Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Cerita ini dibuat hanya untuk hiburan dan meramaikan fandom NaruSasu. Tidak ada keuntungan material apapun, selain kepuasan penulis dan pembaca.

[Chaptered]

Title : Sapi Hamil

Chapter : 03 / 03

By : Gatsuaki Yuuji

Genre : Humor / Fantasy

Main Cast : Uzumaki Naruto & Uchiha Sasuke

Rating : T

Sum : Aku Uchiha Sasuke, terkenal dengan sebutan 'Sapi Hamil', karena aku memiliki postur tubuh yang sangat gemuk. Aku menyukai seorang alpha bernama Uzumaki Naruto. Meskipun dia membenciku, mengibasku karena jijik melihatku, aku tetap menyukainya. Aku ingin dia menikahiku.


Masih Sasuke PoV


Tidak terasa, sudah dua minggu lebih kami tinggal bersama. Keempat diarykupun sudah terbaca habis. Seperti yang dikatakan Dobe, aku memang pernah jatuh saat memanjat pohon. Dan Dobe jugalah yang menggendongku pulang.

Wajahku memerah malu membayangkan diriku yang seperti sapi hamil, digendong ala bridal oleh Dobe.

"Hey, sapi hamil! Apa yang kau senyumkan? Kau sedang berpikiran mesum?"

"Aku sedang membayangkan seorang pangeran menggendongku."

"Ck! Dasar sapi hamil!"

Mengapa dia masih memanggilku sapi hamil? Apa dia buta bentuk?

"Jangan suka berkeliaran di luar! Baumu *Pheromone* menyebar kemana-mana."

"Bau?" aku mengendus-endus ketiakku. "Tidak ada yang bau, malahan wangi. Kau mau menciumnya?", aku menyodorkan ketiakku padanya. Seenaknya dia mengataiku bau!

"Bukan bau badanmu tapi pheromonemu! Baumu itu bisa mengundang banyak alpha."

"Benarkah?" Aku mengendus ketiakku sekali lagi. Aku sungguh tidak mencium bau apa-apa.

"Pokoknya, jangan genit-genit di luar!" pesan Dobe sebelum pergi ke sekolah.

Dobe memilih untuk bersekolah kembali, sedangkan aku memilih bekerja untuk membiayai kursus memasak dan membuat kue, karena aku hobby makan tapi tidak pandai memasak.

Selama tinggal di Kiri. Aku mendapat banyak teman baru. Ada Sabaku Gaara -teman kursusku dari ras Suna. Gaara banyak memberiku tips dan trik. Lalu ada Hozuki Suigetsu dari ras Mizu *air* dan Juugo dari ras Tora *macan*, penghuni blok sebelah yang suka mengajakku ke warnet. Ada juga Hatake-san -boss tempatku bekerja sebagai pelayan cafe. Hatake-san satu ras dengan Suigetsu. Ah! Satu lagi! Hyuuga Neji dari ras Neko -sang pelanggan setia penunggu cafe yang rajin memberiku tips.

Neji bilang, dia tertarik padaku. Dengan tegasnya kukatakan bahwa dia bukan typeku. Dia tersenyum mendengar penolakanku. Meskipun sudah kutolak, dia tetap setia datang ke cafe. Memandangiku yang sedang bekerja.

Neji memang ganteng, rambut coklatnya yang panjang dan halus, tubuhnya yang tinggi berotot. Tapi sungguh, dia bukan typeku!

Typeku seperti Dobe. Wajah yang jelek, tapi kadang bisa terlihat keren.

Tunggu! Aku baru saja mengakuinya keren?

Hn. Dia memang keren -hanya sedikit.


Hari ini, hari Minggu. Gaara datang ke rumah untuk mengajarkanku membuat cheese cake. Suigetsu dan Juugo ikut datang, karena ingin melihat-lihat.

Suigetsu dan Juugo sangat berisik, tapi berkat lelucon konyol mereka suasanya menjadi hidup. Mereka mudah sekali membuat sebuah obrolan menjadi bercabang dan meluas ke berbagai hal.

"Ada apa ini?" Dobe baru saja bangun tidur, tampak masih mengenakan piyama dan rambut jabriknya berantakan seperti singa.

"Siapa dia?" tanya Gaara.

"Di, dia..." aku bingung mau menjawab apa? Suami atau teman ya?

"Ah! Dia temanku!" jawabku cepat. Jika aku menjawab 'suami', Dobe pasti tidak senang. Dia juga merahasiakan hubungan kami pada teman sekolahnya. Dia pasti malu karena menikah dengan laki-laki.

"Hai, Dobe! Teman-temanku datang ingin melihatku membuat cheese cake. Apa kau mau ikut melihat juga?" tawarku.

"Keluar dari rumahku!" bentak Dobe tidak suka.

"Tu, tunggu...",

"SEKARANG!" Dobe meninju meja makan hingga hancur berkeping-keping.

Aku terpaksa membawa ketiga temanku keluar dan meminta maaf atas perlakuan Dobe yang tidak sopan. Mereka memakluminya dan pergi dengan tanda tanya.

"Mengapa kau mengusir teman-temanku?"

"Ini rumahku! Kau tidak berhak membawa siapapun ke rumahku!"

"Aku berhak karena aku..." aku malu mengatakannya, "...istrimu..."

"Kau bukan istriku! Aku juga bukan suamimu! Aku hanya temanmu!"

Ada apa dengannya? Mengapa dia mengakuiku sebagai temannya padahal dia membenciku? Lalu, mengapa dia marah-marah seperti itu? Apa karena kami terlalu berisik sehingga mengganggu tidur nyenyaknya? Apa dia lagi PMS?

"Jangan pernah membawa siapapun ke rumahku!" tegas Dobe.

"Bagaimana denganmu? Kau mengusirku saat teman-temanmu datang. Teman-temanmu mengacaukan rumah, dan kau malah menyuruhku untuk membereskan kekacauan itu!"

"Karena itu memang tugasmu!"

"Tugas seorang istri kan? Lalu, mengapa sekarang kau tidak menga..."

"Kau juga tidak mengakuiku sebagai suamimu!" sela Dobe.

Akhirnya aku tahu, mengapa dia begitu marah? Dia ingin aku mengakuinya sebagai suamiku di hadapan teman-temanku.

"Apa kau cemburu, suamiku?" aku memanggilnya dengan nada genit-genit manja.

"A, apa maksudmu, sapi hamil!"

"Kau mau menyicipi cheese cake buatanku, suamiku?",

"Berhenti memanggilku dengan nada menjijikkan seperti itu!"

"Suamiku~"

"Aku bukan suamimu!"

Ekor besarnya kembali meliiti tubuhku.

"Ekormu lembut dan hangat, suamiku ~ Aku suka~" aku menggesek-gesekkan pipiku ke ekornya. Rasanya jadi mengantuk dan...

ZeeeeP

Dobe tiba-tiba menarik daguku. Aku tidak menyadari kapan jarak kami menjadi sedekat ini?

"Kau..." Dobe memiringkan kepalanya, bermaksud menciumku.

"Hatchiuuu!" Aku tidak sengaja bersin di wajahnya.

Dia marah, lalu mengibasku ke sofa.

"Maaf, suamiku~ Aku tidak sengaja. Ayo kita ulangi lagi!"

Dobe membasuh wajahnya di dapur. Dia terlihat sangat sangat marah.

"Tadi kau mau menciumku kan? Nah! Ayo, cium aku!" Aku memejamkan mata sambil memajukan bibirku, menunggunya menciumku.

Tapi tidak terasa apa-apa, hanya terdengar suara pintu terbanting kuat.

Dia tadi ingin menciumku kan? Atau aku yang salah tebak?


Malampun tiba, Dobe masih enggan berbicara denganku. Cheese cake yang kubuat tadipun tidak disentuhnya.

"Kau tidak suka cheese cake?" tanyaku pada Dobe yang sedang memasak ramen instan di dapur. Aku ingin membuatkan ramen untuknya, tapi dia malah mengibasku menjauh darinya.

"Kalau kau tidak suka, aku akan membaginya pada Juugo dan Sui"

Dobe melirikku tajam, akhirnya perhatiannya tertuju padaku.

"Aku tidak suka kau bergaul dengan mereka!"

"Mengapa?"

"Karena mereka alpha!"

"Lalu?"

"Statusmu masih omega jomblo!"

"Aku tidak jomblo. Aku sudah menikah!" Aku menunjukkan cincin di jari manis kananku. Cincin itu baru kupasang tadi. Selama ini, aku tidak mengenakan cincin itu, karena Dobe juga tidak mengenakannya. Tapi, aku ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku sudah menikah, terutama pada Neji.

"Meskipun kau sudah menikah, tapi kau tidak memiliki tanda kepemilikan."

"Kalau begitu, ayo kita mating!"

"Heh?!"

"Ayo kita mating, Dobe!" Aku langsung melepas celana dan piyama yang kukenakan.

"Be, berhenti! A, aku..."

"Ayo, Dobe! Buka piyamamu juga!" aku yang hanya mengenakan celana dalam saja, bermaksud membantu Dobe membuka pakaiannya.

"Hentikan! Kau membuatku jijik!" bentak Dobe.

Aku terdiam menyesapi ucapannya barusan. Aku membuatnya jijik? J-I-J-I-K? Aku terlihat jijik di matanya?

"Ah! Aku baru ingat bahwa kau bukan gay. Kau masih normal, masih menyukai dada besar...heheheh..." aku kembali memakai celana dan mengancingkan piyamaku.

Aku pasti terlihat murahan di matanya. Aku benar-benar malu, sangat malu. Ingin rasanya melenyapkan diri dari muka bumi ini.

"Ka, kau tidak mau mencicipi cheese cake buatanku?",aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, walaupun aku sangat malu berbicara dengannya.

"Tidak usah!" tolaknya tegas.

Aku mengambil seloyang cheese cake di meja dapur, kemudian duduk di sofa sambil menonton TV dan menyantap cake buatanku.

"Mmm~ Ini tidak enak! Beruntung kau tidak memakannya," ucapku, sebenarnya rasanya enak. Hanya perasaanku saja yang tidak enak.

NyuuT

Dada ini masih terasa sakit.

Aku sakit hati karena Dobe jijik padaku. Aku sakit hati karena mencintai orang yang jijik padaku. Sungguh sakit hatiku!


Di pagi hari, saat aku terbangun, aku selalu menemukan Dobe duduk santai di sofa sambil menonton berita. Dobe selalu bangun lebih awal dariku. Dia tidak pernah menyapaku terlebih dahulu, hanya melirikku dengan mata ekornya. Selalu aku yang menyapanya.

"Ohayou, sua...!" aku tidak boleh memanggilnya 'suamiku'. Dia pasti jijik mendengarnya, "Ohayou, Dobe!"

"Buatkan aku sarapan!" perintahnya.

"Hn," anggukku patuh.

Sambil memasak, aku mengutarakan hal yang membuatku tidak bisa tidur semalaman.

"Kurasa kau tidak akan pernah bahagia jika terus bersamaku, sapi hamil yang menjijikkan ini. Kau juga pasti sangat malu dengan pernikahan ini. Padahal kau begitu mendambakan untuk menikahi gadis yang bernama Hinata."

Dobe tidak memberikan respon apapun, sepertinya dia sedang asyik menonton berita.

"Ayo kita bercerai, Dobe," ucapku sangat pelan, aku tidak ingin Dobe mendengarkan ini. Aku sungguh tidak ingin bercerai, tapi aku lelah melihatnya tidak bahagia.

"Aku menyerah." Aku duduk bersandar pada pintu kulkas, aku tidak tahu mengapa aku begitu frustasi.

Aku menyerah. Aku menyerah.

Kata-kata itu terus bergentayangan di pikiranku. Membuat kepalaku sakit.


Aku terbangun dan menyadari bahwa aku sedang terbaring di sofa, dengan selimut membalutiku. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh siang.

"Aku kesiangan," gumanku.

Kondisi rumah sangat sunyi. Dobe pasti sudah berangkat ke sekolah.

"Ah! Dobe!" Aku jadi teringat dengan kejadian yang kualami. Aku merasa tadi sedang membuatkan sarapan untuk Dobe. Sambil membicarakan hal yang megusik pikiranku -tentang perceraian. Tahu-tahu kepalaku sakit dan...aku pingsan ternyata.

Tidak sengaja, mataku mengangkap selembar kertas memo di meja.

Aku ingin sukiyaki !

Aku tersenyum tipis membaca memo itu. Sepertinya Dobe tidak mendengarkan ucapanku tadi.


Malam ini aku akan memasak sukiyaki, karena Dobe yang meminta. Setelah selesai kursus, aku mampir ke swalayan untuk membeli daging dan sayuran.

Entah mengapa aku merasa senang memasak sukiyaki untuknya? Padahal aku belum tentu yakin masakanku akan seenak itu.

Di depan swalayan, aku melihat Dobe bersama ketiga teman sekolahnya.

"Hai, Dobe!" sapaku saat kami berpapasan.

Reaksi Dobe berlebihan saat menatapku, seperti melihat hantu. Apa seharusnya aku tidak perlu menyapanya?

"Kau mengenalnya?" tanya seorang temannya yang bertato segitiga di kedua pipinya.

"Aku is..."

"Dia temanku!" sela Dobe.

Aku baru ingat bahwa Dobe tidak ingin teman-temannya tahu tentang hubungan kami.

"Aku mendengar dia ingin menyebut 'istri'" tebak seorang bermata kuaci berambut nanas.

"Tidak mungkin, Shika! Naruto kan sudah memiliki pacar cantik di Konoha," ucap si tato segitiga.

"Iya. Namanya Hinata-chan," sambung yang berkaca mata hitam.

Dobe berbohong seperti itu, pasti karena malu telah menikahiku. Aku memang aib.

"Ah! Iya! Hinata-chan! Dobe em...maksduku Naruto sangat menyukai gadis cantik itu!" Aku ikut membenarkan ucapan mereka. Sebisa mungkin membuat mereka yakin, bahwa Dobe bukan gay. Dobe pasti malu jika disangka gay, padahal dia masih lurus.

"Kau juga berasal dari Konoha?" tanya si tato segitiga.

"Hn! Dulu aku satu sekolah dengan Naruto dan juga Hinata-chan! Mereka sangat akrab dan mesrah, membuatku iri saja...ehehehe..."

"Uwo! Kau sudah menikah?"

"Heh?!"

"Itu cincin kawin kan?" si tato segitiga itu menunjuk cincin yang kukenakan. Dari sekian banyak objek, mengapa dia malah melihat cincinku?

"Ah... Iya, aku baru saja menikah...ehehehe..."

"Kau tinggal dimana?"

"Aku..."

Si tato segitiga yang kepo ini mengendusiku.

"Bau-baumu seperti bau Naruto."

"Ah...aku sementara tinggal bersama Naruto. Tapi secepatnya aku akan pergi," jawabku dengan cepat, "Rasanya tidak enak terus mengusik hidup Naruto."

"Dia istriku," ucap Dobe menambah pembicaraan kami.

"Heh?!" ketiga temannya dan aku terkejut mendengar ucapannya itu.

Dia mengakuiku sebagai istrinya di depan teman-temannya? Apa dia salah makan hari ini?

Dobe mengeluarkan cincin dari saku celananya, kemudian memakainya di jari manisnya.

"Aku sudah menikah. Dia istriku dan aku suaminya."

Rasanya aku ingin berlari dan berteriak sekuat tenaga. Ini bukan mimpi kan?

"Maaf telah membohongi kalian." Dobe menundukkan kepalanya sambil menggenggam erat tanganku. Ini pertama kalinya, dia menggenggam tanganku tanpa rasa jijik sedikitpun.

Melihat pengakuan Dobe yang begitu gentle, membuatku terharu dan ikut menundukkan kepala.


Dobe tiba-tiba memintaku tidur di kamarnya. Dobe juga tidak menyinggung tentang kejadian tadi pagi ataupun kejadian di swalayan.

"Apa malam ini kita akan melakukan mating?" tanyaku penuh harap.

"Tidak!" tolak Dobe dengan tegas. Ternyata dia masih jijik padaku.

"Lalu? Mengapa kau mengajakku ke kamarmu?"

Dobe menepuk kuat tempat kosong di sampingnya. Dia ingin aku tidur seranjang dengannya.

"Kau tidak jijik padaku?"

"Kemarilah!"

Aku langsung menaiki ranjang dan berbaring di sampingnya.

"Boleh aku memelukmu?" pintaku. Apa aku terkesan seperti dikasih hati minta jantung? Tidak. Aku kan istrinya. Memang sewajarnya aku minta seperti itu.

"Hn," Dobe merentangkan tangannya, mengizinkanku memeluknya. Sebelum Dobe berubah pikiran, aku langsung memeluk pinggangnya.

"Hangat~ tubuhmu hangat, suamiku ~ Aku suka..."

Dobe membalas pelukanku.

"Aku ingin menciummu."

What?! Dobe ingin menciumku? Tumben-tumbennya dia ingin menciumku! Apa ini efek sukiyaki buatanku?

"Si, silakan!" Aku sungguh gugup.

Dobe mengangkat daguku. Jantungku berpacu cepat saat bola mata biru kesukaanku itu menatapku. Kupejamkan kedua mataku, menunggu bibir seksi itu menciumku.

CHuuu~

Sentuhan kecil menyentuh bibirku. Aku bisa merasakan gigitannya di bibirku. Lidahnya memasuki mulutku. Lidah kami saling beradu dan menggelitik.

"Mmm~ nnh~ ah~" desahku di selah-selah ciuman. Aku sungguh menyukai cara Dobe menciumku.

Ciuman Dobe mulai turun ke dagu, lalu ke leherku. Tiba-tiba dia berhenti mencumbuiku.

"Luka ini..." Dia menyentuh bekas luka di leherku.

"Ah! Ini karena kecelakaan. Aku kurang hati-hati menyeberang jalan. Kecelakaan itu menyebabkan aku amnesia."

"Ma, maafkan aku..." setelah meminta maaf, Dobe langsung pergi meninggalkanku.

Untuk apa dia meminta maaf? Apa karena dia masih belum bisa melakukan mating?

Sepertinya, aku harus bersabar.


Dobe menceritakan rahasia terbesarnya padaku.

"Aku homophobia."

Dobe sangat membenci kaum gay sepertiku. Aku yang selalu menempelinya dan merayunya, membuatnya jijik dan semakin membenciku. Dobe selalu mengibaskan ekornya padaku, agar aku berhenti mendekatinya. Tapi aku yang pantang menyerah, malah semakin menjadi mendekatinya. Kadang kala aku menyebalkan di matanya. Kadang kala aku bisa menjadi penghiburnya. Dia bilang, ada sesuatu yang membuatku berbeda dari Hinata.

"Kau memiliki keteguhan dan keberanian, tapi kau tidak memiliki rasa malu sedikitpun."

"Karena itu, aku terlihat murahan di matamu?"

"Hn. Kau sungguh murahan."

Rasanya sedih dibilang murahan oleh suami sendiri.

Dobe membingkai wajahku, kemudian mengecup singkat bibirku, "Kau memang manis, seperti yang Hinata-chan katakan",

"Hn. Aku memang manis," aku menyandarkan kepalaku di dadanya, "Apa kau tega memanggil makhluk manis ini sapi hamil?"

"Kurus, gemuk, manis, pahit, apapun bentukmu, kau tetap sapi hamil."

Sekali lagi, aku sungguh sedih mendengarnya.


Karena Dobe suka sukiyaki, maka menu makan malam ini adalah sukiyaki lagi. Iyey!

Aku sungguh beruntung hari ini. Aku mendapat lima pack daging diskon setelah menyelam di kerumunan ibu-ibu.

"Apa kau istri Uzumaki Naruto?" tanya seorang laki-laki seumuranku. Di sampingnya berdiri enam laki-laki yang postur tubuhnya berbeda-beda.

"Hn! Aku istri Uzumaki Naruto. Ada apa?" rasanya agak aneh jika laki-laki sepertiku berstatus istri orang.

Mereka berseringai. Lalu dalam hitungan detik, aku telah berada di sebuah taman yang sepi.

Ini dimana? Mengapa aku bisa di sini? Kapan mereka membawaku ke sini?

"Serang!"

Belum sempat aku bertanya, mereka langsung menyerangku. Meninjuku, menendangku, menjambak rambutku, membantingku ke tanah, lalu menginjakku lagi. Aku tidak bisa melawan, aku tidak punya kekuatan seperti mereka!

"Uhuk...uhuk..." Aku terbatuk-batuk darah.

Salah satu dari mereka, menjambak rambutku.

"Uzumaki Naruto adalah seorang homophobia, dia sangat membenci kaum gay seperti kami. Dia menghajar kaum kami habis-habisan. Dia jijik melihat kami, seolah kami lebih rendah dari sampah. Tapi, kami tidak menyangka bahwa dia sama rendahnya dengan kami. Dia telah menikahi seorang laki-laki lemah sepertimu!"

Aku tidak menyangka bahwa masa lalu Dobe seperti itu.

"Dari baunya, sepertinya dia masih virgin."

"Perkosa dia!"

Tangan-tangan mereka mulai merobek kaosku.

"Ja, jangan..." aku mengerahkan kekuatan seadanya. Kuserunduk perut mereka dengan tandukku.

Aku tidak ingin diperkosa orang lain, selain Dobe!

ZeeeeP!

Tandukku berhasil melukai lengan salah satu dari mereka. Tidak terima melihat temannya terluka, mereka kembali mengeroyokku.

"Patahkan tanduk sialannya! Lalu perkosa dia!"

Empat orang menahan tubuhku, satu orang bertugas merekam dan satu lagi berusaha mencabut tandukku.

"Ti, tidak...Kumohon...jangan tandukku..." pintaku ketakutan.

Tanpa tanduk, aku akan mati. Aku tidak mau mati sebelum melakukan mating dengan Dobe! Aku masih ingin hidup bersama Dobe!

"Kau sudah tidak bisa menyerang lagi...ahahaha..." Orang itu berhasil mencabut paksa tandukku. Darah merah langsung mengucur keluar membasahi wajahku.

"Tidak!" teriakku histeris sambil memegangi kepalaku yang berlubang. Air matakupun keluar karena tidak sanggup menahan sakit yang kualami.

Aku berguling-guling tidak jelas. Kepalaku sakit sekali! Aku tidak mau mati! Tidak!

"Ahahaha..." tawa mengejek itu terdengar jelas.

Sama seperti hari itu.

Aku yang terbaring lemah, membutuhkan pertolongan, tapi tidak satupun yang mau menolongku. Mereka semua menertawakanku, memakiku dengan kata-kata kasar. Aku juga bisa melihat punggung Dobe yang kian menjauh.

"Jangan...pergi..." tanganku berusaha menggapai-gapai punggung itu. Tidak tergapai. Tanganku terasa berat untuk diangkat, seolah tubuhku sudah menyatu dengan tanah. Pandanganku mulai menghitam. Aku akan mati. Lalu mereka akan memperkosaku.

"SASUKE!" suara cempreng itu memanggilku. Ini pertama kalinya dia memanggil namaku.

Meskipun aku tidak bisa melihat keberadaannya, tapi aku tahu dia sedang dalam mode marah. Bola mata semerah darah dan ekor-ekornya menjulur keluar, menghajar mereka semua.

"Beraninya kalian menyakiti istriku!" teriaknya lagi, disertai dengan lolongan kesakitan mereka.

"Kau sungguh keren, suamiku..."Aku tersenyum mendengarkan pengakuannya yang gentle.

Aku sungguh menyesal akan mati secepat ini. Padahal Dobe sudah mulai mengakuiku sebagai istrinya. Aku sudah membuat Dobe membelok, tapi aku malah meninggalkannya. Aku memang egois. Maafkan aku, suamiku...

ZaaaaZ

Hujan tiba-tiba turun dan membasahi tubuhku. Kakek bilang, saat hujan tiba-tiba turun di hari yang cerah, itu menandakan ada siluman rubah yang sedang menangis.

Dobe, apakah kau sedang menangis?

Perlahan tubuhku terangkat. Aku bisa merasakan sedikit kehangatan pada tubuhku yang menggigil.

"...ke..." suara cempreng itu terdengar samar-samar.

Sepertinya aku sedang berada dipelukannya. Penglihatan, pendengaran dan indra perasaku telah mati. Tersisa kesadaranku yang mulai menipis. Akhirnya sapi hamil ini mati dalam dekapan si rubah jelek yang dicintainya.

Cerita inipun selesai


The End?

Masih belum, dink!


Tujuh tahun kemudian.

Di depan rumah keluarga Uzumaki.

"Kau sungguh cantik, istriku!" Dobe mengecup singkat bibirku.

"Kau sungguh tampan, suamiku!" Aku balas mengecup bibirnya.

"Papa! Mama! Siap-siap!" seorang bocah laki-laki berlari menghampiri kami. Bocah itu berdiri di tengah-tengah sambil menggenggam tangan kami. Dobe merangkul pinggangku, dan aku menyandarkan kepalaku di bahunya.

Posisi kamera sudah dalam keadaan ready. Dalam hitungan lima detik, kamera itu akan mengambil foto keluarga kami.

5, 4, 3, 2

"Cheese!",

Hari ini, hari pertama Uzumaki Menma -nama bocah itu- bersekolah. Menma adalah anak kesayangan kami. Hasil persilangan ras rubah dengan ras kambing. Berkat obat racikan kakek, aku bisa hamil.

Menma memiliki sepasang tanduk mungil di kepalanya, di pipinya terdapat tiga pasang goresan, dia juga memiliki satu ekor dengan bulu-bulu yang tebal dan hangat.

O, iya!

Tolong tanyakan padaku, mengapa aku masih hidup?

Hn.

Jawabannya karena Dobe memberikan mutiaranya padaku. Berkat mutiara itu, sepasang tanduk baru tumbuh di kepalaku. Aku hidup kembali. Ingatan lamaku bercampur aduk dengan ingatan Dobe.

Saat mutiara itu masuk ke tubuhku, aku bisa melihat semua perasaan Dobe padaku. Dobe memang membenciku karena aku begitu murahan dan membuatnya malu -tidak seharusnya aku mengumbar-umbar perasaanku di depan umum. Dia ingin dekat denganku, tapi dia malah jijik saat kudekati. Dia tidak bermaksud melukaiku saat ekor itu mengibasku hingga keluar jendela. Dia tidak bisa mengendalikan kekuatan ekornya saat sedang marah. Dia malu mengakui perasaannya, tapi dia ingin hidup normal, sehingga dia tega melukaiku dan mempermalukanku di depan umum. Saat aku memutuskan untuk menyerah, dia tersenyum bahagia. Tapi sebenarnya hatinya sakit, sehingga dia menangis.

Setelah kami menikah dan tinggal bersama, perasaan benci itu mulai memudar -mungkin karena tampangku yang tidak layak untuk dibenci. Dobe selalu bangun lebih awal hanya untuk melihat wajah imutku saat tertidur. Dobe juga tidak bisa tidur, sebelum melihatku tidur. Dobe selalu mencemaskanku saat berada di sekolah, Dobe takut aku bergenit-genit ria dengan alpha lain. Dobe ingin menyentuhku, tapi dia masih jijik dengan hubungan sejenis. Dobe tidak ingin menceraikanku, karena aku sudah membuatnya membelok. Dobe masih menyimpan plester Hello Kitty itu di kamus bahasa Inggrisnya. Banyak hal yang kulihat, tapi tidak bisa kuceritakan semua.

Intinya, sapi hamil ini berhasil meraih impiannya! Dan cintanya terbalaskan! Kisah ini berakhir dengan happy ending! Iyey!


The End


Udah segitu aja.

Happy NS Day (ノ˚̯́ ∇˚̯̀)ノ✧

Silakan tinggalkan sesuatu di kolom review :D

Akhir kata :

Motor mogok, kehabisan minyak.

Banyak review, author semangat.

Terima kasih untuk yg sudah membaca, mereview dan menfave/follow.