HUNHAN FOREVER! HUNHAN FOR LIVE!
.
HUNHAN GIVE AWAY CHALLENGE!
.
.
xiugarbaby (formerly Aruna Wu)
presents
.
"E.N.D"
.
HunHan
.
GS – Rated M – Family Life – Hurt/Comfort – Drama – Angst
.
.
.
.
Happy Reading! ^^
.
.
.
"Mmm… HunHan sudah ganti baju dan sekarang mereka sedang makan buah sambil nonton TV"
Sehun melaporkan keadaan terkini kedua putranya kepada Luhan. Pria itu memang tidak diminta untuk melakukannya, namun Sehun merasa itu adalah hal yang penting untuk disampaikan. Tentu Sehun tidak mau kehilangan kepercayaan Luhan terhadapnya, lagi.
"Apa Jaehun sudah minum obatnya?"
"Sudah, Jaehan juga sudah mengganti plaster luka di lututnya"
"Ingatkan pada mereka untuk mengerjakan PR, sebelum jam 6 sore mereka harus sudah mandi dan setelah itu mereka harus belajar… kau bisa menemani mereka belajar kan?"
"Tentu saja, jam berapa kau akan pulang?"
"Saat makan malam, aku pulang saat makan malam"
"Okay, kami menunggumu"
Sehun meletakkan kembali ponselnya di atas meja ruang keluarga di rumah Luhan. Sepulang sekolah memang Sehun mengajak HunHan untuk pulang kerumah ibu mereka karena segala kebutuhan HunHan ada di rumah itu, mulai dari baju ganti hingga channel TV kesukaan mereka ada di sana.
"Appa… hari ini appa bolos kerja ya?"
Si kecil Jaehan bertanya sambil mengunyah stroberi di dalam mulut mungilnya.
"Tidak, appa tidak bolos kerja sayang" jawab Sehun yang kini duduk di antara Jaehun dan Jaehan
"Lalu kenapa appa ada di sini? Bukankah kantor appa jauh?" kali ini Jaehun yang bertanya, anak itu tentu menelan strawberry yang dia kunyah terlebih dahulu.
"Mmm… pekerjaan appa sebenarnya tidak harus dikerjakan di kantor," ujar Sehun dengan senyum misteriusnya.
"Benarkah? Apa pekerjaan appa?" Jaehun bertanya penuh antusias dan kembarannya pun ikut merapat sangking penasarannya. Si kembar selama ini memang tidak tau professi apa yang sebenarnya digeluti oleh ayah mereka. HunHan kecil memang tau jika ibu mereka bekerja di butik sebagai seorang desainer, bagi mereka desainer adalah orang – orang yang membuat baju, mereka tidak menghitung bagaimana sulit dan rumitnya. Yang mereka tau ibu mereka akan menggambar sebuah baju dan kemudian menjahitnya agar bisa menjadi baju yang asli, ya… tentu saja, pemahaman sesederhana itulah yang dimiliki dua kepala kecil itu. Dan kini keduanya sangat ingin tau tentang apa yang ayah mereka kerjakan.
"Appa adalah seorang arsitek"
Sehun menjawab dengan mantap dan bangga. Namun disaat yang bersamaan Jaehun dan Jaehan saling mengerutkan kening mereka, dan tak lama kemudian bibir tipis Jaehan bertanya,
"Arsitek itu apa?"
Sehun hanya bisa tersenyum melihat betapa imut ekspresi putranya saat bertanya barusan, kemudian dia berkata "Arsitek adalah orang yang menggambar sebuah desain rumah atau bangunan dan menjadikannya nyata"
"Jadi.. Appa adalah tukang bangunan?" pertanyaan itu terlontar dari Jaehun dan kali ini Sehun tak bisa menahan tawanya. Bukannya marah karena professinya jadi terdengar tidak elit, bagaimana seorang arsitek disebut sebagai 'tukang bangunan', namun istilah itu tak sepenuhnya salah bukan? Sehun memang dibayar mahal untuk menggambar desainnya dan membuat desain itu jadi nyata bersama Chanyeol, si sarjana teknik sipil berjiwa marketing itu.
"Apa kalian penasaran dengan apa yang appa kerjakan?" tanya Sehun pada kedua bocah penasaran di samping kanan dan kirinya. Kedua bocah itu spontan langsung mengangguk penuh semangat.
"Baiklah… kalau begitu, liburan nanti kalian akan appa ajak ke tempat appa bekerja, bagaimana?"
Sehun memberikan undangan paling brilian bagi kedua buah hatinya. HunHan kecil pun langsung setuju tanpa pikir panjang, kedua bocah tampan itu tentu saja sangat bahagia, apapun tentang ayah mereka adalah hal yang menakjubkan. Melihat senyum bahagia kedua buah hatinya, entah kenapa Sehun merasakan kembali perasaan campur aduk di dalam hatinya.
Lagi, entah untuk keberapa kalinya. Sehun merasakan penyesalan mendalam pada apa yang terjadi pada kedua buah hatinya. Oh Sehun, 25 tahun dan penuh penyesalan. Ya, itulah Oh Sehun saat ini. Dia tentu masih ingat betul apa yang beberapa jam lalu terjadi antara Jaehun dan Jaehan di sekolah saat dia mengenalkan Baekhyun pada mereka. Cara Jaehan menatap Baekhyun, cara Jaehun menatapnya, apa yang Jaehan utarakan pada Jaehun dan apa yang Jaehun katakan untuk meyakinkan Jaehan. Semua itu menambah rasa menyesal dalam diri Oh Sehun, pria tampan, mapan dan dewasa yang penuh penyesalan itu.
Seharusnya dulu Sehun memang tidak egois, seharusnya dulu Sehun lebih memilih keluarganya daripada karirnya sendiri, seharusnya dulu Sehun percaya pada Luhan atau mungkin seharusnya dulu Sehun menjadi orang yang lebih bisa dipercaya saja. Dipercaya Luhan tepatnya.
.
"Peter Pan pun menggandeng tangan Tinker Bell dan terbang bersamanya menuju Neverland, tempat dimana dia tidak akan tumbuh dewasa"
Sehun menutup buku cerita favorite kedua putranya, buku cerita yang mengkisahkan tentang seorang anak bernama Peter Pan yang tidak mau tumbuh menjadi dewasa. Sehun memandang kedua putranya satu persatu dengan tatapan penuh kasih sayang. Malam ini Jaehun dan Jaehan tidur tepat waktu ditemani dengan sebuah dongeng yang dibacakan oleh suara berat dan dalam sang ayah.
Sehun meletakkan kembali buku cerita ke rak buku yang ada di hadapan tempat tidur Jaehan, kemudian kembali pada kedua putra kembarnya. Jaehun, si sulung itu tidur dengan rapi dan tenang. Sehun hanya menatapnya penuh kasih sayang kemudian merapikan rambut anak itu dan mengecup keningnya dengan penuh kehangatan.
"Selamat tidur sayang… semoga mimpi indah..." ucap Sehun pada Jaehun yang tertidur.
Begitu selesai dengan Jaehun, Sehun langsung berpindah ke tempat tidur yang ada disebelahnya. Tempat tidur dimana si bungsu Jaehan terbaring dengan posisi sangat berantakan. Persis sama seperti posisi tidur sang ayah. Sehun tertawa tanpa suara melihat kebiasaan buruk tapi imutnya itu diwarisi penuh oleh si bungsu. Setelah puas menikmati pemandangan indah menurutnya itu, Sehun langsung membantu membenarkan posisi tidur Jaehan kemudian melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan pada Jaehun.
Kedua putra kembarnya sudah tertidur, Sehun berjalan mundur seakan tak mau melepaskan pandangannya dari tubuh lelap HunHan, tangannya mematikan lampu utama dan membiarkan penerangan lampu nakas saja yang menerangi kamar.
"Jaehun-ah… Jaehan-ah… jangan tumbuh terlalu cepat…" gumam Sehun kemudian menutup pintu kamar kedua putranya.
To: Lu
Anak – anak sudah tidur.
Kau dimana? Kenapa belum sampai di rumah?
Apa sesuatu terjadi?
Sehun mengirim sebuah pesan pada Luhan, beberapa jam yang lalu sebelum makan malam Luhan memang menelpon Sehun untuk memberi tahu bahwa mobilnya mogok dan dia tidak bisa pulang tepat waktu. Sehun sudah ingin menjemput Luhan, tapi Luhan melarangnya. Wanita cantik itu meminta Sehun untuk tetap di rumah dan menjaga buah hati mereka, sementara Luhan mencari bantuan bengkel terlebih dahulu sebelum pulang.
Namun sampai saatnya anak – anak tidur, Luhan pun belum juga sampai di rumah. Sehun benar – benar khawatir kali ini, mobil mogok bukanlah hal yang bisa Luhan tangani sendiri, Sehun tau itu. Terlebih lagi ini sudah malam dan Luhan tidak sama sekali mengabarinya sejak tadi.
Drrrt… drrrt…
Ponsel Sehun bergetar, segera Sehun mengambil ponselnya, siapa tau seseuatu memang terjadi pada Luhan. Namun… pesan yang masuk ternyata bukanlah dari Luhan, itu adalah pesan dari Baekhyun.
From: Byun B
Apa anak – anak sudah tidur?
.
To: Byun B
Sudah,
.
From: Byun B
Apa Luhan sudah pulang?
.
To: Byun B
Belum.
.
From: Byun B
Bisakah kau pulang sebentar?
Lampu kamarku mati, aku terlalu pendek
untuk memasang lampunya sendiri.
.
To: Byun B
Baiklah,
.
Sehun menyimpan kembali ponselnya dan segera beranjak dari ruang tengah rumah Luhan menuju ke pintu utama. Dari halaman rumah Luhan, Sehun bisa melihat kamar Baekhyun gelap gulita. Pria tampan itu hanya menghela napasnya saja. Perkara lampu kamar yang mati memanglah hal biasa, tapi itu bisa saja jadi menyeramkan bagi seorang Byun Baekhyun. Gadis itu sangat benci kegelapan, gadis itu sama sekali tak bisa hidup tanpa cahaya. Dan tanpa keraguan, Sehun akhirnya bergegas menuju ke rumah sebelah untuk membantu Baekhyun sebelum gadis itu sakit leher karena tidur di sofa.
.
"Terima kasih sudah menjemputku di butik dan mengantarku pulang, aku masuk dulu…"
Luhan baru saja akan melepaskan sabuk pengamannya namun Yifan menahannya.
"Apa aku perlu bertemu dengan anak – anak?" Yifan menengok ke arah rumah Luhan dan tersenyum
"Tidak… tidak perlu, anak – anak sudah tidur sekarang" ujar Luhan ditambah dengan senyum kelelahannya
"Kalau begitu Yoon ajhuma pasti menginap di rumahmu lagi mala mini" kata Yifan sambil membantu melepaskan sabuk pengaman Luhan
"Tidak… Yoon ajhuma tidak bisa lagi menjaga HunHan, putrinya baru saja melahirkan, jadi dia harus ikut tinggal bersama putrinya untuk ikut merawat bayinya" jawab Luhan agak gugup
Tangan Yifan berhenti dan raut wajahnya berubah cemas, "jadi HunHan hanya sendirian saja?"
"Tidak…. Mereka… mereka bersama Sehun" Luhan nampak sangat tidak enak mengatakannya pada Yifan, wanita dua anak itu tau seberapa sulitnya Yifan mendekatkan diri kepada HunHan, apalagi duo HunHan sangat mengidolakan Sehun sebagai ayahnya, jadi Luhan rasa wajar jika Yifan jadi sedikit cemburu setiap mendengar Sehun bersama mereka.
Diluar dugaan, Yifan malah tersenyum tenang dan menatap Luhan dengan penuh kasih sayang. "Syukurlah sekarang Sehun sudah bisa dekat dengan anak – anak, dia tidak lagi egois dengan pekerjaannya sendiri"
Luhan menatap Yifan yang tersenyum di hadapannya, senyum yang begitu tulus dari seorang pria dewasa yang baik dan lembut.
"Aku hanya ingin memberikan kesempatan pada Sehun, dia bilang dia ingin mengisi posisinya sebagai seorang ayah" ujar Luhan pelan, kali ini dia menundukkan wajahnya, wanita itu merasa sedikit canggung membahas masalah ini dengan Yifan, namun… dia tidak punya pilihan, kemana lagi dia harus berbagi? Bukankah Yifan adalah orang yang paling tepat? Pria itu cepat atau lambat akan menjadi suaminya juga, bukan?
"Tentu saja sayang… Sehun adalah ayah mereka, sudah sepantasnya Sehun ada di posisi itu untuk mereka. HunHan juga perlu kasih sayang dari Sehun, bukan?"
Yifan menakup pipi kiri Luhan dan itu membuat mereka saling bertatapan. Mata rusa yang bening itu terlihat kebingungan, namun wajah teduh dan hangat milik Yifan di hadapannya itu membuatnya mau tidak mau merasa lebih tenang. Setidaknya dia tidak salah memilih orang untuk ada di sampingnya di saat seperti ini, itu yang Luhan pikirkan.
"Apa kau tidak merasa keberatan jika Sehun sering datang ke rumah untuk bertemu dengan HunHan?" tanya Luhan lagi,
"Untuk apa aku keberatan, sayang? Sehun adalah ayah HunHan, sudah hak Sehun untuk berada di posisi itu. Hanya karena aku cepat atau lambat juga akan menjadi ayah mereka, bukan berarti aku akan melarang Sehun untuk mengisi peran itu. Sampai kapan pun, Sehun adalah ayah mereka. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menyangkalnya. Aku menyayangi HunHan dengan tulus, kau tau itu kan?"
Semua kata – kata Yifan barusan membuat hati Luhan jadi lebih tenang, dan mata rusa itu memandang pria tampan dihadapannya ini semakin kagum.
"Bagaimana bisa kau begitu baik dan tulus, Wu Yifan?" tanya Luhan dengan tatapan kagum pada sosok yang kini wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya sendiri.
"Karena aku mencintaimu, sayang… aku mencintaimu dan semua kekurangan serta kelebihanmu… aku sangat mencintaimu"
Hati Luhan bergetar mendengar pernyataan cinta yang entah keberapa kalinya dari Yifan. Luhan merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Setelah mengalami kesusahan dalam hidupnya, dia tak harus berjuang sendirian sekarang, dia punya Yifan yang tulus menyayangi dirinya dan juga kedua putranya. Luhan merasa beruntung karena dia dilindungi oleh perlindungan yang sangat hangat dan nyaman, perlindungan milik Yifan, yang terasa lebih kuat dan menjanjikan daripada perlindungan yang Sehun berikan dulu. Ya, dulu.
CHUP
Yifan menempelkan bibirnya pada bibir Luhan, kali ini Luhan sama sekali tak menolak ciuman itu. Perlahan Yifan mulai melumat bibir Luhan dengan lembut dan Luhan pun seakan memberikan jalan pada Yifan untuk berbuat lebih, wanita itu membuka bibir mungilnya dan membiarkan lidah Yifan menyapa lidahnya sendiri. Seiring dengan sesapan bibir Yifan pada bibir bawah Luhan, tangan Yifan pun tak hanya diam, tangan lebar itu mulai membelai lembut tengkuk dan leher Luhan, memberikan sensasi panas dan menggelitik bagi wanita itu. Luhan sendiri tidak mau kalah, kedua tangannya melingkar di bahu Yifan bersamaan dengan bibirnya yang menyesap bibir atas Yifan.
Yifan merapatkan tubuhnya pada tubuh Luhan, melepaskan tautan di bibir mereka dan beralih menciumi tengkuk dan leher putih mulus wanita itu. Sementara tangan lebarnya kini sudah beralih ke paha Luhan yang tersembunyi di balik rok satinnya. Luhan meremas rambut Yifan dengan kedua tangannya, memberikan balasan untuk sengatan – sengatan penuh gairah yang dia dapatkan dari pria tampan bermarga Wu itu.
"Eungh,…"
Luhan mulai melenguh akibat pekerjaan tangan Yifan di bawah sana. Satu tangan Yifan merayap naik dan meremas payu dara Luhan.
"Akh!"
Dengan sigap Luhan langsung mendorong Yifan menjauh. Wajah Luhan yang tadi penuh kenikmatan kini berubah, tatapan mata rusa cantik itu berubah ketakutan.
"Maafkan aku… aku… aku belum siap untuk ini semua, Yifan… maafkan aku.."
Luhan berkata dengan napas tersengal, keringat dinginnya mulai bercucuran dan rambut – rambut halus di keningnya yang berantakan kini lepek karena keringat.
"Tidak apa – apa sayang, aku mengerti… aku mengerti kau tidak mau melakukan itu sebelum kita menikah... aku mengerti sayang.." Yifan berkata lembut seraya mengusap punggung tangan Luhan.
"Maafkan aku… aku hanya tidak mau apa yang dulu pernah terjadi, kembali terjadi…" ujar Luhan masih dengan ketakutannya. Wanita itu memang sedikit trauma dengan 'sex before married'. Hidupnya pernah hancur sekali akibat apa yang dia lakukan bersama Sehun dulu. Wanita itu tak sepenuhnya menyesal, ada Jaehun dan Jaehan yang menjadi hidupnya sekarang, namun tetap saja, wanita itu takut jika hal yang sama harus terulang, lagi.
.
Sehun membuka pintu gerbang rumah Luhan cukup tergesa karena dia tidak mau lebih lama meninggalkan HunHan di rumah sendirian, terlebih dia tidak mau Luhan salah paham jika dia meninggalkan si kembar. Dia tidak mau dinilai lebih tidak bertanggung jawab dan egois lagi dengan cara meninggalkan putra mereka di rumah, sendirian. Memang mereka berdua sudah tidur, tapi kemungkinan – kemungkinan buruk tetap saja bisa terjadi. Dan itu sama sekali tidak diinginkan Sehun.
Ceklek
Sehun menutup pintu pagar rumah Luhan dengan cermat. Setelah memastikan bahwa pagar itu benar – benar tertutup rapat, Sehun membalikkan badan dan…. tubuhnya langsung terasa kaku di tempat. Kedua matanya menajam, dadanya berdetak tidak karuan, telapak tangannya yang jadi dingin dia kepalkan dan kepalanya terasa kosong seiring dengan sesuatu yang menusuk jantungnya.
Pria itu menatap sebuah mobil mewah yang terparkir di depan rumah sang mantan istri. Tapi ini bukan masalah mobil dan siapa pemiliknya, yang membuat Sehun merasa panas dan dingin disaat yang bersamaan adalah apa yang terjadi di dalam mobil itu.
Sehun melihat dengan jelas bagaimana Yifan dan Luhan saling melumat bibir satu sama lain. Kedua matanya dengan sangat jelas melihat sang mantan istri yang demi Tuhan masih sangat dia cintai itu melakukannya dengan seseorang yang paling tidak dia suka.
Lagi, Sehun merasa menjadi seorang pecundang di hadapan Yifan. Pria itu merasa dirinya sangat lemah, dia memang masih sangat mencintai Luhan tapi apa gunanya? Luhan tidak lagi mencintainya, Luhan sudah memiliki orang lain yang dia cintai, orang lain yang dengan bangganya berdiri di sebelahnya, orang lain yang dengan kerennya menjadi sosok calon ayah bagi anak – anaknya, dan orang lain yang perlahan tapi pasti menghapus dirinya dari kehidupan Luhan.
Blam
Luhan baru saja keluar dari mobil Yifan dan Sehun masih berdiri di depan pintu rumah Luhan. Berdiri dengan perasaan yang sudah dipecundangi. Sehun menatap Luhan dengan tatapan yang tak bisa diartikan oleh Luhan sendiri. Dan wanita itu, wanita itu tampak sangat kaget melihat Sehun berdiri disana.
"Sehun-ah…"
Luhan berjalan perlahan mendekat ke posisi Sehun berdiri saat ini. Kedua tangan dan kaki Luhan bergetar, entah kenapa dia merasa sangat ketakutan saat ini. Luhan merasa seperti seorang istri yang terpergok sedang berselingkuh oleh suaminya. Takut, bersalah dan sakit. Itulah yang langsung Luhan rasakan ketika melihat bagaimana Sehun menatapnya saat ini. Dan perasaan itu makin bertambah sakitnya ketika Sehun… tersenyum.
"Kau sudah pulang, Lu?" ucap Sehun dengan senyum tulus,
"Ya… aku, pulang bersama Yifan… tadi mobilku mogok dan aku menelpon bengkel tapi bengkelnya datang lama sekali akhirnya Yifan datang dan menjemputku di butik lalu kami pulang bersama dan mobil sudah dibawa ke bengkel dan…"
"Kau pasti lelah…"
Sehun memotong kalimat Luhan dengan nada tenang dan lembut, kedua tangan Sehun terangkat lalu merapikan rambut Luhan yang berantakan pasca kegiatan 'cukup panas'nya bersama Yifan barusan.
"Masuklah ke dalam dan mandi dengan air hangat, anak – anak sudah makan malam dan tidur dengan baik, aku menyisakan sedikit makan malam untukmu di meja makan, kau bisa memanaskannya dan makan jika kau belum makan"
Sehun kembali berkata dan kini tangannya beralih untuk merapikan kerah kemeja Luhan yang juga berantakan, dan terakhir ibu jarinya yang terasa begitu dingin itu menyapu bibir bawah Luhan. Ada bekas lipstik disana.
"Aku…"
"Ku rasa ini sudah malam, aku harus kembali ke rumah. Bye Lu… Good Night."
CHUP
Sehun mengecup pucuk kepala Luhan dengan begitu lembut, kedua tangannya menakup pipi tirus Luhan juga dengan lembut. Sehun terasa begitu lembut bagi Luhan saat ini. Luhan terdiam dan terpaku. Bahkan saat Sehun sudah masuk ke dalam rumah nya sendiri Luhan masih diam di posisi yang sama dan air matanya jatuh. Entah kenapa hatinya merasa sangat sakit, wanita itu merasa bahwa dirinya telah berhianat, dan senyum Sehun tadi seperti menghukumnya tanpa ampun.
Yifan yang masih di dalam mobil mengeratkan tangannya pada stir mobil. Emosinya membuncah dan dia benar – benar marah saat ini. Melihat Sehun mengecup Luhan seperti tadi membuatnya benar – benar marah. Menurutnya Sehun tak punya hak untuk melakukan hal demikian, apapun alasannya. Ya tentu, Yifan memang berhak marah, melihat status ketiganya saat ini, posisi Yifan memang terlihat lebih berhak marah dibanding Sehun.
Baru saja Yifan ingin menyusul Luhan, wanita itu sudah lebih dulu masuk ke dalam rumahnya.
BUGH
Yifan memukul stir mobil untuk meluapkan emosinya sendiri.
"Sehun… Oh Sehun…"
Gumam Yifan dengan penuh kemurkaan, Yifan tak habis pikir kenapa pria yang lebih muda dua tahun darinya itu selalu saja mengganggu jalannya untuk mendapatkan Luhan, bahkan sejak awal dia mengenalkan Luhan pada Sehun dulu. Ya, itu adalah hal yang paling Yifan sesalkan, dulu memang Yifan lah yang mengenalkan Sehun pada Luhan. Sehun si adik kelas yang pintar dan populer dengan Luhan si siswa pindahan dari kampung halaman yang sama dengan Yifan di Cina. Yifan menyesal. Sangat menyesal, seharusnya memang Yifan tak pernah mengenalkan mereka berdua.
.
.
.
E.N.D
(Ex-Husband Next Door)
.
.
.
Chapter 3: I Know…. I'm not the only one
"Dan yang paling menyakitkan adalah ketika kau sadar, kau hanya seorang figuran dalam hidup orang yang jadi peran utama dalam hidupmu"
.
.
.
"Syukurlah kau datang… aku sudah berusaha naik kursi, naik meja tapi tetap saja aku kurang ti…"
BUGH
"Auch… OH SEHUN! Kau apa – apaan…. Sih?"
Baru saja Sehun menghempaskan Baekhyun ke dinding dan menghimpit gadis itu antara dinding dan tubuhnya sendiri. Baekhyun tentu saja kaget dengan perlakuan sahabatnya itu, kenapa Sehun tiba – tiba mengunci badannya seperti itu. Dan apa itu, posisinya sangat tidak nyaman. Belum lagi kini Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun.
Baekhyun membulatkan mata beningnya, menganggap kalau Sehun pasti sudah gila atau memang sahabatnya itu tidak waras.
"Ya… Oh Sehun, kau ini kenapa…"
"DIAM!"
Sehun tidak membentak, hanya saja suara dalam dan sexynya itu terdengar sedikit mengintimidasi Baekhyun di sana. Baekhyun yang tak mengerti apapun hanya bisa menuruti apa yang Sehun katakan. Diam. Gadis itu hanya diam saja mesikipun kini wajah Sehun tidak ada satu sentimeter pun dari wajahnya, bahkan Baekhyun bisa merasakan hembusan napas hangat Sehun saat ini. Jujur saja Baekhyun ketakukan, Baekhyun sudah memikirkan hal – hal tak lazim seperti, apakah Sehun kesurupan atau pria itu berada di bawah pengaruh ilmu hitam. Karena sepengetahuan Baekhyun, Sehun tidak mungkin melakukan hal – hal seperti saat ini bahkan dalam keadaan mabuk sekalipun. Sehun adalah orang paling rasional yang Baekhyun kenal.
Tepat saat Sehun memiringkan wajahnya, Baekhyun langsung melipat bibirnya dan menutup erat matanya. Kedua tangan Baekhyun yang dikunci Sehun langsung mengepal erat, gadis itu bahkan hampir saja teriak jika saja dia tidak merasakan sesuatu yang berat di bahu kirinya yang diikuti dengan sesuatu yang mengelitik hidungnya.
Baekhyun membuka mata saat cengkraman Sehun melemah, Baekhyun dapat melihat kalau saat ini Sehun membenamkan kepala di bahu sempitnya dan bahu bidang pria tampan itu naik turun seiring napasnya yang terasa berat. Sesuatu terjadi. Itu yang Baekhyun yakini.
"Ada apa?" tanya Baekhyun lembut sambil mengusap bahu Sehun.
Tidak ada jawaban, mereka masih ada di posisi yang sama untuk sesaat. Baekhyun mencoba mengerti apa yang terjadi meskipun kini bahu kirinya mulai pegal. Baekhyun bukanlah gadis kuat perkasa yang mampu menopang Sehun yang berat rata – ratanya dua kali berat badan Baekhyun sendiri di bahunya.
"Aku… ngantuk sekali" gumam Sehun kemudian
Baekhyun menghela napas berat dan gadis itu tau jika sahabat kesayangannya ini tengah berbohong.
"Baiklah, pasang lampunya besok saja… kau tidur dulu, besok pagi kau harus meninjau proyek bukan?" ujar Baekhyun seraya menepuk bahu sehun agak keras
Sehun mengangkat kepalanya dari bahu Baekhyun kemudian menatap gadis itu curiga.
"Darimana kau tau kalau besok aku harus meninjau proyek?"
"Ah… barusan Chanyeol yang memberitauku"
"Chanyeol? Bagaimana Chanyeol bisa memberitaumu?"
"Lewat Ktalk,"
"Jadi kau berhubungan dengan pria lain di belakang calon suamimu ini ya?"
"Ng?"
Baekhyun kehabisan jawaban, gadis itu langsung bingung harus bagaimana dengan pertanyaan Sehun barusan. Kening Baekhyun berkerut, dia sedang memikirkan kira – kira jawaban apa yang harus dia berikan pada Sehun untuk menjelaskan bagaimana dia bisa berhubungan dengan Chanyeol. Pagi tadi Baekhyun dan Chanyeol memang bertukar kontak, tapi… memang tidak seharusnya Baekhyun meladeni Chanyeol yang mengirimkan chat terlebih dahulu padanya. Sekali lagi diingatkan bahwa Byun Baekhyun adalah calon istri Oh Sehun.
"Buahahahahahahahaha…."
Tawa Sehun meledak, pria itu tertawa sambil memegangi perutnya dan menunjuk ke arah Baekhyun. Baekhyun sendiri tidak mengerti kenapa pria itu moodnya cepat sekali berubah, barusan dia terlihat sedih dan apa ini… bahkan Sehun tertawa sambil berguling di sofa, masih sambil menunjuk wajah bingung Baekhyun.
"Kau … lucu sekali… Byun Baek! Buahahahaha… wajahmu tadi itu… lucu sekali… Buahahahahaha"
Baekhyun yang baru saja sadar ditertawai langsung mengambil bantal sofa lalu memukul badan Sehun sekeras yang dia bisa.
"Kau! Kau mentertawakanku?! Lagi?! Kau pikir aku selucu itu, hah?"
"Buahahahha… kau memang lucu Baek… Buahahaha…"
BUGH! BUGH! BUGH!
"Kau keterlaluan Oh Sehun! Kau berani mempermainkan perasaanku!"
"Tidak… aku tidak mempermainkan perasaanmu, kau saja yang terlalu peka, kau terlalu terbawa perasaan… apa ya itu istilahnya… Baper?"
"YAAAA! OH SEHUN!"
"HAHAHAHA…"
Baekhyun memandang Sehun yang tengah tertawa selama beberapa saat, kali ini cara tertawa sahabatnya itu terlihat berbeda. Sehun memang tertawa, tapi tawanya terasa mengambang, dengan cepat gadis itu mengerti jika Sehun tidak sepenuhnya tertawa. Sehun hanya pura – pura tertawa untuk menutupi sesuatu yang dia sembunyikan sendiri, sesuatu dibalik air mata di sudut matanya. Jelas itu bukan air mata karena tertawa.
"Tertawalah… tertawalah sepuasmu jika itu membuatmu merasa lebih baik! Kalau begitu aku tidur di kamarmu malam ini!" titah Baekhyun setelah berdiri dan mengkacakan pinggang
"Oho…. Kita kan belum menikah Byun Baek, mana bisa kita ti…"
"Jangan berpikir macam – macam Oh Mesum Sehun! Kau tidur di kamarku! Selamat malam!"
Baekhyun berjalan cepat dan menutup rapat pintu kamar yang Sehun gunakan, bersamaan dengan tertutupnya pintu, tawa di wajah Sehun memudar dan jari jemari kurusnya dia gunakan untuk menghapus air mata miliknya.
"Kau pasti tau apa yang aku rasakan Baek, maafkan aku yang tidak berani jujur… ya… ini menyakitkan, sangat menyakitkan…"
Sehun bermonolog sendiri sambil membiarkan air matanya terjatuh, "Dan yang paling menyakitkan adalah ketika kau sadar, kau hanya seorang figuran dalam hidup orang yang jadi peran utama dalam hidupmu… iya kan, Oh Sehun?"
.
.
Beberapa pekan terlewati, dan akhirnya hari minggu datang lagi. Hari ini, dipenghujung musim panas Jaehun kembali ke rumah sakit untuk check up rutin. Jaehun direncanakan untuk secepatnya dipasangkan Pacemaker1 di jantungnya. Alat itu tentu sangat berguna untuk kesehatan Jaehun di masa depan.
Sehun sengaja mengosongkan agendanya hari ini, dia cukup memelas pada Chanyeol agar pria tampan dengan jidat sexy itu mau menggantikannya meninjau proyek.
"Ng… kau ikut mengantar anak – anak?" Yifan tersenyum pada Sehun ketia dia masuk ruangan seraya menggendog Jaehun sedangkan Luhan bersama Jaehan masuk belakangan.
"Ya… tentu saja, ini adalah kewajiban seorang ayah bukan?" Sehun menjawabnya dengan mantap
"Akhir – akhir ini Jaehun sering berkeringat, dan napasnya sering tersengal… apa ada sesuatu?" Luhan bertanya sedikit panik
"Coba aku cek dulu…"
Demi kumis ayahnya, Sehun bersumpah bahwa dia tidak suka bagaimana cara Yifan tersenyum dan berkata lembut pada mantan istrinya. Sehun ingin sekali melayangkan kepalan tangan untuk senyum konyol Yifan. Namun karena alasan kesopanan, pria tampan itu lebih baik diam.
"Aaah… Jaehun tidak apa – apa Lu. Itu terjadi karena aktifitas Jaehun… itu tidak masalah.." ujar Yifan enteng
"sudah kubilang kan, itu tidak masalah," Sehun membela diri, sebelumnya Sehun sudah pernah mengatakan pada Luhan bahwa Jaehun baik – baik saja, tidak perlu ada yang dikhawatirkan dari anak itu.
"Aku tidak bisa percaya padamu, Sehun… kau tidak mengerti hal ini, Yifan lah yang lebih mengerti keadaan Jaehun… dia dokternya…"
Lagi – lagi Luhan menjatuhkan harga diri Sehun didepan Yifan, wanita cantik itu membela kekasihnya yang beruntungnya berprofesi sebagai dokter ahli bedah jantung. Sehun semakin membenci itu semua.
Apalagi selama di rumah sakit, Luhan bertingkah seperti Sehun sama sekali tidak ada. Dia dan Yifan begitu dekat, wanita itu bersama kekasihnya juga memonopoli HunHan dari sisinya, membuat Sehun merasa terasing diantara mereka.
Seharusnya Yifanlah yang jadi orang asing. Bukan dirinya.
Itu yang Sehun pikirkan. Tapi tetap saja, Sehun tidak melakukan apapun. Dia terlalu pecundang untuk merebut kembali apa yang jadi miliknya dari Yifan. Dan apa yang ada di depan matanya kini semakin meyakinkan Sehun, bahwa dia bukan lagi the only one untuk Luhan. DIa hanya seorang figuran.
.
.
Dua bulan berlalu dari hari itu, musim panas sudah terganti dengan musim gugur yang sedang beralih ke musim dingin. Siang ini hujan lebat dan Luhan sedang berjalan menuju ke pintu depan rumahnya, membukakan pintu untuk seseorang.
"Hai…"
Sambut Luhan dengan senyum super ramah, di tubuhnya terpasang apron merah muda cantik dan ada beberapa sisa tepung di pipinya.
"Hai… maaf terlambat, apa anak – anak sudah menungguku?"
Baekhyun melipat payung biru mudanya dan meletakkan payung itu di sisi rak sepatu. Senyum manisnya yang segar membuat kulit kemerahannya terlihat sangat manis, bahkan saat rambut kecoklatannya agak lepek karena hujan.
"Tidak apa, mereka ada di kamar… ku rasa mereka sedang perang bantal atau mungkin saling membunuh satu sama lain." Luhan berujar santai sambil mengiringi Baekhyun ke kamar HunHan kecil.
"Saling bunuh?" Baekhyun mengerutkan kening, gadis itu tampak bingung dengan pernyataan Luhan
"Super hero… mereka sangat terobsesi dengan tokoh super hero, diawali dengan batu gunting kertas lalu yang kalah jadi monster dan yang menang jadi super hero. Mereka akan saling membunuh" ujar Luhan masih dengan senyum ramahnya
"Ahahahahaha…. Mereka persis seperti Sehun, waktu Sehun seusia mereka, anak itu suka sekali main super hero - super heroan. Biasanya dia jadi spiderman, apapun musuhnya dia akan jadi spiderman. Dan aku biasanya jadi Marry Jane, yang selalu jadi sandera dan diselamatkan oleh Sehun"
Baekhyun mengakhiri ceritanya tepat saat mereka sampai di depan pintu kamar HunHan, langsung saja mereka disambut oleh suara gaduh di dalam kamar yang terdengar sampai ke luar padahal saat itu pintu tertutup rapat. Baekhyun tidak berani menatap Luhan setelah dia menceritakan secuil tentang masa kecilnya. Gadis itu berani bersumpah, saat dia bilang bahwa dia selalu menjadi sosok Marry Jane dan diselamatkan oleh Sehun, air muka Luhan yang ramah berubah menjadi sedikit tegang dan kesal. Dalam hati Baekhyun terkikik geli, dia merasa sedikit lebih memenangkan Sehun dari Luhan.
"Nanti akan aku antarkan cemilan ke kamar, tolong berikan sedikit bimbingan dalam kemampuan konsentrasi Jaehan. Anak itu senang sekali bermain – main." Ujar Luhan seraya membukakan pintu
"Hmmm… untuk urusan kejahilan, Jaehan memang benar – benar mirip Sehun. Tapi rasanya aku bisa mengendalikan anak itu dengan baik… aku sudah lebih dulu mengenal ayahnya cukup lama bukan?"
"BYUN SEONSAAAAAEENGG!"
BUGH!
Jaehan langsung berlari dan memeluk Baekhyun ketika pintu terbuka. Anak itu memang memiliki ketertarikan yang cukup berlebih pada guru kesayangannya ini.
"Byun seonsaeng aku punya pertanyaan…" Jaehun yang dari tadi duduk di tempat tidurnya yang berantakan langsung mengacungkan tangan
"O'o…. rapikan tempat tidur kalian dulu, baru boleh mengajukan pertanyaan.." kilah Baekhyun yang kini menggenggam tangan Jaehan sambil menggiring anak itu ke tempat tidurnya
"Ne… Ne… Seonsaengnim!"
Kedua bocah itu langsung memberi hormat pada Baekhyun dan menuruti apa yang gadis itu katakan. Luhan, yang sedari tadi melihat kedekatan Baekhyun bersama putranya merasa sedikit terganggu dengan semua itu. Baekhyun memang datang setiap dua hari sekali ke rumah untuk memberikan anak mereka bimbingan tambahan. Bahkan setiap hari ketika Jaehun sakit. Itu semua ide Sehun yang dengan bodohnya –menurut Luhan- diterima begitu saja tanpa pikir panjang, dan jujur saja wanita cantik berambut hitam kelam itu kini menyesali persetujuannya. Jika saja Baekhyun hanya guru biasa -tidak ada embel – embel tambahan sebagai calon ibu baru bagi si kembar- Luhan pasti merasa ini semua bukan masalah. Tapi, Baekhyun bukanlah perempuan sembarangan. Gadis itu adalah calon istri mantan suaminya. Oh Sehun.
"Kau melamun, Lu"
Luhan tersentak kaget begitu sebuah suara berat menyapanya yang sedang melamun sambil mengaduk adonan cup cakes.
"Sehun-ah… sejak… kapan kau… disini?" Luhan sedikit terbata karena dia baru saja bangkit dari keterlamunannya
"Sejak kau mulai mengaduk adonan kue dengan sangat tidak bertenaga" Sehun meletakkan tas kerja dan melepaskan jas kerjanya di salah satu sofa ruang tengah yang paling dekat dengan dapur. Pria tampan itu kemudian melipat kedua lengan kemeja panjangnya. Sehun berniat membuka lebih banyak kancing kemejanya namun setelah beberapa saat jemari panjangnya masih belum juga berhasil melepas benda yang paling tak disukainya, sebuah benda panjang bernama dasi. Sehun tak pernah suka pakai dasi.
"Butuh bantuan?" tawar Luhan setelah puas memandangi wajah kebingungan Sehun
"Sure, Lu" dan senyum manis kemudian merekah di bibir Sehun
"Kau masih tidak bisa memasang dan membuka dasimu sendiri? Ini mudah sekali, kau hanya tingal tarik bagian sini dan dasipun lepas."
Luhan memberikan dasi itu pada Sehun dan pria itu berkata, "ini memang hal yang mudah, tapi aku tidak mau melakukannya sendiri"
"Lalu biasanya siapa yang memasang dan melepaskannya untukmu?"
"Baekhyun"
"Aaah…. Marry Jane-mu itu?"
"Marry Jane?"
"…"
"aaah… spiderman? Bagaimana bisa Baekhyun jadi Marry Jane?"
"Bukankah kalian sering main super hero? Kau jadi spiderman dan dia jadi Marry Jane.."
Sehun menahan senyum gelinya dan langsung mengangguk lucu. Pria itu sangat ingin tertawa namun suasana seperti ini akan sangat sayang jika ditertawakan. Luhan baru saja cemburu padanya, Sehun tau itu.
"Mau ku bantu menuang adonannya?" gantian Sehun yang menawarkan bantuan ketika Luhan sudah selesai mengaduk semua adonan
"Mmm… bagaimana kalau kau bantu aku untuk memotong buah – buahan untuk topping -nya?"
"Baiklah…"
Tanpa perlu diberitahu Sehun langsung mengambil pisau buah dan semangkuk buah beri – berian yang ada dalam mangkuk kaca di depannya. Memotong sesuai dengan instruksi Luhan.
"Tidak biasanya kau membuat kue, apa ada acara spesial?" tanya Sehun penasaran
"Mmm… yah… Lumayan spesial… mala mini Yifan berencana mengenalkanku pada orang tuanya, orang tuanya menetap di Canada jadi dia baru bisa mengenalkanya sekarang, mereka ke Korea khusus untuk merayakan natal, bertemu denganku dan…."
"Dan?"
"Dan anak – anak…"
Sehun menghentikan potongan pisaunya, ada gemuruh dihatinya yang membuat jemari kurusnya bergetar. Sehun berusaha menahan napasnya yang memburu. Mendengar bahwa Luhan akan mengajak anak – anak untuk bertemu dengan orang tua Yifan, itu membuat Sehun marah.
"Tidak. Kau tidak boleh mengajak anak – anak."
Sehun berkata tegas setelah yakin bahwa suaranya tidak akan meninggi. Luhan yang ada di sebelah Sehun nampak kaget dengan pernyataan mantan suaminya itu.
"Kenapa tidak boleh?" Luhan mengerutkan keningnya sambil melontarkan pertanyaan bernada protes
"Itu urusan kalian. Belum saatnya anak – anak dekat dengan keluarga Yifan" jawab Sehun, pria itu masih dengan susah payah menahan amarahnya.
"Sehun-ah… cepat atau lambat, kedua orang tua Yifan juga akan menjadi kakek dan ne…"
"Tidak Lu… ku mohon, jangan bawa anak – anak dalam hubungan kalian. Terlepas dari hubungan kalian sudah amat sangat serius atau tidak, aku tetap menentang jika kau ingin membawa mereka menemui keluarga itu"
Sehun menegaskan suaranya, kedua manik coklatnya menatap tajam dan lurus ke mata Luhan. Wanita itu tidak mengerti, wanita itu butuh alasan, bukankah jika dia dan Yifan menikah maka keluarga Yifan juga menjadi keluarga mereka?
"HunHan berhak mengenal keluarga calon ayah mereka" ujar Luhan berani.
Sehun meletakkan pisaunya agak kasar sehingga membuat Luhan kaget, Pria itu memejamkan matanya lalu mengepalkan tangannya erat – erat. Oh Sehun masih berusaha untuk menahan emosinya.
"Baiklah… ya… mereka memang berhak untuk mengenal keluarga 'calon ayah' mereka,"
Sehun menggantung kalimatnya, kalimat dengan penekanan menyakitkan baginya. Calon ayah? Omong kosong. Sehun tak suka itu. Dan setelah dia kembali berhasil menekan emosinya, pria tampan itu melanjutkan kalimatnya, "tapi kau baru boleh mengajak mereka bertemu dan mengenal keluarga Yifan…. Setelah mereka bertemu dan mengenal keluargamu sendiri, Lu Han!"
Mata Luhan membulat, bibir mungil yang tadi terkatup rapat dengan refleks terbuka. Wanita cantik itu terlalu terkejut dengan apa yang mantan suaminya katakan barusan. Dan itu memang kenyataannya.
Oh Jaehun dan Oh Jaehan, selama hampir 8 tahun hidup di dunia, mereka tidak sama sekali pernah bertemu dengan kedua orang tua dari kedua orang tuanya sendiri. HunHan kecil tidak pernah mengenal siapa kakek dan nenek mereka dari pihak ibu, bahkan dari pihak ayah sekalipun. HunHan kecil tidak pernah sama sekali bertemu dengan keluarga besar Oh, maupun keluarga besar Lu.
Itu semua karena Sehun dan Luhan memilih untuk keluar dari rumah demi menikah dan membesarkan anak mereka. Demi sebuah ikatan pernikahan naif tanpa restu, tanpa pesta pernikahan, tanpa semua keindahan dari kata pernikahan. Sehun dan Luhan memilih langkah yang sangat berat di usia yang sangat muda. Bertahun – tahun mereka tidak sama sekali berhubungan dengan keluarga masing – masing. Dan apa itu tadi? Luhan bilang HunHan berhak mengenal keluarga calon ayah mereka?
Omong kosong.
Hujan kembali turun, cukup deras kali ini. Dan itu berhasil membuat keheningan diantara Sehun dan Luhan semakin mencekam. Sehun tau jika kata – katanya barusan menyakiti hati Luhan, tapi dia tidak peduli, dia lebih peduli pada apa yang kedua putranya itu akan pikirkan jika sampai mereka dikenalkan oleh dua orang tua Yifan. Terlebih, bagaimana perasaan kedua jagoan kecil itu nanti.
"Maaf…"
Setelah 35 menit hening, Luhan memecah keheningan dengan sebuah permintaan maaf.
"Maaf… aku tidak berpikir sejauh itu" lirih Luhan lagi
"Aku sangat keterlaluan, kan?"
Sehun bertanya setelah menutup kotak terakhir buah raspberry yang sudah dia potong. Sementara Luhan sendiri masih diam terpaku menatap kue dalam oven yang perlahan mulai mengembung ke atas.
"Apa maksudmu?" Luhan balik bertanya setelah beberapa saat
"Aku tidak pernah memperkenalkanmu kepada orang tuaku secara baik – baik, aku juga tidak pernah melamarmu, aku tidak pernah membawamu ke altar, bahkan aku tidak pernah memberikanmu cincin pernikahan, aku… aku tidak pernah melakukan apapun untukmu,"
Sehun tersenyum getir, dari sorot matanya semua penyesalan itu terkuak, ya… pria itu memang penuh penyesalan terhadap banyak hal.
TING!
Tanda peringatan dari oven bahwa kue sudah matang berbunyi, Luhan segera membuka oven lalu mengambil kuenya untuk di dinginkan terlebih dahulu sebelum akhirnya dia memberikan icing dan topping diatasnya.
"Aku tau kau tidak bermaksud untuk itu, waktu itu kita berdua masih terlalu muda dan keadaannya sangat mendesak. Tapi kau sudah melakukan yang terbaik bukan?"
Sehun diam, dia hanya bisa menatap Luhan diam – diam.
"Tidak… dulu aku tidak pernah melakukan yang terbaik, aku… aku hanya bisa menyakitimu dan membebanimu… dan pada akhirnya aku kehilanganmu dan anak – anak…"
Sehun mengakui kesalahannya. Ada yang berdenyut di dalam dadanya, denyut rasa sakit dan bersalah. Hukuman tiada henti Sehun rasakan akibat kebodohannya di masa lalu. Tak cukup dengan kehilangan wanita yang paling dia cintai dan kedua buah hati yang sangat dia sayangi, rasa bersalah dan penyesalan terus menerus menghantuinya sebagai hukuman.
"Dulu aku berpikir, suatu hari nanti aku bisa memperbaiki kesalahan itu. Aku bisa membawamu ke rumahku dan mengenalkanmu sebagai istri dan HunHan kecil sebagai putra kebanggaanku kepada seluruh keluarga besarku. Aku pikir aku bisa melakukan itu setelah aku berhasil, tapi ditengah jalan… sayang sekali aku menyerah… pengecut bukan?"
Tak ada tanggapan dari Luhan, janda cantik dua anak itu hanya berdiam diri memunggungi Sehun.
"Sekarang aku sudah tidak punya kesempatan lagi bukan?... tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya,"
Luhan sudah tak tahan lagi, matanya kini sudah mulai berkaca – kaca. Sejujurnya penyesalan yang sama juga Luhan rasakan. Wanita cantik itu menyesal karena tidak melakukan penolakan atas gugatan cerai yang Sehun layangkan. Luhan berani sumpah, bahwa saat ini pun dia masih menyesal terhadap apa yang dulu dia lakukan. Seandainya dia menolak gugatan cerai itu, seandainya dia merobek saja kertas gugatan itu, seandainya dia mau meminta Sehun untuk tetap tinggal, seandainya dia bisa sedikit saja untuk tidak egois dan seandainya saja Sehun kembali. Ya… Luhan juga punya banyak kata seandainya yang dia sesalkan bahkan hingga detik ini.
"APPAAAAAA!"
Jaehan berlari ke pelukan Sehun begitu dia keluar dari kamarnya, Sehun agak kaget melihat putra bungsunya tiba – tiba ada disana. Pasalnya suasana antara dia dan Luhan sedang berada di atmosfer yang tidak baik. Semoga saja Jaehan tidak memperhatikan itu.
Sehun langsung menyaup Jaehan kedalam pelukannya, anak itu terlihat sangat gembira melihat ayahnya di rumah mereka. Baru saja Sehun akan bernapas lega karena dia berpikir bahwa Jaehan tidak sadar akan apa yang sedang terjadi antara ibu dan ayahnya. Mata sipit Sehun menangkap sorot mata penuh kekhawatiran dari sepasang mata rusa di ambang pintu. Jaehun, anak itu menatap ayah dan ibunya tanpa suara.
"Jaehun-ah… kenapa diam disini? Tidak jadi minum air?" Baekhyun menghampiri si kecil Jaehun dari belakang. Gadis itu nampak sudah siap pulang karena 2 jam waktunya mengajar HunHan sudah selesai.
Sekilas Sehun melihat Jaehun tersenyum pada Baekhyun, lalu anak itu berjalan ke dapur dan menghampiri ibunya.
"Eomma jadi pergi bersama paman dokter hari ini?"Jaehun bertanya begitu saja dan itu sontak membuat senyum di wajah Jaehan yang berada dalam gendongan sang ayah memudar.
"Owh, ya… jadi sayang… sebentar lagi eomma mandi dan siap – siap" jawab Luhan dengan senyum keibuannya dan mengusap lembut rambut Jaehun
"Kalau begitu Appa boleh tinggal disini kan?" kali ini Jaehan yang bertanya
Luhan sesaat menatap Sehun lalu pria itu menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja sayang…"
"Kalau begitu apa boleh aku mengajak anak – anak untuk menonton drama musikal di gedung Opera? Ini malam minggu dan drama musikal itu tentang super hero…"
Baekhyun meminta ijin kepada Luhan, gadis itu suka drama musikal dan kebetulan dia tau drama musikal yang sedang tayang di gedung Opera, itu tentang cerita kelasik seorang pimpinan cowboy sebagai super heronya. Itu adalah drama musikal anak – anak. Waktu kecil Baekhyun suka sekali menontonnya,
"Ya… jika anak – anak mau," Luhan menatap kedua buah hatinya bergantian
"Assiiikkk! Jaehan mau nonton!" pekik si bungsu
"Jaehun juga" balas si sulung
.
Tepat pukul 6 sore Jaehun dan Jaehan ikut sang ayah untuk ke rumah sebelah, ke rumah yang ditempati oleh Baekhyun dan Sehun. Anak – anak sudah siap dengan baju casual yang hangat, sesuai dengan musim gugur berhujan seperti ini. Sambil menunggu sang ayah dan Baekhyun seonsaengnim mereka selesai bersiap, dua bocah tampan itu bermain di kamar sang ayah sambil menonton TV. Jaehan suka olah raga, dan kebetulan channel olahraga di TV itu menayangkan tentang sesi latihan Manchester United, salah satu club sepak bola kesukaan Jaehan. Sementara Jaehun, anak itu lebih tertarik pada buku yang dia temukan di meja kerja sang ayah, buku itu adalah buku – buku gambar berisi gambar rumah dan sketsa ruangan.
"Apa kau tertarik dengan gambar itu, jagoan?"
Sehun mengagetkan Jaehun yang kini duduk manis di kursi meja kerja Sehun, beda dengan Jaehan yang asik duduk di tempat tidur dan menatap lekat – lekat TV Plasma di hadapannya. Duda tampan itu berjongkok dihadapan Jaehun, dia hanya mengenakan celana dalam yang tertutup dalam handuk biru tua melingkar di pinggangnya, sementara bagian atas, dia biarkan begitu saja.
"Ini menarik" gumam Jaehun dan dia kembali melihat sebuah gambar gedung pencakar langit di dalam buku sketsa itu.
"Siapa yang menggambar ini?" tanya anak itu polos
Sehun tersenyum bangga lalu memnutup buku sketsa itu sampai ke sampul belakangnya. Oh Sehun. Nama itu tertera di sana sangat jelas. Mata Jaehun langsung berbinar dan menatap kagum pada sang ayah.
"Apa tukang bangunan juga harus menggambar?" tanya anak polos itu lagi
"Arsitek sayang…. Arsitek… dan itu memang tugas seorang arsitek, menggambar desain bangunan dan menjadikannya nyata!" jawab Sehun dengan penuh rasa bangga
"Apa rumah ini appa yang gambar juga?"
"Tidak… appa tidak menggambar rumah ini,"
"Apa appa menggambar rumah kita?"
Sehun terdiam, duda tampan itu tau apa yang anak itu maksud dengan 'rumah kita'. Sehun hanya terharu, dan sempat berpikir apakah dia masih diterima di rumah itu sebagai seorang pemilik yang tinggal disana,
"Ah… tidak… rumah itu juga bukan appa yang buat.." lirih Sehun
"Kenapa appa tidak menggambar rumah baru? Buat rumah itu dan kita bisa tinggal di sana bersama – sama"
Sehun mengusak lembut rambut berpotongan mangkok milik Jaehun, kedua matanya menatap haru Jaehun. Sementara anak itu, masih dengan polosnya menunggu jawaban dari sang ayah.
"Ya sayang, itu adalah apa yang appa harapkan, appa ingin sekali membuat rumah untuk kita… dan kita bisa tinggal bersama dan bahagia di sana"
Sehun hanya berani mengatakannya dalam hati, tak sepatah katapun keluar dari bibir tipisnya untuk menjawab permintaan Jaehun. Sehun memilih meninggalkan Jaehun dan memakai pakaiannya sebelum terlambat menuju ke gedung Opera. Mereka bahkan belum beli tiket.
.
"Mommy and Daddy memilih tinggal di Incheon. Keluarga kami membeli satu unit apartemen di sana, agar bisa beristirahat dan saat sewaktu – waktu singgah di Korea dan tak jauh dari bandara"
Yifan bercerita penuh semangat seraya menyetir menembus padatnya arus lalu lintas kota Seoul menuju daerah Incheon. Sedari tadi memang hanya Yifan yang lebih banyak bicara, Luhan sendiri hanya duduk di sisi kanan pengemudi sambil mencengkram erat kotak kue yang akan dia berikan kepada orang tua Yifan.
Yifan terus berusaha mencari cara untuk mencairkan suasana, pria tampan beralis tebal itu mengerti jika wanita kesayangannya itu sedang gugup. Bagaimanapun juga moment bertemu calon mertua adalah moment yang sangat mendebarkan bagi semua wanita di muka bumi ini. Yifan sedikit demi sedikit menceritakan semua kebiasaan kedua orang tuanya dan apa yang disukai atau tidak disukai oleh mereka. Ibu Yifan juga seorang desainer, beliau cukup terkenal di Canada sementara Ayah Yifan adalah seorang ilmuan kimia yang bekerja di salah satu pabrik obat – obatan di Toronto, Canada. Keluarga Yifan cukup terpandang, waktu masih di Beijing dulu Luhan masih ingat betul seberapa terkenalnya keluarga Wu. Yifan sempat tinggal di Beijing sampai usia 10 tahun, kemudian dia pindah ke Korea dan menetap bersama keluarga dari pihak ibu. Seluk beluk keluarga yang rumit memang, tapi daripada memikirkan itu, Luhan kali ini terdiam bukanlah karena gugup.
Wanita cantik itu kembali mengulang memori dalam kepalanya, memori tentang percakapannya bersama Sehun sore tadi.
"Aku tidak pernah memperkenalkanmu kepada orang tuaku secara baik – baik, aku juga tidak pernah melamarmu, aku tidak pernah membawamu ke altar, bahkan aku tidak pernah memberikanmu cincin pernikahan, aku… aku tidak pernah melakukan apapun untukmu,"
"Tidak… dulu aku tidak pernah melakukan yang terbaik, aku… aku hanya bisa menyakitimu dan membebanimu… dan pada akhirnya aku kehilanganmu dan anak – anak…"
"Dulu aku berpikir, suatu hari nanti aku bisa memperbaiki kesalahan itu. Aku bisa membawamu ke rumahku dan mengenalkanmu sebagai istri dan HunHan kecil sebagai putra kebanggaanku kepada seluruh keluarga besarku. Aku pikir aku bisa melakukan itu setelah aku berhasil, tapi ditengah jalan… sayang sekali aku menyerah… pengecut bukan?"
"Sekarang aku sudah tidak punya kesempatan lagi bukan?... tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya,"
Luhan memejamkan matanya, mencoba menenangkan hatinya yang begitu gelisah.
"Tidak! Kau salah, Oh Sehun! Ini semua masih bisa diperbaiki…"
Luhan berucap dalam hatinya, Luhan benar – benar tidak nyaman dengan situasi dimana dia berada saat ini. Luhan ingin sekali keluar dari mobil dan berlari kembali ke Seoul dan mencari Sehun, kemanapun asal tidak disini, tidak bersama Yifan. Tapi Sehun, ya… yang Luhan butuhkan hanyalah Sehun. Dia tidak mau menyesal untuk yang kesekian kalinya, menambah daftar kata seandainya untuk ini. Dia tidak bisa terus egosi dan membiarkan keadaan mereka semakin buruk.
"Eoh… mommy dan daddy sepertinya belum sampai, kita masuk lebih dulu kalau begitu?"
Luhan baru sadar jika mobil Yifan sudah berhenti, tepat di sebuah gedung apartemen yang menjulan tinggi. Yifan baru saja akan membantu Luhan melepas sabuk pengamannya, namun wanita itu mengelak
"Ah tidak… tidak… biar aku saja," lirih Luhan dengan senyum tidak nyamannya
"Jangan gugup sayang, mereka pasti akan menyukaimu…" Yifan memandang wanita cantik itu penuh dengan senyum super tampannya.
Tepat di lantai 20, sebuah elevator berhenti. Yifan dan Luhan keluar secara bersamaan dan mereka langsung menuju ke flat nomor 2 di sana. Flat milik keluarga Yifan terkesan mewah dan elegan, warna – warna emas dan maroon mendominasi interiornya, furniture klasik dengan sentuhan warna – warna kuning keemasan berpadu dengan warna – warna alam membuat tatanan ruang tamunya terkesan seperti bergaya eropa kuno.
"Mommy adalah seorang pecinta Eropa, rumah kami pasti memiliki desain Eropa klasik minimalis." Yifan menjelaskan dengan bangga.
Luhan langsung duduk di ruang tamu sementara Yifan menuju ke sebuah mini bar dan mengambil sobotol wine.
"Udara terasa dingin, wine akan membuat kita terasa hangat" katanya seraya menuangkan sebotol white wine ke dua cangkir.
"Thanks" Luhan menyambut segelas wine, masih dengan senyum yang terasa tak nyaman.
Waktu berlalu cukup lama dan kedua orang tua Yifan tak kunjung datang, Yifan mencoba untuk menelpon ibunya namun panggilan itu tak tersambung. Tiga gelas wine sudah Luhan habiskan malam itu, dan dia semakin gelisah. Bahkan saat ini kalimat – kaliamat Sehun sore tadi masih saja terus terngiang di telinganya.
"Kau baik – baik saja, Lu?" Yifan menakup pipi kanan Luhan dan mengelusnya lembut.
"Ya… aku baik" lirih Luhan dengan pipi memerah,
"Mommy dan Daddy akan sampai disini sejam lagi… mereka masih mengunjungi rumah kerabat lama,"
Yifan masih mengelus pipi lembut Luhan, namun kening pria itu berkerut. "Apa yang kau pikirkan?" tanya nya
"Aku…"
"Kau gugup?"
"Apa? Ah…"
"Mau kubantu untuk menghilangkan kegugupanmu?"
"Yif…"
CHUP
Yifan mendaratkan sebuah kecupan di bibir Luhan. Pria itu langsung melumat bibir mungil berwarna merah itu dengan sedikit tergesa. Luhan terkunci dalam kungkungan tubuh besar Yifan, punggungnya sudah berhasil merebah di sofa. Yifan berhasil berada diatasnya, merengkuhnya dalam pelukan gairah dan pagutan mesrah. Lumatan demi lumatan Yifan berikan pada Luhan, bahkan tangan lincah pria itu sudah mulai menggerayangi tubuh tasnya.
Dalam diri Luhan berkecambuk, apakah ini yang dia inginkan? Apakah Yifan adalah orang yang benar – benar dia inginkan?
Luhan merasa dirinya hampir gila, kepalanya terlalu penat dan dia merasa seperti bisa meledak kapan saja. Luhan juga kesal pada dirinya sendiri, kenapa dia harus sebimbang ini. Sebenarnya dia mencintai Yifan atau Sehun? Kenapa disaat dia bersama Yifan, di setiap saat seperti ini, Luhan selalu merindukan Sehun.
Teruskanlah. Itu yang Luhan lakukan sekarang, wanita itu sama sekali tidak mengelak ketika jari jemari Yifan meremas kedua payudaranya, mencium ceruk lehernya dan bahkan mencumbunya. Dan ketika Luhan mulai mencoba untuk menikmati sentuhan Yifan, ada memori – memori dalam kepalanya mendesak dan memaksa untuk diingat.
Memori itu berawal degan satu bayangan, bayangan seorang remaja jangkung berkulit pucat mengenakan seragam sekolah berlari mendekat kearahnya.
"Kelas tambahanmu sudah selesai, sayang?" ucap remaja itu dengan senyum lucu, kedua matanya membentuk garis karena dia tersenyum
Hari itu hujan lebat, di musim yang sama seperti saat ini. Luhan kembali terbayang bagaimana mereka berdua basah kuyup dan berakhir di sebuah apartemen milik kakak sepupu remaja berseragam tadi, apartemen itu sementara ini kosong karena sang pemilik sedang berlibur ke Bali.
Mereka benar – benar terpaksa berteduh disana, daripada lebih kehujanan lagi dan berakhir sakit.
"Ganti bajumu dengan ini, ini kemeja kakak sepupuku… tapi… lebih baik daripada memakai pakaian basah kan?"
Remaja itu menyerahkan sebuah kemeja biru muda yang ukurannya sudah pasti jauh lebih besar dari tubuh Luhan.
Luhan kembali sadar dari lamunannya, dia menolak untuk mengingat memori itu. Bahkan sangking kerasnya dia berusaha untuk mengelak, Luhan mencoba untuk meraup bibir Yifan dan menciumnya penuh gairah.
"Bibirmu dingin sayang…"
Suara parah yang sangat Luhan kenal menyapa telinganya, Luhan langsung membuka kedua mata rusanya dan dengan jelas dia melihat bayangan remaja itu lagi. Remaja dengan mata sipit, alis tegas, hidung mancung, bibir tipis, pipi tirus dan rahang yang tegas.
"Sini… biar aku buat kau menjadi hangat…"
Luhan kembali kebingungan, seingatnya dia berada di sebuah apartemen elegan dan mewah, bukan apartemen berdesain studio dengan nuansa minimalis berdominan navy dan putih. Luhan bahkan tak terbaring di sofa lagi, kini dia merasa dirinya berbaring di ranjang, dalam pelukan sebuah dada bidang tanpa busana milik remaja tampan itu.
Luhan menerima pagutan bibir tipis itu, pagutan yang Luhan rindukan. Sentuhan jemari panjang dan kurus remaja itu terasa membakar tubuh Luhan, sentuhan itu juga sangat dia rindukan.
"aku mencintaimu Lu…"
Suara khasnya yang tenang dan dalam membuat Luhan meleleh seketika, Luhan melihan ke sisi bawah tubuhnya. Mata rusa cantik itu membulat. Entah kemana kemeja kebesaran yang dia gunakan tadi, kini tubuhnya sudah terekspose polos tanpa sehelai benangpun. Tubuhnya terbaring nyaman di bawah badan seorang remaja jangkung berkulit pucat dengan senyum menampakkan gigi taring yang terlihat imut dan menggemaskan bagi Luhan.
"Bolehkah aku melakukannya Lu?"
Remaja itu kembali bertanya, kali ini dengan bisikan yang menyihir akal sehat Luhan. Luhan pun akhirnya mengannguk, mempersilahkan remaja itu 'melakukannya'.
"Aku melakukan ini karena aku mencintaimu Lu, aku ingin kau jadi milikku dan aku juga ingin menjadi milikmu… aku mencintaimu Lu Han…"
"Aku juga mencintaimu… Oh Sehun…"
"Kau bilang sesuatu Lu?"
Suara berat yang lain menyadarkan Luhan dari khayalannya tentang memori lama yang tersimpan begitu dalam. Luhan kembali sadar dan dia membuka matanya. Ya… dia masih berbaring di sofa ruang tamu bernuansa elegan dengan Wu Yifan masih ada diatasnya. Gaun merahnya agak melorot kebawah dan penampilannya acak – acakan.
Luhan memanatap Yifan cukup lama. Hingga akhirnya Luhan menggeleng dan berkata dalam kepalanya,
"Tidak… bukan dia yang aku inginkan… tidak… Sehun… aku harus mencari Sehun"
Luhan mendorong Yifan dari atas tubuhnya. Dorongan yang dukup kuat untuk membuat tubuh jangkung dokter muda tampan itu untuk terduduk di ujung sofa.
"Ada apa Lu? Apa sesuatu terjadi?" Yifan mulai panik,
Tanpa sepatah katapun Luhan langsung merapikan tubuhnya, mengenakan mantelny dan mengambil clutch bag.
"Kau mau kemana Lu?"
"Ku mohon diam… jangan ikuti aku, tinggalkan aku sendiri… aku sedang tidak ingin diusik oleh siapapun"
"Tapi Lu,.., aku…"
"Ku mohon Yifan… tinggalkan aku sendiri, aku tidak mau jadi semakin gila!"
"Luhan, sebenarnya ad…"
"CUKUP WU YIFAN! JANGAN IKUTI AKU… AKU INGIN SENDIRI!"
BLAM!
Luhan membanting keras pintu flat apartemen mewah itu. Kaki jenjangnya langsung berlari sekencang yang dia bisa, tak peduli dengan langit mendung bergemuruh, bahkan rintik – rintik hujan yang mulai berjatuhan. Luhan hanya terus berlari tak tentu arah. Wanita itu hampir gila karena kepala dan hatinya saling bertentangan. Hati Luhan memaksa dirinya untuk mengingat semua kejadian di masa lalunya bersama Sehun, namun kepalanya terus menolak, semua akal sehat itu memaksa Luhan untuk menentang apa yang hatinya ingat. Hati Luhan menginginkan Sehun, namun kepala Luhan yang kurang ajar rasionalnya itu membantah, kepalanya bilang dia harus melihat Yifan.
"AAAAARRRRGGGGHHHH!"
Luhan berteriak di trotoar jalanan yang sepi. Hujan semakin lebat dan angin pun berhembus lebih kencang. Tapi Luhan tak peduli. Hati dan kepalanya sakit disaat yang bersamaan.
BRUGH
Luhan jatuh terduduk di trotoar dan jalanan yang sepi, entah jam berapa ini, langit terlalu gelap dan hujan angin semakin deras. Luhan menepuk dadanya yang semakin sakit. Dikepalanya terus berputar – putar memori buruk tentang Sehun, menentang kesimpulan hatinya yang merindukan sosok remaja jangkung yang kini sudah berubah menjadi pria dewasa yang tampan. Dewasa secara fisik dan emosional.
"Aku sibuk Lu! Tugas – tugas kuliahku menumpuk! Aku harus menyelesaikan semuanya sekarang juga!"
"Kenapa kau sama sekali tidak mau mengerti Lu? Aku benar – benar sibuk belajar!"
"Sebegitu rendahnya kah aku dimatamu hingga kau menilaiku seburuk itu?"
"Kau lebih percaya kata orang lain dariapa kata – kataku?"
"Aku peduli padamu! Aku peduli pada anak – anak kita! Itulah kenapa aku belajar mati – matian saat ini! Itu semua demi kalian! Itu semua karena aku ingin memberikan kalian kehidupan yang layak! Aku berusaha demi kalian!"
"APA BUKTINYA JIKA AKU SUDAH TIDAK MENCITAIMU?!"
"Dan kau percaya semua omong kosong itu? Kau percaya?!"
"Aku ingin kita bercerai…"
"Bukankah kau sendiri yang menganggap aku tidak peduli padamu? Ya… tentu saja, aku tidak akan peduli lagi"
"Aku tak peduli denganmu, aku hanya peduli dengan anak – anak!"
"Dan kau baik – baik saja meninggalkan mereka berdua sendirian di rumah dengan ponsel lowbat?"
"Walau bagaimanapun… aku ini tetaplah ayah mereka Lu… aku mohon jangan hapus aku dari posisi itu."
"Aku tidak mencintai Baekhyun… aku mencintaimu…"
"Dulu aku berpikir, suatu hari nanti aku bisa memperbaiki kesalahan itu. Aku bisa membawamu ke rumahku dan mengenalkanmu sebagai istri dan HunHan kecil sebagai putra kebanggaanku kepada seluruh keluarga besarku. Aku pikir aku bisa melakukan itu setelah aku berhasil, tapi ditengah jalan… sayang sekali aku menyerah… pengecut bukan?"
"Sekarang aku sudah tidak punya kesempatan lagi bukan?... tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya,"
Luhan menangis. Air matanya nampak samar dengan tetesan air hujan. Semua kejadian – kejadian kelam terputar kembali di kepalanya seperti sebuah flashback film.
"Sehun…. Sehun…. Oh Sehun…"
CKiiiiit…
BLAM!
"Lu… Luhan…? Kau disini?!"
.
.
.
"Kau bilang apa soal Marry Jane pada Luhan?"
Sehun spontan bertanya ketika dia duduk di kursi ruang tunggu bersama Baekhyun, sementara anak – anak sibuk bermain dengan anak – anak lain yang mereka temui. Menakjubkan memang, bagaimana anak – anak bisa begitu cepat akrab dengan sebayanya di usia itu.
"Ah? Aku… tidak bilang apa – apa.." Baekhyun mengelak dengan senyum malu – malu.
"Dasar monster jahat!" pria bermata sipit itu langsung mencibir sahabatnya
"Aish… iya maaf, aku bilang kalau aku sering jadi Marry Jane dan kau spidermannya!"
"Ommo… yang benar saja, darimana bisa kau jadi seorang Marry Jane? Faktanya kau lebih sering jadi monster jahat!"
"Terima kasih, Oh Sehun!"
"Huaahahahahhahaha…."
Tawa Sehun kembali meledak setelah melihat ekspresi lucu Baekhyun kali ini. Faktanya, Baekhyun tak sekalipun pernah menjadi seorang Marry Jane. Jika Sehun jadi super hero, maka monster jahat yang akan dia lawan pastilah Baekhyun. Itu kenyataannya.
"Luhan cemburu saat aku bilang bahwa akulah Marry Jane-mu"
Tawa Sehun terhenti seiring dengan kalimat Baekhyun barusan.
"Apa kau sudah benar – benar mencoba membawa Luhan kembali padamu?" Baekhyun kembali bertanya, dan pertanyaan itu menyakiti hati Sehun
"Tidak mungkin Baek… itu adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi" kilah Sehun seperti tak mau membicarakan hal itu.
Namun lain dengan Baekhyun, gadis it uterus memaksa Sehun untuk tetap gigih mencari Luhan. Menurut Baekhyun setiap perasaan wajib diperjuangkan, begitu juga dengan perasaan Sehun pada Luhan. Kewajiban untuk memperjuangkan perasaan itu adalah mutlak. Jaehun dan Jaehan adalah alasannya.
"Hari ini dia akan dikenalkan dengan kedua orang tua Yifan… mereka sudah sangat serius Baek, aku tidak mau merusak hubungan siapapun. Jaehun dan Jaehan pasti mengerti,"
"Tapi…"
"Meskipun tidak ada perasaan di antara kita, tapi aku serius dengan hubungan ini, Byun Baekhyun… Aku tetap akan menikahimu sesuai janjiku dengan kakekmu"
Drrrt… Drrrt…. Drrrt…
Ponsel di saku jas Sehun bergetar, itu dari Chanyeol. Panggilan itu pun datangnya bersamaan dengan sebuah pengumuman,
"Untuk penonton drama musikal, diharapkan segera masuk ke dalam gedung pertunjukan"
"Ah… Baekhyun-ah.. kau ajak saja HunHan ke dalam, aku segera menyusul"
"Baiklah… jika sesuatu terjadi, kabari aku."
"mmm… aku titip anak – anak padamu"
Baekhyun mengajak HunHan masuk ke dalam gedung sementara Sehun menelpon balik Chanyeol.
"Sehun-ah… kau dimana?"
"Aku di Gedung Opera, menonton drama musikal bersama Baekhyun dan anak – anak"
"Ini gawat, investor proyek perumahan di Ilsan meminta blue print desain kita besok pagi dan aku tidak tau dimana kau meletakkan blue print itu"
"Aku meletakkannya di kantor. Di ruanganku,"
"Ruanganmu terkunci! Aku tidak punya kunci cadangan untuk itu"
"Kunci itu ada di mobilku, Kau dimana sekarang?"
"Aku dalam perjalanan ke rumahmu, aku baru saja masuk Gangnam"
"Chanyeol-ah apa kau ada rencana lain hari ini?"
"Aku rasa tidak, wae?"
"Dariapada kita harus bolak balik dan itu akan memakan lebih banyak waktu, bagaimana kalau kau datang ke gedung Opera, kau temani Baekhyun menjaga anak – anak? Aku akan ke Incheon sekarang"
"Mwo? Kau yakin? Tapi aku tidak punya tiketnya"
"Aku akan menitipkan tiketku di front office, sekarang juga aku akan ke Inceheon. Lebih cepat bergerak lebih baik."
"Ng… Arraseo…"
.
15 menit kemudian
"Ya… Oh Sehun… apa sesuatu terjadi?" Baekhyun menyapa sosok pria berbadan tinggi yang baru saja duduk di sebelahnya
"Tadaa…"
"Eoh… Chanyeol-ssi? Kenapa bisa disini?" Baekhyun membulatkan mata sipitnya, gadis itu bagkan mengerjapkan beberapa kali matanya untuk memastikan bahwa ini bukan sekedar hayalan belaka.
"Ini benar – benar aku, Baekhyun-ssi… Aku… Park Chanyeol" Chanyeol menakup kedua pipi Baekhyun kemudian nyegir selebar – lebarnya
"Dimana Sehun?"
"Dia ke Incheon,"
"Incheon?"
"Ya… ada blue print yang harus kami kerjakan besok pagi dan hanya dia yang bisa mengambilnya, jadi… dia ke Incheon dan aku kemari untuk membantumu menjaga anak – anak"
Baekhyun tersenyum lega. Beberapa saat kemudian HunHan kecil melihat Chanyeol juga ada disana, bukannya sedih atau takut, si kembar malah merasa sedikit lebih bahagia melihat Chanyeol ada di sana daripada Ayah mereka. Fakta, Chanyeol adalah ajhusi favorit mereka. Dan juga favorite Baekhyun. Gadis itu tak berhenti tersenyum sejak Chanyeol ada disana.
.
.
.
.
You've been so unavailable
Now sadly I know why
Your heart is unobtainable
Even though Lord knows you kept mine
Suara sebuah lagu mengalun mengisi penuh ruang tamu bernuansa elegan bergaya Eropa. Lagu dengan musik yang terdengar sederhana dan nyaman ditelinga itu malah menusuk jantung seorang pendnegarnya yang kini tengan terduduk sambil menggengam sebotol Chivas di tangan kirinya.
Wu Yifan, dengan tubuh basah kuyupnya duduk memandang lurus ke sebuah titik, entah apa yang dia lihat, pandangannya nampak kosong. Pikiriannya lah yang melayang kesana kemari. Pikirannya dipenuhi oleh rasa marah, benci dan dendam.
Yifan menegak lagi cairan pahit dan menyengat dari dalam botol yang dia pegang. Setidaknya itu membuat perasaan Yifan jauh lebih baik.
You say I'm crazy
'Cause you don't think I know what you've done
But when you call me baby
I know I'm not the only one
Lagu itu masih berputar, suara merdu sang penyanyi malah membuat hati Yifan semakin panas. Persetan dengan tubuhnya yang menggigil karena dingin dan basah kuyup akibat terguyur hujan. Yang Yifan tau hanya rasa marahnya.
Perlakuan Luhan terhadapnya tadi membuat Yifan semakin membenci Sehun. Yifan amat sangat membenci mantan adik kelasnya itu. Luhan selalu menolak Yifan karena adanya Sehun.
Berulang kali Yifan mencoba untuk merebut hati Luhan, tapi yang dia dapatkan dari mata wanita itu hanyalah semu. Yifan sadar, sebenarnya Luhan sangat merindukan Sehun. Dari cara wanita itu menatap Sehun saja dia sudah bisa mengerti.
Namun Yifan mencoba buta akan semua itu, mencoba mereasa baik – baik saja dengan semua penolakan Luhan akan setiap sentuhan dan cintanya. Yifan mencoba menjadi orang yang Luhan butuhkan, dan Yifan pun rela merubah dirinya sendiri menjadi orang yang Luhan inginkan.
Dengan kata lain, menjadi Oh Sehun.
I have loved you for many years
Maybe I am just not enough
You've made me realize my deepest fear
By lying and tearing us up
Sebenarnya Yifan mencintai Luhan bahkan lebih lama daripada Sehun mengenal Luhan. Sejak usia Yifan 12 tahun, dia sudah mencintai Luhan. Namun ketika Luhan menyusulnya ke Korea, dia mengenalkan Luhan pada Sehun, adik kelas terbaiknya saat itu.
Entah apa yang terjadi, tak lama setelah liburan natal yang dia habiskan di Canada. Yifan mendengar tentang hubungan Sehun dan Luhan. Bahkan tak sampai beberapa bulan kemudian, Yifan harus menelan pil pahit bersamaan dengan berita Luhan dan Sehun menikah di usia dini.
Bertahun – tahun Yifan bersembunyi dalam kedok malaikat penolong demi meraih cinta dan perhatian Luhan. Yifan bahkan melakukan sesuatu yang tak seharusnya dia lakukan, demi mendapatkan Luhan. Tapia pa yang dia dapat?
Ketika Luhan bersamanya saat ini pun, hati wanita itu masih tetap milik Oh Sehun. Dan Yifan sadar betul akan hal itu.
You say I'm crazy
'Cause you don't think I know what you've done
But when you call me baby
I know I'm not the only one
"AAARGH!"
Yifan membanting botol Chivas di tangannya kelantai, tak cukup hanya itu, Yifan juga membanting gelas, menendang meja, sofa dan segalanya yang bisa dia lempar, banting dan tendang. Dia lakukan untuk menyalurkan rasa sakit di hatinya.
"Aku mencintaimu Lu….aku… Wu Yifan! Wu Yifan mencintaimu!"
Yifan memekik pada kekacauan yang dia buat di ruang depan apartemen itu. Desain furniture bergaya Eropa itu tak lagi terasa elegan setelah pemiliknya menghancurkan seluruh isinya. Persetan dengan orang tuanya yang mungkin saja datang sebentar lagi, Yifan tak peduli. Yifan merasa dia sudah gila. Gila karena Luhan.
.
.
.
Sehun menginjak pedal gas mobilnya cukup kencang, dia berusaha agar bisa sampai di Incehon secepat mungkin, mengambil blue print itu sesegera mungkin lalu kembali ke Seoul. Namun hujan lebat disertai angin kencang membuatnya harus ekstra hati – hati dan waspada.
Dimenit ke 35 Sehun telah memasuki daerah Incheon, biasanya butuh waktu 1 jam lebih dari Seoul menuju Incheon. Selain karena jarak tempuh yang lumayan jauh, kepadatan lalu lintas juga sangat mempengaruhi. Syukur malam ini lalu lintas tak sepadat biasanya, padahal ini malam minggu. Terima kasih pada hujan dan juga anginnya.
Tapi… di jalan utama yang sepi Sehun melihat seseorang terduduk di trotoar sambil membungkuk. Sehun mengerutkan keningnya dan memastikan jika yang dilihat memang benar – benar manusia, bukan halusinasi atau semacamnya.
CKiiiiit…
Sehun menginjak pedal rem, lalu kembali memastikan jika orang itu baik – baik saja atau sedang kesakitan. Namun tak berapa lama Sehun memperhatikan sosok wanita yang duduk memeluk lutut di trotoar jalanan, mata Sehun langsung melebar dan dia tidak perlu meyakinkan diri untuk kedua kalinya, Sehun yakin dia tidak salah orang.
BLAM!
"Lu… Luhan…? Kau disini?!"
Sehun menghampiri Luhan, sosok wanita yang duduk memeluk lutut itu. Wajah Luhan sudah mulai pucat dan tubuhnya menggigil.
"Se… Sehun-ah…."
"Lu… kenapa kau bisa disini? Kenapa bi…"
"Sehun-ah…"
"Eoh… Wae, Lu?"
"Aku mencintaimu…"
Luhan mengatakannya pada Sehun, pria tampan itu segera mengendong Luhan dan membawa mantan istrinya itu ke dalam mobil. Entah ini kebetulan atau memang begitu seharusnya, Yifan mendengar itu semua. Yifan berdiri tepat beberapa meter di belakang Sehun dan Luhan. Yifan tadinya berusaha mengejar Luhan, namun apa yang terjadi di hadapannya membuat dia marah.
.
.
.
.
.
.
To be continue
.
.
.
Chapter 4: Let's Not Fall in Love Again!
"Kau tidak akan pernah melupakan cinta pertamamu, karena cinta pertama adalah cinta tanpa syarat yang sesungguhnya! Kau hanya benar - benar jatuh cinta pada cinta pertamamu"
.
.
.
.
.
.
Annyeonghaseyo! Yo! Yo! Yo!
Maaf guys, untuk chapter selanjutnya kayaknya gue bakalan update marathon deh, bahahaha… Jadi tunggu aja kejutan dari gue di FF ini, bisa gue update nanti sore atau maleman. Abis gue pulang kerja lah pokoknya. Bahahahaha.
.
.
.
Terimakasih buat yang udah follow, favorite dan review cerita ini. Semoga chapter ini gak mengecewakan kalian.
.
sincerely
-xiugarbaby-
