HUNHAN FOREVER
HUNHAN FOR LIFE!

xiugarbaby (formerly Aruna Wu)

presents

.

"E.N.D"

.

HunHan

.

GS – Rated M – Family Life – Hurt/Comfort – Drama – Angst

.

.

.

.

Happy Reading! ^^

.

.

.

Sehun perlahan membuka matanya ketika sayup – sayup suara alarm mengusik tidur nyenyaknya. Dan tak lama setelah matanya terbuka Sehun malah mengerutkan keningnya dan menatap sekitar ruangan dimana dia tidur tadi malam dengan sedikit rasa panik. Namun beberapa detik kemudian Sehun menghela napasnya penuh kelegaan, pria itu malah tersenyum lebar sambil megacak rambutnya sendiri.

Ini adalah kali ke 3 Sehun terkaget saat bangun tidur. Jujur saja pria tampan berambut hitam legam itu masih belum sepenuhnya percaya jika dia kembali bisa tidur di kamarnya, kamar yang Sehun dapatkan ketika dia berulang tahun yang ke 4 dan dia tinggalkan saat usianya 17 tahun. Itu adalah kamarnya di rumah keluarga Oh.

Sama seperti kamar Luhan, kamar Sehun pun tak sedikitpun berubah. Semua penataan kamarnya masih sama persis seperti dulu. Foto – foto Sehun bersama teman sekolahnya, poster Barcelona Football Club dan poster – poster Spiderman masih menggantung tak beraturan namun artistik di dinding kamarnya. Buku – buku pelajaran dan komik koleksi yang dia tinggalkan masih berderet rapi di salah satu tembok kamarnya. Berbagai macam action figure tokoh super hero dan sebuah light saber dengan nyala warna biru juga masih cantik berjajar di sebuah etalase yang dulu Sehun pernah minta pada Nyonya Oh. Bola basket dan tongkat baseball juga masih tertata apik di sudut kamarnya. Begitu pula dengan seperangkat computer berdampingan dengan sebuah meja belajar dimana Sehun biasa memainkan game onlinenya dulu. Tak lupa sebuah TV dengan setumpuk CD untuk PS 3 dan Xbox nya juga masih ada di hadapan tempat tidur Sehun. Bahkan seragam sekolah Sehun, masih tergantung rapi disebelah tas sekolah dan sepatu kesayangannya dulu. Sehun berani bertaruh jika isi dalam tas itu adalah buku – buku pelajaran yang seharusnya Sehun bawa ke sekolah jika saja tragedi 8 tahun lalu tidak pernah terjadi. Kamar yang bernuansa baby blue berpadu dengan broken white itu benar – benar masih menggambarkan bagaimana seorang Oh Sehun di usianya yang ke 17.

Sehun meregangkan badannya di ranjang berukuran Queen sambil menghirup aroma tubuhnya sendiri saat dia berusia 17 tahun. Sungguh aroma tubuh seorang remaja pria labil yang cukup keren. Sehun kemudian mendudukkan dirinya di tempat tidur lalu mengecek ponselnya. Ini pukul setengah 6 pagi. Tidak banyak hal yang masuk ke dalam notifikasi ponsel pintar ayah dua anak itu. Hanya satu pesan singkat dari Chanyeol yang nampaknya serius dan itu dikirimkan pukul 5 pagi tadi.

From: Bos Park
Hari ini aku ada pertemuan dengan seorang client.
Client sepertinya sudah punya gambar rancangannya sendiri.
Apa kau bisa datang ke kantor dan membantuku membaca designnya?

Sehun tersenyum singkat untuk permintaan Chanyeol dan pria itu hanya membalas dengan stiker kelinci putih dengan lambang 'okay' diatas kepalanya. Maafkan Sehun dan insting pekerjanya, tapi entah kenapa meninggalkan pekerjaan untuk cuti selama 1 sampai 2 bulan membuat Sehun sedikit banyak merasa tidak enak pada Chanyeol.

Pukul 7 pagi Sehun sudah kembali segar dan rapi. Akhir tahun semakin dekat, dan tak terasa natal akan datang minggu depan. Pagi ini Sehun mengenakan V-neck T-shirt berwarna abu – abu yang dipadukan dengan cardigan hitam dengan tiga garis putih di lengan kirinya, celana jeans berwarna terang yang menutupi tulisan Calvin Klein di pinggangnya dan sepatu Adidas Neo putih yang identik dengan milik Luhan.

Jujur saja daripada seorang ayah beranak dua, Sehun terlihat seperti seorang pria single beraura maskulin yang pastinya akan membuat gadis manapun menjatuhkan hatinya pada sekali lirik. Tapi sayangnya Sehun sendiri dengan bangga mengakui statusnya sebagai milik Luhan dan ayah dari kedua putera kembarnya yang lucu.

"Selamat pagi tuan muda, semua sudah menunggu di bawah untuk sarapan"

Salah seorang maid di rumah keluarga Oh yang ternyata tak kalah besar dengan rumah keluarga Lu itu menyapa Sehun ketika dia baru keluar dari kamarnya. Sehun sedikit tersenyum kemudian membungkuk untuk menghormati maid itu.

"Terima kasih ahjuma, aku akan segera ke bawah" ucap Sehun dengan sangat ramah.

Sehun harus menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai dua dimana kamarnya berada dan lantai satu dimana sebuah ruang makan dengan nuansa terbuka dan menyatu bersama kebun di sayap kiri rumah keluarga Oh.

"Good morning…"

Nyonya Oh yang baru saja menuangkan air putih untuk Tuan Oh menyambut putera sulungnya dengan senyum lebar. Dengan bersamaan juga Junhong –adik Sehun- dan Tuan Oh yang tadinya berbincang langsung menoleh ke arah Sehun yang masih berjalan dengan santainya.

"Selamat pagi ketua geng…"

Sehun memberi hormat pada ayahnya lalu beralih ke ibunya yang tak mampu menahan tawa ketika Sehun memanggil ayahnya ketua geng.

"Good morning beautiful!"

Sehun memeluk sang ibu dan mengecup pipi lembut ibunya singkat kemudian beralih pada adiknya yang duduk di hadapan sang ibu.

"Maknae-yaaah…."

Teriak Sehun lantang di telinga adiknya sambil mengusak rambut Junhong yang sudah tertata rapi.

"Ah! Hyuuuung…. Rambutku… ah…" Junhong mecoba protes pada Sehun namun Sehun hanya memberikan senyum manisnya yang malah membuat Junhong bergidik ngeri.

Untuk yang satu itu, Sehun tidak mau berubah. Dulu Sehun selalu menyapa keluarganya seperti itu. Sehun selalu menyebut ayahnya sebagai ketua geng, memanggil ibunya dengan sebutan beautiful – karena ibunya adalah satu – satunya member wanita di keluarga itu- dan memanggil adiknya dengan sebutan maknae.

Sehun duduk di kursi yang ada di sebelah Tuan Oh, sementara Junhong duduk di sebelah Nyonya Oh. Menja makan mereka adalah meja makan berbentuk bundar berkapasitas 4 orang saja. Keluarga Oh sangat jarang mengadakan acara di rumah, keluarga yang memiliki dua putera tampan itu lebih nyaman jika rumah mereka tetaplah zona privasi yang hanya dinikmati oleh keluarga.

Tapi… mereka tentu tidak bisa menolak kemajuan zaman. Bukankah member keluarga Oh kini sudah bertambah? Akan ada Luhan beserta Jaehun dan Jaehan disana. Belum lagi jika mereka punya adik dan Junhong pasti akan menikah dan punya anak. Meja makan ruang keluarga itu memang harus direvisi.

Sehun segera mengambil roti gandum dan mengoleskannya dengan selai nutella. Tuan Oh yang duduk di samping Sehun melihat bagaimana penampilan putera sulungnya itu dan sedikit membandingkannya dengan penampilannya sendiri dan juga putera bungsunya. Jelas ada perbedaan di sana. Sehun terlihat amat sangat casual diantara dua pria berjas rapi dengan aura eksekutif kelas VVIP keatas. Tentu saja, itu karena Tuan Oh adalah pemilik sebuah jaringan Mall dan Duty Free terkenal di Korea yang tergabung dalam perusahaan besar bersama keluarga Oh yang lain, Sunjin Group. Begitu pula dengan Junhong, meskipun lebih muda 4 tahun dari Sehun, tidak ada yang bisa megelak jika Junhong dan penampilannya terlihat begitu elegan, tampan dan menjanjikan. Wajar saja karena saat ini Junhong sedang menjabat sebagai Chief Marketing Officer (CMO) di perusahaan keluarganya.

Sementara Sehun… Dia hanyalah seorang arsitek yang bekerja pada perusahaan property yang dia bangun bersama sahabatnya di Incheon. Sebuah perusahaan property yang mereka bangun dari 0 sejak kurang lebih hampir 3 tahun. Perusahaan property yang Sehun dirikan bersama Chanyeol tentu memang terkesan baru dan 'kecil – kecilan' tapi jangan pernah sekali – kali meremehkannya, meski masih terhitung perusahaan balita, perusahaan property itu sudah semakin banyak dilirik oleh para investor dan pemilik lahan. Selain karena desain yang ditawarkan oleh perusahaan property mereka yang cukup unik dan fresh, lama pengerjaan yang singkat namun berkualitas dan cost pengeluaran yang ekonomis namun hasilnya berbobot juga menjadi alasan – alasan mendasar yang membuat perusahaan property Sehun dan Chanyeol melejit.

Chanyeol dengan otak bisnisnya yang cekatan dan Sehun dengan imajinasinya yang cerdas adalah kombinasi sempurna untuk pembangunan masa depan yang menakjubkan. Tidak berlebihan rasanya jika nama Sehun masuk dalam jajaran 10 arsitek muda paling berpengaruh di Korea dan Chanyeol yang mulai disebut – sebut sebagai the next specialist of professional property agent and consultant. Salah satu pencapaian yang luar biasa bukan?

Tuan Oh terus menerus memperhatikan Sehun yang sedang menhabiskan sarapannya sambil berbincang dengan Junhong dan eommanya. Dalam kepala Tuan Oh memikirkan bahwa Sehun memang benar – benar anak yang membanggakan. Usaha kerasnya memang tak bisa diremehkan. Meskipun sempat menyesal karena telah menghukum Sehun sedemikian berat namun Tuan Oh malah lebih banyak bersyukur dari segala hal yang terjadi karena mungkin saja, Sehun tidak akan menjadi Sehun yang sesukses sekarang jika tidak ada catatan merah dalam perjalanan hidupnya.

"Appa waeyo? Kenapa melihat aku seperti itu?"

Sehun menangkap basah Tuan Oh yang mencuri tatap dibalik cangkir kopi paginya pada Sehun.

"Hmmm… apa kau mau mengambil posisi di perusahaan?"

Pertanyaan frontal Tuan Oh seketika membuat semua personil keluarga Oh melotot. Semua tentu tau jika Oh Sehun adalah seorang pria dewasa yang meskipun masih muda tapi sudah mapan.

"Mengambil Posisi…? Maksud appa?"

Sehun bukannya bodoh, dia hanya tidak yakin dengan apa maksud utama dari mengambil posisi.

"Seperti yang kita tau saat ini Junhong ada di posisi CMO di perusahaan karena selain dia memang professional di bidang itu dan dia anak appa, Junhong juga punya sebagian saham dari perusahaan."

Semua orang terdiam, begitu pula dengan Sehun yang masih tak bisa menebak apa mau Ayahnya itu.

"Apa kau mau kembali ke posisimu sebagai pewaris perusahaan dan memegang posisi di dalamnya? Kau anak ayah dan kau juga memiliki saham yang sama besarnya dengan yang dimiliki Junhong di perusahaan kita. Kau punya hak, Oh Sehun"

Tuan Oh berkata tegas. Dulu Sehun memang sering diajak oleh Tuan Oh untuk meninjau Mall – Mall yang mereka miliki dan sekedar ikut rapat perusahaan untuk mengetahui tugas dan fungsinya di masa depan. Tapi sudah hampir 8 tahun sejak Sehun meninggalkan rumah dan juga posisinya sebagai pewaris utama jejaring Mall dan Duty Free dibawah Sunjin Group, jujur saja, Sehun sudah banyak melupakan kursi empuk bertahta itu.

Sehun tidak mau berbohong jika posisi yang ayah Sehun tawarkan adalah posisi menarik yang akan menjamin kehidupannya akan terus makmur mungkin sampai cucunya Jaehun dan Jaehan punya cucu lagi. Namun Sehun bukanlah tipe pria penghianat yang akan meghianati semua keringat, darah dan waktu yang dia habiskan bersama Chanyeol untuk merintis sebuah perusahaan dari yang bukan apa – apa hingga saat ini mulai dikenal gaungnya. Menjadi arsitek adalah cita – cita Sehun sejak Sehun keluar dari rumah besar keluarga Oh dan mencampakan satusnya sebagai putera mahkota Jaringan Mall Sunjin Group.

"Appa… tanpa mengurangi rasa hormatku sedikitpun pada appa, tapi… aku sama sekali tidak bisa menduduki posisi apapun di perusahaan. Aku punya perusahaanku sendiri yang sudah aku perjuangkan sejak awal. Dan bukankah sudah ada Junhong yang selama ini sangat luar biasa dalam menjalankan semua kewajiannya sebagai generasi penerus appa? Junhong adalah orang yang tepat untuk itu."

Jawab Sehun dengan raut wajah tenang dan senyum yang hangat.

"Tapi seluruh keluarga besar mempertanyakan posisimu di perusahaan. Apa kau benar – benar tidak mau mengambil posisi apapun?" tawar Tuan Oh lagi.

"Tidak appa, aku tidak mau. Anak – anakku selama ini telah mengenalku sebagai seorang arsitek yang membangun gedung dan rumah. Aku tidak mau merubah presepsi tukang bangunan keren yang mereka miliki padaku"

"Pfft…"

"Ahahahahahaa…"

Junhong sedikit menahan tawanya ketika Sehun bilang bahwa kedua ponakannya berpresepsi bahwa Sehun adalah 'tukang bangunan keren'. Pria yang lebih muda 4 tahun dari Oh Sehun itu nampak tak sama sekali terganggu dengan penawaran sang ayah pada kakak sulungnya untuk sebuah posisi startegis di perusahaan yang mungkin akan lebih tinggi dari posisinya. Sementara Tuan dan Nyonya Oh malah tertawa lebar dengan pengakuan Sehun.

"Jadi kau cukup bangga dengan predikat itu?" tanya Nyonya Oh masih dengan senyum kesayangannya

"Ne eomma… karena posisi itu aku perjuangkan dari titik terbawah dan itu berhasil membuat anak – anakku bangga padaku" ujar Sehun penuh dengan rasa bangga sebagai mahkota dikepalanya.

"Tidak hanya hyung… aku, eomma dan appa juga sangat bangga dengan apa yang Hyung capai. Aku tidak mau menutupi apapun sekarang. Sebenarnya… appa sendiri menyimpan artikel yang membahas tentang profil hyung dalam majalah property ketika nama Hyung ada di dalam jajaran 10 arsitek muda paling berpengaruh di Korea." Ucap Junhong dengan sedikit berbisik pada kakaknya

"Ayah mana yang tidak bangga melihat puteranya bangkit setelah jatuh terpuruk? Ayah mana yang tak bangga dengan putera yang berhasil mencari jati dirinya setelah kehilangan segalanya?"

Pertanyaan – pertanyaan Tuan Oh membuat senyum di wajah Nyonya Oh berubah sendu, membuat Junhong melirik tak enak pada kakaknya dan membuat Sehun sedikit tertunduk.

"Kau juga tetap kebanggaan kami, Sehun-ah…." Ujar Tuan Oh dengan nada tenang

"Ne… kau akan selalu menjadi kebanggan keluarga ini, sama dengan Junhong. Kalian berdua kebanggan keluarga ini!" tegas Nyonya Oh sambil menepuk Junhong yang ada di sampingnya dan memandang Sehun dengan kasih sayangnya

"Hyung juga tetap menjadi hyung kebanggaanku!" seru Junhong setuju.

Sehun kini merasa seperti seorang penguin yang sudah lama tersesat dan akhirnya kembali pada habitat aslinya. Bersama keluarga yang adalah asal – usulnya.

"Jadi kau akan tetap bekerja di perusahaan property itu?" tanya Tuan Oh lagi

"Maaf… Perusahaan property itu?" Sehun balik bertanya degan nada pura – pura tersinggung

"Appa… hati – hati, pria di sebelahmu itu adalah seorang boss!" ancam Junhong dengan matanya yang menyipit.

"Aigoo… sekarang kau mulai bersekutu dengan kakakmu ya?" Tuan Oh mencibir putra bungsunya yang ikut sombong

"Tentu saja appa, dan tidak lama lagi aku akan mengancam perusahaanmu untuk mendirikan perusahaan gameku sendiri" ujar Junhong sebelum meneguk jusnya

"Kau mau membuat perusahaan game?" Sehun menaikan satu alisnya penasaran

"Tidak sepenuhnya membuat, Hyung… aku hanya menginvestasikan dana sebagai sponsor terbesar. Mana bisa aku meninggalkan perusahaan" jawab Junhong santai bersamaan dengan sepotong roti panggang yang masuk ke mulutnya

"Kenapa kau tidak bisa meninggalkan perusahaan?" Sehun yang kebiasaan penasarannya di warisi oleh Jaehan itu masih terus bertanya

"Karena siapa lagi yang mau menggantikan posisi appa nanti selain aku, bukankah hyungku sudah punya perusahaannya sendiri?"

"Yaah… kau membuatku tidak enak"

"It's okay hyung… aku justru harus berterima kasih padamu karena aku tak perlu susah susah bekerja dari bawah. Aku sungguh – sungguh… hyung tau kan aku tidak serajin hyung!"

"Mianhae maknae-ah…"

Sehun kembali mengacak rambut Junhong yang masih ada dalam jangkauan tangannya. Suasana sarapan di keluarga Oh 3 hari belakangan ini menjadi lebih ceria karena keberadaan sehun. Kursi yang selama ini kosong sudah mendapatkan kembali pemiliknya.

"Kalau begitu… Sehun-ah,"

"Ne Appa…"

"Karena kau tidak menginginkan posisi apapun kau akan mendapatkan tambahan 30% saham milik ayah dan 70% sisanya akan aku berikan pada Junhong yang akan menjadi pimpinan perusahaan nanti."

"Ah kenapa aku masih tetap memegang saham? Aku kan tidak melakukan apapun.."

"Tetap saja, itu adalah hak mu sebagai pewaris perusahaan. Kau memang tidak aktif di perusahaan tapi sahammu tetap bekerja. Jadi dengan demikian namamu akan tetap tercantum sebagai pemilik perusahaan namun tidak memimpinnya"

"Itu adalah posisiku seharusnya jika Hyung tidak memilih untuk jadi arsitek"

"Ah… jadi maksud ayah posisiku di perusahaan adalah sebagai investor? Semcam itu?"

"Ya semacam itu nak…"

"Jadi jika ada rapat investor dan pegang saham, Hyung wajib datang untuk mendengar laporanku"

"Hmmm… call… sepertinya itu tidak buruk…"

"Haaah… kalian para kaum lelaki, mau sampai kapan kalian akan terus membicarakan masalah pekerjaan dan bisnis, eoh? Ini meja makan! Ini adalah family place!"

Nyonya Oh menggerutu sambil mengaduk tehnya dan para pria tampan – termasuk Tuan Oh, beliau sangat tampan saat beliau muda – yang ada di hadpan Nyonya Oh saling tukar pandang dan tersenyum.

"Aku sangat ingin kau segera mengajak menantu eomma ke rumah bersama cucu – cucu eomma agar eomma tidak menjadi satu – satunya orang yang hanya mendengarkan" celetuk Nyonya Oh masih dalam mode merajuk

"Ne eomma… aku akan segera membawakan menantu untukmu,"

"yak! maksud Eomma menantu dari anak sulung eomma, bukan darimu oh junhong!"

Gelak tawa kembali tercipta di ruangan itu. Tak ada yang bisa menepis rasa bahagia ketika semuanya telah berkumpul. Sejenak hening dan semua kembali pada sarapannya masing – masing. Dan ditengah keheningan itu Sehun memberanikan diri untuk berbicara,

"Daripada seorang menantu, bagaimana dengan seorang anak gadis? Apa eomma ingin memiliki seorang anak gadis?"

Nyonya Oh langsung mengangkat wajah dari salad sayuran yang dia makan, begitu pula Tuan Oh dan Junhong yang kini kembali memperhatikan Sehun.

"Aah… eomma dari dulu sangat ingin punya anak perempuan tapi, takdir tidak memberikan ijinnya." Jawab Nyonya Oh santai

"Bagaimana dengan seorang anak perempuan yang seperti Baekhyun?" tanya Sehun lagi

"Baekhyun? Byun Baekhyun sahabatmu itu?" Tuan Oh ikut masuk dalam percakapan. Ayah Sehun yang tampan itu tentu mengingat seorang gadis cantik yang sering main ke rumah keluarga Oh dulu.

"Ne… Byun Baekhyun"

"Ani… kenapa kau menawarkan Baekhyun untuk jadi anak perempuan eomma?"

Nyonya Oh yang cantik rupanya tak mengerti dengan maksud Sehun, yah.. wajar saja, Nyonya Oh pasti tidak tau apa yang telah Baekhyun lalui setelah kedua orang tuanya bercerai dan gadis itu pindah ke Jepang. Meskipun Nyonya Oh dan Junhong sempat tinggal di Jepang selama beberapa tahun tapi putusnya kontak antara Keluarga Oh dan Keluarga Byun yang tercerai berai pasti membuat komunikasi mereka tak bisa lagi terjalin dengan baik.

Sehun menghela napasnya dengan cukup panjang namun lembut kemudian mulai bercerita tentang keadaan Byun Baekhyun. Sehun bercerita tentang penyakit kakek Baekhyun hingga kepulangan Baekhyun ke Korea. Sehun juga tidak lupa bercerita jika awalnya Sehun ingin menikahi Baekhyun karena Luhan juga sudah punya rencana menikah dengan Yifan. Pada bagian itu kedua orang tua Sehun terlihat cukup mendapatkan shock therapy. Sehun tidak meperjelas masalahnya, pria itu hanya bilang jika Luhan dan Yifan memang pernah dekat dan Sehun ingin menikahi Baekhyun karena tak tega jika gadis itu jadi sebatang kara. Sehun pun mengatakan bahwa dia sempat membeli sebuah rumah untuk Baekhyun dan letaknya tepat di samping rumah yang Tuan Oh dan Tuan Lu belikan untuk mereka dulu. Hingga pada akhirnya Sehun dan Luhan memutuskan untuk rujuk dan Sehun berniat ingin mengangkat Baekhyun sebagai adiknya, sebagai anggota dari keluarga Oh.

"Jadi… sekarang Baekhyun hidup sendirian di rumah itu?" Nyonya Oh bertanya sambil mengerutkan keningnya

"Ne… tapi sesekali Chanyeol akan mampir untuk menemani Baekhyun. Chanyeol adalah kekasih Baekhyun dan rekan kerjaku"

"Hmmm… kalau begitu, sore nanti kau bawa Baekhyun kemari dan mulai hari ini juga Baekhyun akan tinggal di rumah ini sebagai anggota keluarga kita. Appa setuju dengan Sehun, Baekhyun adalah gadis yang sangat baik. Kita tidak bisa membiarkannya jadi sebatang kara."

Tuan Oh mengambil satu keputusan besar yang disambut dengan raut wajah tak percaya Sehun.

"Ne… eomma setuju. Lumayan kan eomma jadi punya anak perempuan dan rumah ini bisa jadi tambah ramai. Kau sendiri bagaimana, Junhong-ah… apa kau setuju?"

Nyonya Oh dengan bijaksananya tak akan pernah lupa untuk meminta pertimbangan si bungsu.

"Selama posisi maknae keluarga Oh masih menjadi milikku, aku rasa itu tidak masalah. Dan sepertinya punya seorang Noona bukanlah ide yang buruk"

.

.

. .

.

.

E.N.D

[Ex-Husband Next Door]

.

.

Chapter 9: All We Know

"Kita pernah berpisah namun pada akhirnya kita kembali bersama lagi.
Kita pernah saling menyakiti namun pada akhirnya kita berpelukan lagi.
Kita pernah saling membenci namun pada akhirnya kita jatuh cinta lagi.
Kita berdua bukannya tidak bisa move on, tapi hanya inilah yang kita tau.
Karena mencintaimu adalah segalanya yang hatiku ketahui.
Dan kembali padamu adalah segalanya yang hatiku inginkan."

.

.

.

.

.

Sehun memarkir mobilnya di parkiran basement sebuah gedung yang tak terlalu tinggi tapi memiliki desain minimalis yang cukup unik. Itu adalah gedung dimana perusahaan property Sehun dan Chanyeol di bangun, Gedung Incheon Art Exhibition latai 5, itu adalah kantor mereka. Perusahaan yang dibangun dengan uang tabungan masing – masing. Perusahaan yang mereka berinama Future Perfect Design.

Chanyeol dan Sehun saling mengenal ketika mereka melaksanakan wajib militernya. Sehun mendaftarkan diri untuk wajib militer sehari setelah dia dinyatakan lulus sebagai sarjana teknik arsitektur dan Chanyeol juga memutuskan untuk melalui wajib militer di usia yang terbilang masih muda karena pria itu kabur dari ayahnya, Chanyeol kabur karena dia tidak mau mendapatkan kursi gratis di departemen pekerjaan umum di kementrian. Chanyeol juga sama tinggi harga dirinya seperti Sehun. Sehun tentu masih ingat jika dulu perusaan ini hanya memiliki Minhyuk dan Yongjae sebagai kariawan yang menghandle masalah administrasi dan keuangan, Sehun sebagai arsitek yang merancang gedung dan melakukan rapat bersama client serta Chanyeol sebagai pimpinan dan petugas lapangan sekaligus. Namun kini, hampir 3 tahun sudah berjalan dan perusahaan itu sudah bisa menampung 25 orang sebagai kariawan tetap. Sehun dan Chanyeol tentu patut berbangga.

Sehun berjalan santai ketika beberapa pegawai menyapa Sehun dengan ramah, namun senyum manis Sehun mendadak berubah menjadi senyum canggung ketika melihat sebuah meja billiard di kantornya. Tentu Sehun masih ingat apa yang pernah dia dan Luhan lakukan diatas meja hijau berukuran 2.7 x 2.4 meter itu.

"Boss… ini adalah laporan lapangan dari resort yang sedang kita bangun di Daegu, tolong segera ditanda tangani agar bisa aku kirim ke client."

Minhyuk menyapa Sehun dengan berbagai laporan di tangannya ketika Sehun baru saja duduk di meja kerjanya.

"Kenapa kau menyampaikan ini padaku? Ini harusnya ditangani oleh Chanyeol kan?" Sehun terlihat agak bingung namun Minhyuk hanya tersenyum lalu berkata

"Boss besar sedang kehilangan akalnya saat ini. Dia tidak bisa melakukan pekerjaan apapun. Belakangan Boss besar malah sering bertanya padaku tentang bagaimana cara mengatakan pada orang tua jika kita ingin menikah. Sepertinya Boss besar sudah agak tidak waras"

Sehun ikut tersenyum geli ketika mendengar gossip dari Minhyuk yang memanggil Chanyeol dengan sebutan Boss besar.

"Ah… begitu rupanya. Baiklah berikan padaku filenya."

"Ne… ini boss.."

"Thanks… Kau sudah bekerja keras Minhyuk-ssi"

Sehun membaca sekilas laporan perkembangan pembangunannya di lapangan. Mengecek beberapa data berupa gambar dengan cukup teliti lalu melihat rincian pembiayaan yang telah dihabiskan selama proses pembangunan hingga tercapai 50% seperti pada laporan. Sehun mengangguk sebentar lalu menanda tangani file itu atas nama Chanyeol dan memberikannya kembali pada Minhyuk yang selalu siap untuk menangani segala jenis dan bentuk administrasi di kantor itu.

"Permisi…"

Seorang gadis cantik menyembulkan kepalanya di pintu ruangan Sehun. Gadis itu adalah sekretaris bersama milik Sehun dan Chanyeol.

"Ne Seulgi-ssi…"

"10 menit lagi client akan datang untuk rapat, Bos besar meminta Bos untuk datang ke ruangannya"

"Okay, aku akan ke ruangan Chanyeol sekarang"

Sehun bangkit dari kurisinya dan mengambil sebuah amplop coklat berukuran A3 lalu pergi ke ruangan Chanyeol. Dan ketika Sehun masuk ke ruangan Chanyeol, pria tampan beralis tebal itu mendapati Chanyeol sedang menundukkan kepalanya diatas meja.

"Kau kenapa?" Sehun melembutkan nada bicaranya ketika dia bertanya.

"Aku baik – baik saja…" Chanyeol mengangkat wajahnya lalu berdeham cukup keras untuk menghilangkan beban penat di kepalanya

"Berapa hari kau tidak tidur? Kau terlihat terlalu lelah"

Sehun duduk di kursi yang ada di hadapan Chanyeol dan memandang pria tampan bertelinga lebar yang sedang mengusap wajahnya yang lesu itu.

"Jika kau berpenampilan seperti ini, mana ada client yang mau menerima kita dalam tender mereka? Apa kau benar – benar baik – baik saja?"

Sehun mencondongkan badannya untuk memastikan apakah rekan kerjanya itu dalam kondisi baik atau malah memang sedang sakit. Chanyeol adalah orang yang sangat sehat menurut Sehun, pria itu jarang sakit dan memang sangat memperhatikan kesehatannya.

"Hmmm… aku memang sedikit agak sakit kepala." Jawab Chanyeol yang kini memaksakan senyum dibalik wajahnya yang lesu

"Apa ada sesuatu yang mau kau ceritakan padaku?"

Sehun sebenarnya tidak terlalu penasaran karena dirinya sendiri tau apa yang membuat Chanyeol jadi sedemikian galau hingga sakit kepala dan lemas.

"Kemarin aku menceritakan tentang Baekhyun dan hubunganku dengan Baekhyun kepada eomma dan appaku tapi… mereka tidak meresponnya sama sekali. Mereka malah tidak mengajakku bicara sejak tadi pagi"

Sehun masih diam, wajahnya yang datar nampak berhasil menambah bebad di kepala Chanyeol. Bagaimana tidak, bukankah Sehun orang yang menantang Chanyeol untuk membuktikan bahwa dia bisa membuat keluarganya menerima Baekhyun dengan segala sisi baik dan buruknya gadis itu?

"Semua hal pasti butuh proses, kau hanya perlu berjuang…"

Sehun menasehati Chanyeol dengan sebuah kalimat singkat yang terdengar klise di telinga Chanyeol. Chanyeol baru saja akan membantah kalimat Sehun, namun Sehun terlebih dahulu menyelanya.

"Aku sudah membuktikan itu, Chanyeol-ah…"

"Hmmm… baiklah, aku akan mencobanya lagi nanti… ng… ngomong – ngomong, apa client kita terlambat? Seharusnya dia sudah datang"

Chanyeol kembali mengecek email yang dia terima dari client yang membuat pertemuan untuk hari itu. Tidak ada yang salah dengan waktu pertemuannya, client pun sudah mengkonfirmasi bahwa pihaknya bisa hadir.

"Clientmu itu sudah ada di hadapanmu sejak 5 menit yang lalu, Park Chanyeol-ssi"

Sehun berkata tenang dan datar, namun Chanyeol malah memanjangkan lehernya untuk melihat ke arah luar. Tak ada seorang pun di luar ruangannya selain Seulgi yang nampak menerima telepon dan Yongjae yang menumpuk beberapa berkas di meja Seulgi. Sementara dihadapannya hanya ada Sehun dengan senyum lembutnya yang….

Mencurigakan.

"Aku adalah client itu!" ujar Sehun dengan menunjukkan ponselnya. Di layar ponsel itu Sehun menunjukkan sebuah email yang dikirim melalui salah satu email yang dia miliki.

"Mwo? Kau kan arsitek disini, kenapa kau mau jadi clientnya juga?" Chanyeol masih tidak mengerti

"Aku ingin merombak habis rumahku yang akan aku tempati bersama Luhan dan anak – anak. Aku ingin mewujudkan rumah idaman keluargaku"

Sehun masih tersenyum manis dan Chanyeol yang akhirnya mengerti lalu berkata, "Kenapa kau tidak bilang langsung padaku? Kenapa harus melalui email client? Haaaah…"

"Hahahaha… jika aku langsung mengatakannya padamu, itu terasa seperti aku meminta bantuanmu secara cuma – cuma. Aku mau jadi seroang client yang terhormat, karena permintaanku juga cukup banyak"

"Tidak masalah… sebanyak apapun permintaan anda Tuan Client, kami pasti akan memenuhinya. Asal anda mau membayarnya dengan harga yang pantas!"

"Call! Tak peduli berapa biayanya aku akan tetap ingin mewujudkannya."

"Baiklah… anda bilang bahwa anda telah memiliki design rumah idaman anda. Boleh saya lihat?"

"Tentu…"

Sehun menyerahkan sebuah map cokelat berukuran A3 yang ada di pangkuannya kepada Chanyeol. Dengan senyum geli Chanyeol membuka map cokelat itu.

"Mwoya ige?"

Chanyeol seketika mengertukan keningnya. Wajah yang tadinya menampilkan senyum geli yang tampan mendadak berubah menjadi wajah kebingungan yang penuh pertanyaan. Bagaimana tidak, apa yang Chanyeol lihat diatas selembar kertas gambar berukuran A3 itu sungguh menakjubkan. Coretan demi coretan tak berukuran namun terlihat harmonis secara keseluruhan, juga ada denah lantai rumah yang nampaknya berencana ingin punya 3 lantai dan yang paling menarik adalah gambar 4 orang yang dibuat dengan hanya lingkaran dan garis nampak bahagia dengan banyak senyum dan hati di bagian atasnya. "Happy Family"katanya. Dan jelas saja itu semua bukanlah hasil karya dari seorang Oh Sehun yang termasuk dalam jajaran 10 arsitek muda paling berpengaruh di Korea.

"Itu hasil karya Jaehun. Dulu dia pernah membuat desain rumah impiannya. Dengan segala macam ruangan yang dia inginkan. Namun Jaehun bilang yang terpenting dalam sebuah rumah adalah ini…"

Sehun menunjuk salah satu sudut kertas gambar itu dimana ada gambar 4 orang yang digambar ala anak – anak dengan mengandalkan hanya garis dan lingkaran.

"Keluarga" sambung Sehun.

Chanyeol tersenyum setelah mendengar penjelasan Sehun. Semakin lama jika semakin dilihat, Jaehun cukup pandai menggambar. Meskipun gambaran itu masih sangat jauh dari standar sebuah design bangunan, tapi beberapa detail yang mendasar dari sebuah design sudah ada di gambar itu. Memang tidak salah jika dikatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

"Geurae… aku tidak yakin jika gambaran ini bisa direalisasikan sebagai bangunan karena tidak ada perhitungan yang sepadan antara luas tananh, luas bangunan, pondasi dan hal lain. Kau tetap harus membuat cetak birunya" Chanyeol mengembalikan gambaran Jaehun dan diterima dengan anggukan setuju dari Sehun.

"Aku sudah membuat cetak birunya, itu ada diranganku. Dan mungkin aku tidak bisa sering – sering meninjau ke rumah karena rencana cutiku selama 2 bulan akan tetap aku laksanakan"

"Mmm… kalau begitu akan aku berikan cetak birunya ke asistenmu"

"Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk penyelesaian rumahku?"

"Paling tidak 6 bulan"

"Dua…"

"Ah?"

"Aku mau rumah itu bisa dikerjakan dalam waktu 2 bulan"

"Oh Sehun… jangan mengada – ada…"

"Aku tidak mengada – ada"

"Mana bisa kau membangun rumah yang kokoh dalam waktu dua bulan?"

"Pondasi rumah tidak akan berubah, kau pasti mengerti setelah melihat catatanku"

"Bukan aku yang mengerjakannya, Oh Sehun. Lee Taeyeong. Dia yang mengerjakannya"

"Ah bagus lah, dia anak yang pintar. Dia pasti mengerti apa yang aku inginkan. Dua bulan dan aku akan bayar biayanya dua kali lipat"

"Ya… kau bicara seakan – akan uang jatuh dari langit! Ini paling tidak akan memakan biaya…. 500 juta won! Kau mau membayarnya 1 millyar?"

"Tidak masalah jika bisa dikerjakan dalam waktu 2 bulan"

"Dapat uang dari mana kau?"

"Aku akan menjual rumah yang Baekhyun tempati"

"WHAT?!"

Chanyeol melotot sementara Sehun tersenyum. Chanyeol sudah tak habis pikir seberapa gilanya Sehun sekarang. Bukannya jadi waras, kembali ke rumah orang tuanya membuat Sehun malah jadi gila.

"Kau mau mengusir Baekhyun? Kau mau membuatnya jadi gelandangan tanpa tempat tinggal? Atau jangan – jangan karena Baekhyun banyak mewarisi harta dari kakeknya kau berpikir untuk menjualnya pada Baekhyun dan kau bisa dapat uang banyak? Kau…. Tega sekali! Katakan! Katakan padaku berapa kau mau menjual rumah yang Baekhyun tempati? Aku akan membelinya sekarang juga!"

Sehun melengkungkan bibirnya ke atas dan menatap remeh pada Chanyeol. Sehun sendiri agak kaget dengan reaksi Chanyeol yang semarah itu. Oh yang benar saja, segala hal menyangkut Baekhyun nampaknya sudah membuat Chanyeol jadi gila.

"Aku akan menjualnya seharga 1.2 milyar won, lengkap dengan segala furniture dan elektroniknya. Itu adalah rumah di daerah Cheongdam-dong. 1 are tanah sudah bernilah 200 juta won. Rumah itu luasnya 5 are. dan segala furniture dan elektroniknya mungkin seharga 100 juta won. Bukankah itu sudah sangat murah?" Sehun menjawab santai dengan wajah nyaman yang sangat menjengkelkan bagi Chanyeol

Chanyeol segera mengecek harga tanah dan bangunan di daerah Appgeujong. Dan benar saja, harga rumah di kompleks perumahan yang Sehun tinggali berkisar antara 1 sampai 3 milyar won. Kompleks perumahan itu adalah kompleks perumahan seindah Beverly Hills di pusat kota Gangnam. Harga tanah di Seoul memang amat sangat mahal. Maka dari itu hanya sedikit orang yang mampu membeli rumah di Seoul. Mereka lebih memilih untuk membeli sebuah apartment yang harganya sedikit lebih terjangkau. Hidup saat ini memang sangat sulit.

"Ya… darimana dulu kau dapat uang untuk membeli rumah itu?" tanya Chanyeol dengan nada polos yang sepenuhnya penasaran

"Aku menggunakan uang yang diberikan oleh appa selama 5 tahun belakangan dan tak pernah aku gunakan. Cukup banyak ternyata" Sehun kembali menjawab dengan santainya sementara Chanyeol mulai memijat kepalanya karena pusing

"Jika kau menjual rumah itu dan aku belum menikahi Baekhyun, Baekhyun akan tinggal dimana?"

Satu pertanyaan frustasi dari Chanyeol yang membuat Sehun semakin yakin jika Chanyeol sedang berusaha mempertanggung jawabkan keberadaan Baekhyun. Chanyeol bukanlah orang yang tidak punya uang. 100 juta won bukanlah jumlah yang tidak dimiliki oleh orang tua Chanyeol. Hanya saja pria bertelinga lebar itu tetap tak mau meminta pada orang tuanya.

"Mulai hari ini Baekhyun akan tinggal di rumahku"

"Rumahmu? RUMAHMU?!"

"Ne… Seoul, Gangnam-gu, Sinsa-dong"

"Mwo?"

"Hari ini keluargaku sepakat untuk menjadikan Baekhyun bagian dari keluarga Oh. Baekhyun sudah bukan lagi Baekhyun si malang yang sebatangkara, dia sudah punya keluarga"

Bibir Chanyeol yang semula sedikit menganga perlahan mulai terkatup. Kepalanya mencerna baik – baik apa yang Sehun baru saja katakan padanya. Jujur saja Chanyeol sendiri mengakui bahwa apa yang keluarga Oh lakukan bukanlah ide yang buruk. Tapi demi cintanya pada Baekhyun, apa yang Sehun lakukan membuatnya sedikit cemburu. Sehun selalu mampu berbuat banyak hal untuk Baekhyun sementara dirinya, jangankan untuk menghalalkan Baekhyun sebagai miliknya, meyakinkan kedua orang tuanya akan cintanya pada Baekhyun saja Chanyeol masih belum mampu.

.

.

.

Baekhyun sengaja turun dari taksi yang dia tumpangi beberapa blok sebelum blok rumah yang dia tinggali. Jujur saja, semenjak HunHan kecil ada di rumah sakit dia merasa sangat kesepian di rumah. Gadis itu tentu tak berani memaksa Chanyeol untuk selalu menemaninya. Meskipun Baekhyun punya hak sebagai kekasih Chanyeol tapi gadis berusia 25 tahun itu tentu masih tau diri jika Chanyeol punya segudang pekerjaan yang harus dia selesaikan. Baekhyun juga tidak enak jika sering – sering menjenguk HunHan di rumah sakit, meskipun Luhan tidak pernah mempermasalahkan jika Baekhyun menginap, Luhan bahkan meminta Baekhyun untuk menginap dan menemaninya waktu itu. Tapi lagi – lagi Baekhyun masih tau diri untuk tidak melakukannya karena Baekhyun yakin itu adalah waktu yang tepat untuk Sehun dan Luhan berdiskusi berdua dan ada bersama kedua putera mereka.

Byun Baekhyun sangat kesepian.

Baekhyun menghela napasnya ketika melihat genangan air di hapadannya memantulkan wajah murung miliknya. Ini adalah bulan November tapi salju belum juga turun, hanya ada udara yang terasa dingin menusuk setiap langkah Baekhyun menuju rumah yang dia tempati. Baekhyun baru saja akan menangis jika dia tidak segera melihat keanehan di dekat rumahnya.

Baekhyun mengernyitkan keningnya ketika melihat sebuah alat berat berwarna kuning sedang menghancurkan rumah yang berdiri tepat di sebelah rumah yang dia tinggali. Itu adalah rumah yang ditinggali Luhan bersama HunHan kecil. Baekhyun mempercepat langkahnya agar bisa melihat dengan lebih jelas apa yang terjadi.

Dan ternyata Baekhyun tidak salah lihat. Alat berat yang dioperasikan untuk memporak porandakan pagar dan lantai dua rumah itu tidak bekerja sendiri. Ada beberapa orang menggunakan helm berwarna kuning sibuk berbincang menghadap sebuah kertas biru. Dari beberapa orang itu Baekhyun tidak melihat seorang Oh Sehun di sana. Baru saja Baekhyun ingin masuk dan bertanya pada orang – orang ber helm kuning itu, namun matanya menangkap bahwa sebuah mobil berwarna hitam terparkir rapi di depan rumah yang dia tinggali, itu adalah mobil Sehun.

Gadis itu berlari sekencang yang dia bisa, masuk dengan tergesa – gesa kemudian mendapati seorang Oh Sehun tengah berdiri dengan secangkir kopi di tangan kanan dan tangan kirinya diselipkan ke saku celananya. Pria itu berdiri tepat di belakang jendela yang menghadap ke rumah sebelahnya. Jendela yang sering Sehun tatap jika dia rindu pada HunHan dan ibunya dulu.

"Ya… apa – apaan itu? Kenapa rumah kalian di robohkan?"

Baekhyun terlihat panik sementara Sehun hanya menoleh ringan lalu berkata,

"Beri salam dulu jika kau baru pulang kerumah, tidak sopan!"

Baekhyun berhasil dibuat meganga kali ini. Dan demi apapun ini bukanlah waktu untuk bersopan santun menurut Baekhyun.

"Jawab aku, Oh Sehun!"

"Hmmm… aku merombak rumah sebelah. Kau pikir aku mau apa?"

Baekhyun mengatupkan bibir tipisnya, baru setelah itu dia meletakkan tas yang dia bawa diatas meja dan melepas mantel tebal dan syal merah yang dia kenakan karena ruangan di rumah itu terasa cukup hangat dan nyaman.

"Aku kira kalian akan pindah" dengus Baekhyun dengan sedikit kepanikan dan kekesalan yang masih menghinggap di hatinya

"Oh tidak… kami tidak akan pindah, namun jika ada orang yang harus pindah… itu adalah kau"

"AKU?"

"Ya… kau harus pindah!"

Sehun menyeruput kopinya kemudian berjalan kearah Baekhyun yang berdiri mematung di tengah ruang tengah. Sehun menggapai satu tangan Baekhyun dan menggiring gadis itu untuk duduk di sofa bersamanya.

Sehun meletakkan cangkir kopinya yang setengah kosong diatas meja. Setelah itu kedua tangannya menggenggam erat kedua tangan Baekhyun dan berkata,

"Kau tau kan, aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri…"

Baekhyun masih diam. Dia tidak mau bertanya apapun karena yang dia inginkan hanyalah penjelasan.

"Dan maaf jika aku tidak meminta izinmu lebih dulu tapi aku sudah menceritakan tentang keadaanmu pada eomma dan appa… Setelah mendengar semuanya mereka pun setuju untuk mengajakmu tinggal bersama kami dan menjadi bagian dari keluarga Oh. Kedua orang tuaku akan menerimamu sebagai puteri mereka."

Hening menghinggapi percakapan searah Sehun pada Baekhyun, selama beberapa saat hanya ada suara alat berat yang bekerja di rumah sebelah. Gadis yang duduk di hadapan Sehun hanya terdiam dan tak tau harus bereaksi seperti apa. Disatu sudut hatinya, gadis itu merasa bahagia karena keluarga Sehun mau menerimanya dalam lingkungan keluarga besar yang amat terpandang itu. Baekhyun memang sudah tidak asing dengan keluarga Oh, namun ini sama saja akan memperpanjang daftar hutang budi Baekhyun pada Sehun. Dan dengan demikian di sudut hati Baekhyun yang lainnya, gadis itu merasa semakin menyedihkan dengan kehidupannya. Hidupnya sudah seperti menghandalkan belas kasihan dari orang lain.

"Kami memberikanmu tawaran ini bukan karena kami merasa kasihan atau iba padamu, Baek. Kami memutuskan itu semua karena kami menyukaimu, terutama eommaku, dia sangat menginginkan anak perempuan sejak dulu…"

"Luhan…. Dan isterinya Junhong nanti juga bisa jadi anak perempuan mereka kan?"

Baekhyun memotong penjelasan Sehun dan gadis itu jelas sekali menampakkan raut wajah tidak nyamannya. Sehun hanya bisa tersenyum dan sambil menggelengkan kepalanya.

"anak perempuan dengan menantu perempuan itu berbeda Baek… Luhan adalah menantunya keluarga Oh sementara kau, kau akan jadi menantu keluarga Park, tentu jika kau menikahi Chanyeol. Orang tuaku menerimamu sebagai seorang anak perempuan. Anak perempuan adalah anak yang akan membawa warna merah muda pada sebuah keluarga. Anak perempuan adalah anak yang akan membawa kebahagiaan beraura lembut untuk keluarganya. Anak perempuan adalah simbol kehormatan dan cerminan harga diri dari sebuah keluarga. Anak perempuan punya arti yang besar untuk sebuah keluarga. Meskipun orang tuaku tidak membesarkanmu sejak kecil, tapi… sebelum akhirnya nanti kau menjadi seorang menantu di keluarga Park, aku ingin kau juga merasakan rasanya menjadi seorang anak perempuan di sebuah keluarga dan tidak kesepian. Kau menginginkannya bukan?"

Gadis dengan mata sipit itu mulai terisak. Baekhyun tidak bisa menyangkal bahwa dirinya memang menginginkan itu, Baekhyun ingin merasakan menjadi seorang anak perempuan untuk keluarga yang normal. Selama ini Baekhyun memang mendapatkan kasih sayang penuh dari sang kakek, tetapi menjadi seorang anak perempuan dan seorang cucu perempuan adalah dua perihal yang berbeda. Rasanya tidak mungkin sama.

"Kau tau kenapa aku akhirnya memutuskan untuk membawa Luhan pulang ke rumahnya terlebih dahulu sebelum aku menikahinya nanti?"

Baekhyun menggeleng dalam isakan tangisnya. Sehun mengangkat tangan kanannya untuk menghapus air mata yang sudah membasahi pipi kekuningan milik Baekhyun.

"Itu karena aku ingin Luhan kembali merasakan rasanya jadi seorang anak perempuan. Menjadi seorang anak perempuan yang bahagia adalah hak Luhan yang aku rampas sejak dia mengandung kedua puteraku. Kau dan Luhan memang dua kasus yang berbeda, tapi… Hak menjadi seorang anak perempuanmu juga dirampas oleh satu garis kehidupan. Karena garis kehidupan bisa berbelok dan meskipun keluargaku memang bukan keluargamu, tapi… maukah kau menganggapnya seperti keluargamu sendiri?"

"Apa itu boleh?... apa aku boleh… jadi bagian dari keluargamu?"

"Tentu saja Baek… kau adikku sekarang, pintu rumah itu juga terbuka untukmu. Jadi…. Ayo kita pulang sekarang…"

.

.

.

"Jadi… kakek dan nenek… berasal dari Beijing, China?"

Tanya Jaehan ditengah acara makan siang keluarga Lu. Di meja makan hanya ada Tuan Lu, Nyonya Lu dan juga HunHan. Rumah itu memang selalu sepi di hari biasa, hanya pada saat akhir pekan keluarga Henry akan datang dan sesekali keluarga Junmyeon juga datang. Mulai hari ini Luhan kembali bekerja di butik yang selama ini sudah dia tinggalkan. Luhan memang sempat beberapa kali menelpon mamanya untuk bertanya bagaimana HunHan di rumah, bukannya tidak percaya pada orang tuanya sendiri, Luhan melakukan itu terlebih karena dia merasa tidak enak harus menitipkan buah hatinya di rumah. Luhan tau seberapa aktif dan penasarannya Jaehan dan juga seberapa rewel dan sibuknya Jaehun dengan semua buku dan jaringan internet untuk menjawab semua pertanyaan dari kembarannya. Dua hari ke belakang rumah keluarga Lu bisa dibilang cukup berantakan akibat ulah si kembar. HunHan mungkin cocok untuk dijadikan duta anak penasaran karena setiap hal yang mereka lihat di rumah keluarga Lu pasti akan mereka tanyakan asal – usulnya, kegunaannya, materialnya hingga bagaimana cara mendapatkannya. Tuan dan Nyonya Lu benar – benar dibuat repot oleh duo Hun dan Han yang terlalu kompak dalam setiap pertanyaan.

"Ne… kami adalah keturuan China. Kami baru mendapatkan kewarganegaraan Korea saat ayah dari kakek memegang perusahaan. Tapi keluarga Lu masih 100% orang China." tegas Tuan Oh dengan mimic wajah yang sengaja dibuat sesombong mungkin

"Bagaimana dengan Appa kami? Apa dia juga orang China?" tanya Jaehan lagi

"Marga kalian apa?" Tuan Oh balik bertanya pada si kembar

"OH!" mereka berdua kompak menjawab

"Jika kalian bermarga Oh berarti kalian… adalah orang Korea yang berasal dari China!"

Jaehun langsung menoleh pada adiknya ketika sang kakek memfonis mereka adalah orang Korea yang asalnya dari China. Bagaimana bisa orang Korea berasal dari China? Dan mulai dari sana mereka kembali penasaran.

"Maaf kakek tapi aku tidak mengerti…" ujar Jaehun dengan polosnya dan didukung oleh anggukan Jaehan.

Hari itu HunHan berakhir di ruang baca Tuan Lu. Baru hari itu mereka berhasil dibuat duduk dan diam diantara tumpukan buku – buku sejarah koleksi Tuan Lu. HunHan memang sudah bisa membaca Hangul dan sedikit mahir membaca alphabet namun buku – buku yang Tuan Lu punya memiliki tulisan berbeda yang tak bisa mereka baca.

"Hanja… ini namanya tulisan Hanja" ujar Tuan Lu ketika mendapati wajah – wajah 'no clue' dari cucunya

"Jadi bagaimana sejarah marga Oh, kek?" tanya Jaehan yang mulai mempernyaman posisi duduknya dan siap mendengar cerita dari sang kakek mengenai clannya.

"Marga Oh mulai di gunakan pada masa pemerintahan Raja JiJeung di kerajaan Silla pada tahun 500 – 514 masehi. Marga Oh dibawa oleh seorang keturunan Dinasti Zhou. Raja Ji Tai dari Dinasti Zhou memiliki tiga orang putera yaitu Taibo, Zhongyong dan Jili. Raja Ji Tai menunjuk putera bungsunya untuk meneruskan tahta kerajaan sementara Taibo dan Zhongyong diutus bersama para pengikut dan pengawal untuk mengembangkan bagian tenggara dan memberi nama daerah itu sebagai Negara bagian Wu. Sejak berdirinya Negara bagian Wu dari Zhou, marga Wu lantas digunakan untuk keturunan mereka. Karena pada zaman dahulu ada banyak pergolakan yang terjadi di setiap kerajaan dan banyak peperangan dimana – mana, salah satu keturunan Wu bernama Wu Chom berpindah ke Korea, tepatnya ke kerajaan Silla dan mulai hidup di Silla dengan sebutan Oh. Jadi marga Wu di China dengan marga Oh di Korea bisa dikatakan punya kaitan, mereka punya satu leluhur. Itu makanya, kalian adalah orang Korea namun nenek moyang kalian berasal dari China"

"Daebak…." Jaehan langsung menganggukkan kepalanya atas penjelasan sang kakek tentang sejarah singkat marga yang disandangnya.

"Paman dokter…. Marganya Wu kan?" celetuk Jaehun

"Majja… Paman Dokter Wu Yi Fan! Berarti sebenarnya paman dokter dan appa masih satu nenek moyang…. Uah…" Jaehan kembali merasa takjub akan tali persaudaraan tak langsung yang dimilikinya dengan sang Paman Dokter.

"Tapi kek, apa itu kerajaan Silla? Dan kenapa Silla ditulis dengan huruf Hanja?"

Jaehun menunjuk satu buku yang tadi dipegang oleh kakeknya, dan satu pertanyaan Jaehun itu adalah pertanyaan yang mengantar mereka untuk belajar sejarah Korea dari tuan Lu yang memang gemar mempelajarinya.

.

.

.

"Baekhyun baru saja masuk ke kamarnya yang baru bersama eomma. Eommaku benar – benar bersemangat mendandani kamar kosong itu menjadi kamar seorang anak perempuan. Kamar Baekhyun rasanya benar – benar seperti kamarmu, Lu"

Luhan tersenyum manis mendengar ocehan Sehun di telinganya. Tangan kiri Luhan memegang ponsel yang terhubung bersama Sehun sementara satu tangannya lagi memegang pensil warna untuk desain gaun yang dia buat.

"Eommamu pasti benar – benar ingin punya anak perempuan,"

"Sepertinya begitu, dulu waktu Junhong masih kecil eomma bahkan sempat memakaikan dress untuk Junhong"

Luhan kembali tertawa namun fokusnya masih pada desain yang dia buat.

"Kau sedang apa?" tanya Sehun

"Masih menyelesaikan sebuah desain gaun yang dipesan untuk pesta pertunangan. Aku ingin menyelesaikannya sekarang agar besok pagi sudah bisa dikerjakan oleh Tim ku"

"Lu… ini sudah hampir jam 8 malam, apa kau tidak ingin pulang?"

"Aku akan pulang jam 8…"

"Bagaimana dengan anak – anak? Aku sempat menelpon mamamu tapi dia bilang anak – anak sedang sibuk belajar… tumben sekali mereka belajar saat liburan akhir tahun."

"Mungkin papa mengajak mereka baca buku. Jaehun suka baca buku kan?"

"Kalau Jaehun, aku percaya… tapi Jaehan?"

"Ah… majja… aku akan mengeceknya nanti, kau sendiri sedang apa?"

"Aku di depan kamar Baekhyun, baru saja membawa barang – barangnya ke lantai dua."

"Aaaah…. Beruntungnya Baekhyun dia bisa tinggal di rumahmu…"

"Wae? Kau ingin tinggal di rumahku juga? Haruskah aku menikahimu sekarang?

Luhan kembali tersenyum lalu meletakkan pensil warnanya dan menghadap ke arah luar jendela kaca kantornya.

"Daripada menikah… aku malah ingin kembali merasakan rasanya… pacaran" ujar Luhan yang kini masih sibuk memandangi kerlip lampu kota di jendela kantornya

"Pacaran?"

"Ng… aku ingin merasakan yang seperti dating, dan sebagainya… nonton, makan malam romantis, jalan – jalan… yang seperti itu"

"Ahahahahahahaa…"

"Kau menterawakanku, Oh Sehun?"

"Kau terdengar seperti remaja 17 tahun, Lu"

"Terserah apa katamu Hun-ah… tapi bukankah kita melewatkan masa – masa seperti itu? Kita menikah setelah 5 bulan kita berpacaran. Kau Lupa?"

Sehun terdiam, pria itu tentu tidak lupa sama sekali. Pria itu jelas masih ingat jika mereka tak sekalipun pernah berkencan layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Saat mereka pacaran dulu pun mereka hanya bertemu di sekolah. Sialnya saja ketika kejadian itu terjadi, hujan turun lebat dan membuat mereka berdua tak langsung pulang.

"Jadi… kau mau berkencan?" tawar Sehun setelah beberapa saat hening

"Kau mau mengajakku?"

"Kapan jadwalmu kosong?"

"Sabtu… Minggu aku ada janji bersama Mama dan Papa untuk mengajak HunHan ke Namsan Tower"

"Call… sabtu… Tapi Minggu aku tidak bisa ikut ke Namsan"

"Wae?"

"Aku…. Mmm…"

"Ada pekerjaan?"

"Begitulah"

"Ne… kalau begitu kita bertemu hari sabtu. Boleh aku putus telponnya? Aku harus pulang sekarang.."

"Ne… kau bawa mobil sendiri?"

"Ani… Papa menugaskan seorang supir untuk mengantar dan menjemputku. Papa melarangku bawa mobil sendiri"

"Itu semua untuk kebaikanmu sayang.."

"Okay… Aku benar – benar harus pulang"

"Saranghae, Lu…"

"Hmmm… Nadoo…"

Luhan memutus sambungan percakapannya dengan Sehun. Selama mereka tidak bertemu mereka memang rajin saling menelpon satu sama lain. Sekedar bertanya apa yang sedang mereka lakukan atau menceritakan sesuatu menarik yang terjadi atau sekedar membahas HunHan yang ada di rumah Keluarga Lu.

Luhan melihat setiap sudut kota Seoul dari jok belakang mobil keluarga Lu yang membawanya pulang. Rintik – rintik hujan yang turun entah kenapa membuat Luhan malah merindukan Sehun. Luhan memang sudah mendapatkan kehidupan normalnya kembali. Luhan sudah mendapatkan keluarga dan hidup yang dulu dia tinggalkan, tapi entah kenapa hati Luhan masih tidak bisa sepenuhnya bahagia. Bukan bermaksud untuk tidak tau terima kasih, Luhan sangat bahagia atas semua yang dia dapatkan sekarang, namun kebahagiaan itu seperti ada yang kurang. Sehun, pria itu adalah faktor utama mengapa kebahagiaan yang Luhan rasakan saat ini tak bisa menjadi 100%. Dan hari ini Luhan harus mengakui, jika dirinya tidak bisa benar – benar bahagia tanpa Sehun. Luhan juga bukanlah Luhan yang dulu, saat ini wanita itu harus mengakui bahwa dirinya adalah Luhan, milik Oh Sehun.

Luhan turun dari mobil mewah ayahnya dan masuk ke dalam istana megah keluarga Lu. Bahkan kembali ke rumah itu membuat Luhan merasa janggal. Entah kenapa pulang kerumah keluarga Lu terasa bukan lagi haknya, hati dan pikiran Luhan lebih memilih untuk pulang ke rumah kecil mereka di Cheongdam-dong. Seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, Luhan membayangkan kehidupannya nanti ketika dia kembali menikah dengan Sehun. Dan sedikit demi sedikit cita – cita Luhan mulai berubah, wanita yang dulu berambisi menjadi seorang desainer terkenal, kini malah ingin menjadi seorang ibu rumah tangga yang menjadi primadona di rumahnya. Pertanyaan seperti makan malam apa yang kira – kira menjadi favorit suami dan anak – anaknya nanti, kegiatan apa yang mereka lakukan di akhir pekan nanti dan permainan apa yang akan menjadi kesukaan mereka nanti selalu menghantui pikiran Luhan dan membuat wanita itu tak bisa berhenti untuk tersenyum.

"Kau sudah pulang sayang?"

"Ah… mama…"

Nyonya Lu menghampiri Luhan yang baru saja akan masuk ke kamarnya. Kening Luhan mengerut ketika melihat beberapa selimut dan bantal yang di bawa oleh maid yang saat ini berdiri di belakang Nyonya Lu.

"Itu semua… untuk apa ma?"

"Ah… ini akan aku bawa ke ruang baca papamu"

"Apa papa punya kebiasaan tidur di ruang baca?"

"Hmmm… tidak, dia tidak punya kebiasaan seperti itu. Tapi sepertinya itu akan menjadi kebiasaan barunya sejak dia mengenal Jaehun dan Jaehan"

"HunHan? Apa mereka merepotkan Papa? Apa sesuatu terjadi?"

Nyonya Lu tidak menjawab pertanyaan puteri bungsunya itu. Wanita paruh baya dengan senyum menawan itu hanya mengambil tangan Luhan dan mengajak puterinya untuk ikut bersamanya ke ruang baca sang ayah. Luhan yang tidak mengerti hanya mengikuti ibunya tanpa banyak bertanya dan begitu ruang baca Tuan Lu terbuka, Luhan mendapatkan segala jawaban dari pertanyaan di kepalanya. Sesuatu memang telah terjadi.

Dengan jelas Luhan bisa melihat bagaimana buku – buku sejarah koleksi ayahnya berserakan sementara banyak kertas – kertas tercecer di lantai bersama percikan tinta dari kuas yang sudah mulai mongering. Diantara kertas – kertas yang tercecer ada banyak sekali coretan – coretan absurd menurut Luhan. Dan begitu Luhan melihat tangan dan baju HunHan yang sama absrudnya dengan coretan di kertas – kertas itu rasanya wanita itu tak perlu lagi bertanya siapa pelaku dari semua kegaduhan yang terjadi di ruang baca ayahnya.

Jaehun dan Jaehan sudah tertidur di sofa ruang baca Tuan Lu bersama beberapa kertas di atas tubuh mereka. Tangan dan baju mereka berisi kotoran bekas tinta hitam, bahkan pipi Jaehan benar – benar hitam sebelah. Di satu sofa single lainnya ada Tuan Lu yang juga tertidur sama pulasnya seperti HunHan. Demi apapun Luhan tak pernah melihatnya seberantakan itu. Penampilan Tuan Lu, sama absurdnya dengan penampilan kedua cucu kembar karya Sehun dan Luhan. Baju mahalnya terkena noda tinta, bahkan hidung dan kening tuan Lu juga berisi coretan tinta.

"Ah… apa yang terjadi, ma?"

Nyonya Lu hanya tersenyum lalu menyampirkan selimut diatas tubuh suami dan kedua cucunya yang mulai mengadu dengkur.

"Seharian ini, Jaehun dan Jaehan belajar tentang sejarah Korea bersama Papamu. Mereka berdua begitu antusias dan Papamu seperti bertemu teman sepermainan ketika mereka terus menerus bertanya. Mereka benar – benar akrab bersama"

Nyonya Lu memberikan penjelasan dengan senyum merekah sementara Luhan yang tak lagi bisa berkata apapun hanya bisa menganga. Kedua hasil karyanya bersama Sehun itu memang benar – benar biang kegaduhan.

"Mereka berdua juga belajar menulis Hanja. Aku tidak tau jika anak – anakmu begitu pintar. Jaehun begitu kritis sementara Jaehan begitu cepat menangkap semua yang diajarkan papamu. Ini… mereka sudah bisa menulis nama mereka dengan hanja"

Nyonya Lu menunjukkan satu kertas dimana ada coretan yang cukup tidak beraturan namun masih bisa ditangkap apa maksudnya.

"Besok mama akan mencari bingkai dan menggantung kaligrafi kedua cucu mama di sana" ujar Nyonya Lu sambil menunjuk satu space kosong di tembok ruang baca itu.

"Tapi mama… bagaimana dengan semua buku – buku dan bekas coretan tinta yang tercecer di lantai, karpet dan sofanya?"

"Luhaaaan… jangan khawatirkan benda mati yang bisa dibersihkan, dibuang atau dibeli lagi. Yang terpenting dari ini semua adalah papamu sudah berhasil membuat memori menyenangkan dengan cucunya di masa kecil mereka. Kau tau kan, kami tidak pernah menggendong mereka ketika mereka bayi. Hanya ini lah yang bisa kami lakukan agar kelak, mereka punya memori membahagiakan tentang kami di hidup mereka."

Mendengar penjelasan ibunya, Luhan hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Luhan setuju, kedua orang tuanya pasti merasa bersalah karena sudah melewatkan hampir 8 tahun dari masa kecil kedua buah hatinya. Dan memori masa kecil adalah memori berharga yang akan melekat pada mereka hingga mereka besar nanti.

Luhan berjalan mendekat pada Jaehun yang tidur dengan rapi di sofa, tangan kanannya terjulur untuk mengelus rambut Jaehun dan mencium pucuk kening putera sulungnya itu. Tangan Luhan merambat dari kepala Jaehun ke dadanya. Luhan meraba dada Jaehun dan merasakan ada detakan jantung yang tenang disana. Senyum mengembang di bibir Luhan, tak ada yang bisa membuatnya lebih tenang selain detakan normal jantung Jaehun. Luhan lalu beralih ke Jaehan yang tidur dengan pose tidak beraturan. Satu kakinya terangkat ke sandaran sofa dan satu tangannya tergeletak ke bawah. Dengan sedikit gelengan kepala Luhan memperbaiki posisi tidur si bungsu lalu mengecup keningnya. Tak ada yang lebih menyenangkan selain melihat kedua buah hatinya tenang dan nyaman seperti sekarang. Seandainya Sehun melihat ini, pria itu pasti akan tertawa geli sambil memeluk kedua buah hati mereka. Ah… Sehun. Apapun yang Luhan lakukan pasti akan ada nama Sehun yang tertera di dalamnya.

Luhan akhirnya mengeluarkan ponselnya lalu memotret moment itu dan membagikannya pada Sehun. Dan malam itu, lagi – lagi mereka berdua habiskan untuk saling bercerita satu sama lain melalui video call hingga keduanya berakhir dalam tidur yang lelap. Sehun tidur lebih awal malam itu, dan bisa Luhan lihat wajah tertidur Sehun yang persis dengan milik Jaehan. Dengan senyum lembut, Luhan mendekatkan ipad yang dia gunakan lalu mengecup wajah Sehun yang tertidur di layarnya.

"Selamat tidur sayang, aku mencintaimu"

.

.

.

Hari demi hari berlalu dan tibalah hari sabtu. Hari ini, Sehun dan Luhan punya janji berkencan. Selama beberapa hari ini Sehun sudah mengambil cutinya di kantor dan melakukan banyak kegiatan bersama keluarganya. Kegiatan utama yang Sehun lakukan adalah mengekori Junhong kemanapun adiknya itu pergi. Sudah beberapa hari Sehun ikut Junhong bekerja ke Mall keluarga mereka. Banyak pegawai yang kaget melihat Sehun ada di sana dan hanya berjalan – jalan mengekori Junhong yang memantau semua kegiatan di setiap sudut Mallnya. Beberapa kolega dan dewan direksi beberapa kali mempertanyakan untuk apa Sehun mengekori Junhong, beberapa dari mereka bahkan ikut menebak jika Sehun akan menduduki jabatan di Mall itu atau tidak.

Seperti hari ini, Sehun kembali mengekor di belakang Junhong yang sedang meninjau letak outlet Prada di lantai 2 mallnya. Sehun memang tak melakukan apapun, Sehun hanya bicara jika Junhong meminta pertimbangannya. Dan tanpa Sehun sangka, sikap diam dan coolnya itu malah membuat banyak pegawai wanita memandang kagum padanya. Pegawai – pegawai wanita itu tak habis pikir bagaimana bisa Keluarga Oh memiliki dua pangeran tampan di satu kerajaan. Tak hanya pegawai wanita, para pengunjung Mall pun tak melewatkan kesempatan emas untuk mencuri pandang pada ayah dua anak itu.

Jujur saja, Sehun agak risih dipandang seperti itu. Maafkan penampilan memikatnya yang tak bisa di tolak, Sehun memang amat sangat tampan, terlebih dengan tatanan rambut kakunya yang diangkat kesamping dan menampilkan jidat tampannya yang tak bisa dipungkiri lagi jika itu berhasil membuat Sehun malah jadi lebih tampan.

"Nah… ini dia… block nomor 7 di lantai 2. Luasnya 35 x 25 meter."

Junhong menunjuk satu block outlet kosong tepat di seberang outlet Prada dan Givenchi di Mall mereka.

"Block ini kosong?"

"Sampai saat ini aku sengaja mengosongkannya, meskipun ada beberapa brand yang mencoba menawar tempat ini tapi aku menolaknya, Hyung."

"Wae?"

"Karena block Outlet ini akan aku jadikan hadiah pernikahan untuk kakak iparku. Aku akan memberikan block ini kepada kakak ipar untuk membuka cabang butiknya. Block nomor 7 adalah yang paling strategis"

"Junhong-ah…"

"Hyung… ini bukan nepotisme, ini hanyalah sebuah kado pernikahan yang aku siapkan untuk kakak iparku sendiri. Aku juga ingin memberinya sesuatu karena di masa depan dia tidak hanya menjadi kakak iparku saja, tapi dia juga akan menjadi menantu tertua keluarga Oh dan bibi dari anak – anakku nanti."

"Luhan bisa saja tidak mau menerima ini"

"Kalau Luhan noona tidak menerimanya aku juga tidak akan menerima Luhan noona sebagai kakak iparku"

"Oh Junhong!"

"Bagaimana? Apa kira – kira ini cocok untuknya?"

Sehun menjawab dengan helaan napas ringan. Hampir 8 tahun rupanya waktu yang sangat banyak, Sehun bahkan sudah banyak melewatkan waktu untuk tumbuh bersama sang adik. Sehun bahkan tak yakin, kapan adiknya yang cengeng dan penakut itu berubah menjadi pria tampan dan keren seperti sekarang?

"Ku rasa ini… cocok sekali" ujar Sehun dengan senyum mantap

"Harus kah aku mendandaninya juga?"

"Itu terserahmu, ini kan hadiahmu untuknya"

"By the way hyung, ini sudah jam 3 siang. Jam berapa janji kencanmu bersama kakak ipar?"

"Aku akan berangkat 10 menit lagi, aku memesan satu buket bunga di florist lantai 3"

"Semoga kencanmu berhasil,hyung!"

"Terma kasih atas bantuanmu Oh Junhong"

Sehun menepuk bahu sang adik sebelum akhirnya pria itu pergi untuk bersiap – siap. Sebelumnya Sehun sudah mengirim pesan pada Luhan dan wanita cantik itu bilang dia sedang bersiap – siap. Awalnya Sehun dan Luhan sedikit bingung untuk mencari alasan agar Jaehun dan Jaehan tidak ikut agenda mereka hari ini, namun Yixing datang bak malaikat yang menyelamatkan mereka. Pagi tadi Yixing datang ke rumah keluarga Oh untuk mengajak HunHan dan Krystal bermain bersama Junmyeon di rumah mereka. Entah mengidam macam apa yang Yixing alami, wanita berlesung pipi itu sangat ingin melihat banyak anak kecil menemaninya.

Sehun mematut penampilannya di ruang kerja Junhong. Kali ini Sehun menggunakan Stretch Poplin Shirt berwarna biru muda dan Deep V Neck Long Sleeved Jumper berwarna hitam karya Alexander McQueen yang dipadukan dengan Regimental Cashmere Coat with Detachable Mink Colar hitam karya Burberry dan Marc Marinier Cotton Color Block Pants in Black karya Marc Jacobs, seluruh penampilan Sehun lalu disempurnakan oleh Ck Jeans Espen Coated Suede Chukka Boot karya Calvin Klein yang menjadi alas kakinya. Sehun benar – benar bak super model pria kelas internasional yang baru saja mengikuti sesi pemotretan Mix and Match Design by Vogue Winter session.

Sebenarnya, tanpa semua pakaian mahal itu Sehun sudah sangat tampan. Meskipun dia hanya menggunakan celana kain dan kemeja biasa, Sehun pun tetap tampan. Sehun itu seperti seorang pria yang dikutuk untuk jadi tampan. Setelah puas dengan penampilannya, Sehun pun akhirnya pergi untuk menjemput Luhan.

Jantung Sehun berdegup kencang seakan ini adalah kencan hari pertama mereka, seakan mereka baru saja berpacaran tanpa pernah menikah sebelumnya. Sehun merasakan gugup yang biasanya dirasakan oleh orang yang baru saja berhasil menyatakan cintanya pada sang kekasih. Mobil Sehun terus melaju ke daerah Pyeongchang dimana rumah keluarga Lu berdiri kokoh. Entah apa yang salah, tapi sore ini jalanan terasa begitu lengang dan membuat Sehun sampai di rumah Luhan bahkan beberapa menit lebih awal dari waktu yang mereka sepakati.

"Hai... menantuku, ayo silakan masuk…" sambut Nyonya Lu dengan senyum manis di wajahnya yang cantik ketika melihat menantu bungsunya berdiri di depan pintu rumahnya bersama sebuket besar bunga mawar merah yang dibalut dengan kertas hias berwarna emas dan pita merah maroon.

"Apa Luhan sudah siap?"

"Ah… anak itu seperti anak gadis yang baru pertama kali berkencan! Sudah 4 jam dia siap – siap dan masih saja belum turun"

Pengakuan nyonya Lu membuat perut Sehun terasa geli, seperti ada yang menggelitik six pack samarnya ketika dia tau bahwa Luhan juga seantusias dirinya akan kencan mereka hari ini. Nyonya Lu mempersilahkan Sehun untuk duduk di ruang keluarga bersama secangkir the hijau dan beberapa snack yang terbuat dari tepung gandum dan madu. Tuan Lu tidak ada di rumah, Tuan Lu ikut bersama semua cucunya bermain di rumah Yixing. Hanya Nyonya Lu yang tinggal di rumah karena beliau harus mengurus beberapa hal yang berkaitan dengan persatuan isteri – isteri pemilik perusahaan.

"Jadi… kapan kau akan menikahi puteri mama?"

"Aku masih belum yakin kapan, tapi mungkin sekitar dua bulan dari sekarang"

"Apa itu tidak terlalu lama?"

"Apakah itu terlalu lama, Ma?"

Sehun malah balik bertanya pada ibu mertuanya. Dalam pikiran Sehun, 2 bulan bukanlah waktu yang lama untuk menyiapkan sebuah lamaran pernikahan beserta segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menikah. Jujur saja Sehun tidak mau membuat segalanya kacau, Sehun ingin pernikahan kedua mereka adalah pernikahan yang terbaik untuk mereka.

"Jangan tertekan dengan pertanyaan itu, Nak… Mama bertanya demikian karena Luhan tampak tidak betah di rumah ini."

"…"

"Tidak betah dalam artian yang positif tentunya. Luhan selalu ikut sarapan dan pergi bekerja lalu pulang agak malam, dan ketika dia punya waktu Luang yang dia bicarakan hanya Sehun, Sehun dan Sehun. Ketika kami membicarakan makanan, dia pasti membicarakan tentang makanan kesukaan Sehun. Ketika kami membicarakan film, dia pasti membicarakan tentang film kesukaan Sehun. Ketika kami membicarakan fashion, dia pasti membicarakan tentang fashion style Sehun."

"Ah… benarkah dia membicarakan aku, Ma?"

"Jika bukan kau, lalu Sehun yang mana yang dibicarakan puteri Mama?"

"Kalian pasti sedang membicarakan aku, kan?"

Suara Luhan menginterupsi percakapan menantu dan mertua itu. Sehun refleks berdiri ketika Luhan datang ke ruang tengah. Luhan benar – benar cantik hari ini. Fashion statement yang mereka pilih hari ini memang baby blue, itu sesuai dengan permintaan Luhan. Meskipun Sehun masih lebih banyak menggunakan warna hitam di tubuhnya namun kemeja biru muda yang apik itu cukup menonjol dan sangat serasi dengan dress yang Luhan kenakan. Luhan tampil sangat anggun dengan balutan Applique-detail long sleved dress berwarna biru muda sepanjang lututdengan beberapa aksen bunga berwarna hitam di bagian kerah sampai dadanya dan winter special black tight yang membungkus seluruh kaki jenjangnya. Itu adalah winter dress terbaru koleksi butik Luhan, wanita itu memang berbakat untuk membuat dress manis yang sangan cocok dipadukan dengan French Connection Natural Black Ankle Boots dan sebuah clutch bag hitam karya Hermes.

Ada tatanan hair do sederhana di rambut hitam Luhan. Luhan membuat beberapa jalinan di rambutnya dan ditata sedemikian rupa hingga membuat wajah cantiknya benar – benar elegan. Luhan tidak pernah menyukai make up yang tebal, wanita itu selalu sukses memukau siapa saja hanya dengan make up natural dan sedikit bantuan blush on di pipinya. Cantik sekali. Sehun sempat menganga selama beberapa detik sebelum akhirnya dia ingat bahwa image tampannya juga perlu dijaga.

"Wah… kau cantik sekali sayang, Sehun juga terlihat tampan. Kalian berdua memang pasangan serasi"

Luhan tersenyum manis mendengar pujian dari mamanya, begitu pula dengan Sehun yang entah kenapa bisa jadi sangat salah tingkah.

"Ini… untukmu yang cantik"

Sehun menyerahkan buket bunganya pada Luhan. Wanita itu terlihat cukup kaget karena Sehun tak pernah sekalipun memberikannya buket bunga. Buket bunga mawar merah dengan hiasan emas dan pita merah maroon itu adalah yang pertama bagi Luhan. Luhan mencium wangi bunga mawar yang sama indahnya dengan dirinya itu dan mendapati wangi – wangi lembut menyapa indera penciumannya. Ingin sekali Luhan memeluk Sehun saat ini namun dia tentu masih ingat jika Nyonya Lu ada disini.

"Kalau begitu… kita berangkat sekarang?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Belum TBC kok

.

.

.

[Author note nyempil]

So…. Ini adalah batas suci yang Aruna buat. Ya… ini batas suci yang mengakhiri jalan cerita "Angst" di FF Ex-Husband Next Door ini. Karena setelah kalian melewati batas ini, kalian tidak akan menemukan bagian Angst lagi. Wahahahaha… Oh ya, disarankan untuk membaca lanjutan cerita ini sambil mendengarkan lagunya The Chainsmokers yang judulnya All We Know ya… because thanks to that song, Aruna bisa bikin adegan yang akan terjadi setelah ini. Que

.

.

.

.

.

Fighting flames of fire
Hang on the burning wire
We don't care anymore
Are we fading lovers?
We keep wasting colors
Maybe we should let this go

.

.

.

.

.

Sehun mengajak Luhan ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Seoul yang tak lain dan tak bukan adalah pusat perbelanjaan dan duty free milik ayahnya. Dengan bangga Sehun menggandeng tangan Luhan menyusuri setiap block brand yang berjajar dengan megahnya. Semua orang menatap mereka dengan tatapan berbagai rasa. Ada yang menatap mereka takjub, pasalnya Luhan dan Sehun terlihat amat serasi ketika mereka berjalan bersama. Ada yang memandang iri pada Luhan karena wanita cantik itu datang bersama seorang pria super tampan yang sudah mereka damba selama beberapa hari ini. Ada pula yang menatap mereka ramah karena sadar jika pria yang datang bersama Luhan adalah putera sulung pemilik Mall itu.

Wanita cantik yang berstatus sebagai ibu dari kedua putera kembar Sehun itu pun harus diliputi kebingungan oleh setiap pasang mata yang memandang mereka. Luhan tambah merasa tidak enak ketika para pegawai mulai membungkukkan badan mereka kearahnya dan Sehun. Luhan bukannya tidak tau jika Sehun adalah putera pemilik semua aset di gedung itu, Luhan hanya merasa risih karena tatapan seperti itu tak pernah dia sukai.

"Tersenyumlah… kau adalah calon Nyonya Oh berikutnya" bisik Sehun seiring dengan seringaian tampan yang hanya dia berikan pada Luhan

"Tapi aku tidak nyaman karena mereka memandangi kita seperti itu. Mereka menyeramkan" balas Luhan yang juga berbisik pada Sehun, wanita cantik itu pun tambah mengeratkan pegangan tangannya pada Sehun.

"Sebenarnya apa yang akan kita lakukan disini?" Luhan mengerutkan keningnya sementara pandangannya dia lempar kesegala arah

"Taadaaa…"

Sehun mengeluarkan dua buah tiket dari saku coatnya. "Kita akan nonton film barunya Jo Jung Suk. Bukankah dia aktor favoritemu?"

Luhan meraih dua tiket itu dari tangan Sehun kemudian menelitinya dengan seksama. "My Annoying Brother". Tidak salah lagi, itu memang tiket untuk menonton film terbaru aktor kesukaannya. Senyumnya merekah manis lalu menatap Sehun dengan kedua mata beningnya, "Terima kasih sayang, aku kira kau masih cemburu pada Jo Jungsuk oppa"

"Eish… untuk apa aku cemburu padanya. Kau kan milikku, lagi pula, bukankah aku lebih tampan dari Jo Jungsuk?"

"Mwo?"

Luhan tertawa melihat Sehun yang menyombongkan dirinya itu, tapi tetap saja Luhan memang harus mengakui jika sesungguhnya memang Sehun lebih tampan dari pria manapun yang pernah dia gilai sebagai idol atau aktor favoritenya.

Sehun benar – benar mengajak Luhan kencan ala anak remaja. Karena ketika Luhan duduk di ruang tunggu sementara Sehun mengantri untuk membeli Pop Corn, wanita itu hanya bisa melihat para pasangan muda yang juga sedang berkencan. Jika Luhan boleh menebak, mungkin hanya dirinya dan Sehun lah satu – satunya pasangan suami istri yang sudah bercerai tapi kembali rujuk. Luhan tak henti – hentinya tersenyum melihat Sehun yang mengantri pop corn, gadis itu kembali teringat saat dulu Sehun mengajaknya nonton untuk pertama kali. Waktu itu mereka masih menggunakan seragam sekolah mereka.

Diam – diam Luhan mengambil foto Sehun dengan wajah seriusnya di depan seorang kasir yang bertanya apakah dia ingin pop corn rasa manis atau asin. Beberapa foto yang Luhan ambil terlihat benar – benar lucu menurutnya. Meskipun Sehun sudah menjadi pria dewasa dan memiliki dua orang buah hati bersamanya, tapi Sehun masih tetap punya sisi imutnya sendiri di mata Luhan. Tanpa ragu, Luhan mengupload foto candid Sehun ke instagramnya dengan caption.

"Our first date, again"

CHUP

Tubuh Luhan mengejang sesaat, rasanya seperti di sengat listrik dengan kekuatan besar saat dia merasakan ada sesuatu yang menyentuh keningnya. Luhan pun mengangkat wajahnya yang tadi terfokus pada ponsel pintarnya. Dan Luhan tak bisa menahan senyum manisnya ketika mendapati Sehun lah yang mengecup keningnya barusan. Sehun menunduk di hadapan Luhan dengan tangan kanan berisi pop corn ukuran jumbo dan tangan kiri berisi satu cup cola yang juga berukuran jumbo.

"Kau mengambil fotoku tanpa izin" gumam Sehun yang kini mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan

"Masih lebih baik dari apa yang kau lakukan padaku"

"Memangnya apa yang aku lakukan padamu?"

"Kau mengecup keningku tanpa izin"

"Itu adalah hukuman untukmu,"

"Hukuman?"

"Ya… itu adalah hukuman karena kau sudah mencuri hatiku tanpa izin"

Luhan tak bisa menahan tawanya lagi, hatinya setengah tidak percaya. Apakah benar pria tampan yang barusan menggombal dihadapannya adalah seorang Oh Sehun? Ya Tuhan, Luhan benar – benar merona saat ini, tubuhnya terasa panas padahal udara jelas – jelas sangat dingin.

.

.

.

.

.

We're falling apart, still we hold together
We've passed the end, so we chase forever
'Cause this is all we know
This feeling's all we know….

.

.

.

.

.

Setiap orang pasti memiliki cerita dalam hidupnya sendiri. Dulunya Luhan percaya jika setiap orang adalah pemeran utama dalam kehidupan masing – masing. Tapi entah kenapa hari ini Luhan baru menyadari jika dalam hidunya saat ini, pemeran utamanya adalah Oh Sehun. Pria tampan dengan rahang tegas, alis mata tebal, hidung mancung dan bibir tipis berwarna merah alami. Oh Sehun adalah pemeran utama yang menjadi pusat dalam kehidupan Luhan, karena kini Luhan sudah berani mengakui bahwa tanpa Oh Sehun, hidupnya sama sekali tidak menyenangkan.

Oh Sehun, pria berusia 25 tahun itu adalah segalanya untuk Luhan sejak Luhan menyerahkan dirinya secara utuh pada pria itu pertama kali. Kehidupan seorang Luhan bukanlah kehidupan mainstream dengan segudang mimpi anak gadis tentang pernikahan yang sempurna walau Luhan masih tetap mengakui bahwa dulu dia sempat memilikinya. Dulu Luhan sama sekali tidak pernah berpikir jika dia akan menikah dan jadi seorang ibu di usia muda, Luhan sama sekali tidak pernah berpikir bahwa dia akan menjadi janda tepat setelah 2 tahun dia menikah, Luhan pun sama sekali tidak berpikir bahwa dia akan menjalani hiudp yang tak karuan dengan kisah cinta tarik ulurnya bersama Sehun. Ya Oh Sehun, dia adalah sumber malapetaka dan juga sumber kebahagiaan bagi Luhan.

Karena seorang Oh Sehun lah, hidup Luhan menjadi berbeda dari yang lain. Karena seorang Oh Sehun, Luhan merasakan sakitnya berada di titik terbawah dan bahagianya berada di puncak. Karena seorang Oh Sehun, Luhan mengerti artinya berjuang dan memperjuangkan. Karena seorang Oh Sehun, Luhan pun tau rasanya diperjuangkan setengah mati. Karena seorang Oh Sehun, Luhan mampu menjadi orang yang seperti sekarang.

Jika Luhan diberikan kesempatan sekali lagi untuk mengulangi kehidupannya, Luhan bersumpah akan menempuh jalan yang sama. Luhan sama sekali tak ingin mengubah apapun dalam hidupnya, meski terdapat banyak rasa pahit di dalamnya, namun itulah yang membuat Luhan semakin kuat dan semakin mencintai Oh Sehun, kehidupannya, lelaki yang memberikannya kesempatan untuk menjadi seornag ibu dari dua bocah lucu bernama Oh Jaehun dan Oh Jaehan.

Saat ini Luhan berada dalam mobil Sehun, dia tidak tau Sehun akan membawanya kemana. Luhan pun sebenarnya tidak peduli. Dibawa ke pelaminan juga tidak masalah.

"Namsan Tower?"

Luhan bergumam ketika mobil Sehun berbelok masuk ke area sungai Han. Ibu dua anak itu kembali tersenyum ketika menyadari bahwa kali ini mantan suaminya itu tengah benar – benar mengikuti semua keinginannya untuk berkencan ala anak remaja yang sedang kasmaran. Nonton film, Namsan Tower lalu Sungai Han. Luhan tidak begitu yakin dengan opsi terakhir, tapi Sehun benar – benar mengajaknya bermain ke namsan tower.

"Khajja kita akan naik cable car" ujar Sehun sesaat setelah dia menarik rem tangan mobilnya

"Kita akan naik benda itu?" Luhan menunjuk benda kotak yang menggantung pada sebuah kabel di atas mereka.

"Aku tau kau takut ketinggian sayang, tapi kau akan ada bersamaku. Jadi… jangan khawatir. Aku akan menjagamu"

"Tapi aku benar – benar tidak menyukai ketinggian, Oh Sehun"

"Aku akan menjagamu"

"No way!"

Sehun mendengus ringan kemudian membuka seat beltnya dan keluar dari dalam mobil. Sehun berjalan ke arah kanan lalu membuka pintu yang ada di samping Luhan. Keduanya saling tatap untuk beberapa saat. Luhan menatap Sehun dengan tatapan kakunya namun Sehun hanya menatap Luhan datar.

Mungkin Luhan lupa jika pria yang dia hadapi adalah seorang Oh Sehun, pria itu akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya. Sehun berjongkok di luar mobil dengan satu lutut menyentuh tanah. Kedua tangannya menggenggam tangan Luhan sedangkan pandangan mata sipitnya yang tajam tapi hangat disaat yang bersamaan itu terus menatap Luhan dengan lembut.

"Aku akan menjagamu, sesuatu yang buruk tidak akan terjadi padamu jika kau bersamaku. Kau percaya padaku, kan?"

Tatapan mata Sehun melelehkan kebekuan Luhan. Bukannya Luhan meragukan Sehun yang sudah jelas akan menjaganya, tapi Luhan benar – benar takut dengan ketinggian. Luhan bahkan lebih baik disuruh jalan kaki ke manapun daripada harus naik pesawat.

"Haaaah…"

Luhan menghela napas panjang untuk meredakan ketakutannya. Memikirkannya saja Luhan sudah mulai gugup, kakinya sudah mulai melemas dan tangannya pun bergetar. Tapi tunggu, biasanya jika ketakutan Luhan akan ketinggian datang padanya, Luhan pasti akan merasakan tangannya membeku, tapi saat ini tangan Luhan terasa begitu hangat dan nyaman. Ya… itu karena genggaman tangan Sehun pada tangannya saat ini. Begitu hangat, begitu lembut dan begitu menenangkan.

"Hun-ah…"

"Ya?"

"Berjanjilah untuk tidak melepaskan tanganku selama kita menaiki benda itu"

Sehun tersenyum, tangan kanannya terangkat untuk mengelus pipi lembut Luhan lalu berkata, "seumur hidup… aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu. Aku berjanji" dan kalimat penuh makna itu ditutup oleh kecupan Sehun pada tangan Luhan.

.

.

Sehun dan Luhan sudah berada dalam cable car saat ini. Bisa Sehun rasakan bagaimana eratnya tangan kiri Luhan mencengkram tangan kanannya. Sehun akui sebenarnya itu sakit, tapi Sehun rela sakit jika itu untuk Luhan.

Cable car mulai bergerak dan cengkraman Luhan pun semakin erat pada tangan Sehun. Sehun menundukkan kepalanya untuk melihat apakah Luhan baik – baik saja atau tidak. Dan pria itu mendapati wanita tercintanya menjadi begitu pucat dan berkeringat. Bola mata Luhan pun bergerak – gerak panik melihat bahwa kini mereka sudah mulai berada lebih tinggi daripada gedung – gedung di sekitar mereka.

Tangan kiri Sehun yang bebas Sehun gerakkan untuk meraih bahu kanan Luhan lalu dengan gerakan cepat Sehun menarik Luhan untuk masuk kedalam pelukannya. Dan saat ini wajah Luhan berada tepat di dada Sehun, perlahan Sehun mulai mendekapnya dengan lembut dan penuh kehangatan, satu kecupan mesrapun Sehun berikan di pucuk kepala Luhan yang ajaibnya bisa membuat degupan panik di jantungnya membaik.

"Tenanglah… ada aku disini. Kau boleh memelukku jika kau takut" bisik Sehun dengan suara beratnya yang khas dan bernada rendah. Perlahan Luhan mulai menaikkan tangan kirinya untuk memeluk tubuh Sehun, sementara tangan kanannya masih terus menggenggam tangan Sehun.

Ada rasa hangat dan nyaman menusup ke tubuh Luhan secara tak kasat mata. Kakinya kini tak lagi terasa melayang dan napasnya sudah bisa dia atur dengan baik. Pelukan Sehun, meredakan ketakutan hebatnya pada ketinggian. Pelukan Sehun membuatnya begitu nyaman dan melupakan fakta bahwa dirinya berada di ketinggian yang bisa saja membuatnya jatuh pingsan karena ketakutan.

Itu adalah pertama kalinya Luhan naik ke Namsan Tower. Sebelumnya Luhan memang tak pernah kesana, alasannya tentu tidak lain dan tidak bukan adalah ketakutan Luhan pada ketinggian. Tapi bersama Sehun, hal yang paling menakutkan baginya pun bisa dia taklukkan dengan baik. Dan Luhan pun menarik kesimpulan bahwa tak ada yang tak bisa dia lakukan, karena Oh Sehun ada disampingnya, bersamanya, menjaganya.

Luhan dan Sehun benar – benar seperti pasangan remaja yang dimabuk cinta pada kencan pertama mereka. Kedua orang tua dari Oh Jaehun dan Oh Jaehan itu mencoba segala jajanan yang ada di sana. Mulai dari corn dog sampai dengan potato twist. Sesekali mereka akan mengingat kedua putera mereka yang tak mereka ajak hari ini. Yah… bagaimana pun mereka berdua tak akan bisa mengelak bahwa mereka sudah menjadi orang tua. Dan setiap orang tua pasti akan mengingat anak mereka ketika mereka melakukan hal menyenangkan seperti ini.

Sehun mengajak Luhan menaiki Elevator menuju galaxy bersama satu cup ice cream di tangan Luhan. Jika tidak diberi tahu, orang – orang di sekitar Luhan pasti mengira bahwa wanita itu adalah anak sekolah menengah atas yang sedang pacaran dengan kakak kelas tampannya. Mereka terlalu imut berdua.

"Katanya… jika kita memasang gembok cinta kita di sini, maka cinta kita akan abadi selamanya"

Luhan menggandeng tangan Sehun menuju ke gembok – gembok cinta yang terpasang di pagar Namsan Tower. Gembok dengan berbagai warna itu tertulis nama dan harapan orang – orang akan cinta mereka agar selalu abadi selamanya.

"Eih… ini terlalu kekakankan Lu…" Sehun masih sempat mengejek Luhan karena Sehun tau kemana arah pembicaraan wanita yang tangannya tak pernah lepas dia genggam hari ini.

Luhan mempoutkan bibirnya dan memberikan tatapan puppy eyes yang sangat imut pada Sehun. –'Ah…. Jaebal jangan bertingkah seperti ini Lu…' – Sehun menggerutu dalam hatinya merutuki wajah imut Luhan dihadapannya saat ini. Sehun tidak bisa tahan dengan Luhan yang seperti itu. Luhan begitu menggemaskan dan jika ini dibiarkan, sepertinya Sehun perlu mencari toilet. Sehun tidak pernah bisa menahan hasrat dalam dirinya jika Luhan sudah merengek manja dan mengeluarkan mimik handalnya.

"Memangnya kau… percaya pada semua omong kosong ini?"

"Ini bukan omong kosong, asal kau tau saja!"

"Kau mempercayainya?"

Luhan mengangguk imut

"Wae? Ini kan mustahil"

"Segala sesuatu yang mustahil bisa saja terjadi jika kita mempercayainya. Rujuk kembali denganmu juga dulu terasa mustahil untukku, tapi waktu itu aku percaya jika suatu saat kita bisa kembali bersama lagi. Dan itu terjadi. Itu semua karena aku percaya. Aku percaya padamu."

Sehun melipat bibirnya begitu mendengar penjelasan Luhan. Jujur saja Sehun tidak sama sekali meragukan kepercayaan Luhan akan gembok cinta itu. Hanya saja Sehun merasa itu menyenangkan bisa sedikit menggoda wanita tercintanya itu.

"Kalau begitu ayo kita buat gembok kita"

Sehun menarik tangan Luhan untuk pergi ke sebuah outlet souvenir yang menjual berbagai macam jenis gembok. Dan baru selangkah Sehun berjalan, Luhan menahan tangannya

"WAIT!"

"Ng?"

"Sehun x Dahye…. Siapa Dahye?"

Luhan membaca salah satu gembok yang ada di hadapannya, gembok berwarna pink itu bertuliskan nama Sehun dan Dahye.

"Dahye?"

Sehun mengerutkan keningnya lalu menatap pada gembok yang Luhan tunjuk. "Aku tidak mengenal Dahye…" ujar Sehun dengan tampang polos setengah takut jika Luhan ngambek karena gembok itu, demi HunHan itu bukan miliknya.

"Eoh! Ini ada lagi… Sehun x Hyejin… Hyejin itu siapa lagi?"

Luhan menunjuk gembok lain yang bertuliskan nama Sehun dan Hyejin. Raut wajah Luhan terlihat kesal dan itu membuat Sehun semakin gugup.

"Aku tidak tau siapa dia Lu, Dahye… Hyejin… meolla…"

"Kau tega, Oh Sehun… kau datang kemari dan menulis namamu bersama perempuan lain, tapi kau menolak permintaanku barusan dan mengatainya kekankan? Kau tega!"

"Ya! Aku tidak tau siapa mereka… aku bersumpah…"

"BUAHAHAHAHAHAHAHAHAAAAA"

Luhan tak bisa menahan tawanya lagi ketika dia berhasil membuat Sehun panik bukan main. Wanita itu bahkan tertawa seperti orang gila yang kegirangan. Luhan benar – benar mentertawai wajah Sehun dengan sepuas hati. Raut wajah Sehun mengeras,

'dasar rusa nakal! Kau akan mendapatkan balasannya nanti. Saat ini kau masih beruntung karena aku belum bisa menyentuhmu, tapi nanti… awas saja… kau tidak akan bisa lolos dari hukumanmu rusa nakal'

Sehun membatin dengan wajah datar dengan pipi memerah, jujur saja dia merasa bodoh karena percaya jika barusan Luhan benar – benar ngambek. Nampaknya Sehun lupa jika Luhan pun tau bahwa Sehun tidak akan bisa mencintai orang lain selain Luhan.

"Aku tidak mau bermain lagi denganmu!" ujar Sehun ketus lalu berbalik dengan hentakan kaki, persis seperti Jaehan yang sedang ngambek pada Jaehun yang menyuruhnya berhenti main untuk mandi.

"Eoh… uri Hunnie ngambek ya…? Aigooo… maafkan aku sayang… aku hanya bercanda"

Luhan mengejar Sehun dan membujuk pria tampan itu untuk memaafkannya. Meskipun begitu, Sehun yang pura – pura ngambek tetap menuju ke sebuah souvenir outlet di dekatnya untuk menuruti keinginan Luhan. Membuat gembok cinta mereka.

.

.

.

.

.

I'll ride my bike up to the road
Down the street right through the citty
I'll go everywhere you go
From Chicago to the Coast
You tell me, "Hit this and let's go
Blow the smoke right through the window"
'Cause this is all we know….

.

.

.

.

.

.

Sehun mengamati dengan seksama bagaimana Luhan begitu antusias menulis harapannya di sebuah gembok berwarna putih dengan bentuk hati berwarna biru di dalamnya. Sehun bahagia meskipun hanya dengan menatap wajah ceria Luhan. Jelas karena senyum milik ibu dari kedua puteranya itu adalah hal yang paling berharga untuknya. Senyum itu lah yang akan selalu Sehun perjuangkan, tak akan pernah membuat senyum itu pudar dan merubahnya menjadi tangisan lagi. Cukup sekali Sehun membuat segalanya berantakan, pria itu tidak akan pernah mengulangi semua kesalahannya lagi. Terlebih karena dia sudah susah payah untuk memperbaiki semuanya hingga di titik ini. Titik dimana dia bisa menikmati senyum Luhan sebagai miliknya.

Sehun tau jika dia benar – benar mencintai Luhan. Mencintai wanita itu adalah segalanya yang dia ketahui tentang hatinya. Dan rasa cinta yang Sehun miliki ini membuat Sehun selalu berakhir dengan mengikuti kemanapun langkah Luhan, tentu karena tujuan hidupnya adalah membahagiakan wanita itu dan kedua malaikat kecil hasil karya mereka berdua.

Entah mengapa, mata Sehun mendadak terasa panas dan berkabut. Gentaran dihatinya membuat pria tampan itu ingin menangis bahagia. Demi apapun dia masih belum percaya jika ini semua nyata. Luhan kembali kedalam pelukannya lagi, Luhan jadi miliknya lagi.

"Aku sudah selesai menulis, sekarang giliranmu" Luhan menyerahkan gembok berwarna putih itu pada Sehun beserta spidol permanen untuk menuliskan harapannya. Sejenak Sehun membaca apa yang Luhan tulis disatu sisi gembok itu, kemudian senyumnya mengembang.

Sehun (heart) Luhan
together forever, with love for life
Saranghajja!

"Aku tidak tau harus menulis apa," jujur Sehun yang masih memandangi gemboknya.

"Jika kau tidak tau mau menulis apa, kau boleh menggambar sesuatu"

"mmmm… okay… aku akan menggambar"

Sehun menarik gembok itu dekat kearahnya untuk mengukir sebuah gambar yang merupakan harapannya. Ketika menggambar sesekali Sehun tersenyum geli dan pipinya pun merona merah, membuat Luhan penasaran akan apa yang pria tampan itu gambar.

"Ya… kau menggambar apa?"

"Aku belum selesai…"

"Tapi kenapa kau tertawa seperti itu? Ya… pipimu kenapa jadi merah, Hun-ah…"

"Aaah… sabar sebentar Lu…"

"Jangan bilang kau sedang menggambar hal – hal konyol disana!"

Sehun mengangkat wajahnya dan menatap Luhan dengan tatapan tajamnya yang dingin,

"Kenapa kau menatapku begitu?"

Sehun tak menghiraukan pertanyaan Luhan namun kembali menggambar sesuatu di gemboknya. 3 menit kemudian, Sehun nampak memandang hasil karyanya lalu tersenyum puas.

"Sekarang lihatlah…"

Luhan mengambil gembok putih itu dari tangan Sehun. Dan reaksi Luhan setelah melihat gambar itu benar – benar sama seperti Sehun. Wanita itu tersenyum manis dengan pipi merona.

"Kau menggambar keluarga kita?"

Sehun tersenyum lebar dan mengangguk. "Ini aku, ini kau, ini Jaehunie dan ini Jaehanie…" Sehun menunjuk beberapa karakter yang dia buat dengan telunjuknya.

"Lalu ini?"

"Ng?"

"Wajah tersenyum yang menggunakan pita ini… siapa?"

"ah itu… itu adalah adiknya HunHan nanti"

BOOM! Jantung Luhan seperti meledak setelah mendengar penjelasan Sehun, pipi mulusnya kini benar – benar merah karena malu dan bahagia di saat bersamaan. Oh demi seluruh planet di galaxy, sejak kapan seorang Oh Sehun bisa seimut itu.

"Aku ingin punya satu anak perempuan lagi. Punya anak perempuan yang imut sepertimu sepertinya sangat menyenangkan"

Jujur saja jika ini bukan di ruang publik, Luhan ingin sekali berjingkrak girang seperti kodok di tengah hujan. Demi apapun hati Luhan meleleh dengan pernyataan Sehun barusan.

"Lalu bagaimana jika aku hamil dan melahirkan anak laki – laki untuk adik HunHan?"

"Mmmm… tentu kita harus terus berusaha lagi untuk mendapatkan anak perempuan!"

"YA! OH SEHUN!

Kedua pasangan suami istri yang sudah bercerai namun akan menikah lagi itu akhirnya menggantungkan gembok cinta mereka di salah satu pagar yang juga dipenuhi banyak gembok cinta lainnya. Sehun dan Luhan memasang gemboknya bersama kemudian mereka berdua berdoa dibawah langit kemerahan disaksikan oleh matahari yang sudah terbenam setengahnya di ufuk barat. Mereka berdua berdoa dengan tulus agar apapun yang mereka harapkan bisa terkabul, termasuk permohonan Sehun akan seorang anak perempuan.

.

.

.

.

.

Never face each other
One bed different covers
We don't care anymore
Two hearts still beating
On with different rhythms
Maybe we should let this go

.

.

.

.

.

Tebakan Luhan tidak meleset. Sehun benar – benar mengajak Luhan ke sungai Han setelah mereka puas menikmati pemandangan di Namsan Tower. Sehun benar – benar mengabulkan permintaan Luhan untuk kembali menjadi pasangan muda sekali lagi. Ini benar – benar menyenangkan, rasa seperti dunia hanyalah milik mereka berdua.

Sehun memarkirkan mobilnya di sebuah central parkir lalu mengajak Luhan berjalan beberapa ratus meter untuk menuju sebuah restaurant bintang 5 yang letaknya tepat di samping sungai Han. Restaurant itu bernuansa eropa klasik dengan bunga – bunga yang tertata rapi dan lampu – lampu kuning berkelip seiring dengan semilir angin yang mengiringi riakan air di sampingnya. Ditambah lagi alunan musik quartet Biola dan Cello menambah kesan exclusive yang benar – benar romantis.

Sehun sudah memesan sebuah meja dengan letak paling strategis. Sebenarnya bukan Sehun, Junhong lah yang merekomendasikan tempat itu untuk Sehun dan ketika kakaknya setuju untuk mengajak Luhan makan malam di restaurant itu, Junhong dengan senang hati memesankannya. Meja yang sudah Sehun pesan adalah meja VIP dengan pemandangan terbaik dan jauh dari meja – meja lainnya, terletak di sebuah balcony rendah yang berada tepat di pinggir sungai Han. Ada rangkaian bunga mawar merah yang dipadukan dengan baby breathe dan lilly di tengah meja persegi yang diapit dua buah kursi itu. Diatas taplak meja putih itu juga sudah berjajar berbagai jelas garpu, pisau dan sendok juga gelas wine dengan kaki ramping di bawahnya.

Sehun menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Luhan untuk duduk di kursi itu. Ini benar – benar persis seperti adegan – adegan romantic film – film Hollywood pujaan Luhan. Luhan tak bisa menyembunyikan perasaan bahagia sekaligus takjub dari wajahnya. Sehun benar – benar melakukan banyak hal untuk hari ini.

Seorang pelayan datang menghampiri Sehun dan Luhan untuk mebawakan daftar menu exclusive mereka hari itu dan menuangkan Chateau Margaux Wine bernomor 1787 ke gelas mereka. Pilihan Luhan dan Sehun jatuh pada sebuah menu utama bernama Beef Wellington, potongan daging sapi segar yang lezat di dipanggang dengan bumbu rempah lalu dibungkus dalam balutan pastry yang gurih. Itu adalah menu andalan restaurant bintang lima itu.

"Maze Grill by Gordon Ramsay. Baru launching dua bulan yang lalu." jawab Sehun ketika Luhan menanyakan nama restaurant itu

"Jadi ini adalah restaurant milik Gordon Ramsay?" pekik Luhan bersemangat

"Bisa dibilang seperti itu, tapi Junhong juga menanam sahamnya disini… so… bisa dibilang fifty fifty?"

"Uah… naluri bisnis Junhong memang luar biasa. Bagaimana dia bisa membawa Gordon Ramsay ke Korea?"

"Mudah saja, Junhong kan sering ke Amerika dan kebetulan mereka juga pernah bertemu saat acara jamuan makan malam perusahaan"

"Daebak... Apa Junhong bisa memintakan tanda tangan Gordon Ramsay untukku? Aku adalah fans beratnya! HunHan juga suka menonton acaranya bersamaku di Food Channel."

"Bisa jadi… tapi mungkin dengan satu syarat"

"Apa?"

"Kau harus menikahiku dulu"

"Oh Sehun…."

"Aku serius…"

Luhan baru saja akan menjawab namun makanan pembuka sudah terlebih dahulu datang dan dengan dalih perut yang sudah sangat lapar, Luhan mengalihkan pemicaraan mereka tentang pernikahan menjadi komentar tentang makanan. Luhan sudah seperti seorang kritikus makanan betulan ketika dia berhadapan dengan makanan – makanan cantik diatas piring lebar di hadapannya. Tapi itu menyenangkan bagi Sehun, apapun asal Luhan tersenyum, itu pasti akan menyenangkan bagi Sehun.

"Terima kasih untuk makan malamnya, itu sangat romantis" ujar Luhan saat keduanya baru saja meninggalkan restaurant itu dan berjalan di pinggir sungai Han menuju ke central parkir dimana mobil Sehun berada.

"Apa kau menyukai kencan kita hari ini?"

"Sangat! Aku sangat menyukainya"

Sehun melepas coatnya begitu melihat Luhan mulai melipat tangannya dan mengusap kedua lengannya yang diterpa semilir angin malam. Sehun yang kini benar – benar sukses menjalankan perannya sebagai The Boyfrirend material itu tak akan melewatkan momen crusial itu. Sehun memakaikan coatnya ke tubuh Luhan dan itu berhasil membuat wanita tercintanya tenggelam di dalam coatnya.

"Thanks" ucap Luhan dengan pipi yang kembali memerah.

"Apapun untukmu…"

Sejenak hening dan keduanya masih tetap berjalan dengan langkah yang jau lebih lambat dari kura – kura keseleo. Entah kenapa keduanya malah jadi canggung seperti itu. Kepala Luhan sedang sibuk mencari topic untuk dibicarakan sebelum kencan mereka benar – benar berakhir hari ini. Luhan tau, setelah ini Sehun pasti akan mengantarnya pulang. Dan Luhan masih ingin bersama Sehun.

'Aaah… kenapa waktu berjalan begitu cepat?' rutuk Luhan dalam hati.

Namun seiring dengan rutukan dan desahan kesalnya, ada sesuatu yang asing menimpa kepala Luhan dan itu terasa lembut namun juga dingin. Luhan kira itu adalah rintikan air hujan, namun setelah satu tangannya menangkap satu Kristal putih dan dingin, mata rusanya pun melebar.

"Ini salju… Sehun-ah… ini salju pertama tahun ini!" pekik Luhan girang lalu menengadahkan tangannya untuk menangkap salju pertama yang turun

Sehun kemabli tersenyum dengan kedua tangan yang dia masukkan delam saku celananya. Sehun masih terus memperhatikan Luhan yang dengan gembira menyambut salju – salju itu turun. Lagi – lagi Sehun berakhir dengan mengagumi wajah bahagia Luhan. Dan lagi – lagi Sehun bersumpah, tak akan pernah membuat wajah bahagia itu berubah menjadi tangisan. Karena masa berat dan sedih untuk mereka sudah berakhir. THE END.

Sehun mengangkat kedua tangannya dan menakup bahu Luhan, pria itu menatap lurus ke arah mata Luhan yang berbinar terang. Sehun mengambil satu langkah maju untuk mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Luhan lalu menundukkan kepalanya dengan posisi agak miring agar bibirnya bisa meraih bibir Luhan.

Sehun mengecup bibir Luhan begitu lembut, membuat udara dingin disekitar Luhan terasa hangat. Luhan memejamkan matanya perlahan, menikmati setiap sentuhan lembut bibir tipis Sehun dibibirnya. Dan Luhan tak membiarkan Sehun menciumnya sepihak, dia juga menginginkan ini, bibirnya pun turut bergerak untuk menyambut bibir Sehun yang melumatnya dengan lembut dan penuh perasaan. Tak ada tuntutan dalam pagutan mereka dibawah salju pertama yang turun. Hanya ada kelembutan, kehangatan dan cinta yang mengikat kedua hati Luhan mengepal untuk meluapkan emosinya. Karena jujur saja, saat ini perasaan campur aduk memenuhi dadanya. Perasaan bahagia, lega, cinta dan emosi berbaur jadi satu dalam kecupan kecupan mereka.

Sehun mengangkat wajahnya setelah mengakhiri kecupan mereka dengan satu kecupan panjang. Namun kedua mata tajam Sehun masih terus menatap dua mata rusa cantik dihadapannya. Tangan Sehun yang tadinya menakup bahu Luhan, perlahan turun dan menggenggam tangan lembut wanitanya.

Mata Luhan membulat ketika Sehun tiba – tiba berlutut dihadapannya dan tangan kanan Sehun merogoh sesuatu di coat Sehun yang Luhan kenakan. Sebuah kotak kecil berwarna merah maroon tergenggam di tangan Sehun. Jantung Luhan kini sudah berdegup tak karuan, bahkan wanita cantik itu harus menakup bibirnya dengan tangan kirinya yang bebas sangking tak percayanya akan apa yang kini Sehun lakukan.

Sehun membuka kotak itu dengan satu tangannya dan muncullah sebuah cincin emas putih dengan satu permata cantik di tengahnya. Berkilau indah seprti cahaya bulan di langit malam.

"Luhan-ah… kau pasti sudah tau jika aku benar – benar mencintaimu kan?"

Luhan tak memberikan respon apapun. Tubuhnya membeku dan jantungnya masih menggila. Otaknya pun tampak ikut membeku karena semuanya seakan mimpi untuk Luhan. Sehun bisa memaklumi itu, senyum di wajah Sehun mengisyaratkan bahwa dia tau jika kini Luhan tengah gugup luar biasa.

"Ya… kita pernah berpisah namun pada akhirnya kita kembali bersama lagi. Kita pernah saling menyakiti namun pada akhirnya kita berpelukan lagi. Kita pernah saling membenci namun pada akhirnya kita jatuh cinta lagi…."

Sehun menjeda kalimatnya, pria itu juga sedag berusaha keras untuk mengumpulkan keberaniannya saat ini. Dengan satu dehaman lembut Sehun melanjutkan kalimatnya.

"Tentu saja, kita berdua bukannya tidak bisa move on, tapi… hanya inilah yang kita tau. Karena mencintaimu adalah segalanya yang hatiku ketahui. Dan kembali padamu adalah segalanya yang hatiku inginkan."

"…"

"Jadi… Luhan… maukah kau kembali padaku dan menjadi milikku lagi?"

"…"

"Maukah kau membangun kembali semua hal yang sudah pernah kuhancurkan?"

"…"

"Maukah kau berjalan ke altar untuk mengikat janji bersamaku di depan Tuhan bersamaku?"

"…"

"Maukah kau menjadikan aku lelaki paling beruntung di dunia ini karena bisa memilikimu lagi?"

"…"

"Maukah kau… menikah lagi denganku?"

"…"

Air mata Luhan sudah jatuh dan membasahi pipi lembutnya. Isakan bahagia tak bisa dia tahan lagi. Luhan benar – benar bahagia sekaligus tak menyangka jika Oh Sehun melakukan ini semua untuknya. Luhan merasa bahwa dia adalah wanita paling beruntung di dunia karena Oh Sehun mencintainnya.

"Se… Sehun-ah…"

"Ng?"

"Apa aku punya hak untuk menolakmu kali ini?"

Sehun tersenyum lembut, "Tentu saja tidak"

"Kalau begitu kau sudah tau apa jawabannya kan?"

Sehun menggeleng, "Aku ingin mendengarnya darimu, Lu…"

"Yes! I do."

Sehun melepas pegangan tangannya di tangan kanan Luhan, mengambil cincin itu dari kotaknya, lalu menyematkannya ke jari manis tangan kanan Luhan.

"Kau sangat cantik hari ini, apa aku sudah mengatakannya?"

Luhan menggeleng dan ketika Sehun sudah sepenuhnya berdiri, Luhan pun memeluk Sehun sererat mungkin. "Kau adalah milikku mulai saat ini! Kau sepenuhnya milik Luhan, Oh Sehun!" katanya masih dengan isakan bahagia.

"Aku tau… aku tau itu"

.

Luhan tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Mulai detik ini dia resmi telah dilamar oleh seorang Oh Sehun. Bahagia? Tentu saja!

"Mulai besok, kita akan mempersiapkan pernikahan kita sedikit demi sedikit. Mulai dari menentukan tanggal, tempat pernikahan, undangan, gaun dan segalanya. Aku akan mengurusnya bersamamu."

"Sehun-ah…"

"Ya?"

"Terima kasih…"

"Untuk?"

"Untuk semua hal yang telah kita lalui. Untuk semua rasa sedih dan bahagia. Untuk semua tangis dan tawa. Untuk semua rindu dan cinta. Dan terutama untuk hatimu yang selalu menjadi milikku"

Luhan tak bisa mengalihkan pandangannya dari cincin yang melingkar di jari manisnya. Itu benar – benar cantik. Ini benar – benar jadi kencan terbaik yang pernah ada di jagat raya, semua hayalan Luhan tentang kencan romantisnya saat dia masih remaja dulu kini terbayar dengan segala usaha yang Sehun lakukan.

"Kapan kau mempersiapkan ini semua?"

"Mmmm… aku membeli cincin itu dua hari yang lalu, memesan tempat di restaurant tadi sejak kemarin dan mempersiapkan hatiku untuk melamarmu… sejak usiaku 16 tahun"

Luhan menyiku lengan Sehun karena pria itu lagi – lagi berhasil mebuatnya berbunga – bunga. Dan beberapa saat kemudian Luhan mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar cincin di tangannya dan mempostingnya kembali di instagramnya dengan caption,

"I'M ENGAGED!"

.

.

.

.

.

.

We're falling apart, still we hold together
We've passed the end, so we chase forever
'Cause this is all we know
This feeling's all we know….

.

.

.

.

Mereka pernah bertengkar, mereka pernah melawan maut, mereka pernah bergantung pada tali yang terbakar, mereka pernah mencoba saling menghapus, mereka pernah mencoba saling meninggalkan, mereka pernah saling membenci, mereka pernah saling mencaci, mereka pernah saling menyakiti dan mereka pernah saling merelakan.

Sehun dan Luhan telah melalui segalanya untuk sebuah pasangan, segalanya yang terbaik dan terburuk. Mereka berdua pernah terpisah tapi tetap saling menggenggam hati satu sama lain. Mereka berdua pernah berakhir namun tetap saja pada akhirnya mereka saling mengejar satu sama lain. Kembali pada cinta mereka, kembali pada satu – satunya orang yang ada di hati mereka.

Ya… karena itu lah yang mereka tau. Hanya perasaan itu yang mereka tau.

.

.

.

.

.

I'll ride my bike up to the road
Down the street right through the citty
I'll go everywhere you go
From Chicago to the Coast
You tell me, "Hit this and let's go
Blow the smoke right through the window"
'Cause this is all we know….

.

'Cause this is all we know

.

.

.

.

..

.

-THE END-

.

.

.

.

.

.

.

.

Annyeonghaseyo! Yo! Yo! Yo!

Akhirnya E.N.D the end juga…. Terima kasih untuk para pembaca setia yang selalu menunggu kelanjutan Fanfic ini, yang sudah selalu review yang sudah follow dan favorite juga… makasi banyak untuk segala pihak yang sudah direpotkan karena fanfic. Haaah… akhirnya. Di akhir tahun, END juga…. Ahahahahahahaha kok gue bahagia sih? Tapi….

.

ENDING MACAM APA ITU TADI?
GAK SUKA! KURANG! NANGGUNG! APAAN! NC-nya MANAAAAA?!

.

Kira – kira begitu lah ekspresi kalian saat ini, iya kan?

.

Ahahahahaha…. Awalnya emang segitu aja Endingnya. Tapi kayaknya kok masih nanggung, ada yang kurang gitu… (KURANG NC!) … ya udah kalo gitu gue mau bikin sequel aja nanti. Judulnya "After The END". Gimana? Nyeritain keluarganya HunHan ChanBaek sama TaoRis setelah ini semua berakhir. Setuju gak? Atau mau satu chapter spesial lagi biar lengkap 10 Chapter di FF ini baru bikin sequel? Terserah kalian deh… silakan memberikan kritik saran di kolom review ya gess…

.

.

.

Oh ya, promosi dikit, Aruna punya FF Baru, judulnya The Theory of Everything, if you don't mind boleh lah ya dibaca. Dan How I met Your mother juga bakal Update. So cek aja. Dan FF lain yang masih nanggung bakal Aruna selesaikan dan update sabtu depan. Okay?

.

.

.

HUNHAN FOREVER

HUNHAN FOR LIFE

Akhir kata. Auuu…. Ah! Saranghaeyo!

Xiugarbaby

.

.

.

NB: Selamat Tahun baru readerdeul! Semoga tahun 2017 bisa menjadi Tahun penuh berkah untuk semuanya. Semoga yang masih sekolah, sekolahnya pada lancar. Yang mau ujian, ujiannya dimudahkan. Yang kuliah, semoga kuliahnya juga lancar. Yang skripsian, semoga cepet kelar. Yang masih jomblo, semoga cepet dapet jodoh. Yang udah ada jodoh semoga cepet nikah. Yang udah nikah semoga cepet dapet momongan. Lah… hehehehehe…

Pokoknya semoga di tahun 2017 readerdeul sekalian bisa selalu sehat, selalu dikelilingi oleh orang baik dan sayang sama readerdeul semua, trus mendapatkan pengalaman yang lebih banyak dan juga segera mendapatkan tempat terbaik di hati bias masing – masing. Eehehehehe…

DAN SEMOGA EXO MAKIN BERSINAR DI TAHUN 2017!
SEMOGA MANTAN SAMA MANTAN BISA KETEMUAN!
TERUTAMA SEHUN SAMA LUHAN!

HAPPY NEW YEAR ALL!

With love, Aruna P. Ary

xiugarbaby