa actingku ini kurang meyakinkan?
"Ta, tanggung jawab Dobe...kepalaku sakit..."
Dobe langsung memakai celananya, kemudian menggendongku dan membaringkanku di sofa. Sepertinya, aku pernah mengalami kejadian ini. Juga hangatnya tubuh Dobe.
"Aku teringat sesuatu."
"Apa itu?"
"Apa kau pernah menggendongku seperti tadi?" tanyaku penasaran.
"Pernah."
"Kapan?"
"Saat kau masih gendut dan sangat sangat berat."
"Benarkah? Kau sanggup menggendongku saat itu?"
"Tentu saja! Kau tergila-gila padaku karena aku kuat!"
O, begitu! Ternyata dia memang kuat.
"Kalau boleh tahu, mengapa kau menggendongku? Apa aku sakit? Atau...jangan-jangan kau mengibasku?"
Wajah Dobe sempat tegang sebelum menjawab pertanyaanku.
"Kau memanjat pohon lalu jatuh!"
"Untuk apa aku memanjat pohon?"
"Karena kau ingin memanjat ya kau panjat pohon itu! Sudah! Jangan dibahas lagi!"
Aku menatap Dobe lekat-lekat, ada sesuatu yang dirahasiakannya.
"A, apa kepalamu masih sakit?" Dobe mengalihkan pembicaraan.
"Hn. Sedikit." Aku kembali beracting sakit berat.
"Tidak seharusnya aku menyentuh tanduk tumpulmu."
"Kau boleh menyentuhnya, jika kau suka!"
"Jangan sembarang bicara! Tanduk adalah sumber kekuatan ras Hitsuji. Jika tandukmu hilang, kau akan mati!"
Aku sangat terkejut melihat kemarahan Dobe. Ini bukan marah yang biasanya. Marah ini cenderung mencemaskan sesuatu.
"Apa kau mencemaskanku?"
"Kau istriku sekarang! Jika terjadi sesuatu padamu, kakek akan mengurungku ke dalam lukisan!"
Aku tambah terkejut dengan pengakuannya. Dobe mengakuiku sebagai istrinya.
"Tolong jaga aku, suamiku!" aku langsung memeluknya erat. Aku sangat senang!
"Le, lepas!" ekornya kembali muncul untuk mengibasku.
Suamiku ini memang tsundere, kurasa aku mulai menemukan alasanku menyukainya.
Terputus
Minggu depan adalah chapter terakhir, bakal dipost pas tanggal 23 (ノ˚̯́ ∇˚̯̀)ノ✧
Silakan tinggalkan jejak.
