HUNHAN FOREVER! HUNHAN FOR LIFE!
.
HUNHAN GIVE AWAY CHALLENGE!
.
.
xiugarbaby (formerly Aruna Wu)
presents
.
"E.N.D"
.
HunHan
.
GS – Rated M – Family Life – Hurt/Comfort – Drama – Angst
.
.
.
.
Happy Reading! ^^
.
.
.
Sehun mengerutkan keningnya ketika mobil all new Subaru XV putih milik Luhan yang dia gunakan terparkir rapi di dalam garasi rumahnya. Entah apa yang terjadi pada rumah bergaya minimalis dengan dua lantai itu, tak ada satupun lampu yang menyala dan suasananya terasa mencekam. Sehun yang masih belum turun dari mobilnya langsung mengecek ponselnya. Tak ada pesan atau telpon dari Baekhyun. Tidak biasanya gadis itu hanya diam tanpa memberi kabar apapun jika sesuatu terjadi dan seingat Sehun, gadis itu juga tidak memberitau jika dia pergi keluar. Sehun dengan segala pikiran buruknya langsung keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumahnya melalui pintu belakang dengan tergesa – gesa.
Sehun mencoba melebarkan mata sipitnya untuk membaca situasi gelap dengan sedikit sinar bulan yang menyusup melalui celah – celah tirai rumah itu. Sehun memelankan langkah kakinya, sebisa mungkin membuat kehadirannya tanpa suara sama sekali. Keringat dingin sudah membasahi kemeja Sehun dan pikiran pria tampan itu sudah menyusun banyak strategi jika sesuatu yang buruk seperti perampokan terjadi di rumahnya. Sehun tak bisa bohong, kali ini dia sangat takut jika Baekhyun menjadi korban dari kejadian tak menyenangkan yang dibayangkan kepalanya. Jika itu benar terjadi maka Sehun benar – benar sudah tidak bisa dimaafkan lagi.
Sehun mengarahkan langkah kakinya ke kamar Baekhyun, berharap jika gadis itu ada di sana dengan keadaan baik, atau mungkin menangis karena Baekhyun sangat takut gelap. Sehun hanya bisa berharap bahwa Baekhyun baik – baik saja.
"Aaaah..."
Suara desahan terdengar dari dalam kamar Baekhyun. Dan itu berhasil membuat Sehun mempercepat langkahnya di dalam lorong remang – remang rumahnya.
"Aku bahkan belum melakukannya, Baek…"
Langkah Sehun terhenti ketika suara selanjutnya yang dia dengar adalah suara Chanyeol. Ya, jelas sekali. Sehun sudah amat sangat mengenal betul suara berat rekan kerjanya itu. Sehun tidak mungkin salah dengar, itu adalah suara Park Chanyeol.
"Tapi itu pasti sakit sekali Chanyeol-ah…"
Balas Baekhyun dengan rengekan manja. Kening Sehun mengerut seiring dengan langkahnya yang membeku. Sehun mencoba mencerna apa yang sedang terjadi di dalam kamar Baekhyun, antara Baekhyun dan Chanyeol, dalam keadaan rumah yang gelap gulita dan suara berat mengintimidasi Chanyeol yang berpadu dengan rengekan manja Baekhyun.
"Aku akan melakukannya dengan perlahan Baek, kau tau kan… aku mencintaimu, jadi aku tidak akan membuatmu sakit…"
"Janji… ini tidak akan sakit?"
"Iya… aku janji, aku bukan lah orang yang suka ingkar janji.."
"Tapi…"
"Ayolah Baek… semakin kau merengek, kau hanya memperlama permainannya"
Sehun memejamkan matanya bersamaan dengan hembusan napas panjang berulang kali yang dia lakukan untuk mengontrol emosi di dadanya. Kepala Sehun sudah tak bisa berpikir lebih jernih. Entah kenapa Sehun mendadak marah dan membenci keadaan ini. Yang jelas, apapun yang kedua orang itu lakukan di kamar Baekhyun, Sehun tidak akan tinggal diam jika Chanyeol menyentuh Baekhyun apalagi jika pria itu sampai menodai Baekhyun.
"Bisa aku lakukan sekarang?"
Sehun kembali mendengar Chanyeol meminta persetujuan Baekhyun, dan tanpa aba – aba Sehun langsung membuka pintu kamar Baekhyun dengan kasar dan berteriak…
"YA! APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI?!"
"Se… Sehun-ah…
"Ya… Oh Sehun… kau membuatku kaget!"
Sehun membelalakkan matanya bersamaan dengan Chanyeol dan Baekhyun yang nampak kaget. Beberapa detik kemudian Sehun malah kembali mengerutkan keningnya dan menatap bingung pada posisi Chanyeol dan Baekhyun.
Sehun melihat dengan jelas kini Chanyeol dan Baekhyun sama – sama duduk diatas ranjang sempit di kamar Baekhyun. Satu tangan Chanyeol memegang erat kedua pergelangan tangan Baekhyun sementara satu tangannya lagi sudah melayang tepat beberapa senti meter di depan kening Baekhyun. Kamar itu diterangi oleh cahaya temaram 3 buah lilin yang diletakkan di sekeliling kamar Baekhyun.
"A… apa… yang… kalian… lakukan?"
Sehun yang tadi mendobrak pintu kamar Baekhyun dengan wajah penuh amarah dan kobaran emosi, kini bertanya dengan sedikit terbata lengkap dengan raut wajah malu dicampur bingung. Kini gantian Chanyeol yang menghela napasnya dan menatap Sehun dengan tatapan sedikit mengejek.
"Kami sedang bermain scrable! Wae?" Chanyeol menurunkan tangannya yang melayang di depan kening Baekhyun lalu mengangkat sebuah papan permainan dengan huruf – huruf magnet yang menempel pada papan dengan kotak kotak kecil itu.
Baekhyun yang tau jika Sehun telah salah paham padanya dan Chanyeol langsung mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Chanyeol. Baekhyun bangkit dari tempat tidurnya lalu menghampiri sahabatnya yang dengan jelas bisa Baekhyun lihat jika pria itu kini sedang berlumuran keringat.
"Kau baru pulang, Hun-ah? Bagaimana anak – anak? Apa ada kabar baik?" Baekhyun menyambut Sehun dengan mengambil tas ransel yang Sehun gendong di satu bahunya.
Chanyeol merubah raut wajahnya ketika melihat Baekhyun menghampiri Sehun dengan lembut dan bertingkah selayaknya Baekhyun adalah istri Sehun. Dengan kata lain, Chanyeol cemburu.
"Maaf… aku salah paham" ujar Sehun pada Baekhyun dan nada bicaranya pun jadi lembut. Sangat berhasil membuat Chanyeol makin cemburu.
"Aigoo… memangnya kau pikir kami sedang melakukan apa?" tanya Baekhyun dengan bibir terpout di wajah imutnya.
"Ani… aku hanya khawatir kau… kau dan Chanyeol melakukan hal yang bodoh… kau tau kan maksudku?" kini Sehun menundukkan wajahnya yang memerah karena malu
"Aish! Isi kepalamu ini memang selalu saja hal – hal mesum!" sahut Baekhyun seraya mengacak rambut Sehun dan itu membuat Sehun tersenyum kecil.
Chanyeol tak tahan lagi melihat adegan sok mesra antara gadis yang baru saja diam – diam menjadi kekasihnya selama beberapa hari itu dengan sang rekan kerja yang mendadak jadi menyebalkan dimatanya.
"Hei… masih ada aku disini… jangan bertingkah selayaknya dunia ini milik kalian berdua!" hardik Chanyeol dengan kilatan mata cemburu.
"Kau cemburu?" tanya Sehun dengan nada mengejek
"Ani" sahut Chanyeol namun dengan wajah tertekuk
"By the way, kenapa rumah kita gelap gulita seperti ini?" Sehun memberi pertanyaan pada Baekhyun dengan menambahkan penekanan pada kata rumah kita dan itu membuat Chanyeol tak bisa lagi menyembunyikan fakta bahwa dia sedang cemburu berat
"Ada konsleting di salah satu saluran listriknya dan tadi sore aku sudah menghubungi petugas kelistrikan tapi mereka bilang ini baru bisa selesai besok pagi" ujar Baekhyun seraya melonggarkan dasi di leher Sehun
"Kau mau kita pindah ke hotel?" tanya Sehun sambil melepas kancing di pergelangan tangan kemejanya
"Ya… ya… ya… bisa kah kalian berhenti menebar kemesraan?" protes Chanyeol dan dihadiahi senyum jahil dari Baekhyun dan Sehun
"Apa kau punya kunci rumah sebelah? Ku rasa rumah Luhan listriknya tidak bermasalah. Jujur saja aku belum mandi" Baekhyun mempoutkan bibirnya tapi Sehun sudah tidak lagi membalas dengan jawaban manja
"Aku pulang dengan mobil Luhan, coba aku cek dulu, jika kuncinya ada kita akan ke rumah sebelah tapi jika kuncinya tidak ada… kau boleh ikut Chanyeol ke rumah kakaknya jika kau mau dan aku bisa kembali ke rumah sakit. Bagaimana?"
Sehun memaparkan ide yang membuat Baekhyun sedikit mendelik namun Chanyeol membalasnya dengan senyum manis dan acungan jempol. Sampai detik ini memang tak satupun dari Baekhyun maupun Chanyeol yang memberitahukan pada Sehun tentang hubungan mereka. Tapi Sehun bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti kenapa Chanyeol selalu ada di samping Baekhyun dan bahkan tak hanya sekali Sehun melihat Chanyeol menggandeng tangan Baekhyun.
Meskipun Sehun merasa ikut bahagia akan hubungan mereka yang entah kenapa harus disembunyikan, namun disisi lain Sehun memiliki beberapa hal yang memberatkan hatinya untuk mempercayakan Baekhyun pada Chanyeol. Demi cintanya pada Luhan, Baekhyun sudah Sehun anggap seperti adik perempuannya sendiri.
.
.
.
E.N.D
[Ex-Husband Next Door]
.
.
Chapter 8: Love You Right
"Kali ini aku akan membuatmu mengenakan gaun pengantin yang cantik dan membawamu ke altar, benar – benar ke altar. Kali ini aku juga akan menyematkan cincin di tanganmu setelah mengucapkan sumpahku padamu di hadapan Tuhan. Aku akan membuatmu bahagia sebagaimana mestinya dengan cara yang tepat."
.
.
.
Sehun dan Chanyeol duduk saling berhadapan di sofa ruang keluarga rumah yang ditinggali Luhan. Ternyata benar dugaan Sehun, Luhan pasti menyimpan kunci rumah cadangan di mobilnya. Saat ini Chanyeol sedang sibuk menatap layar TV namun dari wajahnya tersirat sangat jelas bahwa pikiran pria bermarga Park itu tidak berada di tempat yang sama. Sementara Sehun, ayah dua anak itu disibukkan dengan beberapa lembaran kertas biru dan putih yang terpapar di seluruh permukaan meja ruang tengah. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari keduanya, sejak Baekhyun masuk ke dalam kamar mandi hingga saat ini, hanya ada suara pembaca berita dan narasi reporter yang memenuhi ruangan.
Sehun tidak bermaksud untuk mengintimidasi Chanyeol dengan keterdiamannya yang tak biasa. Sehun hanya menunggu Chanyeol untuk berbicara duluan karena pria itu yakin Chanyeol pasti punya sesuatu untuk dibicarakan dengannya.
"Se..Sehun-ah…"
Akhirnya suara serak Chanyeol berhasil memecahkan kebekuan tipis diantara keduanya.
"Ya?" Sehun mengangkat wajahnya dari gulungan berwarna biru. Tampang sok polos Sehun kali ini bahkan membuat Chanyeol makin sulit berkata.
"Aku ingin mengatakan sesuatu…" Chanyeol mematikan TV kemudian pindah dari Sofa ke lantai yang dilapisi karpet anemone. Tepat di seberang meja Sehun
"Apa ini masalah pekerjaan?" Sehun masih memasang tampang polosnya, berpura – pura tidak melihat bagaimana raut wajah Chanyeol di hadapannya saat ini. Kalau boleh jujur, menurut Sehun saat ini Chanyeol terlihat seperti anak usia 8 tahun yang menyerahkan diri kepada seorang pemilik rumah yang kacanya pecah karena tendangan bola nyasar yang dia lakukan.
"Bukan… ini bukan masalah pekerjaan. Ini… masalah aku dan Baekhyun" Chanyeol menghela napas cukup panjang sesaat setelah berbicara
Dengan cekatan kedua tangan Sehun menggulung semua kertas – kertas biru berukuran lebar dihadapannya dan menumpuk beberapa berkas menjadi satu. Menyingkirkan mereka sampai ke sudut meja lalu duduk tegak menghadap Chanyeol dengan tatapan serius.
"Ada apa?" tanyanya
"Aku menyukai Baekhyun"
"Lalu?"
Tanggapan Sehun terlalu singkat, entah kenapa kali ini Chanyeol tidak mampu berkutik di hadapan Sehun. Biasanya Chanyeol lah yang sering mengintimdasi Sehun masalah proyek pekerjaan. Tapi kali ini entah bagaimana Sehun terlihat seperti seorang Ayah yang anak gadisnya akan dilamar.
"Baekhyun juga menyukaiku…"
Chanyeol menunggu reaksi Sehun, tapi pria dua anak itu hanya menggangguk dan wajahnya jadi semakin datar.
"Sehun-ah… bisakah kau merubah raut wajahmu? Demi Tuhan kau membuatku ketakukan!"
Chanyeol akhirnya menyerah pada intimidasi Sehun yang membuat sekujur tubuhnya terasa dingin dan degupan jantungnya jadi tidak normal. Sehun akhirnya tersenyum tipis dan mengendurkan kekakuan wajahnya dan memasang raut wajah bersahaja miliknya.
"Aku tau, kau benar – benar menyukai Baekhyun… Aku cukup mengenalmu dengan baik dan aku juga tau, kau bukanlah lelaki yang suka mempermainkan wanita. Kau lelaki yang baik"
Chanyeol berhasil menyingkirkan kegugupannya mendengar kalimat pujian yang Sehun tujukan padanya. Sehun akui betul jika Chanyeol adalah sososk yang serius dan tidak pernah bermain – main pada suatu hubungan, dengan kata lain, Chanyeol adalah orang yang tepat untuk diajak berkomitmen. Tapi senyum Chanyeol memudar ketika Sehun menghembuskan napas cukup berat seraya mengembungkan kedua pipi tirusnya. Setahu Chanyeol, Sehun akan melakukan itu hanya jika dia sedang memikirkan sebuah masalah luar biasa dipikirannya.
"Jika kau ingin mengatakan sesuatu atau bertanya padaku, katakan saja… Aku tau, meskipun kau dan Baekhyun hanya bersahabat, tapi kau sangat menyayangi Baekhyun seperti seorang kakak pada adiknya… dan disini kau boleh menganggapku sebagai calon adik ipar yang meminta Baekhyun kepada kakaknya" ujar Chanyeol dengan wajah yang tak kalah seriusnya dengan Sehun
Sehun mengangguk perlahan kemudian berkata, "Aku tidak meragukanmu, sungguh! Aku percaya sepenuhnya padamu… tapi, aku juga sangat mengenal keluargamu. Kau berasal dari keluarga yang luar biasa terpandang, Park Chanyeol. Siapa yang tidak tau nama Park Seungho? Dua periode sebagai Menteri Teknologi dan Informasi. Siapa yang tidak kenal dengan nama Kim Sooyeon? Dokter ahli sekaligus pemilik Laboratorium khusus tulang dan syaraf? Dan siapa juga yang tidak tau nama Park Minseok si Dokter ahli bedah jantung khusus anak? Bahkan kakak iparmu juga tidak kalah terkenalnya, dan setahuku dia juga ikut andil dalam kesembuhan Jaehun dan Jaehanku. Lalu kau, Park Chanyeol, seorang CEO sebuah perusahaan property yang meskipun baru berdiri selama 3 tahun tapi nama perusahaan milikmu sudah menjadi salah satu perusahaan property yang patut diperhitungkan di Asia dan seingatku juga… aku masih bekerja sama denganmu"
Sehun menjeda kalimatnya ketika raut wajah Chanyeol memberi isyarat tak mengerti akan apa yang Sehun katakan.
"Maksudku, kau adalah seorang pangeran, Park Chanyeol. Sementara Baekhyun adalah seorang rakyat jelata. Kau pasti tau kenapa aku begitu menjaga Baekhyun dan bahkan hampir menikahinya. Kau tidak boleh lupa jika Baekhyun hidup sebatang kara setelah kakeknya meninggal. Kau tidak boleh menutup matamu akan kenyataan bahwa kedua orang tua Baekhyun sudah benar – benar lepas tangan akan kehiudpan Baekhyun. Mereka sudah punya keluarganya masing – masing dan melupakan Baekhyun karena menganggap gadis itu adalah memori buruk masa lalu mereka."
Sehun kembali menjeda kalimatnya, terlihat kini bagaimana Chanyeol menyimak baik – baik apa yang dikatakan rekan kerja sekaligus aset terbesar yang perusahaannya miliki itu.
"Dan jika kau benar – benar mencintai Baekhyun dan ingin memilikinya, aku punya beberapa pertanyaan untukmu. Pertama, mampukah kau meyakinkan kedua orang tuamu akan pilihanmu? Kedua, mampukah kau membuat keluarga besarmu menerima Baekhyun dengan segala kekurangan dan kelebihannya? Ketiga, mampukah kau memberikan sebuah keluarga utuh dan penuh kasih sayang yang selama ini tak pernah Baekhyun miliki?"
Chanyeol mengedipkan kedua mata besarnya, kepala lelaki tampan bertelinga lebar itu nampak berpikir sangat berat akan semua ucapan Sehun. Sejujurnya Sehun sama sekali tidak bermaksud untuk mendikte Chanyeol apalagi memposisikan keluarga Chanyeol sebagai sebuah keluarga arogan. Maksud Sehun sebenarnya cukup sederhana, Sehun hanya ingin Chanyeol mampu menjadi lelaki dewasa yang penuh tanggung jawab dan berani melindungi Baekhyun atas segala hal yang akan mereka lalui nanti. Karena itu adalah hal yang sebelumnya gagal Sehun lakukan untuk Luhan.
"Maafkan aku jika apa yang aku katakan tadi menyinggung perasaanmu. Tapi… aku harap kau tidak lupa jika aku pernah gagal sebelumnya. Aku hanya tidak ingin nantinya kau memiliki penyesalan yang sama denganku dan Baekhyun merasakan penderitaan yang sama seperti Luhan. Apalagi jika harus ada Jaehun dan Jaehan lainnya. Cukup hidupku saja yang berantakan, tidak dengan kalian. Jadi… aku harap kau bisa menjawab ketiga pertanyaanku tadi sebelum kau berlutut dihadapan Baekhyun bersama sebuah kotak cincin dan meminangnya, kau mengerti?"
Sehun tersenyum ramah sambil menepuk bahu Chanyeol yang kini juga tersenyum lembut. Chanyeol melipat bibirnya yang masih tersenyum kemudian berkata,
"Aku tidak tau jika kau bisa sebijaksana ini Sehun-ah. Sebelumnya aku hanya tau bahwa kau adalah orang yang pekerja keras, disiplin dan cerdas. Aku yakin kau akan menjadi suami yang keren untuk Luhan dan ayah yang baik untuk HunHan dan adik – adik mereka!"
Mendengar ucapan Chanyeol, Sehun hanya bisa tersipu. Karena entah mengapa kata 'adik – adik mereka' barusan langsung bisa menggelitik perut Sehun. Kedua pria tampan itu kini saling tertawa, mereka mentertawakan perasaan mereka masing – masing. Dan mungkin pria memang seperti itu, ketika mereka memiliki sebuah masalah besar yang harus dipikirkan matang – matang, mereka malah bergurau dan menertawakannya. Tapi sikap itu sama sekali tidak bermaksud untuk menyepelekan masalah, mereka, kaum pria hanya ingin meringankan apa yang mereka rasakan, membuat hati mereka nyaman selagi memikirkan jalan keluar yang akan mereka lalui untuk masalah besar itu.
.
.
.
"Kau tidak jadi menginap di rumah?"
Luhan yang sedang tidur sambil memeluk Jaehan bertanya dengan sedikit berbisik ketika Sehun masuk ke ruang rawat HunHan dan mencium kening HunHan beserta ibunya.
"Ada yang konslet di jaringan listrik rumahku, jadi semua aliran listrik terpaksa harus diputus. Baekhyun memilih untuk menginap di hotel dekat sekolah dan aku memutuskan untuk ke sini saja. Aku rasa aku tidak akan bisa fokus kerja jika kalian masih di sini"
Sehun meletakkan semua gulungan kertasnya diatas meja khusus penjenguk di ruang rawat HunHan. Lelaki itu segera membuka mantelnya lalu melipat ujung sweater lengan panjang berwarna coklat yang dia kenakan.
Setelah yakin Jaehan terlelap tidur, Luhan pun melepas pelukan hangatnya dari si bungsu dan turun dari tempat tidur untuk menghampiri Sehun.
"Apa deadline tender-nya sudah dekat?" tanya Luhan yang kini berdiri dibelakang Sehun yang tengah duduk di sofa dan memandangi kertas lebar berwarna biru di hadapannya. Kedua tangan lembut Luhan mengusap pundak lebar Sehun dan itu membuat Sehun sedikit tersenyum.
"Deadline-nya masih cukup lama, tapi aku sedang tidak ingin mengulur waktu untuk menyelesaikan desain bangunan – bangunan ini. Aku berencana cuti 1 sampai 2 bulan setelah HunHan pulih."
Luhan menghentikan usapan tangannya di bahu Sehun setelah mendengar ucapan mantan suaminya itu. Wanita cantik berpiama merah maroon itupun menempati sisi kosong di sebelah Sehun.
"Kenapa harus mengambil cuti?" tanya Luhan penasaran
"Ada banyak hal yang harus aku lakukan setelah kedua putraku sembuh, sayang… dan aku rasa aku tidak bisa melakukannya sambil mengurus semua tender ini. Aku ingin fokus menata kehidupan pribadiku terlebih dahulu. Aku ingin menyelesaikan semua hal yang aku buat berantakan" Sehun berkata mantap sambil menyerut sebatang pensil 5B di tangannya.
"Kalau aku boleh tau, apa saja rencanamu?" Luhan yang masih dalam mode penasaran terus mengejar Sehun dengan pertanyaannya
"Ada banyak rencana, tapi yang jelas hal pertama yang akan aku lakukan adalah membawa HunHan pulang ke rumah. Kita harus mengenalkan mereka kepada kakek dan neneknya."
Raut wajah Luhan berubah kaku. Keterkejutan yang tergambar jelas di wajah lembutnya terbaca jelas oleh mata tajam Sehun. Tanpa ada yang harus memberi tahu, Sehun bisa mengerti mengapa Luhan langsung beku mendengar rencananya. Tentu saja, orang tua Sehun sudah bisa menerima keberadaannya dan si kembar di keluarga Oh. Terbukti dari tak pernah absennya ayah dan ibu Sehun menelpon Luhan pasca operasi, Luhan bahkan yakin jika Sehun mengijinkan mereka untuk datang ke rumah sakit, kedua mertua Luhan itu pasti tak akan segan ikut berkemah di ruang rawat kedua cucunya itu.
Luhan melipat bibirnya dan mengalihkan pandangannya yang tadi menatap Sehun ke arah Jaehun dan Jaehan yang sedang terbaring. Hati Luhan diselimuti kebimbangan dan takut secara bersamaan. Satu pertanyaan sulit sedang ditanyakan oleh kepala Luhan ke hatinya. "Apakah orang tuamu juga akan menerima kedua puteramu seperti kedua orang tua Sehun?"
Luhan amat sangat jelas mengingat bagaimana cara ayahnya mengusir Sehun dan dirinya keluar dari rumah setelah mereka menyampaikan kabar kehamilan Luhan. Luhan masih amat sangat jelas bisa mendengar teriakan ayahnya, mengumpat padanya bahwa dia bukanlah lagi bagian dari keluarga Lu, bahwa dirinya bukan lagi anak dari Tuan Lu, bahwa dirinya… tidak akan pernah lagi punya hubungan apapun dengan keluarganya itu. Luhan masih ingat betul semua perkataan ayahnya pada Sehun dan dirinya saat itu. Bahkan masih segar di kepala Luhan bagaimana Sehun memegang kedua bahu Luhan yang berlutut mohon pengampunan pada sang ayah, bagaimana Sehun memeluknya yang menangis minta maaf akan kesalahan yang mereka lakukan, bagaimana Sehun menggenggam erat tangannya ketika mereka meninggalkan rumah besar keluarga Lu, dan bagaimana Sehun berjanji akan mempertahankan dan mempertanggung jawabkan semuanya.
Luka pada hati dan jiwa Luhan berdenyut. Tetesan air mata tanpa suara beriringan turun dari dua kelopak mata jernih wanita paling dicintai oleh seorang Oh Sehun. Kedua mata Luhan masih menatap kedua puteranya yang terbaring namun air mata itu tak bisa dibendung, membasahi kedua pipi halusnya.
Sehun meninggalkan semua gulungan kertas di atas meja dan mengalihkan seluruh perhatiannya pada Luhan. Sehun sama sekali tidak berniat untuk membuat ibu dari kedua puteranya itu menangis. Namun Sehun tau betul bahwa rencananya itu adalah hal sensitive bagi Luhan. Sehun sendiri juga tau bahwa sejak hari dimana mereka berdua meninggalkan rumah, Sehun tak pernah lagi mendengar bagaimana Luhan menyebut nama Tuan dan Nyonya Lu. Sehun menyaksikan dengan kedua mata kepalanya sendiri bagaimana Luhan selalu mencoba tegar meskipun wanita itu telah dihapus dari keluarganya sendiri demi mengikuti Sehun, demi menjadi isteri seorang Oh Sehun, demi menjadi ibu dari Oh Jaehun dan Oh Jaehan. Sehun juga tidak bisa menampik kenyataan jika Luhan teramat sering menangis tanpa suara sambil menatap kedua buah hati mereka dan alasan kenapa Luhan menangis adalah rindu. Rindu kepada kedua orang tuanya. Sehun tau, Luhan rindu orang tuanya ketika HunHan menendangi perutnya dulu, Luhan rindu orang tuanya ketika pertama kali dia mendengar tangisan HunHan, Luhan rindu orang tuanya ketika dokter memfonis jantung Jaehun lemah, Luhan rindu orang tuanya ketika dia bertengkar dengan Sehun, Luhan rindu orang tuanya ketika HunHan meniup lilin ulang tahun mereka yang pertama, Luhan rindu orang tuanya ketika HunHan mulai bisa bicara, berjalan, masuk sekolah, Luhan rindu orang tuanya setiap saat. Dan bodohnya dulu Sehun terlalu egois untuk mau mengerti perasaan rapuh Luhannya.
Tapi detik ini, Sehun bukanlah Sehun yang dulu. Tidak ada lagi Sehun yang egois dan tidak peka. Sehun adalah pria dewasa yang sangat mencintai Luhan.
Sehun perlahan merengkuh Luhan kedalam pelukannya, meletakkan wajah Luhan ke dalam ceruk lehernya dan membiarkan wanita itu terisak di bahunya. Sehun mengusap kepala dan menepuk bahu sempit wanita tercintanya itu. Sehun sudah siap dengan apa yang terjadi. Bahu Luhan semakin bergetar dan isakan tangis mulai terdengar di telinganya. Luhan selalu rapuh jika dia teringat kedua orang tuanya.
Sehun tidak mau menghapus air mata Luhan kali ini, Sehun ingin Luhan menikmati isakan tangis terakhirnya. Karena dalam hati Sehun berjanji bahwa ini adalah isak tangis terakhir Luhan yang merindukan kedua orang tuanya. Sehun tidak akan lagi mau jadi pengecut dan membawa kabur anak gadis orang lain. Sehun akan sepenuhnya bertanggung jawab, terlebih lagi Sehun sudah pernah menghancurkan hati Luhan dan tentu Sehun tidak mau lagi jadi bajingan kurang ajar yang selalu membebankan luka dan perih pada Luhan.
Sehun akan sepenuhnya bertanggung jawab atas seluruh hidup wanita dalam pelukannya itu.
"Setelah HunHan sembuh…."
Sehun berkata dengan suara rendahnya yang terdengar parau, kalimatnya pun terjeda untuk memastikan bahwa Luhan mendengar apa yang dia akan katakan. Setelah yakin, barulah pria itu melanjutkan.
"Setelah HunHan sembuh, aku akan membawamu pulang ke rumah kedua orang tuamu. Aku akan mengulang semuanya dari awal. Aku akan kembali memintamu dari Tuan Lu."
Luhan berusaha menelan isakan tangisnya. Wanita itu mengangkat tubuhnya dari pelukan Sehun dan mengusap kedua pipinya yang basah dengan kedua tangannya kemudian berkata,
"Aku sudah bukan anak mereka lagi, Hun-ah"
Sehun tersenyum tipis kemudian mengarahkan tangannya untuk mengusap pipi Luhan lalu merapikan rambut – rambut Luhan yang agak berantakan di wajah cantiknya.
"Tidak ada satupun orang tua yang benar – benar mengusir anaknya keluar dari rumah mereka" ujar Sehun tenang
"Ada, dan itu orang tuaku!" tegas Luhan
"Hei… kita berdua sudah menjadi orang tua selama hampir 8 tahun. Apa kau pernah benar – benar marah pada Jaehun dan Jaehan kita?"
"Oh Sehun… kesalahan yang HunHan lakukan tidak sebesar kesalahan yang kita berdua lakukan! Kita berdua sudah mempermalukan mereka, kita berdua sudah merusak kepercayaan mereka dan kita berdua sudah menyakiti hati mereka! Mereka benar – benar membenci kita Hun-ah…"
Luhan mengerutkan keningnya, kedua mata jernih Luhan kembali memerah namun lelaki tampan di hadapannya malah tersenyum lembut seraya mengelus pucuk kepala Luhan dengan lembut dan perlahan.
"Kau benar, kita memang melakukan itu semua dan orang tua kita berdua memang marah." Sehun berkata sambil tersenyum lembut. Berusaha membuat Luhan tidak tegang dengan pembicaraan mereka dengan tersenyum. Sebuah senyuman tampan yang hanya Sehun berikan pada Luhannya.
"Tapi tetap saja mereka tidak pernah benar – benar marah pada kita sayang…"
Sehun kembali berkata dan Luhan seketika ingin menyela perkataan Sehun. Namun telunjuk Sehun bergerak lebih cepat dari bibir mungil Luhan. Sehun meletakkan telunjuknya tepat di bibir Luhan, kali ini Sehun ingin Luhan mendengarkannya.
"Jika mereka benar – benar marah pada kita, mereka pasti akan benar – benar memutus kontak dengan kita. Mereka pasti pergi tanpa memberikan apapun pada kita dan anak – anak. Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka tetap membiayai pendidikan dan kehidupan kita sampai kita lulus kuliah. Mereka memberikan kita rumah yang nyaman beserta isinya untuk kita tinggali. Mereka tidak pernah benar – benar pergi Lu… mereka ada, selalu ada… hanya saja, kita yang terlalu takut dan egois untuk meminta maaf pada mereka."
Sehun meraup wajah Luhan, membuat wanita tercintanya itu melihat lurus ke kedua bola matanya. Luhan nampak mulai memperhitungkan apa yang Sehun katakan. Mendapatkan respon positif, akhirnya Sehun kembali melanjutkan.
"Bukan mereka yang harus mencari kita Lu, tapi kita lah yang harus pulang pada mereka. Kita tau mereka ada di mana, kita hanya tidak pernah mencoba untuk kembali pada mereka. Percaya padaku, mereka akan menerima kita lebih baik… lagi pula, kita akan membawa Jaehun dan Jaehan bersama kita. Dan aku yakin, kedua orang tuamu tidak akan bisa menolak pesona kedua putera kita itu. HunHan pasti bisa menggugah hati kakek dan neneknya untuk mereka. Percaya padaku.."
Sehun sedikit melebarkan senyumnya kali ini, membuat raut wajah ceria dan bahagia di hadapan Luhan. Senyum lebar dan penuh keyakinan akan sebuah harapan baru untuk masa depan mereka yang lebih baik dan jelas.
"Ya… Oh Sehun…"
"Wae?"
"Terima kasih…"
"Terima kasih? Kenapa?"
"Terima kasih karena sudah menghamiliku, terima kasih karena sudah membuatku melahirkan Jahun dan Jaehan, terima kasih karena sudah meninggalkanku dan kembali lagi dengan cinta yang lebih besar dan pelukan yang lebih hangat. Terima kasih karena kau sangat mencintaiku"
Satu air mata kembali lolos di pipi Luhan, dan kali ini tolong maafkan Sehun karena lelaki itu sudah tak lagi bisa menahan dirinya untuk tidak mencium bibir Luhan.
Sehun meraup bibir Luhan dengan bibir tipisnya. Mengecup dan melumat bibir Luhan seakan tak akan ada hari esok untuk mereka. Kedua tangan Sehun pun merengkuh tubuh Luhan dan dengan cepat kedua tangan kekarnya berhasil memindahkan tubuh mungil Luhan keatas pangkuannya. Luhan nampak menikmati setiap pagutan di bibirnya, wanita itupun merespon dengan baik sentuhan lembut tangan Sehun dipunggungnya dengan mengalungkan kedua tangannya sendiri di bahu Sehun.
Sudah 2 menit berlalu, ciuman itu masih terus berlanjut. Luhan masih senantiasa menyambut kecupan kecupan lembut dan hangat yang Sehun berikan. Karena jujur saja, mereka rindu. Mereka rindu untuk menyentuh satu sama lain, mereka rindu untuk membagi semua hormon – hormon dalam tubuh orang dewasa menjadi sebuah kenikmatan mendalam, mereka rindu segala hal yang bisa mereka lakukan jika mereka adalah pasangan suami istri.
Sehun adalah orang pertama yang melepas kecupan itu. Sehun melepaskan bibir Luhan dengan perlahan, tanpa membuat Luhan merasa dicampakan diatas sofa. Sehun memandangi wajah Luhan yang memerah karena gairah sembari berharap bahwa Luhan tidak akan memergoki sesuatu yang terbangun dan membuat celana jeans yang Sehun kenakan terasa sempit.
Luhan tersenyum, entah wanita itu tidak peka atau pura – pura tidak tau jika Sehun melepaskan kecupannya untuk menahan diri agar tidak menyantap Luhan saat ini juga tapi Luhan malah mempoutkan bibirnya lalu mengecup singkat sudut bibir Sehun yang masih setengah terbuka karena menahan nafsu kelelakiannya.
"Kumohon, jangan memandangiku seperti itu Lu… aku bisa saja berbuat yang tidak benar jika kau terus seperti itu" lirih Sehun dengan suara yang seakan menahan napasnya sendiri
"Uah… pertahanan dirimu yang sekarang begitu kuat rupanya. Apa karena aku sudah tidak sexy lagi?"
"Kau sexy Lu… sangat!"
"Apa karena aku sudah tidak seimut dulu?"
"Jangan memancingku!"
"Arraseo… aku hanya bercanda…"
Luhan turun dari pangkuan Sehun dan berjalan ke arah lemari pendingin, mengambil sekotak jus apel untuk Sehun yang nampak kepanasan.
Disisi lain Sehun mencoba untuk tetap dingin meskipun sesuatu dalam dirinya sudah meronta dan menuntut untuk sesegera mungkin dipuaskan. Lelaki itu memilih untuk kembali duduk di karpet rumah sakit dan bersiteru dengan gulungan – gulungan kertas bergambar rancangan gedung pencakar langit buah karyanya.
"Jangan bekerja terlalu keras, Jaehun dan Jaehan butuh ayah yang sehat.." ujar Luhan ketika menyerahkan sekotak jus apel pada mantan suaminya itu.
Sehun menerima pemberian Luhan lalu meminumnya dengan cepat. Sehun tak mau terlihat gugup tapi detakan jantungnya tak bisa berbohong. Sialan, bagaimana bisa ciuman panas selama 3 menit bisa membuat otaknya jadi tidak waras begitu saja. Dan bagaimana bisa Luhan yang terbalut piama di sampingnya itu terlihat begitu sexy. Ya Tuhan…. Berikan lah Sehun kekuatan untuk menahan dirinya agar tidak segera membaringkan Luhan di sofa. By the way, sofa bukanlah tempat yang buruk melakukan ini dan itu kan?
"Sehun-ah…"
"Ng?"
"Apa kau mau ke toilet?"
"YAK! LUHAN! Aaaaah….ku mohon… jangan menggodaku seperti itu, bagaimana pun juga aku ini lelaki dewasa yang amat sangat normal… aaaiish," Sehun merengek lucu dengan nada frustasi yang terdengar manja dan imut sekaligus di telinga Luhan.
"Uahahahahhaa…."
Dan tanpa rasa kasihan Luhan malah mentertawakan Sehun, wanita itu terlihat sangat puas dan bahagia saat mentertawakan bagaimana ayah dari kedua puteranya itu menekuk wajahnya.
Tentu saja, Sehun tidak pernah keberatan jika Luhan tertawa, terlebih lagi Luhan tertawa karena dirinya. Dan tentu saja, Sehun amat sangat menikmati tawa riang Luhan di hadapannya. Lelaki itu merasa ikut bahagia melihat Luhan bisa tertawa selepas itu. Lagi – lagi, Sehun lagi – lagi berjanji pada dirinya bahwa mulai detik ini, dia akan selalu berusaha untuk membuat Luhan tertawa selepas itu.
Beberapa menit berlalu, kotak jus apel yang Sehun minum sudah kosong dan Luhan pun sudah berhenti tertawa. Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi namun Sehun masih saja serius pada pekerjaannya. Luhan sendiri sudah berulang kali tertidur dan bangun lagi dan masih melihat Sehun bekerja. Luhan akui, jika urusan pekerjaan, Sehun adalah yang paling professional. Sehun benar – benar orang yang sempurna untuk pekerjaan yang lelaki itu tekuni. Dan Luhan berani mengakui jika Sehun terlihat beribu kali lebih tampan ketika lelaki itu sedang konsentrasi bekerja seperti sekarang.
"Jangan pandang aku seperti itu Lu, nanti kau bisa jatuh cinta padaku" gumam Sehun tanpa memperhatikan Luhan yang kini tersenyum sambil mengedipkan matanya lucu
"Aku memang sudah berulang kali jatuh dan cinta padamu." Timpal Luhan santai
"Hei, kau harus tidur… sebentar lagi pagi. Jika kau tidak tidur maka daya tahan tubuhmu akan melemah. Kau bisa saja ikut jatuh sakit" gumam Sehun penuh kekhawatiran namun perhatiannya masih tertuju pada pensil, penggaris dan perhitungan matematika bangun ruangnya.
"Kau juga harus tidur, memangnya kau super hero? Iron man yang keren saja bisa sakit"
"Aku spider man, bukan iron man…"
"Apa lah itu… pokoknya kau manusia dan kau adalah ayah dari anak – anakku. Kau juga butuh istirahat."
"1 jam lagi… ini akan selesai dalam kurun waktu 1 jam. Aku akan tidur setelah itu"
"Baiklah… aku juga akan tidur 1 jam lagi"
Sehun mengangkat bahunya dan meneruskan lagi pekerjaannya. Percuma membantah Luhan ketika dirinya sendiri tidak menuruti nasehat wanita itu.
"Hun-ah…"
"Ng?"
"Kau bilang… ada beberapa alasan yang membuatmu ingin meninggalkan pekerjaanmu untuk sementara waktu. Alasan pertama adalah pulang ke rumah…"
"Lalu?"
"Boleh aku tau apa alasan lainnya?"
Mendengar pertanyaan Luhan, Sehun hanya bisa menghela napas panjang dan menjawab dengan santai,
"Aku akan mengurus akta kelahiran HunHan yang selama ini belum aku selesaikan. Kau pasti tidak akan pernah lupa jika HunHan belum punya akta kelahiran yang valid, iya kan?"
Sehun melontarkan rencananya sambil menarik beberapa garis dari titik – titik yang sudah Sehun buat di salah satu kertas putih sebelum menghitungnya dan meletakkan semua perhitungan pada kertas berwarna biru. Luhan yang masih setia duduk di sebelah Sehun kini mengerutkan keningnya, tentu wanita cantik itu masih ingat jika selama ini kedua buah hatinya belum punya akta kelahiran yang valid. Itu semua karena kondisi rumah tangga Sehun dan Luhan yang sempat kacau dan berantakan, pengurusan akta kelahiran HunHan seharusnya bisa diurus sejak mereka lahir, namun karena saat itu Sehun dan Luhan dihadapkan dengan kondisi Jaehun yang tidak kondusif, keadaan rumah tangga yang sering ribut dan kenyataan bahwa mereka akan dicibir pihak administrasi karena HunHan lahir ketika mereka masih berusia belasan tahun membuat keduanya terus menunda pembuatan akta kelahiran HunHan.
"Jika kau ingin membuat akta kelahiran untuk HunHan, maka kau harus kembali melegalisir akta perceraian kita. Yah… walaupun HunHan terlahir disaat kita berdua masih menikah, namun keadaannya sekarang, kita berdua sudah tidak lagi tercatat sebagai pasangan yang menikah…" ujar Luhan dengan polosnya
"Jadi menurutmu mana yang lebih baik dilakukan terlebih dahulu? Mengurus akta kelahiran HunHan atau… menikah?"
Luhan yang cukup kaget dengan pertanyaan Sehun hanya memberikan gelengan lemah, "Aku… masih belum siap untuk itu" katanya.
"Tapi keperluan HunHan akan akta kelahiran mereka sudah mendesak," Sehun menjeda kalimatnya lalu mengambil ponselnya dan memperlihatkan sesuatu pada Luhan
"Tadi saat aku di rumah, Baekhyun bilang ada email yang dikirim oleh pihak sekolah kepadaku, email itu berisi surat pemberitahuan bahwa HunHan harus segera memenuhi kelengkapan administrasi dan catatan kependudukannya paling lambat sebelum mereka mengikuti Summative akhir tahun ajaran di bulan Maret tahun depan. Itu artinya hanya tersisa 4 setengah bulan lagi. Jika catatan kependudukan HunHan tidak bisa dipenuhi maka terpaksa pihak sekolah harus mencoret nama HunHan dari daftar siswanya. Sistem pendidikan di Negara ini mewajibkan semua siswanya tercatat secara resmi, dan itu artinya, Republik Korea Selatan tidak pernah punya data valid tentang dua anak kembar bernama Oh Jaehun dan Oh Jaehan. Yah… hal itu cukup rumit, maka dari itu aku harus segera mengurusnya"
Sehun berbicara panjang lebar namun kedua tangan dan matanya masih terfokus pada pekerjaan yang terlentang pasrah dihadapannya. Luhan perlahan mulai memeluk pinggang Sehun dari arah samping lalu meletakkan kepalanya di bahu bidang Sehun.
"Apa ada yang bisa aku bantu untuk mengurus itu semua?" tanya Luhan lembut
Sehun sempat menghentikan goresan pensilnya lalu menatap Luhan sebentar, kemudian lelaki itu kembali bekerja sambil menjawab, "Aku hanya perlu beberapa tanda tangan darimu"
"Tanda tangan untuk legalisir akta perceraian kita?"
"Bukan…"
"Lalu?"
"Aku hanya perlu tanda tanganmu di akta pernikahan kedua kita sebelum aku membuatkan akta kelahiran valid untuk kedua putraku"
Sejenak hening, hanya terdengar alat medis pemantau denyut jantung Jaehun di ruangan itu. Sehun pun menghentikan goresan pensilnya, lelaki itu tentu sedang mengharapkan reaksi dari sang mantan istri.
"Aigoo… apa seperti ini caramu untuk mengajakku rujuk dan menikah denganmu lagi?" Luhan bertanya dan satu cubitan manja mendarat di pinggang Sehun yang masih Luhan peluk
"Tentu kau tau, alasanku mengajakmu rujuk dan menikah untuk kedua kalinya bukan hanya karena akta kelahiran yang valid untuk HunHan" jawab Sehun dengan sebuah usakan lembut di kepala Luhan oleh tangan kirinya.
"Aku mencintaimu" ujar Sehun kemudian. "Kali ini akan aku buktikan dengan sungguh – sungguh bahwa aku mencintaimu" kata Sehun lagi.
"Apa ini artinya kita akan menikah dalam waktu dekat? Tapi jujur saja aku masih belum siap aku masih benar – benar ingin fokus pada kondisi HunHan," bisik Luhan dengan mimic wajah serius kali ini.
"Tentu saja sayang, kondisi mereka adalah yang terpenting untuk saat ini. Aku hanya tidak bisa memastikan kapan, yang jelas aku pasti akan menikahimu dan melegalkan catatan kependudukan anak – anakku."
"Kau tau… tadi sebelum tidur Jaehan menanyakan tentang kita"
Luhan mengalihkan percakapan mereka pada sebuah topik yang akhirnya berhasil membuat Sehun meletakkan pensil 5Bnya diatas meja dan menatap Luhan dengan seksama.
"Jaehan bertanya apakah setelah ini kau akan kembali tinggal di rumah dan hidup seperti saat sebelum kau meninggalkan rumah"
"Kau jawab apa?"
"Aku hanya bilang bahwa kau akan tinggal lagi bersamaku dan mereka, tapi tentu butuh waktu untuk mewujudkan itu semua"
"Lalu pertanyaan berikutnya?"
Luhan melirik Sehun dengan senyum manisnya, wanita itu tentu tau jika Sehun sangat mengerti bagaimana Jaehan jika sudah penasaran.
"Jaehan bertanya apa aku akan menikah lagi denganmu, karena kata Taeoh, dua orang dewasa yang saling mencintai harus menikah dulu baru bisa tinggal serumah. Dan setahu Jaehan, kau dan aku sudah berpisah, jadi dia juga bertanya apakah mungkin jika kau dan aku bersatu lagi dan menikah kembali,"
"Lalu kau jawab apa?"
"Aku bilang…."
"Apa?"
"mmmm…."
"Lu…. Aku penasaran, kau jawab apa?"
"Aku bilang kalau dia harus menyimpan pertanyaan itu dan menanyakannya padamu… hehehe.."
"Yaaah… kau nakal juga ya rupanya… selalu menyisakan pertanyaan rumit untuk ditanyakan padaku… dasar rusa nakal…"
Sehun menggelitiki tubuh Luhan dan tentu saja Luhan yang geli jadi bergelinjang tak beraturan sementara Sehun terus menerus mengincar pinggang ramping Luhan yang terbungkus piama.
.
.
.
Sreek
Pintu kamar tempat Jaehun dan Jaehan di rawat perlahan terbuka. Matahari belum sepenuhnya muncul tapi semburat merah sang fajar telah muncul dan mengintip dari bali tirai ruang rawat yang berukuran cukup luas itu. Ruang rawat terasa begitu sunyi namun cukup hangat di pengawal musim dingin. Jaehun masih terbaring diatas tempat tidurnya, lemah dengan detakan jantung pelan yang penuh harapan. Disisi lain ada Jaehan yang tidurnya tak lagi beraturan, bantal kepalanya sudah ada di kaki dan selimut tebal rumah sakit malah bergumul di sekitaran perutnya. Jaehan memang selalu seperti itu.
Ketenangan dan kedamaian juga terasa dari sofa yang berada di salah satu sudut ruangan. Dimana kini Sehun tidur telentang dengan Luhan yang tengkurap diatas Sehun. Mereka berdua terlihat begitu hangat bergumul dibawah selimut tebal rumah sakit. Mereka berdua nampak sangat nyaman dan nyenyak.
Sudut bibirnya terangkat, hatinya ikut menghangat ketika melihat kekacauan yang sempat dia perbuat kini perlahan – lahan mulai terasa lebih rapi. Pria itu memberanikan diri untuk mengambil langkahnya. Perlahan – lahan karena dia tidak mau seorangpun tau akan kehadirannya.
Tempat tidur Jaehan adalah titik pertama yang pria dengan tinggi diatas rata – rata itu singgahi. Dengan lembut tangan kekarnya menyaup tubuh mungil Jaehan untuk membenarkan posisi malaikat kecil itu. Lelaki dengan senyum teduh di pipinya yang terlihat agak gembul itu pun membenarkan posisi bantal dan selimut Jaehan, setelah itu dia mengulurkan tangan kekarnya untuk mengusap kening Jaehan yang tertutup oleh rambutnnya.
Perasaan sayang terpancar dari cara pria itu menatap Jaehan. Ingin sekali rasanya dia memeluk Jaehan dan meminta maaf langsung atas apa yang telah dia lakukan untuk hidup bocah mungil dihadapannya itu. Tapi sayang, dia terlalu pengecut. Bahkan untuk berdiri secara langsung di hadapan bocah kecil yang hampir jadi anak tirinya itu saja dia tidak punya keberanian.
Sebelum terlarut dalam kerinduannya, pria itu pun memutuskan untuk beralih pada ranjang yang ada di sebelah ranjang Jaehan. Jaehun terlihat masih cukup lemah namun dari rona wajah Jaehun, pria itu bisa memastikan jika tak lama lagi Jaehun akan kembali siuman. Jemari panjang pria itu menekan beberapa tombol pada layar perekam detak jantung Jaehun, dan sesaat kemudian sebuah pemberitahuan muncul di ponsel pria itu. Pemberitahuan itu berisi tentang catatan detak jantung, tekanan darah dan kontrol pergerakan memori otak dari pasien.
Pria itu kembali tersenyum ketika hasil yang di dapatkannya menunjukkan kata stabil. Pria itu juga mengecek selang oksigen, selang infuse dan bekas jahitan di dada kiri Jaehun. Pria itu menghela napas lega, semuanya stabil dan berkembang cukup baik. Sedikit beban di hatinya menguap, pria itu cukup bahagia dengan kenyataan bahwa Jaehun bisa disembuhkan.
"terima kasih karena sudah bertahan hidup, Oh Jaehun" ujar pria itu dengan suara beratnya.
Mata tajam pria dengan gummy smile itu mulai berkaca – kaca. Perasaannya campur aduk saat ini. Perasaan bersalah, perasaan marah pada diri sendiri, perasaan lega, perasaan bahagia dan semuanya bergumul di setiap rongga dadanya.
"Paman dokter…. Uljimayo…"
Pria itu langsung terkejut dan membalikkan badannya. Mata berairnya terbelalak ketika mendapati Jaehan terduduk di ranjangnya dan menatap kearahnya dengan penuh perhatian.
GREB
Yifan, pria pengecut itu memeluk Jaehan dengan seerat – eratnya. Tangis Yifan terpecah menjadi isakan yang tertahan oleh bahu sempit bocah berusia hampir 8 tahun itu. Jaehan menyambut pelukan Yifan dengan penuh kasih sayang. Jaehan tidak mau berbohong, ada sisi dalam dirinya dimana dia memang menyukai Yifan. Terlepas dari kenyataan bahwa dia pernah akan menjadi ayah tirinya, selalu bersikap agak dingin padanya dan sempat mencelakakan kakaknya, Jaehan merasa jika ada saat dimana Yifan memang tulus menyayangi mereka.
"Paman dokter kemana saja? Aku merindukan paman" ujar Jaehan polos
"Paman juga sayang… paman sangat merindukan Jaehan…"
Suara Yifan yang berat namun lembut bergetar itu membuat Jaehan iba kemudian menepuk punggung Yifan perlahan.
"Apa Jaehanie sudah merasa lebih baik? Atau masih ada yang sakit?" Yifan membisikkan pertanyaan sambil mengusap lembut kepala Jaehan.
"Mmm… Jaehan sudah sembuh, paman. Tinggal Hunnie Hyung yang masih belum bangun" ujar anak tampan itu ikut berbisik
"Jaehunie akan segera bangun, jangan khawatir…."
"Jinjja?"
"Ng… paman yakin, Jaehun pasti akan bangun secepatnya. Kau pasti merindukannya kan?"
"Ne.."
"Paman juga…"
Yifan melepas pelukannya pada Jaehan lalu menakup wajah mungil duplikat Oh Sehun itu dengan kedua telapak tangannya yang lebar. Jaehan balik menatap Yifan.
"Paman kemana saja? Kenapa selama ini tidak pernah datang kemari? Dan kenapa bukan paman lagi yang mengobati kami?"
Pertanyaan beruntun dari si penasaran Jaehan memang tak pernah mudah. Wajar, anak itu ingin tau. Tapi yang menjadi masalah adalah… bagaimana harusnya Yifan menjawab semua pertanyaan itu.
"Jaehan-ah, kau… mau jalan – jalan bersama paman?"
Jaehan mengertukan keningnya seketika, fisiknya memang sudah sembuh, tapi selama ini sang ibu tidak pernah mengijinkan Jaehan untuk menginjakkan kakinya lebih dari pintu ruang rawat. Jaehan masih melirik ibunya yang kini tidur sangat nyeyang dalam dekapan sang ayah. Akalnya menimbang – nimbang apakah jalan – jalan sebentar bersama Yifan adalah pilihan yang tepat atau malah menambah masalah untuknya.
"Kita jalan – jalan kemana?" Jaehan balik bertanya.
"Hanya di sekitar rumah sakit, tidak jauh…"
"Okay… ayo kita jalan – jalan!"
Jaehan dan Yifan tersenyum bersamaan atas kesepakatan jalan – jalan yang mereka buat. Yifan segera mengambil jaket yang tersampir di ujung ranjang Jaehan, memakaikan slipper rumah sakit pada kaki mungilnya lalu menggendong Jaehan pergi dari ruang rawatnya untuk jalan – jalan.
Yifan menggendong tubuh mungil Jaehan dengan tangan kirinya. Saat itu penampilan Yifan amat sangat mirip dengan seorang penculik anak. Yifan menggunakan celana jeans hitam, turtle neck hitam, parka abu – abu dengan tudung kepala berbulu dan snap back hitam, ah jangan lupakan masker hitam yang juga menutupi wajah tampannya.
Yifan masuk ke elevator dan menekan angka 25. Butuh beberapa saat hingga pintu elevator terbuka dan Yifan masih harus menaiki beberapa buah anak tangga hingga mereka berdua sampai di Rooftop park rumah sakit. Rooftop park biasanya digunakan untuk tempat bersantai para dokter. Dulu Yifan biasa menghabiskan waktunya disana untuk memikirkan Luhan.
"Uah, aku baru tau jika rumah sakit ini punya tempat seperti ini" Jaehan tersenyum lebar melihat pemandangan taman atap gedung yang dihiasi sinar keemasan matahari yang baru terbangun dari tidurnya.
"Ini adalah tempat rahasia, hanya dokter yang boleh kemari" ujar Yifan seraya melepas parka yang dia kenakan lalu meyampirkannya ke tubuh mungil Jaehan yang kini duduk disebelahnya.
"Uah… kenapa hanya dokter yang boleh kemari, paman?" Si bocah penasaran itu kembali bertanya
"Hmmm karena dokter juga perlu bernapas. Dokter adalah pekerjaan yang sibuk, jadi… ada saatnya dokter ingin sendirian dan beristirahat. Makanya kami datang kemari." Jawab Yifan dengan wajah imutnya
"Paman dokter… belum jawab pertanyaanku"
"Yang mana?"
"Pertanyaanku yang tadi aku tanya di kamar"
"aaah… kau ingin paman jawab yang mana dulu?"
"mmmm…."
Jaehan tampak berkir cukup keras, kepala penasarannya kini sedang memilah dan milih pertanyaan mana yang sebaiknya dia tanya terlebih dahulu. Di sebelahnya, Yifan hanya mampu tersenyum penuh rindu pada anak disebelahnya, atau mungkin juga pada kembaran anak itu yang masih terbaring saat ini.
"Pertama… kenapa paman tidak pernah datang untuk memeriksa kami lagi?" tanya Jaehan akhirnya
"Mmm… karena paman sudah tidak jadi dokter lagi…"
"Ah wae?"
"Paman sudah melakukan kesalahan, nak… orang seperti paman tidak boleh lagi jadi dokter"
"Kesalahan? Paman buat kesalahan apa? Bukankah paman sudah bekerja keras untuk menyembuhkan kami? Itu kan bukan kesalahan… itu adalah hal yang baik… paman sudah berusaha untuk menyelamatkan kami"
Jaehan berujar tak setuju dengan jawaban Yifan. Anak polos yang tak tau bahwa sebenarnya Yifan sudah hampir membunuh kembarannya itu terlihat keberatan.
"Kau benar Jaehan-ah… paman memang menyembuhkan kalian, tapi sebelum itu… paman… paman sudah terlebih dahulu melakukan kesalahan yang tidak boleh dokter lakukan pada pasiennya dan siapapun. Jika paman jelaskan kau mungkin akan membenci paman…"
Sejenak hening, Jaehan dan Yifan masih bertukar pandang. Demi apapun, saat ini Yifan ingin sekali menangis. Namun tatapan mata Jaehan di hadapannya membuat Yifan berusaha keras menguatkan dirinya sendiri.
"Aku tidak akan membenci paman" ucap bibir mungil Oh Jaehan
"Meskipun orang bilang jika paman akan merebut eomma dari appa, meskipun paman terlihat lebih menyayangi hyung daripada aku… aku tidak akan membenci paman. Aku malah sangat menyukai paman"
Jaehan tersenyum tipis sementara kabut bening mulai menyelimuti kedua mata Yifan.
"Terima kasih, kau tidak membenci paman."
Jaehan meraih telapak tangan lebar Yifan dengan kedua telapak tangan mungilnya lalu kembali berkata,
"Banyak orang yang membutuhkan dokter hebat seperti paman. Ada banyak anak yang kondisinya sama seperti hyung. Ada banyak anak yang merasakan rasa takut kehilangan seperti aku. Dan banyak juga orang tua yang lelah dan sedih seperti orang tuaku. Apa paman tidak mau membantu mereka juga? Jika paman berhenti jadi dokter, lalu bagaimana dengan mereka? Paman punya kemampuan untuk menyembuhkan mereka juga kan?"
Yifan menarik sudut bibirnya ketika mendengar jalan pikiran seorang Oh Jaehan yang dia kenal selalu ceroboh dan kekanakan. Yifan tentu mengenal Jaehun dan Jaehan dengan baik. Jaehun yang selalu berpikir dewasa dan Jaehan… yang selalu menyembunyikan perasaannya untuk Jaehun.
Yah, Yifan tau tapi sayangnya Yifan sering menutup matanya. Selama ini Jaehan bersikap ceroboh, kekanakan dan minta selalu diperhatikan hanya lah untuk menutupi rasa takut dan gelisahnya sendiri. Jaehan takut kehilangan Jaehun dan kedua orang tuanya. Jaehan bahkan sengaja sering melukai dirinya agar sang eomma memperhatikannya dan sang appa datang ke rumah mereka. Yah…. Dibalik itu semua, Jaehan tak kalah sensitif dibanding Jaehun. Jaehan hanya mirip seperti Sehun. Selalu menutupi perasaannya dengan segala macam bentuk kekonyolan, padahal sebenarnya mereka peka dan memikirkan semuanya dengan teliti dan matang.
"Kepala dan tangan paman memang pintar, Jaehan-ah… tapi… pintar saja tidak cukup untuk menjadi seorang dokter yang baik. Untuk bisa menjadi dokter yang baik dan mampu membantu semua orang yang membutuhkan kita juga perlu mempunyai hati yang besar dan tulus. Itu adalah hal yang terberat. Itu… adalah hal yang paman tidak punya. Ketulusan"
Jaehan terlihat tak mengerti dengan apa yang Yifan ucapkan. Tentu saja, kepala bocah itu pasti belum mampu mencerna pernyataan serumit itu.
"Paman bukan orang yang jahat…"
Jaehan berkata setelah beberapa saat hening. Dalam kepalanya, Jaehan hanya menangkap bahwa Yifan mencoba untuk mengatakan bahwa dia adalah pria yang jahat.
"Jika paman adalah orang yang jahat, paman tidak akan menyelamatkan kami" kata bibir mungil putera bungsu Oh Sehun itu.
Yifan menanggapi pernyataan Jaehan dengan senyum. Yifan tentu tak mungkin mendebat Jaehan dan membeberkan fakta bahwa dia hampir saja jadi malaikat pencabut nyawa kakaknya, terlebih dia jugalah dalang dibalik berpisahnya Sehun dan Luhan. Jaehan tak akan mengampuni Yifan jika dia tau bahwa kesehatan Jaehun pernah Yifan permainkan demi mendapatkan Luhan. Jaehan juga pasti tidak akan mau memegang tangan Yifan seerat itu jika dia tau bahwa dia selalu membuat appanya terlihat buruk di depan eommanya dulu.
"Dulu aku selalu sedih… setiap Hyung sakit, eomma pasti akan sibuk mengurus kami sementara appa sibuk bekerja untuk membayar rumah sakitnya. Paman juga sibuk menyembuhkan hyung. Sementara aku… aku tidak bisa melakukan apapun selain berada di samping hyung dan tidak nakal pada eomma. Dan sebenarnya aku… aku ingin bisa melakukan sesuatu untuk menyembuhkan hyung"
"Tapi sekarang kau tidak perlu khwatir lagi kan… Jaehun sudah sembuh, hanya tinggal sedikit pemulihan saja.."
"Tapi tetap saja. Aku ingin melakukan sesuatu. Selain hyungku, ada banyak teman – temanku disini yang masih sakit. Paman sendiri pasti tau jika aku punya banyak teman disini dan mereka juga sakit. Iya kan?"
"Kalau begitu… kenapa bukan kau saja yang jadi dokter?"
"Ng?"
"Kau sudah punya hati yang tulus… kau hanya perlu belajar giat agar punya kepala yang pintar"
"Bisakah aku jadi dokter?"
"Tentu saja!"
Jaehan terdiam, kepala anak itu tertunduk lesu. Kedua mata Jaehan menatap kedua kakinya yang terbalut slipper rumah sakit.
"Wae? Apa kau masih bercita – cita jadi pemain sepak bola yang bisa berubah menjadi spider man?"
Yifan berbisik imut dan Jaehan pun sedikit tersenyum malu.
"Apa seorang dokter…. Boleh bermain sepak bola?" tanya anak itu kemudian
"Tentu saja boleh! Rumah sakit ini bahkan punya liga sepak bola melawan dokter – dokter dari rumah sakit lain!"
"JINJJAYO?!"
Yifan mengangguk dan senyum lebar diiringi dengan sinar mata hari yang mulai benderang terbit di wajah Jaehan. Anak polos itu, hatinya benar – benar baik. Yifan hanya berharap dalam hatinya agar Jaehan tidak pernah berubah. Jaehan tidak boleh berubah egois seperti dirinya.
"Jadi kau mau jadi dokter yang pintar main sepak bola?"
"NE!"
"kalau begitu kau harus janji tiga hal pada paman!"
"AKU SIAP!"
"Pertama, kau harus janji bahwa kau akan belajar sangat giat!"
"NE! AKU BERJANJI!"
"Kedua, kau harus berjanji bahwa kau akan menjadi dokter yang punya kepala pintar dan hati yang baik!"
"NE! AKU BERJANJI!"
"Dan ketiga… kau harus berjanji bahwa kau… tidak akan pernah mengambil apalagi merebut apapun yang bukan milikmu."
"NE! AKU BERJANJI!"
Yifan memeluk Jaehan begitu erat, ijinkan lah Yifan untuk kali ini saja berharap bahwa Jaehan adalah anaknya. Sehun benar – benar beruntung, ah… Sehun beruntung karena Sehun adalah pria yang baik.
"Kau memang benar – benar anak yang baik. Eomma dan Appamu sangat beruntung! Aku iri pada mereka" ujar Yifan sambil mengusak rambut mangkok Jaehan.
"Eiiiy… kenapa Paman harus iri pada orang tuaku? Paman juga bisa punya anak yang baik sepertiku. Paman hanya perlu menikah lalu punya anak…"
Yifan tertawa begitu lepas mendengar kepolosan Jaehan. Entah kenapa mendengar itu dari Jaehan membuat perut Yifan geli.
.
.
.
"Jaehan-ah"
Terdengar sayup – sayup rengekan kecil memanggil nama Jaehan. Luhan yang saat ini masih ada di dalam pelukan Sehun dan tertidur di sofa mulai sedikit mengerutkan keningnya.
"Jaehan-ah"
Suara itu kembali memanggil, dan kali ini Sehun juga mulai mengerutkan keningnya seperti Luhan.
"Jaehan-ah… Jaehan…"
Sehun dan Luhan membuka mata mereka secara bersamaan dan secepat mungkin berdiri dari sofa yang mereka tiduri. Sehun pun melebarkan mata sipitnya tidak percaya jika suara lemah yang dia dengar berasal dari tubuh mungil yang terbaring di sela – sela kabel pemantau detak jantung itu. Dengan jelas mata sipit Sehun bisa melihat kepala Jaehun sedikit bergerak. Kali ini Luhan pun ikut memandangi tubuh Jaehun dan seketika kedua mata rusa itu juga membelalak melihat pergerakkan kecil di ranjang rawat yang berlabel Oh Jaehun.
"JAEHUN-AH!"
Luhan dan Yifan mendekat ke ranjang Jaehun, dimana Jaehun sudah membuka matanya dan… menangis.
"Jaehun-ah…. Kau bangun sayang…" Luhan mengelus kepala Jaehun dengan lembut, namun Jaehun malah semakin menangis.
"DOKTER KIM! ANAKKU SUDAH SIUMAN! JAEHUNKU SUDAH SIUMAN DOKTER KIM!"
Di sebelah Luhan, Sehun dengan perasaan bahagia yang tak terbendung segera memanggil dokter untuk mengecek kondisi Jaehun yang baru saja terbangun.
"Eommaa…."
"Ne, Jaehun-ah… eomma ada disni… apa kepalamu sakit? Apa dadamu sakit?"
"Jaehanie… eoddiseoyo?"
"Aaah… Jaehanie ada…"
Ucapan Luhan terpotong bersamaan dengan Sehun yang baru saja meletakkan gagang telepon rumah sakit. Mereka berdua baru sadar jika Jaehan tak ada di ranjangnya.
"Jaehan-ah…" Sehun mencoba untuk memanggil Jaehan dan mencari anak bungsunya itu di segala sudut ruangan. Namun hasilnya nihil. Jaehan tidak ada di sana.
"Jaehan tidak disini?" tanya Luhan ikut panic
"Tidak… mungkin dia keluar… aku akan mencari Jaehan. Kau temani Jaehun disini! Dokter Kim akan datang." Kata Sehun dengan sigapnya mengambil mantel dan keluar dari ruang rawat
"Eomma… Jaehan… baik – baik saja kan?"
Oh Jaehun, anak yang hampir 1 minggu tertidur itu segera menanyakan sang adik setelah matanya terbuka. Anak itu masih menangis dan nampak ketakutan.
"Jaehan baik – baik saja sayang… kau tau adikmu kan… dia suka jalan – jalan di rumah sakit ini. Sebentar lagi appamu pasti menemukannya."
Ada kelegaan di wajah Jaehun. Mimpi buruk selama dia tertidur membuat Jaehun benar – benar ketakutan jika Jaehan terluka atau sakit ketika dia terbangun. Jaehun masih ingat betul, semua hal yang ada dalam mimpinya. Lorong – lorong putih, stasiun kereta bernuansa musim semi yang sangat bersih, wajah sedih Jaehan ketika dia akan meninggalkannya dan… kakek dari Byun seonsaeng kesayangannya. Jaehun masih mengingat semuanya.
"Byun seonssaeng… apa dia datang menjengukku?"
Luhan nampak bingung dengan pertanyaan Jaehun, namun yang wanita itu lakukan hanyalah menjawab dengan tenang.
"Ne… dia selalu datang kemari namun Jaehunie belum bangun…"
"Apa Byun seonssaeng baik – baik saja?"
"Ne… guru kesayanganmu itu baik – baik saja… wae? Kau lebih merindukan gurumu daripada eommamu sendiri?"
Luhan pura – pura merajuk tapi Jaehun yang tadinya menangis kini tersenyum lucu.
"Aku lebih rindu pada eomma dan appa…"
"Benarkah?"
Jaehun mengangguk. Luhan tidak bisa menguasai dirinya, wanita itu segera memeluk putera sulungnya dengan lembut penuh kerinduan dan kelegaan. Dalam hatinya, Luhan amat sangat bersyukur pada Tuhan. Tuhan sangat baik padanya, Tuhan memberikan kesempatan kembali padanya dan Sehun untuk memperbaiki kesalahan mereka selama ini. Luhan berjanji, mulai hari ini dan seterusnya, dia akan menjadi ibu terbaik untuk malaikat yang hampir diambil lagi oleh Tuhan darinya.
.
.
.
"Permisi… apa ada yang melihat anakku? Oh Jaehan… pasien langganan rumah sakit ini… kalian pasti mengenal anak – anakku kan?"
Sehun datang dengan panik ke resepsionis poli anak bagian bedah jantung dan penyakit organ dalam. Bukannya sombong tapi kenyataannya memang begitu. Hampir semua dokter dan perawat di poli anak mengenal Jaehun dan Jaehan. Mereka adalah pelanggan tetap poli anak sejak mereka lahir. Bukan prestasi yang baik memang, tapi… itu seharusnya memudahkan Sehun jika salah satu puteranya menghilang seperti sekarang.
"Maaf tuan Oh, kami tidak melihat putera anda. Kami baru berganti shift." Ujar salah satu perawat yang sering Sehun lihat
"Ah… begitu… baiklah… terima kasih…"
Sehun tak mau menunggu lama, apalagi repot – repot merespon tatapan terpesona beberapa perawat magang yang mungkin baru pertama kali melihat Sehun di sana.
"Jaehan-ah…. Oh Jaehan…"
Sehun berkeliling di seluruh lorong dari lantai 9 sampai lantai 12 dimana poli anak berada di rumah sakit itu. Namun tak seorang pun melihat Jaehan, tak sedikitpun ada tanda – tanda Jaehan di sana.
BRUGH
"AAAKH!"
"Maaf… maafkan aku… eh… dokter Huang… maaf.."
"Ah, HunHanie appa… kenapa kau berlarian di lorong rumah sakit? Sedang main petak umpet bersama Jaehan?"
"Aniyo… Dokter Huang, apa kau melihat Jaehan… Jaehan menghilang, dia tidak ada di kamar."
"Mwo? Aku tidak melihat Jaehannie… "
"Aaah… bagaimana ini, Jaehun baru saja siuman tapi Jaehan malah menghilang."
"Jaehun sudah siuman?"
"Ya… baru pagi ini."
"Geuraeyo… kalau begitu akan aku ajak keruang pantau CCTV, kita pasti bisa lihat Jaehan disana"
Zitao mengajak Sehun untuk menuju lantai 19 dimana semua hal yang berhubungan dengan IT di rumah sakit itu ditanangi. Begitu pula dengan seluruh kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut rumah sakit. Sehun memasuki ruangan dimana seluruh dindingnya dilapisi oleh monitor – monitor pemantau ratusan CCTV. Beberapa orang yang bekerja sebagai pemantau CCTV duduk berhadapan dengan monitor – monitor lebar itu. Sehun tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa rumah sakit milik ayah Zitao memiliki ruangan seperti itu.
"Jam berapa kau tau bahwa Jaehan tidak ada di ruangan?" Zitao bertanya dan menghentikan kekaguman Sehun
"Ah… sekitar jam setegah tujuh pagi" namun Sehun masih bisa menjawabnya dengan sigap
"Lalu terakhir kau melihat Jaehan ada di ruangan sekitar jam berapa?" tanya Zitao lagi
"4.35 a.m…"
"Mwo?"
"Aku masih mengerjakan beberapa tugas kantor sampai sekitar pukul 4.35. Dan Jaehan masih ada di ruangan saat itu"
"Ani... apa kau tidak mendengar saran dari dokter Kim Jongdae? Orang tua pasien tidak boleh sampai ikut jatuh sakit. Peliharalah kesehatanmu…"
"Dokter Huang, apa ini anak yang anda cari?"
Ocehan Zitao terpotong ketika salah seorang pemantau CCTV mempause salah satu rekaman CCTV saat Yifan dan Jaehan ada di lorong rumah sakit.
"MAJJAYO! ITU ANAKKU!" Sehun langsung menerobos dan meneliti gambar puteranya yang tengah digendong seseorang misterius berpenampilan serba hitam.
"Ini adalah lorong ruang rawatnya kan? Lalu siapa laki – laki yang menggendongnya?" Zitao juga meneliti pria misterius yang wajahnya tertutupi oleh tubuh Jaehan
"Mereka menuju ke elevator 6" kata petugas itu lagi
"Coba kau lihat elevator 6. Mereka pergi ke lantai berapa" pinta Zitao lagi
Beberapa saat kemudian rekaman CCTV dari elevator 6 menampilkan rekaman sesosok pria yang terlihat cukup tinggi masih menggendeong Jaehan dengan satu tangannya. Jaehan juga nampak memeluk pria itu dan memiringkan kepalanya untuk bersandar di bahu sang pria.
"mereka naik ke lanatai 25, Dokter Huang"
"Lantai 25…? Tidak ada orang luar yang akan naik ke lantai 25. Lantai itu berisi penyimpanan obat dan vaksin beku!" Zitao bergumam pada dirinya sendiri masih memikirkan kemungkinan apa yang terjadi setelahnya
"Maaf… di CCTV yang lain, pria itu menuju pintu darurat" Sehun menunjuk rekaman kamera lain dan dengan sigap si petugas langsung memperbesar gambarnya
"Apa ada CCTV di tangga darurat?" tanya Zitao mulai cemas
"Ne… kami akan segera mengeceknya, Dokter Huang"
Petugas CCTV kembali mengecek beberapa rekaman yang tercantum namun Zitao tiba – tiba menggeser tubuh petugas itu dan mengambil alih layar besar yang tadi diotak atik. Zitao memperbesar capture rekaman CCTV saat sang pria yang mereka anggap misterius itu memasuki pintu tangga darurat.
"Haaaah…"
Zitao menghela napasnya dengan kasar lalu menarik satu sudut bibirnya keatas dan berkata, "Jaehan bersama Yifan!"
"Apa?"
"Pria yang menggendong Jaehan adalah Wu Yifan!"
"Kau tau dari mana?" Sehun terlihat percaya tak percaya dan sekaligus bingung
"Aku sangat mengenal orang itu, bahkan dari punggungnya saja… aku bisa mengenali bahwa dia… 100% Wu Yifan!"
"Tapi kenapa Yifan membawa Jaehanku pergi? Apa dia merencanakan sesuatu lagi?"
"Entahlah… tapi aku rasa aku tau mereka pergi kemana. Terima kasih atas bantuan anda Petugas Kang, silakan kembali bekerja. HunHanie appa, kau bisa ikut aku"
Zitao mengajak Sehun keluar dari ruangan CCTV lalu masuk kembali ke elevator dan menekan angka 25. Sama seperti yang Yifan lakukan, Zitao pun mengajak Sehun untuk naik tangga darurat menuju ke lantai paling atas.
Zitao membuka pintu kaca tebal yang menjadi akses masuk ke taman yang ada di atap rumah sakit itu. Seketika Sehun dan Zitao melihat bagaimana kini Jaehan duduk di bahu Yifan sambil merentangkan tangannya ke arah matahari terbit. Yang nampak dari Oh Jaehan hanyalah pucuk rambutnya saja. Anak itu tenggelam dalam jaket parka yang Yifan pakaikan pada anak itu. Yifan sendiri berdiri sambil memeluk kaki Jaehan yang bergantung di lehernya. Mereka berdua nampak cukup bahagia.
.
.
.
"Jadi… paman dokter benar – benar akan pergi jauh dari sini?"
"Mmm…"
"Dan tidak akan kembali lagi ke sini?"
"Mmm…"
"Andwaeyo…"
"Wae?"
"Paman dokter harus kembali lagi kapan – kapan. Paling tidak untuk makan Hanwoo Barbeque atau Makchang atau Samgyeopsall atau Tteokpokki atau ayam goreng kesukaan paman!"
"Ahahahaha… Makanan itu bukan style paman"
"Paman selalu bilang semua makanan bukan style paman, tapi paman tetap menghabiskan semuanya paling banyak! Paman tidak konsisten!"
"Oho… darimana kau tau kata – kata tidak konsisten?"
"Dari Running Man! Jaeseok ahjussi selalu bilang begitu ke Girrafe ajjhushi"
"Aaah… Running Man… acara kesukaan eommamu…"
"Paman…"
"Ng?"
"Paling tidak datanglah kemari saat aku jadi dokter nanti. Aku juga mau menyombongkan diri padamu."
Yifan hanya tersenyum menanggapi ucapan Jaehan yang ada di atas bahunya. Anak itu selalu saja membuat hatinya tersentuh hari ini.
"OH JAEHAN!"
Seketika Jaehan menjepitkan kakinya di leher Yifan dan tangannya pun mendekap kepala Yifan ketakutan. Yifan mau tidak mau harus meloloskan satu suara keluhan karena tindakan spontan Jaehan yang menyakiti tubuh bagian atasnya itu.
"Ah… itu suara appaku..." Jaehan berbisik di telinga Yifan dengan anda ketakutan. Bagaimana tidak, Sehun memanggil Jaehan dengan sekuat tenaga dan suara beratnya yang selalu mengintimidasi.
Ketika Yifan membalikkan badannya, Sehun sudah berdiri dihadapan mereka dengan wajah penuh ketegangan. Tidak bisa di tolak, Sehun benar – benar menyeramkan saat ini. Wajah penuh amarhnya seperti terbakar dan memerah. Dibelakang Sehun pun ada Zitao yang memandang Yifan dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Appa…"
Jaehan merengek imut, namun rengekan itu tidak berefek apapun pada Sehun saat ini. Wajah datar dan dingin Sehun tak bisa diubah.
"Dokter Huang, apa aku boleh minta tolong?"
"Ne?"
"Bawa Jaehan ke kamar rawatnya. Ada yang harus aku bicarakan pada Dokter Wu"
Zitao mendekat kearah Yifan kemudian menyaup Jaehan kedalam gendongan Zitao. Yifan dan Zitao memiliki kontak mata selama beberapa saat. Dan sebelum perasaan aneh mulai menggeluti relung hatinya, gadis berperawakan bak model Victoria Secret itu segera berpaling dan pergi dari atap gedung rumah sakit.
Yifan dan Sehun saling menatap. Sehun masih menatap Yifan dengan tatapan kaku sementara Yifan terlihat lebih santai dengan senyumnya.
"Jaehun… baru saja siuman"
Sehun berkata dengan nada datar tanpa mengubah raut wajah intimidasinya. Senyum halus Yifan yang ada di hadapan Sehun perlahan memudar. Yifan merasakan campur aduk dalam dirinya, perasaan campur aduk yang di dominasi oleh rasa lega karena Tuhan telah menyelamatkan malaikat yang hampir dibunuh oleh kedua tangannya sendiri.
"Apa keadaannya stabil? Apa Detakan jantungnya normal? Apa tekanan darahnya sesuai dengan denyut jantungnya?"
"Aku tidak tau… apa kau mau mengeceknya sendiri?"
Yifan membelalakkan kedua matanya ketika Sehun memberikan penawaran itu, tentu masih dengan raut wajah bekunya. Yifan terlihat gugup, pria itu tak lagi berani menatap Sehun apalagi sambil tersenyum seperti tadi.
"Kau tidak berani?"
Sehun berkata dengan nada meremehkan. Entah kenapa, Yifan sama sekali tidak tersinggung dengan pertanyaan Sehun. Kenyataannya demikian. Yifan tidak berani berhadapan dengan Jaehun… dan Luhan.
"Aku… tidak berhak bertemu dengan Jaehun… aku.."
"Aku mengijinkanmu."
"Sehun-ah… aku…"
"Kau takut, iya kan?"
Sehun tersenyum getir sementara Yifan membeku di posisinya.
"Kau bahkan tidak takut ketika kau mencoba untuk membunuhnya. Kenapa kau malah takut disaat dia sudah sadar dari masa kritisnya?"
"Geurae… kau pasti marah padaku, Oh Sehun.."
"Tentu saja! Aku punya banyak alasan untuk marah padamu. Aku bahkan punya cukup alasan untuk membuatmu paling tidak patah tulang rusuk atau semacamnya"
"It's okay… jika itu membuatmu merasa lebih baik. Kau boleh melakukannya."
"…"
"Kau boleh mematahkan semua tulang rusukku atau membunuhku sekalian! Kau berhak melakukannya. Aku sudah sangat berdosa padamu."
Sehun mengeratkan rahang – rahangnya ketika Yifan terus menantangnya untuk menghancurkan pria itu. Sehun marah, dia tentu benar – benar marah pada Yifan. Hidupnya yang berantakan, Luhan yang selalu sedih dan susah dan anak – anak yang hidupnya tak jelas, semua itu ulah Yifan. Sehun memiliki semua alasan untuk membenci Yifan.
"Aku berdosa karena aku selalu menginginkan apa yang kau punya dan aku tak punya!"
Sehun mulai menahan – nahan napasnya yang memburu, detakan jantung Sehun meningkat drastic ketika Yifan mulai mengungkit semua masalah mereka.
"Dulu kita berdua berteman dengan baik, bahkan aku sudah seperti kakak bagimu. Tapi… aku yang kurang ajar ini selalu punya rasa iri yang besar yang selalu ingin memiliki apa yang kau punya! Kau punya orang tua yang selalu ada dan memperhatikanmu! Kau punya adik yang selalu mengidolakanmu! Kau punya sahabat yang selalu ada bersamamu! Kau bahkan… memiliki Luhan yang amat sangat aku cintai dan inginkan!"
Kepala Sehun yang sudah diselimuti emosi mulai berpikir, kapan tepatnya hubungan mereka yang dulu sangat baik menjadi seperti itu? Apakah disaat Luhan dan Sehun mulai bersama? Tapi demi Tuhan Sehun tidak pernah tau jika Yifan mencintai Luhan sejak lama.
"Kau tidak hanya memiliki Luhan, kau bahkan memiliki dua orang putera yang luar biasa, kau punya isteri dan dua anak kembar yang selalu percaya dan mencintaimu meskipun aku selalu berusaha untuk menghancurkan kepercayaan itu untukmu! Kau… kau punya segalanya yang ingin aku miliki!"
Perkataan Yifan, menguak semua luka dalam hati Sehun. Sehun tentu masih ingat bagaimana perihnya ketika Luhan dan anak – anak lebih mempercayai Yifan daripada dirinya. Sehun tentu masih ingat bagaimana Luhan selalu meremehkan dan merendahkan Sehun dihadapan Yifan terutama saat Jehun sakit. Sehun tentu ingat betul semua hal menyakitkan yang Yifan perbuat dalam hidupnya.
"Entah kenapa aku marah padamu! Entah kenapa aku membencimu! Entah kenapa aku ingin menghancurkanmu! Aku ingin kau kehilangan semua yang kau miliki! Aku egois, aku jahat, aku mengerikan! Dan kau benar – benar pantas untuk membunuhku, Oh Sehun… bukan hanya mematahkan satu atau dua tulang rusukku!"
Sehun mulai mengepalkan kedua tangannya kuat – kuat. Kepalan tangan Sehun yang kekar, pasti cukup untuk mematahkan tulang hidung Yifan dalam sekali pukulan, atau paling tidak merobek bibir Yifan yang telah dengan lantang mengorasikan kebencian salah jalannya pada Sehun. Sehun mulai mengangkat tangan kanannya yang terkepal ke udara, dengan secepat kilat tangan itu terayun dan diarahkannya pada Yifan dan…
GREB
"Hyung…."
Sehun memeluk Yifan seerat Yifan memeluk Jaehan tadi. Dan satu kata yang Sehun ucapkan berhasil memaksa air mata Yifan untuk turun ke pipinya. Hyung, adalah panggilan Sehun untuk Yifan.
"Aku memang marah padamu, tapi aku tidak sama sekali membencimu" ujar Sehun yang masih memeluk pria yang lebih tinggi beberapa inch dari dirinya itu.
Hati Yifan berdenyut. Sehun pun mengatakan hal yang sama dengan apa yang Jaehan katakan padanya tadi. Mereka tidak membenci Yifan.
"Kau memang melakukan semuanya, kau memang menghancurkan semuanya tapi… kau tidak benar – benar melakukannya, Hyung"
Gantian Yifan yang berdiri membeku dalam pelukan Sehun. Bahu Yifan sudah mulai bergetar. Perasaan sakit dan beban dalam diri Yifan bergumul di ulu hatinya. Membuat Yifan bahkan merasa mual akibat ulah masa lalunya itu.
"Fakta yang ada, Hyung menyembuhkan putera – puteraku. Hyung menjaga mereka dengan baik. Hyung membuat masalah dalam hidupku dan Hyung pun memberikan kesempatan padaku untuk tumbuh menjadi pria yang lebih dewasa. Jika kau tidak melakukan ini pada hidupku, aku pasti sudah jadi bajingan tak tau rasa bersyukur saat ini."
Yifan tertusuk oleh kalimat – kalimat Sehun. Lebih daripada sakit, Yifan merasa malu pada Sehun yang bisa bersikap lebih dewasa darinya yang berusia lebih tua dari Sehun. Sehun melepaskan pelukannya dari Yifan. Sehun bisa lihat bagaimana mata Yifan sembab dengan hidung semerah tomat.
"Setiap orang melakukan kesalahan, hyung… dan jika kita tau itu adalah kesalahan yang kita harus lakukan adalah memperbaikinya."
Yifan tersenyum getir. Bagaimana bisa dia terlihat begitu lemah dihadapan Sehun yang berusaha dia lemahkan dulu.
"Aku bukannya memilikki segala hal yang tidak bisa hyung miliki. Tapi hyung sendiri yang tak melihat apa yang sebenarnya hyung miliki"
"…"
"Hyung punya orang tua yang selalu mengikuti apa yang hyung inginkan, Hyung punya otak cerdas, wajah tampan dan tinggi badan yang semua lelaki di dunia ini impikan, Hyung punya sikap lembut dan hangat yang sering hyung sepelekan, dan Hyung bahkan… memiliki seseorang yang selalu mencintai Hyung meski apapun yang hyung lakukan, baik atau buruk, dia selalu mencintai hyung… jika orang itu Luhan, dia pasti akan meninggalkan hyung. Tapi orang itu bukan Luhan dan orang itu bahkan… masih mencintai hyung dengan sepenuh hatinya meskipun dia tau hyung selalu mengabaikannya."
"Zitao…"
"Mmm… Dokter Huang…"
"Apa aku masih pantas untuk dia yang begitu tulus?"
"Pernyataan pantas atau tidak pantas itu tidak berlaku dalam hukum mencintai seseorang. Karena semua orang menerima cinta yang kita pikir pantas untuk menerimanya"
"…"
"Luhan tetap mencintaiku meski dulu aku pernah menjadi bajingan pengecut yang meninggalkannya sendirian dan Severus Snape tetap mencintai Lily Potter meskipun Lily mencintai James Potter, Snape bahkan menyayangi Harry Potter pada akhirnya."
Yifan sedikit tertawa ketika Sehun mengingatkannya pada cerita fiksi tentang dunia sihir yang mereka berdua sukai. Mereka dulu bahkan selalu menonton film itu bersama.
"Zitao bukan Severus Snape" canda Yifan
"Tentu saja… Hyung juga bukan Lily Potter jadi… jangan biarkan dokter Huang menderita lebih lama"
"Tapi aku akan pergi"
"Kemana?"
"Aku sudah tidak punya hak lagi menjadi dokter. Sidang kode etik menjatuhkan hukuman pencabutan praktekku jadi… aku sudah tidak boleh lagi menangani pasien"
"Hyung akan pergi kemana?"
"Entahlah… mungkin aku akan kembali ke Canada atau Cina… yang mana saja asal tidak tinggal disini"
"Kenapa tidak tinggal disini?"
"Ah! Kau ini sama saja seperti Jaehan, penasaranmu terlalu tinggi!"
"Wajar, dia anakku! Jawab aku hyung…"
"Aku ingin menata kehidupanku terlebih dahulu. Aku menghancurkan hidup kalian dan semua terbalas dengan karirku yang juga hancur"
"Aku tidak menuntut apapun Hyung… aku tidak menginginkannya"
"Itu namanya Hukum Karma, Oh Sehun… kau minta atau tidak, aku pantas mendapatkannya. Lagipula… aku ingin memiliki suasana baru. Aku ingin jadi orang yang baru… aku… ingin mengobati lukaku sendiri dan… menjadi orang yang lebih berguna."
Sehun terdiam. Tak ada gunanya lagi untuk membantah apa yang Yifan putuskan. Yifan adalah orang dewasa yang bebas mengambil keputusan apapun yang dia mau.
"Boleh aku meminta sesuatu padamu, hyung? Satu hal saja…"
"Apa?"
"Kau harus janji untuk mengabulkannya kali ini! Oke?" Sehun melirik Yifan dengan wajah serius, Yifan kemudian hanya menekuk bibirnya lalu berkata,
"Baiklah… aku janji akan mengabulkannya… katakan!"
"Permohonanku hanya satu, berjanjilah bahwa kau… akan belajar mencintai Dokter Huang. Kepala Hyung sangat pintar tapi hati Hyung… ah… itu benar – benar parah. Maka dari itu, tolong ajari hati hyung untuk mencintai Dokter Huang, dengan begitu… Hyung bisa lebih cepat menyembuhkan semua rasa sakit itu."
.
.
.
"Kondisi Jaehun sudah mulai stabil. Pacemaker yang ditanamkan padanya bekerja sangat baik dan tidak menimbulkan efek samping yang buruk pada Jaehun. Aku rasa jika dengan beberapa terapi dan pemulihan, Jaehun pasti akan sembuh seperti sedia kala"
Dokter Kim Jongdae tersenyum lebar ketika beliau selesai melakukan pengecekan menyeluruh pada tubuh Jaehun. Luhan yang saat itu ada di samping Jaehun benar – benar merasa lega karena kondisi Jaehun cepat atau lambat akan kembali pulih.
"Mulai sekarang sepertinya Jaehun tidak perlu menggunakan selang oksigen. Jantung Jaehun harus mulai belajar untuk memompa oksigen dalam ruangan. Aku akan memasang alat penetral oksigen udara untuk menyaring oksigen lebih banyak, jadi jangan khawatir." Ujar doker Kim Jongdae lagi. Senyum Jongdae benar – benar lebar kali ini. Dokter itupun merasa lega jika keadaan Jaehun bisa berangsur membaik. Tentu dia tidak lupa bagaimana perjuangan tenaga medis untuk menyelamatkan anak itu.
"Jadi… apa yang bisa kami lakukan untuk membantu pemulihan Jaehan, Dokter Kim?" tanya Luhan antusias
"Kau hanya perlu memastikan asupan gizi Jaehun, ajak Jaehun untuk mulai beraktifitas sederhana untuk melatih jantungnya. Pelan – pelan tingkatkan aktifitas dan konsentrasi Jaehun dari hal sederhana menjadi yang lebih kompleks, kami akan membantu anda untuk memantau perkembangan jantung putera anda. Dan selain itu… kami juga akan segera menjadwalkan pengobatan dan terapi pemulihan yang baru untuk Jaehun. Anda tidak usah khawatir"
"HYUUUUUNGGG!"
Jaehan yang baru masuk dalam ruang rawatnya mendadak histeris melihat Jaehun yang kini duduk bersandar di atas tempat tidurnya. Jaehan pun langsung minta turun dari gendongan Zitao dan meninggalakn Parka tebal raksasa yang dia kenakan.
"JAEHAN-AH!"
Jaehun ikut memekik sesaat kemudian, detakan jantung Jaehun terpantau lebih cepat, itu karena dia terlalu antusias bertemu lagi dengan kembarannya.
Jaehan memeluk Jaehun dengan perlahan, takut jika dia akan mengganggu kabel – kabel di badan Jaehun yang masih bekerja.
"Hyung… aku merindukanmu!" ujar Jaehan jujur
"Hyung juga… apa kau ikut sakit lagi?" tanya Jaehun ketika melihat baju Jaehan.
"Ani… aku sehat Hyung… aku memakai ini agar kita menggunakan baju yang sama! Kita kan anak kembar!"
Celotehan Jaehan mampu membuat semua orang tertawa renyah termasuk Jaehun. Perlahan Luhan mendekati Zitao dan berbisik untuk bertanya kemana hilangnya Jaehan dan dimana Sehun. Dengan berbisik pula Zitao bilang bahwa Jaehan tadi bersama Yifan dan kini Sehun pun sedang berbicara dengan Yifan.
Sedikit menghabiskan waktu untuk berbincang dengan anak – anak akhirnya Zitao meninggalkan ruang rawat itu dan kembali ke ruangannya bersama Parka milik Yifan.
Tak lama setelah Zitao pergi, Sehun pun datang ke ruangan bersama Yifan. Luhan terlihat kaget saat Yifan masuk dengan senyum lebar dan disambut antusias oleh Jaehun dan Jaehan. Sehun pun tak keberatan ketika Jaehan mulai memanjati tubuh jangkung Yifan dan Jaehun yang tidak mau melepaskan tangan Yifan.
Apapun yang mau dikta, keberadaan Yifan tetaplah memiliki arti tersendiri bagi kedua buah hatinya. Sehun benar – benar tidak mau merusak citra Yifan dimata anak – anaknya, bahkan demi apapun Sehun bersumpah jika Yifan memang layak menjalin hubungan yang baik dengan Yifan. Salah ataupun benar, Yifan adalah orang yang sudah menyembuhkan mereka. Yifan is their death and live angel.
Luhan mendekat pada Sehun yang kini duduk diatas ranjang kosong Jaehan. Sehun masih tersenyum melihat bagaimana kedua buah hatinya mengadu pada Yifan tentang apa yang mereka rasakan sebelum, seseaat dan pasca operasi. Luhan duduk di sebelah Sehun kemudian menggenggam tangan pria yang paling dia cintai itu.
"Apa yang terjadi?"
"Tidak terjadi apa – apa" ujar Sehun polos.
Luhan adalah satu – satunya orang yang tak gembira akan kehadiran Yifan disana. Karena kenyataannya berkata bahwa dirinya adalah alasan Yifan menyakiti kedua buah hatinya.
"Yifan hyung akan meninggalkan Korea sore ini."
"Aku tidak peduli"
"Dia sudah kehilangan professi dokternya, dia bahkan sudah menghukum dirinya sendiri dengan berat Lu… apa kau tidak mau jadi pemaaf?"
Luhan hanya diam. Masalahnya bukan pada memaafkan Yifan. Luhan malah tidak bisa memaafkan dirinya sendiri setiap dia melihat Yifan.
"Masa lalu adalah masa lalu. Kesalahan tetaplah kesalahan. Kesalahan hanya bisa dirubah dengan perubahan menjadi yang lebih baik. Jadi… apapun yang terbaik menurutmu, lakukanlah… tapi yang terbaik menurutku adalah memaafkan Yifan hyung dan membiakannya pergi tanpa beban rasa dimusuhi oleh orang – orang yang telah dia sakitu. Bahkan Jaehun dan Jaehan yang lebih disakiti oleh Yifan hyung pun sudah memaafkannya."
"Kau terlalu banyak bicara, Oh Sehun!"
"Tentu saja. Aku ini kan sebenarnya cerewet"
Luhan beranjak dari sebelah Sehun lalu merebut Jaehan dari pangkuan Yifan lalu berkata.
"Sudah saatnya kau mandi sayang. Appa akan memandikanmu. Jaehun juga sudah saatnya untuk cek MRI, dokter Kim Jongdae sudah menjadwalkan pengecekannya jam 8.30. Itu artinya 15 menit lagi." Ucap Luhan dengan senyum paling keren yang dia punya
Jaehan langsung menurut, anak itu kemudian memeluk Yifan erat selama sesaat kemudian berlari ke pelukan Ayahnya untuk mandi. Setelah memeluk Jaehan, yifan pun memutuskan untuk memeluk Jaehun yang dari tadi bilang bahwa Yifan sebaiknya jangan pergi ke Canada atau Cina, Yifan sebaiknya tetap tinggal di Korea. Dan pada akhirnya anak itu bilang bahwa New Zealand bukanlah Negara yang buruk untuk dikunjungi.
"Jja… sudah saatnya paman pergi. Kalian jangan nakal pada eomma dan appa kalian okay? Tumbuhlah jadi anak yang baik dan sehat!" ucap Yifan pada kedua bocah kesayangannya itu
"NEEEE"
"Paman… jangan lupakan janji kita, okay?" Jaehan mengedipkan satu matanya dan Yifan pun membalasnya dengan mengedipkan satu mata.
"Mau ku antar ke luar?" tanya Luhan pada Yifan.
Yifan nampak kaget dan meskipun Sehun mendengar itu semua. Pria itu memilih untuk pura – pura tidak dengar.
"Jika kau bersedia…" sambut Yifan agak kikuk.
Luhan dan Yifan berjalan di lorong rumah sakit. Luhan hanya ingin mengantar Yifan sampai lobby depan rumah sakit.
"Apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Luhan pada Yifan
"Sebenarnya ada banyak, tapi dari banyak hal… aku akan mengatakan ini saja.."
"Apa?"
"Maaf, aku tidak akan bisa hadir pada acara pernikahanmu dan Sehun nanti."
Yifan tersenyum jahil setelah mengatakannya. Luhan mau tidak mau harus tersenyum dan tersipu mendengar itu. Sikap beku Luhan melunak. Yifan merasa ini lebih baik.
"Jaga dirimu baik – baik dimanapun kau berada nanti. Jangan sepelekan makan 3 kali sehari dan minum air putih."
"Okay bos!"
"Jadilah orang yang lebih baik! Dan jangan menyakiti siapapun lagi, terutama dirimu sendiri"
"Arraseo…"
Yifan memencet angka 5 pada elevator, bukanya angka 1 untuk menuju lobby. Sontak itu membuat Luhan mengernyitkan kening dan bertanya,
"Kau mau apa di lantai 5?"
"Aku…?"
"…"
"Aku mau menemui seorang gadis yang selama ini hatinya aku sakiti. Aku ingin meminta pengampunannya juga"
"Dokter Huang Zitao?"
Yifan mengangguk. Dan pintu elevator pun terbuka.
"Bye Lu…"
"Bye Yifan…"
Yifan keluar dari elevator dengan senyum manisnya yang juga di sambut dengan senyum manis Luhan hingga pintu elevator kembali tertutup dan Luhan kembali ke lantai dimana ruang rawat puteranya berada.
.
.
.
Sebuah mobil mewah memasuki pekarangan rumah luas yang tertata rapi. Rumah luas di kawasan Pyeongchang, hanya orang yang benar – benar mengenal uang yang bisa memilikinya. Mobil itu terparkir dengan apik di depan teras rumah yang disangga pilar pilar besar dengan pintu coklat megah ditengahnya.
Sebuah pintu dibuka oleh si pengemudi, dua orang pun turun dari mobil itu dan berjalan ke arah pintu yang bersamaan terbuka menampilkan seorang maid dan seoranng perempuan muda yang perutnya membuncit.
"Annyeonghaseyo… aku Yixing, puteri kedua Lu Zhoumi." Sambut wanita itu dengan senyum lembut yang memancarkan kecantikan seorang wanita hamil.
"Aku Oh Yunho, dan ini istriku, Oh Jaejong. Kami berdua adalah orang tua Oh Sehun."
Yixing membulatkan kedua mata sayunya dan segera memperlebar senyuman di pipinya. Wanita itu langsung membungkuk dan mengenalkan dirinya secara formal sebelum mempersilahkan kedua orang tua Sehun masuk dan duduk di ruang keluarga rumah mewah itu.
"Mama sedang di ruang baca bersama suamiku dan papa aku rasa baru saja selesai mandi. Mohon tunggu sebentar. Ini adalah Teh hijau dengan bunga melati, silahkan dicicipi"
Yixing mengundurkan dirinya dari ruang keluarga untuk memanggil kedua orang tuanya. Entah apa yang ada dalam diri gadis itu, namun Yixing merasa jika dia sangat bahagia karena orang tua Sehun datang ke rumahnya. Yixing berharap ini adalah awal yang baik. Terlebih lagi baru saja dia mendapatkan pesan bahwa Jaehun sudah siuman.
Yixing dan Junmyeon memang sudah tau akan keadaan keponakan kembar mereka, namun atas permintaan Luhan, mereka tidak datang menjenguk. Luhan dan Sehun ingin keadaan anak – anak stabil terlebih dahulu sebelum mereka dikenalkan pada seluruh keluarga besarnya.
"Mama…. Ada tamu yang menunggu mama dan papa di ruang keluarga" ujar Yixing dengan senyum lebar
"Yixing sayang… kenapa kau membawa tamu ke ruang keluarga?"
"Yak arena mereka adalah keluarga kita"
"Keluarga?"
"Mmm… mereka adalah Ayah dan Ibu dari Oh Sehun"
"Apa?"/"Uhuk… uhukk…"
Nyonya Lu langsung berdiri sangking kagetnya sementara Junmyeon sendiri hampir tersedak minuman yang sedang diminumnya.
"Iya mama, kedua orang tua Sehun ada di bawah" pekik Yixing antusias
"Apa papamu tau ini?"
"Tentu saja aku tau… aku yang mengundang mereka kemari" Tuan Lu yang ternyata mendengar percakapan Yixing dengan ibunya masuk begitu saja ke ruang baca dan itu tambah membuat Junmyeon melotot sangking kagetnya
"Ada hal yang harus kita bicarakan sebagai…." Tuan Lu menjeda kalimatnya ketika sang istri hampir saja menangis mendengar apa yang beliau bilang
"keluarga" lanjut tuan Lu yang disambut pelukan erat oleh istrinya dan Yixing.
"Yixing, tolong sampaikan pada kepala pelayan Xi untuk menyiapkan hidangan untuk makan siang bersama dengan keluarga Oh" titah Tuan Lu yang langsung disambut antusias oleh Yixing.
Tuan dan Nyonya Lu segera turun kebawah dan mendapati Tuan dan Nyonya Oh duduk sambil berbincang santai, namun kedua orang tua Luhan tidak tau jika mereka berdua sedang membicarakan tentang foto masa kecil Luhan yang terlihat sangat manis.
"Terima kasih sudah mau datang ke rumah kami," Tuan Lu langsung menjabat tangan Tuan Oh, sementara para istri kini berpelukkan hangat.
"Kami memang sudah seharusnya datang kemari sejak awal bukan?" sambut ayah Sehun yang di balas dengan senyuman datar dari Ayah Luhan
Dua keluarga itu duduk saling berhadapan di ruang keluarga, mereka terlebih dahulu membicarakan masalah umum seperti masalah yang sedang hangat dalam dunia bisnis dan nilai mata uang Won yang semakin kuat.
"Kami… sudah bertemu dengan Sehun dan Luhan sebelumnya" Tuan Oh memulai pembicaraan inti mereka.
"Apa mereka… baik – baik saja?" tanya Nyonya Lu dengan penuh kekhawatiran.
"Pagi ini Jaehun, putera sulung mereka sudah siuman" jawab Nyonya Oh dengan senyum tenangnya
"Haaah… syukurlah"
"Kami belum pernah melihat Jaehun tapi kami pernah melihat Jaehan sebelumnya. Dia sangat manis dan tampan" ujar Nyonya Oh penuh kebanggaan
"Jika membicarakan tenang kedua anak itu, jujur saja aku merasa sangat bersalah akan apa yang sudah aku perbuat kepada orang tua mereka" Tuan Lu menyambung pembicaraan
"Puteraku… menyampaikan bahwa, ketika kedua cucu kita kondisinya sudah stabil maka dia akan membawa puterimu kembali pulang"
Tuan dan Nyonya Lu cukup kaget dengan apa yang Tuan Oh katakan, membawa Luhan kembali katanya. Kedua orang tua Luhan tentu tau bagaimana hubungan Luhan dan Sehun sekarang. Namun yang ditakutkan oleh kedua orang tua Luhan adalah Sehun yang lepas tanggung jawab akan kehidupan Luhan nantinya.
"Kenapa puteramu ingin membawa puteri kami kembali?" tanya Tuan Lu masih dengan nada tenang
"Putera kami berencana untuk mengembalikan semuanya dari awal. Memang tidak bisa seperti semula tetapi… dia ingin Luhan mendapatkan segala haknya sebagai seorang wanita dan seorang puteri bungsu yang dicintai oleh keluarganya…"
Tuan Oh menjeda kalimatnya, satu tarikan napas dia ambil untuk membuat apa yang akan dikatakan pria itu menjadi tegas.
"Puteraku, ingin melamar Luhan sebagaimana seharusnya. Puteraku ingin meminang dan menikahi Luhan dengan benar kali ini. Dan dengan begitu aku dan isteriku kemari juga… ingin melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak lama,"
Tuan dan Nyonya Oh bertukar pandang, Nyonya Oh mengangguk lalu Tuan Oh tersenyum.
"Aku kemari untuk memohon ampunan darimu karena puteraku, bagaimanapun juga sudah… membuat puterimu menderita. Aku mohon… maafkanlah keluarga kami"
Tuan dan Nyonya Oh membungkuk kepada Tuan dan Nyonya Lu. Menyerahkan segala harga diri, harkat dan martabat mereka pada keluarga Lu yang puteri bungsunya telah menderita karena Sehun. Tuan dan Nyonya Lu yang tidak menyangka dengan apa yang dilakukan kedua mantan sekaligus calon besan mereka lakukan. Mereka berdua jadi kikuk dengan keadaan tersebut. Akhirnya ayah dan ibu Luhan pun ikut membungkuk pertanda bahwa mereka menerima permintaan maaf dari keluarga Oh.
Perbincangan dua keluarga itu berlangsung cukup lama. Kedua orang tua Sehun dan Luhan semakin lama terlihat semakin akrab. Bahkan tak bisa disangkal lagi jika mereka mulai membicarakan perihal pernikahan Sehun dan Luhan yang mereka harap bisa segera dilangsungkan. Tentu sebelumnya Tuan dan Nyonya Oh meminta ijin untuk beberapa kali meminjam Luhan sebelum pernikahan demi meperkenalkan Luhan sebagai menantu keluarga Oh yang sah pada keluarga besar mereka, perusahaan besar keluarga Oh dan juga kolega mereka.
Perbincangan hangat diantara kakek dan nenek dari Oh Jaehun dan Oh Jaehan tersebut berlangsung hangat hingga jamuan makan siang. Itu semua berhasil membuat Yixing tak berhenti tersenyum sepanjang hari. Bahkan diam – diam Yixing mulai merancang biaya pernikahan untuk adik dan adik iparnya.
.
.
.
Siang ini keluarga kecil Sehun dan Luhan makan siang dengan penuh kebahagiaan. Adalah saat yang ditunggu – tunggu untuk bisa kembali makan bersama dengan personil lengkap seperti itu. Jaehun diijinkan untuk memakan makanan padatnya untuk pertama kali. Meskipun begitu, makanan padat yang Jaehun makan bukanlah dragon roll sushi yang Jaehan makan, atau Jjampong yang ayahnya makan atau juga nasi yukgaejang dan kimchi yang ibunya makan. Jaehun hanya makan bubur beras yang disaring kembali dan dicampur dengan sari pati sayur mayur dan diaduk menjadi satu bersama kuah salmon rebus. Jaehun belum bisa makan makanan yang lebih berat dari itu.
Luhan dengan telaten menyuapi Jaehun dan disela – sela suapannya ke Jaehun dia juga menyuap makanan untuk dirinya sendiri. Berbeda dengan Sehun yang menyantap Jjampongnya dengan lahap sambil menceritakan cerita masa kecilnya yang didengar secara seksama oleh Jaehan yang baru belajar makan menggunakan sumpit asli dan Jaehun yang dengan setia menerima suapan dari sang ibu tanpa protes jika bubur itu lebih baik diminum dalam sekali teguk.
Canda dan tawa sudah kembali pada keluarga kecil itu. Sehun saat ini, benar – benar merasa jadi pria paling beruntung sedunia karena sudah mendapatkan keluarganya kembali. Tinggal menjadikan semua ini resmi dimata Tuhan dan Hukum Negara maka tak satupun orang bisa mengusik ketentraman keluarga kecil mereka.
"Besok sampai dua hari ke depan, appa tidak bisa menemani kalian di rumah sakit" kata Sehun sambil merapikan peralatan makanan sekali pakai yang diberikan oleh pihak rumah sakit.
"Appa kemana?" rengek Jaehan bersamaan dengan Luhan dan Jaehun yang mengerutkan kening mereka
"Appa ada urusan yang sangat penting. Ini tentang pekerjaan appa dan beberapa masalah intern. Jadi appa butuh banyak waktu untuk menyelesaikakannya maaf kan appa, ya?" pinta Sehun dengan raut wajah yang sebenarnya juga tak rela meninggalkan ketiga orang paling dicintainya itu.
Luhan menghela napasnya ringan sambil mengangguk ketika mendapat sinyal "tolong bantu aku menjelaskan ini pada mereka" dari Sehun.
Luhan pun dengan sigap menjelaskan pada kedua buah hatinya jika sang appa perlu melihat pekerjaannya secara langsung agar para pekerja lapangan tidak bingung dalam mendirikan bangunan yang appa mereka buat.
Sehun cukup kagum dengan kemampuan Luhan menjelaskan hal sepele yang sering tak bisa Sehun jelaskan kepada kedua puteranya. Luhan seperti punya kemampuan untuk menjinakkan kedua buah hati mereka yang kadang seperti bom atom dengan daya ledak luar biasa. Maafkan Sehun atas perumpamaan itu tapi Jaehan yang selalu penasaran dan Jaehun yang selalu menuntut alasan logis tentu akan menguras tenaga siapa saja yang berhadapan dengan mereka. Luhan jadi terlihat makin dan makin menarik di mata Sehun saat ini.
"Annyeonghaseyo…"
"BYUN SEONSAENG! CHAN AHJUSSIIIII!"
Jaehan dengan semangat menegakkan tubuhnya demi menyambut dua orang favoritnya itu sementara Jaehun melambaikan tangannya yang masih diinfus dengan lemah.
"Eoh… kalian terlalu bersemangat! Tenang lah sedikit… nanti appa kalian cemburu jika kalian menyambutku sesemangat itu!"
Chanyeol meletakkan telunjuknya di bibir dan meminta mereka untuk kalem dengan raut wajah lucu khas ahjussi favorite HunHan. Sementara Baekhyun yang datang dengan segenap bingkisan buah – buahan segera meletakkan bingkisannya dan memeluk Luhan sambil berbincang sedikit tentang perkembangan kondisi Jaehun. Tanpa diminta, Chanyeol langsung berubah menjadi anak semuran HunHan dengan permainan super hero mereka. Bahkan Sehun pun tak mau kalah. Kedua pria tampan berbadan tinggi atletis itupun mendadak nampak seumuran dengan Jaehun dan Jaehan.
.
.
.
"Yup… aku hanya bisa mengantarmu sampai disini" Zitao menghentikan langkahnya yang tadi beriringan bersama langkah Yifan.
"Terima kasih atas traktiran makan siangnya" ucap Zitao lagi.
"Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, terima kasih atas waktumu… selama ini" Yifan tersenyum tulus dan Zitao pun tak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya
"Jadi… apa rencanamu setelah sampai di tujuan?" tanya Zitao yang jujur saja tidak ingin waktu berjalan lebih jauh
"Aku memang sudah tidak bisa lagi mengambil tindakan sebagai seorang dokter. Tapi aku masih bisa menggunakan ilmuku untuk membantu orang – orang yang membutuhkan konsultan di bidang kesehatan. Aku akan mendidik orang – orang yang masih kurang paham akan kesehatan agar mereka lebih menyadari bahwa hidup sehat adalah yang terpenting. Pendeknya, aku ingin menjadi orang yang berguna"
"Jadi tujuanmu bukanlah Negara maju? Bukan Canada atau Amerika?"
"Ku rasa tempat seperti itu agak membosankan. Aku ingin mencari sesuatu yang lebih menantang."
Sejenak hening, Yifan sama sekali tidak beranjak dan Zitaopun tak mengerti apa yang harus dia lakukan. Yang Zitao inginkan hanyalah lebih banyak waktu untuk bersama Yifan, atau sekalian saja Yifan tidak jadi pergi.
"Aku… harus masuk ke ruang tunggu. Sebentar lagi pesawatku pasti akan boarding" Yifan berkata dengan senyum ringannya.
Zitao hanya mengangguk lalu melipat bibirnya canggung. Melihat gadis cantik dan sexy itu canggung, Yifan jadi gemas sendiri. Yifan tau, Zitao adalah gadis yang selalu penuh percaya diri dan bahkan selalu penuh akan dirinya sendiri. Tapi cara gadis itu bersikap saat ini, menurut Yifan itu cukup manis.
Maka dari itu Yifan lah yang mengambil inisiatif untuk memeluk Zitao lebih dulu.
"Jaga dirimu baik – baik, okay? Jadilah dokter yang baik dan jangan lupa untuk makan dan istirahat. Bermainlah bersama anak – anak jika kau merasa bosan di rumah sakit. Arraci?"
Zitao membalas pelukan Yifan dengan cukup erat, gadis itu benar – benar ingin menangis saat ini. Ingin sekali teriak bahwa Yifan tak boleh pergi. Tapi yang mampu diucapkannya hanyalah,
"Kau juga jaga dirimu baik – baik. Berbahagialah disana, lakukan apapun yang membuatmu bahagia asalkan… itu tidak menyakiti siapapun. Jaga kesehatanmu dan makan lah dengan baik, aku tidak tau kau pergi kemana tapi… aku yakin kau pasti bisa beradaptasi dengan baik… keep in touch, okay?"
Zitao yang terlebih dahulu melepas pelukan singkat penuh kecanggungan mereka. Yifan bisa dengan jelas melihat ada genangan air di mata gadis itu. Yifan tak mau melihat Zitao sampai meneteskan air matanya, dan akhirnya dia memutuskan untuk melangkah pergi.
Baru dua langkah, Yifan pun berbalik kemudian tersenyum kearah Zitao sambil memamerkan Tiket, Pasport dan visanya lalu berkata,
"Jika kau punya banyak waktu luang atau merasa agak bosan di Korea… South Africa bukanlah tempat yang buruk untuk berlibur!"
Satu senyuman Yifan berikan dan pria itu akhirnya benar – benar mengambil langkahnya untuk masuk ke dalam ruang tunggu. Zitao meneteskan air matanya setelah Yifan pergi.
"Yah… South Africa memang bukanlah tempat yang buruk…" ucapnya
.
.
.
Langit mulai gelap ketika Sehun mengakhiri rapatnya dengan pihak perusahaan yang mempercayakan pembangunan mega proyek resortnya pada perusahaan Sehun dan Chanyeol. Baru saja Sehun mengecek ponselnya dan membaca pesan dari Luhan bahwa kesehatan Jaehun sudah berangsur – angsur pulih. Tuhan memang memberkati anak itu.
Ah hari ini juga Sehun bertemu dengan Baekhyun dan mengatakan bahwa pihak sekolah memaklumi keadaan Jaehun dan Jaehan yang sedang sakit dan tidak bisa ikut ujian semester pertama mereka. Sekolah HunHan memang penuh toleransi, tidak salah jika bayaran sekolahnya pun cukup fantastis.
Sehun mengendarai mobilnya menyusuri jalan utama Incheon menuju Seoul. Hari ini cukup melelahkan bagi seorang arsitek yang karyanya sedang ditaksir oleh banyak perusahaan besar. Sehun memang ahli dibidangnya dan Chanyeol pun ahli dalam bidang menjual keahlian Sehun. Pukul 8 malam Sehun akhirnya sampai di rumah. Kali ini Sehun tidak pulang ke rumah yang dia tinggali saat ini bersama Baekhyun. Sehun pulang ke rumahnya yang akan dia tempati bersama Luhan lagi.
Sudah 2 malam Sehun tinggal di rumah itu sementara Luhan tinggal di rumah sakit bersama anak – anak dan Baekhyun menempati rumah sebelahnya. Sehun bohong ketika dia bilang dia tidak akan ke rumah sakit. Setiap hari Sehun pasti akan singgah selama 1 sampai 2 jam atau ketika dia makan siang. Sehun tak bisa menahan rasa rindunya pada si kembar dan tak bisa tenang jika belum melihat sendiri kondisi mereka.
Sudah 2 malam juga, Sehun hanya memakan burger yang dia beli melalui fasilitas drive thru sebuah restaurant cepat saji yang dia lewati saat perjalanan pulang untuk makan malamnya. Sehun makan sendirian sambil mengerjakan beberapa hal di Mac Book Pro nya dengan sesekali melihat pada ipad dan ponselnya. Dengan kata lain, Sehun sangat sibuk dengan hal yang dia kerjakan, tentu berhubungan dengan desain dan rancangan struktur bangunan.
Drrrrt…. Drrrt….
Ponsel Sehun bergetar ketika Sehun baru saja akan menyantap kentang gorengnya.
"Ne, Lu… apa ada masalah?"
"Hmmm… apa aku hanya boleh menelponmu ketika ada masalah saja?"
"Ani... kau boleh menelponku kapan saja, maaf… pikiranku langsung tertuju pada anak – anak saat melihat kontakmu memanggil"
"Mereka sudah tidur, malam ini Jaehun hanya makan sari pati buah dan Jaehan makan sup ayam. Nafsu makan Jaehan benar – benar sepertimu."
"Lalu kau sendiri… kau makan apa?"
"Aku makan salad sayuran… aku sebenarnya tidak ingin makan apapun."
"Tapi kau tetap harus makan sayang,"
"arraseo… sudah ku bilang aku makan salad sayuran"
"Lalu sekarang… HunHanie eomma sedang apa?"
"mmm… aku sedang mengurus beberapa hal yang pegawaiku kirimkan dari boutique."
"Bagaimana dengan boutique mu Lu? Kau sudah… sangat lama tidak ke sana"
"Boutique berjalan cukup lancar, meskipun kami tidak sama sekali menerima pesanan sampai akhir tahun ini, tapi baju – baju koleksi yang kami stok lumayan bagus penjualannya"
"Syukurlah… hmmm… maafkan aku jika aku masih saja egois. Aku bahkan bisa mengikuti rapat proyek sementara kau, harus menghentikan beberapa hal penting di boutique mu"
"It's okay Hun-ah… aku juga tidak akan bisa bekerja dengan baik jika aku meninggalkan anak – anak. Aku sama sekali tidak bisa tenang jika aku tidak ada berama mereka disaat seperti ini."
"Aigoo… Luhanku adalah ibu yang baik! JJanng!"
"Kau juga ayah yang baik, Hun-ah… oh ya… kau sedang apa?"
"Aku sedang makan…"
"Jangan bilang kau sedang makan makanan cepat saji lagi… Oh Sehun… kan sudah aku bilang kau juga harus menjaga kesehatanmu. Soda dan makanan cepat saji bukan pilihan tepat untuk menjaga kesehatan! Kau selalu saja…."
Sehun tersenyum lebar sambil mengunyah kentang gorengnya ketika dia mendengar ocehan panjang lebar Luhan. Wanitanya itu memang punya suara merdu, mungkin ini yang membuat HunHan kecil betah diomeli seharian oleh sang ibu, karena meskipun isi ocehan Luhan kadang memberatkan hati namun suara merdu Luhan saat mengoceh tidak pernah memekakkan telinga mereka.
Sambungan telepon itu berlangsung selama 3 jam. Ya, 3 jam. Selama 3 jam mereka membicarakan segala hal tak penting seperti salah satu anggota Boy Band kesukaan Luhan akhirnya menikah, spiderman akan mengeluarkan film baru dan kali ini Iron Man akan menjadi cameo di dalamnya, Victoria Secret akan melakukan fashion summit di Jeju dan salah satu mantan model Victoria Secret favorite Sehun juga akan datang ke sana hingga hal semacam Dokter bedah jantung anak baru akan datang ke rumah sakit minggu depan.
Luhan dan Sehun saat ini benar – benar seperti dua orang remaja yang sedang dimabuk asmara, tak ada satupun dari mereka yang mau memutus sambungan telepon terlebih dahulu. Mereka bahkan mendebatkan siapa yang akan menutup telepon lebih dulu selama 20 menit sebelum akhirnya Sehun memutuskan untuk tidur dengan lagu sebelum tidur yang Luhan nyanyikan.
Mungkin suara merdu Luhan yang membuat Sehun tidur begitu nyenyak malam itu. Sehun tidur di tempat tidur di kamar Luhan, masih ada bau parfum Luhan yang tertinggal di bantalnya dan itu membuat Sehun malah bertambah rindu pada wanita pemilik senyum manis itu. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa Sehun, ingin tidur sambil memeluk Luhan.
Tak terasa pagi pun kembali hadir. Hari ini sebenarnya Sehun tidak ada jadwal rapat apapun dengan client-nya. Lelaki itu hanya perlu bertemu dengan Chanyeol dan mendiskusikan tentang laporan pembangunan beberapa tender raksasa yang sudah hampir selesai. Selebihnya, Sehun tidak punya jadwal apapun hari ini. Bahkan semua desain bangunan sudah selesai dia kerjakan, hanya menunggu jadwal untuk dirapatkan bersama perusahaan yang memesan jasanya.
Meskipun tak ada pekerjaan berat yang harus Sehun lakukan namun Sehun tidak memilih untuk pergi ke rumah sakit pagi ini. Ada hal lain yang harus Sehun lakukan pagi ini. Hal lain yang mampu membuat Sehun menggaruk kepalanya berulang kali demi memilih baju yang akan dia kenakan.
"Sampai kapan kau akan menyuruh kami untuk duduk dan melihatmu bergonta ganti baju seperti ini?"
Chanyeol yang sedari tadi duduk di ranjang kamar Sehun bersama Baekhyun mulai bosan dengan apa yang Sehun lakukan. Chanyeol dan Baekhyun memang diminta oleh Sehun untuk mengomentari pakaian yang akan Sehun kenakan untuk pergi entah kemana mereka berdua tidak tau.
"Pilih lah salah satu baju yang memang jadi favoritemu" saran Baekhyun yang hanya dibalas gelengan kepala oleh sahabatnya.
"Sehun-ah… kau adalah pria yang tampan… aaaaamaaaat sangaaaat tampan! Apapun yang kau kenakan kau tetap akan terlihat tampan. Meskipun kau hanya menggunakan bathrobemu saja. Kau tetap tampan. Jadi pilih satu baju dan pergi lah kemanapun rencanamu itu"
Chanyeol kembali menggerutu lalu mempoutkan bibirnya. Baekhyun yang melihat tingkah kekanakan Chanyeol hanya bisa tersenyum geli lalu mengusap punggung Chanyeol yang Baekhyun tau kini sedang kesal akan tingkah sahabat yang sudah seperti kakaknya itu.
"Aku hanya tidak mau terlihat kekanakan atau terlihat seperti orang yang terlalu gila fashion atau seperti pria yang suka bermain wanita atau seperti bos mafia atau bahkan seperti anggota boy band nyasar. Aku tidak mau terlihat seperti itu"
Sehun terlihat hampir frustasi berhadapan dengan semua baju yang berjajar di walk in closetnya. Chanyeol makin penasaran kemana sebenarnya Sehun akan pergi. Pasalnya Sehun tak pernah seperhatian itu terhadap apa yang dia pakai. Bahkan kadang untuk rapat tender raksasa Sehun hanya mengandalkan penampilan casual dengan jeans, kemeja atau polo shirt yang dipadu dengan jas atau sweater dan semacamnya. Pokoknya Sehun tidak pernah serepot saat ini.
"Lalu kau ingin terlihat seperti apa, Oh Sehun?" tanya Baekhyun setelah berdiri dari duduknya dan menghampiri Sehun ke dalam walk in closet kamar Sehun.
"Aku… hanya ingin terlihat dewasa, cerdas, mapan, menjanjikan dan bisa dipercaya. Aku ingin penampilanku benar – benar bisa meyakinkan bahwa aku adalah orang yang tepat" jawab Sehun masih memandang baju baju dihadapannya
"Orang yang tepat unutk?" pancing Baekhyun lagi
"Pokoknya orang yang tepat"
"Apa kau akan mengikuti acara penting atau apa?"
"Aku hanya… ada pertemuan dengan orang penting."
"Kalau begitu kau lebih baik tampil apa adanya saja, kau lebih baik menampilkan siapa dirimu yang sebenarnya tanpa harus diintervensi oleh pendapat siapapun. Jadi diri sendiri tetap lah pilihan terbaik. Luhan pasti akan tetap mencintaimu meskipun kau datang padanya dengan celana training, baju kaos, winter jacket dan sprint shoesmu"
"Benark kah?"
"Kau mau melamar Luhan ya?"
"Eh?"
"Iya kan?"
"Ani… aku tidak melakukan itu sekarang…"
"haaah… ya sudah kalau begitu pakai apa saja yang ada di hadapanmu! Aku sudah harus berangkat ke sekolah!"
"Ya! Baek! Baekhyun-ah…"
Chanyeol dan Baekhyun akhirnya meninggalkan Sehun yang masih galau dengan pakaian apa yang harus dia gunakan. Jujur saja, apa yang Sehun lakukan saat ini justru terlihat kekanakan. Sama halnya seperti Jaehun dan Jaehan yang disuruh memilih robot mana yang akan mereka bawa saat mereka akan camping.
Dan akhirnya Sehun memutuskan untuk… menjadi dirinya sendiri.
Sehun memilih untuk mengenakan Givenchy Straight Leg Trousers – Black yang dipadukan dengan White Blank Mickey Stripe shirt dan Phenomenon Wool Team Long Coat serta Jimmy Choo Miles Patent Leather Derby Lace-Up Shoes dan tak lupa Saint Laurent Western Buckle Belt melingkar di pinggangnya dan Rolex Men's Submariner Automatic Blue Dial Oyster 18k Solid Gold melingkar di pergelangan tangaan kirinya.
Sehun terlihat begitu elegant namun santai dan berkelas. Sehun tidak pernah lupa jika orang yang akan dia temui hari ini adalah salah seorang pengamat fashion di korea. Perusahaan milik orang yang akan Sehun temui adalah perusahaan yang menjadi rival bagi perusahaan mall milik ayahnya. Sehun tentu tidak boleh main – main. Sehun, harus bisa menonjolkan kepribadiannya yang baru. Yang lebih dewasa dan mapan.
.
.
.
Sehun memarkirkan mobilnya di aeral parkir tamu yang sudah sebuah rumah besar siapkan untuk siapa saja yang bertandan kesana. Tanpa ragu, Sehun melangkahkan kakinya menuju ke sebuah pintu gerbang berwarna hitam tinggi milik rumah mewah di kawasan Pyeongchang.
Dengan satu tarikan napas, Sehun memencet tombol intercom untuk menghubungi siapa saja yang mengunjungi rumah itu.
"Ne… kediaman Keluarga Lu"
Suara seorang wanita paruh baya menyahut dari dalam intercom. Sehun berdeham lalu memperkenalkan dirinya.
"Annyeonghaseyo, aku Oh Sehun. Bisakah aku bertemu dengan Tuan Lu Zhoumi?"
"Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?"
"Aniyo… aku belum mebuat janji apapun dengan Tuan Lu, tapi bisakah anda menyampaikan pada Tuan Lu bahwa aku benar – benar ingin bertemu dengannya?"
"Ah… geuraeyo, akan aku tanyakan dulu ne… mohon menunggu, ah… siapa nama anda Tuan?"
"Aku Sehun, Oh Sehun"
Tepat 10 menit lamanya Sehun menunggu di luar rumah besar keluarga Lu, akhirnya pintu gerbang itupun terbuka dan seorang maid keluar untuk menyambutnya.
"Silahkan masuk Tuan Oh, Tuan besar bersedia menemui anda. Mari silakan ikut dengan saya"
Rasa gugup segera menyelimuti seluruh tubuh Sehun. Kakinya kini bahkan sampai bergetar di setiap langkahnya. Jantung Sehun bekerja tak karuan dan itu membuat darahnya terpompa tak stabil, al hasil, seluruh tubuhnya pun terasa beku.
Sehun mencoba untuk menenangkan dirinya dengan melihat sekitar halaman rumah keluarga Lu. Menurut Sehun, halaman rumah itu tidak banyak berubah. Rumah yang berdiri megah di hadapannya juga tak berubah, masih tetap sama seperti saat pertama kali Sehun memasuki rumah itu. Memasuki rumah kekasihnya yang tengah mengandung kedua buah hatinya saat itu.
Sehun masih ingat betul bagaimana Tuan Lu berteriak untuk pergi dari rumah itu di teras depan yang kini Sehun injak. Hati Sehun berdenyut sakit, masih segar diingatannya bagaimana Luhan memohon belas kasih sang ayah dan meminta hingga bersujud agar ayahnya tak membuang anak bungsunya itu. Sehun pun masih ingat bagaimana akhirnya dia memeluk Luhan dan menangis bersama sambil meninggalkan rumah itu.
"Ini adalah ruang kerja pribadi Tuan Lu. Beliau akan menemui anda sebentar lagi, ini adalah Teh hitam dengan bunga melati dan madu, silahkan dinikmati"
"Ah iya… terima kasih.."
Sehun melihat ke sekitar ruangan. Ada banyak file – file dokumen tertata rapi di ruangan itu. Sehun tidak duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Tuan Lu. Sehun sedang duduk di salah satu kursi santai yang ada di ruangan itu. Nampaknya itu adalah tempat dimana Tuan Lu sering menjamu tamu bisnis yang datang kerumah untuk urusan pekerjaan. Sehun kembali menyebarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan mata sipitnya yang tajam berhenti pada satu titik. Titik dimana sebuah foto keluarga terpasang cukup besar di depan meja kerja Tuan Lu. Sehun mengabsen seluruh anggota keluarga Lu yang ada di dalamnya.
Itu terlihat seperti foto yang sudah cukup lama diambil karena di situ masih ada Luhan yang tersenyum sangat imut dengan rambut panjang sepinggangnya yang lurus dan poni depannya yang menutupi seluruh permukaan kening Luhan. Itu adalah Luhan yang membuat Sehun jatuh cinta untuk pertama kalinya dulu.
Sehun tak bisa berhenti tersenyum meski hanya senyuman lembut dan tipis. Sehun sangat ingin mengembalikan keriangan Luhan itu lagi pada Luhannya yang sekarang. Yang meskipun tak memiliki rambut sepanjang itu dan tak lagi ada poni depan yang lucu, Sehun tetap ingin Luhan sebahagia itu selamanya.
"Ada perlu apa kau mencariku?"
Sehun dikagetkan dengan suara Tuan Lu yang berasal dari belakangnya. Dengan gerakan cepat Sehun langsung berdiri meskipun kakinya yang panjang harus membentur meja di depannya dan menumpahkan sedikit teh yang terhidang di depannya. Sehun terlihat canggung dan kikuk saat ini. Oh tentu saja. Pria mana yang tidak canggung dan kikuk saat menghadapi ayah dari seorang gadis yang dulu dia hamili di bawah umur di luar nikah lalu di ajak kabur dan tak pernah pulang sampai saat ini? Sehun patut merasa gugup.
Sehun menatap Tuan Lu yang kini menatapnya tajam penuh cemooh. Tatapan yang persis sama saat Sehun datang ke rumah itu untuk pertama kalinya, saat itu Sehun masih mengenakan seragam sekolahnya. Satu tarikan napas Sehun ambil karena tidak, Sehun bukanlah Sehun canggung dan kerdil yang dulu. Sehun yang berdiri di hadapan Tuan Lu kali ini adalah Sehun yang jauh lebih baik dari itu. Sehun tentu tidak mau meremehkan dirinya sendiri kan?
Bukankah ini adalah saat yang Sehun tunggu – tunggu sejak 8 tahun terakhir? Bukankah ini adalah saat yang Sehun persiapkan begitu keras hingga mengorbankan perasaan Luhannya? Bukankah ini adalah saat yang Sehun perjuangkakn demi kedua buah hatinya? Demi sebuah penerimaan dan pengakuan dari keluarga mereka.
Dulu, 8 tahun yang lalu. Sehun datang dengan seragam sekolahnya yang penuh keringat, badannya tak setinggi sekarang, tubuhnya kurus dan tak memiliki wibawa apapun untuk bisa dipercaya oleh Tuan Lu. Namun saat ini. Sehun adalah Sehun yang berusia 25 tahun. Sehun adalah Sehun yang dewasa. Sehun yang tinggi tegap dengan postur tubuh atletis yang sempurna. Sehun adalah Sehun yang hebat, Sehun yang memiliki karir dan masa depan yang jelas. Sehun saat ini adalah Sehun yang tak bisa diragukan lagi oleh siapapun. Karena Sehun yang saat ini berdiri dihadapan Tuan Lu adalah Sehun yang berani, Sehun yang bertanggung jawab dan Sehun yang mampu menjadi penjaga yang sempurna untuk Luhan dan buah hatinya.
Sehun memasang wajah yang kuat dan tegas. Terima kasih pada Tuhan karena sudah menciptakan Sehun beserta poker facenya. Dengan mantap Sehun membungkuk lalu memperkenalkan diri.
"Annyeonghaseyo, Oh Sehun imnida"
Tuan Lu tersenyum tipis, masih dengan tatapan mengejek yang sempurna. "Duduklah…"
Sehun menuruti perintah itu dan kini Tuan Lu juga duduk dihadapan Sehun. Duduk dengan tenang namun tetap saja masih memasang wajah kaku dan angkuhnya.
"Aku yakin anda tidak mungkin melupakan aku, dan kedatanganku kemari untuk meluruskan semua masalah yang sudah aku perbuat" ujar Sehun mantap. Tak gentar sedikitpun dengan tatapan mengerikan Tuan Lu
"Tentu saja, aku tidak akan mungkin melupakan orang yang telah menghancurkan masa depan puteri bungsuku dan nama baik keluarga Lu."
"Ne, anda benar. Aku adalah orang itu. Aku memang telah lancang karena telah melakukan hal yang tak seharusnya aku lakukan."
"Kau masih sama angkuh dan kurang ajarnya seperti dulu!"
Sehun melebarkan kedua matanya ketika Tuan Lu menilainya seperti itu. Angkuh dan kurang ajar.
"Anda boleh menilaiki seperti itu tapi…"
"Luhan… adalah puteri kesayanganku. Aku hampir kehilangan isteriku saat Luhan lahir. Luhan adalah puteri bungsu yang selalu membawa keceriaan di rumah ini. Dia adalah puteri kecil yang selalu memberikan kehangatan untuk rumah besar ini. Dan semenjak hari itu, di rumah ini hanya mengenal satu musim. Hanya musim dingin"
Tuan Lu memotong perkataan Sehun sambil memandang wajah Luhan yang terbingkai apik bersama keluarganya. Sehun tak mau mendebat tuan Lu karena apa yang Tuan Lu bilang sepenuhnya adalah benar.
"Kau mungkin tidak mengerti seberapa hancurnya aku saat kau datang padaku dan mengakui bahwa Luhan sedang mengandung anakmu. Kau… yang waktu itu hanya seorang bocah ingusan dengan angkuhnya berkata bahwa kau akan mempertanggung jawabkan semua yang kau lakukan… kau terlalu lancang, Oh Sehun!"
"…"
"Kau pasti beranggapan bahwa aku adalah seorang ayah yang kejam, seorang ayah yang tak punya perasaan untuk puterinya. Tapi kenyataannya, kau lah yang membuatku menjadi orang yang kejam. Kau menodai puteriku, kau melukai hatiku dan dengan gampangnya kau bicara akan tanggung jawab. Pernah kah kau berpikir apa arti kata tanggung jawab saat itu?"
"…"
"Aku mengusirmu, aku megusir anakku sendiri. Bukan karena aku tidak mau peduli. Bukan karena aku marah pada kalian! Aku sebenarnya marah pada diriku sendiri. Kenapa aku tidak bisa menjaga puteriku dengan baik, kenapa aku tidak mampu melindungi puteriku? Kenapa bisa aku membiarkan seorang remaja angkuh menghancurkan masa depan yang dengan susah payah aku bangun untuknya?"
"…"
"Aku mengusir kalian karena aku tidak mampu menahan rasa sakit dihatiku jika melihat puteriku harus kehilangan kebebasannya karena kau. Aku tidak mampu menahan rasa perih dihatiku jika melihat bagaimana puteriku merusak masa depannya sendiri. Aku pasti tidak mampu memaafkan diriku sendiri karena tidak bisa menjaganya dengan baik."
"…"
Sehun tak lagi bisa mempertahankan ketegaran dan tatapan mata mengintimidasinya. Meskipun tetap wajah Sehun memancarkan aura sebeku kutub utara, namun kali ini pipi Sehun sudah basah akan air matanya sendiri. Semua kata – kata ayah Luhan adalah tamparan untuknya.
Seperti yang sudah selama ini Sehun sadari, semenjak HunHan lahir, Sehun tau bagaimana rasanya menjadi seorang ayah. Kali ini pun Sehun berani bersumpah bahwa dia tau betul perasaan Tuan Lu saat itu. Tuan Lu memang marah, namun tak satupun kekecewaan Tuan Lu mengarah pada Sehun atau pun Luhan. Tuan Lu lebih kecewa terhadap dirinya sendiri sebagai orang tua. Sama hal nya dengan apa yang ayah Sehun lakukan puteranya.
Harus diakui bahwa kesalahan yang Sehun dan Luhan lakukan tidak hanya menghancurkan masa depan Sehun dan Luhan namun juga menghancurkan harapan dari dua keluarga besar yang memiliki citra dan nama yang harum. Dan tidak lepas dari itu semua, Sehun pun mengerti bahwa apa yang dia dan Luhan lakukan yang paling berdosa adalah menghancurkan hati orang tua mereka yang menggantungkan banyak harapan pada mereka, mempertaruhkan seluruh jiwa dan raga mereka untuk masadepannya.
Sehun tak mau ini semua berlarut, itu lah alasan Sehun datang menghadap ayah dari wanita yang masa depannya pernah dia rusak untuk memohon pengampunan. Sehun berdiri dari duduknya, berjalan mendekat ke tempat Tuan Lu duduk dan menangis tanpa suara saat ini. Tangisan tanpa suara yang identik dengan milik Luhan dan Jaehun. Perlahan Sehun menekuk lutut kanannya hingga menyentuh permadani mahal yang menutupi permukaan lantai kayu ruang kerja Tuan Lu. Sehun berlutut. Sepenuhnya berlutut dihadapan Tuan Lu, dan bersujud.
"Abonim…. Aku mohon… maafkan aku…"
Sehun tak bisa menahan dirinya untuk tidak terisak dan menangis, begitu pula dengan Tuan Lu. Mencoba mengikhlaskan segalanya tentu bukan hal yang berat, namun Tuan Lu pun tak ingin menjadi orang yang egois, tak perlu ada orang yang berteriak pada lelaki tua itu, Tuan Lu pun tau bahwa puterinya, puteri bungsu kecintaanya mencintai pria yang sedang berlutut di kakinya saat ini.
"Cukup nak… kau tidak perlu sampai bersujud seperti ini…" ujar Tuan Lu dengan suara paraunya.
"Uljima… geumanhae… kami sudah memaafkanmu,"
Itu bukanlah suara Tuan Lu, suara lembut nan merdu itu berasal dari sebelah Sehun. Sehun menoleh ke sebelah kanannya dan melihat sesosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya juga berlinang air mata, berlutut untuk memintanya bangun dari posisi bersujud.
"Eomonim… ku mohon maafkan aku"
Sehun kembali bersujud pada ibu Luhan. Wanita yang seharusnya punya hak besar untuk menampar dan memaki Sehun itu malah memeluk menantu bungsunya dengan lembut dan berkata,
"Kami tau, kau sudah belajar banyak dari kesalahanmu. Apapun yang terjadi di masa lalu kau tetaplah menantu kami. Kau adalah ayah dari cucu – cucu kami. Kau adalah orang yang puteriku cintai. Kami pasti memaafkanmu nak"
Nyonya Lu kini memeluk Sehun yang menangis di bahunya dengan erat. Perasaan lega, bahagia dan harapan akan masa depan yang lebih baik seakan terbuka bagi Sehun. Sehun menangis karena bahagia. Sehun merasa seperti diampuni segala dosanya dan dibangkitkan dari kematian.
Tak hanya Nyonya Lu, kini Tuan Lu pun ikut memeluk Sehun. Melupakan masa lalu demi membangun masa depan yang lebih baik adalah pilihan yang tepat untuk mereka. Karena sekarang yang menjadi poin penting untuk dipikirkan bukanlah masa depan milikk Oh Sehun dan Luhan tapi masa depan milik Oh Jaehun dan Oh Jaehan.
Tak ada lagi tangis antara kedua orang tua Luhan dan juga Sehun. Ketiganya kini bahkan duduk sambil saling berbincang santai di teras belakang rumah keluarga Lu. Siapapun arsiteknya, Sehun patut memuji hasil karyanya untuk rumah keluarga Lu yang nyaman dan asri.
Sehun menghabiskan banyak waktunya untuk membicarakan masalah pekerjaannya dengan kedua orang tua Luhan, tak lupa Sehun juga menceritakan tentang karir Luhan pada mereka. Sehun pun dengan bangga menceritakan bagaimana kedua puteranya. Apa yang saat ini sedang Jaehun dan Jaehan sukai, makanan apa yang jadi favorite mereka, kegiatan apa yang paling mereka senang lakukan, pencapaian apa yang mereka dapat di sekolah dan segala hal tentang kedua buah hati kebanggaannya. Hanya melalui cerita Sehun dan beberapa foto di ponsel pintarnya, Tuan dan Nyonya Lu seperti sudah begitu dekat dengan cucu yang selama ini tak pernah mereka sentuh.
"Jadi, apa rencanamu setelah ini?" tanya Tuan Lu pada Sehun dengan senyum teduhnya
"Aku akan membawa Luhan pulang ke rumah ini sesegera mungkin setelah Jaehun dan Jaehan keluar dari rumah sakit. Aku juga akan pulang ke rumah keluargaku di Sinsa-dong. Aku ingin Luhan kembali menikmati masa menjadi puteri bungsu keluarga Lu dan aku juga demikian, aku ingin sedikit menebus kesalahanku pada adikku yang aku tinggalkan, eomma dan appa juga Vivi"
"Vivi?"
"Ah… anjing keluarga kami…"
Tuan dan Nyonya Lu tertawa kecil mendengar rencana Sehun, namun ditengah tawa, Nyonya Lu kembali bertanya
"Lalu bagaimana dengan Jaehun dan Jaehan… kemana mereka akan pulang?"
"Aku menyerahkanya pada anda dan orang tuaku. Kalian bisa mengatur waktu kapan HunHan akan ada di keluarga Lu, dan kapan mereka ada di rumah kami. Tentunya, mereka akan senang bertemu dengan kakek dan nenek mereka dari kedua belah pihak. Dan sejujurnya, mereka sudah menanyakan tentang kalian sejak lama"
"Apa tidak masalah untuk mereka selalu berpindah? Apa mereka tidak bingung jika harus beradaptasi di dua lingkungan sekaligus?"
Sehun tersenyum bangga. Senyuman bangga yang pasti dimiliki seorang ayah ketika menyombongkan anak – anaknya.
"Anak – anakku adalah anak – anak yang sangat pandai beradaptasi. Asal mereka berdua tidak dipisah maka menaklukan duniapun bisa mereka lakukan. Dan yang terpenting… mereka adalah cucu kalian dan orang tuaku. Di dalam tubuh mereka mengalir semua DNAku dan Luhan. Mereka adalah bagian dari kalian. Itu pasti tidak akan jadi masalah untuk mereka. Lagipula disini ada Luhan dan di sana nanti juga ada aku. Itu pasti tidak masalah"
"Haaah… tentu saja, tentu saja mereka memiliki kemampuan beradaptasi yang hebat. Tentu saja dia tidak masalah dibawa kesana kemari karena disini akan ada Luhan dan disana akan ada kau. Mereka bisa seperti itu karena mereka tumbuh di tengah suasana keluarga yang mengharuskan mereka untuk mampu beradaptasi dengan cepat. Kemampuan itu hanya dimiliki oleh anak – anak yang kedua orang tuanya terpisah."
Kerongkongan Sehun tercekat. Sehun tak bermaksud untuk mengatakan seperti itu tapi, entah kenapa apa yang dikatakan Tuan Lu barusan itu terdengar benar adanya.
"Maksudku tidak seperti itu…"
"Kau mungkin sudah dewasa sekarang tapi mendengar kata orang tua tidak lah salah untuk dilakukan. Bagaimana kalau kau membawa Luhan kemari beserta si kembar, lalu kau nikahi anakku sesegera mungkin dank au boleh membawa cucu dan anakku tinggal dimanapun rencanamu. Bagaimana jika begitu?"
.
.
.
Suasana ruang rawat HunHan malam itu mendadak lebih ramai karena ada Baekhyun, Chanyeol, Taeoh, Kyungsoo, Jongin, Zitao dan juga Jongdae. Hari itu Kyungsoo dan Jongin membawa Taeoh untuk menjenguk sahabatnya HunHan yang sedang sakit, bersamaan dengan Baekhyun yang diantar Chanyeol untuk memberikan tugas liburan akhir tahun pada HunHan sementara Zitao, Jongdae dan beberapa perwat lain ada disana untuk mencabut semua alat kesehatan dari tubuh Jaehun.
Jaehun sudah bisa dikatakan sehat. Jantungnya sudah bekerja sangat stabil dan bantuan pacemaker di dadanya memberikan efek yang sangat baik untuk kesehatan bocah tampan itu. Jaehun sudah tak perlu lagi pakai infuse, Jaehun juga sudah tak perlu lagi ditempeli berbagai macam kabel di badannya. Sebentar lagi Jaehun benar – benar bebas. Jongdae bahkan mengatakan jika Jaehun boleh sedikit berlari namun jangan terlalu cepat atau kelelahan. Sebenarnya ada banyak hal yang tak boleh Jaehun lakukan karena di tubuhnya ada sebuah alat.
Jaehun memang sembuh tapi beberapa kebebasan dalam hidupnya perlu diatur. Jaehun tak boleh berada dekat dengan ponsel atau barang – barang yang memiliki radiasi yang kuat. Jaehun juga disarankan untuk menghindari tempat – tempat yang memiliki daya magnet kuat karena akan mengganggu kerja baterai yang ada dalam alat di tubuh Jaehun. Jaehun tentu masih harus memperhatikan asupan makanannya dan juga membatasi gerakan – gerakan ekstreem lain yang beresiko pada jantungnya.
Itu sama sekali tidak masalah bagi Jaehun. Dan hari ini, satu kalimat Jaehun membuat semua orang memandangnya berbeda.
"Tidak masalah… aku tidak keberatan dengan semua peraturan itu. Asalkan aku bisa berada bersama eomma, appa, Jaehan, Byun sonsaeng, Chan Ahjussi, Taeoh dan semuanya… aku tetap bahagia. Daripada memiliki semua kebebasan, aku lebih memilih seperti ini dan dikelilingi oleh orang – orang yang selalu menyayangiku. Itu membuatku merasa jauh lebih bahagia"
Anak itu memang benar – benar hadiah dari langit.
"Yaap… kalau begitu, lusa… Jaehun dan Jaehan sudah boleh pulang." Ujar Jongdae yang ikut bahagia bersama dua bocah itu
"Selamat atas kesembuhanmu sayang" Zitao berkata sambil memeluk satu persatu dari Jaehun dan Jaehan. Dan juga Taeoh yang ikut minta dipeluk.
"Selama kalian sakit, Taeoh tidak berhenti merengek untuk diajak menjenguk kalian" kata Dokter Kim Jongin sambil mengusak rambut puteranya hingga berantakan
"Sahabat – sahabatku sedang sakit, appa… bagaimana aku bisa bermain dengan tenang" balas Taeoh dengan poutan di bibir.
"Melihat anak – anak bersahabat seperti ini, aku jadi merindukan masa anak – anak" kata Dokter Do Kyungsoo yang kini memangku Taeoh.
"Tentu saja… masa anak – anak adalah masa yang paling menyenangkan. Hari ini kita bermain, hari ini kita bertengkar, hari ini kita bermaafan dan hari ini juga kita bermain lagi. Mereka begitu tulus" ucap Baekhyun yang duduk diujung ranjang Jaehun.
"Jja… karena sudah malam, Jaehun dan Jaehan butuh istirahat dan kau juga bocah bandel… kau perlu ke klinik gigi sekarang juga"
Jongin menggendong taeoh dan kata – kata appanya membuat Taeoh tidak nyaman.
"Aku dan Baekhyun juga harus permisi. Aku harus kembali ke Incheon mala mini juga. Annyeong HunHanie.." kata Chanyeol yang disambut dengan hingh five riang dari si kembar.
Setelah semua penjenguk pergi, tinggallah Sehun, Luhan dan si kembar yang sibuk menonton TV sambil mengunyah buah jeruk.
"Sepertinya aku harus ke rumah, aku harus menyiapkan kamar anak – anak dan merapikan beberapa hal" Luhan berkata sambil mulai menyiapkan semua barang yang mereka bawa ke rumah sakit.
"Kau tidak perlu pulang ke rumah kita, Lu…" Sehun berucap santai sambil menggelengkan kepalanya
"Wae?"
"Ah… aku sudah menyiapkan semuanya, semua sudah bersih dan rapi…"
"Jinjja? Aku juga harus memastikan bahwa…"
"Semua sudah beres. Percaya padaku!"
"Hmmm… okay… oh ya… kemana saja kau 3 hari belakangan ini?"
"Aku? Bekerja dan merapikan rumah"
"Oh Sehun…."
"Wae?"
"Dari tadi kau selalu sibuk dengan ponselmu. Kau chatting dengan seseorang?"
"Ah…. Aku hanya menghubungi beberapa orang termasuk eomma dan appa jika lusa anak – anak sudah boleh pulang. Kau cemburu?"
Luhan tidak menjawab. Wanita itu hanya diam sambil terus melipat – lipat pakaian kotor diatas meja kamar mandi ruang rawat HunHan dan memasukkannya ke dalam kantong plastic untuk baju kotor.
"Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?"
Sehun datang mendekat pada Luhan lalu memeluk Luhan dari belakang. Luhan sedikit mengelak namun Sehun jelas lebih kuat darinya, jadi menerima pelukan Sehun adalah satu – satunya pilihan Luhan.
"Tidak…"
"Apa kau memikirkan kedua orang tuamu?"
Sehun membangun satu topic sensitive dan Luhan hanya membalas Sehun dengan helaan napas kasar.
"Aku tau, kau merasa agak tidak nyaman ketika orang tuaku sudah tau semuanya dan menerima kita kembali sedangkan belum ada kabar apapun dari orang tuamu…"
Sehun menjeda kalimatnya, dia langsung membalikkan tubuh Luhan dan kembali memeluk wanitanya erat.
"Jangan menutupi perasaanmu dariku Lu… apalagi jika kau mau menutupi perasaanmu dengan amarah. Kita tidak akan menjalani kehidupan suami istri yang seperti itu lagi kan?"
Sehun membujukk Luhan dan kini Luhan pun menyandarkan kepalanya di dada Sehun.
"Tentu tidak…" jawab Luhan lembut
"Aku hanya memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk membujuk mama dan papa agar mau menerima kita kembali" lanjut Luhan lirih
"Kau hanya perlu pulang" sambung Sehun
"Kau hanya perlu pulang dan katakan pada mereka bahwa kau, puteri bungsu mereka sangat merindukan mereka dan tak bisa hidup tanpa mereka." Lanjut Sehun mantap
"Apa bisa semudah itu?"
"Ne… semudah itu?"
"Kenapa bisa semudah itu?"
"Karena kau adalah calon isteriku, ani… kau adalah ibu dari anak – anakku dan wanita yang ku ajak untuk menua bersama. Aku akan selalu membuat hidupmu semudah itu"
"Oh sehun… berhentilah menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kau tepati… Hidup itu tidak mudah…"
"Hahahaha… kau benar sayang, hidup memang tidak mudah tapi selama aku bersamamu yang bisa kupastikan adalah hidupmu akan bahagia"
Sehun memper erat pelukannya pada Luhan, mencium aroma rambut Luhan yang menenangkannya. Membuat Sehun selalu ignin berlama – lama memeluk Luhan.
"Hmm… Sehun-ah… tapi saat ini sepertinya aku merasa sedikit tertekan…"
"Tertekan?"
"Ya… kau memelukku terlalu erat dan kau menghimpitku dengan tembok… aku tidak bisa bernapas… aah…"
"Ahahaha… mian mian…"
.
.
.
Jarum jam terus berputar hingga tak terasa ini adalah saatnya Jaehun dan Jaehan untuk pulang. Jaehun dan Jaehan mengenakan baju yang identik. Keduanya menggunakan jeans tebal berwarna abu dengan kaos kuning bergambar dua mata minion dan dibalut dengan kids long coat navy blue karya tangan Luhan sendiri.
Luhan pun terlihat casual. Wanita cantik berambut hitam itu mengenakan overall hitam dengan turtle neck sweater abu – abu beserta sepatu adidas neo putihnya. Dan Sehun… dia seperti seorang mahasiswa yang akan pergi liburan akhir tahun di jejju. Sehun mengenakan skinny jeans hitam, kaos hitam polos yang dibalut dengan bomber jaket hijau lumut. Dan jangan lupakan beani abu – abu yang menutupi rambutnya yang agak panjang.
"Semua sudah siap?"
Sehun bertanya pada seluruh pasukan keluarga kecil Oh miliknya.
"NE! SUDAH SIAP!"
Jaehun dan Jaehan menjawab dengan semangat sementara Luhan hanya mengacungkan kedua jempolnya keatas.
Jaehun dan Jaehan berpamitan pada semua orang yang mereka kenal di rumah sakit. Tak lupa Luhan juga memberikan bingkisan kecil kepada seluruh dokter dan perawat juga anak – anak yang sudah menjadi teman HunHan selama di rumah sakit. Ruma sakit terasa sudah seperti rumah keluarga kecil itu, namun tetap saja, rumah mereka bukanlah disana.
Tak ada yang lebih membahagiakan untuk Sehun selain mengendarai mobilnya dengan Luhan berada disampingnya menimpali semua pertanyaan Jaehun dan Jaehan. Suasana mobil yang riuh akan percakapan – percakapan penuh penasaran anak – anak mereka adalah yang terindah.
"Eoh… kenapa kita lewat keluar jalan Tol?" tanya Luhan ketika mobil Sehun berbelok ke kiri.
"Ah… aku harus ke suatu tempat terlebih dahulu" jawab Sehun tenang
"Pyeongchang?"
"Mmm… beberapa orang penting sedang menungguku disana dan aku tidak akan lama, ini hanya urusan 5 menit saja" kata Sehun dengan senyum manis.
"It's okay eomma… kita bisa jalan – jalan juga kan?" ajak Jaehan dengan riang
"Ne… Jaehunie ingin makan sup ikan" sambut Jaehun tak kalah antusias dari adiknya.
Luhan semakin mengerutkan keningnya ketika arah mobil Sehun menuju ke tempat yang amat sangat dia kenal. Itu adalah daerah rumah keluarga Lu.
"Oh Sehun jika kau berpikir untuk mengajakku ke…"
"Tenang Lu… kau tidak usah gugup…"
Luhan semakin yakin kemana arah mobil Sehun berjalan. Badan Luhan mulai bergetar dan wanita itu kini jelas ketakutan.
"SEHUN-AH! HENTIKAN MOBILNYA SEKARANG!"
Luhan berteriak pada Sehun dan itu seperti mengundang trauma lama untuk si kembar. Jaehun dan Jaehan yang sedari tadi sibuk mengomentari pepohonan disekitar mereka kini melotot ketakutan mendengar teriakan sang ibu.
"eomma… kenapa eomma membentak pada appa?" tanya Jaehun yang tidak suka dengan situasi itu
"Tida sayang… eomma tidak membentak appa… eomma hanya sedikit berteriak karena appa akan memberikannya kejutan!" kilah Sehun dengan senyum yang masih sangat tenang
"Kejutan? Kejutan apa, appa?" giliran si penasaran Jaehan yang bertanya
"Appa… akan mengajak kalian untuk bertemu eomma dan appanya eomma…" ujar Sehun mantap
"eomma dan appanya eomma?" Jaehan malah bertanya kembali
"Maksud appa… kakek dan nenek…?" tebak Jaehun agak gugup
"Bingo!"
"OH SEHUN! Ini bukan lelucon! Kau…"
"Tenang sayang… percaya padaku… semuanya akan baik – baik saja. Kau bersamaku dan anak – anak. Aku sudah bilang kan sebelumnya jika aku akan membawamu pulang, mm?"
Sehun meraih tangan Luhan dan menggenggamnya erat. Berharap bahwa wanita cantik di samping kirinya kitu bisa sedikit lebih tenang.
"Tapi aku belum siap, Hun-ah… setidaknya jangan sekarang… aku bahkan belum mempersiapkan apapun untuk dibawa ke rumah… kita…"
"Kita membawa HunHan sayang… kita pulang bersama anak – anak kita"
Sehun berkata dengan nada final. Luhan tak lagi mampu membantahnya karena dalam diri Luhan, dia juga rindu pulang ke rumah.
Sehun dan Luhan sampai di depan rumah megah kediaman keluarga Lu. Sehun memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan di depan rumah Luhan. Sehun adalah orang pertama yang turun kemudian Jaehan lalu diikuti dengan Jaehun. Luhan masih diam di dalam mobil.
Sehun mendekati pintu tempat Luhan duduk lalu membukanya.
"Kita sudah sampai di rumah sayang…" kata Sehun lembut seraya melepaskan sabuk pengaman Luhan
"Apa kau yakin mereka akan menerima kita?" tanya Luhan penuh keraguan
"Jangan ragukan ini… kau tidak akan tau jika kau tidak masuk ke dalam" bujuk Sehun selembut mungkin
Tak ada tanggapan dari Luhan. Luhan membeku di tempat duduknya.
"Ini demi Hunhan sayang… Mereka berhak tau, siapa mereka…" Sehun masih terus membujuk Luhan dengan sabar sementara HunHan sudah mulai mengitari pandangannya ke sekeliling area rumah keluarga Lu.
Luhan mengangguk lemah kemudian berkata, "Asal kau selalu menggenggam tanganku… aku akan ikut denganmu"
Sehun tersenyum manis, pria itu cukup bangga akan dirinya karena kini Luhan benar – benar mempercayainya.
Sehun menggendong Jaehun di tangan kanannya sementara tangan kirinya menggenggam tangan kanan Luhan dan tangan kanan Luhan menggenggam Jaehun di sampingnya.
"Ne… kediaman keluarga Lu"
Terdengar suara salah seorang maid rumah Luhan menyahut panggilan intercom mereka.
"Aku Oh Sehun… aku ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya Lu…"
"Ne… silakan masuk"
Pintu terbuka dengan sendirinya, Sehun kemudian menggandeng tangan Luhan masuk lebih dalam ke rumah itu.
"Uah… ini benar – benar rumah orang tuanya eomma?" tanya Jaehun polos
"Kakek dan nenek sayang… panggil mereka seperti itu." Ralat Sehun dengan lembut
"Eomma… kenapa tangan eomma dingin sekali?" Jaehan mengerutkan keningnya dan meminta penjelasan Luhan
"Aaah… cuacanya sedang dingin sayang… eomma agak kedinginan" bohong Luhan pada putera bungsunya.
Mereka sampai di teras rumah Luhan. Sehun pun menurunkan Jaehun agar bisa bediri di depannya bersama Jaehan. Tanpa melepas genggaman tangannya dari Luhan, Sehun melayangkan satu tangannya yang bebas untuk mengetuk pintu besar kediaman keluarga Lu.
Ceklek….
Pintu besar itu terbuka dan Luhan tidak bisa percaya apa yang dia lihat dan dengarkan…
"WELCOME HOME!" seluruh anggota keluarga Lu berteriak bahagia.
WELCOME HOME PUTERI KAMI, LU HAN!
WELCOME HOME MENANTU KAMI, OH SEHUN!
WELCOME HOME KESAYANGAN KAMI, OH JAEHUN DAN OH JAEHAN!
Sebuah spanduk besar membentang diatas orang – orang yang berjajar menyambut mereka dengan senyum lebar bahagia. Tidak hanya senyum lebar, bahkan ada setumpuk kado, kue – kue kesukaan Luhan, buket – buket bunga dan…. Seluruh anggota ini keluarga Lu Zhoumi.
Luhan bisa melihat kedua orang tuanga berjongkok sambil merentangkan tangannya sebagai permintaan pelukan sambutan untuk si kecil HunHan. Sementara kakak tertua Luhan Henry beserta istrinya memegang konfeti yang baru saja diledakkan dan didekat mereka ada seorang gadis kecil memegang satu buket bunga dengan senyum lebarnya. Lalu ada Yixing yang memegang satu nampan kue yang berisi mini figure Sehun, Luhan dan HunHan diatasnya. Wanita yang perutnya sudah bunci besar itu terlihat amat bahagia atas kepulangan adiknya sekeluarga. Dan disamping Yixing ada Suho yang meniup trompet pesta dengan seksama.
Sehun membungkuk lalu berbisik pada kedua puteranya, "Masuklah dan peluk mereka, mereka adalah kakek dan nenek kalian. Orang tuanya eomma.."
Jeaehun dan Jaehan saling tatap, mereka tentu gugup mendapatkan kejutan seperti itu. Tapi… bukankah ini adalah hal terbaik yang dia inginkan? Jaehun bahkan masih ingat mimpi pajangnya saat dia bertemu dengan kakek Baekhyun. Kakek itu bilang jika dia akan segera mendapatkan kakeknya kembali.
Dan inilah saatnya.
Jaehun dan Jaehan berjalan setengah berlari dan memeluk erat kakek nenek mereka. Dua mahluk kecil tampan itu sangat bahagia saat ini. Akhirnya mereka bisa melihat dan punya kesempatan untuk memeluk kakek dan nenek yang selama ini mereka pertanyakan keberadaannya. Tuan dan Nyonya Lu tak bisa menahan tangis mereka. Cucu yang selama ini terpisah dari mereka, kini ada tepat dalam dekapan mereka.
"Selamat datang, adikku…" sambut Henry yang langsung memeluk Luhan
"gege…" isak Luhan dalam pelukan Henry.
Yixing tak mau berdiam terlalu lama. Wanita itu menyerahkan kue yang dia pegang pada suaminya dan ikut memeluk Luhan.
"Akhirnya kau pulang Hanie-ah…" isak Yixing yang juga ikut menangis
"Jie jie…. Jie jie, gege… aku merindukan kalian! Uaaahaaaa…"
Luhan menangis seperti anak kecil. Luhan, wanita cantik milik Oh Sehun itu tak bisa membendung perasaan bahagianya saat ini.
Isakan Luhan tertahan ketika tuan dan nyonya Lu berdiri tepat dihadapannya. Ada kilatan rasa takut bercampur rindu di mata Luhan saat menatap kedua orang tuanya.
"Berpisah dari kami… pasti sangat berat untukmu kan?" tanya Nyonya Oh dengan air matanya yang berlinang
"Berpisah dari kami… pasti membuatmu ketakutan kan, nak?" sambung wanita paruh baya itu lagi.
"Mama…. Ma… maafkan aku ma…." Isak Luhan penuh kerinduan pada ibunya
"Luhan…."
Setelah sekian lama akhirnya Luhan bisa memeluk lagi ibunya. Pelukan yang sangat Luhan rindukan selama 8 tahun dia pergi meninggalkan istana megah keluarga Lu.
"apa kau tidak mau memeluk papa juga sayang?"
"Papa… maafkan Luhan pa… "
"Papa sudah memaafkanmu nak… sudah memaafkanmu sejak dulu… maafkan papa yang sudah menghukummu terlalu berat. Maafkan papa, nak…"
Hari itu, adalah hari yang bersejarah bagi keluarga Lu. Semua masa lalu terlupakan. Kebahagiaan datang seiring dengan hati yang ikhlas untuk memaafkan kesalahan masa lalu. Tawa dan canda mengisi seluruh ruang keluarga yang dulu sempat hampa.
Jaehun dan Jaehan memang memiliki kemampuan cepat akrab dengan siapapun. Mereka bahkan terlihat sangat bahagia bermain bersama Krystal.
"Hyung… kita berdua sudah jadi Oppa…" ujar Jaehan dengan senyum gelinya dan disambut anggukan setuju oleh sang kakak.
Hari ini, Luhan merasa seperti dilahirkan kembali. Luhan merasa seperti menjadi Luhan yang seutuhnya baru. Bukan lagi Luhan yang sendiri dan ketakutan melainkan Luhan yang penuh akan kasih sayang dan kehangatan.
"Jaa… ini adalah tempat tidur Jaehun dan Jaehan di rumah ini!"
Tuan Oh membukakan sebuah kamar berpintu putih di lantai 3 rumah itu. Kamar HunHan memiliki desain kamar atap yang bersih dan elegan. Ada beberapa mini figure spider man dan iron man kesukaan mereka. Langit – langit kamar di lukis hingga menciptakan nuansa luar angkasa sari seri film star wars yang juga kesukaan HunHan.
"UAH! Apa ini benar – benar kamar kami?" tanya Jaehun antusias
"Tentu saja… ini adalah kamar cucu laki – laki kakek" sambut Tuan Lu dengan senyum bangga
"Ini jauh lebih luas dan keren daripada kamar kami di rumah…" celetuk Jaehan yang membuat Sehun dan Luhan merasa tidak enak
"Tentu saja ini lebih luas dan lebih keren. Rumah seorang kakek selalu menjadi favorite cucu mereka!" Tuan Lu menjelaskan tanpa mau merendahkan anak dan menantunya
Tuan dan Nyonya Lu menghabiskan waktunya bersama HunHan dan Krystal di kamar itu. Mereka bermain seakan tiada pernah hari esok tercipta.
.
.
.
"Semua… tidak ada yang berubah"
Luhan berkata dengan penuh haru ketika wanita itu memasuki kamarnya. Kamar penuh kenangan yang dulu dia tinggali sebelum mengandung HunHan dalam rahimnya.
"Kamarmu sangat keren" puji Sehun yang memang terpesona dengan penataan kamar Luhan yang simple tapi aura feminimnya terasa.
"Jadi… apa kau juga akan tinggal disini?" Luhan bertanya setelah dia duduk di atas ranjang empuknya
"Tidak sayang… aku juga punya rumahku sendiri saat ini. Aku harus pulang pada kedua orang tuaku" balas Sehun lembut. Sehun duduk di sebelah Luhan dan menikmati kerlipan lampu – lampu kecil di atas kepala ranjang Luhan.
Luhan memiringkan kepalanya dan bersandar pada bahu Sehun. Tangan Luhan bergerak meraih tangan Sehun dan menggenggamnya erat.
"Terima kasih, Sehun-ah… terima kasih atas kebahagiaan yang kau berikan untukku hari ini"
"Aku mencintaimu Lu… aku sangat… sangat mencintaimu!"
Sehun mengecup pucuk kepala Luhan lalu melingkarkan tangannya ke bahu sempit Luhan. Kali ini mereka memandang halaman belakang rumah Luhan yang nampak indah dengan cahaya – cahaya lampu taman. Kamar itu, terasa begitu romantis saat ini.
"Rencana pertamaku sudah terlaksana. Aku sudah membawamu pulang"
"Dan kau masih punya rencana kedua"
"Mmm… menikahimu dan melegalkan keberadaan HunHan di Negara ini"
"Kau… benar – benar akan menikahiku?"
"Tentu saja…. Kali ini aku akan membuatmu mengenakan gaun pengantin yang cantik dan membawamu ke altar, benar – benar ke altar. Kali ini aku juga akan menyematkan cincin di tanganmu setelah mengucapkan sumpahku padamu di hadapan Tuhan. Aku akan membuatmu bahagia sebagaimana mestinya dengan cara yang tepat."
.
.
.
.
.
.
To be continue
.
.
.
Chapter 9: All We Know
We're falling apart, still we hold together
We've passed the end, so we chase forever
'Cause this is all we know
This feeling's all we know….
.
.
.
.
.
.
.
Annyeonghaseyo! Yo! Yo! Yo!
Makasi banget buat kalian yang udah gak pernah nyerah untuk ngingetin gue biar gue tetep nulis dan lanjutin segala hal yang udah gue buat.
Maaf kalo chapter ini lagi – lagi harus membosankan. Maaf banget. Ini serius gue minta maaf. Gue akui dunia kerja itu gak kayak dunia sekolah dan kuliah. Ada hal yang bernama tanggung jawab yang selalu menuntut gue untuk mendahulukannya. Tapi meski bagaimanapun rasa cinta gue ke HunHan dan EXO selalu aja bisa mengalahkan itu. Btw gue lagi liburan sekarang. Gue libur sekitar 6 minggu dan gue harap gue bisa memenuhi ekspektasi kalian untu update semua cerita gue. Ah mungkin gak semua ya guys… karena ada beberapa hal yang udah gak nyambung sama nalar gue sekarang.
Gue harap kalian gak bosen baca cerita panjang dan bertele – telenovela ini. Gue minta masukan banget dari kalian. Tolong di kritik dan diberi saran.
Oh ya… kalo ada apa – apa kalian bisa nge line gue di [ id: adiknya_oohsehun ] mungkin ada yang mau diobrolin atau mau ngelabrak dan maki maki ga papa… aruna mah siap aja… tapi ya map balesnya lama eheheheh….
Dan demi apa gue kangen kalian… ahahaha…
Dah ah kebanyakan omong gue ini. Akhir kata… aruna tutup dengan,
Auuu! Ah Saranghaeyo!
