HUNHAN FOREVER! HUNHAN FOR LIFE!
.
HUNHAN GIVE AWAY CHALLENGE!
.
.
xiugarbaby (formerly Aruna Wu)
presents
.
"E.N.D"
.
HunHan
.
GS – Rated M – Family Life – Hurt/Comfort – Drama – Angst
.
.
.
.
Happy Reading! ^^
.
.
.
"Anak ini berusia lebih muda dari Jaehun, tapi dia sudah bisa dipasangkan pacemaker. Aku tidak mau berspekulasi atau menuduh Yifan. Tapi… aku takut jika apa yang dia lakukan pada Jaehun saat ini sama dengan apa yang dia lakukan pada Sehun dulu. Untuk medapatkanmu, dia sudah merusak kepercayaan dan cintamu pada Sehun. Bukan tidak mungkin dia juga akan merusak Jaehun yang sangat bergantung di tangannya"
Zitao menatap Luhan lekat – lekat, gadis cantik dengan hidung mancung dan bibir tipis itu nampak serius dengan semua perkataannya.
"Apakah… semua kesalah pahaman yang terjadi antara aku dan Sehun juga adalah perbuatannya?"
Zitao masih terus menatap Luhan dengan tatapan canggung, namun gadis itu kemudian menjawab "Mungkin saja."
"Aku sering melihat Yifan mensabotase ponselmu. Tidak hanya mengambil ponsel Sehun secara diam – diam, Yifan juga sering menghapus pesan dari Sehun yang masuk ke ponselmu, mereject semua telepon yang masuk dari Sehun atau membalas pesan Sehun dengan seenaknya saja, Yifan sering membalas pesan Sehun dengan kata – kata makian dan setelah itu Sehun pasti tidak pernah muncul lagi di hadapanmu. Dan dengan begitu kau pikir Sehun tidak pernah mau bertanggung jawab, dengan begitu kau tidak akan mempercayai Sehun karena memang itu tujuan Yifan. Dia ingin membuat hubunganmu dan Sehun semakin jauh."
Tenggorokan Luhan tercekat dan bibirnya terkatup sempurna. Wanita cantik itu sama sekali tak bisa berkata apapun. Kepalanya masih terus mencocokkan setiap kata yang Zitao ucapkan dan semua kejadian yang dia dan Sehun alami selama ini.
Dan benar saja, banyak hal aneh dan janggal yang memang terjadi. Semua pertegkarannya dengan Sehun selalu diawali dengan kesalah pahaman dan miss komunikasi. Sehun memang terkesan selalu datang dan pergi ke dalam kehidupannya dan itu semua karena pertengkaran yang selalu terjadi setiap mereka bertemu. Bukankah hubungan keduanya baru membaik sejak Sehun pindah ke rumah sebelah?
Ya, sejak Sehun pindah ke rumah sebelah hubungan keduanya memang membaik. Meskipun ada pertengkaran – pertengkaran kecil namun itu semua nampak tak berarti karena Sehun pasti akan datang ke rumah Luhan lagi setiap hari untuk bertemu HunHan. Selain itu juga, dengan pindahnya Sehun ke rumah sebelah mau tidak mau membuat Sehun dan Luhan lebih sering bertemu dan Luhan juga bisa mengenal bagaimana Sehun yang baru. Sehun yang lebih dewasa dan bisa dipercaya.
Luhan ingin sekali menolak untuk percaya, namun apa yang dokter Huang katakana tadi semuanya cukup jelas dan masuk akal. Yang selama ini tidak masuk akal adalah semua pertengkarannya dengan Sehun.
"Maafkan aku Luhan…. Aku tidak bermaksud untuk mengacaukan hubunganmu dengan Yifan ge. Aku berkata seperti ini karena aku tidak matamu terus tertutup dan kau akan terus tertipu. Aku mengatakan ini bukan karena aku marah padamu karena gara – gara kau pernikahanku jadi dibatalkan, bukan. Aku mengatakan ini semua demi HunHan. Aku adalah dokter anak yang menangani mereka, sedikit banyak aku mengerti apa yang mereka rasakan. Terutama Jaehan."
Luhan mengangkat wajahnya ketika nama Jaehan disebutkan. Bisanya orang – orang akan menaruh simpati yang lebih besar terhadap Jaehun, namun kenapa dokter Huang lebih simpati kepada Jaehan?
"Setiap Jaehun jatuh sakit, dia pasti ikut sakit. Anak itu punya beban psikis yang jauh lebih berat daripada kembarannya. Memang benar, fisik Jaehun memang lemah dan itu membuat tidak banyak orang yang mampu melihat seberapa tertekannya Jaehan. Dia selau berhadapan dengan banyak sekali pilihan sulit. Di satu sisi dia juga ingin diperhatikan oleh kedua orang tuanya, namun disisi lain dia tidak bisa membantah bahwa keadaan Jaehun membuat kembarannya itu harus lebih diberikan perhatian. Jaehan sering marah dan ketakutan disaat yang bersamaan dan itu juga yang menyebabkan dia ikut sakit disaat Jaehun sakit."
Luhan memandang kearah kedua putranya yang sedang tertidur. Kedua mata rusanya menatap Jaehan yang tidur lelap disisi luar ranjang. Air mata perempuan itu jatuh, dalam hatinya dia tidak terima dipermainkan seperti itu. Dan Luhan pun mengutuk dirinya sendiri karena telah mempercayai Yifan bahkan lebih banyak dari dia mempercayai Sehun.
"Apa kau punya bukti lain?" Luhan bertanya dengan menyembunyikan kedua tangannya yang bergetar.
"Bukti untuk apa?" Zitao balik bertanya, gadis itu masih menatap Luhan dengan tatapan tidak enak
"Bukti jika Yifan benar – benar merekayasa kesehatan Jaehun" Luhan menuntut Zitao kali ini, wanita itu bisa saja meledak kapanpun.
"Penundaan pemasangan alat pacu jantung adalah bukti kuat, terlebih karena ada pasien yang sudah lebih dulu dipasangkan alat di jantungnya dengan kondisi jantung yang lebih muda dan dengan kelainan yang sama dengan Jaehun."
Zitao menjeda kalimatnya dan kembali melihat rekam medis pasien dokter Park Minseok dan rekam medis Jaehun yang dia punya, setelah beberapa saat yakin, dokter berhidung mancung itu kembali berkata.
"Kelainan jantung yang Jaehun derita sebenarnya tidak separah apa yang Yifan katakan padamu, kelainan jantung yang Jaehun derita memang menyerang nyawa Jaehun tapi itu semua ada jalan keluarnya. Hanya saja…. Yifan sepertinya menunda itu semua. Apa kau pernah bertanya kenapa jantung Jaehun tidak juga di operasi?"
Luhan mengangguk, "Aku sering menanyakannya dan Yifan hanya menjawab jika Jaehun belum siap… Jantung Jaehun belum siap untuk operasi pemasangan alat dan menambalan kebocorannya"
"Dan kau percaya itu?"
Kalimat terakhir Zitao seperti sebuah kutukan bagi Luhan dan kalimat itu seperti sebuah vonis atas satu kesalahan besarnya, percaya pada Yifan.
"Okay… aku memang terkesan menjelek – jelekkan Yifan di hadapanmu saat ini. Tapi aku sudah sangat mengenal Yifan dan segala ambisinya. Jadi aku bisa menyimpulkan jika Yifan memang sengaja menunda itu semua sampai dia mendapatkanmu seutuhnya. Yifan seperti sengaja menjadikan Jaehun sebagai tawanannya karena Jaehun lah kunci agar kau tidak pergi darinya. Yifan tau kau sangat percaya padanya, terutama untuk masalah kesehatan Jaehun. Dan dia memanfaatkan kepercayaanmu itu."
Zitao menghela napas panjangnya, gadis itu merasa amat sangat berdosa atas apa yang dia lakukan kali ini. Sebenarnya semua perkataannya sangat membahayakan, tapi buat apa dia menyembunyikan semua kejahatan yang Yifan lakukan?
Jika yang Yifan lakukan hanyalah memanipulasi percakapan mereka, memfitnah atau bahkan mengarang cerita untuk memisahkan Sehun dan Luhan, Zitao masih bisa menutup mata. Namun kali ini Zitao merasa perlu untuk menyadarkan Luhan, karena Yifan sudah mulai melangkah terlalu jauh. Jaehun tidak boleh menjadi korban keserakahan dan ambisi Yifan.
.
.
.
E.N.D
[Ex-Husband Next Door]
.
.
Chapter 6: Lies
"I'm so sorry… but I love you"
.
.
.
Sehun berjalan di sebuah pusat perbelanjaan dengan satu cup Americano di tangan kiri dan beberapa kantong belanjaan di tangan kanan. Sehun berniat memberikan sesuatu untuk kedua buah hatinya, mungkin mainan atau sebuah tenda yang bisa mereka gunakan untuk berkemah di halaman belakang. Itu rasanya seru sekali.
Langkah Sehun terhenti begitu melintasi sebuah boneka jerapah yang terpajang di luar sebuah toko boneka. Jujur saja boneka itu mengingatkannya pada sosok seorang Park Chanyeol. Dan aaah… Sehun baru ingat jika sahabat jangkungnya itu masih tinggal di rumahnya untuk menjaga Baekhyun. Apa kabar Baekhyun dan pria itu?
Karena penasaran, Sehun akhirnya mengeluarkan ponsel miliknya dan menelpon Chanyeol.
"Hei… apa kalian sudah makan siang?"
"Sudah… ada apa?"
Chanyeol masih terdengar ketus padanya. Sehun sendiri semakin mengerutkan kening, kenapa Chanyeol bisa semarah itu padanya, memangnya apa yang telah Sehun lakukan? Baekhyun yang sakit dan ditinggal oleh Sehun saja masih bisa bersikap biasa. Kenapa malah Chanyeol yang marah?
"Bagaimana keadaan Baekhyun?"
"Dia sedang tidur, baru saja minum obat dia langsung tidur. Panasnya sudah turun, dan dia sudah tidak perlu menggunakan infusnya."
"Chanyeol-ah…"
"Apa?"
"Terimakasih kau mau menjaga Baekhyun"
Terdengar hening sejenak namun ketika Sehun baru akan melanjutkan pembicaraan, Chanyeol lebih dulu berkata
"Kapan kau punya waktu? Aku igin membicarakan satu hal yang serius padamu"
Kening Sehun megerut, pria tampan itu tak mengerti kenapa Chanyeol tiba – tiba mengajaknya bicara. Tapi jangan salahkan Sehun yang tidak peka, mereka berdua memang jarang sekali membicarakan masalah pribadi. Jadilah Sehun berpikir jika apa yang Chanyeol ingin bicarakan dengannya adalah masalah pekerjaan.
"Aku? Mmm… mungkin setelah minggu ini, aku punya banyak waktu untuk bicara denganmu"
"Baiklah, beri tau aku jika kau punya waktu"
"Mmm..."
"Jam berapa kau akan pulang?"
"Sebentar lagi, semua proyek sudah aku tinjau dengan baik. Aku juga sudah buat kan laporan ringkasnya untukmu"
"Kalau bisa cepatlah pulang, aku harus segera ke rumah sakit. Noonaku juga membutuhkanku"
"Okay… sekali lagi terima kasih Park Chanyeol"
"It's Okay, bro"
Setelah sambungan telepon terputus, Sehun langsung tersenyum memandangi boneka jerapah dihadapannya lagi. Tentu saja, Park Chanyeol adalah orang yang sangat baik. Sama baiknya dengan Byun Baekhyun.
"Seandainya jika mereka berdua saling mencintai dan menikah, lalu mereka berdua punya anak… anak mereka pasti berhati malaikat… tapi mungkin kakinya pendek seperti Baekhyun… kekekeke…" Sehun bergumam sendiri dan sedikit terkekeh namun sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya lalu menepis semua pemikiranya.
"Aigo… mana mungkin itu terjadi. Baekhyun dan Chanyeol adalah tipe manusia yang susah jatuh cinta… mmm sayang sekali…"
Sehun mempoutkan bibir tipisnya lalu kembali berjalan. Kepala encernya masih sibuk berpikir, memikirkan jalan keluar untuk urusan asmara dan keluarganya. Pria itu memang sudah memutuskan untuk kembali rujuk dengan Luhan, apapun keadaan yang dia harus tempuh jika itu demi mendapatkan keluarganya kembali utuh, maka Sehun akan menghadapinya.
Sehun mulai berpikir dari bagaimana jika dia bicara baik – baik pada Yifan, meminta agar mereka mau untuk berpisah. Tentu saja alasannya demi HunHan dan masa depan kedua malaikat kecil itu. Meskipun Sehun tau itu tidak mudah, tapi jika dia dan Luhan memang ingin kembali bersatu, Yifan bisa apa?
Lalu Sehun juga berpikir untuk bicara bersama Baekhyun dan juga kakek Baekhyun bahwa dia tidak bisa menikah dengan Baekhyun. Sudah ada jalan keluar yang Sehun pikirkan. Sehun akan tetap menjaga Baekhyun layaknya saudara sendiri, Sehun janji dia tidak akan membiarkan Baekhyun celaka atau merasa sendirian di dunia ini. Dia dan Luhan akan bersama – sama menjaga Baekhyun. Sesaat Sehun juga sempat berpikir, seandainya dia bisa menemukan pria baik yang bisa dia percaya untuk mendampingi Baekhyun. Tapi siapa?
Nama Park Chanyeol sempat terlintas namun pikiran itu ditepisnya lagi. Alasannya karena Chanyeol bukanlah orang yang menyukai suatu hubungan berkomitmen. Chanyeol juga susah jatuh cinta pada orang lain. Bagaimana bisa dia menjodohkan Baekhyunnya dengan pria yang mencintai kebebasan seperti Park Chanyeol.
Dan akhirnya Sehun memutuskan untuk memikirkan itu nanti, yang jelas dia sudah bertekat untuk mengangkt Baekhyun sebagai adiknya. Bila perlu dia pun akan mengubah marga Byun menjadi Oh untuk Baekhyun.
PUK
Seseorang menepuk bahu Sehun ketika Sehun baru akan masuk ke dalam sebuah elevator. Sehun segera membalikkan tubuhnya dan seketika itu membuat kedua mata sipit Sehun terbelalak dan cup Americano yang Sehun pegang di tangan kirinya pun ikut terjatuh.
"Oh Sehun!"
Seorang wanta paruh baya dengan wajah lembut dan postur tubuh cukup tinggi memanggil Sehun. Keningnya yang sudah berkerut dan wajah lelahnya mirip dengan milik Oh Sehun, dan saat ini mata wanita paruh baya itu sudah melelehkan air matanya. Demikian pula dengan Sehun, tangannya terasa dingin dan medadak seperti dunia tiba – tiba kosong. Seseorang di hadapannya, adalah seseorang yang sangat dia rindukan.
"Sehun-ah… Oh Sehun… anakku… Oh Sehun…"
GREB
Wanita itu langsung memeluk Sehun seerat yang dia bisa, seakan – akan Sehun bisa saja tiba – tiba hilang berteleportasi entah kemana jika dia tidak memeluknya. Sehun sendiri masih kaku dan beku, bagaimana bisa dia bertemu dengan sosok wanita yang sangat dia rindukan itu? Aaah… Sehun baru ingat, jika pusat perbelanjaan yang sedang dia kunjungi ini adalah milik keluarganya sendiri, keluarga Oh. Bagaimana Sehun bisa lupa jika pimpinan tertinggi di pusat perbelanjaan itu adalah ayahnya sendiri?
"Eo…Eomma…"
Bibir Sehun pun bergetar saat memanggil sang ibu. Ya, wanita yang kini memeluk erat Oh Sehun adalah ibu kandungnya sendiri.
"Anakku… eomma sangat merindukanmu… Uri Sehunie… eomma mohon, pulang lah nak… ajak istri dan anakmu pulang…"
Wanita paruh baya itu masih terus memeluk sang putra, namun Sehun hanya mampu diam. Bagaimana bisa dia kembali ke keluarga Oh setelah apa yang dia lakukan? Ayahnya sendiri bahkan tidak sudi punya anak seperti dia.
Sehun mengusap bahu sang ibu yang bergetar, sebagai seorang anak, Sehun tentu tau bagaimana ibunya.
"Eomma mianhaeyo" ucap Sehun yang kini mulai menitikkan air matanya.
Perasaan Sehun kembali bercampur aduk. Sehun merasakan kerinduan yang sangat dalam pada sang ibu yang sudah hampir 8 tahun tak ia temui, namun diantara kerinduan itu juga terselip rasa bersalah dan penyesalan yang amat dalam. Sehun masih ingat bagaimana wajah kecewa kedua orang tuanya ketika dia membawa Luhan ke rumah dan bilang bahwa gadis itu tengah hamil dan mengandung anaknya. Sehun masih ingat bagaimana telapak tangan lebar sang ayah menampar keras pipinya dan mengusirnya dari rumha. Sehun juga masih sangat ingat bagaimana sang ibu menangis dan memohon sang ayah untuk tidak mengusir Sehun, namun apa daya yang wanita itu bisa perbuat. Nyonya Oh adalah istri yang patuh dan tidak bisa menentang kekeras kepalaan sang suami. Dan Sehun pun masih ingat saat dia datang kerumah tepat sehari setelah HunHan lahir, rumahnya kosong dan bibi penjaga rumah bilang jika kedua orang tuanya saat itu sudah pindah ke Jepang. Meninggalkannya.
Sehun mengendurkan pelukan ibuna ketika mata sipitnya menangkap sosok pria paruh baya bertubuh jangkung yang dibalut jas kerja sangat berwibawa. Itu adalah Tuan Oh. Sehun baru akan berlari namun sang ibu tetap tidak mau melepaskan tangan Sehun.
"Jangan pergi nak… eomma tidak mau kau tinggalkan… jangan pergi eomma mohon"
"Tidak eomma… aku tidak mau merusak semuanya lagi, aku tidak bisa ada disni… Bukankah appa bilang jika aku bukan lagi putra kalian?"
"Kalau begitu eomma ikut pergi denganmu! Yang bilang seperti itu kan Appamu! Bukan eomma!"
Nyonya Oh masih terus memegang erat tangan Sehun, memohon kepada putranya itu untuk tetap tinggal atau jika tidak bisa dia ingin ikut bersama Sehun. Ibu mana yang bisa hidup tanpa anaknya?
Pintu elevator di belakang Sehun kembali terbuka, Sehun baru saja akan masuk ke dalamnya namun langkah kakinya terhenti. Sehun kembali dikejutkan oleh sesosok pemuda tampan yang muncul dari dalam elevator.
"Hyung!"
Pemuda yang ada di dalam elevator itu juga tak kalah kaget dengan Sehun. Pemuda bertubuh jangkung itu juga segera maju dan menghampiri Sehun.
"Hyung… Kau disini… Eomma… Bagaimana eomma bisa bertemu dengan Hyung?"
"Junhong-ah… jangan biarkan Hyungmu pergi… eomma mohon jaga dia jangan sampai dia pergi"
Pemuda tinggi yang tidak lain adalah adik kandung Oh Sehun itu langsung memegang tubuh Sehun. Seingat Sehun, adik kandungnya itu dulu jauh lebih pendek dan kurus darinya. Namun sekarang, waktu telah mengubah sang adik yang empat tahun lebih muda darinya itu menjadi pria dewasa yang tampan.
"Junhong-ah… lepaskan aku, aku tidak mau Tuan Oh sampai melihatku…"
"SIAPA YANG HYUNG PANGGIL TUAN OH?!"
Junhong memotong kalimat Sehun dan membentak kakaknya sendiri. Sehun yang kaget dibentak oleh sang adik hanya bisa terdiam. Apalagi sang ayah dan rombongan rekan bisnisnya sudah mendekat ke titik dimana Sehun, Junhong dan Nyonya Oh berdiri.
"Dia ayah kita Hyung! Kami keluargamu!"
"Jika kau belum siap bertemu dengan ayahmu… setidaknya jangan abaikan eomma dan Junhong… kami sangat merindukanmu, Sehun-ah"
Kalimat lembut sang ibu nampaknya berhasil membujuk Sehun dan meredakan rasa ketakutannya untuk bertemu dengan sang Ayah. Sehun pun akhirnya mengalah dan masuk ke dalam elevator bersama Junhong dan sang Eomma.
.
Dan disinilah Sehun berada, disebuah private restaurant bernuansa jepang yang masih terletak di gedung pusat perbelanjaan milik keluarga Oh. Sehun masih ingat betul dia pernah merayakan ulang tahunnya entah yang ke 15 atau 16 di restoran yang sama bersama keluarganya. Namun kini rasanya agak canggung ketika dia bertemu lagi dengan sang ibu dan juga adik yang demi Tuhan sangat dia rindukan.
Kejadian 8 tahun silam memang membekas seperti luka yang tak pernah kering bagi Sehun. Saat itu usia Sehun 17 tahun dan dia adalah putra sulung kebanggaan keluarga Oh yang terpandang. Sehun tidak menyalahkan keputusan yang ayahnya ambil saat itu. Ayah mana yang tidak malu ketika putra sulung yang selalu dia bangga – banggakan tiba – tiba membawa seorang gadis datang ke rumah di tengah malam dan bilang kalau gadis itu tengah mengandung darah daging dari putra kebanggaannya? Wajar jika Tuan Oh marah besar saat itu, terlebih karena semua mimpi dan cita – cita besar keluarga Oh ada di tangan Oh Sehun.
Usia Junhong masih 13 tahun saat dia melihat bagaimana sang ayah menampar dan mengusir kakaknya malam itu. Junhong masih ingat betul bagaimana sang ibu menangis dan memohon agar sang ayah tidak mengusir kakaknya. Junhong pun masih ingat bagaimana sang ayah tiba – tiba memindahkannya ke Jepang dua hari setelah insiden itu.
Junhong tarsus menatap Sehun yang kini sedang memeluk ibu mereka. Di dalam kepala Junhong ada banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Bagaimana kabar sang kakak? Bagaimana kabar kakak iparnya? Bagaimana kabar keponakannya? Apakah keponakannya itu perempuan atau laki – laki? Sudah sebesar apa keponakannya? Dan apa pekerjaan Sehun sekarang? Bagaimana Sehun bisa hidup selama ini?
"Apa kau berhasil lulus kuliah dengan baik?"
Nyonya Oh membuka pembicaraan setelah hening sekian lama. Nyonya Oh tau, jika suaminya dan ayah Luhan sepakat untuk menyekolahkan kedua anak mereka sampai selesai berkuliah. Tapi mereka berdua tetap tidak boleh kembali ke rumah.
"Sangat baik eomma…" jawab Sehun masih mencoba menenangkan ibunya
"Lalu sekarang kau bekerja dimana?" Nyonya Oh kembali bertanya
"Aku membangung sebuah perusahaan property bersama seorang teman di daerah Incheon. Kami merintisnya dari nol dan sekarang perusahaan kami sudah semakin maju"
"Lalu… bagaimana dengan istri dan anakmu hyung?" giliran Junhong yang bertanya setelah bersusah payah mengumpulkan keberaniannya.
"Luhan baik… sekarang dia sudah menjadi seorang desainer ternama… dan anak – anak kami sudah masuk sekolah dasar"
Sehun dengan bangga menceritakan keluarga kecilnya dihadapan ibu dan adiknya.
"Anak – anak? Kau sudah punya anak kedua?" Nyonya Oh mengangkat tubuhnya dari pelukan Sehun, wanita itu terlihat cukup kaget tapi Sehun membalasnya dengan gelengan.
"Anak kami kembar…" Sehun menjeda kalimatnya lalu mengeluarkan ponsel dari kantong celananya dan memamerkan foto dua bocah lucu yang sedang minum jus, "Yang ini Oh Jaehun, dan yang ini Oh Jaehan" sambung Sehun.
Nyonya Oh mengambil ponsel Sehun dan air matanya kembali berjatuhan. Satu tangan lembutnya yang sudah mulai berkeriput mengelus layar ponsel Sehun. Ada sorot kerinduan dari mata sipit wanita itu ketika melihat betapa tampan dan lucu kedua cucunya.
"Bahkan sampai mereka sebesar ini, eomma belum pernah sekalipun menggendong mereka…" lirih Nyonya Oh
"Tidak eomma… jangan menyalahkan diri sendiri, ini salahku… aku pantas mendapatkan hukumannya" kilah Sehun yang kembali memeluk sang ibu
"Ya… kau dan Luhan memang bersalah, tapi anak – anak kalian tidak! Bagaimana bisa eomma tidak merasa berdosa pada mereka? Apa salah mereka sampai kami tidak pernah hadir dalam kehidupan mereka sebagai sebuah keluarga?"
Ya… itu juga yang selalu disesali oleh Sehun dan Luhan, bagaimana bisa keluarga mereka begitu saja membiarkan Jaehun dan Jaehan tumbuh tanpa keluarga? Dan bodohnya lagi orang tua mereka pun bercerai.
"Sebenarnya… aku dan Luhan…sudah… bercerai…"
Sehun mengakui itu dihadapan ibunya dan sontak Junhong dan Nyonya Oh tentu saja merasa terkejut. Sehun pun akhirnya menceritakan semua masalah yang dia hadapai bersama Luhan sejak hari pertama mereka diusir dari rumah. Sehun juga tidak lupa menceritakan keadaan kesahatan Jaehun yang lemah, tumbuh kembang HunHan yang tidak stabil dan kondisi keluarga mereka yang kacau. Namun Sehun juga menceritakan jika beberapa bulan belakangan hubungannya dengan Luhan sudah kembali membaik dan mereka berdua memang berencana untuk kembali rujuk.
"Kau harus pulang nak… kau harus pulang… kita akhiri semua kesalahan ini dan kita bangun semuanya dari awal. Ajak Luhan dan anak – anakmu pulang… eomma mohon" ujar Nyonya Oh ketika Sehun selesai menceritakan semuanya.
"Tapi… bagaimana dengan Appa?"
"Aku akan menceritakan semuanya pada Appa. Aku sudah merekam semua yang Hyung ceritakan barusan… semuanya…" Junhong mengangkat ponselnya dan itu membuat Sehun terkejut.
"Aku takut Appa masih tidak bisa menerima kami.."
"Sehun-ah… kami berdua adalah orang tuamu. Kami memang wajib memarahi dan memberikan hukuman kepada anak kami jika kalian melakukan kesalahan. Tapi bukan berarti kami akan marah selamanya. Orang tua juga manusa, Sehun-ah… kami juga membuat kesalahan. Dan apa yang terjadi padamu adalah bukti bahwa semandiri apapun seorang anak, mereka tetap tidak bisa tumbuh dengan baik tanpa adanya orang tua yang mendampingi."
Nyonya Oh menggengam tangan Sehun kemudian kedua matanya menatap mata sang putra sulung.
"Ajak Luhan dan anak – anakmu pulang, kita mulai semuanya dari awal. Eomma dan Junhong akan bicara pada Appa, dan eomma yakin, dia juga merindukanmu sebesar kau merindukannya nak…"
Sehun terbujuk oleh kata – kata sang ibu. Terlebih setelah dia tau rasanya jadi seorang Ayah, sedikit banyak dia mengerti apa yang dirasakan Tuan Oh malam itu. Sehun tentu juga pernah marah dan menghukum si kembar ketia dua bocah lucu itu membuat kesalahan. Dan Sehun pikir dia pun belum tentu bisa jadi ayah yang lebih baik dariapada ayahnya sendiri.
Tidak ada salahnya untuk mencoba datang pada sang ayah dan meminta maaf. Apalagi sekarang sudah ada HunHan, kehadirian dua cucu yang tampan, lucu dan cerdas itu pasti menggugah hati ayahnya. Itu yang Sehun yakini.
.
.
.
Luhan duduk di ruang kerja Yifan, disebelah Luhan ada Jaehan yang senantiasa menunggu jalannya cek up. Sedari tadi Luhan sama sekali tidak mengubah raut wajah masamnya, wanita itu juga bersikap agak ketus pada sang kekasih.
Cek up yang Jaehun jalani berada di ruangan berbeda dengan ruang kerja Yifan. Jaehun menjadali cek up di sebuah ruangan serupa laboratorium khusus untuk penderita penyakit jantung. Setelah beberapa lama Yifan melakuka prosedur pengecekan, akhirnya kembali beberapa suntikan Yifan berikan untuk Jaehun. Anak itu rupanya sudah kebal disutik, Jaehun sama sekali tidak menangis atau takut pada jarum suntik.
"Okaaay… Jaehunie sudah selesai cek up… jantung Jaehunie sekarang mulai berdetak dengan baik, tapi Jaehunie harus janji tidak akan berlari atau kelelahan. Mengerti?"
"Mengerti paman…"
"Good Boy… boleh minta satu pelukan?"
Yifan merentangkan tangannya namun Jaehun menatap pelukan itu dengan selama beberapa saat sebelum akhirnya tubuh kecil itu menyambut pelukan Yifan.
"Paman dokter… boleh aku tanya sesuatu?" Jaehun bertanya saat Yifan masih memeluknya.
Yifan pun melepas pelukan hangatnya lalu menatap wajah mungil Jaehun, "Tentu saja jagoan… mau tanya apa?"
"Apa aku benar – benar bisa sembuh? Apa paman dokter… benar – benar bisa menyembuhkanku?"
Pertanyaan sederhana dari bibir mungil Jaehun membuat Yifan mengerutkan kening dan mempoutkan bibirnya. Yifan menatap Jaehun di hadapannya dengan tatapan lembut.
"Paman dokter akan menyembuhkanmu…" ujar Yifan sambil mengusap lembut kepala Jaehun
"Kau percaya pada paman kan?" Yifan balik bertanya dan Jaehun hanya memandangnya lekat – lekat.
"Apa Paman menyayangiku?" Jaehun kembali bertanya dan pertanyaan itu membuat Yifan tersenyum manis
"Tentu saja sayang…" jawab Yifan mantap
"Apa Paman menyayangi Jaehan juga?"
Senyuman lembut di wajah Yifan seketika menghilang ketika nama Jaehan disebutkan. Mata rusa Jaehun memandang tajam Yifan yang kini seperti menahan sesuatu dalam dirinya.
Oh Jaehun memang memiliki perasaan yang lebih peka. Dia punya feeling yang kuat terhadap perasaan seseorang. Dan itulah yang membuat Jaehun tidak suka pada Yifan. Selama ini Yifan selalu memberikan perhatian lebih kepada Jaehun dan mengabaikan Jaehan. Disetiap kesempatan si kembar berada hanya dengan Yifan, mata Jaehun tidak bisa dibohongi, Jaehun tau jika Yifan tidak menyukai Jaehan. Terbukti dari bagaimana Yifan bersikap pilih kasih dengan kedok Jaehun sedang sakit. Itulah sebabnya Jaehun selalu tidak bisa menyukai Yifan meskipun Yifan sangat baik terhadapnya.
Berbeda dengan Baekhyun yang sangat menyukai HunHan tanpa terkecuali, Yifan memang sangat membedakan antara Jaehun dan Jaehan. Tak jarang Yifan pun bersikap dingin pada anak bungsu Oh Sehun itu.
Ya satu alasannya. Karena Jaehan memiliki wajah yang identik dengan wajah Sehun, sedangkan Jaehun memiliki wajah sang ibu.
"Paman juga sayang pada Jaehan…" sahut Yifan akhirnya
"Paman bohong!"
Yifan langsung terkejut dengan tudingan Jaehun, pria tampan itu tak mengerti bagaimana bisa Jaehun berkata seperti itu.
"Paman tidak menyayangi Jaehan…" tambah Jaehun
"Hei… bagaimana bisa kau bilang paman tidak sayang Jaehan?"
"Entahlah… aku hanya merasa paman tidak menyukai adikku…"
Yifan terdiam sebentar namun dia hanya menggeleng untuk menepis itu semua, "kau salah sayang… paman menyayangi kalian berdua"
"Kalau begitu, boleh aku minta satu permintaan? Paman harus mengabulkannya jika paman menyayangi kami"
"Tentu saja… paman akan mengabulkannya!"
"Apapun permintaan itu?"
"Ya… apapun…"
"Janji?"
Jaehun mengulurkan jari kelingkingnya dan tanpa pikir panjang, Yifan pun menyambut jari kelingking itu. "Paman berjanji, apa permintaamu?"
"Permintaanku cuma satu. Aku minta paman untuk tidak menikah dengan eomma kami, bisa kan?"
Rahang Yifan tercekat. Pria tampan itu sama sekali tidak memikirkan bahwa itu akan menjadi permintaan Jaehun. Tidak. Apapun permintaan Jaehun akan dia kabulkan, asal bukan permintaan yang satu itu.
"Tapi paman mencitai eomma kalian dan juga kalian…" bantah Yifan segera
"Tapi paman sudah berjanji…" Jaehun masih berkilah.
Yifan tersenyum sinis lalu membungkuk di hadapan Jaehun, "Lalu apa yang kalian berikan pada paman jika paman tidak jadi menikah dengan eomma kalian?"
"Apapun yang paman inginkan… asalkan bukan eomma…" ujar Jaehun mantap
Yifan kembali tersenyum dan menatap tajam kedua mata rusa Jaehun. Yifan sendiri sadar, meski anak dihadapannya itu berwajah seperti Luhan, tapi otaknya adalah otak milik Sehun yang bagi Yifan, sama liciknya.
"Ulurkan tanganmu" perintah Yifan dan segera diikuti oleh Jaehun.
Yifan mengambil sebuah suntikan dan mengisi suntikan itu dengan suatu cairan. Dan ketika Yifan akan menyuntikkan cairan itu ke tubuh Jaehun, Jaehun menarik tangannya.
"Kenapa?" Yifan bertanya ketika Jaehun menatapnya dengan ketakutan
"Kenapa paman akan menyuntikku lagi?" tanya anak polos itu
"Paman hanya ingin kau tau bahwa eommamu… tidak bisa hidup tanpa paman… dan kau sudah berjanji, Oh Jaehun… mana tanganmu.."
Yifan menarik tangan Jaehun, Yifan dengan teliti mencari nadi lengan kecil Jaehun untuk disuntik. Titik suntikan suda terlihat dan jarum itu mulai menempel di kulit Jaehun yang sudah kemerahan. Jaehun panik dan sangat ketakutan saat ini. Degupan jantungnya mulai meningkat drastis dan sekujur tubuhnya mulai berkeringat.
"Haaaaahhh…"
Jaehun merasakan tubuhnya mulai dingin dan napasnya semakin sesak di dada. Jaehun memang seperti itu jika dia ketakutan.
Ceklek
"Dokter Wu… aku perlu rekam medis Oh Jaehun yang baru."
Jaehun tau itu suara dokter Huang, dokter anak yang selama ini menanganinya dan sang adik. Buru – buru Jaehun menarik lengannya dari cengkraman Yifan dan itu menyisakan sedikit luka gores di lengan jaehun.
"Bulan depan dia akan berusia 8 tahun dan harus mendapatkan imunisasi terkahirnya… jadi aku…."
Kalimat Zitao berhenti ketika melihat satu botol cairan obat – obatan yang telah kosong. Zitao tau cairan apa itu dan yang pasti itu sangat berbahaya bagi darah, cairan itu akan membunuh pertumbuhan sel darah merah. Zitao langsung memalingkan wajahnya pada Yifan dan suntikan itu masih ada ditagan pria itu, bersama dengan Jaehun yang ada tepat di depan Yifan, sedang memegang tangannya yang berdarah akibat goresan jarum.
"WU YIFAN! APA YANG KAU LAKUKAN PADA OH JAEHUN!"
Zitao dengan segera merampas suntikan yang ada di tangan Yifan, gadis itu juga segera menggendong Jaehun yang langsung menangis ketakutan di pelukannya.
"Sudah ku bilang jangan ikut campur urusanku, Huang Zitao!"
"Ini bukan hanya urusanmu! Ini urusan nyawa seorang anak yang tidak bersalah! Mau kau apakan anak ini?"
"Aku hanya ingin memberinya pelajaran atas apa yang dikatakannya padaku!"
"Pelajaran… kau bahkan berani melakukannya kepada seorang anak kecil?! Kau gila Wu Yifan!"
"Ya… aku memang sudah gila dan aku tidak mau ada seorangpun yang bisa merebut Luhan lagi dariku! Apa kau tau rasanya jadi aku? Apa kau tau rasanya mencintai seseorang dan orang itu malah mencintai orang lain dan lebih memilih orang lain daripadamu? Apa kau tau rasanya memendam rasa sakit hati setelah orang lain merebut orang yang kau cintai? Apa kau tau rasanya itu semua?!"
Yifan meledakkan semua amarahnya pada gadis cantik di hadapannya. Entah bagaimana pertanhanan gadis sekuat Zitao jadi runtuh dan air matanya kemudian bercucuran.
"Ya… aku pernah merasakan itu Wu Yifan! Aku pernah merasakan semua itu. Aku mencintaimu tapi kau malah mencintai Luhan! Aku mencintaimu tapi kau malah meninggalkan aku dan pernikahan kita dan memilih Luhan! Aku selama ini memendam rasa sakit hatiku sendiri karena aku merasa Luhan merebutmu dariku! AKU TAU RASANYA ITU SEMUA!"
Rahang Yifan tercekat, dia tidak pernah melihat Zitao semarah itu sebelumnya. Tapi apa kata gadis itu, Zitao mencintainya?
"Tapi meskipun aku juga merasakan semua itu, tapi aku tidak pernah melakukan hal buruk untuk memisahkanmu dari Luhan. Aku tidak pernah mensabotase kesehatan siapapun untuk mendapatkanmu! Dan maaf, jika setelah ini aku harus membeberkan semuanya. Dan satu lagi… Luhan sudah tau semuanya! Luhan tau apa yang telah kau lakukan untuk merusak rumah tangganya dengan Sehun!"
Zitao pergi dari ruang cek up itu dan membawa Jaehun yang badannya mulai dingin berkeringat dan sekujur tubuhnya membiru. Zitao langsung membawa Jaehun masuk ke ruang ICU, gadis itu mencoba untuk menyelamatkan Jaehun sesegera mungkin, mengecek semua keadaan Jaehun dan memastikan bocah itu dalam keadaan baik.
"Tidak… jantung Jaehun detakannya mulai tidak teratur… suster Kang, apa ada dokter ahli Jantung atau bedah jantung yang bisa kau bawa kemari?" Zitao bertanya pada perawat yang kini memasang infus di tangan Jaehun.
"sebentar, saya ambil datanya"
"cepatlah!"
Tak berselang lama, perawat itupun kembali dan membawa beberapa data dokter ahli jantung dan bedah jantung.
"Dokter Park Minseok sedang cuti melahirkan, Dokter Lee Jinki sedang ada operasi, Dokter Choi Minho sedang bertugas di rumah sakit lain. Dokter Mark Tuan sedang tugas pelayanan ke Jindo. Dokter Wu Yifan… hanya ada dokter Wu Yifan yang siap saat ini"
Zitao langsung menggelengkan kepalanya dan berkata "Jangan! Jangan Wu Yifan. Ah… dokter Kim Jongdae! Dimana dia?"
"Dokter Kim Jongdae dijadwalkan tugas ke luar negeri,"
"Tidak… status dokter Kim Jongdae memang masih bertugas di luar negeri tapi dia sudah ada di Seoul. Tadi pagi dia datang untuk menjaga dokter Park Minseok. Segera cari dokter Kim Jongdae di ruang rawat dokter Park Minseok. Bilang padanya kalau keadaan ini sangat genting… dan suster kang… minta dokter Kim Jongin untuk segera kemari, aku butuh bantuannya untuk menangani Jaehan. Dokter spesialis organ dalam pasti tau apa yang harus dilakukan kan?"
"Baik dokter Huang…"
.
Yifan masuk ke dalam ruang kerjanya dan melihat Sehun sedang menggendong Jaehan yang tertidur di punggungnya sementara Luhan duduk dengan wajah masam di tempat duduk Yifan.
"Dimana Jaehun?"
Sehun langsung menyambut Yifan dengan pertanyaan.
"Bersama dokter Huang…" Yifan menjawab dengan agak malas, Sehun tidak peduli itu. Jika saja di punggungnya tidak ada Jaehan yang tertidur mungkin pria tampan yang masih berstatus kekasih mantan istrinya itu sudah babak belur di tangannya.
Barusan Sehun memang menyusul Luhan ke rumah sakit, atas permintaan Luhan memang. Dan ketika Sehun bertemu dengan Luhan, wanita itu sudah menceritakan semuanya yang Zitao ceritakan padanya tadi siang.
"Jujur saja selama ini aku selalu menganggapmu sebagai seorang kakak, maaf jika aku telah berbuat salah dan menyakiti perasaanmu. Aku benar – benar mencintai Luhan. Aku tidak akan melepaskannya lagi kali ini. Terima kasih karena apa yang kau lakukan pada kami malah membuat kami berdua semakin sadar jika kami tidak bisa hidup terpisah. Tapi… jika sesuatu terjadi pada anankku, maka aku tidak akan tinggal diam. Aku permisi, Wu Yifan-ssi."
Sehun melontarkan kalimat panjang dengan nada dingin dan marah yang dia tahan. Dia tidak mau mengusik tidur putra bungsunya. Terlebih lagi dia berpikir untuk apa memperpanjang masalah ini? Menghajar Yifan tentu tidak akan mengembalikan keadaan. Apalagi memang perpisahan Yifan dan Luhan lah yang dia inginkan bukan? Jadi… biarkan itu semua menjadi urusan Luhan, dan Sehun fokus pada anak – anak.
"Mau menjelaskan semua ini?"
Luhan menunjuk sebuah kartu undangan, dua buah ponsel memang milik Sehun dulu yang Luhan temukan di laci kerja Yifan dan salinan foto – foto yang Yifan gunakan untuk menuduh Sehun dulu.
"Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Luhan!"
"Mencintaiku? Jika kau mencintaiku kenapa kau membuat aku menderita? Kau tau aku menderita karena aku berpisah dengan Sehun, kau adalah orang yang paling tau bagaimana sakitnya aku, Wu Yifan!"
"Ya aku tau… tapi aku datang untuk ada bersamamu, aku juga mencintaimu Lu… bukan hanya Sehun!"
"Tapi aku mencintai Sehun! Dan kau tau itu!"
Luhan meninggikan nada bicaranya, itu membuat Yifan semakin kesal dan tidak tahan. Kenapa Luhan sama sekali tidak mengerti apa yang dia rasakan?
"Aku mencintaimu Lu… aku melakukan semua ini karena aku ingin memilikimu!" Yifan mendekat kearah Luhan, mencoba agar wanita itu mau mengerti dirinya, namun terlambat, Luhan sudah muak dengan semua yang Yifan lakukan
"Kau tidak mencintaiku. Kau hanya ingin memiliki aku! Apa kau pikir jika aku jadi milikmu maka aku akan bahagia?"
"YA! Kau akan bahagia karena aku yang akan membuatmu bahagia!"
"Tanpa Sehun? Bukankah kau tau bahwa hanya Oh Sehun yang bisa membuatku bahagia? Bukannya kau tau bahwa aku hanya mencintai Oh Sehun?!"
"KENAPA HARUS OH SEHUN, LU?! KENAPA KAU BEGITU MENCINTAINYA SAMPAI KAU TAK PERNAH MAU UNTUK MELIHAT PERASAANKU SEKALI SAJA!"
Yifan membentak Luhan, suara besarnya yang mengamuk memenuhi ruangan. Benar apa yang selama ini Jaehan bilang padanya, Yifan punya wajah seperti monster. Dan beginilah wujud asli Wu Yifan sang malaikat sebenarnya.
"Karena Oh Sehun mencintaiku dengan baik. He loves me right! Dia tidak pernah melukai siapapun untuk mencintaiku!"
"ahahahahahahaha… tidak pernah melukai siapapun? Lalu aku ini apa? Hatiku ini apa Lu?"
"Jika kau memang mencintaiku sejak lama, seharusnya kau mengatakan itu lebih awal. Sebelum orang lain mengatakannya, sebelum aku jatuh cinta pada orang lain. Bukanya hanya diam dan membiarkan aku jatuh cinta pada orang lain. Jika kau memang mencintai aku dengan baik, seharusnya kau membuatku mencintaimu, bukan membuatku membenci orang yang aku cintai!"
Sejenak hening, hanya ada suara deru penghangat ruangan diantara mereka. Luhan menatap Yifan seperti dengan penuh kebencian. Jangan salahkan wanita itu jika dia membenci Yifan, apa yang sudah Yifan lakukan memang pantas untuk membuat pria itu dipandang tidak baik oleh orang yang dicintainya.
"Dan kau tidak hanya meyakiti hatiku dan Sehun atas semua yang kau lakukan. Kau juga menyakiti hati dokter Huang! Dia adalah orang yang tulus mencintaimu, kenapa tidak kau melihat kearahnya? Bukankah dia jauh lebih baik dan lebih segalanya daripada aku?"
"Tapi dia bukan kau, Lu…"
"Dan kau juga bukan Oh Sehun. Maka dari itu aku tidak bisa mencintaimu Wu Yifan. Jujur selama ini aku selalu berusaha untuk mencintaimu, atas semua perlakuan dan bantuanmu padaku yang aku kira tulus. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa mencintai orang lain selain Oh Sehun!"
Kalimat itu bagaikan tamparan keras bagi Yifan. Kalimat yang membuatnya merasa semakin dipecundangi oleh keadaan. Luhan mencintai Sehun. Luhan mencintai Sehun adalah kenyataan yang sama sekali tidak ingin dipercaya oleh Yifan.
"Aku tidak bisa melepasmu begitu saja. Maafkan aku Luhan, tapi aku sangat mencintaimu!"
.
"Ada apa kau memanggilku Zi?" Jongin segera masuk atas panggilang dokter Huang
"Jongin-ah… aku mohon bantu aku menyelamatkan Jaehun… aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, aku terlalu panic untuk berpikir saat ini Jongin-ah…"
"Ng? Bukankah dia Oh Jaehun? Dia anak kembar temannya Taeoh di sekolah"
"Ini bukan waktunya berbasa – basi Kim Jongin, ini masalah nyawa! Cepat selamatkan dia!"
"Tenang Zi… tenang… kau harus tenang jika ingin menyelamatkan nyawa seseorang, biar aku cek keadaannya.. ah… bisa aku minta rekam medisnya?"
Jongin langsung menempelkan stetoskop ke dada Jehun yang polos, dada itu terlihat lebih bengkak dari biasanya.
"Kita butuh selang oksigen, pasien mulai susah bernapas…" Jongin meminta para perawat untuk memasangkan selang oksigen secepatnya pada Jaehun
"Apa ada yang memanggilku?"
Seorang pria berwajah kotak namun dengan senyum manis masuk ke dalam ruang ICU, dokter itu masih berusaha menggunakan baju khususnya sedangkan Jongin malah kaget melihat dokter yang baru masuk itu.
"Ya… kenapa bisa disini? Bukankah kau ada di London? Selamat atas kelahiran anakmu…" Jongin baru saja ingin menjabat tangan dokter Kim Jongdae namun dokter itu malah menyipitkan matanya
"Ini bukan saatnya untuk berbasa – basi Jongin-ah… bagaimana keadaannya.."
"Baiklah… tengan darah 88/90, detak jantung sekitar 25 detakan permenit rendah sekali."
"Dimana Zitao?"
"Dia sedang mengambil rekam medis pasien."
"Ini pasien baru atau memang penanganan kita?"
"Aku rasa dia pasien disini…"
"Hanya istriku dan Yifan saja yang menangani kasus jantung anak – anak. Aku rasa ini milik Yifan. Aku tau semua pasien istriku"
"Jongdae-ah… pasien memuntahkan darah.."
"Apa ada kebocoran di jantungnya?"
"Aku tidak tau, aku belum sama sekali melihat rekam mediknya?"
"Cabut selang oksigen dan pompa darahnya kelu
.
"Dokter Huang… dimana Jaehun?"
Sehun menghadang Zitao yang sedang berlari, pria itu masih menggendong Jaehun di punggungnya.
"Ah… Jaehunie appa. Sesuatu terjadi pada Jaehun dan… dia… mendadak collaps. Kondisinya menurun dan detak jantungnya tidak stabil."
"Diamana dia sekarang?"
"ICU… dia ada di ICU, dia sudah ditangani oleh beberapa dokter, tapi aku harus meminta rekam mediknya dari Yifan, aku permisi… aku harus segera mencari Yifan"
Zitao langsung berlari menuju ke ruangan Yifan, Sehun juga tadinya mau ikut mencari Yifan tapi kakinya terhenti. Dia harus membawa Jaehan ke tempat yang aman.
"Sehun-ah…"
Sehun mendengar suaranya dipanggil lalu pria itu menoleh kebelakang dan matanya langsung melihat dua orang malaikan penolong.
"Baekhyun-ah… Chanyeol-ah… kenapa kalian ada disini? Baek, bukannya kau masih sakit?"
"Aku sudah baikan, barusan aku dapat telpon dari Appa… jika kakek ingin bertemu denganku. Apa sesuatu terjadi?"
"Jaehun… dia kembali Collaps dan ini sangat tiba – tiba.."
"Tenang kawan. Jaehun pasti sedang dalam penanganan, dia pasti terselamatkan. Dia anak yang kuat kan?" Chanyeol ikut memberi dukungan pada sahabatnya itu
"Aku harus segera mencari Jaehun ke ruang ICU," ujar Sehun dan seluruh keringatnya sudah mengucur deras
"Dimana Luhan?" Baekhyun masih bertanya ketika Sehun baru akan pergi
"Masih di ruangan Yifan. Hari ini ada banyak hal yang terjadi dan aku…"
"Berikan Jaehan pada kami. Kau dan Luhan fokus saja pada Jaehun. Kau percaya kami kan?" Chanyeol memutus kalimat Sehun dan mengulurkan tangannya untuk mengambil Jaehan.
"Percayakan Jaehan pada kami, Sehun-ah… aku akan berbicara padanya setelah dia bangun. Jaehun saat ini lebih membutuhkanmu dan Luhan" Baekhyun mendukung usulan Chanyeol
"Aku akan ajak Jaehan melihat Namjoon, ponakanku agar dia tidak bosan" tambah Chanyeol
"Atau bermain bersama Yoongi, adik tiriku" Baekhyun juga ikut menambahkan
Sehun akhirnya menyerahkan Jaehan kepada Chanyeol, pria itu berusaha untuk mempercayakan buah hatinya pada dua orang baik yang selalu menolong hidupnya.
"Ku mohon, jaga Jaehan… carikan alasan yang tepat untukku, buat dia mengerti situasinya.. aku mohon.."
"Untuk itu, kau bisa percayakan pada Baekhyun. Jaehan sangat percaya pada Baekhyun kan?"
"Terima kasih Baekhyun, Chanyeol…"
"Cepat pergi… kami menunggu kabar baik darimu"
Sehun akhirnya berlari secepat kilat menuju ruang ICU dan sementara itu Zitao pun akhirnya sampai di ruangan Yifan.
"Wu Yifan! Bisa aku minta rekam medis Jaehun? Ku mohon! Ini penting!" Zitao tidak perlu basa basi ketika dia menerobos masuk
"Ada apa dengan Jaehun, dokter huang?" Luhan yang tadi berwajah beku kini berubah pucat dan panic
"Sesuatu terjadi dan aku yakin…" Zitao mengalihkan pandangan matanya dari Luhan ke Yifan, "dia tau apa penyebabnya"
"Aku minta rekam medis Oh Jaehun!" ulang Zitao sekali lagi.
Yifan menyerahkan satu berkas yang ada di mejanya kepada Zitao, tatapan mata Yifan seperti kosong dan tanga pria tampan itu pun bergetar.
"Jika sesuatu terjadi pada Jaehun, aku pastikan kau akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Wu Yifan"
Zitao mengancam Yifan sebelum akhirnya dokter cantik bertubuh bak model itu pergi dari ruangan Yifan.
"Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?" lirih Luhan setelah beberapa saat mereka hanya diam setelah Zitao pergi
"Aku mungkin bisa memaafkanmu atas apa yang kau lakukan padaku dan Sehun. Tapi… katakan padaku, apa yang telah kau lakukan pada Jaehun kami, Wu Yifan? Apa kau juga berencana akan menyakitinya?"
Luhan meneteskan air matanya kali ini. Luhan bahkan seperti memohon pada Yifan untuk mengatakan yang sejujurnya.
"Yifan-ah… ku mohon, bilang padaku jika kau tidak mencelekakan Jaehun. Iya kan? Ku mohon katakan jika kau tidak menyakiti Jaehun hanya untuk memilkiku… selama ini aku mempercayaimu. Selama ini aku percaya bahwa kau adalah satu – satunya orang yang bisa menolongku untuk menyembuhkan Jaehun… jawab aku Wu Yifan…"
Luhan jatuh bersujud dihadapan Yifan kali ini. Mata Yifan terbelalak melihat Luhan yang kini memeluk kakinya sambil menangis.
"Aku mohon jangan sakiti Jaehun… dia anakku, Yifan-ah… Aku mohon jangan lakukan apapun untuk merusaknya hanya demi memilikiku… jangan sakiti dia Yifan-ah... dia anakku, ku mohon…"
Yifan kehilangan kekuatan pada kakinya, melihat Luhan marah mungkin Yifan masih bisa tahan. Tapi melihat Luhan jadi seterpuruk ini, Yifan tidak mampu. Dan detik itu juga dia baru menyesali semua perbuatannya terhadap Jaehun.
Detik itu juga Yifan baru tersadar, seberapa parah cintanya merusak hidup Luhan. Tangisan pilu dan memohon Luhan hingga wanita itu bersujud di hadapannya membuat Yifan sadar akan semua kesalahannya. Hati Yifan terasa tercabik, bukan ini yang ingin Yifan lihat dari Luhan. Bukan ini yang Yifan inginkan.
"Maafkan aku Lu…" gumam Yifan dengan suara parau. Yifan merasa berdosa saat itu juga. Apa yang telah dia perbuat. Kenapa bisa dia sampai dibutakan oleh semua ambisi dan keegoisannya.
Tidak. Yifan bukanlah orang yang seperti itu. Selama ini iblis kecemburuan yang menguasai akal sehat Yifan merubah Yifan jadi kejam seperti ini. Nyawa seorang anak Yifan pertaruhkan begitu saja untuk keegoisannya.
"Tidak… aku tidak bermaksud untuk melakukannya. Tidak… manusia macam apa aku… hingga dengan tanganku aku mencelakakan nyawa yang tak bersalah"
Yifan terus mengutuk dirinya dalam hati. Tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini, Yifan semakin ketakutan. Jika dia harus kehilangan Luhan dari hidupnya, itu bukan lagi masalah. Yang terpenting saat ini adalah nyawa Jaehun. Oh Jaehun.
"Aku akan memperbaiki kesalahanku Lu… maafkan aku.."
.
Ponsel Sehun bergetar saat dia sedang berdiri cemas menghawatirkan satu buah hatinya di dalam ruang ICU. Sehun langsung mengambil ponsel itu dan melihat nomor Junhong yang tadi sempat dia simpan masuk ke dalamnya.
"Ada apa Junhong-ah…?"
"Hyung kau dimana?"
"Aku di rumah sakit, Jaehun tiba – tiba collaps dan dia sedang mendapatkan penanganan."
"Rumah sakit? Dimana?"
"Seoul International Hospital"
"Baiklah, aku akan segera kesana… apa hyung butuh sesuatu?"
"Tidak… sebaiknya kau tidak usah kemari, aku bisa menangani ini…"
"Tidak hyung, ponakanku sedang sakit. Aku harus ada disana dan membantumu"
Sehun menghela napasnya sebentar, menenangkan dirinya untuk bisa berpikir jernih. Dan tak ada salahnya jika Junhong datang, adiknya tentu punya hak untuk ada disana sebagai seorang paman yang bahkan belum pernah kedua putranya kenal.
"Baiklah… aku ada di ICU unit anak. Kau bisa kemari."
"Tunggu aku hyung"
.
Zitao masuk ke dalam ruang ICU tanpa sempat berbasa basi dengan Sehun yang sudah terlihat kacau disana. Gadis itu segera membacakan satu persatu riwayat kesehatan Jaehun kepada Jongin dan Jongdae seraya kedua dokter tampan itu terus melakukan penanganan.
"Ini sulit. Meskipun ada rekam medis tapi aku belum tau betul keadaan pasien ini. Aku butuh melakukan observasi selama paling tidak 24 jam" Jongdae mengerutkan keningnya dan pria itu jelas tampak kebingungan
"Tidak bisa… anak ini tidak bisa bertahan selama itu. Jantungnya terus melemah, darah terus dimuntahkan dan paru – parunya mulai tidak berfungsi karena darah kotor pada kebocoran jantung sudah masuk keareal paru – paru. Kita harus secepatnya menlakukan operasi" Jongin berkata setelah memasangkan selang udara di tenggorokan Jaehun.
"Hanya Yifan yang bisa melakukan tindakan, penyakit jantung bukanlah penyakit biasa yang bisa ditangani oleh sembarang dokter. Pasien dengan penyakit jantung tidak bisa diberikan ke sembarangan dokter. Aku takut aku akan melakukan salah penanganan terlebih lagi daya tahan tubuh anak ini terus melemah."
"Jongdae benar, hanya Yifan yang mengerti betul akan tubuh anak ini. Hanya Yifan yang tau seberapa anak ini tahan dengan obat – obatan dan alat medis."
"Zitao… kita butuh Yifan… segera…"
Jongdae meyakinkan Zitao untuk memanggil Yifan, namun gadis itu hanya menggeleng.
"Tidak! Dia bisa saja membunuh anak ini! Kita tidak boleh menyerahkan Jaehun pada Yifan!" Zitao terus menggeleng, kedua tangannya sudah bergetar kemudian gadis itu kembali berkata, "Kalian berdua adalah dokter yang hebat kan! Dokter Kim Jongdae… kau adalah dokter handal, ayahku bahkan mempercayakan bagian Jantung dan bedah Jantung padamu!"
"Tidak bisa Zi… keadaan anak ini terlalu fatal."
UHUK
Gumpalan darah kembali keluar dari mulut Jaehun dan seketika anak itu berhenti bernapas karena paru – parunya yang tercemar oleh darah kotor dari kebocoran katup jantungnya.
"Zitao! Jaebal!"
"Panggil dokter Wu Yifan… sekarang!" Zitao memerintahkan seorang perawat dan perawat itu dengan sigap keluar ICU
.
Tak lama setelah beberapa perawat keluar dari ruang ICU, Yifan pun datang bersama Luhan yang menggengam erat tangannya. Sehun mengerutkan kening melihat pemandangan itu, kenapa Luhan menggenggam tangan Yifan? Apa yang terjadi?
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sehun dengan nada paling sarkastik yang pernah dia keluarkan
"Aku akan menangani Jaehun" jawab Yifan singkat
BUGH
Satu pukulan telak Sehun layangkan pada wajah tampan Yifan, satu pukulan yang memang pantas Yifan dapatkan atas semua yang telah dia lakukan pada kehidupannya.
"Kau bisa memukulku nanti, setelah aku menangani Jaehun!" singkat Yifan
GREB
Sehun mencengkram kerah baju Yifan, Sehun benar – benar terlihat menakutkan saat ini. Tentu saja, ayah mana yang akan berdiam diri jika tau nyawa anaknya dipermainkan. Sehun tentu tidak mau melepaskan Yifan begitu saja jika sesuatu yang buruk menimpa jaehun.
"Akan aku pastikan kau mati ditanganku jika sesuatu terjadi pada anakku!" Sehun mengancam Yifan dan yang diancam hanya menatap datar pada Sehun
"Sehun-ah… hentikan… biarkan dia masuk.." lirih Luhan yang kini meraih lengan Sehun dan mendaratkan kepalanya di bahu Sehun
"Aku akan menyelamatkannya." Ucap Yifan sebelum akhirnya dia masuk ke dalam ruang ICU.
.
"Apa perkembangannya?" Yifan langsung bertanya dan Jongin dengan segera melaporkan perkembangan kesehatan Jaehun selama di ruang ICU.
"Segera lakukan operasi! Dokter Huang, siapkan ruangan operasi sekarang!"
"Baik!"
"Pertumbuhan sel darah merahnya melambat. Kita harus melakukan transfusi darah untuk menggantikan darah yang keluar. Dia sudah hampir kehabisan stok darah bersih"
Jongdae melaporkan keadaan Jaehun yang terbaru dan Jongdae terus mengawasi perkembangan detakan jantung namun luapan darah yang Jaehun muntahkan dari bibir dan hidungnya malah semakin banyak.
"Kita butuh golongan darah B. Segera!" Yifan memerintahkan kepada perawat dan perawat yang bertugas segera keluar untuk mencari cadangan darah B.
"baik dok,"
"Kita harus melakukan pembedahan pada dadanya, dokter Kim Jongin… batu aku untuk menyuntikkan obat bius… "
"Okay"
"Ruang operasi siap dalam 5 menit" Zitao masuk ke dalam ruangan dan dibelakangnya diikuti oleh seorang perawat yang tadinya mencari golongan darah B
"Maaf dokter, stok golongan darah B kosong. Baru saja terjadi kecelakaan dan pasien kecelakaan sudah menghabiskan stoknya"
"Zi hubungi Sehun dan Luhan, tanyakan siapa dari mereka yang bergolongan darah B."
"Baik"
.
Ceklek
Zitao keluar dari ruang ICU dan langsung menyerbu Sehun dengan pertanyaan, "Apa golongan darahmu? Jaehun butuh transfusi sekarang juga"
"Aku? B! Golongan darahku B!" jawab Luhan segera
"Aku juga B!" tambah Sehun.
Zitao mengecek kondisi tubuh Luhan dengan pengecekan manual namun Zitao langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kau tidak boleh mendonorkan darahmu Lu. Kondisimu saat ini terlalu lemah dan tidak stabil" ujar Zitao segera
"Tidak… aku mau mendonorkan darahku untuk anakku, akan aku lakukan apapun untuk menyelamatkan nyawa Jaehun. Kumohon Dokter Huang…" Luhan yang kini ada dalam keadaan kusut dan lelah kembali menangis dan memohon pada Zitao
"Tidak… tidak bisa, aku tidak bisa mengambil resiko itu. Itu terlalu bahaya. Aku hanya akan mengambil darah Sehun. Tapi…"
"Tapi apa?" Sehun menyerbu Zitao dengan pertanyaannya
"Tapi darahmu saja aku rasa tidak cukup. Jaehun butuh banyak darah… Golongan darahku AB… kita butuh golongan darah B… siapa yang golongan darahnya B? Dokter Kim Seokjin? Dokter Jung Hoseok? Ah tidak… mereka tidak sedang bertugas hari ini…"
"Ambil darahku… Aku bergolongan darah B!"
Sebuah suara berat datang dari arah belakang Sehun. Suara berat yang mampu membuat Sehun dan Luhan beku seketika. Sebuah suara berat yang tak mungkin Sehun dan Luhan lupakan.
"Anda… siapa? Apakah anda kerabat pasien?" Zitao langsung bertanya pada seorang pria dengan badan tegap dan bersuara berat yang berdiri dibelakang pasien.
"Aku Oh Yunho… aku adalah kakek pasien"
Jantung Sehun dan Luhan mencelos mendengar apa yang Tuan Oh katakan. Sebuah kalimat pendek sederhana yang cukup untuk Sehun ingin bersujud di kaki sang ayah.
"Keadaan kesehatanku baik dan stabil. Aku juga punya darah B yang identik dengan ayah dari cucuku" tambah pria itu kemudian.
"Aku juga golongan darah B, anda boleh mengambil darahku dok" Junhong juga ikut maju dan Zitao langsung mengangguk lega
"Baiklah… harap tunggu disini, aku akan menyiapkan alat transfusinya"
Sepeninggalan Zitao, Luhan langsung memberingsut ke dalam pelukan Sehun. Wanita cantik itu jelas sangat ketakutan.
"Oh Sehun…"
Yunho memanggil putra sulungnya dengan nada memanggil yang lembut dan tenang. Sehun langsung membalikan badannya bersama dengan Luhan yang masih berlindung di pelukan Sehun. Air mata di pelupuk mata sipit Sehun langsung meleleh ketika melihat bagaimana cara sang ayah memandangnya. Yunho memandang putranya dengan tatapan penuh kerinduan, dengan air mata yang juga sudah bercucuran.
"Oh Sehun…"
Lagi Yunho memanggil sang anak, Sehun hanya bisa terisak dan mendekap Luhan semakin erat.
"Ap…Appaa…"
Tangis Yunho semakin pecah, karakternya yang keras, kaku dan tangguh roboh begitu saja hari ini. Luhan perlahan – lahan melepaskan pelukan Sehun, mata rusanya yang basah seperti mengisyaratkan Sehun agar dia memeluk ayahnya segera. Sehun sempat mengerutkan kening sambil menggelengkan kepala. Tapi Luhan langsung menggenggam tangan Sehun dan berkata.
"Sudah saatnya kita pulang, iya kan?"
Sehun berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan menatap sang ayah.
"Appaa…" lirih Sehun.
Yunho merentangkan tangannya meminta Sehun untuk mendekat kearahnya, "kemarilah nak… Appa disini… Sehun-ah"
Sehun mempercepat langkahnya dan dia langsung bersujud memeluk kaki sang ayah. "Appa… maafkan aku Appa… maafkan aku… Appaaaa…"
Yunho ikut berjongkok dan memeluk erat putra kebanggaan yang amat sangat dia rindukan.
"Tidak Sehun-ah… Appa yang seharusnya minta maaf padamu. Maafkan appa telah membiarkanmu merasakan kesulitan ini sendirian. Maafkan appa nak.."
Oh Jaejong yang sedari tadi menatap Luhan yang tengah menangis tertunduk kini perlahan mendekati wanita cantik yang telah memberikannya cucu itu.
"Luhanie… menantu eomma…"
Luhan mengangkat wajahnya lalu kedua tangan lembut jaejong langsung menyapa pipi basah Luhan. "Menantuku…" lirih Jaejong lagi dan kedua wanita itupun saling berpelukan.
Disatu sisi Junhong memandang apa yang tersaji dimatanya dengan penuh rasa bersyukur. Tepat setelah perbincangannya bersama Sehun tadi siang, Junhong langsung menemui sang ayah dan membeberkan semuanya. Memutarkan kembali percakapan antara dia, sang ibu dan kakaknya. Yunho bukanlah pria yang tak punya hati. Sejujurnya selama 8 tahun ini memang Yunho sudah sangat menyesal terhadap keputusannya pada Sehun dan Luhan. Tapi itu semua dia lakukan untuk memberikan sedikit hukuman dan pelajaran untuk anak kebanggaannya itu. Dan mungkin cara Yunho dan keluarga Luhan sedikit keterlaluan
"Maafkan Appa nak… maafkan appa… Maafkan appa sudah menghukummu terlalu berat, maafkan appamu"
"Tidak appa… aku memang pantas dihukum. Aku yang bersalah. Aku telah membuat appa kecewa padaku"
"Hyung…. Appa… sudah… jangan menangis lagi. Bukankah kita akan memberikan darah kita pada Jaehun?"
Yunho melepas pelukannya dari Sehun, "Nama cucuku Oh Jaehun?" tanya Yunho pada Sehun
"Ne… Appa… Appa punya dua cucu… Oh Jaehun dan Oh Jaehan… dan kata Jae di depan nama mereka aku ambil dari nama eomma"
Yunho dan Jaejong langsung tersenyum, Jaejong masih terus memeluk Luhan dengan penuh kasih sayang. Memberikan apa yang seharusnya wanita itu berikan kepada menantunya selama ini.
"Pasien sudah masuk ke ruang operasi, mari segera kita lakukan transfusi darahnya" Zitao kembali datang dan ketiga pria bermarga Oh itu mengikutinya.
.
.
.
Chanyeol duduk di sofa sebuah ruang rawat berkelas VVIP dimana kakek Baekhyun tertidur. Kakek Baekhyun memang sudah tidak punya harapan untuk sembuh, kompikasi di tubuh pria berusia 87 tahun itu sudah terlalu serius. Di pangkuan Chanyeol, seorang bocah masih tertidur dengan lelapnya. Chanyeol lega karena anak itu belum bangun, jujur saja Chanyeol tak pernah tega melihat salah satu dari anak sahabatnya itu bersedih.
Baekhyun sebenarnya belum sepenuhnya sembuh. Tapi Chanyeol juga tidak berhak untuk melarang Baekhyun pergi dari kamarnya dan bertemu dengan sang kakek. Apalagi ayah Baekhyun bilang jika ini adalah masalah penting. Chanyeol sedikit lebih tenang karena yang mereka kunjungi adalah rumah sakit, jadi jika Baekhyun mulai hangat lagi dia bisa langsung mengopname gadis itu.
SREET
Pintu kaca yang membatasi ruang tamu dengan ruang rawat dimana kakek Baekhyun berada terbuka. Gadis itu tersenyum manis lalu duduk di samping Chanyeol.
"Kau mau bertemu kakekku?" gadis itu menawari Chanyeol dengan senyuman.
"Bolehkah?"
"Tentu saja… aku juga mau mengenalkanmu padanya. Sekaligus agar kakek bisa berterima kasih padamu karena kau sudah menyelamatkan aku"
Chanyeol hanya tersenyum mendengar itu, entah kenapa rasanya sangat bahagia bisa mendapat kesempatan bertemu dengan kakek Baekhyun.
"Tapi kakekku tidak bisa membuka mata atau bangun atau bicara. Dia hanya hidup pada detak jantungnya yang terus dipacu"
Chanyeol menggengam tangan Baekhyun lalu tersenyum, pria itu mencoba membuat Baekhyun kuat dengan senyumnya.
"Tapi aku yakin beliau bisa mendengar kita,"
"Mmm… tentu saja…"
"Lalu bagaimana dengan Jaehan?"
"Baringkan saja dia di sofa, nanti aku minta suster yang ada didalam untuk menjaga Jaehan sebentar"
"Okay… aku akan menyusulmu kedalam."
.
Chanyeol masuk ke dalam ruang rawat kakek Baekhyun. Terlihat seorang pria tua bertubuh cukup tambun terbaring sangat lemah di tempat tidur.
"Annyeonghaseo haraboji… Park Chanyeol imnida"
Chanyeol membungkuk 90 derajat untuk memberi hormat pada pria tua itu.
"Haraboji… dia adalah Chanyeol… yang barusan aku ceritakan, dia tampan kan?"
Chanyeol langsung tersenyum salah tingkah begitu mendengar kalimat Bakehyun. Aaah kenapa bisa dada Chanyeol berdegup kencang hanya karena Bakehyun bilang dia tampan. Padahal banyak wanita yang sering bilang kalau dia tampan, tapi tidak pernah seberefek saat Baekhyun yang mengatakannya.
"Ini adalah kakekku. Satu – satunya orang yang aku miliki di dunia. Sayang sekali, besok beliau akan meninggal"
Senyum Chanyeol berubah tegang ketika mendengar pernyataan Baekhyun.
"Aku rasa memang ini sudah waktunya bagi kakek untuk pergi. Appaku juga sudah memutuskan untuk mencabut semua peralatan medis yang kakek gunakan. Appa sudah menandatangani surat kuasa untuk penghentian perawatan yang artinya kakek… akan meninggal besok"
Baekhyun kembali berkata dengan tegar, mesikpun begitu, air matanya juga ikut menetes. Chanyeol mendekat kearah Bekhyun dan mengusap punggung gadis manis itu. Chanyeol berusaha agar Baekhyun merasa lebih tenang, setidaknya Chanyeol ingin Baekhyun merasa tidak sendirian.
"Apa kau sudah mengikhlaskan beliau untuk pergi?" Chanyeol bertanya setelah Baekhyun mengusap semua air matanya, meninggalkan goresan pada eyeliner tipis yang dia gunakan
"Mmm… aku sudah bisa ikhlas merelakannya. Aku yakin beliau pasti mendapatkan tempat yang lebih baik. Dan yang terpenting, disana ada nenek yang akan menjaganya" Baekhyun tersenyum dan itu membuat Chanyeol merasa lebih lega.
"Sejujurnya… inilah kenapa Sehun ingin menikahiku, karena Sehun tidak mau aku jadi sebatang kara"
Chanyeol lagi – lagi mengerutkan keningnya, namun pria itu hanya diam. Dia berusaha menjadi pendengar yang baik agar Baekhyun nyaman ada bersamanya.
Baekhyun mulai menceritakan tentang kehidupannya kepada Chanyeol, dimulai dari orang tuanya yang bercerai, kepindahannya ke jepang, kembalinya dari Jepang ke Korea dan bagaimana dia bisa menjadi calon istri seorang Oh Sehun
"Aku dan Sehun tidak pernah saling mencintai. Aku dan Sehun sampai detik ini hanyalah sebatas sahabat yang ingin saling membantu. Aku tidak pernah mencintai Sehun dan begitu pula Sehun, dia tidak pernah mencintai aku. Dia bahkan menganggapku sebagai adiknya sendiri. Tapi karena kakek, dia berniat menikahiku. Dan Luhan juga dulu berniat menikah dengan Yifan, makanya… lebih baik Sehun menikah denganku daripada mati sakit hati"
Baekhyun menjelaskan pada Chanyeol secara jelas akan posisinya selama ini.
"Jadi kau tidak perlu marah pada Sehun jika dia lebih mementingkan Luhan dan keluarga kecilnya daripada aku. Sebenarnya akulah orang ketiga diantara mereka."
"Jadi benar jika Sehun ingin kembali pada Luhan?"
"Ya… nampaknya mereka sudah saling mengerti perasaan satu sama lain bukan?"
"Lalu bagaimana denganmu? Siapa yang akan menjagamu jika Sehun kembali pada Luhan? Kau… tidak mungkin… dimadu kan?"
"Uahahahahha…"
"Yah… kenapa tertawa? Aku serius…"
"Kau selalu bisa membuatku tertawa, Park Chanyeol."
"Kau belum menjawab pertanyaanku"
"Entahlah… aku rasa hidup sendirian tidak begitu buruk. Dan dengan kembalinya Sehun pada Luhan bukan berarti dia akan meninggalkanku begitu saja. Paling tidak kami masih bisa berkomunikasi sebagai sahabat"
"Hiudplah denganku…"
"Apa?"
Baekhyun memandang Chanyeol kali ini. Pria itu juga nampaknya sedang menatap Baekhyun lekat – lekat. Dan jujur saja cara Chanyeol menatap Baekhyun benar – benar membuat gadis itu meleleh. Jangan lupakan jidat berkarisma Chanyeol saat ini.
"Kau tidak akan sendirian. Hiduplah bersamaku. Akan aku pastikan bahwa kau selalu tertawa dan bahagia jika ada bersamaku"
"Cha… Chanyeol-ah…"
Chanyeol tersenyum manis melihat wajah bingung Baekhyun kali ini. Baekhyun sendiri masih tidak mengerti, apa pria dihadapannya ini serius ataukah hanya bercanda seperti apa yang Sehun lakukan biasanya. Tapi tunggu, ini adalah Park Chanyeol. Pria itu tidak pernah mempermainkan Baekhyun.
"Aku sedang melamarmu Baek. Maukah kau hidup bersamaku? Aku akan menjagamu, aku yakin aku mampu menjagamu dan tidak akan meninggalkanmu. Kau bisa memiliki aku seutuhnya."
Baekhyun masih terdiam. Rupanya gadis itu mendapatkan serangan jantung mendadak akibat pernyataan Chanyeol barusan.
"Ta… tapi… kita belum lama mengenal… dan aku…"
"Kau mungkin tidak percaya padaku, tapi aku… aku adalah orang yang paling sulit jatuh cinta. Tapi sejak pertama kali aku melihat senyummu di depan rumah waktu itu. Hatiku mulai tidak beres, aku mulai terus ingin bertemu denganmu dan selalu merasa kecewa karena kau adalah calon istri Sehun. Aku mencintaimu… sejak awal"
Baekhyun mengatup rapat bibirnya. Jujur saja Baekhyun tidak menyangka jika Chanyeol berani mengutarakan perasaannya secepat itu. Tidak mau munafik, Baekhyun memang belakangan ini mulai tertarik pada pria bertelinga lebar itu. Terlebih lagi Sehun juga sering membuatnya menghabiskan banyak waktu bersama Chanyeol.
"Apa keluargamu tidak keberatan jika aku tidak punya orang tua?"
"Sama sekali tidak"
"Apa keluargamu tidak keberatan jika aku akan bergantung pada keluarga kalian?"
"Tentu saja tidak"
"Apa kau benar – benar serius dengan apa yang kau katakan?"
"Tentu saja… aku serius, aku mencintaimu Byun Baekhyun"
Baekhyun menatap Chanyeol dengan mendongakkan wajahnya, terang saja, Baekhyun hanya setinggi dada Chanyeol.
"Aku juga mencintaimu…"
Sedetik kemudian Chanyeol langsung mendekatkan tubuhnya pada tubuh Baekhyun dan pria itu mulai menundukkan kepalanya. Perlahan tapi pasti bibir kissable Chanyeol mulai mendekat pada bibir tipis Baekhyun,
GEP
Baekhyun menghentikan pergerakan Chanyeol ketika hanya tinggal 1 cm lagi bibir mereka saling bersentuhan. Chanyeol langsung kaget dan membulatkan matanya, pria itu takut telah berbuat salah, namun Bakehyun hanya tersenyum.
"Tapi statusku masih calon istrinya Sehun…"
Canyeol ikut tersenyum lalu menggelengkan kepalanya… "Tidak… sudah tidak lagi, mulai detik ini… di hadapan kakekmu aku bersumpah akan selalu menjagamu dan menjadi pelindungmu. Aku mencintaimu Byun Baekhyun"
CHUP
Sebuah kecupan hangat dan dalam Chanyeol berikan pada bibir tipis Baekhyun yang terasa sagat manis. Kedua lengan kekar Chanyeol melingkar di pinggang Baekhyun, membuat gadis itu merasa sangat aman dan nyaman di dalam pelukan pria jangkung itu. Baekhyun dapat merasakan bahwa tubuhnyanya berdesir, Baekhyun bahkan sudah sangat yakin bahwa pipinya sudah sangat memerah kali ini. Entah Baekhyun harus bahagia atau kaget dengan apa yang terjadi secara tiba – tiba di hidupnya. Namun dengan tau bahwa Chanyeol juga mencintainya, Baekhyun merasa sudah cukup bahagia.
.
.
.
"Transfusi darah berhasil,"
"Kontrol tekanan darah Jaehun dan Dokter Kim Jongin… ku mohon kau pantau saluran pernapasannya"
"Baik"/ "okay"
Jemari panjang Yifan dengan cekatan membelah dada Jaehun dengan belahan melintang. Sesuai dengan garisan yang telah Yifan gambar sebelumnya. Yifan melakukan semua yang terbaik yang dia bisa, disana masih ada Zitao, Jongdae dan Jongin yang datang membantu Yifan.
Jongdae merasa sedikit bingung kenapa Yifan tidak mau mengambil tindakan operasi untuk Jaehun sebelum – sebelumnya. Bukankah operasi kebocoran jantung bahkan bisa dilakukan pada bayi berusia 3 bulan?
Tit tit tit tit tit
Suara dari monitor pemantau detakan jantung terdengar lebih cepat dan tak beraturan dan itu mengusik pikiran Jongdae. Jongdae kembali melihat bagaimana Yifan menangani jantung bocah tampan itu. Jongdae akui, Wu Yifan adalah dokter ahli bedah jantung yang memang mumpuni di bidangnya. Sama dengan sang istri, hanya saja Wu Yifan merupakan dokter lulusan Amerika yang memiliki sertifikat dokter yang handal. Tapi, bagaimana cara Zitao terus menatap setiap proses pembedahan dan operasi membuat Jongdae merasa janggal.
"Pasang ini sampai ritme jantungnya normal" ujar Yifan pada seorang perawat yang mendampinginya.
Jongin yang juga dari tadi mendampingi Yifan memfokuskan perhatiannya pada paru – paru dan transfusi darah ke tubuh Jaehun. Jongin terus mengatakan bahwa darah kotor Jaehun masih merembes ke areal itu. Dan disana Jongdae mengerti, Yifan tidak pernah mengambil tindakan apapun semacam operasi untuk kebocoran jantung bocah itu adalah karena Yifan memang ingin mempertahankannya. Yifan juga tidak memasang alat pemacu detak jantung padahal ritme jantung bocah itu termasuk tidak normal karena Yifan memang ingin mempertahankan anak itu.
Ada keadaan dimana Jantung sangat sensitif, meski memiliki kelainan namun tidak semua kelainan memiliki letak masalah yang sama. Ada jantung dengan kelainan bawaan yang dapat dengan mudah ditanganni, dan ada pula jantung yang memang memiliki letak yang sangat kompleks. Dan disitu juga Jongdae baru sadar. Posisi jantung Jaehun juga tidak sama dengan posisi jantung pada umumnya.
"Dokter Kim Jongin, apa darahnya masih masuk ke paru – paru?" Yifan bertanya pada Jongin namun tangannya masih terus menekan salah satu bilik jantung Jaehun
"Masih Dokter Wu,"
Yifan melipat bibirnya dibalik masker yang dia kenakan. Setengah mati Yifan berusaha untuk tenang menghadapi jantung Jaehun, berusaha untuk menemukan titik kebocoran dan memperbaikinya. Yifan tau betul, Jaehun memiliki tiga titik kebocoran. Dua kebocoran kecil terletak di bagian klep bilik kanan dan satu kebocoran besar terletak dibagian serambi. Celakanya bagian serambi jantung Jaehun letaknya jauh ke dalam dan mendesak paru – parunya. Itulah yang membuat Jaehun cepat memuntahkan darah ketika kebocoran mulai terbuka parah.
"Dokter Kim Jongdae, tolong observasi lokasi kebocoran sebelum kita menutupnya. Aku sudah membersihkan ruangan pada jantungnya"
Yifan meminta Jongdae untuk mengobservasi titik masalah. Namun beberapa saat Jongdae baru mengobservasinya, ritme jantung Jaehun kembali melemah.
"Tingkatkan tegangan pada alat pacu, Dokter Wu kita bisa mulai menutup bagian ini. Kita akan menutupnya dua kali, karena posisinya juga cukup sulit"
"Baiklah. Dokter Kim Jongin ku mohon pastikan oksigen masuk ke dalam paru – parunya dan… dokter Huang…."
Kedua mata Yifan dan Zitao saling bertemu sesaat sebelum akhirnya Yifan berkata, "Jangan meninggalkan posisi itu sampai semua selesai"
Zitao tidak mengerti apa maksud Yifan, namun tetap saja, gadis itu tetap berdiri tepat di ujung kaki Jaehun sesuai permintaan Yifan.
TIIIIIIIIIIIIIIIT
Belum lama proses penutupan dilakukan, jantung Jaehun akhirnya berhenti berdetak.
.
.
.
Luhan duduk dan membaringkan kepalanya di bahu Sehu. Mereka berdua masih setia duduk di ruang tunggu bersama Oh Junhong, Tuan Oh dan Nyonya Oh. Nyonya Oh yang duduk di samping Luhan pun ikut mengusap – usap kepala Luhan. Wanita itu tau betul bagaimana perasaan Luhan. Sebagai seorang ibu, pasti rasanya ingin sekali bertukar posisi dengan sang anak. Lebih baik dia yang merasakan sakitnya daripada harus melihat anaknya kesakitan.
"Kau adalah ibu yang kuat sayang…" Jaejong berkata lembut dan itu membuat Luhan merasa cukup nyaman. Sudah lama sebenarnya dia ingin membagi perasaan sebagai seorang ibu kepada orang yang mengerti, tapi tak satupun mengerti selama ini.
Luhan memindahkan kepalanya dan berakhir bersandar dalam pelukan Jaejong, ibu dari orang yang paling dia cintai.
"Aku sangat takut, eomma" lirih Luhan dan air matanya kembali jatuh
"Jangan takut sayang… semua pasti akan baik – baik saja. Jaehun belum bertemu dengan kami kan? Dia pasti sembuh… pasti"
Luhan mempererat pelukannya pada Nyonya Oh. Disisi lain Sehun yang melihat itu semua merasa jauh lebih tenang. Itulah pemandangan yang dia inginkan selama ini. Bukankah keluarga yang utuh rasanya lebih hangat.
"Sehun-ah…"
Yunho yang duduk di sebelah Sehun menyadarkan pria tampan itu dari lamunannya. Wajah Yunho yang dulu biasanya kaku kini lebih terlihat tenang dan hangat. Jujur saja, dulu Sehun sendiri jarang menerima perhatian dari sang ayah. Yunho tentu sibuk mengurusi semua bisnis keluarga yang diwariskan oleh kakek Sehun secara utuh kepada ayahnya itu. Yunho dan Jaejong punya sedikit sekali waktu untuk memperhatikan Sehun dan Junhong ketika kedua pria tampan itu masih di usia anak – anak.
"Appa dengar kau dan Luhan… sebenarnya sudah bercerai, benarkah?" Yunho bertanya dengan lembut dan sangat berhati – hati
"Ya… itu benar Appa, kami sudah bercerai selama hampir 6 tahun" Sehun merendahkan suaranya, pria itu tentu malu mengakui semua kebodohan yang dia lakukan dimasa lalu.
"Lalu apa rencanamu untuk kedepannya? Tidak kah kau memikirkan bagaimana kedua putramu jika sampai kalian benar – benar berpisah dan membangun keluarga baru?"
"Appa… sebenarnya aku dan Luhan berencana untuk kembali membangun rumah tangga. Membangun keluarga yang lebih baik dan sehat. Aku akui, dulu usia dan kematangan emosi kami masih belum stabil untuk menghadapi semuanya. Hingga semua berakhir berantakan seperti ini. Tapi setelah lama berpisah akhirnya kami sadar bahwa, tidak ada alasan untuk kami tetap seperti ini. Aku mencintai Luhan dan Luhan pun mencintaiku. Terlebih, kami berdua punya Jaehun dan Jaehan yang harus kami pertahankan"
Yunho tersenyum tipis lalu menepuk bahu putra sulungnya. Yunho sendiri merasa bangga akan pemikiran sang putra saat ini. Jika itu Sehun yang dulu, makas sudah dipastikan dia tidak akan berpikir matang. 8 tahun bukanlah waktu yang yang singkat untuk mengubah pribadi seseorang. Yunho sendiri membenarkan bahwa Sehun kini sudah jauh lebih dewasa, matang dan bertanggung jawab. Bahkan pria dengan wajah teduh itu masih ingat betul wajah egois dan emosional Sehun 8 tahun yang lalu, namun wajah itu tak sama sekali Yunho temukan pada Oh Sehun yang ada di hadapannya kali ini.
"Kalau begitu, setelah semua ini berakhir… setelah Jaehun sembuh dan keadaan mulai membaik. Ajak Appa untuk bertemu dengan orang tua Luhan. Kita lamar wanita yang kau cintai. Kita mulai semuanya dari awal, memulai semuanya dengan awal yang lebih baik. Ini belum terlambat untuk memperbaiki keadaan. Apa kau setuju?"
Sehun membulatkan mata sipitnya seketika, mana bisa dia percaya jika kalimat panjang itu terlontar dari bibir sang ayah. Dan apa kata ayahnya barusan, melamar Luhan? Itu adalah hal yang sangat ingin dia lakukan bahkan sejak hari pertama mereka perpacaran dulu.
"Tunggu… bukankah hubungan Appa dengan ayah Luhan memburuk setelah… apa yang terjadi dulu?"
"Buruk… sangat buruk. Dulu sebelum kau datang pada kami dan bilang kalau Luhan tengah mengandung anakmu, hubunganku dengan Zhoumi sangat baik. Kami bahkan menjalankan hubungan bisnis dengan keuntungan yang sangat bagus. Tapi ketika saat itu terjadi, hubunganku dan Zhoumi terputus. Tentu saja, aku tidak menyalahkan Zhoumi yang marah padaku. Ayah mana yang tidak akan marah ketika putri bungsu kesayangannya tiba – tiba dihamili oleh anak ingusan macam kau dulu?!"
Sehun tersenyum canggung sementara Yunho terkekeh geli. "Aku rasa sudah saatnya aku pun memperbaiki kerusakan yang aku buat sebelum semua terlambat. Aku yakin, 8 tahun adalah waktu yang cukup untuk membuat Zhoumi juga merasakan hal yang sama denganku. Karena sejujurnya Sehun-ah… semarah apapun orang tua pada anaknya, tak ada satupun orang tua yang tidak merindukan buah hati mereka. Tentu saja dengan kehadiran dua maha karya kembar yang kalian berdua ciptakan."
"Maha karya?"
"Anak – anak kalian… Jaehun dan Jaehan… generasi penerus keluarga kita. Mereka adalah maha karya…"
Sehun tak bisa menahan senyumnya, begitu pula dengan Yunho yang tersenyum memandangi Sehun.
"Dan sejujurnya aku masih tak menyangka, anakku sudah bisa memberikanku cucu, bahkan dua sekaligus. Usiaku masih terlalu muda untuk dipanggil kakek, iya kan?"
"Appa…"
GREB
Yunho memeluk Sehun dengan penuh kehangatan. Tak usah ditanya lagi darimana Sehun mendapatkan bakat untuk menjadi ayah yang baik. Nampaknya itu sudah menurun dari darah keluarga Oh. Meskipun Yunho akui dia sempat tidak mengacuhkan Sehun, tapi sebenarnya dia amat sangat mencintai putra sulung yang sampai saat ini masih dia banggakan.
"Pulanglah nak… bawa keluargamu pulang. Beri tau pada kedua anak – anakmu bahwa mereka punya kakek dan nenek yang sangat merindukan mereka."
"Pasti, appa… aku pasti akan membawa keluargaku pulang"
.
.
.
Sebuah meja makan panjang dengan hidangan ala Beijing super lezat terhidang diatasnya. Disetiap sisi meja itu diduduki oleh orang – orang yang tergabung dalam satu keluarga. Hari itu adalah hari dimana keluarga Lu mengadakan acara kumpul keluarga bersama. Acara itu memang rutin dilakukan tiap pertengahan bulan.
Lu Zhoumi sang kepala keluarga duduk di ujung meja makan didampingi oleh Song Qian sang istri. Disampingnya ada Henry Lu yang tengah duduk memangku Krystal Lu, seorang gadis kecil berusia 4 tahun yang sedang dipaksa minum obat flu oleh sang ibu, Amber Liu. Diseberang meja seorang pria dengan wajah teduh dan tampan sedang berbincang dengan mertuanya, dia adalah Kim Junmyeon, suami dari Lu Yixing yang duduk tepat disebelahnya. Yixing mengusap perutnya yang buncit, sambil mengusap Yixing juga sedang memikirkan sesuatu.
Yixing memikirkan Luhan. Tentu saja, 8 tahun acara keluarga tanpa Lu Han sang adik bungsu adalah 8 tahun terburuk bagi Yixing. Meskipun kini keluarga mereka sudah semakin ramai dengan menikahnya Henry dan Amber, Yixing dan Junmyeon dan juga hadirnya Krystal dan sebentar lagi bayi dalam perut Yixing juga akan lahir ke dunia, tetap saja, ada yang kurang didalam hati Yixing.
Sudah 8 tahun juga, Yixing tidak melihat senyum riang sang ibu. Nyonya Lu memang wanita ramah yang murah senyum, namun Yixing jelas mengerti bahwa senyum sang ibu saat ini tidaklah senyum yang sama seperti saat keluarga masih lengkap.
Yixing membayangkan bagaimana jika di kursi sebelahnya ada Luhan yang duduk berdampingan bersama Sehun, dan juga kedua anak kembar mereka yang ikut meramaikan suasana bersama Krystal sepupunya. Pasti ruang makan keluarga Lu akan terasa lebih hangat.
"Kau memikirkan apa sayang?" Junmyeon membuyarkan lamunan Yixing dan Yixing baru sadar jika seluruh mata di meja makan itu tertuju padanya.
"Apa kau merasa tidak nyaman, Xingie?" sang ibu memperhatikan Yixing dengan seksama
"Ya… aku merasa sangat tidak nyaman" ujar Yixing mantap
"Apa kau merasakan sesuatu? Tentang kehamilanmu?" kali ini amber yang bertanya pada Yixing
"Tidak… sesuatu yang membuatku tidak nyaman bukanlah janin dalam perutku" ucap Yixing dengan senyum dingin
"Kenapa sayang? Kau mau makan sesuatu?" Junmyeon kembali bertanya
"Tidak…"
"Lalu apa yang membuatmu tidak nyaman?" kali ini Zhoumi yang bertanya dan pria itu nampak penasaran sekaligus khawatir
"aku tidak nyaman dengan kursi kosong disebelahku, Papa… Ini adalah kursi dimana seharusnya ada Luhan dan keluarga kecilnya duduk bersama kita disini"
"LU YIXING! Jangan sebut nama itu lagi!"
"Luhan juga putri papa! Dia adalah bagian dari keluarga ini!"
"Aku tidak pernah punya anak selain kau dan Henry!"
"Ada Luhan papa… ada Luhan!"
"CUKUP! Sekali lagi papa bilang, tidak ada nama itu dalam hidup kita!"
Yixing memandang tajam wajah sang ayah, sementara Junmyeon menggenggam erat tangan istrinya. Pria itu mencoba untuk menenangkan Yixing namun wanita yang tengah berbadan dua itu nampaknya sudah tidak tahan lagi.
"Baiklah… jika memang itu yang Papa inginkan. Jika nama Luhan tidak ada lagi di dalam keluarga ini, maka nama Lu Yixing pun juga tidak ada."
Ying mendadak berdiri dari duduknya dan itu membuat seluruh penghuni rumah menjadi tegang. Bahkan si kecil Krystal yang tadi merengek kini diam melihat bibinya yang sedang marah.
"Xingie… tenangkan dirimu… kau mau kemana sayang?"
"Ayo kita pergi dari sini Junmyeon-ah… aku muak menjadi anak dari orang yang keras hati seperti dia!"
Junmyeon sontak berdiri dan kembali mendudukkan Yixing dengan cepat namun lembut. Yixing nampak tak terima dengan perlakuan Junmyeon tapi wanita itu hanya memandang suaminya saja.
"Jaga sikapmu sayang, kau sedang hamil. Kau melawan orang tuamu disaat kau sedang hamil? Tidak sayang… itu tidak boleh" ujar Junmyeon dengan nada tegas namun lembut.
Sejenak suasana menjadi hening. Henry meminta istrinya untuk mengajak putrid semata wayangnya keluar dari ruangan itu. Bagaimanapun juga situasi itu tidak baik disaksikan oleh anak – anak seusia Krystal.
"Aku dan Junmyeon bertemu dengan Luhan. Tidak hanya Luhan, kami juga bertemu dengan Sehun dan kedua putra mereka."
Zhoumi masih memasang wajah kakunya saat Yixing mulai bercerita, berbeda dengan Nyonya Lu dan Henry yang terlihat memperhatikan apa yang Yixing katakan. Bagaimanapun juga Luhan tetaplah bagian dari keluarga itu, itu yang Yixing ingin sampaikan pada keluarganya.
Yixing menceritakan apa yang dia tau tentang kehidupan Luhan. Yixing menceritakan semua yang dia tau mulai dari pernikahan Luhan, keadaan Luhan dan Sehun saat ini, karir Sehun dan Luhan, kedua putra kembar mereka hingga keadaan kesahatan dan juga psikis si kembar.
Ketika seluruh anggota keluarga Lu mulai masuk ke dalam cerita Yixing, Junmyeon kemudian juga ikut menambahkan beberapa hal yang dia rasa penting.
"Keluarga kecil mereka amat sangat memerlukan dukungan dari keluarga besar kita. Meskipun mereka sudah dewasa dan hidup mandiri, tapi kita tetap tidak bisa membiarkan anak – anak mereka tumbuh di lingkungan yang kurang sehat. Jika boleh aku meminta kepada Papa dan Mama, aku mohon, ini semua demi Jaehun dan Jaehan, ini semua demi kedua cucu kalian. Mereka juga darah daging kalian bukan? Mereka berdua juga sama seperti Krystal dan sama seperti janin yang dikandung dalam perut Yixing. Jaehun dan Jaehan berhak atas kasih sayang kalian. Aku mohon… ini semua bukan untuk Luhan, tapi untuk Jaehun dan Jaehan, cucu kalian."
Zhoumi langsung bangkit dari duduknya dan pergi masuk ke ruang kerjanya. Zhoumi nampak sangat terpukul dengan segala kenyataan yang baru saja dibeberkan Yixing dan Junmyeon. Kenyataan terpahit yang menampar Zhoumi adalah kenyataan tentang keadaan psikis kedua cucu yang sama sekali belum pernah dia lihat.
Zhoumi menyesal, kemarahan tidak logisnya telah menghancurkan tidak hanya hidup Luhan tetapi juga hidup Jaehun dan Jaehan yang sama sekali tidak bersalah. Mungkin Sehun dan Luhan patut diberi hukuman yang keras, tapi HunHan? Mereka sama sekali tidak bersalah, dan mengapa harus mereka yang menerima semua hukuman ini?
"Kau menyesal?" suara lembut sang istri yang datang secara tiba – tiba mengagetkan tubuh ringkih Zhoumi.
"Kau telah membuangnya, Lu Zhoumi… jika kau tetap bertahan dengan keegoisanmu maka aku juga akan pergi dari rumah ini. Aku akan mencari putriku yang kau buang!"
"Aku hanya ingin memberinya hukuman, Qian… aku tidak bermaksud untuk merusak hidup mereka apalagi kehidupan cucu kita"
Zhoumi mulai menitikan air matanya. Seluruh rasa penyesalan merasuk kedalam setiap sendi dan urat nadinya.
"Hanya kau yang bisa menghentikan semua ini. Aku sudah lelah meminta padamu untuk mencari Luhan dan membawanya kembali. Ini adalah permintaan terakhirku, tapi jika kau tidak mau mencari mereka, aku sendiri yang akan pergi…"
Sang istri baru saja ingin beranjak, tapi Zhoumi lebih dulu menahannya. Pria itu menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Ayo kita akhiri ini semua, kita cari Luhan…"
.
.
.
Sudah tiga menit jantung Jaehun tidak kunjung berdetak lagi, tangan Yifan mulai bergetar dan Zitao sudah mulai menangis di ujung kaki Jaehan. Jongdae sendiri sudah menggelengkan kepalanya, menyarankan agar Yifan menutup bedahan di dada Jaehun dan mengembalikan Jaehun dengan status sudah tidak bernyawa. Demikian pula dengan Jongin yang sedari tadi terus mengontrol napas Jaehun, pria berkulit tan eksotis itu juga sudah memvonis bahwa tubuh Jaehun sudah tidak bernyawa.
"Jantung Jaehun sangat lemah, ritme detak jantungnya sangat bertentangan dengan kebocoran yang terjadi. Jadi wajar jika dia… tidak bertahan" ujar Jongdae sementara Yifan masih diam terpaku dalam kekosongan
"Anak ini sudah tiada, Dokter Wu…" Jongin berusaha menyadarkan Yifan dari lamunannya
BRUGH
Zitao jatuh terduduk dilantai dingin ruang operasi, beberapa perawat langsung menghampiri gadis itu.
Yifan melepas sarung tangannya lalu memegang tangan Jaehun erat – erat, tangan itu sudah terasa beku dan dingin. Wajah lemah dan tubuh Jaehun yang terbaring diam di meja operasi membuat Yifan semakin ketakutan. Yifan memandang lagi pada motior yang menunjukkan detakan jantung Jaehun, namun garis yang muncul hanyalah garis lurus dan bunyi berdenging.
"Apa aku benar – benar bisa sembuh? Apa paman dokter… benar – benar bisa menyembuhkanku?"
Kembali terngiang pertanyaan yang bocah itu tanyakan. Yifan berjanji untuk menyembuhkan Jaehun, tapi yang dia lakukan malah sebaliknya.
Dia membunuh anak itu.
.
.
.
.
To be continue
.
.
.
Chapter 7: Reset
"Karena dikehidupanmu yang lalu… kau adalah Hyungku"
.
.
.
.
.
.
Annyeonghaseyo! Yo! Yo! Yo!
Kampret. Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi aku sejak tanggal 29 Desember kemaren. Tanggal 29 aku mendaki salah satu gunung karena emang lagi ada acara di sana, acara semacam charity. Dan disana sama sekali gak ada sinyal. Begitu tgl 30 aku mau update, sinyalnya bapuk banget, sampe aku turun gunung pun sinyal masih kampret banget. Dan mulai dari sini masalahnya. Tas yang isi laptop aku kerendem sama yang ngangkut barang – barang. Tas aku nyemplung ke danau dan laptop aku mati total! Disana aku masih positif thingking dengan mikir 'aku pasti nyimpen semua file di dropbox' tapi kampret. Ternyata aku gak nyimpen 2 chapter terakhir di dropbox. Nah pergantian dari 30 ke 31 itu aku panik setengah mati.
.
Dan akhirnya pilihan jatuh pada…. Aku buat ulang lagi Chapternya dari awal. Chap 6 dan 7! Aku buat ulang. Dan sialnya aku gak bisa ngetik secepet biasanya karena kemaren itu aku dan beberapa anak meme maker (meme maker di IG) lagi ada acara juga. So aku bikinnya selang seling sambil ikutin itu.
.
Buat HunHan Indonesia yang ngadain G.A aku minta maaf banget ga bisa selesaiin ini tepat waktu. Banyak acara yang gak aku buat tapi harus aku ikutin di akhir tahun. I cannot blame my Mom for packing my schedule without my permission. T_T maafin aku… Maafin laptopku yang nyebur ke danau. Maaf ya…
.
Dan maaf juga untuk Chapter ini. It's a must.
sincerely
-xiugarbaby-
