HUNHAN FOREVER! HUNHAN FOR LIFE!
.
HUNHAN GIVE AWAY CHALLENGE!
.
.
xiugarbaby (formerly Aruna Wu)
presents
.
"E.N.D"
.
HunHan
.
GS – Rated M – Family Life – Hurt/Comfort – Drama – Angst
.
.
.
.
Happy Reading! ^^
.
.
.
"Time of death, 6pm KST"
Seorang dokter mengumumkan waktu kematian pasiennya diiringi dengan sebuah isakan tangis dari seorang wanita cantik yang kini berada dalam pelukan pria yang beberapa jam lalu telah berjanji akan menjaganya.
Baekhyun sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menangis, tapi rasa sedih pasti akan muncul ketika kita ditinggalkan oleh seseorang yang teramat berarti untuknya. Semua peralatan medis telah dicabut dari tubuh sang kakek, di dalam ruangan ada beberapa tim medis yang melakukan prosedur pencabutan alat medis, ayah Baekhyun, Ibu tiri Baekhyun, adik laki - laki Baekhyun yang masih seayah namun berbeda ibu, juga beberapa orang pengacara dan Chanyeol yang masih memeluknya erat.
"Suster Han, cepat tangani jasad Tuan Byun. Dokter Lee, segera buatkan dokumen kematian beliau. Asisten Jo, segera rapikan ruangan ini." Dokter yang tadi mengumumkan kematian kakek Baekhyun memerintah anak buahnya untuk melakukan tindakan lanjut.
"Baiklah, tugas tim medis telah selesai. Anda bisa menemui saya sejam lagi untuk penandatanganan dokumen jenazah. Kami turut berduka cita." kata dokter itu lagi pada ayah Baekhyun.
Seorang pengacara membuka sebuah dokumen lalu menyerahkannya kepada ayah Baekhyun, "Tuan Byun, sesuai dengan surat wasiat yang mendiang buat jauh sebelum beliau meninggal maka… 70 persen harta benda dan asset milik tuan Byun Bongman jatuh sepenuhnya kepada nona Byun Baekhyun usia 25 tahun, cucu dari tuan Byun Bongman dan putri dari putra tunggal beliau, Byun Hyosung atas pernikahan pertamanya dengan Nyonya Kang Soeun. Sementara 30 persen sisa harta tuan Byun Bongman jatuh kepada tuan Byun Yoongi usia 13 tahun, cucu dari tuan Byun Bongman dan putra dari putra tunggal beliau, Byun Hyosung atas pernikahan keduanya dengan Nyonya Shin Jungah."
Ayah Baekhyun hanya melengkungkan sudut bibirnya dan mengangguk. Pria paruh baya itu pun segera menandataganni berkas yang pengacara itu berikan lalu diikuti dengan Baekhyun dan Yoongi.
"Baek noona…."
Seorang remaja tanggung yang dari tadi berdiri di sebelah Chanyeol memanggil sang kakak seayah beda ibu itu setelah berulang kali kepalanya mengitari kamar rawat VVIP kakeknya.
"Ne Yoongi-ah… ada apa?" Baekhyun langsung menatap Yoongi ketika tangan lentiknya selesai menandatangani surat wasiat dari kakeknya
"Anak kecil yang tadi tidur di sofa itu…. Dia menghilang…" uajar Yoongi seraya menunjuk kearah sofa di balik pintu kaca dibelakang Chanyeol
"Mwo? Jaehan-ah…." Chanyeol langsung berbalik badan dan terkejut melihat sofa yang tadi ditiduri oleh Jaehan itu kosong.
"Dimana Jaehan? Apa dia di toilet?" Baekhyun hendak berlari ke toilet namun Yoongi yang rupanya sudah lebih dulu mengecek toilet menyembulkan kepalanya dan berkata, "Anak itu tidak disini"
.
.
.
E.N.D
[Ex-Husband Next Door]
.
.
Chapter 7: Reset
"Karena dikehidupanmu yang lalu… kau adalah Hyungku"
.
.
.
Jaehan sedang duduk di sebuah bangku taman yang ada di sekolahnya. Bangku itu adalah bangku langganannya bersama Jaehun. Mereka biasa menghabiskan makan siang, bermain, belajar dan saling bertukar pikiran disana. Begitu juga kali ini, langit mulai kemerahan dan Jaehan merasakan semilir angin berdesir. Rasanya seperti musim semi, musim kesukaan Jaehun.
"Jaehan-ah…"
Jaehan mengangkat wajahnya dari buku yang dia baca dan menatap sang kakak yang tersenyum kepadanya.
"Ada apa hyung?"
"Apa kau pernah berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu?"
Jaehan langsung mengerutkan keningnya setelah mendengar pertanyaan Jaehun, pertanyaan yang Jaehan rasa sangat aneh. Jaehun adalah satu – satunya orang yang tak pernah mau mengucapkan kata berpisah dengannya, tapi kenapa sekarang dia menannyakan hal itu. Jaehan menelan ludahnya seraya menatap wajah Jaehun yang masih tersenyum kepadanya.
"Aku tidak pernah memikirkan itu." Jawab Jaehan singkat dan datar.
Jaehun mempoutkan bibir tipisnya, "Kenapa?" tanya anak itu.
"Kenapa Hyung harus meninggalkanku? Bukankah hyung sudah berjanji bahwa kita akan selalu bersama?"
Jaehun terdiam setelah mendapatkan jawaban dari Jaehan. Bocah itu nampak berpikir sejenak dan kemudian kembali berkata.
"Tapi tetap saja aku tidak bisa selamanya ada bersamamu, Jaehan-ah"
"Kenapa?"
"Entahlah… aku hanya merasa bahwa sebentar lagi sudah waktunya aku harus meninggalkanmu…"
"Kenapa hyung harus meninggalkanku? Memangnya hyung mau kemana?"
Raut wajah tenang Jaehan pelahan berubah masam, jujur saja anak itu sama sekali tidak mengerti apa maksud kakaknya.
"Aku tidak tau… tapi rasanya… aku harus pergi"
"Kemana?"
Jaehan sedikit meninggikan nada bicaranya, namun Jaehun hanya menggelengkan kepalanya. "Aku sudah tidak tahan, rasanya aku sangat lelah"
"Apanya yang melelahkan hyung? Aku tidak mengerti… kenapa hyung harus pergi? Hyung mau kemana?"
Pertanyaan bertubi itu terus dilontarkan oleh Jaehan, dan kini kepala Jaehun tertunduk. Bocah itu tak lagi menatap wajah sang adik yang kini sudah mulai memerah.
"Hyung sudah janji akan selalu menemaniku. Hyung sendiri yang bilang bahwa kita berdua dilahirkan bersama karena Tuhan ingin kita saling menjaga satu sama lain, kenapa sekarang hyung bilang kalau hyung mau pergi? Hyung mau kemana?"
Jaehun mengangkat wajahnya dan bersamaan dengan itu, Jaehun bisa melihat sorot mata ketakutan sang adik yang membuat hatinya memberat. Jaehun sendiri entah mengapa merasa harus pergi. Perlahan rasa sakit di dada kirinya memang sudah tidak terasa lagi, tapi entah kenapa rasa berat di hatinya malah membuatnya merasa seperti sesak.
"Eomma dan Appa yang akan menjagamu"
Satu air mata jatuh di pipi Jaehan. Cara Jaehan menangis adalah tangisan yang paling tidak Jaehun sukai. Jika benar – benar merasa sedih atau sakit, Jaehan akan menangis tanpa bersuara. Air matanya hanya akan jatuh begitu saja tanpa satupun isakan, namun sorot mata Jaehan yang tajam rasanya seperti menusuk Jaehun dengan berbagai macam perasaan.
"Satu – satunya orang yang tidak akan meninggalkanku adalah kau, hyung… dan aku percaya itu"
Jaehun tersenyum lalu mengulurkan satu tangannya untuk menghapus air mata di pipi Jaehan. Jaehan mengerutkan keningnya, tangan Jaehun terasa sangat dingin, tangan itu terasa seperti daging beku.
"Maaf…"
Hanya itu yang Jaehun katakan pada sang adik. Jaehan masih tetap diam memandang Jaehun dengan tatapan dingin yang sama.
"Hyung benar – benar akan pergi?" tanya Jaehan akhirnya.
Sejenak hening dan hanya suara gesekan dedaunan yang terdengar. Kedua mata Jaehan dapat melihat bahwa kali ini Jaehun tersenyum manis lalu mengangguk.
"Ng… Aku harus pergi, Jaehan-ah"
"Apa aku tidak boleh ikut?"
"Tidak… hanya aku yang akan pergi"
"Kenapa?"
Jaehun hanya diam dan tidak menjawab, hingga akhirnya seseorang datang dari balik badan Jaehan. Orang itu bertubuh tambun dengan badan yang tidak begitu tinggi, Jaehan sadar akan kehadiran orang itu namun tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak untuk melihat sosok yang datang.
"Oh Jaehun… maukah kau ikut bersamaku?"
Sebuah suara serak memanggil Jaehun seraya mengulurkan tangannya. Jaehan bisa melihat tangan keriput itu dari sudut matanya. Namun Jaehan sama sekali tidak mampu bergerak.
"Apa kita akan pergi ke tempat yang sama?" tanya Jaehun dan itu membuat Jaehan makin ketakutan. Bagaimana bisa Jaehun pergi bersama orang asing padahal dia yang adiknya sendiri malah tidak diajak.
"Mungkin saja…" ucap suara lemah itu. Jaehan ingin sekali menghalangi Jaehun untuk meraih tangan itu. Namun Jaehan tak punya kekuatan apapun. Dia merasa lemah dan kaku disaat yang bersamaan.
"HYUNG!..."
Jaehun menoleh lagi pada Jaehan, "Ne?"
"Khajimma…"
Jaehan langsung terduduk ketika matanya mulai terbuka. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya yang dingin dan bergetar. Jaehan sempat menghela napas panjang ketika dia sadar bahwa apa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi. Namun sedetik kemudian Jaehan langsung mengernyitkan matanya. Dia terbangun di tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Ini bukan lah kamarnya, kamar ibunya ataupun kamar ayahnya. Dia terbangun di sebuah ruangan yang berisi beberapa sofa, hiasan ruangan dan meja kecil di tengahnya. Bocah itu langsung berdiri ketika dia menemukan dua buah pintu di ruangan itu. Satu pintu slide kaca yang tertutup dan sebuah pintu lain berwarna coklat yang terbuka. Jaehan memilih untuk membuka pintu berwarna coklat itu lebih lebar dan pintu itu berhasil membawanya keluar dari ruangan itu.
Begitu ada di luar ruangan, Jaehan langsung disambut dengan pemandangan lorong rumah sakit yang sudah amat sangat tidak asing baginya. Bocah tampan yang mewarisi wajah sang ayah itu segera mengingat apa yang terjadi padanya sebelum dia tertidur.
Ya… dia mengantar kakaknya cek up siang ini. Tapi kenapa dia bisa ada di ruangan itu?
Dan akhirnya Jaehan pun tau, jika dia sudah terbangun tanpa Jaehun di sampingnya, terlebih saat dia bangun dia berada di rumah sakit, itu artinya sesuatu pasti sudah terjadi pada Jaehun. Tubuh Jaehan kembali bergetar, perasaan di dalam hatinya terasa campur aduk, namun rasa takut nampaknya lebih mendominasi. Dia takut jika mimpinya barusan adalah sebuah kenyataan. Apa benar Jaehun akan meninggalkannya?
Kaki Jaehan melangkah lebih cepat menyusuri lorong rumah sakit itu. Feelingnya yang kuat menuntun kakinya untuk berjalan entah kemana, dia sendiri tidak mengerti, yang dia tau, dia mencari kakaknya.
.
Di luar ruang operasi, semua orang masih menunggu dengan penuh harap. Sudah 3 jam pasca Jaehun masuk ke ruang operasi namun belum ada titik terang apapun dari dalam sana. Oh Junhong, adik Sehun sudah kembali ke kantor untuk mengurus hal penting yang tak bisa ditinggalkan, sementara Tuan dan Nyonya Oh masih setia duduk di kursi ruang tunggu sambil berdoa untuk sebuah keajaiban bisa diberikan pada salah satu dari cucu mereka yang sedang berjuang di dalam sana. Sehun sendiri dari tadi terus mondar – mandir di depan pintu ruang operasi, tidak biasanya Sehun seperti itu. Biasanya jika sesuatu terjadi pada Jaehun, Sehun adalah orang yang bisa bersikap sangat tenang hingga pria itu terkesan seperti tidak peduli sama sekali. Namun hari ini berbeda, Sehun benar – benar tidak bisa mengontrol kecemasannya.
Sedangkan di kursi lainnya Luhan memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di tembok. Persetan dengan fashion show yang akan berlangsung, jujur saja Luhan sudah tidak peduli akan karirnya lagi. Yang dia pedulikan hanyalah Jaehun di dalam sana. Ada banyak hal melintas di kepala Luhan dan semua pikirannya bukanlah pikiran yang ringan. Dalam kepala wanita cantik itu ada banyak sekali penyesalan dan makian untuk dirinya sendiri. Jaehun, ternyata anak itu selalu menderita dan menahan sakit karena kesalahannya. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Jaehun maka yang patut dipersalahkan adalah dirinya sendiri. Luhan mengutuk dirinya berulang kali karena telah mempercayakan nyawa buah hatinya di tangan orang yang salah. Selama ini Luhan sangat mempercayai Yifan, bahkan dia lebih percaya pada dokter tampan itu daripada suaminya sendiri. Luhan pikir Yifan memang benar – benar tulus ingin menyembuhkan Jaehun dan berjuang untuk kesehatan putra sulungnya. Namun kenyataan yang terkuak hari ini seperti sebuah tamparan dan ejekan untuk semua sikapnya.
Saat ini jangankan untuk berkutik, menatap Sehun pun Luhan tak punya nyali. Luhan masih terus merutuki kebodohan yang sudah selama 7 tahun ini dia lakukan. Kepala Luhan mem flashback semua kejadian yang telah terjadi sejak dia mulai untuk percaya pada Yifan. Dan kepercayaannya itu tanpa dia sadari telah merubah dirinya sendiri menjadi orang yang apatis terhadap orang lain selain Yifan. Dimulai dari pertengkaran kecil yang sering terjadi antara Sehun dan Luhan sejak Jaehun mulai sakit – sakitan, hingga sikap Luhan di masa lalu yang selalu banyak menuntut, egois, emosian dan tidak pernah mau percaya semua yang Sehun katakan. Luhan akhirnya sadar, dulu dia kehilangan Sehun bukan karena Sehun yang meninggalkannya. Dia kehilangan Sehun karena sikapnya sendiri. Luhan bahkan sadar, dulu pun Sehun dengan emosi yang tak sestabil sekarang sudah mencoba sesabar mungkin untuk menghadapi sikapnya yang tak karuan. Dan sekali lagi Luhan menyesal karena baru sekarang dia dibuat sadar oleh kenyataan, Sehun adalah orang yang benar – benar mencintainya dan juga kedua buah hatinya. Sehun adalah orang yang selalu mencoba bertahan dan mengerti dirinya.
Dihadapan Luhan kini Sehun terlihat sangat resah dan lelah. Luhan tau, biasanya Sehun akan selalu bersikap tenang hingga terkesan tak peduli di matanya. Luhan bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Sehun kemudian menggenggam tangan mantan suaminya itu dengan lembut.
"Sehun-ah…"
Suara Luhan terdengar lemah dan serak. Jejak air mata di pipi Luhan memang belum sepenuhnya mengering, namun ketika Sehun mengangkat kepalanya dan menatap wajah ibu dari kedua anakknya itu, ada kekuatan tak kasat mata yang menguatkan kembali hatinya dari segala ketakutan yang menyiksanya selama ini. Wajah lemah dan lembut Luhan dan kenyataan bahwa wanita itu telah begitu keras mencoba untuk bertahan atas semua kekacauan yang diperbuat olehnya membuat Sehun tidak ingin menjadi lemah dan kehilangan kekuatan hatinya.
Sehun semakin yakin, jika dirinya lemah disaat seperti ini lalu siapa yang bisa menjadi tumpuan Luhan dan putra kembarnya di kemudian hari? Yah… begitulah kenyataan yang selalu dihadapi oleh seorang pria yang berstatus sebagai suami yang meskipun telah berpisah dan juga ayah. Seorang pria dewasa macam Sehun tentu punya perasaan, pria juga manusia, ada banyak hal yang sebenarnya mereka takutkan dan ada banyak hal pula yang sebenarnya mereka resahkan. Tapi… menjadi kuat adalah tanggung jawab seorang pria. Seberapapun takut dan resahnya Sehun saat ini, dia tidak boleh menjadi sosok lemah yang berlarut dalam keadaan yang sangat menyakiti hatinya saat ini. Tentu saja, ayah mana yang tidak sakit melihat salah satu dari anaknya meregang nyawa sendirian di atas meja operasi?
Baru saja Sehun kembali mendapatkan kekuatannya kembali, dia langsung melihat sesosok bocah kecil berjalan pelan dengan tatapan kosong menuju kearahnya berdiri bersama Luhan saat ini.
"Jaehan-ah.." Sehun menyambut kedatangan sang buah hati dengan senyum yang agak dipaksakan
Bersamaan dengan itu Luhan juga Tuan dan Nyonya Oh berbalik untuk melihat siapa yang disapa oleh Sehun. Seketika Luhan langsung mengusap air matanya dan langsung merendahkan tubuhnya untuk menyambut sang buah hati. Berbeda dengan Tuan dan Nyonya Oh yang terpaku di posisi masing – masing karena untuk pertama kalinya, akhirnya, mereka bisa bertemu dengan malaikat kecil yang amat sangat mereka rindukan. Namun perasaan yang seharusnya bahagia malah terganjal oleh raut wajah lesu dan sorot mata kosong penuh ketakutan dari anak itu.
"Jaehan-ah wae?" sambut Luhan seraya merapikan rambut Jaehan yang cukup berantakan.
"Hyung… eodisseo?"
Pertanyaan singkat dengan nada lemah itu sedikit mencabik perasaan Luhan. Seharusnya Luhan sudah terbiasa dengan keadaan ini, ini bukan pertama kalinya Luhan memberi kabar buruk pada si putra bungsu akan keadaan putra sulungnya.
Sehun langsung ikut merendahkan tubuhnya dan membawa Jaehan kedalam pelukannya lalu berkata, "Hyung sedang diobati oleh paman dokter di dalam"
Jaehan melebarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang tunggu operasi itu, namun ketakutan malah semakin meknyerbu pikiran bocah tampan itu. Fakta bahwa ini adalah kali pertama sepasang mata kecilnya menangkap tulisan 'RUANG OPERASI' –lah yang membuatnya tidak nyaman. Baru kali ini Jaehan membacanya. Biasanya jika Jaehun tengah diobati, Jaehan hanya akan menunggu di depan sebuah ruangan bertuliskan 'ICU'.
"Jaehan-ah… disini kau rupanya…"
Chanyeol datang setengah berlari dengan napasnya yang kian tak beraturan. Terlihat dari cara pria tampan itu bernapas, bisa dipastikan bahwa baru saja dia dan kaki jenjangnya berlari mengitari rumah sakit yang sangat luas itu.
"Maaf, aku kira aku kehilangan Jaehan… Jaehan masih tidur saat acara pelepasan alat medis kakek Baekhyun namun setelah acara itu selesai, Jaehan sudah tidak ada di tempatnya" ujar Chanyeol yang masih mengatur napasnya.
"Mwo? Pelepasan alat medis kakek Baekhyun? Jadi beliau sudah…"
Sehun tidak mampu melanjutkan kata – katanya, dia tau apa arti dari ucapan Chanyeol, Sehun kira pelepasan alat medis baru akan dilaksanakan dua bulan mendatang sesuai dengan perjanjian pihak Rumah Sakit.
"Ya… Ayah Baekhyun ingin agar itu dipercepat karena dia harus mengurus kepindahannya ke New York secepat mungkin" jawab Chanyeol lugas
Sehun menghela napasnya cukup berat, ada sisi dalam relung hatinya merasa bersalah pada seorang gadis bernama Byun Baekhyun yang sampai saat ini masih berstatus calon isterinya itu. Bagaimana bisa dikeadaan yang sesulit itu Sehun lagi – lagi tidak bisa berada dengan Baekhyun. Tentu pria itu akan merasa semakin bersalah jika mengingat bahwa ini bukan lah kali pertama dia tidak bisa ada bersama Baekhyun ketika gadis itu dalam keadaan yang sulit. Sehun telah berulang kali membiarkan sahabatnya itu terbengkalai, sendirian. Dalam hati, Sehun semakin yakin bahwa kebenarannya adalah Sehun tidak akan pernah bisa membagi dirinya untuk Baekhyun ataupun keluarganya sendiri. Dan kali ini pun Sehun ikut setuju pada perkataan Baekhyun pagi tadi bahwa dirinya tidak mungkin bisa menjalankan dua rumah tangga sekaligus.
Sreeet
Sliding door ruang operasi terbuka memecah keheningan ruang tunggu. Semua mata langsung tertuju pada sesosok dokter dengan tubuh super model internasional yang sayangnya berwajah kusut tak karuan.
Zitao merasa seperti berdiri di tengah terror. Enam pasang mata dihadapannya langsung menatapnya dengan sebuah pertanyaan yang demi Tuhan sama sekali tak ingin dia jawab karena jawabannya pastilah akan membuat mata – mata itu basah seketika.
"Bagaimana Jaehun?" tanya Sehun ketika beberapa saat hening karena Zitao hanya diam diambang pintu ruang operasi
Zitao masih diam. Bibirnya yang mungil terkatup rapat seiring dengan air matanya yang masih mengucur. Perasaan tak karuan mulai menyergapi setiap denyut nadi Sehun dan Luhan. Mereka berdua hanya terus berharap agar Zitao tidak pernah mengabarkan berita buruk untuk mereka.
"Keadaan Jaehun semakin melemah…" ujar Zitao yang masih tak berani mengatakan bahwa Jaehun hanya memiliki peluang hidup tidak lebih besar dari 0.001 persen saja.
Sementara Oh Jaehan… bocah itu tak sama sekali peduli pada apa yang terjadi. Jaehan lebih berfokus pada pintu ruang operasi yang masih dibiarkan terbuka di belakang Zitao. Jaehan terus memandang pintu yang terbuka itu dan bertanya pada dirinya sendiri, "disanakah Hyung berada? Hyung tidak pergi kan?"
Yah… Jaehun tiba – tiba teringat kembali dengan mimpinya barusan. Mimpi terburuk sepanjang hidupnya, mimpi yang lebih menyeramkan dari monster yang ada di kolong tempat tidurnya.
"Hyung… khajimma…" bisik Jaehan dalam hatinya.
Perlahan kaki kecilnya melangkah maju menuju pintu yang terbuka, pintu yang didalamnya terlihat gelap dan dingin itu tak membuat kaki kecilnya gentar. Ketakutan untuk kehilangan Jaehun adalah ketakutan terbesar yang Jaehan miliki saat ini, atau mungkin selama dia hidup di dunia.
Jaehan sudah melewati ambang pintu ruang operasi tanpa satupun orang yang sadar bahwa bocah itu sudah mulai melangkah lebih jauh ke dalamnya. Bahkan tangisan perih sang ibu dan teriakan kecewa sang ayah yang penuh kepedihan tak terdengar sedikitpun oleh Jaehan kecil yang terus melangkah ke dalam ruang operasi. Langkah demi langkah kaki kecilnya menyusuri loronng sempit yang gelap dan dingin, Jaehun tau lorong itu pasti ada ujungnya hanya saja bocah itu ragu apakah sang kakak masih ada disana. Dan beberapa langkah terakhir membawa bocah itu dalam sebuah ruangan yang berisi lima orang dewasa mengitari sebuah tempat tidur yang diatasnya terdapat lampu menyorot bagian tengah tempat tidur itu.
Jaehan tidak mau berhenti di sana, Jaehan masih ingin terus berjalan sampai dia bertemu Jaehun. Jaehan berjalan pelan dan menyelinap diantara dua orang dewasa yang dia tak peduli siapa itu hingga akhirnya Jaehan melihat tubuh Jaehun terbaring lemah diatas tempat tidur yang disoroti sinar lampu terang kebiruan. Jaehan seketika ketakutan saat melihat bagaimana seluruh tubuh Jaehun dipenuhi oleh kabel – kabel beraneka warna yang terhubung dengan berbagai macam alat dan monitor besar. Ada alat yang mirip dengan pemutar kaset kuno namun sepertinya itu berisi darah yang terus berputar, ada monitor – monitor yang menunjukkan garis berbagai warna dan angka – angka dengan suara berdengung tak beraturan dan ada juga sebuah layar TV yang menampilkan bagian dalam jantung Jaehun yang Jaehan liat seperti daging segar dengan banyak darah dan besi penjepit di sebelahnya. Bisa dengan jelas Jaehun melihat bagaimana dada kakaknya terbelah dengan banyak pisau dan besi – besi penjepit di sekitarnya. Apakah itu sakit?
"Eoh… siapa anak itu? Kenapa dia bisa masuk ke mari?" Dokter Kim Jongdae kaget melihat kedatangan Jaehan yang nampaknya juga baru disadari oleh semua orang yang berada di dalam ruangan.
"Dia kan… kembarannya anak ini. Yang ini Jaehun dan dia pasti Jaehan. Mereka teman anakku di sekolah" ujar dokter Kim Jongin sambil menunjuk Jaehan yang kini sudah berdiri tepat di samping Jaehun.
Jaehan tidak peduli dengan keterkejutan orang – orang itu. Karena jujur saja, bocah itu bahkan lebih kaget lagi ketika melihat dada kakaknya terbelah dan darah dimana – mana.
"Hhh…Hyung…" Jaehan berbisik dengan tubuh gemetar, kepalanya masih terus mencerna apa yang terjadi pada sang kakak, berbagai macam pertanyaan menghantui kepala kecilnya yang ketakutan. Apakah kakaknya baik – baik saja? Apakah kakaknya kesakitan? Apakah kakaknya… masih disana?
"OH JAEHAN! Apa Oh Jaehan ada disini?"
Dokter Huang kembali masuk dalam zona meja operasi dengan wajah basah dan paniknya, napasnya sedikit tersengal karena dokter cantik itu baru saja berlari dari pintu depan menuju zona meja operasi.
"Dia… ada disni" Jawab dokter Kim Jongin singkat
Zitao menghela napasnya lega lalu melangkahkan kaki jenjangnya mendekat pada Jaehan dan berkata, "Jaehan-ah… kau tidak boleh ada disni.. ayo, kita keluar sekarang… khajja Jaehan-ah.."
"Andwae! Biarkan Jaehan disini…"
"MWO?"
Semua orang yang berada di ruangan itu langsung kaget mendengar permintaan Yifan barusan. Membiarkan Jaehan ada di ruang operasi? Membiarkan seorang bocah berusia hampir 8 tahun melihat kembarannya tak bernyawa dengan dada tersayat dan berlumuran darah? Yifan ini sudah gila atau apa?
"Ya! Bagaimana bisa kau membiarkan anak itu ada disini? Kau mau membuatnya jadi gila?" ketus Zitao yang kini menatap Yifan dengan tatapan kebencian yang meluap menjadi air mata.
Zitao lalu berjongkok dan mengusap luapan air matanya kemudian kembali membujuk Jaehan agar anak yang berwajah persis Oh Sehun itu mau keluar dari ruang operasi, "Jaehan-ah… ayo kita keluar…"
"Jaebal… biarkan Jaehan tetap disini bersama Jaehun. Aku yakin, Jaehun masih bisa diselamatkan jika ada Jaehan disini"
"Apa maksudmu Wu Yifan?!"
Yifan memohon dengan suaranya yang mulai bergetar, kedua tangannya yang dingin dan gemetar mengatup di depan dadanya. Memohon pada semua rekannya yang ada di dalam operasi untuk mengijinkan Jaehan tetap disana dan kembali berusaha untuk menyelamatkan Jaehun.
"Aku mengerti kau tidak mau kehilangan anak ini, Yifan… tapi kita semua tau bahwa Jaehun… Jaehun sudah… tiada.."
Dokter Kim Jongdae mencoba untuk membuat kepala Yifan tetap rasional. Terang saja, sudah hampir 10 menit jantung Jaehun tak lagi berdetak. Hanya ada alat – alat penopang kondisi Jaehun yang masih hidup seperti pemutar aliran darah yang menggantikan fungsi jantungnya di tubuh anak itu dan selang oksigen ke paru – paru yang membuat pernapasannya masih diatasi sementara Jaehun dalam tindakan operasi. Meskipun alat – alat itu hidup dan bisa memacu sirkulasi darah dan oksigen di tubuhnya tapi jika jantung yang asli sudah tak lagi berdetak itu artinya sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa menyelamatkan Jaehun. Kenyataannya memang keadaan Jaehun sudah tak lagi bisa diselamatkan.
Di sisi lain Dokter Kim Jongin menatap Yifan dengan kaca matanya sebagai seorang Ayah, bukan seorang dokter seperti Dokter Kim Jongdae. Jongin tau jika Yifan dan Jaehun bukan hanya berhubungan sebagai seorang dokter dan pasiennya. Hubungan Yifan dan ibu dari pasien yang kini terbaring di meja operasi dan kembarannya yang berdiri mematung seperti anak tanpa jiwa itu memiliki hubungan khusus. Jongin tau, Yifan adalah calon ayah tiri dari kedua bocah yang berada di ruangan itu. Tentu saja sebagai seorang ayah, kata menyerah untuk menyelamatkan sang anak tidak akan pernah ada dalam kamus kehidupannya. Terlebih lagi kedua bocah yang kini ada dalam satu ruangan bersamanya adalah sahabat dari putra tunggalnya. Jongin tau rasanya kehilangan dan Jongin pun tau bahwa putranya yang berusia sama dengan dua bocah itu pun pernah merasakan kehilangan, kehilangan seorang ibu. Dan suara dalam hati Jongin menguatkan tekadnya untuk berusaha semaksimal mungkin untuk tidak membuat putranya itu kehilangan sahabatnya.
"Geurae… kita coba sekali lagi, kita coba semua kemungkinan yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Jaehun dan… sesuai dengan permintaanmu, Jaehan bisa tinggal disini" ucap Jongin mencoba memberi jalan tengah
"Dokter Kim.. tapi Jaehan masih anak – anak. Apa kau mau membuatnya trauma dengan melihat jalannya operasi?" bentak Zitao yang jelas tidak setuju dengan ide itu
"Membiarkannya tetap disini dan membawanya keluar sekarang itu tetap saja akan mencederai memorinya. Tapi kalau dia tetap disini, setidaknya dia bisa tau dan menjadi saksi bahwa kita sebagai tim medis sudah memberikan yang terbaik untuk kakaknya" ujar Jongin lagi dan kini kedua mata Jonginlah yang mulai mengucurkan air mata
"Tapi…"
"Dokter Huang… kau tidak tau rasanya kehilangan seorang yang berharga tanpa tau apa yang terjadi kan? Jadi diamlah!"
Diluar dugaan dokter Kim Jongin balik membentak Dokter Huang dengan wajah yang merah padam.
"Dokter Wu… mari kita mulai penanganan dari awal!"
Mendengar persetujuan dari Jongin, Yifan pun segera mengenakan kembali maskernya dan mengganti sarung tangan karetnya dengan yang baru.
"Haaaah… geurae, suster Kang siapkan suntikan ephineprine 0.5mg" kata Dokter Kim Jongdae setelah menghembuskan napas beratnya.
Pria berwajah kotak itu sadar, ini bukanlah hanya sekedar pertarungan antara hidup dan mati. Ini adalah perihal seorang ayah yang ingin menyelamatkan buah hatinya. Jongdae memang baru beberapa hari dinobatkan menjadi seorang ayah dan kejadian yang terjadi dihadapannya sekarang membuatnya tersadar jika anak yang terkulai lemah dihadapannya itu tentu saja memiliki orang tua yang berharap agar dia bisa diselamatkan. Tentu saja, tidak ada kata menyerah untuk orang tua yang ingin menyelamatkan anaknya.
"Suntikan ephineprine 0.5mg telah diberikan" Dokter Kim Jongdae segera memberikan laporan lalu memandang dokter tampan yang kedua tangannya sudah memegang defibrillator. "Dokter Wu… silakan!"
"Defibrillator 150 Joules…"
Seketika bunyi dengingan tak beraturan terdengar memekakkan seluruh ruang operasi dan Yifan terlihat siap untuk mengoperasikan alat itu.
"Charge! I'm clear, patient clear, oksigen clear, everybody clear…. Shocking!"
Yifan menempelkan dua alat yang ada di tangannya ke tubuh Jaehun, namun setelah beberapa saat tubuh Jaehun masih tidak memberikan sinyal apapun.
"Sekali lagi… Defibrillator 150 Joules… Charge… I'm clear, patient clear, oksigen clear, everybody clear…. Shock!"
Nihil. Tubuh Jaehun masih tidak memberikan reaksi apapun. Dokter Kim Jongin langsung mengecek oksigen yang masuk ke tubuh Jaehun dan mengecek cairan obat yang masuk ke dalamnya. Sementara Dokter Kim Jongdae menunggu laporan dari pengecekan rekannya tersebut.
"Oksigen in… IV injected… Patient ready… Dokter Kim Jongdae…"
"Another Ephineprine 1mg injection! Dan dokter Wu… jika setelah penyuntikan ephineprine dan satu kali defibrillation tetapi pasien masih tetap tidak memberikan reaksi selama 5 menit maka…"
"Tutup mulutmu dokter Kim Jongdae!... Defibrillator ready. Pulse up 200 Joules… Charge… I'm clear, patient clear, oksigen clear, everybody clear…. Shock!"
"Sekali lagi…"
"DOKTER WU!"/ "YA! WU YIFAN!"
Jongin dan Jongdae terkejut ketika Yifan ingin melaksanakan defibrillation lagi untuk tubuh Jaheun dengan tegangan yang cukup tinggi. Yifan sudah akan mengatur mesin deribrillator namun tangannya dicegah oleh Jongdae.
"5 menit Yifan… kita tunggu selama 5 menit…" ujar Jongdae dengan nada yang sangat menenangkan. Dan perkataan Jongdae akhirnya dituruti oleh Yifan mesikipun Yifan mengurungkan niatnya dengan menghela napasnya kasar.
Jaehan yang sedari tadi hanya berdiri di samping Jaehun sama sekali tidak merubah raut wajahnya. Anak itu benar – benar seperti telah kehilangan jiwanya. Tatapan mata Jaehan begitu kosong dan matanya pun sama sekali tak berkedip. Seharusnya anak seusia Jaehan akan menangis ketakutan melihat dara dan tubuh manusia yang terbuka menganga dihadapannya. Apa yang ada di mata Jaehan bukanlah hal sederhana yang mampu diterima oleh nalar anak berusia hampir 8 tahun. Namun sesaat setelah semua tangan dokter terangkat dari tubuh Jaehun, perlahan – lahan Jaehan mulai mengangkat kedua tangannya yang lemah kemudian menggenggam satu tangan Jaehun yang dipenuhi jarum IV.
Kedua tangan mungilnya dengan setia menggenggam erat tangan sang kembaran dan bersamaan dengan itu juga kedua mata kosongnya terus menatap wajah kakaknya yang sudah mulai membiru.
"Hyung… khajimma…" ucap Jaehan dalam hatinya. Jaehan terus mengulang – ulang kalimat yang tak mampu bibirnya ucapkan. Memohon sang kakak untuk tidak meninggalkannya. Selang beberapa lama Jaehan malah merasakan sakit di dadanya, sakit yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Rasa sakit yang membuatnya merasa sesak dan sulit bernapas. Rasanya seperti ada yang meremas sesuatu di balik tulang rusuknya dan itu membuat kepala Jaehan lama – kelamaan terasa pusing dan berat. Berulang kali Jaehan bahkan memejamkan matanya untuk menahan rasa pusing di kepalanya. Namun selang beberapa lama, daripada pusing dan sakit, yang Jaehan rasakan kini adalah matanya yang semakin berat. Entah kenapa kini Jaehan merasa sangat mengantuk dan ringa, hingga tak terasa…
5 menit telah berlalu.
Ya… 5 menit berharga itu telah berlalu. Tidak ada yang berubah. Jaehun masih tertidur kaku di atas meja operasi, alat pengukur detak jantung pun tetap memunculkan tiga garis datar berwarna hijau, merah dan putih disertai suara berdenging yang memekakkan telinga dan harapan Yifan untuk bisa menyelamatkan Jaehun di detik – detik terakhir sisa hidup anak itu pun telah pupus. Yifan membuka masker yang menutupi wajah tampannya seiring dengan air mata panas yang jatuh meluncur di pipi pria yang kini telah berstatus sebagai pembunuh itu.
"Wu Yifan… ini sudah 5 menit. Kau dokternya jadi kau yang berhak memberikan vonis" ujar Jongdae dengan satu tepukan lembut di bahu Yifan
"Time of death…."
Yifan berkata dengan suara lemah, rahangnya gemetar dan tangannya terkepal. Yifan menjeda vonisnya, dadanya terasa sesak seakan tak ada lagi oksigen di ruang operasi itu. Semua mata tertuju kepadanya, mata dengan tatapan pasrah, iba dan bahkan benci. Dengan satu tarikan nafas kemudian Yifan melanjutkan kalimatnya.
"7.30 pm, KST"
"WU YIFAN!"
Zitao membentak Yifan dengan suara melengkingnya yang juga gemetar, gadis itu tampak sama kacaunya dengan Yifan. Atau mungkin lebih kacau, karena yang dia rasakan tidak hanya rasa kehilangan, tapi juga rasa bersalah karena sudah menutupi kebusukan Yifan selama ini. Zitao pun kembali jatuh terduduk di lantai beku ruang operasi itu.
"Time of death… 7.30 pm, KST"
Yifan mengulangi kalimatnya lagi, mata elangnya menatap kosong tubuh kaku Jaehun dengan sobekan di dada yang sudah membiru.
"Time of death… 7.30 pm, KST…" Yifan melangkah maju secara perlahan, mendekati tubuh mungil yang baru saja dia bunuh, "Time of death… 7.30 pm, KST" ucap Yifan lagi seperti orang gila.
"Dokter Wu…" Jongdae berusaha menahan Yifan yang akan mendekat ke meja operasi, entah mengapa suhu ruang operasi jadi seratus kali lipat lebih dingin daripada biasanya.
"Time of death… 7.30 pm, KST"
BRUGH
"JAEHAN-AH!"
"OH JAEHAN!"
Tubuh bocah kecil yang sedari tadi menggenggam erat tangan kembarannya itu tiba – tiba ambruk dan tak sadarkan diri, namun tangannya masih sangat erat menggenggam tangan Jaehun.
Zitao yang berada paling dekat dengan Jaehan langsung memeluk anak itu dalam pangkuannya sembari mencoba menyadarkan Jaehan.
"Jaehan-ah… gwaenchanha? Jaehan… Oh Jaehan…"
Zitao langsung memasang stetoskopnya dan mengecek detak jantung Jaehan.
"Eoh… eottokhaea?" desis Zitao bingung
"Ada apa Zi?" Jongin langsung menghampiri Zitao yang terlihat shock, sementara Jongdae masih menggenggam tangan Yifan yang kini sudah jadi seperti gila.
"Aku tidak bisa mendengarkan detak jantung Jaehun, Jongin-ah… bagaimana ini?"
"Mwo?"
Jongin segera menrampas stetoskop Zitao dan mengenakannya lalu mengecek sendiri keadaan Jaehan.
"Majja!" ujar Jongin kaget.
Jongdae pun ikut terkejut mendengar keterangan Jongin bahwa mereka berdua tidak bisa merasakan detak jantung Jaehan. Jongdae melepas genggaman tangannya pada Yifan dan baru saja dia akan menghampiri Jaehan, suara monitor yang berdengung sejak tadi tiba – tiba berhenti. Jongdae pikir Yifan telah mematikan alat monitor itu namun….
TIT… TIT… TIT…
Suara monitor itu berubah menjadi irama lemah yang lambat. Kedua mata Yifan terbelalak ketika melihat monitor itu memberikan sinyal detakan jantung dari tubuh Jaehun. Jongdae yang seketika biuuuuuuuerdiri tak percaya langsung memeriksa sendiri denyutan nadi di tangan Jaehun yang masih digenggam oleh Jaehan.
"Denyut nadinya kembali! Sangat lemah… tapi denyutan nadi Jaehun kembali!"
Jondae berseru tak percaya akan sebuah keajaiban nyata yang terjadi di hadapannya. Bersamaan dengan seruan Jongdae, Zitao juga kembali mengecek detak jantung Jaehan dan berkata…
"Detak jantung Jaehan juga kembali, tapi sangat lemah dan jarang…"
"Baiklah… suster, siapkan tempat dan alat monitor detak jantung untuk Jaehan! Segera!"
Jongin berdiri dan bersiap untuk menyaup tubuh mungil Jaehan dan ingin membawa anak itu agar mendapatkan penanganan yang lebih baik. Jongin mendiagnosis bahwa Jaehan terkena shock dan melemahkan detakan jantungnya karena menerima kenyataan bahwa Jaehun telah tiada. Namun kini jantung kedua bocah yang terlahir kembar itu sama – sama berdetak lemah. Seperti detakan satu jantung yang dibagi untuk dua orang.
Baru saja Jongin akan mengangkat dan memindahkan tubuh Jaehan, genggaman tangan Jaehan pada tubuh Jaehun mengerat, kedua anak itu seperti tidak ingin dipisahkan. Dan Jongin akui dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa dua anak dihadapannya ini memiliki ikatan yang sangat ajaib. Sebuah ikatan yang diberikan Tuhan untuk dua anak kembar istimewa dihadapannya.
"Kita mulai tindakan yang kita bisa, Dokter Kim Jongdae aku siapkan EKG untuk jantung Jaehun, Suster Han… laporkan keadaan pasien, Dokter Kim Jongin aku mohon pasang Orofaringeal tube yang baru utnuk Jaehun dan Dokter Huang… kau pantau Jaehun dan pastikan dia mendapatkan pasukan oksigen yang cukup"
Yifan menjeda kalimatnya, mempersiapkan dirinya kembali akan sebuah harapan yang baru. Yifan yakin bahkan keyakinannya lebih dari 100 persen bahwa Jaehun masih bisa diselamatkan karena ada Jaehan di sisinya. Tentu saja Yifan meyakini hal itu karena keajaiban yang sama antara Jaehun dan Jaehan pernah Yifan lihat sebelumnya. Ini bukan kali pertama Jaehan membawa Jahun kembali bernapas. Ini sudah yang kedua kalinya.
"Keadaan Jaehun, masih lemah namun dia ada dalam kondisi yang siap menerima tindakan, tekanan darah cukup stabil, pasien masih dalam keadaan koma kita tidak perluh tambahan propofol dan ephineprine berfungsi cukup baik" Jongdae menyampaikan laporannya setelah suster Han memberikan laporan kondisi Jaehun
"Orofaringeal tube okay… pernapasan lemah namun berirama stabil, paru – paru dan oksigennya siap" Jongin mengangguk yakin dengan laporannya.
Yifan pun menggangguk lalu merentangkan kedua tangannya dan berkata, "Pacemaker Implantation, ready!"
.
Jaehan membuka matanya yang terasa sangat berat ketika hawa dingin menusuk tulang disekitarnya menghangat. Perlahan – lahan rasa sakit di dadanya yang terasa menusuk tadi mulai hilang tergantikan oleh perasaan tenang dan nyaman. Suara – suara berdengung dan tak beraturan yang terus dia dengar pun kini tak lagi berbunyi.
Kening Jaehan seketika mengerut ketika kedua mata sipitnya sudah terbuka sepenuhnya. Dia tidak lagi berada di dalam ruang operasi yang gelap dan menyeramkan. Jaehan pun tidak melihat ada meja operasi dimana Jaehun terbaring kaku dan lemah diatasnya. Dan kemudian anak itu sadar bahwa dia berada di tempat yang berbeda.
Di hadapan Jaehan terdapat sebuah tembok yang sangat tinggi dengan sebuah pintu kayu cukup besar dan tertutup rapat. Jaehan memutar pandangannya ke sekeliling tempat itu dan yang Jaehan bisa lihat hanyalah tanah kering dengan pohon – pohon yang daunnya berguguran serta kabut awan putih berkilauan karena sinar matahari. Ini seperti musim gugur, hanya saja hawanya terasa hangat dan Jaehan merasa dia berada sangat dekat dengan matahari.
Jaehan akhirnya kembali memandang pintu kayu yang tertutup sangat rapat di hadapannya. Jaehan tidak tau harus berubuat apa atau pergi kemana, karena jujur saja dia sendiri tidak mengerti kenapa dia berada disana. Dan ketika pikiran lugunya mencoba kembali mencari jalan keluar, pintu kayu besar di hadapannya perlahan mulai terbuka.
.
"Apa kau… benar – benar ingin pergi?"
Seorang pria bertubuh tambun dengan wajah teduh dan senyuman hangat menghiasi keriput di wajahnya yang menua, dia bertanya pada sesosok anak kecil yang kini duduk di sampingnya. Keduanya kini berada di sebuah ruang tunggu stasiun kereta api yang terlihat cukup tua karena semua barang – barang disana hanya terbuat dari kayu dan besi hitam yang keras. Beberapa pohon yang bergoyang di terpa angin dengan daun berguguran menjadi pemandangan indah di stasiun yang berkabut itu.
"Aku tidak tau…" jawab anak itu dengan suara lembut dan lemah.
Si kakek tua kembali mengeratkan pegangan tangannya pada tongkat kayu yang berdiri diantara kedua kakinya seraya tersenyum lemah dan menganggukkan kepalanya.
"Kau sudah benar – benar lelah ya?" tanya pria tua itu lagi dan anak itu pun mengangguk beberapa kali lalu berkata, "Aku lelah padahal aku tidak melakukan apapun, aku hanya lelah menahan sakit di dadaku, aku sudah lelah dan tidak tahan lagi."
Si kakek tua kembali menganggukkan kepalanya, beliau mengerucutkan bibir tipisnya seraya menatap sang anak yang masih duduk di sebelahnya. Anak itu terlihat bingung dan bimbang memandang daun – daun yang berguguran.
"Tapi orang – orang di sekelilingmu tidak pernah merasa lelah nak… bahkan mereka merasakan sakit yang lebih banyak daripada dirimu" ujar si kakek tua dengan nada bijaksananya
Jaehun yang tidak mengerti lalu menatap sang kakek dengan raut wajah bertanya. Kakek tua itu pun memperbaiki posisi duduknya agar bisa menatap anak kecil tampan di sampingnya itu dengan baik. Beliau kembali melebarkan senyumannya lalu mengangguk sebelum menjawab tatapan bingung milik sepasang mata bayi rusa di hadapannya.
"Hmm… kau tau? Untuk mempertahankan kedua putranya, ibu dan ayahmu berusaha sekuat tenanga mereka. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, perasaan dan kebahagiaan mereka sendiri untuk kalian. Terutama untukmu. Sejak kau hidup dalam rahim ibumu, dia tidak pernah lelah berdoa untuk kebaikanmu dan juga adikmu. Gadis lugu yang terpaksa harus kuat di usianya yang sangat muda itu tidak pernah lelah untuk belajar menjadi ibu yang baik untuk kalian."
Sang kakek menghela napasnya yang pendek dan agak berat kemudian kembali tersenyum dan berkata,
"Ibumu tidak pernah mengeluh meskipun tubuh, hati dan pikirannya terasa lelah. Dia harus menjagamu yang sakit dan adikmu yang juga butuh perhatian. Ibumu tidak pernah mengeluh lelah meskipun dia benar – benar sudah kehilangan dirinya sendiri untukmu dan adikmu"
Mata bayi rusa itu mulai berkaca – kaca ketika dia mengingat kembali senyum sang ibu. Senyum lembut yang tak pernah pudar untuknya, senyum lembut dari wajah cantiknya yang terlihat lelah namun tetap ada untuknya setiap saat. Bahkan disaat anak itu merasa sakit, senyuman itu selalu ada meskipun air mata di pipinya terus mengalir dan suara hatinya memanjatkan doa pada Tuhan, memohon kesembuhan bagi putranya.
"Lalu ayahmu… dia tidak pernah lelah untuk memperbaiki dirinya sendiri demi menjadi Ayah yang pantas untuk kalian. Dia tidak pernah lelah untuk menyayangi kalian meski dia sudah tidak bersama dengan kalian lagi. Ayahmu tidak pernah lelah untuk bersabar menghadapi segala perasaan menyakitkan yang dia dapatkan hanya demi untuk memelukmu dan adikmu. Dia selalu memikirkan yang terbaik untuk kalian, meskipun kadang dia harus memilih pilihan terburuk untuk dirinya tapi jika itu baik untuk kalian, dia tidak akan pernah mengeluh lelah untuk melakukannya"
Setetes air mata bocah kecil tampan itu terjatuh, di kapalanya terbayang bagaimana sang ayah selalu memeluk dirinya sangat lama ketika mereka baru bertemu dan akan berpisah. Dia membayangkan bagaimana sang ayah selalu datang tepat waktu untuk menolongnya dan sang adik. Dia kembali mengingat bagaimana sang ayah selalu mencium pucuk kepalanya dengan sangat lembut setiap saat dia akan tertidur.
"Dan yang terakhir adikmu. Kau mungkin tidak sadar, tapi sebenarnya dia sudah berkorban sangat banyak untukmu. Kau dan dia memiliki usia yang sama, dia bahkan lebih muda beberapa menit darimu. Tapi dia tidak pernah mengeluh ketika semua perhatian kedua orang tuamu tertuju hanya padamu. Bahkan adikmu selalu berjuang melakukan apapun yang dia bisa demi menolongmu. Kau tentu masih ingat bagaimana adikmu menggendongmu dengan seluruh tenaganya hanya agar kau bisa merasakan bagaimana rasanya berlari. Dia tidak pernah lelah membagi tenaganya untukmu. Adikmu pun selalu berusaha agar tidak pernah merengek agar kedua orang tuamu merasa lebih tenang dan bisa fokus pada kesehatanmu. Dan ketika adikmu sangat ingin diperhatikan, dia terpaksa untuk melukai dirinya sendiri karena hanya itulah satu – satunya cara agar adikmu dapat perhatian tanpa merengek dan merebut perhatian orang tua kalian darimu"
Anak itu mulai terisak ketika dia memutar banyak sekali memorinya bersama sang adik yang selalu melindungi dan menyayanginya. Satu usapan lembut dari tangan keriput sang kakek mendarat di kepala anak yang kini tengah menangis itu. Suara kecil dalam hatinya terus meminta maaf pada sang adik, mungkin sesaat tadi dia lupa jika selama ini dia berhutang banyak pada adiknya itu.
"Aku… jika bisa dilahirkan kembali juga ingin punya adik seperti adikmu. Dia sangat menyayangimu dengan tulus, apapun dia lakukan untukmu, dia bahkan sangat takut kehilanganmu melebihi apapun. Dia juga tidak pernah iri padamu karena kasih sayang yang semua orang berikan padamu meleihi yang mereka berikan padanya. Adikmu adalah adik yang baik. Apa kau benar – benar merasa sangat lelah dan ingin meninggalkannya juga?"
Anak itu masih terisak dalam tangisannya, baru kali itu dia merasa sangat jahat, terutama pada adiknya. Anak itu masih ingat betul bagaimana raut wajah sang adik ketika mereka paham bahwa kedua orang tua mereka tak lagi berada di jalan yang sama. Anak itu juga kembali mengingat senyum sang adik setiap kali dia membuka matanya diatas tempat tidur di kamar rawat rumah sakit. Dan anak itu tentu selalu ingat bagaimana sorot mata sang adik ketika dia sakit, ketika kedua orang tuanya bertengkar dan ketika kedua orang tuanya berada dengan orang asing yang nantinya mungkkin saja bisa menjadi bagian dari keluarga mereka.
Anak itu sadar, selama ini mereka telah membagi banyak hal berdua. Mereka berbagi kesedihan, kesakitan, kelelahan, keterpurukan dan segala hal buruk yang bahkan tidak pantas dirasakan oleh anak seusia mereka. Mereka juga tentu berbagi tawa, kebahagiaan, kegembiraan, ketenangan dan kebersamaan. Mereka tidak hanya membagi momen baik dan buruk, tapi mereka juga berbagi perasaan, berbagi hati, jiwa dan kekuatan yang mereka miliki.
"Oh Jaehun…"
Suara kakek tua itu terdengar lagi. Jaehun, anak kecil bermata rusa itu menghapus air matanya sesegera mungkin, menahan isakan tangisnya lalu menatap kakek tua yang kini masih mengelus pucuk kepalanya. Kakek itu masih tersenyum lembut padanya. Perlahan, tangan keriput namun lembut sang kakek turun ke pipinya yang tirus. Tangan itu mengusap jejak – jejak air mata di pipi Jaehun.
"Apa menurutmu itu adil? Apa menurutmu… jika kau meninggalkan adikmu sendirian di sana, apakah itu adil untuknya?" tanya sang kakek ketika kedua mata mereka bertemu
Jaehun langsung meggelengkan kepalanya beberapa kali. Tentu saja itu tidak adil untuk adiknya, karena Jaehun masih ingat betul dia punya janji untuk tidak pernah meninggalkan bocah kecil tampan dengan mata sipit dan tajam bernama Oh Jaehan itu.
"Kalau begitu kau boleh mengajaknya ikut pergi jika kau mau…" ujar sang kakek memberikan solusi. Jaehun kembali mengerutkan keningnya tidak mengerti.
Sang kakek lalu menggeser tubuhnya dan menghadap ke belakang bangku yang mereka duduki. Jaehun mengikuti gerakan sang kakek dan memandang sebuah pintu kayu berukuran sangat besar dengan dinding tembok tinggi yang sangat panjang.
"Kau lihat pintu itu? Jika kau membukanya maka kau akan bertemu dengan adikmu… kau bisa mengajaknya kemari dan kita pergi bersama – sama"
"Benarkah?"
"Tentu saja… jika kau mau membawanya bersamamu dan dia benar – benar ingin ikut denganmu"
"Bagaimana jika dia tak mau ikut bersamaku, kek?"
"Tentu saja kau bisa kembali pulang bersamanya jika kau ingin tetap bersama"
Jaehun tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kakek tua dihadapannya ini. Lagi pula, bukankah Jaehun belum pernah bertemu dengan kakek itu? Seharusnya kakek tua itu adalah orang asing baginya, tapi kenapa dia tak sama sekali merasa jika kakek itu adalah orang asing?
"Jaehun-ah… kadang kala kita memang merasa lelah dengan semua hal yang kita jalani. Ada saatnya kita merasa jenuh menahan rasa sakit dan jenuh menjalani keterbatasan yang kita miliki. Dan ada waktunya juga kita harus berhenti dan mengakhiri semuanya"
Sang kakek menjeda kalimatnya, tangan kanannya perlahan meraih tangan Jaehun dan menggenggamnya lembut lalu berkata,
"Tapi… kita hanya boleh berhenti dan mengakhiri semuanya ketika itu benar – benar selesai. Kita tidak boleh meninggalkan sesuatu yang kita jalani dan lakukan hanya karena itu sulit dan melelahkan. Kita tidak bisa mengakhiri semua hal yang belum selesai kita lakukan. Kau tentu saja boleh merasa lelah dengan rasa sakit yang ada di dadamu, tapi ketika orang – orang disekitarmu tidak pernah menyerah untukmu dan berkorban banyak untukmu apakah itu adil untuk mereka jika kau menyerah sekarang?"
Jaehun menundukkan kembali kepalanya dan mencerna baik – baik setiap kalimat yang kakek tua dihadapannya itu bicarakan. Kepalanya yang cerdas tentu mengerti semua itu dengan baik, satu tangannya yang bebas meraih dada sebelah kirinya yang meskipun kini tak terasa sakit atau sesak, namun rasa berat yang menggantung di dalam sana terasa jauh lebih tidak nyaman.
"Kau adalah orang yang amat sangat dicintai, Oh Jaehun. Kau bahkan belum bertemu dengan semua orang yang mencintaimu. Masih ada banyak hal yang harus kau lakukan disana. Mungkin memang kau merasa sebaiknya menyerah saja, tapi… menyerah bukanlah hal yang baik, nak. Apalagi jika kau menyerah disaat semua orang berjuang untukmu… tentu itu bukanlah hal yang baik bukan? Anak baik… selalu melakukan hal yang baik.."
Kakek itu kembali tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Jaehun.
"Boleh aku bertanya pada kakek?"
"Tentu saja nak… kau boleh bertanya apa saja padaku.."
"Apa kakek akan pergi ke suatu tempat?"
"Ya… aku akan pergi ke suatu tempat yang cukup jauh…"
"Jika kakek pergi sekarang, apakah semua tugas dan semua yang kakek lakukan sudah selesai?"
"Ya… tentu saja sudah. Aku sudah menyelesaikan semua tugasku"
"Apa saja tugas itu?"
"Aku tidak mengingat semuanya, tapi ku rasa aku hidup cukup baik di rumah… ah… tapi aku ingat satu tugas pentingku yang terakhir"
"Apa itu, Kek?"
"Menemani cucuku hingga dia menemukan orang yang benar – benar menyayanginya setulus hati, menemani cucuku hingga dia memiliki orang yang benar – benar bisa dia miliki sepenuhnya tanpa harus berbagi dengan siapapun atau merebutnya dari seseorang. Aku sudah menemani cucuku hingga dia menemukan dan ada bersama orang itu. Dan aku senang bahwa aku tak hanya bertemu dengan satu orang saja, cucuku punya dua orang yang berjanji akan menemaninya jika aku pergi."
"Cucu kakek sangat beruntung, aku tidak pernah punya seorang kakek sebelumnya"
"Oh kalau begitu, kau harus kembali…"
"Apa jika aku kembali aku akan punya kakek?"
"Untuk itu aku tidak tau… aku bukan seorang peramal, nak…"
"Lalu jika Kakek bukan seorang peramal, Kakek ini siapa? Kenapa kakek mengenalku, keluargaku dan adikku?"
Mendengar pertanyaan itu akhirnya sang kakek tertawa geli sendiri dan membuat Jaehun heran. Setelah beberapa saat kakek itu kembali menatap kedua mata bening Jaehun.
"Aku adalah Kakek dari orang yang kau sukai…"
"Orang yang aku sukai? Apa Kakek adalah Kakeknya Eomma?"
"Bukan…"
"Kakeknya Appa?"
"Bukan…"
"Kakeknya Chanyeol samchoon?"
"Apa aku terlihat mirip dengannya?"
"Anniyeo… Kakeknya Jaehan?"
"Eish… kau yang benar saja…"
Keduanya tertawa renyah namun dengan cepat wajah Jaehun berubah menjadi wajah antusias dan berkata,
"Oh… apa jangan – jangan… kakek adalah… kakeknya Byun seonssaeng?"
"Binggo!"
Jaehun melebarkan matanya tidak percaya jika kakek di hadapannya ini adalah kakek dari guru favoritenya yang juga berstatus sebagai calon istri ayahnya itu.
"Baekhyun… cucuku. Dia banyak sekali bercerita tentang dua anak kembar yang amat sangat dia sayangi. Si kembar Oh Jaehun dan Oh Jaehan. Anak kembar istimewa luar biasa yang selalu bisa membuatnya ingin terus membahagiakan mereka. Baekhyun menceritakan semuanya padaku."
"Apa saja yang Byun seonssaeng ceritakan pada kakek?"
"Dia cerita semuanya, banyak hal. Dia cerita jika Oh Jaehun adalah anak yang sangat cerdas dan Oh Jaehan adalah anak yang sangat aktif. Dia juga cerita jika Jaehun yang meskipun dengan keterbatasan fisik yang dimiliki anak itu tapi Jaehun selalu bersikap dewasa untuk menjaga adiknya, sementara sang adik, Jaehan yang meskipun punya sifat kekanak – kanakan dia selalu menjadi kuat untuk menjaga kakaknya. Si kembar yang selalu berbagi untuk saling menjaga satu sama lain. Itulah kalian…"
Jaehun kembali merasa bersalah, kini bibirnya terpout dan keningnya berkerut. Entah kenapa beberapa saat yang lalu dia lupa akan semua hal yang selalu dia lakukan untuk orang – orang yang paling dia sayangi. Jaehun merasa marah dan malu ketika beberapa saat dia menyerah karena sakit di dadanya yang melelahkan.
"Kau tau… suatu hari Baekhyun datang padaku dan bercerita bahwa ada seorang anak laki – laki yang melamarnya. Baekhyun bilang anak itu memohon padanya untuk tidak menikahi ayahnya dan sebagai gantinya, anak itu berjanji akan menjaga Baekhyun dan jika sudah besar nanti dia akan menikahi Baekhyun. Kau kenal siapa anak itu?"
Jaehun tersenyum tipis seketika setelah mendengar pertanyaan dengan nada jahil yang kakek itu tanyakan padanya. Tentu saja dia tau siapa anak itu, anak itu adalah dirinya sendiri.
"Kau bahkan punya janji pada cucuku jika dia tidak menikahi ayahmu maka kau akan menjaganya dan menikahinya. Apa kau tidak mau menepati janji itu juga? Berarti jika kau pergi, Baekhyun boleh menikah dengan ayahmu, begitu?"
"Andwaeyeo!"
Jaehun berseru dengan keras melontarkan ketika setujuannya akan ide seorang kakek di hadapannya itu. Demi apapun, Jaehun tiak mau ayahnya menikah dengan perempuan lain selain ibunya. Dia tidak mau jika ayah dan ibunya benar – benar berpisah dan membangun keluarga baru lainnya masing – masing dan meninggalkan…. Jaehan dan dirinya sendirian.
Kepala Jaehun berdenyut ketika dia mengingat fakta mengertikan yang bisa saja terjadi dalam hidupnya itu. Jaehun seketika berdiri dan wajahnya berubah panik. Dia baru ingat, jika dia pergi sekarang lalu ayahnya menikah dengan Byun seonssaeng dan ibunya menikah dengan paman dokter maka Jaehan akan jadi sendirian dan sebantang kara.
"Ada apa Oh Jaehun?" tanya sang Kakek dengan wajah yang pura – pura tidak tau jika Jaehun tengah panikk
"Aku harus kembali… aku tidak bisa membiarkan hal – hal buruk terjadi di rumahku dan meninggalkan adikku sendirian saja. Jika aku pergi, bisa saja ayahku benar – benar menikah dengan Byun seonssaeng lalu ibuku juga menikah dengan paman dokter. Jika itu terjadi maka Jaehan…"
Jaehun menjeda kalimatnya seraya mengatur napasnya yang memburu, ketika yang di dapatkan bukanlah ketenangan malah kepanikannya yang semakin memburu, Jaehun akhirnya berkata,
"Aku tidak bisa meninggalkan Jaehan sendirian dalam keadaan seperti itu. Meskipun pada akhirnya ayah dan ibuku bersatu kembali, aku juga tidak bisa meninggalkan Jaehan karena Jaehan… Jaehan tidak suka sendirian. Dia lahir bersamaku, dia hidup bersamaku dan aku tak bisa meninggalkannya begitu saja seperti ini… ini tidak akan pernah adil untuknya. Jadi aku… aku harus kembali…"
Kakek tua berwajah lembut itu tersenyum lebar mendengar kesimpulan Jaehun. Tentu saja dia merasa sangat senang ketika bocah tampan dihadapannya ini memilih untuk tidak menyerah karena kelelahannya menghadapi penyakit yang menggerogoti dadanya. Sebenernya kakek tua itu tau, ini memang bukan saatnya Jaehun untuk pergi ke tempat yang jauh setelah kehidupan itu. Jaehun masih punya kehidupan yang jauh lebih baik jika dia memilih untuk kembali pada kehidupannya.
"Tapi bagaimana caranya aku kembali kek? Aku tidak tau harus kemana…" ujar Jaehun seraya menyebar pandangannya ke seluruh tempat yang mirip stasiun kereta itu
Sang kakek kemudian berdiri lalu menunjuk sebuah pintu kayu besar diantara tembok putih yang menjulang.
"Kau buka saja pintu itu dan kau akan menemukan adikmu berdiri disana. Dia sudah menunggumu dari tadi. Begitu kau bertemu dengannya maka peluklah dia dan katakan bahwa kau tidak akan pergi, kau akan pulang bersamanya."
"Bisakah seperti itu?"
"Mmm… mungkin, tapi itu kan patut dicoba"
"Baiklah… aku akan mencobanya"
"Geurae…"
GREB
Jaehun memeluk sang kakek dengan sangat erat. Sama seperti Byun seonssaeng, Jaehun bisa cepat sekali menyukai kakek bertubuh tambun itu. Padahal baru saja bertemu dia Jaehun sudah merasa sangat menyayangi kakek itu. Maklum saja, Jaehun tak pernah tau rasanya punya kakek. Jadi pertemuannya dengan Tuan Byun merupakan pertemuan yang sangat berarti dan berharga baginya.
"Pergilah… dan jangan menyerah pada apapun. Kau anak yang kuat, adikmu juga anak yang kuat. Jika kalian berdua terus bersama maka aku bisa bayangkan pasti banyak orang juga tertolong karena kalian"
"Ne… Harraboji… aku akan kembali sekarang, tapi… boleh aku bertanya satu hal lagi?"
Tuan Byun mengembangkan senyumnya dan mengangguk, setelah itu Jaehun ikut tersenyum dan bertanya,
"Tadi, kakek bilang bahwa ada dua orang yang berjanji akan menjaga Byun Seonssaeng setelah kakek pergi. Jika satu diantara dua orang itu aku… maka… siapa orang satunya lagi? Apakah itu… Ayahku?"
Tuan Byun mengerutkan kening dan mempoutkan bibir di wajah tuanya yang teduh, menyiratkan seolah dia sedang berpikir. Dan beberapa saat kemudian dia akhirnya menjawab,
"Itu rahasia… kau harus segera kemabli untuk mengetahui itu"
Senyum Jaehun sedikit memudar akan jawaban sang kakek di hadapannya itu. Ada rasa sedikit cemas ketika dia menebak bahwa satu orang lagi adalah Ayahnya.
"Baiklah… kalau begitu aku akan kembali… selamat tinggal… Harraboji…"
Jaehun membungkuk dan memberikan hormat serta salam perpisahan pada kakek yang ada bersama selama beberapa saat itu. Kemudian Jaehun mulai berjalan menuju pintu besar yang ditunjuk oleh Tuan Byun tadi.
"Ah… Jaehun-ah…"
Tuan Byun memanggil lagi Jaehun, membuat langkah kaki kecilnya terhenti. Jaehun tidak berbalik, jaehun hanya memalingkan wajahnya dan melihat kakek itu tersenyum lembut lalu berkata,
"Jika kau bertemu dengan cucuku, katakan padanya jika aku sangat bahagia dan merestui semua keputusan yang dia buat. Aku sangat menyayanginya"
"Ne… Harraboji.. aku akan menyampaikan itu pada Byun Seonssaeng…"
Jaehun melambaikan tangannya sejenak dan setelah mendapat balasan lambaian tangan dari Tuan Byun kaki kecilnya mulai melangkah.
Tak begitu banyak langkah yang Jaehun ambil untuk sampai di depan pintu kayu yang amat besar. Kini tangannya sudah mulai meraba pintu tanpa kenop itu. Jaehun sebenarnya tidak yakin jika dia bisa membuka pintu yang terlihat sangat berat itu. Apakah tenaganya cukup kuat untuk membuka pintu itu?
Tidak. Jaehun harus keluar dan menemui Jaehan yang kata Tuan Byun ada di balik pintu itu menunggunya. Kedua tangannya perlahan mulai mendorong pintu yang tingginya mungkin 6 kali tubuhnya sendiri itu. Namun nihil, pintu itu tak sama sekali terbuka. Tubuh kecil dan ringkih Jaehun tak cukup kuat untuk mendorong pintu kayu itu.
Jaehun mulai berpikir, apa yang sebaiknya dia lakukan. Namun waktu pasti terus berjalan, dia tidak bisa terlalu lama ada disana. Dan akhirnya dia berpikir, kekuatan fisiknya boleh saja lemah namun kekuatan tekad dan hatinya tidak bisa di remehkan. Jaehun kembali mendorong pintu itu sekuat tenaga yang dia miliki.
.
Jaehan masih setia memandang pintu kayu yang tak sama sekali menunjukkan tanda terbuka. Jaehan tak punya petunjuk apapun untuk dia lakukan di sana. Haruskah dia diam saja? Haruskah dia pergi? Haruskah dia menunggu? Atau haruskah dia membuka pintu besar yang ada di hadapannya?
Jaehan masih tetap tidak punya petunjuk apapun. Jaehan kembali mengedarkan pandangannya dan mencari sesuatu untuk dilakukan, atau setidaknya jalan agar dia bisa kembali atau bertemu dengan Jaehun. Bukankah dia datang kesana untuk Jaehun?
Drrrrrreeet
Suara gesekan kayu yang berat terdengar di seluruh ruangan, Jaehan langsung membalikkan badannya untuk menatap pintu kayu besar yang tadi dia pandang sangat lama. Pintu itu perlahan – lahan mulai terbuka. Seiring terbukanya pintu kayu itu, sinar terang langsung menerobos keluar. Jaehan terpaksa menutup matanya karena terlalu silau akan cahaya yang keluar berhamburan ketika pintu mulai terbuka.
GREB
Jaehan merasakan ada seseorang yang memeluk tubuhnya. Mata Jaehan masih terlalu silau untuk terbuka, namun tubuhnya bisa merasakan bahwa dia sedang dipeluk oleh seseorang yang lebih pendek beberapa sentimeter dari tubuhnya.
"Jaehan-ah…"
Jaehan seketika tersentak ketika telinganya disapa oleh suara yang selama ini dia cari. Itu adalah suara kembarannya, Jaehan tidak perlu buka mata untuk tau itu.
"Hyung!"
"Ne…"
"Hyung khajimma…"
"Tidak… Aku tidak akan pergi kemanapun, aku akan kembali bersamamu"
"Benarkah?"
"Tentu saja, terima kasih sudah menyelamatkanku… Oh Jaehan"
Jaehan langsung memeluk tubuh kembarannya yang memang lahir beberapa menit lebih cepat darinya tetapi tubuhnya terpaut beberapa sentimeter lebih pendek darinya. Jaehan rasanya ingin sekali menangis tapi sebelum dia sempat menangis, hembusan angin yang tadi semilir kini berubah semakin kencang dan perlahan – lahan tanah yang mereka pijak pun sedikit demi sedikit mulai mengikis dan sebuah sensasi jatuh dari ketinggian super karena tanah di kaki mereka kini sudah menghilang. Rasanya seperti dihempas dari menara hysteria yang 7 kali lipat lebih tinggi. Tak ada satupun dari mereka yang berteriak, mereka hanya semakin memper erat pelukan pada tubuh satu sama lainnya.
.
.
.
Baekhyun memeluk Luhan yang masih terus menangis sejak tiga jam yang lalu. Gadis bermarga Byun itu pun juga ikut menangis karena jujur saja Baekhyun tidak punya hati yang cukup tegar untuk bersikap tenang. Sedikit banyak, Baekhyun tau rasanya takut kehilangan. Bahkan hari ini Baekhyun baru saja kehilangan kakeknya dan demi Tuhan, gadis itu tidak mau jika dia harus kehilangan salah satu dari anak kembar istimewa luar biasa kesayanganya juga.
Tiga jam yang lalu saat Baekhyun sampai di ruang operasi, Baekhyun melihat seorang dokter muda yang sebenarnya cukup cantik namun karena wajahnya yang lelah dan kusut dokter itu terlihat sedikit menyedihkan. Dokter itu berdiri diantara kerumunan orang – orang yang Baekhyun kenal. Ada Sehun dengan wajah tegangnya yang tak biasa, ada Luhan yang mulai menangis dalam diamnya, ada Chanyeol yang terlihat bingung dengan situasi dihadapannya, ada Jaehan yang perlahan menyelinap masuk ke dalam pintu ruang operasi yang terbuka dan yang mengejutkan Baekhyun adalah keberadaan kedua orang tua Sehun yang nampak tak kalah cemas menanti kepastian.
Baekhyun baru akan mencegah Jaehan masuk ke dalam ruangan namun tangannya terasa beku ketika dokter cantik berwajah kusut itu berkata,
"Jantung Jaehun… sudah tidak lagi berdetak"
Tubuh Luhan pasti sudah ambruk ke lantai jika saat itu Baekhyun tidak segera menyaup tubuh mantan istri sahabatnya itu. Baekhyun juga sempat melihat bagaimana wajah Sehun yang pucat semakin pasi, rahang tegasnya mengerat dan mata sipit Sehun yang tajam mulai memerah. Chanyeol tentu saja menabahkan hati sahabatnya, namun keadaan jadi sedikit kacau karena mereka menyadari bahwa Jaehan malah menghilang dan dokter cantik itu masuk ke ruang oprasi dan menutup pintunya kembali.
Selama tiga jam berturut – turut tak satupun orang yang berada di ruang operasi mengeluarkan sepatah kata. Yang terdengar hanya isakan tangis teredam, langkah kaki gelisah, helaan napas berat, usapan kasar tangan kewajah dan rambut yang sudah berantakan dan sisanya hanyalah kesunyian.
Beberapa saat lalu Chanyeol berdiri di sebelah bangku tempat Baekhyun dan Luhan duduk saling berpelukan dan pria itu terlihat sangat sibuk dengan ponselnya yang Baekhyun yakini bahwa saat ini Chanyeol sedang meminta maaf pada puluhan orang. Terlihat dari bagaimana Chanyeol menelpon sambil berbisik dan berkata maaf. Bisa Baekhyun tebak itu pasti client dari The Two Tower Property, perusahaan properti milih Chanyeol dan Sehun. Satu lagi sisi lain seorang Park Chanyeol yang Baekhyun lihat, sesibuk apapun dia, dia tidak akan meninggalkan sahabatnya yang sedang kesusahan. Terbukti dari apa yang Chanyeol lakukan setelah semua sambungan telponnya terputus, Chanyeol langsung berdiri di sebelah Sehun dan menepuk – nepuk bahu bidang sahabatnya itu.
Sehun memejamkan matanya beberapa saat, berusaha untuk tenang dan tidak mendobrak pintu berlabel ruang operasi di hadapannya. Sejujurnya sudah sejak satu menit pertama Sehun sudah sangat ingin mendobrak saja pintu kaca itu. Sehun ingin melihat anaknya, Sehun tidak tau kenapa dia tidak bisa tenang seperti biasanya sekarang. Disisi lain Luhan yang terlihat diam namun terus saja menangis membuat Sehun semakin kacau, bagaimana dia bisa menenangkan ibu dari anak – anaknya ketika dia sendiri tidak bisa tenang dalam situasi seperti ini. Sehun tak sepenuhnya mengeluh, Sehun sempat berterimakasih dalam hatinya kepada Baekhyun dan Chanyeol yang juga ada disana. Setidaknya keberadaan mereka membawa energy positif yang bisa menetralkan aura kecemasan menggila yang berasal dari jiwa Sehun dan Luhan.
Tapi, situasi ini sebenarnya adalah hukuman. Hukuman bagi Tuan dan Nyonya Oh. Kedua orang tua Sehun yang sedari tadi masih setia menunggu kepastian akan keadaan cucu mereka di ruang operasi. Hati orang tua mana yang tidak sakit ketika melihat anaknya tersiksa akan kenyataan pahit kehidupan yang selama ini dirasakannya seorang diri. Sejak saat Tuan Oh mengusir anaknya dari rumah, sejak saat itu juga Sehun tidak pernah mengeluhkan apapun pada kedua orang tuanya. Sehun tidak pernah mengeluh akan lelahnya menjalani hidup sebagai seorang suami dan ayah di usianya yang masih sangat muda. Sehun tidak pernah mengeluh jika dia harus merasa ketakutan, sedih, panik, cemas dan susah disaat bersamaan. Sehun juga tidak pernah mengeluh pada kedua orang tuanya meskipun berat beban yang harus dia tanggung melebihi apa yang seharusnya.
Berapa masa sulit yang Sehun dan Luhan lewati berdua selama ini bahkan tanpa campur tangan orang tua mereka?
Pertanyaan itu seperti sebuah cambuk berduri yang menghukum Tuan dan Nyonya Oh. Terbayang dalam benak mereka bagaimana sulitnya menghadapi cobaan yang berat diasaat usia mereka bahkan masih terlalu muda untuk menjadi orang tua, bagaimana terpukulnya mereka dengan keadaan penuh tekanan setiap harinya dan bagaimana panik dan takutnya mereka menghadapi semua ini tanpa tempat untuk mengadu dan berbagi.
Orang tua macam apa merekka?
Pertanyaan itu adalah sebuah bentuk penghinaan yang Tuan Oh berikan terhadap dirinya sendiri. Ya, ayah macam apa dia yang dengan tega membiarkan putranya menghadapi kejamnya kehidupan sendirian? Ayah macam apa dia yang dengan keegoisannya membuang sang putra dalam kehidupan luar biasa sulit? Ayah macam apa dia yang lebih mementingkan nama baik keluarga daripada kehidupan dan masa depan putranya itu? Dan saat itu juga Tuan Oh berkesimpulan bahwa yang pantas bersujud dan minta maaf adalah dirinya, bukan Oh Sehun. Sehun hanya melakukan satu kesalahan, tapi Tuan Oh? Pria itu bahkan tidak punya nyali untuk menghitung seberapa banyak kesalahan yang dia lakukan pada hidup putra bungsunya itu.
Orang tua tidak selamanya benar, ada kalanya mereka juga membuat kesalahan.
.
.
Bunyi – bunyi monitor dan alat medis di dalam ruang operasi masih terdengar, namun dibanding memekakkan telinga seperti beberapa saat lalu, kali ini bunyi – bunyi itu terdengar lebih nyaman di telinga.
"Dokter Kim Jongdae, tolong periksa hasil EKGnya"
Jongdae langsung menuju ke sebuah alat dengan monitor pemantau detak jantung, jemari kurusnya memencet beberapa tombol lalu tak beberapa lama hasil pantauan detak jantung sudah tercetak di sebuah kertas merah muda dari alat itu. Jongdae lalu membacanya dan melaporkannya pada Yifan.
"Sinus Bradycardia… Detakan jantungnya masih diambang normal tetapi sangat lemah dan lambat"
"VSD sudah aman, sekarang kita hanya perlu menangani ritme jantungnya"
"Kau akan membuat sobekan baru?"
Jongin bertanya seraya mengecek peredaran darah Jaehun pada alat di sebelahnya.
"Yah… aku rasa aku harus menanamkan alat ini di perutnya. Dia masih anak – anak…"
Yifan mulai membedah bagian perut jaehun, tidak dalam, hanya sebatas lapisan kulit yang nantinya akan tembus hingga bagian dada. Darah segar yang keluar ketika pisau di torehkan langsung disedot oleh alat yang dipegang oleh salah seorang asisten operasi. Disisi lain Jongdae mulai menyiapkan pacemaker yang akan di tanam pada tubuh Jaehun. Mulai dari memastikan bahwa pacemakernya steril, kabel – kabel yang akan menghubungkan pacemaker pada jantung berfungsi sempurna dan keutuhan baterai pada pacemaker yang akan ditanamkan.
"Pacemaker ready.." kata jongdae selanjutnya.
"Bagaimana Jaehan?" tanya Yifan pada Zitao yang kini duduk sambil memangku Jaehan yang masih memegang tangan Jaehun.
"EKG sudah dipasang, jantungnya berdetang seusai ritme, namun ritmenya sama seperti Jaehun, berada dalam kondisi Sinus Bradycardia. Saluran oksigen sempurna. Dia stabil" jawab Zitao yang kini suaranya tak lagi terdengar ketus
Yifan tidak merespon apapun setelah itu, Yifan hanya terus berkutat dengan alat berwarna silfer berbentuk pipih dengan lebar tak lebih dari setengah telapak tangannya. Yifan dengan cekatan memasang kabel melalui robekan yang dia buat di perut Jaehun, pemasangan itu dipantau oleh dokter Kim Jongdae melalu monitor X ray. Setelah penempatan kabelnya dirasa mepurna dan bergerak seirama dengan jantung Jaehun saat ini, Yifan lalu memasang dua ujung kabel yang tersisa pada alat yang dipegangnya tadi. Dua kabel itulah yang nantinya menghubungkan kekuatan pacemaker untuk membantu memompa jantung Jaehun.
Pacemaker telah dipasang dengan sempurna. Kini sudah waktunya untuk menutup semua bagian tubuh Jaehun yang terbuka akibat sobekan pisau medis. Namun sebelum benar – benar menutup tubuh putra bungsu Oh Sehun itu, Yifan meminta tolong sekali lagi pada dokter Kim Jongdae untuk memeriksa pantauan EKG Jaehun.
"Pemasangan pacemaker berhasil, ritme jantungnya berubah, dari sebelumnya Sinus Bradycardia kini menjadi Dual Chamber Pacemaker"
"Haaah… jadi anak ini selamat?" Jongin menghela napasnya berikut dengan binar mata yang menyiratkan kelegaan
"Pasien baru bisa dikatakan selamat atau tidak setelah 1 kali 24 jam observasi. Kondisi Jaehun saat ini masih dalam keadaan coma." Yifan menjelaskan seraya menjahit perut Jaehun.
"Lalu Jaehan? Bagaimana dengan dia?" Zitao bertanya dengan kecemasannya, gadis itu tidak punya petunjuk apapun mengenai keadaan Jaehun
"Aku akan mengeceknya setelah ini, Asisten Park… tolong siapkan ruang ICU dengan dua tempat tidur. Katakan pada dokter Cha ruangan itu akan diisi oleh pasien Dokter Kim Jongdae"
"MWO?"
Semua orang kaget dengan pernyataan Yifan. Tidak ada yang salah memang dengan menyiapkan ruang ICU sekarang, tapi kenapa harus diatas namakan sebagai pasien dokter Kim Jongdae. Apa Yifan sudah gila?
"Dokter Wu… dia pasiemu!" pekik Jongdae yang tidak mengerti apa maksud Yifan
"Ya… dia akan menjadi pasienku sampai 1 kali 24 jam kedepan. Selanjutnya dia akan menjadi pasienmu, Dokter Kim Jongdae"
"Aku masih tidak mengerti"
"Setelah operasi selesai aku akan mengatakan banyak hal padamu, jadi ku mohon, untuk kali ini lakukan apa yang aku minta. Aku berjanji aku tidak akan merugikan siapapun"
Seluruh ruangan menjadi hening. Tak satupun kembali bersuara atau bertanya apapun. Yifan berulang kali bersyukur pada Tuhan bahwa Jaehun masih diberi kesempatan untuk kembali. Yifan benar – benar berterima kasih pada keajaiban yang datang untuk kedua putra kembar dari orang yang sangat dicintainya. Dalam diamnya Yifan terus berjanji pada Jaehun dan Jaehan bahwa setelah ini, Yifan tidak akan pernah lagi merampas kebahagiaan mereka untuk kebahagiaannya sendiri. Yifan akan menggembalikan semua yang telah dia ambil dan berusaha memperbaiki semua kekacauan yang telah dia perbuat. Yifan sudah memutuskan untuk bertanggung jawab atas badai mengerikan yang dia ciptakan untuk kehidupan keluarga kecil yang seharusnya bahagia. Dan saat itu juga, Yifan telah menerima dengan ikhlas apapun konsekuensi yang nantinya akan dia dapatkan karena telah menjadi pemeran antagonis yang seharusnya tak perlu ada.
"Operasi berjalan lancar, keadaan pasien stabil, siap untuk fase observasi di ruang ICU" Jongdae mengumumkan keadaan pasien yang disertai oleh pergerakan para perawat dan asisten dokter yang merapikan meja operasi dan alat – alat yang digunakan selama operasi Oh Jaehun.
Perlahan – lahan Yifan melihat tangan Jaehun dan Jaehan mulai terlepas, Yifan segera menyaup tubuh Jaehan dari pelukan Zitao dan membaringkannya di sebuah tempat tidur kosong yang tadinya memang disiapka untuk Jaehan. kondisi tubuh Jaehan melemah dan dengan sigap Yifan memasangkan IV pada tangan kecilnya lalu memantau laporan ritme detak jantung Jaehan pada mesin EKG. Tidak ada banyak hal yang terjadi, dari segi medis Jaehan bisa dikatakan terkena serangan jantung ringan yang mengakibatkan jantungnya melemah. Keadaan itu terbilang cukup normal, Jaehan hanya perlu mendapatkan perawatan ringan dengan IV dan EKG juga terpasang di tubuhnya.
"Tolong antar pasien ke ruang ICU 1 jam setelah sekarang. Operasi selesai"
Yifan membungkukan badannya kepada semua orang yang berjuang bersamanya di dalam ruang operasi selama hampir 7 jam lamanya.
"Terimakasih karena semuanya sudah membantuku untuk melakukan operasi ini. Terimakasih karena telah percaya padaku dan terus berusaha menyelamatkan nyawa pasien ini. Aku benar – benar berterimakasih"
Yifan kembali membungkukkan badannnya dan itu membuat Jondae dan Jongin tersenyum bersamaan.
"Aku akan berjaga di ICU sampai 24 jam ke depan. Dokter Kim Jongdae, bisakah kau menggantikan posisiku untuk memberi tahu keadaan pasien kepada orang tua mereka?" pinta Yifan pada Jongdae yang dijawab dengan anggukan ringan.
"Baiklah, temui aku di ruang rawat istriku jika kau ingin menjelaskan sesuatu" Jongdae menepuk bahu Yifan untuk menguatkan pria tampan bertubuh tinggi itu.
"Tenanglah… pasien ini pasti sembuh, kau dokter yang hebat.. kau sudah berusaha dengan baik" Jongin juga datang menghampiri Yifan lalu menepuk bahu Yifan juga kemudian pergi menyusul Jongdae
Zitao masih duduk di sebelah Jaehun, matanya menolak untuk memandang Yifan. Zitao merasa lega namun sekaligus marah, entah kenapa dia tidak bisa menghilangkan kemarahannya pada Yifan. Maafkan Zitao jika dia salah, tapi mempermainkan nyawa seseorang sudah benar – benar melanggar etika kedokteran.
"Aku akan bertanggung jawab atas semua ini" ujar Yifan yang kini berdiri di sebelah Jaehan. Yifan mengusap kening Jaehan yang berkeringat meskipun ruang operas sangat dingin
"Tentu saja kau harus bertanggung jawab, Wu Yifan! Jika tidak karena sebuah keajaiban maka kau sudah jadi seorang pembunuh! Dan aku tidak akan segan – segan untuk menuntutmu atas pembunuhan berencana yang kau lakukan"
Zitao meluapkan emosinya. Meskipun sekarang gadis itu sudah tak sepenuhnya berniat untuk melaporkan mantan tungannya itu lagi.
"Kau berhak marah dan membenciku, Zi… Aku yang tidak berhak minta maaf padamu. Aku sudah… terlalu banyak menyakiti perasaanmu" Yifan berkata lembut dan masih memandangi wajah Sehun yang tercopy pada wajah Jaehan.
Zitao berdiri dari tempat duduknya lalu menghadap kearah Yifan dan berkata, "Kau tidak hanya menyakitiku. Kau juga menyakiti Sehun, menyakiti Jaehun dan Jaehan, terlebih lagi kau menyakiti Luhan. Sudah kau liat kan sekarang, apakah cintamu berhasil membuat wanita yang kau cintai bahagia? Apakah cintamu berhasil membuat wanita yang kau cintai hidup lebih baik?...
Kau, kau tidak mencintai Luhan, Wu Yifan… Kau hanya ingin menguasai wanita itu dengan keegoisan dan keserakahanmu! Dan itu bukanlah cinta. Cinta tidak pernah seperti itu! Cinta tidak pernah menyakiti siapapun. Aku berkata seperti ini bukan karena aku membencimu. Aku tidak pernah membencimu, aku hanya kecewa terhadap apa yang kau lakukan. Dulu, dimataku kau adalah seorang pria yang cerdas, cemerlang, hebat… bahkan kau sangat sempurna. Tapi maafkan aku, jika penilaianku padamu kini sudah berubah. Kau hanyalah orang yang beruntung tidak membunuh orang yang tak bersalah karena keegoisanmu"
Zitao pergi meninggalkan ruang operasi setelah meluapkan segala kemarahannya. Meninggalkan Yifan yang kini sudah terisak dalam tangisan pilu akibat ulahnya sendiri. Yifan kini bersimpuh diantara tubuh Jaehun dan Jaehan yang terlelap dalam kondisi coma. Yifan mengepalkan kedua tangannya diatas pahanya yang terlipat.
Jika ada perasaan yang lebih dari perasaan bersalah, maka itulah yang Yifan rasakan sekarang. Yifan merasa dirinya adalah orang yang sangat berdosa. Tidak ada satupun alasan yang bisa membenarkan Yifan untuk melakukan apa yang telah dia lakukan pada dua bocah kecil yang kini terbaring lemah di hadapannya.
Disela tangis dan kepedihannya Yifan memutar kembali memori ketika dia bertemu dengan Luhan dan Sehun di depan ruang Dokter Ahn Jaehyun. Dokter Ahn Jaehyun adalah dokter kandungan yang menangani kehamilan Luhan. Saat itu Yifan ingat betul bagaimana Luhan mengatakan bahwa dia tengah mengandung anak dari Oh Sehun. Yang membuat Yifan tidak suka adalah cara Luhan dan Sehun yang bisa tetap tersenyum dan bahagia ketika kenyataanya mereka berdua sudah ditendang jauh dari rumah dan kehilangan masa depan mereka. Dan Yifan sangat ingat bahwa hari itu adalah hari dimana dia berubah menjadi seorang monster mengerikan bagi kehidupan keluarga kecil yang seharusnya tak pernah tersentuh oleh iblis yang bersembunyi dalam dirinya.
Yifan juga ingat bagaimana Dokter Huang Zitao berlari ke ruangannya dengan raut wajah sangat gawat dan berkata bahwa seorang pasiennya butuh pertolongan. Waktu itu Jaehun dan Jaehan baru saja berusia 3 jam. Yifan berlari bersama Zitao menuju ruang ICU anak dan melihat dua bayi mungil dalam incubator satu bayi menangis keras dan satunya lagi terdiam dengan kondisi tubuh yang sudah mulai membiru. Sejak pertama Yifan melihat Jaehun, Yifan sudah mendiagnosa ada kesalahan pada jantung Jaehun dan itu bukanlah perkara biasa.
Selama beberapa menit Yifan terus berusaha untuk mendapatkan kembali detakan jantung dari sang bayi yang saat itu sudah dalam keadaan lemah. Bunyi mesin EKG yang memantau ritme detak jantung Jaehun beradu dengan suara tangis bayi yang terbaring di incubator sebelah incubator Jaehun. Bayi yang menangis keras sedari tadi itu adalah Oh Jaehan. Dengan badannya yang ringkih dan mungil, bayi Jaehan mampu menangis sangat nyaring dan keras. Jaehan sudah berulang kali mendapatkan penanganan dari Zitao namun bayi itu tetap menangis. Yifan saat itu sudah hampir menyerah, mustahil untuk anak dengan jantung yang berdetak selemah itu bisa bertahan hidup lebih lama, apalagi jika dia memiliki kelainan jantung yang tak biasa. Mustahil. Namun suara dalam hati Yifan menggugahnya untuk melakukan sesuatu yang diluar nalar.
Yifan mengusulkan pada Zitao untuk menggabung Jaehun dan Jaehan dalam satu incubator. Saat itu Yifan hanya ingin membuat Jaehan bisa bersama dengan Jaehun, karena jika Jaehun seketika kehilangan detang jantungnya dan meninggal, maka Jaehan paling tidak punya kesempatan untuk berbaring di samping Jaehun sekali lagi. Zitao setuju dengan usul itu, dan dengan tangannya yang lebar Yifan menggabungkan dua bayi itu dalam satu incubator, Yifan meletakkan Jaehun secara terlentang sementara Jaehan dengan posisi tengkurap dengan satu tangannya seperti memeluk Jaehun. Yifan sempat mengabadikan gambar itu dalam ponselnya. Dan demi Tuhan, sampai detik itu Yifan masih belum punya niat iblis yang bejat untuk melukai dua malaikat ciptaan Tuhan itu.
Namun perkiraan Yifan salah. Yifan kira Jaehun tidak akan bertahan, namun ketika Jaehan ada di sebelahnya dan memeluk tubuh membirunya, perlahan – lahan ritme detakan jantung Jaehun kembali datang dan berangsur normal. Itu adalah keajaiban Tuhan pertama yang Yifan saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Sama seperti hari ini ketika Jaehan menyelamatkan Jaehun. Jaehan bagaikan malaikat penjaga untuk kembarannya itu bahkan mulai saat mereka baru saja dilahirkan.
Yifan tidak tau, sejak kapan dia bisa berubah jadi iblis mengerikan. Tapi yang jelas, hari ini, Yifan telah memutuskan utnuk berhenti. Yifan tidak mau terus menerus membuat hancur apa yang seharusnya dibangun dengan indah.
"Jaehun-ah… Jaehan-ah… maukah kalian memaafkan paman dokter? Maukah kalian memaafkan semua yang telah paman lakukan pada kalian? Ampuni paman, nak… paman telah mejadi orang jahat untuk kalian. Maafkan paman…"
Wajah Yifan begitu merah dengan keringat dan air mata yang mengucur. Yifan menangis, meskipun dia tau menangisi semuanya dan meminta maaf tetap saja tidak bisa menebus dosanya pada dua anak kembar tak berdosa yang telah dia rusak. Dan untuk menuntaskan semua penyesalannya, Yifan berakhir dengan bersujud kepada Jaehun dan Jaehan. Setelah itu Yifan berdiri dan segera mengambil ponselnya.
"Halo Direktur Choi Seungho? Saya Dokter Wu Yifan dari Seoul International Hospital"
…
"Saya ingin melaporkan kasus pelanggaran kode etik kedokteran."
…
"Saya telah melakukan Malpraktek terhadap pasienku. Saya Wu Yifan, Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular Seoul International Hospital. Saya menyerahkan diri dan siap menjalani hukuman terhadap kelalaian medis yang saya lakukan secara sengaja"
…
"Ne, saya siap mengikuti persidangan. Terima kasih"
.
.
Pintu ruang operasi terbuka dan beberapa perawat serta asisten dokter segera melakukan pembersihan dan mempersiapkan ruang ICU. Sehun, Luhan, Baekhyun, Chanyeol, Tuan Oh dan Nyonya Oh terlihat bingung dengan apa yang terjadi begitu cepat di hadapan mereka.
Tak lama kemudian Dokter Kim Jongdae dan Dokter Kim Jongin keluar dari pintu ruang operasi. Sehun yang tidak tahan lagi langsung menghampiri kedua dokter itu.
"Bagaimana keadaan anak – anakku? Mana Jaehan?"
Jongdae dan Jongin sama – sama tersenyum lembut dan mengangguk. Jongdae yang sudah diberikan mandat oleh Yifan segera memberikan penjelasan pada kedua orang tua HunHan.
"Apakah anda Tuan Oh Sehun?"
"Ya benar, Aku Oh Sehun…"
"Selamat malam Tuan Oh, aku Dokter Kim Jongdae, spesialis jantung dan ini Dokter Kim Jongin, spesialis penyakit dalam. Kami bersama Dokter Wu Yifan dan Dokter Huang Zitao telah melakukan tugas kami. Jangan khawatir Tuan Oh, operasi putra anda telah selesai. Keadaan memang sempat memburuk tetapi diluar dugaan ada sebuah keajaiban terjadi. Kedua putra anda benar – benar anak yang kuat. Mereka saling mendukung satu sama lain. Jaehun selamat. Pacemaker sudah ditanam dalam tubuhnya, Jaehan kondisinya sempat melemah di dalam. Entah kenapa aku sempat merasa bahwa selama proses operasi, Jaehan seperti meminjamkan detak jantungnya pada Jaehun. Mereka berdua luar biasa. Jadi… tidak ada yang perlu anda cemaskan. Tim medis sedang mempersiapkan ruang ICU dan sekarang dokter Wu Yifan tengah mengobservasi Jaehun dan Jaehan bersamaan. Proses observasi berjalan selama 1 kali 24 jam"
"Tunggu sebentar… kenapa Jaehan juga ikut diobservasi? Ada apa dengan dia?"
"Ceritanya panjang dan aku tidak mau menceritakan semua keajaiban yang terjadi di ruang operasi jika Tuan dan Nyonya masih dalam keadaan kusut begini. Tenanglah… semua akan baik – baik saja"
Jongdae kembali tersenyum dengan senyum malaikat di bibir imutnya. Ada pancaran rasa lega yang meliputi air muka Sehun setelah hampir 7 jam Sehun terus menerus resah.
"Jika boleh kami sarankan sebaiknya anda sekeluarga kembali ke rumah. Jaehun dan Jaehan mungkin akan membutuhkan perawatan yang agak lama, tentu mereka butuh beberapa barang yang diperlukan dari rumah. Kami sudah menyiapkan ruang ICU untuk mereka. Dan jika hasilnya baik, mungkin saja besok malam mereka sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat"
"Terima kasih dokter… terima kasih telah menyelamatkan nyawa anak kami"
Sehun menjabat tangan kedua dokter tampan itu diikuti dengan Luhan dan juga Tuan dan Nyonya Oh.
"Syukurlah semua berjalan lancar" ujar Baekhyun yang kine menepuk bahu Luhan yang ada dalam pelukkan Sehun
"Sekarang sebaiknya kalian pulang ke rumah, seperti apa yang dokter tadi sampaikan. Masa observasi baru selesai besok. Jadi ada baiknya jika kalian berdua lebih mempersiapkan diri dan beristirahat" Chanyeol berkata dengan senyum kelegaan di wajahnya
"Maaf Chanyeol-ah, karena aku semua pekerjaan di kantor jadi berantakan" Sehun melepaskan pelukannya dari Luhan lalu memeluk sahabatnya yang tampan itu
"It's okay man… semua urusan kantor sudah di tangani oleh Jonghyun. Lagi pula, aku tidak mau kau sendirian disaat seperti ini." Chanyeol menepuk pundak Sehun dengan akrab.
Namun perkataan Chanyeol tadi seperti tamparan keras bagi Tuan dan Nyonya Oh. Tapi kenyataannya memang begitu. Ini adalah kali pertama mereka ada bersama Sehun di saat mereka dibutuhkan.
"Baekhyun-ah… aku dengar hari ini kakekmu.."
"Ne… jangan bahas itu lagi. Besok pagi adalah acara pemakaman kakekku. Aku harap kau dan Luhan bisa hadir sebelum kalian ke rumah sakit"
Baekhyun sengaja memotong kalimat Sehun dengan senyum manis yang menyembunyikan perasaan sedih di matanya. Namun bukan Oh Sehun namanya jika dia tidak berhasil menemukan perasaan sedih itu.
GREB
Sehun memeluk Baekhyun di hadapan Luhan dan Chanyeol. Luhan bersikap biasa ketika mantan suaminya memeluk Baekhyun, berbeda dengan Chanyeol yang terlihat agak tidak nyaman.
"Maaf… aku tidak bisa ada bersamamu saat kau membutuhkan seseorang di sisimu. Aku mohon maafkan aku.." bisik Sehun yang masih dengan erat memeluk Baekhyun
"Gwaenchanha Oh Sehun… Memang sudah seharusnya kau berada disini. Tempatmu adalah disini, berdiri di samping Luhan dan ada untuk kedua buah hatimu. Aku baik – baik saja." Jawab Baekhyun yang kini balas memeluk Sehun
Sehun melepas pelukannya dari Baekhyun, gadis itu masih bisa tersenyum sangat tulus padanya yang telah ingkar janji.
"Aku akan pulang sebentar lagi.. kau mau ikut aku dan… Luhan?"
Sehun mengajak Baekhyun untuk pulang, sedikit tidak enak hati karena dia benar – benar terlihat seperti seorang pria yang tengah menduakan kekasihnya
"Tidak. Aku masih harus mengurus beberpa hal untuk pemakaman kakekku besok. Chanyeol bilang dia tau dimana harus mencari semuanya jadi biar Chanyeol saja yang menemaniku" Baekhyun kembali tersenyum
"Chanyeol?" Sehun megerutkan keningnya lalu menatap kearah Chanyeol dan Baekhyun bergantian
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Aku hanya membantunya… apa kau cemburu?" Chanyeol menantang Sehun dengan mimik sok keren di wajahnya
"Aku tidak akan cemburu… Aku punya Luhan disini.." jawab Sehun dengan mimik wajah yang tak mau kalah keren
"Ya… bagaimana bisa kau bilang seperti itu di hadapan calon istrimu?" pekik Chanyeol tidak santai
"Entahlah… tapi sepertinya calon istriku yang sedang menggandeng tanganmu itu berhutang satu penjelasan padaku" Sehun melirik jemari lentik Baekhyun yang saling tertaut dengan jemari Chanyeol. Keduanya langsung salah tingkah dan itu berhasil membuat wajah Baekhyun berubah merah
"Sudahlah… aku dan Baekhyun harus pergi. Masih ada acara penting besok. Jangan lupa datang dan minta maaf pada kakek Baekhyun karena kau tidak becus menjaga Baekhyun, arraseo!" Chanyeol berbisik dengan nada penuh intimidasi.
Chanyeol dan Baekhyun kemudian berpamitan dan pergi dari ruang tunggu itu. Tinggalah Sehun, Luhan dan kedua orang tua Sehun disana. Nyonya Oh sedari tadi tak pernah berhenti untuk memeluk Luhan dan memberi kekuatan pada wanita yang telah memberinya dua cucu itu. Hari ini Nyonya Oh dan Luhan tampak dekat. Nyonya Oh tak segan – segan meluapkan kasih sayang dan dukungannya untuk Luhan dan Luhan pun tidak sedikitpun menolak perlakuan ibu dari ayah kedua putranya tersebut.
"Jadi apa rencanamu sekarang, nak?" Tuan Oh bertanya pada Sehun ketika putranya mengambil space kosong di bangku sebelah sang ayah.
"Aku akan melakukan saran dari para dokter. Aku akan pulang bersama Luhan, mempersiapkan apa yang harus disiapkan sesuai dengan kebutuhan anak – anak. Aku juga belum memberi tau sekolah anak – anak tentang keadaan mereka. Aku juga harus mengatur ulang jadwal pekerjaanku agar aku bisa membagi waktu antara kantor dan anak – anak. Mungkin Luhan juga akan melakukan hal yang sama. Lalu aku juga perlu menghubungi beberapa orang untuk claim asuransi dan pembiayaan pengobatan HunHan"
Selama Sehun berbicara Tuan Oh hanya memandang putranya itu. Sehun yang terakhir dia temui dulu dengan Sehun yang ada di hadapannya sekarang adalah dua pribadi yang berbeda. Sungguh waktu dan keadaan memang bisa mendewasakan seseorang.
"Biar Appa juga membantu biaya pengobatan anak – anak, ne?"
"Tidak usah Appa… aku dan Luhan sudah memiliki perencanaan keuangan yang matang untuk menghadapi situasi mendadak seperti ini. Kami sudah menyiapkan semuanya"
Tuan Oh kembali memandangi wajah putranya yang kini semakin tampan dan berwibawa. Entah kapan wajah tirus dan menggemaskan Sehun berubah menjadi sedemikian tampan, tenang dan memberi kesan menlindungi seperti itu.
"Kau benar – benar sudah dewasa, nak… Appa benar – benar bangga padamu"
"Aku hanya ingin bisa bertanggung jawab terhadap apa yang aku lakukan. Seperti apa yang appa katakan dulu, jika aku yang membuat masalahnya maka aku yang harus bertanggung jawab dan menyelesaikannya. Aku memegang teguh prinsip bertanggung jawab itu"
Hati Tuan Oh merasakan dilemma. Disatu sisi dia sedih mendengar anaknya harus mengerti arti tanggung jawab dengan semua kepedihan hidup yang harus dia pikul namun disisi lain Tuan Oh juga merasa bangga bahwa putranya bisa tumbuh menjadi pria dewasa yang bisa diandalkan.
"Sebaiknya Appa dan Eomma segera pulang dan beristirahat. Ini sudah malam, eomma dan appa tentu perlu istirahat" ujar Sehun yang kini kembali berdiri dan mendekat pada Luhan
"Baiklah kalau begitu. Kami akan pulang sekarang. Mungkin Lusa, Appa dan Eomma akan kemari lagi untuk menjenguk mereka" kata Tuan Oh yang juga bangkit dari duduknya
"Ne… kalau begitu Eomma pergi dulu. Luhan-ah… eomma mohon, pertimbangkanlah permintaan eomma.." ucap Nyonya Oh seraya mengelus pipi Luhan
"permintaan? Permintaan apa?" Sehun yang terlihat bingung menghampiri Luhan dan menggenggam tangan lembut mantan istrinya itu
"Ini adalah permintaan seorang ibu pada anak perempuannya. Jika kau bukan perempuan kau tak perlu tau" canda Nyonya Oh yang berhasil membuat wajah lelah Luhan merekah karena senyum
.
.
Sehun dan Luhan memasuki rumah yang ditempati oleh Luhan dan anak – anak. Sehun sempat mengecek rumah sebelah namun sepertinya Baekhyun belum pulang dari kegiatan persiapannya. Luhan menyalakan semua lampu yang dibutuhkan untuk menerangi rumah minimalis itu, sementara Sehun terus membuntuti Luhan sedari tadi.
"Apa kau masih cemas?" tanya Sehun pada Luhan yang kini baru akan naik tangga menuju kamarnya di lantai dua
"Sedikit. Tapi aku mencoba untuk percaya pada tim medis. Aku percaya bahwa HunHanku adalah anak – anak yang kuat" Luhan tersenyum lemah namun satu tangan kirinya mencengkram pinggirang tangga dengan sangat kuat
Sehun perlahan maju mendekat kearah Luhan. Luhan berada satu anak tangga diatas Sehun, itu membuat tubuh mereka memiliki tinggi yang hampir sama. Satu tangan Sehun meraih tangan Luhan yang meremas tangga, Sehun menggenggam tangan lembut itu dan maju satu langkah lagi hingga tak ada spasi antara keduanya dan kemudian…
Sehun menempelkan bibir tipisnya di bibir Luhan, satu tangannya yang bebas meraih pinggang Luhan dan membawa tubuh wanita itu mendekat tanpa jarak dengan tubuhnya. Bibir Sehun mulai melumat bibir Luhan secara lembut dan perlahan, membuat Luhan yang tadinya kaget kini semakin menikmati kecupan – kecupan hangat Sehun di bibirnya.
Seiring dengan bibir Sehun yang semakin lama melumat bibirnya semakin dalam. Hati Luhan pun semakin ikut bergejolak. Luapan emosi takut, sedih, lelah dan gelisah bercampur dengan luapan emosi bahagia, nyaman, cinta dan kerinduannya. Luhan merasakan semua emosi sekaligus, dan itu membuat mata rusanya kembali berkaca – kaca.
Sehun membuka mata sipitnya yang tajam ketika perlahan tangan Luhan tak lagi kaku dalam genggamannya dan rasa asin dari pipi basah Luhan mulai masuk kedalam indera pengecapnya. Sehun mengalihkan tangannya dari tangan Luhan menuju pipi tirus sang mantan istri. Perlahan mencoba mengusap air mata yang berjatuhan lalu mengecup kening Luhan dengan lembut dan cukup lama.
"Maaf jika aku tidak bisa melakukan apapun untuk anak kita, maaf jika tadi aku hanya bisa diam dan pasrah menunggu kepastian keadaan mereka tanpa bisa melakukan apapun untuk mereka" ujar Sehun yang kini membenamkan kepalana pada dada Luhan.
Perlahan Luhan mengangkat tangannya dan mengusap punggung Sehun yang mulai bergetar. Selama 7 jam berada di lorong tunggu ruang operasi Sehun tak sama sekali menangis, pria itu hanya beraut cemas dan matanya memerah. Tapi disaat pria itu hanya berdua bersama Luhan, tangisannya seketika pecah. Sehun pun meluapkan emosinya yang berkecambuk. Entah bagaimana seharusnya mengungkapkan emosi yang Sehun rasakan, tapi menangis pada Luhan seperti ini membuat sedikit beban dalam hatinya terkikis.
"Aku pun tidak berbuat apa – apa untuk mereka, Hun-ah… Kau jangan merasa bersalah karena itu" ucap Luhan ketika dia yakin suaranya tak akan bergetar.
"Aku takut sekali kehilangan Jaehun… Aku takut sekali kehilangan anak – anakku Lu… Aku belum sempat menjadi ayah yang baik untuk mereka. Aku sangat takut jika Tuhan tak memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua yang kulakukan"
Sehun terus meracau dan mengungkapkan apa yang pra itu pendam dalam hatinya. Entah kenapa Luhan yang tadinya meresa lemah kini seperti mendapatkan kekuatan untuk membuat Sehun menjadi kuat. Saat itu lah Luhan juga sadar jika mantan suaminya itu juga punya perasaan yang lembut dan kecemasan yang sama besarnya dengan dirinya. Sehun bahkan lebih baik, pria itu berhasil terlihat tegar dihadapan semua orang. Disisi lain relung hati Luhan merasa spesial, ketika Sehun hanya menangis di hadapannya, hal itu membuat Luhan semakin yakin bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
"Apa kau tidak lapar?" tanya Luhan ketika Sehun melepaskan pelukannya
"Aku bahkan lupa jika aku punya perut" ujar Sehun mengusap perut datarnya
"Baiklah kalau begitu aku akan mandi lalu menyiapkan makan malam untuk kita"
.
Sehun dan Luhan baru saja menghabiskan makan malam mereka. Luhan hanya memasak makanan instan mengingat perut mereka sudah sangat lapar. Tak ada hal penting yang mereka bicarakan selama makan malam. Luhan juga agak disibukkan dengan telepon yang masuk dari butiknya. Butik Luhan nampaknya mengalami masa krisis selama Luhan berada di ruang operasi tadi. Beberapa hal buruk terjadi seperti butik Luhan dicap tidak becus dalam mengorganisasi pementasannya, kesalahan musik dan pengaturan cahaya sampai model yang mengeluh karena management backstage sangat tidak professional. Beruntung Luhan bekerja bersama orang – orang brilliant, anak buah Luhan nampaknya mampu untuk menanggulangi semua masalah itu dengan baik. Dan barusan juga Luhan sudah menginstruksikan anak buahnya untuk beberapa hal yang harus dilakukan.
"Apa semuanya baik – baik saja?" tanya Sehun ketika Luhan meletakkan kembali ponselnya di meja makan
"Ya… semuanya baik. Maaf aku hanya masak makanan instan" ujar Luhan seraya menakupkan kedua tangannya
"Jangan minta maaf, apapun yang kau buatkan akan aku makan. Tapi jika itu untuk anak – anak… aku tidak mau kau lalai" balas Sehun dengan tatapan mata pura – pura serius
"Lu…"
Sehun memanggil Luhan ketika beberapa saat hening diantara mereka, Luhan membulatkan matanya pertanda dia siap mendengarkan ucapan Sehun baru setelah itu Sehun berkatan,
"Terima kasih kau masih menyimpan baju lamaku di rumah ini"
Wajah Luhan merona merah ketika Sehun memandangnya tajam sambil tersenyum sangat tampan. Bahkan kini jantungnya berdebar cukup cepat.
"Kenapa kau menyimpan baju ini?" tanya Sehun lagi.
Sebelum makan malam tadi Sehun memang ingin pulang untuk mandi di rumah sebelah, namun Luhan bilang Sehun lebih baik mandi di rumah itu. Dan jika masalahnya adalah Sehun yang tak punya baju ganti, Luhan mengatakan bahwa dia masih menyimpan baju Sehun di rumah itu. Itu adalah baju – baju lama Sehun yang tak Sehun bawa ketika meninggalkan rumah itu saat mereka bercerai. Tak satupun barang yang Sehun bawa kecuali buku – bukunya dan semua penunjang perkuliahannya.
"Aku sengaja menyimpannya… melihat bajumu masih ada di lemari membuatku merasa tidak sendirian, rasanya seperti kau masih tinggal di rumah ini. Dan jika suatu saat nanti kau kembali lagi ke rumah ini, kau tidak akan merasa pernah meninggalkan rumah ini"
Luhan memberikan alasan yang membuat Sehun jatuh cinta lagi dan lagi pada Luhan. Sehun jadi merasa semakin yakin bahwa selama ini pun Luhan merindukannya sebanyak dirinya merindukan Luhan.
CHUP
Luhan membelalakkan matanya ketika Sehun mencuri kecupan singkat di bibirnya. Sehun tersenyum sangat manis hingga membuat kedua matanya hanya berupa garis. Luhan yang tak bisa menahan senyumannya hanya mencubit pelan pipi Sehun beberapa kali.
"Lu… sebenarnya apa yang eommaku minta padamu? Apa aku boleh tau?"
"Hmm… kau penasaran ya?"
"Tentu saja… Apa aku boleh tau?"
"Eomma… dia mimintaku untuk kembali rujuk denganmu demi anak – anak. Dia bahkan meminta maaf jika selama ini keluargamu berlaku kasar pada kita. Dia meminta kita untuk kembali bersatu"
Sehun menganggukkan kepalanya mengerti kemudian Sehun meraih tangan Luhan dan menatap kedua mata rusa di hadapannya dengan tajam.
"Setelah HunHan diijinkan keluar dari rumah sakit, aku akan membawamu pulang ke rumahmu…. Karena aku sudah siap untuk bertemu kedua orang tuamu sekali lagi, aku sudah siap untuk meminangmu dengan cara yang tepat. Apapun yang orang tuamu katakana tentangku nanti, aku sudah lebih dari siap untuk mempertanggung jawabkan semuanya. Aku ingin mempersuntingmu dengan cara yang tepat."
Luhan tersenyum mendengar perkataan Sehun. Itu benar – benar di luar dugaan Luhan. Sehun ingin mempersunting Luhan dengan cara yang tepat. Luhan mengerti maksud perkataan pria yang sangat dicintainya itu. Kesalahan masa lalu yang mengharuskan Sehun datang pada orang tuanya dan mempersuntingnya dengan cara yang tidak bisa dikatakan benar. Masihkah itu semua bisa dilakukan?
.
.
.
"Selamat pagi… ada yang bisa kami bantu?"
"Selamat pagi, Aku Oh Sehun… ayah dari pasien Oh Jaehun dan Oh Jaehan di kamar VIP 3, aku akan menyelesaikan administrasi kesehatan putraku"
"Baiklah Tuan Oh, silakan duduk"
Sehun duduk di salah satu kursi ruang pembayaran administari excutive rumah sakit tempat Jaehun dan Jaehan dirawat. Tiga hari sudah berlalu pasca operasi Jaehun. Meskipun Jaehun masih dalam keadaan coma dan Jaehan juga masih belum memberikan tanda – tanda akan bangun dari tidurnya, namun semua laporan dokter yang masuk menyatakan bahwa perlahan – lahan kondisi mereka semakin membaik.
"Pasien atas nama Oh Jaehun dan Oh Jaehan, dengan perawatan khusus di bagian Kardiovaskular?"
"Ya… benar…"
"Total biaya yang harus dibayarkan diluar claim asuransi adalah 20 juta Won"
Sehun tersenyum dengan ramah lalu memberikan kartu kreditnya pada petugas administrasi. Sehun seperti biasa dengan teliti membaca satu persatu lembar tagihan yang dia bayarkan, namun keningnya berkerut ketika nama dokter yang bertanda tangan sebagai penanggung jawab tindakan pada pasien bukanlah nama dokter Wu Yifan, melainakan Dokter Kim Jongdae.
"Permisi… Aku rasa ini sebuah kesalahan, dokter yang menangani putraku adalah Dokter Wu Yifan, bukan Dokter Kim Jongdae"
"Ah maaf, coba saya cek kembali Tuan"
Petugas itu kembali mengecek data administrasi Jaehun dan Jaehan dan beberapa saat kemudian si petugas kembali kepada Sehun
"Maaf Tuan tapi data kami sudah benar. Kedua putra anda memang ditangani oleh Dokter Kim Jongdae terhitung sehari setelah operasi di lakukan. Dan… Dokter Wu Yifan juga sudah tidak bekerja di rumah sakit ini sejak kemarin, tuan"
"Apa? Memangnya Dokter Wu Yifan kemana?"
"Saya tidak tau pasti Tuan, tapi yang saya tau Dokter Wu telah mengundurkan diri sejak kemarin dan semua pasiennya telah dipindah tangankan pada dokter lain"
"Baiklah… terimakasih.. saya permisi dulu"
Sehun keluar dari ruang pembayaran administrasi menuju ke ruang rawat putranya. Sehun mendapati Luhan berbicara dengan Dokter Huang yang Sehun kenal sebagai dokter anaknya HunHan.
"Yifan sudah mengundurkan diri dari rumah sakit ini. Yang aku tau, dia melaporkan dirinya sendiri atas tindakan Malprakteknya pada Jaehun. Kemarin dia mengikuti sidang kode etik kedokteran dan Yifan terbukti bersalah. Yifan tidak dipenjara karena Jaehun selamat, tetapi Yifan… status kedokteran Yifan telah dicabut, Yifan tidak berhak lagi praktek atau bekerja sebai dokter. Sejak kemarin aku sudah berusaha mencari Yifan tapi aku tidak bisa menghubunginya. Yifan menghilang begitu saja"
Zitao menjelaskan semuanya pada Luhan dan kebetulan Sehun juga mendengarnya. Dan apa itu katanya Yifan pergi? Begitu saja? Tanpa mengucapkan apapun padanya dan Luhan? Terlebih pada Jaehun dan Jaehan? Kenapa pria itu pengecut sekali? Setelah dia menrusak seluruh hidupnya lalu dia menghilang begitu saja?
"Sejak kemarin tidak ada yang tau kemana perginya Yifan. Bahkan dokter Kim Jongdae hanya bilang jika dia menitipkan HunHan padanya, tidak lebih" tambah Zitao dengan raut wajah lelahnya. Bisa ditebak jika dokter cantik itu tidak tidur semalaman mungkin untuk mencari Yifan.
"Hh…Hyung… Hyuuung…"
Sebuah suara lemah terdengar dari arah tempat tidur kembar di ruangan itu. Dengan sigap dokter Huang mengecek kearah kedua pasien yang terbaring di ruangan itu diikuti dengan Sehun dan Luhan.
"Hhyuung…"
Jaehan perlahan menggerakkan kedua tangannya lalu membuka matanya dengan perlahan – lahan
"Jaehan-ah… Oh Jaehan…" Zitao memanggil bocah kecil itu dan yang dipanggil hanya memandang langit – langit ruangan dengan tatapan bingung
"Eomma…. Appa…" Jaehan memanggil kedua orang tuanya ketika matanya menangkap bayangan mereka
"Ne Jaehan-ah… Eomma dan Appa disini" ujar Luhan dengan senyum kelegaan di wajahnya
"Hyung eodisseoyeo?" tanya anak itu dengan suara super lemah dan seraknya
"Hyung masih tidur, dia ada disebelahmu… sebentar lagi Hyungmu pasti bangun" Sehun mengusap kening Jaehan dan memberikan senyuman semangat pada putranya
"Hyung tidak jadi pergi kan?" tanya Jaehan kemudian
"Ani… Hyungmu tidak pergi kemana – mana sayang" balas Luhan meyakinkan
"Tekanan dara Jaehan normal, ritme detak jantungnya pun stabil, jika keadaannya tetap seperti ini maka Jaehan sudah bisa melepaskan kabel – kabel EKG di tubuhnya dan juga selang pernapasannya. Tapi untuk IV, Jaehan harus tetap memakainya dulu" ujar Zitao yang terlihat cukup bersemangat atas perkembangan Jaehan
"Jaehan-ah annyeong… apa tidurmu nyenyak?" Zitao menyapa Jaehan ketika dokter cantik itu meletakkan kembali stetoskop di lehernya
Jaehan mengangguk lemah kemudian berkata, "Tapi aku mimpi buruk… aku mimpi Hyung pergi meninggalkanku… lalu aku mengejarnya dan Hyung kembali"
Jaehan megatakan kata – perkata dalam kalimatnya dengan susah payah karena kondisinya yang masih cukup lemah untuk ukuran normal.
"Jangan khawatir sayang, semua akan baik – baik saja. Sebentar lagi Hyungmu juga pasti sembuh" Zitao mengelus lembut pipi Jaehan dan kembali tersenyum
Setelah Zitao keluar dari ruang rawat Jaehan, Luhan dan Sehun segera mengitari putra bungsunya yang kini melihat mereka satu sama lain dengan senyum ceria meski wajahnya masih pucat. Luhan ingin sekali memeluk putra bungsunya bagaikan sudah tak bertemu sangat lama.
Ada kelegaan yang sedikit demi sedikit bisa melegakan hati Luhan dan Sehun. Setidaknya, satu diantara dua putra mereka sudah kembali. Dan mereka yakin, Jaehun juga akan segera bangun dari tidur panjangnya.
Hari itu Sehun dan Luhan habiskan utnuk bersama Jaehan. Kondisi Jaehan pulih begitu cepat, Dokter Kim Jongdae pun memberikan izin untuk mencabut semua alat medis di tubuh Jaehan kecuali IV yang masih menancap di tangan kecilnya karena Jaehan harus menghabiskan satu kantong penuh, itu berarti IV baru boleh dilepaskan setelah sore nanti.
Tak terasa malam pun tiba. Sudah saatnya Jaehan untuk kembali tidur, Jaehan memejamkan matanya perlahan namun sebenarnya dia tidak tidur. Anak itu hanya ingin memejamkan matanya saja. Tapi sang ibu yang sepertinya tertipu dengan wajah lugu Jaehan yang masih agak pucat menyimpulkan bahwa anak bungsunya itu sudah tetitdur.
"Aku sebenarnya tidak mau membahas ini tapi… Aku terkejut dengan keputusan yang Yifan ambil" Sehun memulai percakapan dengan Luhan setelah lama memikirkan perlu atau tidak membahas hal itu sekarang. Tapi jika tidak dibahas, itu hanya akan menjadi persoalan yang tak pernah selesai dan itu adalah hal yang tidak Sehun sukai
"Sudahlah… aku tidak mau lagi mendengar nama itu. Aku bahkan bersyukur dia menghilang dari hadapanku karena kalaupun dia masih berani berdiri di hadapanku aku tetap tidak akan memaafkannya atas apa yang dia lakukan pada Jaehun" Luhan bersikap agak ketus ketika pembicaraan tentang Yifan dimulai.
"Tapi bagaimanapun, dia jugalah orang yang berhasil menyelamatkan Jaehun kembali" Sehun berkata dengan nada rendah, mencoba agar Luhan tak tersinggung
"Haaaah…" Luhan menghela napas beratnya, memejamkan matanya sebentar lalu berkata, "Ya… kau benar, dia juga orang yang menyelamatkan Jaehun. Dan jika dipikir kembali, kesalahan ini sumbernya ada padaku, jika saja aku tidak mempercayainya, jika saja aku tidak membiarkannya masuk dalam kehidupan kita dan jika saja aku tidak terlalu lemah … ini semu…"
CHUP
Sehun mengecup bibir Luhan yang bicara sangat cepat, Luhan lagi – lagi harus kaget dengan kebiasaan Sehun yang entah kenapa akhir – akhir ini sering kali mencuri kecupan dibibirnya.
"Jangan membenci Yifan, ku mohon…" ucap Sehun dengan senyum tipis dan satu usapan lembut di kepala Luhan.
"Jika tidak ada Yifan, kita tidak akan tau jika kita tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Jika tidak ada Yifan, maka aku tidak bisa membuktikan padamu betapa aku sangat mencintai kalian. Jika tidak ada Yifan, kita tidak akan tau bahwa kekuatan cinta kita dan anak – anak sangat besar. Yifan memegang peran penting untuk rumah tangga kita. Meskipun dia datang dengan perannya sebagai antagonis, tapi jika dia tidak ada… kita tidak pernah tau rasanya ingin mati karena terlalu merindukan. Jadi aku mohon… jangan membencinya, okay?"
Sehun membujuk Luhan dengan suara super lembut dan satu tangannya mengusap lembut kepala Luhan. Tak lama kemudian Luhan memberingsut masuk kedalam dekapan Sehun. Harus diakui bahwa dia juga setuju dengan apa yang sehun katakan. Jika tidak ada Yifan, semua hal pahit yang berakhir indah ini tak akan pernah terjadi.
"Maaf, malam ini aku tidak bisa menemanimu di rumah sakit. Aku harus mengerjakan beberapa tugas yang harus diselesaikan. Kau tidak apa – apa ada di sini sendirian?" Sehun bertanya sambil balas memeluk Luhan dengan erat
Luhan pun bergelayut manja di tubuh jangkung suaminya. "Tentu saja tidak apa – apa sayang… Kau pulang lah dan kerjakan tugasmu hingga tuntas, aku akan menunggumu disini.. kau harus cepat kembali" bisik Luhan dengan nada yang cukup manja dan itu membuat Sehun ingin sekali menggemas pipi Luhan
"Sampai di rumah aku akan menelponmu" kata Sehun lalu mengecup pucuk kepala Luhan yang pas berada di hadapan bibirnya
"Aku akan menunggu telponmu" balas Luhan ditambah kecupan di dada Sehun
Chup… Chup…
Luhan dan Sehun saling mengecup satu sama lain lalu diakhiri oleh pelukan hangat.
"Baiklah… akan aku antar kau sampai di lobby. Aku harus meminta laporan kesehatan Jaehun di resepsionis" Luhan tersenyum manis lalu keduanya bergandengan dan meninggalkan ruangan itu.
Setelah pintu tertutup rapat. Jaehan membuka matanya diikuti dengan senyuman lebar penuh kebahagiaan. Tak ada yang lebih membahagiakan dari apa yang baru saja dilihat ah ralat… diintipnya. Meskipun tidak jelas apa yang orang tuanya bicarakan, namun melihat kedua orangtuanya saling memeluk dan mencium membuatnya bahagia beribu – ribu kali lipat. Apakah itu tanda bahwa orang tuanya akan kembali bersama lagi?
Jaehan langsung terduduk sangking semangatnya, jarum IV Jaehan sudah tercabut jadi anak itu bisa leluasa bergerak.
"HYUNG!" Jaehan memanggil kakaknya yang masih tertidur pulas lengkap dengan banyak kabel di tubuhnya.
Jaehan yang tau jika Hyungnya tak mungkin menjawab langsung turun dari tempat tidur dan berdiri di sebelah kakaknya.
"Hyung lihat? Tadi eomma dan appa saling berpelukan… apa itu tandanya mereka akan bersama lagi? Uah… jika benar maka itu adalah hal yang menakjubkan! Hyun harus segera bangun agar Hyung bisa melihatnya sendiri"
Jaehan bermonolog dengan wajah cerianya. Jahan kembali meraih satu tangan Jaehun namun anak itu hanya berani menggenggam jemarinya saja.
"Hyung cepatlah sembuh… aku sangat takut Hyung pergi… Aku… aku melihat banyak hal mengerikan yang membuatku semakin tidak mau kau pergi Hyung. Aku sangat menyayangimu. Aku janji tidaka kan jadi adik yang nakal. Mulai sekarang aku berjanji padamu Hyung… aku akan selalu melindungimu dengan sekuat tenagaku. Aku akan menjadi pelindung yang terbaik untukmu. Aku tidak akan keberatan jika harus melihat banyak hal – hal mengerikan tapi jika itu membuatkku tidak kehilanganmu maka aku akan melakukanya."
Jaehan mulai berkaca – kaca, susah baginya untuk mengucapkan apa yang dia inginkan. Tapi ketika anak itu mencapai sebuah kesimpulan, akhirnya dia berkata…
"Karena dikehidupanmu yang lalu… kau adalah Hyungku, maka di kehidupan ini dan yang akan datang kau harus tetap menjadi hyungku. Aku tidak mau kehilanganmu. Meskipun kau tidak bisa mendengarku tapi aku berjanji, aku akan selalu menjagamu karena kau hyungku"
.
.
.
.
.
To be continue
.
.
.
Chapter 8: Love you right
"Kali ini aku akan membuatmu mengenakan gaun pengantin yang cantik dan membawamu ke altar, benar – benar ke altar. Kali ini aku juga akan menyematkan cincin di tanganmu setelah mengucapkan sumpahku padamu di hadapan Tuhan. Aku akan membuatmu bahagia sebagaimana mestinya dengan cara yang tepat."
.
.
.
.
.
.
Annyeonghaseyo! Yo! Yo! Yo!
Ini apaan? Udah 5 bulan ya gue menghilang gitu aja? Sorry guys… gue minta maaf banget karena gue terlalu sibuk akan dunia yang fana ini sehingga gue melupakan apa yang sebenarnya gue inginkan. Gue akui selama ini gue udah menjadi gak bertanggung jawab banget karena ninggalin ini semua tanpa ada penyelesaian pasti. Gue bener – bener minta maaf sama kalian karena udah menggantung cerita ini sampai berbulan – bulan bahkan tanpa kejelasan.
Tapi sekarang gue udah bisa lebih bijaksana dalam membagi waktu dan mengenal diri gue sendiri. Ini. Menulis fan fiction adalah hal yang gue inginkan. Gue gak masalah kalo harus meninggalkan semua kesibukan gue untuk ini. Karen ague cinta sama dunia tulis menulis begini. Bukan dunia kerja yang membuat gue malah kehilangan diri gue sendiri, merubah gue jadi orang lain yang penuh emosi dan menyebalkan. Sekarang gue udah megurangi banyak pekerjaan gue. Gue gak bermaksud untuk menyerah sama pekerjaan gue tapi gue hanya mau hidup lebih baik aja. Gue mau dunia gue seseimbang dulu. Antara hobi, karir, belajar dan kehidupan social gue seimbang. Gak lagi melulu semua tentang pekerjaan. Bukannya sombong, tapi gue sendiri ngerasain. Duit banyak tapi harus jadi orang lain itu gak enak. Lebih baik jadi sederhana tapi bahagia.
So… disini gue mau mengutip apa yang kakeknya Baekhyun bilang ke Jaehun.
"Kadang kala kita memang merasa lelah dengan semua hal yang kita jalani. Ada saatnya kita merasa jenuh menahan rasa sakit dan jenuh menjalani keterbatasan yang kita miliki. Dan ada waktunya juga kita harus berhenti dan mengakhiri semuanya"
"Tapi… kita hanya boleh berhenti dan mengakhiri semuanya ketika itu benar – benar selesai. Kita tidak boleh meninggalkan sesuatu yang kita jalani dan lakukan hanya karena itu sulit dan melelahkan. Kita tidak bisa mengakhiri semua hal yang belum selesai kita lakukan. Kau tentu saja boleh merasa lelah dengan rasa sakit yang ada di dadamu, tapi ketika orang – orang disekitarmu tidak pernah menyerah untukmu dan berkorban banyak untukmu apakah itu adil untuk mereka jika kau menyerah sekarang?"
Dan makasi banget buat kalian yang udah gak pernah nyerah untuk ngingetin gue biar gue tetep nulis, tetep lanjutin apa yang gue buat dan akhirnya membuat gue kembali ke dunia yang emang gue banget ini. Sekali lagi terima kasih buat semua pembaca setia yang sayang banget sama gue.
Gue disini mau minta maaf kalo cerita di chap ini terasa hambar dan monoton, HunHan momennya sedikit malah kebanyakan nyeritain kejadian di ruang operasi. Tapi… ya itu gue lakuin biar kalian semua tau kalo gak ada kata menyerah bagi orang tua yang ingin menyelamatkan anaknya.
sincerely
-xiugarbaby-
.
.
Please leave your Comment and Review. Chaw! Saranghaeyeo!
