HUNHAN FOREVER! HUNHAN FOR LIVE!
.
HUNHAN GIVE AWAY CHALLENGE!
.
.
xiugarbaby (formerly Aruna Wu)
presents
.
"E.N.D"
.
HunHan
.
GS – Rated M – Family Life – Hurt/Comfort – Drama – Angst
.
.
.
.
Happy Reading! ^^
.
.
.
"Apa mereka sudah tidur?"
Sehun masuk ke dalam kamar anak – anak dan mendapati Luhan sedang merapikan selimut Jaehan
"Ya, sudah" jawab wanita itu singkat
"Kita perlu bicara Lu…"
"Ya… kita perlu bicara" Luhan masih menanggapi singkat mantan suaminya itu
"Kalau begitu aku tunggu di meja makan,"
"Kau lapar?" kali ini Luhan menatap Sehun
"Tidak… tapi aku rasa aku ingin minum sesuatu yang manis" ujar Sehun penuh dengan kejujuran
Luhan tersenyum lembut lalu menggelengkan kepalanya, "Ya sudah, aku akan menyusulmu segera" katanya.
Sehun keluar dari kamar HunHan dan menuju ke dapur rumah mungil itu. Sebelum duduk, Sehun menghampiri kulkas dan melihat apakah ada minuman manis yang bisa dia minum. Kulkas Luhan sudah lebih baik sekarang, tidak seperti dulu lagi yang berantakan dan tanpa isi yang masih layak dimakan. Sehun menimbang apakah sebaiknya dia minum susu pisang atau minuman kesukaan HunHan.
Dan setelah pemikiran panjang akhirnya Sehuh memilih untuk meminum minuman kesukaan HunHan. Minuman berbotol pink dengan label pororo rasa stroberi. Sebenarnya ayah dua anak itu penasaran, kenapa HunHan bisa sangat menyukai minuman itu. Sehun pikir anak – anaknya menyukai minuman itu karena tokoh penguin kecil kesukaan mereka tertempel disana, tapi kalu dipikir lagi HunHan tidak mungkin menyukai sesuatu hanya karena pororo dan kawan kawannya. Terlebih di jaman Sehun kecil minuman itu belum ada, jadi tidak salah kan jika pria tampan berkulit pucat itu penasaran.
Sehun membuka segel minuman anak – anaknya itu kemudian meneguknya.
"Ewh.."
Sehun menggigit lidanya sendiri setelah mencicipi minuman itu. Rasanya memang manis, tapi itu terlalu manis untuk Sehun. Namun karena minuman itu sudah terlanjur dibuka, akhirnya Sehun habiskan juga semuanya.
Drrrt….
From: Byun B
Aku butuh bantuanmu…
Cepatlah pulang,
Sehun menatap lekat ponselnya, membaca pesan Baekhyun berulang kali dan hati Sehun mulai berkecambuk. Haruskah dia pulang dan menemui Baekhyun? Bukankah dia harus membicarakan hal yang penting bersama Luhan?
Sehun sedikit dilema kali ini, di satu sisi dia merasa tidak enak pada Baekhyun karena jujur saja Sehun beberapa hari terakhir ini memang lebih sering menghabiskan waktunya di rumah Luhan dan baru pulang saat gadis itu sudah tertidur. Tapi di sisi lain, ada hal penting yang harus pria itu diskusikan bersama mantan istrinya.
To: Byun B
Maaf Baek, ada hal penting tentang HunHan
yang perlu aku bicarakan bersama Luhan,
aku akan pulang terlambat lagi malam ini.
.
From: Byun B
Baiklah, aku mengerti.
Sehun benar – benar merasa tidak enak pada sahabat baik hatinya itu. Bukankah dia berjanji pada kakek Baekhyun untuk menjaga gadis itu? Lalu apa yang dia lakukan sekarang?
Pria bermarga Oh itu menengkurapkan tubuhnya diatas meja makan lalu menutup matanya untuk menjernihkan pikirannya. Sehun tidak mau bertindak gegabah dengan mengikuti semua emosinya, pria itu perlu untuk berpikir lebih matang.
Beberapa pertanyaan seperti mampukah dia menjaga Baekhyun dengan baik, bisakah dia memberikan waktunya dengan adil antara Baekhyun dengan keluarganya nanti jika dia benar – benar menikahi Baekhyun. Lalu bagaimana dengan hubungan tidak jelasnya dan Luhan. Ah… Sehun baru ingat, hubungannya dengan Luhan juga jadi masalah yang perlu dia pikirkan. Mereka berdua memang sudah saling mengakui akan perasaan masing – masing. Bahkan keduanya juga sudah mulai dekat, hubungan mereka membaik pasca kejadian malam itu. Tapi tetap saja, status mereka saat ini adalah sepasang mantan suami dan istri yang masing - masing sudah terikat dengan orang lain.
Huuuft…
Sehun menghela napas berat. Tidak hanya napasnya, kepala dan tubuhnya juga terasa berat. Banyak hal terjadi pada Sehun hari ini, setelah pertemuan orang tua disekolah putranya dia juga meninjau tiga proyek dan mengikuti dua buah presentasi desain. Beruntung Sehun bisa memenangkan kedua proyek itu, jika tidak Chanyeol pasti mengomel lagi padanya. Bahkan sahabat sekaligus rekan kerjanya itu sering protes pada Sehun jika akhir – akhir ini pekerjaannya benar – benar tidak sebaik dulu. Sehun juga merasa bersalah padanya.
Lama kelamaan napas Sehun semakin teratur, kepalanya yang berat mulai terasa sedikit lebih ringan dan suara – suara hujan di luar rumah sudah tak lagi terdengar.
.
Sehun mengangkat kepalanya dan melihat Luhan sudah duduk berhadapan dengannya di meja makan. 30 menit sudah terlewati dan mereka hanya diam tanpa kata. Hanya suara hujan di luar yang memenuhi ruangan.
"Aku… aku harus memberitahu Yifan soal ini, dia pasti bisa membantu.."
Sehun mengerutkan kening tidak mengerti, kenapa nama itu disebutkan lagi. Ada apa dengan Luhan?
"Lu! Bukankah kita sudah sepakat untuk menyelesaikan semua masalah keluarga kita tanpa Yifan… dan Baekhyun?"
Sehun menegaskan suaranya, pria tampan itu selalu kesal tiap mendengar nama Yifan disebutkan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kita ikuti saran dari psikolog tadi, kita lakukan rehabilitasi itu untuk anak – anak"
"Anak – anakku tidak gila, Sehun!"
"Tidak.. memang tidak Lu… tapi mereka membutuhkan itu!"
Luhan diam, wanita itu masih tidak bisa menerima jika HunHan membutuhkan bantuan seorang psikolog.
"Memangnya jika Yifan tau, kau pikir dia bisa membantu apa?"
"Dia akan mencarikan jalan untuk kami.."
"Kami…? KAMI?!"
Lagi Sehun merasa disisihkan oleh Luhan, Sehun tak habis pikir kali ini.
"Kau bilang kau percaya padaku Lu, kau bilang kau mencintaiku dan akan menghadapi semua ini bersama.. tapi kenapa lagi – lagi kau meragukanku?"
Bibir Luhan terbuka, ya dia sendiri mepertanyakannya. Ada apa dengan dirinya, kenapa dia begitu cepat berubah?
"Kau juga bilang kau mencintaiku, Oh Sehun… dan beginilah aku…" tegas Luhan.
Sejenak hening dan suara hujan kembali memenuhi ruangan hingga Luhan berkata,
"Kalau begitu jangan mencintai aku lagi, jika kau memang tidak bisa menerima sikapku yang seperti ini"
"LU HAN!"
Sehun meninggikan suaranya bersamaan dengan tubuhnya yang menegak. Mata Sehun menyipit ketika tak seorangpun dia temukan duduk di hadapannya.
"Yaaah… kenapa kau berteriak? Kau membuatku kaget Hun-ah.."
Sehun mendengar suara Luhan dari belakang tubuhnya, wanita itu benar – benar terlihat kaget seraya memeluk selimut dan bantal leher di tangannya.
SRET
Sehun mendadak berdiri dan itu membuat Luhan semakin tidak mengerti.
"Jika kau ingin berteriak, sebaiknya jangan disini… nanti anak – anak bisa bangun" ujar Luhan dengan bibir terpout
"apa… yang terjadi?" tanya Sehun dengan tampang tak mengerti
"Ng? Kau bertanya padaku apa yang terjadi? Bukannya terbalik? Seharusnya aku yang bertanya padamu apa yang terjadi, Hun-ah… kau yang tiba – tiba bangun dan meneriakkan namaku. Ada apa?" tanya Luhan perlahan merekahkan senyum keibuannya
Sehun masih diam dengan raut wajah bodoh dihadapan wanita yang dicintainya itu. Jujur saja pria itu tidak mengerti apa yang Luhan bicarakan, kenapa situasinya juga bisa berubah?
"Tadi kau tertidur di meja makan, kau pasti sangat lelah hari ini. Makanya aku membawakan selimut dan bantal ini untukmu… aku tidak mungkin kuat menggendongmu ke kamar kan?"
Luhan memperlihatkan selimut dan bantal yang dia bawa di tangannya.
"Lalu saat aku akan menyelimutimu, kau malah bangun dan berteriak… apa kau mimpi buruk?" tanya wanita itu lagi, kali ini Luhan terlihat khawatir pada Sehun.
Haaaah…
Sehun menghembuskan napas beratnya dan tak menunggu hujan untuk berhenti, pria itu langsung memeluk mantan istrinya itu erat – erat. Sehun masih terus mencoba menetralkan napasnya sambil memeluk tubuh ramping Luhan.
Jadi perakapannya barusan dengan Luhan hanyalah mimpi?
Jujur saja walaupun itu hanya mimpi tapi itu mampu membuat hati Sehun sesak dan terasa perih. Ya, tak hanya Luhan yang memiliki rasa takut. Sehun pun juga punya rasa takut yang besar selain kekecewaan dalam dirinya. Jika Luhan takut ditinggalkan oleh Sehun maka Sehun sendiri takut Luhan tidak mempercayainya lagi.
"Sehun-ah…" Luhan memanggil nama mantan suaminya itu dengan penuh kelembutan yang seketika mampu membuat hati Sehun lebih tenang dan hangat
"Lu…" Sehun balik memanggil Luhan dengan suara paraunya
"Ng?"
"Kau percaya padaku kan?"
Luhan tersenyum dalam pelukan Sehun mengangguk pelan. Sehun merasakan kepala Luhan bergerak di bahunya dan kedua tangan wanita cantik itupun ikut melingkar di pinggang Sehun. Dan saat Luhan menyandarkan kepalanya di bahu bidang Sehun, wanita itu pun berkata,
"Aku percaya padamu. Meskipun sebenarnya masih ada banyak keraguan dan kecemasan di dalam diriku sendiri, tapi aku akan mencoba percaya padamu. Karena percaya padamu… membuat aku merasa lebih…"
Luhan menggantung kalimatnya lalu menyamankan posisi tubuhnya dalam pelukan Sehun, kemudian melanjutkan kalimatnya, "Tenang dan nyaman"
"Aku mencintaimu Lu… aku mencintaimu…" bisik Sehun dalam dekapannya.
Sesaat hening, dan mereka berdua masih saling berdiri dan memeluk satu sama lain. Suara hujan di luar membuat suasana jadi lebih… entahlah… Luhan merasa itu sangat romantis. Hujan di tengah malam dan sebuah pelukan hangat dan nyaman dari Oh Sehun. Romantis sekali bukan?
"Apa kau mengantuk?" tanya Luhan setelah Sehun melepaskan pelukan mereka.
"Sedikit"
"Ayo kita ke kamar, kita bicarakan semuanya disana agar kau lebih nyaman"
.
.
.
E.N.D
[Ex-Husband Next Door]
.
Chapter 5: I Need You
"Kembali pada mantanmu memang terkesan seperti membaca buku yang sama. Tapi membaca buku yang sama untuk kedua kalinya membuatmu lebih mengerti akan makna yang ada di dalamnya, daripada hanya membacanya sekali saja."
.
.
.
Baekhyun berjalan terhuyung menuju dapur, rumah sudah gelap dan hanya ada biasan sinar dari lampu yang ada di luar rumahnya lah yang menerangi. Gadis itu berjalan sambil memegangi kepala dan satu tangannya lagi yang memegang ponsel dia julurkan untuk mencari – cari jalan, Baekhyun tidak mau menabrak apapun saat ini.
TEK
Baekhyun menemukan saklar lampu yang dia cari bersamaan dengan ruangan yang mulai terang, kepala Baekhyun semakin berdenyut sakit karena biasnya masuk begitu saja dalam indera pengelihatannya. Bulir – bulir keringat di tubuh mungil gadis itu semakin deras bercucuran, Baekhyun merasa tubuhnya semakin hangat dan ngilu di setiap persendiannya.
Sreek
Gadis itu membuka sebuah laci yang berisi obat – obatan dan alat – alat medis sederhana yang wajib dimiliki setiap rumah. Jemari lentiknya mengambil termometer dan menempelkan di telinganya sendiri.
BUGH
"Akh…"
Nampaknya kedua kaki Baekhyun terlalu lemas untuk menopang tubuh mungilnya sendiri. Dia terjatuh di lantai rumah yang dingin. Tentu saja rasanya sakit, belum lagi kepalanya yang terhuyung semakin berdenyut. Baekhyun mencoba kembali memasang termometer itu di telinganya dan setelah panel suara benda itu berbunyi, Baekhyun menyipitkan matanya untuk melihat berapakah panas tubuhnya,
39.4
"Auhh…"
Keluh Baekhyun saat tau jika suhu tubuhnya sudah cukup parah. Gadis itu lalu berusaha untuk menggapai lagi laci obat – obatan yang masih terbuka, namun sial tangannya terlalu pendek. Sudah berulang kali Baekhyun mencoba bangun namun sekujur tubuhnya terasa sangat lemas dan panas. Tubuh Baekhyun benar – benar pusing kali ini.
Sejam yang lalu, Baekhyun sudah mencoba menghubungi Sehun. Gadis itu sudah meminta bantuan kepada sahabatnya itu. Tapi sayangnya Sehun bilang dia harus membicarakan hal yang penting tentang HunHan bersama mantan istrinya. Baekhyun bisa saja memaksa Sehun untuk datang kepadanya dan merawatnya di rumah atau membawanya kerumah sakit atau apapun yang bisa membuatnya sembuh, tapi gadis itu tidak mau melakukannya. Baekhyun tau seberapa sulitnya bagi Sehun untuk bicara baik – baik dengan Luhan, Baekhyun tau apa yang akan dua orang itu bicarakan tentang HunHan terlebih dia adalah wali kelas HunHan yang sangat jelas tau bahwa HunHan sedang mengalami masa berat. Masa berat yang sama dengan yang dia alami dulu ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah.
Baekhyun tak tahan dengan rasa tidak nyaman di tubuhnya kali ini, tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia terlalu lemah bahkan untuk berdiri saja dia tidak mampu.
"Harabojji…."
Gadis itu memanggil nama kakeknya, satu – satunya orang yang benar – benar bisa dia miliki di dunia ini tanpa harus berbagi dengan siapapun dan tanpa harus mengambilnya dari siapapun juga.
Baekhyun memejamkan matanya dan tetesan – tetesan air matanya pun berjatuhan membasahi pipinya. Terlepas dari rasa sakit yang tubuhnya rasakan, gadis itu menangis karena saat ini dia tengah dihadapkan oleh sebuah kenyataan akan dirinya sendiri. Gadis itu tengah berpikir, jika suatu hari kakeknya meninggal maka dia akan benar – benar sebatang kara.
Oh… tentu dia punya Sehun yang berjanji akan menjaganya, tapi… benarkah? Saat ini saja pria tampan itu tidak ada disampingnya, beginikah hidup seorang Byun Baekhyun dimasa depan? Sendiri dan kesakitan?
Baekhyun tidak menyalahkan siapapun, dia tidak menyalahkan Sehun yang lebih memilih keluarga kecilnya dibandingkan dia. Oh tentu saja Sehun harus memilih keluarga kecilnya, Baekhyun akan murka habis – habisan jika pria itu lebih memilih datang padanya daripada berada disisi HunHan saat ini. Baekhyun juga tidak menyalahkan sang kakek yang kini terbaring lemah di rumah sakit, tidak mungkin, sang kakek bahkan sudah memberikan seluruh sisa hidup beliau untuk cucu kesayangannya itu. Baekhyun pun tidak menyalahkan ayahnya yang kini hidup bahagia bersama keluarga barunya seakan Baekhyun dan keluarga yang dia buat bersama ibu Baekhyun tidak pernah ada sebelumnya. Bahkan gadis itu tidak mau menyalahkan sang ibu yang kini hidup sangat makmur bersama pria Paris yang beliau nikahi.
Ya… kali ini Baekhyun seakan tersadar. Jika kakeknya meninggal dan meskipun Sehun telah berjanji untuk menjaganya tapi tetap saja, dia akan menjadi sendirian. Sebatangkara, dia tidak punya siapapun di dunia ini yang bisa benar – benar dia miliki seutuhnya. Untuk berada bersamanya, mencintainya, menjaganya dan melindunginya. Baekhyun menyadari itu semua.
Drrrt….drrrt…drrrt…
Ponsel di tangan kanan Baekhyun bergetar, seseorang memanggilnya saat ini namun Baekhyun sendiri terlalu lemah untuk melihat nama si pemanggil.
Drrrt….drrrt…drrrt…
Berulang kali panggilang itu masuk, Baekhyun terus merasakan getaran ponselnya seperti memaksa dia untuk tetap sadar dan bertahan. Dan akhirnya dengan sekuat tenaga tersisa, gadis itu berusaha menerima panggilan itu.
"Ha…lo…ngghhh…."
.
.
"Kau menelpon siapa, Park Chanyeol?"
Seorang wanita cantik menegur Chanyeol yang tengah duduk di sebuah kursi tepat di sebelah tempat tidurnya.
"Teman… seorang teman…" jawab Chanyeol santai
"Apa kau ada janji? Jika kau ada janji lebih baik kau pergi saja… disini kan ada perawat yang bisa menjagaku" ujar wanita berpipi gembul itu.
"Tidak noona… mana bisa aku meninggalkan noonaku yang baru saja melahirkan sendirian tanpa suaminya" Chanyeol menatap tidak setuju pada seorang wanita yang kini memamerkan gummy smilenya pada Chanyeol.
"Aku dan Namjoon akan baik – baik saja… kenapa kau khawatir sekali sih?" wanita itu memicingkan matanya dan malah membuat dia terlihat imut.
"Jelas saja aku khawatir, kau adalah noonaku, bagaimana bisa aku tidak peduli padamu disaat seperti ini? Dulu waktu aku demam bahkan kau tidak akan meninggalkan kamarku sebelum panas di tubuhku turun. Apalagi sekarang, si tengik Jongdae itu masih ada di London. Tega sekali dia bepergian sejauh itu disaat istrinya hamil tua."
Chanyeol terus mengoceh sedangkan sang kakak hanya bisa tertawa imut bersama seorang bayi tampan yang menyusu di gendongannya.
"Suamiku sedang dalam perjalanan pulang, dia bukanlah suami yang tidak bertanggung jawab dan… sekali lagi Park Chanyeol, dia adalah kakak iparmu! Sopanlah sedikit…"
Chanyeol tidak peduli, lelaki itu kemudian disibukkan lagi dengan ponselnya.
Tok tok tok
"Permisi Sunbaenim… aku mau mengecek keadaanmu"
Seorang dokter bermata bulat dengan senyum bentuk hati masuk ke dalam ruang rawat berlabel Park Minseok dan anaknya Kim Namjoon. Dokter cantik bertubuh padat tapi mungil itu berjalan dengan penuh senyum dan aura ceria.
"Omaya,…. Namjoonie haus ya?"
Dokter itu langsung menyapa si kecil Namjoon yang ada di pelukan Minseok
"Dia baru bangun 10 menit yang lalu dan langsung aku beri asi, dan Kyungsoo-ah sejak kapan kau mulai jaga malam lagi?" Minseok bertanya sambil memberikan satu tangannya kepada Kyungsoo untuk diperiksa
"Diluar hujannya deras sekali… sebenarnya aku tidak berani pulang, sunbaenim…" dokter muda itu masih tersenyum manis
"Apa terasa nyeri di bagian jahitannya, sunbaenim?" tanya dokter itu lagi
"Tidak… kau menjahitnya dengan baik, Do Kyungsoo…" ujar Minseok dan ditanggapi senyuman manis dari Kyungsoo
"Suami sunbae masih belum datang?"
"Mmm.. mungkin besok pagi, Namjoon lahir ketika semua orang sedang tidak di Korea. Untung saja Namjoon punya paman siaga.."
Minseok menunjuk Chanyeol dengan alisnya, namun yang dimaksud malah tidak menghiraukan. Chanyeol tetap sibuk dengan ponselnya, mencoba menghubungi seseorang.
"Baiklah… pemeriksaan terakhir hari ini sudah selesai, kondisimu sangat baik sunbaenim. Dan untuk Namjoon… Dokter Huang akan mengeceknya besok pagi" Dokter bernama Kyungsoo itu mengelus lembut pipi Namjoon lalu tersenyum
"Kau akan kembali ke ruanganmu? Kalau kau sendirian di sana lebih baik disini saja, anak itu tidak asik diajak ngobrol" Minseok mempoutkan bibirnya lalu dibalas senyuman oleh Kyungsoo
"Maaf sunbae, Jongin dan Taeoh sekarang ada di ruanganku… mereka berdua menjemputku kemari, tapi aku baru mau pulang setelah mengecek keadaanmu" jawab Kyungsoo dengan wajah menyesal yang imut.
"Ya sudah tidak apa – apa… sampaikan salamku pada Taeoh dan Jongin"
"Kalau begitu… aku permisi dulu, sunbae.."
"Okay…"
Dokter Do Kyungsoo keluar dari ruangan Minseok dan itu mendinggalkan senyum datar di wajah cantik wanita berpipi bulat itu.
"Chanyeol-ah… apa menurutmu dokter Do Kyungsoo itu cantik?" Minseok bertanya pada adiknya namun Chanyeol hanya mengerutkan keningnya
"Lumayan…" jawab pria itu dengan entengnya
"Gadis cantik, pintar dan baik… tapi kisah cintanya cukup menyedihkan" ujar Minseok kini dengan raut wajah sedikit sendu
"Memangnya ada apa? Apa pacarnya meninggal?"
"YAK! Mulutmu itu kalau bicara kenapa suka seenaknya saja sih?"
Minseok hampir saja melempar remote AC ke arah sang adik namun yang wanita itu lakukan hanya mendelik dan mengacungkan tangannya saja.
"Dia mencintai seorang pria yang salah… entahlah itu salah atau benar, aku tidak tau… sejak dia sekolah kedokteran dia adalah adik tingkatku yang paling cantik, baik dan cerdas. Sayangnya dia jatuh cinta pada seorang laki – laki yang salah. Seorang laki – laki yang tidak peka akan perasaan gadis itu, bodohnya Kyungsoo juga tidak berani mengutarakan perasaannya sampai lelaki itu akhirnya menikah dengan gadis lain. Gadis yang juga tidak kalah cantiknya dengan Kyungsoo. Entah Kyungsoo yang bodoh dalam urusan percintaan atau cinta yang membuat gadis itu jadi bodoh, selama lelaki itu menikah, Kyungsoo tetap mencintainya, bahkan saat istri lelaki itu melahirkan, Kyungsoo lah yang membantu persalinannya dan menjadi orang pertama yang menggendong anak lelaki itu, Kim Taeoh."
Minseok menggantungkan kalimatnya, dan kali ini Chanyeol entah sejak kapan tapi pria tampan itu kini memperhatikan cerita kakaknya.
"Lima tahun yang lalu istri lelaki yang Kyungsoo cintai itu, divonis mengidap kanker hati. Disaat Jongin sibuk mengurus sang istri yang sakit, Kyungsoo lah yang dengan suka rela mengurus Taeoh. Jongin dan Kyungsoo memang bersahabat sejak masuk jurusan kedokteran, maka dari itu Jongin tidak khawatir mempercayakan Taeoh pada Kyungsoo. Kyungsoo, gadis itu sangat tulus menyayangi anaknya Jongin bahkan disaat Kyungsoo tau jika Jongin mencintai wanita lain. Hingga setahun kemudian, istri Jongin meninggal… dan Kyungsoo lah yang merawat Taeoh dan Jongin dengan tulus. Gadis itu memang mencintai Jongin tapi… dia tidak mau merusak persahabatan yang sudah lama terjalin, dia juga tidak mau merusak nama baiknya sendiri, dia tidak mau disangka bahagia karena istri Jongin meninggal. Tapi beruntungnya dia… lama kelamaan Jongin melihatnya, melihat ketulusan dan cinta kasih Kyungsoo kepadanya dan juga anaknya. Dan… beberapa bulan yang lalu mereka berakhir di altar setelah Jongin berhasil meyakinkan gadis itu bahwa dia juga mencintainya. Hmmm… memang berakhir manis, tapi Kyungsoo perlu menunggu bertahun – tahun untuk itu. Rencananya dulu aku mau menjodohkan Kyungsoo denganmu, Yeol… tapi tentu saja kau tidak akan suka berhubungan dengan wanita yang berusia 6 tahun lebih tua darimu kan?"
"What? Jadi dokter tadi usianya sudah 31 tahun? Dia terlihat sangat imut…" Chanyeol kaget dengan tampang horornya.
"Dia sangat cantik, cerdas dan baik… tapi kisah cintanya sungguh rumit" ulang Minseok
"Apa semua gadis yang baik, cantik dan cerdas punya kisah cinta yang rumit?" kini Chanyeol bertanya dengan polosnya pada sang kakak yang lebih tua 7 tahun darinya
"Maksudmu…?"
"Entahlah… dia juga sangat baik, dia sangat cantik… dia juga cerdas. Dan kisah cintanya juga rumit…"
"Dia… siapa?"
"Baekhyun… Byun Baekhyun,"
"Byun Baekhyun?"
"Ng… dia adalah calon istri barunya Sehun, noona"
Minseok mengatupkan bibirnya rapat – rapat dan menatap pada sang adik, bagi Minseok, adiknya itu adalah laki – laki yang sangat polos dan lucu. Chanyeol belum pernah benar – benar jatuh cinta pada seorang gadis sebelumnya. Tentu banyak yang suka pada Chanyeol, dan Chanyeol juga beberapa kali pernah menyukai seorang gadis. Tapi, dimata seorang Park Minseok yang amat sangat mengenal adiknya itu. Sorot mata Chanyeol saat membicarakan gadis bernama Byun Baekhyun itu sangat berbeda. Apakah adiknya benar – benar jatuh cinta pada gadis itu?
Bagus jika jawabannya iya, tapi… kenapa harus gadis yang adiknya cintai adalah calon istri dari orang lain? Minseok mengerutkan keningnya menatap bagaimana Chanyeol masih mencoba menghubungi seseorang sejak tadi.
"Apa itu… Byun Baekhyun?"
Chanyeol tak memperdulikan pertanyaan sang kakak, pria itu tetap sibuk pada ponselnya
"Park Chanyeol… apa orang yang sedang kau hubungi itu… Byun Baekhyun…?"
Tidak ada jawaban dari sang adik, namun tiba – tiba wajah Chanyeol berubah tegang dan…
"Baekhyun-ah… Kau kenapa? Apa kau baik – baik saja?"
Minseok semakin mengerutkan keningnya ketika Chanyeol berdiri dari duduknya dan panik.
"Baek… Apa kau mendengarku? Baekhyun… Byun Baekhyun…"
Chanyeol memutus telponnya sendiri setelah dia yakin sesuatu terjadi pada gadis itu. Minseok terus melihat bagaimana sang adik menatapnya dan menatap pintu keluar ruangan secara bergantian.
"Pergilah…" ujar Minseok dengan senyum lembut
"Ta… tapi noona… aku tidak bisa meninggalkanmu, bagaimana jika kau butuh sesuatu dan…"
"Ada banyak sekali perawat disini, Park Chanyeol. Dan rumah sakit ini adalah rumah sakit tempatku bekerja. Kau boleh pergi… jangan khawatirkan aku disini. Aku dan Namjoon sangat aman disini."
Chanyeol menatap kakaknya sambil berpikir, benarkah dia bisa meninggalkan Minseok dan Namjoon yang baru lahir beberapa jam yang lalu beruda saja?
"Baekhyun lebih membutuhkanmu…" ujar Minseok lagi
GREB
Chanyeol memeluk Minseok dengan lembut, kemudian berkata…
"Terima kasih noona… aku akan segera kembali… Namjoon-ah… Samchoon pergi sebentar ya… jangan nakal pada eommamu! Karena dia sangat galak!"
"YAK! Park Chanyeol"
"Benarkan apa yang samchoon bilang, hehehehe"
Chanyeol kemudian mengecup puncak kepala Minseok dan meninggalkan ibu dan anak itu berdua saja. Minseok tersenyum getir melihat pintu yang baru saja tertutup. Dadanya terasa agak nyeri, bagaimana bisa sang adik mengalami percintaan yang rumit? Apa pria tampan, baik dan cerdas juga selalu ditakdirkan punya kisah cinta yang rumit?
"Ya… Namjoon-ah, jika kau tumbuh besar nanti… jangan sampai kau salah jatuh cinta seperti pamanmu ya… janji pada eomma kau akan mencintai gadis yang juga mencintaimu"
.
.
.
Sehun terbaring di sebelah kanan Luhan. Posisi keduanya saling berhadapan dengan kedua tangan mereka saling memegang erat. Ya, Sehun kini tengah terbaring di ranjang Luhan. Ranjang yang dulunya adalah ranjang mereka berdua. Sudah 5 tahun lebih Sehun tidak berbaring di sana lagi, dan ini adalah perasaan yang aneh disaat Sehun berbaring lagi di sisi tempat tidur dimana dia berbaring dulu.
Tubuh mereka terbalut selimut tebal. Ada jarak sekitar 30 cm diantara mereka. Mereka berdua hanya menggenggam tangan satu sama lain. Hanya terbaring dengan menggenggam tangan satu sama lain.
"Kenapa kau tidak memelukku?" Luhan bertanya sambil menatap wajah Sehun
"Aku takut terjadi sesuatu jika memelukmu dalam situasi yang seperti ini" jawab Sehun enteng
"Ya… waktu itu juga hujan, sama seperti ini"
"Dan kita melakukannya…"
"Dan kita mendapatkan Jaehun dan Jaehan"
"Lu…"
"Ya?"
"Apa kau menyesali semuanya?"
Pertanyaan Sehun membuat kedua mata rusa Luhan mengedip pelan, bibir Luhan tersenyum tipis kemudian wanita itu menjawab
"Aku memang pernah menyesali apa yang kita lakukan di masa lalu, bahkan sampai sekarang, dibeberapa saat aku masih pernah menyesalinya. Tapi… jika aku melihat HunHan, jika aku melihat senyum dan tawa mereka… penyesalan itu hilang begitu saja. Aku jadi bersyukur kepada Tuhan, jika tidak karena apa yang kita lakukan malam itu, mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan dua malaikat kecil kita…"
Sehun tersenyum mendengar pernyataan Luhan, apalagi ditambah kata 'kita' diakhir kalimatnya. Itu membuat Sehun kembali merasa memiliki Luhan dan HunHan secara utuh.
"Aku rasa sudah saatnya kita mengalah untuk mereka," ujar Sehun kemudian
"Apa yang psikolog itu katakan memang benar, Lu. Anak – anak menjadi seperti ini karena apa yang telah kita lakukan. Kita lah yang banyak bersalah pada mereka. Aku tidak mau semakin melukai mereka terus menerus, dan kita beruda memang tidak boleh melukai mereka. Kita berdua adalah orang tua mereka, bukan?"
Sehun menggenggam erat tangan Luhan, lebih erat dari sebelumnya. Siang tadi memang Psikolog tampan dnegan senyum teduh bernama Kim Junmyeon itu sedikit banyak sudah menyampaikan kemungkinan – kemungkinan yang bisa jadi penyebab HunHan bisa mengalami guncangan dari segi psikisnya. Dan satu penyebab besar yang bisa ditarik dari kesimpulan itu adalah, keadaan rumah tangga Sehun dan Luhan yang sangat berantakan.
"Ya… aku tidak ingin mereka semakin jadi korban atas keegoisan kita. Aku tidak mau mereka semakin terganggu dan tumbuh menjadi pribadi yang salah"
Luhan masih menatap wajah Sehun yang balik menatapnya.
"Lu… apa kau benar – benar serius dengan hubunganmu dan Yifan?" satu pertanyaan Sehun membuat Luhan memutuskan kontak mata diantara mereka. Luhan nampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Sehun
Dan pertanyaan itu sesungguhnya adalah pertanyaan lama yang sering Luhan tanyakan pada dirinya sendiri. Apakah dia benar – benar mencintai Yifan? Apakah dia benar – benar serius atas hubungannya dengan Yifan? Apakah jika dia bersatu dengan Yifan maka kehidupannya akan benar – benar lebih baik dari kehidupannya dengan Sehun?
Luhan sering kali mempertanyakan hal itu kepada dirinya sendiri. Namun sampai detik ini, wanita cantik itu masih belum menemukan jawabannya.
"Kau mencintainya…?"
Sehun mengeluarkan satu kalimat bernada ambigu. Entah itu pertanyaan atau pernyataan, tapi itu membuat Luhan merasa tidak nyaman.
"Aku tidak tau, Hun-ah… aku sendiri bingung terhadap perasaanku pada Yifan." Jawab Luhan dengan nada datar
"Kau mencintaiku…"
Sehun kembali mengeluarkan satu kalimat bernada ambigu, tapi kalimat yang baru saja pria itu ucapkan lebih terdengar seperti sebuah pernyataan.
"Ya… aku mencintaimu, sangat." Jawab Luhan setelah bertanya pada hatinya sendiri.
Wanita itu beserta seluruh perasaan dalam hatinya memang sangat mencintai Sehun. Tapi kepala dan akal sehatnya, masih tetap memihak Yifan.
"Mungkin aku menyukai Yifan karena dia selalu ada denganku disaat aku membutuhkan seseorang untuk mendampingiku. Aku menyukainya karena dia sering mengisi posisimu yang kosong… tapi setelah lama aku memikirkannya… posisi itu tidak pernah jadi milik Yifan, sampai saat itu posisi itu tetap milikmu. Hanya saja, Yifan lebih sering berdiri disana daripada dirimu"
Luhan memicingkan matanya dan itu membuat Sehun kembali merasa bersalah pada wanita yang amat sangat dicintainya itu. Sehun menarik tangan Luhan mendekati wajahnya dan mencium punggung tangan Luhan dengan lembut.
"Maafkan aku Lu… aku sama sekali tidak pernah bermaksud untuk meninggalkan kalian. Aku hanya…"
"Tapi kau kembali…"
Luhan memotong kalimat penyesalan Sehun, dan kini wanita itu tersenyum lebar.
"Kau kembali pada kami kan?" tanya Luhan kali ini.
"Ya… aku kembali dan tidak akan pernah pergi lagi" jawab Sehun yang kini satu tangannya membelai lembut pipi Luhan
Sehun memajukan tubuhnya kemudian bibir tipisnya berhasil meraih bibir Luhan dan mengecupnya lembut. Mengecup dengan sedikit lumatan tanpa nafsu dan paksaan. Yang ada hanya luapan kerinduan, cinta dan kasih keduanya yang kini menjadi satu.
Ciuman itu tak berlangsung lama, Sehun kembali terbaring di posisinya. Hanya saja kini 10 cm lebih dekat dari sebelumnya.
"Jadi… hubungan kita ini sebenarnya bagaimana?"
Luhan bertanya pada Sehun, wajah cantiknya menyiratkan kebingungan. Mereka berdua sama – sama bingung. Tentu saja. Luhan masih punya Yifan, Sehun juga punya Baekhyun. Bagaimana bisa mereka seenaknya memutuskan hubungan itu secara sepihak dan meninggalkan Yifan dan Baekhyun begitu saja.
Berat bagi Sehun dan Luhan untuk meninggalkan Baekhyun dan Yifan.
Luhan merasa telah banyak berhutang budi pada Yifan, Yifan telah banyak membantu Luhan dalam segala keadaan terpuruknya selama 5 tahun belakangan. Luhan jelas tidak bisa begitu saja meninggalkan Yifan. Luhan bukanlah orang yang tidak tau terimakasih.
Dan disisi lain, Sehun sudah berjanji pada kakek Baekhyun, berjanji untuk menjaga sahabatnya itu jika beliau telah tiada. Sehun pun tau jika Baekhyun akan jadi benar – benar sebatangkara jika sang kakek sudah meninggalkannya nanti. Bagaimana Sehun tega meninggalkan Baekhyun? Sehun masih tidak yakin Baekhyun akan menemukan pria baik yang bisa menjaganya dengan baik sebaik dirinya.
Merka berdua terdiam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing – masing. Dan kata seandainya kembali bermunculan. Seandainya saja mereka tidak pernah berpisah adalah kalimat seandainya yang paling mereka sesali saat ini. Terlebih, pernikahan bukanlah sebuah permainan yang bisa mereka mainkan begitu saja. Bisa berpisah jika mereka tidak suka dan kembali begitu saja jika mereka menginginkannya lagi. Pantas saja keadaannya sulit, mungkin Tuhan sedang marah pada mereka berdua yang telah mempermainkan sebuah ikatan pernikahan.
"Hei… Luhan…"
"Ng?"
Sehun tersenyum manis dan itu membuat Luhan jadi aneh dengan sang mantan suami.
"Maukah kau berselingkuh dari pacarmu itu dan menjalin hubungan denganku?"
"WHAT? Apa kau sudah gila Oh Sehun?"
"Hahahahahaha… habisnya aku tidak bisa memikirkan jalan lain lagi. Aku ingin berada bersamamu tapi kau pasti tidak bisa dengan mudah meninggalkan Yifan dan akupun sama, aku tidak bisa meninggalkan Baekhyun begitu saja. Jadi… apalagi namanya jika bukan selingkuh?"
"Kau mau main – main lagi ya?"
"Tidak… sebenarnya aku tidak main – main… tapi jika ini yang bisa kita lakukan untuk saat ini, kenapa tidak?"
"Lucu sekali… aku berselingkuh dengan mantan suami yang sangat aku cintai"
"Aku juga lucu kalau begitu…."
"Hmmm… tapi sepertinya itu tidak buruk…"
"Kalau begitu… bolehkan aku minta satu kecupan dari selingkuhanku yang cantik ini?"
"Oh Sehun!"
Mereka berdua sama – sama tertawa, tawa ceria yang berlatar belakanng suara hujan. Namun beberapa saat setelah mereka tertawa, suara petir menggelegar beberapa kali, cukup keras dan keduanya pun mendengar suara Jaehan berteriak,
"EOMMMAAA!"
Sehun dan Luhan bergegas keluar dari balik selimut dan menuju kamar putra mereka. Jaehan memang takut petir, anak itu pasti terbangun akibat suara petir yang keras barusan. Dan begitu mereka membuka pintu, sebuah pemandangan yang tertangkap mata langsung menusuk hati mereka berdua.
"Gwaenchana… Hyung disini… kau tidak perlu takut Jaehan-ah.."
Jaehun kini tengah duduk di tempat tidur Jaehan, bocah itu memeluk adiknya yang tengah menangis. Mencoba menenangkan sang adik yang terbangun karena suara petir.
"Aku takut… Hyung… panggilkan eomma…" si bungsu merengek dalam tangisnya
"Jangan… eomma pasti sudah tidur dan lelah. Seharian ini eomma kerja. Appa juga pasti sudah pulang ke rumahnya. Sudahlah Jaehan-ah… jangan menangis, ada hyung disini bersamamu"
Jaehun mengusap air mata sang adik dengan tangan mungilnya. Jaehun mencoba tersenyum dihadapan Jaehan yang berusaha menelan semua air matanya.
"Tapi aku takut, hyung… petir itu suaranya seperti monster" Jaehan mengadu kepada kakaknya
"Hei… kau tidur bersama seorang super hero! Tidak akan moster yang berani mengganggumu selama ada hyung disini" jawab Jaehun masih mencoba menenangkan Jaehan
"Apa hyung tidak takut petir?" adiknya bertanya lagi
Jaehun menatap sang adik sesaat, anak itu tentu juga takut dengan suara petir yang sangat menggelegar seperti tadi. Buktinya Jaehun bahkan terbangun lebih dulu daripada Jaehan. Tapi… jika dia takut pada petir itu, lalu siapa yang akan menjaga adiknya? Jaehun tidak boleh jadi penakut, dia punya seorang adik yang harus dia jaga.
"Tidak… hyung tidak takut… hyung akan menjagamu" ucap bibir mungil Jaehun
Jaehan kembali memeluk sang kakak, anak itu masih menangis. Tapi kali ini bukan menangis karena petir. Dia menangis karena dia ingin kakaknya tau bahwa dia sangat butuh perlindungan.
"Sudah… jangan menangis lagi Jaehan-ah… hyung ada disini untuk menjagamu," bisik Jaehun lagi
Jaehan menghapus air matanya dengan kedua tangan mungil yang tersembunyi di balik piama coklat mudanya.
"Hyung tidak akan pergi dariku kan? Hyung akan selalu bersamaku kan?"
"Tentu saja… memangnya kau pikir aku akan pergi kemana?"
"Ani… tentu saja hyung pasti tau jika eomma dan appa bisa meninggalkan kita kapan saja. Mereka berdua sama – sama akan menikah lagi, mereka pasti akan punya keluarga baru lagi. Dan kita berdua pasti lama – kelamaan akan dilupakan oleh mereka.."
"Tidak… mereka tidak mungkin meninggalkan kita, kau jangan berpikir seperti itu Oh Jaehan.."
"Lalu bagaimana jika mereka benar – benar meninggalkan kita untuk keluarga mereka masing – masing? Kita kan tidak punya siapa – siapa lagi…"
"Kau masih punya aku, aku hyungmu"
Jaehun menggenggam tangan Jaehan, bocah itu tersenyum lalu berkata,
"Tuhan membuat kita berdua lahir bersama pasti ada tujuannya. Tuhan membawamu ikut lahir bersamaku dan membawaku lahir bersamamu pasti karena Tuhan tidak mau satu diantara kita merasa sendirian. Hyung akan menjagamu sampai kapanpun, meskipun nanti jika eomma dan appa benar – benar berpisah dan melupakan kita berdua. Kau tidak akan hidup sendirian. Kau akan memiliki aku bersamamu. Jadi tenanglah… tidak akan monster yang akan mengganggu atau mencelakakanmu. Aku akan melawan mereka untukmu. Karena aku… adalah kakakmu"
Tubuh Luhan bergetar dengan air mata yang meleleh di pipinya, tangisan tanpa suara dengan tatapan mata rusa yang kosong. Tidak hanya hati, jiwa Luhan detik itu juga sangat terguncang. Dan hal yang samapun terjadi pada Sehun. Ini bukan pertama kalinya Sehun melihat bagaimana Jaehun dan Jaehan yang sebenarnya. Dibalik senyum dan tingkah polah kekanakan mereka, sebenarnya kedua anak mereka sangat tersakiti. Baik hati dan jiwa Hunhan, mereka berdua benar – benar tersakiti akibat keegoisan kedua orang tuanya dimasa lalu.
Dan memang begitulah kenyataanya. Tidak hanya Luhan atau Sehun yang merasakan ketakutan dan trauma mendalam akibat perceraian mereka. Hal yang lebih buruk bahkan menimpa kedua buah hati mereka.
Luhan baru saja akan maju untuk masuk ke dalam kamar HunHan namun Sehun mencegah langkah Luhan.
"jangan… jangan ganggu mereka sekarang" bisik Sehun dengan suara parau
Luhan menatap Sehun dengan tatapan tak mengerti, kedua mata wanita itu bahkan masih berkaca – kaca
"Biarkan mereka menyelesaikan ini dengan cara mereka sendiri. Jika kita masuk dan datang, mereka pasti akan bingung dan Jaehan tidak akan mengerti apa yang Jaehun katakan barusan" bisik Sehun lagi.
Luhan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar kedua buah hatinya. Wanita itupun menutup pintu kamar sang anak, lalu tangisannya kembali pecah di dalam pelukan Sehun.
"Ayo tidur lagi… besok kita berdua harus sekolah! Byun Seonsaeng berjanji akan mengadakan games besok"
Jaehun mengajak sang adik untuk kembali tidur, namun Jaehan hanya memandang kakaknya dengan tatapan enggan
"Aku tidak mau tidur sendirian…" rengeknya
"Hei… hyung ada di sebelahmu" Jaehun menunjuk tempat tidurnya
"Itu terlalu jauh hyung… bagaimana kalau ada monster yang tiba – tiba datang dari dalam kolong tempat tidurku?" protes Jaehan
"Baiklah… hyung akan tidur di tempat tidurmu… tapi kau harus janji, kau tidak akan menendangku"
Jaehan tertawa lalu mengangguk antusias, Jaehan menggeser tubuh kecilnya agar ada space yang cukup bagi Jaehun ikut tidur di sana. Dan malam itu, HunHan berakhir dengan tertidur lelap sambil berpegangan tangan di tengah hujan deras.
.
.
.
Chanyeol berulang kali memencet bel rumah Sehun namun tak ada jawaban. Chanyeol benar – benar bingung apa lagi sedari tadi Baekhyun tak sama sekali mengangkat telponnya lagi. Namun beberapa saat kemudian Chanyeol ingat bahwa dia pernah mengganti password rumah Sehun menjadi digit tanggal lahir Baekhyun. Chanyeol mencoba untuk menekan tombol itu dan… terbuka. Penghuni di rumah itu tak sama sekali mengganti passwordnya.
Chanyeol segera masuk dan mendapati pintu depan tak terkunci. Beruntung bagi Chanyeol karena dengan begitu dia bia masuk lebih dalam.
"Baek… Baekhyun-ah… kau dima…"
Kedua mata bundar Chanyeol langsung melebar ketika dia mendapati Baekhyun sudah meringkuk di lantai rumah dekat dapur bersama ponsel dan juga termometer.
"BAEKHYUN!"
Chanyeol menghampiri tubuh Baekhyun lalu mencoba menyadarkan gadis itu, tubuh Baekhyun sudah banyak berkeringat tapi badannya masih tetap panas.
"Baek… Apa kau bisa mendengarku…? Baekhyun… Byun Baekhyun…"
Tidak ada jawaban dari Baekhyun, dan itu membuat Chanyeol semakin panik. Chanyeol mengedarkan seluruh pandangannya ke sekeliling rumah namun rumah itu kosong tak berpenghuni selain Byun Baekhyun.
Chanyeol menghela napasnya kasar, pria itu marah atau bisa dibilang dia sendiri tidak tau kenapa dia merasa semarah itu pada sahabatnya, Oh Sehun. Kemana pria itu disaat seperti ini, tidak kah pria itu tau jika calon istrinya sakit di sini?
Chanyeol lasngung menyaup tubuh Baekhyun dan membawanya ke kamar gadis itu. Chanyeol langsung mengambil handung di kamar mandi dan mengelap semua kerigat disekitaran kening dan leher Baekhyun.
"Hara..boji…"
Baekhyun mulai mengigau. Bibir tipis gadis itu memanggil lagi sang kakek di alam bawah sadarnya. Chanyeol yang kini setengah mati berusaha tenang mulai mengecek suhu tubuh Baekhyun.
40.2
Tepat setelah Chanyeol melihat hasil pengukuran suhu tubuh Baekhyun, hidung Baekhyun juga mengeluarkan darah.
"Andwae… Baek…"
Chanyeol berdiri seketika dan melihat hujan di luar semakin lebat. Pria itu berusaha mencari jalan keluar yang bisa dia tempuh untuk menyelamatkan Baekhyun. Dan pilihan Chanyeol berakhir pada kakaknya. Tentu saja, Park Minseok adalah seorang dokter. Kakaknya itu pasti tau apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Baekhyun.
"Noona… Noona…. Bantu aku noona.. Baekhyun sakit, sangat sakit.. noona.. apa yang harus aku lakukan noona"
Minseok segera memberikan instruksi pertolongan pertama yang harus Chanyeol lakukan untuk membantu Baekhyun. Mulai dari mengganti baju gadis itu yang sudah basah karena keringat sampai membuatkan kompres air hangat dan pemberian obat penurun panas yang untungnya ada di rumah itu.
Ya, Chanyeol mengganti baju Baekhyun. Oh demi Tuhan, disaat yang super genting seperti ini mana bisa kepala Chanyeol memikirkan yang tidak – tidak saat tubuh putih mulus Baekhyun yang kemerahan karena panas tubuhnya tersaji begitu saja dihadapannya. Yang Chanyeol pedulikan adalah cara untuk menyelamatkan Baekhyun.
"Aku sudah melakukan semua instruksimu, noona lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Chanyeol lagi pada ponsel yang menghubungkannya langsung dengan sang kakak.
"Tunggu beberapa saat lagi, aku sudah mengirim seorang dokter ke rumah itu. Kebetulan dia tinggal di daerah yang sama dengan kalian. Tadinya aku mau kirim ambulance tapi banyak jalan yang ditutup karena banjir dan hujan yang tak berhenti"
TING TONG
"Noona… seseorang datang.. nanti aku akan menghubungimu lagi"
Chanyeol memutus sambungan teleponnya dan secepat kilat membukakan pintu depan. Chanyeol sudah berniat, jika itu adalah Oh Sehun yang datang, dia tidak akan memaafkan Sehun. Tapi syukurlah, itu adalah seorang dokter yang dikirim Minseok untuk mengecek kondisi Baekhyun. Seorang dokter pria tampan yang sepertinya seumuran dengan Minseok.
"Bagaimana keadaannya dok?"
Chanyeol baru berani bertanya ketika dokter itu merapikan alat – alat kedokteran yang dia bawa.
"Dari semua tanda – tanda yang aku dapatkan, sepertinya gadis ini terkena gejala tifus. Aku sudah memberikannya beberapa suntikan yang membantu untuk menurunkan demam dan meningkatkan daya tahan tubuhnya, aku juga memasangkan infus untuknnya agar kondisinya bisa segera stabil dan barusan aku juga sudah mengambil sample darahnya untuk aku bawa ke laboratorium. Jika sesuatu yang buruk terjadi akan aku kirim ambulance kemari, tapi jika semua masih bisa ditangani di rumah, maka aku akan memberitahukanmu… kau tenang saja... sementara ini … dia sudah lebih baik…"
Chanyeol menghela napas panjang dan berat bersamaan dengan doa ucapan rasa syukurnya kepada Tuhan karena Baekhyun sudah tertolong. Wajah Baekhyun yang tadinya pucat pasi kini sedikit lebih baik meskipun masih tetap terlihat lemah dan memprihatinkan. Setelah selesai dengan urusannya, dokter itupun langsung pergi untuk segera membawa sample darah Baekhyun ke rumah sakit.
Kini Chanyeol duduk di lantai kamar Baekhyun dengan kedua kaki terlipat, satu tangan memeluk kakinya dan satunya lagi menggenggam tangan Baekhyun. Dia masih tidak bisa tidur, pria itu masih menunggu hasil laboratorium yang dijanjikan oleh dokter tadi.
"Cepat sembuh… Baekhyun-ah…" bisik Chanyeol dengan wajah sendu
"Tapi meskipun sedang sakit kau tetap terlihat cantik… hanya saja lebih cantik jika kau sehat…"
Chanyeol menggantung kalimatnya lalu tersenyum. Kedua matanya memandang wajah Baekhyun sejenak lalu pria itu kembali berkata, "Jika kau punya masalah atau beban pikiran… jangan kau tanggung sendirian… kau bisa menceritakannya padaku, aku… aku temanmu… kan?"
Chanyeol menyandarkan kepalanya di tepian ranjang namun satu tangannya masih menggenggam tangan Baekhyun erat – erat. Dan tanpa Chanyeol sadari, Baekhyun membuka kedua matanya perlahan – lahan. Gadis itu ternyata tidak sepenuhnya tertidur, dan saat ini Baekhyun sedang merekahkan bibir tipisnya. Gadis itu benar – benar berterimakasih karena Chanyeol datang untuk menyelamatkannya. Dan bahkan sekarang pria itu menjaganya. Bukankah seharusnya itu adalah tugas Sehun? Mengingat Sehun sendiri sudah berjanji kepadanya.
"Terima kasih… Park Chanyeol"
Baekhyun mengucapkan kalimat itu tanpa suara, gadis itu masih terlalu lemah untuk berbicara apalagi sekarang kepalanya mulai terasa berat karena pengaruh obat yang akan membuatnya kembali tertidur.
.
.
.
Sehun terbangun tepat pukul 6 pagi, adalah satu kebiasaan bagi Sehun untuk bangun setiap pukul 6 pagi bahkan tanpa alarm sekalipun. Sehun mengerutkan keningnya ketika dadanya terasa berat dan ada hembusan napas tenang naik dan turun di dadanya. Dan sedetik kemudian pria itu tersenyum mendapati wajah tertidur Luhan yang tidur didalam dekapannya. Tenang dan nyaman.
Sehun mengangkat satu tangannya untuk mengusap kepala Luhan dengan lembut. Sehun benar – benar tidak bisa berhenti tersenyum, apa yang terjadi pagi ini bukanlah mimpi. Luhan benar – benar ada di dalam dekapannya, tertidur lelap bersamanya semalam.
Seiring dengan usapan di kepalanya, Luhan pun semakin memeluk Sehun dan menyamankan tubuhnya diatas dada bidang sang mantan suami. Tak mau melewatkan moment itu, Sehun pun balik memeluk Luhan dan mengecup puncak kepala wanita yang sangat dicintainya itu.
"Kepalaku rasanya pusing sekali"
Sehun mengendurkan pelukannya ketika suara lemah Luhan melirih dalam pelukannya
"Kau sudah bangun?"
"Baru saja… Tiga hari lagi adalah Hari H Seoul Winter Fashion Week… aku harus menyiapkan banyak hal.."
"Tapi hari ini kita harus bertemu dengan Psikolognya HunHan…"
"Iya jam 2 siang? Iya kan?"
Luhan menggeliat di atas tempat tidur lalu duduk disamping Sehun. Wanita itu mengambil sebuah buku yang berisi catatan schedulenya.
"Pagi ini aku ada meeting dengan divisi grafis dan aku juga harus meninjau bangunan Cafe di Hongdae. Baru setelah itu aku bisa menjemput anak – anak… aku usahakan sebelum jam 1 siang aku sudah menjemput mereka" ujar Sehun yang kini bersandar di kepala ranjang sambil merapikan lengan kaosnya yang kusut.
"Ya… aku rasa aku bisa mengantar HunHan sekolah pagi ini sebelum fitting baju dan dekoarasi. Setelah itu aku temui kau di tempat psikolognya HunHan… kita bertemu disana, apa itu oke?"
"Ya… tentu saja.. kita bertemu disana"
"Ng… Sehun-ah…"
"Ya?"
"Apa tidak sebaiknya kau pulang?"
"Pulang? Aku baru saja mau ikut membangunkan anak – anak…" Sehun membringsut di paha Luhan dengan bibir terpout
"Tapi Baekhyun pasti menunggumu di rumha…"
Sehun seketika menghentikan aksi manja – manjanya di atas paha Luhan. Pria tampan berahang tegas itu sepertinya lupa jika ada seseorang yang menunggunya di rumah. Byun Baekhyun. Bagaimana bisa Sehun melupakan gadis itu? Bukankah semalam Baekhyun bilang dia membutuhkan bantuannya?
Sehun langsung bangun kemudian meraih ponselnya di meja nakas tepat disebelah ponsel Luhan. Perasaannya semakin tidak enak begitu dia mendapati ponselnya telah mati begitu saja.
"Aku harus pulang… perasaanku tidak enak… aku takut sesuatu terjadi pada Baekhyun"
Sehun langsung berdiri dari tempat tidur. Merapikan sebentar rambutnya kemudian sedikit berlari menuju kea rah pintu kamar Luhan. Luhan sendiri hanya bisa terdiam melihat bagaimana Sehun tergesa – gesa merapikan dirinya untuk pulang ke rumah sebelah dan menemui calon istrinya yang Sehun sedang khawatirkan. Ada rasa cemburu dan tak rela yang menyeruak di hati Luhan, dia tidak suka bagaimana Sehun menghawatirkan gadis manis itu. Sehun mencintainya kan?
CHUP
"Sampai jumpa nanti sayang… aku mencintaimu"
Luhan tersadar ketika Sehun tiba – tiba mencium pipi kanannya. Pira itu sengaja kembali sebelum keluar kamar hanya untuk mengecup pipinya dan mengatakan jika dia mencintai Luhan.
Luhan pun akhirnya tersenyum dan detik itu pula dia tersadar. Tidak ada orang lain yang dia cintai selain Oh Sehun, begitu pula Oh Sehun, pria itu hanya mencintai dirinya.
.
.
.
Chanyeol terbangun dari tidurnya dan mendapati Baekhyun masih tertidur dengan nyenyak dan nyaman, keringat di tubuh gadis itu pun sudah berkurang jadi pria itu tak harus mengganti baju Baekhyun lagi. Tiga kali. Selama satu malam Chanyeol mengganti piama Baekhyun sebanyak tiga kali. Itu sesuai dengan saran Minseok karena baju yang basah karena keringat akan memperlambat pulihnya kesehatan tubuh Baekhyun.
Tengah malam tadi, Chanyeol bisa bernapas lega karena dokter yang mengecek darah Baekhyun mengatakan jika Baekhyun baru hanya terjangkit gejala Tifus, itu bisa disebabkan karena Baekhyun kelelahan, kurang tidur dan makan tidak teratur. Chanyeol sendiri heran, bukankah Sehun dan Baekhyun tinggal serumah? Bagaimana bisa gadis itu jadi begini tak terawat? Apa yang Sehun kerjakan selama ini? Bukankah lelaki itu juga sudah jarang datang ke kantor di Incheon? Dan kemana Sehun sekarang?
Daripada memusingkan itu dan membuat dirinya semakin kesal pada Sehun, Chanyeol memutuskan untuk mengukur suhu tubuh Baekhyun kembali.
38.2
Chanyeol tersenyum melihat hasilnya, setidaknya suhu tubuh gadis cantik itu sudah berangsur – angsur menurun dan nampaknya obat yang disuntikkan dokter kemarin memang sudah bereaksi dengan baik. Chanyeol kemudian mengganti kantong infus yang masuk ke tangan Baekhyun. Meskipun dia adalah seorag ahli membuat bangunan, tapi kedekatannya bersama Minseok selama ini cukup untuk membuat Chanyeol tau beberapa nama obat, cara mengganti kantong infuse dan juga cara mengukur tekanan darah.
"Cepat sembuh… Baekhyun-ah…" ujar pria itu dengan senyum manis yang bertolak belakang dengan tampang kusutnya.
Park Chanyeol masih menggunakan sebuah kemeja yang berlapis sweater merah maroon dan celana jeans abu – abunya. Belum lagi kemeja yang membringsut keluar dan lengan sweater yang sudah terlipat tak beraturan itu menunjukkan jika pria tampan bermarga Park itu sebenarnya juga sudah lelah.
Chanyeol berjalan menuju ke dapur rumah Sehun dan Baekhyun. Chanyeol berencana membuat bubur untuk dimakan Baekhyun sebelum Baekhyun memakan obatnya pagi ini. Chanyeol memang seorang ahli membuat bangunan dan menjual property, tapi menjadi seorang anak di keluarga Park yang terkenal dengan bisnis rumah makan keluarganya itu membuat Chanyeol tentu tau bagaimana cara membuat bubur.
"Ya…. Park Chanyeol… aku kira mobil di depan bukan mobilmu, kenapa pagi – pagi kau sudah ada disini dan… memasak?"
Sehun datang dengan senyum lebarnya menyapa sang sahabat yang tengah mengaduk bubur panas di atas kompor. Chanyeol berbalik lalu membulatkan matanya, menatap Sehun dengan tatapan kesal dan marah. Sebenarnya Chanyeol ingin sekali menyiramkan sepanci bubur panas itu ke kepala Sehun agar pria itu sadar akan apa yang telah dia lakukan pada Baekhyun, tapi Chanyeol tidak memilih opsi itu, makanan tidak boleh dibuang – buang percuma apalagi karena amarah.
"Darimana saja kau?"
Chanyeol akhirnya bertanya dengan nada dingin, tentu saja dia marah, tapi dalam hati dia merasa tak pantas untuk marah, memangnya dia siapa? Kenapa dia harus marah pada Sehun yang meninggalkan Baekhyun yang sakit sendirian di rumah?
Oh… rasa kemanusiaan. Mungkin itu alasannya.
"Aku… aku… ng… dari.. rumah sebelaah, semalam aku tidur di rumah sebelah.." Sehun berkata dengan penuh kecanggungan
"Aku tidur bersama HunHan.." tambah Sehun yang jelas – jelas sudah merupakan kebohongan. Pria itu tidur seranjang bahkan berpelukan bersama sang mantan istri.
"Aku tidak peduli kau tidur dengan Jaehun, Jaehan atau Luhan sekalipun! Tapi aku harap kau bisa lebih bijaksana dalam membagi dirimu. Kapan saatnya kau bersama keluargamu itu dan kapan saatnya kau ada bersama Baekhyun" Chanyeol berusaha menekan emosinya agar tidak meledak dihadapan Sehun.
"Apa maksudmu…? Apa… Sesuatu terjadi?"
"Waaah… kau bertanya padaku? Memangnya siapa disini yang tuan rumah? Kenapa bertanya padaku tentang sesuatu yang terjadi?"
"Park Chanyeol… apa yang kau bicarakan?"
"Kau hampir saja membunuh Baekhyun semalam!"
Kalimat terakhir Chanyeol seperti petir yang menggelegar di kepala Sehun. Membunuh? Bagaimana bisa dia membunuh baekhyun?
"Baekhyun sakit, dia terkena gejala tifus dan sekarang masih tidur di kamarnya. Jam 8 nanti akan ada seorang dokter yang datang untuk mengecek kondisinya lagi. Aku juga sudah menghubungi sekolah Baekhyun untu meminta ijin tidak masuk selama beberapa hari kedepan, surat keterangan sakit akan menyusul setelah Baekhyun sembuh. Berikan bubur ini pada Baekhyun dan minta dia segera minum obat lalu mandi dan kembali istirahat."
"Chanyeol-ah…"
BRUGH
Chanyeol membanting spatula di tangannya ke atas meja makan dan Sehun berani sumpah itu adalah pertama kali dia melihat seorang Park Chanyeol marah.
"Aku tidak mengerti apa isi kepalamu, Oh Sehun. Setauku kau adalah orang yang cerdas dan bertanggung jawab, tapi… kenapa kau melakukan ini semua pada Baekhyun? Kau bilang kau adalah calon suaminya… dia sangat menyayangi anak – anakmu, dia begitu baik dan sabar terhadapmu, dia bahkan tidak protes kau ajak tinggal bersebelahan dengan mantan istrimu, dia bahkan tidak pernah marah setiap kali kau tinggal demi urusan keluargamu, dia juga tidak marah ketika kau tidak pulang ke rumah untuk mengurus anak – anak dan mantan istrimu…."
Chanyeol menjeda kalimatnya dengan mengatur napasnya yang menggebu,
"Kau pikir Baekhyun itu Cuma boneka? Dia juga punya perasaan, Oh Sehun! Apa kau tau rasanya jadi Baekhyun? Kau beruntung memiliki calon istri yang baik seperti dia, yang mau menerima keadaanmu dan juga menyayangi anak – anakmu. Tapi beginikah caramu memperlakukannya?"
Chanyeol memprotes habis – habisan semua yang Sehun lakukan terhadap Baekhyun dan Sehun pun sedikit bingung darimana pria bertelinga lebar itu tau semua hal tentang dirinya dan Baekhyun?
"Dan sekarang Baekhyun sakit… apa masih kau bisa menyebut dirimu sebagai seorang calon suami?"
Dan pria bermarga park itu tak lagi bisa membendung hasratnya untuk membentak Sehun. Sehun sendiri tak mau memperpanjang dan lebar pembicaraannya dengan Chanyeol, Sehun lebih baik pergi dan melihat keadaan Baekhyun saat ini.
Sehun masuk ke dalam kamar Baekhyun dan mendapati gadis itu sudah bersandar di kepala ranjang dengan senyum teduh di balik wajah pucatnya.
"Hai Sehun? Baru pulang..?"
Gadis itu menyapa dengan nada ramah yang membuat Sehun semakin merasa bersalah
"Baek… Baekhyun-ah… kau masih sakit? Kau…"
"Aku baik – baik saja… sini.. duduk disini"
Baekhyun memanggil Sehun seraya menepuk sisi kosong di ranjangnya. Meminta sahabatnya itu untuk duduk disana dan berbicara. Sehun menuruti apa yang Baekhyun minta. Pria itu langsung duduk dengan wajah memerah dan mata yang mulai berkaca – kaca. Keadaan Baekhyun yang lemah, pucat dan kusut ini bukanlah keadaan yang baik, apalagi infus yang menancap ditangannya. Seingat Sehun, Baekhyun bahkan tidak suka disuntik.
"Baek.. apa yang terjadi padamu, kau…"
"Kalau kau merasa bersalah, aku tidak memerlukannya… Oh Sehun. Apa kau sudah bilang terima kasih pada Chanyeol karena dia sudah merawatku semalaman?"
Baekhyun tersenyum manis sambil menakup pipi tirus Sehun degan satu tangannya yang bebas.
"Maafkan aku.." lirih Sehun dan satu air mata lolos dari matanya. Sehun langsung memeluk tubuh Baekhyun yang tentu saja masih terasa hangat, "Maafkan aku Baek… maafkan aku…" katanya lagi.
Setelah memeluk gadis itu Sehun lalu diam dan menatap Baekhyun dengan perasaan penuh dosa. Tak hanya kepada Baekhyun, tapi kepada kakek Baekhyun yang kini masih terbaring di rumah sakit.
"Aku lapar" kata Baekhyun setelah Sehun hanya diam menatapnya. Baekhyun tau, Sehun kini sedang kehabisan kata – kata atau lebih tepatnya dia sedang tidak tau apa yang harus dia katakan pada Baekhyun dalam situasi seperti ini.
"Sudahlah jangan tatap aku terus, aku baik – baik saja… bagaimana dengan HunHan?" tanya gadis itu lagi
"Mereka baik… hari ini rencananya kami akan menemui Psikolog itu untuk penanganan lebih lanjut"
Baekhyun tersenyum mendengar apa yang Sehun katakan, "Mereka pasti akan baik – baik saja," ujar gadis itu.
"Cepatlah mandi… bukankah pagi ini kau ada meeting? Kemarin aku sempat melihat jadwalmu di meja kerja.." lirih Baekhyun lagi
"Tapi tidak… kondisimu lebih penting, aku akan meminta seseorang untuk menggantikanku rapat hari ini dan.."
"dan pekerjaanmu akan berantakan…" sahut Baekhyun dengan wajah serius kali ini.
"Bagaimana dengan hubunganmu dan Luhan? Apakah sudah membaik?" Baekhyun kini bertanya dengan tatapan serius yang tak bisa ditebak. Sehun tetap diam, bagaimana bisa dia bilang bahwa dia berencana kembali pada Luhan dan membatalkan janjinya pada kakek Baekhyun disaat seperti ini? Baekhyun sedang membutuhkannya, sangat membutuhkannya.
"Kau tidak bisa mengurus dua rumah tangga sekaligus, Oh Sehun… jika kau tetap bersikeras akan menikahku, dan juga kembali pada Luhan… kau mau menjalani rumah tangga yang seperti apa?"
Sehun menutup rapat bibirnya, tak ada jawaban yang pria itu berikan pada Baekhyun. Apa yang bisa dia jawab? Dia sendiri masih bingung.
"Aku tak keberatan kau memilih satu diantara kami… tapi…" Baekhyun kini menggengam tangan Sehun dan mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun
"Aku tidak akan mau melepaskanmu begitu saja, setelah apa yang kau lakukan padaku hingga aku seperti ini… kau berjanji akan menjagaku"
Kaliamat Baekhyun membuat posisi Sehun semakin sulit. Sehun sendiri kebingungan, kenapa Baekhyun bisa berubah seperti ini? Bukankah dia yang selalu memintanya untuk kembali pada Luhan?
"Tapi Baek… demi HunHan aku…"
"Aku tau… aku memang selalu memintamu kembali pada keluarga kecilmu tapi itu kemarin… saat aku masih percaya kau bisa menjagaku walaupun kau bersama mereka, tapi kenyataanya… kau tidak bisa. Kau berjanji padaku dan kakekku Oh Sehun.."
"Baek… ku mohon… HunHan butuh keluarga yang utuh, aku tidak mau semakin menghancurkan mereka"
"Lalu bagaimana denganku? Kau akan membuangku…? Begitu saja?"
"Baek… aku tidak mengerti apa maksudmu…"
"Aku tidak akan melepasmu, meskipun kau meminta untuk mengakhiri semua ini denganku… aku hanya akan melepasmu jika Luhan sendiri yang memintamu dariku. Wanita itu perlu sedikit aku beri pelajaran!"
"…"
"Uahahahahahahaha… wajah panikmu lucu sekali, Oh Sehun… ahahahahaha…"
Baekhyun mengubah raut wajah marahnya menjadi tawa penuh kemenangan dan itu membuat Sehun merasa seperti dipermainkan,
"Kau…"
"Yaa… aku melakukan apa yang biasanya kau lakukan padaku… aaah… rasanya lega sekali bisa mentertawakan wajah bodohmu itu..ahahahaha.."
"BYUN BAEKHYUN!"
"Omaya… kau membuatku kaget!"
"Setidaknya jangan bercanda disaat seperti ini… kau tau kepalaku baru saja akan meledak saat kau mengatakan itu semua?!"
Sehun meprotes apa yang sahabatnya itu lakukan dan Baekhyun masih tertawa dengan bahagianya.
"Tapi aku benar – benar serius… aku tidak akan melepasmu sebelum Luhan sendiri yang memintamu padaku…" ujar Baekhyun tenang, kali ini dengan tatapan mata tenang ala Byun Baekhyun yang baik bagi Sehun.
"Aku akan membicarakan ini dengan Luhan nanti, sekarang yang terpenting adalah kondisimu. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian tanpa pengawasan disaat…"
"Bisakah kau meminta Chanyeol untuk tidak bekerja dan menemaniku?"
Baekhyun memotong kalimat Sehun dengan sebuah permohonan yang mampu membuat Sehun menganga.
"Cha.. Chanyeol?"
"Aku rasa dia perawat yang baik… ku mohon.." Baekhyun mempoutkan bibirnya dan beraegyo dihadapan Sehun. Sehun tak begitu mengerti apa maksud Baekhyun tapi Sehun pun mengabulkan apa yang Baekhyun minta. Tentu dengan memohon pada Chanyeol yang Sehun sendiri kaget kenapa itu rasanya terlalu mudah meminta seorang Park Chanyeol untuk meninggalkan kantor tercintanya demi calon istrinya?
Katakanlah Sehun tidak peka terhadap apa yang menjadi alasan bagi sahabatnya untuk mau diminta bolos kerja dan juga alasan dibalik permintaan Baekhyun – mungkin –. Yang jelas, Chanyeol dengan suka rela mau menggantikan posisinya untuk menjaga Baekhyun. Super Sekali.
.
.
.
"Hai sayang…"
Seorang wanita cantik dengan dimple manis di pipinya menengok ke ruang kerja seorang psikolog berwajah teduh. Psikolog bernama Kim Junmyeon itu langsung menyambut wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri itu dengan senyuman teduh.
"Kenapa kau kemari sayang? Sudah aku bilang kan… hari ini aku akan pulang cepat.."
"Aku merindukanmu… oh tidak… janin yang ada di perutku ini yang merindukanmu" ujar wanita itu dengan seraya mengusap perut buncitnya masih berdiri diambang pintu.
"Sini… biar aku usap perutmu"
Dengan senyum sumrinngah, wanita bermata sipit dengan wajah manis berdimple itu langsung menghampiri suaminya.
"Yixing-ah… lain kali jika kau mau kesini, kau beritau aku dulu… sebentar lagi aku ada janji akan melakukan konsultasi dengan sepasang orang tua"
"Aku istrimu, Kim Junmyeon.."
"Tapi aku sedang bekerja… Lu Yixing…"
"Terserah kau saja… oh… siapa kedua anak ini?" tanya Yixing, istri psikolog ini mengambil foto dua bocah berwajah mirip itu
"Itu adalah pasienku yang akan datang kemari mereka anak kembar, ada apa?"
"Siapa nama mereka?"
"Mereka? Oh Jaehun dan Oh Jaehan"
Yixing terdiam sejenak, matanya menatap lurus pada seorang bocah yang kata suaminya bernama Oh Jaehun. Anak itu benar – benar mengingatkannya pada seseorang.
"Anak ini sangat mirip dengan adikku.." ujar Yixing lalu memberikan foto Jaehun pada Junmyeon
"Benarkah?"
"Ya… apakah… orang tua mereka bernama Lu Han dan… Oh Sehun..?"
Kedua tangan Yixing mulai terasa dingin sangking gugupnya. Apakah anak yang dia bilang mirip sang adik itu memang benar anak adiknya? Tapi kenapa mereka datang pada suaminya? Apa ada yang salah?
"Ya benar… orang tua kedua anak ini bernama… Oh Se Hun dan… Lu Han…" Junmyeon menatap perubahan mimik sang istri secara seksama. Dia tau jika Yixing sedang shock, tapi dia masih berusaha tenang, tentu saja Junmyeon tidak mau sesuatu terjadi pada istri dan calon anaknya.
"Kenapa mereka menemuimu, katakan padaku Junmyeon-ah…"
Yixing menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca – kaca. Pertama – tama Junmyeon menenangkan Yixng terlebih dahulu dan mensugesti pikiran sang istri untuk tetap tenang setelah apapun yang dia dengar nantinya.
Dan begitu Junmyeon rasa Yixing sudah siap mendengar apa yang terjadi, Junmyeon langsung menceritakan semuanya. Smeua tanpa terkecuali. Tentang keretakan rumah tangga Luhan dan Sehun dan pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadian anak – anak mereka.
"Jangan menangis sayang… baby akan ikut sedih jika kau sedih" bujuk Junmyeon
"Luhan… Luhan dibuang dari keluarga karena… karena…"
"Ya… aku tau, kau sudah pernah menceritakannya padaku.."
"Dan sekarang, putra mereka… putra mereka…"
"Semua bisa jadi lebih baik Xingie… aku akan membantu mereka kembali menjadi baik"
"Berjanjilah padaku, kau akan membantu mereka… berjanji padaku Junmuyeon-ah.."
"Tentu… tentu saja… apalagi setelah aku tau bahwa Jaehun dan Jaehan adalah keponakanku sendiri…"
.
.
"Jaehan-ah… kenapa kusut sekali?" Sehun menegur salah satu putranya yang hanya duduk di jok belakang sambil menekuk wajah dan melipat tangan di dada.
"Kenapa appa tidak bilang jika Byun seonsaeng sedang sakit?" protes si bungsu sementara Jaehun si sulung hanya diam memperhatikan adiknya yang masih merajuk
"Oke.. maafkan appa.. lain kali Appa akan memberitau kalian lebih dulu… jangan marah lagi ya…?" bujuk Sehun yang kini membagi konsentrasinya antara jalan dan rajukan sang putra
"Lalu sekarang kita mau kemana?" tanya Jaehan masih dengan aksi merengeknya
"Kita… akan ke suatu tempat, ingat seorang paman yang memberikan kalian tes minat dan bakat?" sehun bertanya dan dijawab anggukan oleh keduanya
"Kita akan menemuinya sekarang" ujar Sehun dengan nada ceria
"Kenapa kita harus bertemu dengan paman itu lagi?" kali ini Jaehun yang bertanya.
"Mmm… Appa dan eomma ingin lebih melihat potensi kalian, jadi kami bisa memilihkan pelajaran ekstra yang sesuai dengan potensi kalian" sahut Sehun dengan sedikit bumbu kebohongan untuk kebaikan
Si kembar tidak banyak protes lagi setelah itu, apalagi setelah Sehun berhasil meyakinkan mereka jika Luhan juga akan datang dan bertemu dengan mereka disana.
.
.
.
"Eommaa…." Jaehan langsung berlari kepelukan Luhan yang rupanya sudah menunggu mereka disana.
"Aaah anak eomma… bagaimana sekolahnya hari ini? Apa menyenangkan?" tanya Luhan setelah mencium kedua pipi Jaehan dan Jaehun yang ada digendongan sang ayah
"Tidak menyenangkan.." keluh Jaehan
"Wae?"
"Baek seonsaeng sakit… dia tidak masuk sekolah eomma" Jaehun menjawab pertanyaan Luhan dan itu membuat Luhan seketika menatap Sehun.
"Gejala tifus.." Sehun mengklarifikasi
"Apa dia dirawat di rumah sakit? Kau yakin dia baik – baik saja?" Luhan kembali bertanya
"Dia ada di rumah, dan Chanyeol merawatnya…"
"Chanyeol?"
"Ya… Chanyeol…"
"Bukankah rekan kerjamu itu paling anti ikut campur urusan orang lain, kenapa sekarang malah merawat Baekhyun?"
"Entahlah… aku akan tanya dia nanti, sekarang lebih baik kita masuk ke dalam dan bertemu dengan Psikolog Kim"
Luhan kemudian menggandeng Jaehan sementara Jaehun bertengger manis di gendongan sang ayah. Keluarga kecil itu langsung berjalan menuju ke elevator ruangan yang ditunjukkan oleh resepsionis klinik. Ruangan dimana seorang Kim Junmyeon melakukan konselingnya.
Dan tanpa keluarga kecil itu sadari, Yixing yang sedari tadi bersembunyi dibalik dekorasi klinik menatap lekat kearah mereka, dengan mata penuh air mata.
"Jadi anakmu kembar, Lu? Dan sudah sebesar itu? Dan kenapa kalian bisa bercerai?" gumam Yixing dalam tangisnya.
.
.
.
"Selamat Siang tuan Kim…"
"Hai… selamat siang… sudah siap untuk evaluasi hari ini?" Junmyeon menyapa mereka dari meja kerjanya sementara Jaehun dan Jaehan menatap aneh pada Junmyeon
"Untuk saat ini mari kita biarkan Jaehun dan Jaehan bermain di tempat yang sudah kami sediakan sambil berinteraksi dengan para instruktur kami, dan nanti biar anak buahku yang mengamati mereka" ujar Junmyeon dan disambut anggukan oleh Sehun dan Luhan
"Aku akan mengganti seragam HunHan dulu, mereka akan risih jika tidak mengganti seragam" kata Luhan lalu mengajak HunHan ke ruang ganti.
"Sambil menunggu, bisa kita mengobrol sebentar… Oh Sehun-ssi?"
"Ya… bisa"
Junmyeon mempersilahkan Sehun duduk di hadapannya dan senyum teduhnya kembali menghiasi wajah tampan itu.
"Sudah berapa lama kau bercerai dengan Luhan?" Junmyeon nampaknya tidak berbasa – basi
"Mmm… Sudah hampir 6 tahun…"
"Kalau boleh tau, kenapa kalian bisa bercerai?"
Sehun terdiam sebentar tapi akhirnya dia memilih untuk jujur, toh juga ini semua demi HunHan dan untuk apa berbohong.
"Aku juga tidak mengerti kenapa kami bisa bercerai, itu semua berawal dari kesalah pahaman dan tekanan yang menekan kami berdua saat itu. Jujur saja… kami menikah di usia yang sangat muda.. married by accident… jadi, selain tekanan yang bertubi factor usia yang masih sangat labil pada saat itu juga membuat kami bertindak gegabah"
Sehun menjelaskan apa yang dia rasa perlu jelaskan, didepannya Junmyeon masih setia mendengarkan.
"Apa kalian tidak mencoba untuk mecari penengah? Misalnya… orang tua?" Junmyeon mulai memancing Sehun dan nampaknya Sehun sedikit tidak nyaman dengan topic itu
"Tidak… tidak ada orang tua diantara kami… Kami berdua…"
"Diusir dari rumah karena kejadian ini?"
Sehun mengerutkan keningnya dan tak lama kemudian dia bertanya, "darimana anda tau?"
"Aku adalah suami dari kakak iparmu… Lu Yixing… kakak kedua Luhan…"
Sehun membulatkan kedua matanya dan bibirnya langsung menganga. Demikian juga dengan Luhan yang baru saja keluar dari ruang ganti, wanita itu mendengar pengakuan Junmyeon.
"Maaf… aku… tidak tau.."
"aku juga awalnya tidak tau… tapi istriku mengenali anak – anak kalian. Terutama Jaehun yang sangat mirip ibunya."
Suasana hening, Luhan yang tidak mau ini semua mengarah pada hal keluarga akhirnya menerobos masuk.
"Jaehun dan Jaehan sudah siap… apa bisa dimulai sekarang? Sore ini Jaehun harus cek up ke dokter" ujar Luhan lagi
"Baik lah…"
.
Tiga jam berlalu dengan serangkaian bentuk tes dan terapi yang terlihat lebih banyak seperti bermain dan ngobrol antara Jaehun dan Jaehan. Dan saat ini tepat dimana Sehun dan Luhan menanti hasil evaluasi menyeluruh tentang kondisi HunHan dan yang junmyeon katakan adalah,
"Mereka butuh obat"
Sehun dan Luhan saling pandang. Apa lagi ini, kenapa anak mereka butuh obat?
"Dan obat yang paling mereka butuhkan adalah kalian berdua… jika boleh aku menyarankan… aku mohon kalian berdua untuk kembali bersama… dan… itu jika kalian tidak keberatan dan tidak memiliki agenda lain… tapi meskipun kalian punya, kalian harus ingat… ini demi Jaehun dan Jaehan. Semua tentang mereka masih bisa diperbaiki jika kalian berdua mau dan bisa kembali bersama. Membangun kehidupan keluarga yang lebih segar dan sehat. Hanya itu jalan satu – satunya untuk menyelamatkan mereka."
Sehun dan Luhan masih tidak bergeming, itu membuat Junmyeon menarik dan menghembuskan napasnya yang berat
"Singkirkan egoism kalian berdua… ini semua demi masa depan kedua putra kalian. Mereka cerdas, berbakat dan cemerlang. Sayang sekali jika karakter itu harus dirusak dengan keadaan yang tidak mendukung. Belum terlambat untuk kalian kembali dan membangun keluarga yang lebih baik. Dan jika aku boleh sarankan… kalian harus tetap bersatu dan membuktikan kepada kedua orang tua kalian jika kalian… benar – benar serius dengan apa yang kalian pilih. Semua ada di tangan kalian berdua, Oh Sehun… dan kau.. Luhan.."
.
.
.
Sehun dan Luhan tak banyak bicara setelah mereka keluar dari tempat praktek kerja Junmyeon. Barusan Junmyeon juga sempat mengatakan bahwa keluarga besar Lu sebenarnya selama ini sangat menyesal telah memperlakukan Luhan seburuk itu. Hanya demi sebuah nama baik dan harkat martabat, mereka tega membuang darah daging mereka sendiri.
"Kau… kembali lah ke rumah, Baekhyun membutuhkanmu" Luhan membuka pembicaraan ketika mereka tiba di parkiran basement
"Tidak… aku mau ikut kau ke rumah sakit, hari ini jadwal Jaehun cek up" kilah Sehun
"Jaehun akan cek up bersama Yifan… apa kau akan baik – baik saja jika kau bertemu dengan Yifan?" Luhan ingin memastikan keyakinan Sehun sambil membukakan pintu untuk Jaehan.
"Harusnya kau tanya Yifan, apa dia akan baik – baik saja jika bertemu denganku?" ketus Sehun yang masih tak mau melepaskan Jaehun dari gendongannya.
"Jangan… jangan bertemu Yifan sekarang. Aku mau lebih fokus pada kesehatan Jaehun, karena jika kalian berdua bertemu aku tidak yakin kalian akan baik – baik saja" Luhan kembali mengacungkan tangannya untuk meraih Jaehun dari gendongan Sehun.
"Baiklah… hubungi aku jika sesuatu terjadi dan… segeralah pulang ke rumah… ada HunHan bersama kalian, aku tidak mau mereka terganggu karena ulah kalian berdua"
"Ya aku tau… kau tidak perlu secemburu itu Sehun-ah… bukankah kau sudah tau perasaanku yang sesungguhnya?"
Sehun tersenyum mendengar perkataan Luhan kemudian pria itu memeluk sang mantan istri selama beberapa saat sebelum akhirnya mereka berpisah. Sehun memilih kembali ke pekerjaannya karena masih ada beberapa bangunan yang perlu dia tinjau hari ini, mengingat pekerjaan Chanyeol diambil alih olehnya.
.
.
.
Luhan menggandeng kedua putranya menyusuri lorong rumah sakit dimana ruangan Yifan berada. Seperti biasa, sekali dalam sebulan Jaehun akan dibawa Cek up disana.
"Hai… HunHan sayang… Jaehun mau cek up ya?"
Seorang wanita cantik bertubuh bak model top papan atas menghampiri mereka dari ruangan yang tepat berhadapan dengan ruangan Yifan
"Hai Dokter Huang… apa kabar?" sapa Jaehun dengan senyum riang dan diikuti oleh senyum lemah Jaehan yang nampak mengantuk.
"Kabarku baik, kalian mau cek up?" tanya Dokter cantik itu
"Mmm… ini jadwal Jaehun.." Luhan lah yang menjawab kali ini.
"Ah… sayang sekali bagian kardiologi sedang ada rapat mendadak… mungkin Yifan tidak sempat memberitaumu karena barusan keadaannya kacau sekali" Dokter cantik dan sexy itu menggambarkan situasi kacau itu dengan mimic wajahnya dan itu berhasil membuat Jaehan tertawa
"Apa rapatnya masih lama? Aku tidak ada hari lain lagi selain hari ini… Seoul Winter Fashion Week tinggal beberapa hari lagi"
"Aku tidak tau seberapa lama rapatnya, tapi bagaimana jika kalian menunggu di ruanganku? Kebetulan aku sedang tidak begitu sibuk"
"Bolehkah?"
"Tentu saja boleh… aku sangat merindukan waktu bermain bersama HunHan" ujar dokter bermarga Huang itu
Luhan dan kedua putranya masuk ke dalam ruang kerja Dokter bernama lengkap Huang Zitao itu. Ruang kerja yang didominasi dengan pernak – pernik berbau anak – anak. Zitao adalah seorang dokter anak, kebetulan dia juga menangani HunHan dulu.
HunHan tampak agak lelah setelah kegiatan mereke beberapa jam yang lalu dan kedua bocah tampan itu akhirnya terlelap di sebuah tempat tidur pasien yang ada di ruangan Zitao.
"Selama beberapa bulan ini Jaehun sudah jarang colaps ya… itu bagus, berarti anak itu banyak kemajuan… kapan rencananya Yifan akan memasang Pacemaker di jantung Jaehun?" Zitao bertanya setelah meletakkan sebotol jus jeruk di hadapan Luhan
"Yifan tidak akan memasngkannya sampai Jaehun berumur 15 tahun"
"WHAT?"
Zitao memelototkan matanya dan dia benar – benar menatap Luhan tidak habis pikir.
"Luhan… tapi pacemaker bisa dipasang pada anak usia 3 tahun sekalipun. Tidak perlu menunggu sampai Jaehun berusia 15 tahun" Zitao menentang pernyataan Luhan
"Tapi Yifan bilang, keadaan jantung Jaehun masih tidak stabil"
"Justru itu Jaehun butuh alat itu segera. Tidak bisa ditawar lagi, aku takut jantung Jaehun malah menjadi lemah dan detakannya tidak teratur, jika begitu kapan saja Jaehun bisa kembali colaps"
Luhan terdiam, wanita itu seperti baru saja ditampar dengan kata – kata Zitao. Benarkah apa yang gadis itu katakan? Kenapa Yifan menunda pemasangan alat pemacu dan pengatur detak jantung itu untuk putranya?
"Sebentar, kau tunggu disini. Aku akan mengambil satu contoh rekam medis pasien dengan kelainan jantung seperti Jaehun. Akan ku tunjukkan padamu, anak itu adalah pasien dokter Park Minseok yang baru dioprasi minggu lalau. Sebentar…"
Dokter berwajah cantik itu langsung meninggalkan ruangannya untuk mencari data yang dimaksud. Sepeninggalan Zitao, Luhan malah tenggelam pada pikirannya sendiri. Kenapa Yifan melakukan ini pada anaknya?
DUGH
Luhan menendang sesuatu dibawah kolong meja Zitao dan sesuatu yang Luhan tedang itu seperti sebuah tumpukan kerjas yang jatuh tercecer karena tendangan Luhan. Luhan segera berniat untuk merapikan tumpukan kertas berukuran tebal yang dia kacaukan itu, namun gerakan tangannya berhenti ketika dia sadar tumpukan kertas itu bukanlah tumpukan kertas biasa.
Itu adalah sebuah kartu undangan pernikahan. Undangan pernikahan antara Dokter Huang Zitao dan Dokter… Wu Yifan.
Luhan membelalakkan matanya lalu dengan cepat membuka satu undangan pernikahan itu dan melihat tanggal pernikahan yang direncanakan undangan itu. Luhan semakin mengertukan kening ketika undangan itu menunjukkan waktu yang sudah jauh terlewat. Hampir 6 tahun yang lalu.
"Luhan… ini data pasien berusia 6 tahun yang dioprasi oleh dokter Park Minseok."
"Zitao-ah… apa ini?"
Zitao mengangkat wajahnya dari sebuah rekam medic yang ada ditangannya dan seketika berubah kaget ketika dia sadar kartu undangan pernikahannya yang gagal ada di tangan Luhan.
"Lu… Luhan itu…"
"Kau akan menikah dengan Yifan… beberapa tahun lalu.."
"Luhan maaf, itu… itu undangan yang sudah lama… undangan lama yang tidak sempat aku bagikan karena…"
"Karena?"
"Karena… pernikahan itu dibatalkan"
Sejenak hening dan kedua wanita cantik itu saling tatap dalam hening.
"Kenapa dibatalkan? Bisa kau jelaskan padaku?" pinta Luhan
Zitao berjalan kearah meja kerjanya dan duduk sambil melihat undangan lainnya. Luhan juga duduk kembali di depan Zitao dan menunggu dokter muda cantik itu menjelaskan semua padanya.
"Dulu aku dan Yifan ge dijodohkan. Keluarga kami ingin kami menikah… awalnya Yifan ge setuju dan rencana itu berjalan mulus sampai suatu hari Jaehun mendadak colaps dan kami menangani kasus Jaehun waktu itu."
Zitao menggantung kalimatnya dan membuat Luhan makin penasaran.
"Maaf… aku tidak bisa menceritakan ini semua secara detail kepadamu Luhan. Karena jika aku menceritakannya aku akan merasa sangat jahat. Aku merasa seperti wanita yang marah karena calon suamiku direbut olehmu… tapi… faktanya memang begitu. Yifan ge membatalkan pernikahan kami karena… kau… akhirnya bercerai dengan Sehun"
"Akhirnya?"
Luhan bertanya dengan sedikit membentak, antara marah dan tidak terima dengan ceirta Zitao. Zitao sendiri seperti orang yang sudah terpojok, namun demi Tuhan, dia tidak mau lagi lebih lama menyimpan kejahatan yang selama ini Yifan lakukan untuk memisahkan Sehun dan Luhan.
Zitao mulai mencertiakan semuanya dari awal. Detil bagaimana Yifan mulai memfitnah Sehun dengan mengatakan bahwa dia melihat Sehun bersama seorang perempuan di sebuah café dan mereka berkencan ketika Jaehun tengah sekarat. Padahal sesungguhnya Sehun hanya sedang membuat sebuah project yang dosennya berikan, dan kebetulan teman satu kelompoknya adalah seorang perempuan.
"Yifan selalu memfitnah Sehun di hadapanmu, dan ketika Sehun pergi tanpa memberikabar pemberitahuan padamu saat Jaehun masih di ruang ICU hampir 6 tahun yang lalu itu karena Yifan mengambil ponsel Sehun. Ponsel Sehun benar – benar hilang karena Yifan yang mengambilnya. Begitu pula dengan kejadian beberapa bulan lalu saat Jaehun kembali colaps, Sehun kehilangan ponselnya karena Yifan lah yang mengambilnya. Yifan sudah melakukan itu dua kali"
Zitao menjeda kalimatnya kemudian kembali melanjutkan setelah dia merasa Luhan siap untuk mendengarnya
"Yifan juga yang menghasut Sehun untuk melayangkan surat perceraiannya padamu. Dan kau yang sangat marah waktu itu membuat Sehun kesal karena terus dipersalahkan. Yifan sengaja membuatmu terus bertengkar dengan Sehun. Karena kau terlalu percaya pada Yifan, kau sampai tidak percaya pada suamimu sendiri saat itu. Dan… sejak itu lah Sehun tidak menyukai Yifan. Sehun tidak menyukai Yifan karena dia lah yang menghasutnya untuk menceraikanmu tetapi malah menjadi kekasihmu setelah kalian bercerai. Sehun mungkin tidak bisa bilang apa – apa padamu, karena kau selalu dibutakan oleh kebaikan Yifan padamu dan kepercayaanmu pada Yifan. Yifan… sebenarnya tidak sebaik yang kau lihat. Dia bersikap baik padamu karena dia ingin memilikimu. Kau boleh menganggapku mengada – ada… tapi inilah kenyataannya. Hubuganmu dan Sehun berantakan karena ulah Yifan… Yifanlah yang telah menghancurkan rumah tangga kalian. Dan jika kau mau buktinya. Aku yakin Yifan masih menyimpan ponsel Sehun yang sengaja dia sembunyikan untuk membuatmu marah pada Sehun."
Zitao membenarkan posisi duduknya lalu memperlihatkan rekam medis seorang pasien anak - anak yang tadi dia ambil.
"Anak ini berusia lebih muda dari Jaehun, tapi dia sudah bisa dipasangkan pacemaker. Aku tidak mau berspekulasi atau menuduh Yifan. Tapi… aku takut jika apa yang dia lakukan pada Jaehun saat ini sama dengan apa yang dia lakukan pada Sehun dulu. Untuk medapatkanmu, dia sudah merusak kepercayaan dan cintamu pada Sehun. Bukan tidak mungkin dia juga akan merusak Jaehun yang sangat bergantung di tangannya"
.
.
.
.
To be continue
.
.
.
Chapter 6: Lies
"I'm so sorry… but I love you"
.
.
.
.
.
.
Annyeonghaseyo! Yo! Yo! Yo!
Maaf kalo TBCnya gak enak lagi. Tapi… gue bener – bener harus bagi Chap 5 jadi dua deh kayaknya. Bahahahaha…. Gimana Chapter ini? Agak gak asik sih ya? Ya karena aku potong gitu aja.
Sumpah aku lumayan sibuk banget semenjak masuk bulan desember ini. Ada aja kegiatan yang gak aku jadwalin tiba – tiba ada aja jadwalnya. Hmmm… yang harusnya aku bisa liur tenang dan update FF malah jadi gini. Mau kesel tapi ya gimana, ini kerjaan gabisa di tolak.T_T
Jadi intinya sih di Chapter init uh ngungkapin bagaimana HunHan sangat membutuhkan Hunhan untuk bersatu lagi. Sehun juga butuh Luhan, begitu pula dengan Luhan yang butuh Sehun. Dan… Baekhyuun yang butuh Chanyeol eaaah…. So guys... mohon reviewnya ya…
.
Terimakasih buat yang udah follow, favorite dan review cerita ini. Dan gue masih berharap semoga chapter ini gak mengecewakan kalian.
.
sincerely
-xiugarbaby-
