Kai baru saja hendak mengetuk pintu kamar sang pangeran.

Ia diminta oleh ibunda ratu agar segera membangunkan pemuda 20 tahun itu.

Akan tetapi langkahnya terhenti manakala suara berat seorang namja memanggilnya.

"ah.. Panglima Choi" sahutnya.

Senyuman sang panglima membuat jantungnya berdegup cepat. Bibir penuh itu ikut tertarik membalas senyuman.

"Ingin membangunkan Pangeran?"

Kai mengangguk pelan.

"Pangeran sudah bangun sebelum matahari terbit di ufuk timur"

"Dia?"

Panglima Choi menyentuh bahu gisaeng ternama itu. Lalu berkata, "Mulai sekarang pastikan jika kau tidak kecolongan lagi"

Panglima Choi mendekatkan wajahnya pada telinga Kai.

Tak pelak membuat namja berperawakan manis itu merona.

"Hati-hati! dia terlalu barbar kalau kau mau tahu" bisik panglima Choi.

.

.

.

Pangeran Sehun baru saja hendak menutup kedua matanya jika tidak mendengar suara derap kaki seseorang mendekat ke arahnya.

Ia pikir itu musuh, tapi ternyata hanya sosok gisaeng yang dua hari ini menjadi pengasuh baru untuk dirinya.

Ia tidak menyangka jika ayahnya akan menuruti permintaannya.

Di hari ulangtahunnya yang ke 20, ia meminta seorang pengasuh yang memiliki sesuatu yang unik dan berbeda dari yang pernah ada.

Ia pernah mendengar nama Kai. Seorang gisaeng ternama di sebuah Buyonggak yang terletak di pinggir kota. Kulitnya tan seperti madu, maniksnya hazel kecoklatan, dan bibir penuh berwarna kemerahan. Tatapan menggoda sang gisaeng pun tak jarang menjadi salah satu daya pikat tersendiri dan membuat sang pangeran penasaran dibuatnya.

Dan kini sang gisaeng itu berdiri di hadapannya dengan hanbok berwarna peach yang membalut tubuh rampingnya.

Gisaeng itu membungkuk hormat padanya dan berkata, "mohon maaf, pangeran. Ibunda ratu meminta saya untuk memanggil Anda supaya menghadap sang Ratu"

"Hm"

Pangeran Oh malah beranjak dari posisi merebahnya. Berjalan begitu saja meninggalkan sang gisaeng yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

"Pangeran"

Kai mencoba mengejar sang pangeran. Tak terpikirkan jika geta yang ia kenakan tak sengaja menyandung akar pohon tua dan membuatnya terjatuh ke tanah.

"aw" ringisnya, pelan.

Ia melihat ke depan, dimana sang pangeran masih terus berjalan acuh. Bahkan tidak menoleh meskipun Kai terjatuh.

Namja itu Benar-benar tak peduli pada orang lain.

Egois...

.

.

.


Kai meringis pelan ketika luka Di siku tangannya terkena air. Meskipun saat terjatuh ia dalam mengenakan pakaian lengan pajang, tetapi tidak dipungkiri jika gesekan tanah sedikit melukainya dan membuat ia harus segera diobati.

"maaf" Ucap sang panglima.

Di sebuah pondok kecil. Dimana keduanya berada, atau lebih tepatnya sang panglima membawanya ke sebuah pondok tempatnya beristirahat sehabis melatih tentara-tentaranya.

Panglima Choi terlihat sangat tampan meski usianya sudah mencapai kepala empat. Dia terlihat gagah dengan rahang tegas dan dua dimple di masing-masing pipinya.

Dia tahu jika panglima perang kerajaan mereka memiliki paras yang rupawan dan sifat yang terpuji. Kebanyakan para yeoja yang pernah bertemu dengannya pun tak jarang langsung jatuh hati dibuatnya.

"Tidak.. Tidak apa-apa, panglima" sahut Kai. Mencoba berkata jika ia hanya sedikit kaget dengan rasa perih itu.

Panglima Choi tersenyum simpul mendengarnya. "Aku tidak yakin jika luka ini bisa menghilang dalam waktu yang lama"

Dia tahu jika seorang gisaeng dituntut memiliki tubuh molek dan paras yang indah. Sedikit Bekas luka saja bisa membuat gisaeng kehilangan peminatnya jika gisaeng tersebut adalah gisaeng paling dicari di seluruh buyonggak.

"Luka ini pasti tertutup. Jadi aku tak perlu khawatir" Kai berkata, sambil menunduk.

Kai selalu pede menatap lawan bicaranya. Namun kali ini jantungnya yang berdegup cepat dengan hangat dipipinya membuatnya tak berani untuk mengangkat wajahnya yang ia yakini sudah semerah kepiting rebus.

Panglima Choi terkekeh pelan melihat tinggkah kikuk Kai yang kelihatan lucu di matanya.

"Kai-ssi apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Deg..

"Ah"

"Kau mengingatkan aku pada seseorang. Tapi aku sendiri juga tidak tahu siapa"

Dia melupakannya, pikir Kai miris. Jantungnya yang semula berdebar-debar lama-lama terasa ngilu dan membuatnya nyaris ambruk saat itu juga.

"Kai-ssi, tidak apa-apa?" tanya sang panglima. Ia mencoba menyentuh sang gisaeng. Namun kali ini Kai menolaknya seraya menghadangkan satu tangan di depan.

"Ti.. Tidak apa-apa"

Terdengar seperti bisikan.

Namja dewasa itu terus menatapnya penuh kecemasan.

'Adik kecil, jika kita bertemu lagi. Kau harus Lebih sering tersenyum'

'Kenapa, hyung?'

'Karena aku ingin melihat senyumanmu yang tulus dari hati. Jangan menangis seperti ini ya'

Atau...

'Hyung, aku ingin ikut denganmu'

'Suatu hari nanti hyung pasti akan membawamu'

'Kapan?'

'Saat kau dewasa Dan aku menjadi lebih sukses lagi pada karirku. Karena jika aku membawamu pergi sekarang aku tak punya cukup banyak uang. Jadi tunggu aku, kau mengerti? '

Namun janji hanya sekedar janji. Janji yang terlupakan begitu saja memang sangat menyakitkan. Kai menunggu 15 tahun lamanya dengan berusaha cukup keras untuk menjadi sosok gisaeng nomor satu di buyonggak.

Hingga ketika takdir mempertemukan mereka kembali. Semua seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Hyung tampannya semasa kanak-kanak melupakan dirinya. Atau sekedar janjinya pada seorang anak berusia 10 tahun belasan tahun silam.

.

.

.


Rasa sakit itu muncul karena rasa cinta...

Rasa sedih itu muncul karena rasa bahagia...

Dan saat aku menyadarinya...

Rasanya begitu konyol dan berlebihan..

Cukup munafik tapi begitulah kenyataan...

Aku memilih untuk tidak pernah jatuh cinta jika akhirnya aku sakit...

Dan aku memilih untuk tidak bahagia agar aku tidak bersedih...


.

.

.

.

"Kau cukup dekat dengannya" Pangeran Sehun berkata.

Suara pedang yang beradu seolah menjadi latar musik yang cukup serasi dengan perbincangan mereka kali ini.

"Aku hanya membantu mengobati luka di sikunya. Apa itu salah?"

"Tentu saja!"

Gerakan keduanya begitu indah. Namun tidak gemulai. Mereka terus bergerak lincah dengan pedang di tangan masig-masing.

"Meskipun kau pamanku tak akan pernah ku izinkan kau menyentuh milikku"

"Milikmu?"

Panglima Choi menahan pedangnya. Dalam hati ia memuji bagaimana sang pangeran bermain pedang. Makin lama makin hebat dan tak bisa dianggap remeh.

"Apa kau yakin?"

"Ya"

"Dia seorang gisaeng. Dia belum bisa menjadi milikmu jika kau tidak membelinya"

Dan lagi... Smirk di wajah tampan sang panglima membuat pangeran Oh menahan emosi.

"Terlebih dia sudah tidur dengan lebih dari satu namja. Apa kau masih yakin dia milikmu? "

Panglima bergerak mundur ketika sang pangeran mendorongnya.

*smirk*

"Aku pun juga pernah tidur dengannya"

"Bedebah kau!" sang pangeran berseru.

.

.

.


"Ada ap-hmpp"

Kai terkejut ketika pangeran langsung mendorongnya dan membungkam bibir plumnya itu dengan bibir tipisnya.

KAI tidak tahu apa yang membuat pangeran itu mengulum bibirnya dengan sangat buas dan liar.

Ia tak sanggup meronta. Percuma saja ia berteriak. Kamarnya kedap suara, dan tugasnya sebagai seorang gisaeng di istana ini memang untuk melayani.

Kalaupun ada yang mendengar ia malah akan dipermalukan. Ia dibayar untuk melayani, bukan untuk beleyeh-leyeh hidup di istana nan megah ini.

.

.

.

Semula Kai pikir Pangeran akan melakukannya malam ini.

Tapi ternyata tidak. Pangeran malah jatuh tertidur di sampingnya sembari memeluk erat tubuh rampingnya.

Ada sesuatu yang aneh menurut Kai. Dari berbagai macam kalangan bangsawan, hanya Pangeran Oh yang menurut pandangan seorang Kai tidak pernah menikmati masa hidup mewahnya di Istana.

Malahan ia melihat rasa sepi dan kesedihan di mata sempit sang Pangeran. ENTAH hanya pandangannya saja atau memang sang Pangeran tidak menyukai lingkungan istana.

Kai berbalik badan, melihat wajah damai pangeran Oh membuatnya mengulum senyum tipis. Sang Pangeran yang angkuh itu kini terlihat polos seperti anak-anak kecil.

Tangannya terangkat untuk mengelus wajah putih tanpa cacat itu. Mengagumi wajah tampan diusia 20 dan mungkin akan bertambah tampan diusia selanjutnya.

Dengkur halus pangeran menandakan jika ia kelelahan. Dan Kai ingin terkekeh ketika sang Pangeran sedikit terusik dengan kelakuannya.

Selama ia berada di sini. Tak pernah sekalipun dirinya melihat sang pangeran terlihat bersama ibunda ratu. Ada sesuatu yang aneh antara pangeran dan ibunya.

Pangeran membuat begitu banyak jarak antara dirinya dan orang-orang termasuk ibu dan ayahnya. Sementara sang Pangeran pun malah lebih dekat dengan Panglima Choi yang akan selalu mengajari namja 20 tahun itu bagaimana bertahan hidup di medan perang.

Mungkin suasana dingin yang menyelimuti keluarga Istana telah membawanya kemari. Kai mulai mengerti, Pangeran butuh orang yang bisa mengurus hidupnya selama ia belum berumah tangga dan ibunya bersikap terlalu kaku padanya.

"Tak ada yang boleh menyentuh milikku" sang Pangeran berkata melantur dalam tidurnya.

Kai mengusap lembut bahu tegap sang pangeran. Berusaha mencoba untuk menghibur sang Pangeran agar ia kembali tidur dengan tenang.

.

.

.

.


Suasana mendung di bagian Timur Istana. Tempat dimana Kai mendapatkan sebuah ruangan yang khusus untuk dirinya sendiri menghadap langsung taman kecil yang sepertinya di desain khusus untuk menyambut kedatangannya kemari.

Hidup di istana megah seperti ini memang menyenangkan. Pantas saja banyak para gisaeng yang menginginkan posisi yang sama seperti dirinya.

Lagipula jika mereka tinggal di sini. Pasti akan ada banyak decakan kagum semua orang diseluruh negeri. Seorang Gisaeng mendapatkan kedudukan terhormat di istana. Meski nyatanya mereka hanya tetap menjadi seorang pelayan, dan tak jauh beda dari tugas mereka selama berada di Buyonggak. Hanya saja bedanya, di sini apapun tersedia dan tak perlu bersusah payah.

"Selamat pagi, Kai-ssi"

Kai lantas berbalik dan menemukan sosok panglima Choi tengah membungkuk hormat ke arahnya.

Sebenarnya sejak kejadian itu satu orang yang ia jauhi di istana ini memang hanya Panglima Choi. Entahlah... Hatinya masih terlalu sesak jika mengingat kejadian dimana Sang Panglima berkata dengan gamangnya jika ia melupakan pertemuannya dengan seseorang.

Padahal menurut Kai itu adalah pertemuan paling berkesan untuk dirinya. Dan sulit terlupa.

"Ah.. Pa..Panglima"

"Tidak usah kaku begitu" Katanya, diawali senyum yang ramah.

"Ano"

"Aku kemari untuk menemui Pangeran Oh"

KAI memohon maaf jika Pangeran belum juga bangun. Dia juga berkata jika pangeran kelelahan dan sempat demam subuh tadi.

Sang Panglima memakluminya. Pangeran Oh melatih dirinya dengan begitu keras tanpa istirahat. Mungkin itulah yang membuatnya jatuh sakit.

Panglima Choi baru saja hendak pergi jika kai tidak menahannya dan menawarinya sarapan. Namun panglima berusia kepala empat itu menolak halus.

.

.


"Berapa lama aku tertidur!?" tanya sang Pangeran.

Ia duduk di atas futon dengan sebuah meja berisi makanan yang dihidangkan Kai untuknya.

Pangeran Oh tidak mau dilayani oleh para dayang istana. Ia hanya mau dilayani oleh pengasuhnya, bahkan dia meminta agar Kai tetap di dalam kamar untuk menemaninya di sini.

Entah apa yang ada dipikiran namja itu. Kai pun sama sekali tak bisa menebaknya.

11? 12? Entahlah.. Yang jelas pangeran tidur cukup lama semalam.

"Cukup lama. Tapi saya rasa itu wajar. Pangeran demam tadi pagi"

"Kau yang mengurusku kan?"

Kai mengangguk pelan.

"Bagus" gumam sang Pangeran.

.

.

.

"Kau sudah bekerja terlalu keras untuk mendidiknya selama ini" Raja Hankyung berkata, seraya menepuk bahu adik iparnya.

"Itu sudah kewajibanku, hyung"

Panglima Choi mencoba merendah. Biar bagaimana pun yang ada di depannya kini adalah seorang Raja. Dan Siwon merasa jika ia musti menghormati Raja Hankyung.

"Anak itu sangat keras, aku sendiri tidak tahu harus Bagaimana lagi menghadapinya"

Sang raja menerawang cukup jauh. Ia duduk bersila, berhadapan dengan adik iparnya dengan beberapa hidangan mandu yang sengaja disajikan untuk hidangan camilan mereka.

"Aku hanya berpikir jika ia masih belum bisa melupakan kejadian itu" kata Siwon. Mencoba menghibur kakak iparnya dengan kalimat yang tidak memojokan.

"Dia masih sangat muda" Raja Hankyung bermonolog.

Panglima Choi melihat ke arah taman istana. Dimana ia mendapati sosok Gisaeng cantik yang tengah mengangkat Pakaian hanbok warna-warna cerahnya yang sengaja di jemur tepat di halaman teras kamarnya.

Sebentar lagi hujan akan turun, benak sang panglima berkata. Gisaeng Kai memang mempunyai ruangan khusus untuk dirinya sendiri Yang cukup besar untuk disebut sebuah kamar.

Nyatanya itu sudah seperti rumah tradisional dengan beberapa pengawal yang akan selalu berjaga di sana di malam hari. Entah apa yang dipikirkan oleh sang pangeran mahkota.

Namun ruangan Siwon tak cukup jauh untuk mengetahui apa saja aktivitas yang akan dilakukan gisaeng cantik itu.

Di pagi hari Kai akan melakukan pekerjaan rumah tangga. Seperti menyapu halaman, mengepel, atau menjemur hanbok dan futon yang ia kenakan sehabis tidur.

Atau di siang hari. Kai yang cantik akan menggerai rambut panjangnya dan melakukan treatment lilin di rambutnya seorang diri.

Dia seorang namja. Tapi kecantikannya membuat para namja bertekuk lutut di bawahnya.

Ingatannya sudah terlalu tua untuk mengingat pertemuannya dengan seseorang. Ada banyak orang yang ia temui selama 40 tahun ia hidup.

Sebagai seorang panglima yang rendah hati. Sudah pasti namanya paling dikenal oleh kalangan masyrakat mulai dari di pertengahan hingga ke pesisir. Bahkan Raja Hankyung saja bisa kalah pamor darinya.

Choi Siwon yang tampan dan gagah itu memang paling diidolakan. Sudah pasti banyak yeoja yang berharap bisa menjadi bagian dari hidupnya.

"Adik ipar, berapa usiamu tahun ini? " Raja Hankyung bertanya. Pura-pura lupa.

"40 tahun, hyung"

Sang Raja nampak berpikir dalam diam. "Ku rasa kau sudah cukup untuk memiliki sebuah keluarga"

Panglima Choi menatap sang kakak ipar dengan alis yang bertaut. Apa maksud kakak iparnya ini?

"Mengapa kita membicarakan sebuah keluarga, hyung?"

Raja Hankyung terkekeh mendengarnya. Wajah tampan diusia hampir setengah abad itu terlihat ramah dan menyenangkan. "Begini, dik" ada jeda dalam kalimatnya.

"Sudah waktunya kau menikah dan memiliki keluarga"

"Tapi bagaimana dengan Pangeran?"

"Kau tak perlu cemas. Kau hanya perlu membahagiakan dirimu sendiri untuk masa tuamu nanti"

Ia tampak mempertimbangkan ucapan sang kakak ipar. Sudah seharusnya ia menikah dan memiliki anak. Satu atau dua, mungkin satu saja cukup, pikir Siwon.

"Kau terus memperhatikan gisaeng itu"

Ucapan sang kakak membuatnya salah tingkah. Raja Hankyung niatnya hanya menggoda, tapi tanpa disadari pandangan sang panglima memang terus jatuh ke arah gisaeng cantik itu.

"Dia memang cantik" kata. Raja Hankyung.

"Ya.. Dia sangat"

"Tapi dia seorang namja" Kata Raja Hankyung, melas.

Sebenarnya kasihan juga jika ada Namja yang dipaksa menjadi seorang gisaeng. Memang pernah ada kasus seperti itu. Tapi hanya beberapa saja. Itu pun terjadi dalam jangka waktu antara puluhan atau ratusan tahun yang lalu.

"Namja tidak bisa melahirkan, dik"

Tapi Siwon tidak mempedulikan ucapan sang kakak. Karena memang otaknya sedang tidak mau memikirkan hal lain selain Gisaeng Kai. Ia mulai menerka-nerka. Apa ini yang namanya cinta? Tapi mengapa Siwon tidak merasakan getaran itu di dadanya.

Ia hanya merasakan jika ia harus memandangi wajah manis itu dan melihat senyuman sang Gisaeng. Maka dari itulah ia sering berpura-pura menemui Kai untuk membicarakan sang pangeran. Meskipun nyatanya yang ia inginkan lebih dari itu.

Ia ingin menggagahi sang gisaeng kalau bisa.


.

.

.

Tbc

.

.

.

A/N :

Thx sudah menunggu. Gak ngerti kenapa akhir akhir ini jadi stuck dan gak ada gairah buat lanjut. Ah gataulah mesti gimana. Apalagi pas baca review Summer Baby. Ya pro dan kontra sih ya. Kalo ada yg ngira bakalan ada NC di ff itu jg aku gak gila gila bgt kali. Terus itu.. Maksud komentar yg 'ini ff pernah ada yg publish di fandom sebelah' maksudmu itu aku ngejiplak gt? Pernah baca ff nya aja juga enggak. Memamgnya kalo ada kesamaan theme dan alur itu sama dengan jiplak ya? Please deh.. 6 tahun nongkrong di Fanfiction juga gak pernah tuh baca baca ff selain Yaoi! Oke.. Jangan Baper jangan Baper! Aku cuma curcol. Aja okeh..

Id line nya apa kak? -.-

Boleh request ff? "

Sorry.. Lagi gak open request say

Lanjut?

Boleh ya.. Review 20 saya lanjut ya.

Sehun tau gak kalo jongin namja?

Tau kok tau..

Aku kira Jongin yeoja

Pfttt hahaha... Aku gak suka ff gs*jujur aja sih ya

Pairingnya antimainstream

*lol.. Kamu suka gak? Kalo suka ku lanjut ya.

Sehun enaena dong sama kai

Bolehlah.. Bolehlah hahah

Ff yg lain dilanjutkan kak

Ada ff yg niatnya mau aku hiatusin. Soalnya lanjutannya ke hapus wkt aku dengan sok taunya nginstall os sendirian *lol

Endingnya hunkai dong

Diliat dulu ya say situasinya gimana