Seorang Gisaeng tidak boleh jatuh cinta. KAI pun tahu hal itu.
Rasanya ia ingin menertawakan kebodohannya sendiri. Cinta? Ketulusan? Kemudian ada rasa sakit. Tak jarang membuat beberapa orang frustasi dan memilih untuk mengakhiri hidup.
"Peringatan 10 tahun kematian pangeran Luhan" bisik Nayoung ahjumma ketika Kai bertanya padanya.
'Pangeran Luhan' ulangnya dalam hati. Siapa itu Pangeran Luhan?
Nayoung ahjumma mengulum senyum tipis. "Dia anak pertama baginda raja yang tewas saat peperangan"
Tak pelak Kai terkejut mendengarnya. Nayoung ahjumma mulai bercerita tentang kedekatan Pangeran Sehun dan kakak tertuanya yang meninggal dunia 10 tahun yang lalu.
Peperangan telah merenggut nyawa calon Raja mereka yang berwibawa dan baik hati. Meski Pangeran Luhan sibuk, ia selalu memperhatikan sang adik dan memberikan kasih sayang yang cukup. Mengingat bagaimana hubungan Kakak beradik itu, semua pasti mengerti mengapa sang pangeran begitu terpukul.
.
.
Langkahnya terhenti ketika tak sengaja ia menabrak sosok di depannya.
"Anda tampak tergesa-gesa, Kai-ssi"
"Ano" Kai mendongak. Tatapannya bersiborok dengan mata tegas panglima Choi.
Namja bertubuh tegap itu menatapnya tepat di mata. Hal yang membuatnya merasakan getaran-getaran di hatinya yang lagi-lagi membuat dadanya sesak.
Kai sama sekali tidak habis pikir. Mengapa laki-laki dewasa itu harus bertemu dengannya di waktu yang tidak tepat seperti ini.
Panglima Choi berdehem. Wajah cantik gisaeng di hadapannya inilah yang membuatnya mencoba menyembunyikan apa yang ia rasakan saat ini. Dia tidak bisa membohongi perasaannya. Melawan atau pun menampik. Ia sangat-sangat ingin meniduri tubuh penuh adiksi itu.
Lubang ketat sang gisaeng saat meremas batang besarnya di bawah sana. Atau saat sang gisaeng memberikan servis kuluman untuknya. Tak akan ia lupa bagaimana rasanya.
Timbul rasa iri pada para saudagar kaya yang pernah mencicipi tubuh sexy itu sebelum dirinya. Atau bahkan sang pangeran yang mencoba memiliki sang gisaeng. Karena Choi Siwon mencoba meyakinkan hatinya, jika tubuh itu hanya miliknya seorang.
Tapi tidak bisa! Sang Gisaeng telah resmi menjadi pelayan sang pangeran. Yang cepat atau lambat pangeran pun akan meminta pelayanan memuaskan untuk hasratnya.
"Pangeran terlalu menyayangi kakaknya" Kai berkata, menyahut perkatan sang Panglima mengenai Sang Pangeran.
"Aku tahu, dan ku pikir itu wajar"
Keduanya berjalan berdampingan dengan langkah yang pelan. Kai bisa melihat bunga-bunga cantik yang tumbuh di halaman belakang istana yang begitu luas.
"Aku seorang adik, dan aku sangat menyayangi kakakku"
Kai terkekeh mendengarnya.
"Kai-ssi, mengapa anda tertawa? Apa aku aneh?"
Kai semakin tertawa. Wajahnya begitu cantik di mata sang Panglima. Mata hazel terang itu mengingatkan sang Panglima pada sesuatu. Tapi apa? Dan siapa? Atau dimana ia pernah melihat mata yang sama pun ia tak ingat.
Panglima tidak bisa mengingat apapun. Ia mencoba, tapi kepalanya berdenyut sakit.
"Panglima Choi?"
Kai menatap sang panglima khawatir. Panglima tampan itu menyentuh kepalanya. Membuat Kai membawa tangan kanannya di kening sang panglima.
Panglima terkejut dibuatnya. Keringat sebesar biji jagung mulai terlihat di pelipisnya. Sesuatu yang membuatnya panas dingin, dan Kai sama sekali tidak tahu jika dialah yang membuat sang panglima seperti ini.
BRUKK...
Kai meringis pelan ketika tubuh tegap itu terjatuh menimpanya. Rasa sesak mulai terasa karena tubuh panglima Choi yang jangkung dan gagah itu telak menimpa tubuhnya yang kurus seperti gisaeng-gisaeng lainnya.
"P.. Panglima"
Napas sang panglima tidak beraturan. Membuat gisaeng ternama itu ketakutan. Pikiran-pikiran buruk menguasai pikirannya.
Kai mencoba bangkit, meski sedikit kesulitan. Akhirnya ia bisa keluar dari himpitan tubuh tegap itu.
.
.
Kai bukan orang yang jahat. Dia tidak akan tega membiarkan panglima Choi seorang diri tanpa sadarkan diri.
Maka yang ia lakukan saat ini adalah menjadikan pahanya sebagai alas untuk kepala sang panglima. Membiarkan namja tampan itu tertidur (pingsan) di atas pangkuannya.
Kening sang panglima terasa panas. KAI tidak bisa membiarkan namja tampan itu sendirian. Ia hanya terus mengusap kepala sang panglima dengan gerakan halus dan penuh kasih.
.
.
.
"Kai-ssi tidak ada di ruangannya, Pangeran"
Raut wajah sang pangeran sontak saja mengeras. Amarahnya mendidih ketika salah satu dayang mengatakan jika Gisaeng miliknya itu tidak ada di ruangannya ketika ia menginginkan dirinya.
"Cari Gisaeng itu hingga ditemukan !" perintahnya, begitu mutlak dan penuh intimidasi.
.
.
.
.
Panglima melenguh ketika tidurnya terusik. Matanya mencoba terbuka, dan berkedip-kedip ketika terkena sorot sinar mentari yang menyilaukan kedua matanya.
Ia terkejut ketika mendapati tubuhnya berada di pangkuan sang Gisaeng. Dan mendapati Gisaeng cantik itu tertidur dalam posisi menyandar pada pohon besar yang cukup rindang untuk berteduh.
Panglima Choi tersenyum tipis melihatnya. Ia mencoba bangkit, sambil meregangkan otot otot kaku di tubuhnya.
Setelah jeda beberapa menit. Panglima tampan itu memutuskan untuk menggendong sang gisaeng dan membawanya ke tempat dimana Gisaeng cantik itu bernaung.
.
.
.
.
Kai perlu beberapa saat untuk tersadar dimana ia berada.
Ini kamarnya. Bukan di bawah pohon rindang dimana semula ia tertidur di siang hari.
Ia mencoba mencari keberadaan sang panglima. Tapi kamarnya yang gelap itu membuatnya menyadari jika tak ada siapapun di sana selain dirinya.
Pintu ruangannya terketuk ketika Kai sedang menyalakan lampu minyak untuk menerangi ruangan itu.
Kai buru-buru mematikan pemantik di tangannya. Dan berjalan ke arah pintu.
Cklek..
Nayoung dan dua orang dayang muda berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Senyum ramah di wajah Nayoung Ahjumma membuat Kai ikut tersenyum.
"Silahkan masuk,Ahjumma"
Nayoung ahjumma tersenyum dan berkata jika ia hanya disuruh memastikan Kai ada di kamarnya.
Hal itu mampu membuat Kai memikirkan sesuatu yang buruk pasti terjadi selama ia tidur.
Dan benar saja, tak lama setelah Nayoung ahjumma pamit. Sang pangeran tiba seorang diri. Masuk ke kamarnya begitu saja dan meminta Kai untuk melepas busana yang melekat di tubuhnya.
Kai lantas menuruti permintaan pangeran Oh. Karena permintaan sang pangeran adalah perintah baginya.
...
"Eungh" Kai melenguh.
Dalam keadaan telanjang ia diMinta untuk tengkurap di atas futon. Sementara sang pangeran membaluri tubuh tan mulusnya dengan tetesan lilin panas.
Sang Pangeran tengah menghukum dirinya atas kesalahan yang ia perbuat.
Kai tidak tahu dimana letak kesalahannya. Tapi selama seharian tidak menemui pangeran, membuat Kai pun mengerti. Jika ketidakhadiran Kai di sisi sang pangeran membuat namja tampan itu begitu marah padanya.
"Aghh"
Ia mendongak, meringis kesakitan ketika pangeran tampan itu menyentak lubang mungilnya dengan lilin yang belum tersulut api.
Wajahnya merah padam. Matanya terpejam ketika pangeran mulai memaju mundurkan lilin itu ke dalam lubangnya.
"Be.. Berhentihhh... Auhh"
Ia kesakitan. Tapi pangeran tampan itu seolah tuli.
Maju...
Mundur...
Begitulah yang terus dilakukan sang pangeran. Pangeran melakukannya begitu brutal.
Hingga lilin di tangannya patah jadi dua bersamaan benih menyembur dari penis Kai.
Kai menjatuhkan tubuhnya di atas futon yang basah dan bau sperma yang khas. Napasnya memburu, wajahnya memerah seperti udang rebus.
Pangeran tampan itu menindih tubuhnya dan menjambak rambut panjangnya yang terurai sepunggung.
"Dengar, Jalang!" ia berseru.
Kai tak bisa untuk tidak menitikan airmata. Manakala kata jalang itu lolos dari bibir sang pangeran.
"Kau hanya milikku" bisiknya.
Namja cantik itu mengangguk.
Sang pangeran menghempas kasar rambutnya.
Lalu merebah disamping Kai setelah lebih dulu membalik tubuh ramping itu.
Pangeran memeluknya dengan sangat erat. Menelusupkan wajahnya tepat di dada Kai seperti bayi.
Membuat namja manis itu tidak mengerti. Orang seperti apa Sosok yang tengah memeluknya kini.
.
.
.
.
Kai turun ke sungai yang jernih dan tampak begitu banyak bebatuan besar yang sering digunakan oleh para dayang untuk mencuci pakaian kebesaran para petinggi-petinggi besar kerajaan di istana.
Ia sengaja mencuci di pagi hari. Agar tidak ada satu pun orang yang melihatnya dalam keadaan tanpa polesan seorang gisaeng seperti ini. Kai tak ingin di cap melanggar peraturan gisaeng istana yang keluar tanpa pakaian ala gisaeng serta polesan yang mempercantik wajah mereka.
Kai dengan yukata tipis berwarna putih. Memilih terjun langsung ke sungai untuk mencuci pakaiannya. Dingin air sungai membuatnya sedikit menggigil. Tapi dia sudah terbiasa, dan tidak lagi mempedulikan jika Ia akan sakit Setelahnya.
"Anda bisa sakit jika mencuci pakaian sepagi ini"
Kai memutar tubuhnya dan mendapati panglima Choi tengah berjalan santai tanpa pakaian kebesarannya.
Tubuh atletis itu berbalut pakaian tidur berwarna abu-abu. Rambutnya yang dipangkas cepak membuatnya terlihat begitu tampan dengan kulit kecoklatannya.
"Panglima Choi"
Sang panglima mengulum senyum. Ia turun ke sungai dengan hati-hati.
Tanpa Kai sadari, sang panglima mulai membuka atasannya. Sehingga menunjukan tubuh atletisnya yang sudah sangat terlatih.
Pipi Kai merona padam. Tanpa takut dingin, sang panglima mulai berjalan semakin dalam dan merendam Tubuhnya sebatas dada.
"Anda pun juga akan sakit jika mandi di cuaca seperti ini, Panglima"
Sang panglima menoleh. "Seorang prajurit diLatih untuk kuat Menghadapi cuaca apapun, Kai-ssi"
"Begitu ya" Kai bergumam.
"Apa kau mau bergabung denganku?"
Sang panglima menggoda nya. Dengan kerlingan jenakanya yang begitu menawan. Membuat Kai tertawa salah tingkah
"Aku tidak bisa berenang" katanya. "Bagaimana jika aku tenggelam. Tubuhku pun juga tidak kokoh seperti dirimu, panglima"
"Maka kau harus terus berada di sampingku dan aku akan terus memeluk tubuhmu agar tidak tenggelam"
Kai tidak mengerti mengapa ia begitu percaya dengan kalimat itu. Rasa sakit yang ia rasakan semula hilang begitu saja. Tergantikan dengan rasa panas yang mendera tubuhnya, agar ia cepat-cepat melepaskan kain yang membalut tubuhnya. Dan bergabung dengan sang panglima di tengah sungai.
Sang panglima tersenyum ketika sosok langsing itu berjalan semakin ke tengah mendekati dirinya. Kai tidak melepas pakaiannya. Otaknya masih waras untuk menghindari berita miring jikalau ada orang yang tak sengaja memergoki dirinya dan sang panglima.
"Bagaimana rasanya?"
Kai sedikit ketakutan membayangkan jika tubuhnya tenggelam. Atau bagaimana jika panglima tidak menahan dengan cara memegangi kedua bahunya?
"I.. Ini pertama kalinya aku berdiri di tengah sungai seperti ini"
Panglima Choi terkekeh. "Ini belum seberapa. Jika kita lebih ke tengah lagi itu baru kegilaan yang tak bisa kau lupakan seumur hidupmu"
Namja 40 tahun itu hendak menarik tangannya. Namun Kai menolak dengan alasan ia terlalu takut dan membuat sang panglima tertawa geli mendengarnya.
"panglima"
"hm?"
"Ini sangat dingin"
Panglima beralih mendekap pinggangnya. Semakin pula ia merapatkan dirinya dengan tubuh Kai. Rasanya begitu hangat, meski saat ini wajah Kai terlihat pucat dengan bibir yang membiru.
"Apa masih dingin?" panglima mendekatkan bibirnya di telinga Kai.
KAI menggeleng, dan berkata "Tubuh panglima sangat hangat"
Choi Siwon sama sekali tak bisa untuk menahan hasratnya. Niat awalnya hanya untuk berendam di sungai tanpa ia ketahui jika Gisaeng cantik itu juga tengah berada di sungai hanya untuk mencuci beberapa helai pakaiannya.
Tapi ia juga tidak akan menyangka jika Kai tidak menolak tawarannya untuk bergabung dengannya seperti ini. Rasanya ia sangat senang, dan ingin segera melepaskan pakaian Gisaeng Kai yang basah dan mencetak jelas dada mulusnya.
"Apa Kau senang berada di sini?"
Tangan besar sang panglima mulai nakal dan merayap ke bagian sensitif sang gisaeng. Membuat sang empunya tubuh menggigit bibirnya hanya untuk menahan desahan-desahan dari bibirnya yang ranum itu.
"Tinggal di istana adalah impian para gisaeng, panglima"
"Apa kau termasuk?"
Kai menggeleng. Ia menutup matanya untuk sekejap. Kemudian terbuka dan memberikan senyuman di wajah cantiknya.
"Impianku yang sebenarnya adalah hidup dengan cinta pertamaku"
"Dia pasti yeoja yang beruntung"
Kekehan kecil itu membuat sang panglima mengernyit bingung. "Dia seorang namja"
Kini sang panglima yakin jika gisaeng berjenis kelamin namja ini memang sudah tidak normal jauh sebelum ia menjadi seorang gisaeng.
"Namja yang menolongku dari amukan Para hojang 15 tahun yang lalu" Kai berkata begitu lirih.
Tatapannya yang sendu membuat sang panglima merangkum wajah sang gisaeng. Dan sedikit memaksa Kai untuk memperlihatkan wajah cantiknya itu.
"hanya dengan apel karamel, dia bisa membuat hatiku luluh"
PANGLIMA Choi hanya diam. Seolah mempersilahkan Kai untuk terus berbicara. Menceritakan semua yang ia rasakan padanya. Walau kenyataannya Panglima Choi bukan orang yang bisa memberikan banyak nasihat.
"Tapi saat kita bertemu dia sama sekali tidak mengingat diriku" Kai berkata. Tangannya berada di dada bidang nan kokoh sang panglima.
Air mata yang lolos dihapus segera oleh ibu jari sang panglima. Seolah Ia tak mau melihat wajah cantik itu sembab dengan wajah yang menyedihkan.
Ada rasa sesak di dada sang panglima ketika namja manis itu berkata-kata. Penderitaan yang panjang sudah banyak dilalui oleh gisaeng muda ini sejak masih sangat kecil.
Panglima mendekap tubuh itu begitu erat. Tanpa peduli air sungai yang mulai membasahi tubuh keduanya.
"Jangan menangis" pintanya.
SANG Gisaeng tersenyum. Senyuman yang selalu menyiratkan kata 'maafkan aku' meski tak ada kesalahan apapun yang telah ia perbuat.
APA panglima tidak ingat? Atau sadarkah ia jika dirinya lah yang membuat dada sang gisaeng sesak dan air mata yang mengalir begitu saja membasahi wajahnya.
Sungguhlah tidak sopan! Kai ingin berteriak menyadarkan sang Panglima. 'Hey, Panglima! Ingatkah engkau cerita musim semi, 15 tahun yang lalu. Tentang kisah yang kau janjikan tak akan terlupa. Dimana hanya ada kau dan aku Tanpa para Hojang dan hukumannya'
Tapi panglima melupakan dirinya. Pertemuan mereka di pasar ikan, atau janji sang Panglima yang akan membawa dirinya pergi. Suatu hari nanti jika kelak sang panglima mempunyai uang yang banyak dan kedudukan yang tinggi.
Hingga dirinya memutuskan untuk menjadi seorang Gissaeng terbaik di buyonggak. Namanya begitu terkenal. Dan ia biarkan para lelaki kaya itu menyentuh tubuhnya selama ia menanti janji sang panglima.
'Tapi ia tidak mengingatku' hatinya berkata lirih.
Dalam dekapan sang panglima ia menangis tanpa isakan. Merasakan tangan kokoh itu mengusap lembut punggungnya.
'Aku pernah mendengar cerita ini, tapi dimana' Pikir sang panglima. Ada banyak kenangan yang terlupakan sejak sang panglima terbangun dari tidur panjangnya paska peperangan 10 tahun yang lalu.
.
.
Kai berbaring dengan hanya beralaskan dedaunan kering yang berjatuhan dengan kaki yang mengangkang dan memperlihatkan selangkangannya.
Bibirnya terus mendesah selama sang panglima mengulumnya dan mempermainkan titik-titik kenikmatannya.
"Eungh"
Panglima tersenyum tipis. Namun masih terlihat begitu tampan dan dewasa.
Kai ikut tersenyum. Tangannya terangkat dan membelai pipi tirus sang panglima.
"Kita akan dihukum jika pangeran tahu apa yang kita lakukan" bisik sang panglima.
Gisaeng cantik itu menggeleng pelan. Dan berkata, "Untuk saat ini kita hanya perlu saling memuaskan dan melengkapi"
"Yak" panglima berseru. "Jangan menyesal jika nantinya kita bermain"
Ada jeda dalam perkataannya itu.
"Karena tidak ada kata kembali dalam permainanku"
Senyuman yang membuat para musuh ketakutan. Namun terlihat begitu tampan di mata seorang Kai. Senyum yang selalu menyiratkan kata 'Mari bercinta' itu membuat Kai ingin berkata, 'Ya, mari lakukan sampai aku melemas seperti jelly'
.
.
Kai Melenguh pelan manakala penis sang panglima mendesak memasuki lubang anusnya.
Punggungnya melenting seperti busur yang ditarik. Membentuk lekuk yang menggairahkan. Membuat sang Panglima kembali menghentak lubang anusnya. Ini sakit. Namun Kai percaya jika akan ada rasa nikmat setelah ini.
"ahh"
Panglima Choi tidak bergerak. Seolah membiarkan Sang Gisaeng untuk membiasakan diri selama penis besat itu berada di dalamnya.
Kekehan kecil Kai membuat panglima Choi menautkan alisnya.
"Mengapa kau tertawa?"
"Aku hanya ingat saat pertama kali kita bermain"
Oh..
Sang Panglima ikut tertawa. Ketika mengingat malam dimana mereka melakukannya. Dirinya yang malu-malu, dan terkesan canggung. Karena memang ia sama sekali tidak punya pengalaman dalam hal bercinta diusia nya yang sudah memasuki 40an.
"Apa aku boleh bergerak?" tanya sang Panglima.
Kai mengangguk pelan.
Namja bernama lengkap Choi Siwon itu pun bergerak perlahan. Menggenjot lubang mungil itu yang membuatnya mendesah nikmat.
Penisnya seperti diremas oleh lubang ketat dan hangat itu. Membuat dirinya merasa seperti berada di atas awan.
Hentakan demi hentakan terdengar diiringi kecipak basah. Meski ia tahu orang yang digagahi ini seorang namja. Siwon sama sekali tidak peduli. Jujur saja, pengalaman bercintanya pertama kali hanya dengan Kai seorang.
Maka Jika Siwon menjadi lamunan sang Gisaeng. Maka Kai adalah lamunan gila dan adiksi sang Panglima. Hanya dengan mengingat malam dimana mereka bercinta, sang Panglima mampu merasakan hasratnya seperti mendidih.
...
"Ughh.. Anghh"
Tubuh ramping itu tersentak-sentak. Tangannya terangkat untuk menjambak pelan surai hitam sang panglima yang tengah asyik mengulum putingnya yang mencuat itu.
Kai mengerang nikmat. Meski ia tahu ini hal yang gila dan terlalu beresiko. Tetapi hanya dengan sang Panglima ia bisa mencapai putih saat bercinta.
Bagaimana ia bisa merasakan nikmatnya bercinta? Jika beberapa waktu ini ia berada di bawah kepemilikan sang pangeran. Dan sang Pangeran sama sekali tidak menyentuhnya seperti para pelanggannya.
"Oh. Iyaahhh...ahhh"
Panglima mendesah nikmat. Ia menyodok lubang mungil itu dengan nafsu yang membakar libidonya. Tubuhnya bergerak liar tanpa irama.
"shhh...ahhh...ahh"
Tubuhnya terus tersentak. Matanya terbelalak dengan air liur yang membasahi bibir plumnya. Ini sungguh luar biasa. Belum pernah ia merasakan kenikmatan seperti ini.
...
Sodokan sang panglima begitu liar menyentuh titik kenimatan Kai. Kasar dan dalam hingga berbuahkan jeritan-jeritan kenikmatan namja manis itu.
"Angghhh... Ahhhh"
"Shhh..ohh..nikmat sekali"
Panglima Choi mengeram menahan desahannya. Sial, tubuh namja muda ini begitu menggairahkan dan membuatnya tak bisa untuk berpikir jernih. Namja 40 tahun itu pun akhirnya membungkam bibir sang gisaeng hingga membuat jeritan penuh nafsu itu teredam dalam ciuman liar yang memabukan.
"Eunghhh.. Hmmpp.."
Tangan kanannya yang lancang terus mengocok penis sang gisaeng yang tidak lebih besar dari miliknya.
Puas dengan penis mungil itu. Ia pun membawa tangannya untuk menggoda dua kacang ereksi milik Kai. Menyentuhnya dan menarik salah satu dari dua puting itu.
Kai memukul pelan dada sang panglima. Supaya lelaki bernama Choi Siwon itu menghentikan ciuman mereka dan membiarkan dirinya untuk berbicara.
"Aghh.. Panglima.. Ahh, j.. Jangan kuath.. Ahh" ia mencoba berkata. Namun sama sekali tak sanggup karena gempuran penis gemuk sang panglima membuatnya kesulitan untuk berbicara. Melainkan mendesah dengan sangat erotis.
Plak..
Plak...
Plak...
Bunyi tamparan basah terdengar cukup kuat.
"Pa.. Panglima, akuhh"
Kai menyentuh bahu sang panglima. Berusaha berkata jika sudah hampir sampai.
Choi Siwon mengangguk pelan. Ia mengerti, karena ia sendiri pun juga merasakannya.
Ia mempercepat sodokannya. Dan memperdalam penisnya ketika lahar putih hendak keluar dari penisnya yang panjang dan gemuk.
"Ahhhhh..." keduanya mendesah bersamaan. Mereka mencapai kenikmatan dalam waktu yang hampir bersamaan.
Kai merasakan lubang anusnya hangat dan penuh. Sang panglima menyemburkan spermanya di dalam. Sementara dirinya menyembur di luar dan mengenai dada bidang nan kokoh milik namja bermarga Choi itu.
Keduanya mencoba mengatur napas. Selama itu pula, Panglima Choi membiarkan penisnya berada di dalam lubang mungil sang gisaeng. Membiarkan kebanggannya itu melemas perlahan di sarang hangat dan penuh kenikmatan.
"Panglima Choi" Kai mencoba berkata.
Sang panglima ber-hm pelan. Meski bibirnya tidak berhenti memberikan kecupan kecupan nakal di wajah namja yang tengah berada di dekapannya itu.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu"
"Silahkan, nona"
Kai terkekeh dan berdalih jika dirinya bukan seorang yeoja.
"Apa anda ingat pertemuan anda dengan seorang anak kecil di Pasar Ikan?" tanyanya, perlahan.
Alis pualam namja tampan itu bertaut. Otaknya mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Selama aku hidup, ada banyak orang yang ku temui, Kai-ssi" jawabnya.
Namja berparas cantik itu menggeleng. Ia berbalik badan. Dan mencoba menatap sang panglima tepat di mata. "Seorang anak kecil di musim semi. Kau ingat? Kau memberikan sebuah apel karamel saat itu"
"Aku"
Kai mencoba menanti jawaban itu.
"Maafkan aku" sang panglima berkata perlahan. "Aku sama sekali tidak ingat"
Ada nada penyesalan dalam kata-katanya.
Kai tersenyum dengan tatapan sendu. Kalimat lirih itu meluncur dari bibirnya yang menegaskan jika ada hal yang membuat sang panglima melupakan memori itu.
Kai yakin..
Pasti ada sesuatu yang terjadi selama mereka tidak bertemu. Tapi apa? Apa yang membuat hyung tampannya melupakan pertemuan mereka 15 tahun yang lalu? Lagi-lagi air mata meluncur deras membasahi wajahnya.
Sang panglima yang melihat hal tersebut sama sekali tidak menyukainya. Hal yang hanya akan membuat dirinya sesak akhir-akhir ini adalah melihat tatapan sendu sang Gisaeng yang selalu tertuju ke arahnya.
Apa yang terjadi sebelumnya?
Atau apa yang ia lupakan selama ini?
Siwon sama sekali tak bisa mengingat apapun. Selain masa kecilnya yang selalu dipenuhi pelatihan-pelatihan militer. Dan kehidupan penuh kasih yang ia dapatkan dari keluarganya.
Kepalanya semakin berdenyut mana kala ia mencoba mengingat-ingat cerita yang dikatakan oleh sang gisaeng.
Dalam memorinya ia hanya sedikit melihat sosok anak kecil yang tersenyum ke arahnya dengan hazel coklat yang berkilauan. Berbeda jauh dengan maniks-maniks ras asia seperti mereka ini.
Maniks yang sama seperti maniks yang tengah menatapnya kini.
"Pa.. Panglima?"
Kai menatapnya khawatir.
Namja tampan itu menyentuh pelipis kepalanya yang membekas sebuah luka Jahitan memanjang. Kira-kira 5 atau 6cm. Kai menyipitkan kedua matanya saat melihat luka aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Panglima tampan itu mengerang pelan. Menahan rasa nyeri di kepalanya.
Kai menyentuh bekas luka itu dan mengelusnya. Membuat sang panglima berhenti mengerang dan beralih menatap sang gisaeng yang kini tengah tersenyum ke arahnya.
"Jika memang tidak ingat, jangan memaksakan diri untuk mengingatnya, panglima" ucapnya, halus.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
A/N
Hey.. Thx buat review ff ini. Sebenarnya pengen buat Ff harem Kai. Tapi setuju gak sih kalo Kai di ff ini direbutin sama lebih dari dua seme? Setuju gak setuju gak? But, reviewnya dikit bgt*lol. Its ok lah.. Aku terima kalo emang begitu. Hehehe..
A : buat Versi Hunkai nya dong Joy
Me : ada yg setuju?
A: ini Mpreg?
Me: ini bukan mpreg ya.. Bukan..hehe..sorry klo kecewa
A: lanjutin ff lain dong
Me: kalo lagi mood ya.. Sibuk bgt akhir-akhir ini.
A: buatin satu chap wonkai, satu chap Hunkai
Me : siap bos..
A: Sehun suka gak sih sama nini?
Me : doi ngerasa tertarik kok sama nini. Btw di Chap ini udh sedikit terjawab ya kenapa sifatnya Hunnie appa berubah dingin dan careless sama kerajaan.
A: ada hubungan apa, antara Kai dan siwon?
Me : sesuatu yg disebut masa lalu*eaaaa hahaha.. Cuma ada sedikit tragedi yg ngebuat Siwon lupa sams kenangannya itu.
A: Joy, siwonnya ketuaan.
Me: gimana ya? Tapi aku suka tuh. Hahahay... Dibandingkan jadi member boyband Siwon lebih keliatan kayak eksekutif muda gitu. Atau tentara mungkin? Yah..aku lebih suka siwon pake seragam tentara masa*lol.
A: aku gak suka bla.. Bla.. Bla.. Dan bla..bla..
Me: stop it ya! Aku gak maksa kamu utk baca. You dont like it, you better out!
A: Buat ff pwp, joy?
Me: boleh.. Tapi kasih saran.. Tema Sex apa yang harus aku ambil*frontal mode on*
Please jangan tanya 'nini cewe apa cowo?' aku tegasin sekali lagi aku gak suka GS. Dan ff yg aku buat itu pasti Yaoi. Kalo ada yg gasuka, silahkan pergi! Jangan berasumsi Joy sombong, Joy begini atau begitu. Intinya jangan baper!
Lanjut? Review diatas 20*bercanda hehehe
