'Tidak. Tidak, tidak, tidak, jangan membuat ekspresi seperti itu!' erangku dalam hati.
"Yang tadi itu—"
"—terlalu tiba-tiba?" potongku dengan gugup.
Lisa menggeleng, ia masih menyerngit. "Jimmy, kita belum pernah bertemu sebelumnya, kan? Maksudku, sebelum yang di bar? Sebelum di rumah sakit saat kecelakaan itu juga?"
"Eh, yah, tentu saja," dustaku.
Ia mundur perlahan. "Maafkan aku, aku hanya ... um, merasa familiar ... "
"Orang bilang seseorang biasanya punya tujuh orang yang wajahnya mirip," elakku.
Tapi ia menggeleng, kusadari wajahnya menjadi pucat juga. "Bukan, bukan hanya soal wajah. Suaramu, cara bicaramu, dan, oh astaga, ciumanmu terasa familiar."
"Lisa—"
Belum sempat aku berkata apa-apa lagi, perempuan itu tumbang, untungnya aku langsung segera menangkapnya sebelum ia terjatuh ke tanah. Lisa tak sadarkan diri. Kuputuskan untuk menggendongnya masuk ke rumahnya.
"CAS!" panggilku sambil menggendong Lisa. "CAS, KE SINI SEKARANG!"
.
.
Disclaimer: Eric Kripke. Author tidak mengambil keuntungan.
Warning: post season 11, anggap Supernatural tamat di season 11 (keterangan lebih lanjut ada di paragraf terakhir author's note di chapter 1), AR, based on canon, maafkan untuk soal geografis.
.
Forget Me Not
Chapter 6: I Do
by Fei Mei
.
.
"Ada konflik dalam dirinya," ucap Cas setelah ia meletakkan telapak tangannya di kening Lisa. "Aku sudah memberitahumu, Dean—aku bisa menghapus ingatannya, tapi aku tidak bisa menghapus perasaannya. Dan sekarang, ada konflik di antara hati dan otaknya. Dia menderita, Dean, ia memiliki perasaan untukmu, tapi tidak bisa ingat siapa kau."
Aku mengerang. "Tidak bisakah kau melakukan sesuatu?!"
Cas masih dengan ekspresi datarnya menatapku, lalu pada Lisa yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang, lalu pada Ben yang berdiri di samping ranjang. "Aku bisa saja membuatnya tidak ingat bahwa ia bertemu denganmu lagi—"
"Tidak—" potong Ben, "kumohon jangan lakukan itu. Maksudku, di kemudian hari ada kemungkinan Mum bertemu Dean lagi, kan? Kemudian ini akan terjadi lagi, dan semuanya hanya berulang-ulang terus."
"Ben—"
"—Dia benar, Dean," potong Cas. "Selain menghapus ingatannya lagi, aku juga bisa menenangkan batinnya. Dan jika aku menenangkannya, perlahan ia akan mengingat tentangmu yang pernah ia kenal dulu."
"Pilihan lainnya?" tanyaku.
Cas menggeleng. "Hanya dua itu saja. Kecuali kalau kau ingin membiarkannya terus menderita seperti ini."
"Tenangkan Mum, kalau begitu," pinta Ben.
"Ben, ia akan ingat semuanya, dan akan trauma tentang kau-tahu-apa," kataku memperingatkan.
"Mum kuat, aku tahu. Aku anaknya, Dean, aku tahu dia akan bisa mengatasi ingatan itu," ujar Ben. "Kau ingin Mum bahagia? Biarkan Mum ingat tentangmu yang adalah seorang Dean Winchester, biarkan dia tetap mencintaimu sebagai Dean."
"Ben ... kau ada di sana dengan kami. Kau melihat betapa buruknya kejadian itu," kataku lagi.
Ben mengangguk. "Mum selalu cemas saat Sam tiba-tiba muncul lagi, Dean. Lalu kau mulai pergi berburu lagi, Mum tak hentinya melirik ponsel. Bahkan saat ia punya pacar baru, ia masih mencemaskanmu. Ketika kami diculik, Mum sempat disiksa karena tetap tidak mau bicara tentangmu atau pun Sam. Kau tahu kenapa ia tutup mulut? Karena Mum tidak ingin kau kenapa-kenapa!
"Jadi, ya, kami terluka, Mum dirasuki, semuanya menyeramkan buat kami, tapi kami bertahan untukmu! Jadi kalau kau seenaknya menghapus ingatan kami tentangmu, kau egois! Itu keputusan dan pemikiranmu secara sepihak!"
"Ben ... –"
"Castiel, pulihkan ibuku, tolong," pinta Ben, memotong perkataanku.
Sang malaikat menatap Ben, lalu menatapku. "Dean?"
Kutatap Lisa sekali lagi, lalu putranya. Dengan ragu, akhirnya aku berkata, "lakukan."
Castiel mengangguk sekali lalu meletakkan telapak tangannya di kening Lisa.
.
.
BEN's POV
.
Aku tidak berhasil meyakinkan Dean untuk menunggu di kamar Mum. Ia bersikeras untuk menunggu di ruang tengah. Jadi sekarang hanya aku yang menunggu sampai Mum sadar. Setelah Castiel menumpangkan tangannya tadi, ia bilang bahwa Mum akan terbangun selambatnya malam ini. Kemudian malaikat itu pergi, entah maksudnya keluar dari rumah ini atau ikut Dean menunggu di ruang tengah. Aku tidak berani meninggalkan kamar ini. Bagaimana kalau saat aku keluar kamar, ternyata Mum terbangun dan membutuhkan sesuatu?
Sambil duduk di sofa, aku teringat tentang saat iblis itu datang ke rumah. Bukannya aku mencoba mengingat-ingat, sih, tapi situasi seperti ini: Mum tidak sadarkan diri di ranjang dan aku duduk di sofa di kamarnya menunggunya tersadar, itu membuatku ingat kejadian tersebut. Bedanya, saat itu Dean bersamaku, tapi saat ia mencoba mengajakku bicara, aku langsung keluar dari kamar rawat Mum tanpa mengatakan apa-apa.
Aku tahu betul sebenarnya semua itu bukan salah Dean. Bukan salahnya kami terluka, bukan salahnya kalau kami terluka, bukan salahnya kalau Matt yang waktu itu berkencan dengan Mum terbunuh gara-gara iblis ingin menculik kami, bukan salahnya kalau Mum dirasuki dan iblis itu melukai tubuh Mum sampai harus masuk rumah sakit setelahnya. Itu semua tidak pernah menjadi salah Dean. Memang, kami disiksa karena mereka ingin Dean, tapi Dean keluar dari hidupku dan Mum dengan, kupikir, harapan, bahwa kami akan aman saat ia tidak ada bersama dengan kami.
Harusnya waktu ia tinggal di sini, aku memaksanya mengajariku untuk menggunakan pistol dan senapan, setidaknya pisau, atau senjata apa pun. Aku masih ingat kata-kata Dean saat menolak permintaanku—ia bilang bahwa ia takkan pernah mengajariku memakai pistol, karena aku tidak akan membutuhkannya. Tentu saja aku tidak akan butuh, karena saat itu ia bersama denganku, dengan kami, dan ia akan melindungi kami jika terjadi sesuatu. Tapi ia tidak ada bersama kami saat iblis datang, dan aku tidak bisa menggunakan senjata apa-apa. Pada akhirnya, walau Dean tidak mengajariku, aku mendapat pengalaman dadakan bersiap dengan pistol saat ia harus menggendong Mum ke mobil saat itu. Bukan pengalaman yang menyenangkan.
Dan sekarang aku menunggui Mum untuk sadar lagi. Aku tidak tahu bagaimana teknisnya Mum akan ingat tentang Dean. Apakah saat ia terbangun perlahan ia ingat semuanya? Atau mungkin sama sepertiku, saat ia tidak sadarkan diri, potongan memori itu datang bagaikan mimpi?
Perlahan kulihat ada gerakan dari Mum. Langsung saja aku melompat dari sofa, kuhampiri ia. Mum belum membuka kelopak matanya, tapi aku bisa melihat pipinya agak basah, ia menangis dalam tidurnya. Sambil mengisak pelan, kulihat bibirnya bergerak-gerak, menggumamkan sesuatu yang tak dapat kudengar. Penasaran, aku mendekatkan telingaku ke mulut Mum, lalu mendengarnya menggumamkan nama Dean berkali-kali.
Dean.
Langsung saja aku berlari keluar dari kamar. Tidak turun tangga, tapi aku berteriak memanggil nama Dean—dengan suara keras begitu ia pasti bisa mendengarnya dari ruang tengah, pikirku. Habis menyerukan nama pria itu dan memintanya ke kamar, aku buru-buru kembali ke sisi Mum.
Kulihat Mum masih belum membuka matanya. Wajahnya tetap pucat bercampur cemas, dan masih menggumamkan nama Dean. Jemarinya mencengkeram sprei ranjang. Mungkin ia sedang mengingat bagian ia dirasuki. Kalau aku tidak tahu apa-apa, aku hanya akan berpikir Mum sedang mimpi buruk biasa.
Dean masuk ke kamar, wajahnya cemas. Castiel mengikutinya dari belakang, ternyata malaikat itu memang tidak pergi dari rumah ini. "Apa—ada apa?" tanya Dean.
"Mum memanggil-manggilmu dalam tidurnya," laporku.
Masih dengan wajah cemasnya, Dean menyerngit lalu menoleh pada Castiel. Sang malaikat pun maju dan menumpangkan tangannya lagi ke kening Mum.
"Ia sedang mendapatkan potongan memori yang paling memilukan baginya," ujar Castiel datar. "Tentang saat ia dirasuki, lalu ia memegang pisau dan putranya sendiri menghadapmu, Dean."
Berarti tebakanku benar. Dan sekarang nafas Mum seperti sesak. Jemarinya semakin mencengkeram sprei. Aku tahu saat itu ia pasti kesakitan, tapi apakah saat ini ketika ia sedang mengingat semuanya ia juga jadi kesakitan?
Lalu Mum mengerang dan agak menggeliat di ranjang. Dean segera menghampiri Mum dan menggenggam satu tangan Mum. Satu tangan Dean di tangan Mum, satunya lagi mengusap kepala dan kening Mum. Ia memang masih sangat sayang pada Mum. Aku tahu.
"Lis, Lisa, kau baik-baik saja," ujar Dean dengan nada tercekat. "Hei, kau tidak di sana lagi, kau ada di rumah dengan Ben saat ini. Lis, kau baik-baik saja."
Mum mengisak. Ia tidak mengerang lagi. Cengkeramannya pada sprei mengendur. Perlahan isakannya pun memudar dan tubuhnya rileks. Kulihat Mum mulai membuka matanya. Dean tersenyum kecil dengan wajah cemasnya—oh, ia juga habis menangis.
"Lisa?" gumam Dean.
" ... Dean ... ?" panggil Mum. " ... ini kau?" Dean mengangguk. Sambil berusaha untuk duduk, satu tangan Mum yang tidak digenggam Dean langsung menyentuh wajah pria itu.
"Lisa—Lisa, aku minta maaf—"
"—tidak, itu bukan salahmu—itu tidak pernah menjadi salahmu," ucap Mum sambil mengisak, lagi.
Dean menggeleng pelan. "Tetap saja, semuanya gara-gara aku, Lis."
"Mungkin gara-gara kau, tapi itu bukan salahmu," kata Mum. "Aku dan Ben—kami bisa disandera, itu membuatku tahu bahwa kau memang menganggap kami berarti. Dan asal kau tahu, aku tidak mengatakan sepatahkata pun tentangmu saat iblis itu mencoba mengorek sesuatu tentangmu, itu karena kau berarti juga bagiku, dan Ben juga."
Dean mendongak padaku, aku langsung mengangguk tegas. "Mum benar, Dean," kataku.
Pria itu menoleh pada Mum lagi. "Aku tetap minta maaf untuk itu," ujarnya.
Mum menggeleng. "Tidak perlu minta maaf Dean. Aku mencintaimu."
"Lisa, kalau kita bersama—"
"—mungkin aku akan terluka lagi?" tebak Mum. Dean mengangguk. Mum memaksakan tawa kecil di sela isakkannya. "Aku meragukannya. Kau akan bersama denganku dan Ben, kau akan melindungi kami. Justru mungkin kami akan terluka jika tidak bersama denganmu."
Dean menghela panjang. "Saat Sam kembali dari neraka ... kau pernah bilang sendiri bahwa kita tidak bisa bersama, bahwa duniaku bukan duniamu."
"Aku ingat itu," aku Mum. "Dan setelah aku menutup telepon waktu itu ... aku menyesalinya, barulah aku terpikir bahwa aku mengatakan hal yang egois. Kau telah meninggalkan duniamu selama setahun untuk tinggal bersamaku—tanpa kuminta. Aku mencintaimu, tapi aku malah menyuruhmu meninggalkan duniamu. Itu egois, dan aku tidak mau begitu lagi. Duniamu, apa pun itu, aku akan menerimanya, karena aku mencintaimu, dan aku ingin bersamamu. Jadi kalau kau bisa masuk ke dalam duniaku, aku juga harus bisa masuk ke duniamu."
Hening. Dean tidak membalas perkataan Mum. Tapi aku mendengar suara isakkan. Kali ini bukan isakkan Mum walau memang masih bisa kulihat bulir air mata tetap turun ke pipinya. Isakkan yang kudengar adalah dari Dean.
"Dean ... " panggilku, ia mendongak padaku. "Tinggalah dengan kami, Dean."
Pria itu tercengang, lalu ia menoleh lagi pada Mum. Mum mengangguk. Dean terkekeh pelan di sela isakkannya. Ia menggeleng pelan. "Aku mencintaimu, Lisa. Aku sangat menyayangimu—kau dan Ben." Dean mendongak padaku lagi saat menyebut namaku. Aku langsung tersenyum lebar.
Mum memeluk Dean dengan erat. Pada saat ini aku tahu, pasti aku akan segera mendapat seorang ayah tiri.
.
.
3rd PERSON's POV
Beberapa minggu kemudian ...
.
Dean benar-benar gugup sekarang. Sudah bertahun-tahun seorang Dean Winchester tidak pernah merasa gugup atau cemas jika berhubungan dengan seorang wanita. Ia bukannya sedang cemas apakah cintanya ditolak, atau kencannya akan gagal, atau mungkin akan ada monster yang menyerang perempuan itu. Tidak, ini sangat jauh berbeda, karena hari ini ia akan mengalami suatu kejadian yang belum pernah ia alami—berpikir untuk ia alami saja tidak pernah.
Hari ini, di musim gugur yang begitu cerah, pria tampan putra sulung John dan Mary Winchester ini akhirnya akan menikah dengan Lisa.
Setelah Lisa Braeden mengingat tentang Dean, keduanya berkencan lagi, lalu seminggu kemudian Dean melamarnya. Sesungguhnya pria ini tidak ingin buru-buru melamar Lisa, tapi Mary mendesaknya—untung saja lamaran itu diterima. Mary dan Lisa sudah dipertemukan Dean, bahkan ia sudah membawa Lisa dan Ben ke Bunker, bertemu Sam juga, sehari setelah Lisa mengingat semuanya. Tentu saja, Dean menjelaskan pada kekasihnya itu tentang bagaimana Mary bisa hidup lagi—bagaimana pun juga Lisa pun sudah ketinggalan banyak kisah mengenai perjuangan hidup Sam dan Dean Winchester, tapi mungkin cerita yang perlu dikisahkan tidak sepanjang yang harus kakak-beradik ini ceritakan pada ibu mereka.
Omong-omong, entah sudah berapa belas bahkan puluh menit sejak daritadi Dean memeriksa jas yang sudah ia kenakan di depan cermin. Ia sedang berada di salah satu bilik untuk mempelai pria yng disediakan di gereja. Seriusan, untuk saat ini Dean berharap bahwa Amara juga menghidupkan ayahnya lagi, tidak hanya ibunya saja, jadi bisa John bisa menenangkan putra sulungnya itu.
Pintu ruangan terbuka dan Dean mempersilakan orang itu masuk. Ternyata itu adalah adiknya.
"Dean, kau baik-baik saja?" tanya Sam yang sudah masuk ruangan.
"Menurutmu?" tanya Dean balik.
"Yah, kau harus lebih tenang, Dean," ujar Sam.
Dean memutar bola matanya. "Aku yang sedang bersiap untuk mengucap janji dihadapan pendeta, Sam, bukan kau."
Sam terkekeh. "Kau benar."
"Sungguh, bagaimana kalau ini kesalahan? Bagaimana kalau saat ini di ruangannya, Lisa sedang menyesali keputusannya untuk menikah denganku?" tanya Dean cemas.
Sam terkekeh lagi. "Menarik. Barusan aku habis bertemu dengan Mum, ia baru saja dari ruangan mempelai wanita. Mum bilang Lisa mencemaskan yang sama—ia cemas kalau kau sekarang sedang menyesal karena telah melamarnya."
Sang kakak mengerang. "Ini tidak lucu, Sam."
"Kalau lucu, aku akan tertawa," ucap Sam sambil menyengir sampai si kakak memutar bola matanya lagi. Sam melirik jam dinding. "Oh, sudah saatnya, Dean. Ayo."
Dengan gugup Dean mengangguk juga, berharap ia tidak gemetaran, terutama saat ia ada dia harus mengucapkan janji pernikahannya.
Dean dan Lisa tidak menyelenggarakan pesta untuk pernikahan mereka. Sederhana saja, pemberkatan di gereja oleh seorang pendeta, dihadiri oleh beberapa orang yang benar-benar dekat dengan keduabelah pihak—dengan kata lain hanya ada Mary, Sam, Castiel, Claire Novak, Jody dan Alex, Krissy bersama dengan Aidan dan Josephine, Garth dengan istrinya, Ben, dan kedua orangtua Lisa. Dean sudah mengundang Benny, tapi vampir satu itu tidak bisa hadir—habis itu hanya makan-makan saja di restoran.
.
.
"Dean Winchester," ucap pendeta. "Apakah kau bersedia menerima Lisa Braeden sebagai istrimu, berjanji untuk setia menjaga dan mencintainya dalam suka dan duka, saat sehat dan sakit, sampai ajal memisahkan kalian berdua?"
Pria itu benar-benar tidak menyangka bahwa suatu hari ia akan mendapat pertanyaan itu dari pendeta, di gereja, di hadapan wanita mana pun. Ditatapnya Lisa yang menatap balik. Wanita itu tersenyum bahagia. Ia memang tidak mengenakan gaun pengantin, Lisa hanya mengenakan gaun panjang berwarna putih polos dengan high heels di kakinya serta buket bunga sederhana di tangannya, tapi ia tetap cantik sekali.
Dean masih gugup, sebenarnya, tapi ia tersenyum juga. "Ya, aku bersedia," jawabnya, akhirnya.
Pendeta itu tersenyum puas dan mengangguk, kemudian menoleh pada Lisa. "Lisa Braeden, apakah kau bersedia menerima Dean Winchester sebagai suamimu, berjanji untuk setia menjaga dan mencintainya dalam suka dan duka, saat sehat dan sakit, sampai ajal memisahkan kalian berdua?"
Lisa, yang pandangan matanya sudah terkunci pada mata Dean daritadi, mengangguk pelan sambil tersenyum. "Aku bersedia," gumamnya lembut.
.
.
Mereka di restoran sekarang, hanya butuh dua meja bundar besar untuk mereka pakai dalam rangka syukuran hari ini. Sebenarnya ini pun bukan restoran besar, tapi Dean tidak masalah karena bagaimana pun ini adalah restoran yang dipilih kekasihnya—ralat, restoran yang dipilih istrinya.
Jadi sebelum pernikahan digelar, mereka membagi-bagi tugas. Seperti, Mary akan mengurus soal pakaian mereka, Sam akan menghubungi orang-orang untuk diundang, Lisa mencari restoran, Dean mencari gereja. Awalnya Dean ingin agar Castiel saja yang memimpin pemberkatan pernikahan mereka di rumah Lisa atau di Bunker, karena dilihat dari sisi mana pun, pasti rasanya akan lebih terberkati kalau seorang malaikat aslilah yang meresmikan mereka. Tapi Castiel menolak, bilang bahwa mereka harus tetap diresmikan oleh pendeta di gereja. Sebagai gantinya, Castiel membantu Dean mencarikan pendeta yang benar-benar seorang pendeta, bukan seorang yang menyamar atau jangan-jangan yang sedang kerasukan.
Sambil menunggu makanan dan minuman dihidangkan, mereka mengobrol banyak hal. Dari dua meja itu memang hanya kedua orangtua Lisa saja yang tidak tahu soal supernatural, tapi mereka sedang bukan di ruangan pribadi, masih ada pengunjung lain yang 'inosen' tentang hal supernatural, jadi mereka tidak bisa bicara soal misalkan, 'Untung tidak ada iblis yang mengganggu hari ini'.
Usai pemberkatan di gereja tadi, Ben tidak langsung ke restoran. Mungkin ketika makanan baru saja tersaji, anak itu masuk ke restoran, tidak seorang diri, karena ia menggandeng seorang gadis. Keduanya berjalan dengan agak cepat ke meja Lisa dan Dean.
"Mum, Dean," panggil Ben. "Kenalkan, ini pacarku, Amber."
Lisa dan Dean langsung mengerjap melihat Ben dan 'Amber' bergantian.
"Halo," gumam Amber sambil tersenyum.
"Halo ... " balas Lisa pelan, lalu mendelik pada putranya. "Kau tidak pernah cerita kalau kau punya pacar."
"Ah, yah, kami baru mulai pacaran minggu lalu."
"Ben, kau baru tujuh belas tahun," celetuk Dean.
Ben memutar bola matanya. "Kau belum satu jam resmi menjadi ayahku, dan kau sudah berkomentar tentang itu? Dean, kapan pertama kali kau punya pacar?"
Sekarang Lisa menoleh pada suaminya sambil menyengir. Dean mengerjap lagi. "Seriusan?" Lisa masih terus menyengir, jadi Dean menghela. "Saat aku enam belas tahun," gumamnya.
Tampaknya Ben puas akan jawaban itu, jadi ia menyengir. Lisa meminta Ben membawa pacarnya duduk dan makan.
Acara makan-makan masih terus berlangsung sampai beberapa puluh menit kemudian. Dan walau makanan penutup dan buah sudah dihidangkan, tampaknya mereka masih asyik mengobrol. Lisa yang melihat Dean sudah selesai makan juga, mengajak pria itu keluar sebentar. Dean menurut, jadi mereka keluar bersama.
"Dean, kau tahu kenapa aku memilih restoran ini?" tanya Lisa, begitu mereka sudah di luar.
Dean mengangkat bahu. "Makanannya enak?"
Lisa menggeleng. "Kalau soal rasa, aku akan memilih restoran yang lain."
"Lalu?"
"Tahun lalu, aku tidak sengaja menemukan restoran ini. Bunga-bunga yang ditanam di pekarangannya menarik perhatianku. Makanan di restoran sebenarnya biasa saja, tapi aku selalu ingat restoran ini karena bunga-bunganya," cerita Lisa. Mendengar itu, Dean pun melihat ke pekarangan di sana, memang ada bunga-bunga yang sejenis, tumbuh mekar dengan cantiknya. "Kau tahu itu bunga apa?" Dean menggeleng. "Awalnya aku juga tidak tahu, tapi karyawannya bilang, nama bunga ini adalah Forget-Me-Not. Tahun lalu, aku memang tidak mengingatmu, tapi bunga Forget-Me-Not ini ... seakan menegurku, memberitahuku bahwa ada sesuatu yang penting yang kulupakan. Waktu itu kupikir mungkin aku lupa mengunci pintu rumah atau apa, tapi ternyata yang kulupakan adalah sesuatu yang lebih penting—aku melupakanmu."
"Lisa ... "
"Dean, aku memang bukan orang yang religius," aku Lisa sambil tersenyum lembut. "Tapi aku percaya kalau tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Bukan kebetulan kalau aku melihat bunga-bunga itu. Jadi, selain janji yang kita ucapkan di gereja, aku ingin mengucapkan janji yang lain: Aku berjanji untuk tidak akan melupakanmu lagi, baik itu sebenarnya adalah karena kau atau bukan."
Dean menghela pelan, mengusap punggung tangan Lisa dengan ibu jarinya. "Aku berjanji tidak akan meminta Cas atau siapa pun untuk menghapus ingatanmu dan Ben lagi, Lis."
Lisa tersenyum mendengarnya. Dean jadi tersenyum juga. Keduanya berciuman di malam itu. Angin malam berhembus dan menyelimuti mereka berdua, dan puluhan bunga Forget-Me-Not melambai-lambai dari pekarangan.
.
.
Forget Me Not
Kau tidak akan bisa melenyapkan cinta sejati dari hatimu, karena cinta yang seperti itu tidak akan lekang oleh waktu.
.
.
TAMAT
.
.
A/N: Akhirnya! Kebiasaan Fei kalau ngetik fanfict multichapter adalah ... selalu mulai berasa males saat sudah masuk chapter terakhir. Padahal Fei pikir enam chapter ini akan kelar seminggu, tapi ternyata di chapter terakhir ini butuh sampai 3-4 hari baru bener-bener kelar karena males.
Sejauh ini, sampai Fei ketik fict ini, mungkin ini adalah fict romance favorit Fei yang diketik sendiri. Mungkin karena tidak ada OC yang jadi tokoh utama, karena ini based on canon, karena ini plot bikin sendiri. Fei selalu berpikir Lisa dan Dean itu unyu banget, dan Dean pantas untuk bahagia.
Btw, di fict Surat Untuk Mereka (di fandom Harry Potter) Fei pernah bilang mau bikin fict multichapter Dean x OC. Kayaknya masih belom bisa karena ide chapter 1 untuk multichapter fandom Once Upon A Time dateng duluan. Jadi setelah fict OUAT Fei tamat, baru SPN, mungkin.
Review?
